PETUNJUK PRAKTIKUM
KIMIA FARMASI DASAR
(UNTUK MAHASISWA)
Oleh:
Ari Wibowo, M.Sc., Apt.
M. Hatta Prabowo, M.Si., Apt.
Laboratorium Kimia Farmasi
Program Studi Farmasi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Islam Indonesia
PETUNJUK PRAKTIKUM KIMIA FARMASI DASAR
(UNTUK MAHASISWA)
Penulis
: Ari Wibowo, M.Sc., Apt
Editor
: M. Hatta Prabowo, M.Si., Apt
Cetakan Pertama September 2011
Cetakan Kedua (revisi ke-1) Agustus 2012
Cetakan ketiga (revisi ke-2) September 2013
Cetakan keempat (revisi ke-2) September 2014
Cetakan kelima (revisi ke-3) September 2015
Diterbitkan oleh Laboratorium Kimia Farmasi, Program Studi Farmasi
Jl. Kaliurang Km. 14,5 Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Yogyakarta 55584
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil'alamin, segala puji hanya untuk Allah SWT semata yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kami dapat menyusun
HANDOUT PRAKTIKUM KIMIA FARMASI DASAR edisi perdana (revisi ke-3) yang telah
mengalami perbaikan penulisan cara kerja pada beberapa materi praktikum serta
penambahan pertanyaan untuk mengetahui capaian pembelajaran praktikum sekaligus
sebagai pelengkap laporan praktikum.
Buku ini disusun untuk membantu mahasiswa di dalam melakukan
percobaan-percobaan yang berkaitan dengan teori dan pengetahuan tentang Kimia Dasar pada bidang
ilmu Farmasi. Praktikum ini menitikberatkan pada pengenalan terhadap teknik dasar
laboratorium, reaksi kimia dan stoikhiometri, asam-basa dan buffer, sifat koligatif larutan,
dan reaksi redoks.
Informasi yang termuat dalam handout praktkum ini masih sangat minim,
mahasiswa disarankan untuk membaca beberapa pustaka yang telah direkomendasikan
dalam daftar pustaka. Kami berharap adanya kritik dan saran guna perbaikan buku ini
sehingga lebih lengkap dan sempurna. Akhirnya kami sampaikan selamat bekerja, dan
berharap semoga buku ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada
pembaca umumnya dan mahasiswa peserta praktikum khususnya.
Yogyakarta, September 2015
DAFTAR ISI
KATAPENGANTAR ... .. ii
DAFTAR ISI ... .. iii
TATA TERTIB PRAKTIKUM ... .. iv
Asistensi dan Kontrak Belajar ... ... 1
Keselamatan Kerja di Laboratorium Kimia ... .. 6
PERCOBAAN 1 Keterampilan Teknik Dasar Laboratorium ... .. 11
PERCOBAAN 2 Reaksi Kimia dan Stoikiometri ... .. 20
PERCOBAAN 3 Asam, Basa, Buffer dan pH ... .. 30
PERCOBAAN 4 Sifat Kolegatif Larutan ... .. 40
PERCOBAAN 5 Reaksi Redoks ... .. 49
DAFTAR PUSTAKA ... .. 57
TATA TERTIB PELAKSANAAN PRAKTIKUM
LABORATORIUM FARMASI
FMIPA UII
1. Praktikan harus mengikuti materi asistensi sesuai dengan jadual yang telah ditentukan
2. Praktikan yang terlambat > 0 menit tidak diperkenankan mengikuti praktikum
3. Praktikan harus mengikuti pretest sebagai syarat mengikuti praktikum. Praktikan
mengikuti pretest sesuai dengan aturan masing-masing praktikum yang diikuti
4. Inhal Praktikum. Inhal diperlakukan bila:
a. praktikan yang bersangkutan sakit (dibuktikan dengan surat keterangan
sakit dari dokter)
b. urusan keluarga (keluarga inti meninggal, yang bersangkutan menikah, naik
haji, atau melahirkan) yang dibuktikan dengan surat keterangan yang bisa
dipertanggungjawabkan.
c. Praktikan yang tidak lulus pretest. Mahasiswa yang inhal praktikum karena
tidak lulus pretest, diwajibkan membayar biaya inhal.
5. Mahasiswa yang inhal praktikum wajib mengganti mata praktikum yang tidak diikuti
dan wajib melapor kepada koordinator praktikum.
6. Selama kegiatan praktikum, praktikan wajib:
a. menghormati koordinator praktikum, laboran, dan asisten yang bertugas
b. mematuhi tata tertib praktikum dan aturan tata tertib perkuliahan dengan
baik
c. bersikap sungguh-sungguh mengikuti praktikum, tidak bercanda dan
bersenda gurau selama praktikum
d. menjaga kebersihan alat-alat dan fasilitas laboratorium. Praktikan wajib
mengembalikan alat yang digunakan selama praktikum dalam keadaan
lengkap, bersih, dan kering. Praktikan yang merusakkan alat wajib
mengganti dengan jenis dan kualitas yang sama.
7. Mahasiswa mengulang praktikum:
a. mahasiswa yang mengulang praktikum diharuskan mengambil mata
praktikum yang belum pernah diikuti. Kalau mata praktikum tersebut adalah
mata praktikum baru, maka mahasiswa tersebut wajib mengambil mata
praktikum baru tersebut.
b. apabila mahasiswa mengulang sudah mengikuti semua mata praktikum,
diperbolehkan hanya mengikuti responsi saja, dan wajib melapor ke
koordinator praktikum pada awal dimulainya praktikum
c. wajib menaati peraturan danata tertib praktikum seperti tetap mengikuti
asistensi dan mengikuti aturan inhal yang telah ditentukan
8. Praktikan wajib membuat laporan sementara dan laporan resmi sesuai dengan aturan
yang telah ditetapkan.
9. Praktikan wajib mengikuti responsi praktikum dan wajib memenuhi persyaratan untuk
mengikuti responsi praktikum yang telah ditetapkan
10. Praktikan yang tidak mengikuti praktikum 2 kali berturut-turut tanpa alasan yang jelas
dianggap mengundurkan diri.
11. Hal-hal yang belum ditetetapkan akan diatur lebih lanjut
Yogyakarta, 2010
Koordinator Laboratorium Farmasi
Fakultas : MIPA Pertemuan Ke : 1
Prodi : Farmasi Handout Ke : 1
Nama MK : Prak. Kimia Farmasi Dasar Jumlah Halaman : 5
Kode MK : 61322104 Mulai Berlaku : September 2015
Asistensi dan Kontrak Belajar
TujuanSetelah mengikuti asisten dan kontrak belajar, mahasiswa diharapkan dapat: 1. Mengetahui deskripsi matakuliah Praktikum Kimia Farmasi Dasar. 2. Mengetahui peta konsep matakuliah Praktikum Kimia Farmasi Dasar.
3. Mengetahui kompetensi dan indikator pencapaian matakuliah Praktikum Kimia Farmasi Dasar.
4. Mengetahui mekanisme dan aturan pelaksanaan matakuliah Praktikum Kimia Farmasi Dasar.
5. Mengetahui topik bahasan yang akan dipraktikumkan. 6. Mengetahui referensi/ sumber acuan yang akan digunakan.
Deskripsi Matakuliah
Mata kuliah Praktikum Kimia Farmasi Dasar adalah salah satu Mata Kuliah wajib yang diberikan pada semester I dengan bobot 1 SKS, ditempuh bersamaan dengan mengambil mata kuliah Kimia Farmasi Dasar. Adapun standar kompetensi mata kuliah ini adalah lulusan Farmasi UII mengetahui standar keselamatan kerja di laboratorium kimia; mampu mengaplikasikan teori kimia dasar dalam bentuk percobaan dan mengetahui kegunaannya dalam bidang sains dan farmasi. Oleh karena itu, mata kuliah ini mengajarkan tentang keselamatan kerja di laboratorium kimia; percobaan teknik dasar laboratorium; reaksi kimia dan stoikiometri; sifat asam-basa, pH dan buffer; reaksi reduksi dan oksidasi; sifat kolegatif larutan; ikatan dan struktur molekul. Mata kuliah Praktikum Kimia Farmasi Dasar memiliki kedudukan untuk mendukung misi Program Studi S1 Farmasi, yaitu mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dalam pelayanan kefarmasian, mampu berkompetisi di pasar global, dan mampu mengimplementasikan Good Laboratory Practice (GLP) dalam dunia kerja.
Peta Konsep
Peta konsep dibuat agar memudahkan mahasiswa untuk memahami keterkaitan materi yang akan dipraktikumkan. Peta konsep matakuliah Praktikum Kimia Farmasi Dasar disusun sebagai berikut:
Kompetensi dan Indikator Pencapaian
Kompetensi dan indikator pencapaian pada matakuliah Praktikum Kimia Farmasi Dasar disusun sebagai berikut:
1. Mahasiswa melaksanakan aturan keselamatan kerja laboratorium kimia dengan baik.
2. Mahasiswa dapat mempraktikkan teknik dasar laboratorium (menimbang bahan, membuat
larutan, memipet, mengencerkan, dan membaca meniskus) dengan benar.
3. Mahasiswa dapat menuliskan dan menyetarakan persamaan reaksi kimia sederhana dengan
benar.
4. Mahasiswa dapat menghitung persen hasil (percent yield) secara stoikiometri dengan benar.
5. Mahasiswa dapat menghitung dan memahami hubungan antara nilai pH dengan konsentrasi
asam dan basa dengan benar.
6. Mahasiswa dapat membuat dan memahami fungsi larutan buffer dengan benar.
7. Mahasiswa memahami dan menuliskan setengah reaksi redoks dengan benar.
8. Mahasiswa dapat menghitung Sifat Kolegatif Larutan dengan benar.
9. Mahasiswa dapat menggambar struktur kimia dengan program chemical drawing software
dengan baik.
10. Mahasiswa dapat mengolah data hasil analisis kimia dengan komputer dengan benar. 11. Mahasiswa menyebutkan manfaat/ hubungan percobaan yang dilakukan dengan bidang
farmasi/ sains dengan benar.
12. Mahasiswa menunjukkan implementasi nilai-nilai islami selama proses praktikum dengan baik. 13. Mahasiswa memiliki kemampuan organisasi dan mampu membangun hubungan interpersonal
dengan anggota kelompok praktikum dengan baik. Reaksi kimia dan
stoikiometri
Praktikum basah Praktikum kering
Asam – basa, pH, buffer Reaksi reduksi – oksidasi Sifat Kolegatif Larutan Keselamatan kerja di laboratorium Teknik dasar laboratorium
Ikatan dan struktur molekul
Bidang sains dan farmasi Prak. KFD
Topik Bahasan
No. Pertemuan Topik Bahasan dan Sub Topik Bahasan
1 Pertama Asistensi/ Kontrak belajar: learning objective, pokok-pokok materi, referensi,
strategi pembelajaran, sistem penilaian, aturan praktikum.
Pendahuluan: penjelasan peta konsep, keselamatan kerja di laboratorium kimia, pengenalan alat lab dan fungsinya.
2 Kedua Teknik dasar laboratorium: Pemilihan timbangan, wadah timbang dan teknik
menimbang, Memipet larutan, Membuat larutan dengan berbagai satuan konsentrasi, Mengencerkan larutan, Membaca meniskus.
3 Ketiga Reaksi kimia dan stoikiometri: Mengamati dan menuliskan reaksi kimia,
Menyetarakan persamaan kimia, Prinsip stoikiometri dan menghitung persen hasil (percent yield).
4 Keempat Asam-basa, pH, dan buffer: Hubungan nilai pH dengan konsentrasi asam dan
basa, Perbedaan sifat asam-basa, penggunaan indikator dan pH meter, Pembuatan larutan buffer dan fungsinya.
5 Kelima Reaksi reduksi dan oksidasi: Logam sebagai agen pereduksi, Halogen sebagai
agen pengoksidasi, menulis setengah reaksi dan menyetarakan reaksi redoks.
6 Keenam Sifat Koligatif Larutan: Penentuan titik beku larutan, Penentuan berat molekul
berdasarkan titik bekunya.
Pengolahan data analisis dengan komputer: mean, standar deviasi, koefisien variansi, regresi linier.
7 Ketujuh Ikatan dan struktur molekul: Menggambar struktur dengan program chemical
drawing software.
8 kedelapan Responsi praktik dan tulis
Pelaksanaan Praktikum
Praktikum Kimia Farmasi Dasar akan dilaksanakan dalam 8 (delapan) kali pertemuan, yang terdiri dari pertemuan pertama berupa asistensi, kontrak belajar, dan workshop safety laboratory; pertemuan kedua s/d ketujuh berupa praktik di laboratorium; pertemuan kedelapan berupa responsi praktik dan tertulis.
Asistensi, kontrak belajar dan workshop safety laboratory bersifat wajib diikuti seluruh praktikan (yang baru mengambil maupun yang mengulang) dan menjadi prasyarat mengikuti rangkaian praktikum ini.
Pelaksanaan praktik di laboratorium untuk beberapa topik bahasan akan dipecah menjadi 2 (dua) gelombang (1 kelas dipecah menjadi 2 gelombang). Jadwal pelaksanaan dan materi praktikum selengkapnya akan disampaikan melalui klasiber dan ditempel di papan pengumuman Laboratorium Kimia Farmasi.
Sebelum praktikum, praktikan diminta membuat laporan awal dan mengikuti pre-test sebagai prasyarat mengikuti praktik di laboratorium, kecuali materi menggambar struktur (meteri terakhir).
Laporan awal memuat:
a. Judul praktikum,
b. Tujuan praktikum yang hendak dicapai, c. Alat & bahan yang dibutuhkan, dan d. Prosedur kerja.
Pre-test dilaksanakan pada hari praktikum dengan menyerahkan laporan awal sebagai syarat mengikuti pre-test. Nilai minimal pre-test adalah 60 (enam puluh) dengan skala penilaian 0-100. Berikut adalah materi pertanyaan yang akan ditanyakan saat pre-test:
Materi pre-test berupa:
a. Tujuan praktik yang akan dilakukan, b. Teori (konsep) dasar meteri praktikum, c. Teknik/ cara kerja yang akan dilakukan,
d. Informasi keamanan bahan yang digunakan (MSDS), e. Perhitungan terkait materi yang akan dipraktikumkan.
Setelah selesai melaksanakan praktik (beserta diskusi) di laboratorium, masing-masing praktikan diminta membuat laporan akhir.
Laporan akhir mencakup:
a. Isi laporan awal, b. Data hasil percobaan, c. Pengolahan data, d. Jawaban pertanyaan, e. Referensi
Laporan akhir dikumpulkan pada akhir praktikum. Laporan praktikum ditulis pada kertas HVS ukuran A4 yang telah diberi kover. Laporan yang telah dikoreksi akan dibagikan sebelum responsi. Laporan praktikum menjadi pra-syarat praktikum selanjutnya.
Ujian praktikum akan dilaksanakan dalam 2 (dua) bentuk, yaitu berupa praktik dan tertulis. Materi ujian praktik akan menitikberatkan pada kemampuan teknik dasar laboratorium masing-masing praktikan, sedangkan materi ujian tertulis berupa seluruh materi yang telah dipraktikumkan. Adapun syarat mengikuti ujian yaitu:
a. kehadiran praktikum 100%.
b. komponen nilai lengkap (pre-test, praktik, dan laporan). c. tidak ada tanggungan administratif di laboratorium.
Sistem penilaian menggunakan PAP (Penilaian Acuan Patokan) yang telah ditetapkan oleh FMIPA UII dengan komposisi sebagai berikut :
Bentuk Penilaian Komponen Penilaian Proporsi
Penilaian
Pretest Kebenaran jawaban 15 %
Praktik Safety lab, Skill lab, kerja tim, keaktifan praktikan saat diskusi 25 %
Laporan Sistematika dan isi laporan 15 %
Responsi praktik Teknik lab, pemilihan dan penggunaan alat, safety lab dan
kebersihan.
25 %
Responsi tulis Kebenaran jawaban 20 %
TOTAL 100 %
Referensi/ sumber acuan yang digunakan
1. Chang, R., 2003, Kimia Dasar: Konsep-konsep Kimia Inti, 3rd edition, Jilid 1 dan 2,
diterjemahkan oleh Muhammad A.M., et al., Penerbit Erlangga, Jakarta.
2. Langsjoen, A., Everett, G.W., Lieder, P., Lata, A.J., 1988, Experiments in General, Organic
and Biological Chemistry, Harcout Brace, Jovanovich Publisher, Orlando, Florida, 17-89
3. Timberlake, K.C., 2006, Chemistry, An Introduction to General, Organic, And Biological
Chemistry, 9th edition, Pearson Education Inc., USA.
4. Murov, S., Stedjee, B., 2004, Experiments and Exercises in Basic Chemistry, 6th Ed., Wiley, New York.
5. Coyne, G.S., 2006, The Laboratory Companion: A Practical Guide to Materials, Equipment,
and Technique, Revised Ed., Wiley interscience, New Jersey.
6. Slowinski E. J., and Wolsey W.C., 2009, Chemical Principles in the Laboratory, Ninth Ed., Brooks/ Cole, USA.
Fakultas : MIPA Pertemuan Ke : 1
Prodi : Farmasi Handout Ke : 2
Nama MK : Prak. Kimia Farmasi Dasar Jumlah Halaman : 5
Kode MK : 61322104 Mulai Berlaku : September 2015
Keselamatan Kerja Di Laboratorium Kimia
TujuanSetelah mempelajari aturan keselamatan dan prosedur kerja di laboratorium kimia mahasiswa diharapkan dapat:
1. Mengetahui dan memahami tentang konsep dasar lab safety. 2. Mendiskripsikan tujuan utama dari standar laboratorium
3. Mendemonstrasikan cara mengikuti aturan keselamatan dan peraturan dari laboratorium kimia
4. Mendeskripsikan klasifikasi bahan-bahan berbahaya yang berbeda-beda 5. Mempelajari berbagai sumber kontaminasi kimia
6. Menjadi terbiasa dengan peralatan dan prosedur kimia
PERHATIAN:
Petunjuk keselamatan bekerja di laboratorium ini hanya sekedar petunjuk awal saja yang disusun berdasarkan pengetahuan terbaik dari penyusun. Buku petunjuk keselamatan ini merupakan standar minimal untuk bekerja di dalam laboratorium. Mengikuti petunjuk keselamatan ini tidak memberikan garansi kepada setiap individu yang bekerja di laboratorium untuk tidak terluka/mengalami kecelakaan selama melakukan percobaan, tetapi petunjuk keselamatan ini harus dibaca dan ditaati oleh setiap individu yang bekerja di laboratorium untuk meminimalkan resiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan selama melakukan percobaan. Mahasiswa akan diminta
untuk meninggalkan laboratorium meskipun percobaan/praktikum belum selesai dilakukan apabila tidak menaati peraturan yang telah ditetapkan. Secara alami laboratorium kimia yang
kompleks memiliki berbagai potensial problem yang dapat terjadi yang tidak dapat diantisipasi sebelumnya, sehingga buku petunjuk ini mungkin belum mencakup segala hal yang mungkin dapat terjadi selama bekerja di laboratorium, dan pengarang tidak bertanggung jawab terhadap segala hal yang mungkin dapat terjadi.
Bahan Diskusi
Penggunaan bahan-bahan kimia di laboratorium mempersyaratkan beberapa tingkatan pengetahuan dan komitmen personal. Peraturan Pemerintah menghajatkan laboratorium pendidikan, sebagaimana industri, untuk membangun dan mengelola kondisi keselamatan laboratorium. Secara khusus, asisten laboratorium bertanggungjawab untuk menciptakan kondisi yang aman, termasuk memberikan informasi kepada mahasiswa mengenai keadaan-keadaan yang
membahayakan. Kemudian mahasiswa bertanggung jawab untuk mengikuti panduan dan peraturan laboratorium yang telah ditetapkan.
Pengelolaan pendidikan keselamatan laboratorium memerlukan training asisten laboratorium yang diperbaharui setiap setahun sekali. Pengelola institusi pendidikan harus memenuhi kebutuhan akan training, biasanya melalui pengadaan petugas keamanan lingkungan. Asisten kimia bertanggung jawab untuk menyampaikan hukum dan panduan keselamatan kepada para mahasiswa. Hirarki akuntabilitas tersusun sebagai bagian dari Standar Komunikasi Bahaya yang mensyaratkan secara hukum: 1) training keselamatan karyawan, 2) evaluasi bahan kimia berbahaya, 3) lembar data material yang aman untuk semua bahan-bahan kimia, dan 4) labelisasi bahan-bahan kimia.
Kerjasama dan kerelaan penuh dari setiap mahasiswa yang bekerja di laboratorium penting demi keselamatan lingkungan di laboratorium kimia. Ketika mahasiswa benar-benar memahami akan bahaya, panduan dan peraturan dari laboratorium, mereka harus menyepakati, dalam bentuk tertulis (hitam di atas putih), untuk mematuhinya. Berikut ini daftar peraturan dan panduan dasar.
Panduan Keselamatan
1. Mengetahui bahan kimia yang digunakan dalam percobaan di laboratorium dan bahaya yang berkaitan dengannya.
2. Melaporkan setiap kecelakaan, sekecil apapun kepada asisten laboratorium.
3. Bacalah label dua kali sebelum menggunakan reagen kimia. Perhatikan konsentrasi dan nama reagen dengan seksama.
4. Tutup kembali botol bahan kimia segera setelah digunakan untuk menghindari kontaminasi. 5. Jaga area kerja tetap bersih dan rapi.
6. Jaga kebersihan neraca/timbangan dan bebas dari kontaminasi, dan jangan pernah menimbang bahan-bahan kimia secara langsung diatas panci timbangan.
7. Gunakan penjepit atau pelapis panas ketika memindahkan barang pecah belah dalam keadaan panas.
8. Beritahu asisten mengenai tumpahan atau kerusakan apapun yang terjadi.
9. Hindari membawa botol-botol yang berisi bahan kimia ke bangku laboratorium-mu.
10. Lepaskan semua perhiasan/pakaian yang mudah lepas atau menjuntai. Ikat rambut yang panjang.
11. Mengetahui letak seluruh perlengkapan penyelamat di dalam laboratorium:
pancuran/shower, handuk, pembasuh mata mata, alat pemadam kebakaran, P3K. 12. Cuci alat gelas setelah digunakan.
Peraturan Keselamatan
1. Dilarang bekerja di laboratorium tanpa pengawasan.
2. Dilarang makan, minum, merokok, atau bahkan mengunyah permen karet di dalam
3. Kenakan selalu pelindung mata di dalam laboratorium, walaupun tidak sedang
melakukan percobaan.
4. Dilarang mengenakan sandal atau sepatu sandal dengan ujung yang terbuka, dan
high heels selama berada di dalam laboratorium. Larangan mengenakan sandal atau
sepatu sandal selama berada di laboratorium bertujuan untuk melindungi kaki dari tumpahan ataupun pecahan alat-alat, sedangkan larangan mengenakan high heels adalah untuk keseimbangan tubuh ketika melakukan percobaan di dalam laboratorium.
5. Dilarang memakai contact lens, karena contact lens dapat menyerap bahan-bahan kimia dari udara (terutama lensa terbaru yang dapat ’bernafas’), akan mengental dan menyerang mata, dan membutuhkan operasi untuk dapat melepaskannya.
6. Perhatian bagi yang memutuskan untuk mengenakan aksesoris seperti cincin, gelang, jam tangan, kalung dan lain-lain, beberapa bahan kimia bersifat mudah menguap dan terkadang dapat menyebabkan iritasi pada kulit, dan mungkin akan berefek pada aksesoris yang anda kenakan. Oleh sebab itu, pertimbangkan terlebih dahulu sebelum mengenakannya.
7. Dilarang menggunakan ataupun memutar radio, CD player, handphone, MP3/MP4,
ataupun peralatan lain yang semisalnya selama berada di laboratorium. Musik akan
sangat mengganggu, dan penggunaan headphone dapat menghalangi anda dari penjelasan dan peringatan-peringatan yang diberikan secara verbal selama berada di laboratorium. 8. Buang pecahan kaca ke dalam wadah khusus.
9. Buang sampah kimia ke dalam tempat yang ditunjuk atau sesuai dengan prosedur. 10. Jangan pernah meninggalkan penyalaan api tanpa pengawasan.
11. Jangan cemarkan bahan uji. Bahan uji yang sudah diambil tidak boleh dikembalikan lagi ke dalam tempat asal.
12. Jangan menunjukkan ujung tabung reaksi yang terbuka kepada siapapun di dalam
laboratorium.
13. Jangan memindahkan bahan-bahan yang mudah terbakar/mudah menguap dari
tutup/kapnya.
14. Dilarang melakukan eksperimen di dalam laboratorium tanpa ijin.
Bahan-bahan kimia sering diklasifikasikan berdasarkan pada sifat dasar bahaya yang mungkin timbul. Dalam beberapa kasus, tindakan pencegahan harus diambil sesuai dengan sifat bahan. Contoh, bahan-bahan yang mudah tebakar harus dijauhkan dari api dan bahan-bahan perusak (corrosive) jangan sampai mengenai kulit, mata atau pakaian.
Flammables (bahan-bahan yang mudah terbakar): zat yang membakar atau mudah terbakar dan
biasanya sangat dahsyat. Contoh: aseton, karbon monoksida, propana, metanol.
Corrosive (bahan-bahan perusak): zat yang bisa merusak jaringan tubuh makhluk hidup atau
Irritants: zat non-korosif yang menyebabkan radang pada kulit, mata atau sistem pernapasan.
Contoh: amonia, kloorin, ozon.
Poisons (Toxic-racun): zat yang berbahaya bagi kesehatan manusia, tingkatan racun sangat
bervariasi. Contoh: karbon monooksida, sodium sianida, timah, benzena, pestisida.
Carcinogen: zat yang bisa menyebabkan kanker pada binatang, dan dalam beberapa kasus bisa
mnyebabkan kanker pada manusia. Contoh: benzena, dioksan, asbestos, polychlorinated biphenyl compounds (PCB’s), radon.
Oxidizers (Oksidan): zat yang menyebabkan/mempercepat oksidasi, dan jika bersentuhan dengan
bahan yang mudah terbakar, bisa mnyebabkan kebakaran atau ledakan. Contoh: hidrogen peroksida, potassium permanganat, asam kromat.
Explosives (bahan peledak): zat yang bila ditempatkan pada suhu yang tinggi atau tiba-tiba terkena
guncangan yang kasar akan menyebabkan tekanan yang besar atau pemanasan yang berpotensi untuk merusak. Contoh: ammonium nitrate yang dibubuhi bensin, ammonium percklorat, nitrogliserin, asam pikrat, TNT.
Reaktif terhadap air: zat yang sangat bereaksi terhadap air, menghasilkan api, gas atau ledakan.
Contoh: sodium metal, potassium metal, kalsium metal, boron tribromida.
Radioaktif: elemen-elemen yang mengalami kerusakan nuklir dan memancarkan ion radiasi.
Contoh: Plutonium-234, Radon-222, Uranium-238.
Terpaparnya seseorang dengan zat kimia dapat terjadi dengan bebrapa cara yang berbeda-beda. Cara pertama adalah melalui menghirup uap dari zat-zat kimia. Zat yang mempunyai uap berbahaya harus diletakkan ditempat yang tertutup di lemari asam. Jika zat ini keliru ditempatkan di luar, bau yang spesifik biasanya merupakan tanda deteksi dari uap yang keluar. Sebaliknya, beberapa zat yang mengandung uap beracun tidak bisa dideteksi baunya dengan segera. Sakit kepala dan pusing/mabuk seringkali menjadi tandanya. Karbon monoksida adalah caotoh utama gas beracun yang tidak bisa dideteksi melalui baunya.
Cara yang kedua adalah melalui kontak kulit. Tumpah adalah hal yang sering terjadi di laboratorium kimia, seringkali disebabkan karena kecerobohan. Cara pertolongan pertama adalah dengan membasuh dengan air pada bagian yang terkena selama beberapa menit, sebelum kemudian memberitahu asisten. Beberapa zat kimia dapat menyebar dan menyebabkan kesehatan memburuk ketika dibilas dengan air. Resiko dari beberapa zat kimia tersebut harus ditekankan sebelum prosedur percobaan dilakukan.
Cara-cara lain meliputi ingestion, tusukan pada kulit, kontak mata. Jika hal-hal tersebut terjadi, asisten harus segera diberitahu. Lembar Data Material Keamanan – Material Safety Data
Sheet (MSDS) dapat digunakan sebagai panduan yang lebih dalam situasi emergensi/gawat.
MSDS, yang didalamnya terdapat informasi mengenai potensi paparan, kontaminasi dari bahan kimia harus tersedia di setiap bahan kimia.
Teknik dan Prosedur Laboratorium
1. Pelajari aturan keselamatan, mengetahui lokasi dan fungsi dari tiap peralatan penyelamat di laboratorium.
2. Pelajari nama dan kegunaan dari bermacam-macam peralatan laboratorium. Lihat lampiran.
3. Pelajari beberapa teknik laboratorium yang umum digunakan di laboratorium kimia. Lihat
lampiran.
KONTRAK KESEPAKATAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM KIMIA FARMASI
Nama :
NIM :
Saya, mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini, telah menerima pelatihan
keselamatan/pembekalan tentang keselamatan bekerja di laboratorium, saya memahami tentang peraturan tersebut dan berjanji akan menaati seluruh peraturan yang terdapat di laboratorium baik yang berkaitan dengan peraturan keselamatan kerja maupun peraturan lain yang berhubungan dengan kewajiban saya selama bekerja di laboratorium kimia farmasi Universitas Islam Indonesia. Saya memahami pentingnya untuk mematuhi peraturan keselamatan selama bekerja di laboratorium dan saya telah diberikan penjelasan tentang hal-hal yang harus dilakukan serta dihindari selama bekerja di laboratorium oleh pihak Universitas Islam Indonesia, dan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpa pada saya karena kecerobohan saya dan ketidakpatuhan saya terhadap peraturan yang berlaku, serta karena hal-hal yang tidak dapat diantisipasi sebelumnya, saya tidak
akan menuntut baik Dosen Pengampu Praktikum, Laboran, Kepala Laboratorium, atau pihak Universitas Islam Indonesia secara umum.
Yogyakarta, 20....
(___________________________)
Nama terang
Fakultas : MIPA Pertemuan Ke : 2
Prodi : Farmasi Handout Ke : 1
Nama MK : Prak. Kimia Farmasi Dasar Jumlah Halaman : 9
Kode MK : 61322104 Mulai Berlaku : September 2015
PERCOBAAN 1
Keterampilan Teknik Dasar Laboratorium
Tujuan
1. Mahasiswa mampu menjelaskan dan menggunakan peralatan laboratorium sesuai dengan fungsinya secara baik.
2. Mahasiswa mampu mempraktikkan teknik-teknik dasar penggunaan dan penanganan alat dan bahan di laboratorium kimia dengan baik,
3. Mahasiswa mampu mempraktikkan teknik dasar laboratorium (menimbang bahan, membuat larutan, memipet, mengencerkan, dan membaca meniskus) dengan benar.
Tugas dan Pertanyaan
1. Kenali nama-nama alat yang umum digunakan di laboratorium Kimia beserta fungsinya! Sebagian gambar dan nama alat dilampirakan pada buku petunjuk Anda.
2. Mengapa pada praktikum ini Anda melakukan pengukuran massa larutan dengan 2 teknik (alat gelas) yang berbeda?
3. Pelajari rumus dan perhitungan mol dan molaritas! 4. Pelajari rumus dan perhitungan pengenceran larutan!
Bahan Diskusi
Pada percobaan pertama ini Anda akan diminta untuk menentukan massa jenis suatu larutan dan memperagakan pembutan larutan NaOH dan HCl. Perlu Anda pahami bahwa tujuan percoban yang sederhana ini adalah Anda diharuskan belajar tentang penggunaan alat – alat (gelas) dasar di laboratorium ini dan beberapa teknik dasar laboratorium yang sederhana. Meskipun alat dan teknik yang akan Anda praktikkan termasuk aman dan sederhana, penting Anda pahami bahwa teknik dan alat ini akan Anda temui dan digunakan pada praktikum selanjutnya. Anda diminta mengamati dan mencatat hal yang penting untuk bekal praktikum selanjutnya.
A. Menimbang
Penimbangan merupakan hal yang sangat penting dipahami oleh mahasiswa dalam melakukan percobaan di laboratorium, terutama apabila hendak melakukan analisis kuantitatif. Selain memilih neraca yang tepat dan benar, mahasiswa diharuskan dapat memilih wadah jenis apa yang digunakan untuk menimbang sampel/ senyawa.
1. Apakah Anda sudah memilih neraca yang tepat? 2. Apakah Anda sudah memilih wadah yang tepat?
3. Pastikan timbangan dalam keadaan setimbang. Setting ‘water pass’ biasanya berada di posisi belakang neraca analitik.
4. Pastikan panci timbang pada neraca analitik dalam kondisi bersih dari kotoran/ debu/ tumpahan senyawa. Gunakan kuas pembersih untuk membersihkannya.
5. Jangan memberi beban yang melebihi kapasitas maksimum neraca.
6. Sampel yang akan ditimbang harus dalam suhu ruangan, jika tidak dalam suhu ruang maka harus didinginkan terlebih dahulu. Sampel yang hangat/ panas dapat menyebabkan ketidakakurasian pembacaan timbangan. Begitu pula dengan sampel yang dingin (dari penyimpanan lemari pendingin) perlu disesuaikan dengan suhu ruangan terlebih dahulu. 7. Lakukan ‘zeroing control’ dengan tidak ada satu benda pun di atas panci timbang.
8. Pastikan jendela di sekeliing neraca analitik dalam keadaan tertutup. Hal ini untuk menghindari pengaruh udara sekitar saat pembacaan timbangan.
9. Jangan membuat getaran di sekitar meja timbang karena akan mempengaruhi pembacaan timbangan.
10. Hindari sidik jari atau senyawa pengganggu lain pada permukaan benda/ obyek yang akan ditimbang di atas panci neraca, dengan menggunakan sarung tangan atau alat penjepit. 11. Letakkan benda/ obyek/ wadah timbangan yang akan ditimbang di atas panci timbang
dengan halus dan hati-hati.
12. Setelah menimbang, tekan tombol zero, bersihkan jika ada tumpahan, tutup semua jendela pada neraca.
Tabel 1. Jenis neraca analitik laboratorium
Jenis neraca analitik Kapasitas (g) Kepekaan (mg) Digit (dibelakang koma,g)
Macrobalance 100 – 200 0,1 4
Semimicrobalance 30 – 100 0,01 5
Microbalance 3 – 50 0,001 6
Ultramicrobalance 3 – 5 0,0001 7
Berapa mg terkecil bahan boleh ditimbang dengan ke-4 neraca tersebut, dapat dihitung dengan rumus:
𝑘𝑒𝑝𝑒𝑘𝑎𝑎𝑛 = 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑥 𝐵𝑀𝑇𝑆
𝑘𝑒𝑝𝑒𝑘𝑎𝑎𝑛 = 0,1 % 𝑥 𝐵𝑀𝑇𝑆
Pada prosedur penyiapan sampel untuk keperluan analisis kuantitatif ada 2 jenis penimbangan yang harus diperhatikan yaitu penimbangan kurang lebih dan penimbangan seksama.
a. Penimbangan kurang lebih
Penimbangan kurang lebih mempunyai makna sampel yang akan ditimbang kurang lebih 10 % dari yang tertera dalam buku-buku standar. Sebagai contoh: ditimbang kurang lebih 100 mg sampel, maka kita boleh menimbang antara 90 mg sampai 110 mg (berhubungan dengan bobot yang boleh ditimbang).
b. Penimbangan seksama
Penimbangan harus dilakukan dengan menggunakan alat timbangan yang ketidakpastian pengukurannya tidak lebih dari 0,1%. ketidakpastian pengukuran adalah kesalahan acak ditambah kesalahan sistematik (berhubungan dengan pemilihan neraca yang akan digunakan).
Contoh pada Buku Farmakope Indonesia tertulis prosedur “Timbang seksama lebih kurang 10 mg Mebendazol BPFI, masukkan ke dalam labu tentukur 100-mL, tambahkan ... dst” . Yang harus dilakukan adalah memilih neraca yang sesuai agar bisa memenuhi kedua permintaan cara menimbang pada prosedur tersebut di atas, yaitu:
1. sampel yang ditimbang antara 9 - 11 mg 2. kesalahan tidak lebih dari 0,1 %
Neraca yang dapat dipilih yaitu:
1. berkepekaan 0,01 mg (neraca semimikro) & hasil penimbangan harus 10 mg sampai
11 mg, atau
2. berkepekaan 0,001 mg (neraca mikro) & hasil penimbangan harus 9 mg sampai 11 mg Mengapa demikian?
Buktikan dengan menggunakan rumus kepekaan neraca di atas!
Teknik Menimbang:
1. Weighing by addition
Wadah = C g
Wadah + zat = D g
Berat zat = D - C g
Hal yang harus diperhatikan saat menggunakan teknik direct transfer (Weighing by addition): a. Letakkan wadah timbang (kaca arloji) kosong pada pan neraca analitik dan dicatat
bobotnya.
b. Gunakan spatula kering yang bersih untuk mengambil sampel dari wadah sampel, letakkan di atas kaca arloji, lalu dicatat bobotnya.
c. Bobot sampel yang ditimbang adalah sama dengan bobot total (wadah + zat) dikurangi bobot wadah (kaca arloji).
d. Keuntungan teknik ini adalah sampel langsung diletakkan pada wadah timbang, pembacaan bobot sampel sama/ sesuai dengan sejumlah sampel yang ditambah.
e. Kelemahan teknik ini adalah risiko kehilangan sampel karena tercecer di luar wadah timbang apabila tidak hati-hati.
Perhatian:
Neraca analitik telah dilengkapi dengan menu “Zeroing Control”, sehingga bobot wadah timbang tidak perlu dicatat.
Secara umum, teknik ini lebih sering digunakan.
2. Weighing by difference
Wadah + zat = A g
Wadah + sisa = B g
Berat zat = A - B g
Hal yang harus diperhatikan saat menggunakan teknik Weighing by Difference: a. Nol-kan neraca sebelum digunakan.
b. Letakkan wadah sampel yang berisi sejumlah sampel, dicatat bobotnya.
c. Gunakan spatula kering yang bersih untuk mengambil sejumlah sampel dari wadah sampel, lalu dicatat bobot wadah yang masih berisi (sisa) sampel. Sampel yang diambil langsung dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer tertutup.
d. Perbedaan atau selisih hasil penimbangan pertama dan kedua menunjukkan bobot sampel yang diambil.
e. Teknik ini cocok digunakan untuk penimbangan sampel yang higroskopis atau melindungi sampel dari udara sekitar.
f. Kelemahan teknik ini adalah dibutuhkan beberapa kali pengambilan sampel untuk
memperoleh bobot yang diinginkan, risiko terlalu banyak sampel yang diambil.
Perhatian:
Penambahan dan pengurangan sampel dari wadah harus dilakukan di luar neraca analitik.
B. Membuat Larutan
Larutan adalah campuran yang homogen dari dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit disebut zat terlarut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak disebut pelarut. Pada praktikum ini kita akan lebih banyak mengenal istilah larutan berair, yaitu zat terlarut awalnya adalah zat cair atau zat padat dan pelarutnya adalah air.
Konsentrasi larutan adalah jumlah zat terlarut yang terdapat di dalam sejumlah tertentu pelarut atau larutan. Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dengan berbagai cara, yang umum digunakan antara lain molaritas (M), persen kadar (% b/v; v/v; v/b; b/b), part per million (ppm, 1 bagian zat terlarut dalam 1.000.000 bagian larutan), dan part per billion (ppb, 1 bagian zat terlarut dalam 1.000.000.000 bagian larutan).
Salah satu satuan konsentrasi yang paling umum dalam kimia adalah molaritas, yaitu jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan.
𝑀 = 𝑚𝑜𝑙𝑎𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠 =
𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 (𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟)
Larutan pekat sering disimpan di laboratorium dalam ruang penyimpanan stok bahan kimia. Seringkali kita mengencerkan larutan stok ini sebelum bekerja dengan larutan tersebut. Prosedur untuk penyiapan larutan yang kurang pekat dari larutan yang lebih pekat disebut pengenceran. Pengenceran suatu larutan tidak mengubah jumlah total partikel zat terlarut, hanya mengubah nilai molaritas larutan tersebut. Dengan demikian, dalam proses pengenceran tidak terjadi perubahan jumlah mol zat terlarut dalam larutan.
𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛 = 𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛
𝑀𝑉 = 𝑚𝑜𝑙 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
𝑀
𝑝𝑒𝑘𝑎𝑡𝑥 𝑉
𝑝𝑒𝑘𝑎𝑡= 𝑀
ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛𝑥 𝑉
ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛atau
𝑀
𝑎𝑤𝑎𝑙𝑥 𝑉
𝑎𝑤𝑎𝑙= 𝑀
𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟𝑥 𝑉
𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟Pada praktik pengenceran, umumnya yang dihitung adalah volume yang diambil dari larutan pekat (Vpekat atau Vawal) atau volume yang dibutuhkan untuk memperoleh larutan yang lebih encer.
Ingatlah: 1 L = 1.000 mL. 1 ppm = 1 g/ 1.000.000 mL = 1 mg/ 1.000 mL = 1 μg/ mL 1 ppb = 1 g/ 1.000.000.000 mL = 1 mg/ 1.000.000 mL = 1 μg/1.000 mL = 1 ng/ Mo 1% (b/v) = 1 g/100 mL 1% (b/b) = 1 g/100 g
Informasi pada handout ini masih minim, Anda diminta membaca buku referensi di akhir handout ini agar lebih mengenal dan memahami teknik penggunaan alat laboratorium kimia.
Bahan dan alat: Larutan X Neraca analitik Gelas ukur Labu ukur Pipet volume Pipet ukur Gelas beaker Prosedur Kerja
A. Mengukur volume dan massa larutan ‘X’ serta menentukan akurasi dan presisi
pengukuran.
Anda akan mengukur volume dan massa larutan ‘X’ dengan memperagakan 2 teknik yang berbeda, yaitu menggunakan pipet volume dan gelas ukur.
1. Tuang 100 ml larutan ‘X’ ke dalam gelas beaker. Pastikan gelas beaker yang digunakan
dalam kondisi bersih dan kering.
2. Siapkan 3 gelas beaker yang lain (juga dalam kondisi bersih dan kering), beri label A, B, dan C, timbang pada jenis neraca analitik yang tepat. Catat massanya.
3. Digunakan pipet volume:
a. Dipipet 10,0 ml larutan ‘X’, dimasukkan ke dalam gelas beaker kosong A yang telah ditimbang. Timbang gelas beaker dan larutan ‘X’ di dalamnya.
b. Dipipet 10,0 ml larutan ‘X’ lagi, dimasukkan ke dalam gelas beker A yang sebelumnya telah berisi larutan ‘X’. Timbang gelas beaker dan larutan ‘X’ di dalamnya.
c. Dipipet 10,0 ml larutan ‘X’ lagi, dimasukkan ke dalam gelas beker A yang sebelumnya telah berisi larutan ‘X’. Timbang gelas beaker dan larutan ‘X’ di dalamnya.
4. Digunakan gelas ukur:
a. Diukur 10 ml larutan ‘X’, dimasukkan ke dalam gelas beaker kosong B yang telah ditimbang. Timbang gelas beaker dan larutan ‘X’ di dalamnya.
b. Diukur 10 ml larutan ‘X’ lagi, dimasukkan ke dalam gelas beker B yang sebelumnya telah berisi larutan ‘X’. Timbang gelas beaker dan larutan ‘X’ di dalamnya.
c. Diukur 10 ml larutan ‘X’ lagi, dimasukkan ke dalam gelas beker B yang sebelumnya telah berisi larutan ‘X’. Timbang gelas beaker dan larutan ‘X’ di dalamnya.
5. Lengkapi tabel berikut:
No Hasil Pengamatan Gelas ukur Pipet volume
a. Massa beaker kosong (g)
b. Massa beaker + larutan ‘X’ (penambahan pertama) (g)
c. Massa beaker + larutan ‘X’ (penambahan kedua) (g)
d. Massa beaker + larutan ‘X’ (penambahan ketiga) (g)
e. Massa larutan ‘X’ (penambahan pertama) (g)
f. Massa larutan ‘X’ (penambahan kedua) (g)
g. Massa larutan ‘X’ (penambahan ketiga) (g)
h. Rata-rata massa larutan ‘X’ (g)
i. Simpangan pengukuran pertama dari rata-rata (g)
j. Simpangan pengukuran kedua dari rata-rata (g)
k. Simpangan pengukuran ketiga dari rata-rata (g)
l. Rata-rata simpangan
6. Apabila diketahui densitas air adalah 1,0 g/ml, massa 10,0 mL larutan ‘X’ adalah . . .
𝑑𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦 =
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 = 𝑑𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦 𝑥 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
7. Hitunglah simpangan relatif antara nilai teoritis (hasil perhitungan di nomor 6) dengan nilai hasil percobaan massa larutan ‘X’ untuk masing-masing pengukuran menggunakan pipet volume dan gelas ukur (hasil perhitungan di nomor 1-h)!
𝑠𝑖𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑟𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑝𝑖𝑝𝑒𝑡 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒) =
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
𝑥 100
𝑠𝑖𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑟𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑔𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑢𝑘𝑢𝑟) =
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
𝑥 100
B. Mengencerkan larutan
Hitunglah berapa banyak larutan NaOH 1,0 M yang dibutuhkan untuk membuat 25 mL NaOH 0,5 M. Gunakan rumus pengenceran di atas. Setelah menghitung jumlah NaOH yang dibutuhkan, asisten Anda akan memperagakan teknik pengenceran. Anda diminta menirukannya!
C. Membuat larutan NaOH 0,1 M
a. Timbang lebih kurang 0,4 gram NaOH dengan wadah timbang yang sesuai (buktikan dengan perhitungan molaritas bahwa untuk membuat larutan 0,1 M NaOH diperlukan 0,4 g kristal NaOH yang dilarutkan ke dalam labu ukur 100 mL).
𝑀𝑜𝑙𝑎𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠 =
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 (𝑔)
𝐵𝑀 (
𝑚𝑜𝑙
𝑔
)
𝑥
1000 (𝑚𝐿)
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 (𝑚𝐿)
b. Masukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan bilas gelas arloji dengan akuades yang telah dididihkan dalam keadaan dingin.
c. Kocok hingga semua endapan larut.
d. Tambahkan akuades bebas CO2 ke dalam hingga labu ukur 100 mL hingga tanda batas dan
kocok hingga homogen. e. Simpan dalam tempat tertutup.
D. Membuat larutan HCl 1,0 M
Asam klorida yang sering digunakan adalah HCl dengan konsentrasi 1,0 M; 0,5 M; 0,1 M. Sebelum membuat larutan tersebut, harus diperhatikan berapa persen konsentrasi HCl yang tersedia karena akan berpengaruh pada perhitungan perubahan (konversi) dari persen HCl ke molaritas HCl. Berikut contoh perhitungan konversi HCl 37 % (b/b) ke molaritas:
Diketahui dari label/ kemasan HCl (BJ HCl = 1,19 g/ml; BM = 36,5) HCl 37 % = 37 g/100 g Maka,
37 𝑔
100 𝑔
𝑥
1,19 𝑔
𝑚𝑙
=
44,03𝑔
100𝑚𝑙
=
440,3𝑔
1000𝑚𝑙
=
440,3𝑔
𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟
𝑚𝑜𝑙 (𝑛) =
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 (𝑔)
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑚𝑜𝑙𝑒𝑘𝑢𝑙 (𝐵𝑀)
𝑀𝑜𝑙𝑎𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠 (𝑀) =
𝑚𝑜𝑙 (𝑛)
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 (𝑣)
Diperoleh M HCl = 12,06 MHitung berapa ml HCl 12,06 M yang dibutuhkan untuk membuat 25 ml HCl 1,0 M? Gunakan rumus pengenceran. Peragakan teknik pengencerannya!
𝑀
𝑝𝑒𝑘𝑎𝑡𝑥 𝑉
𝑝𝑒𝑘𝑎𝑡= 𝑀
ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛𝑥 𝑉
ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛Pertanyaan
1. Dibandingkan pengukuran menggunakan pipet ukur dan gelas ukur, manakah hasil pengukuran yang lebih presisi? Jelaskan jawaban Anda!
2. Dibandingkan pengukuran menggunakan pipet ukur dan gelas ukur, manakah hasil pengukuran yang lebih akurat? Jelaskan jawaban Anda!
3. Hitunglah molaritas larutan yang mengandung 21,0 g NaCl dalam 200 mL larutan!
4. Berapa mili liter larutan 0,420 M NaCl yang harus diambil sehingga mengandung 1,5 g NaCl?
5. Bagaimana cara anda menyiapkan 250 mL larutan 0,500 M NaOH dari larutan 6,00 M NaOH?
Referensi:
Bleil, R.E., 2005, General Chemistry Laboratory Manual, Dakota State University.
Coyne G.S., 2006, The Laboratory Companion: A Practical Guide to Materials, Equipment, and
Technique, Revised Ed., A John Wiley & Sons Inc Publication, New Jersey.
Martono, S., 2010, Bahan Kuliah Analisis Farmasi: Menimbang, UGM, Yogyakarta.
Murov, S., Stedjee, B., 2004, Experiments and Exercises in Basic Chemistry, 6th edition, Wiley, New
York.
Worksheet by Dr. Susan B. Piepho, Professor of Chemistry, Sweet Briar College, Sweet Briar, VA 24595. The text references are currently being updated to Chemistry, Eighth Edition, by Raymond Chang (WCB/McGraw-Hill, Boston, MA 2005); until this process is complete, some worksheets will have references to the Sixth Edition.
Fakultas : MIPA Pertemuan Ke : 3
Prodi : Farmasi Handout Ke : 1
Nama MK : Prak. Kimia Farmasi Dasar Jumlah Halaman : 10
Kode MK : 61322104 Mulai Berlaku : September 2015
PERCOBAAN
Reaksi Kimia dan Stoikiometri
Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengamati dan menuliskan reaksi di laboratorium dan menggambarkan kesimpulan dari pengamatan reaksi tersebut dengan benar.
2. Mahasiswa mampu menuliskan dan menyetarakan persamaan reaksi kimia sederhana dengan benar.
3. Mahasiswa mampu menghitung persen hasil (percent yield) secara stoikiometri dengan benar.
Pretest
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan ”keseimbangan” persamaan kimia!
2. Ketika Anda mencampur dua bahan kimia, bagaimana Anda menentukan apakah suatu reaksi kimia telah terjadi?
3. Apa yang dimaksud dengan lapisan endapan/precipitate? 4. Apa yang dimaksud dengan indikator?
5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan stoikiometri!
Bahan Diskusi
Konsep yang harus dipahami:
Hukum perbandingan tetap (law of definite proportion) oleh Joseph Proust (Hukum Proust) Hukum perbandingan berganda (law of multiple proportion) oleh John Dalton
Hukum kekekalan massa (law of conservation of mass) oleh Lavoisier. Koefisien pereaksi.
Pereaksi pembatas Prinsip kelarutan senyawa
Reaksi Kimia
Kita hidup di dunia, tempat reaksi kimia secara terus-menerus terjadi di sekitar dan di antara kita. Keberadaan hidup itu sendiri tergantung pada beragam reaksi kimia, seperti fotosintesis (produksi karbohidrat pada tumbuhan) dan respirasi (pembakaran karbohidrat oleh hewan untuk
menghasilkan energi). Kita menggunakan reaksi kimia untuk kepentingan konsumsi, seperti karet sintesis, obat-obatan, kosmetik, plastik, makanan tertentu, bahan makanan tambahan, detergent, pupuk, dan banyak lagi. Banyak dari reaksi kimia ini merupakan reaksi kimia kompleks. Beberapa contoh reaksi kimia sederhana yang umum dikenal adalah pembakaran bahan bakar, pengkaratan besi, dan penodaan perak.
Reaksi kimia adalah suatu proses yang terjadi selama perubahan kimia. Salah satu contoh perubahan kimia adalah perubahan susunan/komposisi zat. Selama berlangsungnya reaksi kimia, bahan awal (reaktan) bergabung menghasilkan produk dengan komposisi yang berbeda dari reaktan. Dan juga, sifat fisika dari hasil reaksi kimia (produk) biasanya cukup berbeda dari reaktannya.
Reaksi kimia dapat digambarkan dengan persamaan kimia, yaitu reaktan ditulis di sebelah kiri, dan hasilnya ditunjukkan di sebelah kanan. Sebuah panah mengindikasikan arah dari reaksi. Sebagai contoh, reaksi antara unsur sodium (Na) dan klorin (Cl2). Unsur-unsur ini adalah reaktan,
dan hasil reaksi ini adalah sodium klorida (NaCl). Persamaannya dapat dituliskan:
𝑵𝒂 + 𝑪𝒍
𝟐→ 𝑵𝒂𝑪𝒍 (𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒔𝒆𝒊𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈)
Persamaan ini tidak seimbang karena terdapat dua atom klorin pada bagian kiri dan hanya satu atom pada bagian kanan. Hukum perubahan zat menyatakan bahwa zat tidak dapat diciptakan atau dihancurkan dalam reaksi kimia. Jadi reaksi kimia itu harus seimbang; itulah sebabnya, jumlah atom setiap unsur pada bagian kiri dan bagian kanan panah harus sama.
Ketika menyeimbangkan persamaan, adalah penting untuk tidak mengubah formula/rumus dari reaktan dan hasil. Sebaliknya, mengubah jumlah satuan formula diperlukan pada persamaan. Pada persamaan diatas, 2 satuan formula NaCl dapat menyediakan dua atom klorin yang dibutuhkan dalam hasil:
𝑵𝒂 + 𝑪𝒍
𝟐→ 𝟐𝑵𝒂𝑪𝒍 (𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒔𝒆𝒊𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈)
Bagaimanapun, sekarang terdapat dua atom sodium disebelah kanan, jadi seharusnya juga terdapat dua atom disebelah kiri. Persamaan yang seimbang adalah:
𝟐𝑵𝒂 + 𝑪𝒍
𝟐→ 𝟐𝑵𝒂𝑪𝒍
Persamaan kimia terkadang memasukkan penandaan semisal (s) untuk solid/padat, (l) untuk liquid/cair, (g) untuk gas, dan (aq) untuk aqueous/larutan encer. Ini ditulis langsung setelah simbol unsur atau senyawa untuk menunjukkan keadaan fisiknya. Sebagai contoh, persamaan di bawah ini dapat ditulis:
𝟐𝑵𝒂
(𝒔)+ 𝑪𝒍
𝟐(𝒈)→ 𝟐𝑵𝒂𝑪𝒍
(𝒔)Meski demikian, dalam percobaan ini, dimana perhatian utama adalah belajar untuk menulis dan menyeimbangkan persamaan, maka simbol-simbol ini dapat diabaikan.
Perubahan kimia biasanya disertai perubahan fisik yang terlihat seperti perubahan warna, terbentuknya endapan (zat kimia yang tidak larut), perubahan gas, atau perubahan suhu.
Reaksi di bawah ini merupakan contoh reaksi sintesis. Tipe umum reaksi yang lain adalah
exchange/pergantian, dimana cations dan anions saling bertukar sekutu.
2 NaBr + Pb(NO3)2 2 NaNO3 + PbBr2
Catatan bahwa persamaan ini seimbang dengan mengambil 2 satuan formula setiap NaBr dan NaNO3. Garis di bawah PbBr2 menunjukkan bahwa ini adalah lapisan endapan. (Cara lain untuk
menunjukkan lapisan endapan adalah dengan tanda panah: PbBr2.).
Bagaimana kita mengetahui jika lapisan endapan yang kita amati terbentuk selama reaksi di atas adalah PbBr2, bukan NaNO3? Tes sederhana menggunakan contoh NaNO3 dapat
memperlihatkan kalau NaNO3 cukup dapat larut dalam air dan karena itu dapat dieliminasi sebagai
lapisan endapan. Kemungkinan lapisan endapan yang lain hanya PbBr2. Karena diperlukan waktu
yang cukup bagi Anda untuk melakukan keseluruhan tes yang diperlukan untuk mengidentifikasi lapisan endapan pada percobaan ini, dua hukum umum daya larut diberikan disini untuk mengarahkan Anda:
1. Senyawa-senyawa yang terdiri dari kation Na+, K+, atau NH4+ merupakan senyawa yang
dapat larut dalam air, jadi tidak bisa membentuk endapan.
2. Senyawa-senyawa yang terdiri dari NO3- sebagai anion dapat larut dalam air dan tidak
dapat menjadi endapan.
Selama bagian A dan B dari percobaan ini, Anda akan mencampur pasangan senyawa kimia (dalam larutan encer) bersama-sama dalam tabung uji. Pada beberapa kasus suatu reaksi akan terlihat melalui perubahan penampilan campuran. Pada kasus lainnya tidak akan ada bukti apapun yang terlihat bahwa suatu reaksi tengah terjadi. Anda harus membuat pengamatan secara hati-hati pada setiap kasus dan mencatat pengamatan Anda dalam lembar kerja.
Pada bagian C dan D Anda akan menguji zat kimia di dalam larutan dengan indikator methyl orange dan phenolphthalein. Indikator adalah zat kimia yang berubah warna pada kondisi tertentu. Indikator yang digunakan pada percobaan akan berubah warna dengan adanya asam (methyl orange) atau basa (phenolphthalein). Hati-hati mencatat perubahan warna yang terjadi selama percobaan ini dan coba untuk menyimpulkan karakteristik kimia apa yang ada pada asam dan basa.
Stoikiometri
Kata stoikiometri berasal dari bahasa Yunani stoicheion yang berarti unsur. Stoikiometri berarti mengukur unsur-unsur, meliputi berbagai macam pengukuran yang lebih luas dan meliputi perhitungan zat dan campuran kimia. Pada percobaan kali ini, Anda akan melakukan teknik analisis kuantitatif yang digunakan untuk menentukan jumlah copper (tembaga) dalam sampel. Dengan menggunakan 2 langkah reaksi, di mana tembaga (II) oksida akan disintesis dari sejumlah tembaga (II) sulfat pentahidrat. Karena starting material yang digunakan adalah bahan murni, yaitu CuSO4.5H2O (s), maka validitas dari teknik yang digunakan akan dibandingkan dengan jumlah
Tembaga (II) sulfat pentahidrat akan larut dalam air dan bereaksi menggunakan reaksi penggantian ganda dengan natrium hidroksida. Penambahan ion hidroksida pada larutan yang mengandung ion tembaga (II) akan menghasilkan endapan tembaga (II) hidroksida.
CuSO4 (aq) + 2 NaOH (aq) ↔ Cu (OH)2 (s) + Na2SO4 (aq)
Pemanasan terhadap tembaga (II) hidroksida secara in situ akan menghasilkan dekomposisi tembaga (II) oksida dan air.
Cu(OH)2 (s) ---∆---> CuO (s) + H2O (l)
CuO dapat disaring, dikeringkan, dan ditimbang secara kuantitatif. Reaksi keseluruhan untuk persamaan di atas adalah:
CuSO4.5H2O (s) + 2 NaOH (aq) ↔ CuO (s) + Na2SO4 (aq) + 6 H2O (l)
Anda dapat menghasilkan persamaan seperti di atas jika jumlah berat yang ditimbang dari CuSO4.5H2O(s) akurat. Dari jumlah tersebut, dapat dihitung jumlah tembaga (II) oksida yang
seharusnya didapat (secara teoritis). Dengan melakukan percobaan, maka didapatkan hasil percobaan yang akan dibandingkan dengan hasil teoritis. Perbandingan antara hasil percobaan dengan hasil teoritis (dikalikan dengan 100%) adalah percent yield. Percent yield yang mendekati 100% mengindikasikan bahwa teknik tersebut dapat digunakan untuk analisis kuantitatif penentuan kadar tembaga dalam sampel.
Bahan dan Alat: Tabung reaksi kecil Beker Glass Kaca Arloji Kertas Whatman no 1 Oven Timbangan Ringstand Larutan phenolphthalein Larutan methyl orange 0,1 M Ba(NO3)2
0,1 M BaCl2
0,1 M AgNO3
0,1 M Na2SO4
Tembaga (II) sulfat pentahidrat 0,1 M HCL
0,1 M NaCl
Larutan jenuh Ba(OH)2
Aqua Bidestilata 6.0 M NaOH 0,1 M HNO3 0,1 M NaOH 0,1 M KOH Akuades
Prosedur Kerja
A. Reaksi dengan Perak Nitrat
PERHATIAN: Perak nitrat dapat menyebabkan noda hitam pada kulit Anda jika tersentuh. Namun,
noda ini bersifat sementara.
Dalam tabung uji kecil yang bersih, tambahkan beberapa tetes larutan perak nitrat (AgNO3) ke
dalam 5 tetes larutan yang disebutkan berikut ini. Catat pengamatan Anda di lembar kerja yang tersedia.
Jika suatu reaksi terlihat akan terjadi (ditandai dengan terbentuknya endapan buram), tulis kesetimbangan persamaan kimia untuk reaksi tersebut. Hal ini menunjukkan reaksi penukaran (exchange), antara kation dan anion. Tunjukkan lapisan endapan dengan menggarisbawahi (gunakan hukum kelarutan senyawa yang diberikan pada pembahasan). Jika tidak terjadi reaksi, tulislah ”N.R.” (no reaction).
1. Hidrogen klorida, HCl (larutan encer)
HCl + AgNO3
2. Barium nitrat, Ba(NO3)2
Ba(NO3)2 + AgNO3
3. Sodium hidroksida, NaOH
NaOH + AgNO3
4. Sodium klorida, NaCl
NaCl + AgNO3
5. Hidrogen nitrat, HNO3 (larutan encer)
HNO3 + AgNO3
6. Barium hidroksida, Ba(OH)2
Ba(OH)2 + AgNO3
7. Barium klorida, BaCl2
BaCl2 + AgNO3
8. Potasium hidroksida, KOH
KOH + AgNO3
B. Reaksi dengan Sodium Sulfat
Dalam tabung uji kecil, tambahkan beberapa tetes larutan sodium sulfat (Na2SO4) kedalam 5
tetes larutan yang disebutkan berikut ini. Catat pengamatan Anda pada lembar kerja yang tersedia. Jika suatu reaksi terlihat akan terjadi (ditandai dengan terbentuknya endapan buram), tulis kesetimbangan persamaan kimia untuk reaksi tersebut. Hal ini menunjukkan reaksi penukaran (exchange), antara kation dan anion. Tunjukkan lapisan endapan dengan menggarisbawahi (gunakan hukum kelarutan senyawa yang diberikan pada pembahasan). Jika tidak terjadi reaksi, tulislah ”N.R.” (no reaction).
1. Hidrogen klorida, HCl (larutan encer) HCL + Na2SO4
2. Barium nitrat, Ba(NO3)2
Ba(NO3)2 + Na2SO4
3. Sodium hidroksida, NaOH NaOH + Na2SO4
4. Sodium klorida, NaCl
NaCl + Na2SO4
5. Hidrogen nitrat, HNO3 (larutan encer)
HNO3 + Na2SO4
6. Barium hidroksida, Ba(OH)2
Ba(OH)2 + Na2SO4
7. Barium klorida, BaCl2
BaCl2 + Na2SO4
8. Potasium hidroksida, KOH
KOH + Na2SO4
Data Percobaan (untuk bagian A dan B)
Larutan AgNO3 Na2SO4 HCl
...
...
Ba(NO3)2...
...
NaOH...
...
NaCl...
...
HNO3...
...
Ba(OH)2...
...
BaCl2...
...
KOH...
...
Ket: √ (terjadi reaksi) - (tidak terjadi reaksi)Pertanyaan (untuk bagian A dan B)
1. Penambahan dengan AgNO3 selalu menghasilkan lapisan endapan ketika ion tertentu ada di
dalam larutan. Ion-ion apakah yang dimaksud?
3. Bandingkan hasil pengamatan anda (pada bagian A & B) dengan prinsip kelarutan senyawa ionik dalam air. Apakah sudah sesuai?
4. Mengapa persamaan kimia harus disetarakan?
5. Hukum apakah yang menjadi pedoman untuk menyetarakan reaksi?
C. Reaksi dengan Indikator Phenolphthalein
Masukkan 5 tetes setiap larutan di bawah ini ke dalam tabung uji kecil yang terpisah yang terisi akuades setengah isi tabung. Tambahkan 1 tetes phenolpththalein (pp) pada setiap tabung uji dan campur larutan tersebut. Catat pengamatan Anda. Tidak ada persamaan yang diperlukan pada percobaan ini.
1. Hidrogen klorida, HCl (larutan encer) 2. Barium nitrat, Ba(NO3)2
3. Sodium hidroksida, NaOH 4. Sodium klorida, NaCl
5. Hidrogen nitrat, HNO3 (larutan encer)
6. Barium hidroksida, Ba(OH)2
7. Barium klorida, BaCl2
8. Potasium hidroksida, KOH
Phenolphthalein merupakan indikator untuk basa. Basa yang kuat mengakibatkan phenolphthalein berubah menjadi warna pink.
D. Reaksi dengan Indikator Methyl Orange
Masukkan 5 tetes setiap larutan di bawah ini ke dalam tabung uji kecil yang terpisah yang terisi akuades setengah isi tabung. Tambahkan 1 tetes larutan indikator methyl orange pada setiap tabung uji dan campur larutan tersebut. Catat pengamatan Anda. Tidak ada persamaan yang diperlukan pada percobaan ini.
1. Hidrogen klorida, HCl (larutan encer) 2. Barium nitrat, Ba(NO3)2
3. Sodium hidroksida, NaOH 4. Sodium klorida, NaCl
5. Hidrogen nitrat, HNO3 (larutan encer)
6. Barium hidroksida, Ba(OH)2
7. Barium klorida, BaCl2
Methyl orange merupakan indikator untuk asam. Asam yang kuat mengakibatkan methyl orange berubah menjadi merah.
Data percobaan (untuk bagian A dan B) Larutan uji Indikator Phenolphthalein Indikator Methyl Orange HCl (larutan encer)
...
...
Ba(NO3)2...
...
NaOH...
...
NaCl...
...
HNO3 (larutan encer)
...
...
Ba(OH)2
...
...
BaCl2
...
...
KOH
...
...
Ket:
Tuliskan warna yang dihasilkan
Pertanyaan (untuk bagian C dan D)
1. Tuliskan larutan yang menghasilkan warna pink jika direaksikan dengan phenolphthalein. Ion-ion umum apa yang Anda temukan dilarutan basa?
2. Tuliskan larutan yang menghasilkan warna merah jika direaksikan dengan methyl Orange. Ion-ion umum apa yang Anda temukan dilarutan asam?
3. Apakah perubahan warna yang Anda amati termasuk perubahan kimia? Jelaskanlah! 4. Diskusikan pula perubahan lain yang dapat diamati pada reaksi kimia! Berikan contohnya!
E. Prosedur Pembuatan Tembaga (II) Oksida
Timbang antara 1,8 dan 2,2 gram tembaga (II) sulfat pentahidrat dalam 250 ml beker glass dengan ketelitian mendekati 0,01 gram. Tambahkan 10 ml aquabidestilata ke dalam beker glass, dan larutkan garam tembaga hingga homogen. Tambahkan 10 ml NaOH 6,0 M pada larutan dengan diaduk. Tempatkan kaca arloji di atas beker glass dan panaskan campuran sampai titik didih. Cobalah untuk mencegah percikan, terutama pada kaca arloji. Jika terjadi percikan, gunakan botol pencuci untuk mencuci semua padatan turun pada larutan. Panaskan hingga semua padatan biru terdekomposisi menjadi tembaga (II) oksida dan air (dalam beberapa menit). Biarkan campuran menjadi agak dingin sebelum disaring.
Lipat 12,5 cm diameter kertas saring Whatman no 1. Sebelum melakukan penyaringan, timbang dan tulis massa dari kertas. Gunakan botol pencuci untuk membasahi kertas saring, sehingga dapat menempel pada corong. Gunakan ringstand dan ring untuk memegang corong, letakkan di atas beker glass penampung filtrat. Kemudian lakukan penyaringan dengan hati-hati, jangan sampai terjadi
overload pada kertas saring, paling tidak batas atas untuk penyaringan adalah 0,5 cm dari puncak
kertas. Setelah semua larutan dipindahkan melalui corong, gunakan botol pencuci untuk membersihkan beker glass yang pertama, sehingga semua endapan dapat disaring dan ditampung pada beker glass kedua.
Ketika larutan telah mengering, bilas dengan menggunakan air dari botol pencuci untuk menghilangkan natrium sulfat ataupun natrium hidroksida yang terlarut yang mungkin terjebak dalam endapan tembaga (II) oksida. Ketika air pencuci telah kering, cuci endapan sekali lagi dengan menggunakan air. Kemudian dengan hati-hati ambil kertas saring dan letakkan pada gelas arloji. Telitilah sebelumnya bahwa kertas dan gelas arloji telah dilabeli terlebih dahulu dan tempatkan gelas arloji dalam oven dengan suhu 105° C minimal selama 3 jam. Pindahkan dan timbang filtrat.
Data percobaan:
Jenis neraca analitik yang digunakan:
- Kapasitas
- Kepekaan
= . . . g = . . . g Massa tembaga (II) sulfat pentahidrat yang
ditimbang
= . . . g
Massa kertas saring whatman No.1
- Penimbangan 1 - Penimbangan 2 - Penimbangan 3 - Rata-rata = . . . g = . . . g = . . . g = . . . g Massa kertas saring whatman No.1 + massa
endapan tembaga (II) oksida
= . . . g
Massa endapan tembaga (II) oksida = . . . g
Perhitungan teoritis massa tembaga (II) oksida:
Massa teoritis tembaga (II) oksida = . . . g
Persen hasil tembaga (II) oksida: = . . . g
𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 =
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
Pertanyaan (untuk bagian E)
1. Diskusikan teknik penimbangan yang anda lakukan, apakah termasuk penimbangan seksama atau tidak? Jelaskanlah!
2. Diskusikan pula tentang teknik penimbangan hingga diperoleh bobot tetap! 3. Apakah persen hasil yang anda peroleh sudah cukup baik?
4. Diskusikan berbagai alasan mengapa terjadi perbedaan antara hasil percobaan dan hasil teoritis!
5. Tuliskan Hukum yang mendasari stoikiometri!
6. Mengapa pereaksi pembatas sangat penting untuk meramalkan jumlah produk yang diperoleh dari reaksi kimia?
Fakultas : MIPA Pertemuan Ke : 4
Prodi : Farmasi Handout Ke : 1
Nama MK : Prak. Kimia Farmasi Dasar Jumlah Halaman : 10
Kode MK : 61322104 Mulai Berlaku : September 2015
PERCOBAAN
Asam, Basa, Buffer, dan pH
Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengamati, menghitung dan memahami hubungan antara nilai pH dengan konsentrasi asam dan basa dengan benar.
2. Mahasiswa dapat membuat dan memahami fungsi larutan buffer dengan benar.
3. Mahasiswa dapat menjelaskan efek dari penambahan asam dan basa pada pH larutan buffer dengan benar.
Pretest
1. Jelaskan perbedaan antara asam kuat dan asam lemah, berikan contohnya masing-masing! 2. Apa yang dimaksud dengan pengukuran nilai pH? Berapa range ukuran nilai pH larutan asam
dan basa?
3. Jelaskan yang dimaksud dengan larutan buffer?
Bahan Diskusi
Konsep yang harus dipahami:
Prinsip kesetimbangan kimia, hukum aksi massa, asas Le Chatelier.
Konstanta kesetimbangan air (Kw); reaksi kesetimbangan asam/basa; tetapan kesetimbangan asam/basa.
Teori asam/basa:
o Oleh Arrhenius dalam medium berair, asam/basa melepas H+ atau OH-
o Oleh Bronsted-Lowry donor – akseptor proton (ingat asam/basa konjugat) o Oleh Lewis donor – akseptor elektron
Perbedaan asam/basa kuat dan lemah (ingat konstanta ionisasi asam/basa). Definisi, jenis/cara pembuatan, & fungsi larutan buffer.
Kapasitas buffer.
Menghitung pH asam/basa kuat & lemah, serta pembuatan buffer Rumus Sorensen & Persamaan Henderson Hasselbalch.
Rumus Sorensen: