MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI
MASYARAKAT (STM) BERBANTUAN MEDIA VISUAL
TERHADAP HASIL BELAJAR IPA
Kd. Winda Pratiwi
1, I Wyn. Rinda Suardika
2, I Md. Suara
31,2,3
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail : {[email protected]¹, [email protected]
2,
[email protected]
3}
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional berbantuan media visual pada kelas V Sekolah Dasar Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014. Rancangan penelitian ini menggunakan eksperimen semu dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014 sebanyak 490 siswa. Sampel diambil dengan teknik random
sampling. Data yang dikumpulkan adalah hasil belajar IPA dengan menggunakan tes
objektif berbentuk pilihan ganda biasa. Data dianalisis dengan t.Berdasarkan hasil uji-t didapauji-t uji-thitung = 3,74 dan ttabel dengan dk = 78 pada taraf signifikansi 5% = 1,99. Dari
kriteria pengujian thitung > ttabel = 3,74 > 1,99 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional berbantuan media visual. Rerata hasil belajar IPA kelas eksperimen lebih besar dari siswa kelas kontrol = 76,71 > 70,97. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014.
Kata kunci: Model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM), pembelajaran
konvensional, media visual, hasil belajar IPA
Abstract
The aimed of this study was to determine whether there was a significant differences in sains learning outcomes between students who followed Sains Teknologi Masyarakat (STM) model assisted visual media with students who took conventional learning assisted visual media in fifth grade of Sekolah Dasar Gugus I Dalung North Kuta academic year 2013/2014. This study was a quasi experimental research with Nonequivalent Control Group Design. The population of this study were the fifth grade students of Sekolah Dasar Gugus I Dalung North Kuta academic year 2013/2014 which consisted of 490 students. The samples of this study were determined by means of random sampling technique.The data taken from the result of the sains learning process were collected by multiple choice. The data were analyzed by using t-test. Based on the result of the t-test was found tobs = 3,74 and ttab with degrees of freedom 78 with
1,99 so that Ho was rejected and Ha was accepted.The result of study showed that the
significant differences in sains learning outcomes between students who followed Sains Teknologi Masyarakat (STM) model assisted visual media with students who took conventional learning assisted visual media.The average scores of sains learning in experiment class more than control class = 76,71 > 70,97. Based on these results it can be concluded that the Sains Teknologi Masyarakat (STM) model assisted visual media influenced the sains learning outcomes of the fifth grade students of Sekolah Dasar Gugus I Dalung North Kuta Academic Year 2013/2014.
Keywords : Sains Teknologi Masyarakat Model, Contextual teaching and learning,
visual media, sains learning outcomes
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu
kebutuhan yang penting bagi kehidupan manusia. Pentingnya pendidikan telah
disadari sepenuhnya oleh pemerintah
sehingga pemerintah mengeluarkan
Undang-Undang yang mengatur mengenai
Sistem Pendidikan Nasional.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa
pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa , dan negara (Iru, 2012: 2). Berdasarkan bunyi Undang-Undang tersebut berarti proses pendidikan
disekolah bukanlah proses yang
dilaksanakan asal-asalan tetapi proses
yang memiliki tujuan dan dalam
pelaksanaanya mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik.
Pendidikan dasar memiliki peran
sangat penting untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Proses pembelajaran di sekolah dasar tidak hanya mengajarkan anak untuk menerima informasi melainkan juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang berguna bagi masyarakat. Pendidikan IPA merupakan salah satu pelajaran yang memiliki banyak nilai. Nilai yang dimaksud disini adalah sesuatu yang diaggap berharga yang terdapat dalam IPA dan menjadi tujuan yang akan dicapai. Nilai-nilai yang terdapat
dalam IPA di antaranya yaitu nilai praktis,
nilai intelektual, nilai
sosial-budaya-ekonomi-politik, nilai kependidikan, dan nilai keagamaan. Menurut H.W Fowler (dalam Trianto, 2011:136) IPA adalah pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang
berhubungan dengan gejala-gejala
kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan deduksi. Sementara itu , menurut Laksmi Prihantoro IPA merupakan suatu produk, proses, dan aplikasi. Sebagai
produk, IPA merupakan sekumpulan
pengetahuan, sekumpulan konsep , dan bagan konsep. Sebagai suatu proses, IPA merupakan proses yang dipergunakan untuk mempelajari objek studi, menemukan dan mengembangkan produk-produk sains. Sebagai aplikasi, teori-teori IPA akan
melahiran teknologi yang dapat
memberikan kemudahan bagi kehidupan (Trianto, 2011: 137). Berdasarkan pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
IPA adalah sekumpulan pengetahuan
mengenai gejala-gejala alam yang
berkembang melalui pengamatan yang nantinya dapat menciptakan suatu teknologi yang dapat memberi kemudahan bagi kehidupan.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
merupakan salah satu bidang studi yang
menduduki peranan penting dalam
pembelajaran di SD sehingga siswa
diharapkan mampu memiliki pemahaman yang baik mengenai materi-materi IPA yang telah diajarkan. Namun sangat disayangkan banyak siswa yang menganggap pelajaran IPA sulit untuk dipahami. Hal ini terjadi karena karakteristik siswa yang beragam seperti gaya belajar dan minat siswa yang
berbeda dan juga dari faktor guru yang mengajar.
Berdasarkan hasil observasi pada siswa kelas V SD Gugus I Dalung khususnya pada mata pelajaran IPA ditemukan bahwa hasil belajar siswa rendah karena guru kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Guru lebih dominan memberikan informasi dan pemberian tugas
sehingga siswa kurang aktif dalam
pembelajaran. Selama ini guru kurang inovatif dalam mengemas pembelajaran IPA. Alangkah baiknya jika guru membuat
suatu inovasi baru dengan cara
menggunakan berbagai metode-metode seperti diskusi dan eksperimen serta
dikombinasikan dengan model
pembelajaran yang sesuai dalam kegiatan
pembelajaran IPA. Agar proses
pembelajaran IPA dapat menarik minat siswa dan dapat menciptakan suasana baru dalam pembelajaran tidak ada salahnya
diperlukan penerapan suatu model
pembelajaran lain salah satunya adalah
model pembelajaran Sains Teknologi
Masyarakat (STM) yang nantinya akan memperkenalkan siswa dengan masalah-masalah yang ada dilingkungan masyarakat
sehingga proses pembelajaran dapat
menjadi bermakna.
Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan suatu model pembelajaran yang mengaitkan antara sains dan teknologi serta pemanfaatannya bagi masyarakat luas. Adapun tujuan dari model pembelajaran ini yaitu untuk membentuk individu yang memiliki literasi sains dan teknologi serta memiliki kepedulian terhadap masalah
masyarakat dan lingkungannya. Teori
belajar yang mendasari model
pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) adalah teori belajar konstruktivisme. Filosofi konstruktivisme memandang bahwa
pengetahuan seseorang tidak dapat
dipindahkan begitu saja, melainkan perlu dibangun sendiri oleh siswa dengan cara mengaitkan dengan pengetahuan awal yang sudah mereka miliki dalam struktur
kognitifnya (Muslichach, 2006:27).
Menerapkan konstruktivisme dalam
pembelajaran berarti menempatkan siswa pada posisi sentral dalam keseluruhan
program pembelajaran.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul digunakan sebagai dasar diskusi, investigasi, dan kegiatan kelas/laboratorium (Putra, 2013:148).
Adapun empat tahap strategi dalam
pembelajaran dengan memperhatikan
konstruktivisme yaitu (a) invitasi yang meliputi hal yang menarik disekitar dan mengajukan pertanyaan, (b) eksplorasi yang meliputi saran alternatif yang sesuai
dengan informasi yang akan dicari,
mengobservasi fenomena khusus,
mengumpulkan data, pemecahan masalah, dan analisis data, (c) pengajuan penjelasan dan solusi yang meliputi penyampaian
gagasan, menyusun model, membuat
penjelasan baru, membuat solusi, sekaligus memadukan solusi dengan teori dan pengalaman, (d) menentukan langkah yang
meliputi membuat keputusan,
menggunakan pengetahuan dan
keterampilan, berbagi informasi dan
gagasan, sekaligus mengajukan pertanyaan lanjutan yaitu membuat saran kegiatan positif baik individu maupun masyarakat (Putra, 2013:149).
Dengan penerapan model
pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat
(STM) dalam pembelajaran dapat
mengembangkan keterampilan kognitif,
keterampilan afektif dan keterampilan
psikomotor. Selain itu dengan menerapkan
model pembelajaran Sains Teknologi
Masyarakat (STM) siswa dapat mengaitkan kegunaan sains dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai produk teknologi sehingga siswa akan merasa bahwa konsep-konsep sains bermanfaat untuk dipelajari, dan tidak hanya hafalan belaka (Poedjiadi, 2005: 123). Adapun beberapa keunggulan model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) yaitu siswa memiliki kreativitas yang lebih tinggi,
kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan lebih besar, lebih mudah
mengaplikasikan konsep-konsep yang
dipelajari untuk kebutuhan masyarakat, dan
berpartisipasi dalam kegiatan menyelesaikan masalah di lingkungannya (Poedjiadi, 2005:137).
Selain pemilihan model pembelajaran
yang sesuai, penggunaan media
pembelajaran yang tepat sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran juga memiliki peranan penting. Media yang digunakan
harus mampu menggambarkan dan
membantu siswa memahami materi yang
disampaikan guru. Menurut Hamidjojo
media adalah “semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk
menyampaikan atau menyebar ide,
gagasan, atau pendapat yang dikemukakan sampai kepada penerima yang dituju”. Pendapat lain menyatakan bahwa media adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa
mampu memperoleh pengetahuan,
keterampilan, atau sikap (Arsyad, 2011:3). Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah alat yang dapat menyampaikan atau menghantarkan
tujuan-tujuan pembelajaran. Media
dikatagorikan ke dalam banyak jenis, salah satunya adalah media visual. Media visual memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Media visual cocok untuk diaplikasikan dalam pembelajaran IPA karena dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Media visual yang digunakan dalam penelitian ini yaitu media gambar dan power point. Media visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat mengaitkan hubungan antara isi materi pelajaran sesuai dengan dunia nyata (Arsyad, 2011:91). Pengaplikasian model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual dalam pembelajaran IPA dapat memotivasi siswa
sehingga siswa lebih aktif dalam
pembelajaran dan hasil belajar siswa dapat menjadi lebih baik.
Berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat
(STM) berbantuan media visual
memberikan pengaruh positif pada siswa dan menjadikan siswa lebih aktif dalam
proses pembelajaran sehingga hasil belajar IPA dapat menjadi lebih baik.
Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasista Dewi (2012) pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Batununggul, Nusa Penida. Hasil analisis data menunjukkan respon siswa terhadap
implementasi model Sains Teknologi
Masyarakat dalam pembelajaran IPA
berkategori positif. Berdasarkan paparan yang dikemukakan maka dilakukanlah penelitian dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) Berbantuan Media Visual Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Sekolah Dasar Gugus I Dalung KutaUtara Utara Tahun Pelajaran 2013/2014.”
Adapun beberapa tujuan dari
penelitian ini yaitu (1) Untuk mengetahui hasil belajar IPA siswa kelas V yang
mengikuti pembelajaran konvensional
berbantuan media visual di SD Gugus I
Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran
2013/2014.
(2) untuk mengetahui hasil belajar IPA siswa kelas V yang mengikuti pembelajaran dengan model Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual di SD Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014.
(3) untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA siswa kelas V
yang mengikuti pembelajaran Sains
Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual dengan siswa yang mengikuti
pembelajaran konvensional berbantuan
media visual di SD Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014.
METODE
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain eksperimental yaitu quasi eksperiment (Eksperimen Semu). Hal ini dikarenakan kemampuan peneliti dalam mengamati perilaku objek penelitian sangat terbatas terutama ketika siswa berada di luar sekolah (rumah), peneliti juga tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui
perlakuan secara pasti atau dapat dikatakan bahwa peneliti tidak bermaksud dan tidak memiliki kemampuan untuk mengubah kelas dan kondisi yang sudah ada.
Desain eksperimen semu yang
digunakan adalah noneqivalent control group design atau sering dikenal dengan intac group (Emzir, 2007:102). Dalam noneqivalent control group design terdapat dua kelompok yang dipilih, salah satu sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol, kemudian diberikan pretest untuk mengetahui keadaan awal kedua kelompok tersebut.
Penelitian ini terdiri dari 3 tahapan
pelaksanaan yaitu tahap persiapan
eksperimen, tahap pelaksanaan
eksperrimen, dan tahap akhir eksperimen. Pada tahap awal kegiatan yang dilakukan yaitu; (1) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan kurikulum, silabus, dan model pembelajaran yang akan digunakan, (2) menyusun instrumen penilaian berupat tes pilihan
ganda pada ranah kognitif untuk
mengetahui tingkat hasil belajar siswa yang akan diberikan di awal penelitian (pre-test) dan di akhir penelitian (post-test), (3) Mengadakan validitas instrumen penelitian yaitu tes hasil belajar IPA. Pada saat pelaksanaan eksperimen langkah-langkah yang dilakukan yaitu: (1) menentukan
sampel penelitian berupa kelas dari
populasi yang tersedia dengan cara
memberikan pre-test terhadap sampel yang
ada (2) untuk menentukan kelas
eksperimen dan kelas kontrol dilakukan dengan cara mengundi (3) melaksanakan penelitian yaitu memberikan treatment (perlakuan) pada kelas eksperimen berupa
model pembelajaran Sains Teknologi
Masyarakat (STM) berbantuan media visual
sedangkan untuk kelas kontrol
menggunakan pembelajaran konvensional
berbantuan media visual. Treatment
(perlakuan) akan dilaksanakan sebanyak 6
kali pertemuan. Pada tahap akhir
eksperimen langkah-langkah yang
dilakukan adalah memberikan post-test
pada akhir penelitian, baik untuk kelompok eksperimen maupuan kelompok kontrol.
Secara umum populasi adalah
seluruh individu atau unit atau peristiwa yang ditetapkan sebagai objek penelitian. Populasi yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014 yang terdiri dari 13
kelas. Setelah menentukan populasi
langkah selanjutnya adalah menentukan sampel. Sampel adalah sebagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri atau sifat yang sama dengan populasinya. Darmadi
(2011:14) menyatakan bahwa sampel
adalah sebagian dari populasi yang
dijadikan objek penelitian Pada pemilihan sampel penelitian ini tidak dilakukannya pengacakan individu, karena tidak bisa mengubah kelas yang telah terbentuk sebelum dilakukan penelitian. Kelas dipilih sebagaimana telah terbentuk tanpa campur tangan peneliti. Hal ini untuk menghindari
kemungkinan pengaruh-pengaruh dari
keadaan subjek mengetahui dirinya
dilibatkan dalam eksperimen sehingga penelitian ini benar-benar menggambarkan pengaruh perlakuan yang diberikan.
Dalam penelitian ini, setiap kelas memperoleh hak yang sama untuk dapat
dipilih menjadi sampel. Pengambilan
sampel dilakukan dengan teknik random
sampling dengan cara mengundi.
Pengundian yang dilakukan adalah
mengundi kelas bukan individu. Siswa kelas VB SD 1 Dalung dan siswa kelas VA SD 2 Dalung merupakan dua kelompok yang terpilih menjadi sampel.
Fokus objek pada penelitian ini adalah variabel. Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012:60). Dalam penelitian ini melibatkan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas sering disebut sebagai variabel independen. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang
menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau terikat (Sugiyono, 2012:61). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran
Sains Teknologi Masyarakat (STM)
berbantuan media visual. Variabel terikat
disebut sebagai variabel dependen.
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012:61). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah hasil belajar IPA.
Instrumen penelitian merupakan alat-alat yang digunakan untuk memperoleh atau mengumpulkan data dalam rangka
memecahkan masalah penelitian atau
mencapai tujuan penelitian. Suatu
instrumen dikatakan memiliki kualitas yang baik jika memenuhi dua hal yaitu ketepatan dan ketetapan. Dalam penelitian ini data yang diperlukan yaitu data hasil belajar IPA siswa kelas V melalui model pembelajaran
Sains Teknologi Masyarakat (STM)
berbantuan media visual.
Perangkat yang digunakan dalam
mengumpulkan data yaitu rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP). Tes yang digunakan untuk mengumpulkan hasil belajar IPA yaitu tes objektif dengan jenis pilihan ganda. Penskoran yang benar mendapat nilai 1 dan yang salah mendapat nilai 0. Dengan menggunakan tes objektif dengan jenis pilihan ganda dapat mencakup materi pembelajaran yang lebih luas dan dapat mendeteksi para siswa apakah sudah menguasai materi pembelajaran yang telah diberikan selama ini ( Sukardi, 2008:119).
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode tes. Tes digunakan untuk
mengetahui hasil belajar IPA siswa. Tes
yang digunakan dalam penelitian ini
berbentuk pilihan ganda. Sudjana (1989: 48) menyatakan bahwa bentuk soal pilihan ganda adalah bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar atau paling tepat. Dilihat dari strukturnya, bentuk soal pilihan ganda terdiri atas: steam (pertanyaan atau pernyataan yang berisi permasalahan yang akan dinyatakan), option (sejumlah pilihan
atau alternatif jawaban), kunci (jawaban yang benar atau paling tepat), distractor
atau pengecoh (jawaban-jawaban lain
selain kunci jawaban). Tes ini diberikan setelah dilakukan treatment pada kelas eksperimen dan kelas kontrol pada akhir perlakuan yang digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis.
Instrumen penelitian kemudian di uji validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran. Uji prasyarat yang digunakan yaitu uji normalitas dengan rumus Chi Kuadrat dan uji homogenitas dengan uji F
(Fisher). Hipotesis yang diuji dalam
penelitian ini yaitu hipotesis nol (HO)yang
berbunyi ” tidak terdapat perbedaan signifikan hasil belajar antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model
Sains Teknologi Masyarakat (STM)
berbantuan media visual dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional berbantuan media visual”.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemberian treatment dilaksanakan sebanyak 6 kali pertemuan baik di kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Di akhir penelitian, seluruh siswa pada kelompok kontrol diberikan post-test (tes akhir) untuk memperoleh data hasil belajar IPA. Dari hasil post-test diperoleh nilai rata-rata kelompok kontrol sebesar 70,97 dengan perolehan nilai minimum sebesar 60 dan nilai maksimum sebesar 83,3. Berdasarkan hasil analisis bahwa terdapat 11 siswa atau 27,5% siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori sangat baik, 29 siswa atau 72,5 % siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori
baik. Hal ini menunjukkan bahwa
kecenderungan siswa memperoleh hasil belajar dengan kategori baik.
Dari hasil post-test diperoleh nilai rata-rata kelompok eksperimen sebesar 76,71 dengan perolehan nilai minimum sebesar 66,6 dan nilai maksimum sebesar 90. Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa terdapat 26 siswa atau 65% siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori sangat baik, 14 siswa atau 35%
siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan siswa memperoleh hasil belajar dengan kategori sangat baik.
Dari perolehan hasil belajar pada kedua kelompok dapat diketahui bahwa kedua kelompok yang awalnya memiliki
kemampuan setara setelah diberikan
treatment yang berbeda perolehan hasil belajar mengalami perbedaan. Hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen lebih baik apabila dibandingkan dengan hasil belajar siswa pada kelompok kontrol.
Sebelum dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan analisis uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas data dan uji homogenitas
varians. Untuk pengujian normalitas
dilakukan dengan menggunakan analisis Chi-Square dengan taraf signifikansi 5 % dan derajat kebebasan (dk) = k-1. Dari hasil
analisis data terlihat bahwa harga
x2hitungyang diperoleh dari kelompok
eksperimen adalah 2,83. Harga tersebut
kemudian dibandingkan dengan harga x2tabel
dengan dk = 5 dan taraf signifikansi 5% sehingga diperoleh harga x2tabel = 11,07,
karena x2hitung<x2tabel (2,83 < 11,07) maka Ho
diterima atau Ha ditolak. Ini berarti sebaran
data hasil belajar IPA kelompok eksperimen berdistribusi normal. Dari hasil analisis data pada kelompok kontrol diperoleh harga
x2hitung adalah 4,77. Harga tersebut
kemudian dibandingkan dengan harga x2tabel
dengan dk = 5 dan taraf signifikansi 5% sehingga diperoleh harga x2tabel = 11,07,
karena x2hitung<x2tabel (4,77 < 11.07) maka Ho
diterima atau Ha ditolak. Ini berarti sebaran
data hasil belajar IPA kelompok kontrol berdistribusi normal.
Uji homogenitas varians dilakukan berdasarkan data hasil belajar IPA yang meliputi data kelas eksperimen yang dibelajarkan melalui model pembelajaran
Sains Teknologi Masyarakat (STM)
berbantuan media visual dan kelas kontrol yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional berbantuan media visual. Jumlah kelompok eksperimen adalah 40 orang dan kelompok kontrol berjumlah 40 orang. Uji homogenitas untuk kedua kelas dalam penelitian ini menggunakan uji F (Fisher). Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan
untuk pembilang n1 – 1 (40 – 1) dan derajat
kebebasan untuk penyebut n2 – 2 (40 – 2).
Berdasarkan nilai Ftabel pada taraf
signifikansi 5% dengan dk (39,39) diperoleh
hasil Ftabel = 2,22, sedangkan dari hasil
perhitungan diperoleh Fhitung = 1,32. Ini
menunjukkan Fhitung < Ftabel sehingga varians
data hasil belajar IPA antara kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama atau homogen.
Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah hipotesis nol (Ho) yang berbunyi:
““tidak terdapat perbedaan signifikan hasil
belajar IPA siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan model Sains
Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual dengan siswa yang mengikuti
pembelajaran konvensional berbantuan
media visual”. Adapun kriteria pengujiannya adalah apabila thitung < ttabel, maka Ho diterima
(gagal ditolak) dan Ha ditolak. Sebaliknya apabila thitung > ttabel, maka Ho ditolak dan Ha
diterima. Dengan dk = n1 + n2 – 2 dan taraf
signifikansi 5% (α = 0,05) atau taraf
kepercayaan 95%. Hasil analisis uji
hipotesis hasil belajar IPA dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1 Hasil Analisis Uji Hipotesis
No Sampel N Dk thitung ttabel
1 Kelompok eksperimen 40
78
76,71 54,26
3,74 1,99
Berdasarkan hasil analisis data
diperoleh thitung sebesar 3,74. Harga tersebut
kemudian dibandingkan dengan harga ttabel.
Harga ttabel diperoleh dari tabel nilai-nilai
dalam distribusi t dengan dk = 40 + 40– 2 = 78 dan taraf signifikansi 5% . Bersadarkan tabel nilai-nilai dalam distribusi t diperoleh harga ttabel sebesar 1,99 karena thitung>ttabel
(3,74 > 1,99) maka Ho ditolak atau Ha
diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model
Sains Teknologi Masyarakat (STM)
berbantuan media visual dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional berbantuan media visual.
Berdasarkan uji-t diperoleh thitung >
ttabel, berarti hipotesis yang menyebutkan
bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual dengan
siswa yang mengikuti pembelajaran
konvensional berbantuan media visual di Sekolah Dasar Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014 pada taraf signifikansi 5% diterima. Hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen lebih baik apabila dibandingkan dengan hasil belajar siswa pada kelompok kontrol. Perbedaan
hasil belajar IPA antara kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol
disebabkan oleh adanya perbedaan
treatment yang diberikan pada kedua
kelompok saat pembelajaran IPA
berlangsung. Model pembelajaran yang diterapkan pada kelompok eksperimen memiliki banyak keunggulan. Poedjiadi
(2005:137) mengemukakan model
pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual memiliki beberapa keunggulan yaitu siswa memiliki kreativitas yang lebih tinggi, minat belajar yang meningkat karena disajikan media gambar yang menarik, kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan lebih besar, lebih mudah mengaplikasikan konsep-konsep yang dipelajari untuk kebutuhan masyarakat, dan memiliki kecenderungan
untuk mau berpartisipasi dalam kegiatan menyelesaikan masalah di lingkungannya.
Berbeda dengan pembelajaran
konvensional yang terjadi selama
pembelajaran IPA yang berlangsung di kelompok kontrol. Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan cara menyampaikan
sejumlah materi kepada siswa yang
diselingi dengan sedikit tanya jawab kemudian diikuti dengan pemberian tugas. Dengan pembelajaran seperti ini, siswa
tidak mempunyai kesempatan untuk
mengembangkan kemampuan berpikir,
kesempatan untuk bekerjasama dengan teman sebaya, serta memecahkan masalah yang ditemui. Pembelajaran seperti ini, membuat siswa merasa bosan dan jenuh sehingga sulit untuk memahami materi pelajaran sehingga mempengaruhi hasil belajar. Hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian Herawati (2013) yang menyatakan bahwa “respon siswa kelas V SD N 2 Lalanglinggah, Tabanan terhadap implementasi model pembelajaran STM dalam pembelajaran IPA berkategori positif dan siswa menyatakan senang belajar IPA dengan model pembelajaran STM.”
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan yaitu sebagai berikut. Hasil belajar IPA siswa kelas VA SD 2 Dalung yang merupakan kelompok kontrol, diketahui bahwa terdapat 11 siswa atau 27,5% siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori sangat baik, 29 siswa atau 72,5 % siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa
kecenderungan siswa yang mengikuti
pembelajaran konvensioal berbantuan
media visual memperoleh hasil belajar dengan kategori baik.
Hasil Belajar IPA siswa kelas VB SD 1 Dalung yang merupakan kelompok eksperimen, diketahui bahwa terdapat 26 siswa atau 65% siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori sangat baik, 14 siswa atau 35% siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori baik. Hal ini
menunjukkan bahwa kecenderungan siswa
yang mengikuti pembelajaran dengan
model Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual memperoleh hasil belajar dengan kategori sangat baik.
Berdasarkan hasil analisis data hasil belajar IPA menunjukkan bahwa rata-rata siswa kelompok eksperimen lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar IPA siswa
kelompok kontrol (76,71 > 70,97).
Berdasarkan analisis uji-t diperoleh thitung
sebesar 3,74 dan ttabel dengan dk 40 + 40 –
2 = 78 pada taraf signifikansi 5% adalah 1,99 karena thitung > ttabel (3,74 > 1,99), maka
Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini
membuktikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
model pembelajaran Sains Teknologi
Masyarakat (STM) berbantuan media visual dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional berbantuan media visual.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa
penerapan model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan
media visual berpengaruh signifikan
terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014.
Adapun saran yang dapat
disampaikan setelah melaksanakan dan memperoleh hasil dari penelitian yaitu: bagi guru, melihat hasil penelitian yang positif pada pembelajaran IPA dengan penerapan
model pembelajaran Sains Teknologi
Masyarakat (STM) berbantuan media visual ini, hendaknya model pembelajaran ini
menjadi suatu inovasi yang dapat
dikembangkan dalam membelajarkan siswa
pada mata pelajaran IPA sehingga
menciptakan pelajaran IPA yang
aktif,,kreaktif, dan menyenangkan bagi siswa.
Bagi sekolah, sekolah hendaknya menyediakan sarana dan prasarana yang maksimal untuk menunjang pembelajaran agar siswa semakin termotivasi untuk belajar dan memanfaatkan sarana tersebut untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa
sehingga mutu sekolah menjadi semakin meningkat.
Bagi peneliti lain, dengan
dilakukannya penelitian ini, peneliti lain diharapkan melakukan penelitian lebih
lanjut dengan menggunakan model
pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual, pada materi pembelajaran yang berbeda pada
sumber data/sampel yang berbeda
khususnya pada pelajaran IPA sehingga
hasil penelitian benar-benar dapat
menggambarkan keadaan sesungguhnya yang terjadi di lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Agung, A.A Gede. 2011. Pengantar
Evaluasi Pendidikan. Singaraja:
Universitas Pendidikan Ganesha. Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar
Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
_______________. 2013. Dasar-Dasar
Evaluasi Pendidikan Edisi 2. Jakarta: Bumi Aksara.
Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Darmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian
Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Depdiknas. 2011. Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar Sekolah
Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Depdiknas.
Emzir. 2007. Metodologi Penelitian
Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Iru, La. 2012. Analisis Penerapan
Pendekatan, Metode, Strategi, dan
Model-Model Pembelajaran.
Koyan, I Wayan. 2011. Asesmen dalam Pendidikan. Singaraja: Undiksha. Munawar, Indra. 2009. “Definisi Hasil
Belajar”. Tersedia pada
http://indramunawar.blogspot.com/200 9/06/hasil-belajar-penegrtian-dan
definisi.html (diakses tanggal 13
Desember 2013).
Muslichach, Asy’ari. 2006. Penerapan
Pendekatan Sains Teknologi
Masyarakat. Jakarta: Depdiknas. Poedjiadi, Anna. 2005. Sains Teknologi
Masyarakat. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Putra, Rizema. 2013. Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains. Yogyakarta: DIVA Press.
Santyasa, I Wayan. 2007. “Model-Model
Pembelajaran Inovatif”. Makalah
disajikan dalam Pelatihan tentang Penelitian Tindakan Kelas Bagi Guru-Guru SMP dan SMA di Nusa Penida, Fakultas Pendidikan MIPA Undiksha, Nusa Penida 29 Juni-1 Juli 2007. Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sudjana, Nana. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian
Pendidikan. Bandung: ALFABETA.
________. 2013. Statistika Untuk
Penelitian. Bandung: ALFABETA.
Sukardi. 2008. Evaluasi Pendidikan.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konsrtuktivisme. Jakarta: Prestasi Pustaka.
_____. 2009. Mendesain Model
Pembelajaran Inovatif-Progresif.
Surabaya: Kencana.
_____. 2010. Pengantar Penelitian
Pendidikan Bagi Pengembangan
Profesi Pendidikan dan Tenagan
Kependidikan. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
_____. 2011. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Uno, Hamzah dan Nurdin Mohamad. 2011.
Belajar dengan Pendekatan
PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara. Widyanto, Putu. 2011. “Pembelajaran
Konvensional”. Tersedia pada
http://putuwidyanto.wordpress.com/20 11/01/14/pembelajaran-konvensional/ (diakses tanggal 14 Desember 2013). Winarsunu, Tulus. 2006. Statistik dalam
Penelitian Psikolagi dan Pendidikan.
Malang:Universitas Muhamadiyah
Malang.
Yamin, Martinis. 2011. Paradigma Baru
Pembelajaran. Jakarta: Gaung