PERKEMBANGAN SOSIOEMOSI DI MASA BAYI
KELOMPOK 3 :
1. Desvira Cantika Putri (2124090053) 2. Aziza Salsabilla (2124090057)
3. Salwa Diansyah (2124090120)
4. Afifah Fathina Rusmawan (2124090149)
5. Nabilah Ardiyanti (2124090194)
1. PERKEMBANGAN EMOSI DAN KEPRIBADIAN
1) Perkembangan Emosi
I. PERKEMBANGAN EMOSI DAN KEPRIBADIAN
Apakah Emosi Itu? Terkait dengan tujuan kita,kita
akan mendefinisikan emosi sebagai perasaan atau afek yang terjadi ketika seseorang berada suatu kondisi atau sedang terlibat dalam interaksi yang penting baginya, khususnya terkait kesejahteraannya. Sering kali, emosi melibatkan komunikasi antara individu dan dunianya.
Meski emosi lebih dari sekadar komunikasi, komunikasi adalah aspek emosi yang mengemuka di masa bayi.
Para psikolog telah mengklasifikasikan emosi melalui berbagai cara, namun hampir semua klasifikasi itu
membedakan emosi sebagai positif atau negatif. Emosi positif dapat mencakup antusiasme, kegembiraan dan cinta. Emosi negatif dapat mencakup kecemasan.
kemarahan, rasa bersalah dan kesedihan.
Pengaruh Biologis dan Lingkungan
Emosi dipengaruhi oleh dasar biologis maupun
pengalaman seseorang. Daerah-daerah tertentu di otak yang berkembang di masa awal kehidupan juga terlihat pada perubahan kapasitas emosi
seorang bayi seperti batang otak, hipokampus, dan amigdala berperan terhadap munculnya kesedihan, kegembiraan dan kemarahan; bahkan bayi juga
Memperlihatkan emosi-emosi ini.
Emosi-emosi awal -> ahli terkenal di bidang perkembangan emosional bayi, Michael Lewis membedakan antara emosi primer dan emosi sadar-diri.
(1) Emosi primer adalah emosi yang dimiliki oleh manusia dan binatang, emosi-emosi ini diekspresikan dalam enam bulan pertama kehidupan bayi manusia.
(2) Emosi primer mencakup terkejut, tertarik, gembira, marah, sedih, takut, dan jijik. Dalam klasifikasi Lewis, emosi sadar-diri (self-conscious emotion) memerlukan kewaspadaan diri yang melibatkan kesadaran dan rasa “keakuan”. Emosi sadar-diri mencakup cemburu, empati, malu, bangga
menyesal dan rasa bersalah yang kebanyakan muncul pertama kali pada paruh kedua tahun
pertama hingga tahun kedua.
Tangisan Menangis adalah mekanisme paling penting yang dikembangkan oleh bayi baru lahir untuk
berkomunikasi dengan dunianya. Tangisan pertama bayi membuktikan adanya udara dalam paru-paru bayi.
Tangisan juga dapat memberikan informasi mengenal kesehatan sistem saraf sentral dari bayi yang baru lahir. Bayi baru lahir cenderung berespons dengan cara menangis dan memperlihatkan ekspresi wajah yang negatif ketika mereka mendengar bayi lain menangis.
Bayi mempunyai 3 jenis tangisan, yakni :
• Tangisan dasar (basic cry). Suatu pola berirama yang biasanya terdiri dari satu tangisan, diikuti oleh diam sesaat, diteruskan dengan satu siulan kecil pendek dengan nada agak lebih tinggi dibandingkan dengan tangisan utama. Kemudian satu lagi masa diam singkat sebelum tangisan berikutnya.
Beberapa mengenai tangisan bayi yakin bahwa rasa lapar adalah salah satu yang mendorong tangisan dasar.
• Tangisan kemarahan (anger cry). Suatu variasi dari tangisan dasar dengan lebih banyak udara yang dikeluarkan melalui tali suara.
• Tangisan kesakitan (pain cry) Suatu tangisan awal panjang dan tiba-tiba diikuti menahan nafas, tanpa rintihan/erangan
pendahuluan. tangisan kesakitan dirangsang oleh stimulus berintensitas.
Tangisan dan senyuman adalah dua ekspresi emosi yang diperlihatkan bayi ketika berinteraksi dengan orang tua. Inilah bentuk-bentuk pertama dan komunikasi emosi bayi.
Ekspresi Emosi dan Relasi Sosial
• Senyuman -> Senyum berperan kritis sebagai alat mengembangkan keterampilan sosial baru dan merupakan sinyal sosial yang penting. Ada dua jenis senyuman yang diketahui pada bayi, yakni:
1. Senyuman refleksif. Suatu senyuman yang tidak terjadi sebagal respons terhadap stimuli eksternal dan muncul selama satu bulan pertama setelah kelahiran, biasanya selama tidur.
2. Senyuman sosial. Suatu senyuman yang terjadi sebagai respons terhadap stimulus eksternal, biasanya terhadap wajah yang dilihat oleh bayi. Senyuman sosial sudah terjadi ketika bayi berusia 2 bulan.
• Rasa Takut Salah satu emosi bayi yang paling awal adalah rasa takut, yang biasanya muncul pertama kali di usia sekitar 6 bulan dan mencapai puncaknya di usia 18 bulan. Namun, bayi yang mengalami kekerasan dan diabaikan dapat memperlihatkan emosi takut pada usia tiga bulan. Para peneliti telah menemukan bahwa rasa takut bayi memiliki hubungan dengan rasa bersalah, empati, dan agresi rendah di usia 6 hingga 7 tahun.
• Ekspresi takut ini paling sering diperlihatkan oleh bayi adalah terhadap orang asing. Namun, tidak semua bayi memperlihatkan ketakutannya itu karena dipengaruhi juga oleh karakteristik,
lingkungan yang dilihatnya apakah dikenali atau tidak dan bagaimana orang asing itu berperilaku.
• Regulasi Emosional dan Coping -> Selama satu tahun pertama, bayi secara bertahap mengembangkan kemampuan untuk menahan diri atau meminimalisasi intensitas dan lamanya reaksi emosi mereka (Kopp, 2008). Sejak awal masa bayi, bayi-bayi mengisap jempolnya untuk menenangkan diri. Namun, awalnya para bayi terutama tergantung pada pengasuh untuk membantu mereka menenangkan emosi-emosinya.
• Secara neurobiologis, tindakan pengasuh akan mempengaruhi regulasi emosi bayi (Thompson & Meyers & Jochem, 2008).
Dan di usia lebih dewasa, ketika emosi bayi menjadi tergugah, kadang mereka memindahkan atensinya atau mengalihkan niatnya agar dapat mengurangi ketergugahannya.
• Bayi sering sekali dipengaruhi oleh rasa lapar, lelah dll yang mempengaruhi regulasi emosi. Lalu, haruskah
bayi yang menangis diberi perhatian dan ditenangkan atau hal tersebut akan membuat bayi menjadi manja?
Walaupun sebagian ahli berpendapat terlalu
banyak respon orang tua yang diberikan kepada
bayi akan mempengaruhi kemanjaan bayi. Namun,
para ahli perkembangan semakin banyak yang
mengatakan bahwa respon tersebut tidak akan
terlalu berpengaruh terhadap kemanjaan bayi pada
perkembangannya di usia satu tahun pertamanya
itu.
2) Temperamen
Sesuai hubungannya dengan emosi, temperamen mendeskripsikan perbedaan individual mengenal cepat atau lambat nya kemunculan emosi, seberapa kuatnya, seberapa lamanya, dan seberapa cepat menghilangnya (Campos, 2009).
Mendeskripsikan dan Mengklasifikasikan Temperamen
Klasifikasi menurut Chess dan Thomas Psikiater Alexander Chess dan Thomas, mengidentifikasikan 3 tipe dasar dari temperamen :
1. Anak bertemperamen mudah (easy child), anak yang pada umum nya sudah memiliki hati positif.
2. Anak bertemperamen sulit (difficult child), bereaksi sangat negatif dan sering menangis, melibatkan diri dalam hal sehari-hari secara tidak teratur dan lambat menerima pengalaman baru.
3. Anak bertempramen lambat (slow to warm up child) memiliki tingkat aktivitas rendah, agak negatif,
dan memperlihatkan suasana hati yang intensitasnya rendah.
K lasifikasi menurut Rothbart dan Bates. Klasifikasi baru mengenai temperamen masih terus disusun. Mary Rothbart dan John Bates (2006) menyebutkan 3 dimensi luas yang paling baik untuk mewakili temuan para peneliti mengenal ciri-ciri struktur tempramen :
1. Ekstraversi/surgensi (extraversion/surgency) meliputi “antisipasi positif, impulsivitas, tingkat aktivitas, dan pencarian sensasi” (Rothbart, 2004 h.495). Anak-anak yang oleh Kagan dinyatakan tanpa inhibisi dan dimasukan ke dalam kategori ini.
2. Afektivitas negatif meliputi “takut, frustasi, sedih, dan tidak nyaman” (Rothbart, 2004 h.495). Anak-anak ini mudah tertekan : mungkin mereka sering cemas dan menangis.
3. Kendali yang diupayakan (regulasi diri) atau effortful control (self regulation) meliputi “memfokuskan dan mengalihkan perhatian, kontrol inhibisi, kepekaan perseptual, dan kesenangan berintensitas rendah”
(Rothbart, 2004 h.495). Bayi yang tinggi dalam effortful control memperlihatkan kemampuan untuk
menjaga agar ketergugahan tidak menjadi terlalu tinggi dan memiliki strategi-strategi untuk menenangkan
diri mereka. Sebaliknya, bayi yang memiliki kendali yang diupayakan tingkat rendah sering kali tidak dapat
mengontrol ketergugahan mereka sehingga mudah gelisah dan sangat emosional.
• Dalam pandangan Rothbart (2004, h.497). “Model teoritis awal mengenai temperamen berfokus pada bagaimana kita digerakkan oleh emosi-emosi positif dan negatif atau level ketergugahan (arousal), sehingga aksi-aksi kita didorong okeh kecenderungan-kecenderungan ini.”
• Poin penting mengenai klasifikasi temperamen seperti menurut Chess dan Thomas, Rothbart , serta Bates adalah untuk tidak hanya mengklasifikasikan bayi ke satu dimensi temperamen saja, misalnya
“sulit” atau “berafektivitas negatif.” Strategi yang baik dalam usaha klasifikasi temperamen bayi adalah
dengan memandang temperamen anak sebagai berdimensi majemuk (Bates, 2008). Misalnya, seorang
anak mungkin ekstrovert, menunjukkan negativitas emosional rendah, dan memiliki regulasi-diri rendah.
Landasan Biologi dan Pengalaman
Kagan (2002, 2008, 2010) menyatakan bahwa anak-anak memiliki warisan biologis yang menjadi bias bagi mereka untuk menaiki jenis temperamen tertentu. Namun, dengan pengalaman mereka sampai taraf tertentu anak dapat belajar memodifikasi temperamen.
Pengaruh Biologis
Secara khusus, temperamen inhibisi dikaitkan dengan suatu pola fisiologis yang unik yang meliputi tinggi dan stabilnya kecepatan detak jantung, tingginya tingkat hormone kortisol, dan tingginya aktivitas lobus fontal di bagian kanan otak (Kagan, 2008, 2010). Pola ini mungkin berkaitan dengan impulsivitas amigdala, sebuah struktur otak yang berperan penting dalam mengatur rasa takut dan sifat inhibisi.
Studi mengenai anak kembar dan anak adopsi menyatakan bahwa faktor keturunan cukup
berpengaruh terhadap perbedaan temperamen dalam sekelompok orang (Buss & Goldsmith, 2007 : Goldsmith,
2010). Pandangan kontemporer aspek perilaku yang berevolusi : temperamen dapat berevolusi apabila pengalaman anak, digabungkan ke dalam jaringan persepsi diri dan preferensi perilaku yang menandai kepribadian anak
tersebut (Thompson & Goodvin, 2007).
Gender, Budaya, dan Temperamen
1. Gender dapat menjadi sebuah faktor penting yang membentuk konteks dan mempengaruhi hasil akhir temperamen (Blakstage, Berenbaum, & Liben, 2009).
• Orang tua beraksi berbeda terhadap temperamen bayi laki-laki dan perempuan.
• Contoh : Ibu lebih responsif terhadap tangisan anak perempuan yang lekas marah dibandingkan dengan tangisan anak laki-laki yang juga lekas marah (Crockenberg, 1989).
2. Reaksi terhadap temperamen seorang bayi dapat dipengaruhi oleh budaya (Gartstein & kawan-kawan 2009 ; Kagan, 2010).
• Contoh : Perilaku inhibisi lebih dihargai di China dibandingkan di Amerika Utara. Perbedaan budaya dalam temperamen berkaitan dengan sikap dan perilaku orang tua. Para ibu di Kanada dari anak-anak berusia 2 tahun kurang menerima temperamen inhibisi dari bayinya, sementara para ibu di China lebih dapat menerima.
3. Terdapat banyak aspek dan lingkungan anak yang dapat mendorong atau mengurangi bertahannya karakteristik
temperamen (Bates & Petit, 2007). Goodness of Fit dan Pengasuhan, merujuk pada kesesuaian antara temperamen seorang anak dengan tuntutan lingkungan yang harus diatasi anak itu (Thompson, Mayer, & Jochem, 2008).
• Contohnya ketika seorang balita aktif yang disuruh duduk diam dalam waktu lama, sementara ada juga yang
bertemperamen lambat yang secara tiba-tiba didorong untuk memasuki situasi baru secara terus-menerus. 2 anak tersebut menghadapi situasi yang kurang sesuai (lackless of fit) antara temperamen mereka dengan tuntutan
lingkungan yang berdampak pada masalah penyesuaian diri (Rothbart & Bates, 2006).
3) Perkembangan Kepribadian
Emosi dan temperamen membentuk aspek-aspek penting kepribadian (personality), yaitu karakteristik-karakteristik yang menetap dalam
individu.
Rasa Percaya
o Menurut Erik Erikson (1968), satu tahun pertama dalam kehidupan ditandai oleh tahap perkembangan rasa percaya vs rasa tidak percaya (trust vs mistrust).
o Rasa percaya versus rasa tidak percaya tidaklah sama sekali berakhir dalam satu tahun pertama kehidupan, tetapi akan muncul terus pada perkembangan selanjutnya.
o Seperti contoh ketika anak yang meninggalkan masa bayi dengan rasa percaya, ada kemungkinan
anak memiliki rasa tidak percaya pada tahap berikutnya akibat dari kejadian orang tua yang bercerai
karena konflik yang berkepanjangan.
Perkembangan Penghayatan Diri
Menurut ahli terkemuka Ross Thompson (2007), studi mengenai diri pada bayi merupakan hal yang sulit dilakukan karena bayi belum dapat mengatakan kepada kita bagaimana mereka mengalami dirinya sendiri.
1. Para peneliti menemukan bahwa bayi yang belum berusia 1 tahun tidak dapat mengenali dirinya sendiri di cermin
(Amsterdam, 1968; Lewis &
Brooks-Gunn, 1979)
2. Tanda-tanda dari
pengenalan diri muncul pada beberapa bayi ketika mereka berusia 15 hingga 18 bulan.
3. Ketika berusia 2 tahun, kebanyakan anak dapat mengenali dirinya di cermin
Jadi, bayi mulai mengembangkan pemahaman diri (self - understanding) yang disebut pengenalan diri (self-recognition) pada usia sekitar 18 bulan (Hart & Karmel, 1996; Lewis, 2005). Namun, tidak semua bayi di berbagai budaya terbiasa dengan cermin (Rogoff, 2003), sehingga pengenalan diri secara fisik mungkin lebih penting di budaya-budaya Barat dibanding non-Barat (Thompson & Virmani, 2010).
Sebagai dukungan terhadap pandangan ini, sebuah studi mengungkapkan bahwa balita usia 18 tahun hingga 23 bulan dari keluarga urban dengan SES menengah di Jerman lebih mungkin mengenali diri dari cermin dibanding dengan
balita dari keluarga petani di pedesaan Kamerun (Keller & kawan-kawan, 2005).
Kemandirian
• Erik Erikson (1968) mengedepankan bahwa kemandirian merupakan hal yang penting pada tahun kedua kehidupan.
• Erikson menggambarkan tahap kedua perkembangan sebagai tahap otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu.
• Penting bagi orang tua untuk mengenali motivasi balita dalam melakukan apa yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan mereka.
• Ketika pengasuh anak tidak sabar dan melakukan hal-hal yang sebetulnya dapat dilakukan oleh balita maka akan mengembangkan rasa malu dan ragu-ragu.
• Apabila orang tua selalu bersikap terlalu melindungi anaknya ataupun terlalu banyak mengkritik kesalahan- kesalahan kecil, anak tersebut akan mengembangkan rasa malu dan ragu-ragu yang berlebihan mengenai kemampuan mereka untuk mengendalikan diri sendiri dan dunianya.
• Erikson berpendapat bahwa tahap otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu memiliki implikasi penting bagi
perkembangan individu di masa depan.
Sejak awal perkembangannya, bayi terkagum-kagum dengan dunia sosial. Menurut (Ramsay-Rannels & Langlois, 2007) Bayi muda memandang penuh perhatian pada wajah-wajah dan mengenali suara-suara manusia, terutama suara pengasuhnya.
Bermain secara bertatapan muka (face-to-face play) sering kali mulai menjadi ciri interaksi pengasuh-bayi ketika bayi berusia 2 hingga 3 bulan.
Bayi berespon secara berbeda di usia 2 hingga 3 bulan terhadap orang
dibandingkan terhadap objek diam seperti boneka, salah satunya karena sifat positif dan interaksi antara bayi dan pengasuh tersebut
(Legerstee,1997).
Temuan ini telah didapat dengan
metode paradigm wajah-diam (still face paradigm), yakni pengasuh bergantian menunjukkan interaksi bertatapan muka dengan bayi atau tetap diam dan tidak responsif (Conradt & Ablow, 2010;
Johnson, 2010).
Frekuensi aktivitas bermain bertatapan muka menurun setelah usia 7 bulan seiring bayi menjadi lebih mampu berpindah
tempat sendiri (Thompson,2006).
Meski bayi sejak usia 6 bulan sudah menunjukkan minat terhadap bayi lain, interaksi sebaya meningkat jauh di paruh kedua dari tahun kedua. Menurut
Eckerman & Whitehead, (1999) antara usia 18 hingga 24 bulan, anak-anak banyak meningkatkan permainan berulang dan resiprokal di antara mereka.
1) Orientasi Sosial/Pemahaman
II. Orientasi/Pemahaman Sosial dan Kelekatan
Lokomosi
Seiringi bayi mengembangkan kemampuan merangkak, berjalan, dan berlari, mereka mampu
mengeksplorasi dan memperluas dunia sosialnya. Keterampilan-
keterampilan lokomotorik yang baru dikembangkan dan diraih secara mandiri ini memungkinkan bayi untuk secara mandiri lebih sering memulai interaksi-interaksi sosial (Laible & Thompson, 2007).
Intensi dan Perilaku Berarah-Tujuan
Atensi bersama dan mengikuti arah pandangan (gaze following) akan membantu bayi untuk memahami bahwa orang lain memiliki maksud (Meltzoff & Brooks,2009).
Atensi bersama (joint-attention) terjadi ketika pengasuh dan bayi berfokus pada objek atau peristiwa yang sama. Atensi bersama itu mulai terjadi pada usia 7-8 bulan, namun di sekitar usia 10-11 bulan atensi bersama semakin kuat dan bayi mulai mengikuti arah
pandangan pengasuhnya.
Referensi Sosial
Referensi sosial (sosial referencing) adalah istilah untuk tindakan
“membaca” tanda-tanda emosi orang lain demi membantu menentukan bagaimana bertindak dalam situasi tertentu.
Di akhir tahun pertama, ekspresi wajah ibu – tersenyum atau takut – akan mempengaruhi apakah seorang bayi akan mengeksplorasi lingkungan yang baru dikenalnya.
Bayi mengembangkan referensi sosial yang lebih baik di tahun kedua
kehidupannya.
Kompleksitas Sosial dan Wawasan Bayi
• Keterampilan-keterampilan kognitif sosial yang lebih maju dari bayi mungkin akan
mempengaruhi pemahaman dan kewaspadaan bayi mengenai kelekatannya pada pengasuh.
• Kesimpulannya, para peneliti menemukan bahwa bayi lebih kompleks dan berwawasan
secara sosial dibandingkan perkiraan sebelumnya (Thompson, 2010; Tronick, 2010).
2). KELEKATAN DAN PERKEMBANGANNYA
1. Kelekatan (attachment) adalah ikatan emosional yang kuat antara dua orang. Menurut Freud, bayi menjadi semakin dekat dengan orang atau benda yang memberikan kepuasan oral (mulut). Bagi kebanyakan bayi, kepuasan seperti ini tentu saja terdapat dari ibu yang paling sering memberi makanan kepada bayi.
2. Seperti sebuah studi klasik oleh Harry Harlow (1958) yang
memindahkan bayi-bayi kera dari induknya ketika baru lahir. Dan digantikan dengan “ibu” wali (pengganti). Salah satu “ibu”
tersebut terbuat dari kain dan yang satunya terbuat dari kawat.
3. Menurut Erik Erikson dan John Bowlby satu tahun pertama
kehidupan merupakan tahap munculnya kepercayaan versus ketidakpercayaan. Dan juga
menekankan pentingnya kelekatan pada tahun pertama kehidupan dan responsivitas dari pengasuh.
4. menurut Bowlby (Schaffer, 1996) Kelekatan tidak timbul secara tiba-tiba namun
berkembang melalui serangkaian tahapan.
Berikut ini adalah empat tahapan itu, yang didasarkan pada konsep kelekatan :
1. Dari lahir hingga usia 2 bulan. Secara insting bayi menjalin kelekatan dengan manusia.
2. Dari usia 2 hingga 7 bulan. Kelekatan menjadi berfokus pada satu individu.
3. Dari usia 7 hingga 24 bulan. Kelekatan yang khusus berkembang.
4. Dari usia 24 bulan dan seterusnya. Anak- anak menjadi lebih menyadari perasaan, tujuan, dan rencana orang lain.
3). PERBEDAAN INDIVIDUAL DALAM KELEKATAN
• Bayi dengan kelekatan aman (securely attached babies)
ibu/pengasuh sebagai basis eksplorasi. Ketika pengasuh hadir bayi merasa aman, ketika pengasuh pergi bayi akan protes sedikit. Ketika pengasuh datang kembali bayi akan menjalin interaksi positif lagi dengannya. Pengasuh yang peka dan penuh kasih sayang merespon sinyal bayi.
• Bayi dengan kelekatan tidak aman dan menghindar (insecure avoidant babies) Memperlihatkan kelekatan tidak aman dan menghindar dari pengasuh. Pengasuh cenderung tidak hadir atau menolak ketika bayi membutuhkan mereka.
• Bayi dengan kelekatan tidak aman dan menolak (insecure resistant babies)
Bayi seringkali melekat pada pengasuhnya, kemudian menolaknya, mungkin dengan cara
menendang atau mendorongnya pergi. Pengasuh tidak konsisten kadang merespon kadang tidak.
• Bayi dengan kelekatan tidak aman dan tidak teratur (insecure disorganized babies) Memiliki karakteristik yang tidak teratur dan disorientasi. Pengasuh mengabaikan atau melakukan kekerasan fisik.
Evaluasi terhadap situasi asing
Meskipun terdapat variasi budaya dalam klarifikasi kelekatan, sampai sejauh ini klarifikasi yang paling sering dijumpai di berbagai budaya adalah kelekatan aman (Thompson, 2006; Van Ijzendoorn & Kroonenber, 1988)
Interpretasi terhadap perbedaan kelekatan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dengan kelekatan aman di masa awal berkaitan dengan kecerdasan
emosional, tingginya harga diri, dan keyakinan diri, serta kompetensi sosial dengan kawan, guru, konselor kampus, dan kekasih pada masa remaja (Alan Sroufe dkk, 2005), serta, keterampilan menyelesaikan masalah di usia dewasa (Raiker & Thompson, 2009).
Hasil penelitian kelekatan tidak aman dan menolak
membuat anak mengalami masalah perkembangan kognitif pada usia SD (O’Connor & McCartney, 2007).
Kelekatan tidak teratur menyebabkan anak mengalami
masalah eksternalisasi (misalnya agresi, kekerasan) (Fearon
dkk, 2010)
Apakah gaya pengasuhan dapat berpengaruh terhadap bayi?
Bayi-bayi dengan kelekatan aman memiliki pengasuhan yang sensitif terhadap isyarat-isyarat yang mereka berikan dan secara konsisten hadir untuk memberikan respon terhadap kebutuhan mereka (Bigelow dkk, 2010)
Bagaimana cara pengasuh berinteraksi dengan bayi kelekatan tidak aman?
para pengasuh bayi dengan kelekatan tidak teratur sering kali mengabaikan atau melakukan kekerasan fisik terhadap bayinya (Lyons-Ruth dkk, 2008). Dalam beberapa kasus, para pengasuh ini
mengalami depresi (Thompson, 2008).
4). GAYA PENGASUHAN DAN KELEKATAN
III. KONTEKS SOSIAL 1) KELUARGA
Keluarga dapat dianggap sebagai suatu konstelasi berisi berbagai
subsistem suatu kesatuan kompleks yang tersusun atas bagian-bagian gender, dan peran.
• Transisi menjadi Orang tua
Para individu menjadi orang tua karena hamil, melakukan adopsi, atau menjadi orang tua angkat, mereka menghadapi ketidak
seimbangan dan harus beradaptasi terhadap perubahan itu. Orang tua ingin meng-
ngembangkan kelekatan yang kuat dengan bayinya, namun mereka masih ingin mem- pertahankan kelekatan yang kuat dengan pasangan dan kawan-kawannya.
• Sosialisasi Timbal Balik
Sosialisasi timbal balik (reciprocal socialization) adalah sosialisasi yang bersifat dua arah. Artinya, anak-anak sebagai contoh, interaksi dari ibu
dengan bayi-bayinya dapat diumpamakan sebagai sebuah tarian atau dialog yang mengandung
serangkaian aksi diantara pelaku yang terkoordinasi dengan baik. Ketika para ahli
mempelajari sosialisasi timbal balik di masa bayi, mereka menemukan bahwa saling bertatapan atau kontak mata memainkan peranan penting dalam interaksi sosial di masa awal.
2) TEMPAT PENITIPAN ANAK
Cuti orang tua jumlah anak-anak yang berada di tempat penitipan anak lebih banyak dibandingkan di masa sebelumnya. Saat ini terdapat sekitar 2 juta anak-anak Amerika Serikat yang mendapatkan perawatan anak formal dan berijazah. Terdapat lima jenis cuti orang tua dari pekerjaan :
- Cuti Ibu - Cuti Ayah
- Cuti Orangtua - Cuti mengasuh anak
-
Cuti KeluargaVariasi Tempat Penitipan Anak
Karena Amerika Serikat tidak memiliki kebijakan yang mengatur cuti mengasuh anak dengan gaji, maka perawatan anak di Amerika Serikat menjadi salah satu masalah nasional yang utama (Philips & Lowenstein, 2011). Terdapat banyak faktor yang memengaruhi dampak dari perawatan anak meliputi usia anak, jenis perawatan anak yang didapatkannya, dan kualitas dari program tersebut.
Tempat penitipan anak berkualitas tinggi juga mencakup tersedianya lingkungan aman akses ke mainan sesuai usia dan partisipasi dalam aktivitas sesuai usia, serta rasio yang rendah antara perawat-anak yang memungkinkan perawat untuk menghabiskan waktu dengan anak-anak secara individual. Anak-anak lebih mungkin mengalami kualitas yang buruk apabila mereka berasal dari keluarga yang hanya memiliki sedikit sumber daya.