SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fekultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh:
JAMALUDDIN LOLANG NIM 10533 5986 09
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 2014
Dimana ada kemauan di situ ada jalan, Jangan pernah menyerah terahadap masalah yang
Menimpamu, tapi tataplah hari esok dengan hati yang cemerlang.
Hidup adalah sebuah perjuangan...!
Dan perjuangan membutuhkan pengorbanan Maka, berbuatlah yang lebih baik dari pada hari ini...!
Karya ini kupersembahkan untuk ayah dan ibunda tercinta Serta saudara dan sahabat atas keikhlasan dan doanya Dalam mendukung penulis mewujudkan harapan menjadi kenyataan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dibimbing oleh Hj. Rahmijah K dan Andi Adam.
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang bertujuan meningkatkan kemampuan menulis pada siswa kelas VII SMP Negeri I Tinggimoncong Kabupaten Gowa melalui strategi the power of two.
Hasil yang diperoleh dari analisis deskriptif kuantitatif adalah sebagai berikut: Nilai yang diperoleh dari tes pada siklus I (setelah dilakukan tindakan dengan menggunakan strategi the power of two), yang mendapat nilai >65 sekitar 18 siswa (42%), sedangkan pada siklus II yang mendapat nilai >65 sebanyak 28 siswa (97%). Ketuntasan belajar siswa meningkat setelah diberikan pembelajaran dengan menggunakan strategi the power of two pada setiap pertemuan pada siklus II.
Hasil yang diperoleh secara analisis deskriptif kualitatif adalah semangat dan antusias siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sangat tinggi, hal ini ditunjukkan dengan kurangnya siswa yang melakukan kegiatan lain yang mengganggu kegiatan pembelajaran, meningkatnya jumlah siswa yang menyelesaikan latihan yang diberikan, baik latihan di sekolah maupun tugas di rumah. Selain itu semakin besar frekuensi siswa yang ingin menyelesaikan soal- soal yang diberikan oleh guru. Kehadiran siswa pada siklus I yakni 90,32% dan keaktifan siswa 62,09%. Pada siklus II kehadiran siswa 96,77% dan keaktifan siswa 90,32%.
Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa melalui strategi pembelajaran the power of two dapat meningkatkan kemampuan menulis pada siswa kelas VII SMP Tinggimoncong Kabupaten Gowa tahun ajaran 2013/2014.
Kata kunci : Kemampuan Menulis, Strategi The Power Of Two
vii
Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah Subhanahu wataala pencipta alam semesta, semoga salawat dan salam senantiasa tercurah pada Rasulullah Muhammad saw, beserta Keluarga, Sahabat dan orang-orang yang senantiasa istiqamah untuk mencari Ridha-Nya hingga di akhir zaman.
Skripsi dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Melalui Jurnal Harian dengan Menerapkan Strategi The Power Of Two Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri I Tinggimoncong Kabupaten Gowa” diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Berbekal dari kekuatan dan ridha dari Allah swt semata, maka penulisan skripsi ini dapat terselesaikan meski dalam bentuk yang sangat sederhana, tidak sedikit hambatan dan rintangan yang penulis hadapi, akan tetapi penulis sangat menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada keberhasilan tanpa kegagalan. Oleh sebab itu hanya pertolongan Allah swt, yang hadir lewat uluran tangan serta dukungan dari berbagai pihak. Penulis menghaturkan terima kasih yang tiada terhingga atas segala bantuan modal dan spritual yang diberikan dalam menyelesaikan skripsi ini.
Sebagai manusia biasa, penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini tidak akan berhasil tanpa bantuan dan bimbingan dari orang lain, termasuk semua
x
PERSETUJUAN PEMBIMBING...iii
SURAT PERJANJIAN ...iv
SURAT PERNYATAAN...v
MOTO DAN PERSEMBAHAN ...vi
ABSTRAK ...vii
KATA PENGANTAR ...viii
DAFTAR ISI...x
DAFTAR TABEL...xii
DAFTAR GAMBAR ...xiii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang ...1
B. Rumusan Masalah ...7
C. Tujuan Penelitian ...7
D. Manfaat Penelitian ...7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR ...9
A. Kajian Pustaka...9
B. Kerangka Pikir ...26
C. Hipotesis Tindakan...27
BAB III METODE PENELITIAN...28
xi
E. Teknik Pengumpulan Data...34
F. Instrumen Penelitian...35
G. Tekhnik Analisis Data...36
H. Indikator Keberhasilan ...37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...38
A. Hasil Penelitian... 38
B. Pembahasan Hasil Penelitian... 58
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ...62
A. SIMPULAN ...62
B. SARAN ...62
DAFTAR PUSTAKA ...64 LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
Tabel 3.1 Rentang Nilai Pembelajaran ... 37
Tabel 4.1 Hasil Observasi Siswa Selama Mengikuti Pembelajaran Siklus I ... 43
Tabel 4.2 Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Siklus I ... 45
Tabel 4.3 Keterampilan Menulis Puisi Siklus I ... 46
Tabel 4.4 Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Siklus I... 46
Tabel 4.5 Hasil Observasi Siswa Selama Mengikuti Pembelajaran Siklus II... 52
Tabel 4.6 Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Siklus II... 54
Tabel 4.7 Keterampilan Menulis Puisi Siklus II... 55
Tabel 4.8 Ketuntasan Belajar Siswa Belajar Siklus II ... 55
Tabel 4.9 Kemampuan Menulis Puisi Pada Siklus I & II ... 57
Tabel 4.10 Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I & II ... 57
Gambar 1 Skema Kerangka Pikir ... 27 Gambar 2 Skema Model Penelitian Tindakan Kelas ... 29
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kualitas kehidupan sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Era pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka dan demokratis. Oleh karena itu, pembaruan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia.
Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan pendidikan ini diharapkan dapat meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia. Untuk mencapai hal itu,perlu adanya pembaruan pendidikan yang harus terus dilakukan secara berkelanjutan.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah pada dasarnya bertujuan membekali peserta didik berkomunikasi secara efektif dan efisien dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis. Perubahan atau pergantian kurikulum selalu menimbulkan masalah dan kebingungan bagi semua yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, terutama guru. Apapun kurikulumnya,guru harus berpegang pada tujuan pembelajaran bahasa. Guru perlu terus berusaha meningkatkan kemampuannya dan terus belajar untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (selanjutnya disingkat KTSP) yang telah mampu memberikan sebuah tatanan baru dalam pembelajaran merupakan salah satu langkah awal dalam pembelajaran keterampilan berbahasa. Telah
1
diketahui bersama, bahwa tujuan pembelajaran keterampilan berbahasa dilakukan untuk mendapatkan output yang terampil dalam bidang kebahasaan. Pembelajaran berbahasa yang dimaksudkan adalah keterampilan menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Keempat keterampilan tersebut mampu menawarkan sebuah resolusi dalam menunjukkan kompetensi dirinya apabila dilaksanakan secara tepat. Salah satu pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih menunjukkan kompetensinya, serta menjadi diri sendiri adalah keterampialn menulis.
Standar kompetensi menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia merupakan upaya untuk menunjukkan jati dirinya sebagai pribadi yang mampu,karena siswa akan mampu menuangkan ide/gagasannya, perasaannya,dan pendapatnya dalam bentuk tulisan sesuai dengan kemampuannya. Sejalan dengan kenyataan tersebut. Menulis adalah menuangkan gagasan,pendapat, perasaan, keinginan dan imformasi kedalam bentuk tulisan dan kemudian mengirimkannya kepada pembaca (orang lain). Oleh karena itu,menulis di kategorikan sebagai keterampilan berbahasa yang produktif.(Syafi’e1998: 45)
Kenyataan menunjukan bahwa tidak sedikit siswa kurang menyukai pembelajaran menulis dikarenakan oleh sulitnya mengorganisasikan tulisan dengan tepat. Siswa menganggap bahwa menulis membutuhkan kelengkapan syarat yang harus dipenuhi sehingga menjadi suatu beban moril yang ditanggung.
Kondisi ini memungkinkanterciptanya minat rendah terhadap kegiatan pembelajaran menulis.
Kesulitan yang dialami siswa dalam pembelajaran menulis tidak secara langsung diketahui oleh guru. Hal ini disebabkan oleh guru yang kurang
memahami keinginan siswanya dalam pembelajaran yang terjadi sehingga berimbas pada siswa yang semakin tidak menyenangi pembelajaran tersebut.
Dengan kata lain, tidak terjadi komunikasi dua arah antara siswa dan guru dalam proses belajar mengajar.
Terkait dengan hal tersebut, pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya menulis, akan lebih efektif apabila terjadi komunakasi langsung tentang kesulitan dan keinginan siswa dalam pembelajaran tersebut. Namun, tercatat bahwa siswa jarang mengemukakan kesulitan atau harapannya terhadap pembelajaran menulis kepada guru sehingga guru jugatidak bisa mengantisipasi hal tersebut. Artinya, guru tidak benar- benar mengetahui gambaran tentang perkembangan balajar siswa, khususnya pembelajaran menulis. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Rita Dunn dalam (Prasnigh, 2007) mengatakan bahwa secara utuhnya, bukan anak yang harus memikul tanggungjawab dalam belajar, melainkan guru yang memikul tanggung jawab dalam mengidentifikasi kekuatan daya belajar setiap anak,lalu mencocokkan semua itu dengan lingkungan dan pendekatan yang responsif.
Berdasarkan permasalahan yang ada dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah, maka perlu dirumuskan suatu strategi pembelajaran yang baik guna meningkatkan pemahaman siswa dalam belajar. Salah satu strategi pembelajaran yang diasumsikan yaitu strategi pembelajaran kooperatif the power of two, khususnya dalam meningkatkan keterampilan menulis.
Strategipembelajaran the power of two merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang mengelompokkan siswa ke dalam tim-tim belajar
yang beranggotakan 2 sampai 6 orang siswa. Materi akan disajikan dalam bentuk teks atau tulisan dan setiap siswa bertanggungjawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi-materi tersebut kepada anggota tim lain. Strategi pembelajaran the power of twoini adalah termasuk bagian dari active learning yang merupakan salah satu cara terbaik untuk meningkatkan belajar lebih aktif dengan pemberian tugas belajar yang dilakukan dalam dalam kelompok kecil siswa. Dukungan sesama siswa dan keragaman pendapat, pengetahuan, serta ketrampilan mereka akan membantu menjadikan belajar sebagai bagian berharga dari iklim di kelas. Namun demikian, belajar bersama tidaklah selalu efektif.
Boleh jadi terdapat partisipasi yang tidak seimbang, komunikasi yang buruk dan kebingungan.The power of two merupakan aktifitas pembelajaran yang digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat arti penting serta manfaat sinergi dua orang. Strategi ini mempunyai prinsip bahwa berfikir berdua jauh lebih baik dari pada berfikir sendiri.Aktivitas pembelajaran dengan kekuatan dua orang, digunakan untuk meningkatkan pembelajaran, dan menegaskan manfaat dari sinergi, yakni; bahwa dua kepala adalah lebih baik dari pada satu.
Keterampilan menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa produktif merupakan suatu hal yang paling kompleks yang membutuhkan beberapa syarat penguasaan kosakata, ketatabahasaan, kemampuan menyusun dan merangkaikan gagasan, serta mengembangkan gagasan dalam suatu kebutuhan yang logis,padat dan mudah dipahami. Oleh karena itu, siswa sangat dituntut dapat menguasai aspek–aspek yang termuat dalam keterampilan menulis agar dapat menuangkan
gagasannya secara terpadu dan dalambahasa yang dapat di mengerti oleh pembacanya.
Kegiatan menulis merupakan kegiatan yang menggunakan proses berpikir.
Proses berpikir tersebut dilakukan penulis dalam dua hal, yakni apa dan bagaimana cara menulis. Apa yang ditulis berkaitan dengan gagasan atau materi yang akan ditulis, sedangkanbagaimana cara menulis berkaitan dengan pengembangan gagasan. Proses menggali materi yang akan ditulis dilakukan melalui kegiatan pemilihan topik, pengumpulan bahan, perencanaan penataan tulisan, penetapan tujuan menulis dan pengembangan gagasan, Sejalan dengan pernyataan tersebut. Salahsatu tugas penting seorang penulis ialah menguasai cara menulis dan berpikir akan banyak membantu dalam usaha pencapaian sesuatu tujuan yang penting.(Enre; 1994)
Oleh karena itu, agar guru dapat mengetahui gambaran perkembangan belajar siswanya dilakukan berbagai cara yang benar-benar mengukur perkembangan siswa yang sebenarnya. Untuk itu, diterapkan berbagai teknik dan alat evaluasi untuk memperoleh informasi atau data tentang perkembangan kemampuan menulis siswanya, baik mengenai kesulitan, persepsi, maupun harapannya dalam pembelajaran menulis. Kegiatan ini dapat diketahui melalui berbagai teknik evaluasi, yaitu pengamatan dalam bentuk jurnal. Jurnal ini dapat berupa diaryatau catatan harian siswa lainnya.
Jurnal merupakan catatan harian siswa yang difungsikan untuk mendapatkan informasi tentang persepsi, interpretasi, harapan, dan kesulitan siswa dalam belajar dan memahami empat aspek keterampilan berbahasa dan
kaidah-kaidah berbahasa.Menggunakan jurnal sangat kondusif untuk melatih berpikir tentang mengapa sesuatu dilakukan atau bagaimana siswa dapat merefleksikan apa yang telah dipelajarinya dengan berbagai tanya jawab belajar terhadap dirinya sendiri dan dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang berbasis kelas.
Kemampuan menulis yang baik dan terstruktur dalam menuangkan gagasan dalam proses pembelajaran tidak diperoleh secara otomatis, akan tetapi melalui latihan, praktik yang banyak dan teratur serta cara atau strategi pembelajaran yang tepat. Dengan latihan dan praktik secara teratur untuk memperbaiki pembelajaran menulis dengan menggunakan strategi yang tepat, yakni jurnal harian siswa, maka hasil belajar pun akan lebih optimal dan lebih terkontrol.
Olehnya itu, dengan mengacu pada strategi pembelajaranThe Power Of Twodiharapkan dapat meningkatkan keterampilan yang dulunya minat dan
kekurangmampuan menulisnya rendah akhirnya menjadi tinggi.
Berangkat dari uraian tersebut, penulis akan melakukan sebuah penelitian dengan judul:” Upaya Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Menurut Jurnal Harian Dengan Menerapkan Strategi The Power Of TwoPada Siswa Kelas VII SMP Negeri I Tinggi Moncong Kabupaten Gowa”.
B. Rumusan Masalah
Penelitian ini menerapkan strategi kooperatif tipe The Power Of Twodalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan harapan dapat meningkatkan keterampilan
menulis Siswa Kelas VII SMP Negeri I Tinggi Moncong Kabupaten Gowa.
Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah: Apakah dengan menggunakan strategi The Power Of Two keterampilan menulis puisi Siswa Kelas VII SMP Negeri I Tinggi Moncong Kabupaten Gowa dapat meningkat ?
C. Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilanmenulis puisi dengan menggunakan strategi kooperatif tipe The Power Of Two dalam meningkatkan hasil belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri I Tinggi Moncong Kabupaten Gowa.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat yang bersifat teoretis dan praktis.
1. Manfaat Teoretis
a. Memperluas khazanah keilmuan bagi siswa tentang pembelajaran menulis dengan menggunakan jurnal harian sebagai bagian dari upaya untuk mengevaluasi dan merefleksikan hasil belajarnya sendiri.
b. Diharapkan mampu memberikan sumbangan teoretis dalam pembelajaran menulis secara umum.
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan masukan pengalaman praktik dalam melaksanakan pembelajaran.
b. Menjadi masukan bahan pertimbangan penentu kebijakan tentang strategi dalam proses pembelajaran,khususnya pada pembelajaran menulis.
c. Membawa dampak positif bagi siswa dalam upaya meningkatkan prestasi belajar menulis bahasa Indonesia.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS
A. Kajian pustaka
1. Penelitian yang Relevan
a. Penelitian dilakukan oleh Budi Arti Rahayu(2011) dengan judul “ Penerapan Strategi Pembelajaran The Power Of Two dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Aqidah Akhlak Siswa Kelas VII MTs Syaroful Millah Pengarong Semarang” hasilnya meningkat.
b. Penelitian dilakukan oleh Elianasari, Septin Dwi (2011) dengan judul
“Penerapan Model Pembelajaran The Power Of Twountuk Meningkatkan
Aktivitas dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas IVA SDN 1 Moyoketen Kabupaten Tulungagung” hasilnya meningkat.
c. Penelitian yang dilakukan terdapat kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis yakni menggunakan strategi pembelajaran The Power Of Two,.Jadinamun terdapat pula perbedaan dalam penelitian ini yakni pada mata pelajaran yang diajarkan, dilihat dari penelitian yang relevan di atas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian yang akan dilakukan oleh penulis ini akan berhasil.
2. Keterampilan Menulis a. Pengertian Menulis
Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil.
Namun dengan semakin berkembangnya teknologi seperti saat ini, menulis juga bisa dilakukan dengan menggunakan komputer atau laptop.
9
b. Tujunan Menulis
Adapun tujuan menulis yaitu:
1. Menginformasikan segala sesuatu, baik itu fakta, data maupun peristiwa termasuk pendapat dan pandangan terhadap fakta, data dan peristiwa agar khalayak pembaca memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru tentang berbagai hal yang dapat maupun yang terjadi di muka bumi ini.
2. Membujuk melalui tulisan seorang penulis mengharapkan pula pembaca dapat menentukan sikap, apakah menyetujui atau mendukung yang dikemukakannya. Penulis harus mampu membujuk dan meyakinkan pembaca dengan menggunakan gaya bahasa yang persuasif. Oleh karena itu, fungsi persuasi dari sebuah tulisan akan dapat menghasilkan apabila penulis mampu menyajikan dengan gaya bahasa yang menarik, akrab, bersahabat, dan mudah dicerna.
3. Mendidik adalah salah satu tujuan dari komunikasi melalui tulisan. Melalui membaca hasil tulisan wawasan pengetahuan seseorang akan terus bertambah, kecerdasan terus diasah, yang pada akhirnya akan menentukan perilaku seseorang. Orang-orang yang berpendidikan misalnya, cenderung lebih terbuka dan penuh toleransi, lebih menghargai pendapat orang lain, dan tentu saja cenderung lebih rasional.
4. Menghibur fungsi dan tujuan menghibur dalam komunikasi, bukan monopoli media massa, radio, televisi, namun media cetak dapat pula berperan dalam menghibur khalayak pembacanya. Tulisan-tulisan atau bacaan-bacaan
“ringan” yang kaya dengan anekdot, cerita dan pengalaman lucu bisa pula
menjadi bacaan penglipur lara atau untuk melepaskan ketegangan setelah seharian sibuk beraktifitas.
c. Tahap-tahap Menulis
Menulis adalah suatu proses kreatif yang dilakukan melalui tahapan yang harus dikerjakan dengan mengerahkan keterampilan, seni, dan kiat sehingga semuanya berjalan dengan efektif. Kegiatan menulis diibaratkan sebagai seorang arsitektur yang akan membangun sebuah gedung.
Sebuah sistem kerja yang kreatif memerlukan langkahlangkah yang tersusun secara sistematis. Kegiatan menulis juga memerlukan tahapan-tahapan tertentu di dalam prosesnya. Tahaptahapan menulis menurut M. Atar Semi (2007:
46) terbagi menjadi tiga, yaitu a) tahap pratulis, b) tahap penulisan, dan c) tahap penyuntingan.
Menurut Elina Syarif, Zulkarnaini, dan Sumarno (2009: 11) tahap-tahap menulis terdiri dari enam langkah, yaitu: a) draf kasar; b) berbagi; c) perbaikan; d) menyunting; e) penulisan kembali; f) evaluasi.
Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan mengenai tahap-tahap dalam menulis yaitu:
1. Tahap Pratulis
Tahap pratulis merupakan tahap paling awal dalam kegiatan menulis.
Tahap ini terletak pada sebelum melakukan penulisan. Di dalam tahap pratulis terdapat berbagai kegiatan yang dilakukan oleh penulis. Mulai dari menentukan
topik yang akan ditulis. Penulis mempertimbangkan pemilihan topik dari segi menarik atau tidaknya terhadap pembaca.
2. Tahap Pembuatan
Draf Draf yang dimaksud adalah tulisan yang disusun secara kasar. Pada kegiatan ini penulis lebih mengutamakan isi tulisan dari pada tata tulisnya sehingga semua pikiran, gagasan, dan perasaan dapat dituangkan ke dalam tulisan.
3. Tahap Revisi
Merevisi berarti memperbaiki, dapat berupa menambah yang kurang atau mengurangi yang lebih, menambah informasi yang mendukung, mempertajam perumusan penulisan, mengubah urutan penulisan pokok-pokok pikiran, menghilangkan informasi yang kurang relevan, dan lain sebagainya. penulis berusaha untuk menyempurnakan draf yang telah selesai agar tulisan tetap fokus pada tujuan.
4. Tahap Penyuntingan
Pada tahap penyuntingan penulis mengulang kembali kegiatan membaca draf.
Tulisan pada draf kasar masih memerlukan beberapa perubahan. Kegiatan selama tahap penyuntingan adalah meneliti kembali kesalahan dan kelemahan pada draf kasar dengan melihat kembali ketepatannya dengan gagasan utama, tujuan penulisan, calon pembaca, dan kriteria penerbitan.
5. Tahap Publikasi
Tahap publikasi merupakan tahap paling akhir dalam proses menulis.
Dalam tahap ini yang dilakukan adalah memublikasikan tulisannya melalui
berbagai kemungkinan misalnya mengirimkan kepada penerbit, redaksi majalah, dan sebagainya. Dapat pula dengan berbagi tulisan dengan berbagai pembaca.
3. Puisi
a. Pengertian Puisi
Puisi adalah karya sastra padat yang sangat hemat menggunakan kata-kata.
Kekuatannya terletak pada kata-kata yang dipilih, dengan prinsip sedikit kata tapi banyak makna. Dengan kata lain, bisa disimpulkan bahwa puisi adalah karangan yang terikat oleh pemilihan diksi, rima dan suku kata dengan bentuk yang berangkap.
Karakter puisi yang seperti ini mengharuskan penulis atau pengarangnya memiliki pemikiran yang dalam, dengan sensitifitas perasaan yang tinggi. Di samping kedalaman makna, dalam puisi juga terkandung keindahan kata. Dalam masyarakat Melayu, konsep keindahan tersebut biasanya berkaitan dengan unsur kekaguman pada alam, makna yang bersifat oposisi biner (seperti tinggi-rendah) ataupun pelbagai perasaan dalam menjalani kehidupan (seperti suka-duka).
Selain itu, keindahan juga dipengaruhi oleh kesamaan bunyi dalam bahasa itu sendiri (seperti ubi dengan budi; talas dengan balas). Unsur alam, persamaan dan pertentangan makna, pengalaman hidup dan kesamaan bunyi inilah yang membentuk konsep keindahan di mata orang Melayu. Berkaitan dengan unsur alam, contoh-contoh berikut menunjukkan jelasnya pengaruh tersebut dalam perkembangan puisi Melayu lama, di antaranya: keindahan rambut perempuan dianalogikan dengan mayang terurai, dagunya bak lebah bergantung dan matanya bagai bintang timur. Contoh-contoh lain yang berkaitan dengan persamaan dan
pertentangan makna, pelbagai ungkapan perasaan dan kesamaan bunyi sangat banyak terdapat dalam puisi lama.
b. Jenis-jenis Puisi 1. Puisi Lama
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :
a) Jumlah kata dalam 1 baris
b) Jumlah baris dalam 1 bait
c) Persajakan (rima)
d) Banyak suku kata tiap baris
e) Irama
a. Ciri puisi lama:
1) Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
2) Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
3) Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
b. Jenis-jenis puisi lama
1. Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Contoh:
Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang Mari kecil, kemari Aku menyanggul rambutmu Aku membawa sadap gading Akan membasuh mukamu
2. Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
Contoh:
Kalau ada jarum patah Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah Jangan dimasukkan ke dalam hati 3. Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
Contoh:
Dahulu parang sekarang besi (a) Dahulu sayang sekarang benci (a)
4. Seloka adalah pantun berkait.
Contoh:
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
5. Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
Contoh:
Kurang pikir kurang siasat (a) Tentu dirimu akan tersesat (a) Barangsiapa tinggalkan sembahyang (b)
Bagai rumah tiada bertiang (b) Jika suami tiada berhati lurus (c) Istri pun kelak menjadi kurus (c)
6. Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
Contoh:
Pada zaman dahulu kala (a) Tersebutlah sebuah cerita (a) Sebuah negeri yang aman sentosa (a) Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
7. Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.
Contoh:
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran Ikan panjang beli dahulu Kalau anak pergi berjalan Ibu cari sanak pun cari isi Induk semang cari dahulu
2. Puisi Baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
a. Ciri-ciri Puisi Baru:
1) Bentuknya rapi, simetris;
2) Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
3) Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
4) Sebagian besar puisi empat seuntai;
5) Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
6) Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata
4. Strategi Belajar The Power Of Two
The Power Of Twoartinya menggabung kekuatan dua orang. Menggabung
kekuatan dua orangdalam hal ini adalah membentuk kelompok kecil, masing- masing kelompok terdiri dari dua atau lima orang (siswa). Kegiatan ini dilakukan agar munculnya sinergi itu yaitu dua orang atau lebih tentu lebih baik dari pada satu.
Strategi pembelajaran the power of two ini adalah termasuk bagian dari active learning yang merupakan salah satu cara terbaik untuk meningkatkan belajar lebih aktif dengan pemberian tugas belajar yang dilakukan dalam dalam kelompok kecil siswa. Dukungan sesama siswa dan keragaman pendapat, pengetahuan, serta ketrampilan mereka akan membantu menjadikan belajar sebagai bagian berharga dari iklim di kelas. Namun demikian, belajar bersama tidaklah selalu efektif. Boleh jadi terdapat partisipasi yang tidak seimbang, komunikasi yang buruk dan kebingungan.
The power of two strategy atau strategi pembelajaran dengan kekuatan dua
orang, menurut Mafatih dalam Tarmizi termasuk bagian dari belajar kooperatif yaitu belajar dalam kelompok kecil dengan menumbuhkan kerjasama secara maksimal melalui kegiatan pembelajaran oleh teman sendiri dengan anggota dua orang di dalamnya untuk mencapai kompetensi dasar. Sedangkan menurut Muqowin dalam Tarmizi Ramadhan, strategi belajar kekuatan berdua (the power of two) adalah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan belajar kolaboratif dan mendorong munculnya keuntungan dari sinergi itu, sebab dua orang tentu lebih baik dari pada satu orang.
Menurut Hisyam Zaini, The power of two merupakan aktifitas pembelajaran yang digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat arti penting serta manfaat sinergi dua orang. Strategi ini mempunyai prinsip bahwa berfikir berdua jauh lebih baik dari pada berfikir sendiri. Aktivitas pembelajaran dengan kekuatan dua orang, digunakan untuk meningkatkan
pembelajaran, dan menegaskan manfaat dari sinergi, yakni; bahwa dua kepala adalah lebih baik dari pada satu.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran dengan kekuatan dua orang (The power of two strategy), merupakan pembelajaran kooperatif yang digunakan untuk meningkatkan pembelajaran kolaboratif, menumbuhkan kerjasama secara maksimal, dan memperkuat arti penting manfaat sinergi dua orang (dua kepala lebih baik dari pada satu), dalam pembelajaran ini siswa akan berkolaborasi dengan temannya (dua orang) untuk memperkuat pemahaman individu masing-masing.
Menurut Ismail, tujuan penerapan strategi ini adalah membiasakan belajar aktif secara individu dan kelompok karena belajar bersama hasilnya akan lebih berkesan.Asumsi atau teori yang mendasari model pembelajaran kooperatif dengan strategi the power of two adalah bahwa belajar paling baik ketika mereka dapat saling membimbing satu sama lain, memiliki tanggung jawab perorangan, dan terdapat kesepakatan untuk aktif dan saling interaktif.
Dengan demikian pembelajaran dengan strategi the power of two diharapkan dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar jenjang pendidikan formal, yaitu rendahnya aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dan rendahnya prestasi belajar siswa.
Dari uraian dapat dipahami bahwa strategi pembelajaranThe Power of Twoadalah suatu taktik atau trik yang harus dikuasai dan diterapkan oleh pendidik agar tujuan pembelajaran khusus (TPK) yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan menggabung kekuatan dua orang dalam proses belajar mengajar.
5. Konsep Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajaridengan cara menghubungkannya kehidupan dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadi, sosial, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembelajaran kontekstual akan menuntun siswa melalui kedelapan komponen utama pembelajaran kontekstual:
melakukan hubungan yang bermakna, mengejakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara dan merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan assesment authentic.Johnson (2002)
Pembelajaran kontekstual merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat manemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan.Sanjaya (2007)
Berangkat dari konsepsi ini diharapkan pembelajaran akan lebih bermakna.Proses pembelajaran akan berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami,bukan sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa.Seperti yang dikemukakan Sadirman (2003) bahwa dalam pembelajaran kontekstual ini adalah student learn by actively their own undestrnding, (cara belajar terbaik adalah siswa mengonstruksikan sendiri secara
aktif pemahamannya).
Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses
“mengonstruksi” bukan “menerima” pengetahuan. Dalam proses pembelajaran,
siswa membangun sendiri pengetahuan mereka malalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru.
Menurut Johnson (2002), ada delapan komponen utama (karakteristik) dalam sistem pembelajaran yang ideal (baca: kontekstual), seperti dalam rincian berikut:
a. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connection). Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing)
b. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work). Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.
c. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning). Siswa melakukam pekerjaan yang signifikan, ada tujuannya, ada urusanya dengan orang lain,ada hubunganya dengan penentuan pilihan,dan ada produknya/ hasilnya yang sifatnya nyata.
d. Bekerja sama (collaborating). Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok,membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
e. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creatve thinking).Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif, dapat
menganalisis,membuat sintesis, memecahkan masalah,membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-bukti.
f. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Siswa memelihara pribadinya, mengetahui memberi perhatian memeliki harapan- harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri.Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa. Siswa menghormati temannya dan juga orang dewasa.
g. Mencapai standar yang tinggi (Reaching higt standards). Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi, mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya.Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “exellence”.
h. Menggunakan penilaian otentik (using authentic assessment).
Selanjutnya, Sanjaya (2007) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam belajar kontekstual, yaitu: (a) Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengontruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki; (b) Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas; (c) Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkam masalah, anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intelektual akan tetapi, juga mental dam emosi; (d) Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari yang sederhana menuju yang kompleks; (e) Belajar pada hakekatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan.
6. Konsep Jurnal Harian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003), jurnal adalah buku catatan harian. Sedangkan Depdikbud (2004) mengemukakan bahwa jurnal adalah rekaman tertulis tentang apa yang telah dipelajari siswa. Jurnal dapat digunakan untuk merekam atau meringkas aspek-aspek yang berhubungan dengan topik- topik kunci yang dipengaruhi perasaan siswa terhadap pembelajaran, kesulitan yang dialami atau keberhasilan dalam memecahkan masalah, komentar yang dibuat siswa tentang upaya yang dilakukan dalam mencapai kompetensi yang dipelajari.
Jurnal merupakan catatan harian yang digunakan siswa untuk menulis respon, komentar, pertanyaan tentang teks yang dipelajari, apa yang dipikirkan siswa tentang pembelajaran menulis yang dialami, perasaan personal siswa terhadap pembelajaran atau refleksi siswa terhadap keseluruhan proses pembelajaran. Secara khusus, jurnal dapat berupa diary atau catatan siswa yang lainnya.
Menurut teori yang dikemukakan oleh De Porter (2002) dalam metode Quantum tesching-nya bahwa seorang guru menginginkan agar tetap menjaga
minat para siswanya adalah dengan menggunakan prinsip KEG, yakni know what you want (ketahuilah apa anda inginkan), Explain what you want (helaskanlah
yang ada inginkan), get whan you want (dapatkanlah yang anda inginkan). Prinsip ini di aktualisasikan dalam bentuk tanya jawab tentang pembelajaran yang terjadi dalam bentuk jurnal harian siswa.
Jurnal difungsikan untuk mendapatkan informasi tentang persepsi, interpretasi, harapan dan kesulitan siswa dalam belajar kemampuan menyimak,
kemampuan berbicara, kemampuan membaca, kemampuan menulis dan kemampuan menerapkan kaidah-kaidah bahasa dalam komunikasi. Jurnal memberikan informasi tentang minat, respon, dan pemahaman siswa dalam pembelajaran menulis.
Menggunakan jurnal harian dalam memperoleh informasi tentang sejarah siswa ketika belajar secara independen. Guru dapat memberdayakan siswa menjadi berhasil dan independen dalam belajar dengan dua cara, (1) Mendokumentasikan efektifitas pengajaran yang dilakukan guru untuk memperbaiki hasil belajar, dan (2) Guru menjadi mitra (partner) siswa dalam belajar (Eanes, 1997: 54).
Hakikat seorang pembelajar yang betul-betul independen adalah dia senantiasa peduli pada upaya untuk terus menerus meningkatkan kualitas belajarnya sendiri, sehingga dia tidak dapat melakukannya tanpa berpikir tentangnya, menyangkut bagaimana seseorang menginstropeksi gaya belajarnya sendiri. Instropeksi dikatakan sebagai perilaku “metakognitif” yang merupakan kemampuan untuk mengetahui apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui. Memikirkan bagaimana kita berpikir. Menjadi sadar akan langkah dan strategi yang diambil selama belajar atau memecahkan masalah, dan terus meningkatkan langkah danstrategi tersebut.
Kebanyakan siswa belum mampu merefleksikan belajarnya ke dalam jurnal harian sehingga dapat diktahui secara jelas gambaran pembelajarannya yang dapat membantu meningkatkan diri.Hal ini menyangkut analisis diri yang memerlukan pemikiran yang bermakna,tetapi bukan berarti evaluasi semacam ini menyita
banyak waktu. Siswa tidak dapat meningkatkan suatu proses yang tidak mereka sadari.
Karena kita semua adalah pembelajar, maka refleksi adalah penting bagi guru untuk bertanya kepada diri sendiri hal-hal yang berkaitan dengan cara mengajarnya dikelas. Begitupun halnya dengan siswa sebagai subjek utama pembelajar, jurnal sangat membantu pengembangan kemampuan refleksi dan instrospeksi siswa. Menggunakan jurnal sangat kondusif untuk melatih berpikir tentang mengapa sesuatu perlu dilakukan. Didalam jurnal harian dapat digunakan menulis pertanyaan, kesuksesan, pemikiran, frustasi.
Langkah-langkah pengembangan jurnal, meliputi:
1. Identifikasi kompetensi dan subkompetensi dalam menulis.
2. Identifikasi pertanyaan, pengalaman, perasaan, hambatan yang dialami siswa dalam proses menulis.
3. Identifikasi tindak lanjut yang diinginkan siswa yang berkaitan dengan pembelajaran.
Secara umum, langkah-langkah pengembangan jurnal yang ditawarkan Rose dan Nicholl sebagai berikut: (a) Apa yang paling anda senangi/ tidak senangi dari pelajaran hari ini? Kenapa?; (b) Apa, jika ada, yang tidak anda pahami?; (c) Apa yang bisa anda lakukan untuk menjamin agar itu bisa dipahami?; (d) Apakah bertanya kepada seorang teman?; (e) Apa sukses terbesar Anda hari ini?
(yakinkah bahwa anda dapat meluangkan waktu menikmatinya) ; (f)Teknik–
teknik belajar apakah yang paling cocok bagi anda?
B. Kerangka pikir
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dalam bidang pengajaran bahasa, yang dilakukan pada keterampilan
menulis bahasa Indonesia dengan menggunakan jurnal harian oleh siswa kelas VIISMP Negeri I Tinggi Moncong Kabupaten Gowa. Guru, siswa dan materi (kurikulum) merupakan faktor penting dalam penelitian ini, karena ketiga komponen tersebut memeliki keterkaitan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Kegiatan siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan jurnal harian sebagai perefleksi menjadi kajian utamadalam penelitian ini.
Pembelajaran menulis puisi dengan mengguanakn jurnal harian dalam penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi tindak lanjut yang diinginkan siswa dalam pembelajaran menulis puisi.
Proses pembelajaran tersebut dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus yang kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Dari penjelasan tersebut, dapat digambarkan bagan kerangka pikir berikut ini:
KTSP
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Menyimak Berbicara Membaca Menulis
Keterampilan Siswa Menulis
C. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: jika penggunaan strategi kooperatifThe Power Of Two ini dilakukan dengan benar akan meningkatkat keterampilan menulis siswa kelas VII SMP Negeri I Tinggi Moncong Kabupaten Gowa.
BAB III
METODE PENELITAN
A. Jenis Penelitian
Penelittian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus.Siklus I meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
Siklus II merupakan penyempurnaan dan perbaikan dari siklus I apabila masih terdapat kekurangan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitianini menggunakan pendekatan pembelajaran yaknipendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
B. Subjek dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri I Tinggi Moncong Kabupaten Gowa pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 selama dua bulan, dimulai pada bulan oktober sampai bulan Desember 2013. Subjek penelitggggggggggian adalah siswa kelas VII dengan jumlah 31 orang, yang terdiri dari 13 laki-laki dan 18 perempuan.
C. Fokus Penelitian
Penelitian ini difokuskan pada dua hal, yaitu proses belajar dan hasil belajar dalam pembelajaran menulis puisi dengan penerapan strategi The Power Of Two.
1. Proses belajar meliputi kehadiran dan aktivitas belajar siswa.
2. Hasil belajar yaitu hasil evaluasi setelah mengikuti proses belajar,
D. Prosedur Penelitian
BAGAN ALUR PENELITIAN 28
Bagan 3.1Adaptasi alur PTK Kammis dan Taggart (Arikunto dkk., 2009)
Prosedur penelitian dirancang atas II siklus yaitu : a) siklus pertama (4 kali pertemuan) dan b) siklus kedua (4 kali pertemuan). Tiap siklus terdiri atas empat tahap: (1)Tahap perencanaan (2)Tahap Tindakan (3)Tahap Observasi dan evaluasi (4)Tahap refleksi
Pelaksaan tindakan sikap siklus mengikuti langkah-langkah skenario sebagai berikut:
PRATINDAKAN
Perencanaan Tindakan
Refleksi
Observasi
Pelakasanaa Tindakan
Refleksi
Pelakasanaa Tindakan Observasi
SIKLUS I
SIKLUS II
Hasil Perencanaan
Tindakan
Siklus I
a. Perencanaan
1) Mengindetifikasi faktor-faktor penghambat dan pendukung yang dihadapi guru di kelas pada saat mengajar berdasarkan hasil observasi awal penelitian dalam pembelajaran keterampilan menulis puisi.
2) Melakukan diskusi dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia tentang media pembelajaran yang digunakan, yakni penggunaan media film dokumenter sebagai upaya untuk meningkat hasil belajar siswa.
3) Menentukan pokok bahasan atau bahan ajar yang akan diajarkan.
4) Mempersiapkan perangkat pembelajaran, yakni Rencana Pelaksaan Pembelajaran yang akan diajarkan, lembar penilaian dan lembar observasi sebagai pedoman dalam pengamatan.
b. Pelaksanakan Tindakan
1) Guru melakukan apsersepsi untuk mengetahui pengetahuan awal siswa dengan melakukan tanya jawab tentang menulis puisi.
2) Guru menjelaskan tentang media pembelajaran yang akan digunakan yakni tentang media film dokumenter.
3) Guru menjelaskan tentang manfaat strategi The Power Of Twodalam pembelajaran menulis puisi dengan memberikan arahan tentang cara menemukan ide atau gagasan yang baik kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan, tahap-tahap penulisan puisi yang baik dan cirri-ciri puisi yang baik.
4) Guru mengarahkan siswa agar memperhatikan film yang ditanyakan dengan saksama.
5) Guru memberikan arahan kepada siswa agar menulis puisi dengan ide kreatif sendiri.
c. Observasi dan Evaluasi
Observasi dilakukan menggunakan lembar observasi berupa pengamatan terhadap kehadiran dan keantusiasian, prosedur pembelajaran dengan langkah- langkahnya, perhatian atau konsentrasi, keaktifan dan keberanian siswa dalam mengemukakan gagasannya dalam bentuk tulisan selam proses pembelajaran.
Hasil tindakan dievaluasi dengan tes harian dan tes hasil belajar tes siklus I
d. Refleksi
1) Menganalisis tindakan yang baru dilaksanakan.
2) Mendiskusikan dan membahas kesesuaian tindakan dengan perencanaan yang telah dilaksanakan dan temuan lain yang muncul selama kegiatan pelaksanaan berlangsung.
3) Mendiskusikan dan menemukan pemecahan masalah apabila terdapat kendala dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
4) Melakukan pemaknaan dan penyimpulan data yang diperoleh.
Siklus II a. Perencaan
1) Mengidentifikasi kembali berbagai factor penghambat guru dalam menerapkan pembelajaran menulis puisi berdasarkan hasil siklus I.
2) Merumuskan kegiatan sebagai tindak lanjut usaha peningkatan bobot kemampuan guru dalam menerapkan penggunaan strategi The Power Of Twountuk mengukur hasil belajar siswa.
3) Menyiapkan lembar wawancara dan lembar observasi untuk memperoleh data siklus ke II.
b. Pelaksanakan Tindakan
1) Guru dan peneliti berkolaborasi melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan strategi The Power Of Twodalam meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya.
2) Peneliti bertindak sebagai pendamping juga sebagai pengamat terlibat di dalam proses pembelajaran.
3) Peneliti melaksanakan pemantauan atau pengamatan terhadap segala aspek yang mendukung dan yang menghambat pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan menggunakan strategi The Power Of Twodalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.
4) Pada pembelajaran siklus ke II ini disertai pemberian pemecahan kesulitan yang dialami siswa dalam menulis puisi melalui strategi The Power Of Two.
Memantau tindakan yang dilaksanakan (observasi)
c. Observasi dan Evaluasi
Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi berupa pengamatan terhadap kehadiran dan keantusiasian, prosedur pembelajaran dengan langkah-langkahnya, perhatian atau konsentrasi, keaktifan dan kreativitas siswa
dalam menulis puisi yang baik dengan tema yang menarik dan kalimat yang efektif.
d. Refleksi
1) Menganalisis hasil pengamatan dari penggunaan strategi The Power Of Twountuk meningkatkan hasil belajar siswa yang diperoleh pada tindakan
yang dilakukan.
2) Menemukan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai selama proses pembelajaran dan untuk mencari kelemahan-kelemahan yang masih muncul dalam pembelajaran di kelas.
3) Menyimpulkan hasil belajar siswa yang telah di capai dan mengetahui perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran menulis puisi melalui strategi The Power Of Two.
Hasil refleksi pada siklus I ini dijadikan bahan pertimbangan untuk membuat perencanaan pada tahap siklus II, sedangkan hal-hal yang sudah baik akan dipertahankan.
Gambaran Umum Siklus II
Siklus II dilaksanakna selama 4 kali pertemuan. Hal-hal pokok yang dilakukan adalah:
1. Tahap perencanaan
Pada tahap ini langkah-langklah yang dilakukan adalah:
a. Melanjutkan aktivitas yang telah dilakukan pada siklus I.
b. Memperbaiki dan membenahi kelemahan siklus I
c. Merencanakan kembali skenario pembelajaran merujuk dari hasil refleksi I.
2. Tahap pelaksaan tindakan
Pada tahap ini, tindakan yang dilakukan sesuai dengan perbaikan berdasarkan hasil dari refleksi siklus I. langkah yang dilakukan relative sama dengan pelaksaan pada siklus I dengan mengadakan perbaikan pada metode mengajar yang diterapkan.
3. Tahap obserevasi dan evaluasi
Pada prinsipnya observasi yang dilakukan pada siklus II hamper sama dengan observasi yang dilakukan pada siklus I.
4. Tahap refleksi
Dari hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpul dan dianalisis. Dari hasil yang didapatkan, penulis dapat mmbuat kesimpulan atas pembelajaran strategi The Power Of Two yang dilakukan selama II siklus.
E. Teknik Pengumpulan Data
Data hasil penelitian ini dikumpulkan melalui:
a. Lembar observasi yaitu untuk merekam proses belajar mengajar berlangsung berupa keberhasilan dan kelemahan tindakan yang diberikan.
b. Data tentang hasil siswa yang diperoleh dari tes pada saat proses ataupun setelah pembelajaran.
Data di atas dapat diperoleh melalui instrumen sebagai berikut:
1) Data hasil belajar pra siklus
Data didapatkan sebelum masuk dalam siklus penelitian, dilakukan di awal pertemuan dengan menggunakan tes awal.
2) Data hasil belajar pasca siklus
Data ini didapatkan setelah pelaksanaan siklus I dan siklus II. Hasil data ini untuk mengetahui peningkatan keterampilan membaca siswa secara individu, maka dilakukan kembali evaluasi tes akhir. Tetapi apabila tes hasil siklus II sudah mencapai batas ketuntasan, dalam artian 85 % siswa yang sudah mencapai nilai 65 ke atas, maka tidak perlu dilakukan evaluasi tes akhir (tes pasca tindakan).
F. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah lembar observasi. Lembar observasi digunakan untuk memperoleh informasi tentang kemampuan awal siswa sebelum proses pembelajaran serta penguasaan siswa terhadap mata pelajaran setelah proses pembelajaran.
Selain lembar observasi, peneliti mengunakan lembar penilaian sebagai alat untuk mengetahui keberhasilan tindakan penelitian.
G. Teknik Analisis Data
Analisis dan dilaksanakan berdasarkan analisis data strategi mengalir yakni dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul. Data tersebut direduksi berdasarkan masalah yang diteliti dan selanjutnya disusun dalam satuan-
satuan yang dikategorikan. Secara garis besar tahap analisis data diuraikan sebagai berikut:
1. Menelaah seluruh data
Data yang telah terkumpul berdasarkan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi ditelaah untuk melakukan proses transkripsi. Data yang telah ditranskripsikan dikelompokkan sesuai dengan masalah penelitian.
2. Meruduksi data
Pada tahap ini, data-data ditelaah kemudian diseleksi. Kegiatan mereduksi data dilakukan peneliti mulai dari pengumpulan data sampaikegiatan penyimpulan hasil kegiatan penelitian.
3. Penyajian data
Penyajian data dapat dilakukan dengan cara mengorganisasikan semua data yang telah direduksi dalam satuan peristiwa dan makna yang berkaitan dengan masalah penelitian. Penyajian dilakukan dengan sistematis, runtu, dan tersusun dengan baik agar mudah untuk menarik kesimpulan.
4. Menarik kesimpulan
Penggunaan strategi The Power Of twodalam upaya meningkatkan keterampilan menulis puisi siswa dikaitkan dengan ketuntasan belajar. Siswa yang mendapat nilai 65 ke atas dan mencapai 85% ke atas 40 siswa dalam pembelajaran menulis puisi melalui strategi ThePower Of Twodinyatakan berhasil oleh guru.
Dari 6 kategori yang telah ditentukan diberi skor maksimal 24. Rentang nilai dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3.1 Rentang Nilai Pembelajaran No. Interval Persentase
Tingkat Penguasaan
A – D Keterangan
1 85 – 100 A Baik Sekali
2 75 – 84 B Baik
3 65 – 74 C Cukup
4 <64 D Kurang
(modifikasi Nurgiyantoro, 2010:253)
H. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah siswa dikatakan tuntas apabila mencapainilai65 ke atas dan tuntas secara klasikal apabila mencapai 85%
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas VII.A SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa, mengkaji Meningkatan kemampuanmenulis puisi melalui Jurnal Harian dengan Menerapkapkan Strategi The Power Of Two Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa dilakukan terhadap 31 subjek penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil dianalisis data disajikan atas dua bagian, yaitu deskripsi hasil siklus I dan II.
1. Siklus I
Tahapan kegiatan siklus I, meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Tiap-Tiap hasil kegiatan diuraikan sebagai berikut:
a. Perencanaan
Perencanaan dilakukan sebagai langkah awal pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VII.A SMP Negeri Tinggimoncong Kabupaten Gowa dengan menggunakan Strategi The Power Of Two Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa . Aspek perencanaan, yaitu: menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran bahasa Indonesia dengan kompetensi dasar menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai, menyusun format penilaian kemampuan menulis puisi, dan menyusun lembar observasi proses pembelajaran dan aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pelajaran bahasa Indonesia. Selain itu, ditetapkan jadwalkan kegaitan pembelajaran bahasa Indonesia sebanyak 4 kali pertemuan, dan menetapkan indikator keberhasilan pembelajaran bahasa Indonesia yaitu sesuai standar KKM 65 dan ketuntasan belajar minimal 85 %.
b. Pelaksanaan Tindakan
38
Pelaksanaan tindakan sebanyak 4 kali pertemuan untuk mengajarkan materi pelajaran tentang menulis puisi dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VII.A SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa dengan menggunakan Strategi The Power Of Two Pada Siswa Kelas VII.A SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa. Pertemuan I tanggal 15 Januari 2014, pertemuan II tanggal 17 Januari 2014, pertemuan III tanggal 18 Januari 2014, dan pertemuan IV tanggal 20 Januari 2014 yang sekaligus dilakukan penilaian berdasarkan hasil kerja siswa (puisi). Proses pembelajaran bahasa Indonesia melalui Strategi The Power Of Two Pada Siswa di kelas VII.A SMP Negeri 1Tinggimoncong Kabupaten Gowa, dibagi tiga kegiatan, yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
Kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia aspek menulis puisi melalui Strategi The Power Of Two Pada Siswa di kelas VII . A SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa. diawali dengan berdoa dipimpin oleh ketua kelas dan absensi, apersepsi, memotivasi siswa untuk mengamati alam sekitar sebagai sumber belajar dan memiliki kesiapan belajar, kemudian mengemukakan tujuan pembelajaran menulis puisi dengan memanfaatkan alam sekitar berupa flora dan fauna sebagai sumber belajar. Kegiatan inti pembelajaran yaitu:
menyampaikan materi puisi dan unsur-unsur pembentuk puisi, dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis puisi, kemudian memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya jawab, kemudian membawa siswa keluar kelas untuk mengamati alam sekitar sebagai sumber belajar sebagai bahan dalam menulis
puisi dan setiap siswa dimintai mengamati dan mempelajari makna flora dan fauna pada alam sekitar sebagai bahan dalam menulis puisi disertai tanya jawab.
Setelah siswa mengamati alam sekitar sebagai sumber belajar dalam menulis puisi, siswa dilatih secara individu menulis puisi berdasarkan hasil pengamatan pada alam sekitar dengan memperhatikan penggunaan pilihan kata yang tepat. Selanjutnya, salah seorang siswa membaca puisinya sementara siswa lainnya mendengarkan, sementara guru membimbing siswa menemukan gagasan pokok isi puisi, ditindak lanjuti dengan tanya jawab materi menulis puisi.
Kegiatan akhir yaitu: siswa dan guru membuat kesimpulan, refleksi, pemberian pesan-pesan moral, dan menutup pelajaran.
c. Hasil Observasi dan Penilaian Keterampilan Menulis Puisi
Hasil observasi terhadap proses pembelajaran bahasa Indoensia, berupa aktivitas mengajar guru berdasarkan tahapan Strategi The Power Of Two, aktivitas belajar siswa, dan penilaian keterampilan menulis puisi, disajikan sebagai berikut:
1) Aktivitas guru
Hasil observasi aktivitas guru dalam mengajarkan materi menulis puisi dalam pembelajaran bahasa Indonesia melalui Strategi The Power Of Two di kelas VII.A SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa secara umum berlangsung cukup baik pada setiap pertemuan walaupun sebagian aspek masih berlangsung kurang baik.
Hasil observasi menunjukkan bahwa guru mempersiapkan siswa dengan menugaskan mempersiapkan peralatan menulis berlangsung cukup baik pada
pertemuan I, II, dan III, serta berlangsung dengan baik pada pertemuan IV.Hal ini berarti guru telah berupaya agar siswa memiliki kesiapan mengikuti pelajaran menulis puisi. Demikian pula menyampaikan tujuan pembelajaran menulis puisi melalui pemanfaatan alam sebagai sumber belajar menulis puisi yang dilakukan cukup baik setiap pertemuan (pertemuan I,II, III, dan IV).
Selama proses pembelajaran menulis puisi pada pertemuan I dan II, guru masih kurang maksimal memotivasi siswa mengikuti pelajaran, kemudian pertemuan berikutnya telah dilakukan cukup baik sehingga siswa cukup termotivasi belajar menulis puisi dengan memanfaatkan alam sebagai sumber belajar. Dalam hal penjelasan tujuan pemanfaatan alam sekitar sebagai sumber belajar menulis puisi, maka hal tersebut telah berlangsung cukup baik setiap pertemuan sehingga siswa memahami tujuan ke luar kelas mengamati alam sekitar sebagai bahan menulis puisi.Penyajian materi dilakukan dengan baik setiap pertemuan, karena guru menyajikan materi secara singkat, jelas, dan sistematis sehingga memudahkan siswa memahami materi menulis puisi.
Saat siswa keluar kelas mengamati alam sekitar sebagai bahan menulis puisi atau kegiatan memperoleh informasi, pelaksanaannya hanya sepintas pada pertemuan I dan II yaitu sekitar 15 menit menulis, kemudian pertemuan berikutnya telah berlangsung cukup baik karena siswa diberi kesempatan sekitar 20 menit mengamati alam sekitar sebagai bahan untuk menulis puisi. Setelah siswa mengamati alam sekitar, siswa masuk kembali ke kelas untuk berlatih menulis puisi berdasarkan hasil pengamatan yang berlangsung baik, karena setiap siswa diberi kesempatan menulis puisi berdasarkan hasil pengamatan setiap
pertemuan berkaitan dengan keadaan flora dan fauna dengan waktu cukup memadai.Setelah itu, siswa diberi kesempatan membacakan puisinya walaupun pelaksanaannya masih kurang baik. Hal ini dikarenakan setiap pertemuan hanya 2 siswa yang tampil ke depan kelas membacakan puisinya. Demikian halnya tanya jawab materi pelajaran dan tentang hasil kerja siswa juga masih berlangsung kurang baik pada pertemuan I, II, dan III, karena kurang merangsang partisipasi siswa untuk bertanya jawab sehingga hanya sebagian kecil siswa aktif bertanya jawab. Demikian pula pemberian penguatan atau penghargaan atas hasil kerja siswa juga masih kurang baik, karena kurang memperhatikan pentingnya pemberian penguatan.Pada akhir pertemuan, guru menyimpulkan materi walaupun pelaksanaannya masih kurang, karena kurang melibatkan siswa menyimpulkan materi pelajaran berkaitan dengan menulis puisi dan pemanfaatan alam sebagai sumber belajar.
2) Aktivitas belajar siswa
Hasil observasi aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pelajaran bahasa Indonesia melalui Strategi The Power Of Two di kelas VII.A SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa, disajikan sebagai berikut:
Tabel 4.1. Hasil Observasi Siswa Selama Mengikuti Pembelajaran Siklus I
No Aspek yang diamati Pertemuan Ke- Rata-
Rata
Persentase I II III IV (%)
1 Jumlah siswa yang hadir
padasaat kegiatan
pembelajaran
27 25 29 31 28 90,32
2 Siswa yang memperhatikan
pada saat proses
pembelajaran
25 27 29 30 27,75 89,51
3 Siswa yang aktif pada saat latihan diberikan dalam proses pembelajaran
15 17 20 25 19,25 62,09
4 Siswa yang masih perlu bimbingan dalam menulis puisi
20 19 18 20 19,25 62,09
5 Siswa yang kurang terampil menulis puisi dengan baik dan benar.
25 24 25 28 25,5 82,25
6 Siswa yang mampu menulis puisi dan mengerjakan latihan dengan baik dan benar
10 15 10 10 11,25 36,29
7
(main-main, ribut, keluar masuk kelas, menganggu, dan lain-lain)
9 6 6 2 5,75 13,06
Hasil observasi di atas menunjukkan bahwa tidak semua siswa aktif mengikuti pelajaran dari awal hingga akhir pembelajaran bahasa Indonesia melalui Strategi The Power Of Two. Ada sebagian siswa kurang aktif mengikuti pelajaran, khususnya menyimak penjelasan guru tentang menulis puisi, mengamati alam sekitar sebagai sumber dalam menulis puisi, dan menyimpulkan materi pelajaran.Bahkan hanya sebagian kecil siswa aktif bertanya jawab dengan sesama siswa dan guru. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi pemahaman terhadap materi dan pada gilirannya mempengaruhi keterampilan menulis puisi dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VII.A SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa.
3) Hasil belajar
Rekapitulasi nilai keterampilan menulis puisi dalam pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan hasil tes siklus I, disajikan sebagai berikut:
Tabel 4.2. Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Siklus I
Aspek-aspek yang dianalisis Nilai
Subjek penelitian 31
Nilai ideal 100
Nilai Tertinggi 80
Nilai Terendah 40
Range (jarak) 40
Nilai rata-rata 61.77
Jumlah Nilai 1915
Sumber: Hasil analisis hasil belajar siswa siklus I (lampiran 6)
Tabel 4.2 tersebut memberi gambaran bahwa nilai keterampilan menulis puisi pada siklus I, yaitu rata-rata 61,77 nilai tertinggi adalah 80 sementara nilai terendah 40. Dari 31 subjek penelitian, jumlah nilai adalah 1915. Hal ini memberi gambaran bahwa keterampilan menulis puisi dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VII.A SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa pada umumnya masih perlu ditingkatkan melalui Strategi The Power Of Two dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Kemampuan menulis puisi melalui Strategi The Power Of Two di kelas di kelas VII.A SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa, disajikan sebagai berikut:
Tabel 4.3. Keterampilan Menulis Puisi pada Siklus I
Interval Kategori Frekuensi Persentase
80 – 100 Sangat terampil 3 9.66
70 – 79 Terampil 10 32.2
60 – 79 Cukup terampil 7 22.54
50 – 59 Kurang terampil 4 12.88
≤ 49 Tidak terampil 7 22.54
J u m l a h 31 100,00
Sumber: Hasil tes siklus I (lampiran 6)
Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki keterampilan menulis puisi pada kategori cukup terampil sebesar 22,54 %, disusul
kategori kurang terampil sebesar 12,88 %, kategori terampil sebesar 32,2 %, tidak terampil sebesar 22.54 %, dan hanya 9.66 % siswa pada kategori sangat terampil.
Sesuai nilai rata-rata keterampilan menulis puisi pada siklus I sebesar 61,22 (lampiran 6) dan dikonsultasikan dengan interval pada tabel 4.3, maka nilai rata- rata tersebut berada pada kategori cukup terampil, walaupun masih terdapat 12.88
% siswa masih kurang terampil dan 22.54 % tidak terampil dalam menulis puisi.
Ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas VII.A SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa melalui Strategi The Power Of Two berdasarkan hasil tes siklus I, disajikan sebagai berikut:
Tabel 4.4. Ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus I
Standar KKM Ketuntasan Belajar Frekuensi Persentase
65 Tuntas 14 45.08
< 65 Tidak tuntas 17 54,74
J u m l a h 31 100,00
Sumber: Hasil tes siklus I (lampiran 6)
Tabel 4.4 tersebut memberi gambaran bahwa ketuntasan belajar siswa di kelas VII.A SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa pada siklus I, yaitu tuntas belajarnya sebanyak 14 siswa (45.08%) berdasarkan standar KKM 65, sedangkan belum tuntas belajarnya sebanyak 17 siswa (54,74 %). Hal ini berarti sebagian besar siswa belum tuntas belajarnya atau belum mencapai kriteria ketuntasan belajar yang ditetapkan, yaitu minimal 85 % dari 31 subjek penelitian sehingga pelaksanaan penelitian harus dilanjutkan pada siklus berikutnya (siklus II).
d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi proses pembelajaran bahasa Indonesia dan penilaian kemampaun menulis puisi melalui Strategi The Power Of Twokelas VII.A SMP Negeri 1 Tinggimoncong Kabupaten Gowa , maka dilakukan refleksi oleh guru dan observer untuk mengkaji keberhasilan yang dicapai sekaligus kelemahan yang terjadi sehingga menjadi masukan dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia pada siklus II. Hal ini dilakukan karena hasil penilaian keterampilan menulis puisi pada siklus I belum mencapai indikator keberhasilan pembelajaran yaitu siswa tuntas belajarnya kurang dari 85 % siswa memperoleh nilai minimal 65 ke atas. Hasil refleksi pada siklus I sebagai berikut:
1) Selama proses pembelajaran bahasa Indonesia melalui Strategi The Powe Of Two, langkah-langkah pembelajaran belum diterapkan secara maksimal
berdasarkan tahapan master. Hal ini terkait dengan kurangnya waktu yang diberikan kesempatan siswa memperoleh informasi saat melakukan pengamatan terhadap alam sekitar sebagai bahan untuk menulis puisi sekaligus menyelidiki makna pada alam sekitar. Demikian pula tidak memberi kesempatan kepada semua siswa untuk membacakan hasil karyanya sebagai tahapan pada tipe master yaitu memamerkan apa yang diketahui. Demikian pula tanya jawab pembelajaran kurang maksimal karena hanya melibatkan sebagian siswa, seperti halnya saat menyimpulkan materi pelajaran, karena hanya sebagian kecil siswa aktif menyimpulkan materi pelajaran. Oleh karena itu, langkah-langkah Stragei The Power Of Two harus diterapkan secara