• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Ikhtisar

Secara umum kestabilan makroekonomi sampai dengan Maret 2005 Secara umum kestabilan makroekonomi sampai dengan Maret 2005 Secara umum kestabilan makroekonomi sampai dengan Maret 2005 Secara umum kestabilan makroekonomi sampai dengan Maret 2005 Secara umum kestabilan makroekonomi sampai dengan Maret 2005 masihmasihmasihmasihmasih tetap terjaga meskipun tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi cenderung tetap terjaga meskipun tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi cenderung tetap terjaga meskipun tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi cenderung tetap terjaga meskipun tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi cenderung tetap terjaga meskipun tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi cenderung meningkat

meningkat meningkat meningkat

meningkat. Momentum pemulihan ekonomi domestik masih berlanjut seperti yang diperkirakan, dengan PDB pada triwulan I-2005 tumbuh sebesar 5,0% - 5,5% (yoy). Pertumbuhan tersebut dicapai dengan pola ekspansi yang lebih berimbang, dengan peran investasi yang semakin meningkat. Peningkatan investasi ini telah mendorong meningkatnya impor terutama untuk impor bahan baku dan barang. Di sisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), transaksi berjalan tercatat masih mengalami surplus, terutama karena adanya peningkatan kinerja ekspor. Perkembangan positif tersebut dapat dicapai di tengah kondisi eksternal yang kurang menguntungkan seperti berlanjutnya ketidakseimbangan ekonomi global, peningkatan harga minyak dunia, dan pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara. Kondisi eksternal yang kurang menguntungkan tersebut merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi kinerja nilai tukar dan inflasi pada bulan Maret.

Perkembangan harga bulan Maret menunjukkan peningkatan Perkembangan harga bulan Maret menunjukkan peningkatan Perkembangan harga bulan Maret menunjukkan peningkatan Perkembangan harga bulan Maret menunjukkan peningkatan Perkembangan harga bulan Maret menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan Februari.

dibandingkan bulan Februari. dibandingkan bulan Februari. dibandingkan bulan Februari.

dibandingkan bulan Februari. Pada Maret 2005 inflasi tercatat sebesar 1,91% (m-t-m), meningkat dibanding bulan Februari yang mencatat deflasi 0,17% (m-t-m). Secara tahunan, perkembangan harga mencatat inflasi sebesar 8,81% (y-o-y). Tingginya inflasi tersebut terutama disebabkan oleh faktor kejutan berupa kenaikan harga BBM dan faktor fundamental berupa ekspektasi inflasi yang telah meningkat sejak diumumkannya kenaikan harga BBM. Di samping itu, perkembangan nilai tukar yang cenderung melemah juga merupakan faktor yang memicu peningkatan harga. Berdasarkan kelompok barang, peningkatan inflasi tersebut terutama disumbang oleh kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 1,36% (m-t-m) yang sebagian besar diakibatkan oleh kenaikan harga BBM dan tarif angkutan.

Nilai tukar rupiah pada bulan Maret terdepresiasi secara gradual dengan Nilai tukar rupiah pada bulan Maret terdepresiasi secara gradual dengan Nilai tukar rupiah pada bulan Maret terdepresiasi secara gradual dengan Nilai tukar rupiah pada bulan Maret terdepresiasi secara gradual dengan Nilai tukar rupiah pada bulan Maret terdepresiasi secara gradual dengan tingkat volatilitas yang relatif rendah.

tingkat volatilitas yang relatif rendah. tingkat volatilitas yang relatif rendah. tingkat volatilitas yang relatif rendah.

tingkat volatilitas yang relatif rendah. Secara point-to-point rupiah melemah 210 poin menjadi Rp9.468/USD demikian pula secara rata-rata Rupiah melemah 125 poin dari Rp9.252/USD pada Februari menjadi Rp9.377/USD. Dari sisi domestik, faktor-faktor yang melatarbelakangi melemahnya Rupiah pada Maret 2005 antara lain karena meningkatnya permintaan akan valas di tengah aliran modal masuk yang masih terbatas. Dari sisi eksternal, kecenderungan melemahnya Rupiah juga dipengaruhi oleh membaiknya ekonomi AS serta ekspektasi berlanjutnya kebijakan moneter ketat oleh Fedres sehingga memicu pembalikan arus modal ke luar negeri.

Kestabilan makroekonomi masih terjaga.

Inflasi mencatat peningkatan yang cukup tinggi.

(2)

Suku bunga instrumen moneter pada bulan Maret masih belum banyak Suku bunga instrumen moneter pada bulan Maret masih belum banyak Suku bunga instrumen moneter pada bulan Maret masih belum banyak Suku bunga instrumen moneter pada bulan Maret masih belum banyak Suku bunga instrumen moneter pada bulan Maret masih belum banyak berubah.

berubah. berubah. berubah.

berubah. Suku bunga SBI 1 bulan ditutup pada posisi 7,44% atau hanya meningkat 1 basis poin (bps), sedangkan SBI 3 bulan naik 4 bps menjadi 7,31%. Selain itu, suku bunga FASBI relatif stabil pada posisi 7,00% sementara suku bunga JIBOR 1 bulan naik 4 bps pada posisi 7,46%. Suku bunga simpanan (deposito 1 dan 3 bulan) sampai dengan bulan Februari 2005 juga belum banyak berubah dibandingkan bulan sebelumnya. Suku bunga deposito 1 bulan hanya meningkat sebesar 3 bps menjadi 6,46%. Sementara itu, suku bunga kredit sampai dengan bulan Februari secara umum masih terus menurun. Suku bunga kredit modal kerja menurun 3 bps menjadi 13,37%, suku bunga kredit investasi menurun 11 bps menjadi 13,87%, dan kredit konsumsi menurun 9 bps menjadi 16,23%. Meskipun penurunan suku bunga kredit modal kerja lebih lambat dibanding penurunan suku bunga kredit konsumsi maupun suku bunga kredit investasi, namun kecenderungan menurun tersebut merupakan faktor positif bagi sektor riil.

Uang primer pada akhir bulan Maret naik Rp4,85 triliun menjadi Rp184,88 Uang primer pada akhir bulan Maret naik Rp4,85 triliun menjadi Rp184,88 Uang primer pada akhir bulan Maret naik Rp4,85 triliun menjadi Rp184,88 Uang primer pada akhir bulan Maret naik Rp4,85 triliun menjadi Rp184,88 Uang primer pada akhir bulan Maret naik Rp4,85 triliun menjadi Rp184,88 triliun.

triliun. triliun. triliun.

triliun. Posisi test date rata-rata uang primer bulan Maret dengan menggunakan GWM lama (5%) adalah sebesar Rp160,83 triliun (tumbuh 13,4%, y-o-y), masih di bawah target indikatif sebesar Rp163,14 triliun. Demikian pula dengan menggunakan GWM baru (8%), test date uang primer tercatat sebesar Rp179,60 triliun juga masih di bawah target indikatif Rp182,71 triliun. Dilihat dari sisi komponennya, peningkatan uang primer tersebut utamanya bersumber dari naiknya saldo giro positif bank di BI.

Posisi M2 pada akhir Februari mengalami penurunan sebesar Rp3,73 menjadi Posisi M2 pada akhir Februari mengalami penurunan sebesar Rp3,73 menjadi Posisi M2 pada akhir Februari mengalami penurunan sebesar Rp3,73 menjadi Posisi M2 pada akhir Februari mengalami penurunan sebesar Rp3,73 menjadi Posisi M2 pada akhir Februari mengalami penurunan sebesar Rp3,73 menjadi Rp1.012,14 triliun dibanding bulan Januari.

Rp1.012,14 triliun dibanding bulan Januari. Rp1.012,14 triliun dibanding bulan Januari. Rp1.012,14 triliun dibanding bulan Januari.

Rp1.012,14 triliun dibanding bulan Januari. Dari sisi komponen, penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan tabungan dan deposito dalam kelompok uang kuasi, sementara M1 justru mengalami peningkatan. Dari sisi faktor yang mempengaruhi, penurunan uang beredar terutama disumbang oleh kontraksi rekening pemerintah yang jauh lebih besar dari ekspansi kredit. Rekening pemerintah mengalami kontraksi Rp23,3 triliun terutama dalam bentuk pajak. Sementara itu ekspansi kredit secara total mencapai Rp7,2 triliun yang terutama berbentuk kredit konsumsi.

Kinerja perbankan nasional sampai dengan Maret 2005 masih cukup baik. Kinerja perbankan nasional sampai dengan Maret 2005 masih cukup baik. Kinerja perbankan nasional sampai dengan Maret 2005 masih cukup baik. Kinerja perbankan nasional sampai dengan Maret 2005 masih cukup baik. Kinerja perbankan nasional sampai dengan Maret 2005 masih cukup baik. Hal tersebut antara lain tercermin dari indikator perbankan seperti aspek permodalan, kualitas kredit dan tingkat profitabilitas. Berdasarkan data Februari 2005, jumlah kredit yang diberikan (termasuk chanelling) tercatat Rp601,8 triliun. Target pertumbuhan kredit perbankan sesuai rencana bisnis 2005 yakni 23,2% diperkirakan akan tercapai. Di sisi kualitas kredit, NPL gross relatif stabil hingga mencapai 6,0% sementara NPL net membaik hingga menjadi 1,7%. Kondisi permodalan juga menguat menjadi 22% yang merupakan level permodalan paling tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Suku bunga instrumen moneter masih stabil.

Uang primer meningkat.

M2 menurun sedangkan M1 meningkat.

(3)

Grafik 1. Tingkat Inflasi Grafik 2. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang

Perkembangan Ekonomi, Moneter, dan Perbankan

Inflasi, Nilai Tukar, Suku Bunga, Pasar Uang, dan Pasar Modal Inflasi, Nilai Tukar, Suku Bunga, Pasar Uang, dan Pasar Modal Inflasi, Nilai Tukar, Suku Bunga, Pasar Uang, dan Pasar Modal Inflasi, Nilai Tukar, Suku Bunga, Pasar Uang, dan Pasar Modal Inflasi, Nilai Tukar, Suku Bunga, Pasar Uang, dan Pasar Modal

Perkembangan harga bulan Maret menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan bulan Februari. Bulan Maret mencatat inflasi sebesar 1,91% (m-t-m) lebih tinggi 2,08% daripada bulan Februari yang mencatat deflasi 0,17% (m-t-m). Secara tahunan, perkembangan harga mencatat inflasi sebesar 8,81% (y-o-y) lebih tinggi 1,66% dari periode sebelumnya yang mencatat 7,15% (y-o-y).

Grafik 3. Inflasi Inti Tahunan Grafik 4. Rata-rata Nilai Tukar Rupiah

Bulan Maret mencatat inflasi...

...terutama berasal dari kelompok barang

transportasi dan komunikasi.

Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar

Sumber : BPS

% y-o-y % m-t-m

4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0 16,0

-1,0 0,0 1,0 2,0 3,0

m-t-m y-o-y

2002 2003 2004 2005

-3,00 -2,00 -1,00 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 9,00 10,00 11,00

Bahan Makanan Sandang Pendidikan, Rekreasi & Olahraga Mkn Jadi, Mnm, Rokok & Temb. Perumahan Kesehatan Transportasi & Komunikasi

Sumber : BPS

Sumbangan Inflasi

Berdasarkan kelompok barang, peningkatan inflasi pada bulan Maret terutama disumbang oleh inflasi kelompok barang transportasi dan komunikasi sebesar 1,36% (m-t-m) yang sebagian besar diakibatkan oleh kenaikan harga BBM dan tarif angkutan. Kelompok barang lain yang mengalami inflasi cukup tinggi adalah kelompok makanan jadi sehubungan dengan kenaikan harga gula pasir dan rokok sebesar 0,28% (m-t-m).

Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar % y-o-y

4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0 16,0

Headline

Exclusion

2002 2003 2004 2005

Sumber : Bloomberg diolah

8,8908,8958,922 8,803

8,419 8,337 8,4558,439 8,501

8,487 8,3868,432

8,5708,620 9,003

9,382 9,032

9,246

9,1809,1729,0229,2349,201 9,2529,378

8,508 8,230 Rp/USD

7.000 7.500 8.000 8.500 9.000 9.500 10.000

2003

2002 2004 2005

(4)

Sejalan dengan peningkatan pada inflasi IHK, laju inflasi inti pada bulan Maret juga menunjukkan peningkatan. Inflasi inti meningkat sebesar 0,28% dari 6,88% (y-o-y) bulan Februari menjadi 7,17% (y-o-y). Peningkatan laju inflasi inti tersebut tidak terlepas dari ekspektasi inflasi yang cenderung masih meningkat dan nilai tukar yang cenderung melemah. Sementara itu, tekanan inflasi dari interaksi permintaan dan penawaran relatif masih minimal.

Selama bulan Maret 2005, nilai tukar rupiah bergerak dengan kecenderungan terdepresiasi secara gradual dan diikuti dengan tingkat volatilitas yang relatif rendah. Rupiah secara rata-rata melemah 125 poin dari Rp9.252/USD pada Februari menjadi Rp9.377/USD dan secara point-to-point rupiah melemah 210 point dari Rp9.258/USD pada bulan Februari menjadi 9.468/USD. Sementara itu, volatilitas rupiah selama bulan Maret masih terjaga pada level yang relatif rendah meskipun mengalami peningkatan 0,19% menjadi 0,74% dibandingkan bulan Februari.

Dari sisi domestik, faktor yang melatarbelakangi melemahnya Rupiah pada Maret 2005 utamanya adalah meningkatnya permintaan akan valas di tengah aliran modal masuk yang masih terbatas. Tingginya permintaan valas tersebut tidak terlepas dari perkembangan beberapa hal, yaitu: (1) meningkatnya kebutuhan impor seiring pertumbuhan ekonomi yang meningkat; (2) kenaikan harga minyak dunia yang mendorong pengeluaran untuk impor minyak; (3) rencana percepatan pelunasan ULN swasta (4) pembalikan arus modal asing. Dari sisi eksternal, melemahnya rupiah juga relatif sejalan dengan pergerakan mata uang Yen maupun Euro yang juga cenderung terdepresiasi terhadap USD. Faktor yang berpengaruh antara lain adalah membaiknya ekonomi AS serta ekspektasi berlanjutnya kebijakan moneter ketat oleh Fedres, sementara perkembangan perekonomian Jepang dan kawasan Eropa justru kurang menggembirakan. Pengaruh faktor tersebut terutama muncul saat FOMC pada awal Februari dan menjelang akhir Maret.

Grafik 5. Volatilitas Nilai Tukar Rupiah Grafik 6. Premi SWAP

Inflasi inti juga naik.

...dilatarbelakangi peningkatan permintaan valas. Nilai tukar melemah meskipun volatilitasnya masih relatif rendah...

0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0

Persen

Volatilitas Kurs Rp Rata-rata

Volatilitas

Okt Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar

2003 2004

2002 2005 2003 2004

1,0 3,0 5,0 7,0 9,0 11,0

Persen

1 Bulan

3 Bulan 6 Bulan

12 Bulan

(5)

Meskipun nilai tukar rupiah melemah, namun secara umum country risk Indonesia masih membaik seperti tercermin dari perbaikan rating utang dari lembaga pemeringkat (Fitch menaikkan rating ULN Indonesia dari B+ menjadi BB-) serta yield-spread antara Indonesian Global Bond dengan US T-Notes1

yang cenderung menurun. Dari sisi imbal hasil, pendapatan atas penempatan dalam rupiah juga masih relatif menarik tercermin dari perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri yang masih lebih tinggi dibanding negara sekitar.

Grafik 7. Premi Resiko dan Kurs Rupiah2 Grafik 8. Real Effective Exchange Rate

Kondisi daya saing ekspor dari sisi harga masih kompetitif dibanding negara-negara sekitar seperti tercermin dari indeks REER yang masih undervalued maupun indeks BRER yang relatif lebih rendah dari negara-negara di kawasan Asia. Namun demikian, laju inflasi yang cukup tinggi dibandingkan depresiasi nilai tukar rupiah pada bulan Maret mengakibatkan indeks REER sedikit meningkat dari 92,78 pada Februari 2005 menjadi 93,63.

Country risk Indonesia masih cenderung membaik.

Indeks BRER menurun

sementara REER meningkat.

1 Sejak bulan Januari 2005 menggunakan selisih antara Global Bond Indonesia dengan US T Notes yang lebih mencerminkan yield spread.

2 Selisih antara Global Bond Indonesia dengan US treasury bills berjangka waktu 10 tahun

8400 8600 8800 9000 9200 9400 9600

150 200 250 300 350 400 450

Mar Apr Mei Mei Jun Ags Sep Okt Okt Des Des Jan Feb Rp/USD

Yield Spread

Indeks

50 60 70 80 90 100

2002 2003

2001 2004 2005

Sumber : CIEC dan blomber (diolah)

Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb

Grafik 9. Bilateral Real Exchange Rate Grafik 10. Suku Bunga Instrumen Moneter dan Pasar Uang

Indeks

Sumber : CEIC dan Bloomber (diolah)

55 60 65 70 75 80 85 90 95 100

2002 2003 2004 2005

Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar

Korea Selatan

Thailand

Singapura

Malaysia

Indonesia

RRC

Persen

7 8 9

FASBI

SBI 1 month JIBOR

2004 2005

(6)

Suku bunga instrumen moneter pada bulan Maret masih belum banyak berubah. Suku bunga SBI 1 bulan berada pada posisi 7,44% atau hanya meningkat 1 bps, sedangkan SBI 3 bulan naik 4 bps menjadi 7,31%. Selain itu, suku bunga FASBI belum berubah dari posisi 7,00% sementara suku bunga JIBOR 1 bulan naik 4 bps menjadi 7,46% (Grafik 10).

Grafik 11. Rata-rata Suku Bunga PUAB Pagi dan Sore

Grafik 12 Perkembangan Suku Bunga SBI, Deposito dan Penjaminan

PUAB Rupiah O/N pada bulan Maret cukup likuid sebagaimana ditandai oleh suku bunga yang menurun di tengah meningkatnya volume transaksi harian. Pada Maret 2005 suku bunga PUAB O/N rupiah rata-rata sesi pagi dan sore tercatat masing-masing sebesar 5,95% dan 4,66%, menurun dari bulan sebelumnya (6,70% dan 6,70%). Sementara itu rata-rata volume transaksi meningkat dari Rp2,33 triliun/hari menjadi Rp2,39 triliun/hari pada sesi pagi dan dari Rp2,09 triliun/hari menjadi Rp2,19 triliun/hari pada sesi sore.

Kecenderungan suku bunga simpanan dan suku bunga kredit pada Februari 2005 masih tidak berubah dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Suku bunga deposito 1 bulan hanya meningkat sebesar 3 bps menjadi 6,46%. Sementara itu, suku bunga kredit sampai dengan bulan Februari secara umum masih terus menurun. Suku bunga kredit modal kerja menurun 3 bps menjadi 13,37%, suku bunga kredit investasi menurun 11 bps menjadi 13,87%, dan kredit konsumsi menurun 9 bps menjadi 16,23%. Meskipun penurunan suku bunga kredit modal kerja lebih lambat dibanding penurunan suku bunga kredit konsumsi maupun suku bunga kredit investasi, namun kecenderungan menurun tersebut merupakan faktor positif bagi sektor riil.

Suku bunga instrumen moneter masih stabil.

Sementara itu, suku bunga PUAB O/N pagi dan sore cenderung menurun.

0,0 500,0 1000,0 1500,0 2000,0 2500,0 3000,0 3500,0 4000,0

0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0

Suku Bunga (%) Volume Pasar Uang (Miliar Rp)

Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Volume PUAB Pagi Volume PUAB Sore

Sk. Bunga PUAB Pagi Sk. Bunga PUAB Sore

Persen

5 7 9 11 13 15 17 19

SBI 1 Bulan Jam Dep. 1

Dep 1 WA

Mar Jul Nov Mar Jul Nov Mar Jul Nov Mar Jul Nov Jan

2002 2003 2004 2005

(7)

Grafik 13. Perkembangan Suku Bunga Kredit Grafik 14. Covered Interest Rate Parity

Pada bulan Maret, SIBOR (1 bulan) mencatat kenaikan sebesar 17 bps dari 2,69% pada bulan Februari menjadi 2,86% sementara suku bunga dalam negeri yang diwakili oleh JIBOR dan premi swap masing-masing meningkat sebesar 4 bps dan 32 bps menjadi 7,46% dan 3,77%. Perkembangan ini menyebabkan covered interest parity (CIP) pada bulan Maret menurun dari negatif 0,69% menjadi negatif 2,00% (Grafik 14)3.

Covered interest rate parity menurun.

3 Covered interest rate parity = suku bunga dalam negeri (JIBOR 1 bulan) √ suku bunga luar negeri (SIBOR 1 bulan) √ premi swap (1 bulan).

Persen

13 14 15 16 17 18 19 20 21

2002 2003 2004 2005

Kredit Investasi Kredit Konsumsi Kredit Modal Kerja

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb

Persen

-3,0 -2,0 -1,0 0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb

2002 2003 2004 2005

2,19

0,51 -0,06

1,18 0,53

-0,21 1,39

-0,20 0,020,17

-0,27 0,26

-0,19 -0,47-0,02

0,26

-0,76-0,57 0,160,020,63

-0,32 -0,84

0,30 1,24

0,450,840,10

-0,33-0,23 4,44

1,63

-1,81 -1,97

-1,42 0,54

-0,69

-2,00 0,73

Covered Interest Rate Parity Poly. (Covered Interest Rate Parity)

Grafik 15. IHSG dan Kapitalisasi

IHSG Kapitalisasi (Rp miliar)

330 430 530 630 730 830 930 1030 1130 1230

2004

2003 2005

Jan Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Nov Jan Mar200,000

300,000 400,000 500,000 600,000 700,000 800,000

Sumber : BEJ

Kapitalisasi

IHSG

Secara umum, kondisi pasar saham pada bulan Maret masih bullish dengan tingkat price earning ratio bursa Indonesia yang masih cukup tinggi di kawasan ASEAN. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Maret 2005 secara point-to-point ditutup pada level 1.080,17, menurun 3,20 poin dari posisi sebelumnya yaitu 1.083,37, namun dari awal sampai minggu ketiga bulan Maret, IHSG cenderung menguat dan bahkan sempat menyentuh level 1.150. IHSG mulai terkoreksi tajam pada minggu terakhir periode laporan akibat aksi ambil untung investor ditengah semakin turunnya indeks saham dunia dan regional yang dipicu oleh kenaikan suku bunga Fed Fund dan menguatnya dolar AS. Aksi ambil

(8)

untung investor asing juga menyebabkan net beli asing di pasar saham mengalami penurunan sejak pertengahan bulan.

Kecenderungan pasar saham yang masih bullish terutama didorong oleh sentimen pasar yang positif. Selain itu, ramainya perdagangan pasar saham pada bulan Maret ditengarai juga didukung oleh kondisi fundamental seperti tercermin dari pertumbuhan IHSG yang searah dengan pertumbuhan M1 riil. Ke depan, meski pertumbuhan IHSG dan M1 riil cenderung melambat, diindikasikan bahwa pasar saham akan tetap marak walaupun tidak secepat periode sebelumnya seiring dengan masih positifnya persepsi masyarakat terhadap prospek perekonomian domestik dan nilai PER yang kompetitif dengan bursa kawasan ASEAN di tengah kebijakan moneter yang mengarah ketat baik di dalam maupun luar negeri.

Uang Primer Uang Primer Uang Primer Uang Primer Uang Primer

Posisi uang primer pada akhir bulan Maret mengalami kenaikan Rp4,8 triliun dari bulan sebelumnya sehingga mencapai Rp184,9 triliun. Dari sisi komponen, kenaikan tersebut terutama bersumber dari giro positif perbankan. Perkembangan uang primer tersebut menyebabkan posisi test date rata-rata uang primer bulan Maret dengan menggunakan GWM lama (5%) adalah sebesar Rp160,83 triliun (tumbuh 13,4%, y-o-y), masih di bawaah target indikatif sebesar Rp163,14 triliun. Sementara dengan menggunakan GWM baru (8%), test date uang primer tercatat sebesar Rp179,60 triliun, masih di bawah target indikatif sebesar Rp182,71 triliun.

Grafik 16. Uang Primer Grafik 17. Pergerakan Musiman Uang Kartal

...didukung oleh

Target Indikatif Aktual Test Date

Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar

2002 2003 2004 2005

Miliar Rp

2002 2003 2004

estimasi (2) = estimasi (1) + error

Aktual

estimasi (1) = trend+seasonal

Jan

Apabila dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, penurunan uang primer tersebut utamanya bersumber dari ekspansi OPT dan NOI (terkait dengan pembayaran pinjaman luar negeri komersial Bank Indonesia), yang keduanya lebih besar dari kontraksi rekening pemerintah. Ekspansi OPT

(9)

Cadangan devisa bersih (NIR) pada bulan Maret relatif stabil pada posisi USD24,76 miliar (Grafik 18) sementara itu aktiva domestik bersih (NDA) di sisi lain menunjukkan peningkatan sebesar Rp6,06 triliun dari Rp5,53 triliun pada bulan Februari menjadi Rp11,59 triliun (Grafik 19).

..., NIR stabil sedangkan NDA

180.035 184.123184.123184.123184.123184.123 180.586180.586180.586180.586180.586 178.253178.253178.253178.253178.253 184.879184.879184.879184.879184.879 4.8444.8444.8444.8444.844

117.033 119.498 115.012 111.917 116.376 -657

99.898 103.827 99.902 97.191 98.681 -1.217

17.135 15.671 15.110 14.726 17.695 560

62.260 63.924 64.891 65.627 67.798 5.538

0 0 0 0 0 0

174.503 175.802175.802175.802175.802175.802 174.201174.201174.201174.201174.201 171.997171.997171.997171.997171.997 173.283173.283173.283173.283173.283 -1.220-1.220-1.220-1.220-1.220

5.532 5.5325.532

5.5325.532 8.3218.3218.3218.3218.321 6.3856.3856.3856.3856.385 6.2566.2566.2566.2566.256 11.59611.59611.59611.59611.596 6.0646.0646.0646.0646.064

207.105 206.335 202.098 201.128 187.045 -20.060

16.018 16.015 16.010 16.002 15.909 -109

12.331 12.328 12.323 12.315 12.222 -109

0 0 0 0 0 0

3.687 3.687 3.687 3.687 3.687 0

33.675 33.674 33.668 33.669 33.685 10

-149.876 -146.910 -144.657 -149.273 -130.782 19.094

-121.589 -126.810 -126.642 -127.665 -57.610 63.979

-28.287 -20.100 -18.015 -21.608 -73.172 -44.885

-101.390 -100.793 -100.734 -95.270- 94.261 7.129

60.645 61.118 61.086 60.611 60.813 168

1.615 2.806 3.805 5.016 6.985 5.370

Tabel 1. Uang Primer dan Faktor yang Mempengaruhinya

(Miliar Rp)

Uang Primer Uang PrimerUang Primer Uang Primer Uang Primer

Uang kertas dan logam yang diedarkan - di masyarakat

- di perbankan

Giro bank pada Bank Indonesia porsi BBO & Bank tanpa TPL* Giro sektor swasta

Cadangan Devisa Bersih (NIR) Cadangan Devisa Bersih (NIR)Cadangan Devisa Bersih (NIR) Cadangan Devisa Bersih (NIR) Cadangan Devisa Bersih (NIR)

Aktiva Domestik Bersih Aktiva Domestik BersihAktiva Domestik Bersih Aktiva Domestik Bersih Aktiva Domestik Bersih

1. Tagihan bersih kepada pemerintah 2. Tagihan pada bank komersial

a. Kredit likuiditas

b. Tagihan kepada BPPN dan bank non BPPN c. Utang lainnya

3. Tagihan lainnya 4. Operasi Pasar Terbuka

- SBI - FASBI

5. Lainnya Bersih (NOI) Memorandum item Memorandum itemMemorandum item Memorandum item Memorandum item

GWM Kelebihan GWM

*TPL = Third Party Liability

Grafik 18. Posisi NIR Grafik 19. Posisi NDA

(Miliar USD)

2003 2004 2005

Jan Mar Mei Jul Sep Nov Feb Apr Jun Ags Okt Des Mar

NIR

(10)

Likuiditas Domestik Likuiditas Domestik Likuiditas Domestik Likuiditas Domestik Likuiditas Domestik

Sesuai dengan pola musimannya, posisi M2 pada akhir Februari mengalami penurunan sebesar Rp3,73 triliun menjadi Rp1.012,14 triliun dibanding bulan sebelumnya. Dari sisi komponen, penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan tabungan dan deposito dalam kelompok uang kuasi, sementara M1 justru mengalami peningkatan.

Sesuai pola musimannya, M2 menurunº

Grafik 20. Pertumbuhan M1 & M2 Riil Grafik 21. Pertumbuhan Divisia dan M2

%, y-o-y

(10) (5) 0 5 10 15 20

M1 Riil M2 Riil

2002 2003 2004

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb

Persen

-5,0 0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0

2001 2002 2003 2004

Growth Divisia M2 Growth M2 Poly. (Growth Divisia M2)

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun AgsOkt Des Feb Apr Jun AgsOkt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb

Dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, penurunan uang beredar terutama disumbang oleh kontraksi rekening pemerintah yang jauh lebih besar dari ekspansi kredit. Rekening pemerintah mengalami kontraksi Rp23,3 triliun terutama dalam bentuk pajak. Sementara itu ekspansi kredit secara total mencapai Rp7,2 triliun yang terutama berbentuk kredit konsumsi.

(11)

Menurunnya uang kartal di tangan masyarakat pada bulan Februari menyebabkan indeks money divisia bulan Februari meningkat sebesar 0,62% menjadi 8,86% (Grafik 21). Menurunnya uang primer juga menyebabkan menyebabkan proses penciptaan uang seperti ditunjukkan oleh angka pengganda uang (APU 1 dan APU 2) mengalami peningkatan. Meskipun M2 mengalami penurunan, namun pada saat yang sama uang primer juga turun dalam jumlah yang lebih besar sehingga menyebabkan indikator APU tetap meningkat (Grafik 22).

Indeks money divisia dan APU meningkat. - Uang Kartal - Uang Giral Uang Kuasi

- Uang Kuasi Rupiah = Deposito Rupiah = Tabungan Rupiah - Simpanan Valas (dalam miliar USD)

FAKTOR

Claims on Business Sector Kredit

- Kredit Rupiah - Kredit Valas Lainnya NOI

Memorandum Item Memorandum ItemMemorandum Item Memorandum Item Memorandum Item Nilai Tukar (posisi neraca)

Tabel 2. Perkembangan Uang Beredar Dalam Arti Luas

Des DesDes

DesDes DesDesDesDesDes JanJanJanJanJan FebFebFebFebFeb DesDesDesDesDes JanJanJanJanJan FebFebFebFebFeb %,y-o-y%,y-o-y%,y-o-y%,y-o-y%,y-o-y (Miliar Rp, Posisi)

INDIKATOR INDIKATORINDIKATOR INDIKATORINDIKATOR BESARAN MONETER BESARAN MONETER BESARAN MONETER BESARAN MONETER BESARAN MONETER

883.908 883.908 883.908 883.908

883.908 955.692955.692955.692955.692955.692 947.277947.277947.277947.277947.277 935.745935.745935.745935.745935.745 1.033.5281.033.5281.033.5281.033.5281.033.528 1.015.8741.015.8741.015.8741.015.8741.015.874 1.012.1451.012.1451.012.1451.012.1451.012.145 8,168,168,168,168,16

743.443 816.514 805.289 794.315 897.927 878.463 873.830 10,01

191.939 223.799 216.343 219.033 253.818 248.174 250.433 14,34

80.686 94.542 90.619 86.846 109.265 101.789 99.375 14,43

111.253 129.257 125.724 132.187 144.553 146.385 151.058 14,28

691.969 731.893 730.934 716.712 779.710 767.700 761.712 6,28

551.504 592.715 588.946 575.282 644.109 630.289 623.397 8,36

359.847 350.885 346.347 332.373 349.091 345.901 341.281 2,68

191.657 241.830 242.599 242.909 295.018 284.388 282.116 16,14

140.465 139.178 141.988 141.430 135.601 137.411 138.315 -2,20

15,71 16,44 16,82 16,74 14,60 14,99 14,92 -10,88

250.696 271.820 269.714 272.243 263.647 260.068 264.375 -2,89

510.351 479.885 486.229 475.003 498.019 488.807 474.725 -0,06

389.296 466.826 461.827 465.114 615.802 612.852 623.541 34,06

365.410 437.942 432.738 437.040 553.548 549.017 560.753 28,31

271.851 342.027 335.129 339.731 438.881 435.518 444.925 30,96

93.559 95.917 97.610 97.309 114.667 113.499 115.828 19,03

23.886 28.884 29.089 28.074 62.254 63.835 62.788 123,65

-266.434 -262.839 -270.493 -276.615 -343.940 -345.853 -350.496 26,71

8.940 8.465 8.441 8.447 9.290 9.165 9.269

2004

2002 20052005200520052005

Grafik 22. APU 1, APU 2, dan rasio C/DPK

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Persen APU1 (M1/M0) Skala Kanan C/DPK (%)

(12)

Keterangan Keterangan Keterangan Keterangan

Keterangan Nilai CIF Feb 2005 ThdFeb 2005 ThdFeb 2005 ThdFeb 2005 ThdFeb 2005 Thd% Perubahan% Perubahan% Perubahan% Perubahan% Perubahan Jan - Feb 2005Jan - Feb 2005Jan - Feb 2005Jan - Feb 2005Jan - Feb 2005% Perubahan% Perubahan% Perubahan% Perubahan% Perubahan % Peran Thd% Peran Thd% Peran Thd% Peran Thd% Peran Thdtotaltotaltotaltotaltotal Jan 2005

4.007,3 3.983,53.983,53.983,53.983,53.983,5 6.732,36.732,36.732,36.732,36.732,3 7.990,87.990,87.990,87.990,87.990,8 -0,59-0,59-0,59-0,59-0,59 18,6918,6918,6918,6918,69 100,00100,00100,00100,00100,00

1.068,8 1.068,81.068,8 1.068,8

1.068,8 996,5996,5996,5996,5996,5 1.495,71.495,71.495,71.495,71.495,7 2.065,32.065,32.065,32.065,32.065,3 -6,76-6,76-6,76-6,76-6,76 38,0838,0838,0838,0838,08 25,8525,8525,8525,8525,85

524,1 480,9 879,3 1.005,0 -8,24 14,30 12,58

544,6 515,5 614,8 1.060,1 -5,34 72,43 13,27

Tabel 4. Impor Indonesia

(Juta USD)

Total Impor Total Impor Total Impor Total Impor Total Impor

Migas

Januari FebruariFebruariFebruariFebruariFebruari 2005

2005 2005 2005

2005 20052005200520052005

Jan - Feb

2004 20052005200520052005 Keterangan

Keterangan Keterangan Keterangan Keterangan

Nilai FOB % Perubahan% Perubahan% Perubahan% Perubahan% Perubahan % Perubahan% Perubahan% Perubahan% Perubahan% Perubahan % Peran Thd% Peran Thd% Peran Thd% Peran Thd% Peran Thd

Feb 2005 Thd Feb 2005 ThdFeb 2005 Thd Feb 2005 Thd

Feb 2005 Thd Jan - Feb 2005Jan - Feb 2005Jan - Feb 2005Jan - Feb 2005Jan - Feb 2005 totaltotaltotaltotaltotal Jan 2005

Jan 2005Jan 2005

Jan 2005Jan 2005 thd 2004thd 2004thd 2004thd 2004thd 2004 Jan - Feb 2005Jan - Feb 2005Jan - Feb 2005Jan - Feb 2005Jan - Feb 2005

6.134,0 6.134,06.134,0 6.134,0

6.134,0 6,378,66,378,66,378,66,378,66,378,6 9.950,89.950,89.950,89.950,89.950,8 12.512,612.512,612.512,612.512,612.512,6 3,993,993,993,993,99 25,7425,7425,7425,7425,74 100,00100,00100,00100,00100,00

1.223,6 1.223,61.223,6 1.223,6

1.223,6 1.338,31.338,31.338,31.338,31.338,3 2.341,72.341,72.341,72.341,72.341,7 2.561,92.561,92.561,92.561,92.561,9 9,379,379,379,379,37 9,409,409,409,409,40 20,4720,4720,4720,4720,47

536 567,6 951,5 1.103,7 5,88 16,00 8,82

66,9 123,8 209,5 190,7 85,05 -8,97 1,52

620,6 646,9 1.180,7 1.267,5 4,24 7,35 10,13

4.910,4 4.910,44.910,4 4.910,4

4.910,4 5.040,35.040,35.040,35.040,35.040,3 7.609,17.609,17.609,17.609,17.609,1 9.950,79.950,79.950,79.950,79.950,7 2,652,652,652,652,65 30,7730,7730,7730,7730,77 79,5379,5379,5379,5379,53 Tabel 3. Impor Indonesia

(Juta USD)

Sumber : BPS Total Ekspor Total Ekspor Total Ekspor Total Ekspor Total Ekspor

Migas

Januari FebruariFebruariFebruariFebruariFebruari 2005

2005 2005 2005

2005 20052005200520052005

Jan - Feb

2004 20052005200520052005

Sektor Eksternal Sektor Eksternal Sektor Eksternal Sektor Eksternal Sektor Eksternal

Nilai ekspor Indonesia selama bulan Februari tercatat sebesar USD6,38 miliar atau meningkat 3,99% dibandingkan USD6,13 miliar pada bulan sebelumnya (Tabel 3). Peningkatan ekspor tersebut utamanya didorong oleh naiknya ekspor migas sebesar 9,37%, yakni dari USD1,22 miliar pada bulan Januari menjadi USD1,34 miliar disusul oleh kenaikan ekspor nonmigas sebesar 2,65% dari USD4,91 miliar bulan Januari menjadi USD5,04 miliar. Peningkatan yang terjadi pada ekspor migas utamanya berasal dari naiknya hasil minyak sebesar 85,05% menjadi USD123,8 juta dan minyak mentah sebesar 5,88% menjadi USD567,6 juta.

Total ekspor meningkat...

Namun demikian, kegiatan impor bulan Januari mengalami penurunan sebesar 0,59% dari USD4,00 miliar menjadi USD3,98 miliar. Penurunan impor tersebut didominasi oleh turunnya impor migas sebesar 6,76% dari USD1,07 miliar bulan Januari menjadi USD0,99 miliar sedangkan impor non migas meningkat sebesar 1,65% dari USD2,94 miliar pada bulan Januari menjadi USD2,98 miliar. Komponen utama impor migas yang mengalami penurunan adalah impor minyak mentah yang menurun 8,24% dari USD0,52 miliar pada bulan Januari menjadi USD0,48 miliar dan impor hasil minyak yang menurun sebesar 5,34% dari USD0,54 miliar bulan Januari menjadi USD0,51 miliar.

(13)

Sementara itu, posisi pinjaman luar negeri Indonesia pada bulan Februari menurun sebesar USD0,40 miliar dari USD136,11 miliar bulan Januari menjadi USD135,71 miliar. Penurunan tersebut disebabkan karena menurunnya utang LN pemerintah sebesar USD651 juta sedangkan utang LN swasta relatif stabil atau hanya menurun USD59 juta (Tabel 5). Utang LN pemerintah mengalami penurunan karena adjustment nilai tukar khususnya penguatan USD terhadap Yen Jepang dimana Utang LN Indonesia banyak didominasi oleh Yen.

Sementara itu, pembayaran pinjaman luar negeri pada bulan Februari relatif stabil atau hanya meningkat USD43 juta. Hal tersebut berasal dari peningkatan pembayaran bunga pinjaman yaitu sebesar USD44 juta dari USD200 juta menjadi USD244 juta sedangkan pembayaran pokok utang LN hanya menurun sebesar USD1 juta menjadi USD1,00 miliar. Sementara itu, berdasarkan pemiliknya, pembayaran utang LN pemerintah tercatat meningkat USD162 juta menjadi USD656 juta sedangkan pembayaran utang LN swasta tercatat menurun USD119 juta menjadi USD592 juta (Tabel 6).

Posisi pinjaman luar negeri menurun...

...sedangkan pembayaran pinjaman LN relatif stabil.

2 0 0 3 2 0 0 32 0 0 3 2 0 0 3 2 0 0 3

Pemerintah Pemerintah Pemerintah Pemerintah Pemerintah Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta

Lembaga Keuangan Lembaga KeuanganLembaga Keuangan Lembaga KeuanganLembaga Keuangan

Bank Non Bank

Bukan Lembaga Keuangan Bukan Lembaga KeuanganBukan Lembaga Keuangan Bukan Lembaga KeuanganBukan Lembaga Keuangan Surat-Surat Berharga Surat-Surat Berharga Surat-Surat Berharga Surat-Surat Berharga Surat-Surat Berharga

Total Total Total Total Total

Tabel 5. Posisi Pinjaman Luar Negeri

(Juta USD)

* Angka Sementara

Mar MarMar Mar

Mar JunJunJunJunJun SepSepSepSepSep DesDesDesDesDes JanJanJanJanJan MarMarMarMarMar JunJunJunJunJun DesDesDesDesDes Jan*)Jan*)Jan*)Jan*)Jan*) Feb*)Feb*)Feb*)Feb*)Feb*)

74.513 74.513 74.513 74.513

74.513 76.00876.00876.00876.00876.008 77.70977.70977.70977.70977.709 81.66681.66681.66681.66681.666 81.48081.48081.48081.48081.480 81.21781.21781.21781.21781.217 78.59178.59178.59178.59178.591 80.27880.27880.27880.27880.278 79.31379.31379.31379.31379.313 7866278662786627866278662 53.750

53.750 53.750 53.750

53.750 53.28853.28853.28853.28853.288 52.99152.99152.99152.99152.991 51.94251.94251.94251.94251.942 52.83952.83952.83952.83952.839 52.83652.83652.83652.83652.836 52.08052.08052.08052.08052.080 52.50152.50152.50152.50152.501 52.42552.42552.42552.42552.425 52.36652.36652.36652.36652.366 7.806

7.806 7.806 7.806

7.806 7.0567.0567.0567.0567.056 7.5717.5717.5717.5717.571 7.5377.5377.5377.5377.537 7.7267.7267.7267.7267.726 7.9687.9687.9687.9687.968 7.5877.5877.5877.5877.587 8.1808.1808.1808.1808.180 8.0148.0148.0148.0148.014 8.0968.0968.0968.0968.096

4.850 4.059 4.414 4.316 4.385 4.479 3.766 3.872 3.725 3.850

2.956 2.997 3.157 3.221 3.341 3.489 3.821 4.308 4.289 4.246

45.944 45.944 45.944 45.944

45.944 46.23246.23246.23246.23246.232 45.42045.42045.42045.42045.420 44.40544.40544.40544.40544.405 45.11345.11345.11345.11345.113 44.86844.86844.86844.86844.868 44.49344.49344.49344.49344.493 44.32144.32144.32144.32144.321 44.41144.41144.41144.41144.411 4427044270442704427044270 1.203

1.203 1.203 1.203

1.203 1.2901.2901.2901.2901.290 1.2531.2531.2531.2531.253 1.7941.7941.7941.7941.794 1.7591.7591.7591.7591.759 2.6262.6262.6262.6262.626 2.4672.4672.4672.4672.467 3.3613.3613.3613.3613.361 4.3784.3784.3784.3784.378 4.6874.6874.6874.6874.687

129.466 129.466 129.466 129.466

129.466 130.586130.586130.586130.586130.586 131.953131.953131.953131.953131.953 135.402135.402135.402135.402135.402 136.078136.078136.078136.078136.078 136.679136.679136.679136.679136.679 133.138133.138133.138133.138133.138 136.140136.140136.140136.140136.140 136.116136.116136.116136.116136.116 135.715135.715135.715135.715135.715 2 0 0 4

2 0 0 4 2 0 0 4 2 0 0 4

(14)

Sektor Riil Sektor Riil Sektor Riil Sektor Riil Sektor Riil

Selama triwulan I-2005, berbagai indikator makro mengindikasikan perbaikan dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya, namun melambat apabila dibandingkan dengan triwulan IV-2004. Pada sisi permintaan, pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh peningkatan kegiatan investasi dan konsumsi. Sementara itu, sektor-sektor utama penghasil barang dan jasa seperti industri pengolahan, pengangkutan dan komunikasi serta bangunan menunjukkan laju pertumbuhan yang tinggi. Dengan perkembangan positif di sisi penawaran yang disertai dengan perluasan kapasitas perekonomian serta kondisi persediaan barang yang meningkat, permintaan agregat ditengarai masih dapat dipenuhi oleh pasokan barang dan jasa.

Namun demikian, realisasi kenaikan BBM yang dilakukan pemerintah per tanggal 1 Maret lalu telah menahan optimisme konsumen terhadap perkembangan perekonomian Indonesia ke depan (hasil survei konsumen). Indeks keyakinan konsumen menurun 13,30 poin diikuti pula oleh indeks kondisi ekonomi saat ini yang menurun 10,52 poin dan indeks ekspektasi konsumen juga menurun 16,07 poin (Grafik 23). Hasil yang sama juga terlihat dari hasil survei perusahaan Jepang di Indonesia yang dilakukan oleh JETRO (Grafik 24) dimana permintaan domestik dan permintaan ekspor diperkirakan menurun termasuk pula inventori. Hal ini mencerminkan bahwa perusahaan sedikit menahan kegiatan produksi sebagai reaksi atas kenaikan BBM.

...dari sisi

Tabel 6. Realisasi Pembayaran Pinjaman Luar Negeri Indonesia

Total Pembayaran Pinjaman Luar Negeri / Total Pembayaran Pinjaman Luar Negeri / Total Pembayaran Pinjaman Luar Negeri / Total Pembayaran Pinjaman Luar Negeri / Total Pembayaran Pinjaman Luar Negeri / Total External Debt Servicing Total External Debt Servicing Total External Debt Servicing Total External Debt Servicing Total External Debt Servicing - Pokok / Principal - Bunga / Interest

A. Pemerintah / Government A. Pemerintah / Government A. Pemerintah / Government A. Pemerintah / Government A. Pemerintah / Government

- Pokok / Principal - Bunga / Interest

B. Swasta / Private B. Swasta / Private B. Swasta / Private B. Swasta / Private B. Swasta / Private - Pokok / Principal - Bunga / Interest

B.1. Lembaga Keuangan / Financial Institution B.1. Lembaga Keuangan / Financial InstitutionB.1. Lembaga Keuangan / Financial Institution B.1. Lembaga Keuangan / Financial Institution B.1. Lembaga Keuangan / Financial Institution

- Pokok / Principal - Bunga / Interest 1.

1. 1. 1. 1. BankBankBankBankBank

- Pokok / Principal - Bunga / Interest 2.

2. 2. 2.

2. Bukan Bank / Non Bank InstitutionsBukan Bank / Non Bank InstitutionsBukan Bank / Non Bank InstitutionsBukan Bank / Non Bank InstitutionsBukan Bank / Non Bank Institutions - Pokok / Principal

- Bunga / Interest B.2. Bukan Lembaga Keuangan B.2. Bukan Lembaga KeuanganB.2. Bukan Lembaga Keuangan B.2. Bukan Lembaga Keuangan B.2. Bukan Lembaga Keuangan

- Pokok / Principal - Bunga / Interest

(Juta USD)

* Angka Sementara

Mar Mar Mar Mar

Mar SepSepSepSepSep DesDesDesDesDes 2 0 0 3

Jan JunJunJunJunJun DesDesDesDesDes Jan*)Jan*)Jan*)Jan*)Jan*) Feb*)Feb*)Feb*)Feb*)Feb*)

20.983 20.983 20.983 20.983

20.983 1.2931.2931.2931.2931.293 1.7171.7171.7171.7171.717 1.9661.9661.9661.9661.966 18.90018.90018.90018.90018.900 1.4641.4641.4641.4641.464 2.6972.6972.6972.6972.697 2.7512.7512.7512.7512.751 1.2051.2051.2051.2051.205 1.2481.2481.2481.2481.248

16.950 1.135 1.524 1.471 15.669 1.216 2.123 2.152 1.005 1.004

4.033 158 193 496 3.231 248 574 599 200 244

7.374 7.374 7.374 7.374

7.374 358358358358358 498498498498498 781781781781781 6.4506.4506.4506.4506.450 680680680680680 1.1471.1471.1471.1471.147 1.3761.3761.3761.3761.376 494494494494494 656656656656656

5.009 248 355 398 4.000 456 682 874 331 470

2.365 110 143 383 2.451 224 465 502 163 186

13.609 13.609 13.609 13.609

13.609 935935935935935 1.2191.2191.2191.2191.219 1.1861.1861.1861.1861.186 12.44912.44912.44912.44912.449 784784784784784 1.5501.5501.5501.5501.550 1.3751.3751.3751.3751.375 711711711711711 592592592592592

11.941 886 1.170 1.073 11.669 760 1.441 1.278 674 534

1.668 48 50 113 780 24 109 97 37 58

5.808 5.808 5.808 5.808

5.808 398398398398398 440440440440440 423423423423423 5.6565.6565.6565.6565.656 382382382382382 791791791791791 580580580580580 400400400400400 389389389389389

5.323 391 435 395 5.521 379 780 564 395 385

485 7 4 28 136 3 11 16 5 4

4.825 4.825 4.825 4.825

4.825 308308308308308 381381381381381 372372372372372 5.0785.0785.0785.0785.078 351351351351351 756756756756756 465465465465465 352352352352352 327327327327327

4.372 307 379 345 4.965 349 746 451 349 324

453 1 1 27 113 2 10 14 3 3

7.801 537537537537537 780780780780780 762762762762762 6.7936.7936.7936.7936.793 402402402402402 759759759759759 795795795795795 311311311311311 203203203203203

6.617 496 735 677 6.148 381 661 714 279 149

1.183 41 45 85 645 20 98 81 32 54

(15)

Kondisi perbankan Kondisi perbankan Kondisi perbankan Kondisi perbankan

Kondisi perbankan nasional sampai dengan Maret 2005 masih cukup baik nasional sampai dengan Maret 2005 masih cukup baik nasional sampai dengan Maret 2005 masih cukup baik nasional sampai dengan Maret 2005 masih cukup baik nasional sampai dengan Maret 2005 masih cukup baik. Hal tersebut antara lain tercermin dari indikator perbankan seperti aspek permodalan, kualitas kredit dan tingkat profitabilitas. Berdasarkan data Februari 2005, jumlah kredit yang diberikan (termasuk chanelling) tercatat hingga mencapai Rp601,8 triliun. Target pertumbuhan kredit perbankan sesuai rencana bisnis 2005 yakni 23,2% diperkirakan akan tercapai. Di sisi kualitas kredit, NPL gross relatif stabil hingga mencapai 6,0% sementara NPL net membaik hingga menjadi 1,7%. Kondisi permodalan masih menguat menjadi 22% merupakan level permodalan yang paling tinggi di kawasan Asia Tenggara. Sementara itu, rentabilitas perbankan relatif stabil seperti ditunjukkan oleh ROA dan NII yang masing-masing mencapai 3,4% dan 6,7%.

Total aset pada bulan Februari mengalami kenaikan sebesar Rp4,60 triliun dari Rp1.258 triliun bulan Januari menjadi Rp1.263 triliun dan total kredit yang disalurkan mengalami kenaikan sebesar Rp11,10 triliun dari Rp590,70 triliun bulan Januari menjadi Rp 601,80 triliun demikian pula modal perbankan mengalami kenaikan sebesar Rp3,10 triliun menjadi Rp125,4 triliun.

Kinerja

perbankan masih terjaga...

... tercermin pada total aset, kredit dan modal yang

meningkat...

Grafik 23. Survei Konsumen Grafik 24. Survei JETRO

Indeks

40,0 60,0 80,0 100,0 120,0

2002 2003 2004

optimis pesimis

Ekspektasi Konsumen Indeks Keyakinan Konsumen Kondisi Ekonomi Saat Ini

Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar

Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Difussion

-50 -40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50

Permintaan:ekspor Permintaan: domestik

Inventory Harga jual:domestik

2001 2002 2003 2004 2005

Keterangan Keterangan Keterangan Keterangan Keterangan

1.112,2 1.068,4 1.157,2 1.150,0 1.185,7 1.213,0 1.272,0 1.258,4 1.263,0

835,8 902,3 889,1 881,6 912,8 926,4 963,0 950,1 948,8

410,3 477,2 475,0 485,9 528,7 555,0 595,0 590,7 601,8

38,4 43,2 40,1 43,7 46,4 48,2 50,0 49,5 50,5

23,0 19,3 23,8 23,5 20,9 20,5 19,4 22,3 22,0

8,1 8,2 8,2 7,8 7,6 6,9 5,8 5,9 6,0

2,1 3,0 2,8 2,7 2,1 2,1 1,7 1,7 1,7

4,0 3,2 5,2 5,7 5,4 5,3 6,3 5,8 6,7

93,0 110,8 117,9 120,9 108,6 114,0 118,6 122,3 125,4

(Triliun Rp)

Total Asset DPK Kredit LDR (%) CAR (%) NPLs : - Gross (%) - Net (%) NIM (%) Modal

Des-02 Des-02Des-02

Des-02Des-02 Des-03Des-03Des-03Des-03Des-03 Jan-04Jan-04Jan-04Jan-04Jan-04 Mar-04Mar-04Mar-04Mar-04Mar-04 Jun-04Jun-04Jun-04Jun-04Jun-04 Sep-04Sep-04Sep-04Sep-04Sep-04 Des-04Des-04Des-04Des-04Des-04 Jan-05Jan-05Jan-05Jan-05Jan-05 Feb - 05Feb - 05Feb - 05Feb - 05Feb - 05 Tabel 7. Kondisi Umum Perbankan

(16)

Triliun Rp Total DPK (Triliun Rp)

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500

800 820 840 860 880 900 920 940 960 980

Giro Tabungan Deposito Total

Feb Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des

2004

2003 2005

Miliar Rp Proporsi (%)

0 28,269 56,538

0,0 10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 70,0

Persetujuan Realisasi Proporsi

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb

2003 2004

2002 2005

Kredit Total Kredit (Triliun Rp)

0,0 50,0 100,0 150,0 200,0 250,0 300,0 350,0

300 330 360 390 420 450 480 510 540 570 600 630 660 690

Channeling Total Kredit Total Adjst Investasi Konsumsi Modal Kerja

2002 2003 2004 2005

Jun Des Feb Jun Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb

Sementara itu Dana Pihak Ketiga perbankan bulan Februari mengalami penurunan sebesar Rp1,3 triliun dari Rp950,10 triliun bulan Januari menjadi Rp948,8 triliun (Tabel 7).

... DPK menurun.

Sementara itu, kenaikan yang terjadi pada kredit di atas, berasal dari naiknya semua jenis kredit yaitu kredit modal kerja, kredit konsumsi dan kredit investasi. Kredit modal kerja meningkat Rp5,18 triliun (1,86%) dibandingkan bulan Januari dari Rp278,82 triliun menjadi Rp284,01 triliun, disusul kredit konsumsi yang juga meningkat sebesar Rp4,87 triliun (3,16 %) dari Rp153,99 triliun menjadi Rp158,86 triliun dan kredit investasi meningkat Rp1,68 triliun (1,45%) dari Rp116,20 triliun menjadi Rp117,89 triliun (Grafik 27).

Ketiga jenis kredit meningkat.

Grafik 27. Kredit Rupiah Perbankan

(17)

Grafik 28. Perkembangan NPL Grafik 29. Perkembangan Posisi NIM Perbankan

Persen Triliun Rp

0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0

0 100 200 300 400 500 600

Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan kredit (kanan) NPLs (%) (kiri) NPLs Net (%) (kiri)

2005 2004

2003 2002

Triliun Rp

2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 6.5 7.0

Jan Apr Jul Okt Jan Apr Jul Okt Jan Apr Jul Okt Jan

2002 2003 2004 2005

Di sisi lain, LDR bulan Februari hanya meningkat 1% menjadi 50,5%, disusul NPL Gross yang hanya meningkat 0,1% menjadi 6% dan secara Net tidak berubah. CAR sedikit menurun yaitu sebesar 0,3% menjadi 22% dan NIM meningkat 0,9% menjadi 6,70% (Grafik 29).

(18)

Prospek

Kondisi perekonomian Indonesia pada triwulan II-2005 diperkirakan akan Kondisi perekonomian Indonesia pada triwulan II-2005 diperkirakan akan Kondisi perekonomian Indonesia pada triwulan II-2005 diperkirakan akan Kondisi perekonomian Indonesia pada triwulan II-2005 diperkirakan akan Kondisi perekonomian Indonesia pada triwulan II-2005 diperkirakan akan sedikit membaik dibandingkan triwulan lalu.

sedikit membaik dibandingkan triwulan lalu. sedikit membaik dibandingkan triwulan lalu. sedikit membaik dibandingkan triwulan lalu.

sedikit membaik dibandingkan triwulan lalu. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan berada pada kisaran 5,0-6,0% (y-o-y)4 yang didukung oleh

pertumbuhan permintaan domestik. Pertumbuhan konsumsi swasta masih didorong oleh meningkatnya disposable income, dan perkiraan peningkatan investasi yang diindikasikan oleh masih meningkatnya impor barang modal. Secara sektoral, kenaikan permintaan tersebut diiringi oleh meningkatnya produksi barang dan jasa antara lain dari sektor industri pengolahan, sektor pengangkutan dan komunikasi, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Selain itu, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II-2005 diperkirakan membaik, didorong oleh perkembangan harga komoditi dunia yang masih favorable, iklim investasi yang membaik, persetujuan debt moratorium dan kondisi makro ekonomi yang masih terkendali. Sebagai akibat perbaikan ini, neraca transaksi berjalan diperkirakan masih mencatat surplus, walaupun cenderung menurun. Demikian pula lalu lintas modal yang diperkirakan akan mencatat surplus.

Pada triwulan II-2005, pasca kenaikan harga BBM, laju inflasi IHK diperkirakan Pada triwulan II-2005, pasca kenaikan harga BBM, laju inflasi IHK diperkirakan Pada triwulan II-2005, pasca kenaikan harga BBM, laju inflasi IHK diperkirakan Pada triwulan II-2005, pasca kenaikan harga BBM, laju inflasi IHK diperkirakan Pada triwulan II-2005, pasca kenaikan harga BBM, laju inflasi IHK diperkirakan akan melambat seiring dengan upaya-upaya yang dilakukan Bank Indonesia akan melambat seiring dengan upaya-upaya yang dilakukan Bank Indonesia akan melambat seiring dengan upaya-upaya yang dilakukan Bank Indonesia akan melambat seiring dengan upaya-upaya yang dilakukan Bank Indonesia akan melambat seiring dengan upaya-upaya yang dilakukan Bank Indonesia dan Pemerintah.

dan Pemerintah. dan Pemerintah. dan Pemerintah.

dan Pemerintah. Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia akan menerapkan kebijakan moneter yang cenderung ketat guna mengendalikan inflasi. Selain itu, kerjasama antara Bank Indonesia dan Pemerintah dengan membentuk Tim Pengendali Inflasi diharapkan dapat meningkatkan efektivitas upaya untuk mengendalikan inflasi.

Pada triwulan II-2005 tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih Pada triwulan II-2005 tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih Pada triwulan II-2005 tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih Pada triwulan II-2005 tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih Pada triwulan II-2005 tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih berlanjut.

berlanjut. berlanjut. berlanjut.

berlanjut. Pada triwulan II-2005 nilai tukar rupiah mengalami tekanan secara perlahan sebagai akibat dari tingginya peningkatan permintaan yang belum diimbangi oleh pasokan valas yang lebih berkesinambungan. Peningkatan permintaan terkait dengan pemulihan kegiatan ekonomi, kenaikan harga minyak dunia, percepatan pembayaran utang luar negeri (ULN) oleh swasta, dan terjadinya pembalikan aliran modal asing secara terbatas. Sumber pasokan belum mengalami perubahan berarti, yaitu lebih bertopang pada aliran modal portofolio (likuid dan jangka pendek). Dalam kaitan itu, Bank Indonesia akan terus menjaga volatilitas nilai tukar rupiah yang antara lain dilakukan melalui intervensi valas yang dilakukan secara terukur.

... ,inflasi

triwulan II-2005 diperkirakan melambat... PDB triwulan II-2005

diproyeksikan mencapai 5-6%...

(19)

* angka BPS berdasarkan tahun dasar 2000 r) revisi

1) minggu terakhir 2) rata2 tertimbang

3) penutupan pada akhir periode 4) closed file

Sumber : Bank Indonesia, kecuali data pasar modal (BAPEPAM), IHK, ekspor/impor dan PDB dari BPSw. I 2004*)w. I 2004*)w. I 2004*)w. I 2004*)w. I 2004*) Jan

Jan Jan Jan

Jan MarMarMarMarMar DesDesDesDesDes JanJanJanJanJan JunJunJunJunJun DesDesDesDesDes JanJanJanJanJan FebFebFebFebFeb MarMarMarMarMar SEKTOR KEUANGAN

SEKTOR KEUANGANSEKTOR KEUANGAN SEKTOR KEUANGAN SEKTOR KEUANGAN

Indikator Terkini

12,69 12,69 12,69 12,69

12,69 11,4011,4011,4011,4011,40 8,318,318,318,318,31 7,867,867,867,867,86 7,347,347,347,347,34 7,437,437,437,437,43 7,427,427,427,427,42 7,437,437,437,437,43 7,447,447,447,447,44

12,94 11,97 8,34 8,15 7,25 7,29 7,29 7,27 7,31

12,64 11,90 6,62 6,27 6,23 6,43 6,43 6,46 na

13,49 12,90 7,14 6,68 6,31 6,71 6,71 6,74 na

12,71 11,72 8,35 7,99 7,15 7,14 7,13 7,13 7,16

425 398 692 753 730 1.004 1.046 1.083 1.080

127.407 127.407 127.407 127.407

127.407 125.211125.211125.211125.211125.211 166.474166.474166.474166.474166.474 147.039147.039147.039147.039147.039 166.474166.474166.474166.474166.474 199.446199.446199.446199.446199.446 183.747183.747183.747183.747183.747 180.034180.034180.034180.034180.034 184.878184.878184.878184.878184.878 180.111

180.111 180.111 180.111

180.111 181.239181.239181.239181.239181.239 223.799223.799223.799223.799223.799 216.343216.343216.343216.343216.343 233.717233.717233.717233.717233.717 253.818253.818253.818253.818253.818 248.174248.174248.174248.174248.174 250.433250.433250.433250.433250.433 nanananana

75.908 72.323 94.542 90.619 97.565 109.265 101.789 99.375 na

104.203 108.916 129.257 125.724 136.152 144.553 146.385 151.058 na

873.683 873.683 873.683 873.683

873.683 877.776877.776877.776877.776877.776 955.692955.692955.692955.692955.692 947.277947.277947.277947.277947.277 975.157975.157 1.033.528975.157975.157975.157 1.033.5281.033.5281.033.5281.033.528 1.015.8741.015.8741.015.8741.015.8741.015.874 1.012.1451.012.1451.012.1451.012.1451.012.145 nanananana

693.572 696.537 731.893 730.934 741.440 779.710 767.700 761.712 na

550.357 558.977 592.715 588.946 593.450 644.109 630.289 623.397 na

362.553 370.692 350.885 346.347 334.336 349.091 345.901 341.281 na

187.804 188.285 241.830 242.599 259.114 295.018 284.388 282.116 na

143.215 137.560 139.178 141.988 147.990 135.601 137.411 138.315 na

730.468 740.216 816.514 805.289 827.176 897.927 878.463 873.830 na

382.536 382.536 382.536 382.536

382.536 400.353400.353400.353400.353400.353 466.826466.826466.826466.826466.826 461.827461.827461.827461.827461.827 549.966549.966549.966549.966549.966 615.802615.802615.802615.802615.802 612.852612.852612.852612.852612.852 623.541623.541623.541623.541623.541 nanananana 358.084

358.084 358.084 358.084

358.084 376.141376.141376.141376.141376.141 437.942437.942437.942437.942437.942 432.738432.738432.738432.738432.738 486.067486.067486.067486.067486.067 553.548553.548553.548553.548553.548 549.017549.017549.017549.017549.017 560.753560.753560.753560.753560.753 nanananana

0.80 -0.23 0.94 0.57 0.48 1.04 1.43 -0.17 1.91

8.74 7.12 5.06 4.82 6.83 6.4 7.32 7.15 8.81

8.940 8.908 8.465 8.441 9.400 9.270 9.167 9.258 9468

3.936 4.008 3.717 3.837 4.340 5.122 4.910 5.040 na

2.322 2.267 2.335 2.049 2.721 3.591 2.938 2.987 na

21,81 22,68 24,20 24,00 23,70 24,40 24,63 24,93 24,755

4,35 5,13

SUKU BUNGA & SAHAM SUKU BUNGA & SAHAMSUKU BUNGA & SAHAM SUKU BUNGA & SAHAMSUKU BUNGA & SAHAM Suku bunga SBI 1 bln 1)

BESARAN MONETER (miliar Rp) BESARAN MONETER (miliar Rp)BESARAN MONETER (miliar Rp) BESARAN MONETER (miliar Rp)BESARAN MONETER (miliar Rp) Base Money

Base MoneyBase Money Base MoneyBase Money M1(C+D) M1(C+D)M1(C+D) M1(C+D)M1(C+D)

Uang Kartal (C) Uang giral (D)

Broad Money (M2 = C+D+T) Broad Money (M2 = C+D+T)Broad Money (M2 = C+D+T) Broad Money (M2 = C+D+T)Broad Money (M2 = C+D+T)

Uang kuasi (T) Uang kuasi (Rupiah)

Deposito Tabungan Deposito (Valas) M2 - Rupiah

Tagihan pada Dunia Usaha Tagihan pada Dunia UsahaTagihan pada Dunia Usaha Tagihan pada Dunia UsahaTagihan pada Dunia Usaha Kredit-Bank Umum Kredit-Bank UmumKredit-Bank Umum Kredit-Bank UmumKredit-Bank Umum

Inflasi bulanan (%) y-y %

Rp/USD (akhir periode, nilai tengah) Ekspor Barang Non migas (f.o.b, juta USD) 4) Impor Barang Non migas (c & f, juta USD) 4) Net International Reserve (juta USD)

Pertumbuhan PDB (% yoy) Pertumbuhan PDB (% yoy)Pertumbuhan PDB (% yoy) Pertumbuhan PDB (% yoy)Pertumbuhan PDB (% yoy)

Gambar

Grafik 3. Inflasi Inti Tahunan
Grafik 5. Volatilitas Nilai Tukar Rupiah
Grafik 9. Bilateral Real Exchange Rate
Grafik 11. Rata-rata Suku Bunga
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sementara itu dampak investasi pemerintah ke sektor riil, meskipun meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya, namun realisasi pengeluaran investasi di awal 2007 baru

A: Penyampian laporan SKBDN secara on line melalui sistem LKPBU dilakukan pada periode laporan bulan Februari 2008 dengan isi laporan transaksi yang terjadi pada

Pada awal triwulan, sebagian besar responden atau sebesar 54,33% berpendapat bahwa ketersediaan lapangan kerja lebih buruk daripada kondisi 6 bulan yang lalu.. Sementara itu

Laju inflasi di wilayah Jakarta pada akhir triwulan II 2010 mulai mengalami peningkatan meskipun dengan intensitas yang relatif masih terkendali.. Tekanan

Kecenderungan penguatan nilai tukar rupiah pada Januari 2004 antara lain dipengaruhi oleh suku bunga domestik yang masih berada pada level yang positif dan relatif lebih

Sampai dengan 31 Mei 2002, kondisi ekonomi dan moneter relatif membaik, seperti tercermin dari perkembangan nilai tukar rupiah yang mencapai dibawah asumsi kurs yang

Penurunan BI Rate diikuti oleh penurunan suku bunga penjaminan deposito rupiah, di mana dalam periode 15 Agustus √ 14 September 2006 suku bunga penjaminan deposito rupiah 1

Total aset selama bulan Agustus telah meningkat Rp25,2 triliun dari Rp1183 triliun pada bulan Juli menjadi Rp1208 triliun pada bulan Agustus sementara jumlah kredit yang