LAPORAN PENELITIAN
Penegakan Hukum (Law Enforcement)
Monopoli dan Persaingan Usaha Atas Produksi
dan Pemasaran Barang dan/atau Jasa
Bagi Pelaku Usaha
Oleh :
Augus t P . S il aen , S H , MH um
LEMBAGA PENELITIAN
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... I
RINGKASAN ……….. IV
DAFTAR ISI ... i-ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Permasalahan ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitian ... 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12
BAB III METODE PENELITIAN ... 24
3.1. Ruang Lingkup Penelitian ……….. 24
3.2. Data ……….. 24
3.3. Sumber Data ……….. 24
3.4. Metode Pengumpulan Data ... 24
3.5. Metode Analisis ... 25
BAB IV PEMBAHASAN A. Konsep dan Konteks Pengawasan Terhadap Pelanggaran Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha ... ... 26
B. Eksistensi Perangkat Hukum dan Peraturan Terhadap Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha ... 36
C. Tatacara Penanganan dan Penerapan Sanksinya Bagi Pelanggaran Persaingan Usaha ... 45
Hukum Persaingan Usaha ………... 59
E. Penegakan Hukum Praktek Monpolid dan Persaingan Usaha Di
Indonesia ……….……….. 69
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ……… 75
B. Saran-Saran ……… 76
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa atas kasih dan
karuniaNya serta rahmatNya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Penelitian
ini berjudul Penegakan Hukum (Law Enforcement) Monopoli dan Persaingan Usaha Atas
Produksi dan Pemasaran Barang dan/atau Jasa Bagi Pelaku Usaha. Penelitian ini merupakan
aplikasi dari salah satu pelaksanaan Tri Dharma Peguruan Tinggi yaitu setiap insan akademik
Dosen diwajibkan melaksanakan penelitian. Pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan meneliti bagi seorang dosen dengan latar belakang jenjang
pendidikannya masing-masing apakah di bidang eksakta maupun non eksakta.
Mulai dari rencana pembuatan proposal penelitian hingga selesai penulisan laporan hasil
penelitian ini, peneliti memperoleh banyak dorongan, dukungan dan masukan dari
berbagai-bagai pihak. Dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati dan dengan hati yang
setulusnya menyampaikan terima kasih banyak kepada :
1. Bapak DR. IR. Jongkers Tampubolon, MSc, selaku Rektor Universitas HKBP
Nommensen yang dengan panjang sabar terus mendorong dan memotivasi para staf
pengajarnya untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat dan penelitian baik secara
intern, khusus maupun dengan luar biasa.
2. Bapak Prof. DR. Ir. Hasan Sitorus, MS, selaku Ketua Lembaga Penelitian
Universi-tas HKPB Nommensen yang turut juga memotivasi dan mendorong staf dosen pengajar
3. Bapak DR. Haposan Siallagan, SH, MH, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
HKBP Nommensen dengan tidak bosan-bosannya merangkul, memotivasi,memberikan
semangat dan fasilitas memadai yang berkaitan dengan proses pembuatan proposal
hing-ga penyunan laporan hasil penelitian ini dapat disusun sedemikian rupa.
4. Seluruh rekan-rekan staf pengajar Bapak/Ibu Dosen dilingkungan Fakultas Hukum
Universitas HKBP Nomensen yang turut memberikan saran konstruktif dan
masukan-masukan yang sangat berharga dalam rangka penyelesaian Laporan Hasil Penelitian ini.
5. Teristimewa buat Isteriku yang tercinta Fetty Bettarina Simanjuntak, SE, berikut
dengan anak-anakku Binsar Rizky Perdana Silaen, Dwi Putra Tonggo Aprinaldo
Silaen, Tri Daniel Leonardo Silaen, dan Dian Agty Elizabeth Silaen yang dengan
setia, panjang sabar, serta kasih sayang dan cintanya memberikan dorongan moril dan
doa bagi peneliti dalam mencapai cita-cita kehidupan yang bermakna.
6. Kepada seluruh kerabat, sahabat dan saudara peneliti yang secara langsung maupun tidak
langsung telah memberikan dukungan dan saran serta kritikan yang membangun kepada
peneliti.
Peneliti menyadari dan yakin bahwa apa yang disajikan dalam bentuk Laporan Hasil
Pene-litian ini belumlah sempurna dan masih jauh dari kesempurnaan penePene-litian, untuk itu peneliti
mengharapkan dan menyambut baik segala bentuk saran konstruktif dan masukan-masukan
yang sangat berharga yang diberikan oleh pembaca maupun peneliti lainnya demi menuju
kesempurnaan dikemudian hari.
Akhir kata kiranya Laporan Hasil Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca
maupun peneliti lainnya dan menambah khasanah perbendaharaan bahan bacaan serta sumber
rangka mewujudkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di lingkungan kampus
Universitas HKBP Nommensen.
Medan, Medio Augustus 2011
Peneliti,
RINGKASAN
Ekonomi persaingan usaha dapat ditelaah dari dua sisi yaitu Pertama dari sisi pelaku usaha
atau produsen yang memproduksi suatu barang dan/atau jasa dan kedua dari sisi konsumen.
Dari sisi pelaku usaha, ekonomi persaingan usaha menyangkut hal bagaimana perusahaan
me-nentukan strategi bersaing, apakah dilakukan dengan cara sehat atau saling melumpuhkan.
Dalam prakteknya persaingan usaha sangat terpengaruh oleh berbagai kebijakan
pemerin-tah atau kebijakan publik. Seharusnya kebijakan publik tersebut dibuat dengan wawasan yang
berpihak kepada masyarakat, baik kepada produsen maupun kepada konsumen, namun kenyata
annya banyak kebijakan yang menyangkut sektor usaha yang diwarnai dengan berbagai kepen
tingan terselubung dari pihak tertentu.
Latar belakang penelitian ini adalah adanya Praktek Monopoli dan Persaingan tidak sehat
atau persaingan curang diantara para pelaku usaha di Indonesia sejak masa orde baru bahkan
sampai saat inidampaknya masih sangat merugikan konsumen dan pelaku bisnis yang lain, khu
susnya bagi industri yang kurang bonafid secara finansial meskipun persaingan itu sendiri
sa-ngat diperlukan dalam berbagai jenis usaha untuk menambah kreativitas, efektivitas dan
kuali-tas serta daya saing dalam industri itu sendiri.Tetapi karena sistem birokrasi dan perekonomian
di Indonesia sarat dengan sistem persengkongkolan yang tidak sehat, maka persaingan itu
sen-diri menjadi terdistorsi. Kesempatan yang diperoleh oleh industri kecil untuk mendapat akses
dan masuk kedalam industri dan pasar yang ada sangat minim, tetapi yang sangat
menguntung-kan bagi industri kecil mereka masih dapat eksis karena memiliki keistimewaan produksinya ti
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memperoleh kejelasan tentang latar
be-lakang terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang berlaku dalam
pro-ses bisnis di Indonesia, baik itu bisnis dalam bentuk konglomerasi maupun dalam bentuk indus
tri kecil serta untuk memperoleh penjelasan adakah terjadi perubahan kondisi persaingan bisnis
di Indonesia sesudah disahkannya Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan
Prak-tek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (yang selanjutya disebut dengan UULPM &
PUTS).
Dengan keluarnya UULPM & PUTS ini juga diharapkan para pelaku usaha yang
bermo-dal kuat tidak akan bertindak sewenang-wenang dan melakukan praktek-praktek bisnis curang
yang mematikan atau merugikan pelaku usaha lainnya. Pelaku usaha yang melakukan pelangga
ran terhadap UULPM & PUTS ini akan diberi sanksi hukum yang jelas dengan demikian apa
yang menjadi tujuan diciptakannya UU ini akan tercapai. Pendek kata UU ini akan membuat
efek jera dan ”mati kutu” semua pelaku usaha yang selama tiga puluh dua tahun berkuasanya
rezim orde baru menjadi besar dan menikmati fasilitas monopoli yang diberikan pemerintah ter
masuk praktek bisnis curang.Ini semua pada akhirnyatelah menghantarkan bangsa ini pada kon
kondisi turbulensi ekonomi secara nasional dan memberikan sadaran baru mengenai penting
nya persaingan sehat (fair business competition) dalam berusaha dilindungi dengan
mencipta-kan UU yang khusus untuk itu.
Pada saat ini kita dapat mengamati, melihat dan merasakan bahwa penegakan hukum
khu-susnya persaingan usaha berada dalam posisi yang tidak menggembirakan. Masyarakat
mem-pertanyakan kinerja aparat penegak hukum dalam berbagai masalah-masalah hukum. Mungkin
benar apabila dikatakan bahwa perhatian masyarakat terhadap lembaga-lembaga hukum telah
atau ulasan yang berhubungan dengan lembaga-lembaga hukum kita. Salah satu permasalahan
yang perlu mendapat perhatian kita semua adalah merosotnya rasa hormat masyarakat terhadap
wibawa hukum.
Mengingat begitu sentralnya kedudukan dari UULPM & PUTS dalam dunia bisnis dan
ka-rena hukum persaingan usaha ini menduduki tempat dalam inner circle di dalam dunia hukum
bisnis, maka peneliti menganalisis secara mendalam dan hati-hati yang akhirnya hasil renungan
tersebut dituangkan kedalam Laporan Hasil Penelitian ini.
Penelitian ini bersifat diskriptif dan analitis juridis yang didukung oleh studi kepustakaan
karena secara spesifik penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai praktek
mono-poli dan persaingan usaha di Indonesia sekaligus juga memberikan gambaran tentang sejauhma
na telah dilakukan penegakan hukum (law enforcement) terhadap praktek monopoli dan
persai-ngan usaha dibidang produksi dan atau pemasaran atas barang dan/atau jasa khusus bagi pelaku
usaha dalam proses bisnis di Indonesia serta bagaimana pengaruh dan pengaturan dari
penega-kan hukum tersebut terhadap praktek monopoli dan persaingan usaha sebelum dan sesudah
ke-luarnya UULPM & PUTS tersebut.
Penegakan hukum pada hakekatnya merupakan interaksi antara berbagai perilaku manusia
yang mewakili kepentingan-kepentingan yang berbeda dalam bingkai aturan yang telah
disepa-kati bersama. Oleh karena itu, penegakan hukum tidak dapat semata-mata dianggap sebagai
proses menerapkan hukum. Namun proses penegakan hukum mempunyai dimensi yang lebih
luas, karena dalam penegakan hukum akan melibatkan dimensi perilaku manusia. Dengan
pe-mahaman tersebut maka kita dapat mengetahui bahwa problem-problem hukum yang akan sela
Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya
norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu lintas atau
hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ditinjau dari sudut subjek
nya, penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subjek yang lebih luas dan dapat pula diartikan
sebagai upaya penegakan hukum itu melibatkan semua subjek hukum dalam setiap hubungan
hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melaku
kukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku, berarti dia
menjalankan atau menegakkan aturan hukum.
Penegakan hukum itu kurang lebih merupakan upaya yang dilakukan untuk menjadikan
hu-kum baik dalam artian formil yang sempit maupun dalam artian materil yang luas, sebagai
pe-doman perilaku dalam setiap perbuatan hukum, baik oleh para subjek hukum yang
bersangku-kutan maupun oleh aparatur penegak hukum yang resmi diberi tugas dan kewenangan oleh
Un-dang-undang untuk menjamin berfungsinya norma-norma hukum yang berlaku dalam
kehidu-pan bermasyarakat dan bernegara.
Haruslah kita sadari benar bahwa upaya penegakan hukum tidaklah semudah membalikkan
telapak tangan. Kejadian-kejadian yang sekarang menimpa lembaga hukum hanyalah satu pro
ses untuk menuju terciptanya wibawa hukum. Sudah saatnya lembaga-lembaga penegak hukum
melakukan berbagai pembenahan dan perbaikan serta evaluasi berkesinambungan atas semua
program dan kebijaksanaan yang sudah dicanangkan, agar dapat mengurangi kendala yang diha
dapi. Pemahaman yang sama terhadap suatu konstruksi hukum akan sangat mendukung keberha
silan proses penegakan hukum. Koordinasi dan penyamaan persepsi antar aparatur penegakan
hukum (polisi, jaksa, hakim, advokat/penasehat hukum/pengacara) harus dikembangkan sejak di
Metode penelitian dipergunakan dalam penulisan penelitian ini adalah dengan
mengguna-kan metode Penelitian Kepustakaan (Library Research) dimana peneliti mencari dan mengum
pulkan bahan data tertulis dari bahan buku-buku bacaan, perangkat peraturan perundang-
unda-ngan, hasil penelitian dalam bentuk disertasi, tesis, skripsi maupun makalah dan juga
bersum-ber dari media elektronika bersum-berupa internet yang bersum-berkaitan dengan judul, permasalahan yang
di-teliti untuk dijadikan landasar kerangka berfikir dan tolok ukur bagi peneliti menganalisa masa
lah-masalah dalam penulisan penelitian ini.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebenarnya monopoli dan persaingan usaha da
pat berjalan secara seiring dalam kegiatanbisnis, karena monopoli bisa bersifat ”natural”yaitu
dari kegiatan bisnis yang kecil dapat menjadi bisnis yang besar atau sekaligus bisnis raksasa (
multinasional). Hanya kendalanya industri kecil di Indonesia masih berjalan secara
konvensi-onal dan tradisikonvensi-onal dan kurang greget mencari akses pangsa pasar termasuk akses modal
mau-pun pemasarannya.
Oleh karena itu dapat direkomendasikan bahwa pemerintah harus secara terus menerus
memperbaiki struktur perekonomian Indonesia agar pelaku usaha dan bisnis dapat
berkompeti-si secara sehat, fair, dan berkompeti-sistem birokraberkompeti-si harus ditata dengan lebih baik dan profeberkompeti-sional serta
memberikan pembinaan dan akses masuk kedalam ”industri” kepada pelaku bisnis dengan mo
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Sistem perekonomian masa kini yang mengglobal dan sangat terintergrasi memberikan
peluang dan masalah bagi bangsa Indonesia. Secara umum, kekayaan sumber daya alam
Indonesia dan dimensi pasarnya menjanjikan sejumlah keuanggulan dalam persaingan global,
investasi asing dan pasar ekspor. Namun perkembangan perekonomian dunia yang semakin
kompleks telah menimbulkan persaingan yang ketat dalam perdagangan internasional, baik
perdagangan barang maupun jasa. Berbagai praktek unutk memenangkan persaingan sering
dilakukan oleh para pelaku bisnis diberbagai Negara di dunia termasuk dengan menggunakan
praktek-praktek perdagangan yang tidak wajar (unfair trade practices).
Menurut Alfa Aprias bahwa : “Pesatnya perkembangan dunia usaha adakalanya tidak
diimbangi dengan “penciptaan” rambu-rambu pengawasan. Dunia usaha yang berkembang
terlalu pesat sehingga meninggalkan rambu-rambu yang ada jelas tidak akan menguntungkan
pada akhirnya. Apabila hukum tidak ingin dikatakan tertinggal dari perkembangan bisnis dan
dunia usaha, maka hukum dituntut untuk merespon segala seluk beluk kehidupan dunia usaha
yang melingkupinya sebagai suatu fenomena atau kenyataan sosial. Itu berarti, peran hukum
menjadi semakin penting dalam menghadapi problema-problema dunia usaha yang timbul
seperti monopoli danpersaingan usaha tidak sehat”(Alfa Alprias, 2010 : 1)
Lebih lanjut Alfa Aprias mengatakan “monopoli menggambarkan suatu keadaan dimana
terdapat seseorang atau sekelomok orang yang menguasai suatu bidang tertentu secara mutlak,
tanpa memberikan kesempatan kepada orang lain untuk ikut ambil bagian. Monopoli diartikan
sebagai hak istimewa (previlege), yang menghapuskan persaingan bebas, yang tentu pada
akhirnya juga akan menciptakan penguasaan pasar. Persaingan usaha tidak sehat adalah suatu
bentuk yang dapat diatikan secara umum terhadap segala tindakan ketidakjujuran atau
menghilangkan persaingan dalam setiap bentuk transaksi atau bentuk perdagangan dan
komersial. Adanya persaingan tersebut mengakibatkan lahirnya perusahaan-perusahaan yang
mempunyai keinginan yang tinggi untuk mengalahkan pesaing-pesaingnya agar menjadi
Ekonomi yang kuat dan efisien adalah kata yang sangat mahal pada masa orde baru. Sebab,
pada masa ini, pembangunan yang dilakukan tidak berdasarkan pada teori hukum
pembangunan. Teori hukum pembangunan yang pendekatan pemikiran hukumnya sering
disebut normative sosiologis. Dalam kajian ekonomi dipahami bahwa strategi ekonomi
pembangunan pada saat itu lebih berorientasi pada pertumbuhan (growth) yang antara lain
menggunakan strategi substitusi. Adapun dalam hal pendistribusian barang dan/atau jasa hanya
dikuasai oleh orang-orang tertentu saja.
Puncaknya pada tahu 1998 terjadi krisis monoter di Asia, mulai dari Thailand dan
meram-bat ke Indonesia. Krisis tersebut terus berlanjut pada krisis yang bersifat multidimensi terutama
kondisi politik yang berakibat jatuhnya kekuasaan rezim orde baru. Dampak dari situasi
tersebut para pelaku ekonomi dan pasar serta konglomerat yang tidak mempunyai pijakan
ekonomi yang kuat yang berdasarkan inovasi, kreasi dan produktivitas serta pertumbuhan
yang berbasis sektor riil menjadi ambruk. Para pengusaha yang bermain di pasar uang
mengalami guncangan yang maha dahsyat. Bagi pelaku usaha perbankan yang dengan
menggunakan utang dalam bentuk dollar dan biasanya dalam jangka pendek telah jatuh tempo,
sehingga menjadikan dollar melambung.
Dengan situasi demikian, pemerintah mengambil kebijakan untuk mem-bail out atau me
nanggung beban utang swasta terutama pada bank-bank ”bermasalah”, maka lahirlah Badan
Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang bertugas mengambil alih utang-utang bank
swasta nasional dengan dana talangan yang berasal dari International Monetery sebesar $ US
43 miliar yang bersifat jangka panjang. Pemberian dana talangan oleh IMF bukanlah tanpa
syarat, secara regulatif utang dapat dikucurkan dengan persyaratan Indonesia harus melakukan
reformasi sistem ekonomi dan hukum ekonomi tertentu diantaranya dengan UULPM & PUTS
Dengan kehadiran UULPM & PUTS di Indonesia ini merupakan prasyarat prinsip ekonomi
modern dengan prinsip yang dapat memberikan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk
bersaing secara jujur dan terbuka dalam berusaha. Dengan Undang-Undang ini, pelaku usaha,
ekonomi dan bisnis diharapkan menyadari kepentingan untuk mencari keuntungan yang
sebesar-besarnya tetapi harus dilakukan dengan cara persaingan yang jujur tanpa melakukan
”Dari konsiderans menimbang Undang-Undang Anti Monopoli, dapat diketahui falsafah
yang melatar belakangi kelahirannya dan sekaligus memuat dasar pikiran perlunya disusun
Undang-Undang tersebut, setidaknya memuat tiga hal, yaitu bahwa :
1. Pembangunan bidang ekonomi harus diarahkan kepada terwujudnya kesejahteraan rakyat
berdasarkan Pancasla dan Undang-Undang Dasar 1945 ;
2. Demokrasi dalam bidang ekonomi menghendaki adanya kesempatan yang sama bagi
setiap warga Negara untuk berpartisipasi di dalam proses produksi dan pemasaran barang
dan/atau jasa, dalam iklim usaha yang sehat, efektif dan efisien sehingga dapat
mendorong pertumbuhan ekonomi dan bekerjanya ekonomi pasar yang wajar”.
3. Setiap orang yang berusaha di Indonesia harus berada dalam situasi persaingan yang sehat
dan wajar, sehingga tidak menimbulkan adanya pemusatan kekuatan ekonomi pada
pelaku usaha tertentu, dengan tidak terlepas dari kesepakatan yang telah dilaksanakan
oleh negara Republik Indonesia terhadap perjanjian-perjanjian internasional”(Rachmadi Usman, 2004 : 7)
Menurut Kelik Pramudy sebagaimana dikutip dari Arie Siswanto (2002), bahwa”secara
etimologi, kata ”monopoli” berasal dari kata Yunani ’monos’ yang berarti sendiri dan ’polein’
yang berarti penjual. Dari akar kata tersebut secara sederhana orang lantas memberi pengertian
monopoli sebagai suatu kondisi dimana hanya ada satu penjual yang menawarkan (supplay)
suatu barang atau jasa tertentu”(Kelik Pramudy, 2008 : 1-2)
Selanjutnya Kelik Pramudy menjelaskan ’disamping istilah monopoli di USA sering
digunakan kata ”antitrust” untuk pengertian yang sepadan dengan istilah ”anti monopoli” atau
istilah ”dominasi” yang dipakai masyarakat Eropah yang artinya juga sepadan dengan arti
istilah ”monopoli”. Disamping itu terdapat istilah yang artinya hampir sama yaitu ”kekuatan
pasar”. Dalam praktek keempat kata tersebut yaitu ”monopoli”, ”antitrust”, ”kekuatan pasar”
dan istilah ”dominasi” saling dipertukarkan pemakaiannya. Keempat istilah tersebut
dipergunakan untuk menunjukkan suatu keadaan dimana seseorang menguasai pasar,dimana di
pasar tersebut tidak tersedia lagi produk substitusi yang potensial dan terdapatnya kemampuan
pelaku pasar tersebut untuk menerapkan harga produk tersebut yang lebih tinggi tanpa
mengikuti hukum persaingan usaha atau hukum tentang permintaan dan penawaran” Usaha (
Menurut Mustafa Kamal Rokan dalam bukunya Hukum Persaingan (Teori dan
dan pemasaran oleh satu kelompok pelaku usaha tertentu. Sedangkan praktek monopoli
menekankan pada pemusatan kekuasaan sehingga terjadi kondisi pasar yang monopoli.
Karenanya, praktek monopoli tidak harus langsung bertujuan menciptakan monopoli, tetapi
istilah ini pada umumnya menggambarkan suatu usahamencapai atau memperkuat posisi
dominan di pasar. Dalam hak praktek monopoli, yang berarti menekankan pada proses
monopoli dapat melihat beberapa hal sebagai berikut, yakni penentuan mengenai pasar
bersangkutan, penilaian terhadap keadaan pasar dan adanya kegiatan yang dilakukan oleh
pelaku untuk menguasai pasar.”(Mustafa Kamal Rokan, 2010 : 8-10).
Lebih lanjut Mustafa Kamal Rokanmenjelaskan ” bahwa UU No.5 Tahun 1999 menekan
kan pada proses terjadinya monopoli bersaing secara tidak sehat. Lebih tegas, praktek
monopo-li adalah proses pemusatan, sedangkan monopomonopo-li adalah kondisi pasar akibat dari praktek
monopoli. Menekankan pada praktek monopoli berarti mengabaikan monopoli yang terjadi
secara alamiah”.
Selanjutnya Mustafa Kamal Rokan menambahkan ” monopoli dapat terjadi dengan dua
cara yaitu, pertama, monopoli alamiah (natural monopoly) yang terjadi akibat kemampuan
seseorang atau sekelompok pelaku usaha yang mempunyai satu kelebihan tertentu sehingga
membuat pelaku usaha lain kalah bersaing. Satu pelaku usaha pada pasar sepatu yang
mempu-nyai kualitas yang sangat baik dapat menekan biaya produksi, pemasaran yang prima tentu
akan diminati oleh komsumen, sehingga secara ”alamiah” akan menguasai pasar sepatu. Jika
sesuatu kelebihan yang dimiliki pelaku usaha tersebut didaftarkan dalam hak paten, maka
penemuan atau kelebihan yang dimilikinya adalah ” hak eksklusifnya. Kedua, monopoli
berdasarkan hukum (monopoly by law), yakni monopoli yang berasal dari pemberian negara se
perti yang termaktub dalam Pasal 33 UUD 1945 yang selanjutnya di lindungi oleh UU dan pera
turan dibawahnya. Misalnya pada perusahaan listrik negara, Pertamina, Pelni dan sebagainya”
Monopoli memberikan suatu kesan bagi masyarakat luas, yang secara konotatif tidak baik
dan merugikan kepentingan banyak orang. Banyaknya persepsi yang ada, tidak hanya di
kalangan masyarakat awam, melainkan juga dikalangan dunia usaha dan bisnis yang dilakukan
kalangan pelaku usaha dan ekonomi, telah membuat makna monopoli bergeser dari
pengertiannya semula. Perkataan “monopoli” seringkali menghantui benak kita dengan suatu
kegiatan usaha dan ekonomi tertentu secara mutlak tanpa memberikan kesempatan kepada
orang lain untuk turut serta mengambil bagian.
Monopoli adalah suatu situasi dalam pasar dimana hanya ada satu atau segelintir
perusahaan yang menjual produk aatau komoditas tertentu yang tidak punya pengganti yang
mirip dan ada hambatan bagi perusahaan atau pengusaha lain untuk masuk dalam bidang
industri atau bisnis tersebut.
“Dengan monopoli suatu bidang, berarti kesempatan untuk mengeruk keuntungan yang
se-besar-besarnya untuk kepentingan kantong sendiri. Di sini monopoli bagai suatu kekuasaan
untuk menentukan tidak hanya harga, melainkan juga kualiatas dan kuantitas suatu kegiatan
usaha dan ekonomi atau produk barang dan/atau jasa tertentu yang ditawarkan kepada
masyarakat konsumen. Masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk menentukan pilihan, baik
mengenai harga, mutu kualitas maupun jumlahnya. Kalau mau silahkan dan kalau tidak mau
tidak ada pilihan lain”(Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, 1999 : 2).
Hal tersebut diatas, langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan kecemburuan sosial,
yang pada akhirnya dapat mengakibatkan distorsi ekonomi secara nasional dengan dampak
juga dapat merugikan kepentingan masyarakat banyak, kepentingan bangsa dan negara.
Praktek monopoli hal yang biasa dilakukan oleh para pelaku usaha, ekonomi dan bisnis
besar yang mempuyai kekuatan untuk mengontrol pasar market. Apabila terjadi hal tersebut
maka harga akan semakin meningkat dikarenakan kelangkaan produksi barang dan/atau jasa.
Akibat dari monopolu adalah dapat menguntungkan disatu pihak saja dan akan dapat
mematikan uasaha-usaha lain yang kecil dan sederhana yang bergerak dalam bidang yang
sama. Praktek monopoli dapat juga dikatakan teknik pengisapan darah masyarakat selaku
kon-sumen yang pernah dilakukan penjajah VOC zaman dahulu sebelum kemerdekaan kita.
Persaingan usaha tidak sehat adalah suatu bentuk yang dapat diartikan secara umum
terhadap segala tindakan ketidak juuran atau menghilangkan persaingan dalam setiap bentuk
transaksi atau bentuk perdagangan dan konersial. Adanya persaingan tersebut mengakibatkan
lahirnya perusahaan-perusahaan yang mempunyai pelaku keinginan yang tinggi untuk
mengalahkan pesaing-pesaingnya agar menjadi perusahaan yang besar dan paling kaya.
Persaingan usaha tidak sehat adalah suatu persaingan antar pelaku usaha dalam
dengan cara-cara yang tidak jujur atau dengan cara melawan hukum atau menghambat
persaingan usaha.
Di dalam fenomena persaingan usaha nasional selalu terdapat issue kondisi struktur
ekonomi, issue perilaku pro-persaingan atau anti persaingan dari para pelaku usaha nasional,
serta issue kebijakan persaingan usaha nasional. Dalam issue pertama, perspektif ekonomi
sangatlah menonjol, untuk issue yang kedua, perspektif ekonomi terkait dengan masalah motif
ekonomi dari perilaku tersebut dan perspektif hukum akan membahas ada atau tidaknya aturan
(code of conduct) dari perilaku tersebut, sedangkan issue yang ketiga sangat menonjol
perspektif hukumnya. Oleh karena itu dalam pembahasan issue persaingan usaha pastinya akan
terdapat perspektif ekonomi dan perspektif hukumnya.
Pengertian Kebijakan Persaingan Usaha (competition Policy) melingkupi pula pengetian
dari Hukum Persaingan Usaha (Competition Law) atau dengan kata lain bidang Hukum
Persaingan Usaha merupakan salah satu cabang pembahasan dalam Kebijakan Persaingan
Usaha. Sedangkan pengertian dan ruang lingkup dari Hukum Persaingan Usaha tidak
melingkupi seluruh pengertian dan bidang dalam Kebijakan Persaingan Usaha.
Kebijakan Persaingan Usaha disamping melingkupi Hukum Persaingan Usaha, juga meling
kupi perihal deregulasi, foreign direct investment, serta kebijakan lain yang ditujukan untuk
mendukung persaingan usaha seperti pengurangan pembatasan kuantifikasi impor dan juga
melingkup aspek kepemilikan intelktual (intellectual property). Sehingga apabila di dalamnya
digunakan istilah ”Kebijakan Persaingan Usaha maka berarti termasuk pula di dalamnya
”Hukum Persaingan Usaha”
Hukum persaingan usaha sebenarnya mengatur tentang pertentangan kepentingan antar
pelaku usaha yang merasa dirugikan oleh tindakan dari pelaku usaha lainnya. Oleh karenanya
hukum persaingan usaha pada dasarnya merupakan sengketa perdata. Penegakan hukum
persaingan usaha antar pelaku usaha dapat dilakukan oleh pelaku usaha sendiri, apabila
masalah tersebut tidak terdapat unsur-unsur publiknya. Penegakan hukum oleh pelaku usaha
akan memenuhi berbagai hambatan apabila tidak ada kesukarelaan untuk melaksanakan
putusan dari pihak yang dikalahkan. Hal ini karena sebuah asosiasi tidak berwenang untuk
melakukan penyitaan ataupun menjatuhkan sanksi yang bersifat publik.
Kebijakan persaingan usaha domestik yang sehat merupakan salah satu agenda reformasi
tahun Indonesia merdeka belum ada kebijaksanaan maupun undang-undang yang khusus
mengatur tentang antimonopoli ataupun tentang persaingan usaha. Di lain pihak, karena
berbagai bentuk usaha dan praktek monopoli yang ada di Indonesia saat ini cenderung
menghasilkan eksploitasi ekonomi yaitu berupa usaha mencari keuntungan yang besar dan
membatasi produk yang dihasilkan.
Kebijakan persaingan usaha domestik yang sehat sangat diperlukan karena dengan adanya
kebijkan ini proses alokasi sumberdaya ekonomi melalui produksi dan distribusi barang
dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan menjadi efisien.dan ini berarti
mengoptimalkan kesejahteraan konsumen. Dengan adanya kebijaksanaan persaingan usaha
domestik, maka upaya untuk m eningkatkan keberhasilan di pasar global dan perkembangan
teknologi maupun inovasi akan mudah tercapai. Sebaliknya, persaingan ekonomi pasar yang
bebas dapat menimbulkan kecenderungan perusahaan atau kelompok perusahaan berusaha
memperoleh kekuatan ekonomi yang berlebihan, memperbesar skala usaha untuk mencari
keuntungan yang besar, melakukan konspirasi dalam menentukan harga, membatasi produksi
dan mengeksploitasi tenaga kerja. Semuai ini akan merugikan masyarakat.
Iklim persaingan usaha yang sehat merupakan suatu condition sine qua non bagi
terseleng-garanya ekonomi pasar. Karena itu Undang-Undang (UU) larangan praktek monopoli dan
persaingan usaha tidak sehat merupakan suatu kebutuhan dan menduduki posisi kunci dalam
ekonomi pasar secara marketing. UU ini akan memberikan aturan main yang jelas dan tegas
kepada para pelaku usaha dan ekonomi dalam melaksanakan aktivitas usaha, ekonomi dan
bisnis mereka.
Persaingan antara pelaku usaha salah satunya adalah persaingan dalam merebut pasar dan
mendapat konsumen sebanyak-banyaknya. Persaingan sebenarnya merupakan kondisi ideal
yang memiliki banyak aspek positif.Meskipun demikian,persaingan akan dapat berjalan dengan
baik sesuai dengan fungsinya apabila tidak terjadi perbuatan curang yang justru merugikan dan
menimbulkan aspek negatif.
Di dalam fenomena persaingan usaha nasional selalu terdapat isu kondisi struktural
ekonomi, isu perilaku mendukung persaingan atau tidak mendukung persaingan dari para
pelaku usaha nasional, serta isu kebijakan persaingan usaha nasional. Dalam isu pertama,
perspektif ekonomi sangatlah menonjol, untuk isu yang kedua, perspektif ekonomi terkait
membahas ada atau tidaknya turan dari perilaku tersebut, sedangkan isu yang ketiga, sangat
menonjol perspektif hukumnya. Oleh karenanya, dalam pembahasan isu persaingan usaha
pastinya akan terdapat perspektif ekonomi dan perspektif hukumnya.
”Sebagai bentuk penguasaan pasar atas produk tertentu, monopoli bukan saja dapat
menarik keuntungan sebesar-besarnya tetapi juga dapat mengganggu dan merusak sistem dan
mekanisme perekonomian yang sedang berjalan sebagai akibat distorsi ekonomi yang
ditabur-kannya, seiring dengan semakin besarnya penguasaan atas pangsa pasar produk tertentu.
Sebuah atau beberapa perusahaan yang memonopoli produk tertentu dapat menentukan harga
suatu produk sesuka hatinya, karena mekanisme pasar sudah tidak berjalan lagi. Apalagi
produk yang dimonopoli itu merupakan kebutuhan primer. Dapat dipastikan mereka dapat
mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Masyarakat tidak ada pilihan lain kecuali
membeli produk monopoli itu”( Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, 1999 : 3)
Desakan untuk memiliki suatu regulasi perangkat peraturan perundang-undangan yang
membatasi konglomerasi bergaung dengan kencang sejak dekade tahun 1980-an. Berkaitan
dengan hal tersebut diatas, maka Pemerintah pada tanggal 5 Maret 1999 telah mengeluarkan
UULPM & PUTS). Dengan dikeluarkannya UULPM & PUTS ini, maka praktek monopoli
dan persaingan usaha tidak sehat menjadi momok yang menakutkan bagi kalangan pelaku
usaha, ekonomi dan bisnis. Sehingga kedua aktivitas kegiatan usaha, ekonomi dan bisnis yang
tidak fair ini dapat dieleminasi. Di Indonesia essensi keberadaan UULPM & PUTS ini memer
lukan suatu badan sebagai pengawasan dalam rangka implementasinya. Berlakunya UULPM &
PUTS sebagai landasan kebijakan persaingan (competition policy) diikuti dengan berdirinya
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (yang selanjutnya disebut dengan KPPU) guna
memastikan dan melakukan pengawasan terhadap dipatuhinya ketentuan yang diatur dalam
UULPM & PUTS.
Undang-Undang Anti Monopoli sangat banyak bersinggungan dengan sektor ekonomi.
Akan tetapi seperti biasanya dalam hukum bisnis, maka asal saja hukum itu ditulis dengan
bahasa yang benar, maka para ahli hukum tidak usah terlalu cemas jika tidak menguasai bidang
ekonomi. Karena begitu hukum ditulis, maka menjadi kewenangan orang-orang hukumlah
un-tuk menafsirkannya. Banyak ahli hukum anti monopoli atau pengacara dan hakim yang
memu-tuskan perkara-perkara anti monopoli di seantero dunia adalah ahli hukum yang tidak pernah
anti monopoli, jangan segan bertanya dan berdiskusi, termasuk dengan para ekonom.
Undang-Undang Anti Monopoli merupakan sebuah Undang-Undang yang secara khusus
mengatur tentang persaingan dan praktek monopoli, yang sudah sejak lama dipikirkan oleh
para pakar, partai politik, lembaga swadaya masyarakat serta instansi pemerintah.Sebagai
contoh misalnya Partai Demokrasi Indonesia pada tahun 1995 telah mengeluarkan gagasan
tentang konsep Rancangan Undang-Undang tentang Anti Monopoli. Namun demikian, semua
gagasan dan usulan tersebut tidak mendapat tanggapan positif, karena pada masa itu belum ada
komitmen maupun political will dari elite politik yang berkuasa untuk mengatur masalah
persaingan usaha.
Menurut Rahabahwa ”jika ditinjau daru UULPM & PUTS , tindakan pelaku usaha dalam
melakukan praktek penguasaan pasar tersebut akan sangat merugikan tidak hanya bagi
konsumen tetapi juga bagi pelaku usaha yang lainnnya untuk ikut berpartisipasi dalam pasar
yang sama” (Raha, 2011 : 1-2). Lebih lanjut Raha menjelaskan ”dengan mengutip pasal 19
UULPM & PUTS tentang penguasaan pasar, pelaku usaha dilarang untuk melakukan satu atau
beberapa kegiatan baik sendiri maupun bersama pelaku usaha lain, yang dapat mengakibatkan
terjadinya praktek monopoli dan/ atau persaingan usaha tidak sehat”.
Seperti yang disebutkan dalam bagian umum dari penjelasan atas UULPM & PUTS dan di
tegaskan kembali dalam Pasal 3 dari Undang-Undang tersebut, bahwa UU mengambil landasan
kepada suatu demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.”Kristalisasinya
ada-lah berupa menjaga keseimbangan antara kepentingan si pelaku usaha dengan kepentingan
umum dengan tujuan untuk :
1. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi serta melindungi
konsu-men.
2. Menumbuhkan iklim usaha yang kondusif melalui terciptanya persaingan usaha yang sehat
dan menjamin kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi setiap orang.
3. Mencegah praktek-praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang
ditimbul-kan pelaku usaha.
4. Menciptakan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha dalam rangka meningkatkan
efi-siensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat”.
Dalam hal penanganan perkara/kasus/sengketa praktek monpoli dan persaingan usaha,
peran KPPU telah diatur secara jelas dalam UULPM & PUTS, bahkan KPPU dapat membuat
aturan pelaksanaan dari Undang-Undang tersebut, sedangkan peran lembaga peradilan dalam
menangani keberatan terhadap putusan KPPU tidak diatur secara rinci dalam Undang-undang
tersebut. Kerjasama dengan pengadilan yang menangani eksepsi atau pemeriksaan keberatan
terlapor berakibat pada kualitas dan lambatnya penegakan hukum praktek monopoli dan
persaingan usaha.
Selain melakukan pembenahan sumber daya manusia di bidang hukum sebagai bagian dari
brainware system , penting pula kiranya untuk membenahi perangkat hukum sebagai bagian
dari software system. Oleh karena itu diperlukan pergeseran paradigma dari hukum yang
teknokratis struktural menuju hukum humams patisipatoris yang dimulai dari proses hukum
yang paling awal karena terdapat hubungan yang erat antara perencanaan hukum, pembentukan
hukum, penegakan hukum dan pendayagunaan hukum. Dalam konteks penegakan hukum tidak
lain adalah mewujudkan isi, jiwa dan semangat undang-undang/peraturan ke dalam kehidupan
sehari-hari. Oleh karena itu, siapapun yang telah mewujudkan isi, jiwa dan semangat
undang-undang dalam kehidupannya sehari-hari, maka dirinya adalah sesungguhnya menjadi penegak
hukum.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka peneliti melakukan Penelitian mengenai
Penega-gakan Hukum (law enforcement) Monopoli dan Persaingan Usaha Atas Produksi dan
Pemasa-saran Barang dan/atau Jasa Bagi Pelaku Usaha ini merupakan penelitian hukum normatif.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penegakan hukum yang dilakukan oleh
KPPU, terutama yang berkaitan dengan kedudukan KPPU dalam UULPM & PUTS serta
kekuatan mengikat dan pelaksanaan putusannya.
B. Permasalahan
1. Apa dan Bagaimana Pengawasan yang dilakukan terhadap Pelangaran Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat di Indonesia ?
2. Bagaimana Tatacara Penanganan Perkara dan Sanksi Apa Yang Diterapkan Bila
Terjadi Pelanggaran Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha ?
3. Bagaimana Penegakan Hukum (Law Enforcement) dilakukan jika terjadi Pelanggaran
C. Tujuan Penelitian
Penulisan karya ilmiah Penelitian ini bertujuan memberikan suatu pemecahan terhadap
masalah yang hendak diteliti yaitu :
1. Apa dan Bagaimana Pengawasan yang dilakukan Terhadap Pelanggaran Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat di Indonesia ?
2. Bagaimana Tatacara Penanganan Perkara dan Sanksi Apa Yang Diterapkan Bila
Terjadi Pelanggaran Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha ?
3. Bagaimana Penegakan Hukum (Law Enforvement) dilakukan jika terjadi Pelanggaran
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat di Indonesia ?
D. Manfaat Penelitian
Penyuguhan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat demi :
1. Menambah, memperkaya dan sumbangsih sederhana ilmu pengetahuan di bidang
hukum khusunya ilmu pengetahuan hukum bisnis bagi perkembangan ilmu
pengetahuan itu sendiri maupun bagi mahasiswa, pemerhati, peneliti lainnya.
2. Sumbangsih pemikiran sederhana tentang Penegakan Hukum (law enforcement) Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Penguasaan Atas Produksi dan
Pemasa-ran BaPemasa-rang dan/atau Jasa Bagi Pelaku Usaha kepada para pelaku usaha, ekonomi dan
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA (KERANGKA TEORETIS).
”Sebelum dikeluarkan UULPM & PUTS, sebenarnya pengaturan mengenai persaingan
usaha tidak sehat didasarkan pada Pasal 1365 KUH Perdata mengenai perbuatan melawan
hukum (onrechtmatigdaad) dan Pasal 382 bis KUH Pidana”. (Lintang Asmara 2011 : 1)
Menurut KUH Perdata, ”Tiap-tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian
kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu
mengganti kerugian tersebut” (Pasal 1365 KUH Perdata).
Selanjut Lintang Asmara menguraikan, ”Barang siapa yang mendapatkan,
melangsung-kan atau memperluas hasil perdagangan atau perusahaan milik sendiri atau orang lain,
melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan khalayak umum atau seseorang tertentu,
diancam karena persaingan curang dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan
atau pidana denda paling banyak tiga belas ribu lima ratus rupiah, bila perbuatan itu dapat
menimbulkan kerugian bagi konkuren-konkuren orang lain”. (Pasal 382bis KUH Pidana). Dari
rumusan Pasal 382 bis KHU Pidana ini terlihat bahwa seseorang dapat dikenakan sanksi pidana
atas tindakan ”persaingan curang” dan harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
1. Adanya tindakan tertentu yang dikategorikan sebagai persaingan curang.
2. Perbuatan persaingan curang itu dilakukan dalam rangka mendapatkan, melangsungkan
dan memperluas hasil dagangan atau perusahaan.
3. Perusahaan yang diuntungkan karena persaingan curang tersebut,baik perusahaan si pelaku
maupun perusahaan lain.
4. Perbuatan pidana persaingan curang dilakukan dengan cara menyesatkan khalayak
umum atau orang tertentu.
5. Akibat dari perbuatan persaingan curang tersebut telah menimbulkan kerugian bagi
konkorennya dari orang lain yang diuntungkan dengan perbuatan si pelaku” (Lintang Asmara, 2011 : 1).
Sebetulnya sudah sejak lama masyarakat Indonesia, khususnya para pelaku bisnis
merindukan sebuah undang-undang uang secara komprehensif mengatur persaingan sehat.
Keinginan itu didorong oleh munculnya praktek-praktek perdagangan yang tidak sehat,
pelaku bisnis tertentu, sebagai bagian dari praktek-praktek kolusi, korupsi, kroni dan
nepotisme. Dikatakan secara komprehensif , karena sebenarnya secara pragmentasi,
batasan-batasan yuridis terhadap praktek-praktek bisnis yang tidak sehat atau curang dapat ditemukan
secara tersebar di berbagai hukum positif. Tetapi karena sifatnya yang sektoral,
perundang-undangan tersebut sangat tidak efektif untuk (secara konseptual) memenuhi berbagai indikator
sasaran yang ingin dicapai oleh undang-undang persaingan sehat tersebut.
Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan
kegiatan produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak
jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.
Pengertian dan pemahaman yang salah akan persaingan dan pasar bebas mengakibatkan
tibulnya sikap skeptis para pembuat kebijakan dan penegak hukum ketika ULPM & PUTS ini
disahkan. Pertanyaan yang timbul adalah dapatkah Undang-Undang anti monopoli ini
memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia mengingat selama ini Indonesia mengalami
pembangunan dengan sistem ekonomi diperintah dan terencana. Selain itu persaingan selalu
dikaitkan dengan individualisme yang bertolak belakang dengan kultur masyarakat yang
komunal dimana segala sesuatunya dilakukan atas dasar kekeluargaan dan gotong royong. Hal
ini dikuatkan oleh Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 bahwa cabang-cabang produksi yang
penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Ayat lainnya
menyatakan perekonomian Indonesia dilandaskan pada demokrasi ekonomi kerakyatan.
Adanya sikap skeptis ini dapat menjadi hambatan bagi terwujudnya tujuan yang ingin
dicapai Undang-Undang antimonopoli ini mengingat adanya relevansi yang kuat antara hukum
dan pembangunan ekonomi. Hukum merupakan alat rekayasa sosial yang dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hukum persaingan usaha di Indonesia dapat menjalankan
tugasnya sebaga alat rekayasa sosial apabila terdapat keadaan yang cukup kondusif yaitu
stabilitas, prediktabilitas, keadilan, pendidikan dan kemampuan aparat penegak hukum.
Dengan demikian hukum persaingan usaha mampu menempatkan dirinya tidak saja sebagai
alat rekayasa sosial namun juga sebagai tool of economic development.
Menurut Munir Fuady sebagaimana dikutip dari pendapat Frank Fishwick (1995 : 21),
kata ”monopoli berasal dari kata Yunani yang berarti ”penjual tunggal”. Disamping itu istilah
monopoli di negara United State of America (USA) sering digunakan kata ”antitrust” untuk
oleh masyarakat Eropah yang artinya juga sepadan dengan artiisitilah “monopoli”.Di samping
itu terdapat lagi istilah yang artinya mirip-mirip yaitu istilah “kekuatan pasar”. Dalam praktek
keempat istilah tersebut yaitu isitilah ”monopoli”, ”antitrust”, kekuatan pasar” dan ”isitilah
”dominasi” saling dipertukarkanpemakaiannnya. Keempat isitilah tersebut dipergunakan untuk
menunujukkan suatu keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang menguasai pasar,
dimana di pasar tersebut tidak tersedia lagi produk atau produk subsitusi yang potensial dan
terdapatnya kemampuan pelaku pasar tersebut untuk menerapkan harga produk tersebut yang
lebih tinggi, tanpa mengikuti hukum persaingan pasar atau hukum permintaan dan penawaran
pasar.
Dapat dipahami mengapa dalam pasar bebas harus dicegah penguasaan pasar oleh satu, dua
atau beberapa pelaku usaha saja (monopoli dan oligopoli), karena dalam pasar yang hanya
dikuasai oleh sejumlah pelaku usaha maka terbuka peluang untuk menghindari dan mematikan
bekerjanya mekanisme pasar (market mechanism) sehingga harga-harga ditetapkan secara
sepihak dan merugikan konsumen. Pelaku usaha yang jumlahnya sedikit dapat membuat
berbagai kesepakatan untuk membagi wilayah pemasaran, mengatur harga, kualitas dan
kuantitas barang dan atau jasa yang ditawarkan guna memperoleh keuntungan yang
setinggi-tingginya dalam waktu yang relatif singkat.
Persaingan usaha di antara para pelaku usaha juga dapat terjadi secara curang (unfair
competition) sehingga merupakan konsumen, bahkan negara. Oleh karena itu, pengaturan
hukum untuk menjamin terselenggaranya pasar bebas secara adil mutlak diperlukan. Meskipun
monopoli harus dicegah tapi sampai pada saat ini belum ada suatu perangkat hukum dan
peraturan perundang-undangan dibidang hukum dan bisnisyang mampu untuk mencegah
terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Bahkan monopoli yang
dilakukan oleh BUMN saat ini cenderung merugikan masyarakat ketimbang mmberi manfaat
sulit untuk diawasi. Keterbukaaan informasi yang kurang menyebabkan praktek monopoli
semakin merajalela dan masyarakatpun tidak mampu berbuat apa-apa karena tidak
mengetahui-nya.
Jika berbicara mengenai monopoli, kita tidak dapat melepaskan perhatian dengan gejala
perkembangan konglomerasi yang banyak menimbulkan reaksi dari kalangan masyarakat dan
para ahli hukum dan ekonomi. Pendapat merekapun tidak selamanya sama. Suara sumbang
suatu bidang atau produk tertentu mulai mejangkiti dan mewabah di Indonesia. Sebagai bentuk
penguasaan pangsa pasar atau produk tertentu, monopoli bukan saja dapat menarik keuntungan
sebesar-besarnya tetapi dapat mengganggu sistem dan mekanisme perekenomian yang sedang
berjalan sebagai akibat distorsi ekonomi yang ditaburkannya, seiring dengan semakin besarnya
penguasaan atas pangsa pasar dan produk tertentu.
Pada dasarnya praktek monopoli ini merupakan pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu
atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan/atau pemasaran barang
dan atau jasa tertentu sehingga dapat menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat
merugikan kepentingan umum.
Berdasarkan definisi monopoli tersebut di atas dapat kita ambil unsur-unsur dari praktek
monopoli yaitu :
a. Terjadinya pemusatan kekuatan ekonomi pada satu atau lebih pelaku usaha.
b. Terdapat penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan ataua jasa tertentu.
c. Terjadi persaingan usaha tidak sehat, serta
d. Tindakan tersebut dapat merugikan kepentingan umum (Andi Fahmi Lubis dkk, 2001 :
132-133)
Saiful Akbar menjelaskan bahwa ”di dalam fenomena persaingan usaha nasional selalu terdapat isu kondisi struktural ekonomi, isu perilaku mendukung persaingan atau tidak
mendukung persaingan dari para pelaku usaha nasional serta isu kebijakan persaingan usaha
nasional. Dalam isu pertama, perspektif ekonomi sangatlah menonjol, untuk isu kedua,
perspektif ekonomi terkait dengan masalah motif ekonomi dari perilaku tersebut dan sudut
pandang hukum akan membahas ada atau tidaknya aturan dari perilaku tersebut, sedangkan isu
ketiga, sangat menonjol perspektif hukumnya. Oleh karenanya, dalam pembahasan isu
persai-ngan usaha pastinya akan terdapat perspektif ekonomi dan perspektif hukumnya” (Saiful Akbar, 2011 : 2).
”Dalam literatur ilmu hukum bisnis anti monopoli, biasanya yang diartikan anti persaingan
sehat adalah dampak negatif tindakan tertentu terhadap :
1. harga barang dan/atau jasa
2. kualitas barang dan/atau jasa
3. kuantitas barang dan/atau jasa”(Munir Fuady : 2003 : 5).
, Undang-Undang Anti Monopoli memberi arti sebagai penguasaan yang nyata atas suatu pasar
bersangkutan oleh satu atau lebih pelaku usaha sehingga dapat menentukan harga barang
dan/atau jasa.
Lebih lanjut lagi Munir Fuady menjelaskan ”kepada pengertian ” posisi dominan”
Undang-Undang Anti Monopoli memberi arti sebagai suatu keadaan di mana pelaku usaha
ti-dak mempunyai pesaing yang berarti di pasar yang bersangkutan dalam kaitannya dengan pang
sa pasar yang dikuasai atau pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi di antara pesaingnya di
pasar bersangkutan dalam kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses pada
paso-kan atau penjualan,serta kemampuan untuk menyesuaipaso-kan pasopaso-kan atau permintaan barang dan
/atau jasa tertentu.
Dengan demikian Undang-Undang Anti Monopoli (UULPM & PUTS) dalam memberikan
arti kepada posisi dominan atau perbuatan anti persaingan lainnya mencakup baik kompetisi
yang interbrand, maupun kompetisi yang intrabrand. Yang dimaksud dengan kompetisi yang
interbrand adalah kompetisi di antara produsen produk yang generiknya sama (same generic
product). Dilarang misalnya jika satu perusahaan menguasai 100 % (seratus persen) pasar
televise atau yang disebut dengan isitilah “monopoli”. Sedangkan yang dimaksud dengan kom
-petisi yang intrabrand adalah kom-petisi di antara distributor (wholesale maupun eceran) atas
produk dari produsen tertentu.
Sementara yang dimaksuddengan “pelaku usaha” adalah setiap perorangan atau
sekelom-pok orang atau juga badan usaha,baik yang berbentuk badan hukum maupun tidak berbadan
hukum, didirikan atau berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah Republik
Indone-sia yang menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi. Jadi dalam hal ini
ke dalam kategori “pelaku usaha” termasuk :1). Orang perorangan, 2). Badan Usaha berbentuk
Badan Hukum, 3). Badan Usaha Bukan Berbentuk Badan Hukum.
Undang-Undang anti monopoli UULPM & PUTS masih melihat suatu pelaku usaha dalam
arti suatu bentuk usaha, baik berbadan hukum maupun yang bukan berbadan hukum. Jadi, jika
dalam suatu kelompok usaha ada dua badan hukum misalnya, maka hal tersebut dianggap
sebagai dua pelaku usaha. Karena itu, bagi Undang-Undang anti monopoli (UULPM & PUTS)
tersebut, tidak begitu relevan misalnya memperbedakan apakah suatu distribusi ganda (dual
Yang dimaksud dengan distribusi ganda yang sejajar adalah jika ada satu perusahaan yang
mengangkat distributornya lebih dari satu, tetapi kedua perusahaan distribusi tersebut berada di
luar grup dan saling bersaing satu sama lain. Sementara itu yang dimaksud dengan distribusi
ganda campuran adalah dimana seorang produsen mengangkat dua distributor, satu merupakan
distributor dalam satu kelompok usaha dengan produsen tersebut, sementara distributor yang
satunya lagi adalah distributor bebas, yakni yang berada di luar kelompok usaha yang
bersangkutan. Sehingga dalam distribusi ganda yang campuran terebut terancam baik
persai-ngan usaha yang vertikal maupun yang horizontal.
Disamping itu, ada juga yang mengartikan kepada tindakan monopoli sebagai suatu
keisti-mewaan atau keuntungan khusus yang diberikan kepada seorang atau beberapa orang atau peru
sahaan yang merupakan hak atau kekuasaaan yang eksklusif untuk menjalankan bisnis atau per
dagangan tertentu atau memproduksi barang-barang khusus atau mengontrol penjualan
terha-dap seluruh suplai barang tertentu.
Dalam hukum Inggris kuno, monopoli diartikan sebagai suatu izin atau keistimewaan yang
dibenarkan oleh raja untuk membeli, menjual, membuat, mengerjakan atau menggunakan
apa-pun secara keseluruhan dimana tindakan monopoli tersebut secara umum dapat mengekang
ke-bebasan berproduksi atau berdagang (trading). Atau monopoli dirumuskan juga sebagai suatu
tindakan yang memiliki atau mengontrol bagian besardari suplai di pasar atau output dari komo
ditas tertentu yang dapat mengekang kompetisi, membatasi kebebasan perdagangan yang
mem-berikan kepada pemonopoli kekuaaan pengontrolan terhadap harga.
Menurut Abdurrachman A, ada lagi yang mengartikan kepada tindakan monopoli (yang
umum) sebagai suatu hak atau kekuasaan hanya untuk melakukan suatu kegiatan atau aktivitas
yang khusus, seperti membuat suatu produk tertentu. Memberikan suatu jasa dan sebagainya.
Atau suatu monopoli (dalam dunia usaha) diartikan sebagai pemilikan atau pengendalian
persediaan akan atau pasaran untuk suatu produk atau jasa yang cukup banyak untuk
mematah-kan atau memusnahmematah-kan persaingan, untuk mengendalimematah-kan harga atau dengan cara lain membata
si perdagangan (Abdurrachman A, 1991 : 700) .
Pengertian Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat menurut UULPM &
PUTS adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibat
dikuasainya produksi dan/atau pemasaran atas barang dan/atau jasa tertentu sehingga
Menurut Ditha Wiradiputra mengatakan bahwa : ”Bagi negara berkembang seperti
Indonesia, implementasi hukum persaingan usaha bukanlah pekerjaan yang mudah.
Terlebih-lebih masih adanya anggapan dikalangan negara berkembang yang mengatakan bahwa
implementasi hukum persaingan usaha yang berlebihan dapat mengganggu aktivitas bisnis pela
ku usaha, dan kurang menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan nasional, ditambah biaya
yang dibutuhkan dalam proses investigasi dugaan terjadi praktek anti persaingan usaha juga
ti-daklah murah”(Ditha Wiradiputra, 2010 : 1).
Lebih lanjut Ditha Wiradiputra menjelaskanbahwa ”efektifitas implementasi dari hukum
persaingan usaha merupakan tugas yang sulit serta memerlukan tingkat pengetahuan dan
keah-lian yang tinggi. Kondisi struktur awal yang terjadi dalam ekonomi transisi dari proteksi ke
liberalisasi,khususnya pada negara berkembang membuat implementasi hukum persaingan men
jadi tugas yang lebih menantang daripada implementasi hukum persaingan usaha pada negara
yang telah maju. Hambatan masuk yang timbul dari konsentrasi pasar yang tinggi, kontrol dan
kepemilikan pemerintah, hambatan administrasitif, semuanya tinggi di ekonomi transisi. Dan
tidak hanya itu, implementasi hukum persaingan usaha juga tidak akan terlepas dari tekanan
secara politik maypun sosial.
Ditha Wiradiputra menambahkan : ”namun untuk melihat bagaimana efektifitas dari
penegakan hukum persaingan usaha terhadap berbagai sektor industri yang ada bukanlah tugas
yang mudah dan juga tidak dapat dilakukan dalamjangka waktu yang relatif singkat”.
Menurut Irna Irmalina dalam Tesisnya berjudul Tinjauan Terhadap Fungsi dan
Kedudukan KPPU Dalam Penegakan Peraturan Persaingan Usaha mengatakan : ”dalam prakteknya persaingan usaha sangat terpengaruh oleh berbagai kebijakan pemerintah atau
kebijakan publik. Seharusnya kebijakan publik tersebut dibuat dengan wawasan yang berpihak
kepada mayarakat sebagai konsumen, baik kepada produsen maupun kepada konsumen, namun
kenyataannya banyak kebijakan yang menyangkut sektor usaha yang diwarnai dengan berbagai
kepentingan yang terselubung dari ihak tertentu. Suatu kebijakan mengenai tata niaga komoditi
tertentu misalnya, ternyata menciptakan hambatan masuk yang memberi peluang kepada
kelompok tertentu untuk melakukan praktek monopoli dan menutup pesaing untuk masuk”
Selanjutnya Irna Irmalina sebagaimana mengutip dari pendapat Hasan M. Fadli, (2005)
menjelaskan : ” di masa pemerintahan orde baru, banyak dijumpai praktek persaingan yang
adalah : (1). Unregulated, atau nyaris tanpa aturan, ciri ini berkaitan dengan struktur kekuasaan
yang memusatkan pada diri seorang presiden. Saat itu hampir tidak ada kebijakan tentang
praktek usaha yang berwawasan kepentingan publik, (2). Concentrated, atau terpusat baik
berupa monopoli, ataupun oligopoli. Pada masa itu praktek perekonomian terpusat hanya pada
beberapa gelintir pelaku usaha melalui proses nepotisme, (3). Protected dan No Competition
atau dilindungi dan tanpa persaingan. Sebagian besar dunia usaha industri yang memperoleh
hak monopoli dan ologopoli diproteksi sedemikian rupa dengan kebijakan pemerinta. Proteksi
ini tidak hanya terbatas pada komoditi strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak,
melainkan meluas pada berbagai komoditi lainnya”, (4). Priveledge, atau perlakuan khusus.
Diantara yang memperoleh perlakuan khusus dari kebijakan pemerintah adalah keluarga
pejabat mulai dari level paling atas hingga sampai paling bawah”.
Irna Irmalinamenambahkan bahwa :”implikasi dari struktur ekonomi orde baru seperti itu
yang paling nyata adalah alokasi sumber daya ekonomi yang timpang antar sektor, antar
kelompok usaha dan antar daerah. Masyarakat menanggung beban harga yang klebih mahal
dari yang seharusnya. Disamping itu perburuan rente dan praktek-prakek kolusi tidak dapat
dihindarkan, dan transparansi serta good governance sebagai paradigma penyelenggaraan
kepemerintahan sama sekali tidak diwujudkan”
Kehadiran UULPM & PUTS dimaksudkan untuk memberikan jaminan kepastian hukum,
perlindungan hukum yang sama kepada setiap pelaku usaha dalam berusaha dan penegakan
hukum dengan cara mencegah timbulnya praktek-praktek monopoli dan/atau persaingan usaha
yang tidak sehat lainnya dengan harapan dapat menciptakan iklim usaha yang kondusif dimana
setiap pelaku usaha dapat bersaing secara wajar dan sehat. Untuk itu diperlukan aturan hukum
yang pasti dan jelas yang mengatur larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak
sehat lainnya.
Dengan keluarnya UULPM & PUTS peraturan ini sebagai tool of social control and a tool
of social engineering yang tiada lain adalah merupakan sebagai alat control social dan
berusaha menjaga kepentingan umum dan mencegah praktek monopoli dan/atau persaingan
usaha tidak sehat. Selanjutnya juga merupakan alat rekayasa social berusaha untuk
meningkatkan efisiensi ekonomi nasional, mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui
dalam kegiatan usaha serta akan membawa nilai positif bagi perkembangan iklim usaha di
Indonesia yang selama ini dikatakan jauh dari kondisi ideal.
Salah satu tujuan diberlakukannya UULPM & PUTS ini adalah untuk memastikan bahwa
mekanisme pasar dapat bekerja dengan baik dan konsumen menikmati hasil dari proses
persaingan atau surplus konsumen. Dalam UU ini diatur mengenai larangan perjanjian,
kegiatan dan penyalahgunaaan posisi dominan yang dapat mengarah pada persaingan usaha
tidak sehat.
Disamping itu UULPM & PUTS juga menjamin dan memberi peluang yang besar kepada
pelaku usaha yang ingin berusaha (sebagai akibat dilarangnya praktek monopoli dalam bentuk
penciptaan barrier toentry). Dampak positif lain adalah terciptanya pasar yang tidak terdistorsi,
sehingga menciptakan peluang usaha yang semakin besar bagi pelaku usaha. Keadaan ini akan
memaksa para pelaku usaha untuk lebih innovatif dalam memciptakan dan memasarkan produk
(barang dan/atau jasa).
Rachmadi Usman dalam bukunya berjudul Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia me
ngatakan bahwa :”Lembaga yang akan menjadi penjagauntuk tegaknya peraturan persaingan
usaha merupakan syarat mutlak agar peraturan persaingan usaha dapat lebih operasional.
Pem-berian kewenangan khusus kepada suatu komisi untuk melaksanakan suatu peraturan di bidang
persaingan merupakan hal yang lazim dilakukan oleh kebanyakan negara. Contoh di negara
Amerika Serikat (USA), Departemen Kehakimannya mempunyai divisi khusus, yaitu Antitrust
Division untuk menegakkan undang-undang anti monopoli yang dikenal dengan nama Sherman
Act. Departemen Kehakiman bersama-sama Federal Trade Commission juga bertugas menegak
kan Clayton Act. Sedangkan tugas untuk menegakkan Robinson Patman Act, khususnya yang
menyangkut tindakan penggabungan, peleburan dan pengambilalihan, diserahkan kepada Fede
ral Trade Commission : Jepang, Koreadan Taiwan dengan Fair Trade Commission”
(Rachmadi Usman, 2004 : 78-79).
Selanjutnya Rachmadi Usman menjelaskan “demikian pula yang terjadi di Indonesia,
Penegakan hukum persaingan diserahkan kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU),
di samping kepolisian, kejaksaan dan peradilan. Penegakan pelanggaran hukum peraingan
harus dilakukan terlebih dahulu dalam dan melalui Komisi Pengawas Persaingan Usaha
(KPPU). Setelah itu, tugas dapat diserahkan kepada penyidik/penyelidik kepolisian, kemudian
dijatuhkan KPPU. Sebenarnya, penegakan hukum persaingan usaha dapat saja dilakukan oleh
kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Pengadilan merupakan tempat penyelesaian perkara
yang resmi dibentuk negara.Namun untuk hukum persaingan usaha,pada tingkat pertama penye
lesaian sengketa/perkara antar pelaku usaha tidak dilakukan oleh pengadilan. Alasan yang
da-pat dikemukakan adalah karena hukum persaingan usaha membutuhkan orang-orang spesialis
yang memiliki latar belakang dan/atau mengerti betul seluk beluk bisnis dalam rangka menjaga
mekanisme pasar.Institusi yang melakukan penegakan hukum persaingan usaha harus beranggo
takan orang-orang yang tidak saja berlatar belakang hukum, tetapi juga ekonomis dan bisnis.
Hal ini sangat diperlukan, mengingat masalah persaingan usaha sangat terkait erat dengan
eko-nomi dan bisnis’.
Lebih lanjut Rachmadi Usman menambahkan : ” alasan lain mengapa diperlukan institusi
yang secara khusus menyelesaikan kasus praktek monopoli dan peraaingan usaha tidak sehat
adalah agar berbagai perakara/sengketa tidak bertumpuk di pengadilan. Institusi yang secara
khusus menyelesaikan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dapat dianggap seba
gai suatu alternatif penyelesaian sengketa, spenjang pengertian alternatif di sini adalah quasi
judikatif sudah lama dikenal”.
Hukum terutama dapat dilihat bentuknya melalui kaidah-kaidah yang dirumuskan secara
ek-splisit. Di dalam kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan hukum tersebut terkandung
tindakan-tindakan yang harus dilaksanakan seperti penegakan hukum.Kehendak-kehendak hukum dilaku
kan melalui manusia-manusia, manusia yang menjalankan penegakan hukum benar-benar
me-nempati kedudukan yang penting dan menentukan. Apa yang dikatakan dan dijanjikan oleh
hu-kum, pada akhirnya akan menjadi kenyataan melalui tangan orang-orang tersebut.
Pada hakekatnya hukum mengandung ide atau konsep-konsep yang dapat digolongkan seba
gai sesuatu yang abstrak. Ke dalam kelompok yang abstrak termasuk ide tentang keadilan,
ke-pastian hukum dan kemanfaatan sosial. Apabila berbicara tentang penegakan hukum, maka
pa-da hakekatnya berbicara tentang penegakan ide-ide serta konsep-konsep yang notabene apa-dalah
abstrak tersebut. Dirumuskan secara alain, penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk
mewujudkan ide dan konsep-konsep tersebut menjadi kenyataan. Proses perwujudan
ide-ide dan konsep-konsep tersebut merupakan hakekat dari penegakan hukum. Apabila berbicara
mengenai perwujudan ide-ide dan konsep-konsep yang abstrak menjadi kenyataan, maka
Penegakan hukum merupakanfungsi dari bekerjanya pengaruh-pengaruh tersebut.Kita tidak
dapat menutup mata terhadap kenyataan para penegakan hukum, sebagai kategori manusia dan
bukan sebagai jabatan, akan cenderung memberikan penafsiran sendiri terhadap tugas-tugas
yang harus dilaksanakan sesuai dengan tingkat dan jenis pendidikan, kepribadian dan masih
banyak faktor pengaruh yang lain
Penegakan hukum selalu melibatkan manusia di dalamnya dan melibatkan juga tingkah
la-ku manusia. Hula-kum tidak dapat tegak dengan sendirinya, artinya hula-kum tidak mampu
mewu-judkan sendiri janji-janji serta kehendak-kehendak yang tercantum dalam (peraturan-peraturan)
hukum. Janji dan kehendak tersebut, misalnya untuk memberikan hak kepada seseorang,
memberikan perlindungan kepada seseorang yang memenuhi persyaratan tertentu dan
sebagai-nya.
Dalam penegakan hukum persaingan usaha, KPPU memegang peranan yang sangat sentral.
Menurut Pasal 30 UULPM &PUTS ditentukan bahwa komisi dibentuk untuk mengawasi pelak
sanaan undang-undang ini. Komisi merupakan lembaga independen yang terlepas dari pe
ngaruh dan kekuasaan serta pihak lain independensi itu ditegaskan kembali dalam Keppres
dalam menerapkan undang-undang, namun demikian komisi tidak hanya terbebas dari
pengaruh lain, seperti lembaga kemasyarakatan, kelompok pemegang kekuasaan keuangan, dan
pihak-pihak lainnya.
Dalam melaksanakan tugas-tugas komisi, menurut Pasal 33 UULPM & PUTS Komisi mem
punyai wewenang menerima laporan, melaksanakan penelitian, penyelidikan, pemanggilan pela
ku usaha, saksi-saksi, saksi ahli, instansi pemerintah, meminta bantuan penyidik, meminta dan
menilai alat-alat bukti, memutuskan serta menjatuhkan sanksi berupa tindakan administrasi.
Komisi dalam melaksanakan tugasnya disamping berdasarkan laporan masyarakat juga dapat
bertindak atas dasar wewenangnya yaitu patut menduga ada pelaku usaha yang melakukan
pe-langgaran terhadap UULPM & PUTS. Komisi wajib menetapkan perlu tidaknya dilakukan
pemeriksaan pendahuluan paling lama 30 hari setelah menerima laporan. Selanjutnya
pemerik-saan lanjutan dilakukan dalam waktu 60 hari dan dapat diperpanjang 30 hari lagi. Komisi wajib
memberikan putusan telah terjadi atau tidak terjadi pelanggaran persaingan usaha paling lambat
30 hari setelah pemeriksaan lanjutan.
Putusan komisi ini berupa sanksi tindakan administrasi dan dapat berupa : 1) penetapan