POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CHRONIC KIDNEY DESEASE (CKD) DI RUANGAN PENYAKIT
DALAM RS TK. III Dr. REKSODIWIRYO PADANG
KARYA TULIS ILMIAH
Oleh : ADE ARDILA NIM : 143110200
PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG POTEKKES KEMENKES PADANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CHRONIC KIDNEY DESEASE (CKD) DI RUANGAN PENYAKIT
DALAM RS TK. III Dr. REKSODIWIRYO PADANG
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan sebagai Persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan diPendidikan Diploma III Politeknik
Kesehatan Kemenkes Padang
Oleh : ADE ARDILA NIM : 143110200
PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG POTEKKES KEMENKES PADANG
ii
iii
Poltekkes Kemenkes Padang Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah tentang
“Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Chronic Kidney Desease (CKD)
di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017”. Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan pada Program Studi D-III Keperawatan Padang, Poltekkes Kemenkes Padang. Peneliti menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari Ibu Ns. Sila Dewi Anggreni, S. Pd, M. Kep, Sp. KMB selaku dosen pembimbing I dan Ibu Ns. Yossi Suryarinilsih, S. Kep, Sp. KMB selaku dosen pembimbing II yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan peneliti dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, tanpa bantuan dari Ibu sangatlah sulit bagi peneliti untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini, peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada:
1. H. Sunardi, SKM. M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan RI Padang.
2. Dra. Lisa Megahati, Apt. MM selaku Kepala RS TK. III Dr. Reksodiwryo Padang.
3. Hj. Murniati Muchtar, SKM, M. Kes selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan RI Padang .
4. Ns. Idrawati Bahar, S. Kep, M. Kep selaku Ka. Prodi D-III Keperawatan Padang Poltekkes Kemenkes Padang yang telah membantu dalam usaha memperoleh data yang peneliti perlukan.
5. Ibu Efitra, S. Kp, M. Kes selaku Pembimbing Akademik yang selalu memotivasi, memberikan pencerahan untuk peneliti selama perkuliahan dan selama menyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
6. Bapak Ibu Dosen dan Staf yang telah membantu dan memberikan ilmu dalam pendidikan untuk bekal bagi peneliti selama perkuliahan di Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang.
iv
Poltekkes Kemenkes Padang 7. Kedua orang tua dan saudara tercinta yang telah memberikan semangat dan dukungan serta doa yang di berikan sehingga peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan lancar.
8. Rekan-rekan seperjuangan BP 2014 keperawatan yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu yang telah membantu peneliti menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Akhir kata, peneliti berharap Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat khususnya bagi peneliti sendiri dan bagi pihak yang membacanya, serta peneliti mendoakan semoga segala bantuan yang telah diberikan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Semoga dapat membawa manfaat bagi pegembangan ilmu keperawatan nantinya. Amin.
Padang, 13 Juni 2017
v
Poltekkes Kemenkes Padang Karya Tulis Ilmiah ini adalah karya saya sendiri, dan semua sumber yang saya kutip maupun dirujuk telah saya nyatakan benar.
Nama : Ade Ardila
NIM : 143110200
Tanda Tangan :
Tanggal : 13 Juni 2017 Materai
vi
Poltekkes Kemenkes Padang
GORESAN TINTA HITAM
“DIA memberikan hikmah (Ilmu yang berguna) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mendapati hikmah itu, sesungguhnya ia telah mendapat
kebajikan yang banyak. Dan tiadalah yang menerima peringatan melainkan orang-orang yang berakal”. (Q.S Al-Baqarah: 269)
Alhamdulillahhirabbil’alamin... Tiada henti atas nikmat, karunia dan kesuksesan yang diberikan kepada hamba-Mu ini Ya Allah....Terima kasih telah
memberikan hambamu ilmu, konsentrasi dan fikiran sehingga hamba-Mu ini dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini hingga selesai. Terimakasih Ya Allah....ilmu yang semoga menjadikanku terus mentauhidkanMu, hinggga
menjumpaiMu, ALLAH Subhanahuwata’alaa.
Ayah, Ibu.... ku persembahkan sebuah gelar ini (Amd. Kep) semata hanya untuk membahagiakanmu... Aku tau dalam senyummu kau sembunyikan letih, sedih, rasa harap cemas dan segumpal harapan untuk keberhasilanku... Derita siang dan malam kau tahankan, tak sedikitpun kau hentikan langkahmu demi untuk memperjuangkan masa depan anak-anakmu. Disetiap tetes keringatmu, disetiap jauhnya pandangan matamu, disetiap tajamnya pendengaranmu, setiap gerakan
tanganmu, setiap gontaian langkahmu, setiap hembusan nafas dan disetiap gerakan doa dibibirmu, kau mempunyai harapan yang luar biasa dan kasih
sayang yang tiada tara...
Terima kasih Ayah, Ibu atas pergorbanan yang kau berikan...begitu banyak cacian, cercaan dan hinaan yang tak kau hiraukan. Semua itu kau lakukan bukan untuk setumpuk emas, bukan gulungan uang yang kau harapkan dari
keberhasilanku...Bukan juga sebatang perungu yang kau inginkan dari kemenanganku.... Disetiap detak jantungku ada do’amu, disetiap helaan nafasku
ada curahkan kasih sayang mu...kini sayapku telah tumbuh, inilah gelar yang kujemput untuk kuhadiahkan terhadapmu... Ade Ardila, Amd. Kep... Semoga ini
bermanfaat bagiku atas ridhomu dan ridho Tuhan mu Ayah Ibu... Aamin.. Terima kasih terhadap saudara tercinta bg Marwil Hikmi... mungkin hanya sebait kata yang bisa ku tuliskan.., Kaulah yang menaruh bintang dalam mataku,
vii
Poltekkes Kemenkes Padang ketika sampai pada malam kau selalu disana menjelma pelita dilorong paling gelap dan bedebu....Aku sangat menyayangimu jika kau tahu aku masih kekanak
kanakan dan selalu ingin menang sendiri...Kau tak ada duanya bagiku. Tidak layak kau dibandingkan dengan orang lain. Sebab bagiku kaulah terbaik yang
selalu menasehati, memotivasi dan mengingatkanku...Kau tahankan pahitnya getir kehidupan dinegeri orang, kau tahankan rindu akan pulang hanya untuk kesuksesanku.... Tidak banyak, inilah hadiahku untukmu atas kemenanganku...,
Untuk pembimbing..Terima kasih tiada tara atas bimbingan serta ilmu yang bermanfaat dan terima kasih sudah mangajariku banyak hal....Sudah mengantarkanku hingga mendapatkan gelar ini...Kepada Ibu Ns. Sila Dewi Anggreni, S. Pd. M. Kep, Sp. KMB dan Ibu Ns. Yossi Suryarinilsih, M. Kep, Sp. KMB. Terima kasih atas semua saran dan masukan yang diberikan untuk ku... Terima kasih untuk jiwa yang lemah hingga kuat, untuk jiwa yang rapuh, goyah
hingga kokoh, untuk jiwa yang biasa menjadi luar biasa, untuk jiwa yang putih tanpa goresan hingga diisi dengan coretan warna warni pengetahuan.... Thanks
my seft.... Save in your brain, not in your note books...
Terima kasih teman teman RnB atas kebersamaan dan ukiran kenangan selama tiga tahun ini....Tersenyum dan kepakkanlah sayapmu karna hari ini akan kita
rindukan di kemudian hari... I’ll Miss You All
viii
ix
Poltekkes Kemenkes Padang PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN PADANG
Karya Tulis Ilmiah, 13 Juni 2017 Ade Ardila
“Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Chronic Kidney Desease (CKD)
di Ruangan Penyakit Dalam RS TK.III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017”
XV + 83 Halaman, 1 Gambar, 7 Tabel, 13 Lampiran
ABSTRAK
Menurut World Health Organization (WHO), secara global lebih dari 500 juta orang mengalami Chronic Kidney Desease setiap tahunnya (Ratnawati, 2014). Angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Penderita penyakit Chronic Kidney Desease di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang setiap tahunnya mengalami peningkatan dan dilaporkan sebanyak 15 orang pada bulan Mei 2017. Metode penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus, tujuan penelitian untuk mendiskripsikan atau menggambarkan bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada Tn.D dan Tn.A dengan Chronic Kidney Desease di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017. Penelitian dilakukan pada dua orang pasien di Ruang Rawat Inap Penyakit dalam RS TK.III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017. Waktu penelitian dilakukan bulan Januari-Juni 2017. Waktu untuk studi kasus selama 10 hari yaitu tanggal 25 Mei 2017. Pada partisipan 1 tanggal 17-25 Mei 2017 sedangkan pada partisipan 2 tanggal 21-17-25 Mei 2017. Masalah yang ditemukan pada kedua partisipan adalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas, gangguan perfusi jaringan ferifer, gangguan eliminasi urine, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan resiko kelebihan volume cairan. Melalui Kepala RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017 khususnya kepada perawat ruangan supaya bisa memberikan asuhan keperawatan kepada Chronic Kidney Desease terutama dalam menghitung balance cairan pada pasien untuk mencegah dampak masalah yang lebih lanjut.
Kata Kunci :Chronic Kidney Desease (CKD)
x
Poltekkes Kemenkes Padang DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
HALAMAN ORISINILITAS ... v
LEMBAR PERSETUJUAN... viii
ABSTRAK ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN ... 8
A. Konsep Dasar CKD ... 8
1. Pengertian ... 8
2. Penyebab ... 8
3. Tanda dan gejala ... 9
4. Stadium ... 11
5. Patofisiologi ... 12
6. ResponTubuhTerhadap Perubahan Fisiologis ... 15
7. Dampak masalah... 17
8. Penatalaksanaan ... 17
B. Konsep Asuhan Keperawatan ... 19
1. Pengkajian Keperawatan ... 19
2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan ... 25
3. Perencanaan Keperawatan ... 27
BAB III METODE PENELITIAN ... 31
A. Jenis dan Desain Penelitian ... 31
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 31
C. Populasi dan Sampel ... 31
D. Metode pengumpulan data ... 32
E. Instrumen Penelitia ... 33
F. Teknik pengumpulan data ... 33
G. Jenis-jenis data ... 34
H. Rencana Aanalisis ... 34
BAB IV DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN KASUS ... 35
A. Deskripsi Kasus ... 35
xi
Poltekkes Kemenkes Padang
4. Implementasi Keperawatan ... 47 5. Evaluasi Keperawatan ... ``49 B. Pembahasan Kasus ... 53 1. Pengkajian Keperawatan ... 53 2. Diagnosa Keperawatan... 61 3. Intervensi Keperawatan ... 65 4. Implementasi Keperawatan ... 70 5. Evaluasi Keperawatan ... 73
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 79
A. Kesimpulan ... 79
B. Saran ... 81
DAFTAR PUSTAKA ... 82 LAMPIRAN-LAMPIRAN
xii
Poltekkes Kemenkes Padang DAFTAR GAMBAR
xiii
Poltekkes Kemenkes Padang
Tabel 2.1. Tanda dan gejala Chronic Kidney Desease... 10
Tabel 2.2. Rencana Keperawatan ... 27
Tabel 4.1. Pengkajian deskripsi kasus ... 36
Tabel 4.2. Masalah keperawatan deskripsi kasus ... 43
Tabel 4.3. Intervensi keperawatan deskripsi kasus ... 45
Tabel 4.4. Implementasi keperawatan deskripsi kasus ... 47
xiv
Poltekkes Kemenkes Padang DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Jadwal Kegiatan Karya Tulis Ilmiah
Lampiran Lembar Konsultasi Proposal PenelitianPembimbing 1
Lampiran Lembar Konsultasi Proposal PenelitianPembimbing 2
Lampiran Lembar Konsultasi KTI Pembimbing 1
Lampiran Lembar Konsultasi KTI Pembimbing 2
Lampiran Format PengkajianPenelitian Partisipan 1
Lampiran Format PengkajianPenelitian Partisipan 2
Lampiran Persetujuan Menjadi Responden (Infonmed Consent) Partisipan 1
Lampiran Persetujuan Menjadi Responden (Infonmed Consent) Partisipan 2
Lampiran Surat Izin Penelitian dari Institusi Poltekkes Kemenkes Padang
Lampiran Surat Izin Penelitian dari Kepala RS TK. III Dr.Reksodiwiryo
Padang
Lampiran Surat Keterangan Selesai Penelitian
xv
Poltekkes Kemenkes Padang
Nama : Ade Ardila
NIM : 143110200
Tempat/ Tanggal Lahir : Pagadih Hilia, 11 Juli 1995
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum Kawin
Nama Orang Tua
Ayah : Aswarman
Ibu : Nurlaini
Alamat : Jorong Pagadih Hilia, Kenagarian Pagadih, Kec.
Palupuh, Kab. Agam
Riwayat Pendidikan
No Pendidikan Tahun Ajaran
1 SDN 12 Pagadih Hilia 2002-2008
2 SMP N 3 Palupuh 2008-2011
3 SMA N 1 Kec. Suliki 2011-2014
4 Prodi Keperawatan Padang, Jurusan
Keperawatan, Poltekkes Kemenkes RI Padang
1
Poltekkes Kemenkes Padang BAB 1
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pembangunan serta perkembangan suatu negara memberikan dampak yang nyata pada masyarakat, termasuk pada masyarakat Indonesia. Dampak tersebut mengubah pola struktur masyarakat dari agraris menjadi industri, dari gaya hidup desa ke gaya hidup perkotaan. Pola makan pun berubah dari alami menjadi cepat saji. Akibat dari perubahan pola hidup tersebut adalah terjadinya pergeseran penyakit dari kecenderungan penyakit infeksi ke degeneratif, terutama yang berkaitan dengan organ vital salah satunya yaitu ginjal (Faisallado & Cecep, 2013).
Ginjal merupakan salah satu organ penting dalam mempertahankan keseimbangan volume dan komposisi cairan tubuh dalam asupan batas normal, dengan fungsi utama untuk menyaring (filtrasi) dan mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme (racun) dari dalam tubuh melalui urine, mengatur volume dan komposisi kimia dalam darah, keseimbangan osmotik, mengatur keasaman dan basa darah, sistem pengaturan hormon. Apabila ginjal tidak mampu lagi mengeluarkan sisa metabolisme dan menjalankan fungsi regulasinya, maka terjadilah yang namanya gagal ginjal. Gagal ginjal adalah suatu penyakit bersifat progresif dan irreversibel. Jika ginjal telah mengalami kerusakan maka akan sulit untuk mempertahankan kondisi ginjal yang baik. Salah satu penyakit akibat kegagalan ginjal dalam melakukan fungsinya adalah Chronic Kidney Desease (CKD) (Syaifuddin, 2011).
Penyakit CKD ini merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia dan sekarang dikenal sebagai kondisi yang umum. Kebanyakan gagal ginjal kronis gejalanya muncul secara bertahap dan tidak menimbulkan gejala yang terlihat ataupun yang jelas sehingga penyakit CKD ini di ketahui setelah menunjukkan tanda dan gejala yang parah dan sudah berada pada stadium akhir yang dapat di deteksi melalui tes urine dan darah (Brunner & Suddart, 2016).
Chronic Kidney Desease pada umumnya di dapat sebabkan oleh minimnya pengetahuan, pola kebiasaan hidup dan penyakit yang tidak terkontrol, misalnya hipertensi, diabetes melitus, penyalahgunaan analgetik dan komsumsi obat-obatan yang terlalu berlebihan sehingga akan memberikan dampak yang dapat memperberat sistem kerja ginjal. Penyakit ini juga dapat disebabkan oleh penyakit dari ginjal itu sendiri seperti glomerulofritis, infeksi kuman, batu ginjal, kista dan adanya trauma pada ginjal. Oleh sebab itu
Poltekkes Kemenkes Padang penyakit CKD ini dapat menyerang siapa saja dan kelompok umur yang beragam (Brunner & Suddart, 2016).
Menurut World Health Organization (WHO), secara global lebih dari 500 juta orang mengalami CKD setiap tahunnya (Ratnawati, 2014). Prevalensi CKD di dunia menurut ESRD Patient (End-Stage Renal Disease) pada tahun 2011 sebanyak 2.786.000 orang, tahun 2012 sebanyak 3.018.860 orang dan tahun 2013 sebanyak 3.200.000 orang. Dari data tersebut bahwa adanya peningkatan angka kesakitan pasien CKD setiap tahunnya (Fresenius Medical Care AG & Ca, 2013).
Indonesia termasuk tingkat penderita CKD yang cukup tinggi. Menurut Persatuan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), memperkirakan terdapat 70.000 penderita gagal ginjal di Indonesia sampai tahun 2011, angka ini terus meningkat sekitar 10% setiap tahunnya. Berdasarkan catatan Riset Kesehatan
Dasar tahun 2013, di Indonesia angka kejadian CKD pada kelompok umur ≥
75 tahun dengan persentase 0,6% lebih tinggi dari kelompok umur lainnya. Angka kejadian gagal ginjal ini pada laki-laki (0,3%) lebih tinggi dari perempuan (0,2%), kejadian ini pun lebih tinggi pada masyarakat pedesaan yaitu (0,3%), pada orang yang tidak bersekolah sebanyak (0,4%) dan bagi mereka yang pekerjaan wiraswasta, petani, nelayan, buruh (0,3%) yang menderita CKD. Prevalensi penyakit CKD di Propinsi Sumatra Barat sendiri pun mencapai 0,2% penduduk dari pasien CKD di Indonesia pada tahun 2013. Prevalensi tertinggi didaerah Tanah Datar dan Kota Solok masing-masing 0,4%, diikuti Pesisir Selatan, Sijunjung dan Kota Padang masing-masing 0,3%
Penelitian yang dilakukan oleh Syaiful H. Qalbina dkk melalui penelitian Cross Sectional Study pada tahun 2013 yang dilakukan di ruangan Hemodialisa RSUP M.Djamil Padang, didapatkan hasil sebanyak 59 orang penderita yang mengalami CKD, dari hasil penelitian umur penderita berkisar 22-75 tahun di antara rentang umur tersebut yang terbanyak umur 50-59 tahun yaitu sebesar 50,86% yang mengalami CKD.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tharob Imelda tentang Asuhan Keperawatan Pasien CKD di Ruangan Perawatan Umum Lantai 4 di TKESAD Gatot Soebroto Jakarta pada tahun 2015, di dapatkan hasil bahwa mayoritas dari pasien CKD adalah Stage V yang sudah menjalani hemodialisa. Masalah keperawatan pada pasien CKD yang ditemui adalah kelebihan volume cairan, perubahan pola napas, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, ketidakefektifan perfusi jaringan perifer, intoleransi aktivitas, kerusakan integritas kulit. Pasien CKD yang menjalani terapi hemodialisis umumnya mengeluh haus dan mulut kering. Keadaan
3
Poltekkes Kemenkes Padang mulut kering dan rasa haus karena sekresi saliva yang berkurang diperkirakan terjadi pada 70-90% pasien hemodialisis.
Hemodialisis merupakan terapi penganti kerja ginjal yang harus di jalani oleh penderita CKD, di antara pasien dengan ESRD di Amerika Serikat dan Eropa 46%-98% menjalankan terapi hemodialisis, meskipun hemodialisis secara efektif dapat memberikan konstribusi yang efektif untuk memperpanjang hidup pasien, namun angka morbiditas dan mortalitasnya masih cukup tinggi (Denhaerynckb dkk, 2007). Pembatasan asupan cairan pada pasien CKD dengan hemodialisis merupakan hal yang sangat penting, karena asupan cairan yang berlebihan dapat menimbulkan dampak kenaikan berat badan yang cepat (edema), ronkhi basah dalam paru-paru dan sesak napas yang diakibatkan oleh volume cairan yang berlebihan dan gejala uremik (Brunner & Suddart, 2016). Asupan yang tidak di kontrol dapat menyebabkan beban sirkulasi menjadi meningkat, sedangkan asupan yang terlalu rendah mengakibatkan dehidrasi, hipotensi, dan gangguan fungsi ginjal (Suharyanto, 2009).
Berdasarkan data yang didapat dari Rekam Medik di RS TK.III Dr. Reksodiwiryo Padang, kejadian gagal ginjal dan yang menjalani hemodialisis dari tahun 2014 sampai tahun 2016 terus meningkat, yaitu tercatatnya sekitar 316 orang yang menderita gagal ginjal pada tahun 2014 kemudian meningkat menjadi 376 orang yang menderita gagal ginjal tahun 2015 dan peningkatan penderita pun meningkat dengan tingginya yaitu menjadi 450 orang penderita pada tahun 2016. Berdasarkan data tersebut, artinya setiap tahunnya terjadi peningkatan penderita yang akan mengakibatnya banyaknya angka kesakitan. Kejadian CKD ini jika tidak di tanggulangi dengan cepat maka akan memberikan dampak yang serius dan dapat juga menyebabkan kematian bagi penderitanya. Salah satu dampak CKD pada sistem kardiovaskuler seperti hipertensi yang terjadi karena retensi cairan dan natrium dari aktifasi sistem renin-angiotensin-aldosteron, edema, hiperkalemia, perikarditis, efusi, pericardial, anemia, uremia, asidosis dan terjadinya malnutrisi. Kematian dapat disebabkan jika tidak mendapatkan pengobatan dalam bentuk dialisis atau transplantasi ginjal (Brunner&Suddart, 2016).
Perawat sebagai tenaga kesehatan yang profesional memiliki peran yang penting dalam memberikan asuhan keperawatan dan dukungan kepada pasien dan keluarga pasien CKD. Peran perawat dimulai dari tahap memberikan pendidikan kesehatan sampai dengan melakukan rehabilitas pada pasien CKD. Perawat harus memperhatikan keadaan pasien secara menyeluruh, yang terpenting adalah kebutuhan cairan bagi pasien, kebutuhan asupan nutrisi dan
Poltekkes Kemenkes Padang diet, kebutuhan oksigen, kadar hemoglobin, albumin, ureum dan kreatinin urine, kebutuhan dasar seperti mandi, oral hygiene, eliminasi fekal serta eliminasi urine. Pemenuhan ini bertujuan untuk membuat pasien nyaman dan untuk pencegahan komplikasi yang lanjut (Hidayat, 2012).
Selain itu kolaborasi yang dilakukan perawatan bersama dengan tenaga kesehatan yang lain sangat di butuhkan dalam memberikan perawatan dan pengobatan yang optimal bagi pasien CKD. Memberikan berbagai solusi untuk masalah yang ada, memotivasi klien dalam menjalani pengobatan, membantu klien meningkatkan kontrol dan menggali sumber pendidikan dan pendukung yang ada untuk memberikan bantuan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan meminimalkan angka kesakitan bagi pasien dan keluarga (Muttaqin, 2011).
Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 15 Januari 2017 melalui wawancara dengan delapan orang pasien yang sedang di rawat di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang, lima orang berjenis kelamin laki-laki dan tiga orang berjenis kelamin perempuan. Berdasarkan hasil wawancara dengan 9 pasien tersebut di dapat semua orang pasien mengatakan kaki dan tangan membengkak, pengeluaran urine sedikit, penurunan dalam nafsu makan, badan terasa lemah dan 6 di antaranya mengeluhkan nyeri di daerah panggul. Semua pasien tersebut sudah menjalani Hemodialisa dua kali dalam seminggu, semua pasien mempunyai riwayat penyakit yang hampir sama, umumnya yaitu dengan hipertensi, diabetes melitus.
Peneliti juga melakukan wawancara kepada salah satu perawat di Ruangan Rawat Inap Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang, perawat mengatakan telah melakukan pengkajian dan menegakkan diagnosa keperawatan yaitu umumnya diagnosa utama kelebihan volume cairan pada pasien CKD. Tindakan untuk mengatasi keluhan pasien juga telah dilakukan, seperti memonitor cairan, melakukan pemeriksaan labor lengkap, melakukan Hemodialisa, akan tetapi dalam pelaksanaannya belum maksimal baik dari pasien maupun dari petugas, pasien belum sepenuhnya patuh terhadap diet yang dianjurkan seperti mengkomsumsi makanan yang rendah garam, dan dari petugas sendiri memonitoring intake dan output cairan yang seharusnya benar-benar di ukur misalnya mengunakan spuit atau gelas ukur agar hasilnya lebih akurat. Evaluasi yang dilakukan perawat juga belum maksimal karena perawat hanya berpatokan pada evaluasi sebelumnya.
5
Poltekkes Kemenkes Padang Berdasarkan diuraikan diatas, peneliti telah melakukan Asuhan Keperawatan pada Pasien CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:”Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pada Tn.D dan Tn.A dengan masalah CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr.
Reksodiwiryo Padang Tahun 2017 ?”.
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Mampu mendeskripsikan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan masalah CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017
2. Tujuan khusus
a. Mampu mendeskripsikan hasil pengkajian pada Pasien dengan masalah CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017.
b. Mampu mendeskripsikan diagnosa keperawatan pada Pasien dengan masalah CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017.
c. Mampu mendeskripsikan intervensi keperawatan pada Pasien dengan masalah CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017.
d. Mampu mendeskripsikan tindakan keperawatan pada Pasien dengan masalah CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017.
e. Mampu mendeskripsikan evaluasi pada Pasien dengan masalah CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017.
Poltekkes Kemenkes Padang D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
Laporan kasus ini dapat mengaplikasikan dan menambah wawasan ilmu pengetahuan serta kemampuan dalam menerapkan CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017.
2. Bagi Lahan
Laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dalam menerapakan asuhan keperawatan pada pasien CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. IIIDr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017.
3. Institusi Pendidikan
Laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran untuk pengembangan ilmu dalam penerapan asuhan keperawatan pada pasien CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017.
4. Bagi Penelitian Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan bagi penelitian berikutnya untuk menambah pengetahuan dan data dasar untuk penelitian selanjutnya.
7
Poltekkes Kemenkes Padang BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Chronic Kidney Desease (CKD)
1. Pengertian
Chronic Kidney Desease (CKD) merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dan irreversible (lambat) artinya jika ginjal mengalami satu kerusakan maka akan ada kemungkinan terjadi kerusakan yang lebih banyak dan tidak dapat kembali normal (Price & Wilson, 2006). Chronic Kidney Desease merupakan kerusakan ginjal yang telah berlanjut sehingga sangat memerlukan terapi penganti ginjal secara terus-menerus dan merupakan kondisi penyakit ginjal yang telah masuk pada stadium akhir. Terganggunya fungsi ginjal dapat menyebabkan kegagalan kemampuan tubuh dalam mempetahankan metabolisme dan keseimbangan cairan maupun elektrolit, sehingga timbul gejala anemia dan uremia yaitu adanya retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah (Brunner & Suddart, 2016).
Chronic Kidney Desease (CKD) terjadi setelah berbagai macam penyakit yang merusak massa nefron ginjal. Sebagian besar penyakit ini merupakan penyakit parenkim ginjal difus dan bilateral, meskipun lesi obstruktif pada traktus urinarius ditandai oleh uremia yang sudah lama juga dapat menyebabkan CKD. Keadaan ini merupakan konsekuensi akhir dari semua penyakit CKD (Price & Wilson, 2006).
2. Penyebab
Kondisi klinis yang memungkinkan dapat terjadinya CKD begitu banyak. Pada dasarnya penyebab CKD biasanya disebabkan oleh gagal ginjal itu sendiri dan penyakit umum di luar ginjal, yaitu adanya gangguan penurunan filtrasi glomerulus atau disebut juga penurunan glomelus filtration rate (GFR) (Price & Wilson, 2006). Adapun penyebabnya tersebut yaitu :
Poltekkes Kemenkes Padang a. Penyakit dari ginjal sendiri
1) Penurunan fiiltrasi glomerulus (glomerulonefritis)
2) Infeksi kuman seperti ureteritis dan pyelonefritis yang disebabkan oleh beberapa jenis bakteri terutam E-Coli yang berasal dari kontaminasi tinja pada fraktus urinarius. Bakteri ini mencapai ginjal melalui aliran darah atau yang lebih sering seara asenden dari fraktur urinarius melalui ureter ginjal sehinga dapat menimbulkan kerusakan irreversibel ginjal yang disebut pyelonefritis.
3) Obstruksi traktus urinarius misalnya batu ginjal (nefrolitiasis) dan hipertropi prostat
4) Kista di ginjal polycitis kidney 5) Trauma langsung pada ginjal 6) Keganasan pada ginjal b. Penyakit umum diluar ginjal
1) Gangguan metabolik seperti diabetes melitus yang menyebabkan mobilisasi lemak sehingga terjadi penebalan membran kapiler dan terjadi disfungsi endotel pada ginjal sehingga terjadi nefropati yang disebabkan oleh endapan zat-zat proteinemia abnormal pada dinding pembuluh darah yang merusak membran glomerulus.
2) Penyakit sistemik seperti hipertensi
3) Infeksi seperti tuberculosis paru, sifilis, malaria, hepatitis 4) Obat-obatan
5) Kehilangan banyak cairan (dehidrasi)
3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang dirasakan pada pasien yang mengalami CKD sistem tubuh di pengaruhi oleh kondisi uremia. Keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagian tingkat dan kerusakan ginjal, kondisi lain yang mendasari, dan usia pasien dan di tambah lagi dengan penyakit umum yang lain menyertai. Ada pun tanda dan gejala CKD adalah sebagai berikut :
9
Poltekkes Kemenkes Padang Tabel 2.1
Tanda dan Gejala CKD
No Sistem Tubuh Tanda dan Gejala
1 Kardiovaskuler a. Hipertensi
b. Gangguan irama jantung c. Edema
d. Pitting edema e. Edema periorbital f. Friction rub perikardial g. Pembesaran vena leher
2 Gastrointestinal a. Nafas berbau ammonia karena di
sebabkan ureum yang berlebihan
b. Anoreksia, mual dan muntah yang disebabkan oleh gangguan metabolisme protein dalam usus dan terbentuk zat-zat toksik
c. Konstipasi dan diare d. Perdarahan dari saluran GI
e. Ulserasi dan perdarahan pada mulut
3 Neurologi a. Kelemahan dan keletihan
b. Disorientasi c. Kejang
d. Kelemahan pada tungkai e. Rasa panas pada telapak kaki f. Perubahan perilaku
4 Musculoskeletal a. Kram
b. Kekuatan otot hilang c. Fraktur
d. Foot drop
5 Reproduksi dan ekdokrin a. Gangguan seksual seperti penurunan
libido
b. Gangguan menstruasi (amenore)
6 Pulmuner a. Krekels
b. Sputum kental dan liat c. Napas dangkal
d. Pernapasan kussmaul
7 Integument a. Warna kulit abu-abu mengkilat
b. Kulit kering dan besisik c. Ekimosis
d. Kuku tipis dan rapuh e. Rambut tipis dan kasar
Poltekkes Kemenkes Padang 4. Stadium
Menurut Price & Wilson 2006, perjalanan klinis perjalanan klinis CKD dapat dibagi dalam tiga stadium yaitu sebagai berikut ;
a. Stadium pertama
Disebut penurunan cadangan ginjal. Selama stadium ini kreatinin serum dan kadar BUN normal dan pasien asimtomatik. Gangguan fungsi ginjal hanya dapat terdeteksi dengan memberi beban kerja yang berat pada ginjal tersebut, seperti tes pemekatan urine yang lama atau dengan mengadakan tes GFR yang teliti.
b. Stadium kedua
Stadium kedua dari gagal ginjal disebut insufisiensi ginjal, yaitu bila lebih dari 75 % jaringan yang berfungsi telah rusak (GFR besarnya 25 % dari normal). Di tandai dengan ;
1) Peningkatan kosentrasi BUN di atas batas normal (bergantung pada kadar protein dalam makanan)
2) Peningkatan kadar kreatini serum melebihi kadar normal
3) Azotemia biasanya ringan (kecuali bila pasien mengalami stress akibat infeksi, gagal jantung atau hidrasi)
4) Nokturia (berkemih dimalam hari) pengeluaran urine waktu malam hari yang menetap sampai sebanyak 700 ml atau pasien terbangun untuk berkemih beberapa kali waktu malam hari. 5) Poliuria berarti peningkatan volume urine yang terus menerus.
Pengeluaran urine normal sektar 1.500 ml/ hari dan berubah-rubah sesuai dengan jumlah cairan yang diminum. Poliuria akibat insufisiensi ginjal biasanya lebih besar pada penyakit yang terutama menyerang tubulus, meskipun biasanya poliuria bersifat sedang dan jarang lebih dari 3 liter/ hari.
c. Stadium ketiga
Penyakit ginjal stadium akhir (ESRD) atau uremia. ESRD terjadi apabila sekitar 90% dari massa nefron telah hancur, atau hanya sekitar 200.000 nefron yang masih utuh. Nilai GFR hanya 10 % dari keadaan normal dan bersihan kreatinin mungkin sebesar 5-10 ml permenit atau
11
Poltekkes Kemenkes Padang kurang. Pada keadaan ini, kreatinin serum dan kadar BUN akan meningkat dengan sangat menyolok sebagai respon terhadap GFR yang mengalami sedikit penurunan. Pada ESRD, pasien mulai merasakan gejala-gejala yang cukup parah karena ginjal sudah tidak sanggup lagi mempertahankan homeostatis cairan didalam tubuh. Urine menjadi isoosmotis dengan plasma pada berat jenis yang tetap pada 1,010. Pasien biasanya menjadi oliguri (pengeluaran urine kurang dari 500 mL/hari) karena kegagalan glomerulus meskipun proses penyakit mula-mula menyerang tubulus ginjal kompleks perubahan biokimia dan gejala-gejalan yang dinamakan sindrome uremik mempengaruhi setiap sistem dalam tubuh. Pada ESRD pasien pasti akan meninggal kecuali bila mendapatkan pengobatan dalam bentuk dialisis atau transplantasi ginjal (Price & Wilson, 2006).
5. Patofiologis
Jika fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein yang biasanya dieksresikan bersama urin tertimbun didalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah, maka gejala akan semakin berat. Gejala uremia akan membaik setelah dilakukan dialisis (Price & Wilson, 2006).
Masalah yang muncul pada pasien gagal ginjal sebagai akibat dari penurunan fungsi dari glomerulus sangat banyak, yang menyebabkan terjadinya penurunan substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal. Penurunan laju filtrasi glomerulus dapat diketahui dengan mendapatkan urine 24 jam untuk pemeriksaan kreatinin urine. Jika filtrasi dari glomerulus menurun, maka akan terjadi peningkatan serum kreatinin, biasanya disertai pula dengan peningkatan nitrogen urea darah (Price & Wilson, 2006).
Kejadian ini menyebabkan ginjal tidak mampu untuk mengencerkan urine secara normal pada penderita penyakit ginjal tahap akhir, tidak terjadi respon ginjal yang sesuai terhadap perubahan masukan cairan dan elektrolit
Poltekkes Kemenkes Padang sehari-hari. Dengan semakin berkembangnya penyakit ginjal, terjadi pula asidosis metabolik seiring dengan ketidakmampuan ginjal dalam mengeksresikan muatan asam yang berlebihan. Penurunan sekresi asam terutama akibat ketidakmampuan tubulus ginjal untuk menyekresikan amonia dan mengabsorbsikan natrium bikarbonat dan terjadi penurunan sekresi fosfat dan asam organik lainnya (Price & Wilson, 2006).
Apabila produksi eritropoitin yang tidak adekuat dapat terjadi akibat dari pemendekan usia sel darah merah, defisiensi nutrisi dan kecenderungan untuk mengalami perdarahn akibat status uremik pasien, terutama dari saluran gastrointestinal. Eritropoetin merupakan suatu substansi normal yang diproduksi oleh ginjal, menstimulasi sum-sum tulang untuk memproduksi sel darah merah. Pada gagal ginjal, produksi eritropoetin menurun dan anemia berat sering terjadi, disertai keletihan, angina dan sesak napas (Price & Wilson, 2006).
Gejala kelainan utama yang terjadi pada pasien dengan gagal ginjal kronis lainnya adalah gangguan metabolisme kalsium dan fosfat. Kadar serum kalsium dan fosfat yang dimiliki oleh tubuh pada umumnya memiliki hubungan saling timbal balik, jika salah satunya mengalami peningkatan maka yang lain akan menurun jumlahnya (Price & Wilson, 2006).
Laju penurunan fungsi ginjal dan perkembangan gagal ginjal kronis berkaitan dengan gangguan yang mendasar, eksresi protein dalam urine dan adanya hipertensi. Pasien yang mengeksresikan sejumlah protein secara signifikan atau mengalami peningkatan tekanan darah cenderung akan cepat memburuk dari pada mereka yang tidak mengalami kondisi ini (Brunner &
13
Poltekkes Kemenkes Padang
6. Bagan WOC Chronic Kidney Desease (Price & Wilson, 2006 dan Brunner & Suddarth 2016)
Gangguan Metabolik (DM) Chronic Kidney Desease Ulfiltrasi, difusi, osmosis
Infeksi (E-Coli)
Gangguan pembuluh darah (Hipertensi) Penurunan laju filtrasi glomerulus Proses hemodialisa Pengeluaran cairan berlebih
Gangguan konginetal dan herediter kontinyu
Obstruksi urinarius Batu ginjal keseimbangan osmotis
Penyalahgunaan analgetik Retensi cairan elektrolit
Gangguan imunologis Proload siklus jantung Penurunan kardiak MK: Gg pola tidur
Volume interstisial meningkat output(COP)
Penurunan aliran darah Sekresi zat terlarut meningkat Sekresi eritropoitin
ke ginjal Kerja jantung MK: Penurunan
Terdapat sisa ureum Beban sirkulasi meningkat curah jantung Hemoglobin dalam
dan kreatinin berlebihan darah menurun
Hipertropi ventrikel Suplai O2 ke jaringan
Kristalisasi urea Edema dalam memompa darah menurun Anemia
Sistem integumen
Akumulasi toksin MK: Kelebihan Terjadi bendungan Metabolisme berubah HbO2 menurun Akumulasi ureum volume cairan pada atrium kiri menjadi anaerob
dalam kulit Gastrointestinal Respon Muskuloskeletal meningkat O2 ke sel menurun
Asam laktat meningkat
Gatal-gatal Ureum pada saluran Ureum pada jaringan otot Penekanan pada vena O2 ke jaringan
Kulit kering cerna pulmonalis Timbul masalah nyeri menurun
Kulit seperti bersisik Miopati
Rambut kasar dan Peradangan mukosa Kram otot dan Kapiler paru meningkat MK: Nyeri akut MK: Ketidakefek
rontok saluran cerna kelemahan fisik tifan perfusi
Perubahan pada kuku Edema paru MK: Gangguan pola jaringan
Napas bau amoniak, MK: Intoleransi aktivitas tidur ferifer
MK : Kerusakan Stomatik, ulkus MK:Gangguan pertukaran Lemah dan lemah
integritas kulit lambung gas
Mual, muntah MK: Ketidakseimbangan nutrisi MK: Intoleransi dan anoreksia kurang dari kebutuhan tubuh aktivitas
Poltekkes Kemenkes Padang 7. Respon Tubuh Terhadap Perubahan Fisiologis
a. Kardiovaskuler
Hipertensi terjadi akibat retensi cairan dan natrium serta dan mal fungsi system renin, angiotenstion dan aldesteron, fungsi ginjal akan lebih cepat mengalami kemunduran fungsi jika terjadi hipertensi berat. Hipertensi dapat dikontrol dengan pembatasan natrium dan cairan, serta melalui ultrafiltrasi bila penderita sedang manjalani hemodialisis. Pada beberapa kasus diberikan obat antihipertensi (dengan atau tanpa diuretik) agar tekanan darah dapat terkontrol. Strategi klinis yang dapat dilakukan untuk mencegah atau memperlambat penyakit ginjal adalah untuk memperoleh tekanan arteri rata-rata 91 mmHg (125/75 mmHg) (Price & Wilson, 2006). Dapat juga terjadi pitting edema (kaki,tangan dan sacrum), edema periorbital, gesekan perkardium, pembesaran vena-vena dileher, sesak nafas akibat perikarditis, tamponade pericardium, hiperkalemia, hiperlipidemia (Brunner & Suddart, 2016).
b. Hematologi
Anemia merupakan komplikasi yang ditemukan pada pasien penyakit ginjal lanjut dan hematokrit 18 %-20% lazim terjadi. Penyebab anemia adalah multifaktorial, termasuk penurunan produksi eritropoetin, faktor dalam sirkulasi yang menghambat eritropoetin, pemendekan waktu paruh sel darah merah, peningkatan kehilangan darah saluran cerna akibat penurunan trombosit, sehingga perjadi penurunan hemoglobin dalam darah, defisiensi asam folat dan besi, kehilangan darah dari hemodialisis atau samel uji laboratorium (Price & Wilson, 2006).
c. Integumen
Warna kulit keabu-abuan, kulit kering dan gampang terkelupas, pruritus berat,ekimosis, purpura, kuku rapuh, rambut kasar dan tipis (Prabowo & Pranata, 2014).
15
Poltekkes Kemenkes Padang d. Paru-paru
Ronkhi basah (krekels), sputum yang kental dan lengket, penurunan reflek batuk, nyeri pleura, sesak nafas, takipnea, pernapasan kusmaul, pneumonitis uremik (Prabowo & Pranata, 2014).
e. Saluran cerna
Bau amonia ketika bernafas, pengecapan rasa logam, ulserasi dan perdarahan mulut, anoreksia, mual dan muntah, konstipasi atau diare, perdarahan pada saluran cerna (Prabowo & Pranata, 2014).
f. Endokrin
Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan menstruasi dan aminore. Gangguan metabolic lemak dan vitamin D (Prabowo & Pranata, 2014).
g. Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa biasanya terensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia (Prabowo & Pranata, 2014).
h. Neurologik
Kelemahan dan keletihan,konfusi, ketidakmampuan berkonsentrasi, disorientasi,tremor, kejang, asteriksis, tungkai tidak nyaman, telapak kaki serasa terbakar, perubahan prilaku (Prabowo & Pranata, 2014).
i. Muskuloskeletal
Kram otot, kehilangan kekuatan otot, osteodistrofi ginjal, nyeri tulang, kulai kaki (Prabowo & Pranata, 2014).
j. Reproduksi
Amenorea, atrofi testis, ketidaksuburan, penurunan libido (Prabowo & Pranata, 2014).
Poltekkes Kemenkes Padang 8. Dampak masalah
Menurut Brunner & Suddart 2016, pada pasien CKD dapat ditemukan dampak masalah seperti ;
a. Hiperkalemia akibat penurunan sekresi asidosis metabolik, katabolisme dan masukan diit berlebih.
b. Perikarditis, efusi, pericardial, dan tamponad jantung akibat retensi produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.
c. Akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem renin angiotensin dan aldesteron.
d. Anemia akibat penurunan eritropoitin.
e. Penyakit tulang serta klasifikasi metabolik akibat retensi fosfat, kadar kalsium serum yang rendah, metabolisme vitamin D yang abnormal dan peningkatan kadar aluminium akibat peningkatan nitrogen dan ion anorganik.
f. Uremia akibat peningkatan kerja jantung yang berlebihan g. Malnutrisi karena anoreksia mual, muntah.
9. Penatalaksanaan
Karena sudah rusaknya fungsi dari ginjal perlu dilakukan penatalaksanaan yang optimal untuk mempertahankan keseimbangan secara maksimal dan meningkapkan angka harapan hidup pasien. Tujuan dari penatalaksanaan adalah untuk menjaga keseimbangan cairan elektrlit dan pencegahan komplikasi yang semakin memburuk (Prabowo & Pranata, 2014). Hal hal yang harus diperhatikan dalam penatalaksanaan pasien dengan CKD, yaitu ; a. Perawatan kulit yang baik
Tujuan dari perawatan kulit adalah untuk mengurangi kulut yang kering dan seperti sisik. Dianjurkan untuk mengunakan sabun yang mengandung lemak dan lation yang tanpa alkohol untuk mengurangi rasa gatal dan mengurangi kulit yang kering (Prabowo & Pranata, 2014). b. Menjaga kebersihan oral
Lakukan perawatan oral hygiene dengan baik dan teratur, kurangi mengkomsumsi gula (bahan makanan yang manis-manis) untuk megurangi rasa tidak nyaman dimulut (Prabowo & Pranata, 2014).
17
Poltekkes Kemenkes Padang c. Diet
Berikan intake diet yang inggi kalori dan rendah kalium, natrium (Prabowo & Pranata, 2014).
d. Pantau adanya hiperkalemia
Hiperkalemia ditandai dengan adanya kejang, kram pada abdomen, lengan dan terjadi diare, maka pengendalian kalium darah sangat penting karena hiperkalemia dapat menimbulkan kematian mendadak. Bila hiperkalemia sudah terjadi yang harus dilakukan adalah mengurangi intake kalium, pemberian Na Bicarbonat dan pemberian infus glokosa (Muttaqin & Sari, 2011).
e. Koreksi Anemia.
Yang harus kita lakukan adalah meninggikan hemoglobin dalam darah. f. Koreksi Asidosis
Hindari pemberian asam melalui obat-obatan dan makanan (Prabowo & Pranata, 2014).
g. Pengendalian hipertensi
Mengurangi intake garam dalam mengendalikan hipertensi harus hati-hati karena tidak semua gagal ginjal yang di sertai dengan retensi natrium (Prabowo & Pranata, 2014).
h. Transplantasi ginjal
Transplantasi ginjal atau sering juga disebut dengan pencangkokan ginjal artinya seluruh fungsi ginjal di gantikan oleh ginjal yang baru (Prabowo & Pranata, 2014).
i. Dialisis
Untuk mencegah komplikasi ginjal yang serius seperti hirkalsemia, perikarditis dan kejang perlu dilakukan dialisis yang di kenal dengan cuci darah. Dialisis adalah suatu metode terapi yang bertujuan untuk mengantikan fungsi dan kerja ginjal yaitu membuang zat-zat dan sisa-sisa metabolisme kelebihan cairan dari tubuh. Terapi ini diberikan jika fungsi ginjal sudah sangat menurun (lebih dari 90%) sehingga tidak lagi mampu menjaga kelangsungan hidup individu (Prabowo & Pranata, 2014). Tindakan dialisis di bagi menjadi dua bagian yaitu ;
Poltekkes Kemenkes Padang 1) Hemodislisi ( cuci darah dalam dializer)
Hemodialisis (HD) yaitu cuci darah dengan mengunakan mesin dializer yang berfungsi sebagai ginjal buatan.
2) Dialisis peritoneal (cuci darah melalui perut)
Dialisis peritoneal dilakukan untuk metode cuci darah dengan bantuan membran peritoneum ( selaput rongga perut) artinya darah tidak perlu dikeluarkan dari tubuh untuk di keluarkan dari tubuh untk dibersihkan (Prabowo & Pranata, 2014).
B. Konsep Asuhan Keperawatan CKD 1. Pengkajian
a. Identitas
1) Identitas pasien
Identitas pasien ini terdiri dari nama, nomor Rekam Medik, nama ibu kandung, umur (biasanya mayoritas pada usia 30-60 tahun), pekerjaan, status perkawinan, status pendidikan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, cara masuk dan diagnosa medis pasien.
2) Identitas penanggung jawab pasien
Identitas penanggungjawab yaitu berisi nama, umur,hubungan dengan pasien pekerjaan dan alamat penanggungjawab
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat keluhan utama
Pada pasien dengan CKD biasanya didapatkan keluhan utama yang berbeda-beda, seperti urine keluar sedikit sampai tidak ada buang air kecil, kesulitan mengeluarkan urine, gelisah sampai penurunan kesadaran, anoreksia, mual munta, mulut terasa kering, rasa lelah yang berlebihan, napas bau ureum dan gatal pada kulit (Muttaqin & Sari, 2011).
2) Riwayat keluhan sekarang
Pada riwayat kesehatan sekarang biasanya pasien mengalami penurunan frekuensi urine, penurunan kesadaran, perubahan pola nafas, kelemahan fisik, adanya perubahan warna kulit, napas
19
Poltekkes Kemenkes Padang berbau amoniak, rasa sakit kepala, nyeri panggul, perasaan tidak berdaya dan perubahan pemenuhan kebutuhan nutrisi (Muttaqin & Sari, 2011).
3) Riwayat kesehatan dahulu
Pada riwayat kesehatan dahulu biasanya pasien berkemungkinan mempunyai riwayat penyakit ginjal akut, adanya riwayat penyakit batu saluran kemih, infeksi saluran perkemihan yang berulang, penyakit diabetes melitus dan penyakit hipertensi sebelumnya, adanya riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu yang tidak dengan resep (Muttaqin & Sari, 2011).
4) Riwayat kesehatan keluarga
Pada riwayat kesehatan keluarga ditemukan adanya anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit yang sama dengan pasien, seperti menderita gagal ginjal kronis, hipertensi, penyakit diabetes melitus yang menjadi faktor pencetus terjadinya Chronic Kidney Desease pada pasien (Muttaqin& Sari, 2011).
c. Pola nutrisi atau metabolisme 1) Pola makan
Biasanya terjadi peningkatan berat badan yang cepat (edema), anoreksia, nyeri ulu hati, mual dan muntah (Brunner & Suddart, 2016).
2) Pola minum
Biasanya intake minum pasien kurang dari kebutuhan tubuh ini sebagai akibat dari rasa metabolik yang tidak sedap pada mulut( pernapasan amoniak) (Muttaqin& Sari, 2011).
d. Pola eliminasi 1) Buang air besar
Biasanya pada pasien CKD di temukan ada yang konstipasi, diare dan bagian abdomen kembung (Brunner & Suddart, 2016).
Poltekkes Kemenkes Padang 2) Buang air kecil
Biasanya pada pasien CKD terjadi perubahan pola berkemihpada periode oliguri akan terjadi penurunan frekuensi urine output <400 ml/hari oliguria dan anuria, terjadi perubahan warna urine menjadi pekat, merah, coklat dan berawan (Prabowo & Pranata, 2014).Sedangkan pada peride diuresis terjadi peningkatan yang
menunjukan peningkatan jumlah urine secara bertahap
(Muttaqin& Sari, 2011).
e. Pola aktivitas dan latihan
Biasanya kemampuan perawatan diri dan kebersihan diri terganggu dan biasanya membutuhkan pertolongan atau bantuan orang lain, terjadi kelemahan, penurunan rentang gerak (Haryono Rudy, 2013 ).
f. Pola istirahat dan tidur
Biasanya pasien mengalami gangguan tidur, gelisah karena adanya nyeri panggul, sakit kepala dan kram otot atau kaki (Muttaqin& Sari, 2011).
g. Pola peran dan hubungan
Biasanya pasien tidak bisa menjalankan peran dan tugasnya sehari-hari karena kelemahan, perasaan tidak berdaya dan tidak ada kekuatan (Haryono Rudy, 2013 ).
h. Pola seksualitas atau reproduksi
Biasanya terjadi perubahan seksualitas dan disfungsi seksual karena penurunan hormon reproduksi (Prabowo & Pranata, 2014).
i. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum dan tanda-tanda vital Menurut Prabowo & Pranata, 2014 yaitu ;
a) Keadaan umum klien biasanya pada penyakit sudah parah di tandai dengan kelemahan, klien terlihat letih dan sakit berat.
21
Poltekkes Kemenkes Padang b) Keadaan tingkat kesadaran klien menurun sesuai dengan
tingkat dimana dapat dipengaruhi oleh sistem saraf pusat. c) Tanda-tanda vital biasanya RR meningkat, tekanan darah
didapati adanya hipertensi atau hipotensi sesuai dengan kondisi fluktuatif.
2) Head to toe a) Kepala
Biasanya rambat klien di temukan tipis dan kasar, serta klien sering sakit kepala (Muttaqin& Sari, 2011).
b) Wajah
Biasanya ditemukan wajah pucat (Muttaqin& Sari, 2011). c) Mata
Biasanya ditemukan kongjungtiva anemis, mata memerah, penglihatan kabur, sklera tidak ikterik dan palpebra tidak edema (Muttaqin& Sari, 2011).
d) Hidung
Biasanya ditemukan pola pernapasan cepat dan dalam sebagai bentuk kompensasi tubuh mempertahankan ventilasi (Kusmaul) dan biasanya tidak ada pembengkakan polip (Muttaqin& Sari, 2011).
e) Bibir, gigi dan mulut
Terdapat peradangan mukosa mulut, perdarahan gusi dan mulut bau amonia(Muttaqin& Sari, 2011).
f) Leher
Biasanya terdapat pembengkakan kelenjar getah bening dan tidak ada pembesaran kelenjer vena jugolaris (Muttaqin& Sari, 2011).
g) Thorak
(1) Paru biasanya pernapasan kusmaul, pola napas cepat dan pendek, terdapat tarikan dinding dada dan pernapasan meningkat, batuk produktif , edema paru (Haryono Rudy, 2013 ).
Poltekkes Kemenkes Padang (2) Jantung biasanya di temukan tekanan darah meningkat, nyeri dada, gangguan irama jantung (bradikardi/takikardi), dan terdapatnya gangguan konduksi elektrikal otot ventrikel (Muttaqin& Sari, 2011).
h) Abdomen
Biasanya ditemukan adanya nyeri ulu hati, distensi abdomen, acites dan penumpukan cairan, terdapat nyeri tekan pada bagian pinggang, bunyinya terdengar pekak karena acites (Haryono Rudy, 2013 ).
i) Ekstermitas
Biasanya didapatkan akral teraba dingin, CRT >2 detik, edema pada ekstermitas, kulit seperti bersisik dan rasa terbakar pada telapak kaki (Haryono Rudy, 2013 ).
j. Pemeriksaan penunjang 1) Pemeriksaan laboratorium
a) Urine
Menurut Prabowo & Pranata, 2014 yaitu ;
(1) Volume urine < 400 ml/ hari, oliguria dan anuria.
(2) Warna urine biasanya keruh di sebabkan oleh PUS, bakteri, lemak, partikel koloid dan fosfat dalam urine. (3) Berat jenis urine < 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukan
kerusakan ginjal).
(4) Osmolalitas < 350 mosm/kg ( menunjukan kerusakan tubular).
(5) Natrium > 40 mEq/L, karena ginjal tidak mereabsorbsi natrium
(6) Protein meningkat dalam urine
b) Darah
(1) Kadar ureum dalam darah (BUN) meningkat dari normal (2) Kreatinin meningkat sampai 10 mg/dl ( normalnya 0,5-1,5
23
Poltekkes Kemenkes Padang (3) Hitung darah lengkap : HT menurun karena anemia dan
Hb biasanya kurang dari 7,8 g/dl c) Hiponatremia
Umumnya karena kelebihan cairan.
d) Hiperkalemia biasanya terjadi pada gagal ginjal ginjal bersama dengan menurunnya diuresis.
e) Hipokalsemia dan hiperfosfatemia
Terjadi karena berkurangnya sintesis vitamin D pada CKD. f) Phosphate alkaline meninggi akibat gangguan metabolisme
gangguan tulang, terutama isoenzim fosfate sendi tulang. g) Hipoalbumenia dan hipokolestrolemia
Umumnya disebabkan gangguan metabolisme dan diet rendah protein.
h) Peninggian gula darahakibat gangguan metabolismkarbohidrat pada gagal ginjal (resistensi terhadap pengaruh insulin pada jaringan perifer).
i) Hipergliserida
Akibat gangguan metabolisme lemak, disebabkan peninggian hormon insulin dan menurunnya lipoprotein lipase.
j) Asidosis metabolik dengan kompensasi respirasi menunjukan
PH yang menurun, BE yang menurun, HCU3 yang menurun,
PCO2 yang menurun, semuanya disebabkan retensi asam–asam
organik pada gagal ginjal (Muttaqin& Sari, 2011).
2) Pemeriksaan Diagnostik
a) Foto polos abdomen untuk menilai bentuk dan besar ginjal (adanya batu atau ada nya suatu obstruksi). Dehidrasi akan memperburuk keadaan ginjal, oleh sebab itu penderita diharapkan tidak puasa.
b) Biopsi ginjal dilakukan untuk menunjukkan pelvis ginjal. c) Intravena (IVP) untuk menilai sistem pelviokalises dan ureter.
Poltekkes Kemenkes Padang keadaan tertentu, misalnya: usia lanjut, diabetes melitus, dan nefropati asam urat.
d) USG untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal, kepadatan parenkim ginjal, kepadatan parenkim ginjal anatomi sistem pelviokalises, utreter proksimal, kandung kemih dan prostat.
e) Renogram untuk menilai fungsi ginjal kanan dan kiri,lokasi dari gangguan (vaskuler, parenkim, sekresi) serta sisa fungsi ginjal.
f) Pielogram retrograde untuk menunjukan abnormalitas pelvis ginjal.
g) Arteriogram ginjal adalah mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskuler dan massa.
h) Endoskopi ginjal dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal. i) EKG untuk melihat kemungkinan hipetrofi ventrikel kiri,
tanda-tanda perikarditis, aritmia, gangguan elektrolit (Muttaqin & Sari, 2014).
2. Kemungkinan diagnosa keperawatan
Menurut NANDA Internasional (2015-2017), masalah keperawatan yang mungkin muncul pada pasien CKD adalah sebagai berikut ;
a. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi
b. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
kontraktilitas
c. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang faktor pemberat penyakit (asupan garam)
d. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar-kapiler.
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah
25
Poltekkes Kemenkes Padang f. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolic, sirkulasi, sensasi, penurunan turgor kulit, penurunan aktivitas, akumulasi ureum dalam kulit.
g. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membrane mukosa mulut.
h. Nyeri Akut berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder( penurunan hb dalam darah)
i. Gangguan pola tidur berhubungan dengan perubahan pola tidur dari normal dan kurang kontrol tidur.
Poltekkes Kemenkes Padang Intervensi keperawatan merupakan serangkaian tindakan untuk mencapai tujuan pelaksanaan asuhan keperawatan. Berdasarkan diagnosa yang ada maka dapat disusun rencana keperawatan sebagai berikut :
Tabel 2.2 Diagnosa dan rencana keperawatan NANDA, NOC-NIC No Diagnosa Keperawatan NOC NIC 1. NANDA International 2015-2017 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi Menurut Moorhead, Marion. dkk. 2016: Setelah dilakukan asuhan keperawatan, maka didapatkan kriteria: Keseimbangan cairan a. Keseimbangan intake dan output dalam 24 jam sesuai kebutuhan (5: tidak menyimpang dari rentang normal) b. Tidak terjadinya edema perifer (5: tidak menyimpang dari rentang normal) c. Tekanan darah (5: tidak menyimpang dari rentang normal) d. Denyut nadi radial (5: tidak menyimpang dari rentang normal) e. Serum elektrolit (5: tidak Bullechek, Gloria M. dkk. 2016 : Managemen elektrolit/cairan 1. Monitor tanda-tanda vital
2. Pantau kadar serum
elektrolit yang abnormal 3. Monitor perubahan status
paru atau jantung yang
menunjukan kelebihan
cairan
4. Pantau adanya dan gejala
overdehidrasi yang
memburuk ( poliuri, oliguri dan edema)
5. Timbang berat badan harian 6. Berikan dan batasi cairan
yang sesuai
7. Monitor hasil laboratorium yang relevan dengan retensi cairan (peningkatan berat jenis, peningkatan BUN, albumin, protein total, dan urine spesifik)
Monitor cairan
1. Tentukan riwayat jumlah dan jenis asupan cairan dan kebiasaan eliminasi
2. Tentukan faktor yang
menyebabkan
ketidakseimbangan cairan
(kehilangan albumin,
poliuri dan patologi ginjal) 3. Monitor intake dan outpunn
urine
4. Monitor penambahan berat badan
27
Poltekkes Kemenkes Padang menyimpang
dari rentang
normal)
5. Monitor kadar serum dan elektrolit urine
6. Monitor kadar serum
albumin dan eletrolit urine 7. Memantau nilai elektrolit
serum, dan urin, yang
sesuai
8. Memantau membran
mukosa, turgor kulit dan haus
9. Monitor warna, kuantitas, dan berat jenis urin
10. Berikan obat farmakologis untuk meningkatkan output urin
11. Berikan cairan IV yang sesuai dengan kebutuhan
2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas Setelah dilakukan asuhan keperawatan, maka didapatkan kriteria: 1. Keefektifan pompa jantung a. Tekanan darah sistolik dan diastolik (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) b. Keseimbang an intake dan output dalam 24 jam (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) c. Tidak ada distritmia d. Tidak ada bunyi jantung abnormal
Manajemen asam basa:
a. Monitor intake dan
output
b. Monitor keseimbangan
elektrolit yang terkait
dengan alkalosis
metabolik
c. Monitor kehilangan asam ginjal
d. Monitor jantung untuk
manifestasi metabolik
alkalosis
e. Evaluasi adanya nyeri dada
f. Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac output
g. Anjurkan pasien untuk menurunkan stress
Manajemen cairan:
a. Pertahankan intake yang akurat
b. Monitor TTV
c. Monitor status nutrisi d. Monitor pasien untuk
menerapkan terapi
elektrolit
e. Kaji lokasi dan luas edema
Poltekkes Kemenkes Padang edema perifer f. Tidak ada edema paru 2. Status sirkulasi a. Tekanan darah (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) b. Denyut nadi (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) c. Saturasi O2 (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) d. CRT (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) hemodinamik 3. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang faktor pemberat ( misalnya merokok, gaya hidup monoton, trauma, obesitas, asupan garam Setelah dilakukan asuhan keperawatan, maka didapatkan kriteria: Perfusi jaringan perifer 1. CRT <3 detik (5: tidak menyimpang dari rentang normal) 2. Tekanan darah sistolik dan diastolik diastolik (5: tidak
Perawatan sirkulasi : infusiensi vena:
a. Lakukan penilaian
komprehensif terhadap
sirkulasi perifer (cek nadi periferal, edema, CRT, warna dan temperatur) b. Evaluasi edema dan nadi
perifer
c. Ubah posisi pasien paling kurang selama 2 jam yang sesuai
Monitor status cairan, intake dan output
29
Poltekkes Kemenkes Padang dam imobilitas). menyimpang dari rentang normal) 3. Tidak ada sianosis 4. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar-kapiler. Setelah dilakukan asuhan keperawatan, maka didapatkan kriteria: 1. Respon ventilasi mekanik a. Tingkat pernapasan (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) b. Irama pernapasan (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) c. Kedalaman respirasi (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) d. Ph arteri (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) e. Saturasi O2 (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) 2. Status pernapasan Terapi oksigen:
a. Berikan oksigen sesuai
kebutuhan pasien b. Monitor liter oksigen
c. Monitor efektifitas O2
dengan tepat
d. Observasi tanda
hipoventilasi
e. Monitor hubungan
kecemasan pasien dengan terapi oksigen
f. Mengatur penggunaan
perangkat O2 yang
memudahkan mobilitas dan mengajarkan pasien
Manajemen asam basa : asidosis metabolik:
a. Pertahankan jalan napas paten
b. Pantau pola pernapasan
c. Pantau penyebab
kekurangan HCO3 (uremia, ketoadosis metabolik) d. Pantau ketidakseimbangan
elektrolit (kelebihan kalium,
kelebihan magnesium,
natrium)
e. Beri obat HCO3 secara oral
atau parenteral jika
dibutuhkan
f. Pantau pengiriman oksigen (paO2, Hb, curah jantung) g. Siapkan pasien gagal ginjal
untuk cuci darah h. Bantu dalam dialisis i. Pantau tanda dan gejala
cardiopulmonary
memburuknya asidosis
metabolik (aritmia,
kussmaul, klien respirasi) j. Berikan nutrisi yang cukup
Poltekkes Kemenkes Padang tidak menyimpan g dari rentang normal) b. PaCO2 (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) c. Ph arteri (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) d. Saturasi O2 (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) e. Hasil rontgen dada (5: tidak menyimpan g dari rentang normal) f. Tidak ada sianosis metabolik kronis k. Anjurkan pasien/keluarga tentang tindakan pengobatan untuk mengobati asidosis metabolik Monitoring respirasi: a. Monitor frekuensi,
kedalaman dan kekuatan respirasi
b. Pantau pola pernapasan:
hiperventilasi, pernapasan
kussmaul
c. Memantau tingkat saturasi oksigen
d. Auskultasi bunyi napas, dan adanya suara tambahan
e. Pantau peningkatan
kegelisahan, ansietas, dan
peningkatan kebutuhan
31
Poltekkes Kemenkes Padang BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain Studi Kasus yang bersifat Deskriptif (Nursalam, 2015). Penelitian ini mendeskripsikan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan CKD Di Ruang Rawat Inap Penyakit dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian telah dilakukan pada dua orang pasien dengan CKD di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Juni 2017. Waktu untuk studi kasus selama 2 minggu yaitu tanggal 15-25 Mei 2017, maing-masing pasien dirawat lima hari.
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi dalam penelitian adalah subjek (misalnya manusia yaitu klien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2015). Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pasien dengan diagnosa medis CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang Tahun 2017.
2. Sampel
Sampel terdiri dari bagian populasi yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2015). sampel dalam penelitian ini adalah dua orang pasien dengan diagnosa medis CKD di Ruangan Penyakit Dalam. Pengambilan sampel dilakukan secara purpusive sampling bagi yang memenuhi kriteria. Jika terdapat lebih dari dua orang pasien dengan CKD di Ruangan Penyakit Dalam RS TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang, maka digunakan metode random sampling diantaranya simple random sampling. Cara pengambilan sampel yang dilakukan secara acak sehingga setiap kasus atau elemen memiliki kesempatan yang sama besar untuk dipilih sebagai sampel penelitian (Suyanto, 2011).
Poltekkes Kemenkes Padang Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini antara lain :
a. Inklusi
Kriteria inklusi yaitu pasien CKD yang bersedia menjadi responden dan merupakan target utama untuk diteliti tanpa ada yang menghambat.
1) Klien bersedia menjadi responden
2) Pasien dengan diagnosa CKD yang dirawat dan menjalani hemodialisa
3) Pasien laki-laki dan perempuan dengan diagnosa medis CKD b. Eklusi
Kriteria ekslusi adalah pasien CKD yang dirawat kurang dari 5 hari dengan menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi karena berbagai sebab.
D. Metode pengumpulan data 1. Wawancara
Proses memperoleh penjelasan untuk mengumplkan informasi dengan mengunakan cara tanya jawab baik secara langsung maupun melalui media telekomunikasi antara pewawancara dengan orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa mengunakan pedoman. Agar wawancara efektif maka tahapan yang dilalui yaitu mengenalkan diri, menjelaskan maksud kedatangan, menjelaskan materi wawancara dan mengajukan pertanyan (Surjaweni.W, 2014).
Dalam penelitian metode wawancara digunakan peneliti untuk mendapatkan data pengkajian atau anamnesa. Peneliti melakukan wawancara kepala keluarga pasien yaitu anak dan istri pasien.
2. Observasi
Observasi merupakan suatu kegiatan mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menyajikan gambar riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian, untuk membantu mengerti perilaku manusia dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran