DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KETERPADUAN PROGRAM BIDANG CIPTA KARYA

Teks penuh

(1)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

1

3.1.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL

Sesuai dengan amanat Pasal 20 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang telah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) sebagai pedoman untuk :

1. Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional,

2. Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional,

3. Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Nasional,

4. Perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar wilayah provinsi,

serta keserasian antar sektor,

5. Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi,

6. Penataan ruang Kawasan Strategis Nasional, dan

7. Penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota.

Penataan ruang wilayah nasional bertujuan untuk mewujudkan :

1. Ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan;

2. Keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;

3. Keterpaduan perencanaan tata ruang wilayah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota;

4. Keterpaduan pemanfaatan ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam

bumi dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia;

5. Keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota

dalam rangka pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang;

6. Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat;

7. Keseimbangan dan keserasian perkembangan antar wilayah;

8. Keseimbangan dan keserasian kegiatan antar sektor; dan

9. Pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi Nasional.

3.1.1.

Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Nasional

Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah Nasional meliputi kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang dan pola ruang. Arahan kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah nasional yang telah ditetapkan dalam RTRW Nasional adalah seperti pada rincian dalam tabel berikut.

10

ARAHAN STRATEGIS NASIONAL

BIDANG CIPTA KARYA KOTA MEDAN

(2)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

2

Tabel 3.1. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Struktur Ruang dan Pola Ruang Dalam RTRWN

A. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Struktur Ruang

Kebijakan A.1. Peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang merata dan berhierarki.

Strategi Kebijakan

1. Menjaga keterkaitan antarkawasan perkotaan, antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan, serta antara kawasan perkotaan dan wilayah di sekitarnya.

2. Mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum terlayani oleh pusat pertumbuhan.

3. Mengendalikan perkembangan kota-kota pantai.

4. Mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah di sekitarnya.

Kebijakan A.2. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi,

telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah nasional.

Strategi Kebijakan

1. Meningkatkan kualitas jaringan prasarana dan mewujudkan keterpaduan pelayanan transportasi darat, laut, dan udara. 2. Mendorong pengembangan prasarana telekomunikasi terutama di

kawasan terisolasi.

3. Meningkatkan jaringan energi untuk memanfaatkan energi terbarukan dan tak terbarukan secara optimal serta mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan tenaga listrik.

4. Meningkatkan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan sistem jaringan sumber daya air.

5. Meningkatkan jaringan transmisi dan distribusi minyak dan gas bumi, serta mewujudkan sistem jaringan pipa minyak dan gas bumi nasional yang optimal.

B. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Lindung

Kebijakan B.1. Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Strategi

Kebijakan

1. Menetapkan kawasan lindung di ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi.

2. Mewujudkan kawasan berfungsi lindung dalam satu wilayah pulau dengan luas paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas pulau tersebut sesuai dengan kondisi ekosistemnya.

3. Mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat pengembangan kegiatan budi daya, dalam rangka mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem wilayah. Kebijakan B.2. Pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan

lingkungan hidup. Strategi

Kebijakan

1. Menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup.

2. Melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

3. Melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya.

4. Mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau tidak langsung menimbulkan perubahan sifat fisik lingkungan yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi dalam menunjang pembangunan yang berkelanjutan.

(3)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

3

6. Mengelola sumber daya alam tak terbarukan untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbarukan untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta

keanekaragamannya.

7. Mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya adaptasi bencana di kawasan rawan bencana.

C. Kebijakan Pengembangan Kawasan Budi Daya

Kebijakan C.1. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya. Strategi

Kebijakan

1. Menetapkan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional untuk pemanfaatan sumber daya alam di ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah.

2. Mengembangkan kegiatan budi daya unggulan di dalam kawasan beserta prasarana secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong pengembangan perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya 3. Mengembangkan kegiatan budi daya untuk menunjang aspek politik,

pertahanan dan keamanan, sosial budaya, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

4. Mengembangkan dan melestarikan kawasan budi daya pertanian pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.

5. Mengembangkan pulau-pulau kecil dengan pendekatan gugus pulau untuk meningkatkan daya saing dan mewujudkan skala ekonomi. 6. Mengembangkan kegiatan pengelolaan sumber daya kelautan yang

bernilai ekonomi tinggi di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia, dan/atau landas kontinen untuk

meningkatkan perekonomian nasional.

Kebijakan C.2. Pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Strategi Kebijakan

1. Membatasi perkembangan kegiatan budi daya terbangun di kawasan rawan bencana untuk meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian akibat bencana.

2. Mengembangkan perkotaan metropolitan dan kota besar dengan mengoptimalkan pemanfaaatan ruang secara vertikal dan kompak. 3. Mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling sedikit 30%

(tiga puluh persen) dari luas kawasan perkotaan.

4. Membatasi perkembangan kawasan terbangun di kawasan perkotaan besar dan metropolitan untu mempertahankan tingkat pelayanan prasarana dan sarana kawasan perkotaan serta mempertahankan fungsi kawasan perdesaan di sekitarnya.

5. Mengembangkan kegiatan budidaya yang dapat mempertahankan keberadaan pulau-pulau kecil.

D. Kebijakan dan Pengembangan Kawasan Strategis Nasional.

Kebijakan D.1. Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan

keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, melestarikan keunikan bentang alam, dan melestarikan warisan budaya nasional.

Strategi Kebijakan

1. Menetapkan kawasan strategis nasional berfungsi lindung. 2. Mencegah pemanfaatan ruang di kawasan strategis nasional yang

berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan.

3. Membatasi pemanfaatan ruang di sekitar kawasan strategis nasional yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan

(4)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

4

5. Mengembangkan kegiatan budi daya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis nasional yang berfungsi sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan lindung dengan kawasan budi daya terbangun

6. Merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional.

Kebijakan D.2. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara. Strategi

Kebijakan

1. Menetapkan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan keamanan.

2. Mengembangkan kegiatan budi daya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan strategis nasional untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan.

3. Mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budi daya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis nasional sebagai zona

penyangga yang memisahkan kawasan strategis nasional dengan kawasan budi daya terbangun.

Kebijakan D.3. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian nasional yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalam perekonomian internasional. Strategi

Kebijakan

1. Mengembangkan pusat pertumbuhan berbasis potensi sumber daya alam dan kegiatan budi daya unggulan sebagai penggerak utama pengembangan wilayah.

2. Menciptakan iklim investasi yang kondusif.

3. Mengelola pemanfaatan sumber daya alam agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung kawasan

4. Mengelola dampak negatif kegiatan budi daya agar tidak menurunkan kualitas lingkungan hidup dan efisiensi kawasan

5. Mengintensifkan promosi peluang investasi.

6. Meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana penunjang Kegiatan ekonomi.

Kebijakan D.4. Pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Strategi Kebijakan

1. Mengembangkan kegiatan penunjang dan/atau kegiatan turunan dari pemanfaatan sumber daya dan/atau teknologi tinggi.

2. Meningkatkan keterkaitan kegiatan pemanfaatan sumber daya dan/atau teknologi tinggi dengan kegiatan penunjang dan/atau turunannya.

3. Mencegah dampak negatif pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi terhadap fungsi lingkungan hidup, dan keselamatan masyarakat.

Kebijakan D.5. Pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa. Strategi

Kebijakan

1. Meningkatkan kecintaan masyarakat akan nilai budaya yang mencerminkan jati diri bangsa yang berbudi luhur.

2. Mengembangkan penerapan nilai budaya bangsa dalam kehidupan masyarakat.

3. Melestarikan situs warisan budaya bangsa.

Kebijakan D.6. Pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia, cagar biosfer, dan ramsar.

Strategi Kebijakan

1. Melestarikan keaslian fisik serta mempertahankan keseimbangan ekosistemnya.

2. Meningkatkan kepariwisataan nasional

(5)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

5

Kebijakan D.7. Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan.

Strategi Kebijakan

1. Memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dan berkelanjutan. 2. Membuka akses dan meningkatkan aksesibilitas antara kawasan

tertinggal dan pusat pertumbuhan wilayah

3. Mengembangkan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi masyarakat.

4. Meningkatkan akses masyarakat ke sumber pembiayaan.

5. Meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan kegiatan ekonomi.

Sumber : RTRWN, PP No. 26 Tahun 2008

Kebijakan dan strategi penataan ruang secara lengkap dijelaskan pada Bab II tentang Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Nasional pada PP No. 26 Tahun 2008.

3.1.2.

Rencana Struktur Ruang Wilayah Nasional

Rencana struktur ruang adalah gambaran struktur ruang yang dikehendaki untuk dicapai pada akhir tahun rencana, yang mencakup struktur ruang yang ada dan yang akan dikembangkan. Arahan Rencana Struktur Ruang Wilayah Nasional yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tetntang RTRWN adalah meliputi:

1. Sistem Perkotaan Nasional.

Sistem Perkotaan Nasional terdiri atas Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL).

Selain PKN, PKW dan PKL dikembangkan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) berupa kawasan perkotaan yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara.

2. Sistem Jaringan Transportasi Nasional, yang terdiri atas: a. sistem jaringan transportasi darat;

b. sistem jaringan transportasi laut; dan c. sistem jaringan transportasi udara.

3. Sistem Jaringan Energi Nasional, yang terdiri atas: a. jaringan pipa minyak dan gas bumi;

b. pembangkit tenaga listrik; dan c. jaringan transmisi tenaga listrik.

4. Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional, yang terdiri atas: a. jaringan terestrial; dan

b. jaringan satelit.

5. Sistem Jaringan Sumber Daya Air.

Sistem Jaringan Sumber Daya Air merupakan sistem sumber daya air pada setiap wilayah sungai dan cekungan air tanah.

(6)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

6

Telekomunikasi Nasional dan Sistem Jaringan Sumber Daya Air secara lengkap dijelaskan pada Bab III dan dalam Lampiran III, Lampiran IV, Lampiran V dan Lampiran VI pada PP N0. 26 Thn.2008.

3.1.3.

Rencana Pola Ruang Wilayah Nasional

Rencana Pola Ruang Wilayah Nasional terdiri dari kawasan lindung nasional dan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional.

A. Kawasan Lindung Nasional.

Kawasan lindung nasional terdiri dari:

1. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya; 2. Kawasan perlindungan setempat;

3. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya; 4. Kawasan rawan bencana alam;

5. Kawasan lindung geologi; dan 6. Kawasan lindung lainnya.

Kriteria Kawasan Lindung Nasional secara lengkap dijelaskan pada Bab IV dan lokasi penetapanya tercantum dalam Lampiran VIII pada PP N0. 26 Thn.2008.

B. Kawasan Budi Daya.

Kawasan Budi Daya,terdiri dari:

1. Kawasan peruntukan hutan produksi; 2. Kawasan peruntukan hutan rakyat; 3. Kawasan peruntukan pertanian; 4. Kawasan peruntukan perikanan; 5. Kawasan peruntukan pertambangan; 6. Kawasan peruntukan industri; 7. Kawasan peruntukan pariwisata;

8. Kawasan peruntukan permukiman; dan/atau 9. Kawasan peruntukan lainnya.

Kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional ditetapkan sebagai Kawasan Andalan. Kriteria Kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional (Kawasan Andalan) secara lengkap dijelaskan pada Bab IV dan lokasi penetapanya tercantum dalam Lampiran IX pada PP N0. 26 Thn.2008.

3.1.4.

Penetapan Kawasan Strategis Nasional

Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional berdasarkan kepentingan:

a. Pertahanan dan keamanan; b. Pertumbuhan ekonomi; c. Sosial dan budaya;

d. Pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi; dan/atau e. Fungsi dan daya dukung lingkungan hidup.

(7)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

7

3.1.5.

Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Nasional

Arahan pemanfaatan ruang wilayah nasional berpedoman pada rencana struktur ruang dan pola ruang dan dilaksanakan melalui penyusunan dan pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta perkiraan pendanaannya.

Arahan pemanfaatan ruang wilayah nasional terdiri atas 4 (empat) tahapan sebagai indikasi program utama lima tahunan,yaitu; tahap pertama (periode tahun 2010-2014), tahap kedua (periode tahun 2015-2019), tahap ketiga (periode tahun 2020-2024) dan tahap keempat (periode tahun 2025-2027). Rincian penetapan indikasi program pemanfaatan ruang lima tahunan secara rinci dijelaskan dalam Lampiran XI pada PP N0. 26 Thn.2008.

Pendanaan program pemanfaatan ruang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, investasi swasta, dan/atau kerja sama pendanaan yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3.1.6.

Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Nasional

Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional, yang terdiri atas:

1. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional; 2. Arahan perizinan;

3. Arahan pemberian insentif dan disinsentif; dan 4. Arahan sanksi.

Indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional meliputi indikasi arahan peraturan zonasi untuk struktur ruang dan pola ruang, yang terdiri atas:

a. Sistem perkotaan nasional;

b. Sistem jaringan transportasi nasional; c. Sistem jaringan energi nasional;

d. Sistem jaringan telekomunikasi nasional; e. Sistem jaringan sumber daya air; f. Kawasan lindung nasional; dan g. Kawasan budi daya.

Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional secara lengkap dijelaskan dalam Bab VII tentang Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Nasional pada PP N0. 26 Thn.2008.

3.1.7.

Status Kota Medan dalam Arahan RTRW Nasional

(8)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

8

A . Arahan Pusat Kegiatan Nasional (PKN)

Dalam Arahan Rencana Struktur Ruang dan Pola Ruang Wilayah Nasional, Kota Medan telah ditetapkan sebagai salah satu kota dalam Sistem Perkotaan Nasional. Kota Medan termasuk dalam arahan lokasi Pusat Kegiatan Nasional (PKN) berdasarkan kriteria:

a. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama kegiatan ekspor-impor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional;

b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi; dan/atau

c. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama transportasi skala nasional atau melayani beberapa provinsi.

Penetapan lokasi PKN dan PKW pada RTRWN untuk Provinsi Sumatera Utara yang tercantum dalam Lampiran II pada PP No. 26 Thn. 2008 adalah seperti pada tabel berikut.

Tabel 3.2. Penetapan Lokasi Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) untuk

Provinsi Sumatera Utara dalam Sistem Perkotaan Nasional

NO PROVINSI PKN PKW

(1) (2) (3) (4)

2 Sumatera Utara Kawasan Perkotaan

Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro) (I/C/3)

Tebingtinggi (II/C/1)

Sidikalang (II/B)

Pematang Siantar (I/C/1)

Balige (II/C/1)

Rantau Prapat (I/C/1)

Kisaran (II/C/1)

Gunung Sitoli (I/D/1), (II/C/1)

Padang Sidempuan (II/C/1)

Sibolga (I /C/1)

Sumber : RTRWN , PP N0. 26 Tahun 2008 (Lampiran II)

B . Arahan Kawasan Andalan

Dalam Rencana Pola Ruang Wilayah Nasional, Kota Medan termasuk dalam kawasan andalan di Provinsi Sumatera Utara seperti tergambar dalam Peta Rencana Pola Ruang Wilayah Nasional (Lampiran VII) dan Lampiran IX tentang penetapan Kawasan Andalan pada PP Nomor 26 Tahun 2008.

Tabel 3.3. Penetapan Kota Medan sebagai salah satu kabupaten/kota dalam Kawasan Andalan

dalam Lampiran IX padaPP Nomor 26 Tahun 2008

NO PROVINSI / KAWASAN ANDALAN SEKTOR UNGGULAN

2 SUMATERA UTARA

6 Kawasan Perkotaan Metropolitan Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro)

- (I/D/1) - (II/B/2) - (I/E/1) - (I/A/1) - (II/F/2)

- industri - perkebunan - pariwisata - pertanian - perikanan

(9)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

9

Posisi Kota Medan sebagai Kawasan Andalan untuk perkotaaan di Provinsi Sumatera Utara seperti di tunjukkan pada peta Kawasan Andalan sebagi berikut.

Sumber :RTRWN, PP N0. 26 Thn.2008 (Lampiran VII)

Gambar 3.1. Peta Kawasan Andalan di Provinsi Sumatera Utara pada RTRWN (PP Nomor 26 Tahun 2008)

3.2.

RENCANA TATA RUANG PULAU SUMATERA

RTR Pulau Sumatera merupakan rencana rinci dan operasionalisasi dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) serta alat koordinasi dan sinkronisasi program pembangunan wilayah Pulau Sumatera. RTR Pulau Sumatera ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 13 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera.

RTR Pulau Sumatera yang berfungsi sebagai pedoman untuk: a. Penyusunan rencana pembangunan di Pulau Sumatera;

b. Perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar wilayah provinsi dan kabupaten/kota, serta keserasian antar sektor di Pulau Sumatera;

(10)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

10

Hal-hal yang diatur pada RTR Pulau Sumatera meliputi:

a. Peran dan fungsi Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera;

b. Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang Pulau Sumatera; c. Rencana struktur ruang dan pola ruang Pulau Sumatera;

d. Strategi operasionalisasi perwujudan struktur ruang dan pola ruang Pulau Sumatera; e. Arahan pemanfaatan ruang Pulau Sumatera;

f. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang Pulau Sumatera; g. Koordinasi dan pengawasan; dan

h. Peran masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang Pulau Sumatera.

3.2.1.

Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Pulau Sumatera

Kebijakan dan strategi yang diatur dalam rencana Tata Ruang Pulau Sumatera merupakan arahan pengembangan dan pengendalian untuk mewujudkan 11 (sebelas) tujuan penataan ruang di Pulau Sumatera.

Arahan Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Pulau Sumatera sesuai PerPres No. 13 Tahun 2012 tentang RTR Pulau Sumatera telah dirangkum seperti pada tabel berikut.

Tabel 3.4. Kebijakan dan Strategi RTR Pulau Sumatera

Tujuan 1: Mewujudkan pusat pengembangan ekonomi perkebunan, perikanan, serta pertambangan yang berkelanjutan.

Kebijakan 1 Pengembangan sentra perkebunan kelapa sawit, karet, kopi, dan tembakau serta

pengembangan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil perkebunan.

Strategi Kebijakan

1. Mengembangkan kawasan agrobisnis perkebunan kelapa sawit, karet, kopi, dan tembakau dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;

2. Mengembangkan industri pengolahan dan industri jasa hasil perkebunan kelapa sawit, karet, kopi, dan tembakau yang ramah lingkungan; dan 3. Mengembangkan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat penelitian dan

pengembangan perkebunan.

Kebijakan 2 Pengembangan sentra perikanan serta pengembangan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil perikanan.

Strategi Kebijakan

1. Mengembangkan kawasan peruntukan perikanan tangkap dan perikanan budi daya dengan memperhatikan potensi lestarinya;

2. Mengembangkan pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil perikanan yang ramah lingkungan; dan

3. Mengembangkan keterkaitan antara kawasan minapolitan dan PKN, PKW, serta PKSN.

Kebijakan 3 Pengembangan kawasan peruntukan pertambangan mineral, batubara, minyak dan gas bumi, panas bumi serta pengembangan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat industri

pengolahan pertambangan. Strategi

Kebijakan

1. Mengembangkan kawasan peruntukan pertambangan mineral, batubara, minyak dan gas bumi serta panas bumi dengan memelihara kelestarian sumber daya alam dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan; 2. Mengembangkan pusat industri pengolahan hasil pertambangan mineral,

(11)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

11

Tujuan 2 : Mewujudkan swasembada pangan dan lumbung pangan Nasional.

Kebijakan 2.1 Pengembangan sentra pertanian tanaman pangan yang didukung dengan industri

pengolahan dan industri jasa hasil pertanian pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Strategi Kebijakan

1. Mengembangkan sentra pertanian tanaman pangan di kawasan andalan dengan sektor unggulan pertanian untuk ketahanan pangan;

2. Mengembangkan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil pertanian tanaman pangan; dan

3. Mengembangkan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat penelitian dan pengembangan pertanian tanaman pangan.

Kebijakan 2.2 Pelestarian dan pengembangan kawasan peruntukan pertanian pangan sawah beririgasi, rawa pasang surut dan lebak, serta sawah non irigasi, termasuk yang merupakan lahan pertanian pangan berkelanjutan.

Strategi Kebijakan

1. Mempertahankan luasan kawasan peruntukan pertanian pangan beririgasi, rawa pasang surut dan lebak, serta sawah non irigasi, termasuk yang merupakan lahan pertanian pangan berkelanjutan;

2. Mengembangkan kawasan peruntukan pertanian pangan sesuai kesesuaian lahan serta kelayakan rawa dan lahan kering/tadah hujan;

3. Mengendalikan alih fungsi lahan kawasan pertanian pangan sawah beririgasi menjadi non sawah; dan

4. Mengendalikan perkembangan fisik kawasan perkotaan nasional untuk mempertahankan lahan pertanian pangan berkelanjutan.

Kebijakan 2.3 Pengembangan jaringan dan pemertahanan prasarana sumber daya air untuk meningkatkan luasan lahan pertanian tanaman pangan.

Strategi Kebijakan

Memelihara dan mengembangkan bendungan beserta waduknya dan jaringan irigasi.

Tujuan 3 : Mewujudkan kemandirian energi dan lumbung energi nasional untuk ketenagalistrikan. Kebijakan 3.1 Pengembangan energi baru dan terbarukan

Strategi Kebijakan

1. Mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi baru berupa

pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), pembangkit listrik tenaga gas (PLTG), dan pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU); dan

2. Mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan berupa pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga matahari (PLTS), pembangkit listrik tenaga angin (PLTB), dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).

Kebijakan 3.2 Pengembangan interkoneksi jaringan transmisi tenaga listrik Strategi

Kebijakan

1. Mengembangkan interkoneksi jaringan transmisi tenaga listrik seluruh Pulau Sumatera; dan

2. Mengembangkan interkoneksi jaringan transmisi tenaga listrik antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa.

Tujuan 4 : Mewujudkan pusat industri yang berdaya saing.

Kebijakan 4.1 Peningkatan fungsi dan pengembangan kawasan peruntukan industri yang berdaya saing di kawasan perkotaan nasional.

Strategi Kebijakan

1. Merehabilitasi, meningkatkan fungsi, dan mengembangkan kawasan peruntukan industri yang didukung prasarana dan sarana;

2. Merehabilitasi dan mengembangkan kawasan peruntukan industri yang bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan; dan

3. Mengembangkan kawasan perkotaan nasional untuk kegiatan industri kreatif.

Kebijakan 4.2 Pengembangan keterkaitan ekonomi antar pusat-pusat industri. Strategi

Kebijakan

1. Mengembangkan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat industri yang didukung prasarana dan sarana; dan

(12)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

12

Tujuan 5 : Mewujudkan pusat pariwisata berdaya saing internasional berbasis ekowisata, bahari, cagar budaya dan ilmu pengetahuan, serta penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition/MICE).

Kebijakan 5.1 Rehabilitasi dan pengembangan kawasan peruntukan pariwisata ekowisata, bahari, cagar budaya dan ilmu pengetahuan, serta penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran.

Strategi Kebijakan

1. Mengembangkan prasarana dan sarana pendukung kegiatan pariwisata ekowisata, bahari, cagar budaya dan ilmu pengetahuan, serta

penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran; 2. Merehabilitasi kawasan peruntukan pariwisata ekowisata, bahari, cagar

budaya dan ilmu pengetahuan yang terdegradasi.

Kebijakan 5.2 Pengembangan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat pariwisata bahari, cagar budaya dan ilmu pengetahuan, serta penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran.

Strategi Kebijakan

1. Mengembangkan pusat jasa dan promosi pariwisata di kawasan perkotaan nasional;

2. Meningkatkan keterkaitan antara kawasan perkotaan nasional dan kawasan-kawasan pariwisata cagar budaya dan ilmu pengetahuan, bahari, serta penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran; 3. Meningkatkan keterkaitan antarPKN dan antarPKW di Pulau Sumatera

sebagai pusat pariwisata dalam kesatuan tujuan wisata.

Tujuan 6 : Mewujudkan kelestarian kawasan berfungsi lindung bervegetasi hutan tetap paling sedikit 40% (empat puluh persen) dari luas Pulau Sumatera sesuai dengan kondisi ekosistemnya.

Kebijakan 6.1 Pemertahanan luasan kawasan berfungsi lindung dan rehabilitasi kawasan berfungsi lindung yang terdegradasi.

Strategi Kebijakan

1. Mempertahankan luasan kawasan bervegetasi hutan tetap yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya;

2. Menetapkan kawasan hutan paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas daerah aliran sungai (das); dan

3. Memulihkan kawasan berfungsi lindung yang terdegradasi dalam rangka memelihara keseimbangan ekosistem pulau.

Kebijakan 6.2 Pengendalian kegiatan budi daya yang berpotensi mengganggu kawasan berfungsi lindung. Strategi

Kebijakan

1. Menata kembali permukiman masyarakat adat yang berada di kawasan berfungsi lindung;

2. Mengendalikan kegiatan pemanfaatan ruang di bagian hulu Wilayah Sungai (WS), kawasan imbuhan air tanah dan pelepasan air tanah pada daerah Cekungan Air Tanah (CAT), kawasan hutan lindung, kawasan resapan air, dan kawasan konservasi; dan

3. Mengendalikan pemanfaatan ruang pada kawasan dengan kelerengan terjal; Kebijakan 6.3 Pengembangan pengelolaan potensi kehutanan dengan prinsip berkelanjutan.

Strategi Kebijakan

1. Merehabilitasi kawasan peruntukan hutan yang mengalami deforestasi dan degradasi;

2. Mengembangkan sentra kehutanan pada kawasan andalan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; dan 3. Mengembangkan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat industri

pengolahan dan industri jasa hasil hutan yang bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan.

Tujuan 7 : Mewujudkan kelestarian kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati hutan tropis basah. Kebijakan 7.1 Pelestarian dan pengembangan keanekaragaman hayati hutan tropis basah yang bernilai

konservasi tinggi. Strategi

Kebijakan

1. Melestarikan kawasan konservasi keanekaragaman hayati hutan tropis basah; 2. Mengembangkan pusat penelitian keanekaragaman hayati hutan tropis basah. Kebijakan 7.2 Pengembangan koridor ekosistem antarkawasan berfungsi konservasi.

Strategi Kebijakan

(13)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

13

2. Mengendalikan pemanfaatan ruang kawasan budi daya pada koridor ekosistem antar kawasan berfungsi konservasi;

3. Membatasi pengembangan kawasan permukiman pada koridor ekosistem antar kawasan berfungsi konservasi; dan

4. Mengembangkan prasarana yang ramah lingkungan pada koridor ekosistem antar kawasan berfungsi konservasi.

Tujuan 8 : Mewujudkan kawasan perkotaan nasional yang kompak dan berbasis mitigasi dan adaptasi bencana.

Kebijakan 8.1 Pengendalian perkembangan kawasan perkotaan nasional yang menjalar (urban sprawl). Strategi

Kebijakan

1. Mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan nasional yang menjalar melalui optimalisasi pemanfaatan ruang secara kompak, hemat energi dan sumberdaya, serta memanfaatkan teknologi lingkungan; dan

2. Mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan nasional yang berdekatan dengan kawasan lindung.

Kebijakan 8.2 Pengendalian perkembangan kawasan perkotaan nasional di kawasan rawan bencana. Strategi

Kebijakan

1. Mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan nasional di wilayah pesisir barat dan pesisir selatan Pulau Sumatera, termasuk pulau-pulau kecil di sekitarnya yang rawan bencana tsunami dan gempa bumi;

2. Mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan nasional di wilayah tengah Pulau Sumatera yang rawan tanah longsor, gempa bumi, dan rawan letusan gunung berapi;

3. Mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan nasional yang rawan banjir terutama di wilayah timur Pulau Sumatera;

4. Mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan nasional di wilayah pesisir Pulau Sumatera yang rawan gelombang pasang;

5. Menetapkan zona-zona rawan bencana alam beserta ketentuan mengenai standar bangunan gedung yang sesuai dengan karateristik, jenis, dan ancaman bencana di kawasan perkotaan nasional;

6. Mengembangkan prasarana dan sarana perkotaan yang berfungsi sebagai lokasi dan jalur evakuasi bencana; dan

7. Membangun sarana pemantauan bencana.

Tujuan 9 : Mewujudkan pusat pertumbuhan baru di wilayah pesisir barat dan wilayah pesisir timur Pulau Sumatera

Kebijakan 9.1 Pengembangan kawasan perkotaan nasional berbasis sumber daya alam dan jasa lingkungan di wilayah pesisir barat dan wilayah pesisir timur Pulau

Sumatera dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Strategi

Kebijakan

1. Mengembangkan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat pertumbuhan perkebunan, agropolitan, pariwisata, minapolitan, dan pertambangan untuk pertumbuhan ekonomi wilayah; dan

2. Mengembangkan kawasan perkotaan nasional sebagai pusat perdagangan dan jasa yang berskala internasional.

Tujuan 10 : Mewujudkan jaringan transportasi antarmoda yang dapat meningkatkan keterkaitan antarwilayah, efisiensi ekonomi, serta membuka keterisolasian wilayah.

Kebijakan 10.1 Pengembangan jaringan transportasi yang terpadu untuk meningkatkan keterkaitan antarwilayah, efisiensi, dan daya saing ekonomi wilayah.

Strategi Kebijakan

1. Mengembangkan dan memantapkan akses prasarana dan sarana

transportasi darat, laut, dan/atau udara yang menghubungkan antarkawasan perkotaan, dan memantapkan koridor ekonomi Pulau Sumatera;

2. Meningkatkan fungsi dan/atau mengembangkan jaringan transportasi dengan memperhatikan kawasan berfungsi lindung; dan

3. Mengembangkan dan memantapkan akses prasarana dan sarana

transportasi darat yang meliputi jaringan jalan, jaringan jalur kereta api, serta jaringan transportasi sungai, danau, dan lintas penyeberangan yang

(14)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

14

Kebijakan 10.2 Pengembangan jaringan transportasi untuk meningkatkan aksesibilitas kawasan perbatasan negara, kawasan tertinggal dan terisolasi, termasuk pulau-pulau kecil.

Strategi Kebijakan

1. Mengembangkan jaringan transportasi yang menghubungkan kawasan perkotaan nasional dengan kawasan perbatasan negara, kawasan tertinggal dan terisolasi, termasuk pulau-pulau kecil; dan

2. Mengembangkan sistem transportasi antarmoda menuju kawasan

perbatasan negara, kawasan tertinggal dan terisolasi, termasuk pulau-pulau kecil.

Tujuan 11 : Mewujudkan kawasan perbatasan negara sebagai beranda depan dan pintu gerbang negara yang berbatasan dengan Negara India, Negara Thailand, Negara Malaysia, Negara Singapura, dan Negara Vietnam dengan memperhatikan keharmonisan aspek kedaulatan, pertahanan dan keamanan negara, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan hidup.

Kebijakan 11.1 Percepatan pengembangan kawasan perbatasan negara dengan pendekatan kesejahteraan, pertahanan dan keamanan negara, serta lingkungan hidup.

Strategi Kebijakan

1. Mempercepat pengembangan PKSN sebagai pusat pengembangan ekonomi, pintu gerbang internasional, serta simpul transportasi kawasan perbatasan negara dengan Negara India, Negara Thailand, Negara Malaysia, Negara Singapura, dan Negara Vietnam;

2. Mempercepat pengembangan kawasan sentra produksi di kawasan perbatasan negara berbasis sumber daya alam yang produktif dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; dan 3. Mempercepat pengembangan kawasan pertahanan dan keamanan negara

sebagai perwujudan kedaulatan negara.

Kebijakan 11.2 Pemertahanan eksistensi 34 (tiga puluh empat) pulau kecil terluar yang meliputi... (seperti dijelaskan pada pasal 16 ayat 1).

Strategi Kebijakan

1. Membangun dan memelihara mercusuar sebagai penanda dan navigasi pelayaran di ... (seperti dijelaskan pada pasal 16 ayat 1);

2. Mengembangkan prasarana dan sarana transportasi penyeberangan yang dapat meningkatkan akses ke pulau-pulau kecil terluar di ... (seperti dijelaskan pada pasal 16 ayat 1).;

3. Membangun bandar udara untuk melayani angkutan udara perintis di ... (seperti dijelaskan pada pasal 16 ayat 1);

4. Menyediakan dan meningkatkan prasarana dan sarana untuk pemenuhan kebutuhan air baku di ... (seperti dijelaskan pada pasal 16 ayat 1);

5. Mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mencukupi kebutuhan di ... (seperti dijelaskan pada pasal 16 ayat 1); dan

6. Mengembangkan jaringan telekomunikasi di ... (seperti dijelaskan pada pasal 16 ayat 1).

Sumber :RTRW Pulau Sumatera Utara, PerPres No. 13 Tahun 2012

Kebijakan dan strategi penataan ruang secara lengkap dijelaskan pada Bab II tentang Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Pulau Sumatera pada PerPres No. 13 Tahun 2012.

3.2.2.

Rencana Struktur Ruang dan Rencana Pola Ruang Pulau Sumatera

(15)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

15

3.2.3.

Strategi Operasionalisasi Perwujudan Struktur Ruang dan Pola Ruang Pulau Sumatera

Arahan kebijakan rencana struktur ruang dan rencana pola ruang Pulau Sumatera sabagai perangkat operasional RTRWN di Pulau Sumatera adalah berupa Strategi Operasionalisasi Perwujudan Struktur Ruang dan Pola Ruang.

Strategi Operasionalisasi perwujudan Struktur Ruangterdiri atas: A. Sistem Perkotaan Nasional.

Strategi operasionalisasi perwujudan sistem perkotaan nasional di Pulau Sumatera secara lengkap dijelaskan pada Bab IV dan Lampiran III PerPres No. 13 Tahun 2012

B. Sistem Jaringan Transportasi Nasional.

Strategi operasionalisasi sistem jaringan transportasi nasional di Pulau Sumatera secara lengkap dijelaskan pada Bab IV dan Lampiran IV, Lampiran V, Lampiran VI, Lampiran VII, Lampiran VIIIPerPres No. 13 Tahun 2012.

C. Sistem Jaringan Energi Nasional.

Strategi operasionalisasi perwujudan sistem jaringan energi nasional di Pulau Sumatera secara lengkap dijelaskan pada Bab IV dan Lampiran IX PerPres No. 13 Tahun 2012

D. Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional.

Strategi operasionalisasi perwujudan sistem jaringan telekomunikasi nasional di Pulau Sumatera secara lengkap dijelaskan pada Bab IV dan Lampiran XPerPres No. 13 Tahun 2012.

E. Sistem Jaringan Sumber Daya Air.

Strategi operasionalisasi perwujudan sistem jaringan sumber daya air di Pulau Sumatera secara lengkap dijelaskan pada Bab IV dan Lampiran XIPerPres No. 13 Tahun 2012.

Strategi Operasionalisasi perwujudan Pola Ruang terdiri atas:

A. Kawasan Lindung Nasional, yang terdiri atas strategi operasionalisasi perwujudan: 1. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya; 2. Kawasan perlindungan setempat;

3. Kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, dan cagar budaya; 4. Kawasan rawan bencana alam;

5. Kawasan lindung geologi; dan 6. Kawasan lindung lainnya.

Strategi operasionalisasi perwujudan Kawasan Lindung Nasional di Pulau Sumatera secara lengkap dijelaskan pada Bab IV dan Lampiran XIIPerPres No. 13 Tahun 2012.

B. Kawasan Budi Daya Yang Memiliki Nilai Strategis Nasional, yang terdiri atas strategi operasionalisasi perwujudan:

(16)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

16

Strategi operasionalisasi perwujudan Kawasan Budi Daya Yang Memiliki Nilai Strategis Nasional di Pulau Sumatera secara lengkap dijelaskan pada Bab IV dan Lampiran XIII PerPres No. 13 Tahun 2012.

Kawasan Budi Daya Yang Memiliki Nilai Strategis Nasional yang mampu memacu pertumbuhan ekonomi kawasan dan wilayah di sekitarnya, serta mendorong pemerataan perkembangan wilayah ditetapkan sebagai Kawasan Andalan, yang terdiri atas kawasan andalan dengan sektor unggulan kehutanan, pertanian, perikanan, perkebunan, pertambangan, industri, dan pariwisata. Strategi operasionalisasi perwujudan Kawasan Andalan di Pulau Sumatera secara lengkap dijelaskan pada Bab IV dan Lampiran XIV PerPres No. 13 Tahun 2012.

3.2.4.

Arahan Pemanfaatan Ruang Pulau Sumatera

Arahan pemanfaatan ruang Pulau Sumatera merupakan acuan untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang Pulau Sumatera sebagai perangkat operasional RTRWN di Pulau Sumatera, yang terdiri atas:

a. Indikasi Program Utama.

Merupakan indikasi program utama perwujudan struktur ruang dan pola ruang. b. Sumber Pendanaan.

Sumber pendanaan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dan/atau sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

c. Instansi Pelaksana.

Instansi pelaksana terdiri atas Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, dan masyarakat.

d. Waktu Pelaksanaan.

Terdiri atas 4 (empat) tahapan pelaksana kegiatan dalam menetapkan prioritas pembangunan di Pulau Sumatera,yang meliputi tahap pertama (periode tahun 2011-2014), tahap kedua (periode tahun 2015-2019), tahap ketiga (periode tahun 2020-2024) dan tahap keempat (periode tahun 2025-2027).

Indikasi program utama, sumber pendanaan, instansi pelaksana, dan waktu pelaksanaan secara rinci tercantum dalam Lampiran XV pada PerPres No. 13 Tahun 2012. Prioritas pengembangan indikasi program utama perwujudan struktur ruang dan pola ruang untuk setiap tahapan pelaksanaanya secara rinci dijelaskan di Bab V pada PerPres No. 13 Tahun 2012.

3.2.5.

Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pulau Sumatera

Arahan pengendalian pemanfaatan ruang Pulau Sumatera digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang Pulau Sumatera, yang terdiri atas:

1. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional.

(17)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

17

a. indikasi arahan peraturan zonasi untuk struktur ruang; dan

b. indikasi arahan peraturan zonasi untuk pola ruang. 2. Arahan perizinan.

Arahan perizinan merupakan acuan dalam pemberian izin pemanfaatan ruang.Setiap pemanfaatan ruang harus mendapatkan izin pemanfaatan ruang dari Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan/atau pemerintah daerah kabupaten/kota sesuai peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota beserta rencana rinci dan peraturan zonasinya yang didasarkan pada Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden ini.

3. Arahan pemberian insentif dan disinsentif.

Arahan pemberian insentif dan disinsentif merupakan acuan bagi Pemerintah dan pemerintah daerah sebagai upaya pengendalian pemanfaatan ruang dalam rangka mewujudkan Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera.

4. Arahan sanksi.

Arahan sanksi diberikan dalam bentuk sanksi administrasi dan/atau sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan bidang penataan ruang.

(18)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

18

Gambar 3.2. Peta Kawasan Andalan Pulau Sumatera Utara pada RTRWN

(PP Nomor 26 Tahun 2008)

(19)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

19

3.3.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI SUMATERA UTARA

Rencana Tata Ruang Provinsi adalah perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi di wilayah yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi dengan tujuan untuk mewujudkan wilayah yang sejahtera, merata, berdaya saing dan berwawasan lingkungan.

Sampai dengan saat ini Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Sumatera Utara masih berupa Rancangan peraturan daerah atau Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Utara. RTRWP Sumatera Utara bersifat umum disusun berdasarkan pendekatan wilayah administratif provinsi Sumatera Utara (yang meliputi 33 kabupaten/kota) dengan muatan substansi mencakup Rencana Struktur Ruang dan Rencana Pola Ruang.

3.3.1.

Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Provinsi Sumatera Utara

Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Provinsi Sumatera Utara sesuai Ranperda RTRW Provinsi Sumatera tentang RTRW Provinsi Sumatera Utara telah dirangkum seperti pada tabel berikut.

Tabel 3.5. Kebijakan dan Strategi RTRW Provinsi Sumatera Utara

Kebijakan 1: Mengurangi kesenjangan pengembangan wilayah timur dan barat.

Strategi Kebijakan 1. Mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah barat sesuai dengan potensi dan daya dukung; dan

2. Membangun dan meningkatkan jaringan jalan lintas timur dan barat.

Kebijakan 2 : Mengembangkan sektor ekonomi unggulan melalui peningkatan daya saing dan diversifikasi produk.

Strategi Kebijakan 1. Mendorong kegiatan pengolahan komoditi unggulan di pusat produksi komoditi unggulan;

2. Meningkatkan prasarana perhubungan dari pusat produksi komoditi unggulan menuju pusat pemasaran;

3. Menyediakan sarana dan prasarana pendukung produksi untuk menjamin kestabilan produksi komoditi unggulan;

4. Mengembangkan pusat-pusat agropolitan dan agromarinepolitan untuk meningkatkan daya saing;

5. Meningkatkan kapasitas pembangkit listrik dengan memanfaatkan sumber energi yang tersedia dan terbaharukan serta memperluas jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik guna mendukung produksi komoditas unggulan; dan 6. Mengembangkan kawasan yang berpotensi memacu pertumbuhan ekonomi

kawasan dan wilayah di sekitarnya serta mendorong pemerataan perkembangan wilayah.

Kebijakan 3 : Mewujudkan ketahanan pangan melalui intensifikasi lahan yang ada dan ekstensifikasi kegiatan pertanian pada lahan non-produktif.

Strategi Kebijakan 1. Mempertahankan luasan lahan pertanian; 2. Meningkatkan produktivitas pertanian;

3. Melindungi lahan pertanian pangan berkelanjutan; dan

4. Mencetak kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan baru untuk memenuhi swasembada pangan.

Kebijakan 4 : Menjaga kelestarian lingkungan dan mengembalikan keseimbangan ekosistem. Strategi Kebijakan 1. Mempertahankan luasan kawasan lindung

2. Meningkatkan kualitas kawasan lindung; dan 3. Mengembalikan ekosistem kawasan lindung.

(20)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

20

2. Mendorong intensifikasi pemanfaatan ruang di kawasan permukiman perdesaan dan perkotaan

Kebijakan 6 : Meningkatkan aksebilitas dan meratakan pelayanan sosial ekonomi ke seluruh wilayah provinsi. Strategi Kebijakan 1. Membangun dan meningkatkan kualitas jaringan transportasi keseluruh bagian

wilayah; dan

2. Menyediakan dan memeratakan fasilitas pelayanan sosial ekonomi.

Sumber : Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Utara

Kebijakan dan strategi penataan ruang secara lengkap dijelaskan pada Bab III tentang Tujuan, kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara pada Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Utara.

3.3.2.

Rencana Struktur Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara

Rencana struktur ruang wilayah provinsi meliputi: 1. Sistem perkotaan;

2. Sistem jaringan transportasi; 3. Sistem jaringan energi;

4. Sistem jaringan telekomunikasi; 5. Sistem jaringan sumber daya air; dan 6. Sistem jaringan prasarana lingkungan.

Rencana struktur ruang dan rencana pengembangan struktur ruang wilayah provinsi secara lengkap dijelaskan pada Bab IV tentang Rencana Struktur Ruang Wilayah Provinsi dan digambarkan dalam peta dengan skala 1 : 250.000 yang tercantum pada Lampiran I Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Utara.

3.3.3.

Rencana Pola Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara

Rencana pola ruang wilayah provinsi meliputi: 1. Kawasan Lindung, yang terdiri dari:

a. Kawasan hutan lindung;

b. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya; c. Kawasan perlindungan setempat;

d. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya; e. Kawasan rawan bencana;

f. Kawasan lindung geologi ; dan g. Kawasan lindung lainnya.

Penetapan kawasan lindung dilakukan dengan mengacu pada pola ruang kawasan lindung yang telah ditetapkan secara nasional sebagaimana tercantum dalam Lampiran XIV Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Utara.

(21)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

21

e. Kawasan peruntukan peternakan;

f. Kawasan peruntukan perikanan dan kelautan; g. Kawasan peruntukan pertambangan;

h. Kawasan peruntukan industri; i. Kawasan peruntukan pariwisata; j. Kawasan peruntukan permukiman; dan k. Kawasan peruntukan lainnya.

Penetapan kawasan budidaya dilakukan dengan mengacu pada pola ruang kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional, serta memperhatikan pola ruang kawasan budidaya Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Rencana Pola Ruang dan Rencana Pengembangan Pola Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:250.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran XV, Lampiran XVI, Lampiran XVII, Lampiran XVIII, Lampiran XIX, Lampiran XX, Lampiran XXI, Lampiran XXII, Lampiran XXIII, Lampiran XXIV, Lampiran XXV, Lampiran XXVI dan Lampiran XXVII Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Utara.

3.3.4.

Penetapan Kawasan Strategis Provinsi Sumatera Utara

Kawasan strategis di Provinsi Sumatera Utara meliputi penetapan Kawasan Strategis Nasional dan penetapan Kawasan Strategis Provinsi.

1. Kawasan Strategis Nasional di Provinsi Sumatera Utara, meliputi:

a. Dari sudut kepentingan pertahanan keamanan, yaitu Pulau Berhala Kabupaten Serdang Bedagai di Kawasan Perbatasan laut Negara Kesatuan Republik Indonesia

b. Dari sudut kepentingan ekonomi, yaitu Kawasan Perkotaan Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro);

c. Dari sudut kepentingan lingkungan, yaitu Kawasan Danau Toba dan sekitarnya.

2. Kawasan strategis provinsi merupakan bagian wilayah provinsi yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup provinsi, baik di bidang ekonomi, sosial budaya, dan/atau lingkungan.

Kawasan strategis provinsi berfungsi untuk

 Mewadahi penataan ruang kawasan yang tidak bisa terakomodasi dalam rencana struktur ruang dan rencana pola ruang;

 Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat dan kegiatan pelestarian fungsi lingkungan dalam wilayah provinsi yang dinilai mempunyai pengaruh sangat penting terhadap wilayah provinsi; dan

 Sebagai dasar penyusunan rencana tata ruang kawasan strategis provinsi. Kawasan strategis provinsi ditetapkan berdasarkan kepentingan:

a. pertumbuhan ekonomi; b. sosial dan budaya;

c. fungsi dan daya dukung lingkungan hidup.

(22)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

22

Sumber : Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Utara

(23)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

23

3.3.5.

Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara

Pemanfaatan ruang wilayah berpedoman pada rencana struktur ruang dan pola ruang. Pemanfaatan ruang wilayah dilaksanakan melalui penyusunan dan pelaksanaan program pemanfaatan ruang berdasarkan indikasi program utama jangka menengah lima tahunan seperti terlampir pada Lampiran XXVII Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Utara.

Pendanaan program pemanfaatan ruang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, investasi swasta atau sumber lain yang tidak mengikat, dan/atau kerja sama pendanaan. Pemanfaatan ruang secara lengkap dijelaskan pada Bab VII tentang Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah pada Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Utara.

3.3.6.

Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Provinsi

Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi merupakan acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi.

Arahan pengendalian pemanfaatan ruang meliputi: a. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi; b. Arahan perizinan;

c. Arahan insentif dan disinsentif; dan d. Arahan sanksi.

Arahan, Indikasi arahan dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang secara lengkap dijelaskan pada Bab VIII tentang Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Provinsi dan di bagian Lampiran XXVII pada Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Utara.

3.4.

RENCANA TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN MEBIDANGRO

Sesuai dengan arahan pada Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kawasan Strategis Nasional (KSN) adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia. Penetapan Kawasan Strategis Nasional dilakukan berdasarkan beberapa kepentingan, yaitu:

a. Pertahanan dan keamanan, b. Pertumbuhan ekonomi, c. Sosial dan budaya,

d. Pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi, dan e. Fungsi dan daya dukung lingkungan hidup

(24)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

24

3.4.1.

Peran dan Fungsi Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro

RTR Kawasan Perkotaan Mebidangro berperan sebagai alat operasionalisasi Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan sebagai alat koordinasi pelaksanaan pembangunan di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

RTR Kawasan Perkotaan Mebidangro berfungsi sebagai pedoman untuk: a. Penyusunan rencana pembangunan di Kawasan Perkotaan Mebidangro;

b. Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di Kawasan Perkotaan Mebidangro; c. Perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar wilayah

Kabupaten/Kota, serta keserasian antar sektor di Kawasan Perkotaan Mebidangro; d. Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi di Kawasan Perkotaan Mebidangro; e. Penataan ruang wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota di Kawasan Perkotaan Mebidangro; f. Pengelolaan Kawasan Perkotaan Mebidangro; dan

g. Perwujudan keterpaduan rencana pengembangan Kawasan Perkotaan Mebidangro dengan kawasan sekitarnya.

3.4.2.

Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro

Tujuan dari pengembangan KSN Kawasan Perkotaan Medan Binjai Deli Serdang dan Karo (Mebidangro) adalah :

1. Kawasan Perkotaan Mebidangro yang aman, nyaman, produktif, berdaya saing secara internasional, dan berkelanjutan sebagai Pusat Kegiatan Nasional di bagian utara Pulau Sumatera; 2. Lingkungan perkotaan yang berkualitas dan keseimbangan tata air DAS;

3. Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan; dan

4. Pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

Kebijakan dan strategi penataan ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro terdiri dari 7 (tujuh) kebijakan dan 48 (empat puluh delapan) langkah strategi untuk mewujudkan 4 (empat) tujuan pentaan ruangnya seperti pada rincian dalam tabel berikut.

Tabel 3.6. Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang KSN Mebidangro

Tujuan 1: Kawasan Perkotaan Mebidangro yang aman, nyaman, produktif, berdaya, saing secara

internasional, dan berkelanjutan sebagai pusat kegiatan nasional di bagian utara Pulau Sumatera; Kebijakan 1.1 Pengembangan dan pemantapan fungsi Kawasan Perkotaan Mebidangro sebagai pusat

perekonomian nasional yang produktif dan efisien serta mampu bersaing secara internasional terutama dalam kerja sama ekonomi subregional Segitiga Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Thailand.

Strategi Kebijakan

1. Mengembangkan pusat-pusat kegiatan yang memiliki aksesibilitas eksternal yang memadai dan mudah terjangkau dari kawasan permukiman.

2. Mengembangkan kawasan perdagangan dan jasa secara terpadu pada pusatpusat kegiatan, simpul-simpul transportasi, serta koridor-koridor jalan arteri.

(25)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

25

memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup serta fungsi ekosistem.

4. Mengembangkan sebagian Kawasan Perkotaan Mebidangro yang menyelenggarakan fungsi perekonomian bersifat khusus yang terdiri atas satu atau beberapa zona pengolahan ekspor, logistik, industri,

pengembangan teknologi, pariwisata, energi, dan/atau ekonomi lainnya. 5. Mengarahkan pengembangan perkotaan pada arah timur dan barat,

danmengendalikan pengembangan di kawasan pesisir dan perbukitan di bagian selatan Kawasan Perkotaan Mebidangro.

Kebijakan 1.2 Peningkatan akses pelayanan pusat-pusat kegiatan perkotaan Mebidangro sebagai pembentuk struktur ruang perkotaan dan penggerak utama pengembangan wilayah Sumatera bagian utara.

Strategi Kebijakan

1. Menetapkan pusat kegiatan yang tersebar dan seimbang di Kawasan PerkotaanMebidangro.

2. Mengembangkan pusat-pusat kegiatan yang memiliki aksesibilitas eksternal yang memadai dan didukung oleh jaringan prasarana yang terpadu.

3. Mengembangkan pusat-pusat kegiatan yang memiliki aksesibilitas internal yang memadai dari permukiman.

4. Mengembangkan lokasi kegiatan sektor informal secara terpadu dengan pusat-pusat kegiatan yang tidak mengganggu kelancaran lalu lintas dan kenyamanan lingkungan.

5. Meningkatkan keterkaitan antarpusat kegiatan perkotaan Mebidangro dengan kawasan perkotaan dan perdesaan di sekitarnya.

6. Mengembangkan pusat-pusat pelayanan perdesaan yang memiliki aksesibilitas internal.

Kebijakan 1.3 Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya air, serta prasarana perkotaan awasan Perkotaan Mebidangro yang merata dan terpadu secara internasional, nasional, dan regional.

Strategi Kebijakan

1. Meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan transportasi perkotaan yang seimbang dan terpadu antara jaringan jalan, jalur pedestrian, jalur sepeda, jalur evakuasi bencana, angkutan massal yang berbasis moda jalan, jaringan jalur kereta api, transportasi laut, dan transportasi udara yang tidak mengganggu keutuhan kawasan lindung dan ekosistem yang bersifat unik atau bernilai konservasi tinggi (high conservation value).

2. Meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan energi listrik, minyak dan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

3. Meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan telekomunikasi yang mencapai seluruh pusat kegiatan dan permukiman di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

4. Meningkatkan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air dengan berbasis pengelolaan wilayah sungai secara terpadu.

5. Meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan air minum, air limbah, drainase, dan persampahan secara terpadu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

Kebijakan 1.4 Peningkatan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi pembangunan Kawasan Perkotaan Mebidangro melalui kerja sama antar daerah, kemitraan pemangku kepentingan, dan penguatan peran masyarakat.

Strategi Kebijakan

1. Mengembangkan lembaga kerja sama antar daerah yang berfungsi untuk melakukan koordinasi, fasilitasi kerja sama, dan kemitraan dalam

pemanfaatan ruang dan pengendalian pembangunan Kawasan Perkotaan Mebidangro.

(26)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

26

Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

3. Meningkatkan promosi investasi di dalam dan luar negeri serta memanfaatkan kerja sama ekonomi subregional Segitiga Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Thailand.

4. Mendorong penguatan peran masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pembangunan Kawasan Perkotaan Mebidangro melalui berbagai forum dan lembaga pendukung pengembangan Kawasan Perkotaan Mebidangro.

Tujuan 2 : Lingkungan perkotaan yang berkualitas dan keseimbangan tata air DAS.

Kebijakan 2.1 Peningkatan fungsi, kuantitas, dan kualitas RTH dan kawasan lindung lainnya di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

Strategi Kebijakan

1. Mewujudkan RTH paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari kawasan fungsional perkotaan dan mewujudkan hutan paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari setiap DAS dengan sebaran yang proporsional yang berada di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

2. Menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup berbasis wilayah sungai dan DAS.

3. Merehabilitasi dan merevitalisasi kawasan lindung yang telah mengalami kerusakan fungsi lindung.

Tujuan 3 : Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan; dan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Kebijakan 3.1 Peningkatan keterpaduan antar kegiatan budi daya serta keseimbangan antara perkotaan dan perdesaan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Strategi Kebijakan

1. Menetapkan lokasi dan kegiatan budi daya yang meliputi permukiman, pertanian, kelautan dan perikanan, transportasi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan negara, pariwisata, pertambangan, industri, dan hutan produksi dengan mempertimbangkan faktor ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

2. Mengembangkan kegiatan perkotaan yang meliputi permukiman, perdagangan dan jasa, serta industri secara terpadu sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

3. Menyeimbangkan pengembangan kegiatan dengan penyediaan permukiman serta prasarana dan sarana, untuk mewujudkan pelayanan optimal serta lingkungan yang bersih dan sehat.

4. Mengembangkan kegiatan perdagangan dan jasa skala internasional, nasional, regional, dan lokal secara merata.

5. Mengembangkan kegiatan industri yang memiliki keterkaitan dengan sumber bahan baku di kawasan sekitarnya dan keterkaitan dengan pasar internasional, nasional, dan regional.

6. Mempertahankan kegiatan pertanian produktif dan spesifik di perdesaan dengan memperhatikan dampak perkembangan kota dan konservasi air dan tanah.

7. Mewajibkan pemerintah daerah menetapkan dan mempertahankan lahan pertanian pangan berkelanjutan;

8. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam tak terbarukan sesuai daya dukung lingkungan secara berkelanjutan dan mengutamakan masyarakat lokal.

9. Mengendalikan pemanfaatan kawasan hutan produksi untuk menjaga fungsi hidrogeologis daerah tangkapan air.

10. Memanfaatkan wilayah pesisir serta perairan pantai untuk kegiatan transportasi, pariwisata, perikanan, dan pertambangan secara terpadu. 11. Mengembangkan kegiatan budi daya darat dan laut yang berbasis

mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim global.

(27)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

27

Kajian Lingkungan Hidup Strategis dalam rangka penyusunan dan evaluasi kebijakan, rencana, dan/atau program yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau risiko lingkungan hidup di Kawasan Perkotaan Mebidangro sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tujuan 4 : Pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

Kebijakan 4.1 Peningkatan fungsi dan fasilitas pertahanan dan keamanan negara di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

Strategi Kebijakan

1. Menyediakan ruang untuk kawasan pertahanan dan keamanan negara. 2. Mengembangkan kegiatan budi daya secara selektif di dalam dan di

sekitar kawasan pertahanan dan keamanan negara.

3. Mengembangkan zona penyangga yang memisahkan antara kawasan pertahanan dan keamanan negara dan kawasan budi daya terbangun di sekitarnya.

Sumber : RTR KSN Mebidangro, No. 62 Tahun 2011

Tujuan, kebijakan dan strategi penataan ruang secara lengkap dijelaskan pada Bab II tentang Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Perkotaan Mebidangro pada No. 62 Tahun 2011.

3.4.3.

Arahan Pengembangan Struktur Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro

Rencana Struktur Ruang Kawasan Mebidangro ditetapkan dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan pusat kegiatan, meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana, serta meningkatkan fungsi kawasan perkotaan inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya.

Rencana struktur ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro adalah: 1. Rencana Sistem Pusat Permukiman, yang terdiri dari:

a. Pusat kegiatan di kawasan perkotaan inti, yaitu sebagai pusat kegiatan-kegiatan utama dan pendorong pengembangan kawasan perkotaan di sekitarnya

b. Pusat kegiatan di kawasan perkotaan di sekitarnya, yaitu sebagai penyeimbang (counter magnet) perkembangan kawasan perkotaan inti.

2. Rencana Sistem Jaringan Prasarana, yang meliputi sistem jaringan: transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya air, dan prasarana perkotaan.

Rencana Struktur Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro berikut penetapan lokasi wilayahnya secara lengkap dijelaskan pada Bab III dan digambarkan dalam Peta Rencana Struktur Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro dengan skala 1:50.000 dalam Lampiran I pada PP No. 62 Tahun 2011.

3.4.4.

Arahan Pengembangan Pola Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro

Rencana pola ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro ditetapkan dengan tujuan mengoptimalkan pemanfaatan ruang sesuai dengan peruntukannya sebagai kawasan lindung dan kawasan budi daya berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Penetapan rencana pola ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro meliputi:

1. Kawasan Lindung, yang terdiri dari:

a. Zona Lindung 1 (Zona L1) yang merupakan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya;

(28)

Arahan Strategis Nasional Bidang Cipta Karya Kota Medan

III.

28

c. Zona Lindung 3 (Zona L3) yang merupakan kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar

budaya;

d. Zona Lindung 4 (Zona L4) yang merupakan kawasan rawan bencana alam; e. Zona Lindung 5 (Zona L5) yang merupakan kawasan lindung geologi; dan f. Zona Lindung 6 (Zona L6) yang merupakan kawasan lindung lainnya. 2. Kawasan Budi daya, yang terdiri dari:

a. Zona Budi Daya 1 (Zona B1) yang merupakan zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang memiliki kualitas daya dukung lingkungan sangat tinggi dan tinggi, kualitas pelayanan prasarana dan sarana tinggi, dan bangunan gedung dengan intensitas tinggi, baik vertikal maupun horizontal.

b. Zona Budi Daya 2 (Zona B2) yang merupakan zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang mempunyai kualitas daya dukung lingkungan tinggi dan kualitas pelayanan prasarana dan sarana tinggi.

c. Zona Budi Daya 3 (Zona B3) yang merupakan zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang mempunyai kualitas daya dukung lingkungan sedang dan kualitas pelayanan prasarana dan sarana tinggi.

d. Zona Budi Daya 4 (Zona B4) yang merupakan zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang memiliki kualitas daya dukung lingkungan sedang serta kualitas pelayanan prasarana dan sarana sedang.

e. Zona Budi Daya 5 (Zona B5) yang merupakan zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang memiliki kualitas daya dukung lingkungan sedang.

f. Zona Budi Daya 6 (Zona B6) yang merupakan zona perairan laut dengan karakteristik sebagai kawasan yang potensial untuk kegiatan kelautan serta kegiatan pariwisata kelautan.

g. Zona Budi Daya 7 (Zona B7) yang merupakan zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang memiliki kualitas daya dukung lingkungan sedang dan rendah.

Rencana Pola Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro berikut penetapapan lokasi wilayahnya secara lengkap dijelaskan pada Bab IV dan digambarkan dalam Peta Rencana Pola Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro dengan skala 1:50.000 dalam Lampiran II pada PP No. 62 Tahun 2011.

3.4.5.

Arahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro

Arahan pemanfaatan ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro merupakan acuan dalam mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro, yang terdiri atas:

1. Indikasi Program Utama.

Indikasi program utama program utama pemanfaatan ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro adalah meliputi program utama perwujudan struktur ruang dan program utama perwujudan pola ruang.

2. Indikasi Sumber Pendanaan.

Indikasi sumber pendanaan adalah berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dan/atau sumber lain yang sah sesuai

Figur

Tabel 3.3.  Penetapan Kota Medan sebagai salah satu kabupaten/kota dalam Kawasan Andalan dalam Lampiran IX padaPP Nomor 26 Tahun 2008

Tabel 3.3.

Penetapan Kota Medan sebagai salah satu kabupaten/kota dalam Kawasan Andalan dalam Lampiran IX padaPP Nomor 26 Tahun 2008 p.8
Tabel 3.2.  Penetapan Lokasi Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) untuk Provinsi Sumatera Utara dalam Sistem Perkotaan Nasional

Tabel 3.2.

Penetapan Lokasi Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) untuk Provinsi Sumatera Utara dalam Sistem Perkotaan Nasional p.8
Gambar 3.1.  Peta Kawasan Andalan di Provinsi Sumatera Utara pada RTRWN  (PP Nomor 26 Tahun 2008)

Gambar 3.1.

Peta Kawasan Andalan di Provinsi Sumatera Utara pada RTRWN (PP Nomor 26 Tahun 2008) p.9
Tabel 3.4. Kebijakan dan Strategi RTR Pulau Sumatera

Tabel 3.4.

Kebijakan dan Strategi RTR Pulau Sumatera p.10
Gambar 3.2.  Peta Kawasan Andalan Pulau Sumatera Utara pada RTRWN  (PP Nomor 26 Tahun 2008)

Gambar 3.2.

Peta Kawasan Andalan Pulau Sumatera Utara pada RTRWN (PP Nomor 26 Tahun 2008) p.18
Tabel 3.5. Kebijakan dan Strategi RTRW Provinsi Sumatera Utara

Tabel 3.5.

Kebijakan dan Strategi RTRW Provinsi Sumatera Utara p.19
Gambar 3.3.  Peta Kawasan Strategis Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Utara

Gambar 3.3.

Peta Kawasan Strategis Ranperda RTRW Provinsi Sumatera Utara p.22
Tabel 3.6.  Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang KSN Mebidangro

Tabel 3.6.

Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang KSN Mebidangro p.24
Gambar 3.4. Peta Kota Medan dalam Penetapan Kawasan Strategis Nasional Mebidangro untuk Provinsi Sumatera Utara

Gambar 3.4.

Peta Kota Medan dalam Penetapan Kawasan Strategis Nasional Mebidangro untuk Provinsi Sumatera Utara p.31
Tabel 3.8.  Indikasi Program  Ranperda RTR Provinsi Sumatera Utara 2013 –2033

Tabel 3.8.

Indikasi Program Ranperda RTR Provinsi Sumatera Utara 2013 –2033 p.32
Tabel 3.9. Indikasi Program Utama Lima Tahunan Arahan Pemanfaatan ruang Kawasan Perko1ztaan  Mebidangro Bidang Cipta Karya Untuk Kota Medan sesuai Perpres No

Tabel 3.9.

Indikasi Program Utama Lima Tahunan Arahan Pemanfaatan ruang Kawasan Perko1ztaan Mebidangro Bidang Cipta Karya Untuk Kota Medan sesuai Perpres No p.35
Tabel 3.10.  Mastriks Kedudukan Kota Medan dalam Arahan Strategis Nasional

Tabel 3.10.

Mastriks Kedudukan Kota Medan dalam Arahan Strategis Nasional p.46
Tabel 3.11. Kota Prioritas Strategis Nasional Klaster A

Tabel 3.11.

Kota Prioritas Strategis Nasional Klaster A p.47

Referensi

Memperbarui...