Peningkatan kapasitas kelembagaan daerah dalam mendukung Rencana Terpadu
dan Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) bidang Cipta Karya di Kabupaten Balangan
sangat dibutuhkan sehingga program investasi ini dapat dilaksanakan secara optimal, efektif
serta terjamin keberlanjutannya. Di dalam pelaksanaan/implementasi RPIJM bidang Cipta
Karya di Kabupaten Balangan melibatkan banyak komponen kelembagaan sehingga terjalin
koordinasi dan sinkronisasi program/kegiatan di bidang keciptakaryaan sesuai tugas pokok
dan fungsi masing-masing lembaga. Semangat desentralisasi penyelenggaraan pemerintah
daerah, sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang Nomer 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah beserta aturan-aturan pelaksanaanya membutuhkan upaya-upaya
terkoordinasi agar tujuan pelaksanaan kebijakan otonomi di daerah tercapai.
Selanjutnya pedoman/acuan pengembangan kapasitas sebagaimana dirumuskan
dalam Kerangka Nasional Pembangunan dan Peningkatan Kapasitas (KNP2K) dalam rangka
mendukung desentralisasi yang dikeluarkan bersama oleh Menteri Dalam Negeri dan
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS tanggal 6
Nopember 2002, merujuk pada kebutuhan untuk menyempurnakan peraturan dan
perundangan dengan melakukan reformasi kelembagaan, memperbaiki tata kerja dan
mekanisme koordinasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM)-ketrampilan
dan kualifikasi, perubahan pada sistem nilai dan sikap, dan keseluruhan kebutuhan ekonomi
daerah bagi pendekatan baru untuk pelaksanaan good governance, sistem administrasi dan
mekanisme parisipasi dalam pembangunan agar dapat memenuhi tuntutan untuk lebih baik
dalam melaksanakan demokrasi.
Adapun prinsip dari pelaksanaan pengembangan dan peningkatan kapasitas
(capacity building) adalah:
Pengembangan kapasitas bersifat multi dimensional (mencakup beberapa kerangka waktu, jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek)
Pengembangan kapasitas menyangkut multiple stakeholder
Pengembangan kapasitas harus bersifat demand driven, dimana kebutuhannya tidak ditentukan dari atas/luar tetapi datang dari stakeholder-nya sendiri
Pengembangan kapasitas mengacu pada kebijakan nasional.
6 - 1
LAPORAN AKHIR
6.1. ARAHAN KEBIJAKAN KELEMBAGAAN BIDANG CIPTA KARYA
Beberapa kebijakan berikut merupakan landasan hukum dalam pengembangan dan
peningkatan kapasitas kelembagaan RPIJM pada pemerintahan Kabupaten Balangan.
1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Dalam UU 32/2004 disebutkan bahwa Pemerintah Daerah mengatur danmengurus
sendiri urusan pemerintahan dan menjalankan otonomi seluas-luasnya,dengan tujuan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dandaya saing daerah.
Untuk membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan otonomi, maka dibentuklah
organisasi perangkat daerah yang ditetapkan melaluiPemerintah Daerah. Dasar utama
penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalahadanya urusan
pemerintahan harus dibentuk ke dalam organisasi tersendiri. Besaran organisasi
perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkanfaktor kemampuan
keuangan, kebutuhan daerah, cakupan tugas yang meliputisasaran tugas yang harus
diwujudkan, jenis dan banyaknya tugas, luas wilayahkerja dan kondisi geografis, jumlah
dan kepadatan penduduk, potensi daerah yangbertalian dengan urusan yang akan
ditangani, dan sarana dan prasaranapenunjang tugas. Oleh karena itu, kebutuhan akan
organisasi perangkat daerahbagi masing-masing daerah tidak senantiasa sama atau
seragam.
2. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan
PP tersebut mencantumkan bahwa bidang pekerjaan umum merupakan bidangwajib
yang menjadi urusan pemerintah daerah, dan pemerintah berkewajiban untuk
melakukan pembinaan terhadap pemerintah kabupaten/kota.
PP 38/2007 ini juga memberikan kewenangan yang lebih besar kepadaPemerintah
Kabupaten/Kota untuk melaksanakan pembangunan di Bidang Cipta Karya. Hal ini dapat
dilihat dari Pasal 7 Bab III, yang berbunyi:
(1) Urusan wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) adalah
urusanpemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan daerah
provinsi danpemerintahan daerah kabupaten/kota, berkaitan dengan pelayanan
dasar.
(2) Urusan wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: antara lainnyaadalah
bidang pekerjaan umum”.
Dari pasal tersebut, ditetapkan bahwa bidang pekerjaan umum merupakan bidangwajib
yang menjadi urusan pemerintah daerah, sehingga penyusunan RPIJM sebagai salah
satu perangkat pembangunan daerah perlu melibatkan Pemerintah, pemerintah
provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
6 - 2
LAPORAN AKHIR
3. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tahun 2007 tentang Organisasi Daerah
Berdasarkan PP 41 tahun 2007, bidang PU meliputi bidang Bina Marga, Pengairan, Cipta
Karya dan Penataan Ruang. Bidang PU merupakan perumpunanurusan yang diwadahi
dalam bentuk dinas. Dinas ditetapkan terdiri dari 1sekretariat dan paling banyak 4
bidang, dengan sekretariat terdiri dari 3 subbagian dan masing-masing bidang terdiri
dari paling banyak 3 seksi.
4. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010-2014
Dalam Buku II Bab VIII Perpres ini dijabarkan tentang upaya untuk
meningkatkankapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi diperlukan adanya upaya
penataan kelembagaan dan ketalalaksanaan, peningkatan kualitas sumber daya
manusiaaparatur, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, penyempurnaan
sistem perencanaan dan penganggaran, serta pengembangan sistem
akuntabilitaskinerja instansi pemerintah dan aparaturnya.Untuk mendukung penataan
kelembagaan, secara beriringan telah ditempuh upaya untuk memperkuat aspek
ketatalaksanaan di lingkungan instansi pemerintah, seperti perbaikan standar operasi
dan prosedur (SOP) dan penerapane-government di berbagai instansi. Sejalan dengan
pengembangan manajemenkinerja di lingkungan instansi pemerintah, seluruh instansi
pusat dan daerah diharapkan secara bertahap dalam memperbaiki sistem
ketatalaksanaan denganmenyiapkan perangkat SOP, mekanisme kerja yang lebih efisien
dan efektif, danmendukung upaya peningkatan akuntabilitas kinerja.
5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2010 Tentang GrandDesign
Reformasi Birokrasi 2010-2025
Tindak lanjut dari Peraturan Presiden ini, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 30
Tahun 2012 tentang Pedoman Pengusulan, Penetapan, dan PembinaanReformasi
Birokrasi pada Pemerintah Daerah. Berdasarkan peraturan menteri ini,reformasi
birokrasi pada pemerintah daerah dilaksanakan mulai tahun 2012,dengan dilakukan
secara bertahap dan berkelanjutan sesuai dengan kemampuanpemerintah
daerah.Permen ini memberikan panduan dan kejelasan mengenaimekanisme serta
prosedur dalam rangka pengusulan, penetapan, dan pembinaanpelaksanaan reformasi
birokrasi pemerintah daerah.Upaya pembenahan birokrasi di lingkungan Direktorat
Jenderal Cipta Karya telah dimulai sejak tahun 2005. Pembenahan yang dilakukan
adalah menyangkut 3(tiga) pilar birokrasi, yaitu kelembagaan, ketatalaksanaan, dan
Sumber Daya Manusia (SDM).Untuk mendukung tercapainya good governance, maka
perlu dilanjutkan dandisesuaikan dengan program reformasi birokrasi pemerintah, yang
terdiri darisembilan program, yaitu:
6 - 3
LAPORAN AKHIR
a. Program Manajemen Perubahan, meliputi: penyusunan strategi
manajemenperubahan dan strategi komunikasi K/L dan Pemda, sosialisasi
daninternalisasi manajemen perubahan dalam rangka reformasi birokrasi
b. Program Penataan Peraturan Perundang-undangan, meliputi: penataanberbagai
peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan/diterbitkan oleh K/L dan Pemda
c. Program Penguatan dan Penataan Organisasi, meliputi: restrukturisasi tugasdan
fungsi unit kerja, serta penguatan unit kerja yang menangani organisasi,tata laksana,
pelayanan publik, kepagawaian dan diklat
d. Penataan Tatalaksana, meliputi: penyusunan SOP penyelenggaraan tugasdan fungsi,
serta pembangunan dan pengembangan e-government
e. Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur, meliputi: penataan system rekrutmen
pegawai, analisis dan evaluasi jabatan, penyusunan standarkompetensi jabatan,
asesmen individiu berdasarkan kompetensi
f. Penguatan Pengawasan, meliputi: penerapan Sistem Pengendalian
InternPemerintah (SPIP) dan Peningkatan peran Aparat Pengawasan
InternPemerintah (APIP)
g. Penguatan Akuntabilitas, meliputi: penguatan akuntabilitas kinerja
instansipemerintah, pengembangan sistem manajemen kinerja organisasi
danpenyusunan Indikator Kinerja Utama (IKU)
h. Penguatan Pelayanan Publik, meliputi: penerapan standar pelayanan padaunit kerja
masing-masing, penerapan SPM pada Kab/Kota.
i. Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan.
6. Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Genderdalam
Pembangunan Nasional
Di dalam Inpres ini dinyatakan bahwa pengarusutamaan gender ke dalam seluruhproses
pembangunan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatanfungsional semua
instansi dan lembaga pemerintah di tingkat Pusat dan Daerah.Presiden
menginstruksikan untuk melaksanakan pengarusutamaan gender guna terselenggaranya
perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan dan
program pembangunan nasional yangberperspektif gender sesuai dengan bidang tugas
dan fungsi, sertakewenangan masing-masing. Terkait PUG, Kementerian PU dan Ditjen
Cipta Karya pada umumnya telah mulaimenerapkan PUG dalam tiap program/kegiatan
Keciptakaryaan. Untuk itu perludiperhatikan dalam pengembangan kelembagaan bidang
Cipta Karya untukmemasukkan prinsip-prinsip PUG, demikian pula di dalam pengelolaan
RPIJM bidang Cipta Karya.
6 - 4
LAPORAN AKHIR
7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 Tentang
StandarPelayanan Minimum
Peraturan Menteri PU ini menekankan tentang target pelayanan dasar bidang PUyang
menjadi tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota. Target pelayanan dasaryang
ditetapkan dalam Permen ini yaitu pada Pasal 5 ayat 2, dapat dilihat sebagaibagian dari
beban dan tanggungjawab kelembagaan yang menangani bidang ke PU an, khususnya
untuk sub bidang Cipta Karya yang dituangkan di dalamdokumen RPIJM.Dalam Permen
ini juga disebutkan bahwa Gubernur bertanggung jawab dalamkoordinasi
penyelenggaraan pelayanan dasar bidang PU, sedangkanBupati/Walikota bertanggung
jawab dalam penyelenggaraan pelayanan dasar bidang PU. Koordinasi dan
penyelenggaraan pelayanan dasar Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
dilaksanakan oleh instansi yang bertanggung jawab di Bidang PU dan Penataan Ruang
baik provinsi maupun kabupaten/kota.
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis
Penataan Organisasi Perangkat Daerah
Peraturan menteri ini menjadi landasan petunjuk teknis dalam penataan perangkat
daerah. Berdasarkan Permen ini dasar hukum penetapan perangkat daerah adalah
Peraturan Daerah (Perda). Penjabaran tupoksi masing-masing SKPD Provinsi ditetapkan
dengan Pergub, dan SKPD Kab/Kota dengan Perbup/Perwali.
9. Permendagri Nomor 57 tahun 2010 tentang Pedoman Standar PelayananPerkotaan
Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan bagi pemerintah daerah sebagai dasar untuk
memberikan pelayanan perkotaan bagi masyarakat. SPP adalah standar pelayanan
minimal kawasan perkotaan, yang sesuai dengan fungsi kawasan perkotaan merupakan
tempat permukiman perkotaan, termasuk di dalamnya jenispelayanan bidang
keciptakaryaan, seperti perumahan, air minum, drainase,prasarana jalan lingkungan,
persampahan, dan air limbah.
10. Kepmen PAN Nomor 75 tahun 2004 tentang Pedoman Perhitungan Kebutuhan
Pegawai Berdasarkan Beban Kerja Dalam Rangka Penyusunan Formasi Pegawai
Negeri Sipil
Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan bagi setiap instansi pemerintah dalam
menghitung kebutuhan pegawai berdasarkan beban kerja dalam rangka penyusunan
formasi PNS. Dalam perhitungan kebutuhan pegawai, aspek pokokyang harus
diperhatikan adalah: beban kerja, standar kemampuan rata-rata, dan waktu kerja.
Dalam keputusan ini, Gubernur melakukan pembinaan danpengendalian pelayanan
6 - 5
LAPORAN AKHIR
perkotaan, sedangkan Bupati/Walikota melaksanakandan memfasilitasi penyediaan
pelayanan perkotaan.Berdasarkan peraturan-peraturan di atas, maka dimungkinkan
untuk mengeluarkanperaturan daerah untuk pemantapan dan pengembangan
perangkat daerah,khususnya untuk urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum dan
lebih khusus lagi tentang urusan pemerintahan pada sub bidang Cipta Karya. Dengan
adanya suatukelembagaan yang definitif untuk menangani urusan pemerintah pada
bidang/subbidang Cipta Karya maka diharapkan dapat meningkatkan kinerja pelayanan
kelembagaan.
6.2. KERANGKA KELEMBAGAAN
6.2.1. KONDISI KELEMBAGAAN KABUPATEN BALANGAN
Kabupaten Balangan merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai
Utara (Amuntai) yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003. Sebagai
daerah otonom, Kabupaten Balangan memiliki sejumlah lembaga yang menjalankan roda
pemerintahan dan pelayanan publik, termasuk pelayanan publik bidang PU/Cipta Karya.
SKPD yang memiliki tanggung jawab dalam kegiatan-kegiatan pada RPIJM Kabupaten
Balangan antara lain sebagai berikut:
1. Dinas Pekerjaan Umum
2. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
3. Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan
4. Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan
5. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
Tugas dan fungsi, serta susunan organisasi masing-masing SKPD tersebut
berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Balangan no. 3 tahun 2008.
A. Dinas Pekerjaan Umum
Dinas Pekerjaan Umum mempunyai tugas melaksanakan urusan pekerjaan umum
berdasarkan asas otonomi dan tugas pembentukan. Dinas Pekerjaan Umum dalam
melaksanakan tugasnya menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang pekerjaan umum
2. Pembinaan teknis, pengawasan, dan pengendalian urusan bina marga
3. Pembinaan teknis, pengawasan, dan pengendalian urusan cipta karya dan tata ruang
4. Pembinaan teknis, pengawasan, dan pengendalian urusan jasa konstruksi dan
peralatan
5. Pembinaan teknis, pengawasan, dan pengendalian urusan pengairan
6. Pemberian perijinan dan pelayanan umum
7. Pengelolaan unit pelaksana teknis
8. Pelayanan administrasi dan pengelolaan urusan ketatausahaan.
6 - 6
LAPORAN AKHIR
Susunan organisasi Dinas Pekerjaan Umum terdiri dari:
1. Sekretariat terdiri dari:
a. Sub bagian umum dan kepegawaian
b. Sub bagian program dan pelaporan
c. Sub bagian keuangan
2. Bidang Bina Marga terdiri dari:
a. Seksi bidang teknik kebinamargaan
b. Seksi pembangunan jalan dan jembatan
c. Seksi pemeliharaan dan peningkatan jalan dan jembatan
3. Bidang Cipta Karya dan Tata Ruang terdiri dari:
a. Seksi bidang teknik cipta karya, tata ruang dan tata kota
b. Seksi gedung dan perumahan
c. Seksi lingkungan dan permukiman
4. Bidang Jasa Konstruksi dan Peralatan terdiri dari:
a. Seksi peralatan
b. Seksi logistik
c. Seksi pembinaan jasa konstruksi
5. Bidang Pengairan terdiri dari:
a. Seksi bina teknik pengairan
b. Seksi pemeliharaan irigasi, sungai, dan rawa
c. Seksi peningkatan dan pembangunan irigasi, sungai, dan rawa
6. UPT
7. Kelompok Jabatan Fungsional
B. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah mempunyai tugas menyusun dan
melaksanakan kebijakan daerah di bidang perencanaan pembangunan daerah. Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah dalam melaksanakan tugasnya menyelenggarakan
fungsi:
1. Perumusan kebijakan teknis perencanaan pembangunan daerah
2. Pengkoordinasian penyusunan perencanaan pembangunan daerah
3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas perencanaan di bidang fisik dan tata ruang
4. Pembinaan dan pelaksanaan tugas perencanaan di bidang perekonomian
5. Pembinaan dan pelaksanaan tugas perencanaan di bidang pemerintahan, sosial, dan
budaya
6. Pembinaan dan pelaksanaan tugas perencanaan di bidang statistik, penelitian, dan
pengembangan
7. Pelayanan administrasi dan pengelolaan urusan ketatausahaan.
6 - 7
LAPORAN AKHIR
Susunan organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah terdiri dari:
1. Sekretariat terdiri dari:
a. Sub bagian umum dan kepegawaian
b. Sub bagian program dan pelaporan
c. Sub bagian keuangan
2. Bidang Fisik dan Tata Ruang terdiri dari:
a. Sub bidang fisik prasarana
b. Sub bidang tata ruang
3. Bidang Ekonomi terdiri dari:
a. Sub bidang pertanian dan pengairan
b. Sub bidang dunia usaha
4. Bidang Pemerintahan, Sosial, dan Budaya terdiri dari:
a. Sub bidang pemerintahan, sosial, dan budaya
b. Sub bidang pendidikan dan kesehatan
5. Bidang Statistik, Penelitian, dan Pengembangan terdiri dari:
a. Sub bidang statistik dan data
b. Sub bidang penelitian, pengembangan, dan pengendalian
6. Kelompok Jabatan Fungsional
C. Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan
Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan mempunyai tugas melaksanakan
penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang lingkungan hidup dan kebersihan.
Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan dalam melaksanakan tugasnya menyelenggarakan
fungsi:
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang lingkungan hidup dan kebersihan
2. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintah daerah di bidang lingkungan
hidup dan kebersihan
3. Pembianaan dan pelaksanaan tugas di bidang pemantauan dan analisa pengendalian
dampak lingkungan
4. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang pengawasan, pengendalian, dan
pemulihan lingkungan
5. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang pertamanan dan penerangan jalan
umum
6. Pembinaan teknis, pengawasan, dan penggendalian urusan kebersihan
7. Pengelolaan unit pelaksana teknis
8. Pelayanan administrasi dan pengelolaan urusan ketatausahaan.
6 - 8
LAPORAN AKHIR
Susunan organisasi Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan terdiri dari: 1. Sekretariat terdiri dari:
a. Sub bagian umum dan kepegawaian b. Sub bagian program dan pelaporan c. Sub bagian keuangan
2. Bidang Pemantauan dan Analisa Dampak Lingkungan terdiri dari: a. Sub bidang pemantauan kualitas lingkungan dan teknis amdal b. Sub bidang evaluasi dan laboratorium
3. Bidang Pengawasan, Pengendalian, dan Pemulihan Lingkungan terdiri dari:
a. Sub bidang perizinan dan pengendalian limbah bahan berbahaya beracun (B3) b. Sub bidang pemulihan kualitas lingkungan
4. Bidang Pertamanan dan Penerangan Jalan terdiri dari: a. Sub bidang pertamanan
b. Sub bidang penerangan jalan umum 5. Bidang Kebersihan terdiri dari:
a. Sub bidang kebersihan lingkungan dan persampahan b. Sub bidang kebersihan pasar dan drainase
6. UPT
7. Kelompok Jabatan Fungsional
D. Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan
Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan mempunyai tugas melaksanakan urusan pemuda, olahraga, pariwisata, dan kebudayaan berdasarkan asa otonomi dan tugas pembantuan. Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan dalam melaksanakan tugasnya menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang pemuda, olahraga, pariwisata, dan kebudayaan
2. Pembinaan teknis, pengawasan, dan pengendalian kegiatan kepemudaan 3. Pembinaan teknis, pengawasan, dan pengendalian kegiatan keolahragaan 4. Pembinaan teknis, pengawasan, dan pengendalian kegiatan kepariwisataan
5. Pembinaan teknis, pengawasan, dan pengendalian kegiatan kebudayaan dan kesenian
6. Pemberian perijinan dan pelayanan umum 7. Pengelolaan unit pelaksana teknis
8. Pelayanan administrasi dan pengelolaan urusan ketatausahaan
Susunan organisasi Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan terdiri dari:
1. Sekretariat terdiri dari:
a. Sub bagian umum dan kepegawaian b. Sub bagian program dan pelaporan c. Sub bagian keuangan.
6 - 9
LAPORAN AKHIR
2. Bidang Pemuda terdiri dari:
a. Seksi pengembangan anak, remaja, dan pemuda b. Seksi produktifitas kepemudaan
c. Seksi lembaga kepemudaan 3. Bidang Olahraga terdiri dari:
a. Seksi pengembangan olahraga pemuda dan masyarakat
b. Seksi pengembangan prestasi c. Seksi pengelolaan fasilitas olahraga
4. Bidang Pariwisata terdiri dari:
a. Seksi pembinaan dan pengembangan potensi pariwisata b. Seksi jasa dan pelestarian obyek wisata
c. Seksi pemasaran dan pameran obyek wisata 5. Bidang Kebudayaan dan Kesenian terdiri dari:
a. Seksi bina bakat dan pelestarian seni daerah
b. Seksi sejarah, cagar budaya, dan pelestarian nilai budaya daerah c. Seksi gelar kesenian dan budaya daerah
6. UPT
7. Kelompok Jabatan Fungsional
E. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
Susunan organisasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terdiri dari: 1. Direktur
2. Kepala Bagian Administrasi dan Keuangan 3. Kepala Bagian Teknik
Dalam penyusunan RPI2JM Kabupaten Balangan ini harus didukung oleh berbagai komponen lembaga dalam penyelenggaraannya sehingga dapat menggambarkan interaksi pengelolaan antar beberapa komponen lembaga yang harus terintegrasi, efektif dan efisien,
sehingga sangat tergantung pada efektivitas beberapa komponen lembaga yang terlibat dalam penyusunan RPI2JM ini. Berdasarkan fakta ini, maka rencana pengembangan
kapasitas dalam penyelenggaraan investasi jangka menengah diarahkan untuk menjamin adanya penguatan kelembagaan, perbaikan tata kerja dan mekansme koordinasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang mencakup peningkatan
keterampilan dan kualifikasi, perbaikan sistem administrasi dan peningkatan partisipasi dalam pembangunan di Kabupaten Balangan. Dalam rangka itu rencana peningkatan
kapasitas disusun berdasarkan prinsip: 1. Berjangka waktu, yaitu 5 tahun 2. multiple stakeholder
3. bersifat demand driven, dimana kebutuhannya tidak ditentukan dari atas / luar tetapi datang dari stakeholder-nya sendiri
4. mengacu pada kebijakan nasional.
6 - 10
LAPORAN AKHIR
Diagram 6.1.
Hubungan Kordinasi Antar Pemerintahan
Tugas Pokok :
Melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan azas otonomi dan tugas
pembantuan dibidang perumahan dan permukiman yang meliputi bidang perumahan,
bidang penataan ruang dan bangunan, bidang pengembangan air minum dan penyehatan
lingkungan serta bidang kebersihan.
Fungsi:
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang perumahan dan pemukiman sesuai dengan
kebijakan yang ditetapkan Bupati
2. Pembinaan, pengawasan, pengendalian dan pelaksanaan kegiatan bidang perumahan.
3. Pembinaan, pengawasan, pengendalian dan pelaksanaan kegiatan bidang penataan
ruang dan bangunan
4. Pembinaan, pengawasan, pengendalian dan pelaksanaan bidang pengembangan air
minum dan penyehatan lingkungan
5. Pembinaan, pengawasan, pengendalian dan pelaksanaan bidang kebersihan
6. Penyelenggaraan pelayanan umum di bidang perumahan dan pemukiman
7. Penyelenggaraan urusan kesekretariatan
8. Pembinaan terhadap Unit Pelayanan Teknis
9. Pembinaan terhadap Kelompok Jabatan Fungsional
Dari Fungsi yang dijalankan Dinas Perumahan dan Pemukiman tersebut, maka dibagi
dalam 4 (empat) bidang, yaitu:
1. Bidang Perumahan
2. Bidang Penataan Ruang dan Bangunan
3. Bidang Pengembangan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan
4. Bidang Kebersihan.
Pemerintah Pusat
Satker & Cabang Dinas Pusat Di
Provinsi
6.2.2. KONDISI KETATALAKSANAAN BIDANG CIPTA KARYA
Prinsip-prinsip hubungan kerja yang diuraikan di atas perlu dituangkan di dalam
Peraturan Daerah tentang keorganisasian Pemerintah Kabupaten/kota, khususnya
menyangkut tupoksi dari masing-masing instansi pemerintah bidang keciptakaryaan.
Seperti telah dipaparkan sebelumnya urusan penyelenggaraan pengembangan permukiman
secara teknis pada dasarnya ditangani oleh beberapa SKPD yakni Dinas Perumahan dan
Permukiman, Badan Pemberdayaan Masyarat dan Pemerintahan Desa, Bappeda dan juga
PDAM. Namun demikian terdapat juga SKPD lain yang mendukung penyelenggaraan
pengembangan permukiman dari aspek non teknis yaitu Dinas Kesehatan. Upaya dukungan
tersebut dilaksanakan oleh Seksi Penyehatan Lingkungan, Bidang Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan (P2PL). Seluruh lembaga yang terlibat dalam penyelenggaraan
pengembangan permukiman ini pada dasarnya memiliki tugas yang saling terkait baik dalam
fase perencanaan, pelaksanaan, maupun pada fase operasi dan pemeliharaan.
A. Organisasi Penyelenggara Pengembangan Permukiman
Tugas dan fungsi Penyelenggaraan Organisasi Pengembangan Permukiman berada
pada Dinas Perumahan dan Permukiman di Bidang Perumahan dengan tugas dan fungsinya
adalah:
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang perumahan dan pemukiman sesuai dengan
kebijakan yang ditetapkan Bupati
2. Pembinaan, pengawasan, pengendalian dan pelaksanaan kegiatan bidang perumahan.
3. Penyelenggaraan pelayanan umum di bidang perumahan dan pemukiman
Unsur-Unsur dinas daerah dan lembaga daerah yang terkait dalam penyelenggaraan
Pengembangan Permukiman ini adalah:
1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
2. Badan Lingkungan Hidup
3. Dinas Perumahan dan Permukiman
4. Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air
5. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
6. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa
7. PDAM.
6 - 12
LAPORAN AKHIR
Diagram 6.2.
Bagan Hubungan Kerja Sama Berbagai Pihak dalam Pengembangan Perumahan dan Permukiman di Kabupaten Balangan
B. Organisasi Penyelenggara Penataan Bangunan Dan Lingkungan
Tugas dan fungsi Penyelenggaraan Organisasi Pengembangan Permukiman berada pada Dinas Perumahan dan Permukiman di Bidang Perumahan dengan tugas dan fungsinya
adalah:
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang perumahan dan pemukiman sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan Bupati
1. Pembinaan, pengawasan, pengendalian dan pelaksanaan kegiatan bidang penataan ruang dan bangunan.
2. Penyelenggaraan pelayanan umum di bidang perumahan dan pemukiman
Unsur-unsur dinas daerah dan lembaga daerah yang terkait dalam penyelenggaraan Bidang Penataan Ruang dan Bangunan ini adalah:
1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah 2. Badan Lingkungan Hidup
3. Dinas Perumahan dan Permukiman 4. Dinas Kesehatan
5. Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah 6. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa.
6 - 13
LAPORAN AKHIR
Upaya penataan bangunan dan lingkungan dalam RPIJM pada dasarnya merupakan
upaya untuk mengendalikan pemanfaatan ruang terutama untuk mewujudkan lingkungan
binaan, khususnya mewujudkan fisik bangunan gedung dan lingkungan yang layak huni dan
berjati diri. Upaya ini dilakukan secara umum dengan 4 strategi besar sebagai berikut:
1. Penyelenggaraan penataan bangunan gedung agar tertib, fungsional, andal, dan efisien
2. Penyelenggaraan penataan lingkungan permukiman agar produktif dan berjatidiri
3. Penyelenggaraan penataan dan revitalisasi kawasan dan bangunan agar dapat
memberikan nilai tambah fisik, social, dan ekonomi.
4. Penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan untuk mewujudkan arsitektur
perkotaan, dan pelestarian arsitektur bangunan gedung yang dilindungi dan dilestarikan
untuk menunjang kearifan budaya lokal.
Keempat strategi tersebut di atas dijalankan dalam Program Bangunan Gedung,
Program Bangunan Gedung dan Rumah Negara, Program Penataan Lingkungan
Permukiman, dan Program Pemberdayaan Masyarakat di Perkotaan. Program-program
tersebut dikemas dalam kelompok kegiatan sebagai berikut:
1. Kegiatan pembinaan teknis bangunan dan gedung
2. Kegiatan penataan lingkungan permukiman
3. Kegiatan pemberdayaan masyarakat di perkotaan.
C. Organisasi Penyelenggara Penyehatan Lingkungan Permukiman
Tugas dan fungsi Penyelenggaraan Organisasi Pengembangan Permukiman berada
pada Dinas Perumahan dan Permukiman di Bidang Perumahan dengan tugas dan fungsinya
adalah:
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang perumahan dan pemukiman sesuai dengan
kebijakan yang ditetapkan Bupati
2. Pembinaan, pengawasan, pengendalian dan pelaksanaan bidang kebersihan
3. Pembinaan, pengawasan, pengendalian dan pelaksanaan bidang pengembangan air
minum dan penyehatan lingkungan.
4. Penyelenggaraan pelayanan umum di bidang perumahan dan pemukiman
Unsur-unsur dinas daerah dan lembaga daerah yang terkait dalam penyelenggaraan
Bidang Penyehatan Lingkungan Permukiman ini adalah:
1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
2. Badan Lingkungan Hidup
3. Dinas Perumahan dan Permukiman
4. Dinas Kesehatan
5. PDAM
6. Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
7. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa.
6 - 14
LAPORAN AKHIR
Upaya penyehatan lingkungan permukiman dalam RPIJM pada dasarnya diarahkan
untuk :
1. Pengembangan system pengelolaan air limbah, yang dilakukan melalui program:
a. Pengembangan system pengelolaan air limbah terpusat (sewerage system)
b. Pembangunan sarana pengelolaan air limbah komunal berbasis masyarakat
(Sanimas)
c. Sarana pengolahan air limbah menunjang kawasan RSH
d. Pembinaan system pengelolaan air limbah
e. Pengembangan perencanaan pengelolaan air limbah
f. Perluasan cakupan pelayanan air limbah
g. Peningkatan system pengolahan lumpur tinja
h. Pengembangan pembangunan PS air limbah yang bertumpu pada partisipasi
masyarakat
i. Pengelolaan system air limbah terpadu mendukung perlindungan sumber daya air
j. Pengembangan kapasitas masyarakat dan swasta
k. Pembangunan kapasitas pendanaan
l. Promosi pengelolaan air limbah
m. Pengembangan inovasi teknologi.
2. Pengembangan sistem pengelolaan persampahan, yang dilakukan melalui program:
a. Pengembangan TPA Regional
b. Peningkatan kinerja TPA serta up grade TPA open dumping (mendukung UU
Sampah)
c. Pengelolaan persampahan terpadu 3R
d. Pembinaan sistem pengelolaan persampahan
e. Pengembangan perencanaan pengelolaan persampahan
f. Pengurangan timbulan sampah
g. Perluasan cakupan pelayanan persampahan
h. Peningkatan kualitas sistem pengolahan akhir sampah
i. Peningkatan pengelolaan sampah terpadu mendukung perlindungan sumber daya
air
j. Pengembangan kapasitas masyarakat dan swasta meningkatkan sistem pengelolaan
persampahan.
6 - 15
LAPORAN AKHIR
k. Pembangunan kapasitas pendanaan pengelolaan persampahan
l. Promosi sistem pengelolaan sampah
m. Pengembangan inovasi teknologi sistem pengelolaan persampahan.
3. Pengembangan system pengelolaan drainase, yang dilakukan melalui program:
a. Pembinaan pengelolaan system drainase
b. Pengembangan program dan perencanaan pembangunan system drainase
c. Pembangunan PS sistem drainase mendukung kawasan strategis / tertentu dan
pemulihan dampak bencana dan kerusuhan
d. Pengembangan PS drainase skala kawasan / lingkungan berbasis masyarakat
e. Pengelolaan system drainase terpadu mendukung konservasi sumber daya air
f. Pengembangan kapasitas pendanaan pembangunan system drainase
g. Promosi pengelolaan PS system drainase
h. Pengembangan inovasi teknologi system drainase.
D. Organisasi Penyelenggaraan Pengelolaan Air Limbah Domestik
Operasionalisasi penyelenggaraan urusan ini dijalankan oleh seksi perumahan dan
permukiman (Dinas Perumahan dan Permukiman). Tugas Seksi Perumahan dan
Permukiman terkait dengan pengelolaan air limbah domestik saat ini di dalam Peraturan
Bupati tersebut memang tidak dinyatakan secara jelas. Seksi ini dalam praktik
menjalankan tugas pengelolaan air limbah domestik yang menjadi tugas Dinas
Perumahan dan Permukiman yang tertuang di dalam pasal 5 Peraturan Bupati No. 25
tahun 2009. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa Dinas Perumahan dan Permukiman
bertanggungjawab untuk penanganan:
a. Pemberian izin penyelenggaraan PS air limbah
b. Penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana air limbah
c. Penyelenggaraan bantuan teknis kepada kecamatan, pemerintah desa, serta
kelompok masyarakat di wilayahnya dalam penyelenggaraan PS air limbah
d. Penyelenggaraan pembangunan PS air limbah untuk daerah dalam rangka
memenuhi SPM
e. Penyusunan rencana induk pengembangan PS air limbah.
f. Monitoring penyelenggaraan PS air limbah
g. Evaluasi terhadap penyelenggaraan PS air limbah.
6 - 16
LAPORAN AKHIR
Tabel 6.1.
Daftar Pemangku Kepentingan Dalam Pembangunan dan Pengelolaan Air Limbah Domestik
Fungsi
Pemangku Kepentingan Pemerintah
Kabupaten/Kota Swasta Masyarakat
PERENCANAAN
• Menyusun target pengelolaan air limbah domestk skala kab/kota - - -
• Menyusun rencana program air limbah domestik dalam rangka pencapaian target
- - -
• Menyusun rencana angggaran program air limbah domestik dalam rangka pencapaian target
- - -
PENGADAAN SARANA
• Menyediakan sarana awal pembuangan air limbah - - -
• Membangun sarana pengumpulan dan pengolahan awal ( tangki septik )
- - -
• Menyediakan sarana pengangkutan dari tangki septik ke IPLT ( truck tinja )
- - -
• Membangun jaringan atau saluran pengaliran air limbah dari sumber ke IPAL ( pipa kolektor )
- - -
• Membangun sarana IPLT dan atau IPAL - - -
PENGELOLAAN
• Meyediakan layanan penyedotan lumpur tinja - - -
• Mengelola IPLT dan atau IPAL - - -
• Melakukan penarikan retribusi penyedotan lumpur tinja - - -
• Memberikan izin usaha pengelolaan air limbah domestik, dan atau penyedotan air limbah domestik
- - -
• Melakukanpengecekan kelengkapan utilitas teknis bangunan (tangki septik, dan saluran drainase lingkungan) dalam pengurusan IMB
- - -
PENGATURAN DAN PEMBINAAN
•
Mengatur prosedur penyediaan layanan air limbah domestik
(pengangkutan, personil, peralatan, dll) - - -
•
Melakukan sosialisasi peraturan dan pembinaan dalam hal pegelolaan air limbah domestik
- - -
•
Memberikan sanksi terhadap pelanggaran pengelolaan air limbah domestik
- - -
MONITORING DAN EVALUASI
•
Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap capaian target pengelolaan air limbah domestik skala kab/kota
- - -
•
Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kapasitas infrastruktur sarana pengelolaan air limbah domestik
- - -
•
Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas layanan air limbah dometik, dan atau menampung serta mengelola keluhan atas layanan air limbah domestik
- - -
•
Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap baku mutu air limbah domestik
- - -
6 - 17
LAPORAN AKHIR
Tabel 6.2.
Daftar Peraturan Air Limbah Domestik Kabupaten Balangan
Peraturan
Ketersediaan Pelaksanaan
Ket
• Target capaian pelayanan pengelolaan
air limbah domestk di Kab. Balangan - V - - -
• Kewajiban dan sanksi bagi Pemerintah Kabupaten Balangan dalam
penyediaan layanan pengelolaan air limbah domestik
- V - - -
• Kewajiban dan sanksi bagi Pemerintah Kabupaten Balangan dalam
memberdayakan masyarakat dan badan usaha pengelolaan air limbah domestik
- V - - -
• Kewajiban dan sanksi bagi Masyarakat dan atau pengembang untuk
menyediakan sarana pengelolaan air limbah domestik
- V - - -
• Kewajiban dan sanksi bagi Industri rumah tangga untuk menyediakan sarana pengelolaan air limbah domestik di tempat usaha
- V - - -
• Kewajiban dan sanksi bagi kantor untuk menyediakan sarana pengelolaan air limbah domestik di tempat usaha
- V - - -
• Kewajibanpenyedotan air limbah domestik utk masyarakat, industri rumah tangga, dan kantor pemilik tangki septik
- V - - -
• Retribusi penyedotan air limbah
domestk - V - - -
• Tata cara perizinan untuk kegiatan pembuangan air limbah domestik bagi kegiatan permukiman, usaha rumah tangga, dan perkantoran
- V - - -
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kab. Balangan Tahun 2015
Struktur Organisasi Pengelola Limbah Domestik berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten
Balangan Nomor 3 Tahun 2008 adalah BLHK (Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan)
Kabupaten Balangan.
6 - 18
LAPORAN AKHIR
Diagram 6.3.
Struktur Organisasi Badan Lingkungan Hidup dan Limbah Domistik
6 - 19
LAPORAN AKHIR
E. Organisasi Penyelenggaraan Pengelolaan Drainase Lingkungan
Konsep drainase yang dulu dipakai di Indonesia (paradigma lama) adalah drainase
pangatusan yaitu mengatuskan air kelebihan (utamanya air hujan) ke badan air
terdekat. Air kelebihan secepatnya dialirkan ke saluran drainase, kemudian ke sungai,
dan akhirnya ke laut, sehingga tidak menimbulkan genangan atau banjir. Konsep
pengatusan ini masih dipraktekkan masyarakat sampai sekarang. Pada setiap proyek
drainase, dilakukan upaya untuk membuat alur-alur saluran pembuang dari titik
genangan kearah sungai dengan kemiringan yang cukup untuk membuang sesegera
mungkin genangan tersebut. Drainase pengatusan semacam ini adalah drainase yang
lahir sebelum pola pikir komprehensif berkembang, dimana masalah genangan, banjir,
kekeringan dan kerusakan masih dipandang sebagai masalah lokal dan sektoral yang
bisa diselesaikan secara lokal dan sektoral pula tanpa melihat kondisi sumber daya air
dan lingkungan di hulu, tengah dan hilir secara komprehensif.
Tugas Seksi Perumahan dan Permukiman terkait dengan pengelolaan drainase saat ini di dalam
Peraturan Bupati tersebut tidak dinyatakan secara jelas. Namun demikian Seksi ini dalam praktik
menjalankan tugas pengelolaan drainase yang menjadi tugas Dinas Perumahan dan Permukiman
bertanggungjawab untuk penanganan:
a. Peningkatan kapasitas teknik dan manajemen penyelenggaraan drainase dan pematusan
genangan
b. Penyelesaian masalah dan permasalahan operasionalisasi sistem drainase dan
penanggulangan banjir
c. Penyelenggaraan pembangunan dan pemeliharaan PS drainase
d. Evaluasi terhadap penyelenggaraan sistem drainase dan pengendali banjir
e. Pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan drainase dan pengendalian banjir
Struktur Organisasi Pengelola Drainase berdasarkan Peraturan Daerah
Kabupaten Balangan Nomor 3 Tahun 2008 adalah DPU (Dinas Pekerjaan Umum Bidang
Cipta Karya dan Tata Ruang) Kabupaten Balangan.
6 - 20
LAPORAN AKHIR
Diagram 6.4.
Struktur Organisasi Badan Lingkungan Hidup dan Drainase
6 - 21
LAPORAN AKHIR
F. Organisasi Penyelenggaraan Penyusunan RPIJM
Selain organisasi penyelenggaraan urusan bidang keciptakaryaan yang telah
dikemukakan di atas, terdapat organisasi yang bertugas untuk menyelenggarakan kegiatan
penyusunan RPIJM dan memegang peran strategis dalam pelaksanaan RPIJM yang akan
datang di Kabupaten Balangan. Organisasi tersebut adalah Satuan Tugas (SATGAS)
Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Bidang PU/Cipta Karya
Kabupaten Balangan yang dibentuk atas dasar SK Bupati Balangan. Satgas RPIJM ini pada
dasarnya bertugas untuk:
1. Tim Pengarah:
a. Memberikan arahan kebijakan untuk kegiatan Pendampingan Penyusunan Rencana
Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Bidang PU Cipta Karya.
b. Menetapkan kebijakan program dan anggaran yang akan dialokasikan kedalam
APBN dan APBD Kabupaten
2. Tim Pelaksana :
a. Melaksanakan tugas Pendampingan Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka
Menengah (RPIJM) Bidang PU Cipta Karya
b. Melaksanakan tugas pembangunan kelembagaan dan sumber daya manusia di
tingkat kabupaten
c. Melaksanakan tugas evaluasi atas usulan RPIJM Kabupaten yang akan dihasilkan dari
proses pendampingan ini.
3. Tim Sekretariat :
a. Melaksanakan tugas untuk memberikan dukungan teknis, administrasi, dan logistik
pada Tim Pengarah dan Tim Pelaksana
b. Menyelenggarakan sistem informasi manajemen untuk pengendalian dan evaluasi
pelaksanaan RPIJM Kabupaten
c. Melaksanakan tugas lain yang diinstruksikan oleh Tim Pengarah dan Tim Pelaksana.
Secara diagramatis, Struktur Organisasi Satgas RPIJM Kabupaten Balangan adalah
sebagai berikut :
6 - 22
LAPORAN AKHIR
Diagram 6.5.
Struktur Organisasi Satgas RPIJM Bidang PU/Cipta Karya Kabupaten Balangan
6.2.3. KONDISI SUMBER DAYA MANUSIA
Potensi sumber daya manusia yang terdapat di Kabupaten Balangan terkait
pelaksanaan kegiatan RPI2JM bidang Cipta karya masih perlu ditingkatkan. Hal tersebut
dikarenakan belum optimalnya satuan tugas yang terlibat dalam penyusunan RPIJM Bidang
Cipta Karya. Hal tersebut menjadi salah satu kendala internal yang perlu diperhatikan
karena mengingat pentingnya dokumen RPIJM ini dalam pelaksanaan maupun
pembangunan infrastruktur khususnya bidang Cipta Karya di Kabupaten Balangan.
Identifikasi mengenai kondisi organisasi menguraikan secara sistematis tentang dasar
hukum, kedudukan, tugas, fungsi, dan wewenang instansi-instansi terkait langsung dengan
RPIJM Kabupaten Balangan yang disusun dalam perencanaan, pemrograman, pelaksanaan,
dan operasi pemeliharaan.
Terkait dengan penyusunan RPIJM bidang Pu/Cipta Karya Kabupaten Balangan,
maka lembaga pemerintahan (instansi-instansi) yang terkait sesuai PP RI Nomor 41 Tahun
2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah yaitu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
dan Penanaman Modal (Bappeda & PM) Kabupaten Balangan, Dinas Pekerjaan Umum
Kabupaten Balangan, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kabupaten Balangan,
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Balangan dan Badan pengawasan
Bangunan dan Tata Ruang, Dinas Tata Kota dan sebagainya. Dalam kaitannya dengan
reformasi birokrasi, penataan sistem manajemen SDM aparatur merupakan program ke-5
dari Sembilan program reformasi birokrasi, yang perlu ditingkatkan tidak hanya dari segi
kuantitas tetapi juga kualitas. Bagian ini menguraikan kondisi SDM di keorganisasian
instansi yang menangani bidang Cipta Karya, yang dapat dilakukan dengan melihat tabel
berikut mengenai komposisi pegawai dalam unit kerja bidang Cipta Karya. TIM SEKRETARIAT TIM PENGARAH
BUPATI BALANGAN
TIM PELAKSANA
6 - 23
LAPORAN AKHIR
Tabel 6.3.
Struktural Urusan Bidang Keciptakaryaan Kabupaten Balangan
Organisasi Jabatan Struktural Nama Pangkat /
Golongan Ruang
Masa
Kerja Pengalaman Pelatihan
Dinas Pekerjaan Umum
Dinas Kesehatan Dinas Bina Marga dan Sumber daya Air
Kepala Dinas H. EDY HARIANTO, ST, MT IV/b - -
Sekertaris M. IRWAN LAFONI, ST IV/b - -
Plt. Kasubag Umum dan Kepegawaian NOVIA JUSMITA, ST IV/b - - Kasubag Program dan Pelaporan BUDI ANSARI, SE III/c - -
Kasubag Keuangan ROSMA HILDA, ST III/c - -
Pengurus Barang LISA INDRIA SARI. A, A.Md II/d - -
Pulahta Prog. & Lap ZEKI MUTTAQIN, SH III/b - -
Bendahara Pengeluaran H. AKHMAD FAUZI III/a - -
Bendahara Penerimaan NOVA DAMAIYANTI II/c - -
Pembantu Bendahara ERLIANSYAH II/a - -
Kepala Bidang Bina Marga CECEP RUSWANTORO, ST III/d - - Kepala Bidang Cipta Karya dan Tata
Ruang
RAHMADIAH, ST III/c - -
Kepala Bidang Jasa Konstruksi dan Peralatan
HASBIANOOR, ST III/d - -
Kepala Bidang Pengairan FARID WAJIDI, ST. MT III/d - - Kasi Pembangunan Jalan dan Jembatan M. SIGIT K. W, ST III/d - - Kasi Pemeliharaan/ Peningkatan Jalan dan
Jembatan
RINA ARYANI, ST III/d - -
Kasi Bina Teknik Cipta Karya, Tata Ruang dan Tata Kota
HERBERT SIHOMBING, ST III/b - -
Kasi Gedung dan Perumahan SUNTARI SRI REJEKI, ST III/c - -
Kasi Lingkungan dan Permukiman ALPIANOOR, ST III/c - -
Kasi Peralatan RUSLI III/c - -
Kasi Pembinaan Jasa Konstruksi NASIR ARIE ROSADI, ST III/c - - Kasi Bina Teknik Kebinamargaan DIMAS FEBRIANDIE,ST, MT III/c - - Kasi Pemeliharaan Irigasi rawa dan sungai RINI MARIANA, ST III/c - -
Kasi Bina Teknik Pengairan YUNI TRESNA, ST III/c - -
Kabid. Bidang Fisik dan Prasarana PIETA WIDHIASARI, ST III/c - -
Sumber; PU Cipta Karya
6 - 24
LAPORAN AKHIR
6.3. ANALISIS KELEMBAGAAN
6.3.1. ANALISA KEORGANISASIAN BIDANG CIPTA KARYA
Permasalahan pertama dari keberlanjutan program jangka menengah adalah
konsistensi implementasi terutama dari aktor yang mempunyai keterkaitan tugas secara
langsung. Proses mutasi pegawai menjadi salah satu faktor yang langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap keberlanjutan program. Karena dengan adanya mutasi
personil yang disebabkan perubahan jabatan mengakibatkan akan adanya pergantian anggota dari Satgas RPIJM. Hal tersebut yang dapat mengakibatkan adanya kesenjangan
pengetahuan, perhatian dan kepekaan program antara anggota lama dan baru. Dan proses adaptasi memerlukan waktu yang relatif lama, oleh karena itu dalam rangka peningkatan
kapasitas kelembagaan diperlukan adanya strategi yang tepat dalam menyikapi proses perubahan personil Satgas dengan menggunakan pola tambal sulam dengan tetap
mempertahankan anggota lama untuk sementara waktu.
Selain itu terdapat masalah koordinasi, kewenangan dan tanggung jawab dalam
penyediaan, pengelolaan dan pengawasan oleh tiap-tiap instansi pemerintahan selaku
opertor utama dalam hal pembangunan wilayah. Dalam pelaksanan pembangunan keciptakaryaan maupun bidang-bidang lain koordinasi antar organisasi pemerintahan yang
terkait dalam pembangunan infrastruktur wilayah sangat penting agar proses pembangunan dan pengelolaan tidak parsial atau sepotong-sepotong melainkan menyeluruh.
6.3.2. ANALISIS KE TATA LAKSANA AN BIDANG CIPTA KARYA
Peningkatan kapasitas kelembagaan dalam mendukung Rencana Terpadu dan
Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) bidang PU/Cipta Karya di Kabupaten Balangan sangat dibutuhkan sehingga program investasi ini dapat dilaksanakan secara optimal, efektif
dan efisien serta terjamin keterlanjutannya. Di dalam pelaksanaan/implementasi RPIJM
bidang Cipta Karya di Kabupaten Balangan melibatkan banyak komponen kelembagaan sehingga diperlukan koordinasi dan sinkronisasi program/kegiatan di bidang keciptakaryaan
sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing lembaga. Hal tersebut menjadi tantangan bagi kelembagaan RPIJM Kabupaten Balangan bahwa pemerintah kota harus selalu saling
berkoordinasi antar instansi pemerintah agar meminimalkan terjadinya kegiatan saling tumpang tindih antar SKPD terkait dan selalu memunculkan serta meningkatkan rasa
memiliki program atau kegiatan tersebut. Rasa memiliki itu selanjutnya dapat meningkatkan pula kepedulian dan tanggungjawab baik antar individu dalam satgas RPIJM dan juga SKPD
yang berhubungan langsung dengan sektor keciptakaryaan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi. Tidak hanya antar instansi di Pemerintah Kabupaten Balangan saja, koordinasi
kegiatan juga harus dilaksanakan secara vertikal dengan pemerintah provinsi dan
pemerintah pusat walaupun sekarang kita masuk dalam era otonomi daerah.
6 - 25
LAPORAN AKHIR
Adapun prinsip dari pelaksanaan pengembangan dan peningkatan kapasitas adalah:
1. Pengembangan kapasitas bersifat multi dimensional
2. Mencakup beberapa kerangka waktu: jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek
3. Pengembangan kapasitas menyangkut multiple stakeholder
4. Pengembangan kapasitas harus bersifat demand driven, dimana kebutuhannya tidak
ditentukan dari atas/luar tetapi datang dari stakeholdernya sendiri 5. Pengembangan kapasitas mengacu pada kebijakan nasional.
6.3.3. ANALISIS SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) BIDANG CIPTA KARYA
Dalam kaitannya dengan Reformasi Birokrasi, penataan sistem manajemen SDM aparatur merupakan program ke-5 dari Sembilan Program Reformasi Birokrasi, yang perlu
ditingkatkan tidak hanya dari segi kuantitas tetapi juga kualitas. Bagian ini menguraikan kondisi SDM di keorganisasian instansi yang menangani bidang Cipta Karya, yang dapat dilakukan dengan mengisi tabel berikut mengenai komposisi pegawai dalam unit kerja
bidang Cipta Karya. Kebutuhan ini muncul karena adanya beberapa hal berikut ini:
1. Masih terdapatnya pejabat struktural yang belum menjalani proses penyesuaian
kepangkatan sejalan dengan tugas jabatan struktural yang diamanatkan kepada mereka. Kondisi ini dialami oleh pejabat struktural pada :
a. Dinas Perumahan dan Permukiman yaitu Kasie Perumahan dan Permukiman, serta
Kasie. Tata Ruang Kawasan.
b. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa yaitu Kasubbid Sumber
Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna
c. Bappeda yaitu Kasubbid. Perhubungan, Pengairan, Permukiman dan Pariwisata 2. Masih terdapatnya pejabat struktural yang belum dibekali dengan program pendidikan
dan pelatihan yang sangat penting untuk mendukung terhadap pelaksanaan tugas dalam jabatan-jabatan struktural yang diamanatkan kepada mereka. Kondisi ini dialami oleh pejabat struktural pada:
a. Dinas Perumahan dan Permukiman yaitu Kabid Cipta Karya, Kasie Tata Ruang Kawasan, Kasie Tata Bangunan, Kasie Perumahan dan Permukiman, serta Kasie. Tata
Kota
b. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa yaitu Kasubbid Sumber
Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna.
Kondisi mutasi personil yang baru saja dijalankan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Balangan sebagai akibat penataan organisasi perangkat daerah pasca
pemberlakuan PP No. 41 tahun 2007 telah menjadi penyebab belum terpenuhinya hak pengembangan kapasitas pada personil-personil pejabat struktural tersebut di atas.
6 - 26
LAPORAN AKHIR
6.3.4. ANALISA SWOT KELEMBAGAAN
Analisis SWOT merupakan salah satu teknik analisa yang digunakan dalam mengintepretasikan wilayah perencanaan, khususnya pada kondisi yang sangat kompleks dimana faktor eksternal dan internal memegang peran yang sama pentingnya. Analisis SWOT ini berguna apabila suatu kawasan akan dikembangkan dengan mengkaji semua aspek yang mempengaruhi berupa potensi dan permasalahan dari lingkup internal dan eksternal.
Kajian ini menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities dan Threats) yang hasilnya akan menjadi bahan dalam penyusunan konsep, strategi, dan rencana pengembangan. Faktor-faktor yang berperan penting dalam penyusunan konsep, strategi, dan rencana pengembangan, antara lain:
1. S (Strength atau Kekuatan). Suatu keadaan atau kondisi yang ada atau dimiliki yang dianggap merupakan hal yang sudah baik.
2. W (Weakness atau Kelemahan). Suatu keadaan atau kondisi yang dianggap memiliki kelemahan atau masalah.
3. O ( Opportunity atau Kesempatan ). Suatu keadaan atau kondisi yang ada atau yang akan terjadi di dalam atau sekitar daerah yang dianggap berpeluang untuk digunakan bagi pengembangan potensi.
4. T (Threat atau Ancaman). Suatu keadaan atau kondisi yang ada atau yang akan terjadi di dalam atau sekitar daerah yang dapat dianggap menghambat atau mengancam pengembangan potensi.
Berdasarkan identifikasi SWOT di atas, maka perlu dibuat skenario untuk memberi arahan bagi pengembangan kelembagaan Kabupaten Balangan, yang pada intinya skenario yang dipilih harus mampu menjawab upaya untuk mengoptimalkan unsur positif (strenght dan opportunities) dan meminimalkan unsur negatif (weakness dan threats). Penerapan skenario yang ada di dibagi menjadi 2 skenario utama yaitu:
1. Skenario progressif: dengan mengoptimalkan kekuatan yang dimiliki untuk mendukung percepatan meraih peluang dan meminimalkan ancaman yang ada.
2. Skenario penetratif: dengan mendayagunakan hasil pencapaian peluang yang ada untuk menetralisir ancaman yang mungkin timbul.
Analisa matriks SWOT didasarkan pada kecenderungan dari gambaran potensi dan kendala yang ada baik yang berasal dari faktor eksternal maupun internal dijelaskan sebagai berikut.
A. Analisa Potensi (Strength) dan Masalah (Weakness)
Berdasarkan berbagai analisis aspek-aspek tata ruang wilayah yang telah dikaji sebelumnya maka dapat dibuat suatu kesimpulan mengenai potensi dan permasalahan akumulatif dalam pengembangan kelembagaan Kabupaten Balangan yang dapat mempengaruhi pengembangan wilayah. Berikut ini adalah potensi dan permasalahan permukiman yang terdapat di Kabupaten Balangan.
6 - 27
LAPORAN AKHIR
Tabel 6.4.
Potensi Bagi Pengembangan Kelembagaan Kabupaten Balangan
No. Potensi Analisis
1. Kantor Pemerintahan Kabupaten Balangan sudah memenuhi untuk kelengkapan dan jumlah dari
kantor pemerintahan.
2. Jumlah dan Kualitas
SDM
Jumlah dan kualitas SDM memadai pada setiap Sub Bidang Pekerjaan.
Tabel 6.5.
Masalah Kelembagaan Kelembagaan Kabupaten Balangan
No. Variabel Masalah Analisis
1. Konsistensi
Implementa si
Proses Mutasi Pegawai
Secara tidak langsung mutasi pegawai menjadi salah satu faktor yang langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap keberlanjutan program.
2. Koordinasi Kewenangan dan
Tanggung jawab tiap Instansi
Pemerintahan
Dalam pelaksanan pembangunan keciptakaryaan maupun bidang-bidang lain koordinasi antar organisasi pemerintahan yang terkait dalam pembangunan infrastruktur wilayah sangat penting agar proses pembangunan dan pengelolaan tidak parsial atau sepotong-sepotong melainkan
menyeluruh.
A. Analisa Peluang (Opportunity) dan Ancaman (Threat)
Berdasarkan berbagai kebijakan pengembangan baik dari wilayah lain yang dapat
mempengaruhi pengembangan kelembagaan Kabupaten Balangan, maupun dari rencana
pengembangan dari dalam wilayah Kabupaten Balangan maka dapat disimpulkan beberapa
peluang ancaman terkait Kelembagaan Kabupaten Balangan, yaitu sebagai berikut:
Tabel 6.6.
Peluang Bagi Pengembangan Kawasan Prioritas
No. Peluang Analisis
1. Pengembangan kapasitas
mengacu pada kebijakan nasional
Kabupaten Balangan merupakan bagian dari wilayah NKRI yang mana setiap kebijakan daerah harus mengacu kebijakan provinsi atau nasional, melalui dokumen RTRW provinsi atau Nasional, agar terbentuk kesinambungan antar wilayah.
2.
Mencakup beberapa kerangka waktu: jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek
Menggunakan kerangka waktu merupakan cara yang efektif untuk mengantisipasi terjadinya pergantian SATGAS program instasi, agar program tetap berjalan jika terjadi pergantian SATGAS.
3. Pengembangan kapasitas
menyangkut multiple stakeholder
Kabupaten Balangan pada saat ini sedang dalam tahap pembangunan, pengembangan kapasitas Mutiple Stakeholder sangat bermanfaat agar Pekerjaan tidak terfokus pada 1
Stakeholder namun beberapa Stakeholder, yang mana pemilihan Stakeholder juga harus melalui Verifikasi agar mengetahui sampai sejauh mana kapasitas Stakeholder yang di berikan kewenangan untuk menyusun program.
6 - 28
LAPORAN AKHIR
No. Peluang Analisis
4. Pengembangan kapasitas harus
bersifat demand driven, dimana
kebutuhannya tidak ditentukan dari atas/luar tetapi datang dari stakeholdernya sendiri
Kabupaten Balangan harus memberikan kewenangan sepenuhnya pada stakeholder untuk penyusunan program pembangunan agar tidak menyangkut mengenai keperluan atas/luar pemerintahan, sepenuhnya hanya untuk kepentingan perkembangan wilayah tersebut.
Tabel 6.7.
Ancaman Bagi Kelembagaan Kabupaten Balangan
No. Ancaman Analisis
1. Bencana alam Pada wilayah Kabupaten Balangan terdapat Potensi Bencana alam.
2. Kurangnya
kesadaran masyarakat
Kurangnya kesadaran masayarakat akan ikut Peren serta dalam membantu dan mengawasi kinerja dari pemerintahan
3. Pertumbuhan
penduduk yang pesat
Dengan semakin bertambahnya penduduk di maka semakin besar pula kebutuhan penduduk akan tempat bermukim. Pertumbuhan Permukiman yang tidak dapat di awasi dan di atur karena tidak teridentifikasi oleh pemerintah.
Dari uraian analisis permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka program yang diusulkan untuk memecahkan permasalahan tersebut dan berkaitan dengan Optimalisasi Pelaksanaan Fungsi Organisasi; Ketatalaksanaan Penyelenggaraan RPIJM di instansi pemerintah; dan Peningkatan Sumber Daya Manusia adalah sebagai berikut:
1. Program yang menunjang Optimalisasi Pelaksanaan Fungsi Organisasi, meliputi: a. Pemberdayaan akan pentingnya kesadaran koordinasi lintas sektor
b. Program Peningkatan Manajemen Pemerintahan dan Pertemuan Berkala SKPD yang berkaitan erat dengan RPIJM
c. Pelatihan tentang Penyusunan Perencanaan Strategis
d. Program peningkatan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pemerintah daerah dalam pembinaan dan pengawasan.
2. Program yang menunjang Ketatalaksanaan Penyelenggaraan RPIJM di instansi pemerintah, meliputi:
a. Legalisasi peraturan atau norma yang mengatur Pemerintah Provinsi mempunyai kewenangan yang kuat dalam mendelegasikan/ melaksanakan program di daerah b. Penelitian tentang sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah
Daerah.
3. Program yang menunjang Peningkatan Sumber Daya Manusia, meliputi:
a. Melakukan penelitian yang dapat menjawab efektifitas perhitungan rasio perbandingan antara jumlah penduduk dengan jumlah Pegawai Negeri Sipil;
b. Pelatihan sistem kearsipan dan pendokumentasian
c. Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pegawai negeri sipil yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
6 - 29
LAPORAN AKHIR
4. Program yang menunjang Peningkatan Prasarana dan Sarana Kerja, meliputi:
a. Dibangunnya Sistem Teknologi Informasi bagi Kabupaten Balangan
b. Perbaikan, penambahan dan peningkatan kualitas perangkat komputer bagi
dinas/badan/instansi yang terkait dengan penyusunan RPIJM untuk menunjang
sistem pelaporan, kearsipan dan pendokumentasian pekerjaan.
6.4. KERANGKA REGULASI
6.4.1. INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA
Pemerintah Kabupaten Balangan telah melakukan penataan kelembagaan Kerangka
Regulasi Perangkat Daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Ada
beberapa hal yang patut menjadi bahan pertimbangan dalam bidang kelembagaan formal
yang berkaitan dengan Bidang Keciptakaryaan. Lembaga Perangkat Daerah yang
mempunyai tugas pokok dan fungsi berkaitan dengan penyelenggaraan bidang
Keciptakaryaan terdiri dari beberapa SKPD yang berhubungan langsung dan tidak langsung,
yaitu sebagai berikut:
1. SKPD yang berhubungan langsung:
Yang dimaksud dengan SKPD yang berhubungan langsung adalah SKPD yang mempunyai
tugas pokok dan fungsi menyelenggarakan urusan-urusan yang menjadi bagian dari
bidang keciptakaryaan. SKPD-SKPD dimaksud adalah:
a. Dinas Pekerjaan Umum
Mempunyai tugas pokok dan fungsi menyelenggarakan beberapa urusan bidang
keciptakaryaan yaitu:
1) Permukiman
2) Tata Bangunan dan lingkungan
3) Penyehatan lingkungan permukiman khususnya drainase
4) Memfasilitasi sarana prasarana air minum
b. Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan
Mempunyai tugas pokok dan fungsi menyelenggarakan beberapa urusan bidang
keciptakaryaan yaitu urusan persampahan sebagai bagian dari penyehatan
lingkungan permukiman.
c. Perusahaan Daerah Air Minum
Mempunyai tugas pokok dan fungsi menyelenggarakan beberapa urusan bidang
keciptakaryaan yaitu urusan air minum sebagai bagian dari penyehatan lingkungan
permukiman.
6 - 30
LAPORAN AKHIR
2. SKPD yang tidak berhubungan langsung
Yang dimaksud dengan SKPD yang tidak berhubungan langsung adalah SKPD yang
dalam tugas pokok dan fungsinya bersifat mempengaruhi keberhasilan proses
penyelenggaraan urusan-urusan yang menjadi bagian dari bidang keciptakaryaan.
Adapun SKPD-SKPD dimaksud adalah:
a. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
Peran yang dimainkan sangat penting bagi penyelenggaraan bidang
keciptakaryaan. Pada awal proses perenanaan di tingkat daerah, Bappeda
mempunyai peran penting untuk memposisikan bidang keciptakaryaan sebagai
prioritas daerah dalam pembangunan tahunan daerah. Sebab Bappeda adalah
SKPD yang mempunyai tugas pokok dan fungsi penyelenggaraan Musyawarah
Perencanaan (Musrenbang), penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD), penyusunan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan bersama Dinas
Pengelola Keuangan Daerah menyusun draft Prioritas dan Plafond Anggaran
Sementara (PPAS). Sehingga Bappeda mempunyai kekuatan untuk melakukan
advokasi dan stressing kepada SKPD sampai dengan tingkat Kelurahan untuk
memperhatikan dan memprioritaskan kegiatan bidang keciptakaryaan.
b. Dinas Pengelola Keuangan Daerah (DPKD)
Hampir sama dengan peran Bappeda, DPKD juga mempunyai peran penting
dalam penyuksesan penyelenggaraan bidang keciptakaryaan, sebab DPKD
mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk menentukan Plafond Anggaran
Sementara. Penentuan bidang keciptakaryaan sebagai prioritas daerah akan
sangat menentukan besaran plafond anggaran.
c. Bagian Hukum Sekretariat Daerah
Bagian yang tidak kalah penting dari aspek finansial adalah aspek legalitas yang
dimainkan oleh Bagian Hukum. Penetapan berbagai aturan yang berkaitan
dengan penguatan penyelenggaraan bidang keciptakaryaan baik di level
Pemerintah Daerah maupun di level masyarakat yang berkaitan dengan apa
yang harus, boleh dan tidak boleh dilakukan dalam bidang keciptakaryaan
beserta insentif dan disinsentifnya akan menjadi sangat kuat kedudukannya jika
diatur secara legal dengan produk hokum daerah.
6 - 31
LAPORAN AKHIR
d. Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokoler Sekretariat Daerah
Bagian yang mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk menyebarluaskan
kebijakan Bupati ini menjadi bagian yang juga cukup penting. Proses advokasi
melalui telaah staf kepada Bupati maupun sentuhan-sentuhan draft sambutan
yang mengarah pada kesadaran bahkan menyentuh pada alam bawah sadar
Bupati yang membaca draft tentang nilai-nilai pentingnya bidang keciptakaryaan
menjadi peran yang sangat penting bagi keberlangsungan penyelenggaraan
bidang keciptakaryaan.
e. Dinas Kesehatan
Mau tidak mau Dinas Kesehatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
upaya penyelenggaraan bidang keciptakaryaan. Karena semua upaya Dinas
Kesehatan baik preventif, represif maupun kuratif akan menjadi tidak optimal
bahkan sia-sia jika penyelenggaraan bidang keciptakaryaan terutama yang
berhubungan dengan penyehatan lingkungan tidak dilakukan dengan baik. Oleh
karena itu, peran Dinas Kesehatan sangat diharapkan dalam bentuk advokasi
masyarakat dan pemangku kepentingan tentang pentingnya penyuksesan
bidang kecipta karyaan dikaitkan dengan tingkat kesehatan masyarakat.
f. Dinas Pendidikan
Proses sosialisasi, kampanye dan advokasi pentingnya upaya penyehatan
lingkungan disamping upaya penyediaan sarana prasarananya juga menjadi
penting. Apalagi jika kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya
preventif atau upaya pencegahan agar sikap dan perilaku masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan sarana prasarana penyehatan lingkungan menjadi
prioritas yang terbangun dalam aam bawah sadarnya maka hal ini menjadi
sangat strategis. Upaya inilah yang diharapkan dari Dinas Pendidikan yang
mempunyai tugas pokok dan fungsi menyelenggarakan pendidikan mulai usia
dini sampai dengan menengah atas. Upaya penanaman bawah sadar anak didik
terhadap pentingnya penyehatan lingkungan merupakan peran penting yang
dapat dilakukan Dinas Pendidikan dalam rangka penyusksesan bidang
keciptakaryaan.
g. Dinas Komunikasi, Informasi dan Pariwisata
Hampir sama dengan peran Bagian Humas dan Protokol, yaitu sama-sama
mempunyai peran sebagai publikator pemerintah daerah, hanya bedanya Dinas
6 - 32
LAPORAN AKHIR
Kominpar mempunyai peran untuk mempublikasikan hasil karya dan kinerja
pemerintah daerah atau hal-hal yang sudah dilaksanakan oleh SKPD. Sehingga
masyarakat dapat mengetahui hal-hal yang sudah dilakukan oleh SKPD dan
bagaimana manfaatnya bagi masyarakat. Oleh karena itu peran Dinas Kominpar
adalah melakukan secara intensif hasil-hasil penyelenggaraan pembangunan
bidang cipta karya beserta manfaatnya kepada masyarakat sehingga masyarakat
mempunyai motivasi yang tinggi untuk berpartisipasi dalam pembangunan
bidang Cipta Karya.
6.4.2. RENCANA PENGEMBANGAN KETATA LAKSANAAN
Tujuan penguatan kelembagaan RPIJM Kabupaten Balangan adalah untuk
membangun dan melembagakan jaringan relasi sosial yang sinergis antara Pemerintah
Kabupaten, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Pusat, masyarakat, serta swasta di Kabupaten
Balangan dalam upaya untuk mendorong pengarusutamaan kegiatan RPIJM secara
partisipatif di Kabupaten Balangan.
Adapun sasaran penguatan kelembagaan RPIJM Kabupaten Balangan adalah
terciptanya situasi yang kondusif untuk kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan
sektor swasta dalam suatu wadah lembaga koordinasi sektor keciptakaryaan kota.
Implementasi program pengembangan kapasitas satgas dirumuskan dengan
mempertimbangkah aspek-aspek berikut ini, dan penerapan strategi (langkah-langkahnya)
dituangkan pada Rencana Tindak.
1. Penentuan skala prioritas program pengembangan kapasitas yang akan dilaksanakan
sejalan dengan pentahapan target yang harus dicapai oleh Satgas menuju kepada
kemandirian kerja Satgas
2. Kerjasama dengan lembaga pelatihan teknis yang ada dibidang keciptakaryaan,
misalnya dari Departemen Pekerjaan Umum, lembaga pelatihan manajemen
perkotaan dari Departemen Dalam Negeri, dan lembaga pelatihan lain yang terkait
3. Kerjasama dengan pemerintahan Provinsi dan pemerintahan pusat khususnya Tim
Teknis Pembangunan bidang keciptakaryaan
4. Pemilihan metoda pelaksanaan kegiatan yang ekslusif untuk kabupaten, atau
penggabungan pelaksanaan program bersama dengan Satgas Kota/Kabupaten
5. Penerapan metoda saling belajar antar teman sejawat (Peer tutoring) internal Satgas
dan antar Satgas Kota/Kabupaten se Kalimantan Selatan.
6 - 33