BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup, kondisi lingkungan permukiman, estetika serta kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari. Sanitasi merupakan salah satu faktor terpenting dalam mewujudkan layanan yang terkait dengan pengentasan kemiskinan dan peningkatan produktivitas. Namun masih sering dijumpai bahwa aspek-aspek pembangunan sanitasi yang meliputi air limbah, persampahan dan drainase, termasuk penyediaan air bersih dan PHBS, masih berjalan sendiri-sendiri. Meskipun masuk dalam satu bidang pembangunan yaitu sanitasi tetapi masing-masing aspek tersebut ditangani secara terpisah sehingga banyak terjadi tumpang tindih kegiatan pembangunan bidang sanitasi oleh institusi yang berbeda-beda, di sisi lain masih banyak ditemui aspek sanitasi yang belum tertangani oleh siapapun. Hal tersebut seringkali membingungkan masyarakat sebagai penerima manfaat sekaligus pelaku pembangunan.
Pelaksanaan pembangunan sanitasi sering berjalan secara parsial dan belum terintegrasi dalam suatu “rencana besar” yang sifatnya integratif dan memiliki sasaran secara menyeluruh serta dengan jangka waktu yang lebih panjang. Masing-masing institusi melaksanakan kegiatannya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sendiri-sendiri padahal seringkali kegiatan tersebut sebetulnya dapat diintegrasikan dalam satu kegiatan yang saling bersinergi, dan dari sisi lain masih terdapat pula institusi yang tidak memiliki tugas menangani sanitasi secara langsung namun sangat dibutuhkan peranannya dalam mendukung pembangunan sanitasi.
Sejalan dengan tuntutan dan cita-cita peningkatan standar kualitas hidup masyarakat sementara di sisi lain tingkat pencemaran lingkungan semakin tinggi dan adanya keterbatasan daya dukung lingkungan itu sendiri sehingga dampak negatif yang disebabkan oleh kualitas lingkungan juga masih sangat tinggi, menuntut sanitasi menjadi salah satu aspek pembangunan yang harus diperhatikan. Sanitasi tidak bisa dianggap sebagai urusan “sepele”, urusan sanitasi sama pentingnya dengan urusan-urusan yang lain. Dan belajar dari pengalaman, permasalahan
multistakeholder dan komprehensif. Siapapun yang terkait dalam penyediaan layanan sanitasi di kabupaten/kota, harus dilibatkan secara aktif.
Pembangunan sektor sanitasi di Indonesia sudah harus merupakan upaya bersama yang terkoordinir dari semua tingkatan pemerintah, lembaga non pemerintah, organisasi berbasis masyarakat, LSM dan sektor swasta. Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) adalah salah satu program untuk mewujudkan perencanaan dan pembangunan sanitasi yang komprehensif. Keterlibatan lintas sektor dalam pembangunan sanitasi dilakukan demi mewujudkan kondisi sanitasi yang lebih baik, baik dalam konteks nasional maupun internasional (dalam upaya pencapaian sasaran MDGs).
Untuk maksud tersebut maka dibentuklah kelompok kerja (Pokja) AMPL, yang diharapkan dapat berfungsi sebagai unit koordinasi perencanaan, pelaksanaan, pengembangan dan pengawasan serta monitoring pembangunan sanitasi dari berbagai aspek. Pokja yang tidak hanya melibatkan unsur pemerintah saja namun juga yang melibatkan masyarakat serta swasta, baik yang secara langsung terlibat dalam struktur pokja maupun sebagai mitra-mitra pendukungnya.
Di tingkat nasional, koordinasi kebijakan dilakukan oleh Tim Teknis Pembangunan Sanitasi (TTPS) yang menyatukan 7 pemangku kepentingan utama dari lingkungan pemerintah (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Kementrian Pekerjaan Umum, Kementrian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Kementrian Keuangan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kementrian Perindustrian). Di provinsi, Pokja Provinsi dibawah coordinator Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) provinsi akan menjadi titik pusat regional untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi sanitasi. Di level kabupaten, Pokja AMPL Kabupaten dibentuk dan dikoordinir oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).
Pokja AMPL kabupaten/kota adalah pihak yang menjadi penanggung jawab dalam mengembangkan perencanaan dan pembangunan sanitasi skala kabupaten/kota. Mereka memastikan koordinasi antar berbagai dinas pemerintah daerah dan pihak-pihak non pemerintah, menghasilkan buku putih sanitasi kabupaten, strategi sanitasi kabupaten/kota (SSK) dan menciptakan lingkungan yang mendukung untuk perencanaan sanitasi yang terkoordinir dan sedang berjalan di tingkat kabupaten/kota.
Sebagai langkah awal Pokja akan menyusun suatu perencanaan sanitasi secara lebih komprehensif, integratif, inovatif dan melibatkan masyarakat sehingga sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat. Pembangunan sanitasi tidak hanya ditekankan pada pembangunan sarana fisik tetapi ada hal lain yang perlu dilakukan agar sarana tersebut bermanfaat secara
berkelanjutan. Proses perencanaan harus dilakukan dengan melihat permasalahan yang muncul baik masalah yang terkait dengan aspek teknis maupun aspek non-teknis secara menyeluruh, sehingga solusinya pun akan tepat, sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Strategi Sanitasi Kabupaten / Kota (SSK) merupakan dokumen perencanaan yang dijadikan sebagai pedoman semua pihak dalam membangun dan mengelola sanitasi secara komprehensif, berkelanjutan dan partisipatif untuk memperbaiki perencanaan dan pembangunan sanitasi dalam rangka mencapai target-target pencapaian layanan sektor sanitasi kabupaten dalam tiga kerangka waktu yaitu jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Dalam konteks yang lebih luas, SSK adalah sebuah langkah penting menuju pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) di tahun 2015. Penyusunan kerangka kerja strategi yang menyeluruh untuk sektor sanitasi, termasuk tujuan, visi dan misi serta garis besar strategi yaitu penyusunan prosedur perencanaan, mengembangkan partisipasi masyarakat dan keterlibatan pihak swasta dan lembaga swadaya masyarakat, kebijakan pendanaan dan rencana pembangunan sektor sanitasi sebagai bagian dari proses perencanaan Kabupaten Sumba Barat.
WILAYAH KAJIAN PPSP KABUPATEN KUPANG
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN
Strategi Sanitasi Kabupaten/ Kota (SSK) adalah suatu dokumen perencanaan yang berisi kebijakan dan strategi pembangunan sanitasi secara komprehensif pada tingkat kabupaten/ kota yang dimaksudkan untuk memberikan arahan yang jelas, tegas dan menyeluruh bagi pembangunan sanitasi Kabupaten Sumba Barat dengan tujuan agar pembangunan sanitasi dapat berlangsung secara sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan serta tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan daerah.
Tujuan dari penyusunan SSK ini adalah:
A. Tujuan Umum
SSK ini disusun untuk rencana pembangunan sanitasi jangka menengah (5 tahun)
B. Tujuan Khusus
1. SSK ini dapat memberikan gambaran tentang kebijakan pembangunan sektor sanitasi Kabupaten Sumba Barat selama periode 5 tahun.
2. Dipergunakan sebagai dasar penyusunan strategi dan langkah-langkah pelaksanaan kebijakan, serta penyusunan program jangka menengah dan tahunan sektor sanitasi. 3. Dipergunakan sebagai dasar dan pedoman bagi semua pemangku kepentingan
(instansi, masyarakat dan pihak swasta) yang akan melibatkan diri untuk mendukung dan berpartisipasi dalam pembangunan sanitasi Kabupaten Sumba Barat.
1.4. METODOLOGI
Metode yang digunakan pada proses dan kegiatan penyusunan SSK ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Identifikasi isu-isu penting di dalam Buku Putih,
2. Kesamaan pemahaman tentang kondisi sanitasi kota,
3. Kesamaan pemahaman tentang rujukan lainnya,
4. Jadwal, rencana kerja, dan pembagian tugas penyelesaian SSK.
Pokja melakukan identifikasi awal tentang isu-isu penting di dalam Buku Putih, misalnya menyangkut mengapa ‘kondisi yang tidak diinginkan’ bisa terjadi. Kemudian dilanjutkan
tertuang di dalam Buku Putih untuk semua subsektor sanitasi. Identifikasi isu-isu secara cepat tersebut dapat membantu Pokja memperoleh gambaran jelas tentang kondisi umum sanitasi di Kabupaten Sumba Barat.
Sementara rujukan yang digunakan Pokja dalam penyusunan SSK, di antaranya :
1. Millenium Development Goals
2. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
3. RPJMD dan RPJMN
4. RPIJM
5. Rencana Strategis Kementerian terkait
6. Rencana Strategis masing-masing SKPD
7. Norma, Standar, Pedoman, dan Kriteria (NSPK)
1.5. POSISI SSK DAN KAITANNYA DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAIN
Masih sering dijumpai bahwa sub sektor pembangunan sanitasi, yaitu air limbah, persampahan dan drainase, serta penyediaan air bersih berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing aspek tersebut ditangani secara terpisah, meskipun masuk dalam satu sektor pembangunan yaitu sanitasi, sehingga sering terjadi tumpang tindih kegiatan pembangunan oleh institusi yang berbeda-beda. Untuk itu perlu disusun suatu perencanaan sanitasi secara lebih integratif, aspiratif, inovatif dan sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat. Tahapan-tahapan proses perencanaan harus dilaksanakan secara berurutan, bertahap dan berkelanjutan, sehingga solusi yang ditawarkan juga akan tepat, sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Permasalahan bidang sanitasi yang muncul tidak selalu disebabkan oleh aspek teknis, namun juga berhubungan dengan aspek ekonomi dan sosial, seperti tingginya tingkat kemiskinan dan rendahnya kesadaran masyarakat menjadi tantangan lain dalam pembangunan sektor sanitasi. Sanitasi juga seringkali dianggap sebagai urusan “belakang”, sehingga sering termarjinalkan dari urusan-urusan yang lain, namun seiring dengan tuntutan peningkatan standar kualitas hidup masyarakat, semakin tingginya tingkat pencemaran
lingkungan dan keterbatasan daya dukung lingkungan itu sendiri menjadikan sanitasi menjadi salah satu aspek pembangunan yang harus diperhatikan.
Pada umumnya di setiap daerah memiliki dua bentuk perencanaan pembangunan yaitu perencanaan berdimensi waktu seperti RPJPD, RPJMD, Renstra SKPD yang memberikan arah pencapaian tujuan pembangunan sektoral dan perencanaan berdimensi ruang ( spasial ) yakni RTRW yang memberikan arah pembangunan keruangan ( struktur ruang dan pola ruang ). Dalam upaya untuk menangani permasalahan pembangunan sanitasi, beserta permasalahan pembangunan kota/kabupaten secara keseluruhan, kedua produk perencanaan ini perlu saling disinergikan dan dipadukan satu sama lain.
Mempertimbangkan permasalahan yang muncul tersebut, maka setiap daerah selayaknya memiliki strategi pembangunan sanitasi yang sinergi dengan arah pengembangan kabupaten/kota, serta dapat menjadi acuan yang jelas bagi penerapan program-program pembangunan sanitasi. Terkait dengan persoalan tersebut, suatu kabupaten/kota perlu memiliki strategi operasional dalam pembangunan sanitasi, yang dikenal sebagai Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota (SSK). Adapun SSK ini akan dijabarkan dalam suatu rencana operasional berupa Memorandum Program Strategi Sanitasi (MPSS) dimana keduanya disusun dengan tetap mengacu pada strategi pengembangan kabupaten/kota yang telah ada. Gambar 1.2. berikut ini memperlihatkan posisi SSK diantara dokumen perencanaan lainnya.
RPJPD RPJMD RKPD RENJA SKPD RENSTRA SKPD RTRW Kab SSK
Dokumen Lainnya serta data primer dan sekunder
BAB II KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI
Kerangka pengembangan sanitasi adalah pernyataan mengenai sistem sanitasi di masa depan yang akan dituju, dalam kerangka perencanaan jangka panjang 10 – 15 tahun. Agar ada jaminan bahwa sistem sanitasi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan daerah dan kondisi saat ini, maka beberapa dokumen menjadi acuan yakni Buku Putih Sanitasi (BPS), Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten.
Dalam menetapkan sistem sanitasi yang akan dipilih faktor-faktor yang juga harus dipertimbangkan adalah: faktor pengelolaan (peraturan, kelembagaan, operasional dan manajemen, kepemilikan asset), faktor fisik wilayah (kepadatan penduduk, pemanfaatan lahan, topografi lahan), serta faktor keuangan dan pendanaan (kapasitas fiskal, dukungan dan mekanisme pendanaan). Berdasarkan analisis data sekunder maupun data primer, maka kerangka pengembangan sanitasi Kabupaten Sumba Barat adalah prioritas pengembangan pelayanan sanitasi meliputi desa-desa/ kelurahan dengan tingkat resiko sanitasi sangat tinggi (4/merah), tinggi (3/kuning), sedang (2/biru), dan kurang beresiko (1/hijau), sebagaimana tergambar pada bab V buku putih sanitasi. Untuk mengetahui tingkat resiko sanitasi semua desa secara berkelanjutan baik dalam wilayah perkotaan Labuha maupun perdesaan akan dievaluasi setiap dua tahun sekali dengan metodologi Study EHRA atau metode lain yang memungkinkan. Kerangka pengembangan sanitasi persubsektor sebagai berikut :
a. Subsektor air limbah domestik
Penetapan sistem infrastruktur sanitasi pada komponen air limbah domestik adalah sistem setempat (on-site) dimana air limbah langsung diolah ditempat tanpa melalui penyaluran lebih dulu. Sistem on-site tersebut diperuntukkan untuk seluruh Kecamatan di Kabupaten Sumba Barat. b. Subsektor persampahan
Penetapan sistem infrastruktur sanitasi pada komponen persampahan adalah sistem layanan penuh penanganan seara langsung (direct) maupun tidak langsung (indirect). Sistim layanan tersebut pada wilayah CBD yaitu Kecamatan Kota Waikabubak serta wilayah perdagangan/ pasar
2.1. VISI MISI SANITASI
Guna menyamakan persepsi tentang arah dan kebijakan umum pembangunan sektor sanitasi, perlu diketengahkan visi dan misi pembangunan sanitasi Kabupaten Sumba Barat. Dengan memahami visi dan misi ini diharapkan akan terbangun komitmen yang kuat dari pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sumba Barat untuk bersama-sama membangun sektor sanitasi di daerah ini. Di sisi lain visi dan misi ini juga menjadi acuan dalam merumuskan program-program pembangunan sanitasi baik jangka panjang (lima belas tahun), menengah (lima tahun) maupun jangka pendek (tahunan).
Tabel 2.1 Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten Sumba Barat
Visi Kab Misi Kab Visi SanitasiKab Misi Sanitasi kab
Terwujudnya kehidupan rakyat Sumba Barat yang maju, adil, aman, sejahtera, demokratis dan berbudaya hukum
1. Mewujudkan SDM yang berdaya saing melalui peningkatan pendidikan, kesehatan, dan budaya masyarakat yang menjunjung nilai-nilai luhur Terwujudnya lingkungan Kabupaten Sumba Barat yang bersih dan sehat melalui pembangunan dan peningkatan layanan sanitasi yang ramah lingkungan tahun 2019
Misi Air Limbah Domestik
1.Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pengelolaan air limbah rumah tangga yang berwawasan lingkungan.
2. Mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi (pro
growth ), menciptakan lapangan
kerja (pro job), mengurangi jumlah penduduk miskin (pro poor), dan menciptakan sumber baru pendapatan asli daerah dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan (pro green )
2. Menyiapkan dan
mengimplementasikan peraturan daerah tentang sistem
pengelolaan air limbah
permukiman untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.
3. Menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung misi pembangunan sosial budaya dan ekonomi serta pembangunan bidang lainnya
3. Meningkatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan air limbah permukiman
4. Melaksanakan penataan ruang melalui pemanfaatan ruang secara lebih produktif dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan
4. Meningkatkan kapasitas pendanaan pengelolaan air limbah 5. Mewujudkan masyarakat
berbudaya politik demokratis berbudaya hukum melalui penegakan hukum yang adil serta sdm aparatur yang profesional sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance)
5. Meningkatkan kapasitas lembaga dan SDM dalam pengelolaan air limbah permukiman
Misi Persampahan
1. Meningkatkan kegiatan pengelolaanpersampahan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
2. Meningkatkan akses pelayanan persampahan melalui kualitas dan kuantitas layanan persampahan
3. Meningkatkan kapasitas pendanaan pengelolaan persampahan melalui pengembangan sumber-sumber pendanaan alternatif 4. Menyiapkan dan mengimplementasikan peraturan daerah tentang sistem
pengelolaan persampahanuntuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.
5. Meningkatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan persampahan
Misi Drainase
1. Mengurangi luas area genangan melalui pembangunan
infrastruktur drainase secara terpadu dan berkelanjutan 2. Menyiapkan dan
mengimplementasikan peraturan daerah tentang sistem
pengelolaan drainase permukiman untuk mewujudkan lingkungan permukiman yang bebas genangan.
3. Meningkatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan drainase 4. Meningkatkan kemampuan manajemen dan kapasitas personil melalui penguatan kelembagaan peneglolaan drainase.
5. Meningkatkan kapasitas pendanaan pengelolaan drainase
Misi PHBS
1. Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam perilaku PHBS untuk meningkatkan kualitas dan kesehatan lingkungan.
2. Menyiapkan dan
mengimplementasikan peraturan daerah yang berwawasan PHBS 3. Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai PHBS pada tatanan rumah tangga, sekolah, institusi pemerintah, dan tempat-tempat umum melalui
peningkatan peran media. 4. Mendorong peran serta masyarakat serta dunia usaha dan kelompok peduli dalam kegiatan
2.2. Tahapan Pengembangan Sanitasi
2.2.1. Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik
Sesuai pembahasan Buku Putih Sanitasi (BPS), berdasarkan isu srategis air limbah domestik dan permasalahan mendesak sistem pengelolaan air limbah domestik di Kabupaten Sumba Barat, sebagai berikut :
Berdasarkan data kepadatan penduduk tahun 2012 di Kabupaten Sumba Barat diperoleh gambaran klasifikasi 14 desa /kelurahan adalah urban dan 39 desa/ kelurahan di Kabupaten Sumba Barat adalah Rural (Kepadatan penduduk < 25 org/ha).
Dalam menentukan wilayah pengembangan air limbah domestik yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah di tingkat Desa/ Kelurahan disusun prioritas pengembangan air limbah domestik. Penentuan wilayah prioritas ini berdasarkan 5 (lima) kriteria seleksi, yaitu : Kepadatan penduduk, Kawasan CBD, daerah ekstrim terhadap banjir, genangan air hujan dan terkena dampak ROB, kondisi tanah serta tingkat resiko kesehatan.
Berdasarkan kriteria tersebut maka perencanaan penanganan air limbah domestik ke depan dapat digambarkan sebagai berikut :
Zona 1 (Sistem Komunal)
Berdasarkan hasil penentuan zona dalam instrumen area beresiko terdapat 8 Kelurahan/ Desa di Kabupaten Sumba Barat yang termasuk dalam zona I yaitu area dengan pengolahan limbah domestik melalui sistem komunal, Desa/ Kelurahan tersebut antara lain : Desa Sodana, Desa Tana Rara, Desa Hobawawi, Desa Tebara, Desa Kalembukuni, Desa Sobarade,Desa Lapale dan Desa Katikuloku.
Pengolahan air limbah komunal adalah pengolahan air limbah yang dilakukan pada suatu kawasan permukiman, industri, perdagangan seperti kawasan perkotaan, yang pada umumnya dilayani/dibuang melalui jaringan riool untuk kemudian dialirkan menuju ke suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan kapasitas besar.
Penanganan air limbah domestik secara komunal diperlukan saluran air limbah yang dapat mengalirkan air limbah dari tempat sumbernya hingga ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Saluran air limbah tersebut berupa jaringan pipa (riool) yang ditanam dibawah
permukaan tanah. Bagi Kota/kabupaten yang memiliki jaringan riool maka masyarakatnya dapat memanfaatkan jaringan tersebut sebagai tempat pembuangan air limbah yang dihasilkan dengan membayar sejumlah tertentu sesuai dengan tarif retribusi yang ditentukan ( berdasarkan PERDA).
Zona II (off-site kepadatan sedang)
Berdasarkan hasil penentuan zona dalam instrumen area beresiko hanya terdapat 1 Desa yang memilki tipikal sistem offsite kepadatan sedang, yaitu Desa Kodaka. Sistem pengelolaan air limbah terpusat dengan kepadatan sedang adalah sistem yang dibangun di daerah yang memiliki tingkat kepadatan sedang sekitar 150-300 jiwa/ha dengan menggunakan suatu sistem jaringan perpipaan untuk menampung dan mengalirkan air limbah ke suatu tempat untuk selanjutnya diolah. Sistem penyaluran terpusat adalah fasilitas sanitasi yang berada diluar persil. Contohnya sistem ini adalah sistem penyaluran air limbah yang kemudian dibuang ke suatu tempat pembuangan (disposal site) yang aman dan pembuangan air limbah domestik di daerah kepadatan penduduk tinggi, kemiringan tanah di daerah tersebut >1%, rumah yang sudah dilengkapi dengan tangki septik tetapi tidak mempunyai cukup lahan untuk bidang resapan atau bidang resapan yang tidak efektif atau karena permeabilitas tanah tidak memenuhi syarat.
Zona III (sistem offsite terpusat)
Pengelolaan air limbah dengan sistem offsite terpusat pada dasarnya sama dengan pengelolan air limbah sistem offsite kepadatan sedang, yang membedakan hanyalah tingkat kepadatannya. Sistem offsite terpusat adalah sistem yang dibangun di daerah yang memiliki tingkat kepadatan tinggi sekitar 300-400 jiwa/ha. Berdasarkan hasil analisa pada instrumen area beresiko terdapat 44 Desa/Kelurahan yang memiliki tipikal sistem offsite terpusat, namun pada kenyataannya Desa/ Kelurahan tersebut tidak memiliki kepadatan yang terlalu tinggi sehingga belum dibutuhkan adanya pembangunan sistem pengelolaan air limbah dengan sistem Offsite terpusat. Daerah yang kepadatannya cukup tinggi adalah daerah kawasan perkotaan yaitu daerah- daerah di Kecamatan Kota Waikabubak.
Tabel 2.2 Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik Kabupaten Sumba Barat
No Sistem Cakupanlayanan eksisting (%)
Target cakupan layanan (%) Jangka
pendek MenengahJangka panjangJangka
(a) (b) (c) (d) (e) (f)
A Buang Air Besar Sembarangan (BABS) 55% 35% 20% 0%
B Sistem On-site (setempat)
1 Cubluk dan sejenisnya 22% 15% 5% 0% 2 Individual (tangki septik) 7% 20% 30% 40%
C Sistem Komunal
1 MCK/MCK++ 16% 25% 35% 45%
2 IPAL komunal 0% 0% 0% 0%
3 Tangki septik komunal 0% 0% 0% 0%
D Sistem off-site (terpusat) 0% 5% 10% 15%
Total 100% 100% 100% 100%
Berdasarkan tabel diatas kita dapat mengetahui bahwa jumlah penduduk yang melakukan praktek Buang Air Besar Sembarangan (BABS) masih cukup banyak dimmana persentase cakupan layanannya masih sebesar 55%, untuk itu dengan adanya pengembangan sarana dan prasarana air limbah domestik ini direncanakan dalam target cakupan layanan jangka pendek menjadi 35 %, jangka menengah menjadi 20% dan jangka panjang menjadi 0 %.
Berkurangnya praktek BABS tentu diperlukan sarana dan prasarana yang memadai untuk itu dalam target cakupan layanan sarana pengelolaan air limbah dengan menggunakan sistem onsite, sistem komunal dan sistem offsite juga semakin ditingkatkan.
2.2.2. Tahapan Pengembangan Persampahan
Sesuai pembahasan Buku Putih Sanitasi (BPS) bahwa di Kabupaten Sumba Barat sudah terdapat sarana persampahan namun sarana tersebut belum memadai karena sarana tersebut hanya mencakup wilayah perkotaan saja. Berdasarkan isu srategis persampahan dan permasalahan mendesak persampahan di Kabupaten Sumba Barat, sebagai berikut :
Berdasarkan analisis penentuan zona dan sistem sanitasi Persampahan di Kabupaten Sumba Barat dengan kriteria yang ada di dalam wilayah pengembangan pelayanan persampahan dapat diidentifikasikan ada 2 (dua) kriteria utama dalam penetapan prioritas penanganan persampahan saat ini yaitu; 1). Tata guna lahan/klasifikasi wilayah: komersial/ Central of Business
Berdasarkan kriteria penentuan wilayah dan kebutuhan pelayanan persampahan ke depan dapat digambarkan sebagai berikut:
Zona 1,
Merupakan area yang cukup padat, kawasan bisnis dan tempat umum yang harus terlayani secara penuh 100% (Full coverage) dan continue selection. Daerah yang seperti ini dapat diatasi dalam jangka waktu pendek menengah dengan sistem layanan langsung dari TPS ke TPA dan sebagian terlayani oleh pelayanan penyapuan jalan. Juga sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat untuk dapat mengelola sampah dengan baik sesuai dengan syarat kesehatan serta konsep 3 R (reduce, reuse, recycle). Terdapat di 9 Desa/ Kelurahan dalam zona ini yaitu Kelurahan Pada Eweta, Kelurahan Wailiang, Kelurahan Maliti, Kelurahan Komerda, Kelurahan Kampung Baru, Kelurahan Kampurng Sawah, Desa Dedekadu, Kelurahan Weekarou, Kelurahan Sobawawi.
Zona 2,
Merupakan area yang tidak terlalu padat penduduknya, area ini dilayani secara lokal baik individual maupun komunal, Wilayah yang seperti ini dapat diatasi dalam jangka pendek sampai panjang.Kegiatan yang dapat dilakukan adalah penyuluhan kepada masyarakat untuk dapat mengelola sampah dengan baik sesuai dengan syarat kesehatan serta konsep 3 R (reduce,
reuse, recycle) dan pembangunan TPST.
Terdapat 44 Desa/ Kelurahan dalam zona ini yaitu: Seluruh Desa/ Kelurahan di Kabupaten Sumba Barat selain pada Zona 1. Pada peta diberi warna Kuning.
Tabel 2.3 Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik Kabupaten Sumba Barat
No Sistem Cakupan layananeksisting (%)
Target cakupan layanan (%) Jangka
pendek MenengahJangka panjangJangka
(a) (b) (c) (d) (e) (f)
A Persentase sampah yang terangkut 50% 65% 80% 100%
1 Penanganan langsung (direct) 15% 20% 25% 30% 2 Penanganan tidak langsung (indirect) 35% 45% 55% 70%
B Dikelola mandiri oleh masyarakat atau belum terlayani
50% 35% 20% 0%
Total 100% 100% 100% 100%
Berdasarkan hasil analisa dalam instrumen area beresiko dapat kita mengetahui bahwa 50% proses pengelolaan sampah di Kabupaten Sumba Barat masih dikelola mandiri oleh masyarakat atau belum terlayani sama sekali. Hal ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena tidak adanya pelayanan sampah maka masyarakat akan membuang sampah di lahan kosong, saluran- saluran drainase dan pembakaran sampah di lahan terbuka sehingga akan berdampak pada polusi udara dan efek rumah kaca.
Target cakupan layanan yang direncanakan oleh pemerintah daerah dalam jangka pendek, jangka menengah adalah peningkatan persentase jumlah sampah yang terangkut baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga tidak ada lagi sampah yang dikelola sendiri oleh masyarakat.
2.2.3.Tahapan Pengembangan Drainase
Dalam menentukan wilayah pengembangan saluran drainase yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah di tingkat Desa/Kelurahan, maka disusun prioritas pengembangan sistem drainase. Penentuan wilayah prioritas ini berdasarkan 5 (lima) kriteria seleksi, yaitu : Kepadatan penduduk, Kawasan CBD, daerah ROB, daerah genangan air hujan serta tingkat resiko kesehatan. Berdasarkan kriteria tersebut maka perencanaan penanganan drainase ke depan dapat digambarkan sebagai berikut :
23 Desa/ Kelurahan di Kabupaten Sumba Barat merupakan area dengan tingkat resiko tinggi dengan kepadatan >100 orang/ha dan sisanya sebanyak 30 Desa/ Kelurahan merupakan area dengan resiko menengah dengan kepadatan 25-100 orang/ha.
Peta 2.3 Peta Tahapan Pengembangan Drainase Perkotaan
Tabel 2.4 : Tahapan Pengembangan Drainase Perkotaan Kabupaten Sumba Barat
No Kecamatan/Kelurahan Luas GenanganEksisting (ha)
Luas genangan (ha) Jangka
pendek MenengahJangka PanjangJangka
(a) (b) (c) (d) (e) (f)
1 Kel. Pada Eweta 0,5 0,5 0 0
2 Kel. Wailiang 1 0,5 0 0
3 Kel. Maliti 2 1,5 1 0
4 Kel. Komerda 1,5 1 0,5 0
5 Kel. Kampung Baru 1 0,5 0 0
6 Kel. Kampung Sawah 0,25 0,25 0 0
Total 6,25 4,25 1,5 0
Wilayah genangan di Kabupaten Sumba Barat hanya terdapat di satu Kecamatan yaitu Kecamatan Kota Waikabubak dimana Kecamatan tersebut merupakan pusat kota, sehingga diperlukan penanganan secara lebih optimal pada wilayah tersebut. Luas genangan eksisting terbesar berada di Kelurahan Maliti dengan luas genangan sebesar 2 ha, sedangkan luas genangan terkecil berada di Kelurahan Kampung Sawah dengan luas genangan 0,25 ha. Tahapan pengembengan drainase yang direncanakan oleh pemerintah Kabupaten Sumba Barat adalah dengan menambah jumlah sarana dan prasarana drainase di wilayah yang terdapat genangan sehingga pada akhirnya Kabupaten Sumba Barat dalam jangka panjang terbebas dari genangan.
2.3. Perkiraan Pendanaan Pengembangan Sanitasi
Tabel 2.5 : Perhitungan pertumbuhan Pendanaan APBD Kabupaten Sumba Barat untuk Sanitasi
No SKPD Belanja Sanitasi (Rp.) pertumbRata2
uhan (%)
2010 2011 2012 2013 2014
1 Belanja Sanitasi (1.1 +1.2 + 1.3 + 1.4) 2.443.360.100 2.196.402.050 1.782.776.550 2.438.451.200 3.564.655.298
1.1 Air Limbah Domestik - - - -
-1.2 Sampah RumahTangga 1.481.139.550 1.716.264.400 1.256.541.600 1.269.355.700 1.093.594.716
1.3 Drainase Perkotaan 769.010.000 359.500.000 377.475.000 1.155.695.500 2.400.000.000
1.4 PHBS 193.210.550 120.637.650 148.759.950 13.400.000 71.060.582
2 Dana Alokasi Khusus(2.1 + 2.2 + 2.3) 763.100.000,00 1.170.354.545,00 3.123.245.455, 1.344.820.000, 2.836.557.180, 1%
2.1 DAK Sanitasi 763.100.000 1.170.354.545,00 2.126.505.455, 1.24.820.000, 2.325.861.727,
2.2 DAK Lingkungan Hidup - - 996.740.000,00 100.000.000,00 510.695.453,99
2.3 DAK Perumahan danPermukiman - - - -
-3 Pinjaman/ Hibah untukSanitasi - - -
-4 Bantuan KeuanganProvinsi untuk
Sanitasi - - - -
-Belanja APBD Murni untuk
Sanitasi (1-2-3) 1.680.260.100, 1.026.047.505, (1.340.468.905,) 1.093.631.200, 728.098.117, 1% Total Belanja Langsung 85.958.618.150, 121.909.074.873, 67.318.487.030 93.012.256.798 116.444.847.80 % APBD murni terhadap
Belanja Langsung 2% 1% -2% 1% 1%
Dari table 2.5 tersebut dapat dilihat bahwa persentase belanja APBD Murni untuk sanitasi terhadap Total Belanja Langsung setiap tahun sangatlah kecil yaitu pada tahun 2012 sampai -2%dan pada tahun 2013 sampai 2014 mengalami peningkatan walaupun sangat kecil yaitu 1% namun persentasenya masih dibawah tahun 2010. Rata-rata pertumbuhan persentase Belanja APBD Murni untuk Sanitasi terhadap Total Belanja langsung (tahun 2010 s/d 2014) adalah sebesar 0,87 %.
Tabel 2.6 Perkiraan Besaran Pendanaan Sanitasi ke Depan
No Uraian Perkiraan Belanja Murni Sanitasi ke Depan Total Pendanaan
2015 2016 2017 2018 2019 1 Perkiraan Belanja Langsung 344.127.430.000 361.333.801.500 379.400.491.575 398.370.516.154 418.289.041.961 1.901.521.281.190 2 Perkiraan APBD Murni untuk Sanitasi 4.685.774.924 5.154.352.416 5.669.787.657 6.236.766.423 6.860.443.065 28.607.124.485 3 Perkiraan Komitmen Pendanaan Sanitasi 6.882.548.600 7.226.676.030 7.588.009.832 7.967.410.323 8.365.780.839 38.030.425.624
Tabel 2.6 di atas ditunjukkan dengan memperkirakan persentase Komitmen Pendanaan Sanitasi sebesar 2 % setiap tahun maka Belanja Langsung maupun APBD murni untuk Sanitasi untuk 5 tahun kedepan Belanja Langsung dan APBD Murni untuk Sanitasi dapat diperkirakan.
Tabel 2.7 Perhitungan pertumbuhan pendanaan APBD Kabupaten Sumba Barat untuk operasiona/ pemeliharaan sanitasi
NO. Uraian Belanja Sanitasi (Rp) Pertumbuhan
rata-rata
2010 2011 2012 2013 2014
1 Belanja Sanitasi 1.1 Air Limbah Domestik
1.1.1 Biaya operasional /
pemeliharaan (justified) 94.212.693 123.976.967 156.242.367 125.740.827 141.993.180
-1.2 Sampah rumah tangga
1.2.1 Biaya operasional /
pemeliharaan (justified) 507.928.500 630.858.700 662.026.200 609.515.000 650.569.000
-1.3 Drainase Lingkungan
1.3.1 Biaya operasional /
pemeliharaan (justified) 70.659.520 92.982.725 117.181.775 94.305.620 106.494.885
-Pendanaan APBD Kabupaten Sumba Barat untuk operasional / pemeliharaan sanitasi masih sangat kecil terutama untuk biaya operasional / pemeliharaan air limbah domestik dan drainase lingkungan. Pada tahun 2010 biaya operasional air limbah sebesar 14% dari total keseluruhan biaya operasional sanitasi sedangkan biaya operasional sampah 75% dan drainase 10% dari total biaya operasional secara keseluruhan. Tahun 2014 biaya operasional untuk air limbah dan drainase meningkat 1% dibandingkan dengan biaya operasinal tahun 2010, namun biaya
Tabel 2.8 : Perkiraan Besaran Pendanaan APBD Kabupaten Sumba Barat untuk kebutuhan operasional / pemeliharaan aset sanitasi terbangun hingga tahun 2019
NO. Uraian Biaya operasional / pemeliharaan (Rp) PendanaaTotal n
2015 2016 2017 2018 2019
1 Belanja Sanitasi 1.1 Air Limbah Domestik 1.1.1 Biaya operasional/pemeliharaan
(justified) 125.000.000 131.250.000 137.812.500 144.703.125 151.938.281 690.703.906
1.2 Sampah rumah tangga
1.2.1 Biaya operasional/pemeliharaan
(justified) 100.000.000 105.000.000 110.250.000 115.762.500 121.550.625 552.563.125
1.3 Drainase Lingkungan
1.3.1 Biaya operasional/pemeliharaan
(justified) 150.000.000 157.500.000 165.375.000 173.643.750 182.325.938 828.844.688
Tabel 2.8 diatas menunjukan perkiraan besaran pendanaan APBD Kabupaten Sumba Barat untuk operasional/ pemeliharaan Aset Sanitasi yaitu pertumbuhannya sebesar 5 % pertahun.
Tabel 2.9 Perkiraan kemampuan APBD Kabupaten Sumba Barat dalam mendanai program/ kegiatan SSK
No Uraian Pendanaan (Rp) Total
Pendanaan 2015 2016 2017 2018 2019 1 Perkiraan kebutuhan operasional / pemeliharaan 375.000.000 387.500.000 400.625.000 414.406.250 428.876.563 2.006.407.813
2 Perkiraan APBD murni
untuk sanitasi 4.685.774.924 5.154.352.416 5.669.787.657 6.236.766.423 6.860.443.065 28.607.124.485 3 Perkiraan Komitmen Pendanaan Sanitasi 6.882.548.600 7.226.676.030 7.588.009.831 7.967.410.323 8.365.780.839 38.030.425.623 4 Kemampuan Mendanai SSK (APBD murni) (2-1) 4.310.774.924 4.766.852.416 5.269.162.657 5.822.360.173 6.431.566.503 26.600.716.673 5 Kemampuan Mendanai SSK (komitmen) (3-1) 6.507.548.600 6.839.176.030 7.187.384.831 7.553.004.073 7.936.904.277 36.024.017.811 Berdasarkan tabel 2.9 diatas kita dapat melihat bahwa pemerintah Kabupaten Sumba Barat memperkirakan kemampuan dana untuk sanitasi sebesar 2% dari belanja langsung.
BAB II KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI
Kerangka pengembangan sanitasi adalah pernyataan mengenai sistem sanitasi di masa depan yang akan dituju, dalam kerangka perencanaan jangka panjang 10 – 15 tahun. Agar ada jaminan bahwa sistem sanitasi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan daerah dan kondisi saat ini, maka beberapa dokumen menjadi acuan yakni Buku Putih Sanitasi (BPS), Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten.
Dalam menetapkan sistem sanitasi yang akan dipilih faktor-faktor yang juga harus dipertimbangkan adalah: faktor pengelolaan (peraturan, kelembagaan, operasional dan manajemen, kepemilikan asset), faktor fisik wilayah (kepadatan penduduk, pemanfaatan lahan, topografi lahan), serta faktor keuangan dan pendanaan (kapasitas fiskal, dukungan dan mekanisme pendanaan). Berdasarkan analisis data sekunder maupun data primer, maka kerangka pengembangan sanitasi Kabupaten Sumba Barat adalah prioritas pengembangan pelayanan sanitasi meliputi desa-desa/ kelurahan dengan tingkat resiko sanitasi sangat tinggi (4/merah), tinggi (3/kuning), sedang (2/biru), dan kurang beresiko (1/hijau), sebagaimana tergambar pada bab V buku putih sanitasi. Untuk mengetahui tingkat resiko sanitasi semua desa secara berkelanjutan baik dalam wilayah perkotaan Labuha maupun perdesaan akan dievaluasi setiap dua tahun sekali dengan metodologi Study EHRA atau metode lain yang memungkinkan. Kerangka pengembangan sanitasi persubsektor sebagai berikut :
a. Subsektor air limbah domestik
Penetapan sistem infrastruktur sanitasi pada komponen air limbah domestik adalah sistem setempat (on-site) dimana air limbah langsung diolah ditempat tanpa melalui penyaluran lebih dulu. Sistem on-site tersebut diperuntukkan untuk seluruh Kecamatan di Kabupaten Sumba Barat. b. Subsektor persampahan
Penetapan sistem infrastruktur sanitasi pada komponen persampahan adalah sistem layanan penuh penanganan seara langsung (direct) maupun tidak langsung (indirect). Sistim layanan tersebut pada wilayah CBD yaitu Kecamatan Kota Waikabubak serta wilayah perdagangan/ pasar
2.1. VISI MISI SANITASI
Guna menyamakan persepsi tentang arah dan kebijakan umum pembangunan sektor sanitasi, perlu diketengahkan visi dan misi pembangunan sanitasi Kabupaten Sumba Barat. Dengan memahami visi dan misi ini diharapkan akan terbangun komitmen yang kuat dari pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sumba Barat untuk bersama-sama membangun sektor sanitasi di daerah ini. Di sisi lain visi dan misi ini juga menjadi acuan dalam merumuskan program-program pembangunan sanitasi baik jangka panjang (lima belas tahun), menengah (lima tahun) maupun jangka pendek (tahunan).
Tabel 2.1 Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten Sumba Barat
Visi Kab Misi Kab Visi SanitasiKab Misi Sanitasi kab
Terwujudnya kehidupan rakyat Sumba Barat yang maju, adil, aman, sejahtera, demokratis dan berbudaya hukum
1. Mewujudkan SDM yang berdaya saing melalui peningkatan pendidikan, kesehatan, dan budaya masyarakat yang menjunjung nilai-nilai luhur Terwujudnya lingkungan Kabupaten Sumba Barat yang bersih dan sehat melalui pembangunan dan peningkatan layanan sanitasi yang ramah lingkungan tahun 2019
Misi Air Limbah Domestik
1.Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pengelolaan air limbah rumah tangga yang berwawasan lingkungan.
2. Mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi (pro
growth ), menciptakan lapangan
kerja (pro job), mengurangi jumlah penduduk miskin (pro poor), dan menciptakan sumber baru pendapatan asli daerah dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan (pro green )
2. Menyiapkan dan
mengimplementasikan peraturan daerah tentang sistem
pengelolaan air limbah
permukiman untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.
3. Menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung misi pembangunan sosial budaya dan ekonomi serta pembangunan bidang lainnya
3. Meningkatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan air limbah permukiman
4. Melaksanakan penataan ruang melalui pemanfaatan ruang secara lebih produktif dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan
4. Meningkatkan kapasitas pendanaan pengelolaan air limbah 5. Mewujudkan masyarakat
berbudaya politik demokratis berbudaya hukum melalui penegakan hukum yang adil serta sdm aparatur yang profesional sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance)
5. Meningkatkan kapasitas lembaga dan SDM dalam pengelolaan air limbah permukiman
Misi Persampahan
1. Meningkatkan kegiatan pengelolaanpersampahan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
2. Meningkatkan akses pelayanan persampahan melalui kualitas dan kuantitas layanan persampahan
3. Meningkatkan kapasitas pendanaan pengelolaan persampahan melalui pengembangan sumber-sumber pendanaan alternatif 4. Menyiapkan dan mengimplementasikan peraturan daerah tentang sistem
pengelolaan persampahanuntuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.
5. Meningkatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan persampahan
Misi Drainase
1. Mengurangi luas area genangan melalui pembangunan
infrastruktur drainase secara terpadu dan berkelanjutan 2. Menyiapkan dan
mengimplementasikan peraturan daerah tentang sistem
pengelolaan drainase permukiman untuk mewujudkan lingkungan permukiman yang bebas genangan.
3. Meningkatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan drainase 4. Meningkatkan kemampuan manajemen dan kapasitas personil melalui penguatan kelembagaan peneglolaan drainase.
5. Meningkatkan kapasitas pendanaan pengelolaan drainase
Misi PHBS
1. Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam perilaku PHBS untuk meningkatkan kualitas dan kesehatan lingkungan.
2. Menyiapkan dan
mengimplementasikan peraturan daerah yang berwawasan PHBS 3. Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai PHBS pada tatanan rumah tangga, sekolah, institusi pemerintah, dan tempat-tempat umum melalui
peningkatan peran media. 4. Mendorong peran serta masyarakat serta dunia usaha dan kelompok peduli dalam kegiatan
2.2. Tahapan Pengembangan Sanitasi
2.2.1. Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik
Sesuai pembahasan Buku Putih Sanitasi (BPS), berdasarkan isu srategis air limbah domestik dan permasalahan mendesak sistem pengelolaan air limbah domestik di Kabupaten Sumba Barat, sebagai berikut :
Berdasarkan data kepadatan penduduk tahun 2012 di Kabupaten Sumba Barat diperoleh gambaran klasifikasi 14 desa /kelurahan adalah urban dan 39 desa/ kelurahan di Kabupaten Sumba Barat adalah Rural (Kepadatan penduduk < 25 org/ha).
Dalam menentukan wilayah pengembangan air limbah domestik yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah di tingkat Desa/ Kelurahan disusun prioritas pengembangan air limbah domestik. Penentuan wilayah prioritas ini berdasarkan 5 (lima) kriteria seleksi, yaitu : Kepadatan penduduk, Kawasan CBD, daerah ekstrim terhadap banjir, genangan air hujan dan terkena dampak ROB, kondisi tanah serta tingkat resiko kesehatan.
Berdasarkan kriteria tersebut maka perencanaan penanganan air limbah domestik ke depan dapat digambarkan sebagai berikut :
Zona 1 (Sistem Komunal)
Berdasarkan hasil penentuan zona dalam instrumen area beresiko terdapat 8 Kelurahan/ Desa di Kabupaten Sumba Barat yang termasuk dalam zona I yaitu area dengan pengolahan limbah domestik melalui sistem komunal, Desa/ Kelurahan tersebut antara lain : Desa Sodana, Desa Tana Rara, Desa Hobawawi, Desa Tebara, Desa Kalembukuni, Desa Sobarade,Desa Lapale dan Desa Katikuloku.
Pengolahan air limbah komunal adalah pengolahan air limbah yang dilakukan pada suatu kawasan permukiman, industri, perdagangan seperti kawasan perkotaan, yang pada umumnya dilayani/dibuang melalui jaringan riool untuk kemudian dialirkan menuju ke suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan kapasitas besar.
Penanganan air limbah domestik secara komunal diperlukan saluran air limbah yang dapat mengalirkan air limbah dari tempat sumbernya hingga ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Saluran air limbah tersebut berupa jaringan pipa (riool) yang ditanam dibawah
permukaan tanah. Bagi Kota/kabupaten yang memiliki jaringan riool maka masyarakatnya dapat memanfaatkan jaringan tersebut sebagai tempat pembuangan air limbah yang dihasilkan dengan membayar sejumlah tertentu sesuai dengan tarif retribusi yang ditentukan ( berdasarkan PERDA).
Zona II (off-site kepadatan sedang)
Berdasarkan hasil penentuan zona dalam instrumen area beresiko hanya terdapat 1 Desa yang memilki tipikal sistem offsite kepadatan sedang, yaitu Desa Kodaka. Sistem pengelolaan air limbah terpusat dengan kepadatan sedang adalah sistem yang dibangun di daerah yang memiliki tingkat kepadatan sedang sekitar 150-300 jiwa/ha dengan menggunakan suatu sistem jaringan perpipaan untuk menampung dan mengalirkan air limbah ke suatu tempat untuk selanjutnya diolah. Sistem penyaluran terpusat adalah fasilitas sanitasi yang berada diluar persil. Contohnya sistem ini adalah sistem penyaluran air limbah yang kemudian dibuang ke suatu tempat pembuangan (disposal site) yang aman dan pembuangan air limbah domestik di daerah kepadatan penduduk tinggi, kemiringan tanah di daerah tersebut >1%, rumah yang sudah dilengkapi dengan tangki septik tetapi tidak mempunyai cukup lahan untuk bidang resapan atau bidang resapan yang tidak efektif atau karena permeabilitas tanah tidak memenuhi syarat.
Zona III (sistem offsite terpusat)
Pengelolaan air limbah dengan sistem offsite terpusat pada dasarnya sama dengan pengelolan air limbah sistem offsite kepadatan sedang, yang membedakan hanyalah tingkat kepadatannya. Sistem offsite terpusat adalah sistem yang dibangun di daerah yang memiliki tingkat kepadatan tinggi sekitar 300-400 jiwa/ha. Berdasarkan hasil analisa pada instrumen area beresiko terdapat 44 Desa/Kelurahan yang memiliki tipikal sistem offsite terpusat, namun pada kenyataannya Desa/ Kelurahan tersebut tidak memiliki kepadatan yang terlalu tinggi sehingga belum dibutuhkan adanya pembangunan sistem pengelolaan air limbah dengan sistem Offsite terpusat. Daerah yang kepadatannya cukup tinggi adalah daerah kawasan perkotaan yaitu daerah- daerah di Kecamatan Kota Waikabubak.
Tabel 2.2 Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik Kabupaten Sumba Barat
No Sistem Cakupanlayanan eksisting (%)
Target cakupan layanan (%) Jangka
pendek MenengahJangka panjangJangka
(a) (b) (c) (d) (e) (f)
A Buang Air Besar Sembarangan (BABS) 55% 35% 20% 0%
B Sistem On-site (setempat)
1 Cubluk dan sejenisnya 22% 15% 5% 0% 2 Individual (tangki septik) 7% 20% 30% 40%
C Sistem Komunal
1 MCK/MCK++ 16% 25% 35% 45%
2 IPAL komunal 0% 0% 0% 0%
3 Tangki septik komunal 0% 0% 0% 0%
D Sistem off-site (terpusat) 0% 5% 10% 15%
Total 100% 100% 100% 100%
Berdasarkan tabel diatas kita dapat mengetahui bahwa jumlah penduduk yang melakukan praktek Buang Air Besar Sembarangan (BABS) masih cukup banyak dimmana persentase cakupan layanannya masih sebesar 55%, untuk itu dengan adanya pengembangan sarana dan prasarana air limbah domestik ini direncanakan dalam target cakupan layanan jangka pendek menjadi 35 %, jangka menengah menjadi 20% dan jangka panjang menjadi 0 %.
Berkurangnya praktek BABS tentu diperlukan sarana dan prasarana yang memadai untuk itu dalam target cakupan layanan sarana pengelolaan air limbah dengan menggunakan sistem onsite, sistem komunal dan sistem offsite juga semakin ditingkatkan.
2.2.2. Tahapan Pengembangan Persampahan
Sesuai pembahasan Buku Putih Sanitasi (BPS) bahwa di Kabupaten Sumba Barat sudah terdapat sarana persampahan namun sarana tersebut belum memadai karena sarana tersebut hanya mencakup wilayah perkotaan saja. Berdasarkan isu srategis persampahan dan permasalahan mendesak persampahan di Kabupaten Sumba Barat, sebagai berikut :
Berdasarkan analisis penentuan zona dan sistem sanitasi Persampahan di Kabupaten Sumba Barat dengan kriteria yang ada di dalam wilayah pengembangan pelayanan persampahan dapat diidentifikasikan ada 2 (dua) kriteria utama dalam penetapan prioritas penanganan persampahan saat ini yaitu; 1). Tata guna lahan/klasifikasi wilayah: komersial/ Central of Business
Berdasarkan kriteria penentuan wilayah dan kebutuhan pelayanan persampahan ke depan dapat digambarkan sebagai berikut:
Zona 1,
Merupakan area yang cukup padat, kawasan bisnis dan tempat umum yang harus terlayani secara penuh 100% (Full coverage) dan continue selection. Daerah yang seperti ini dapat diatasi dalam jangka waktu pendek menengah dengan sistem layanan langsung dari TPS ke TPA dan sebagian terlayani oleh pelayanan penyapuan jalan. Juga sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat untuk dapat mengelola sampah dengan baik sesuai dengan syarat kesehatan serta konsep 3 R (reduce, reuse, recycle). Terdapat di 9 Desa/ Kelurahan dalam zona ini yaitu Kelurahan Pada Eweta, Kelurahan Wailiang, Kelurahan Maliti, Kelurahan Komerda, Kelurahan Kampung Baru, Kelurahan Kampurng Sawah, Desa Dedekadu, Kelurahan Weekarou, Kelurahan Sobawawi.
Zona 2,
Merupakan area yang tidak terlalu padat penduduknya, area ini dilayani secara lokal baik individual maupun komunal, Wilayah yang seperti ini dapat diatasi dalam jangka pendek sampai panjang.Kegiatan yang dapat dilakukan adalah penyuluhan kepada masyarakat untuk dapat mengelola sampah dengan baik sesuai dengan syarat kesehatan serta konsep 3 R (reduce,
reuse, recycle) dan pembangunan TPST.
Terdapat 44 Desa/ Kelurahan dalam zona ini yaitu: Seluruh Desa/ Kelurahan di Kabupaten Sumba Barat selain pada Zona 1. Pada peta diberi warna Kuning.
Tabel 2.3 Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik Kabupaten Sumba Barat
No Sistem Cakupan layananeksisting (%)
Target cakupan layanan (%) Jangka
pendek MenengahJangka panjangJangka
(a) (b) (c) (d) (e) (f)
A Persentase sampah yang terangkut 50% 65% 80% 100%
1 Penanganan langsung (direct) 15% 20% 25% 30% 2 Penanganan tidak langsung (indirect) 35% 45% 55% 70%
B Dikelola mandiri oleh masyarakat atau belum terlayani
50% 35% 20% 0%
Total 100% 100% 100% 100%
Berdasarkan hasil analisa dalam instrumen area beresiko dapat kita mengetahui bahwa 50% proses pengelolaan sampah di Kabupaten Sumba Barat masih dikelola mandiri oleh masyarakat atau belum terlayani sama sekali. Hal ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena tidak adanya pelayanan sampah maka masyarakat akan membuang sampah di lahan kosong, saluran- saluran drainase dan pembakaran sampah di lahan terbuka sehingga akan berdampak pada polusi udara dan efek rumah kaca.
Target cakupan layanan yang direncanakan oleh pemerintah daerah dalam jangka pendek, jangka menengah adalah peningkatan persentase jumlah sampah yang terangkut baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga tidak ada lagi sampah yang dikelola sendiri oleh masyarakat.
2.2.3.Tahapan Pengembangan Drainase
Dalam menentukan wilayah pengembangan saluran drainase yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah di tingkat Desa/Kelurahan, maka disusun prioritas pengembangan sistem drainase. Penentuan wilayah prioritas ini berdasarkan 5 (lima) kriteria seleksi, yaitu : Kepadatan penduduk, Kawasan CBD, daerah ROB, daerah genangan air hujan serta tingkat resiko kesehatan. Berdasarkan kriteria tersebut maka perencanaan penanganan drainase ke depan dapat digambarkan sebagai berikut :
23 Desa/ Kelurahan di Kabupaten Sumba Barat merupakan area dengan tingkat resiko tinggi dengan kepadatan >100 orang/ha dan sisanya sebanyak 30 Desa/ Kelurahan merupakan area dengan resiko menengah dengan kepadatan 25-100 orang/ha.
Peta 2.3 Peta Tahapan Pengembangan Drainase Perkotaan
Tabel 2.4 : Tahapan Pengembangan Drainase Perkotaan Kabupaten Sumba Barat
No Kecamatan/Kelurahan Luas GenanganEksisting (ha)
Luas genangan (ha) Jangka
pendek MenengahJangka PanjangJangka
(a) (b) (c) (d) (e) (f)
1 Kel. Pada Eweta 0,5 0,5 0 0
2 Kel. Wailiang 1 0,5 0 0
3 Kel. Maliti 2 1,5 1 0
4 Kel. Komerda 1,5 1 0,5 0
5 Kel. Kampung Baru 1 0,5 0 0
6 Kel. Kampung Sawah 0,25 0,25 0 0
Total 6,25 4,25 1,5 0
Wilayah genangan di Kabupaten Sumba Barat hanya terdapat di satu Kecamatan yaitu Kecamatan Kota Waikabubak dimana Kecamatan tersebut merupakan pusat kota, sehingga diperlukan penanganan secara lebih optimal pada wilayah tersebut. Luas genangan eksisting terbesar berada di Kelurahan Maliti dengan luas genangan sebesar 2 ha, sedangkan luas genangan terkecil berada di Kelurahan Kampung Sawah dengan luas genangan 0,25 ha. Tahapan pengembengan drainase yang direncanakan oleh pemerintah Kabupaten Sumba Barat adalah dengan menambah jumlah sarana dan prasarana drainase di wilayah yang terdapat genangan sehingga pada akhirnya Kabupaten Sumba Barat dalam jangka panjang terbebas dari genangan.
2.3. Perkiraan Pendanaan Pengembangan Sanitasi
Tabel 2.5 : Perhitungan pertumbuhan Pendanaan APBD Kabupaten Sumba Barat untuk Sanitasi
No SKPD Belanja Sanitasi (Rp.) pertumbRata2
uhan (%)
2010 2011 2012 2013 2014
1 Belanja Sanitasi (1.1 +1.2 + 1.3 + 1.4) 2.443.360.100 2.196.402.050 1.782.776.550 2.438.451.200 3.564.655.298
1.1 Air Limbah Domestik - - - -
-1.2 Sampah RumahTangga 1.481.139.550 1.716.264.400 1.256.541.600 1.269.355.700 1.093.594.716
1.3 Drainase Perkotaan 769.010.000 359.500.000 377.475.000 1.155.695.500 2.400.000.000
1.4 PHBS 193.210.550 120.637.650 148.759.950 13.400.000 71.060.582
2 Dana Alokasi Khusus(2.1 + 2.2 + 2.3) 763.100.000,00 1.170.354.545,00 3.123.245.455, 1.344.820.000, 2.836.557.180, 1%
2.1 DAK Sanitasi 763.100.000 1.170.354.545,00 2.126.505.455, 1.24.820.000, 2.325.861.727,
2.2 DAK Lingkungan Hidup - - 996.740.000,00 100.000.000,00 510.695.453,99
2.3 DAK Perumahan danPermukiman - - - -
-3 Pinjaman/ Hibah untukSanitasi - - -
-4 Bantuan KeuanganProvinsi untuk
Sanitasi - - - -
-Belanja APBD Murni untuk
Sanitasi (1-2-3) 1.680.260.100, 1.026.047.505, (1.340.468.905,) 1.093.631.200, 728.098.117, 1% Total Belanja Langsung 85.958.618.150, 121.909.074.873, 67.318.487.030 93.012.256.798 116.444.847.80 % APBD murni terhadap
Belanja Langsung 2% 1% -2% 1% 1%
Dari table 2.5 tersebut dapat dilihat bahwa persentase belanja APBD Murni untuk sanitasi terhadap Total Belanja Langsung setiap tahun sangatlah kecil yaitu pada tahun 2012 sampai -2%dan pada tahun 2013 sampai 2014 mengalami peningkatan walaupun sangat kecil yaitu 1% namun persentasenya masih dibawah tahun 2010. Rata-rata pertumbuhan persentase Belanja APBD Murni untuk Sanitasi terhadap Total Belanja langsung (tahun 2010 s/d 2014) adalah sebesar 0,87 %.
Tabel 2.6 Perkiraan Besaran Pendanaan Sanitasi ke Depan
No Uraian Perkiraan Belanja Murni Sanitasi ke Depan Total Pendanaan
2015 2016 2017 2018 2019 1 Perkiraan Belanja Langsung 344.127.430.000 361.333.801.500 379.400.491.575 398.370.516.154 418.289.041.961 1.901.521.281.190 2 Perkiraan APBD Murni untuk Sanitasi 4.685.774.924 5.154.352.416 5.669.787.657 6.236.766.423 6.860.443.065 28.607.124.485 3 Perkiraan Komitmen Pendanaan Sanitasi 6.882.548.600 7.226.676.030 7.588.009.832 7.967.410.323 8.365.780.839 38.030.425.624
Tabel 2.6 di atas ditunjukkan dengan memperkirakan persentase Komitmen Pendanaan Sanitasi sebesar 2 % setiap tahun maka Belanja Langsung maupun APBD murni untuk Sanitasi untuk 5 tahun kedepan Belanja Langsung dan APBD Murni untuk Sanitasi dapat diperkirakan.
Tabel 2.7 Perhitungan pertumbuhan pendanaan APBD Kabupaten Sumba Barat untuk operasiona/ pemeliharaan sanitasi
NO. Uraian Belanja Sanitasi (Rp) Pertumbuhan
rata-rata
2010 2011 2012 2013 2014
1 Belanja Sanitasi 1.1 Air Limbah Domestik
1.1.1 Biaya operasional /
pemeliharaan (justified) 94.212.693 123.976.967 156.242.367 125.740.827 141.993.180
-1.2 Sampah rumah tangga
1.2.1 Biaya operasional /
pemeliharaan (justified) 507.928.500 630.858.700 662.026.200 609.515.000 650.569.000
-1.3 Drainase Lingkungan
1.3.1 Biaya operasional /
pemeliharaan (justified) 70.659.520 92.982.725 117.181.775 94.305.620 106.494.885
-Pendanaan APBD Kabupaten Sumba Barat untuk operasional / pemeliharaan sanitasi masih sangat kecil terutama untuk biaya operasional / pemeliharaan air limbah domestik dan drainase lingkungan. Pada tahun 2010 biaya operasional air limbah sebesar 14% dari total keseluruhan biaya operasional sanitasi sedangkan biaya operasional sampah 75% dan drainase 10% dari total biaya operasional secara keseluruhan. Tahun 2014 biaya operasional untuk air limbah dan drainase meningkat 1% dibandingkan dengan biaya operasinal tahun 2010, namun biaya
Tabel 2.8 : Perkiraan Besaran Pendanaan APBD Kabupaten Sumba Barat untuk kebutuhan operasional / pemeliharaan aset sanitasi terbangun hingga tahun 2019
NO. Uraian Biaya operasional / pemeliharaan (Rp) PendanaaTotal n
2015 2016 2017 2018 2019
1 Belanja Sanitasi 1.1 Air Limbah Domestik 1.1.1 Biaya operasional/pemeliharaan
(justified) 125.000.000 131.250.000 137.812.500 144.703.125 151.938.281 690.703.906
1.2 Sampah rumah tangga
1.2.1 Biaya operasional/pemeliharaan
(justified) 100.000.000 105.000.000 110.250.000 115.762.500 121.550.625 552.563.125
1.3 Drainase Lingkungan
1.3.1 Biaya operasional/pemeliharaan
(justified) 150.000.000 157.500.000 165.375.000 173.643.750 182.325.938 828.844.688
Tabel 2.8 diatas menunjukan perkiraan besaran pendanaan APBD Kabupaten Sumba Barat untuk operasional/ pemeliharaan Aset Sanitasi yaitu pertumbuhannya sebesar 5 % pertahun.
Tabel 2.9 Perkiraan kemampuan APBD Kabupaten Sumba Barat dalam mendanai program/ kegiatan SSK
No Uraian Pendanaan (Rp) Total
Pendanaan 2015 2016 2017 2018 2019 1 Perkiraan kebutuhan operasional / pemeliharaan 375.000.000 387.500.000 400.625.000 414.406.250 428.876.563 2.006.407.813
2 Perkiraan APBD murni
untuk sanitasi 4.685.774.924 5.154.352.416 5.669.787.657 6.236.766.423 6.860.443.065 28.607.124.485 3 Perkiraan Komitmen Pendanaan Sanitasi 6.882.548.600 7.226.676.030 7.588.009.831 7.967.410.323 8.365.780.839 38.030.425.623 4 Kemampuan Mendanai SSK (APBD murni) (2-1) 4.310.774.924 4.766.852.416 5.269.162.657 5.822.360.173 6.431.566.503 26.600.716.673 5 Kemampuan Mendanai SSK (komitmen) (3-1) 6.507.548.600 6.839.176.030 7.187.384.831 7.553.004.073 7.936.904.277 36.024.017.811 Berdasarkan tabel 2.9 diatas kita dapat melihat bahwa pemerintah Kabupaten Sumba Barat memperkirakan kemampuan dana untuk sanitasi sebesar 2% dari belanja langsung.
STRATEGI PERCEPATAN PEMBANGUNAN SANITASI
Dalam rangka mewujudkanvisi dan melaksanakan misi pembangunan sanitasiKabupaten Sumba Barat, maka perlu dirumuskan tujuan dan sasaran strategis yang akan dicapai dalam kurun waktu lima tahun kedepan. Tujuan dan sasaran strategis dirumuskan untuk memberikan arah terhadap program pembangunan sanitasi serta dalam rangka memberikan kepastian operasionalisasi dan keterkaitan antara misi dengan program pembangunan sanitasi, sehingga memberikan gambaran yang jelas tentang ukuran-ukuran terlaksananya misi dan tercapainya visi.
Persoalandandimensipembangunansanitasi yang dihadapiselaluberubahdariwaktukewaktudanmakinkompleks.Permasalahandantantangan yang dihadapiakansemakinbertambahbanyak, sedangkankemampuandansumberdayapembangunan y angtersediacenderungterbatas. Olehkarenaitupemerintahdaerahharusmengoptimalkanpemanfaatansumberdaya yang tersediauntukmemenuhituntutan yang tidakterbatasdenganmembuatpilihandalambentukskalaprioritas.Dalammenentukanpilihantersebut, makaPemerintah Daerah tetapbersikaprealistis, dengantidakmembuatsasaran-sasaran yang sejaksemuladisadaritidakbisadipenuhi.
AdapuntujuandansasaranpembangunansanitasiKabupaten Sumba Barat per sub sektorperiode 2015-2019diuraikansebagaiberikut.:
3.1. Tujuan, SasarandanStrategiPengembangan Air LimbahDomestik
Penanganan air limbahdomestikmerupakanbagianuntukmendukungterwujudnyalingkungan yang berkualitasdanlestari, lingkunganperumahanlayakhunidantidakadamasyarakat yang BABS
(buang air
besarsembarang).SebagaimanadijelaskandalanBukuPutihSanitasibahwadenganmenggunakanan alisis SWOT disimpulkanbahwaposisipengelolaansanitasi di Kabupaten Sumba Barat padakomponen air limbahdomestikberadapadakuadran IV yakniposisidiversifikasiterpusat,
POKJA AMPL KABUPATEN SUMBA BARAT III - 2
limbahdomestiksebagaimanatabel 3.1.berikutini:
Tabel 3.1 : Tujuan, Sasaran, dan Strategi Pengelolaan Air Limbah Domestik
Tujuan Sasaran Strategi
Pernyataan Sasaran Indikator Sasaran
Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan jamban dan septic tank serta berpartisipasi dalam pengelolaan air limbah
Berkurangnya praktek Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dari 74% menjadi 30% tahun 2019
Jumlah penduduk yang melakukan praktek BABS berkurang menjadi 30% di tahun 2019
Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan
masyarakat tentang pengelolaan jamban dan septic tank
Mengefektifkan sosialisasi tentang larangan BABS melalui pendidikan anak usia sekolah
Mewujudkan sistem pengelolaan air limbah domestik secara terpadu
Pengoptimalan program perencanaan
pengembangan pengelolaan air limbah domestik secara terpadu
Tersedianya master plan pengelolaan air limbah secara terpadu serta tersedianya dokumen AMDAL
Menyusun master plan pengelolaan air limbah secara terpadu . Penyusunan outline plan pengelolaan air limbah. Penyusunan dokumen AMDAL
Tersedianya sarana dan prasarana pengelolaan air limbah domestik
Tersedianya IPLT, IPAL dan
mobil penyedot tinja Menyediakan sarana danprasarana instalasi pengelolaan air limbah (IPLT dan IPAL). Menyediakan mobil penyedot tinja. Menyiapkan perangkat
peraturan dan kelembagaan dalam penyelenggaraan pengelolaan air limbah domestik
Ditetapkannya peraturan daerah dan pedoman teknis mengenai pengelolaan air limbah domestik di tahun 2015
Tersedianya peraturan daerah mengenai pengelolaan air limbah domestik. Tersedianya peraturan daerah dalam penyelenggaraan sistem air limbah rumah tangga.
Menyusun peraturan daerah mengenai pengelolaan air limbah . Menyusun peraturan daerah dalam
penyelenggaraan sistem air limbah rumah tangga.
3.2. Tujuan, SasarandanStrategiPengembanganPersampahan
Penangananpersampahanmerupakanbagianuntukmendukungterwujudnyalingkungan yang
berkualitasdanlestari,
lingkunganperumahanlayakhunisertapengurangantimbulansampahdarisumbernyadenganpenang anansampahberwawasanlingkungan.Sebagaimanadijelaskandalanbukuputihsanitasibahwadenga nmenggunakananalisis SWOT disimpulkanbahwaposisipengelolaansanitasi di KabupatenSumba Baratpadakomponenpersampahanberadapadakuadran I yakniposisiberputar, makastrategi yang
akanditempuhkedepandalampengelolaanpersampahanadalahmeminimalkankelemahan yang
3.2.berikutini :
Tabel 3.2 : Tujuan, Sasaran, dan Strategi Pengelolaan Persampahan
Tujuan Sasaran Strategi
Pernyataan Sasaran Indikator Sasaran
Meningkatkan kualitas pelayanan pengelolaan sampah Bertambahnya sarana pengelolaan persampahan Tersedinya landasan container, dumptruck, armroll truck, gerobak sampah, keranjang sampah dan komposter
Menyediakan sarana pengangkutan sampah dan sarana komposter bagi masyarakat.
Meningkatnya sistem pemrosesan sampah dari open dumping ke sanitary landfill dan pembangunan sarana prasarana dasar penunjang TPA
Sistem sanitary landfill dalam pemrosesan akhir sampah di TPA Lapale serta Tersedianya prasarana dasar dan fasilitas operasional TPA
Meningkatkan prasarana dan sarana TPA
Pengoptimalan program perencanaan pengembangan pengelolaan persampahan secara terpadu Tersedianya masterplan pengelolaan persampahan secara terpadu. Tersedianya Studi Manajemen pengelolaan persampahan serta tersedianya penyusunan rencana usaha dan dokumen AMDAL
Menyusun masterplan pengelolaan persampahan secara terpadu. Menyusun studi manajemen dan rencana usaha (business plan) Menyusun dokumen AMDAL. Menyiapkan perangkat peraturan dan kelembagaan dalam pengelolaan persampahan Ditetapkannya kebijakan peraturan pemerintah daerah mengenai pengelolaan dan retribusi sampah
Tersusunnya PERDA tentang pengelolaan sistem persampahan dan retribusi sampah
Menetapkan Peraturan Daerah tentang pengelolaan dan retribusi persampahan.
Meningkatnya kapasitas aparatur yang
mengelola bidang persampahan
Terdapat pelatihan, workshop atau sosialisasi tentang pengelolaan persampahan
Mengadakan pelatihan dan pendidikan dalam rangka peningkatan kapasitas SDM aparatur yang mengelola bidang
persampahan. Pengetahuan dan
pemahaman aparatur yang menangani sistem
persampahan menjadi lebih meningkat Bertambahnya anggota komunitas hijau (kelompok pengelola sampah lingkungan permukiman) dari 15 orang menjadi 40 orang
Anggota komunitas hijau bertambah menjadi 40 orang.
Menambah jumlah personil anggota komunitas hijau sehingga cakupan wilayah penanganan sampah dapat diperluas dan sistem persampahan dapat berjalan dengan baik
Mengembangkan dan menerapkan sistem reward untuk memicu masyarakat dalam mengelola lingkungan sekitarnya
POKJA AMPL KABUPATEN SUMBA BARAT III - 4 partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dengan sistem 3R masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah rumah tangga
untuk membuang sampah pada tempatnya dan pengetahuan masyarakat dalam memilah sampah organik dan anorganik semakin meningkat
umum terkait dalam pengelolaan sampah dengan sistem 3R . Optimalisasi sosialisasi tentang pengelolaan sampah sejak dini melalui pendidikan anak usia sekolah. Meningkatkan pembinaan masyarakat khususnya perempuan dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan gender.
3.3. Tujuan, SasarandanStrategiPengembanganDrainase
Penanganandrainaselingkunganmerupakanbagianuntukmendukungterwujudnyalingkungan yang
berkualitasdanlestari, lingkunganperumahanlayakhunisertapengurangangenangan air
terutamapadawilayah-wilayahrawangenangan.SebagaimanadijelaskandalanBukuPutihSanitasibahwadenganmengguna kananalisis SWOT disimpulkanbahwaposisipengelolaansanitasi di KabupatenSumba Baratpadakomponendrainaselingkunganberadapadakuadran II yakniposisipemeliharaanagresif,
makastrategi yang
akanditempuhkedepandalampengelolaandrainaselingkunganadalahmeminimalisirkelemahan
yang adauntukmemanfaatkanpeluang. Untukituditetapkantujuan,
sasarandanstrategipengembangandrainasesebagaimanatabel 3.3.berikutini.
Tabel 3.3 : Tujuan, Sasaran, dan Strategi Pengelolaan Drainase Perkotaan
Tujuan Sasaran Strategi
Pernyataan Sasaran Indikator Sasaran
Menyiapkan perangkat peraturan dan kelembagaan dalam pengelolaan sistem drainase lingkungan Ditetapkannya kebijakan peraturan pemerintah daerah mengenai pengelolaan sistem drainase lingkungan Tersusunnya PERDA tentang pengelolaan sistem drainase lingkungan Menyusun rancangan peraturan daerah tentang pengelolaan drainase permukiman serta melakukan proses sosialisasi PERDA tentang drainase. Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana drainase lingkungan Meningkatnya saluran drainase yang terbangun dan berfungsi baik
Tidak ada lagi saluran drainase yang tidak berfungsi berfungsi dengan baik.
Pembangunan saluran drainase baru di Kabupaten Sumba Barat. Tersedia
Pengembangan kapasitas operasi dan pemeliharaan saluran drainase terbangun, sistem polder, rumah pompa dan pompa air. Meningkatkan persentase pembangunan saluran drainase untuk yang belum terlayani.
Mewujudkan sistem drainase lingkungan yang terbangun dan berfungsi baik
Mengefektifkan master plan drainase lingkungan yang sudah ada di Kabupaten Sumba Barat
Masterplan yang sudah ada di Kabupaten Sumba Barat dapat dipergunakan secara efektif
Mereview masterplan yang sudah terdapat di Kabupaten Sumba Barat guna untuk menciptakan sistem drainase yang terbangun dan berfungsi dengan baik.
Pengelolaan PHBS
danpromosihigienemerupakanbagianterpaduuntukmendukungterwujudnyalingkungan yang
berkualitasdanlestari, lingkunganperumahanlayakhunisertameningkatnyapolahidup yang
bersihdansehat di masyarakat. Hal lain yang
ingindicapaiadalahmeningkatnyakesadaranmasyarakatakanresikobuang air besarsembarangan,
kesadaranakanpentingnyacucitanganpakaisabunterutamapada lima waktupentingyakni1)
sesudahbuangair besar (BAB), 2) sesudahmencebokipantatanak, 3)
sebelummenyantapmakanan, 4) sebelummenyuapianak, danterakhiradalah 5)
sebelummenyiapkanmakananbagikeluargaUntukituditetapkantujuan,
sasarandanstrategipengelolaan PHBS danpromosihigienesebagaimanatabel 3.4. berikutini :
Tabel 3.3 : Tujuan, Sasaran, dan Strategi Pengelolaan Drainase Perkotaan
Tujuan Sasaran Strategi
Pernyataan Sasaran Indikator Sasaran
Menyiapkan perangkat peraturan dan kelembagaan dalam pengelolaan sistem drainase lingkungan Ditetapkannya kebijakan peraturan pemerintah daerah mengenai pengelolaan sistem drainase lingkungan Tersusunnya PERDA tentang pengelolaan sistem drainase lingkungan
Menyusun rancangan peraturan daerah tentang pengelolaan drainase permukiman serta melakukan proses sosialisasi PERDA tentang drainase. Meningkatkan
pembangunan sarana dan prasarana drainase lingkungan
Meningkatnya saluran drainase yang terbangun dan berfungsi baik
Tidak ada lagi saluran drainase yang tidak berfungsi berfungsi dengan baik.
Pembangunan saluran drainase baru di Kabupaten Sumba Barat. Tersedia
Pengembangan kapasitas operasi dan pemeliharaan saluran drainase terbangun, sistem polder, rumah pompa dan pompa air. Meningkatkan persentase pembangunan saluran drainase untuk yang belum terlayani.
Mewujudkan sistem drainase lingkungan yang terbangun dan berfungsi baik
Mengefektifkan master plan drainase lingkungan yang sudah ada di Kabupaten Sumba Barat
Masterplan yang sudah ada di Kabupaten Sumba Barat dapat dipergunakan secara efektif
Mereview masterplan yang sudah terdapat di Kabupaten Sumba Barat guna untuk menciptakan sistem drainase yang terbangun dan berfungsi dengan baik.