• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

AKUNTABILITAS

KINERJA INSTANSI PEMERINTAH

TAHUN 2021

SATUAN KERJA

DIREKTORAT JALAN

BEBAS HAMBATAN

(2)
(3)

3

RINGKASAN EKSEKUTIF

Satker Direktorat Jalan Bebas Hambatan secara penuh mendukung tujuan Ditjen Bina Marga dalam mewujudkan visi pembangunan nasional melalui “Dukungan dalam pembangunan jalan bebas hambatan dan jalan tol yang memenuhi standar pelayanan minimal demi kenyamanan pengguna jalan tol”

1. Capaian Kinerja Output Layanan Pengadaan Tanah sebesar 86,95%.

2. Capaian Kinerja keseluruhan output Satker Direktorat Jalan Bebas Hambatan Tahun 2021 adalah sebesar 87,75%.

Hambatan dan kendala utama yang dihadapi Satker Direktorat Jalan Bebas Hambatan dalam pelaksanaan kinerja pada tahun 2021 adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan dalam dokumen Rencana Kerja dan Anggaran (RKA-KL) dan target kinerja tidak cukup matang sehingga dilakukan beberapa kali revisi DIPA yang membutuhkan waktu yang cukup lama.

2. Penyesuaian kembali perencanaan target kinerja tahunan dengan Renstra.

3. Masih terdapat beberapa paket pekerjaan yang dibatalkan / digantikan atau tidak dapat dilaksanakan.

4. Kebijakan terkait penghematan dan pemotongan anggaran serta refocussing yang terjadi pada tahun anggaran 2021.

5. Perubahan pola kerja yang terjadi sebagai dampak dari pendemi COVID-19.

(4)

4

Beberapa langkah antisipasi yang akan dilakukan agar kendala yang terjadi di tahun ini tidak menjadi hambatan di tahun yang akan datang adalah:

1. Meningkatkan kualitas perencanaan kinerja dengan menentukan prioritas kinerja yang akurat dan handal.

2. Melakukan inovasi pola kerja sebagai langkah penyesuaian dengan kondisi pendemi COVID-19.

3. Meningkatkan kualitas kinerja pelaksanaan tugas di lingkungan Satker Direktorat Jalan Bebas Hambatan.

4. Membantu proses manajemen Pelaksanaan Pengadaan Tanah Jalan Tol dilingkungan Satker Direktorat Jalan Bebas Hambatan dan Panitia Pengadaan Tanah di tiap-tiap provinsi dalam forum rapat-rapat koordinasi untuk menentukan kebijakan dalam mencapai sasaran yang dituju.

5. Meningkatkan kinerja pelaksanaan pengadaan tanah dari segi perencanaan, pengawasan, pelaksanaan, penyerahan hasil dan pengendalian.

6. Meningkatkan koordinasi antar unit kerja di lingkungan Satker Direktorat Jalan Bebas Hambatan dan instansi eksternal yang menunjang pelaksanaan tugas Satker Direktorat Jalan Bebas Hambatan.

(5)

5

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ………..2

RINGKASAN EKSEKUTIF ... 3

DAFTAR ISI ... ... 5

DAFTAR GAMBAR ... ... 7

DAFTAR TABEL ... ... 8

BAB I ... ... 10

1.1 Latar Belakang ... 10

1.2 Tugas dan Fungsi ... 12

1.3 Struktur Organisasi ... 16

1.4 Isu Strategis ... 17

1.4.1 Isu Strategis Terkait Pengadaan Tanah ... 17

1.4.2 Isu Strategis Terkait Penyelenggaraan Jalan Tol ... 19

2.1 Uraian Singkat Renstra ... 20

2.1.1 Rencana Strategis Direktorat Jenderal Bina Marga ... 20

2.1.2 Rencana Strategis Direktorat Jalan Bebas Hambatan ... 23

2.2 Perjanjian Kinerja ... 28

2.3 Metode Pengukuran ... 32

2.4 Target Tahun ini Menurut RENSTRA... 37

3.1 Sumber Daya Manusia ... 39

3.2 Sarana dan Prasarana... 44

3.2.1 Sarana dan Prasarana Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan... 44

3.3 Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) ... 52

3.3.1 DIPA Direktorat Jalan Bebas Hambatan ... 52

3.3.2 Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan dan Perkotaan ... 53

(6)

6

BAB IV ... 56

4.1 Capaian Kinerja Organisasi ... 56

4.1.1 Informasi Capaian Kinerja ... 59

4.1.2 Analisis Kinerja Keberhasilan/Kegagalan ... 84

4.2 Perbandingan Kinerja Organisasi ... 84

4.3 Realisasi Anggaran ... 86

4.4 Analisis Efisiensi Sumberdaya ... 87

BAB V ... 89

5.1 Permasalahan... 89

5.2 Rekomendasi ... 89

LAMPIRAN ... 91

(7)

7

DAFTAR GAMBAR

Gambar I-1 Struktur Organisasi Direktorat Jalan Bebas Hambatan ... 17

Gambar II-1 Peta Strategi (Strategy Map) Kementerian PUPR 2020-2024 ... 22

Gambar II-2 Perjanjian Kinerja Awal Tahun 2021 ... 30

Gambar II-3 Perjanjian Kinerja Revisi Tahun 2021 ... 30

Gambar II-4 Tahapan Pengukuran Kinerja ... 33

Gambar II-5 Proses Pengukuran dan Pelaporan Kinerja Sistem Akuntabilitas ... 35

Gambar II-6 Matriks Penyusunan Laporan Kinerja Satker Direktorat JBH ... 36

Gambar III-1 Perbandingan Total Jumlah Pegawai Dit. JBH Tahun 2016 - 2021 ... 39

Gambar III-2 Sebaran Pegawai per Unit Kerja ... 40

Gambar III-3 Persentase PNS berdasarkan tingkat pendidikan ... 40

Gambar III-4 Persentase PPNPN berdasarkan tingkat pendidikan ... 41

Gambar III-5 Persentase PNS berdasarkan tingkat Pangkat/Golongan ... 41

Gambar III-6 Persentase PPNPN berdasarkan Jabatan ... 42

Gambar III-7 Persentase PNS berdasarkan usia ... 42

Gambar III-8 Persentase PPNPN berdasarkan usia ... 43

Gambar III-9 Persentase PNS Berdasarkan Jenis Kelamin ... 43

Gambar III-10 Persentase PPNPN Berdasarkan Jenis Kelamin ... 44

Gambar III-11 Grafik DIPA Direktorat Jalan Bebas Hambatan ... 52

Gambar III-12 Grafik DIPA Satker JBHP ... 53

Gambar IV-1 Siklus Sistem Akuntabilitas Instansi Pemerintah (SAKIP) ... 57

Gambar IV-2 Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) ... 58

Gambar IV-3 Perbandingan Rata-Rata Capaian Kinerja Output Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan Tahun 2019 – 2021 ... 85

Gambar IV-4 Persentase Realisasi Keuangan Satker Direktorat Jalan Bebas Hambatan Tahun 2019 – 2021 ... 87

Gambar IV-5 Perbandingan Capaian Kinerja dan Jumlah Pegawai ... 87

(8)

8

DAFTAR TABEL

Tabel II-1 Perbandingan PK Awal dan PK Revisi Tahun 2021... 31

Tabel II-2 Metode Pengukuran Capaian Output ... 35

Tabel II-3 Perbandingan Target dan Realisasi untuk Masing-masing Output ... 35

Tabel II-4 Perjanjian Kinerja Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan ... 37

Tabel II-5 Sandingan Output dan Target Renstra JBH 2021 dan Perjanjian Kinerja 2021 ... 37

Tabel III-1 Masa Manfaat Kelompok Aset Tetap ... 45

Tabel III-2 Mutasi Tambah Peralatan dan Mesin ... 46

Tabel III-3 Mutasi Kurang Peralatan ... 46

Tabel III-4 Mutasi Tambah Revaluasi Tanah ... 47

Tabel III-5 Mutasi Kurang Tanah ... 47

Tabel III-6 Mutasi Tambah Aset Tetap Dalam Renovasi ... 47

Tabel III-7 Mutasi Kurang Aset Tetap Dalam Renovasi ... 48

Tabel III-8 Mutasi Tambah Persediaan ... 49

Tabel III-9 Mutasi Kurang Persediaan ... 49

Tabel III-10 Mutasi Tambah Software ... 50

Tabel III-11 Mutasi Kurang Software ... 50

Tabel III-12 Mutasi Tambah Hasil Kajian/Penelitian ... 51

Tabel III-13 Mutasi Kurang Hasil Kajian/Penelitian ... 51

Tabel III-28 DIPA Awal Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan T.A. 2021 ... 53

Tabel III-29 Perubahan DIPA Satker JBH ... 53

Tabel III-32 DIPA Akhir Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan ... 54

Tabel IV-1 Monitoring dan Evaluasi Kinerja Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan per Bulan ... 59

Tabel IV-2 Kriteria Penilaian Monitoring dan Evaluasi Kinerja Bulanan ... 59

Tabel IV-3 Perbandingan Target PK Revisi dan DIPA Revisi ... 61

Tabel IV-4 Capaian IKSP SATKER DIREKTORAT JALAN BEBAS HAMBATAN TA 2021 ... 62

(9)

9

Tabel IV-5 Parameter Keberhasilan KInerja SATUAN KERJA DIREKTORAT JALAN BEBAS HAMBATAN TA 2021 ... 62 Tabel IV-6 Perbandingan Kinerja Output Tahun 2019 – 2021 ... 85 Tabel IV-7 Persentase Realisasi Keuangan Satker Direktorat Jalan Bebas Hambatan Tahun 2021 ... 86

(10)

10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan infrastruktur transportasi menjadi salah satu bagian terpenting dalam pembangunan nasional. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, pembangunan transportasi dapat meningkatkan produktivitas, meningkatkan daya saing global, menyerap tenaga kerja, membangkitkan sektor riil, serta membantu mengurangi angka kemiskinan.

Infrastruktur jalan merupakan unsur yang efektif membentuk ruang dan menjadi penghubung antar ruang. Perencanaan jaringan jalan yang komprehensif dan diikuti dengan penyediaan fisik yang handal merupakan upaya mewujudkan fungsi struktur ruang dan konektivitas nasional.

Selain sebagai penghubung antar pusat kegiatan. infrastruktur jalan juga berfungsi sebagai pembentukan serta pembatas ruang untuk pemukiman, kegiatan perekonomian, pertanian dan logistik.

Infrastruktur transportasi merupakan sarana untuk memperlancar mobilitas barang dan jasa sebagai penggerak kegiatan ekonomi. Kualitas infrastruktur transportasi merupakan faktor kunci dalam kegiatan ekonomi, baik untuk mendukung mobilitas orang agar mencapai tempat kegiatan ekonomi di waktu yang tepat maupun mendistribusikan barang ke tempat pengolahan maupun pasar dengan kualitas yang terbaik.

Penyediaan infrastruktur jalan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian.

Tersedianya infrastruktur jalan dapat menggerakkan kegiatan ekonomi yaitu menghubungkan produsen, pasar, dan konsumen. Selain itu, tersedianya jalan akan membuka akses dan peluang masyarakat lokal kepada dunia usaha sehingga mendorong terbentuknya lapangan kerja baru. Pengembangan infrastruktur transportasi khususnya jalan dapat menjangkau wilayah atau daerah terpencil (desa) yang potensial secara ekonomi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. menyerap tenaga kerja serta memperbaiki pemerataan pendapatan.

(11)

11

Penyusunan LKIP sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2014. Permen PAN &

RB Nomor 53 Tahun 2014. Permen PAN & RB Nomor 12 Tahun 2015 dan Permen PUPR Nomor 9 Tahun 2018 yang memiliki tujuan untuk:

a. Memberikan informasi capaian kinerja kepada pemberi amanah atas kinerja yang telah dan seharusnya tercapai, dan

b. Sebagai upaya perbaikan berkesinambungan bagi instansi pemerintah untuk meningkatkan kinerjanya.

Direktorat Jalan Bebas Hambatan sesuai Peraturan Menteri PUPR Nomor 13 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mempunyai tugas melaksanakan penyusunan, pembinaan penerapan standar dan pemantauan evaluasi kinerja jalan bebas hambatan serta pengadaan tanah. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Direktorat Jalan Bebas Hambatan selalu bekerja sama dengan lingkungan strategis di sekitarnya.

Koordinasi dan kerjasama yang saling berketergantungan antara Unit-unit Eselon II yang berada di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, khususnya di dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga menjadi sangat strategis untuk mempengaruhi pencapaian kinerja yang optimal di Direktorat Jalan Bebas Hambatan. Unit-unit Eselon II tersebut yang dapat dipandang sebagai lingkungan strategis eksternal Direktorat Jalan Bebas Hambatan meliputi:

a. Seluruh Direktorat di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga dan Badan Pengatur Jalan Tol.

b. Unit-unit Eselon II (Biro dan Pusat) di lingkungan Sekretariat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

c. Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur;

d. Balai-balai Penyelenggaraan Jalan dan Jembatan Nasional di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga.

e. Inspektorat-inspektorat Wilayah di lingkungan Inspektorat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

(12)

12

Sedangkan lingkungan strategis eksternal di luar Kementerian Pekerjaan Umum yang turut mempengaruhi pencapaian kinerja yang optimal di Direktorat Jalan Bebas Hambatan antara lain meliputi:

a. Pemerintah Daerah, baik tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten dan kota;

b. Kementerian Keuangan;

c. Kementerian Perhubungan;

d. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional;

e. Kementerian Agraria dan Tata Ruang;

f. Kepolisian Negara Republik Indonesia;

g. Badan Usaha Jalan Tol; dan

h. Mitra Kerja Penyedia Jasa Konsultansi.

Lingkungan strategis internal yang mempengaruhi penyelenggarakan fungsi-fungsi Jalan Bebas Hambatan untuk menjalankan tugas pokok sebagaimana diuraikan di atas pada dasarnya potensi sumber daya manusia dan sarana kerja yang telah dimiliki.

1.2 Tugas dan Fungsi

Dalam menyelenggarakan tugas nya Direktorat Jalan Bebas Hambatan didukung oleh unit-unit kerja yang berada dibawahnya sebagaimana tertuang dalam Bagian Kesembilan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor: 13 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Tugas Direktorat Jalan Bebas Hambatan melaksanakan penyusunan, pembinaan, penerapan standar dan pemantauan evaluasi kinerja jalan bebas hambatan serta pengadaan tanah.

Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Jalan Bebas Hambatan. Direktorat Jenderal Bina Marga menyelenggarakan fungsi, sebagaimana tertuang didalam Pasal 256 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor: 13 Tahun 2020, adalah sebagai berikut:

a. Pembinaan penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria perencanaan, pengadaan tanah, pelaksanaan, operasi dan pemeliharaan serta evaluasi kinerja jalan bebas hambatan dan jalan tol;

(13)

13

b. Pembinaan, penilaian dan pengendalian usulan anggaran, program serta kegiatan perencanaan, pengadaan tanah, pelaksanaan, operasi dan pemeliharaan serta evaluasi kinerja jalan bebas hambatan;

c. Penyusunan program dan perencanaan jalan bebas hambatan dan jalan tol;

d. Penyusunan program, inventarisasi dan pelaksanaan pengadaan tanah jalan bebas hambatan dan jalan tol;

e. Pembinaan dan evaluasi perencanaan teknis jalan bebas hambatan dan jalan tol;

f. Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi kinerja pebangunan dan pengoperasian jalan bebas hambatan dan jalan tol;

g. Penyiapan rekomendasi laik fungsi dan operasi jalan bebas hambatan dan jalan tol;

h. Pelaksanaan koordinasi, pendampingan dan validasi data dalam rangka penuntasan temuan hasil audit terkait penyelenggaraan jalan bebas hambatan dan jalan tol; dan

i. Pelaksanaan urusan tata usaha direktorat.

Dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya Direktorat Jalan Bebas Hambatan Direktorat Jenderal Bina Marga didukung oleh unit-unit di bawahnya, yaitu sebagai berikut:

1. Subdirektorat Perencanaan Teknis Jalan Bebas Hambatan

Subdirektorat Perencanaan Teknis Jalan Bebas Hambatan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan perencanaan dan pemrograman jalan bebas hambatan. Dalam melaksanakan tugasnya, Subdirektorat Perencanaan Teknis Jalan Bebas Hambatan mempunyai tugas:

a. Melaksanakan penyusunan prastudi kelayakan untuk jalan bebas hambatan yang merupakan program pemerintah (Solicited);

b. Pelaksanaan evaluasi prakarsa pengusahaan jalan tol aspek jaringan dan teknis;

c. Penyusunan rekomendasi izin melakukan studi kelayakan serta izin prakarsa dari badan usaha;

d. Penyusunan rencana kebutuhan awal, prioritas dan skema pembiayaan jalan bebas hambatan, serta evaluasi kebutuhan dan alokasi pembiayaan jalan bebas hambatan dan jalan tol;

e. Penyiapan bahan saran dan pertimbangan penetapan tarif awal tol;

(14)

14

f. Penyiapan bahan usulan untuk menyusun program jangka menengah dan tahunan penanganan jalan bebas hambatan dan jalan tol;

g. Penyediaan konsultasi teknis standar dan pedoman perencanaan. pelaksanaan.

pengendalian. operasi dan pemeliharaan. pelayanan serta pemanfaatan ruang milik jalan bebas hambatan dan jalan tol;

h. Validasi dan verifikasi data manajemen jalan bebas hambatan dan jalan tol.

Susunan organisasi Subdirektorat Perencanaan Teknis Jalan Bebas Hambatan terdiri atas Kelompok Jabatan Fungsional.

2. Subdirektorat Pengadaan Tanah

Subdirektorat Pengadaan Tanah mempunyai tugas:

a. Melaksanakan penyusunan rencana dan persiapan pengadaan tanah jalan bebas hambatan dan jalan tol;

b. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pengadaan tanah jalan bebas hambatan dan jalan tol;

c. Pembinaan pelaksanaan pengadaan tanah untuk jalan;

d. Pembinaan pelaksanaan pengamanan aset hasil pengadaan tanah jalan tol. dan

e. Penyiapan bahan norma, standar, prosedur dan kriteria pembebasan lahan untuk jalan;

Susunan organisasi Subdirektorat Pengadaan Tanah terdiri atas Kelompok Jabatan Fungsional.

Dalam melaksanakan tugasnya. Subdirektorat Pengadaan Tanah dibantu oleh Satuan Kerja Pengadaan Tanah Jalan Tol Wilayah I dan II.

3. Subdirektorat Pembangunan Jalan Bebas Hambatan

Subdirektorat Pembangunan Jalan Bebas Hambatan mempunyai tugas:

a. Melaksanakan pembinaan, evaluasi perencanaan teknis, pembinaan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan pembangunan jalan bebas hambatan dan jalan tol;

(15)

15

b. Pelaksanaan evaluasi penyesuaian kontrak pembangunan jalan bebas hambatan dan evaluasi perubahan ruang lingkup konstruksi jalan tol;

c. Penyusunan informasi pelaksanaan pembangunan; dan

d. Pelaksanaan evaluasi laik fungsi dan operasi jalan bebas hambatan dan jalan tol.

Susunan organisasi Subdirektorat Pembangunan Jalan Bebas Hambatan terdiri atas Kelompok Jabatan Fungsional.

4. Subdirektorat Operasi dan Pemeliharaan

Subdirektorat Operasi dan Pemeliharaan mempunyai tugas:

a. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi kinerja penyelenggaraan jalan bebas hambatan dan jalan tol serta pemanfaatan jalan tol;

b. Pemberian rekomendasi penutupan sementara serta pemberian saran dan pertimbangan pengambilalihan sementara hak penyelenggaraan karena kegagalan pengusahaan dan pelelangan ulang;

c. Pengambilalihan hak pengusahaan pada akhir masa konsesi dan pengoperasian pada akhir masa konsesi.

d. Saran dan pertimbangan penyesuaian tarif tol.

e. Perubahan sistem dan pengoperasian jalan tol.

f. Pembinaan dan rekomendasi teknis pemenuhan standar pelayanan minimal (SPM) jalan bebas hambatan dan jalan tol;

g. Pengendalian pelaksanaan operasi dan pemeliharaan jalan bebas hambatan dan jalan tol;

h. Evaluasi dan penyiapan bahan persetujuan pemanfaatan bagian-bagian jalan tol dan lokasi tempat istirahat serta pelayanan pelaksanaan koordinasi;

i. Pendampingan dan validasi data dalam rangka penuntasan temuan hasil audit terkait penyelenggaraan jalan bebas hambatan dan jalan tol;

j. Penyusunan informasi penyelenggaraan jalan bebas hambatan dan jalan tol; dan

(16)

16

k. Penyusunan penetapan kinerja dan laporan kinerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan.

Susunan organisasi Subdirektorat Operasi dan Pemeliharaan terdiri atas Kelompok Jabatan Fungsional.

5. Subbagian Tata Usaha (TU)

Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan pelaksanaan urusan administrasi kepegawaian, administrasi keuangan, administrasi barang milik negara, tata persuratan, kearsipan, Kerumahtanggaan, koordinasi data dan informasi. serta koordinasi administrasi penerapan sistem pengendalian intern direktorat.

1.3 Struktur Organisasi

Direktorat Jalan Bebas Hambatan seperti dalam Peraturan Menteri PUPR Nomor 13 Tahun 2020 merupakan Unit Organisasi Eselon II yang didukung oleh 4 (empat) Unit Kerja Eselon III dan 1 (satu) Unit Eselon IV serta kelompok jabatan fungsional. Melalui struktur organisasi tersebut peran Direktorat Jalan Bebas Hambatan dalam perencanaan, pemrograman, pengendalian konstruksi, pemantauan dan evaluasi, serta pengadaan tanah jalan bebas hambatan diharapkan menjadi lebih optimal. Direktorat Jalan Bebas Hambatan terdiri atas:

a. Subdirektorat Perencanaan Teknis Jalan Bebas Hambatan;

b. Subdirektorat Pengadaan Tanah;

c. Subdirektorat Pembangunan Jalan Bebas Hambatan;

d. Subdirektorat Operasi dan Pemeliharaan; dan e. Sub Bagian Tata Usaha

(17)

17

GAMBAR I-1STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT JALAN BEBAS HAMBATAN

Sumber: Renstra Direktorat Jalan Bebas Hambatan 2020 - 2024

1.4 Isu Strategis

1.4.1 Isu Strategis Terkait Pengadaan Tanah

Pengadaan tanah jalan bebas hambatan/ jalan tol merupakan salah satu tahap paling krusial dari keseluruhan kegiatan pembangunan dan pengembangan infrastruktur jalan bebas hambatan/ jalan tol. Selain aspek teknis. proses pengadaan tanah juga terkendala aspek non teknis. Secara umum, isu strategis terkait pengadaan tanah jalan tol antara lain:

a. Kebutuhan lahan pemenuhan PSN relatif besar dimana memerlukan rata-rata 20 triliun per tahun. sementara adanya potensi penyediaan dana tanah oleh LMAN pertahun tidak dapat memenuhi. sehingga berpotensi keterlambatan penyelesaian konstruksi PSN.

b. Proses penyelesaian dengan karakteristik khusus:

1. Proses penggantian Tanah Wakaf yang memerlukan izin dari Kementerian Agama/Kanwil Kementerian Agama terkendala pada sulitnya mencari tanah pengganti wakaf dan besar ganti rugi yang diminta nadzir melebihi nilai appraisal.

(18)

18

2. Sulitnya mencari tanah pengganti Tanah Kas Desa dan proses persetujuan penggantian Tanah Kas Desa yang memerlukan izin dari Gubernur memakan waktu yang lama.

3. Kendala pengadaan tanah pada kawasan hutan dengan rasio luas penggantian 1:2 (jalan tol merupakan proyek komersil) dikarenakan keterbatasan ketersediaan tanah pengganti kehutanan di pulau yang sama.

4. Kendala pengadaan tanah milik instansi pemerintah/pemerintah daerah (sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, pasar, dll) yang memerlukan waktu lama karena adanya kebijakan yang berbeda antar instansi pemerintah /pemerintah daerah.

5. Kendala pelepasan aset TNI berupa tanah kosong. berdasarkan UU No. 2 tahun 2012 tidak diberikan penggantian sedangkan pihak TNI menghendaki adanya penggantian.

c. Siklus Pengembalian Dana Talangan untuk pendanaan pengadaan tanah membutuhkan waktu lama sehingga membebani Badan Usaha.

d. Adanya masa Penetapan Lokasi yang berakhir sebelum PSN selesai, mengakibatkan apabila proses pengadaan tanah harus diulang dari awal maka membutuhkan waktu lama.

e. Penyelesaian tanah melalui jalur pengadilan (proses keberatan harga dan konsinyasi) memerlukan waktu yang lama dan dokumen yang dibutuhkan untuk pendaftaran konsinyasi sulit dipenuhi karena masyarakat yang keberatan terhadap harga enggan memberikan dokumen persyaratan (KTP, KK, Alas Hak, dll).

f. Pemahaman yang berbeda pada masing-masing institusi pengadilan negeri atas penanganan pengajuan keberatan harga ganti kerugian dan proses penitipan ganti rugi (konsinyasi).

g. Sertifikasi tanah yang telah dibebaskan membutuhkan waktu lama.

h. Adanya kekhawatiran Instansi/Pejabat/Petugas yang melaksanakan pengadaan tanah akan dikriminalisasi oleh Aparat Penegak Hukum (APH) sehingga lambat dan takut dalam mengambil keputusan.

i. Koordinasi antar instansi terkait terutama dalam hal ini dengan BPN/ATR, dan juga Pengadilan/Mahkamah Agung.

(19)

19

1.4.2 Isu Strategis Terkait Penyelenggaraan Jalan Tol

Pembangunan Jalan Tol di Indonesia yang menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional saat ini sedang dilakukan berbagai upaya untuk mencapai sasaran strategis yang sekaligus menjadi salah satu Nawa Cita Presiden Joko Widodo yaitu terbangunnya 1060 km jalan tol dalam kurun waktu 5 tahun, dari tahun 2015 sampai dengan 2020 dan 2500 km pada tahun 2020 – 2024 ditargetkan dalam RPJMN. Pada saat yang sama diperlukan pemanfaatan aset rumija jalan tol seoptimal mungkin.

Secara umum isu strategis dalam penyelenggaraan jalan tol adalah sebagai berikut:

a. Terkait adanya Usulan Prakarsa Jalan Tol oleh badan usaha. perlu disusun pedoman Tentang Tatacara Pengajuan dan Evaluasi Prakarsa Badan Usaha Untuk Pengusahaan Jalan Tol.

b. Menghadapi dinamika semakin banyaknya Jalan Tol yang dibangun serta keterbatasan kapasitas organisasi Badan Pengatur Jalan Tol, diperlukan kemandirian BUJT yang menjadi tanggung jawabnya dalam pengawasan kontruksi jalan tol. Untuk itu diperlukan Surat Edaran Menteri yang mengatur Mekanisme Pengawasan Konstruksi Jalan Tol.

c. Untuk meningkatkan mutu dan menstandarisasikan perencanaan teknik jalan tol maka diperlukan penyusunan Pedoman Perencanaan Teknik Jalan Tol.

d. Untuk memberikan petunjuk bagi para pihak yang terkait, perlu disusun Pedoman Pra Studi Kelayakan dan Studi Kelayakan Jalan Tol.

e. Bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan pasal 7 ayat 5 peraturan Pemerintah nomor 15 Tahun 2005 tentang jalan tol, dan dalam rangka mengakomodasi usaha mikro dan kecil (UMK) serta koperasi guna meningkatkan perekonomian masyarakat yang terpengaruh oleh pembangunan dan pengoperasian jalan tol, diperlukan peraturan Menteri PUPR yang mengatur persyaratan teknis, pengusahaan, perizinan, dan pengoperasian tempat peristirahat dan pelayanan (TIP) pada jalan tol.

f. Terkait peningkatan pelayanan dengan memonitor kewajiban BUJT untuk memenuhi standar pelayanan minimal (SPM).

(20)

20

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja. Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Dokumen Penetapan Kinerja merupakan suatu dokumen pernyataan kinerja/ kesepakatan kinerja/ perjanjian kinerja antara atasan dan bawahan untuk mewujudkan target kinerja tertentu berdasarkan pada sumber daya yang dimiliki oleh instansi. Dokumen Penetapan Kinerja disusun dengan memperhatikan antara lain dokumen perencanaan jangka menengah. dokumen perencanaan kinerja tahunan. dan dokumen penganggaran dan/atau pelaksanaan anggaran.

2.1 Uraian Singkat Renstra

2.1.1 Rencana Strategis Direktorat Jenderal Bina Marga

Direktorat Jenderal Bina Marga sebagai bagian dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam menjalankan tugasnya harus dilandaskan dan mengacu pada visi misi RPJMN 2020-2024. Visi Misi RPJMN 2020 adalah “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat.

Mandiri. dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”.

Dalam upaya mewujudkan visi pembangunan nasional 2020-2024 tersebut, akan ditempuh melalui 9 (sembilan) misi Presiden dan Wakil Presiden (yang sering disebut sebagai Nawacita, yang diadopsi menjadi misi pembangunan nasional 2020-2024 sebagaimana termuat dalam dokumen RPJMN 2020-2024 (Perpres No 18 Tahun 2020) sebagai berikut:

1. Peningkatan kualitas manusia Indonesia.

2. Struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing.

3. Pembangunan yang merata dan berkeadilan.

4. Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan.

5. Kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa.

6. Penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya.

(21)

21

7. Perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga.

8. Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan tepercaya.

9. Sinergi pemerintah daerah dalam kerangka Negara Kesatuan.

Untuk mendukung pencapaian visi dan misi Presiden dan Wakil Presiden 2020-2024 dalam RPJMN 2020-2024. Kementerian PUPR memiliki visi yaitu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Yang Andal, Responsif, Inovatif dan Profesional Dalam Pelayanan Kepada Presiden dan Wakil Presiden untuk Mewujudkan Visi dan Misi Presiden dan Wakil Presiden:

“Indonesia Maju Yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”

Tujuan Ditjen Bina Marga dalam menyelenggarakan jalan nasional pada periode 2020-2024 terdiri dari 4 butir sebagai berikut:

1. Mewujudkan konektivitas jalan nasional yang andal dan prima dalam mendukung perwujudan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong;

2. Meningkatkan standar pelayanan jalan nasional sesuai kebutuhan dan standar;

3. Meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan teknis dalam program penyelenggaraan jalan nasional;

4. Meningkatkan kualitas sumber daya dan kelembagaan di Lingkungan Ditjen Bina Marga.

Sasaran Strategis (SS) pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan perumahan merupakan kondisi yang diinginkan dapat dicapai oleh Kementerian PUPR sebagai suatu outcome/impact dari beberapa program yang dilaksanakan untuk periode 5 tahun. Dalam penyusunannya. Kementerian PUPR menjabarkan 4 misi dan menggunakan pendekatan metode Balanced Scorecard (BSC) yang dibagi ke dalam 4 perspektif, yaitu perspektif stakeholders, perspektif customers, perspektif internal process dan perspektif learning and growth. Deskripsi penerapan BSC tersebut diilustrasikan dalam bentuk peta strategi (strategy map) sebagaimana disampaikan pada Gambar 1

(22)

22

GAMBAR II-1PETA STRATEGI (STRATEGY MAP)KEMENTERIAN PUPR2020-2024 (Sumber: Draft Renstra Kementerian PUPR)

Sasaran program Direktorat Jenderal Bina Marga adalah “Meningkatnya Konektivitas Jaringan Jalan Nasional” yang didukung oleh salah satunya sasaran kegiatan “Peningkatan pelaksanaan pengaturan dan pembinaan jalan bebas hambatan” dengan parameter panjang jalan tol yang beroperasi. Sasaran kegiatan tersebut merupakan dasar kegiatan utama Direktorat Jalan Bebas Hambatan.

Dalam rangka pencapaian Rencana Strategis Direktorat Jenderal Bina Marga tahun 2020-2024.

perlu disusun rencana strategis level Direktorat, sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 9 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerimtah di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Bab V Pasal 6 ayat 3, bahwa “Unit kerja/unit pelaksana teknis Menyusun Rencana Strategi sebagai dokumen perencanaan unit kerja/unit pelaksana teknis untuk periode 5 (lima) rahunan berpedoman pada Rencana Stategi entitas di atasnya”.

Rencana Staregi Direktorat Jalan Bebas Hambatan ini akan menjadi acuan bagi seluruh sub unit kerja di bawah Direktorat Jalan Bebas Hambatan dalam pelaksanaan tugas sebagai upaya mendukung Rencana Strategi Direktorat Jenderal Bina Marga.

(23)

23

2.1.2 Rencana Strategis Direktorat Jalan Bebas Hambatan

Direktorat Jalan Bebas Hambatan secara penuh mendukung tujuan Ditjen Bina Marga dalam mewujudkan visi pembangunan nasional melalui dukungan dalam pembangunan jalan bebas hambatan dan jalan tol yang memenuhi standar pelayanan minimal demi kenyamanan pengguna jalan tol.

Sasaran program penyelenggaraan jalan untuk sasaran strategis 2 (SS2) adalah meningkatnya kinerja pelayanan jalan nasional dengan sasaran kegiatan untuk Direktorat Jalan Bebas Hambatan adalah peningkatan pelaksanaan pengaturan dan pembinaan jalan bebas hambatan dengan parameter panjang jalan tol yang beroperasi, dan output kegiatan sebagai berikut:

1. Pembinaan Teknik Penyelenggaraan Jalan Bebas Hambatan

a. Jumlah dokumen pembinaan perencanaan teknis jalan bebas hambatan b. Jumlah dokumen pembinaan pembangunan jalan bebas hambatan

c. Jumlah dokumen pembinaan operasi dan pemeliharaan jalan bebas hambatan 2. Layanan Pengadaan Tanah

a. Jumlah hektar pembebasan tanah b. Jumlah dokumen pengadaan tanah

2.1.2.1 Arah Kebijakan dan Strategi Direktorat Jalan Bebas Hambatan

Sesuai dengan renstra Kementerian PUPR tahun 2020-2024 sasaran kegiatan untuk Direktorat Jalan Bebas Hambatan adalah peningkatan pelaksanaan pengaturan dan pembinaan jalan bebas hambatan dengan parameter panjang jalan tol yag beroperasi. Panjang jalan tol yang beroperasi pada periode tahun 2020-2024 adalah sepanjang 2.500 km dengan fokus utama adalah menyelesaikan rencana pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera Koridor Aceh sampai dengan Lampung sesuai dengan arahan pada amanat presiden di RPJMN 2020-2024.

Untuk mendukung pencapaian target jalan tol tesebut, dibutuhkan dukungan Pemerintah untuk pembangunan jalan tol terutama pada Jalan Tol Trans Sumatera melalui skema Viability Gap Funding (VGF), yang dapat melalui APBN maupun pinjaman luar negeri.

Selain itu pengaturan dan pembinaan jalan bebas hambatan dilaksanakan antara lain melalui penyusunan program dan perencanaan jalan bebas hambatan dan jalan tol, pelaksanaan

(24)

24

pemantauan dan evaluasi kinerja pembangunan dan pengoperasian jalan tol, penyusunan program, inventarisasi, dan pelaksanaan pengadaan tanah jalan tol, serta pembinaan dan evaluasi perencanaan teknis jalan tol. dengan penjelasan sebagai berikut:

a) Penyusunan Program dan Perencanaan Jalan Bebas Hambatan dan Jalan Tol Program dan perencanaan jalan bebas hambatan dan jalan tol disusun dalam bentuk kebijakan perencanaan jalan tol dan rencana umum jaringan jalan bebas hambatan yang disusun berdasarkan rencana umum tata ruang wilayah yang mengacu pada sistem transportasi nasional dan terintegrasi dengan rencana umum jaringan jalan nasional sesuai dengan amanat pada Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2015.

b) Pembinaan dan Evaluasi Perencanaan Teknis Jalan Tol

Dalam mendukung rencana pembangunan jalan tol tahun 2020-2024, Direktorat Jalan Bebas Hambatan melakukan pembinaan dan evaluasi terhadap perencanaan teknis jalan tol sehingga jalan tol terbangun sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan.

c) Pelaksanaan Pemantauan dan Evaluasi Kinerja Pembangunan dan Pengoperasian Jalan Tol

Selain melaksanakan pembinaan dan evaluasi terhadap perencanaan teknis jalan tol Direktorat Jalan Bebas Hambatan juga melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja pembangunan dan pengoperasian jalan tol agar jalan tol selalu memenuhi standar pelayanan minimal (SPM) dan mengedepankan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan tol.

d) Penyusunan Program, Inventarisasi dan Pelaksanaan Pengadaan Tanah Jalan Tol Salah satu komponen penting dalam pembangunan jalan bebas hambatan dan jalan tol adalah pengadaan tanah oleh karenanya perlu dilakukan penyusunan program pengadaan tanah dan inventarisasi agar pelaksanaan pengadaan tanah jalan tol dapat berjalan dengan baik dan selesai tepat pada waktunya.

e) Penyiapan Rekomendasi Laik Fungsi dan Operasi Jalan Bebas Hambatan dan Jalan Tol

Direktorat Jalan Bebas Hambatan bersama dengan Badan Pengatur Jalan Tol menyiapkan rekomendasi laik fungsi dan operasi jalan tol agar jalan tol sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan, memenuhi standar pelayanan minimal (SPM).

(25)

25

2.1.2.2 Kerangka Regulasi

Tugas penyusunan regulasi bidang penyelenggaraan jalan kepada Pemerintah (c.q Ditjen Bina Marga) secara spesifik tertuang dalam pasal 18 (1) UU 38 Tahun 2004 tentang Jalan yang diperkuat juga melalui pasal 292 butir d Permen PUPR No. 03/PRT/M/2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian PUPR.

Kebutuhan penyusunan/perubahan regulasi di bidang jalan dapat didasarkan kepada 2 sifat dasar, yakni (1) mandatory, berupa pemenuhan terhadap mandat dari UU/PP tentang Jalan dalam rangka pengaturan lebih detail/lanjut pada peraturan yang lebih rendah, (2) complementary, berupa pengaturan teknis pelaksanaan suatu aktivitas dalam penyelenggaraan jalan yang membutuhkan kejelasan pengaturan sebagai dampak perkembangan kondisi lapangan maupun lingkungan strategis yang berpengaruh.

Berdasarkan fungsinya. regulasi memiliki 3 fungsi utama, yakni: (1) fungsi perubahan. untuk mendukung perubahan konsep/sistem penyelenggaraan jalan sesuai kebutuhan dan perkembangan jaman. (2) fungsi stabilisasi, untuk memberikan kepastian tentang ketentuan teknis dan prosedural/administratif untuk melaksanakan setiap item kegiatan penyelenggaraan jalan yang diatur dalam UU 38/2004, dan (3) fungsi fasilitasi, untuk memfasilitasi kebutuhan ataupun peran stakeholders dalam proses maupun hasil penyelenggaraan jalan.

Sedangkan untuk kebutuhan penguatan regulasi dalam penyelenggaraan jalan di bidang jalan bebas hambatan adalah sebagai berikut:

Kerangka Regulasi Jalan Bebas Hambatan

No

Arah Kerangka Regulasi dan/atau

Kebutuhan Regulasi

Urgensi Pembentukan Berdasarkan Evaluasi

Regulasi Eksisting.

Kajian dan Penelitian

Penanggung Jawab

Institusi Terkait

Target Selesai

Penguatan Penyelenggaraan Jalan Bebas Hambatan (Jalan Tol)

1

Revisi Permen PUPR

01/PRT/M/2017 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengadaan Badan Usaha Untuk Pengusahaan

Belum ada pengaturan atau dasar hukum terkait penunjukkan BUMN untuk melakukan pembangunan dan pengoperasian jalan tol.

serta mekanisme pengambilalihan

Ditjen Bina Marga

Dit. Jalan Bebas Hambatan

2022

(26)

26

No

Arah Kerangka Regulasi dan/atau

Kebutuhan Regulasi

Urgensi Pembentukan Berdasarkan Evaluasi

Regulasi Eksisting.

Kajian dan Penelitian

Penanggung Jawab

Institusi Terkait

Target Selesai

Penguatan Penyelenggaraan Jalan Bebas Hambatan (Jalan Tol) Jalan Tol pengusahaan jalan tol

2

Penetapan Permen PUPR tentang Dukungan dan Jaminan Pemerintah dalam Pengusahaan Jalan Tol

Belum ada pedoman yang mengatur mengenai kebijakan terkait dengan

besar/nilai serta bentuk dukungan dan jaminan dari Pemerintah dalam meningkatkan kepastian usaha jalan tol

Ditjen Bina Marga

Dit. Jalan Bebas Hambatan

2022

3

Revisi Permen PUPR

16/PRT/M/2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Jalan Tol

Belum diatur tentang konsekuensi serta kewajiban para pihak mengenai upaya pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Jalan Tol (jika harus penilaian terbukti SPM di suatu ruas jalan tol tidak terpenuhi)

Ditjen Bina Marga

Dit. Jalan Bebas Hambatan

2022

4

Penetapan Permen PUPR tentang Perubahan Rencana Usaha dalam Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol

Belum diatur tentang perubahan rencana usaha dalam perjanjian pengusahaan jalan tol

Ditjen Bina Marga

Dit. Jalan Bebas Hambatan

2020

5

Penetapan Permen PUPR tentang Tata Cara Penetapan Pengusahaan Jalan Tol atas Prakarsa Badan Usaha

Belum diatur tata cara penetapan

pengusahaan jalan tol atas rencana badan usaha di dalam Peraturan Menteri PUPR

Ditjen Bina Marga

Dit. Jalan Bebas Hambatan

2020- 2021

6

Revisi Permen PUPR

10/PRT/M/2018 tentang Tempat Istirahat dan Pelayanan pada Jalan Tol

Perlu adanya

penyesuaian peraturan tentang Tempat Istirahat dan Pelayanan pada Jalan Tol terkait dengan pengembangan Tempat Istirahat

Ditjen Bina Marga

Dit. Jalan Bebas Hambatan

2020- 2021

7

Revisi Permen PUPR no 16/PRT/M/2017

Perlu adanya penyesuaian atas transaksi tol nontunai di

Ditjen Bina Marga

Dit. Jalan Bebas Hambatan

2020

(27)

27

No

Arah Kerangka Regulasi dan/atau

Kebutuhan Regulasi

Urgensi Pembentukan Berdasarkan Evaluasi

Regulasi Eksisting.

Kajian dan Penelitian

Penanggung Jawab

Institusi Terkait

Target Selesai

Penguatan Penyelenggaraan Jalan Bebas Hambatan (Jalan Tol) tentang Transaksi

Tol Nontunai di Jalan Tol

jalan tol terkait dengan MLFF

2.1.2.3 Kerangka Kelembagaan

Guna memastikan setiap unit kerja di bawah Direktorat Jenderal Bina Marga berkontribusi terhadap pencapaian sasaran RPJMN dan Renstra, diperlukan suatu kelembagaan yang terintegrasi dan saling mendukung tugas dan fungsi masing-masing. Direktorat Jenderal Bina Marga di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 13/PRT/M/2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penyelenggaraan jalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

Dalam menyelenggarakan tugas, Direktorat Jenderal Bina Marga menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

a. perumusan kebijakan di bidang penyelenggaraan jalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;

b. pelaksanaan kebijakan di bidang penyelenggaraan jalan nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;

c. pelaksanaan kebijakan di bidang penguatan konektivitas yang menjadi prioritas nasional;

d. penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penyelenggaraan jalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

e. pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang penyelenggaraan jalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

f. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang penyelenggaraan jalan;

g. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Bina Marga; dan h. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.

(28)

28

Sedangkan untuk Direktorat Jalan Bebas Hambatan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan, pembinaan, penerapan standar dan pemantauan evaluasi kinerja jalan bebas hambatan serta pengadaan tanah.

Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Jalan Bebas Hambatan menyelenggarakan fungsi:

a. pembinaan penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria perencanaan, pengadaan tanah, pelaksanaan operasi dan pemeliharaan serta evaluasi kinerja jalan bebas hambatan dan jalan tol;

b. pembinaan, penilaian dan pengendalian usulan anggaran, program serta kegiatan perencanaan, pengadaan tanah, pelaksanaan, operasi dan pemeliharaan serta evaluasi kinerja jalan bebas hambatan;

c. penyusunan program dan perencanaan jalan bebas hambatan dan jalan tol;

d. penyusunan program, inventarisasi dan pelaksanaan pengadaan tanah jalan bebas hambatan dan jalan tol;

e. pembinaan dan evaluasi perencanaan teknis jalan bebas hambatan dan jalan tol;

f. pelaksanaan pemantauan dan evaluasi kinerja pembangunan dan pengoperasian jalan bebas hambatan dan jalan tol;

g. penyiapan rekomendasi laik fungsi dan operasi jalan bebas hambatan dan jalan tol;

h. pelaksanaan koordinasi, pendampingan dan validasi data dalam rangka penuntasan temuan hasil audit terkait penyelenggaraan jalan bebas hambatan dan jalan tol; dan

i. pelaksanaan urusan tata usaha direktorat.

Direktorat Jalan Bebas Hambatan terdiri atas:

a. Subdirektorat Perencanaan Teknis Jalan Bebas Hambatan b. Subdirektorat Pengadaan Tanah

c. Subdirektorat Pembangunan Jalan Bebas Hambatan d. Subdirektorat Operasi dan Pemeliharaan

e. Subbagian Tata Usaha

2.2 Perjanjian Kinerja

Terkait dengan perjanjian kinerja. sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan, diwajibkan kepada seluruh entitas

(29)

29

akuntabilitas kinerja untuk menyusun dokumen perjanjian kinerja yang berdasarkan dokumen rencana kerja dan anggaran. Dokumen ini merupakan suatu kesepakatan kinerja yang akan diwujudkan oleh seorang pejabat penerima amanah yang merupakan pimpinan suatu unit kerja/organisasi kepada atasan langsungnya. Dokumen perjanjian kinerja dilampiri oleh dokumen Penetapan Kinerja (PK) yang menggambarkan kinerja yang akan diwujudkan dalam suatu tahun tertentu dengan mempertimbangkan sumber daya yang dikelola. Dokumen penetapan kinerja disusun setelah ada kejelasan mengenai alokasi anggaran. Hal ini dimaksudkan agar dokumen penetapan kinerja dapat disusun secara lebih realistis dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber dana yang nyata sudah akan diperoleh. Dokumen Penetapan Kinerja dapat dimanfaatkan oleh setiap pimpinan unit kerja / organisasi untuk:

a. Memantau dan mengendalikan pencapaian kinerja organisasi;

b. Melaporkan capaian realisasi kinerja dalam laporan kinerja;

c. Sebagai acuan target dalam menilai keberhasilan organisasi.

Perjanjian Kinerja Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan merupakan komitmen untuk tercapainya kinerja dari sasaran strategis yang telah ditetapkan dalam RENSTRA Direktorat Jenderal Bina Marga Tahun 2020 – 2024. Perjanjian Kinerja Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan tahun 2021 telah ditetapkan target capaian kinerja sasaran kegiatan tahun 2021 yang menjadi panduan arah untuk mencapai visi dan misi dari Direktorat Jenderal Bina Marga. Agar target capaian kinerja yang ditetapkan dalam perjanjian kinerja dapat terukur dengan baik, maka disusun indikator kinerja output yang mengacu kepada RENSTRA dengan target dan alokasi anggaran kegiatan berdasarkan RKA-KL Awal Tahun Anggaran 2021 yang kemudian dilakukan revisi karena menyesuaikan dengan Susunan Organisasi dan RENSTRA terbaru. Dibawah ini merupakan dokumen perjanjian kinerja awal dan perjanjian kinerja revisi.

(30)

30

GAMBAR II-2PERJANJIAN KINERJA AWAL TAHUN 2021

GAMBAR II-3PERJANJIAN KINERJA REVISI TAHUN 2021

Adapun Komponen Perjanjian Kinerja Revisi Tahun 2021 Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan dapat dijelaskan sebagai berikut:

(31)

31

a. Sasaran Program, sesuai dengan Renstra Direktorat Jenderal Bina Marga 2020 – 2024.

Sasaran Program yang mendukung Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan yaitu Meningkatnya Kinerja Pelayanan Jalan Nasional dengan Indikator Kinerja Sasaran Program (IKSP) Aksesibilitas Jalan Nasional.

b. Sasaran program dan IKSP tersebut didukung oleh Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Tingkat Pencapaian Pembangunan Jalan Bebas Hambatan dengan Output Layanan Pengadaan Tanah.

c. Target dan Jumlah Anggaran. merupakan kuantitas yang ingin dicapai dan total alokasi anggaran yang dimiliki Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan Tahun 2021 yang bersumber dari dokumen anggaran (RKA-KL) revisi Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan.

d. Rincian per output adalah sebagai berikut:

- Layanan Pengadaan Tanah dengan target 2021 adalah 1 rekomendasi kebijakan.

TABEL II-1PERBANDINGAN PKAWAL DAN PKREVISI TAHUN 2021

Sasaran Program Indikator Kinerja Baseline

2020

Target 2021 Perjanjian Kinerja Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan (Awal)

Meningkatnya Kinerja Pelayanan Jalan Nasional

IKSP Aksesibilitas Jalan Nasional Indikator Kinerja Kegiatan: Tingkat

Pencapaian Pembangunan Jalan Bebas Hambatan

72.73 % 100 %

Parameter: Panjang Jalan Tol yang

Beroperasi 246.12 km 346.15 km

Rincian Output

Layanan Pengadaan Tanah 1 Rekomendasi

kebijakan Perjanjian Kinerja Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan (Revisi)

Meningkatnya Kinerja Pelayanan Jalan Nasional

IKSP Aksesibilitas Jalan Nasional Indikator Kinerja Kegiatan: Tingkat

Pencapaian Pembangunan Jalan Bebas Hambatan

72.73 % 100 %

(32)

32

Sasaran Program Indikator Kinerja Baseline

2020

Target 2021 Parameter: Panjang Jalan Tol yang

Beroperasi 246.12 km 346.15 km

Rincian Output

Layanan Pengadaan Tanah 1 Rekomendasi

kebijakan

2.3 Metode Pengukuran

Untuk memperoleh gambaran keberhasilan/kegagalan pelaksanaan tugas Satker Direktorat.

ditetapkan metode pengukuran kinerja untuk mendapatkan gambaran secara rinci pencapaian kinerja kegiatan dan sasaran, serta hal-hal yang mendukung keberhasilan dan kegagalan dalam mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.

Pengukuran kinerja merupakan suatu proses penilaian yang sistematik dan bertahap untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan strategis dan perencanaan kinerja tahunan.

Pengukuran kinerja tahun 2021 dilaksanakan terhadap capaian kinerja atau realisasi dari penetapan kinerja tahun 2021 sebagai ikhtisar rencana kinerja tahunan Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan Tahun 2021. Pengukuran dimaksud merupakan hasil dari penilaian terhadap kelompok indikator kinerja kegiatan berupa indikator keluaran (output) dan indikator hasil (outcome). Gambaran tahapan pengukuran kinerja dapat dilihat lebih lanjut pada gambar di bawah ini

(33)

33

GAMBAR II-4TAHAPAN PENGUKURAN KINERJA

Pengukuran kinerja mencakup: (1) Penilaian kinerja pada unit paling rendah yaitu kegiatan- kegiatan dalam kelompok kegiatan yang mendukung suatu sasaran. Hasil pengukuran tingkat pencapaian rencana tingkat capaian masing-masing kelompok indikator kinerja kegiatan dimuat dalam formulir Pengukuran Kinerja Kegiatan (PKK). (2) Penilaian tingkat pencapaian sasaran kegiatan yang mendukung suatu sasaran. Sasaran yang dinilai mengacu kepada masing-

masing indikator sasaran yang ditetapkan dalam penetapan kinerja.

Adapun tolok ukur pengukuran disepakati didasarkan pada output dan outcome. Pengertian output merupakan keluaran dari pelaksanaan kegiatan (software) dalam lingkup pengaturan dan pembinaan. Pengertian outcome meliputi hasil, termasuk manfaat atau dampak pelaksanaan kegiatan dan berdimensi waktu tahunan, sehingga outcome yang dapat diukur pada tahap ini diharapkan yang bersifat “immediate outcome”.

Dalam Penetapan Kinerja Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan untuk mencapai visi dan misi dalam Renstra maka ditetapkan 1 (satu) sasaran program yang harus

(34)

34

dilaksanakan. Sasaran tersebut didukung satu kegiatan yang memiliki beberapa indikator kinerja. Pencapaian kinerja yang merupakan indikator kinerja outcome yaitu capaian sasaran dan output yaitu capaian kinerja kegiatan. Indikator kinerja inilah yang digunakan sebagai dasar pengukuran capaian kinerja Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan dalam penyelenggaraan infrastruktur bidang jalan dan jembatan khususnya Jalan Bebas Hambatan.

(1) Pengukuran realisasi Capaian Kinerja Kegiatan, adalah pengukuran kinerja pada unit paling rendah dari kegiatan atau kelompok kegiatan yang mendukung suatu sasaran - sub sasaran.

Pengukuran kinerja kegiatan dilakukan dengan mengukur output dari masing-masing kegiatan sebagai capaian kinerja kegiatan pada akhir tahun anggaran dengan menggunakan data-data monitoring capaian fisik seperti SIPP, laporan realisasi dari Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan dan realisasi kinerja kegiatan dari unit- unit eselon II sebagai realisasi capaian PK nya. Indikator output untuk mengukur realisasi capaian kinerja kegiatan.

Pengukuran tingkat capaian kinerja kegiatan dilakukan dengan membandingkan Realisasi Capaian Kinerja terhadap Target Kinerja dari masing-masing indikator kinerja output kegiatan. Hasil pengukuran kinerja kegiatan tersebut dimuat dalam formulir Pengukuran Kinerja Kegiatan (PKK).

(2) Pengukuran realisasi capaian kinerja sasaran/sub sasaran dilakukan dengan dua cara.

yaitu:

• Berdasarkan pada hasil pengukuran capaian kinerja kumpulan kegiatan-kegiatan yang mendukung tercapainya suatu sasaran/sub sasaran dalam penetapan kinerja yaitu yang target kinerjanya dalam prosentase (%).

• Penilaian tingkat pencapaian sasaran strategis tahun 2021 dengan membandingkan realisasi capaian kinerja outcome terhadap targetnya dari masing-masing indikator yang ditetapkan dalam penetapan kinerja.

Pengukuran capaian kinerja sasaran mempergunakan formulir Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS).

Indikator kinerja output dan outcome inilah yang digunakan sebagai dasar pengukuran capaian kinerja bidang jalan dan jembatan yang diselenggarakan oleh Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan untuk mencapai tujuan, sasaran dan program dalam Renstra Direktorat Jenderal Bina Marga.

(35)

35

.

GAMBAR II-5PROSES PENGUKURAN DAN PELAPORAN KINERJA SISTEM AKUNTABILITAS

Metode pengukuran untuk Perjanjian Kinerja 2021 dapat dilihat pada tabel dibawah ini TABEL II-2METODE PENGUKURAN CAPAIAN OUTPUT

NO INDIKATOR KINERJA

SASARAN PROGRAM SAT TARGET (Rp. Ribu)

REALISASI (Rp. Ribu)

CAPAIAN

(%) KETERANGAN 1 Tingkat Aksesibilitas % (sesuai PK) (Sesuai E-mon) (Realisasi : target) X 100

2 Tingkat Rating Kondisi (sesuai PK) (Sesuai E-mon) (Realisasi : target) X 100

TABEL II-3PERBANDINGAN TARGET DAN REALISASI UNTUK MASING-MASING OUTPUT

NO OUTPUT SAT

TARGET REALISASI CAPAIAN (%) KET.

AWAL REVISI AKHIR

THD TARGET

AWAL

THD TARGET

REVISI AKHIR 1 Layanan Pengadaan

Tanah

Rekomendas kebijakan (sesuai PK)

(Sesuai revisi terakhir)

(Sesuai E- mon)

(Realisasi : target awal)

X 100

(Realisasi : target akhir) X

100 2 Pembinaan Teknik

Penyelenggaraan Jalan Bebas Hambatan

layanan (sesuai PK)

(Sesuai revisi terakhir)

(Sesuai E- mon)

(Realisasi : target awal)

X 100

(Realisasi : target akhir) X

100

Sesuai dengan Renstra dan dokumen Perjanjian Kinerja Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan memiliki IKSP aksesibilitas jalan nasional. Dalam IKSP tersebut terdapat 1 (satu)

(36)

36

output yang sesuai yaitu Layanan Pengadaan Tanah. Pengukuran diawali dengan pengukuran output sesuai tabel II-3 kemudian diisi IKSP sesuai tabel II-2. Data target diambil dari Perjanjian Kinerja Awal dan revisi, data realisasi menggunakan data pada E-monitoring. Capaian dihitung dengan membandingkan realisasi dengan target.

Pengukuran capaian kinerja Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan dilaksanakan oleh Sub Direktorat Operasi dan Pemeliharaan sesuai dengan tugas dan fungsi yang tertuang dalam Peraturan Menteri PUPR Nomor 13/PRT/M/2020 dan tidak lepas dari dukungan seluruh Sub Direktorat dan di lingkungan Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan. Pengumpulan data kinerja dilakukan sesuai matriks di bawah ini

GAMBAR II-6MATRIKS PENYUSUNAN LAPORAN KINERJA SATKER DIREKTORAT JBH

(37)

37

2.4 Target Tahun ini Menurut RENSTRA

Tahun 2021 merupakan tahun kedua dari periode RENSTRA Direktorat Jenderal Bina Marga 2020 – 2024. Perjanjian Kinerja Tahun 2021 sudah menyesuaikan dengan Renstra dan indikator kinerja kegiatan/output pada DIPA revisi.

Sasaran dan kegiatan dalam RENSTRA Direktorat Jenderal Bina Marga yang menjadi tugas Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan dapat dilihat dalam Tabel Perjanjian Kinerja di bawah ini.

TABEL II-4PERJANJIAN KINERJA SATUAN KERJA DIREKTORAT JALAN BEBAS HAMBATAN

Sasaran Program Indikator Kinerja Baseline

2020 Target 2021

Meningkatnya Kinerja Pelayanan Jalan Nasional

IKSP Aksesibilitas Jalan Nasional Indikator Kinerja Kegiatan: Tingkat

Pencapaian Pembangunan Jalan Bebas Hambatan

72.73 % 100 %

Parameter: Panjang Jalan Tol yang

Beroperasi 246.12 km 346.15 km

Rincian Output

Layanan Pengadaan Tanah 1 Rekomendasi

kebijakan

TABEL II-5SANDINGAN OUTPUT DAN TARGET RENSTRA JBH2021 DAN PERJANJIAN KINERJA 2021

No Output Satuan

Target Keterangan

Renstra Perjanjian Kinerja 1. Jumlah Dokumen

Pembinaan Perencanaan Teknis Jalan Bebas Hambatan

Dokumen 1 - Tidak selaras dengan

PK 2021

2. Jumlah Dokumen Pembinaan

Pembangunan Jalan Bebas Hambatan

Dokumen 1 - Tidak selaras dengan

PK 2021

3. Jumlah Dokumen Pembinaan Operasi dan

Dokumen 1 - Tidak selaras dengan

PK 2021

(38)

38

No Output Satuan

Target Keterangan

Renstra Perjanjian Kinerja Pemeliharaan Jalan

Bebas Hambatan 4. Jumlah Hektar

Pembebasan Tanah

Ha 13 - Tidak selaras dengan

PK 2021 5. Jumlah Dokumen

Pengadaan Tanah

Dokumen 1 - Tidak selaras dengan

PK 2021 6. Layanan Pengadaan

Tanah

Rekomendasi kebijakan

- 3 Tidak selaras dengan

Renstra 7. Pembinaan Teknik

Penyelenggaraan Jalan Bebas Hambatan

Rekomendasi kebijakan

- 2 Tidak selaras dengan

Renstra

8. Layanan Pengadaan Tanah (PEN)

Rekomendasi kebijakan

- 2 Tidak selaras dengan

Renstra

Dari tabel sandingan diatas, dapat terlihat adanya ketidakselarasan antara output pada Renstra dengan yang terdapat pada dokumen Perjanjian Kinerja 2021. Hal ini disebabkan adanya perubahan indikator kinerja di lingkungan Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan menyesuaikan dengan struktur DIPA dari Kementerian Keuangan.

(39)

39

BAB III

KAPASITAS ORGANISASI

3.1 Sumber Daya Manusia

Struktur organisasi Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan didukung oleh sejumlah sumber daya manusia dengan berbagai latar belakang Pendidikan, usia, dan pangkat/golongan.

Total keseluruhan jumlah pegawai di Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan adalah 739 orang. yang terdiri dari 203 orang PNS dan 536 orang Non-PNS. Jumlah tersebut berubah jika dibandingkan dengan tahun 2020 dengan pengurangan jumlah pegawai sebanyak 66 orang. Perubahan jumlah pegawai tersebut disebabkan adanya pensiun, promosi jabatan, mutasi, meninggal dunia, dan pegawai yang mengundurkan diri. Diagram perbandingan total jumlah pegawai dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2021 disajikan pada gambar berikut:

GAMBAR III-1PERBANDINGAN TOTAL JUMLAH PEGAWAI DIT.JBHTAHUN 2016-2021

(40)

40

Adapun sebaran pegawai pada masing-masing subdirektorat sebagai berikut:

GAMBAR III-2SEBARAN PEGAWAI PER UNIT KERJA

Sumber daya manusia Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mendukung kinerja Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin, tingkat Pendidikan, pangkat/golongan dan usia. Adapun informasi rinci mengenai Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan, sebagai berikut:

1. Berdasarkan Tingkat Pendidikan

GAMBAR III-3PERSENTASE PNS BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN

(41)

41

Jumlah PNS berdasarkan jenjang pendidikan:

SMP sebanyak 1 orang; SLTA sebanyak 36 orang; D3 sebanyak 3 orang; S1/D4 sebanyak 92 orang; dan S2 sebanyak 73 orang.

Berdasarkan informasi di atas dapat diketahui bahwa jumlah persentase terbesar adalah 45% atau sejumlah 92 orang yaitu PNS dengan latar belakang Strata 1. PNS dengan jenjang pendidikan tertinggi adalah PNS dengan latar belakang pendidikan Strata 2 yaitu 36% atau sejumlah 73 orang. Sementara itu, PNS dengan jenjang pendidikan terendah adalah PNS dengan latar pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas yaitu 1 % atau sejumlah 36 orang.

GAMBAR III-4PERSENTASE PPNPN BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN

Berdasarkan gambar diatas prosentase terbesar pendidikan pegawai PPNPN adalah D4/S1 sebesar 44% dan terkecil adalah SD sebesar 2%.

2. Berdasarkan Pangkat/Golongan

GAMBAR III-5PERSENTASE PNS BERDASARKAN TINGKAT PANGKAT/GOLONGAN

(42)

42

Berdasarkan informasi di atas dapat diketahui bahwa PNS terbanyak adalah PNS dengan golongan IIIc/ Penata yaitu sejumlah 72 orang, PNS dengan golongan tertinggi adalah PNS golongan IVc/ Pembina Tingkat I yaitu sejumlah 1 orang. Sementara itu, PNS dengan golongan terendah adalah PNS dengan golongan IIa/ Pengatur Muda yaitu sejumlah 3 orang.

3. Berdasarkan Jabatan

GAMBAR III-6PERSENTASE PPNPN BERDASARKAN JABATAN

Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa jabatan PPNPN paling banyak adalah pengadministrasi umum yaitu sebesar 250 orang.

4. Berdasarkan Usia

GAMBAR III-7PERSENTASE PNS BERDASARKAN USIA

(43)

43

Berdasarkan informasi di atas dapat diketahui bahwa PNS terbanyak adalah PNS dengan usia 46-50 tahun yaitu dengan jumlah PNS masing-masing sebanyak 38 orang.

PNS dengan usia termuda yaitu usia 20-25 tahun, yaitu dengan jumlah 1 orang.

Sementara itu, PNS dengan usia tertua adalah PNS dengan usia 55-60 tahun, yaitu dengan jumlah 31 orang.

GAMBAR III-8PERSENTASE PPNPN BERDASARKAN USIA

Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa usia PPNPN paling banyak adalah antara 31 – 40 tahun yaitu sebesar 44%. PPNPN dengan rentang usia 51 – 57 tahun mempunyai persentase paling rendah yaitu sebesar 7%.

5. Berdasarkan Jenis Kelamin

GAMBAR III-9PERSENTASE PNSBERDASARKAN JENIS KELAMIN

(44)

44

Berdasarkan informasi di atas dapat diketahui bahwa PNS di Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan mayoritas adalah laki-laki sebanyak 153 Orang kurang lebih 74% sedangkan PNS perempuan sebanyak 53 Orang kurang lebih sebanyak 26%.

GAMBAR III-10PERSENTASE PPNPNBERDASARKAN JENIS KELAMIN

Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa jenis kelamin PPNPN paling banyak adalah pria yaitu sebesar 77% sedangkan wanita sebesar 23%.

3.2 Sarana dan Prasarana

3.2.1 Sarana dan Prasarana Satuan Kerja Direktorat Jalan Bebas Hambatan A. KEBIJAKAN AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP

1. Penyusutan aset tetap adalah penyusutan nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset tetap. Kebijakan penyusutan aset tetap didasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan No. 01/PMK.06/2013 tentang Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset Tetap Pada Entitas Pemerintah Pusat.

2. Penyusutan aset tetap tidak dilakukan terhadap:

• Tanah

• Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP)

• Aset Tetap yang dinyatakan hilang berdasarkan dokumen sumber sah atau dalam kondisi rusak berat dan/atau usang yang telah diusulkan kepada Pengelola Barang untuk dilakukan penghapusan

3. Nilai yang disusutkan pertama kali adalah nilai yang tercatat dalam pembukuan per 31 Desember 2012 untuk aset tetap yang diperoleh sampai dengan 31 Desember 2013.

Referensi

Dokumen terkait

Melaksanakan pelayanan teknis dan administratif serta koordinasi pelaksanaan tugas unit organisasi di Lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan

Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah mencapai beberapa keberhasilan pada tahun 2011 ini, antara lain turunnya jumlah kecelakaan yang disebabkan oleh faktor manusia

Kepala seksi sebagaimana dimaksud mempunyai tugas pokok membantu Kepala bidang dalam melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, program dan kegiatan

Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) Direktorat Analisis dan Pengembangan Statistik (DAPS) tahun 2019 merupakan perwujudan kewajiban DAPS dalam

Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya 2013 41 Perhitungan indikator Pemahaman Mengenai Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya dapat di lihat

Bidang Perencanaan, Data, Evaluasi, dan Penelitian dan Pengembangan mempunyai tugas pokok mengoordinasikan dan melaksanakan penyusunan perencanaan pembangunan

Capaian kinerja kegiatan ini didukung oleh kompetensi SDM yang cukup dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya di Direktorat Cipta dan Desain Industri serta adanya pencanangan

Sejak berubah status menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang melaksanakan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK-BLU), Pimpinan Rumah Sakit