• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL KULIAH AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODUL KULIAH AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

PERPAJAKAN

JOKO SETIAWAN, SE., MM.

(2)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

BAB I PENGANTAR HUKUM PAJAK

1. Pengertian Hukum Pajak 1

2. Kedudukan Hukum Pajak Dalam Sistem Hukum Di Indonesia 1

3. Pembagian Hukum Pajak 2

4. Teori Perpajakan 3

BAB II KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

1. Dasar Hukum 4

2. Pengertian NPWP dan Pengukuhan PKP 4

3. Yang Wajib Melaporkan Usahanya untuk Dikukuhkan menjadi PKP 4 4. Jangka Waktu Pendaftaran dan/atau Melaporkan Usaha 5 5. Syarat dan Tempat Pendaftaran dan Pelaporan Usaha 5 6. Sanksi Berkaitan dengan Kewajiban Mendaftarkan diri dan Melaporkan

Usaha

6

7. Penghapusan NPWP dan Pencabutan Pengukuhan PKP 6

8. Pengertian Surat Pemberitahuan 6

9. Surat Ketetapan Pajak (SKP) 10

BAB III PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)

1. Pengantar 11

2. Pengertian dan Objek Pajak Pertambahan Nilai 11

3. Subjek Pajak Pertambahan Nilai 12

4. Tarif Pajak Pertambahan Nilai 13

5. Faktur Pajak 13

BAB IV FREE TRADE ZONE (FTZ) 17

BAB V PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH (PPnBM)

1. Pengantar 19

2. Karakteristik PPnBM 19

3. Tarif PPnBM dan Pengelompokan BKP yang tergolong mewah 19 4. Cara Menghitung PPN atas Penyerahan BKP yang tergolong mewah 21

BAB VI PAJAK PENGHASILAN

1. Subjek Pajak Penghasilan 22

2. Objek Pajak Penghasilan 24

3. Pengurang Penghasilan Bruto 27

4. Penyusutan dan Amortisasi 29

5. Koreksi Fiskal 31

6. Angsuran PPh Dalam Tahun Berjalan (PPh Pasal 25) 32

7. Penghitungan Pajak Penghasilan Terutang 32

BAB VII PAJAK PENGHASILAN ORANG PRIBADI

(3)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

1. Pengertian Subjek Pajak 34

2. Penggolongan Subjek Pajak 34

3. Mulai dan Berakhirnya Kewajiban Pajak Subjektif 34 4. Perbedaan Wajib Pajak Dalam Negeri dan Wajib Pajak Luar Negeri 34

5. Tidak Termasuk Subjek Pajak 34

6. Objek Pajak Penghasilan 34

7. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) 34

8. Tarif Pajak 34

9. Perhitungan Pajak Penghasilan 34

10. Syarat Menggunakan Norma 35

BAB VIII PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

1. Pemotong PPh Pasal 21 37

2. Penerima Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 37

3. Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 39

4. Bukan Objek PPh Pasal 21 40

5. Cara Menghitung PPh Pasal 21 40

6. Tarif Pajak PPh Pasal 21 42

7. Pelaporan PPh Pasal 21 oleh Pemotong 43

8. PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah 43

BAB IX PAJAK PENGHASILAN PASAL 22

1. Pengertian 44

2. Pemungut PPh Pasal 22 44

3. Tarif PPh Pasal 22 44

4. Pengecualian Pemungutan PPh Pasal 22 45

5. Saat Terutang dan Pelunasan PPh Pasal 22 46

6. Tata Cara Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 22 46 BAB X PAJAK PENGHASILAN PASAL 23

1. Pemotong PPh Pasal 23 48

2. Obyek Pemotongan PPh Pasal 23 48

3. Bukan Obyek Pemotongan PPh Pasal 23 48

4. Saat terutang, penyetoran, dan pelaporan 49

BAB XI PAJAK PENGHASILAN PASAL 24

1. Pemotong PPh Pasal 24 50

2. Contoh 51

BAB XII PAJAK PENGHASILAN PASAL 26

1. Pemotong PPh Pasal 26 52

2. Obyek dan Tarif PPh Pasal 26 52

BAB XIII PAJAK PENGHASILAN PASAL 4 AYAT (2)

1. Karakteristik PPh Final 53

2. Jenis-jenis PPh Final 53

BAB XIV PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

1. Dasar Hukum 56

(4)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

2. Objek dan Subjek 56

3. Tarif 56

4. Dasar Perhitungan PBB 56

5. Batas Tidak Kena Pajak 57

6. Cara Menghitung PBB 57

7. Administrasi PBB 57

BAB XV BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN (BPHTB)

1. Objek BPHTB 59

2. Subjek BPHTB 60

3. Tarif 60

4. Dasar Pengenaan 60

5. Cara Menghitung BPHTB 61

BAB XVI BEA MATERAI

1. Dasar Hukum 62

2. Saat Terutang Bea Meterai 62

3. Pihak yang Terutang Bea Meterai 62

4. Pelunasan Bea Meterai 62

5. Sanksi Tidak atau Kurang Melunasi Bea Meterai 62

6. Dokumen-dokumen yang Dikenakan Bea Meterai 62

7. Dokumen yang Tidak Terutang Bea Meterai 63

8. Dokumen yang Tidak Dikenakan Bea Meterai 63

BAB XVII PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH

1. Definisi 64

2. Jenis Pajak Daerah 64

3. Tarif Pajak 64

4. Retribusi dibagi atas tiga golongan 65

(5)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

BAB I

PENGANTAR HUKUM PAJAK

1. PENGERTIAN HUKUM PAJAK

Definisi dalam ilmu hukum seperti dalam ilmu sosial lainnya tidak ada yang pasti, tetapi bermacam-macam, sesuai dengan sudut pandang masing-masing sarjana yang membuat definisi tersebut. Namun dalam bermacam-macam bunyi definisi itu, intinya akan sama.

R. Santoso Brotodihardjo, S.H., (1986 : 1) menyatakan bahwa “Hukum Pajak yang disebut juga Hukum Fiskal, adalah keseluruhan dan peraturan-peraturan yang meliputi wewenang pemerintah, untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkannya kembali kepada masyarakat dengan melalui Kas Negara, sehingga ia merupakan bagian dari Hukum Publik, yang mengatur hubungan-hubungan hukum antar negara dan orang-orang atau badan-badan (Hukum) yang berkewajiban membayar pajak (selanjutnya disebut Wajib Pajak)”.

Prof. DR. H. Rochmat Soemitro, S.H., (1977 : 23) menyatakan bahwa “Hukum Pajak ialah suatu kumpulan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara pemerintah sebagai pemungut pajak dan rakyat sebagai pembayar pajak”.

Hukum Pajak merupakan suatu bagian dari Hukum Tata Usaha Negara, yang didalamnya termuat juga anasir-anasir Hukum Tata Negara, Hukum Pidana, Hukum Perdata dan lain-lain.

2. KEDUDUKAN HUKUM PAJAK DALAM SISTEM HUKUM DI INDONESIA Secara umum Hukum terbaggi atas Hukum Publik dan Hukum Perdata. Hukum Publik mencakup Hukum Pidana dan Hukum Tantra yang meliputi Hukum Tata Negara dan Hukum Tata Negara.

(6)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

Hukum Publik ialah hukum yang mengatur hubungan Hukum antara Pemerintah dengan warganya, sedangkan Hukum Perdata ialah Hukum yang mengatur hubungan Hukum antara perorangan di dalam masyarakat.

Hukum Tata Usaha Negara atau Hukum Administrasi Negara ialah segenap peraturan hukum yang mengatur segala cara kerja dan pelaksanaan wewenang yang langsung dari lembaga-lembaga negara serta aparaturnya dalam melaksanakan tugasnya masing- masing. (Hukum Tata Usaha Negara Materil).

Hukum Perdata (BW) Hukum Tata Negara

Hukum Dagang (W.V.K) Hukum Tata Usaha Negara

Hukum Pajak

Hukum Pidana

3. PEMBAGIAN HUKUM PAJAK

Pembagian Hukum Pajak ke dalam Hukum Pajak Material dan Hukum Pajak Formal penting sekali, seperti halnya Hukum Pidana atau Hukum Perdata.

HUKUM

Hukum Perdata (Arti Luas)

Hukum Publik

(7)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

a). Hukum Pajak Material

Hukum Pajak Material, ialah Hukum Pajak yang memuat norma-norma yang menerangkan keadaan-keadaan, perbuatan-perbuatan dan peristiwa-peristiwa hukum yang harus dikenakan pajak, sisapa-siapa yang harus dikenakan pajak, berapa besarnya pajak atau dapat dikatakan pula segala sesuatu tentang timbulnya, besarnya, dan hapusnya utang pajak dan hubungan hukum antara pemerintah dan wajib pajak.

Undang-undang pajak yang termasuk dalam Hukum Pajak Material ialah : a. Undang-undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.

b. Undang-undang No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Barang Mewah

c. Undang-undang No. 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan d. Undang-undang No. 13 Taun 1985 tentang Bea Material.

b). Hukum Pajak Formal

Hukum Pajak Formal ialah Hukum Pajak yang memuat peraturan-peraturan mengenai cara-cara Hukum Pajak Material menjadi kenyataan. Hukum ini memuat cara-cara pendaftaran diri untuk memperoleh NPWP, cara-cara pembukuan, cara-cara pemeriksaan, cara-cara penagihan, hak dan kewajiban Wajib Pajak, cara-cara penyidikan, macam-macam sanksi, dan lain-lain.

Undang-undang Pajak yg termasuk Hukum Pajak Formal ialah :

a. UU No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, sebagaimana telah diubah terakhir dengan UNDANG-UNDANG No. 16 Tahun 2000.

b. UU No. 19 Tahun 1997 sebagaimana teah diubah dengan UNDANG-UNDANG No.

19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.

(8)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

4. TEORI PERPAJAKAN 1. Arti Pajak

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat

2. Ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak.

a. Pajak dipungut berdasarkan dengan kekuatan Undang-undang serta aturan pelaksanaannya.

b. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontra prestasi individual oleh pemerintah.

c. Pajak dipungut oleh Negara (baik oleh Pemerintah Pusat maupun Daerah).

d. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran Pemerintah, yang bila dari pemasukkannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk membiayai public investment.

e. Pajak dapat pula mempunyai tujuan yang tidak budgeter, yaitu mengatur.

3. Fungsi pajak.

Fungsi pajak ada dua :

a. Fungsi Anggaran (Fungsi Budgetair) ialah fungsi pajak disektor publik, merupakan suatu alat atau sumber untuk memasukkan uang dari masyarakat berasarkan undang-undang ke Kas Negara, hasilnya untuk membiayai pengeluaran umum Negara.

b. Fungsi mengatur (Regulerend) ialah fungsi pajak yang dipergunakan untuk mengatur atau untuk mencapai tujuan tertentu dibidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan keamanan misalnya dengan mengadakan perubahan- perubahan tarif, memberikan pengecualia n atau keringanan-keringanan.

4. Sistem Pemungutan pajak di Indonesia dibagi menjadi :

(9)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

a. Official Assessment, yaitu system pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pemerinta (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak terutang.

Contoh : PBB

b. Self Assessment, yaitu system pemungutan pajak yang memberikan weweang kepercayaan, dan tanggung jawab kepada Wajib Pajak untuk menghitung,

memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri besarnya apajak yang harus dibayar.

Contoh : PPh Orang Pribadi

c. Withholding System, yaitu system pemungutan pajak yang memberikan

wewenang kepada pihak ketiga untuk memotong atau memungut besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.

Contoh : PPh Pasal 21 Karyawan.

5. Pembagian Pajak

Ada beberapa pembagian pajak di Indonesia, yaitu menurut golongan, sifat, dan pemungutannya :

a. Menurut Golongan : Pajak Langsung dan Pajak Tidak Langsung b. Menurut Sifat : Pajak Subjektif dan Pajak Objektif

c. Menurut Pemungut : Pajak Pusat dan Pajak Daerah.

(10)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

BAB II

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP)

1. Dasar hukum

Undang-undang No. 28 Tahun 2007.

2. Pengertian NPWP dan Pengukuhan PKP.

NPWP adalah nomor yang diberikan kepada WP sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas WP dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya (Pasal 1 angka 6 UU KUP). NPWP diberikan kepada WP Orang Pribadi atau Badan yang berdasarkan UU PPh dikenai kewajiban perpajakan baik kewajiban perpajakan atas dirinya sendiri ataupun kewajiban memungut atau memotong PPh pihak lain (withholding tax). NPWP terdiri dari 15 (lima belas) digit, yaitu 9 (sembilan) digit pertama merupakan Kode WP dan 6 (enam) digit berikutnya merupakan Kode Administrasi Perpajakan.

0 1 . 2 3 4 . 5 6 7 . 8 – 9 9 9 . 0 0 0

Kode WP Kode KPP Kode cabang

WP yang memenuhi persyaratan subjektif dan objektif secara formal dijabarkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.03/2008 adalah sebagai berikut :

a) WP Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas, yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh Orang Pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja.

b) WP Badan yaitu sekumpulan orang dan/atau modal yg merupakan kesatuan baik yg melakukan usaha maupun yg tidak melakukan usaha, meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana

(11)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan BUT, termasuk dalam pengertian bentuk badan lainnya adalah bentuk kerjasama operasi.

c) WP Orang Pribadi yang tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas, apabila jumlah penghasilannya sampai dengan suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).

Kewajiban mendaftarkan diri berlaku pula terhadap wanita kawin yang dikenakan pajak secara terpisah karena hidup berpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta (PP Nomor 80 Tahun 2007).

Warisan yang belum terbagi dalam kedudukannya sebagai Subjek Pajak menggunakan NPWP dari WP Orang Pribadi yang meninggalkan warisan tersebut.

3. Yang wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi PKP.

Dalam pasal 2 ayat (2) disebutkan bahwa :

“Setiap WP sebagai Pengusaha yg dikenai pajak berdasarkan UU PPN 1984 dan perubahannya, wajib melaporkan usahanya pada kantor DJP yg wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha, dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi PKP”.

Dalam Pasal 1 butir 15 UU PPN 1984, PKP adalah pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan atau penyerahan JKP yang dikenakan pajak berdasarkan UU ini, tidak termasuk Pengusaha Kecil, kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP.

Dalam UU PPN 1984 pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan atau penyerahan JKP yang tergolong pengusaha kecil tidak diwajibkan untuk dikukuhkan sebagai PKP, kecuali pengusaha kecil tersebut memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP. Batasan Pengusaha Kecil berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 571/KMK.03/2003 adalah pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan BKP dan atau JKP dengan jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan bruto tidak lebih dari

(12)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

Rp.600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).

4. Jangka waktu pendaftaran dan/atau melaporkan usaha.

Berdasarkan PMK No. 20/PMK.03/2008, jangka waktu pendaftaran dan pelaporan usaha diatur sebagai berikut :

A. Jangka waktu pendaftaran :

• WP Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas dan WP Badan, wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP paling lama 1 (satu) bulan setelah saat usaha mulai dijalankan. Saat usaha mulai dijalankan adalah saat pendirian, atau saat usaha/pekerjaan bebas nyata-nyata mulai dilakukan;

• WP orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas, apabila jumlah penghasilannya sampai dengan suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi PTKP, wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP paling lama pada akhir bulan berikutnya;

B. Jangka waktu pelaporan usaha :

• WP yg memenuhi ketentuan sebagai PKP, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP sebelum melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP;

• Pengusaha Kecil, yang :

1. memilih sebagai PKP; atau

2. tidak memilih sebagai PKP tetapi sampai dengan suatu bulan dalam suatu tahun buku jumlah nilai peredaran bruto atas penyerahan BKP melampaui batasan yang ditentukan sebagai Pengusaha Kecil, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lama akhir bulan berikutnya.

5. Syarat dan tempat pendaftaran NPWP.

a. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi yang menjalankan/tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas KTP bagi Penduduk Indonesia, atau paspor bagi orang asing

b. Untuk Wajib Pajak Badan Akte pendirian dan perubahan atau surat keterangan

(13)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

penunjukan dari kantor pusat bagi bentuk usaha tetap; NPWP Pimpinan/Penanggung Jawab Badan; Kartu Tanda Penduduk bagi penduduk Indonesia, atau paspor bagi orang asing sebagai penanggung jawab.

c. Untuk Bendahara sebagai Wajib Pajak Pemungut/Pemotong: surat penunjukan sebagai Bendahara; dan Kartu Tanda Penduduk Bendahara.

Tempat pendaftaran NPWP sbb:

a. WP mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal bagi WP Orang Pribadi dan tempat kedudukan bagi WP Badan atau ke KPP tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

b. WP Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas di beberapa tempat atau mempunyai tempat usaha yang berbeda alamat dengan tempat tinggal, selain mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal juga mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat-tempat kegiatan usaha WP.

c. Dalam hal tempat tinggal, tempat kedudukan, atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak berada dalam 2 (dua) atau lebih wilayah kerja KPP, Dirjen Pajak dapat menetapkan KPP tempat WP terdaftar.

6. Sanksi berkaitan dengan kewajiban mendaftarkan diri dan melaporkan usaha.

Sanksi berkaitan dengan tidak dipenuhinya kewajiban mendaftarkan diri dan melaporkan usahanya dapat berupa sanksi administrasi atau sanksi pidana.

Sanksi administrasi adalah berupa bunga 2% per bulan paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya SKPKB sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 2 UU KUP.

7. Penghapusan NPWP dan Pencabutan Pengukuhan PKP.

Penghapusan NPWP adalah tindakan menghapus NPWP dari tata usaha KPP.

Berdasarkan Pasal 2 ayat 6 UU KUP dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor

(14)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

20/PMK.03/2008, penghapusan NPWP dilakukan apabila : A. diajukan permohonan penghapusan NPWP oleh :

1) WP dan/atau ahli warisnya karena WP sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan;

2) WP Badan dalam rangka likuidasi atau pembubaran karena penghentian atau penggabungan usaha;

3) Wanita yang sebelumnya telah memiliki NPWP dan menikah tanpa membuat perjanjian pemisahan harta dan penghasilan; atau

4) WP BUT menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia; atau

B. dianggap perlu oleh Dirjen Pajak untuk menghapuskan NPWP dari WP yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Penghapusan NPWP bagi wanita yang sebelumnya telah memiliki NPWP dan menikah tanpa membuat perjanjian pemisahan harta dan penghasilan dapat dilakukan dalam hal suami dari wanita tersebut telah terdaftar sebagai WP.

8. Pengertian Surat Pemberitahuan (SPT).

SPT adalah surat yang oleh WP digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan per-UU-an Pajak. SPT terdiri dari :

a. SPT Tahunan PPh;

b. SPT Masa yang meliputi :

1. SPT Masa PPh;

2. SPT Masa PPN; dan 3. SPT Masa Pemungut PPN SPT tersebut berbentuk: a. Formulir kertas (hardcopy); atau b. E-SPT.

E-SPT adalah data SPT WP dalam bentuk elektronik yang dibuat oleh WP dengan menggunakan aplikasi e-SPT yang disediakan oleh DJP. Aplikasi e-SPT adalah aplikasi dari DJP yang dapat digunakan WP untuk membuat e-SPT.

1) Kewajiban menyampaikan SPT.

(15)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

Setiap WP wajib mengisi SPT dengan benar, lengkap, dan jelas, dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor DJP tempat WP terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak.

2) Tempat dan cara pengambilan SPT.

Pasal 3 ayat (2) UU KUP menyatakan, WP mengambil sendiri SPT ditempat yg ditetapkan oleh Dirjen (pada kantor DJP atau tempat lain yg diperkirakan mudah terjangkau oleh WP) atau mengambil dgn cara lain yg tata cara pelaksanaannya diatur dgn atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Dalam PMK No.

181/PMK.03/2007 tgl 28-12- 2007 diatur :

• SPT berbentuk formulir kertas (hardcopy) dapat diambil secara langsung di tempat yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak.

• SPT berbentuk e-SPT dapat diambil secara langsung oleh WP dengan cara mengunduh format SPT atau aplikasi e-SPT dari situs DJP.

3) Cara penyampaian SPT.

Penyampaian SPT oleh WP dapat dilakukan :

a. secara langsung dan diberikan tanda penerimaan sirat;

b. melalui pos dengan bukti pengiriman surat; atau c. dengan cara lain seperti:

• melalui perusahaan jasa ekspedisi/kurir dengan bukti pengiriman surat; atau

• e-Filing melalui ASP (Penyedia Jasa Aplikasi) dan diberikan Bukti Penerimaan Elektronik.

E-Filing adalah cara penyampaian SPT / Perpanjangan SPT Tahunan yg dilakukan secara on-line dan real time melalui Application Service Provider (ASP). (PMK No.

181/PMK.03/2007)

4) Batas waktu penyampaian SPT.

Batas waktu penyampaian SPT pada pasal 3 ayat 3 UU KUP diatur sbb : a) SPT Masa, paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir Masa Pajak;

(16)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

b) SPT Tahunan PPh WP Orang Pribadi, paling lama 3 bulan setelah akhir Tahun Pajak; atau

c) SPT Tahunan PPh WP Badan, paling lama 4 bulan setelah akhir Tahun Pajak.

5) Sanksi karena tidak menyampaikan SPT.

Sanksi bagi WP yang tidak menyampaikan SPT, dapat berupa sanksi administrasi ataupun sanksi pidana.

A. Surat Teguran atas SPT yang tidak disampaikan.

Apabila SPT tidak disampaikan sesuai batas waktu yang ditentukan atau batas waktu perpanjangan penyampaian SPT Tahunan, dapat diterbitkan Surat Teguran (Pasal 3 ayat 5a UU KUP).

B. Sanksi administrasi berupa denda.

Pasal 7 ayat (1) UU KUP menyatakan apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktunya atau batas waktu perpanjangan penyampaian SPT, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar:

• Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk SPT Masa PPN,

• Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Masa lainnya,

• Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) untuk SPT Tahunan PPh WP Badan

• Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Tahunan PPh WP Orang Pribadi.

C. Sanksi administrasi berupa kenaikan.

Sanksi administrasi berupa kenaikan dapat dikenakan melaui penerbitan SKPKB apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktunya dan setelah ditegur secara tertulis, tetap tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran (Pasal 13 ayat 1 huruf b UU KUP). Dari Jumlah pajak dalam SKP KB yang diterbitkan ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sesuai dengan Pasal 13 ayat 3 UU KUP.

D. Sanksi pidana kurungan.

Pidana kurungan dalam Pasal 38 UU KUP dikenakan terhadap setiap orang yang karena kealpaannya tidak menyampaian SPT.

(17)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

E. Sanksi pidana penjara.

Pasal 39 ayat 1 huruf c dan d UU KUP menyatakan ”Setiap orang yang dengan sengaja:

c. tidak menyampaikan SPT; d. menyampaikan SPT dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap, terkena sanksi pidana antara 6 bulan s/d 6 tahun dan denda antara 2 s/d 4 kali.

6) Hak WP berkaitan dengan penyampaian SPT.

Berkaitan dengan kewajiban melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan melalui SPT, WP mempunyai hak-hak sbb :

1. Memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT Tahunan 2. Membetulkan SPT

3. Mengungkapkan ketidakbenaran pengisian SPT

7) Jatuh Tempo Pembayaran Pajak dan Sanksi Administrasi Atas Keterlambatannya.

A. 1) Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran/Penyetoran Pajak Suatu Saat/Masa Pajak.

Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, pembayaran atau penyetoran pajak dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. Termasuk hari libur nasional adalah hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.

No Jenis pajak Jatuh tempo

1. PPh Pasal 4 ayat (2) yang dipotong oleh Pemotong Pajak

Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

2. PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak

Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

(18)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

3. PPh Pasal 15 yang dipotong oleh Pemotong Pajak

Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

4. PPh Pasal 15 yang harus dibayar sendiri Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

5. PPh Pasal 21 yang dipotong oleh Pemotong PPh

Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

6. PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 26 yang dipotong oleh Pemotong PPh

Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

7. PPh Pasal 25 Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

8. PPh Pasal 22, PPN dan PPnBM atas impor Dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk dan dalam hal Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, harus dilunasi pada saat penyelesaian dokumen pemberitahuan pabean impor

9. PPh Pasal 22, PPN dan PPnBM atas impor yang dipungut Ditjen Bea dan Cukai

Jangka waktu 1 (satu hari kerja) setelah dilakukan pemungutan pajak

10. PPh Pasal 22 yang dipungut oleh bendahara

Pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang yang

dibiayai dari belanja Negara atau belanja Daerah, dengan SSP atas nama rekanan dan

ditandatangani oleh bendahara 11. PPh Pasal 22 atas penyerahan bahan bakar

minyak, gas, dan pelumas kepada

penyalur/agen atau industri yang dipungut oleh WP badan yang bergerak dalam bidang produksi bahan bakar minyak, gas, dan pelumas

Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

12. PPh Pasal 22 yang pemungutannya Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah

(19)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

dilakukan oleh WP badan tertentu sebagai Pemungut Pajak

Masa Pajak berakhir

13. PPN dan PPnBM yang terutang dalam satu Masa Pajak

Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

14. PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Bendahara Pemerintah atau instansi Pemerin tah yang ditunjuk

Paling lama tanggal 7 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

15. PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Pemungut PPN selain Bendahara Pemerintah atau instansi Pemerintah yang ditunjuk

Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

16. PPh Pasal 25 bagi WP dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3b) UU KUP yang

melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa

Paling lama pada akhir Masa Pajak berakhir

17. Pembayaran Masa selain PPh Pasal 25 bagi WP dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3b) UU KUP yang melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa

Paling lama sesuai dengan batas waktu untuk masing- masing jenis pajak

2) Sanksi Administrasi Atas Keterlambatan Pembayaran Masa.

Sanksi administrasi apabila pembayaran atau penyetoran dilakukan setelah tanggal jatuh tempo seperti tsb diatas, adalah berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 bulan. (Pasal 9 ayat 2a UU KUP) B. Pembayaran Kekurangan Pajak Terutang Berdasarkan SPT Tahunan PPh.

Jatuh tempo pembayaran kekurangan pajak yang terutang berdasarkan SPT

(20)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

Tahunan PPh harus dibayar lunas sebelum SPT PPh tsb. Disampaikan.

Atas pembayaran/penyetoran pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian SPT Tahunan, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian SPT Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan

C. Pelunasan pajak yang masih harus dibayar berdasarkan STP, SKPKB, SKPKBT, SK Keberatan, SK Pembetulan, Putusan Banding serta Putusan Peninjauan Kembali.

Dalam Pasal 9 ayat 3 UU KUP ditetapkan bahwa:” STP, SKP KB, serta SKP KBT, dan SK Keberatan, SK Pembetulan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan.”

9. Surat Ketetapan Pajak (SKP).

A. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKP KB).

Pengertian SKP KB.

SKP KB adalah SKP yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar.

B. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKP KBT).

Pengertian SKP KBT.

SKP KBT adalah SKP yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan (Pasal 1 angka 17 UU KUP).

C. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKP LB) Pengertian SKP LB.

SKP LB adalah SKP yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang. (Pasal 1 angka 19 UU KUP)

(21)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

D. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKP Nihil).

Pengertian SKP Nihil.

SKP Nihil adalah SKP yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak (Pasal 1 angka 18 UU KUP).

E. Surat Tagihan Pajak (STP).

Pengertian STP.

• STP adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda (Pasal 1 angka 20 UU KUP).

(22)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

BAB III

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)

1. Pengantar

a. Dasar Hukum PPN

1) UU Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah untuk yang kedua kalinya dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 yang berlaku sejak 1 Januari 2001.

2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2002, tentang Pelaksanaan UU Nomor 18 Tahun 2000

3) Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun 2000 tentang Jenis Barang dan Jasa yang tidak dikenakan PPN.

4) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2003 tentang Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Dan Atau Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.

5) Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007 tentang Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Yang Bersifat Strategis Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.

b. Legal Karakter Pajak Pertambahan Nilai

Untuk memahami Pajak Pertambahan Nilai khususnya PPN Indonesia, maka perlu dipahami legal karakter PPN Indonesia yang dapat dirinci dan diuraikan sebagai berikut :

1) Pajak Pertambahan Nilai sebagai Pajak Tidak Langsung 2) Multi Stage Levy namun Non Kumulatif.

(23)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

3) Penghitungan PPN terutang untuk dibayar ke kas negara menggunakan indirect subtraction method

4) Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak atas Konsumsi Umum Dalam Negeri 5) PPN Indonesia menerapkan tarif tunggal (single rate)

6) Pajak Objektif

2. Pengertian dan Objek Pajak Pertambahan Nilai

Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak atas konsumsi Barang Kena Pajak (BKP) dan atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang dilakukan di dalam Daerah Pabean.

Yang termasuk Objek PPN adalah :

Proses PPN

PABRIKAN

PEDAGANG BESAR

PEDAGANG ECERAN

KONSUMEN BKP

BKP

BKP

HARGA JUAL =1.000.000

HARGA BELI =1.000.000 NILAI TAMBAH = 300.000

HARGA JUAL =1.300.000

HARGA BELI = 1.300.000 NILAI TAMBAH = 200.000 HARGA JUAL= 1.500.000

PPN 10%

100.000

PPN 10%

130.000

PPN 10%

150.000 PK = 100.000

PM = 130.000

BEBAN PAJAK

PPN = 30.000

PPN = 20.000 PPN =

100.000 NegaraKas

PK = 150.000 PK = 130.000

PM = 100.000 Kas

Negara

Kas Negara

(24)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

1) penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha ;

2) impor Barang Kena Pajak ;

3) penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha;

4) pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean ;

5) pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean ; 6) ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak ;

7) kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak di dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan baik yang hasilnya akan digunakan sendiri atau digunakan oleh pihak lain ;

8) penyerahan aktiva oleh Pengusaha Kena Pajak yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk diperjualbelikan, sepanjang Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada saat perolehannya menurut ketentuan dapat dikreditkan.

• Barang dan Jasa Tidak Kena Pajak ( negative list ) Kelompok-kelompok barang yang tidak kena pajak :

a. barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya;

b. barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak;

c. makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung,dan sejenisnya;

d. uang, emas batangan, dan surat-surat berharga.

• Kelompok-kelompok jasa yang tidak kena pajak : a. jasa di bidang pelayanan kesehatan medik;

b. jasa di bidang pelayanan sosial;

c. jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko;

d. jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi

(25)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

e. jasa di bidang keagamaan;

f. jasa di bidang pendidikan;

g. jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak tontonan;

h. jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan;

i. jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air;

j. jasa di bidang tenaga kerja;

k. jasa di bidang perhotelan;

l. jasa yg disediakan oleh Pemerintah dlm rangka menjalankan pemerintahan secara umum

1) Saat dan Tempat Terutang PPN

Berdasarkan UU No.18 Tahun 2000 Pasal 11 dapat dijelaskan bahwa PPN terutang pada saat :

a. penyerahan Barang Kena Pajak;

b. impor Barang Kena Pajak;

c. penyerahan Jasa Kena Pajak;

d. pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean

e. ekspor Barang Kena Pajak.

Dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan Barang Kena Pajak atau

sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak, atau dalam hal pembayaran dilakukan sebelum dimulainya pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean saat terutangnya pajak adalah pada saat pembayaran.

2) Penyerahan barang yang tidak termasuk kategori sebagai Penyerahan Barang Kena Pajak, yaitu :

✓ penyerahan BKP kepada makelar sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang- undang Hukum Dagang.

✓ penyerahan BKP untuk jaminan utang-piutang ;

(26)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

✓ penyerahan BKP dari pusat ke cabang dan antar cabang bagi PKP yang memperoleh ijin pemusatan tempat pajak terutang dari Direktur Jenderal Pajak.

• Dasar Pengenaan Pajak

Adalah jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang Dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang.

3. Subjek Pajak Pertambahan Nilai a) Pengusaha Kena Pajak

Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yang dikenakan pajak, tidak termasuk Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan, kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.

Berdasarkan KMK. No. 571/KMK.03/2003 dapat dijelaskan bahwa : Pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan BKP dan atau JKP dengan jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan bruto tidak lebih dari Rp. 600 juta.

b) Kewajiban Pengusaha Kena Pajak

Berdasarkan Pasal 3A ayat (1) UU PPN 1984, Pengusaha yang melakukan

penyerahan BKP (Pasal 4 huruf a), penyerahan JKP (Pasal 4 huruf c), atau ekspor BKP (Pasal 4 huruf f), wajib:

1) melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak 2) memungut PPN dan PPnBM yang terutang

3) menyetor PPN dan PPnBM yang terutang 4) melaporkan PPN dan PPnBM yang terutang

4. Tarif Pajak Pertambahan Nilai

Sistem PPN menganut tarif tunggal yaitu sebesar 10%. Namun demikian, mengingat UU PPN menganut azas destination principle dalam pengenaan pajaknya maka untuk

(27)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

kegiatan ekspor dikenakan tarif 0%. Pengenaan tarif 0% atas ekspor BKP adalah dimaksudkan agar dalam harga barang yang diekspor tidak terkandung PPN.

5. Faktur Pajak

• Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak, atau bukti pungutan pajak karena impor Barang Kena Pajak yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

• Dalam penjelasan Pasal 13 ayat (1) UU PPN 1984, ditegaskan 3 (tiga) macam Faktur Pajak yaitu:

1) Faktur Pajak Standar

Dalam pasal 1 angka 3 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER- 159/PJ/2006 tanggal 31 Oktober 2006 yang mengatur tentang Saat Pembuatan, Bentuk, Ukuran, Pengadaan, Tata Cara Penyampaian, Dan Tata Cara Pembetukan Faktur Pajak Standar menetapkan bahwa Faktur Pajak Standar adalah Faktur Pajak yang paling sedikit memuat keterangan tentang:

a) Nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan BKP atau JKP b) Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli BKP atau penerima

JKP ;

c) Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga ;

d) Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut ;

e) Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut ;

f) Kode, nomor seri dan tanggal pembuatan Faktur Pajak ; dan

g) Nama, jabatan, dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak.

(28)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

2) Dokumen tertentu yang dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak di perlakukan sebagai Faktur Pajak Standar. Dokumen-dokumen tertentu sebagai Faktur Pajak Standar, yaitu :

a) PIB dan SSP untuk impor BKP

b) PEB yang telah difiat muat Pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilampiri invoice

c) SPPB (Surat Perintah Pengiriman Barang) dari BULOG/DOOLOG

d) Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) yang dibuat oleh Pertamina atas penyerahan BBM dan non BBM

e) Kuitansi atas penyerahan jasa telekomunikasi

f) Tiket, airway bil), delivery bill yang dibuat perusahaan jasa angkutan udara dalam negeri

g) SSP PPN atas pemanfaatan BKP Tidak Berwujud/JKP dari luar Daerah Pabean

h) Nota Penjualan Jasa atas penyerahan jasa kepelabuhanan i) Tanda pembayaran atau kuitansi langganan listrik.

1) Faktur Pajak Sederhana.

PKP dapat membuat Faktur Pajak Sederhana atas penyerahan BKP atau JKP sepanjang memenuhi syarat sebagai berikut :

1) Faktur Pajak Sederhana boleh dibuat dalam hal :

a) penyerahan BKP atau JKP dilakukan kepada konsumen akhir ; atau b) pembeli BKP/penerima JKP yang nama, alamat atau NPWP-nya tidak

diketahui.

2) Membuat Faktur Pajak Sederhana tidak memerlukan ijin dari siapapun.

3) Faktur Pajak Sederhana dapat berupa bon kontan, faktur penjualan, karcis, kuitansi, segi kas register, dan sejenisnya.

(29)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

4) dalam Faktur Pajak Sederhana minimal mencantumkan nama, alamat dan NPWP di Pembuat; Jenis dan kuantum BKP/JKP; harga.penyerahan termasuk PPN atau ditulis terpisah; tanggal pembuatan Faktur Pajak

5) Faktur Pajak Sederhana harus dibuat dalam rangkap dua, atau satu lembar dengan pertinggal berupa potongan/bagian dari Faktur Pajak Sederhana yang diserahkan kepada pembeli/ pene-rima jasa, seperti pada umumnya yang terjadi pada karcis.

6) Kelemahan Faktur Pajak Sederhana adalah Pajak Masukannya tidak dapat dikreditkan

7) Dibuat paling lambat pada saat penyerahan BKP/JKP, atau paling lambat pada saat pembayar-an dalam hal pembayaran diterima sebelum dilakukan

penyerahan.

• Saat Pembuatan FakturPajak

Faktur Pajak dapat wajib dibuat paling lambat :

1) pada akhir bulan berikutnya setelah bulan terjadinya penyerahan BKP dan/atau JKP dalam hal pembayaran diterima setelah akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP dan/atau JKP;

2) pada saat penerimaan pembayaran dalam hal pembayaran terjadi sebelum akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP;

3) pada saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan BKP dan/atau sebelum penyerahan JKP;

4) pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan;

5) pada saat PKP rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendaharawan Pemerintah sebagai Pemungut PPN.

A. Pajak Masukan

(30)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

• Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak dan atau penerimaan Jasa Kena Pajak dan atau pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean dan atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan atau impor Barang Kena Pajak.

• Pengreditan Pajak Masukan dengan Pajak Keluaran dalam Masa Pajak yang tidak sama paling lambat 3 (tiga) bulan setelah akhir Masa Pajak yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan.

• Pedoman penghitungan pengreditan Pajak Masukan bagi PKP yang penghitungan PPh-nya menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto (PMK-45/PMK.03/2008), yaitu pengusaha kena pajak dengan omset Rp 4,8 Milyar dan pedagang eceran dengan omset kurang dari Rp 1,8 Milyar setahun, sebagai berikut:

1) penyerahan BKP oleh PKP Pedagang Eceran: Pajak Masukan = 80% x Pajak Keluaran;

2) penyerahan BKP oleh PKP selain Pedagang Eceran : Pajak Masukan = 70% x Pajak Keluaran

3) penyerahan JKP = Pajak Masukan = 40% x Pajak Keluaran

• Pajak Masukan tidak dapat dikreditkan bagi pengeluaran untuk :

A. perolehan BKP atau JKP sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai PKP B. perolehan BKP atau JKP yang tidak berhubungan langsung dengan

kegiatan usaha ;

C. perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor sedan, jeep, station wagon, van, dan kombi kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan ;

D. pemanfaatan BKP tidak berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai PKP;

(31)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

E. perolehan BKP atau JKP yang bukti pungutan pajaknya berupa Faktur Pajak Sederhana ;

F. perolehan BKP atau JKP yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagai Faktur Pajak Standar (dinamakan Faktur Pajak Standar cacat).

G. pemanfaatan BKP tidak berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya cacat.

H. perolehan BKP atau JKP yang Pajak Masukannya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak ;

I. perolehan BKP atau JKP yang Pajak Masukannya tidak dilaporkan dalam SPT Masa PPN, yang diketemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan kecuali perolehannya telah dicatat dalam pembukuan PKP yang bersangkutan ;

B. Pajak Keluaran

• Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak.

Cara Menghitung Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

• PPN dan PPnBM yang terutang dihitung dengan cara mengalikan Tarif Pajak dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP).

• Tarif PPN 10% untuk: impor BKP; penyerahan BKP dan atau JKP;

pemanfaatan BKP tidak berwujud dan atau JKP dari Luar Daerah Pabean di Dalam Daerah Pabean.

• Tarif PPN 0% untuk ekspor BKP

Contoh Perhitungan PPN

1. PT. X adalah pengusaha kena pajak (PKP). Untuk pelaporan masa MEI 2009, terdapat pembelian komputer yang termasuk Barang Kena Pajak seharga per unit Rp 10.000.000; (sebelum PPN) sebanyak 10 unit → sebagai Pajak Masukan. Pada bulan

(32)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

tersebut, perusahaan juga melakukan penjualan komputer kepada PT. Y sebanyak 8 unit seharga Rp 15.000.000; (sebelum PPN) → sebagai Pajak Keluaran. Jawab pertanyaan berikut ini:

a. Berapa PPN kurang bayar PT. X untuk masa Mei tersebut?

Pajak Keluaran : 8 unit x Rp 15.000.000; x 10% = Rp 12.000.000;

Pajak Masukan : 10 unit x Rp 10.000.000; x 10% = Rp 10.000.000; - PPN kurang/lebih bayar = Rp 2.000.000;

b. Tanggal berapa PPN tersebut paling lambat harus dilunasi perusahaan? 15 Juni 2009

c. Tanggal berapa SPT Masa PPN Bulan Mei tersebut paling lambat harus dilaporkan ke Kantor Pajak? 20 Juni 2009

d. Jika PT. X ternyata baru membayar PPN pada tanggal 20 Juni 2009 dan melaporkannya SPT PPN Masa Mei tersebut pada tanggal 30 Juni 2009, hitung jumlah sanksi yang harus dibayar PT. X tersebut.

Denda terlambat bayar/setor : 2% x 1 bulan x Rp 2.000.000; = Rp 40.000;

Denda terlambat lapor = Rp 500.000; +

Jumlah sanksi yang harus dibayar = Rp 540.000;

(33)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

BAB IV

FREE TRADE ZONE

Dasar Hukum

• Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2009 tentang Perlakuan Kepabeanan, Perpajakan, dan Cukai, serta Pengawasan atas Pemasukan dan Pengeluaran Barang ke dan dari serta berada di Kawasan yang telah Ditunjuk sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas.

• Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.03/2009 tentang Tata Cara Pengawasan, Pengadministrasian, Pembayaran, serta Pelunasan PPN dan/atau PPnBM atas Pengeluaran dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean dan Pemasukan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dari Tempat Lain Dlm Daerah Pabean ke Kawasan Bebas

1. Perlakuan PPN di dalam Kawasan Bebas

• Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) di dalam KB dibebaskan dari pengenaan PPN dan/atau PPnBM

(34)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

• Penyerahan jasa kena Pajak (JKP) dan/atau BKP Tidak Berwujud di dalam KB dibebaskan dari pengenaan PPN

• Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean (LN) di dalam KB dibebaskan dari pengenaan PPN

2. Perlakuan PPN dari TLD2P ke Kawasan Bebas

1. Pemasukan BKP dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean (TLD2P) ke KB melalui pelabuhan atau bandara yg ditunjuk tidak dipungut PPN dan/atau PPnBM.

2. Penyerahan JKP dan/atau BKP Tidak Berwujud dari TLD2P ke KB tidak dipungut PPN

3. Perlakuan Perpajakan dari LDP ke Kawasan Bebas

• Pemasukan BKP dari Luar Daerah Pabean (LDP) atau Impor BKP ke dalam KB dibebaskan PPN dan/atau PPnBM & tidak dipungut PPh Pasal 22, dengan syarat:

a. dilakukan oleh Pengusaha yg telah mendapat ijin dari Badan Pengusahaan Kawasan (BPK) & hanya atas impor yg berhubungan dg kegiatan usaha, serta jumlah & jenis barang ditetapkan oleh BPK

b. dilakukan melalui pelabuhan atau bandara yg ditunjuk oleh BPK 4. Perlakuan Perpajakan dari TPB ke Kawasan Bebas

Penyerahan JKP dan/atau BKP Tidak Berwujud dari Tempat Penimbunan Berikat (TPB) ke KB tidak dipungut PPN

5. Perlakuan Perpajakan dari KB ke KB lainnya

• Pemasukan BKP dari KB ke KB lainnya dibebaskan PPN dan/atau PPnBM &

tidak dipungut PPh Pasal 22.

• Penyerahan JKP dan/atau BKP Tidak Berwujud dari KB ke KB lainnya dibebaskan dari pengenaan PPN dan/atau PPnBM

6. Perlakuan PPN dari KB ke TPB

Penyerahan JKP dan/atau BKP Tidak Berwujud dari KB ke Tempat Penimbunan Berikat TPB dipungut PPN

7. Perlakuan Perpajakan dari KB ke TLD2P

(35)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

• BKP Impor yg akan dikeluarkan dari KB ke TLD2P Wajib dilunasi PPN dan/atau PPnBM & PPh Pasal 22.

• BKP asal KB & TLD2P yg akan dikeluarkan dari KB ke TLD2P Wajib dilunasi PPN dan/atau PPnBM.

• Penyerahan JKP dan/atau BKP Tidak Berwujud dari KB ke TLD2P dikenakan PPN.

8. Perlakuan PM atas PPN Terutang Tidak Dipungut

Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP dan atau perolehan JKP yang atas penyerahannya tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai, dapat dikreditkan 9. Perlakuan PM atas PPN yang dibebaskan

Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak dan atau perolehan Jasa Kena Pajak yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai, tidak dapat dikreditkan.

10. Contoh

a. BKP asal Luar Daerah Pabean yg akan dikeluarkan dari KB ke TLD2P Wajib dilunasi PPN & PPh Pasal 22.

PT A (Pengusaha di Kawasan Bebas memiliki API) mengimpor 10 unit TV Plasma (termasuk BKP yg tergolong mewah dg tarif 10%) dari Singapura dg nilai impor Rp 40.000.000 yg kemudian dijual seluruhnya kepada PT B (Pengusaha di TLD2P) dengan harga jual per unit @ Rp 6.000.000,-. Pengiriman barang

dilakukan melalui pelabuhan Sekupang Batam tgl 25 April 2009.

DPP = (10 x Rp 6.000.000,-) = Rp 60.000.000,- PPN yg terutang = (10% x DPP) = Rp 6.000.000,- PPnBM yg terutang = (10% x DPP) = Rp 6.000.000,-

(36)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

PT A memungut & menyetor PPN & PPnBM tsb dg SSP atas nama PT B paling lama tanggal 25 April 2009, PPN yg dibayar atas pengeluaran TV tsb merupakan Pajak Masukan yg dpt dikreditkan oleh PT B sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

Selain hal tsb PT A juga melunasi PPh Pasal 22 atas impor yaitu:

DPP = Nilai Impor (nilai pabean + bea masuk) PPh Pasal 22 Impor = 2,5% x DPP = 1.000.000,-,

dg SSPCP a.n sendiri (PT A) dilampiri dokumen dasar pembayaran paling lama tanggal 25 April 2009.

b. BKP asal KB & TLD2P yg akan dikeluarkan dari KB ke TLD2P Wajib dilunasi PPN.

PT A (Pengusaha di Kawasan Bebas) merakit TV Plasma (termasuk BKP yg tergolong mewah dg tarif 10%) dg komponen dari KB & TLD2P yg kemudian menjual 10 unit kepada PT B (Pengusaha di TLD2P) dengan harga jual per unit

@ Rp 6.000.000,-. Pengiriman barang dilakukan melalui pelabuhan Batu Ampar Batam tgl 25 April 2009.

DPP = (10 x Rp 6.000.000,-) = Rp 60.000.000,- PPN yg terutang = (10% x DPP) = Rp 6.000.000,- PPnBM yg terutang = (10% x DPP) = Rp 6.000.000,-

PT A memungut & menyetor PPN & PPnBM tsb dg SSP atas nama PT B paling lama tanggal 25 April 2005, PPN yg dibayar atas pengeluaran TV tsb merupakan Pajak Masukan yg dpt dikreditkan oleh PT B sesuai dengan peraturan perundang- undangan

(37)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

BAB V

PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH (PPnBM)

1. Pengantar

Dasar Hukum PPnBM

- UU Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah untuk yang kedua kalinya dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 yang berlaku sejak 1 Januari 2001.

- Peraturan Pemerintah Nomor 145 Tahun 2000 tentang Kelompok BKP Yang Tergolong Mewah, yang telah beberapa kali diubah dengan PP Nomor 12 Tahun 2006.

2. Karakteristik PPnBM

Dalam Pasal 5 UU PPN 1984 diatur bahwa di samping dikenakan PPN, dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) terhadap :

1) impor BKP Yang Tergolong Mewah ;

2) penyerahan BKP Yang Tergolong Mewah yang dilakukan oleh pabrikan dari BKP yang menghasilkannya di dalam Daerah Pabean.

3) berdasarkan Pasal 10 ayat (2) UU PPN 1984, PPnBM tidak dapat dikreditkan dengan PPN atau PPnBM yang dipungut berdasarkan UU PPN 1984. Namun dalam ayat (4) dari pasal ini ditentukan, Pengusaha Kena Pajak yang mengekspor BKP Yang Tergolong Mewah dapat meminta kembali PPnBM yang telah dibayar pada waktu perolehan BKP Yang Tergolong Mewah yang diekspor tersebut.

Berdasarkan ketentuan tersebut, pada dasarnya PPnBM hanya dikenakan satu kali yaitu pada mata rantai jalur distribusi yang disebut dalam Pasal 5 UU PPN 1984.

(38)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

3. Tarif PPnBM dan pengelompokan BKP Yang Tergolong Mewah Dalam Pasal 8 UU PPN 1984 diatur :

1) Tarif PPnBM paling rendah 10%, paling tinggi 75%

2) Atas ekspor BKP yang Tergolong Mewah dikenakan PPnBM dengan tarif 0%

3) Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan kelompok BKP Yang Tergolong Mewah yang dikenakan PPnBM.

4) Macam dan jenis BKP Yang Tergolong Mewah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 145 Tahun 2000 jo Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2006, BKP Yang Tergolong Mewah yang dikenakan PPnBM dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok besar yaitu : 1) Kelompok kendaraan bermotor yang dikenakan PPnBM dengan tarif 10%, 20%,

30%, 40%, 50%, 60%, dan 75%.

2) Kelompok selain kendaraan bermotor yang dikenakan tarif 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, dan 75%.

Tarif 10 %

▪ Kelompok alat rumah tangga, pesawat pendingin (180-230 ltr), mesin cuci (6-10 kg), pesawat pemanas, dan pesawat penerima siaran televisi (21 – 43 “)

▪ Peralatan mancing nilai > Rp 500 rb.

▪ AC 1 – 2 PK.

▪ Player, penerima radio nilai > 1 juta.

▪ Kamera harga > 500 rb.

▪ Kendaraan pengangkut 10-15 org dan kurang dari 10 org dg silinder s.d. 1.500 cc Tarif 20 %

• Kompor gas.

• Lemari pendingin > 230 ltr.

• Bangunan mewah luas 400 m2 atau lebih, atau nilai jual bangunan Rp 3 juta/m2 atau lebih.

(39)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

• Apartemen luas 150 m2 atau lebih atau harga jual bangunan Rp 4 juta/m2 atau lebih

• Televisi lebih dari 43 “.

• AC ukuran 2 – 3 PK.

• Mesin cuci piring, microwave, mesin pengering.

• Piano, organ.

• Minyak wangi dengan harga Rp 2.000 / ml atau lebih.

• Kendaraan pengangkut kurang dari 10 org dg silinder 1.500 s.d. 2.500 cc Tarif 30%

• Perahu layar.

• Golf, Perlengkapan selam, ski, selancar.

• Kendaraan sedan atau stationwagon atau lainnya dengan silinder s.d. 1.500 cc

• Tarif 40%

Minuman fermentasi dengan kadar alkohol tdk lebih dari 26 % proof.

• Saddlery, harness, dengan nilai Rp 1 juta/buah atau lebih.

• Kopor kulit, tas, perlengkapan kulit dengan nilai Rp 500 rb/buah atau lebih.

• Pakaian dan aksesorisnya dengan nilai Rp 600 rb/stel atau Rp 300 rb/buah atau lebih.

• Karpet.

• Arloji dari campuran logam mulia.

• Perahu motor, pesawat layang, pesawat gantung.

• Peluru untuk senjata api.

• Alas kaki dengan nilai Rp 1 juta/sepasang atau lebih.

• Tempat duduk/tidur atau perabot lain dengan nilai Rp 2 juta/buah atau lebih.

• Alas kasur dengan nilai Rp 1 jt/m2 dan kasur dengan nilai Rp 2 jt/m2.

• Lampu dan aksesoris dengan nilai Rp 2,5 jt/buah atau lebih.

• Barang porselen dengan nilai Rp 1 jt/buah atau lebih.

• Barang dari batu dengan nilai Rp 200 rb/m3 atau Rp 1 jt/m2 atau lebih.

(40)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

• Kendaraan selain sedan 2.500 sd 3.000 cc, sedan dan stationwagon 1.500 sd 2.500 atau 3.000 cc.

Tarif 50%

• Permadani dari bulu halus.

• Helikopter, pesawat udara.

• Tongkat golf.

• Senjata api.

• Kendaraan golf.

Tarif 60%

• kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas isi silinder lebih dari 250 cc sampai dengan 500 cc; dan

• kendaraan khusus yang dibuat untuk perjalanan di atas salju, di pantai, di gunung, dan kendaraan semacam itu.

Tarif 70%

• Minuman fermentasi dari buah anggur segar, termasuk minuman fermentasi yang diperkuat, grape must; dengan kadar alkohol melebihi 26% proof.

• Etil alkohol dengan kadar kurang dari 80% : wiski, brendi, vodka, arak.

• Batu mulia

• Kapal pesiar, yacht.

• Kendaraan pengangkut < 10 org dengan silinder lebih dr 3.000 cc dan 2.500 cc.

• Motor dengan silinder lebih dari 500 cc.

• Trailer dan semi trailer.

4. Cara menghitung PPN atas penyerahan BKP Yang Tergolong Mewah

Apabila dalam harga penyerahan terdapat unsur PPN dan PPnBM yang berubah menjadi biaya, yang dikeluarkan dari harga jual hanya unsur PPN.

Contoh :

(41)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

PT. XYZ adalah pabrikan perlengkapan elektronik, antara lain produknya adalah AC yang atas penyerahannya terutang PPN 10% dan PPnBM 20%. PT. XYZ menyerahkan sejumlah AC-2PK kepada PT ABC dengan Harga Jual per-unit Rp 4.000.000,00 yang kemudian oleh PT ABC sebagian dari AC tersebut diserahkan kepada toko elektronik “Batam”. Penghitungan pajak yang terutang dapat diuraikan sebagai berikut :

Harga Jual = Rp 4.000.000,00

PPN terutang 10% = Rp 400.000,00

PPnBM terutang = 20% x Rp 4.000.000,00 = Rp 800.000,00 Harga yang dibayar oleh PT ABC = Rp 4.800.000,00 PT ABC memperhitungkan nilai tambah = Rp 300.000,00 Harga Jual yang ditentukan oleh PT ABC = Rp 5.100.000,00

Harga jual dari PT ABC ini merupakan harga perolehan yang dibayar oleh toko elektronik “Batam”. Harga yang dibayar oleh konsumen ketika membeli AC tersebut dari toko elektronik ini dapat dihitung sebagai berikut :

Harga perolehan AC yang dibayar oleh toko “Batam” = Rp 5.100.000,00 Toko “Batam” memperhitungan nilai tambah = Rp 500.000,00 Harga jual AC yang ditetapkan oleh toko “Batam” = Rp 5.600.000,00 PPN yang terutang = 10% x Rp 5.600.000,00 = Rp 560.000,00 Harga yang dibayar oleh konsumen = Rp 6.160.000,00

(42)

MODUL KULIAH

AKADEMI AKUNTANSI PERMATA HARAPAN BATAM

BAB VI

PAJAK PENGHASILAN

Dasar Hukum

1. Undang Undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Perubahan keempat atas UU No 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan

Pengertian

”Pajak Penghasilan (PPh) dikenakan terhadap orang pribadi dan badan, berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh selama satu tahun pajak”

1. SUBJEK PAJAK

A. Pengertian Subjek Pajak

- Subjek pajak adalah orang yg dituju oleh undang-undang perpajakan untuk dikenakan pajak.

- Pengertian subjek pajak meliputi : a. Orang pribadi.

b. Warisan yg belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yg berhak, yaitu ahli waris.

c. Badan.

Badan adalah perseroan terbatas, perseroan komanditer, badan usaha milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, persekutuan, perseroan atau perkumpulan lainnya, firma, kongsi, perkumpulan koperasi, yayasan atau lembaga,

& bentuk usaha tetap

d. Bentuk Usaha Tetap (BUT).

B. Penggolongan Subyek Pajak (Pasal 2) Subyek Pajak Dalam Negeri :

Referensi

Dokumen terkait

Jaringan syaraf tiruan berfungsi untuk menentukan apakah asap yang terdeteksi adalah asap kebakaran hutan atau bukan melalui karakteristik tegangan setiap asap

khususnya pada pola komunikasi mereka dalam mengasuh anak. Meskipun dalam keluarga berbeda agama yang selama ini kita jumpai jarang mengalami permasalahan, namun

Agar pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan Pemerintahan Desa terselenggara dengan baik dan terarah perlu dicapai dengan rencana Strategis desa, yaitu telah

Bila dilihat dari sumber pertumbuhan ekonomi NTB hingga triwulan III-2016, Pembentukan Modal Tetap Bruto menjadi sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 2,38 poin, diikuti

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi morfometri dari Rajungan yang meliputi panjang karapas, lebar karapas, dan berat tubuh serta mengetahui aspek

Parfum Laundry Aceh Tengah Beli di Toko, Agen, Distributor Surga Pewangi Laundry Terdekat/ Dikirim dari Pabrik BERIKUT INI PANGSA PASAR PRODUK NYA:.. Kimia Untuk Keperluan

Alasan menggunakan metode Naïve Bayes Classifier adalah karena metode Naïve Bayes Classifier merupakan penyederhanaan dari teorema Bayes.Variabel yang dibutuhkan dalam penelitian ini

Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada para informan penulis, yakni Juanico Soares, Yustina Soares, Aniceto Benigno Soares, dan Constantino Soares yang telah dengan