• Tidak ada hasil yang ditemukan

Page 3 of 23 Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam terbitan (KDT) Tafsir Ulama Nusantara : Tafsir Kemenag Penulis : Ahmad Sarwat, Lc.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Page 3 of 23 Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam terbitan (KDT) Tafsir Ulama Nusantara : Tafsir Kemenag Penulis : Ahmad Sarwat, Lc."

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam terbitan (KDT) Tafsir Ulama Nusantara : Tafsir Kemenag

Penulis : Ahmad Sarwat, Lc.,MA 23 hlm

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Judul Buku

Tafsir Ulama Nusantara : Tafsir Kemenag

Penulis

Ahmad Sarwat, Lc. MA

Editor

Fatih

Setting & Lay out

Fayyad & Fawwaz

Desain Cover

Faqih

Penerbit

Rumah Fiqih Publishing

Jalan Karet Pedurenan no. 53 Kuningan

(4)

Daftar Isi

Daftar Isi ... 4

Mukaddimah ... 5

A. Sekilas Tentang Tafsir Kemenag ... 6

B. Sejarah ... 8

1. Dewan Penyelengara Pentafsir Al-Quran ... 8

1. Team Penyusun ... 8

2. Pencetakan Pertama 1975 ... 9

3. Penyempurnaan LPMQ ... 9

4. Pebaikan 1990 ... 9

5. Musyawarah Kerja Ulama Al-Quran 2003 ... 10

6. Tindak Lanjut ... 11

7. Target Setahun 6 Juz ... 12

8. Dicetak Terbatas ... 13

9. Musyawarah Kerja Ulama Al-Qur'an 2005 ... 13

10. Kajian Ayat Kauniyah ... 14

C. Karakteristik Penulisan ... 15

D. Kelebihan dan Kekurangan ... 17

(5)

Mukaddimah

Tafsir yang ketiga adalah tafsir yang diterbitkan oleh pihak Kementerian Agama Republik Indonesia. Selain menerbitkan Al-Quran dan Terjemahannya sejak tahun 1965, Kementerian Agama RI juga menerbitkan Al-Quran dan Tafsirnya.

(6)

A. Sekilas Tentang Tafsir Kemenag

Namun penerbitan ini tidak meluas dan tidak diedarkan di tengah khalayak. Masyarakat umum tidak akan mendapatkan tafsir ini di toko buku. Sehingga tidak banyak yang tahu keberadaannya, kecuali hanya segelintir orang saja.

Penyusunan tafsir ini sudah dimulai sejak tahun 1980 oleh satu tim, yang diketuai oleh Prof. K.H. Ibrahim Husein LML, berdasarkan SK. Menteri Agama No. 30 tahun 1980. Ketua sebelumnya adalah Prof. Dr. H. Bustami A.Gani.

Pada tahun 1990 hingga 2007 Departemen Agama RI telah menyelesaikan penyempurnaan Al-Quran dan Tafsirnya sejumlah 10 jilid dari juz 1 sampai dengan juz 30.1

Terkait dengan ide penulisan Tafsir Al-Quran dalam Bahasa Indonesia, Muhammad Maftuh Basyuni yang saat itu menjadi Menteri Agama RI (2004) dalam sambutanya menyebutkan bahwa kegiatan tersebut merupakan komitmen pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kitab suci, dengan harapan dapat membantu umat Islam untuk memahami kandungan kitab suci

al-1 Kementerian Agama RI, Mukadimah Al-Quran dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), (Jakarta: Penerbit Lentera Abadi, 2010), h. 27.

(7)

Quran secara lebih mendalam.2

(8)

B. Sejarah

1. Dewan Penyelengara Pentafsir Al-Quran

Untuk menghadirkan Al-Qur'an dan Tafsirnya, Menteri Agama pada tahun 1972 membentuk tim penyusun yang disebut Dewan Penyelenggara Pentafsir Al-Qur'an yang diketuai oleh Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H. dengan KMA No. 90 Tahun 1972,

Kemudian disempurnakan dengan KMA No. 8 Tahun 1973 dengan ketua tim Prof. H. Bustami A. Gani.

1. Team Penyusun

Selanjutnya disempurnakan lagi dengan KMA No. 30 Tahun 1980 dengan ketua tim Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML.

Susunan tim tafsir tersebut sebagai berikut: 1. Prof. K.H. lbrahim Hosen, LML. Ketua

merangkap anggota

2. K.H. Syukri Ghazali Wakil Ketua merangkap anggota

3. R.H. Hoesein Thoib Sekretaris merangkap anggota Anggota

4. Prof. H. Bustami A. Gani Anggota 5. Prof. Dr. K.H. Muchtar Yahya Anggota 6. Drs. Kamal Muchtar Anggota

(9)

7. Prof. K.H. Anwar Musaddad Anggota 8. K.H. Sapari Anggota 9. Prof. K.H.M. Salim Fachri Anggota 10. K.H. Muchtar Lutfi El Anshari Anggota 11. Dr. J.S. Badudu Anggota 12. H.M. Amin Nashir Anggota 13. H. A. Aziz Darmawijaya Anggota 14. K.H.M. Nur Asjik, MA Anggota 15. K.H.A. Razak Anggota Kehadiran tafsir Al-Qur'an Departemen Agama pada awalnya tidak secara utuh dalam 30 juz, melainkan bertahap.

2. Pencetakan Pertama 1975

Pencetakan pertama kali dilakukan pada tahun 1975 berupa jilid I yang memuat juz 1 sampai dengan juz 3, kemudian menyusul jilid-jilid selanjutnya pada tahun berikutnya.

3. Penyempurnaan LPMQ

Kemudian pada penerbitan berikutnya secara bertahap dilakukan penyempurnaan di sana sini yang pelaksanaannya dilakukan oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan.

4. Pebaikan 1990

Perbaikan tafsir yang relatif agak luas pernah dilakukan pada tahun 1990, tetapi juga tidak mencakup perbaikan yang sifatnya substansial,

(10)

melainkan lebih banyak pada aspek kebahasaan. Sungguh pun demikian tafsir tersebut telah berulang kali dicetak dan diterbitkan oleh pemerintah maupun oleh kalangan penerbit swasta dan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. 5. Musyawarah Kerja Ulama Al-Quran 2003

Dalam upaya menyediakan kebutuhan masyarakat di bidang pemahaman Kitab Suci Al-Qur'an, Departemen Agama melakukan upaya penyempurnaan tafsir Al-Qur'an yang bersifat menyeluruh.

Kegiatan tersebut diawali dengan Musyawarah Kerja Ulama Al-Qur'an pada tanggal 28 s.d. 30 April 2003 yang telah menghasilkan rekomendasi perlunya dilakukan penyempurnaan Al-Qur'an dan Tafsirnya Departemen Agama serta merumuskan pedoman penyempurnaan tafsir, yang kemudian menjadi acuan kerja tim tafsir dalam melakukan tugas-tugasnya, termasuk jadual penyelesaian.

Adapun aspek-aspek yang disempurnakan dalam perbaikan tersebut meliputi:

1. Aspek bahasa, yang dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan bahasa Indonesia pada zaman sekarang.

2. Aspek substansi, yang berkenaan dengan makna dan kandungan ayat.

3. Aspek munasabah dan asbab nuzul.

4. Aspek penyempurnaan hadis, melengkapi hadis dengan sanad dan rawi.

(11)

5. Aspek transliterasi, yang mengacu kepada Pedoman Transliterasi Arab- Latin berdasarkan SKB dua Menteri tahun 1987. 6. Dilengkapi dengan kajian ayat-ayat kauniyah

yang dilakukan oleh tim pakar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

7. Teks ayat Al-Qur'an menggunakan rasm ‘Usmani, diambil dari Mushaf Al-Qur'an Standar yang ditulis ulang.

8. Terjemah Al-Qur'an menggunakan Al-Qur'an dan Terjemahnya Departemen Agama yang disempurnakan.

9. Dilengkapi dengan kosakata, yang fungsinya menjelaskan makna lafal tertentu yang terdapat dalam kelompok ayat yang ditafsirkan.

10. Pada bagian akhir setiap jilid diberi indeks. 11. Diupayakan membedakan karakteristik

penulisan teks Arab, antara kelompok ayat yang ditafsirkan, ayat-ayat pendukung dan penulisan eks hadis.

6. Tindak Lanjut

Sebagai tindak lanjut Muker Ulama Al-Qur'an tersebut Menteri Agama telah membentuk tim dengan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 280 Tahun 2003, dan kemudian ada penyertaan dari LIPI yang susunannya sebagai berikut:

1. Prof. Dr. H. M. Atho Mudzhar Pengarah 2. Drs. H. Fadhal AR Bafadal, M.Sc. Pengarah

(12)

3. Dr. H. Ahsin Sakho Muhammad, MA Ketua merangkap anggota

4. Prof. K.H. Ali Mustafa Yaqub, MA Wakil merangkap anggota

5. Drs. H. Muhammmad Shohib, MA Sekretaris merangkap anggota

6. Prof. Dr. H. Rif at Syauqi Nawawi, MA Anggota 7. Prof. Dr. H. Salman Harun Anggota

8. Dr. Hj. Faizah Ali Sibromalisi Anggota 9. Dr. H. Muslih Abdul Karim Anggota 10. Dr. H. AliAudah Anggota

11. Dr. H. Muhammad Hisyam Anggota

12. Prof. Dr. Hj. Huzaemah T. Yanggo, MA Anggota 13. Prof. Dr. H.M. Salim Umar, MA Anggota

14. Drs. H. Sibli Sardjaja, LML Anggota 15. Drs. H. Mazmur Sya'roni Anggota 16. Drs. H. M. Syatibi AH. Anggota

Tim Tersebut didukung oleh Menteri Agama selaku Pembina, K.H. Sahal Mahfudz, Prof. K.H. Ali Yafie, Prof. Drs. H. Asmuni Abd. Rahman, Prof. Drs. H. Kamal Muchtar, dan K.H. Syafi'i Hadzami (Alm.) selaku Penasehat, serta Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab dan Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA selaku Konsultan Ahli/Narasumber.

7. Target Setahun 6 Juz

Ditargetkan setiap tahun tim ini dapat menyelesaikan 6 juz, sehingga diharapkan akan

(13)

selesai seluruhnya pada tahun 2007.

Pada tahun 2007 tim tafsir telah menyelesaikan kajian dan pembahasan juz 1 s.d. 30, yang hasilnya diterbitkan secara bertahap.

▪ Pada tahun 2004 diterbitkan juz 1 s.d. 6

▪ Pada tahun 2005 telah diterbitkan juz 7 s.d. 12 ▪ Pada tahun 2006 diterbitkan juz 13 s.d. 18 ▪ Pada tahun 2007 diterbitkan juz 19 s.d. 24. 8. Dicetak Terbatas

Setiap cetak perdana sengaja dilakukan dalam jumlah yang terbatas untuk disosialisasikan agar mendapat masukan dari berbagai pihak untuk penyempurnaan selanjutnya. Dengan demikian kehadiran terbitan perdana terbuka untuk penyempurnaan pada tahun-tahun berikutnya. 9. Musyawarah Kerja Ulama Al-Qur'an 2005

Untuk memperoleh masukan dari para ulama dan pakar tentang tafsir Al-Qur'an Departemen Agama, telah diadakan Musyawarah Kerja Ulama Al-Qur'an yang berlangsung tanggal pada :

▪ tanggal 16 s.d. 18 Mei 2005 di Palembang, ▪ tanggal 5 s.d. 7 September 2005 di Surabaya, ▪ tanggal 8 s.d. 10 Mei 2006 di Yogyakarta, ▪ tanggal 21 s.d. 23 Mei 2007 di Gorontalo ▪ tanggal 21 s.d. 24 Mei 2008

dengan tujuan untuk memperoleh saran dan masukan terhadap hasil revisi tersebut.

(14)

10. Kajian Ayat Kauniyah

Sebagai respon atas saran dan masukan dari para pakar, penyempurnaan Tafsir Al-Qur'an Departemen Agama telah memasukkan kajian ayat-ayat kauniyah atau kajian ayat dari perspektif ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam hal ini dilakukan oleh tim pakar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yaitu:

1. Prof. Dr. H. Umar Anggara Jenie, Apt, M.Sc. Pengarah

2. Dr. H. Hery Harjono : Ketua merangkap anggota

3. Dr. H. Muhammad Hisyam: Sekretaris merangkap anggota

4. Dr. H. Hoemam Rozie Sahil Anggota 5. Dr. H. A. Rahman Djuwansah Anggota 6. Prof. Dr. Arie Budiman Anggota

7. Ir. H. Dudi Hidayat, M.Sc Anggota

8. Prof. Dr. H. Syamsul Farid Ruskanda Anggota Pada tahun 2007 revisi Tafsir Departemen Agama telah selesai dan hasilnya telah dicetak pada tahun 2008.

(15)

C. Karakteristik Penulisan

Metode yang digunakan kitab Al-Quran dan Tafsirnya adalah metode tahlili. Dalam kitab al-Quran dan tafsirnya tim penyusun menjelaskan tentang sistematika penulisan diantaranya:

Pertama, diawali dengan judul, yang disesuaikan dengan kandungan kelompok ayat yang akan ditafsirkan.

Kedua, penulisan kelompok ayat. Rasm yang digunakan adalah rasm dari mushaf standar Indonesia yang sudah banyak beredar dan disebarluaskan oleh Departemen Agama.

Ketiga, terjemah, adapun terjemah yang digunakan al-Quran dan terjemahnya edisi 2002 yang telah diterbitkan oleh Departemen Agama tahun 2004.

Keempat, kosa kata, dalam penulisan kosa kata yang diuraikan terlebih dahulu adalah kata dasar dari kata tersebut, lalu diuraikan pemakaian kata tersebut dalam al-Quran dan kemudian mengetengahkan arti yang paling pas untuk kata tersebut pada ayat yang sedang ditafsirkan.

Kelima, munasabah. Munasabah antara surat dengan surat sebelumnya dan munasabah antara kelompok ayat dengan kelompok ayat sebelumnya.

(16)

sub judul apabila terdapat beberapa riwayat Asbābun Nuzȗl tentang ayat yang berkaitan.

Ketujuh, tafsir, secara garis besar penafsiran tidak banyak mengalami perubahan hanya diadaan perbaikan dalam beberapa aspek, seperti mentakhrij hadis atau ungkapan yang belum ditakhrij atau mengeluarkan hadis yang tidak shahih.

Kedelapan. Kesimpulan, dalam kesimpulan ini tim banyak melakukan perbaikan. Misalnya berusaha menguraikan tentang sisi hidayah dari ayat yang telah ditafsirkan. Baik saat penyusunan awal hingga tahapan penyempurnaan, tafsir ini ditulis secara kolektif oleh tim yang terdiri dari pakar-pakar tafsir, hadits, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya yang terkait.10

Referensi yang digunakan saat penyempurnaan juga mengalami penambahan. Awalnya, kitab-kitab tafsir yang masyhur seperti Tafsῑr al-Maragi, tafsir Mahasin Ta`wil, tafsir Anwar Tanzil wa Asrar al-Ta`wil, dan Tafsir Ibnu Kaṡῑr.

Sementara dalam edisi revisi (penyempurnaan), setidaknya ada 82 literatur yang dikutip, termasuk di dalamnya The Holy Bibel, Authorized (King James) Version, Peloubets Bible Dictionary, dan New World Translation Of The Holly scriptures yang seringkali dinamakan riwayat israiliyat. 3

(17)

D. Kelebihan dan Kekurangan

Pertama. kehadiran al-Quran dan Tafsirnya karya Departemen Agama diwaktu yang tepat telah mengisi kekosongan kajian Tafsir masyarakat Indonesia. Dimana pada saat itu masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim membutuhkan kajian tafsir yang dapat dijadikan pegangan dalam menjalankan ibadah. Sehinggga kehadiran kitab al-Quran dan Tafsirnya ditengah-tengah masyarakat Indonesia memberikan manfaat yang luar biasa,disaat ilmu pengetahuan yang terus berkembang.4

Kedua, para pakar yang dipilih dalam penyusunan kitab al-Quran dan tafsirnya, mereka adalah orang-orang yang memiliki kualitas dan kapabilitas yang mumpuni dalam bidangnya. Sehingga karya tersebut cukup baik dijadikan reverensi bagi mahasiswa, dan para kyai untuk bahan ceramah.

Ketiga, Selain dari kedua kelebihan yang telah dipaparkan diatas, yang paling menonjol adalah kesimpulan.

Kesimpulan selalu diberikan ketika selesai memaparkan beberapa ayat. Dengan adanya

4 Muhammad Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi:Al-Quran dan Kehidupan Dinamika Masyarakat, (Jakarta:Lentera Hati, 206), h. 313

(18)

kesimpulan memudahkan pembaca untuk menangkap pesan dari pemaparan yang panjang lebar tersebut.5

Sedangkan kekurangannya antara lain :

Pertama, menurut Muhammad Quraish Shihab kitab al-Quran dan tafsirnya sasaranya tidak jelas, ditujukan kepada siapa. Kitab tersebut sebenarnya untuk masyarakat awamkah, intektual atau masyarakat yang memiliki pengahasilan tinggi. Kalau melihat bilangan jilidnya sepuluh jilid ditambah dengan 1 jilid muqaddimah cetakan UII Yogyakarta tahun 1991 M dan dengan jumlah yang melebihi 7000 halaman), terkesan bahwa ia ditujukan kepada masyarakat berpendidikan tinggi dan itupun bagi masyarakat yang memiliki penghasilan yang memadai.

Jika kitab al-Quran dan tafsirnya tersebut untuk cendekiawan maka seharusnya dipersingkat pembahasanya sehingga tidak terlalu bertele-tele dengan memaparkan banyak contoh dan riwayat. Jika diperuntukan untuk masyarakat umum tentu tidak mampu membeli satu judul buku yang terdiri dari ribuan halaman, dan juga tidak akan betah membaca hingga selesai.6

Kedua, terkait dalam memaparkan pendapat para ulama yang berkaitan dengan permasalahan

5 Islah Gusmian, Khazanah Tafsῑr Indonesia : Dari Hermeneutika Hingga Ideologi, (Yogyakarta:Teraju, 2003), h. 143

6 Muhammad Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi:Al-Quran dan Kehidupan Dinamika Masyarakat, h. 315-316.

(19)

masyarakat, perlu diketengahi agar tidak menimbulkan kesan bahwa hanya satu pendapat yang paling benar. Fungsi al-Quran sebagai “madȗbāt Allah” (hidangan Allah) yang tentu saja beraneka ragam pilihan suguhannya, perlu benar-benar tampak. Benar dalam al-Quran dan tafsirnya keragaman itu sesekali telah disinggung, tetapi uraianya belum cukup untuk melahirkan toleransi ditengah-tengah masyarakat kita sebagaimana sebagian diantaranya tidak memiliki relevansi dengan situasi dewasa ini, paling tidak memiliki relevansi dengan situasi saat ini, paling tidak misalnya masyarakat Indonesia. Misalnya, pembahasan panjang lebar tentang boleh tidaknya diperjualbelikan areal Masjid al-Haram.

Ketiga, Dalam isi kitab Al-Quran dan Tafsirnya menukil cukup banyak riwayat, tetapi tidak jarang sekian riwayat memiliki pesan yang sama. Kemudian dalam memaparkan sebuah hadis, kurang teliti memilih mana yang ḥadiṣ shahih mana yang tidak shahih.

Selanjutnya, alangkah baiknya jika pada awal setiap surat, dikemukakan tema utama dan tujuan pokok dari uraian surat yang ditafsirkan. 18

(20)

E. Tim Penyusun

Tim diketuai oleh Prof. R.H.A. Soenarjo SH berdasarkan surat keputusan KMA. No.90 Tahun 1972. Kemudian disempurnakan dengan KMA No.8 Tahun 1973 dengan ketua tim Prof. H. Bustami A. Gani yang selanjutnya disempurnakan lagi dengan KMA.No.30 tahun 1980 dengan ketua tim prof. KH. Ibrahim Husain.

Pada awalnya penafsiran al-Quran yang dilakukan oleh Departemen Agama tidak secara keseluruhan 30 juz melainkan secara bertahap. Tahap pertama tahun 1975 sebanyak 3 juz dalam satu jilid.

Tahap selanjutnya ditahun berikutnya dengan format dan kualitas sederhana. Baru pada tahun 1990 banyak dilakukan perbaikan tafsir dalam aspek kebahasaan. Sebagai upaya untuk penyempurnaan penafsiran secara menyeluruh, kementerian Agama melakukan musyawarah kerja ulama al-Quran yang diselenggarakan tanggal 28-30 April dan menghasilkan rumusan pedoman penyempurnaan tafsir yang kemudian menjadi acuan kerja tim tafsir dalam melakukan tugastugasnya, termasuk jadwal penyelesaianya. Dalam hal ini aspek yang disempurnakan adalah aspek bahasa, yang dirasa sudah tidak sesuai dengan perkembangan Bahasa Indonesia pada masa sekarang.

(21)

dan kandungan ayat.

2. Aspek munasabah dan Asbābun Nuzul. 3. Aspek transliterasi

4. Aspek kajian ayat-ayat kauniyah

5. Teks ayat-ayat al-Quran menguraikan rasm ustmani diambil dari Mushaf al-Quran standar yang ditulis ulang.

6. Terjemahan Al-Quran menggunakan Al-Quran dan tafsirnya edisi 2002.

7. Dilengkapi dengan kosa kata yang fungsinya menjelaskan makna lafaẓ tertentu yang terdapat dalam kelompok ayat yang ditafsirkan.

8. Pada akhir setiap jilid diberi indeks.

9. Diupayakan membedakan kerakteristik penulisan teks arab, antara kelompok ayat yang ditafsirkan ayat-ayat pendukung dan penulisan teks hadis.20

Sebagai tindak lanjut musyawarah kerja ulama al-Quran, Kementerian Agama telah membentuk tim dengan keputusan Menteri Agama RI Nomer 280 tahun 2003 dan kemudian ada penyertaan dari lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Tim tersebut didukung oleh menteri Agama, selaku pembinanya adalah KH. Sahal Mahfudz, Prof. Ali Yafie, Drs. Asmuni, Abdul Rahman, Prof. Drs. Kamal Mukhtar dan KH. Syafii Hadzami (Alm) selaku penasehat. Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dan Prof. Dr. Said Agil Husain al-Munawwar MA selaku konsultan ahli.

(22)

Tim ini ditargetkan setiap tahun, harus dapat menyelesaikan seluruh kajian dan pembahasan juz 1 sampai 30 yang hasilnya diterbitkan secara bertahap. Pada tahun 2004 diterbitkan juz 1 sampai 6. Pada tahun 2005 telah diterbitkan juz 7 sampai 12. Tahun 2006 diterbitkan juz 13 sampai 18. Pada tahun 2007 diterbitkan juz 19 sampai 24 dan tahun 2008 diterbitkan juz 25 sampai 30.

Setiap cetak perdana memang sengaja dilakukan dalam jumlah yang terbatas. Untuk disosialisasikan agar mendapat masukan dari berbagai pihak untuk menyempurnakan selanjutnya. Dengan demikian kehadiran terbitan perdana terbuka untuk penyempurnaan pada tahun-tahun berikutnya.

Sebagai respon atas saran dan masukan dari para pakar penyempurnaan tafsir al-Quran Departemen Agama telah memasukkan kajian ayat-ayat kauniyah atau kajian ayat dari perspektif ilmu pengetahuan dan teknologi.

(23)

Referensi

Dokumen terkait

Akan tetapi jika ia mengetahui bahwa ayat ini turun bagi orang yang berpergian atau pun orang yang salat dengan hasil ijtihad dan ternyata hasil ijtihadnya salah

Masih juga dalam pengertian pujian yaitu tasbih atau mensucikan Allah SWT dari hal-hal yang tidak sepantasnya. Al-Kirmani dalam kitab Mutasyabih Al-Quran menyebutkan

Dengan adanya ayat ini, maka umat Islam sedunia yang rata-rata tidak bisa melafalkan huruf-huruf Arab dengan benar tidak menjadi berdosa atau tidak sah bacaan shalatnya. Karena

Sebenarnya keduanya sama sekali tidak ada hubungan apapun. Sebab bilangan 7 huruf dari.. Nabi SAW meski haditsnya shahih, namun ditafsirkan para ulama dengan

Dengan pemahaman secara metaforis tersebut Nuzul Al-Qur’an berarti peroses penampakan, pemberitahuan dan pemahaman Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian

Kita bisa juga membagi dan mengelompokkan kisah-kisah di dalam Al-Quran berdasarkan tokoh- tokohnya, seperti para nabi dan rasul, orang-orang shaleh di masa

Ali bin Abi Thalib adalah Abu Al Hasan Ali bin Abi Thalib bin Abdul Manaf Al Muththalib, ibunya bernama Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdul Manaf, termasuk

Kedua : Sejarah telah secara terang menjelaskan kepada kita bahwa turunnya Al-Quran itu butuh waktu hingga 23 tahun lamanya. Masa sepanjang itu salah satunya disebabkan