• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI BEBAN KERJA TERHADAP KINERJA ALAT PENGERING KELAPA PARUT (DESICCATED COCONUT)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI BEBAN KERJA TERHADAP KINERJA ALAT PENGERING KELAPA PARUT (DESICCATED COCONUT)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

271

UJI BEBAN KERJA TERHADAP KINERJA ALAT PENGERING KELAPA PARUT

(DESICCATED COCONUT)

Test of The Effect of Workload on Performance of Desiccated Coconut

Maria Evatri Tampubolon

1,2)

, Lukman Adlin Harahap

1)

, Ainun Rohannah

1)

1) Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No. 3 Kampus USU Medan 20155

2) email: [email protected]

Diterima 22 September 2015/ Disetujui 22 September 2015

ABSTRACT

Coconut plant is a plant of life, because all its parts can be utilized to meet human needs. One of the utilization is grated coconut that can be used in making bread, biscuits, sweets, taking its milk and coconut flour. This study was aimed to examine the effect of workload on the performance of grated coconut dryer. This research was conducted in May until June 2015 in the Laboratory of Agricultural Engineering, Faculty of Agriculture, University of North Sumatra, Medan, by literature study, testing equipment and parameters observation. Parameters measured were effective capacity, moisture content before and after drying, yield, power and organoleptic tests. The results showed that the workload was significantly affected the effective capacity, water content, yield, power and organoleptic tests of aroma and not significantly affected to the organoleptic test of colour and flavour.

Key words: desiccated coconut, dryer, grated, workload.

PENDAHULUAN

Kelapa merupakan tanaman tropis yang penting bagi negara – negara Asia dan Pasifik. Terutama di negara Indonesia kelapa telah dikenal secara menyeluruh ke elemen masyarakat. Kelapa disamping dapat memberikan devisa bagi negara juga merupakan mata pencaharian jutaan petani, yang mampu memberikan penghidupan puluhan juta keluarganya. Sejak dahulu kala kelapa telah dikenal di kepulauan Indonesia dan kepulauan di lautan Pasifik (Suhardiyono, 1995). Pada tahun 1984 luas pertanaman kelapa di Asia dan Pasifik diperkirakan meliputi 8.875.000 ha dan khususnya di Indonesia tersebar seluas 3.012.000 ha pertanaman kelapa atau sekitar 33,94 % dari total luas seluruh pertanaman kelapa di Asia dan Pasifik. Indonesia juga menghasilkan produksi kelapa sebanyak 1.731.000 ton dari total luas pertanaman kelapa di Indonesia (Suhardiman, 1999).

Salah satu pengolahan komoditi kelapa untuk meningkatkan kualitas dan daya jual kelapa yaitu dengan pengeringan kelapa parut yang dibutuhkan oleh konsumen rumah tangga sebagai bahan makanan. Pengeringan kelapa parut ini juga merupakan salah satu upaya untuk menahan cepatnya kerusakan komoditi tersebut agar komoditi kelapa memiliki daya simpan lebih lama untuk diolah kembali. Menurut Buckle dkk

(1987) bahwa proses pengeringan dapat mengakibatkan perubahan warna, tekstur, rasa, dan aroma.

Besarnya kebutuhan pasar akan kelapa parut kering bermutu yang menjadi landasan acuan untuk memperbesar jumlah produksi. Menurut penelitian sebelumnya oleh Karten Malau (2014) kapasitas efektif alat pada penelitian alat pengering kelapa parut (desiccated coconut) adalah 0,67 kg/jam. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang kurang untuk dipasarkan. Alat pengering kelapa parut yang telah dibuat oleh Karten Malau diduga belum memiliki beban kerja yang dapat dimaksimalkan sesuai dengan kinerja alat yang dimiliki. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian beban kerja terhadap kinerja alat pengering kelapa parut untuk mendapatkan beban kerja maksimal yang sesuai dengan alat pengering kelapa parut kering. Dan untuk kesesuaian dengan mutu, kadar air bahan yang merupakan parameter pengeringan juga perlu dijadikan tolok ukur.

Warna kelapa parut kering yang diinginkan adalah putih alami dengan aroma atau rasa yang tidak berubah sehingga nantinya dalam pemanfaatannya dapat dihasilkan produk dengan kualitas yang baik (Grinwood, 1979). Tidak hanya itu, semakin lama waktu pengeringan akan menyebabkan jumlah air yang menguap semakin banyak, sehingga kadar air pada bahan semakin menurun (Desrosier, 1988).

(2)

272 Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini. Dengan analisis ekonomi dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat diperhitungkan. Untuk menilai kelayakan finansial, diperlukan semua data yang menyangkut aspek biaya dan penerimaan usaha tani. Data yang diperlukan untuk pengukuran kelayakan tersebut meliputi data tenaga kerja, sarana produksi, hasil produksi, harga, upah, dan suku bunga (Nastiti, 2008).

Giatman (2006) yang menyatakan bahwa kriteria NPV yaitu: NPV > 0 artinya investasi akan menguntungkan/ layak, NPV < 0 artinya investasi tidak menguntungkan. Break

even point (BEP) umumnya berhubungan dengan

proses penentuan tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha yang dilakukan dapat membiayai sendiri (self financing). Selanjutnya dapat berkembang sendiri (self

growing). (Waldiyono, 2008). Net Present Value

(NPV) adalah metode menghitung nilai bersih (netto) pada waktu sekarang (present). Asumsi present yaitu menjelaskan waktu awal perhitungan bertepatan dengan saat evaluasi dilakukan atau pada periode tahun ke nol (0) dalam perhitungan cash flow investasi. (Giatman, 2006). Internal rate of return (IRR) ini digunakan untuk memperkirakan kelayakan lama (umur) pemilikan suatu alat atau mesin pada tingkat keuntungan tertentu. (Purba, 1997).

Penelitian ini merupakan penilitian lanjutan dari penelitian sebelumnya, dimana hasil yang diperoleh untuk kapasitas efektif alat yang didapat diduga masih belum optimal dengan kemampuan alat yang ada karena hasil olahan masih dibawah 1 Kg/jam. Alat pengering kelapa parut (desiccated coconut) yang akan digunakan, sebelumnya telah dilakukan penelitian. Rancang bangun alat pengering kelapa parut ini dibuat oleh Karten Malau (2014) dimana kapasitas efektif alatnya 0,6 Kg/jam. Setelah itu, suhu yang baik digunakan untuk alat ini yaitu 130 0C diteliti

oleh Wilson (2015). Perbandingan pulley yang digunakan yaitu 2 inchi : 2 inchi yang diteliti oleh Yoga (2015). Pada penelitian ini dilakukan pengujian alat dengan beban kerja yang berbeda, yang bertujuan untuk melihat pengaruh beban kerja alat terhadap parameter kapasitas efektif alat, kadar air bahan, rendemen, dan organoleptik dari kelapa parut kering.

BAHAN DAN METODE

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelapa yang sudah bersih dan diparut sebanyak 1 Kg, 2 Kg, dan 3 Kg masing-masing 3 kali ulangan, plastik sebagai tempat menampung kelapa parut yang sudah dikeringkan, dan kertas untuk menulis data. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat pengering kelapa parut (dessicated coconut), stopwatch untuk mengukur lama waktu setiap kali ulangan, kalkulator untuk mempermudah penghitungan data, komputer untuk menulis laporan dan data juga mempermudah pencarian referensi, kamera untuk alat dokumentasi, alat tulis untuk menulis data ulangan, timbangan analitik dan timbangan 10 kg untuk mengukur massa bahan, oven digunakan untuk mencari kadar air bahan, alat sanitasi untuk membersihkan peralatan yang digunakan, cawan sebagai wadah sampel bahan, sendok untuk mengangkat bahan yang terselip, dan serbet digunakan untuk menahan panas.

Pada penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara studi literatur (kepustakaan), kemudian dilakukan pengujian alat dan pengamatan parameter. Penelitian ini menggunakan metode perancangan percobaan rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial, dengan 3 taraf sebagai berikut:

B1 = Beban Kerja 1 Kg B2 = Beban Kerja 2 Kg B3 = Beban Kerja 3 Kg dengan P adalah beban kerja. Persiapan Bahan

Pada tahap ini buah kelapa dibersihkan dan diparut, kemudian ditimbang masing-masing 1 Kg, 2 Kg, dan 3 Kg untuk beban kerja alat yang berbeda sesuai dengan perlakuan. Setiap perlakuan dibuat dalam 3 kali ulangan.

Pengujian Alat

Prosedur pengujian alat adalah sebagai berikut :

1. Steker dihubungkan ke sumber arus kemudian diatur suhu 1300C pada thermostat

dan ditekan tombol “ON” untuk memanaskan

heater dengan waktu sekitar 8 menit.

2. Motor listrik dinyalakan.

3. Bahan sebanyak 1 kg dimasukkan ke dalam tabung silinder melalui hopper dengan berat sesuai perlakuan.

4. Bagian hopper alat dibuka sekitar 300

sebagai saluran pengeluaran uap air, dan ditunggu selama 90 menit.

5. Heater dimatikan dilanjutkan dengan mematikan motor listrik dan membuka bagian

(3)

273

hopper untuk mendinginkan kelapa selama 5

menit.

6. Bahan dikeluarkan melalui saluran pengeluaran, kemudian bahan yang tertampung dan bahan yang tertinggal di dalam pada alat ditimbang.

7. Alat dibersihkan.

8. Perlakuan ini diulang sebanyak 3 kali. 9. Pengamatan terhadap kapasitas efektif dan

daya alat serta mutu kelapa parut kering (kadar air sebelum dan sesudah

pengeringan, rendemen, uji organoleptik, dan analisis ekonomi.

10. Diulangi prosedur ke 2 - 10 dengan dengan beban kerja 2 dan 3 kg.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari penelitian yang dilakukan, didapat bahwa beban kerja berpengaruh terhadap kapasitas efektif alat, kadar air, daya yang digunakan, rendemen, dan analisis ekonomi alat. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Pengaruh beban kerja terhadap kadar air, rendemen, kapasitas efektif alat (KEA) dan daya alat

Perlakuan KA (%) Rendemen (%) KEA (kg/jam) Daya

(kg.f)

B1 28,96 56,33 0,667 65,94

B2 37,63 76,33 1,33 131,88

B3 46,4 86,53 2 197,92

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa kadar air tertinggi diperoleh pada perlakuan B3 yaitu sebesar 46,4% dan terendah pada B1 yaitu sebesar 28,96%. Nilai daya dibutuhkan tiap perlakuan yang tertinggi diperoleh pada perlakuan B3 yaitu sebesar 197,92 kg.f dan terendah pada B1 yaitu sebesar 65,94 kg.f. Nilai kapasitas efektif alat tertinggi diperoleh pada perlakuan B3 yaitu sebesar 2 kg/jam dan terendah pada perlakuan B1 yaitu sebesar 0,667 kg/jam. Nilai rendemen tertinggi diperoleh pada

perlakuan B3 yaitu sebesar 86,53% dan terendah pada perlakuan B1 yaitu sebesar 56,33%. Kadar Air

Hasil pengujian menggunakan DMRT (Duncan Multiple Range Test) menunjukkan pengaruh beban kerja terhadap kadar air untuk tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 2 yang menunjukkan bahwa perlakuan B1 berbeda sangat nyata terhadap semua perlakuan, begitu juga dengan B2 dan B3.

Tabel 2. Uji DMRT efek utama pengaruh beban kerja terhadap kadar air

Jarak DMRT Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

- B1 28,96 a A

2 3,7792 5,7266 B2 37,63 b B

3 3,9168 5,9407 B3 46,4 c C

Keterangan : notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%

Tabel 2 menunjukkan kadar air terus mengalami peningkatan seiring meningkatnya beban kerja yang dimasukkan. Jika beban kerja yang dikeringkan 1 kg, kadar air pada bahan lebih kecil dibanding 2 kg dan 3 kg dan jumlah bahan yang menempel pada alat atau gosong lebih banyak. Hal ini disebabkan karena massa bahan yang dikeringkan lebih ringan dan bahan tidak banyak tertumpuk pada pengaduk sehingga pengeringan lebih cepat. Menururt Desrosier (1988), semakin lama waktu pengeringan akan menyebabkan jumlah air yang menguap semakin banyak, sehingga kadar air pada bahan semakin menurun.

Dalam penelitian ini kadar air yang dihasilkan dari setiap perlakuan masih kurang dari standar yang ditentukan. Untuk menutupi hal

tersebut perlakuan waktu yang dibutuhkan dalam satu kali proses pengeringan perlu ditambahkan agar kadar air bisa sesuai standar yang ditentukan. Kadar air tersebut berkaitan dengan pernyataan Palungkun (2001) kadar air yang terbaik untuk kelapa parut kering adalah 1,8% dan masih bisa ditoleransi ketika kadar air mencapai 3,65 %, lebih dari 3,65 % kondisi kelapa parut kering sudah tidak baik lagi. Daya

Hasil perhitungan daya terhadap beban kerja dapat dilihat pada Tabel 3. Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa semakin besar beban kerja yang dimasukkan dalam sekali produksi maka daya yang dibutuhkan akan semakin besar. Ini

(4)

274 menunjukkan kebutuhan kerja alat dipengaruhi oleh beban kerja.

Tabel 3. Daya yang dibutuhkan pada tiap perlakuan Perlakuan Massa yang dimasukkan (kg) Putaran (rpm) Daya (kg.f) B1 1 70 65,94 B2 2 70 131,88 B3 3 70 197,92

Nilai Organoleptik Aroma

Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan B1 berbeda nyata terhadap B2 dan B3. Pada perlakuan B2 berbeda nyata terhadap B1, namun

tidak nyata terhadap B3. Dapat dilihat bahwa semakin tinggi beban kerja pada alat maka semakin tinggi nilai uji organoleptik aroma. Menurut Buckle dkk (1987) bahwa proses pengeringan dapat mengakibatkan perubahan warna, tekstur, rasa, dan aroma. Nilai tertinggi dari segi aroma adalah perlakuan 3 kg dengan rataan 2,76 (suka) dan terendah pada perlakuan 1 kg dengan rataan 2,5 (suka).

Nilai Organoleptik Warna

Dari hasil analisis sidik ragam diperoleh bahwa beban kerja berpengaruh tidak nyata terhadap warna. Warna yang dihasilkan setelah pengeringan pada tiap perlakuan tidak menunjukkan perbedaan ataupun perubahan yang nyata yaitu berwarna putih.

Tabel 4. Uji DMRT efek utama beban kerja terhadap uji organoleptik aroma

Jarak DMRT Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

- B1 2,5 a A

2 0,2188 0,3316 B2 2,73 b A

3 0,2268 0,3316 B3 2,76 b A

Keterangan : notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan tidak nyata pada taraf 1%

Nilai Organoleptik Rasa

Dari hasil analisis sidik ragam diperoleh bahwa beban kerja berpengaruh tidak nyata terhadap rasa. Rasa kelapa parut setelah pengeringan pada tiap perlakuan tidak menunjukkan perbedaan ataupun perubahan yang nyata.

Rendemen

Tabel 5 menunjukkan bahwa perlakuan B1 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan B2 dan B3, perlakuan B2 tidak berbeda nyata terhadap B3. Dapat dilihat semakin tinggi beban kerja pada alat maka semakin besar rendemen yang dihasilkan. Rendemen terbesar yaitu pada perlakuan B3 dengan nilai 86, 53% dan terkecil pada perlakuan B1 dengan nilai 56,33%.

Tabel 5. Uji DMRT efek utama pengaruh beban kerja terhadap rendemen.

Jarak DMRT Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

- B1 56,33 a A

2 8,8197 13,3647 B2 76,33 b B

3 9,1409 13,8643 B3 86,53 c B

Keterangan : notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata pada taraf 5% dan berbeda nyata pada taraf 1%

Kapasitas Efektif Alat

Pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan, lama waktu pengeringan dihitung mulai bahan dimasukkan ke dalam tabung silinder yaitu pada suhu 130oC dengan lama

pengeringan 1,5 jam. Dari hasil penelitian diperoleh rata-rata perlakuan dengan bahan 1 kg diperoleh massa yang tertampung pada alat adalah 0,563 kg dan massa bahan yang tersisa pada alat adalah 0,14 kg sehingga total massa bahan setelah dikeringkan sebesar 0,703 kg. Dengan bahan 2 kg diperoleh massa yang

tertampung pada alat adalah 1,526 kg dan massa bahan yang tersisa pada alat adalah 0,11 kg sehingga total massa bahan setelah dikeringkan adalah 1,636 kg. Dengan bahan 3 kg diperoleh massa yang tertampung pada alat adalah 2,596 kg dan massa bahan yang tersisa pada alat 0,09 kg sehingga total massa bahan setelah dikeringkan adalah 2,686 kg. Dari data diatas diperoleh kapasitas efektif alat dari persamaan (11) pada perlakuan 1 kg sebesar 0,667 kg/jam, pada perlakuan 2 kg sebesar 1,33 kg/jam, dan pada perlakuan 3 kg sebesar 2 kg/jam. Pada

(5)

275 Tabel 6 ulangan pada setiap perlakuan sama, hal ini dikarenakan waktu selama pengolahan sama pada setiap ulangan hanya perlakuan beban kerja yang berbeda. Dapat dilihat bahwa semakin

tinggi beban kerja pada alat, semakin besar kapasitas efektif alat. Kapasitas efektif alat yang terbesar yaitu pada perlakuan B3 (3 kg) dan yang terkecil yaitu pada perlakuan B1 (1 kg).

Tabel 6. Data hasil pengeringan kelapa parut kering (desiccated coconut)

Analisis Ekonomi

Biaya Pengeringan Kelapa Parut

Biaya pengeringan kelapa parut kering dapat dilihat pada Tabel 7. Dari Tabel 7 dapat dilihat terjadi penurunan biaya pokok setiap tahun pada semua perlakuan. Hal ini dipengaruhi oleh biaya penyusutan (biaya tetap) yang dapat dilihat pada (Lampiran 10), semakin tinggi beban kerja maka nilai biaya tetap menjadi semakin rendah. Biaya pokok tertinggi yaitu pada perlakuan B1

sebesar Rp. 17.923,6368/kg tahun pertama, Rp. 16.250,1685/kg tahun kedua, Rp. 15.693,2772/kg tahun ketiga, Rp. 15.415,9155/kg tahun keempat, Rp. 15.249,9249/kg tahun kelima dan terendah pada perlakuan P3 sebesar Rp. 6.014,6432/kg tahun pertama, Rp. 5.453,0766/kg tahun kedua, Rp. 5.266,2004/kg tahun ketiga, Rp. 5.173,1259/kg tahun keempat, Rp. 5.117,4244/kg tahun kelima.

Tabel 7. Biaya pokok pengeringan kelapa parut

Tahun Biaya Pokok (Rp/kg)

B1 B2 B3 1 17923,6368 9021,9648 6014,6432 2 16250,1685 8179,6150 5453,0766 3 15693,2772 7899,3006 5266,2004 4 15415,9155 7759,6889 5173,1259 5 15249,9249 7676,1367 5117,4244

Break Even Point (BEP)

Tabel 8 menunjukkan terjadi penurunan BEP tiap tahunnya untuk mengeringkan kelapa parut. Nilai BEP tiap tahunnya yang terkecil yaitu pada perlakuan B3 dan terbesar pada perlakuan B1. Hal ini dipengaruhi oleh biaya penyusutan (biaya tetap) pada alat yang semakin rendah tiap tahunnya. Jadi, biaya tetap dengan BEP nilainya berbanding terbalik. BEP B1 memiliki garis kurva tertinggi, maka batas produksi minimal yang harus dicapai yaitu dari titik 611,57 kg/tahun sampai dengan titik 168,69 kg/tahun. BEP B3 memiliki garis kurva terendah, maka batas produksi minimal yang harus dicapai yaitu dari titik 197,7 kg/tahun sampai dengan titik 54,53 kg/tahun. Dengan demikian, semakin besar beban kerja maka semakin kecil nilai BEP. Semakin kecilnya nilai BEP per tahun sama dengan semakin murah biaya yang dikeluarkan untuk produksi per tahun.

Net Present Value (NPV)

Dari percobaan dan data yang diperoleh pada penelitian dapat diketahui besarnya NPV

dengan suku bunga 7,5% pada B1 sebesar Rp.118.963.293,2; pada B2 sebesar Rp. 334.467.069,44; pada B3 sebesar Rp. 557.005.097,4. Hal ini berarti usaha ini pada semua perlakuan layak untuk dijalankan karena nilainya lebih besar ataupun sama dengan nol dengan nilai NPV tertinggi yaitu pada perlakuan B3 dan terendah pada perlakuan B1. Hal ini sesuai dengan pernyataan Giatman (2006) yang menyatakan bahwa kriteria NPV yaitu:

NPV> 0 artinya investasi akan menguntungkan/ layak, sedangkan NPV<0 artinya investasi tidak menguntungkan.

Internal Rate of Return (IRR)

Hasil yang didapat dari perhitungan IRR nilai IRR terkecil pada B1 sebesar 46,7%; pada B2 sebesar 48,59%; dan terbesar pada B3 sebesar 49%. Usaha ini masih layak dijalankan apabila bunga pinjaman bank tidak melebihi nilai pada B1 sebesar 46,7%; pada B2 sebesar 48,59%; pada B3 sebesar 49%; jika bunga pinjaman di bank melebihi angka tersebut maka usaha ini tidak layak lagi diusahakan. Semakin Perlakuan Masuk (Kg) Wak-tu (jam)

Massa bahan tertampung pada alat (kg) Massa bahan tertinggal dalam alat (kg) Kapasitas Efektif Alat (kg/jam) B1 1 1,5 0,563 0,14 0,667 B2 2 1,5 1,526 0,11 1,33 B3 3 1,5 2,596 0,09 2

(6)

276

tinggi bunga pinjaman di bank maka keuntungan yang diperoleh dari usaha ini semakin kecil. Tabel 10. BEP alat pengering kelapa parut

KESIMPULAN

1. Beban kerja memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kadar air, rendemen, daya, dan kapasitas efektif alat.

2. Kadar air tertinggi pada perlakuan 3 kg (B3) yaitu sebesar 46,4% dan terendah pada perlakuan 1 kg (B1) yaitu sebesar 28,96%. 3. Daya yang dibutuhkan tertinggi pada

perlakuan 3 kg (B3) yaitu sebesar 197,92 kg.f dan terendah pada perlakuan 1 kg (B1) yaitu sebesar 65,94 kg.f.

4. Kapasitas efektif alat terbesar pada perlakuan 3 kg (B3) yaitu sebesar 2 kg/jam dan terendah pada perlakuan 1 kg (B1) yaitu sebesar 0,667 kg/jam.

5. Rendemen terbesar yang diperoleh yaitu pada perlakuan 3 kg (B3) yaitu sebesar 86,53% dan terkecil pada perlakuan 1 kg (B1) yaitu sebesar 56,33%.

6. Nilai uji organoleptik aroma tertinggi pada perlakuan 3 kg (B3) yaitu sebesar 2,76 (suka), sedangkan nilai uji organoleptik rasa dan aroma tidak berbeda nyata.

7. Net present value alat ini dengan suku bunga 7,5% pada B1 sebesar Rp.118.963.293,2; pada B2 sebesar Rp. 334.467.069,44; pada B3 sebesar Rp. 557.005.097,4 berarti usaha ini layak untuk dijalankan.

8. Internal rate of return pada B1 sebesar 46,7%; pada B2 sebesar 48,59%; pada B3 sebesar 49%.

9. Secara keseluruhan, perlakuan terbaik didapatkan pada perlakuan B1 yaitu dengan beban kerja 1 kg.

DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K. A., Edwards, R. A. , Fleet, G. H., dan Wootton,M. 1987. Ilmu Pangan. Terjemahan Purnomo dan Adiono, UI-Press, Jakarta.

Desrosier, N. W., 1988. Teknologi Pengawetan Pangan.

UI-Press, Jakarta.

Giatman, M., 2006. Ekonomi Teknik. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Ginting, W. L., 2014. Uji Variasi Suhu Terhadap Mutu Kelapa Parut Kering pada Alat Pengering Kelapa Parut (Dessicated

Coconut). Program Studi Keteknikan

Pertanian FP-USU, Medan.

Grindwood, D.E., 1979. Coconut Palm Product.

Their Processing in development Countries. FAO. Agricultural Organization of The United Nations, Rome.

Malau, K., 2014. Rancang Bangun Alat Pengering Kelapa Parut (Desiccated

Coconut).Program Studi Keteknikan

Pertanian FP-USU, Medan.

Nastiti, D., Sriwulan, P. dan Farid R. A., 2008. Analisis Finansial Agribisnis Pertanian. BPTP. Kalimantan Timur.

Parsaulian, F., 2015. Uji Jumlah Batang Pengaduk Pada Alat Pengering Kelapa Parut. Program Studi Keteknikan Pertanian FP-USU, Medan.

Purba, R., 1997. Analisa Biaya dan Manfaat. PT. Rineka Cipta. Jakarta.

Suhardiyono, L., 1995. Tanaman Kelapa. Cetakan V. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Suhardiman, P., 1999. Bertanam Kelapa Hibrida. Cetakan X. PT Penebar Swadaya, Bogor.

Waldiyono, 2008. Ekonomi Teknik (Konsep, Teori dan Aplikasi). Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Tahun Break Even Point (kg/tahun)

B1 B2 B3 1 611,57154 277,66955 197,70451 2 334,37579 124,47797 108,09463 3 242,13149 90,138218 78,27455 4 196,18889 73,035178 63,422551 5 168,69397 62,799652 54,534188

Gambar

Tabel 1. Pengaruh  beban kerja terhadap kadar air, rendemen, kapasitas efektif alat (KEA)  dan daya alat
Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan B1  berbeda  nyata  terhadap  B2  dan  B3.  Pada  perlakuan B2 berbeda nyata terhadap B1, namun
Tabel 7. Biaya pokok pengeringan kelapa parut
Tabel 10. BEP alat pengering kelapa parut

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk menguji rpm terhadap kapasitas kerja alat, persentase bahan yang tertinggal di alat, rendemen dan analisis ekonomi pada alat kelapa parutan

Dalam pengeringan menggunakan alat ini, bahan kelapa parut yang akan.. dikeringkan dimasukkan ke dalam tabung silinder melalui hopper

Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji beban berpengaruh nyata terhadap kapasitas efektif alat, konsumsi bahan bakar solar dan kadar air dan berpengaruh tidak nyata

Dari hasil penelitian ulangan I dengan bahan 1 kg diperoleh massa yang tertampung pada alat adalah 0,42 kg dan massa bahan yang tersisa pada alat adalah 0,16 kg sehingga total

Berdasarkan uji organoleptik yang dilakukan menggunakan skala numerik, dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik adalah dengan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji beban berpengaruh nyata terhadap kapasitas efektif alat, konsumsi bahan bakar solar dan kadar air dan berpengaruh tidak nyata

Dipotong bahan yang digunakan sesuai dengan dimensi pada gambar..

dilakukan oleh tenaga kerja wanita menggunakan pisau khusus yang disebut..