• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

P U T U S A N

Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT.

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta yang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara pada Tingkat Pertama dengan Acara Biasa, telah menjatuhkan Putusan sebagai berikut, dalam sengketa antara :---1. L O R I T A M O C H S E N, Warga Negara Indonesia, Pekerjaan Wiraswasta,

Tempat Tinggal di Apartemen Robinson Tower B Lantai 12 B-2, Jalan Jembatan Dua Raya, Nomor : 4, Jakarta Utara, untuk selanjutnya disebut sebagai PENGGUGAT I ;---2. PT PUTRAMAS SIMPATI, beralamat di Apartemen Robinson, Jalan

Jembatan Dua Raya, Nomor : 4, Jakarta Utara, berdasarkan Akta Pendirian/Anggaran Dasar PT Putramas Simpati Nomor : 46, tanggal 24 Nopember 1983 dibuat oleh Helena Kuntoro Notaris di Jakarta jo. Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perseroan Terbatas PT Putramas Simpati Nomor : 04, tanggal 18 Nopember 2011, Nomor : 5 tanggal 28 Maret 2014, Nomor : 6 tanggal 16 Maret 2015 dibuat oleh Marijke Rooselien, S, S.H Notaris di Jakarta, dalam perkara ini diwakili oleh DJAUW KIAT FIE, Warga Negara Indonesia, Pekerjaan Direktur PT Putramas Simpati, Tempat

Halaman 1 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Tinggal di Jalan Sawah Lio Gang 24, Nomor : 2,

RT.003, RW.007, Kelurahan Jembatan V, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, untuk selanjutnya disebut sebagai PENGGUGAT II ;----Penggugat I dan ;----Penggugat II dalam perkara ini memberikan Kuasa kepada : ---I. 1. DIPL.-ING. HARJADI JAHJA, S.H.,M.H. ;----2. SANTOSO SITORUS, S.H. ;---3. BENNY MULJANA, S.H. ;---Ketiganya Warga Negara Indonesia, Pekerjaan Advokat pada Kantor Hukum “LAW OFFICE OF HARJADI JAHJA & PARTNERS”, beralamat di Apartemen Slipi Lantai 8 E, Tower I, Jalan Let.Jend. S. Parman Kav 22-24, Jakarta Barat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus masing-masing tertanggal 10 Oktober 2014 dan tertanggal 25 Januari 2015 ;---II. 1. REYNOLD THONAK, S.H. ;---2. R.DWINANDA NATALISTYO. S.H.,M.H.; ---

3. HANDY PRABOWO,

S.H.

;---Ketiganya Warga Negara Indonesia, Pekerjaan Advokat pada Kantor Hukum “LAW FIRM REY, IBADI & CO”, beralamat di Mutiara PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Taman Palem Blok C-5 Nomor 36, Jalan

Kamal Raya Outer Ring Road Cengkareng, Jakarta Barat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor : 30A/SK/RIC/III/2015, dan Nomor : 30B/ SK/RIC/III/2015, masing-masing tertanggal 30 Maret 2015 ;---Untuk selanjutnya disebut sebagai PARA PENGGUGAT

;---Melawan :

I. GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, berkedudukan di Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 8-9, Kota Administrasi Jakarta Pusat, dalam perkara ini memberikan Kuasa Khusus kepada: ---1. SOLAFIDE SIHITE, S.H., M.H. --2. ENDANG SUMARDI, S.H., M.H. ;---3. ALAM SYAH, S.H., M.H. ---4. TAUFIQ MARHENDRA, S.H.,M.Si. ;---5. MUCHLIS, S.H. ---6. OCKY PRASTYA YUDHA, S.H.,M.H. ;---7. FARUQ ANSORI, S.H., M.H. 8. HARATUA D.P.PURBA, S.H. ---9. JOHAN HORAS IRWANTO, S.H.

;---Halaman 3 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Semuanya Warga Negara Indonesia, Pegawai

Biro Hukum Setda Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, berkantor pada Biro Hukum Gedung Balaikota Blok G Lantai IX, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 8-9, Kota Administrasi Jakarta Pusat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 281/-1.876, tertanggal 26 Maret 2015, untuk selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT; -II. PERHIMPUNAN PEMILIK DAN PENGHUNI SATUAN RUMAH SUSUN

APARTEMEN ROBINSON, berkedudukan di Jalan Jembatan Dua Nomor : 2 Jakarta Utara, dalam perkara ini diwakili oleh

Joni Putra, S.E., M.M.,M.BA., Warga Negara Indonesia, Pekerjaan Wiraswasta/ Ketua Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Apartemen Robinson, Tempat Tinggal di Jalan Pademangan II Gg.16, Nomor : 16 A, RT.002 RW.003, Kelurahan Pademangan Timur, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, dan YUDI RHISNANDI, S.H., Warga Negara Indonesia, Pekerjaan Advokat/Sekretaris Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Apartemen Robinson, Tempat Tinggal di Apartemen Robinson Tower A Lantai 20-A5 Jalan Jembatan Dua Raya Nomor 2,

PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Jakarta Utara, dalam perkara ini memberikan

kuasa kepada :---1. SUFENDY SETIANEGARA, S.H., M.H. ;---2. HENNI KURNIAWATI, S.H. ;---3. M. ARIEF WACHDI, S.H. Kesemuanya Warga Negara Indonesia,

Pekerjaan Advokat pada Kantor Hukum “SUFENDY SETIANEGARA, S.H., M.H. & PARTNERS”, beralamat di Apartemen Robinson Tower A Lantai 18 E1, Jalan Jembatan Dua Raya Nomor : 2, Jakarta Utara, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor : 001/SK-APT/IV/2015, tertanggal 8 April 2015, untuk selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT II INTERVENSI ; ---Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta tersebut ; --- Telah membaca Penetapan Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta

Nomor : 42/PEN-DIS/2015/PTUN-JKT, tanggal 26 Februari 2015, Tentang Penetapan Pemeriksaan Perkara ini dengan Acara Biasa;--- Telah membaca Penetapan Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta

Nomor : 42/PEN-MH/2015/PTUN-JKT, tanggal 26 Februari 2015, Tentang Penunjukan Susunan Majelis Hakim yang Memeriksa dan Memutus Sengketa ini ;--- Telah membaca Surat Penunjukan Panitera Pengganti Nomor : 42/G/ 2015/

PTUN-JKT, tanggal 26 Februari 2015

;---Halaman 5 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

- Telah membaca Penetapan Hakim Ketua Majelis Pengadilan Tata Usaha

Negara Jakarta Nomor : 42/PEN-PP/2015/PTUN-JKT, tanggal 27 Februari 2015, Tentang Penetapan Hari Pemeriksaan Persiapan ;--- Telah membaca Penetapan Hakim Ketua Majelis Pengadilan Tata Usaha

Negara Jakarta Nomor : 42/PEN-HS/2015/PTUN-JKT, tanggal 31 Maret 2015, Tentang Penetapan Hari Sidang ;--- Telah membaca Putusan Sela Nomor : 42/G/2015/PTUN;---JKT, tanggal 27 April

2015 ;--- Telah membaca dan memeriksa berkas perkara, mendengar keterangan Saksi

yang diajukan oleh Para Penggugat dan Tergugat II Intervensi, serta mendengar keterangan Para Pihak yang bersengketa di

Persidangan;---TENTANG DUDUKNYA SENGKETA :

Menimbang, bahwa Para Penggugat telah mengajukan gugatan tertanggal 25 Februari 2015, yang didaftar di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta pada tanggal 25 Februari 2015, dengan Register Perkara Nomor : 42/ G/2015/PTUN-JKT, dan telah diperbaiki dalam sidang Pemeriksaan Persiapan tanggal 31 Maret 2015, Para Penggugat mengemukakan hal-hal yang pada pokoknya sebagai berikut : ---Obyek Sengketa :---Bahwa, yang menjadi Obyek Sengketa dalam Perkara ini adalah penerbitan Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 104 Tahun 2014 tentang Pengesahan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Komersial Hunian Apartemen Robinson Kota Administrasi Jakarta Utara tanggal 17 Januari 2014 ;---PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Dasar Hukum Gugatan

:---Bahwa, sebagai Dasar Hukum Penyelesaian Sengketa Tata Usaha Negara telah diatur sesuai Pasal 48 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 ketentuan sebagai berikut:---1) Dalam hal suatu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara diberi Wewenang

oleh atau berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk menyelesaikan secara administratif sengketa Tata Usaha Negara tertentu, maka sengketa Tata Usaha Negara tersebut harus diselesaikan melalui Upaya Admiministratif yang tersedia ;---2) Pengadilan baru berwenang memeriksa, memutuskan dan menyelesaikan

sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud ayat (1) jika seluruh administratif yang bersangkutan telah

digunakan;---Alasan-Alasan Gugatan :---Bahwa, adapun yang menjadi alasan-alasan gugatan perkara ini adalah sebagaimana diuraikan berikut: ---1. Bahwa, Penggugat I adalah salah seorang Pemegang Saham PT Putra mas

Simpati berdasarkan Akta Pendirian/Anggaran Dasar PT Putramas Simpati Nomor : 46, tanggal 24 Nopember 1983 dibuat oleh Helena Kuntoro Notaris di Jakarta Jo Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perseroan Terbatas PT Putramas Simpati Nomor : 04, tanggal 18 Nopember 2011, Nomor : 05, tanggal 28 Maret 2014 dan Nomor : 06, tanggal 16 Maret 2015 dibuat Marijke Rooselien,S.,SH Notaris di Jakarta;

---Halaman 7 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

2. Bahwa, Penggugat II adalah Pengembang (Developer) yang memiliki tanah

dan Bangunan Gedung Apartemen Robinson terletak di Jalan Jembatan Dua Raya Nomor 4 Jakarta Utara ;---3. Bahwa, pada tanggal 28 Oktober 2014, Penggugat I baru mengetahui

keberadaan Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Nomor 104 Tahun 2014 tentang Pengesahan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Komersial Hunian Apartemen Robinson Kota Administrasi Jakarta Utara yang diterbitkan tanggal 17 Januari 2014 ;---4. Bahwa, dengan diterbitkannya Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Nomor

104 Tahun 2014 tentang Pengesahan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Komersial Hunian Apartemen Robinson Kota Administrasi Jakarta Utara tanggal 17 Januari 2014, maka Kepentingan Penggugat I telah dirugikan dan sesuai Pasal 53 ayat (1) Undang Undang Nomor 5 Tahun 1986 telah diatur bahwa seseorang atau badan hukum dapat mengajukan gugatan tertulis kepada Pengadilan berwenang, dimana Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Komersial Hunian Apartemen Robinson Kota Administrasi Jakarta Utara berdasarkan Surat Keputusan tersebut telah melakukan perbuatan melawan hukum sebagai berikut: ---a. Mengambil alih paksa secara melawan hukum Hak Penggugat II yang terdiri

dari: ---• Perjanjian Sewa menyewa Area/Ruangan Bangunan Gedung dengan

Pihak Gereja, Pihak Penyedia Makanan (Kantin, rumah makan)• Perjanjian Sewa menyewa Antena Tilpon Cellular (BTS), Radio

;---PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

• Pemungutan biaya rutin iuran bulanan dari Penghuni untuk service

charge dan perawatan gedung --• Pemungutan biaya lahan parkir ;---b. Pemakaian Ruangan Kantor Penggugat II tanpa izin atau secara melawan

hukum ;---5. Bahwa, penerbitan Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Nomor 104 Tahun

2014 tentang Pengesahan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Komersial Hunian Apartemen Robinson Kota Administrasi Jakarta Utara yang diterbitkan tanggal 17 Januari 2014, secara de facto telah melanggar ketentuan peratuan perundang-undangan yang belaku dan Asas-Asas Umum Pemerintah yang Baik, diantaranya Asas Kepastian Hukum, Asas Kesewenang-wenangan dan Asas Prosedur Hukum ;---6. Bahwa, Penggugat I telah dirugikan, maka sebagai langkah hukum pertama,

Penggugat I pada tanggal 29 Oktober 2014, telah melakukan Upaya Administratif sesuai Pasal 48 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, dengan menyampaikan keberatan melalui Surat kepada Tergugat dan untuk itu telah dijawab oleh Tergugat melalui Kepala Dinas Perumahan DKI Jakarta cq Yonathan Pasodung pada tanggal 28 Nopember 2014, yang isinya menolak permohonan Penggugat I atas pembatalan Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Nomor 104 Tahun 2014 tentang Pengesahan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Komersial Hunian Apartemen Robinson Kota Administrasi Jakarta Utara tanggal 17 Januari

2014;---Halaman 9 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

7. Bahwa, dengan ditolaknya permohonan Penggugat I atas pembatalan Surat

Keputusan Gubernur Provinsi DKI Nomor 104 Tahun 2014 tentang Pengesahan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Komersial Hunian Apartemen Robinson Kota Administrasi Jakarta Utara tanggal 17 Januari 2014 oleh Tergugat melalui Kepala Dinas Perumahan DKI Jakarta cq Yonathan Pasodung maka sesuai Pasal 48 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, tidak ada cara lain selain mengambil langkah hukum kedua bagi Penggugat I bersama-sama Penggugat II yang juga telah dirugikan untuk mendaftarkan Gugatan Perkara a quo di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta pada tanggal 25 Februari 2015 ;---8. Bahwa, Tanah dan Bangunan Gedung Apartemen Robinson, baik secara de

facto maupun de Jure kesemuanya masih dimiliki oleh Penggugat II, karena hingga saat ini belum ada penyerahan atau peralihan hak dari Penggugat II kepada Para Pembeli, hal mana Pembeli baru diikat dalam suatu Perjanjian Jual Beli atau dikenal Perjanjian Pengikatan Jual Beli (disebut “PPJB”) dan belum ada Akta Jual Beli ;---9. Bahwa, Penyerahan atau Peralihan Hak Milik atas Satuan Rumah Susun

Hunian Apartemen Robinson berlaku peraturan perundang-undangan tentang Rumah Susun in casu Undang-Undang dan Peraturan Pelaksanaannya, antara lain dalam konteks Perkara a quo terdiri dari:

---a. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun (sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985);---b. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tentang Rumah

Susun;---PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

c. Peraturan Kepala BPN Nomor 4 Tahun 1989 tentang Bentuk dan Tata Cara

Pembuatan Buku Tanah serta Penerbitan Sertipikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun

;---d. Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 1991 tentang Rumah Susun di DKI Jakarta; ---e. Keputusan Gubernur Kepala DKI Jakarta Nomor 924 Tahun 1991 tentang

Peraturan Pelaksanaan Rumah Susun di DKI Jakarta ;---f. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1992 tentang Pedoman

Penyusunan Peraturan Daerah tentang Rumah Susun ;---10.Bahwa, berdasarkan peraturan perundang-undangan tersebut di atas telah

diatur bahwa penyerahan atau peralihan hak milik atas satuan rumah susun Apartemen Robinson dari Penggugat II kepada Para Pembeli, terlebih dahulu mutlak harus ada surat-surat sebagai berikut:

---a. Izin penggunaan bangunan/izin layak huni atau sertipikat laik fungsi;---b. Pertelaan dan akta pemisahan ;---c. Seritipikat hak milik atas satuan-satuan rumah susun atas nama PT

Putramas Simpati ;---11.Bahwa, secara de Jure kepemilikan tanah dan bangunan gedung Apartemen

Robinson hingga saat ini masih dimiliki oleh Penggugat II yaitu terdiri dari :--- a. Satuan-satuan rumah susun/unit hunian ;---b. Bagian bersama berupa ruang-ruang fasilitas penunjang satuan rumah

susun (fasum) antara lain ruang-ruang di lantai dasar, lantai atap penempatan antena, lahan perparkiran di basement

;---Halaman 11 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

c. Benda bersama antara lain bangunan yang terletak di luar gedung seperti

lapangan tenis, lapangan parkir, kolam renang ;---d. Tanah bersama sesuai Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor : 10886,

tanggal 28 April 2011, berakhir haknya tanggal 23 April 2021 ;---

dimana kesemua Haknya belum beralih kepada Para Pembeli yang memegang PPJB karena secara de facto Penggugat II hingga saat ini belum memiliki surat-surat sebagai berikut:---a. Izin penggunaan bangunan/izin layak huni atau sertipikat laik fungsi ;---b. Pertelaan dan akta pemisahan ;---c. Seritipikat hak milik atas satuan-satuan rumah susun atas nama PT

Putramas Simpati ;---12.Bahwa, Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (PPPSRS)

Apartemen Robinson dengan Susunan Pengurus Joni Putra Dkk berdasarkan; (1) Akta Pernyataan Pendirian Perhimpunan Penghuni Rumah Susun Hunian Apartemen Robinson Nomor : 10, tanggal 16 November 2013 dibuat oleh Kiki Hertanto, S.H., Notaris di Jakarta dan (2) Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 104 Tahun 2014 tentang Pengesahan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Komersial Hunian Apartemen Robinson Kota Administrasi Jakarta Utara tanggal 17 Januari 2014 adalah tidak sah secara hukum karena pembentukannya bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undang tentang Rumah Susun yang berlaku sebagai

berikut:---PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

a. Bahwa, sesuai Pasal 74 ayat (1), (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 20

Tahun 2011 tentang Rumah Susun telah diatur ketentuan sebagai berikut:--1) Pemilik Sarusun wajib membentuk PPPSRS ;---2) PPPSRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beranggotakan Pemilik

atau Penghuni yang mendapatkan kuasa dari Pemilik Sarusun ;---3) PPPSRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1)diberikan kedudukan

sebagai Badan Hukum berdasarkan undang-undang ini ;---berdasarkan ketentuan Pasal dan ayat tersebut di atas, maka Para Pembeli yang masih memegang PPJB atau Anggota PPPSRS Apartemen Robinson tidak dapat membentuk PPPSRS karena status hukumnya belum sebagai Pemilik atau Pemegang Hak Milik atas Satuan Rumah Susun ;---b. Bahwa, sesuai Pasal 54 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun

1988 tentang Rumah Susun telah diatur ketentuan sebagai berikut:---2) Pembentukan Perhimpunan Penghuni dilakukan dengan pembuatan

Akta yang disahkan Bupati atau Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dan untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I ;---Bahwa, dalam Penjelasan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor : 3372 telah diatur ketentuan sebagai

berikut:---2) Oleh karena Perhimpunan Penghuni Rumah Susun mempunyai kedudukan sebagai Badan Hukum, maka untuk menjamin kepastian hak, kewajiban dan kesepakatannya perlu dituangkan dalam suatu Akta dan disahkan oleh Bupati atau Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II, dan untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I

;---Halaman 13 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

berdasarkan ketentuan pasal dan ayat tersebut di atas, maka Yonathan

Pasodung selaku Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah tidak ada kewenangan menanda tangani Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 104 Tahun 2014 tentang Pengesahan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Komersial Hunian Apartemen Robinson Kota Administrasi Jakarta Utara tanggal 17 Januari 2014 ;---Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun yang secara tata urut (hierarkis) peraturan perundang-undangan yang berlaku kedudukannya lebih tinggi daripada Keputusan Gubernur Nomor 638 Tahun 2012 tentang Pendelegasian Wewenang Penandatanganan Akta Pembentukan PPPSRS, keputusan mana bertentangan dengan

:---• Ketentuan Pasal 54 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988, Penjelasan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor : 3372 tentang Rumah Susun yang notabene tidak mengatur Pendelegasian Wewenang Penandatanganan Akta Pembentukan PPPSRS ;---• Asas Lex Superior derograt Lex Inferior yang berarti :---“Peraturan Hukum yang lebih tinggi derajatnya menghapus Peraturan Hukum yang lebih rendah derajatnya (bila mengatur hal yang sama) tetapi tidak bisa sebaliknya” ;---c. Bahwa, sesuai Pasal 12 ayat (1) dan (2) Peraturan Daerah DKI Jakarta

Nomor 1 Tahun 1991 tentang Rumah Susun di DKI Jakarta telah diatur ketentuan sebagai berikut

:---PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

1) Persyaratan kelayakan penghunian satuan rumah susun ditetapkan

oleh Gubernur Kepala Daerah sesuai dengan peraturan yang berlaku;--2) Pengendalian kelayakan penghunian satuan rumah susun

sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini dilaksanakan oleh Dinas Perumahan ;---berdasarkan ketentuan Pasal dan ayat tersebut di atas, maka kewenangan Kepala Dinas Perumahan hanya sebatas mengendalikan kelayakan penghunian satuan rumah susun, antara lain meneliti apakah Apartemen Robinson masih layak dihuni yang sampai saat ini secara de facto Apartemen Robinson tidak memiliki izin layak huni atau sertipikat laik fungsi ;---d. Bahwa, sesuai Pasal 17 ayat (1) dan (2) Keputusan Gubernur Kepala DKI

Jakarta Nomor 924 Tahun 1991 tentang Peraturan Pelaksanaan Rumah Susun di DKI Jakarta telah diatur ketentuan sebagai

berikut:---1) Pengesahan Akta Pemisahan Rumah Susun menjadi Satuan-Satuan Rumah Susun dilakukan oleh Wakil Gubernur Bidang Perumahan atas nama Gubernur Kepala Daerah ;---2) Untuk keperluan Pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

Pasal ini Kepala Kanwill BPN wajib meneliti Akta dimaksud dan memberikan Paraf sebelum penandatanganan pengesahan dilakukan oleh Wakil Gubernur Bidang Perumahan ;---berdasarkan ketentuan pasal dan ayat tersebut di atas, maka :---• Yang berwenang mengesahkan Akta Pemisahan adalah Wakil

Gubernur Bidang Perumahan ;---• Sebelum pengesahan Kepala Kanwiil BPN wajib meneliti Akta tersebut,

karena selain Izin Layak Huni atau Sertipikat Laik Fungsi berikut Akta

Halaman 15 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Pemisahan ini, keduanya merupakan persyaratan Penerbitan Sertipikat

Hak Milik atas Satuan Rumah Susun ;---e. Bahwa, sesuai Pasal 5 ayat (2.d,;---e.) Peraturan Kepala BPN Nomor 4 Tahun

1989 tentang Bentuk dan Tata Cara Pembuatan Buku Tanah serta Penerbitan Sertipikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun telah diatur ketentuan sebagai berikut : ---(2,d) Ruang “d” diisi dengan nomor dan tanggal Izin Layak Huni ;---(2.e) Ruang “e” diisi dengan tanggal dan nomor Akta Pemisahan serta tanggal dan nomor pengesahannya ;---berdasarkan ketentuan pasal dan ayat tersebut di atas, maka: ---• Izin Layak Huni dan Akta Pemisahan, keduanya mutlak harus ada

sebelum dibuat Sertipikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun;---• Penggugat II yang sampai saat ini belum memiliki Izin Layak Huni/ Sertifikat Laik Fungsi dan Akta Pemisahan, secara de jure tidak akan bisa menyerahkan haknya kepada Pembeli yang memegang PPJB sebelum diterbitkan Sertipikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun atas nama PT Putra Mas

Simpati;---• Pembentukan PPPSRS Apartemen Robinson adalah cacat hukum dan tidak sah karena Para Anggotanya belum sebagai Pemilik Satuan Rumah Susun atau Pemegang Hak Milik atas Satuan Rumah Susun sepanjang belum ada penyerahan atau peralihan hak dari Penggugat II;

---PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

f. Bahwa, sesuai Pasal 5 ayat (1) dan (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri

Nomor 3 Tahun 1992 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Daerah tentang Rumah Susun telah diatur ketentuan sebagai berikut:

---1) Kepala Daerah menetapkan Pembentukan Perhimpunan segera setelah Satuan Rumah Susun dihuni ;---2) Peraturan Daerah mengatur mengenai Penghunian, Penggunaan, dan

Pemeliharaan Rumah Susun dengan ketentuan-ketentuan yang memuat persyaratan kelayakan penghunian, kewajiban para penghuni untuk membentuk Perhimpunan berdasarkan ketentuan pasal dan ayat tersebut di atas, maka :---• Kepala Daerah cq Gubernur DKI Jakarta yang menetapkan PPPSRS;--• Tidak ada ketentuan yang mengatur Kepala Dinas Perumahan

mengesahkan dan menandatangani Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta tentang Pembentukan PPPSRS ;---13.Bahwa, berdasarkan alasan-alasan sebagaimana diuraikan di atas, maka

Gugatan dalam Perkara a quo telah memenuhi ketentuan Pasal 53 ayat (2).a.b. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 karena Obyek Sengketa bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan Asas Asas Umum Pemerintahan yang baik ;---Petitum :---Berdasarkan dalil-dalil yang disampaikan Penggugat I dan Penggugat II sebagaimana diuraikan dalam Posita Gugatan, dapat kiranya Majelis Hakim pada Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta yang memeriksa, mengadili Perkara a quo menjatuhkan Putusan sebagai berikut :---1. Mengabulkan Gugatan Penggugat I dan Penggugat II secara keseluruhan

;---Halaman 17 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

2. Menyatakan batal atau tidak sah Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI

Jakarta Nomor 104 Tahun 2014 tentang Pengesahan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Komersial Hunian Apartemen Robinson Kota Administrasi Jakarta Utara tanggal 17 Januari 2014; 3. Memerintahkan Tergugat mencabut Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI

Jakarta Nomor 104 Tahun 2014 tentang Pengesahan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Komersial Hunian Apartemen Robinson Kota Administrasi Jakarta Utara tanggal 17 Januari 2014; 4. Menghukum Tergugat membayar biaya perkara ;---Menimbang, bahwa terhadap Gugatan Para Penggugat tersebut di atas, Tergugat telah mengajukan Jawaban tertulis tertanggal 20 April 2015, yang pada pokoknya sebagai berikut : ---Dalam Eksepsi ---I. Gugatan Para Penggugat Kadaluarsa :---1. Bahwa yang menjadi objek sengketa a quo adalah Keputusan

Gubernur Nomor 104 Tahun 2014 tentang Pengesahan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Komersial Hunian Apartemen Robinson, Kota Administrasi Jakarta Utara, tanggal 17 Januari 2014, yang dikeluarkan berdasarkan Akta Notaris Kiki Hertanto, S.H. Nomor 10, tanggal

16 November

2013 ;---

---PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

2. Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 55 Undang-Undang

Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang menyebutkan “Gugatan dapat diajukan hanya dalam waktu sembilan puluh hari terhitung sejak saat diterimanya atau diumumkannya Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.” ;--

---3. Bahwa sebagaimana angka 1 dan angka 2 posita gugatan Para Penggugat, Penggugat I merupakan salah satu pemegang saham pada Penggugat II sehingga Pengugat I dan Penggugat II merupakan satu kesatuan

;---4. Bahwa dalam angka 3 posita gugatan Para Penggugat, Penggugat I mengakui objek sengketa a quo pada tanggal 28 Oktober 2014. Oleh karena Penggugat I dan Penggugat II merupakan satu kesatuan maka dapat disimpulkan Penggugat I dan Penggugat II sama-sama mengetahui objek sengketa a quo

pada tanggal 28 Oktober

2014;---5. Bahwa Para Penggugat mengajukan gugatan a quo ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta pada tanggal 25 Februari 2015 padahal Para Penggugat sudah mengetahui objek sengketa a quo pada tanggal 28 Oktober 2014 sehingga telah melewati batas waktu mengajukan gugatan (daluarsa) sebagaimana diatur dalam Pasal 55 Undang-Undang Nomor 5 Tahun

1986;---Halaman 19 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

6. Bahwa Para Penggugat yang telah mengetahui objek sengketa a

quo sejak tanggal 28 Oktober 2014 guna memenuhi batas waktu untuk mengajukan gugatan selama 90 hari sejak mengetahui objek sengketa sebagaimana diatur dalam Pasal 55 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, paling lama harus mengajukan gugatan pada tanggal 26 Januari 2015;---

7. Bahwa oleh karena jangka waktu mengajukan gugatan bagi Para Penggugat telah kadaluarsa, sesuai dengan pendapat W. Riawan Tjandra dalam bukunya yang berjudul Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara halaman 48 yang menyebutkan “Apabila tenggang waktu 90 hari itu tidak digunakan oleh mereka yang berhak menggugat maka KTUN tersebut, sekalipun ia mengandung cacat yang fatal tetap tidak dapat diganggu gugat lagi dengan sarana hukum apapun kecuali atas kemauan sendiri dari pihak pemerintah dalam hal ini instansi pemerintah yang berwenang”, maka Para Penggugat tidak berhak lagi mengajukan gugatan sehingga gugatan Para Penggugat sudah seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima (niet on vanklijk

verklaard).;---II. Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Tidak Berwenang Untuk Mengadili

Sengketa A

quo

;---8. Bahwa Pasal 47 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara menyebutkan “Pengadilan bertugas dan berwenang PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha

Negara.”;---9. Bahwa selanjutnya Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara menyebutkan “Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau pejabat tata usaha negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang

berlaku”;---10.Bahwa berdasarkan ketentuan tersebut di atas, kewenangan mengadili Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara terbatas pada sengketa yang timbul akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara yang menjadi objek sengketa

gugatan ;-

----11.Bahwa sesuai dengan Pasal 54 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun menyebutkan “Pembentukan perhimpunan penghuni dilakukan dengan pembuatan akta yang disahkan oleh Bupati atau Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II, dan untuk Daerah Khusus lbukota Jakarta oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat

1”.;---12.Bahwa akta yang dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tersebut adalah akta yang dibuat Notaris yang turut

Halaman 21 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(22)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

hadir dalam rapat pembentukan perhimpunan penghuni rumah

susun;---13.Bahwa Notaris sebagai Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat akta otentik, berperan membuat berita acara jalannya rapat, membuat daftar absen yang menghadiri rapat, mencatat siapa saja yang walk out dari rapat dan alasannya serta untuk menjamin rapat yang dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang rumah susun, sebagai bahan pertimbangan Pemerintah Daerah untuk mensahkan akta tersebut

;---14.Bahwa Para Penggugat mengakui adanya Akta Notaris pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (PPPSRS) Apartemen Robinson angka 12 posita gugatan Para Penggugat berupa Akta Notaris Nomor 10, tanggal 16 November 2013, dibuat oleh Kiki Hertanto,

S.H., Notaris di

Jakarta ;---

15.Bahwa yang menjadi dasar dan alasan diajukannya gugatan oleh Para Penggugat dalam sengketa a quo adalah pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (PPPSRS) Apartemen Robinson sebagaimana dituangkan dalam Akta Notaris Nomor 10, tanggal

16 November 2013

tersebut.;---16.Bahwa selanjutnya objek sengketa a quo dikeluarkan Tergugat sebagai

pengesahan Akta Notaris Nomor 10, tanggal 16 November 2013, dibuat oleh Kiki Hertanto, S.H., Notaris di Jakarta, dimana Tergugat tidak mempunyai kewenangan hukum apapun untuk membatalkan Akta Notaris (akta otentik) PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(23)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

yang dibuat berdasarkan keputusan

rapat.;---17.Bahwa demikian pula Pengadilan Tata Usaha Negara sesuai dengan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 jo. Pasal 10 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, tidak berwenang untuk mengadili sengketa a quo sepanjang Akta Notaris Nomor 10 tanggal 16 November 2013, dibuat oleh Kiki Hertanto, S.H., Notaris di Jakarta (akta otentik) masih berlaku atau belum dibatalkan

;---18.Bahwa oleh karena Pengadilan Tata Usaha Negara tidak berwenang untuk mengadili sengketa a quo, maka gugatan Para Penggugat sudah seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima (niet on vanklijk verklaard)

;---III. Gugatan Para Penggugat Prematur Karena Seharusnya Para Penggugat Mengajukan Gugatan Hak Uji Materiil Terlebih Dahulu Ke Mahkamah Agung: 19.Bahwa dalil Para Penggugat dalam angka 12 huruf b, huruf d dan huruf f

posita gugatannya menyebutkan Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta tidak berwenang untuk menandatangani objek sengketa a quo oleh karena itu bertentangan dengan Pasal 54 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun, Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1992 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan daerah tentang Rumah Susun dan Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2) Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 924 Tahun 1991 tentang Peraturan

Pelaksanaan Rumah Susun di DKI

Halaman 23 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(24)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Jakarta

;--

----20.Bahwa kewenangan Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta telah diatur dalam Keputusan Gubernur Nomor 638/2012 tentang Pendelegasian Wewenang Penandatanganan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun sebagaimana konsiderans Mengingat angka 11 objek sengketa a

quo.;---21.Bahwa sesuai dengan Pasal 9 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menyebutkan

:---“Dalam hal suatu peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang diduga bertentangan dengan undang-undang, pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung.”;---22.Bahwa sejalan dengan Pasal 9 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun

2011 tersebut, Pasal 31 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung

menyebutkan :---“(1) Mahkamah Agung mempunyai wewenang menguji peraturan

perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang ;---2) Mahkamah Agung menyatakan tidak sah peraturan perundang-undangan di

bawah undang-undang atas alasan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau pembentukannya tidak memenuhi ketentuan yang

berlaku.”;---PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(25)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

23.Bahwa pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang

tersebut disebut dengan hak uji materiil sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2011 tentang Hak Uji

Materiil yang

menyebutkan

:---“Hak Uji Materiil adalah hak Mahkamah Agung untuk menilai materi muatan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap peraturan perundang-undangan tingkat lebih tinggi.”;---24.Bahwa sesuai dengan penjelasan tersebut di atas, Para Penggugat yang

mendalilkan Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta tidak berwenang untuk menandatangani objek sengketa a quo berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 638/2012 tentang Pendelegasian Wewenang Penandatanganan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun karena bertentangan dengan Pasal 54 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun, Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1992 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan daerah tentang Rumah Susun dan Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2) Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 924 Tahun 1991 tentang Peraturan Pelaksanaan Rumah Susun di DKI Jakarta maka sudah seharusnya Para Penggugat terlebih dahulu mengajukan Gugatan Hak Uji Materiil ke Mahkamah Agung sebelum mengajukan gugatan a

quo.;---25.Bahwa oleh karena gugatan Para Penggugat prematur maka sangat beralasan Majelis Hakim yang memeriksa dan memutus perkara a quo untuk

Halaman 25 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(26)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (on vankelijk

verklaard).;-Dalam Pokok Perkara : ---1. Bahwa Tergugat menolak seluruh dalil posita dan petitum

gugatan Para Penggugat kecuali yang diakui dengan

tegas.;---2. Bahwa apa yang telah Tergugat kemukakan dalam eksepsi termasuk dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pokok perkara ;---

3. Bahwa Tergugat dalam mengeluarkan objek sengketa a quo telah memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan sehingga tidak melakukan perbuatan melawan hukum dan tidak melanggar asas-asas umum pemerintahan yang baik.;---4. Bahwa objek sengketa a quo dikeluarkan Tergugat

berdasarkan Akta Notaris Nomor 10, tanggal 16 November 2013, dibuat oleh Kiki Hertanto, S.H., Notaris di Jakarta, dalam rapat umum anggota perhimpunan tanggal 16 November 2013 telah dibentuk Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Apartemen Robinson, sebagaimana Diktum Menimbang huruf a objek sengketa.;---

---PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(27)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

5. Bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011

tentang Rumah Susun, Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun, Keputusan Menteri Perumahan Rakyat Nomor 06/KPTS/BKP4N/1995 tentang Pedoman Akta Pendirian, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Perhimpunan Penghuni Rumah Susun, Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1991 tentang Rumah Susun di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Keputusan Gubernur Nomor 924 Nomor 1991 tentang Peraturan Pelaksanaan Rumah Susun di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, tidak terdapat kewenangan Tergugat untuk mengenyampingkan atau membatalkan kesepakatan-kesepakatan yang tertuang dalam Akta Notaris dan bahkan Tergugat terikat untuk tunduk pada pembentukan perhimpunan penghuni yang dibuat dengan Akta

Notaris.;---6. Bahwa oleh karena itu timbulnya sengketa a quo bukanlah semata-mata akibat terbitnya obyek sengketa namun telah ada sejak dibuatnya Akta Notaris Nomor 01, tanggal 2 Februari 2011 yang dibuat oleh Notaris P. Sutrisno A. Tampubolon dan dalam ketentuan hukum materiilnya, Tergugat tidak memiliki kewenangan untuk mengesampingkannya, mengingat kekuatan suatu akta merupakan hukum bagi para pihak di dalamnya.

;---Halaman 27 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(28)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

7. Bahwa Pasal 59 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011

tentang Rumah Susun mengatur pelaku pembangunan wajib mengelola rumah susun paling lama 1 (satu) tahun sejak penyerahan pertama kali sarusun kepada

pemilik.;----8. Bahwa Tergugat melalui Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta telah beberapa kali memberikan pemberitahuan/teguran kepada Para Penggugat untuk segera mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku tentang rumah susun karena telah 15 (lima belas) tahun lebih Para Penggugat tidak melaksanakan kewajibannya untuk membentuk Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun dan mengembalikan fungsi hak bersama kepada pemilik dan penghuni untuk difungsikan sebagai fasilitas bersama

;---9. Bahwa berdasarkan seluruh dalil gugatan Para Penggugat dalam pekara a quo semakin menunjukkan tidak ada niat baik dari Para Penggugat untuk melaksanakan kewajibannya sesuai peraturan perundang-undangan di bidang rumah susun dengan tidak membentuk Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun serta tidak menyerahkan hak pemilik dan penghuni Apartemen Robinson;---

---PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(29)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

10.Bahwa terkait dengan Kepala Dinas Perumahan dan Gedung

Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta yang menandatangani objek sengketa a quo atas nama Tergugat I, hal tersebut telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan karena telah dibuatkan dasar hukumnya berupa Keputusan Gubernur Nomor 638/2012 tentang Pendelegasian Wewenang Penandatanganan Akta Pembentukan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun sebagaimana konsiderans Mengingat angka 11 objek

sengketa a

quo.;---

---11.Bahwa berdasarkan penjelasan tersebut di atas, terbukti Tergugat dalam mengeluarkan objek sengketa a quo telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan taat asas-asas umum pemerintahan yang baik justru Para Penggugat yang telah melanggar hukum karena melanggar hukum kaarena tidak melaksanakan kewajibannya kepada pemilik dan penghuni Apartemen Robinson sehingga gugatan Para Penggugat tidak terbukti seluruhnya dan harus ditolak;---Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Tergugat memohon kiranya Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara a quo berkenan memutus perkara sebagai berikut :

---Halaman 29 dari 89 halaman Putusan Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(30)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Dalam Eksepsi :---

1. Menerima eksepsi

Tergugat.;---2. Menyatakan gugatan Para Penggugat tidak dapat diterima (niet on vanklijk verklaard);---

----Dalam Pokok Perkara :---1. Menyatakan menolak gugatan Para Penggugat untuk

seluruhnya.;---2. Menghukum Para Penggugat untuk membayar segala biaya/ongkos perkara yang

ditetapkan.;---Menimbang, bahwa dalam perkara ini Pengadilan telah menerima Permohonan Intervensi dari Perhimpunan PEMILIK DAN Penghuni SATUAN Rumah Susun Apartemen Robinson, yang diwakili oleh Joni Putra, S.E., M.M.,M.BA., selaku Ketua dan YUDI RHISNANDI, S.H. selaku Sekretaris, telah mengajukan permohonan untuk masuk dan turut serta sebagai Pihak dalam Perkara Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT dan Permohonan tersebut telah didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta pada tanggal 20 April 2015, dengan Register Perkara Nomor : 42/G/2015/PTUN-JKT/INTV

;----Menimbang, bahwa atas Permohonan Intervensi tersebut di atas, Pengadilan telah mengambil sikap dan memberikan Putusan Sela Nomor : 42/ G/2015/PTUN-JKT pada tanggal 27 April 2015 yang pada pokoknya mengabulkan

PAGE

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah