• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) BERBANTUAN MEDIA VISUAL TERHADAP HASIL BELAJAR IPA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) BERBANTUAN MEDIA VISUAL TERHADAP HASIL BELAJAR IPA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI

MASYARAKAT (STM) BERBANTUAN MEDIA VISUAL

TERHADAP HASIL BELAJAR IPA

Kd. Winda Pratiwi

1

, I Wyn. Rinda Suardika

2

, I Md. Suara

3

1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail : {[email protected]¹, [email protected]

2

,

[email protected]

3

}

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional berbantuan media visual pada kelas V Sekolah Dasar Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014. Rancangan penelitian ini menggunakan eksperimen semu dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014 sebanyak 490 siswa. Sampel diambil dengan teknik random

sampling. Data yang dikumpulkan adalah hasil belajar IPA dengan menggunakan tes

objektif berbentuk pilihan ganda biasa. Data dianalisis dengan t.Berdasarkan hasil uji-t didapauji-t uji-thitung = 3,74 dan ttabel dengan dk = 78 pada taraf signifikansi 5% = 1,99. Dari

kriteria pengujian thitung > ttabel = 3,74 > 1,99 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional berbantuan media visual. Rerata hasil belajar IPA kelas eksperimen lebih besar dari siswa kelas kontrol = 76,71 > 70,97. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014.

Kata kunci: Model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM), pembelajaran

konvensional, media visual, hasil belajar IPA

Abstract

The aimed of this study was to determine whether there was a significant differences in sains learning outcomes between students who followed Sains Teknologi Masyarakat (STM) model assisted visual media with students who took conventional learning assisted visual media in fifth grade of Sekolah Dasar Gugus I Dalung North Kuta academic year 2013/2014. This study was a quasi experimental research with Nonequivalent Control Group Design. The population of this study were the fifth grade students of Sekolah Dasar Gugus I Dalung North Kuta academic year 2013/2014 which consisted of 490 students. The samples of this study were determined by means of random sampling technique.The data taken from the result of the sains learning process were collected by multiple choice. The data were analyzed by using t-test. Based on the result of the t-test was found tobs = 3,74 and ttab with degrees of freedom 78 with

(2)

1,99 so that Ho was rejected and Ha was accepted.The result of study showed that the

significant differences in sains learning outcomes between students who followed Sains Teknologi Masyarakat (STM) model assisted visual media with students who took conventional learning assisted visual media.The average scores of sains learning in experiment class more than control class = 76,71 > 70,97. Based on these results it can be concluded that the Sains Teknologi Masyarakat (STM) model assisted visual media influenced the sains learning outcomes of the fifth grade students of Sekolah Dasar Gugus I Dalung North Kuta Academic Year 2013/2014.

Keywords : Sains Teknologi Masyarakat Model, Contextual teaching and learning,

visual media, sains learning outcomes

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu

kebutuhan yang penting bagi kehidupan manusia. Pentingnya pendidikan telah

disadari sepenuhnya oleh pemerintah

sehingga pemerintah mengeluarkan

Undang-Undang yang mengatur mengenai

Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa

pendidikan adalah usaha sadar dan

terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa , dan negara (Iru, 2012: 2). Berdasarkan bunyi Undang-Undang tersebut berarti proses pendidikan

disekolah bukanlah proses yang

dilaksanakan asal-asalan tetapi proses

yang memiliki tujuan dan dalam

pelaksanaanya mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik.

Pendidikan dasar memiliki peran

sangat penting untuk melanjutkan

pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Proses pembelajaran di sekolah dasar tidak hanya mengajarkan anak untuk menerima informasi melainkan juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang berguna bagi masyarakat. Pendidikan IPA merupakan salah satu pelajaran yang memiliki banyak nilai. Nilai yang dimaksud disini adalah sesuatu yang diaggap berharga yang terdapat dalam IPA dan menjadi tujuan yang akan dicapai. Nilai-nilai yang terdapat

dalam IPA di antaranya yaitu nilai praktis,

nilai intelektual, nilai

sosial-budaya-ekonomi-politik, nilai kependidikan, dan nilai keagamaan. Menurut H.W Fowler (dalam Trianto, 2011:136) IPA adalah pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang

berhubungan dengan gejala-gejala

kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan deduksi. Sementara itu , menurut Laksmi Prihantoro IPA merupakan suatu produk, proses, dan aplikasi. Sebagai

produk, IPA merupakan sekumpulan

pengetahuan, sekumpulan konsep , dan bagan konsep. Sebagai suatu proses, IPA merupakan proses yang dipergunakan untuk mempelajari objek studi, menemukan dan mengembangkan produk-produk sains. Sebagai aplikasi, teori-teori IPA akan

melahiran teknologi yang dapat

memberikan kemudahan bagi kehidupan (Trianto, 2011: 137). Berdasarkan pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa

IPA adalah sekumpulan pengetahuan

mengenai gejala-gejala alam yang

berkembang melalui pengamatan yang nantinya dapat menciptakan suatu teknologi yang dapat memberi kemudahan bagi kehidupan.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

merupakan salah satu bidang studi yang

menduduki peranan penting dalam

pembelajaran di SD sehingga siswa

diharapkan mampu memiliki pemahaman yang baik mengenai materi-materi IPA yang telah diajarkan. Namun sangat disayangkan banyak siswa yang menganggap pelajaran IPA sulit untuk dipahami. Hal ini terjadi karena karakteristik siswa yang beragam seperti gaya belajar dan minat siswa yang

(3)

berbeda dan juga dari faktor guru yang mengajar.

Berdasarkan hasil observasi pada siswa kelas V SD Gugus I Dalung khususnya pada mata pelajaran IPA ditemukan bahwa hasil belajar siswa rendah karena guru kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Guru lebih dominan memberikan informasi dan pemberian tugas

sehingga siswa kurang aktif dalam

pembelajaran. Selama ini guru kurang inovatif dalam mengemas pembelajaran IPA. Alangkah baiknya jika guru membuat

suatu inovasi baru dengan cara

menggunakan berbagai metode-metode seperti diskusi dan eksperimen serta

dikombinasikan dengan model

pembelajaran yang sesuai dalam kegiatan

pembelajaran IPA. Agar proses

pembelajaran IPA dapat menarik minat siswa dan dapat menciptakan suasana baru dalam pembelajaran tidak ada salahnya

diperlukan penerapan suatu model

pembelajaran lain salah satunya adalah

model pembelajaran Sains Teknologi

Masyarakat (STM) yang nantinya akan memperkenalkan siswa dengan masalah-masalah yang ada dilingkungan masyarakat

sehingga proses pembelajaran dapat

menjadi bermakna.

Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan suatu model pembelajaran yang mengaitkan antara sains dan teknologi serta pemanfaatannya bagi masyarakat luas. Adapun tujuan dari model pembelajaran ini yaitu untuk membentuk individu yang memiliki literasi sains dan teknologi serta memiliki kepedulian terhadap masalah

masyarakat dan lingkungannya. Teori

belajar yang mendasari model

pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) adalah teori belajar konstruktivisme. Filosofi konstruktivisme memandang bahwa

pengetahuan seseorang tidak dapat

dipindahkan begitu saja, melainkan perlu dibangun sendiri oleh siswa dengan cara mengaitkan dengan pengetahuan awal yang sudah mereka miliki dalam struktur

kognitifnya (Muslichach, 2006:27).

Menerapkan konstruktivisme dalam

pembelajaran berarti menempatkan siswa pada posisi sentral dalam keseluruhan

program pembelajaran.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul digunakan sebagai dasar diskusi, investigasi, dan kegiatan kelas/laboratorium (Putra, 2013:148).

Adapun empat tahap strategi dalam

pembelajaran dengan memperhatikan

konstruktivisme yaitu (a) invitasi yang meliputi hal yang menarik disekitar dan mengajukan pertanyaan, (b) eksplorasi yang meliputi saran alternatif yang sesuai

dengan informasi yang akan dicari,

mengobservasi fenomena khusus,

mengumpulkan data, pemecahan masalah, dan analisis data, (c) pengajuan penjelasan dan solusi yang meliputi penyampaian

gagasan, menyusun model, membuat

penjelasan baru, membuat solusi, sekaligus memadukan solusi dengan teori dan pengalaman, (d) menentukan langkah yang

meliputi membuat keputusan,

menggunakan pengetahuan dan

keterampilan, berbagi informasi dan

gagasan, sekaligus mengajukan pertanyaan lanjutan yaitu membuat saran kegiatan positif baik individu maupun masyarakat (Putra, 2013:149).

Dengan penerapan model

pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat

(STM) dalam pembelajaran dapat

mengembangkan keterampilan kognitif,

keterampilan afektif dan keterampilan

psikomotor. Selain itu dengan menerapkan

model pembelajaran Sains Teknologi

Masyarakat (STM) siswa dapat mengaitkan kegunaan sains dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai produk teknologi sehingga siswa akan merasa bahwa konsep-konsep sains bermanfaat untuk dipelajari, dan tidak hanya hafalan belaka (Poedjiadi, 2005: 123). Adapun beberapa keunggulan model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) yaitu siswa memiliki kreativitas yang lebih tinggi,

kepedulian terhadap masyarakat dan

lingkungan lebih besar, lebih mudah

mengaplikasikan konsep-konsep yang

dipelajari untuk kebutuhan masyarakat, dan

(4)

berpartisipasi dalam kegiatan menyelesaikan masalah di lingkungannya (Poedjiadi, 2005:137).

Selain pemilihan model pembelajaran

yang sesuai, penggunaan media

pembelajaran yang tepat sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran juga memiliki peranan penting. Media yang digunakan

harus mampu menggambarkan dan

membantu siswa memahami materi yang

disampaikan guru. Menurut Hamidjojo

media adalah “semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk

menyampaikan atau menyebar ide,

gagasan, atau pendapat yang dikemukakan sampai kepada penerima yang dituju”. Pendapat lain menyatakan bahwa media adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa

mampu memperoleh pengetahuan,

keterampilan, atau sikap (Arsyad, 2011:3). Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah alat yang dapat menyampaikan atau menghantarkan

tujuan-tujuan pembelajaran. Media

dikatagorikan ke dalam banyak jenis, salah satunya adalah media visual. Media visual memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Media visual cocok untuk diaplikasikan dalam pembelajaran IPA karena dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Media visual yang digunakan dalam penelitian ini yaitu media gambar dan power point. Media visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat mengaitkan hubungan antara isi materi pelajaran sesuai dengan dunia nyata (Arsyad, 2011:91). Pengaplikasian model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual dalam pembelajaran IPA dapat memotivasi siswa

sehingga siswa lebih aktif dalam

pembelajaran dan hasil belajar siswa dapat menjadi lebih baik.

Berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat

(STM) berbantuan media visual

memberikan pengaruh positif pada siswa dan menjadikan siswa lebih aktif dalam

proses pembelajaran sehingga hasil belajar IPA dapat menjadi lebih baik.

Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasista Dewi (2012) pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Batununggul, Nusa Penida. Hasil analisis data menunjukkan respon siswa terhadap

implementasi model Sains Teknologi

Masyarakat dalam pembelajaran IPA

berkategori positif. Berdasarkan paparan yang dikemukakan maka dilakukanlah penelitian dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) Berbantuan Media Visual Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Sekolah Dasar Gugus I Dalung KutaUtara Utara Tahun Pelajaran 2013/2014.”

Adapun beberapa tujuan dari

penelitian ini yaitu (1) Untuk mengetahui hasil belajar IPA siswa kelas V yang

mengikuti pembelajaran konvensional

berbantuan media visual di SD Gugus I

Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran

2013/2014.

(2) untuk mengetahui hasil belajar IPA siswa kelas V yang mengikuti pembelajaran dengan model Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual di SD Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014.

(3) untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA siswa kelas V

yang mengikuti pembelajaran Sains

Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual dengan siswa yang mengikuti

pembelajaran konvensional berbantuan

media visual di SD Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014.

METODE

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain eksperimental yaitu quasi eksperiment (Eksperimen Semu). Hal ini dikarenakan kemampuan peneliti dalam mengamati perilaku objek penelitian sangat terbatas terutama ketika siswa berada di luar sekolah (rumah), peneliti juga tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui

(5)

perlakuan secara pasti atau dapat dikatakan bahwa peneliti tidak bermaksud dan tidak memiliki kemampuan untuk mengubah kelas dan kondisi yang sudah ada.

Desain eksperimen semu yang

digunakan adalah noneqivalent control group design atau sering dikenal dengan intac group (Emzir, 2007:102). Dalam noneqivalent control group design terdapat dua kelompok yang dipilih, salah satu sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol, kemudian diberikan pretest untuk mengetahui keadaan awal kedua kelompok tersebut.

Penelitian ini terdiri dari 3 tahapan

pelaksanaan yaitu tahap persiapan

eksperimen, tahap pelaksanaan

eksperrimen, dan tahap akhir eksperimen. Pada tahap awal kegiatan yang dilakukan yaitu; (1) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan kurikulum, silabus, dan model pembelajaran yang akan digunakan, (2) menyusun instrumen penilaian berupat tes pilihan

ganda pada ranah kognitif untuk

mengetahui tingkat hasil belajar siswa yang akan diberikan di awal penelitian (pre-test) dan di akhir penelitian (post-test), (3) Mengadakan validitas instrumen penelitian yaitu tes hasil belajar IPA. Pada saat pelaksanaan eksperimen langkah-langkah yang dilakukan yaitu: (1) menentukan

sampel penelitian berupa kelas dari

populasi yang tersedia dengan cara

memberikan pre-test terhadap sampel yang

ada (2) untuk menentukan kelas

eksperimen dan kelas kontrol dilakukan dengan cara mengundi (3) melaksanakan penelitian yaitu memberikan treatment (perlakuan) pada kelas eksperimen berupa

model pembelajaran Sains Teknologi

Masyarakat (STM) berbantuan media visual

sedangkan untuk kelas kontrol

menggunakan pembelajaran konvensional

berbantuan media visual. Treatment

(perlakuan) akan dilaksanakan sebanyak 6

kali pertemuan. Pada tahap akhir

eksperimen langkah-langkah yang

dilakukan adalah memberikan post-test

pada akhir penelitian, baik untuk kelompok eksperimen maupuan kelompok kontrol.

Secara umum populasi adalah

seluruh individu atau unit atau peristiwa yang ditetapkan sebagai objek penelitian. Populasi yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014 yang terdiri dari 13

kelas. Setelah menentukan populasi

langkah selanjutnya adalah menentukan sampel. Sampel adalah sebagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri atau sifat yang sama dengan populasinya. Darmadi

(2011:14) menyatakan bahwa sampel

adalah sebagian dari populasi yang

dijadikan objek penelitian Pada pemilihan sampel penelitian ini tidak dilakukannya pengacakan individu, karena tidak bisa mengubah kelas yang telah terbentuk sebelum dilakukan penelitian. Kelas dipilih sebagaimana telah terbentuk tanpa campur tangan peneliti. Hal ini untuk menghindari

kemungkinan pengaruh-pengaruh dari

keadaan subjek mengetahui dirinya

dilibatkan dalam eksperimen sehingga penelitian ini benar-benar menggambarkan pengaruh perlakuan yang diberikan.

Dalam penelitian ini, setiap kelas memperoleh hak yang sama untuk dapat

dipilih menjadi sampel. Pengambilan

sampel dilakukan dengan teknik random

sampling dengan cara mengundi.

Pengundian yang dilakukan adalah

mengundi kelas bukan individu. Siswa kelas VB SD 1 Dalung dan siswa kelas VA SD 2 Dalung merupakan dua kelompok yang terpilih menjadi sampel.

Fokus objek pada penelitian ini adalah variabel. Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012:60). Dalam penelitian ini melibatkan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas sering disebut sebagai variabel independen. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang

(6)

menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau terikat (Sugiyono, 2012:61). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran

Sains Teknologi Masyarakat (STM)

berbantuan media visual. Variabel terikat

disebut sebagai variabel dependen.

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012:61). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah hasil belajar IPA.

Instrumen penelitian merupakan alat-alat yang digunakan untuk memperoleh atau mengumpulkan data dalam rangka

memecahkan masalah penelitian atau

mencapai tujuan penelitian. Suatu

instrumen dikatakan memiliki kualitas yang baik jika memenuhi dua hal yaitu ketepatan dan ketetapan. Dalam penelitian ini data yang diperlukan yaitu data hasil belajar IPA siswa kelas V melalui model pembelajaran

Sains Teknologi Masyarakat (STM)

berbantuan media visual.

Perangkat yang digunakan dalam

mengumpulkan data yaitu rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP). Tes yang digunakan untuk mengumpulkan hasil belajar IPA yaitu tes objektif dengan jenis pilihan ganda. Penskoran yang benar mendapat nilai 1 dan yang salah mendapat nilai 0. Dengan menggunakan tes objektif dengan jenis pilihan ganda dapat mencakup materi pembelajaran yang lebih luas dan dapat mendeteksi para siswa apakah sudah menguasai materi pembelajaran yang telah diberikan selama ini ( Sukardi, 2008:119).

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode tes. Tes digunakan untuk

mengetahui hasil belajar IPA siswa. Tes

yang digunakan dalam penelitian ini

berbentuk pilihan ganda. Sudjana (1989: 48) menyatakan bahwa bentuk soal pilihan ganda adalah bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar atau paling tepat. Dilihat dari strukturnya, bentuk soal pilihan ganda terdiri atas: steam (pertanyaan atau pernyataan yang berisi permasalahan yang akan dinyatakan), option (sejumlah pilihan

atau alternatif jawaban), kunci (jawaban yang benar atau paling tepat), distractor

atau pengecoh (jawaban-jawaban lain

selain kunci jawaban). Tes ini diberikan setelah dilakukan treatment pada kelas eksperimen dan kelas kontrol pada akhir perlakuan yang digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis.

Instrumen penelitian kemudian di uji validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran. Uji prasyarat yang digunakan yaitu uji normalitas dengan rumus Chi Kuadrat dan uji homogenitas dengan uji F

(Fisher). Hipotesis yang diuji dalam

penelitian ini yaitu hipotesis nol (HO)yang

berbunyi ” tidak terdapat perbedaan signifikan hasil belajar antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model

Sains Teknologi Masyarakat (STM)

berbantuan media visual dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional berbantuan media visual”.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemberian treatment dilaksanakan sebanyak 6 kali pertemuan baik di kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Di akhir penelitian, seluruh siswa pada kelompok kontrol diberikan post-test (tes akhir) untuk memperoleh data hasil belajar IPA. Dari hasil post-test diperoleh nilai rata-rata kelompok kontrol sebesar 70,97 dengan perolehan nilai minimum sebesar 60 dan nilai maksimum sebesar 83,3. Berdasarkan hasil analisis bahwa terdapat 11 siswa atau 27,5% siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori sangat baik, 29 siswa atau 72,5 % siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori

baik. Hal ini menunjukkan bahwa

kecenderungan siswa memperoleh hasil belajar dengan kategori baik.

Dari hasil post-test diperoleh nilai rata-rata kelompok eksperimen sebesar 76,71 dengan perolehan nilai minimum sebesar 66,6 dan nilai maksimum sebesar 90. Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa terdapat 26 siswa atau 65% siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori sangat baik, 14 siswa atau 35%

(7)

siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan siswa memperoleh hasil belajar dengan kategori sangat baik.

Dari perolehan hasil belajar pada kedua kelompok dapat diketahui bahwa kedua kelompok yang awalnya memiliki

kemampuan setara setelah diberikan

treatment yang berbeda perolehan hasil belajar mengalami perbedaan. Hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen lebih baik apabila dibandingkan dengan hasil belajar siswa pada kelompok kontrol.

Sebelum dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan analisis uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas data dan uji homogenitas

varians. Untuk pengujian normalitas

dilakukan dengan menggunakan analisis Chi-Square dengan taraf signifikansi 5 % dan derajat kebebasan (dk) = k-1. Dari hasil

analisis data terlihat bahwa harga

x2hitungyang diperoleh dari kelompok

eksperimen adalah 2,83. Harga tersebut

kemudian dibandingkan dengan harga x2tabel

dengan dk = 5 dan taraf signifikansi 5% sehingga diperoleh harga x2tabel = 11,07,

karena x2hitung<x2tabel (2,83 < 11,07) maka Ho

diterima atau Ha ditolak. Ini berarti sebaran

data hasil belajar IPA kelompok eksperimen berdistribusi normal. Dari hasil analisis data pada kelompok kontrol diperoleh harga

x2hitung adalah 4,77. Harga tersebut

kemudian dibandingkan dengan harga x2tabel

dengan dk = 5 dan taraf signifikansi 5% sehingga diperoleh harga x2tabel = 11,07,

karena x2hitung<x2tabel (4,77 < 11.07) maka Ho

diterima atau Ha ditolak. Ini berarti sebaran

data hasil belajar IPA kelompok kontrol berdistribusi normal.

Uji homogenitas varians dilakukan berdasarkan data hasil belajar IPA yang meliputi data kelas eksperimen yang dibelajarkan melalui model pembelajaran

Sains Teknologi Masyarakat (STM)

berbantuan media visual dan kelas kontrol yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional berbantuan media visual. Jumlah kelompok eksperimen adalah 40 orang dan kelompok kontrol berjumlah 40 orang. Uji homogenitas untuk kedua kelas dalam penelitian ini menggunakan uji F (Fisher). Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan

untuk pembilang n1 – 1 (40 – 1) dan derajat

kebebasan untuk penyebut n2 – 2 (40 – 2).

Berdasarkan nilai Ftabel pada taraf

signifikansi 5% dengan dk (39,39) diperoleh

hasil Ftabel = 2,22, sedangkan dari hasil

perhitungan diperoleh Fhitung = 1,32. Ini

menunjukkan Fhitung < Ftabel sehingga varians

data hasil belajar IPA antara kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama atau homogen.

Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah hipotesis nol (Ho) yang berbunyi:

““tidak terdapat perbedaan signifikan hasil

belajar IPA siswa yang mengikuti

pembelajaran dengan model Sains

Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual dengan siswa yang mengikuti

pembelajaran konvensional berbantuan

media visual”. Adapun kriteria pengujiannya adalah apabila thitung < ttabel, maka Ho diterima

(gagal ditolak) dan Ha ditolak. Sebaliknya apabila thitung > ttabel, maka Ho ditolak dan Ha

diterima. Dengan dk = n1 + n2 – 2 dan taraf

signifikansi 5% (α = 0,05) atau taraf

kepercayaan 95%. Hasil analisis uji

hipotesis hasil belajar IPA dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1 Hasil Analisis Uji Hipotesis

No Sampel N Dk thitung ttabel

1 Kelompok eksperimen 40

78

76,71 54,26

3,74 1,99

(8)

Berdasarkan hasil analisis data

diperoleh thitung sebesar 3,74. Harga tersebut

kemudian dibandingkan dengan harga ttabel.

Harga ttabel diperoleh dari tabel nilai-nilai

dalam distribusi t dengan dk = 40 + 40– 2 = 78 dan taraf signifikansi 5% . Bersadarkan tabel nilai-nilai dalam distribusi t diperoleh harga ttabel sebesar 1,99 karena thitung>ttabel

(3,74 > 1,99) maka Ho ditolak atau Ha

diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model

Sains Teknologi Masyarakat (STM)

berbantuan media visual dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional berbantuan media visual.

Berdasarkan uji-t diperoleh thitung >

ttabel, berarti hipotesis yang menyebutkan

bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual dengan

siswa yang mengikuti pembelajaran

konvensional berbantuan media visual di Sekolah Dasar Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014 pada taraf signifikansi 5% diterima. Hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen lebih baik apabila dibandingkan dengan hasil belajar siswa pada kelompok kontrol. Perbedaan

hasil belajar IPA antara kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol

disebabkan oleh adanya perbedaan

treatment yang diberikan pada kedua

kelompok saat pembelajaran IPA

berlangsung. Model pembelajaran yang diterapkan pada kelompok eksperimen memiliki banyak keunggulan. Poedjiadi

(2005:137) mengemukakan model

pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual memiliki beberapa keunggulan yaitu siswa memiliki kreativitas yang lebih tinggi, minat belajar yang meningkat karena disajikan media gambar yang menarik, kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan lebih besar, lebih mudah mengaplikasikan konsep-konsep yang dipelajari untuk kebutuhan masyarakat, dan memiliki kecenderungan

untuk mau berpartisipasi dalam kegiatan menyelesaikan masalah di lingkungannya.

Berbeda dengan pembelajaran

konvensional yang terjadi selama

pembelajaran IPA yang berlangsung di kelompok kontrol. Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan cara menyampaikan

sejumlah materi kepada siswa yang

diselingi dengan sedikit tanya jawab kemudian diikuti dengan pemberian tugas. Dengan pembelajaran seperti ini, siswa

tidak mempunyai kesempatan untuk

mengembangkan kemampuan berpikir,

kesempatan untuk bekerjasama dengan teman sebaya, serta memecahkan masalah yang ditemui. Pembelajaran seperti ini, membuat siswa merasa bosan dan jenuh sehingga sulit untuk memahami materi pelajaran sehingga mempengaruhi hasil belajar. Hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian Herawati (2013) yang menyatakan bahwa “respon siswa kelas V SD N 2 Lalanglinggah, Tabanan terhadap implementasi model pembelajaran STM dalam pembelajaran IPA berkategori positif dan siswa menyatakan senang belajar IPA dengan model pembelajaran STM.”

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan yaitu sebagai berikut. Hasil belajar IPA siswa kelas VA SD 2 Dalung yang merupakan kelompok kontrol, diketahui bahwa terdapat 11 siswa atau 27,5% siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori sangat baik, 29 siswa atau 72,5 % siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa

kecenderungan siswa yang mengikuti

pembelajaran konvensioal berbantuan

media visual memperoleh hasil belajar dengan kategori baik.

Hasil Belajar IPA siswa kelas VB SD 1 Dalung yang merupakan kelompok eksperimen, diketahui bahwa terdapat 26 siswa atau 65% siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori sangat baik, 14 siswa atau 35% siswa memperoleh hasil belajar dalam kategori baik. Hal ini

(9)

menunjukkan bahwa kecenderungan siswa

yang mengikuti pembelajaran dengan

model Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual memperoleh hasil belajar dengan kategori sangat baik.

Berdasarkan hasil analisis data hasil belajar IPA menunjukkan bahwa rata-rata siswa kelompok eksperimen lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar IPA siswa

kelompok kontrol (76,71 > 70,97).

Berdasarkan analisis uji-t diperoleh thitung

sebesar 3,74 dan ttabel dengan dk 40 + 40 –

2 = 78 pada taraf signifikansi 5% adalah 1,99 karena thitung > ttabel (3,74 > 1,99), maka

Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini

membuktikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan

model pembelajaran Sains Teknologi

Masyarakat (STM) berbantuan media visual dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional berbantuan media visual.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa

penerapan model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan

media visual berpengaruh signifikan

terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus I Dalung Kuta Utara Tahun Pelajaran 2013/2014.

Adapun saran yang dapat

disampaikan setelah melaksanakan dan memperoleh hasil dari penelitian yaitu: bagi guru, melihat hasil penelitian yang positif pada pembelajaran IPA dengan penerapan

model pembelajaran Sains Teknologi

Masyarakat (STM) berbantuan media visual ini, hendaknya model pembelajaran ini

menjadi suatu inovasi yang dapat

dikembangkan dalam membelajarkan siswa

pada mata pelajaran IPA sehingga

menciptakan pelajaran IPA yang

aktif,,kreaktif, dan menyenangkan bagi siswa.

Bagi sekolah, sekolah hendaknya menyediakan sarana dan prasarana yang maksimal untuk menunjang pembelajaran agar siswa semakin termotivasi untuk belajar dan memanfaatkan sarana tersebut untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa

sehingga mutu sekolah menjadi semakin meningkat.

Bagi peneliti lain, dengan

dilakukannya penelitian ini, peneliti lain diharapkan melakukan penelitian lebih

lanjut dengan menggunakan model

pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbantuan media visual, pada materi pembelajaran yang berbeda pada

sumber data/sampel yang berbeda

khususnya pada pelajaran IPA sehingga

hasil penelitian benar-benar dapat

menggambarkan keadaan sesungguhnya yang terjadi di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Agung, A.A Gede. 2011. Pengantar

Evaluasi Pendidikan. Singaraja:

Universitas Pendidikan Ganesha. Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar

Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

_______________. 2013. Dasar-Dasar

Evaluasi Pendidikan Edisi 2. Jakarta: Bumi Aksara.

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Darmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian

Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Depdiknas. 2011. Standar Kompetensi dan

Kompetensi Dasar Sekolah

Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Depdiknas.

Emzir. 2007. Metodologi Penelitian

Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Iru, La. 2012. Analisis Penerapan

Pendekatan, Metode, Strategi, dan

Model-Model Pembelajaran.

(10)

Koyan, I Wayan. 2011. Asesmen dalam Pendidikan. Singaraja: Undiksha. Munawar, Indra. 2009. “Definisi Hasil

Belajar”. Tersedia pada

http://indramunawar.blogspot.com/200 9/06/hasil-belajar-penegrtian-dan

definisi.html (diakses tanggal 13

Desember 2013).

Muslichach, Asy’ari. 2006. Penerapan

Pendekatan Sains Teknologi

Masyarakat. Jakarta: Depdiknas. Poedjiadi, Anna. 2005. Sains Teknologi

Masyarakat. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Putra, Rizema. 2013. Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains. Yogyakarta: DIVA Press.

Santyasa, I Wayan. 2007. “Model-Model

Pembelajaran Inovatif”. Makalah

disajikan dalam Pelatihan tentang Penelitian Tindakan Kelas Bagi Guru-Guru SMP dan SMA di Nusa Penida, Fakultas Pendidikan MIPA Undiksha, Nusa Penida 29 Juni-1 Juli 2007. Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi

Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Sudjana, Nana. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian

Pendidikan. Bandung: ALFABETA.

________. 2013. Statistika Untuk

Penelitian. Bandung: ALFABETA.

Sukardi. 2008. Evaluasi Pendidikan.

Jakarta: PT Bumi Aksara.

Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Prenada Media Group.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konsrtuktivisme. Jakarta: Prestasi Pustaka.

_____. 2009. Mendesain Model

Pembelajaran Inovatif-Progresif.

Surabaya: Kencana.

_____. 2010. Pengantar Penelitian

Pendidikan Bagi Pengembangan

Profesi Pendidikan dan Tenagan

Kependidikan. Jakarta: Kencana

Prenada Media Group.

_____. 2011. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Uno, Hamzah dan Nurdin Mohamad. 2011.

Belajar dengan Pendekatan

PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara. Widyanto, Putu. 2011. “Pembelajaran

Konvensional”. Tersedia pada

http://putuwidyanto.wordpress.com/20 11/01/14/pembelajaran-konvensional/ (diakses tanggal 14 Desember 2013). Winarsunu, Tulus. 2006. Statistik dalam

Penelitian Psikolagi dan Pendidikan.

Malang:Universitas Muhamadiyah

Malang.

Yamin, Martinis. 2011. Paradigma Baru

Pembelajaran. Jakarta: Gaung

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Sains Berbasis

Hasil penelitian ini secara keseluruhan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPS antara siswa yang dibelajarkan dengan sains teknologi masyarakat

Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran siklus belajar (learning cycle)

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi dan hasil belajar antara siswa yang diajarkan menggunakan model Sains Teknologi Masyarakat dengan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif Two Stay

Berdasarkan hasil analisis data telah terbukti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi dan hasil belajar antara siswa yang diajarkan menggunakan model Sains Teknologi Masyarakat dengan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran quantum tipe visual