DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD.

38 

Teks penuh

(1)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN

PADA SISWA KELAS IV SD

TESIS

DiajukanuntukMemenuhiSebagianSyaratMemperolehGelar Magister Pendidikan pada Program StudiPendidikanDasar

Oleh:

Muhammad Rifqi Mahmud NIM. 1207149

(2)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN

PADA SISWA KELAS IV SD

Oleh

Muhammad Rifqi Mahmud

S.Pd UIN SunanGunungDjati Bandung, 2012

Sebuahtesis yang diajukanuntukmemenuhisalahsatusyaratmemperolehgelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Program StudiPendidikanDasar

© Muhammad Rifqi Mahmud 2015 UniversitasPendidikan Indonesia

(3)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu HakCiptadilindungiundang-undang.

Tesisinitidakbolehdiperbanyakseluruhyaatausebagian,

(4)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu PERNYATAAN

Sayamenyatakanbahawatesis yang

berjudul“DesainDidaktisuntukMengatasiLearning Obstacle

MateriPenjumlahandanPenguranganPecahanpadaSiswaKelas IV SD”,

sepenuhnyakaryasayasendiri.Tidakadabagian di dalamnya yang

merupakanplagiatdarikarya orang lain,

dansayatidakmelakukanpenjiplakanataupengutipandengancara-cara yang

tidaksesuaidenganetikakeilmuan yang berlakudalammasyarakatkeilmuan.

Ataspernyataanini, sayasiapmenanggungresikoatausanksi yang

dijatuhkankepadasayaapabiladikemudianhariditemukanadanyapelanggaranetikake

ilmuandalamkaryasaya, atauadaklaimdaripihak lain terhadapkeasliannya.

Bandung, Agustus 2015

Yang Menyatakan

(5)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Alhamdulillah, puji dan syukurpenulispanjatkankehadirat Allah SWT.,

yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan

penyusunantesisini.ShalawatsertasalamsemogatercurahlimpahkankepadaNabi

Muhammad SAW., besertakeluarganya, parasahabatnya, dankitasebagaiumatnya. Tesis yang berjudul “DesainDidaktisuntukMengatasiLearning Obstacle MateriPenjumlahandanPenguranganPecahanpadaSiswaKelas IV SD” disusununtukmemenuhisalahsatusyaratmemperolehgelar Magister Pendidikanpada

Program StudiPendidikanDasarSekolahPascasarjanaUniversitasPendidikan

Indonesia.Penulissudahberusahasemaksimalmungkindalammenyempurnakantesisi

ni, tetapipenulismenyadaribahwakesempurnaanhanyamilik Allah SWT

sehinggamasihterdapatkekurangandalamtesisini.Olehkarenaitu,

penulisberharapkritikdan saran daripembaca yang bersifatmembangun agar

kedepannyabisalebihbaiklagi.Semogatesisinidapatbermanfaatbagisemuanyakhusu

snyauntukkemajuanduniapendidikan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Bandung, Agustus 2015

(6)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu UCAPAN TERIMAKASIH

Penulismenyadaridalampenyusunantesisinitelahbanyakmendapatkanbantua

n, bimbingan, danmotivasidariberbagaipihak.Olehkarenaitu,

penulismengucapkanterimakasih yang sebesar-besarnyakepada:

1. Prof. Dr. H. DidiSuryadi, M.Ed. selakupembimbingtesis yang

telahmembantu, membimbing, memtotivasi,

danmemberikanarahankepadapenulisdengan sabra

dankritissehinggaselesainyatesisini.

2. Dr.Hj. ErnawulauanSyaodih, M.Pd. selakuKetua Program

StudiPendidikanDasar yang telahmembantu, membimbing,

danmemotivasipenulissehinggaselesainyatesisini.

3. Dra. OomMaemunah, selakuKepala SDN Cimincrang Kota Bandung yang

telahmemberikanizindalampelaksanaanpenelitian.

4. Ayu Amelia, M.Pd., DedeGugumGumilar, S.Pd., danYantiHerliyanti,

S.Pd.selaku guru kelas VI, V, dan IVyang telahmemberikanizin, bantuan,

danbimbingandalammelaksanakanpenelitian.

5. Kedua orang tua tercinta yang menjadimotivasiterbesarpenulis. Mereka

yang selaludantulus memberikan bantuan moril, materi, dan do’a untuk

keselamatan dan keberhasilan penulis.

6. Keduaadiktercinta yang

selalumemberikandukungandando’akepadapenulis.

7. Seluruhpihak yang telahmembantupenulis yang

tidakdapatpenulistuliskansatupersatu.

Mudah-mudahansegalabantuan yang telahdiberikanmendapatkanpahala

yang setimpaldari Allah SWT.Aamiin.

Bandung, Agustus 2015

(7)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLE MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN

PADA SISWA KELAS IV SD

MUHAMMAD RIFQI MAHMUD NIM. 1207149

ABSTRAK

Penelitianinibertujuanuntukmerancangdesaindidaktis yang

dapatmengatasilearning obstacle yang

ditemukanpadamateripenjumlahandanpenguranganpecahan di kelas IV SD. Metode yang digunakandalampenelitianiniadalahmetodekualitatifdenganmenggunakanperspektifDidact ical Design Research (DDR). Subjekpadapenelitianiniadaduakelompokyaitukelompok yang diberikanTesKemampuanResponden (TKR)awaldankelompok yang mendapatkanpembelajaranmenggunakandesaindidaktissertadiberikan TKR akhir.BerdasarkananalisisdarihasilTKRawaldanhasilwawancarakepadarespondenditemuk antigakarakteristiklearning obstacleyaituontogenic obstacle, didactical obstacle,

danepistemological obstacle.Selanjutnya,

disusundesaindidaktishipotesisdenganmempertimbangkantigaaspekyaitulearning

obstacle, learning trajectory siswa, dantheory of didactical

situation.Setelahdesaindidaktishipotesisdiimplemantasikandandilakukan TKR

akhirmakahasilnyasudahtidakditemukanlagiontogenic obstacle, sedangkandidacatical

obstacle danepistemological obstacle

masihditemukanhanyakuantitiasnyaberkurang.Berdasarkanhasilanalisisretrospektifdiperol ehdesaindidaktisempirik.Padadesaindidaktisempirik, beberaparedaksikalimatharusdirubah agar intervensi guru dapatdikurangidanperubahanbeberapasituasidarilesson designdiubahsesuaidenganresponsiswapadasaatimplementasi.

(8)

ii Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

DIDACTICAL DESIGN TO SOLVE LEARNING OBSTACLE ON CONCEPT SUMMATION AND REDUCING FRACTIONS

OF CLASS IV PRIMARY SCHOOL

MUHAMMAD RIFQI MAHMUD NIM. 1207149

ABSTRAK

This research aims to design a didactic design that can overcome learning obstacles, which are found in the material addition and subtraction of fractions in fourth grade. The method used in this study is a qualitative method, by using the perspective-Didactical Design Research (DDR). Subjects in this research there were two groups: the group, given Respondent Ability Test (RAT) early, and the groups get to use the design-didactic learning and given final RAT. Based on the analysis of the results of early RAT, and the results of interviews with respondents found three characteristics of learning obstacle, which ontogenic obstacle, didactical obstacles, and epistemological obstacle.Furthermore, structured design-didactic hypothesis by considering three aspects, namely learning obstacle, trajectory learning students, and the theory of didactical situation. After, the design-didactic hypotheses, implemented and conducted RAT end then the result is not found again ontogenic obstacle, while didacatical obstacle and epistemological obstacle is still found only quantity decreases. Based, the results of the retrospective analysis, obtained didactic-empirical design. In the empirical didactic design, some redaction sentence should be modified, so that the teacher intervention can be reduced, and the changes in the situation of lesson design changed in accordance with the student's response at the time of implementation.

(9)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i

PERNYATAAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

UCAPAN TERIMAKASIH ...iv

ABSTRAK ... v

DAFTAR ISI ...vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ...x

DAFTAR LAMPIRAN ...xii

BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakangMasalah ... 1

B. RumusanMasalah ... 5

C. TujuanPenelitian ... 5

D. ManfaatPenelitian ... 6

E. StrukturOrganisasiTesis ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Learning Obstacle ... 8

B. DesainDidaktis ... 14

C. TheoryofDidacticalSituation ... 16

D. Learning Trajectory ... 19

E. Abstraksi ... 20

F. MateriPecahanKelas IV SD ... 22

G. TeoriBelajar yang Relevan ... 29

H. Penelitian yang Relevan ... 35

(10)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

B. DefinisiIstilah ... 40

C. TempatdanSubjekPenelitian ... 41

D. InstrumenPenelitian... 41

E. TeknikPengumpulan Data ... 42

F. TeknikAnalisis Data ... 42

G. PengujianKeabsahan Data ... 43

H. ProsedurPenelitian... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. AnalisisLearning Obstacle ... 46

B. DesainDidiktisHipotesis ... 57

C. ImplementasiDesainDidaktis ... 70

D. HasilImplemantasiDesainDidaktis ... 80

E. DesainDidaktisEmpirik ... 82

F. Pembahasan ... 84

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan ... 89

B. Implikasi ... 91

C. Rekomendasi ... 91

DAFTAR PUSTAKA ... 92

(11)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu DAFTAR TABEL

(12)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Gambar Guru MenjelaskanKonsepPecahan ... 2

Gambar 1.2. GambarSiswaMengenaiPenjumlahanPecahan ... 2

Gambar 2.1. SegitigaDidaktisKansanen ... 12

Gambar 2.2. SegitigaDidaktisKansanen yang Dimodifikasi ... 13

Gambar 2.3. MetapedadidaktikDilihatdari ADP, HD, dan HP ... 15

Gambar 2.4. SkemaTahapan DDR ... 16

Gambar 2.5. LetakPecahan1 2padaGarisBilangan ... 23

Gambar 2.6. LipatanKertasPertamadengan yang diarsir1 2 ... 24

Gambar 2.7. LipatanKertasKeduadengan yang diarsir2 4 ... 25

Gambar 2.8. GarisBilanganMelihatPecahanSenilai ... 25

Gambar 2.9. PeragaandenganGambarBangunGeometri ... 26

Gambar 2.10. GarisBilanganMelihatMembandingkanPecahan ... 27

Gambar 2.11. PenjumlahanMenggunakanLuas Daerah ... 28

Gambar 2.12. Zone of Proximal Development (ZPD) ... 32

Gambar3.1. ProsedurPenelitian ... 45

Gambar 4.1. Jawaban TKR SoalNomor 1 (A) ... 47

Gambar 4.2. PengenalanPecahanpadaBahan Ajar ... 48

(13)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

Gambar 4.15. Jawaban TKR SoalNomor 6 (B) ... 56

Gambar 4.16. InstruksiAktivitasSiswaPertemuanPertama ... 58

Gambar 4.17. PertanyaanAktivitasSiswaPertemuanPertama ... 59

Gambar 4.18. KesimpulanAktivitasSiswaPertemuanPertama ... 59

Gambar 4.19. InstruksiAktivitasSiswaPertemuanKedua ... 60

Gambar 4.20. PertanyaandanKesimpulanAktivitasSiswaPertemuanKedua ... 61

Gambar 4.21. PertanyaanAktivitasSiswaPertemuanKedua ... 62

Gambar 4.22. InstruksiAktivitasPertamaSiswaPertemuanKetiga ... 63

Gambar 4.23. PertanyaanAktivitasPertamaSiswaPertemuanKetiga ... 64

Gambar 4.24. KesimpulanAktivitasPertamaSiswaPertemuanKetiga ... 64

Gambar 4.25. InstruksiAktivitasKeduaSiswaPertemuanKetiga ... 65

Gambar 4.26. PertanyaanAktivitasKeduaSiswaPertemuanKetiga ... 65

Gambar 4.27. KesimpulanAktivitasKeduaSiswaPertemuanKetiga ... 66

Gambar 4.28. InstruksiAktivitasPertamaSiswaPertemuanKeempat ... 67

Gambar 4.29. PertanyaanAktivitasPertamaSiswaPertemuanKeempat ... 67

Gambar 4.30. KesimpulanAktivitasPertamaSiswaPertemuanKeempat ... 68

Gambar 4.31. InstruksiAktivitasKeduaSiswaPertemuanKeempat ... 69

Gambar 4.32. PertanyaanAktivitasKeduaSiswaPertemuanKeempat ... 69

Gambar 4.33. KesimpulanAktivitasKeduaSiswaPertemuanKeempat... 69

(14)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1

1.1. Kisi-kisiSoalTesKemampuanResponden (TKR) ... 96

1.2. SoalTesKemampuanResponden (TKR) Awal ... 97

1.3. KunciJawabanTesKemampuanResponden (TKR) ... 98

1.4. HasilAnalisisLearning Obstacle ...100

1.5. HasilWawancara ...107

LAMPIRAN 2 2.1. Learning Trajectory ...114

2.2. DesainDidaktisHipotesis...115

2.3. LembarKerjaSiswa (LKS) ...129

2.4. SoalTesKemampuanResponden (TKR) Akhir ...143

2.5. DesainDidaktisEmpirik...145

LAMPIRAN 3 3.1. JawabanTesKemampuanResponden (TKR) AwalSiswa ...159

3.2. JawabanLembarKerjaSiswa (LKS) Siswa ...167

3.3. JawabanTesKemampuanResponden (TKR) AkhirSiswa ...209

3.4. Transkip Video ImplementasiDesainDidaktis ...215

3.5. Dokumentasi ...229

LAMPIRAN 4 4.1. SuratKeputusanPembimbingTesis ...232

4.2. SuratIzinPenelitian ...234

4.3. SuratKeteranganTelahMelaksanakanPenelitian ...235

(15)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Secara formal dan institusional, sekolah dasar masuk pada kategori

pendidikan dasar. Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan

Nasional No. 20 Tahun 2003 Pasal 17 ayat 1 dan 2 yang berbunyi:

(1) Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang

pendidikan menengah.

(2) Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah

(MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama

(SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

Berdasarkan isi dari pasal tersebut, seseorang yang akan melanjutkan

pendidikan ke jenjang pendidikan menengah terlebih dahulu harus menjalani

pendidikan di jenjang pendidikan dasar. Normalnya untuk jenjang pendidikan

dasar di SD selama 6 tahun dan di SMP selama 3 tahun.

Pelajaran matematika mulai dipelajari siswa ketika duduk di bangku

sekolah dasar.BNSP (2006, hlm 345) menyatakan bahwa matematika perlu

diberikan kepada semua peserta didik dari sekolah dasar untuk membekali mereka

dengan kemampuan-kemampuan yang terdapat dalam pembelajaran

matematika.Kemampuan tersebut diantaranya kemampuan berpikir logis, analitis,

sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerjasama.Hal ini menunjukkan

bahwa pentingnya belajar matematika, sehinggapelajaran matematika dijadikan

salah satu pelajaran wajib yang harus dipelajari oleh siswa ketika menempuh

pendidikan formal di SD, SMP, dan SMA.

Bagian penting dalam mempelajari matematika adalah proses

pembelajaran matematika. Jaworksy (Sulistiawati, 2012, hlm 3) menyatakan

bahwa penyelenggaraan pembelajaran matematika tidaklah mudah karena fakta

(16)

2

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

matematika.Hambatan dalam mempelajari matematika inilah yang menyebabkan

siswa mempunyai kemampuan rendah dalam bidang studi matematika.

Contoh hambatan belajar atau learning obstacle yang ditemukan penulis

pada pembelajaran matematika pokok bahasan penjumlahan pecahan kelas VII di

salah satu SMP Negeri di Bandung.Guru mengawali pembelajaran dengan

menjelaskan konsep pecahan menggunakan gambar seperti berikut ini:

Gambar 1.1.Gambar Guru untuk Menjelaskan Konsep Pecahan

Guru menjelaskan bahwa yang diarsir pada daerah tersebut adalah 28

bagian. Dengan penjelasan bahwa 2 dari daerah yang diarsir dan 8 dari daerah

keseluruhan yang terdapat pada Gambar 1.1.Dijelaskan pula bahwa 28 bagian

tersebut senilai dengan 14 bagian, karena guru menganggap materi pecahan sudah

dipelajari oleh siswa ketika di SD sehingga konsep tersebut sepertinya sudah

langsung tergambar dalam pikiran siswa.

Namun, penjelasan konsep pecahan seperti di atas ternyata tidak cukup

mewakili pemahaman siswa tentang konsep pecahan yang sebenarnya.Hal ini

terlihat dari pembelajaran materi selanjutnya tentang penjumlahan pecahan. Untuk

konsep penjumlahan pecahan, terlihat semua siswa sudah mengetahui aturannya,

yaitu untuk menjumlahan dua atau lebih pecahan harus sama terlebih dahulu

penyebutnya, jika belum sama harus di samakan dahulu dan yang di

jumlahkannya hanya pembilangnya saja. Dalam hal ini guru meminta

menggambarkan penjumlahan tersebut dalam bentuk gambar seperti pada Gambar

1.1. Ketika siswa diberikan pertanyaan 13+1

3= ⋯, terlihat siswa

menggambarkannya seperti berikut:

+ =

(17)

3

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

gambar penjumlahan di atas sekilas terlihat benar, tetapi jika kita ubah ke dalam

bentuk matematika menjadi seperti berikut:

1

Jelas bahwa hasil dari penjumlahan tersebut salah.Dalam kasus ini, terlihat

siswa sangat bergantung pada penyelesaian pemecahan masalah sebelumnya, yang

jika dibentuk gambar pecahan 13 dan jika dijumlahkan hasilnya yaitu26seperti pada

Gambar 2.1.Hal ini menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan akibat

konsep yang mereka ketahui tentang pecahan terbatas.Maka terdapatlearning

obstacle pada pembelajaran tersebut yang bersifat epistemological obstacle.

Epistemological obstacle(Suryadi, 2010, hlm 14) adalah keterbatasan

pengetahuan konsep seseorang pada konteks tertentu, atau siswa mengalami

kesulitan dalam pembelajaran yang diakibatkan dari keterbatasan konteks.

Pengetahuan siswa hanya terbatas pada pengetahuan sebelumnya yaitu jika

menjumlahkan pecahan syaratnya harus penyebut yang sama dan yang

dijumlahkan hanya pembilangnya saja. Mereka hanya terbatas pemahaman

konteks seperti itu saja dan diberikan langsung.

Menurut penelitian Ullya dkk.(2010:88) di dalam pelaksanaan

pembelajaran di SDpada materi penjumlahan pecahan, guru tidak menanamkan

konsep penjumlahan pecahan dengan menggunakan model yang nyata dalam

kehidupan sehari-hari siswa.Pada hal banyak sekali benda-benda di lingkungan

siswa yang dapat digunakan untuk mempelajari pecahan.Kenyataan guru hanya

menggunakan soal-soal pecahan yang ada di dalam buku pegangan siswa yang

abstrak.Serta guru sering memulai dengan definisi, sifat-sifat dan diakhiri dengan

pemberian contoh-contoh.Akibatnya siswa tidak bisa mengembangkan nalar,

komunikasi serta pemecahan masalah. Sedangkan, Pusat Pengembangan

Kurikulum dan Sarana Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan

(Heruman, 2013:43) menyatakan bahwa pecahan merupakan salah satu topik yang

sulit untuk diajarkan. Kesulitan tersebut dikarenakan kurang bermaknanya

kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dan sulitnya pengadaan media

(18)

4

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

pada suatu pecahan.Hal ini menunjukkan bahwa siswa mengalami learning

obstacle yang bersifat didactical obstacle, yakni hambatan yang diakibatkan oleh

pembelajaran yang dilakukan oleh guru.Selain itu, pembelajaran yang diberikan

guru kurang mempertimbangkan keragaman respon siswa atas situasi didaktis

yang dikembangkan.Sehingga rangkaian situasi didaktis yang dikembangkan

berikutnya tidak lagi sesuai dengan lintasan belajar (learning trajectory) yang

seharusnya dilalui masing-masing siswa, yang akhirnya siswa menemukan hasil

penjumlahan pecahan yang salah.

Menurut Suryadi (2010, hlm 7), kurangnya antisipasi didaktis yang

tercemin dalam perencanaan pembelajaran, dapat berdampak kurang optimalnya

proses belajar bagi masing-masing siswa. Sehingga,untuk menciptakan

pembelajaran yang optimal maka guru harus mempertimbangkan salah satu aspek

dalam mengembangkan antisipasi didaktis pedagogis(ADP) yaitu adanya learning

obstacles.Dalam hal ini, permasalahan yang terjadi karena adanyalearning

obstacle yang bersifat didactical obstacle dan epistemological obstacle. Tetapi

tidak menutup kemungkinan ketika dilakukan identifikasimakaakan muncul juga

learning obstacle yang bersifat ontogenic obstacle. Oleh karena itu, dengan

prinsip dari Didactical Design Research (DDR), maka penulis akan membuat

desain didaktis yang menyangkut didalamnya antisipasi-antisipasi didaktik seperti

metapedadidaktik, proses matematisasi, dan teori situasi didaktik sehingga dapat

menciptakan pembelajaran yang optimal dan hasil yang maksimal.

Learning obstacle yang bersifat epistemological obstacle terjadi pada

siswa di SMP pada materi pecahan khususnya penjumlahan pecahan. Perlu

diketahui bahwa materi pecahan sudah diajarkan sebelumnya di SD, sehingga ada

kemungkinan permasalahan tersebut terjadi karena kesalahan pembelajaran

matematika materi pecahan di SD. Sedangkan learning obstacle yang berisfat

didactical seperti yang dijelaskan sebelumnya terjadi di SD. Melihat hal tersebut,

penulis menyadari bahwa pentingnya guru merancang pembelajaran dengan

desain didaktis yang dapat mengatasi learning obstaclepada materi pecahan di

(19)

5

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

Didaktis Konsep Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan untuk Mengatasi

Learning Obstacle pada Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah pada

penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana karakteristik learning obstacle pada materi penjumlahan dan

pengurangan pecahan di SD?

2. Bagaimana desain didaktis hipotesis yang dapat mengatasi learning

obstacle yang teridentifikasi dalam mempelajari konsep penjumlahan dan

pengurangan pecahan di SD?

3. Bagaimana implementasi disain dedaktis hipotesisyang telah dibuat untuk

pembelajaran matematika konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan

di SD, khususnya ditinjau dari respon siswa yang muncul?

4. Bagaimana gambaran learning obstacle pada materi penjumlahan dan

pengurangan pecahan di SD setelah desain didaktis

hipotesisdiimplementasikan?

5. Bagaimana desain didaktis empirikberdasarkan hasil temuan penelitian

ini?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini

yaitu:

1. Mengetahui karakteristik learning obstacle pada materi penjumlahan dan

pengurangan pecahan di SD.

2. Terimplementasi desain didaktis hipotesis yang dapat mengatasi learning

obstacle yang teridentifikasi dalam mempelajari konsep penjumlahan dan

pengurangan pecahan di SD.

3. Mengetahui implementasi desain didaktis hipotesis yang telah dibuat

untuk pembelajaran matematika konsep penjumlahan dan pengurangan

(20)

6

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

4. Memperoleh gambaran learning obstacle pada materi penjumlahan dan

pengurangan pecahan di SD setelah desain didaktis hipotesis

diimplementasikan.

5. Terumuskan desain didaktis empirikberdasarkan hasil temuan penelitian

ini.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat yang akan didapat

dari penelitian ini yaitu:

1. Siswa dapat mempelajari konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan

dengan menggunaka bahan ajar yang dihasilkan/dirumuskan dari

penelitian ini.

2. Guru mendapatkan gambaran mengenai learing obstacle yang dialami

siswa dalam pembelajaran matematika materi penjumlahan dan

pengurangan pecahan.

3. Guru dapatmenggunakan desain didaktis dari penelitian ini untuk

mengatasi learning obstacle yang dialami siswa pada pembelajaran

matematika materi penjumlahan dan pengurangan pecahan khususnya di

kelas IV SD.

4. Peneliti dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan rujukan untuk

penelitian selanjutnya.

E. Struktur Organisasi Tesis

Struktur organanisasi tesis ini mengacu pada buku pedoman penulisan

karya ilmiah UPI, yang terdiri dari lima bab yaitu:

1. BAB I Pendahuluan

Pada bab ini memaparkan mengenai latar belakang masalah, rumusan

masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, dan

struktur organisasi tesis.

(21)

7

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

Pada bab ini menjelaskan mengenai learning obstacle, desain didaktis,

kajian materi pecahan SD kelas IV, teori belajar yang relevan, dan

penelitian yang relevan.

3. BAB III Metodologi Penelitian

Pada bab ini menjabarkan beberapa hal yang terkait dengan metodologi

penelitian diantaranya pendekatan dan desain penelitian, tempat dan

subjek penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik

analisis data, dan pengujian keabsahan data.

4. BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pada bab ini memaparkan hasil penelitian dan melakukan pembahasan

terhadap hasil penelitian.

5. BAB V Simpulan, Implikasi, dan Rekomendasi

Pada bab ini menyajikan simpulan dari hasil penelitian dan pembahasan

pada bab IV dan memberikan implikasi serta rekomendasidari

(22)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan dan Desain Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kualitatif.Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif (Meloeng, 2014,

hlm 6) adalah penelitian yeng bermaksud memahami fenomena tentang apa yang

dialami oleh subjek penelitian. Cruswell (2014, hlm 258) mengungkapkan tujuan

dari penelitian kualitiatif pada umumnya mencakup informasi tentang fenomena

utama yang dieksplorasi dalam penelitian, partisipan penelitian, dan lokasi

penelitian.Data yang dikumpulkan dalam penelitian kualitatif berupa kata-kata,

gambar, dan bukan berupa angka-angka.

Fokus dari penelitian ini yaitu merumuskan dan menyusun desain didaktis

berdasarkan learning obstacle yang terjadi pada materi operasi penjumlahan dan

pengurangan pecahan dan learning trajectory siswa.Penelitian ini mengacu pada

tahapan Didactical Design Research (DDR) yang dilaksanakan melalui

pendekatan kualitatif.Pendekatan kualitatif dipilih karena pendekatan ini dapat

lebih rinci menjelaskan fenomena yang lebih kompleks yang sulit dijelaskan

dengan pendekatan kuantitatif.Sehingga diharapkan penelitian ini bisa

memberikan kesimpulan yang sesuai.

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain

penelitian kualitatif bersifat sementara.Menurut Sugiyono (2013), penelitain

kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan

kenyataan di lapangan.Sehingga, hasil penelitian ini dapat terus dikembangkan

sesuai dengan perubahan yang terjadi di lapangan.Penelitian ini menggunakan

perspektif DDR dalam tahapan penelitiannya.Suryadi (2013, hlm 12) menyatakan

DDR melalui tiga tahapan analisis yaitu:

1. analisis situasi didaktis sebelum pembelajaran yang wujudnya berupa desain didaktis hipotetik termasuk ADP;

(23)

38

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

3. analisis retrosfektif yakni analisis yang mengkaitkan hasil analisis situasi didaktis hipotetik dengan hasil analisis metapedadidaktik. Dari ketiga tahapan ini akan diperoleh Disain Didaktis Empirik yang tidak tertutup kemungkinan untuk terus disempurnakan melalui tiga tahapan DDR tersebut.

Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan tahapan DDR yang dilakukan dalam

penelitian ini, sebagai berikut:

1. Tahap I: Analisis Situasi Didaktis

Peneliti melakukan analisis situasi didaktis sebelum memasuki

lapangan. Dalam tahap ini peneliti melakukan beberapa aktivitas, yaitu:

a. Menentukan konsep matematika yang akan menjadi bahan penelitian.

Dalam penelitian ini yang akan menjadi bahan penelitian adalah

konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan di SD kelas IV.

b. Mencari data atau literatur tentang konsep penjumlahan dan

pengurangan pecahan.

c. Mempelajari dan menganalisis keterkaitan konsep dan konteks

mengenai konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan.

d. Membuat instrumen learning obstacle dengan memilih atau membuat

soal-soal yang variatif, disesuaikan dengan pola pikir siswa sehingga

dapat memunculkan kesulitan siswa mengenai konsep penjumlahan

dan pengurangan pecahan.

e. Melaksanakan Tes Kemampuan Responden (TKR) awal pada siswa

kelas V dan IV SD, kemudian ditambahkan dengan wawancara kepada

beberapa responden untuk mengidentifikasi learning obstacle

mengenai konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan.

f. Menganalisis hasil uji instrumen learning obstacle disertai dengan

hasil wawancara.

g. Membuat kesimpulan mengenai learning obstacle yang muncul

berdasarkan hasil pengujian dengan mengaitkan teori-teori belajar

(24)

39

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

h. Membuat learning trajectory structural untuk rujukan dalam membuat

desain didaktis hipotesis.

i. Mengembangkan desain didaktis hipotesis berdasarkan learning

obstacle yang telah teridentifikasi disesuaikan dengan learning

trajectory yang dilalui siswa dan Theory of Didactical Situation

(TDS).

j. Membuat prediksi-prediksi mengenai respon siswa yang mungkin

mucul pada saat desain didaktis diterapkan dan mempersiapkan

antisipasi dari respon siswa yang muncul.

2. Tahap II: Analisis Metapedadidaktis

Pada tahap kedua yaitu analisis metapedadidaktis dilakukan dengan

dua aktivitas, yaitu:

a. Mengimplementasikan desain didaktis hipotesis yang telah disusun.

b. Menganalisis situasi dari berbagai respon pada saat desain didaktis

hipotesis diimplementasikan.

3. Tahap III: Analisis Retrosfektif

Tahap ini merukapan tahapan dimana peneliti melakukan analisis

terhadap hasil analisis situasi didaktis hipotetik dengan hasil analisis

metapedadidaktik. Beberapa aktivitas yang harus dilakukan pada tahapan ini,

sebagai berikut:

a. Mengaitkan prediksi respon dan antisipasi yang telah dibuat

sebelumnya dengan respon siswa yang terjadi pada saat implementasi

desain didaktis hipotesis.

b. Melaksanakan TKR akhir.

c. Menganalisis hasil dari TKR akhir untuk mengetahui bagaimana

gambaran learning obstacle setelah desain didaktis hipotesis

implementasi.

d. Mengetahui gambaran learning obstacle setelah pembelajaran dengan

desain didaktis hipotesis. Apakah kesulitan yang teridentifikasi masih

(25)

40

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

e. Menyusun desain didaktis empirik berdasarkan desain didaktis

hipotesis yang telah dibuat sebelumnya, dengan revisi dari hasil

implementasi pada saat pembelajaran berlangsung serta berdasarkan

hasil pengujian learning obstacle setelah dilakukan implementasi

desain didaktis awal.

f. Menyusun hasil laporan penelitian.

B. Definisi Istilah

Beberapa defininisi istilah yang digunakan dalam penelitian ini

diantaranya:

1. Desain Didaktis

Desain didaktis adalah rancangan dari bahan ajar yang dibuat dengan

memperhatikan learning obstacle yang dialami siswa, learning trajectory

siswa dan teori situasi didaktis dalam mempelajari konsep penjumlahan

dan pengurangan pecahan.

2. LearningObstacle

Learningobstacle (hambatan belajar) adalah suatu kondisi pada proses

pembelajaran yang ditandai dengan adanya hambatan atau kesulitan

tertentu dalam pembelajaran. Dalam penelitian ini ada tiga karakteristik

learning obstacle yaitu ontogenic obstacle, didactical obstacle,dan

epistemological obstacle.

3. Ontogenic Obstacle

Ontogenic obstacle adalah hambatan yang dialami siswa akibat

ketidaksesuaian bahan ajar yang digunakan dengan tingkat berpikir siswa.

4. Didactical Obstacle

Didactical obstacle adalah hambata yang dialami siswa akibat dari

pembelajaran yang dilakukan guru.

5. EpistimologicalObstacle

Epistimologicalobstacle adalah hambatan yang dialami siswa akibat dari

(26)

41

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu C. Tempat dan Subjek Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di SD Negeri Cimincrang Kota

Bandung.Sampel yang diambil dari populasi kelas IV, V, dan VI. Setiap kelas

terbagi menjadi dua kelas yaitu kelas A dan B, maka sampel yang diambil untuk

menjadi subjek pada penelitian ini adalah kelas B. Subjek penelitian ini terbagi

menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah siswa yang mengikuti TKR

awalyaitu kelas V-B dan kelas VI-B.Sedangkan kelompok dua adalah siswa yang

mendapatkan pembelajaran menggunakan desan didaktis dan mengikuti TKR

akhir yaitu kelas IV-B.

D. Instrumen Penelitian

Untuk memperoleh data penelitian maka harus menggunakan instrumen

penelitian.Instrumen penelitian terbagi menjadi dua jenis yaitu instrumen tes dan

instrumen non tes.

1. Instrumen Tes

Instrumen tes dalam penelitian ini disebut Tes Kemampuan Responden

(TKR). TKR digunakan untuk mengidentifikasi learning obstacle dan

mengetahui gambaran learning obstaclesetelah desain didaktis

diimplementasikan. TKR yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum

membuat desain didaktis yang bertujuan untuk mengidentifikasi learning

obstacle dan setelah mengimplementasikan desain didaktis yang bertujuan

mengecek masih ada atau tidaknya learning obstacle pada siswa.

2. Instrumen Non Tes

Instrumen non tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa

wawancara, observasi, dan dokumentasi.Wawancara dilakukan untuk

mengetahui permasalahan yang dialami siswa ketika menyelesaikan soal tes.

Observasi dilakukan untuk mendapatkan data dan fakta tentang proses

pembelajaran yang terjadi selama implementasi desain didaktis. Sedangkan

dokumentasi untuk membantu dalam mendeskripsikan proses pembelajaran

(27)

42

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

triangulasi.Sugiyono (2013, hlm 330) mengartikan triagulasi sebagai teknik

pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik

pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.Triangulasi yang digunakan

dalam penelitian ini yaitu triangulasi teknik pengumpulan data.

Triangulasi teknik pengumpulan data (Sugiyono, 2013, hlm 330) yaitu

peneliti menggunakan pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan

data dari sumber yang sama. Oleh karena itu, peneliti melakukan observasi,

wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap sumber yang sama.

F. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data menurut Miles dan

Huberman (Sugiyono, 2013, hlm 337) yang terdiri dari tiga aktivitas yaitu reduksi

data (data reduction), penyajian data (data display), dan verifikasi (conclusion

drawing). Langkah-langkah analisis yang dilakukan sebagai berikut:

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Data yang diperoleh dalam penelitian ini jumlahnya cukup banyak,

makapeneliti terlebih dahulu melakukanmereduksi data.Mereduksi data

dilakukan untuk memilih dan merangkum data-data yang pokok serta

memfokuskan pada data-data yang penting sesuai dengan kebutuhan

penelitian.Selain itu, mereduksi data juga membantu peneliti mendapatkan

gambaran untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, jika data yang

dibutuhkan masih kurang.

2. Penyajian Data (Data Display)

Peneliti selanjutnya melakukan penyajian data dari data yang telah

direduksi.Penyajian data dilakukan untuk memahami apa yang terjadi,

merencanakan tindakan selajutnya berdasarkan apa yang teralah dipahami

sebelumnya sehingga mempermudah mendapatkan kesimpulan. Oleh karena

(28)

43

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

sehingga data tersebut mudah dipahami.Penyajian data dalam penelitian ini

dilakukan dalam bentuk uraian naratif, bagan, dan diagram.

3. Verifikasi (Conclusion Drawing)

Langkah terakhir dalam analisis data pada penelitian ini yaitu

verifikasi.Verifikasi dilakukan berdasarkan data yang telah direduksi dan

disajikan sebelumnya.Kesimpulan yang didapat mungkin masih bersifat

tentatif,akan tetapi dengan bertambahnya data atau didukung dengan data-data

yang valid maka akan mendapatkan kesimpulan yang kredibel.

G. Pengujian Keabsahan Data

Moleong (2014, hlm 324) menetapkan empat kriteria yang dapat

digunakan dalam pengujian keabsahan data yaitu: 1) derajat kepercayaan

(credibility); 2) keteralihan (transferability); 3) kebergantungan (dependability);

dan 4) kepastian (confirmability). Untuk lebih jelasnya mengenai kriteria yang

digunakan dalam pengujian keabsahan data sebagai berikut:

1. Derajat Kepercayaan (Credibility)

Penelitian ini menggunakan uji credibility dengan meningkatkan

ketekunan, triangulasi dan dokumentasi.Meningkatkan ketekunan berarti

peneliti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan

berkesinambungan.Menurut Sugiyono (2013, hlm 371) peneliti dapat

melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu salah

atau tidak dan peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan

sistematis tentang apa yang diamati. Salah satunya yaitu dengan menambah

referensi buku atau hasil penelitian yang berkaitan dengan penelitian yang

dilakukan, sehingga wawasan peneliti dapat semakin luas.Peneliti melakukan

triangulasidalam pengujian kredibilitas.Triangulasi (Sugiyono, 2013, hlm 372)

dalam pengujian kredibilitas dapat diartikan sebagai pengecekan data dari

berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Sedangkan

dokumentasi digunakan peneliti dalam meningkatkan ketekunan dan

(29)

44

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

pelaksanaan penelitian akanmembantu peneliti membuktikan bahwa data yang

telah ditemukan oleh peneliti benar adanya.

2. Keteralihan (Transferability)

Uji transferability pada penelitian ini dilakukan dengan cara

menuliskan hasil penelitian dan pembahasan secara jelas, sistematis, dan dapat

dipercaya. Sehingga orang lain yang membacanya dapat memahami hasil

penelitian kualitatif dan hasil penelitian tersebut dapat diterapkan atau

dikembangkan. Menurut Sanafiah Faisal (Sugiyono, 2013, hlm 377), apabila

pembaca laporan penelitian memperoleh gambaran yang sedemikian jelasnya

tentang “semacam apa”suatu hasil penelitian dapat diberlakukan, maka

laporan tersebut memenuhi standar keteralihan.

3. Kebergantungan (Dependability)

Uji dependability dilakukan dengan melakukan audit terhadap

keseluruhan proses penelitian (Sugiyono, 2013, hlm 377). Pemeriksaan

dilakukan oleh pembimbing dalam segala aktivitas yang telah dilakukan oleh

peneliti.Sedangkan derajat kepastian denga menguji hasil penelitian dengan

proses yang sudah dilakukan.Menurut Sanafiah Faisal (Sugiyono, 2013, hlm

377), jika peneliti tidak mempunyai dan tidak dapat menunjukkan “jejak aktivitas lapangannya”, maka depenabilitas penelitiannya patut diragukan. 4. Kepastian (Confirmability)

Uji confirmability dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan secara

bersamaan dengan uji dependability. Menguji comfirmability berarti menguji

hasil penelitian dikaitkan dengan proses yang dilakukan. Apabila hasil

penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka

penelitian tersebut sudah memenuhi standar comfirmability.

H. Prosedur Penelitian

Adapun prosedur penelitian yang ditempuh dalam penelitian ini sebagai

(30)

45

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu Gambar 3.1. Prosedur Penelitian

(31)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI

A. Simpulan

Berdasarkanhasilpenelitiandanpembahasanmakasecarakeseluruhandapat di

simpulkansebagaiberikut:

1. Hasilteskemampuanresponden (TKR) awalditemukankarakteristiklearning

obstacle

padamaterioperasipenjumlahandanpenguranganpecahanadatigajenisyaituo

ntogenic obstacle, didactical obstacle, danepistimological

obstacle.Ontogenic obstacle yang

ditemukankarenaterjadilompatanberpikirdariberpikir semi konkritke semi

abstrakdansiswa yang

salahdalammenunjukkanpecahandarirepresentasisimbolikkebentukreprese

ntasigeometri (visual).Didactical obstacle yang

ditemukankarenapenjelasandanpenguatankonsep yang diberikan guru

mengenaikonsepdasarpecahandankonsepoperasipenjumlahandanpenguran

ganpecahankurangbaik. Hal tersebutdikarenakan guru

tidakselalumemberikancontohkonkritdanmemberikancaracepatdalamsuatu

penyelesaianmasalah. Epistimological obstacle yang

ditemukankarenaketerbatasankontes yang dimilikisiswa. Hal

tersebutterjadiketikasoal yang diberikanadalahsoal yang

berbedadenganbiasanya (soalberfikirtingkattinggi) makaadasiswa yang

tidakpahamdenganpertanyaan yang

diberikandanjugaadasiswakesulitandalammengubahsoalceritakedalambent

ukmatematika.

2. Desaindidaktisdirancanguntukmengatasilearning obstacle yang

ditemukanpada TKR awaldenganmempertimbangkanlearning

(32)

90

didasarkanpadaurutanmateridantujuanpembelajaran yang

disesuaikandenganalurberpikirsiswa.

Sedangkanteorisituasididaktisterdiridarikomponensituasiaksi, formulasi,

validasi, daninstitusionalisasi yang menjadidasarprospective

analysispadalesson design yang dibuat. Sehingga,

desaindidaktispenelitianinidirancanguntukempat kali

pertemuandenganmateriperpertemuanyaitukonsepdasarpecahan,

pecahanpadagarisbilangandanmembandingkanpecahan,

operasipenjumlahandanpenguranganpecahanberpenyebutsama,

danoperasipenjumlahandanpenguranganpecahanberpenyebuttidaksama.

3. Responsiswaterhadapimplementasidesandidaktismateripenjumlahandanpe

guranganpecahansebagianbesarsesuaidenganprediksi yang telahdibuat.

Tetapi, ada pula yang

tidaksesuaidenganprediksiyaituketikasiswadimintamembuatkesimpulan.

Hal

tersebutdisebabkansiswakesulitandalammelakukanformulasipadasituasiseb

elumnya. Sehinggabeberapasiswamasihada yang

kebingunganketikasituasimembuatkesimpulan. Untukmengatasinya, guru

melakukanvalidasidenganmengajaksiswamengingatkembaliaktivitas yang

telahdilakukansebelumnyaataumemberikanpertanyaantambahan.

4. Gambaranlearning obstacle

padamateripenjumlahandanpenguranganpecahan di kelas IV SD

setelahdesaindidaktisdiimplemantasikanberdasarkanhasil

TKRakhirhasilnyayaitulearning obstacle yang bersifatontogenic

obstaclesudahtidakditemukanlagi. Sedangkanlearning obstacle yang

bersifatdidactical obstacle danepistemological

obstaclemasihditemukanhanyakuantitasnyaberkurang.Didactical obstacle

yang

masihadaberupakesulitansiswadalammemahamikonseppecahanpadagarisbi

langandankesulitansiswadalammenyelesaikanpermasalahanmenganaiopera

(33)

91

daripenyebut yang lainnya. Sedangkan epistemological obstacle yang

masihditemukanberupaketidakpahamansiswadenganpertanyaan yang

diberikandankesulitansiswadalammengubahsoalceritakedalambentukmate

matikadenganbenar.

5. Desaindidaktisempirik yang dibuatberdasarkanhasilanalisisretrosfektif.

Padadesaindidaktisempirikiniterjadisedikitrevisiyaituadabeberaparedaksik

alimat yang harusdirubah agar intervensi guru

dapatdikurangidanperubahanbeberapasituasidarilesson

designdiubahsesuaidenganresponsiswapadasaatimplementasi.

B. Implikasi

Berdasarkanhasilpenelitian yang telahdilaksanakanbahwadesaindidaktis

yang telahdirancangdandibuatdapatmengatasilearning obstacle yang

dialamiolehsiswapadamateripenjumlahandanpenguranganpecahankelas IV SD.

Meskipun,desaindidaktistersebutdapatterusdisempurnakanmelaluitigatahapan

DDR. Haltersebutmemberikanimplikasiterhadap proses

pembelajarandanhasilpembelajaran, sebagaiberikut:

1. Desaindidaktisberdampakbaikterhadaphasilbelajarsiswa

2. Siswamenjadiaktifdalam proses pembelajaran

3. Guru lebihmemperhatikanresponsiswa yang muncul

C. Rekomendasi

Berdasarkansimpulandarihasilpenelitiandanpembahasanmakarekomendasi

yang diberikansebagaiberikut:

1. Desaindidaktis yang

telahdibuatdapatdijadikansalahsatualternatifrancanganbahanajar yang

dapatdigunakandalampembelajaranmatematikamaterioperasipenjumlahand

anpenguranganpecahan dikelas IV SD.

2. Jikamenggunakandesaindidaktisini, sebaiknya guru

memastikanbahwasemuasiswatelahmenguasaimateriprasyaratoperasipenju

(34)

92

Sehinggadesaindidaktisinidapatdiimplemantasikandenganlebihbaikdanmak

simal.

3. Jikaakanmelakukanpengembangandesaindidaktisoperasipenjumlahandanp

enguranganpecahan, makadapatmelihatbeberapajenisdidactical obstacle

danepistemological obstacle yang

(35)

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA

Artigue, M. (1994).Didactical Engineering as a Framework for the Conception of Teaching Products. R. Biehler, R. W. Scholtz, R. Sträßer, & B. Winkelmann (Eds.),Didactics of Mathematics as a Scientific Discipline (pp. 27–39). Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. Printed in the Netherlands.

Bachelard, G. (2002) The Formation of the Scientific Mind. A Cotribution to a Psychoanalysaf Objective Knowledge. Machester.The Bath Press.

BNSP. (2006) Kurikulum Tingkat

SatuanPendidikanStandarKompetensidanKompetensiDasarMatematika SMP-MTs. Jakarta: BadanStandarNasionalPendidikan.

Brouseau, G. (2002). Theory of Didactical Situation in Mathematics. Dordrecht: Kluwer Academic Publisher.

Brown, S.,A. (2008).Exploring Epistemological Obstacles to the Development of Mathematics Induction.Proceedings of the 11th Conference for Research on Undergraduate Mathematics Education. February 28 – March 2, 2008; San Diego, CA.

Clements, D. H., &Sarama, J. (2004). Learning Trajectory in Mathematics Education.Mathematical Thinking and Learning, 6, 81-89.

Clements, D. H., &Sarama, J. (2007). Effects of a Preschool Mathematics Curriculum: Summative Research on the Building Blocks Project. Journal for Research in Mathematics Education. Vol. 38, No. 2, 136-163.

Cornu, B. (1991) „Limit‟, in Tall, D (ed), Advanced mathematical thinking, Dordrecht, The Netherlands, Kkluwer Academic Publishers, pp 153-66

Creswell, W. J. (2014). Research Desain (PendekatanKualitatif, Kuantitatif, dan Mix). Yogyakarta: PustakaPelajar.

Dahar, R. W. (2011). Teori-TeoriBelajar&Pembelajaran.Jakarta :Erlangga.

Desmita.(2012). PsikologiPerkembanganPesertaDidik. Bandung: RemajaRosdakarya.

(36)

93

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

Hergenhahn, B. R., & Olson, H. M. (2012).Theories of Learning (EdisiKetujuh). Jakarta: KencanaPrenada Media Group.

Heruman.(2013). Model PembelajaranMatematika di SekolahDasar. Bandung: PT RemajaRosdakarya.

Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. (2011).Models of Teaching (EdisiDelapan). Yogyakarta: PustakaPelajar.

Manno, G. (2005). Embodiment and A-didactical Situation in The Teaching-Learning of The Perpendicular Straigth Lines Concept. Palermo. Thesis of Doctoral.

Manno, G. (2006). Embodiment and A-Didactical Situation in The Teaching-Learning of The Perpendicular Straigth Lines Concept. Doctoral Thesis: Department Of Didactic Mathematics Faculty Of Mathematics And Physics Comenius University Bratislava.

Mitchelmore, M., & White, P. (2004).Abstraction in Mathematics and Mathematics Learning.M. J. Hoines& A. B. Fuglestad (Eds.), Proceedings of the 28th Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education (Vol. 3, pp. 329-336). Bergen, Norway: Psychology of Mathematics Education.

Mitchelmore, M., & White, P. (2007).Abstraction in Mathematics Learning (Editorial).Mathematics Education Research Journal, Vol. 19, No. 2, 1-9.

Moleong, L. J. (2014). MetodologiPenelitianKualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.

Moru, E. K. (2006). Epistemological Obstacles in Coming to Understand the Limit Concept at Undergraduate Level: A Case of the National University of Lesotho. University of the Western Cape.

Moru, E.K. (2006). Epistemological Obstacles in Coming to Understand the Limit Concept at Undergraduate Level: A Case of the National University of Lesotho. Lesotho. Thesis of Doctoral.

Moru, E.K. (2007). Talking with The Literature on Epistemological Obstacles. For the Learning of Mathematics.Canada. FLM Publishing Association.

Mustaqim, B., &Astuty, A. (2008).Ayo BelajarMatematika:untuk SD dan MI Kelas IV. Jakarta: PusatPerbukuanDepartemanPendidikanNasional.

(37)

94

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

Serpinska, A. (1992) “On Understanding The Notion of Function”, in Dubinsky (1992). The Consept of Function.Aspects of Epistemology and Pedagogy.MAA Notes and Reports Series.Mathematical Association of America.ISBN 0-88385-081-8.

Sobel, Max A. &Maletsky, Evan M. (2004).MengajarMatematika: SebuahBukuSumberAlatPeraga, Aktivitas, danStrategi. Jakarta: Erlangga.

Sugiyono.(2013). MetodePenelitianPendidikan (PendekatanKuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta

Suherman, Erman. (2001) StrategiPembelajaranMatematikaKontemporer. Bandung: JICA UPI.

Sukayati.(2003). Pecahan. Yogyakarta:

DepartemenPendidikanNasionalDirektoratJenderalPendidikanDasardanMen engah PPPG Matematika.

Sulistiawati.(2012). PengembanganDesainDidaktisBahan Ajar PenalaranMatematisPadaMateriLuasdan Volume Limas.Tesis UPI Bandung: TidakDipublikasikan.

Suratno, Tatang. (2009). MemahamiKompleksitasPengajaran-PembelajarandanKondisiPendidikandanPekerjaan Guru. [online] Tersedia: http://the2the.com/eunice/document/TSuratno_complex_syndrome.pdf [14 Oktober 2014]

Suryadi, D, dkk.(2014).

KemandirianPendidikKisahPendidikReflektifdanProfesionalPembelajaran. Bandung: SekolahPascasarjanaUniversitasPendidikan Indonesia.

Suryadi, D. (2010). Menciptakan Proses BelajarAktif: KajiandariSudut Pandang

TeoriBelajardanTeoriDidaktik.Makalah Seminar

NasionalPendidikanMatematika UNP. [online] Tersedia: http://didi- suryadi.staf.upi.edu/files/2011/06/MENCIPTAKAN-PROSES-BELAJAR-AKTIF.pdf [13 Oktober 2014]

Suryadi, D. (2013). Didactical Design Research (DDR) dalamPengembanganPembelajaranMatematika.Seminar UNES 26 Oktober

2013. [online] Tersedia:

(38)

95

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

Suryadi, D., &Turmudi.(2011). KesetaraanDidactical Design Research (DDR) denganMatematikaRealistikdalamPengembanganPembelajaranMatematika. Prosiding Seminar NasionalMatematikadanPendidikanMatematika UNS.

Suryadi, D., Yulianti, Kartika.,&Junaeti, Enjun. (2011). Model AntisipasidanSituasiDidaktisdalamPembelajaranMatematikaKombinatorik BerbasisPendekatanTidakLangsung. Bandung: SPs UPI. [online] Tersedia: http://didi-suryadi.staf.upi.edu/files/2011/06/MODEL-ANTISIPASI-DAN-SITUASI-DIDAKTIS.pdf [11 November 2014]

Susanto, Ahmad. (2013). TeoriBelajardanPembelajaran di SekolahDasar. Jakarta: Kencana.

Tall, D (2002), Advanced mathematical thinking, Dordrecht, The Netherlands, Kkluwer Academic Publishers.

Turmudi.(2010). MatematikaEksploratifdanInvestigatif

(ReferensiMetodologiPembelajaranuntuk Guru Matematika). Bandung: LeuserCitaPustaka.

Figur

Gambar 3.1. Prosedur Penelitian
Gambar 3 1 Prosedur Penelitian . View in document p.30

Referensi

Memperbarui...