Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN
PADA SISWA KELAS IV SD
TESIS
DiajukanuntukMemenuhiSebagianSyaratMemperolehGelar Magister Pendidikan pada Program StudiPendidikanDasar
Oleh:
Muhammad Rifqi Mahmud NIM. 1207149
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN
PADA SISWA KELAS IV SD
Oleh
Muhammad Rifqi Mahmud
S.Pd UIN SunanGunungDjati Bandung, 2012
Sebuahtesis yang diajukanuntukmemenuhisalahsatusyaratmemperolehgelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Program StudiPendidikanDasar
© Muhammad Rifqi Mahmud 2015 UniversitasPendidikan Indonesia
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu HakCiptadilindungiundang-undang.
Tesisinitidakbolehdiperbanyakseluruhyaatausebagian,
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu PERNYATAAN
Sayamenyatakanbahawatesis yang
berjudul“DesainDidaktisuntukMengatasiLearning Obstacle
MateriPenjumlahandanPenguranganPecahanpadaSiswaKelas IV SD”,
sepenuhnyakaryasayasendiri.Tidakadabagian di dalamnya yang
merupakanplagiatdarikarya orang lain,
dansayatidakmelakukanpenjiplakanataupengutipandengancara-cara yang
tidaksesuaidenganetikakeilmuan yang berlakudalammasyarakatkeilmuan.
Ataspernyataanini, sayasiapmenanggungresikoatausanksi yang
dijatuhkankepadasayaapabiladikemudianhariditemukanadanyapelanggaranetikake
ilmuandalamkaryasaya, atauadaklaimdaripihak lain terhadapkeasliannya.
Bandung, Agustus 2015
Yang Menyatakan
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu KATA PENGANTAR
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh
Alhamdulillah, puji dan syukurpenulispanjatkankehadirat Allah SWT.,
yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan
penyusunantesisini.ShalawatsertasalamsemogatercurahlimpahkankepadaNabi
Muhammad SAW., besertakeluarganya, parasahabatnya, dankitasebagaiumatnya. Tesis yang berjudul “DesainDidaktisuntukMengatasiLearning Obstacle MateriPenjumlahandanPenguranganPecahanpadaSiswaKelas IV SD” disusununtukmemenuhisalahsatusyaratmemperolehgelar Magister Pendidikanpada
Program StudiPendidikanDasarSekolahPascasarjanaUniversitasPendidikan
Indonesia.Penulissudahberusahasemaksimalmungkindalammenyempurnakantesisi
ni, tetapipenulismenyadaribahwakesempurnaanhanyamilik Allah SWT
sehinggamasihterdapatkekurangandalamtesisini.Olehkarenaitu,
penulisberharapkritikdan saran daripembaca yang bersifatmembangun agar
kedepannyabisalebihbaiklagi.Semogatesisinidapatbermanfaatbagisemuanyakhusu
snyauntukkemajuanduniapendidikan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh
Bandung, Agustus 2015
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu UCAPAN TERIMAKASIH
Penulismenyadaridalampenyusunantesisinitelahbanyakmendapatkanbantua
n, bimbingan, danmotivasidariberbagaipihak.Olehkarenaitu,
penulismengucapkanterimakasih yang sebesar-besarnyakepada:
1. Prof. Dr. H. DidiSuryadi, M.Ed. selakupembimbingtesis yang
telahmembantu, membimbing, memtotivasi,
danmemberikanarahankepadapenulisdengan sabra
dankritissehinggaselesainyatesisini.
2. Dr.Hj. ErnawulauanSyaodih, M.Pd. selakuKetua Program
StudiPendidikanDasar yang telahmembantu, membimbing,
danmemotivasipenulissehinggaselesainyatesisini.
3. Dra. OomMaemunah, selakuKepala SDN Cimincrang Kota Bandung yang
telahmemberikanizindalampelaksanaanpenelitian.
4. Ayu Amelia, M.Pd., DedeGugumGumilar, S.Pd., danYantiHerliyanti,
S.Pd.selaku guru kelas VI, V, dan IVyang telahmemberikanizin, bantuan,
danbimbingandalammelaksanakanpenelitian.
5. Kedua orang tua tercinta yang menjadimotivasiterbesarpenulis. Mereka
yang selaludantulus memberikan bantuan moril, materi, dan do’a untuk
keselamatan dan keberhasilan penulis.
6. Keduaadiktercinta yang
selalumemberikandukungandando’akepadapenulis.
7. Seluruhpihak yang telahmembantupenulis yang
tidakdapatpenulistuliskansatupersatu.
Mudah-mudahansegalabantuan yang telahdiberikanmendapatkanpahala
yang setimpaldari Allah SWT.Aamiin.
Bandung, Agustus 2015
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLE MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN
PADA SISWA KELAS IV SD
MUHAMMAD RIFQI MAHMUD NIM. 1207149
ABSTRAK
Penelitianinibertujuanuntukmerancangdesaindidaktis yang
dapatmengatasilearning obstacle yang
ditemukanpadamateripenjumlahandanpenguranganpecahan di kelas IV SD. Metode yang digunakandalampenelitianiniadalahmetodekualitatifdenganmenggunakanperspektifDidact ical Design Research (DDR). Subjekpadapenelitianiniadaduakelompokyaitukelompok yang diberikanTesKemampuanResponden (TKR)awaldankelompok yang mendapatkanpembelajaranmenggunakandesaindidaktissertadiberikan TKR akhir.BerdasarkananalisisdarihasilTKRawaldanhasilwawancarakepadarespondenditemuk antigakarakteristiklearning obstacleyaituontogenic obstacle, didactical obstacle,
danepistemological obstacle.Selanjutnya,
disusundesaindidaktishipotesisdenganmempertimbangkantigaaspekyaitulearning
obstacle, learning trajectory siswa, dantheory of didactical
situation.Setelahdesaindidaktishipotesisdiimplemantasikandandilakukan TKR
akhirmakahasilnyasudahtidakditemukanlagiontogenic obstacle, sedangkandidacatical
obstacle danepistemological obstacle
masihditemukanhanyakuantitiasnyaberkurang.Berdasarkanhasilanalisisretrospektifdiperol ehdesaindidaktisempirik.Padadesaindidaktisempirik, beberaparedaksikalimatharusdirubah agar intervensi guru dapatdikurangidanperubahanbeberapasituasidarilesson designdiubahsesuaidenganresponsiswapadasaatimplementasi.
ii Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
DIDACTICAL DESIGN TO SOLVE LEARNING OBSTACLE ON CONCEPT SUMMATION AND REDUCING FRACTIONS
OF CLASS IV PRIMARY SCHOOL
MUHAMMAD RIFQI MAHMUD NIM. 1207149
ABSTRAK
This research aims to design a didactic design that can overcome learning obstacles, which are found in the material addition and subtraction of fractions in fourth grade. The method used in this study is a qualitative method, by using the perspective-Didactical Design Research (DDR). Subjects in this research there were two groups: the group, given Respondent Ability Test (RAT) early, and the groups get to use the design-didactic learning and given final RAT. Based on the analysis of the results of early RAT, and the results of interviews with respondents found three characteristics of learning obstacle, which ontogenic obstacle, didactical obstacles, and epistemological obstacle.Furthermore, structured design-didactic hypothesis by considering three aspects, namely learning obstacle, trajectory learning students, and the theory of didactical situation. After, the design-didactic hypotheses, implemented and conducted RAT end then the result is not found again ontogenic obstacle, while didacatical obstacle and epistemological obstacle is still found only quantity decreases. Based, the results of the retrospective analysis, obtained didactic-empirical design. In the empirical didactic design, some redaction sentence should be modified, so that the teacher intervention can be reduced, and the changes in the situation of lesson design changed in accordance with the student's response at the time of implementation.
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
PERNYATAAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
UCAPAN TERIMAKASIH ...iv
ABSTRAK ... v
DAFTAR ISI ...vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ...x
DAFTAR LAMPIRAN ...xii
BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakangMasalah ... 1
B. RumusanMasalah ... 5
C. TujuanPenelitian ... 5
D. ManfaatPenelitian ... 6
E. StrukturOrganisasiTesis ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Learning Obstacle ... 8
B. DesainDidaktis ... 14
C. TheoryofDidacticalSituation ... 16
D. Learning Trajectory ... 19
E. Abstraksi ... 20
F. MateriPecahanKelas IV SD ... 22
G. TeoriBelajar yang Relevan ... 29
H. Penelitian yang Relevan ... 35
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
B. DefinisiIstilah ... 40
C. TempatdanSubjekPenelitian ... 41
D. InstrumenPenelitian... 41
E. TeknikPengumpulan Data ... 42
F. TeknikAnalisis Data ... 42
G. PengujianKeabsahan Data ... 43
H. ProsedurPenelitian... 44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. AnalisisLearning Obstacle ... 46
B. DesainDidiktisHipotesis ... 57
C. ImplementasiDesainDidaktis ... 70
D. HasilImplemantasiDesainDidaktis ... 80
E. DesainDidaktisEmpirik ... 82
F. Pembahasan ... 84
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan ... 89
B. Implikasi ... 91
C. Rekomendasi ... 91
DAFTAR PUSTAKA ... 92
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu DAFTAR TABEL
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Gambar Guru MenjelaskanKonsepPecahan ... 2
Gambar 1.2. GambarSiswaMengenaiPenjumlahanPecahan ... 2
Gambar 2.1. SegitigaDidaktisKansanen ... 12
Gambar 2.2. SegitigaDidaktisKansanen yang Dimodifikasi ... 13
Gambar 2.3. MetapedadidaktikDilihatdari ADP, HD, dan HP ... 15
Gambar 2.4. SkemaTahapan DDR ... 16
Gambar 2.5. LetakPecahan1 2padaGarisBilangan ... 23
Gambar 2.6. LipatanKertasPertamadengan yang diarsir1 2 ... 24
Gambar 2.7. LipatanKertasKeduadengan yang diarsir2 4 ... 25
Gambar 2.8. GarisBilanganMelihatPecahanSenilai ... 25
Gambar 2.9. PeragaandenganGambarBangunGeometri ... 26
Gambar 2.10. GarisBilanganMelihatMembandingkanPecahan ... 27
Gambar 2.11. PenjumlahanMenggunakanLuas Daerah ... 28
Gambar 2.12. Zone of Proximal Development (ZPD) ... 32
Gambar3.1. ProsedurPenelitian ... 45
Gambar 4.1. Jawaban TKR SoalNomor 1 (A) ... 47
Gambar 4.2. PengenalanPecahanpadaBahan Ajar ... 48
Gambar 4.3. Jawaban TKR SoalNomor 1 (B) ... 49
Gambar 4.4. Jawaban TKR SoalNomor 1 (C) ... 50
Gambar 4.5. Jawaban TKR SoalNomor 2 (A) ... 50
Gambar 4.6. Jawaban TKR SoalNomor 3 (A) ... 51
Gambar 4.7. Jawaban TKR SoalNomor 4 (A) ... 51
Gambar 4.8. Jawaban TKR SoalNomor 5 (A) ... 52
Gambar 4.9. Jawaban TKR SoalNomor 3 (B) ... 52
Gambar 4.10. Jawaban TKR SoalNomor 4 (B) ... 53
Gambar 4.11. Jawaban TKR SoalNomor 5 (B) ... 53
Gambar 4.12. Jawaban TKR SoalNomor 5 (C) ... 54
Gambar 4.13. Jawaban TKR SoalNomor 2 (B) ... 55
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
Gambar 4.15. Jawaban TKR SoalNomor 6 (B) ... 56
Gambar 4.16. InstruksiAktivitasSiswaPertemuanPertama ... 58
Gambar 4.17. PertanyaanAktivitasSiswaPertemuanPertama ... 59
Gambar 4.18. KesimpulanAktivitasSiswaPertemuanPertama ... 59
Gambar 4.19. InstruksiAktivitasSiswaPertemuanKedua ... 60
Gambar 4.20. PertanyaandanKesimpulanAktivitasSiswaPertemuanKedua ... 61
Gambar 4.21. PertanyaanAktivitasSiswaPertemuanKedua ... 62
Gambar 4.22. InstruksiAktivitasPertamaSiswaPertemuanKetiga ... 63
Gambar 4.23. PertanyaanAktivitasPertamaSiswaPertemuanKetiga ... 64
Gambar 4.24. KesimpulanAktivitasPertamaSiswaPertemuanKetiga ... 64
Gambar 4.25. InstruksiAktivitasKeduaSiswaPertemuanKetiga ... 65
Gambar 4.26. PertanyaanAktivitasKeduaSiswaPertemuanKetiga ... 65
Gambar 4.27. KesimpulanAktivitasKeduaSiswaPertemuanKetiga ... 66
Gambar 4.28. InstruksiAktivitasPertamaSiswaPertemuanKeempat ... 67
Gambar 4.29. PertanyaanAktivitasPertamaSiswaPertemuanKeempat ... 67
Gambar 4.30. KesimpulanAktivitasPertamaSiswaPertemuanKeempat ... 68
Gambar 4.31. InstruksiAktivitasKeduaSiswaPertemuanKeempat ... 69
Gambar 4.32. PertanyaanAktivitasKeduaSiswaPertemuanKeempat ... 69
Gambar 4.33. KesimpulanAktivitasKeduaSiswaPertemuanKeempat... 69
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1
1.1. Kisi-kisiSoalTesKemampuanResponden (TKR) ... 96
1.2. SoalTesKemampuanResponden (TKR) Awal ... 97
1.3. KunciJawabanTesKemampuanResponden (TKR) ... 98
1.4. HasilAnalisisLearning Obstacle ...100
1.5. HasilWawancara ...107
LAMPIRAN 2 2.1. Learning Trajectory ...114
2.2. DesainDidaktisHipotesis...115
2.3. LembarKerjaSiswa (LKS) ...129
2.4. SoalTesKemampuanResponden (TKR) Akhir ...143
2.5. DesainDidaktisEmpirik...145
LAMPIRAN 3 3.1. JawabanTesKemampuanResponden (TKR) AwalSiswa ...159
3.2. JawabanLembarKerjaSiswa (LKS) Siswa ...167
3.3. JawabanTesKemampuanResponden (TKR) AkhirSiswa ...209
3.4. Transkip Video ImplementasiDesainDidaktis ...215
3.5. Dokumentasi ...229
LAMPIRAN 4 4.1. SuratKeputusanPembimbingTesis ...232
4.2. SuratIzinPenelitian ...234
4.3. SuratKeteranganTelahMelaksanakanPenelitian ...235
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Secara formal dan institusional, sekolah dasar masuk pada kategori
pendidikan dasar. Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional No. 20 Tahun 2003 Pasal 17 ayat 1 dan 2 yang berbunyi:
(1) Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang
pendidikan menengah.
(2) Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah
(MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama
(SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.
Berdasarkan isi dari pasal tersebut, seseorang yang akan melanjutkan
pendidikan ke jenjang pendidikan menengah terlebih dahulu harus menjalani
pendidikan di jenjang pendidikan dasar. Normalnya untuk jenjang pendidikan
dasar di SD selama 6 tahun dan di SMP selama 3 tahun.
Pelajaran matematika mulai dipelajari siswa ketika duduk di bangku
sekolah dasar.BNSP (2006, hlm 345) menyatakan bahwa matematika perlu
diberikan kepada semua peserta didik dari sekolah dasar untuk membekali mereka
dengan kemampuan-kemampuan yang terdapat dalam pembelajaran
matematika.Kemampuan tersebut diantaranya kemampuan berpikir logis, analitis,
sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerjasama.Hal ini menunjukkan
bahwa pentingnya belajar matematika, sehinggapelajaran matematika dijadikan
salah satu pelajaran wajib yang harus dipelajari oleh siswa ketika menempuh
pendidikan formal di SD, SMP, dan SMA.
Bagian penting dalam mempelajari matematika adalah proses
pembelajaran matematika. Jaworksy (Sulistiawati, 2012, hlm 3) menyatakan
bahwa penyelenggaraan pembelajaran matematika tidaklah mudah karena fakta
2
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
matematika.Hambatan dalam mempelajari matematika inilah yang menyebabkan
siswa mempunyai kemampuan rendah dalam bidang studi matematika.
Contoh hambatan belajar atau learning obstacle yang ditemukan penulis
pada pembelajaran matematika pokok bahasan penjumlahan pecahan kelas VII di
salah satu SMP Negeri di Bandung.Guru mengawali pembelajaran dengan
menjelaskan konsep pecahan menggunakan gambar seperti berikut ini:
Gambar 1.1.Gambar Guru untuk Menjelaskan Konsep Pecahan
Guru menjelaskan bahwa yang diarsir pada daerah tersebut adalah 28
bagian. Dengan penjelasan bahwa 2 dari daerah yang diarsir dan 8 dari daerah
keseluruhan yang terdapat pada Gambar 1.1.Dijelaskan pula bahwa 28 bagian
tersebut senilai dengan 14 bagian, karena guru menganggap materi pecahan sudah
dipelajari oleh siswa ketika di SD sehingga konsep tersebut sepertinya sudah
langsung tergambar dalam pikiran siswa.
Namun, penjelasan konsep pecahan seperti di atas ternyata tidak cukup
mewakili pemahaman siswa tentang konsep pecahan yang sebenarnya.Hal ini
terlihat dari pembelajaran materi selanjutnya tentang penjumlahan pecahan. Untuk
konsep penjumlahan pecahan, terlihat semua siswa sudah mengetahui aturannya,
yaitu untuk menjumlahan dua atau lebih pecahan harus sama terlebih dahulu
penyebutnya, jika belum sama harus di samakan dahulu dan yang di
jumlahkannya hanya pembilangnya saja. Dalam hal ini guru meminta
menggambarkan penjumlahan tersebut dalam bentuk gambar seperti pada Gambar
1.1. Ketika siswa diberikan pertanyaan 13+1
3= ⋯, terlihat siswa
menggambarkannya seperti berikut:
+ =
3
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
gambar penjumlahan di atas sekilas terlihat benar, tetapi jika kita ubah ke dalam
bentuk matematika menjadi seperti berikut:
1
3 + 1
3 = 2
6
Jelas bahwa hasil dari penjumlahan tersebut salah.Dalam kasus ini, terlihat
siswa sangat bergantung pada penyelesaian pemecahan masalah sebelumnya, yang
jika dibentuk gambar pecahan 13 dan jika dijumlahkan hasilnya yaitu26seperti pada
Gambar 2.1.Hal ini menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan akibat
konsep yang mereka ketahui tentang pecahan terbatas.Maka terdapatlearning
obstacle pada pembelajaran tersebut yang bersifat epistemological obstacle.
Epistemological obstacle(Suryadi, 2010, hlm 14) adalah keterbatasan
pengetahuan konsep seseorang pada konteks tertentu, atau siswa mengalami
kesulitan dalam pembelajaran yang diakibatkan dari keterbatasan konteks.
Pengetahuan siswa hanya terbatas pada pengetahuan sebelumnya yaitu jika
menjumlahkan pecahan syaratnya harus penyebut yang sama dan yang
dijumlahkan hanya pembilangnya saja. Mereka hanya terbatas pemahaman
konteks seperti itu saja dan diberikan langsung.
Menurut penelitian Ullya dkk.(2010:88) di dalam pelaksanaan
pembelajaran di SDpada materi penjumlahan pecahan, guru tidak menanamkan
konsep penjumlahan pecahan dengan menggunakan model yang nyata dalam
kehidupan sehari-hari siswa.Pada hal banyak sekali benda-benda di lingkungan
siswa yang dapat digunakan untuk mempelajari pecahan.Kenyataan guru hanya
menggunakan soal-soal pecahan yang ada di dalam buku pegangan siswa yang
abstrak.Serta guru sering memulai dengan definisi, sifat-sifat dan diakhiri dengan
pemberian contoh-contoh.Akibatnya siswa tidak bisa mengembangkan nalar,
komunikasi serta pemecahan masalah. Sedangkan, Pusat Pengembangan
Kurikulum dan Sarana Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan
(Heruman, 2013:43) menyatakan bahwa pecahan merupakan salah satu topik yang
sulit untuk diajarkan. Kesulitan tersebut dikarenakan kurang bermaknanya
kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dan sulitnya pengadaan media
4
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
pada suatu pecahan.Hal ini menunjukkan bahwa siswa mengalami learning
obstacle yang bersifat didactical obstacle, yakni hambatan yang diakibatkan oleh
pembelajaran yang dilakukan oleh guru.Selain itu, pembelajaran yang diberikan
guru kurang mempertimbangkan keragaman respon siswa atas situasi didaktis
yang dikembangkan.Sehingga rangkaian situasi didaktis yang dikembangkan
berikutnya tidak lagi sesuai dengan lintasan belajar (learning trajectory) yang
seharusnya dilalui masing-masing siswa, yang akhirnya siswa menemukan hasil
penjumlahan pecahan yang salah.
Menurut Suryadi (2010, hlm 7), kurangnya antisipasi didaktis yang
tercemin dalam perencanaan pembelajaran, dapat berdampak kurang optimalnya
proses belajar bagi masing-masing siswa. Sehingga,untuk menciptakan
pembelajaran yang optimal maka guru harus mempertimbangkan salah satu aspek
dalam mengembangkan antisipasi didaktis pedagogis(ADP) yaitu adanya learning
obstacles.Dalam hal ini, permasalahan yang terjadi karena adanyalearning
obstacle yang bersifat didactical obstacle dan epistemological obstacle. Tetapi
tidak menutup kemungkinan ketika dilakukan identifikasimakaakan muncul juga
learning obstacle yang bersifat ontogenic obstacle. Oleh karena itu, dengan
prinsip dari Didactical Design Research (DDR), maka penulis akan membuat
desain didaktis yang menyangkut didalamnya antisipasi-antisipasi didaktik seperti
metapedadidaktik, proses matematisasi, dan teori situasi didaktik sehingga dapat
menciptakan pembelajaran yang optimal dan hasil yang maksimal.
Learning obstacle yang bersifat epistemological obstacle terjadi pada
siswa di SMP pada materi pecahan khususnya penjumlahan pecahan. Perlu
diketahui bahwa materi pecahan sudah diajarkan sebelumnya di SD, sehingga ada
kemungkinan permasalahan tersebut terjadi karena kesalahan pembelajaran
matematika materi pecahan di SD. Sedangkan learning obstacle yang berisfat
didactical seperti yang dijelaskan sebelumnya terjadi di SD. Melihat hal tersebut,
penulis menyadari bahwa pentingnya guru merancang pembelajaran dengan
desain didaktis yang dapat mengatasi learning obstaclepada materi pecahan di
5
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
Didaktis Konsep Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan untuk Mengatasi
Learning Obstacle pada Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah pada
penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik learning obstacle pada materi penjumlahan dan
pengurangan pecahan di SD?
2. Bagaimana desain didaktis hipotesis yang dapat mengatasi learning
obstacle yang teridentifikasi dalam mempelajari konsep penjumlahan dan
pengurangan pecahan di SD?
3. Bagaimana implementasi disain dedaktis hipotesisyang telah dibuat untuk
pembelajaran matematika konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan
di SD, khususnya ditinjau dari respon siswa yang muncul?
4. Bagaimana gambaran learning obstacle pada materi penjumlahan dan
pengurangan pecahan di SD setelah desain didaktis
hipotesisdiimplementasikan?
5. Bagaimana desain didaktis empirikberdasarkan hasil temuan penelitian
ini?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini
yaitu:
1. Mengetahui karakteristik learning obstacle pada materi penjumlahan dan
pengurangan pecahan di SD.
2. Terimplementasi desain didaktis hipotesis yang dapat mengatasi learning
obstacle yang teridentifikasi dalam mempelajari konsep penjumlahan dan
pengurangan pecahan di SD.
3. Mengetahui implementasi desain didaktis hipotesis yang telah dibuat
untuk pembelajaran matematika konsep penjumlahan dan pengurangan
6
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
4. Memperoleh gambaran learning obstacle pada materi penjumlahan dan
pengurangan pecahan di SD setelah desain didaktis hipotesis
diimplementasikan.
5. Terumuskan desain didaktis empirikberdasarkan hasil temuan penelitian
ini.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat yang akan didapat
dari penelitian ini yaitu:
1. Siswa dapat mempelajari konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan
dengan menggunaka bahan ajar yang dihasilkan/dirumuskan dari
penelitian ini.
2. Guru mendapatkan gambaran mengenai learing obstacle yang dialami
siswa dalam pembelajaran matematika materi penjumlahan dan
pengurangan pecahan.
3. Guru dapatmenggunakan desain didaktis dari penelitian ini untuk
mengatasi learning obstacle yang dialami siswa pada pembelajaran
matematika materi penjumlahan dan pengurangan pecahan khususnya di
kelas IV SD.
4. Peneliti dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan rujukan untuk
penelitian selanjutnya.
E. Struktur Organisasi Tesis
Struktur organanisasi tesis ini mengacu pada buku pedoman penulisan
karya ilmiah UPI, yang terdiri dari lima bab yaitu:
1. BAB I Pendahuluan
Pada bab ini memaparkan mengenai latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, dan
struktur organisasi tesis.
7
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
Pada bab ini menjelaskan mengenai learning obstacle, desain didaktis,
kajian materi pecahan SD kelas IV, teori belajar yang relevan, dan
penelitian yang relevan.
3. BAB III Metodologi Penelitian
Pada bab ini menjabarkan beberapa hal yang terkait dengan metodologi
penelitian diantaranya pendekatan dan desain penelitian, tempat dan
subjek penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik
analisis data, dan pengujian keabsahan data.
4. BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pada bab ini memaparkan hasil penelitian dan melakukan pembahasan
terhadap hasil penelitian.
5. BAB V Simpulan, Implikasi, dan Rekomendasi
Pada bab ini menyajikan simpulan dari hasil penelitian dan pembahasan
pada bab IV dan memberikan implikasi serta rekomendasidari
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan Desain Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif.Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif (Meloeng, 2014,
hlm 6) adalah penelitian yeng bermaksud memahami fenomena tentang apa yang
dialami oleh subjek penelitian. Cruswell (2014, hlm 258) mengungkapkan tujuan
dari penelitian kualitiatif pada umumnya mencakup informasi tentang fenomena
utama yang dieksplorasi dalam penelitian, partisipan penelitian, dan lokasi
penelitian.Data yang dikumpulkan dalam penelitian kualitatif berupa kata-kata,
gambar, dan bukan berupa angka-angka.
Fokus dari penelitian ini yaitu merumuskan dan menyusun desain didaktis
berdasarkan learning obstacle yang terjadi pada materi operasi penjumlahan dan
pengurangan pecahan dan learning trajectory siswa.Penelitian ini mengacu pada
tahapan Didactical Design Research (DDR) yang dilaksanakan melalui
pendekatan kualitatif.Pendekatan kualitatif dipilih karena pendekatan ini dapat
lebih rinci menjelaskan fenomena yang lebih kompleks yang sulit dijelaskan
dengan pendekatan kuantitatif.Sehingga diharapkan penelitian ini bisa
memberikan kesimpulan yang sesuai.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain
penelitian kualitatif bersifat sementara.Menurut Sugiyono (2013), penelitain
kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan
kenyataan di lapangan.Sehingga, hasil penelitian ini dapat terus dikembangkan
sesuai dengan perubahan yang terjadi di lapangan.Penelitian ini menggunakan
perspektif DDR dalam tahapan penelitiannya.Suryadi (2013, hlm 12) menyatakan
DDR melalui tiga tahapan analisis yaitu:
1. analisis situasi didaktis sebelum pembelajaran yang wujudnya berupa desain didaktis hipotetik termasuk ADP;
38
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
3. analisis retrosfektif yakni analisis yang mengkaitkan hasil analisis situasi didaktis hipotetik dengan hasil analisis metapedadidaktik. Dari ketiga tahapan ini akan diperoleh Disain Didaktis Empirik yang tidak tertutup kemungkinan untuk terus disempurnakan melalui tiga tahapan DDR tersebut.
Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan tahapan DDR yang dilakukan dalam
penelitian ini, sebagai berikut:
1. Tahap I: Analisis Situasi Didaktis
Peneliti melakukan analisis situasi didaktis sebelum memasuki
lapangan. Dalam tahap ini peneliti melakukan beberapa aktivitas, yaitu:
a. Menentukan konsep matematika yang akan menjadi bahan penelitian.
Dalam penelitian ini yang akan menjadi bahan penelitian adalah
konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan di SD kelas IV.
b. Mencari data atau literatur tentang konsep penjumlahan dan
pengurangan pecahan.
c. Mempelajari dan menganalisis keterkaitan konsep dan konteks
mengenai konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan.
d. Membuat instrumen learning obstacle dengan memilih atau membuat
soal-soal yang variatif, disesuaikan dengan pola pikir siswa sehingga
dapat memunculkan kesulitan siswa mengenai konsep penjumlahan
dan pengurangan pecahan.
e. Melaksanakan Tes Kemampuan Responden (TKR) awal pada siswa
kelas V dan IV SD, kemudian ditambahkan dengan wawancara kepada
beberapa responden untuk mengidentifikasi learning obstacle
mengenai konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan.
f. Menganalisis hasil uji instrumen learning obstacle disertai dengan
hasil wawancara.
g. Membuat kesimpulan mengenai learning obstacle yang muncul
berdasarkan hasil pengujian dengan mengaitkan teori-teori belajar
39
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
h. Membuat learning trajectory structural untuk rujukan dalam membuat
desain didaktis hipotesis.
i. Mengembangkan desain didaktis hipotesis berdasarkan learning
obstacle yang telah teridentifikasi disesuaikan dengan learning
trajectory yang dilalui siswa dan Theory of Didactical Situation
(TDS).
j. Membuat prediksi-prediksi mengenai respon siswa yang mungkin
mucul pada saat desain didaktis diterapkan dan mempersiapkan
antisipasi dari respon siswa yang muncul.
2. Tahap II: Analisis Metapedadidaktis
Pada tahap kedua yaitu analisis metapedadidaktis dilakukan dengan
dua aktivitas, yaitu:
a. Mengimplementasikan desain didaktis hipotesis yang telah disusun.
b. Menganalisis situasi dari berbagai respon pada saat desain didaktis
hipotesis diimplementasikan.
3. Tahap III: Analisis Retrosfektif
Tahap ini merukapan tahapan dimana peneliti melakukan analisis
terhadap hasil analisis situasi didaktis hipotetik dengan hasil analisis
metapedadidaktik. Beberapa aktivitas yang harus dilakukan pada tahapan ini,
sebagai berikut:
a. Mengaitkan prediksi respon dan antisipasi yang telah dibuat
sebelumnya dengan respon siswa yang terjadi pada saat implementasi
desain didaktis hipotesis.
b. Melaksanakan TKR akhir.
c. Menganalisis hasil dari TKR akhir untuk mengetahui bagaimana
gambaran learning obstacle setelah desain didaktis hipotesis
implementasi.
d. Mengetahui gambaran learning obstacle setelah pembelajaran dengan
desain didaktis hipotesis. Apakah kesulitan yang teridentifikasi masih
40
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
e. Menyusun desain didaktis empirik berdasarkan desain didaktis
hipotesis yang telah dibuat sebelumnya, dengan revisi dari hasil
implementasi pada saat pembelajaran berlangsung serta berdasarkan
hasil pengujian learning obstacle setelah dilakukan implementasi
desain didaktis awal.
f. Menyusun hasil laporan penelitian.
B. Definisi Istilah
Beberapa defininisi istilah yang digunakan dalam penelitian ini
diantaranya:
1. Desain Didaktis
Desain didaktis adalah rancangan dari bahan ajar yang dibuat dengan
memperhatikan learning obstacle yang dialami siswa, learning trajectory
siswa dan teori situasi didaktis dalam mempelajari konsep penjumlahan
dan pengurangan pecahan.
2. LearningObstacle
Learningobstacle (hambatan belajar) adalah suatu kondisi pada proses
pembelajaran yang ditandai dengan adanya hambatan atau kesulitan
tertentu dalam pembelajaran. Dalam penelitian ini ada tiga karakteristik
learning obstacle yaitu ontogenic obstacle, didactical obstacle,dan
epistemological obstacle.
3. Ontogenic Obstacle
Ontogenic obstacle adalah hambatan yang dialami siswa akibat
ketidaksesuaian bahan ajar yang digunakan dengan tingkat berpikir siswa.
4. Didactical Obstacle
Didactical obstacle adalah hambata yang dialami siswa akibat dari
pembelajaran yang dilakukan guru.
5. EpistimologicalObstacle
Epistimologicalobstacle adalah hambatan yang dialami siswa akibat dari
41
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu C. Tempat dan Subjek Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di SD Negeri Cimincrang Kota
Bandung.Sampel yang diambil dari populasi kelas IV, V, dan VI. Setiap kelas
terbagi menjadi dua kelas yaitu kelas A dan B, maka sampel yang diambil untuk
menjadi subjek pada penelitian ini adalah kelas B. Subjek penelitian ini terbagi
menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah siswa yang mengikuti TKR
awalyaitu kelas V-B dan kelas VI-B.Sedangkan kelompok dua adalah siswa yang
mendapatkan pembelajaran menggunakan desan didaktis dan mengikuti TKR
akhir yaitu kelas IV-B.
D. Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh data penelitian maka harus menggunakan instrumen
penelitian.Instrumen penelitian terbagi menjadi dua jenis yaitu instrumen tes dan
instrumen non tes.
1. Instrumen Tes
Instrumen tes dalam penelitian ini disebut Tes Kemampuan Responden
(TKR). TKR digunakan untuk mengidentifikasi learning obstacle dan
mengetahui gambaran learning obstaclesetelah desain didaktis
diimplementasikan. TKR yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum
membuat desain didaktis yang bertujuan untuk mengidentifikasi learning
obstacle dan setelah mengimplementasikan desain didaktis yang bertujuan
mengecek masih ada atau tidaknya learning obstacle pada siswa.
2. Instrumen Non Tes
Instrumen non tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa
wawancara, observasi, dan dokumentasi.Wawancara dilakukan untuk
mengetahui permasalahan yang dialami siswa ketika menyelesaikan soal tes.
Observasi dilakukan untuk mendapatkan data dan fakta tentang proses
pembelajaran yang terjadi selama implementasi desain didaktis. Sedangkan
dokumentasi untuk membantu dalam mendeskripsikan proses pembelajaran
42
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
triangulasi.Sugiyono (2013, hlm 330) mengartikan triagulasi sebagai teknik
pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik
pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.Triangulasi yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu triangulasi teknik pengumpulan data.
Triangulasi teknik pengumpulan data (Sugiyono, 2013, hlm 330) yaitu
peneliti menggunakan pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan
data dari sumber yang sama. Oleh karena itu, peneliti melakukan observasi,
wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap sumber yang sama.
F. Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data menurut Miles dan
Huberman (Sugiyono, 2013, hlm 337) yang terdiri dari tiga aktivitas yaitu reduksi
data (data reduction), penyajian data (data display), dan verifikasi (conclusion
drawing). Langkah-langkah analisis yang dilakukan sebagai berikut:
1. Reduksi Data (Data Reduction)
Data yang diperoleh dalam penelitian ini jumlahnya cukup banyak,
makapeneliti terlebih dahulu melakukanmereduksi data.Mereduksi data
dilakukan untuk memilih dan merangkum data-data yang pokok serta
memfokuskan pada data-data yang penting sesuai dengan kebutuhan
penelitian.Selain itu, mereduksi data juga membantu peneliti mendapatkan
gambaran untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, jika data yang
dibutuhkan masih kurang.
2. Penyajian Data (Data Display)
Peneliti selanjutnya melakukan penyajian data dari data yang telah
direduksi.Penyajian data dilakukan untuk memahami apa yang terjadi,
merencanakan tindakan selajutnya berdasarkan apa yang teralah dipahami
sebelumnya sehingga mempermudah mendapatkan kesimpulan. Oleh karena
43
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
sehingga data tersebut mudah dipahami.Penyajian data dalam penelitian ini
dilakukan dalam bentuk uraian naratif, bagan, dan diagram.
3. Verifikasi (Conclusion Drawing)
Langkah terakhir dalam analisis data pada penelitian ini yaitu
verifikasi.Verifikasi dilakukan berdasarkan data yang telah direduksi dan
disajikan sebelumnya.Kesimpulan yang didapat mungkin masih bersifat
tentatif,akan tetapi dengan bertambahnya data atau didukung dengan data-data
yang valid maka akan mendapatkan kesimpulan yang kredibel.
G. Pengujian Keabsahan Data
Moleong (2014, hlm 324) menetapkan empat kriteria yang dapat
digunakan dalam pengujian keabsahan data yaitu: 1) derajat kepercayaan
(credibility); 2) keteralihan (transferability); 3) kebergantungan (dependability);
dan 4) kepastian (confirmability). Untuk lebih jelasnya mengenai kriteria yang
digunakan dalam pengujian keabsahan data sebagai berikut:
1. Derajat Kepercayaan (Credibility)
Penelitian ini menggunakan uji credibility dengan meningkatkan
ketekunan, triangulasi dan dokumentasi.Meningkatkan ketekunan berarti
peneliti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan
berkesinambungan.Menurut Sugiyono (2013, hlm 371) peneliti dapat
melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu salah
atau tidak dan peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan
sistematis tentang apa yang diamati. Salah satunya yaitu dengan menambah
referensi buku atau hasil penelitian yang berkaitan dengan penelitian yang
dilakukan, sehingga wawasan peneliti dapat semakin luas.Peneliti melakukan
triangulasidalam pengujian kredibilitas.Triangulasi (Sugiyono, 2013, hlm 372)
dalam pengujian kredibilitas dapat diartikan sebagai pengecekan data dari
berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Sedangkan
dokumentasi digunakan peneliti dalam meningkatkan ketekunan dan
44
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
pelaksanaan penelitian akanmembantu peneliti membuktikan bahwa data yang
telah ditemukan oleh peneliti benar adanya.
2. Keteralihan (Transferability)
Uji transferability pada penelitian ini dilakukan dengan cara
menuliskan hasil penelitian dan pembahasan secara jelas, sistematis, dan dapat
dipercaya. Sehingga orang lain yang membacanya dapat memahami hasil
penelitian kualitatif dan hasil penelitian tersebut dapat diterapkan atau
dikembangkan. Menurut Sanafiah Faisal (Sugiyono, 2013, hlm 377), apabila
pembaca laporan penelitian memperoleh gambaran yang sedemikian jelasnya
tentang “semacam apa”suatu hasil penelitian dapat diberlakukan, maka
laporan tersebut memenuhi standar keteralihan.
3. Kebergantungan (Dependability)
Uji dependability dilakukan dengan melakukan audit terhadap
keseluruhan proses penelitian (Sugiyono, 2013, hlm 377). Pemeriksaan
dilakukan oleh pembimbing dalam segala aktivitas yang telah dilakukan oleh
peneliti.Sedangkan derajat kepastian denga menguji hasil penelitian dengan
proses yang sudah dilakukan.Menurut Sanafiah Faisal (Sugiyono, 2013, hlm
377), jika peneliti tidak mempunyai dan tidak dapat menunjukkan “jejak aktivitas lapangannya”, maka depenabilitas penelitiannya patut diragukan. 4. Kepastian (Confirmability)
Uji confirmability dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan secara
bersamaan dengan uji dependability. Menguji comfirmability berarti menguji
hasil penelitian dikaitkan dengan proses yang dilakukan. Apabila hasil
penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka
penelitian tersebut sudah memenuhi standar comfirmability.
H. Prosedur Penelitian
Adapun prosedur penelitian yang ditempuh dalam penelitian ini sebagai
45
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
[image:30.595.112.512.98.758.2]Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu Gambar 3.1. Prosedur Penelitian
Studi Literatur
Analisis Data Pengembangan Instrumen
Pengumpulan Data
Pelaksanaan:
TKR
Wawancara Berupa:
TKR awal
Panduan Wawancara
Langkah-langkah:
Reduksi Data
Penyajian Data
Verifikasi Data
Desain Didaktis Hipotesis
Implementasi Desain Didaktis Hipotesis Responden:
Kelas V-B
Kelas VI-B
Desain Didaktis Empirik
Berupa:
Lesson Design
LKS
Analisis Data Pengumpulan Data Responden:
Kelas IV-B
Langkah-langkah:
Reduksi Data
Penyajian Data
Verifikasi Data
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI
A. Simpulan
Berdasarkanhasilpenelitiandanpembahasanmakasecarakeseluruhandapat di
simpulkansebagaiberikut:
1. Hasilteskemampuanresponden (TKR) awalditemukankarakteristiklearning
obstacle
padamaterioperasipenjumlahandanpenguranganpecahanadatigajenisyaituo
ntogenic obstacle, didactical obstacle, danepistimological
obstacle.Ontogenic obstacle yang
ditemukankarenaterjadilompatanberpikirdariberpikir semi konkritke semi
abstrakdansiswa yang
salahdalammenunjukkanpecahandarirepresentasisimbolikkebentukreprese
ntasigeometri (visual).Didactical obstacle yang
ditemukankarenapenjelasandanpenguatankonsep yang diberikan guru
mengenaikonsepdasarpecahandankonsepoperasipenjumlahandanpenguran
ganpecahankurangbaik. Hal tersebutdikarenakan guru
tidakselalumemberikancontohkonkritdanmemberikancaracepatdalamsuatu
penyelesaianmasalah. Epistimological obstacle yang
ditemukankarenaketerbatasankontes yang dimilikisiswa. Hal
tersebutterjadiketikasoal yang diberikanadalahsoal yang
berbedadenganbiasanya (soalberfikirtingkattinggi) makaadasiswa yang
tidakpahamdenganpertanyaan yang
diberikandanjugaadasiswakesulitandalammengubahsoalceritakedalambent
ukmatematika.
2. Desaindidaktisdirancanguntukmengatasilearning obstacle yang
ditemukanpada TKR awaldenganmempertimbangkanlearning
90
didasarkanpadaurutanmateridantujuanpembelajaran yang
disesuaikandenganalurberpikirsiswa.
Sedangkanteorisituasididaktisterdiridarikomponensituasiaksi, formulasi,
validasi, daninstitusionalisasi yang menjadidasarprospective
analysispadalesson design yang dibuat. Sehingga,
desaindidaktispenelitianinidirancanguntukempat kali
pertemuandenganmateriperpertemuanyaitukonsepdasarpecahan,
pecahanpadagarisbilangandanmembandingkanpecahan,
operasipenjumlahandanpenguranganpecahanberpenyebutsama,
danoperasipenjumlahandanpenguranganpecahanberpenyebuttidaksama.
3. Responsiswaterhadapimplementasidesandidaktismateripenjumlahandanpe
guranganpecahansebagianbesarsesuaidenganprediksi yang telahdibuat.
Tetapi, ada pula yang
tidaksesuaidenganprediksiyaituketikasiswadimintamembuatkesimpulan.
Hal
tersebutdisebabkansiswakesulitandalammelakukanformulasipadasituasiseb
elumnya. Sehinggabeberapasiswamasihada yang
kebingunganketikasituasimembuatkesimpulan. Untukmengatasinya, guru
melakukanvalidasidenganmengajaksiswamengingatkembaliaktivitas yang
telahdilakukansebelumnyaataumemberikanpertanyaantambahan.
4. Gambaranlearning obstacle
padamateripenjumlahandanpenguranganpecahan di kelas IV SD
setelahdesaindidaktisdiimplemantasikanberdasarkanhasil
TKRakhirhasilnyayaitulearning obstacle yang bersifatontogenic
obstaclesudahtidakditemukanlagi. Sedangkanlearning obstacle yang
bersifatdidactical obstacle danepistemological
obstaclemasihditemukanhanyakuantitasnyaberkurang.Didactical obstacle
yang
masihadaberupakesulitansiswadalammemahamikonseppecahanpadagarisbi
langandankesulitansiswadalammenyelesaikanpermasalahanmenganaiopera
91
daripenyebut yang lainnya. Sedangkan epistemological obstacle yang
masihditemukanberupaketidakpahamansiswadenganpertanyaan yang
diberikandankesulitansiswadalammengubahsoalceritakedalambentukmate
matikadenganbenar.
5. Desaindidaktisempirik yang dibuatberdasarkanhasilanalisisretrosfektif.
Padadesaindidaktisempirikiniterjadisedikitrevisiyaituadabeberaparedaksik
alimat yang harusdirubah agar intervensi guru
dapatdikurangidanperubahanbeberapasituasidarilesson
designdiubahsesuaidenganresponsiswapadasaatimplementasi.
B. Implikasi
Berdasarkanhasilpenelitian yang telahdilaksanakanbahwadesaindidaktis
yang telahdirancangdandibuatdapatmengatasilearning obstacle yang
dialamiolehsiswapadamateripenjumlahandanpenguranganpecahankelas IV SD.
Meskipun,desaindidaktistersebutdapatterusdisempurnakanmelaluitigatahapan
DDR. Haltersebutmemberikanimplikasiterhadap proses
pembelajarandanhasilpembelajaran, sebagaiberikut:
1. Desaindidaktisberdampakbaikterhadaphasilbelajarsiswa
2. Siswamenjadiaktifdalam proses pembelajaran
3. Guru lebihmemperhatikanresponsiswa yang muncul
C. Rekomendasi
Berdasarkansimpulandarihasilpenelitiandanpembahasanmakarekomendasi
yang diberikansebagaiberikut:
1. Desaindidaktis yang
telahdibuatdapatdijadikansalahsatualternatifrancanganbahanajar yang
dapatdigunakandalampembelajaranmatematikamaterioperasipenjumlahand
anpenguranganpecahan dikelas IV SD.
2. Jikamenggunakandesaindidaktisini, sebaiknya guru
memastikanbahwasemuasiswatelahmenguasaimateriprasyaratoperasipenju
92
Sehinggadesaindidaktisinidapatdiimplemantasikandenganlebihbaikdanmak
simal.
3. Jikaakanmelakukanpengembangandesaindidaktisoperasipenjumlahandanp
enguranganpecahan, makadapatmelihatbeberapajenisdidactical obstacle
danepistemological obstacle yang
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA
Artigue, M. (1994).Didactical Engineering as a Framework for the Conception of Teaching Products. R. Biehler, R. W. Scholtz, R. Sträßer, & B. Winkelmann (Eds.),Didactics of Mathematics as a Scientific Discipline (pp. 27–39). Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. Printed in the Netherlands.
Bachelard, G. (2002) The Formation of the Scientific Mind. A Cotribution to a Psychoanalysaf Objective Knowledge. Machester.The Bath Press.
BNSP. (2006) Kurikulum Tingkat
SatuanPendidikanStandarKompetensidanKompetensiDasarMatematika SMP-MTs. Jakarta: BadanStandarNasionalPendidikan.
Brouseau, G. (2002). Theory of Didactical Situation in Mathematics. Dordrecht: Kluwer Academic Publisher.
Brown, S.,A. (2008).Exploring Epistemological Obstacles to the Development of Mathematics Induction.Proceedings of the 11th Conference for Research on Undergraduate Mathematics Education. February 28 – March 2, 2008; San Diego, CA.
Clements, D. H., &Sarama, J. (2004). Learning Trajectory in Mathematics Education.Mathematical Thinking and Learning, 6, 81-89.
Clements, D. H., &Sarama, J. (2007). Effects of a Preschool Mathematics Curriculum: Summative Research on the Building Blocks Project. Journal for Research in Mathematics Education. Vol. 38, No. 2, 136-163.
Cornu, B. (1991) „Limit‟, in Tall, D (ed), Advanced mathematical thinking, Dordrecht, The Netherlands, Kkluwer Academic Publishers, pp 153-66
Creswell, W. J. (2014). Research Desain (PendekatanKualitatif, Kuantitatif, dan Mix). Yogyakarta: PustakaPelajar.
Dahar, R. W. (2011). Teori-TeoriBelajar&Pembelajaran.Jakarta :Erlangga.
Desmita.(2012). PsikologiPerkembanganPesertaDidik. Bandung: RemajaRosdakarya.
93
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
Hergenhahn, B. R., & Olson, H. M. (2012).Theories of Learning (EdisiKetujuh). Jakarta: KencanaPrenada Media Group.
Heruman.(2013). Model PembelajaranMatematika di SekolahDasar. Bandung: PT RemajaRosdakarya.
Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. (2011).Models of Teaching (EdisiDelapan). Yogyakarta: PustakaPelajar.
Manno, G. (2005). Embodiment and A-didactical Situation in The Teaching-Learning of The Perpendicular Straigth Lines Concept. Palermo. Thesis of Doctoral.
Manno, G. (2006). Embodiment and A-Didactical Situation in The Teaching-Learning of The Perpendicular Straigth Lines Concept. Doctoral Thesis: Department Of Didactic Mathematics Faculty Of Mathematics And Physics Comenius University Bratislava.
Mitchelmore, M., & White, P. (2004).Abstraction in Mathematics and Mathematics Learning.M. J. Hoines& A. B. Fuglestad (Eds.), Proceedings of the 28th Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education (Vol. 3, pp. 329-336). Bergen, Norway: Psychology of Mathematics Education.
Mitchelmore, M., & White, P. (2007).Abstraction in Mathematics Learning (Editorial).Mathematics Education Research Journal, Vol. 19, No. 2, 1-9.
Moleong, L. J. (2014). MetodologiPenelitianKualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.
Moru, E. K. (2006). Epistemological Obstacles in Coming to Understand the Limit Concept at Undergraduate Level: A Case of the National University of Lesotho. University of the Western Cape.
Moru, E.K. (2006). Epistemological Obstacles in Coming to Understand the Limit Concept at Undergraduate Level: A Case of the National University of Lesotho. Lesotho. Thesis of Doctoral.
Moru, E.K. (2007). Talking with The Literature on Epistemological Obstacles. For the Learning of Mathematics.Canada. FLM Publishing Association.
Mustaqim, B., &Astuty, A. (2008).Ayo BelajarMatematika:untuk SD dan MI Kelas IV. Jakarta: PusatPerbukuanDepartemanPendidikanNasional.
94
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
Serpinska, A. (1992) “On Understanding The Notion of Function”, in Dubinsky (1992). The Consept of Function.Aspects of Epistemology and Pedagogy.MAA Notes and Reports Series.Mathematical Association of America.ISBN 0-88385-081-8.
Sobel, Max A. &Maletsky, Evan M. (2004).MengajarMatematika: SebuahBukuSumberAlatPeraga, Aktivitas, danStrategi. Jakarta: Erlangga.
Sugiyono.(2013). MetodePenelitianPendidikan (PendekatanKuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta
Suherman, Erman. (2001) StrategiPembelajaranMatematikaKontemporer. Bandung: JICA UPI.
Sukayati.(2003). Pecahan. Yogyakarta:
DepartemenPendidikanNasionalDirektoratJenderalPendidikanDasardanMen engah PPPG Matematika.
Sulistiawati.(2012). PengembanganDesainDidaktisBahan Ajar PenalaranMatematisPadaMateriLuasdan Volume Limas.Tesis UPI Bandung: TidakDipublikasikan.
Suratno, Tatang. (2009). MemahamiKompleksitasPengajaran-PembelajarandanKondisiPendidikandanPekerjaan Guru. [online] Tersedia: http://the2the.com/eunice/document/TSuratno_complex_syndrome.pdf [14 Oktober 2014]
Suryadi, D, dkk.(2014).
KemandirianPendidikKisahPendidikReflektifdanProfesionalPembelajaran. Bandung: SekolahPascasarjanaUniversitasPendidikan Indonesia.
Suryadi, D. (2010). Menciptakan Proses BelajarAktif: KajiandariSudut Pandang
TeoriBelajardanTeoriDidaktik.Makalah Seminar
NasionalPendidikanMatematika UNP. [online] Tersedia: http://didi- suryadi.staf.upi.edu/files/2011/06/MENCIPTAKAN-PROSES-BELAJAR-AKTIF.pdf [13 Oktober 2014]
Suryadi, D. (2013). Didactical Design Research (DDR) dalamPengembanganPembelajaranMatematika.Seminar UNES 26 Oktober
2013. [online] Tersedia:
95
Muhammad Rifqi Mahmud, 2015
DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
Suryadi, D., &Turmudi.(2011). KesetaraanDidactical Design Research (DDR) denganMatematikaRealistikdalamPengembanganPembelajaranMatematika. Prosiding Seminar NasionalMatematikadanPendidikanMatematika UNS.
Suryadi, D., Yulianti, Kartika.,&Junaeti, Enjun. (2011). Model AntisipasidanSituasiDidaktisdalamPembelajaranMatematikaKombinatorik BerbasisPendekatanTidakLangsung. Bandung: SPs UPI. [online] Tersedia: http://didi-suryadi.staf.upi.edu/files/2011/06/MODEL-ANTISIPASI-DAN-SITUASI-DIDAKTIS.pdf [11 November 2014]
Susanto, Ahmad. (2013). TeoriBelajardanPembelajaran di SekolahDasar. Jakarta: Kencana.
Tall, D (2002), Advanced mathematical thinking, Dordrecht, The Netherlands, Kkluwer Academic Publishers.
Turmudi.(2010). MatematikaEksploratifdanInvestigatif
(ReferensiMetodologiPembelajaranuntuk Guru Matematika). Bandung: LeuserCitaPustaka.