• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2,"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK DENGAN PENILAIAN PROYEK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

IPS TEMA CITA-CITAKU DAN SIKAP SOSIAL SISWA KELAS IV SD NEGERI

26 PEMECUTAN

Komang Whiny Dharsana1, I Made Suara2, I Km Ngurah Wiyasa3

1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]1 , [email protected]2 , [email protected]3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar pengetahuan IPS tema cita-citaku siswa kelas IV melalui penerapan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek dan untuk meningkatkan sikap sosial siswa kelas IV melalui penerapan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek di SD Negeri 26 Pemecutan tahun pelajaran 2014/2015. Jenis penelitian ini tergolong penelitian tindakan kelas, yang dilaksanakan dalam dua siklus. Masing – masing siklus terdiri atas empat tahapan yaitu, perencanaa, tindakan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV sebanyak 38 siswa di SD N 26 Pemecutan tahun pelajaran 2014/2015. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode (1) tes hasil belajar pengetahuan IPS, (2) kuesioner sikap sosial siswa. Data yang diperoleh dari metode tes dan kuesioner dianalisis dengan metode analisis statistik deskriptif kualitatif dan analisis statistik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan persentase nilai rerata hasil belajar pengetahuan IPS pada siklus I mencapai 74.7 % yang berada pada kategori sedang dan mengalami peningkatan pada siklus II mencapai 87.5% berada pada kategori tinggi, ini terjadi peningkatan sebesar 12.8%, dengan ketuntasan klasikal 100%. Adanya peningkatan persentase rerata skor sikap sosial siswa pada siklus I mencapai 68.15% yang berada pada kategori sedang dan mengalami peningkatan pada siklus II mencapai 87.63% berada pada kategori tinggi, ini terjadi peningkatan sebesar 19.48%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian penerapan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek dapat meningkatkan hasil belajar pengetahuan IPS tema cita-citaku dan sikap sosial siswa kelas IV di SD N 26 Pemecutan.

Kata kunci: pendekatan saintifik, penilaian proyek, sikap sosial, hasil belajar, IPS.

Abstract

This research aimed to improve the students academic achievement of social sciences on the theme cita-citaku and social attitudes for fourth grade students through the implementation of scientific approach with project assessment in SD Negeri 26 Pemecutan school years 2014/2015. The type of research as a class

(2)

action research, it was conducted in two cycles. Each cycle consist of four steps, namely planning, action, observation / test, and reflection. The subjects of this research were fourth grade students as many as 38 students in SD Negeri 26 Pemecutan school years 2014/2015. The methods used for collecting data in this research, namely (1) knowledge of social sciences achievement test, (2) social attitudes questionnaire. The data obtained from the test and questionnaire were analyzed with descriptive analysis of qualitative and quantitative methods. The results showed: there is an increasing the percentage mean value of students academic achievement in social sciences on cycle I reached 74.7%, which is in the medium category and an increase in cycle II reached 87.5% at the high category, is an increase of 12.8%, with 100% classical completeness. There is an increasing the percentage mean value of students social attitudes in cycle I reached 68.15%, which is in the medium category and an increase in cycle II reached 87.63% at the high category, is an increase of 19.48%. Therefore, it can be concluded that the implementation of scientific approach with project assessment can improve the students academic achievement of social sciences on the theme cita-citaku and social attitudes for fourth grade in SD Negeri 26 Pemecutan.

Keywords: scientific approach, project assessment, social attitudes, academic achievement, social sciences

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal yang penting bagi kehidupan. Pendidikan merupakan sebuah program. Program melibatkan sejumlah komponen yang bekerja sama dalam sebuah proses untuk mencapai tujuan yang diprogramkan.

Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup (Sagala, 2012:1). Melalui pendidikan seseorang diharapkan mampu membangun sikap dan tingkah laku serta pengetahuan dan keterampilan yang perlu dan berguna bagi kelangsungan dan kemajuan diri dalam masyarakat, bangsa, dan negara. Pengelolaan pendidikan harus berorientasi kepada bagaimana menciptakan perubahan yang lebih baik.

Salah satu upaya yang ditempuh yaitu dengan menerapkan kurikulum 2013.

Pengembangan kurikulum 2013 ini melanjutkan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang telah dirintis pada tahun 2006 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kurikulum 2013 dirumuskan dan dikembangkan dengan suatu optimisme yang tinggi untuk menghasilkan lulusan sekolah yang lebih cerdas, kreatif, inovatif, memiliki kepercayaan diri yang tinggi sebagai individu maupun sebagai

bangsa, serta toleran terhadap segala perbedaan yang ada. Kurikulum 2013 merupakan rangkaian penyempurnaan terhadap kurikulum yang telah dirintis tahun 2004 yang berbasis kompetensi lalu diteruskan dengan kurikulum 2006 (Kurniasih dan Sani, 2014:32).

Dalam Kurikulum 2013, pembelajaran yang disajikan berupa pembelajaran terpadu. Pembelajaran terpadu itu adalah pembelajaran yang dalam pembahasan materinya meliputi atau saling mengaitkan berbagai bidang studi atau mata pelajaran secara terpadu dalam suatu fokus tertentu (Kurniawan, 2014:59). Pembelajaran ini memadukan beberapa pokok bahasan dalam suatu tema tertentu. Seperti mata pelajaran IPS, PKN, IPA, Matematika, SBdP, PJOK dan Bahasa Indonesia yang dipadukan menjadi satu tema.

Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan mata pelajaran yang memadukan konsep- konsep dasar dari berbagai ilmu sosial yang disusun melalui pendekatan pendidikan dan psikologis serta kelayakan dan kebermaknaannya bagi siswa dan kehidupannya (Samlawi, 1999:1). Secara mendasar, pengetahuan IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. Tujuan pendidikan IPS adalah untuk membantu tumbuhnya pola berpikir ilmuwan sosial, mengembangkan

(3)

pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat dalam rangka membantu tumbuhnya warga negara yang baik (Gunawan, 2011:26).

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan khususnya di kelas IV SD Negeri 26 Pemecutan, ditemukan bahwa hasil belajar IPS siswa masih jauh dari yang diharapkan dan kurangnya sikap sosial yang ditunjukkan dalam pembelajaran IPS.

Hal ini ditunjukkan dari nilai rata-rata ulangan siswa yang menunujukkan hasil belajar siswa masih di bawah rata-rata.

Belum optimalnya hasil belajar IPS dan sikap sosial disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kurangnya buku penunjang pembelajaran, kurangnya pemahaman guru tentang kurikulum 2013, dan guru hanya menggunakan metode ceramah sehingga membuat siswa bosan dan tidak berkonsentrasi dalam mengikuti pembelajaran, sedangkan dalam kurikulum 2013 siswa dituntut untuk aktif dan dapat menemukan sendiri pengetahuan. Dari permasalahan yang dipaparkan tadi, maka ditawarkan solusi sesuai dengan peraturan pemerintah nomor 65 tahun 2013 mengenai standar proses hendaknya guru menciptakan suatu pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa diantaranya: 1) dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu, 2) dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber, 3) dari pembelajaran yang menekankan jawaban yang kebenarannya multi dimensi.

Salah satu pendekatan yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan permen standar proses yaitu melalui pendekatan saintifik.

Menurut Daryanto (2014:51) menyatakan, Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang dengan sedemikian rupa agar siswa secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai

teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan. Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan.

Ditambahkan oleh Kurniasih dan Sani (2014:38) pendekatan saintifik dalam pembelajaran disajikan sebagai berikut.

a. Mengamati (observasi)

Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut.

1) Menentukan objek apa yang akan diobservasi.

2) Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi.

3) Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder.

4) Menentukan dimana tempat objek yang akan diobservasi.

5) Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar.

6) Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi, seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.

b. Menanya

Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu siswa belajar dengan baik. Namun ketika guru menjawab pertanyaan siswa, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.

Fungsi bertanya adalah sebagai berikut.

1) Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian siswa tentang suatu tema atau topik pembelajaran.

2) Mendorong dan menginspirasi siswa untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.

(4)

3) Mendiagnosis kesulitan belajar siswa sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya.

4) Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.

5) Membangkitkan keterampilan siswa dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggubnakan bahasa yang baik dan benar.

6) Mendorong partisipasi siswa dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik kesimpulan.

7) Membiasakan siswa berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.

8) Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.

c. Mengumpulkan informasi

Kegiatan mengumpulkan informasi merupakan tindak lanjut dari kegiatan bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, aktivitas mengumpulkan informasi dilakukan melalui eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/kejadian, aktivitas wawancara dengan nara sumber dan sebagainya.

d. Mengasosiasikan/mengolah informasi/menalar

Kegiatan mengasosiasi/mengolah informasi/menalar dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013 adalah memproses informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun dari hasil kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.

e. Menarik kesimpulan

Setelah menemukan keterkaitan antar informasi dan menemukan berbagai

pola dari keterkaitan tersebut, selanjutnya secara bersama-sama dalam satu kesatuan kelompok, atau secara individual membuat kesimpulan.

f. Mengkomunikasikan

Kegiatan ini dapat dilakukan melalui menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Kegiatan mengkomunikasikan dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013 adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis atau media lainnya.

Daryanto (2014:53) mengemukakan pembelajaran dengan pendekatan saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut.1) Berpusat pada siswa. 2) Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip.

3) Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. 4) Dapat mengembangkan karakter siswa.Pembelajaran saintifik berhasil dilaksanakan apabila dilihat dari proses yang telah terlaksana dengan baik dan hasil pembelajaran yang telah diharapkan tercapai, dimana siswa diharapkan memiliki pengalaman setelah dilaksanakannya pembelajaran saintifik. Dalam proses pembelajaran terdapat beberapa penilaian yang dapat menunjang proses pembelajaran, salah satunya yaitu penilaian proyek. Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh siswa menurut periode atau waktu tertentu di luar kegiatan pembelajaran di kelas (Widoyoko, 2014:86).

Penerapan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek dinilai dapat meningkatkan hasil belajar pengetahuan IPS dan sikap sosial karena tujuan pendekatan saintifik dapat: 1) meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, 2) membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik, 3) memperoleh hasil belajar yang tinggi, 4)

(5)

melatih siswa dalam mengkomunikasikan ide-ide, 5) mengembangkan karakter siswa (Daryanto, 2014:54). Dalam penilaian proyek tugas yang harus diselesaikan dalam periode atau waktu tertentu di luar kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga pendekatan saintifik dengan penilaian proyek dapat meningkatkan hasil belajar pengetahuan IPS dan sikap sosial siswa.

METODE

Pada dasarnya penelitian untuk meningkatkan hasil belajar pengetahuan IPS tema cita-citaku siswa kelas IV melalui penerapan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek dan untuk meningkatkan sikap sosial siswa kelas IV melalui penerapan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek di SD Negeri 26 Pemecutan tahun pelajaran 2014/2015.

Jenis penelitian ini tergolong penelitian tindakan kelas, yang dilaksanakan dalam dua siklus. Masing – masing siklus terdiri atas empat tahapan yaitu, perencanaa, tindakan, observasi/tes, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD N 26 Pemecutan tahun pelajaran 2014/2015, sebanyak 38 siswa. Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar pengetahuan IPS dan sikap sosial siswa kelas IV semester II SD Negeri 26 Pemecutan, Denpasar Barat. Oleh karena itu, keberhasilan penelitian tindakan kelas ini ditandai dengan adanya peningkatan hasil belajar pengetahuan IPS dan sikap sosial ke arah yang lebih baik. Adapun indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut.

a. Persentase rata-rata hasil belajar pengetahuan IPS siswa minimal berada pada rentang 80 - 89 dengan kategori tinggi.

b. Adanya perubahan sikap sosial siswa dalam belajar IPS kearah yang lebih baik saat penelitian dilaksanakan.

c. Ketuntasan klasikal siswa minimal 80%, artinya minimal 80% siswa memperoleh nilai di atas KKM yang ditentukan.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode (1) angket sikap sosial, (2) tes hasil belajar pengetahuan IPS. Data yang diperoleh dari metode

angket dan tes dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif. Analisis statistik deskriptif adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menerapkan hal-hal pokok yang terdapat dalam lingkup statistik deskriptif, sedangkan analisis deskriptif kuantitatif adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistematis dalam bentuk angka-angka dan persentase, mengenai suatu objek yang diteliti, sehingga diperolehnya kesimpulan umum (Agung, 2010:9). Oleh karena itu, sebelum dilakukan analisis deskriptif kuantitatif, data yang diperoleh yaitu hasil belajar pengetahuan IPS siswa ditabulasikan dalam bentuk angka. Dalam penelitian ini subyek yang digunakan adalah seluruh siswa kelas IV SD N 26 Pemecutan tahun pelajaran 2014/2015.

Untuk pengumpulan data digunakan metode tes dan angket. Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek (Widoyoko, 2014:51). Tes merupakan alat ukur untuk memperoleh informasi hasil belajar siswa yang memerlukan jawaban atau respons benar atau salah. Tes lebih cocok digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam aspek pengetahuan dan keterampilan (aspek kognitif dan psikomotor), tidak cocok digunakan untuk mengukur sikap, karena sikap tidak dapat diinterpretasi ke dalam kategori benar atau salah, namun untuk mendapatkan deskripsi tentang profil sikap siswa.

Menurut Sudijono (2011:67), ada dua fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:

1) Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jamgka waktu tertentu.

2) Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program

(6)

pengajaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai.

Tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur hasil belajar pengetahuan IPS siswa kelas IV adalah tes hasil belajar jenis objektif dalam bentuk pilihan ganda biasa. Tes objektif bentuk pilihan ganda biasa dengan empat pilihan pada umumnya terdiri atas: kalimat pokok yang berupa pertanyaan belum lengkap, diikuti oleh empat kemungkinan jawaban (alternatif a, b, c, dan d) yang dapat melengkapi pertanyaan tersebut. Untuk penskoran yaitu skor 0 untuk siswa yang menjawab salah dan skor 1 untuk siswa yang menjawab benar pada setiap item butir soal. Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam tes pilihan ganda menurut Kunandar (2014:183), sebagai berikut.

1) Intruksi pengerjaannya harus jelas dan bila dipandang perlu disertai contoh mengerjakannya.

2) Hanya ada satu jawaban yang benar atau paling benar.

3) Tiap butir soal hendaknya hanya mengandung satu ide, meskipun ide tersebut dapat kompleks.

4) Susunlah agar jawaban manapun mempunyai kesesuaian tata bahasa dengan kalimat pokoknya.

Sedangkan metode kuesioner/angket merupakan cara memperoleh atau mengumpulkan data dengan mengirimkan suatu daftar pertanyaan/pernyataan- pernyataan kepada responden/subjek penelitan (Agung, 2010:9). Metode kuesioner ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang perubahan ranah afektif seperti: sikap/rasa senang, tertarik, dan kepuasan, termotivasi dalam pembelajaran dengan tindakan tersebut.

Kuesioner memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan alat pengumpul data lainnya. Beberapa keunggulan kuesioner menurut Darmadi (2013:302) diantaranya dapat dilihat sebagai berikut.

1) Dapat mengungkapkan pendapat atau tanggapan seseorang baik secara individual maupun kelompok terhadap permasalahan.

2) Dapat disebarkan untuk responden yang berjumlah besar dengan waktu yang relatif singkat.

3) Tetap terjaganya objektivitas responden dari pengaruh luar terhadap satu permasalahan yang diteliti.

4) Tetap terjaganya kerahasiaan responden untuk menjawab sesuai dengan pendapat pribadi.

5) Karena diformat dalam bentuk surat, maka biaya akan lebih murah.

6) Penggunaan waktu yang lebih fleksibel sesuai dengan waktu yang telah diberikan peneliti.

7) Dapat menjaring informasi dalam skala luas dengan waktu cepat.

Tujuan penggunaan kuesioner dalam kegiatan pengajaran pengajaran menurut Sudjana (2013:72) adalah 1) untuk memperoleh data mengenai latar belakang siswa sebagai bahan dalam menganalisis tingkah laku hasil dan proses belajarnya, 2) untuk memperoleh data mengenai hasil belajar yang dicapainya dan proses belajar yang ditempuhnya, 3) untuk memperoleh data sebagai bahan dalam menyusun kurikulum dan program belajar-mengajar.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil setelah perhitungan diperoleh beberapa temuan yaitu: (1) tingkatan pengetahuan IPS siswa kelas IV pada mata pembelajaran IPS setelah diadakan penelitian yaitu pada siklus I didapat M(%) sebesar 74.7% dapat digolongkan dalam kriteria Sedang. (2) tingkat sikap sosial siswa kelas IV pada mata pembelajaran IPS setelah diadakan penelitian yaitu pada siklus I didapat M(%) sebesar 68.15%

dapat digolongkan dalam kriteria sedang.

Ternyata pengetahuan IPS dan sikap sosial siswa belum sesuai dengan yang diharapkan peneliti walaupun rencana tindakan sudah dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran, namun masih dijumpai beberapa kendala yaitu: (a) pada awal kegiatan pembelajaran dimulai beberapa siswa masih terlihat ribut dan tidak fokus mengikuti pembelajaran karena apersepsi yang diberikan kurang berkaitan langsung dengan materi yang akan ajarkan. (b) siswa dalam fase mengamati mengalami kesulitan dalam membuat pedoman obeservasi. (c) siswa kurang antusias mengumpulkan

(7)

informasi dalam kelompok sehingga dalam fase mengumpulkan informasi perlu ditambah sumber-sumber yang lebih menarik siswa. (d) suruhan dalam LKS sebagai penilaian proyek perlu disederhanakan. (e) siswa belum terbiasa membuat kesimpulan secara individu.

Setelah merefleksi dilanjutkan pada siklus II.

Pada perencanaan pada siklus II yang disesuaikan dengan kegiatan refleksi yang dilakukan peneliti dengan guru mata pembelajaran IPS, maka perencanaan untuk tindakan siklus II dilakukan dengan cermat untuk mengantisipasi masalah- masalah yang dapat mengakibatkan hasil penelitian tidak sesuai dengan harapan.

Perencanaan yang dilakukan adalah 1) bersama guru mata pembelajaran menyiapkan waktu untuk melakukan tindakan siklus II, 2) berkoordinasi dengan guru mata pembelajaran dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dilengkapi LKS yang langkah-langkah pembelajarannya diarahkan pada pendekatan saintifik dengan penilaian proyek untuk materi yang akan diajarkan, 3) menyusun lembar penilaian proyek dan tes/evaluasi.

Hasil yang diperoleh pada siklus II yaitu: (a) tingkatan pengetahuan IPS siswa kelas IV pada mata pembelajaran IPS setelah diadakan penelitian yaitu pada siklus II didapat M(%) sebesar 100% dapat digolongkan dalam kriteria Sangat Tinggi.

(b) tingkat sikap sosial siswa kelas IV pada mata pembelajaran IPS setelah diadakan penelitian yaitu pada siklus II didapat M(%)

sebesar 87.63% dapat digolongkan dalam kriteria Tinggi.

Melihat hasil diatas penulis melakukan refleksi bahwa hasil yang sangat diharapkan. Rata-rata pengetahuan IPS siswa mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 74.7 menjadi 87.5 pada siklus II. Tingkat pengetahuan IPS siswa pada siklus II juga mengalami peningkatan dari sebelumnya 74.7% pada siklus I menjadi 87.5% pada siklus II. Persentase pengetahuan IPS siswa setelah dikonversi kedalam PAP (Penilaian Acuan Patokan) skala lima didapatkan tingkatan pengetahuan IPS siswa setelah diterapkannya pendekatan saintifik dengan penilaian proyek pada siklus I berada pada kriteria 60% yaitu kriteria rendah (55% – 64%). Pada siklus II, tingkat pengetahuan IPS siswa berada pada 100% kriteria sangat tinggi (90% – 100%). Ketuntasan klasikal sudah mencapai 100% pada siklus II dimana 38 dari 38 siswa sudah mencapai Kriteria Ketuntasa Maksimal (KKM) yang ditetapkan sekolah untuk mata pelajaran IPS sebesar 75.

Rata-rata skor sikap sosial siswa mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 68.15 menjadi 87.63 pada siklus II.

Tingkat sikap sosial siswa pada siklus II juga mengalami peningkatan dari sebelumnya 68.15% pada siklus I menjadi 87.63% pada siklus II. Penelitian tindakan dipandang berhasil meningkatkan hasil belajar pengetahuan IPS dan sikap sosial dan tidak perlu dilanjutkan ke siklus ke III.

Ringkasan data di atas dapat diperhatikan pada tabel 1.

Tabel 1. Tabel Data Peningkatan Pengetahuan IPS dan Sikap Sosial Siswa Kelas IV SD Negeri 26 Pemecutan Siklus I dan Siklus II

Variabel Siklus I Siklus II Peningkatan

Hasil belajar IPS 74.7% 87.5% 12.8%

Ketuntasan klasikal

60% 100%

40%

Tingkat sikap sosial 68.15% 87.63% 19.48%

(8)

Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di kelas IV semester 2 SD Negeri 26 Pemecutan, dengan subjek penelitian berjumlah 38 siswa pada mata pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek. Penelitian ini dilaksanakan dengan dua siklus, masing-masing siklus dilakukan 3 kali pertemuan yaitu pertemuan pertama dan kedua adalah pelaksanaan tindakan dengan penerapan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek sedangkan pertemuan ketiga adalah pemberian tes akhir siklus dan pengangketan sikap sosial.

Dalam penelitian ini akan dibahas deskripsi prasiklus, persiklus dan antar siklus.

Sebelum diterapkan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek, kegiatan pembelajaran di kelas cenderung pasif. Hal tersebut disebabkan karena guru menerapkan model pembelajaran yang bersifat konvensional dengan metode klaksikal, dimana siswa tidak mempunyai kesempatan untuk menyampaikan respon atas stimulus yang diberikan guru. Sebelum diterapkan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek, terlebih dahulu dilakukan refleksi awal untuk mengetahui nilai pengetahuan IPS siswa kelas IV.

Berdasarkan refleksi awal, pengetahuan IPS siswa SD Negeri 26 Pemecutan berada pada kategori rendah. Pengetahuan IPS pada ulangan harian siswa masih tergolong rendah, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Pengetahuan IPS yang dinilai pada penelitian ini meliputi rata-rata pengetahuan IPS. Setelah diterapkan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek rata-rata pengetahuan IPS pada siklus I sebesar 74.7% yang tergolong pada kategori sedang dan tingkat ketuntasan siswa secara klasikal sebesar 60%. Hasil pada siklus I belum sesuai dengan yang diharapkan peneliti walaupun rencana tindakan sudah dapat dilaksanakan sesuai dengan skenario pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh beberapa kendala yang peneliti temui pada saat melaksanakan proses pembelajaran pada siklus I.

Kendala-kendala pada siklus I meliputi: (1) Pada awal kegiatan pembelajaran dimulai beberapa siswa masih terlihat ribut dan tidak fokus mengikuti pembelajaran karena apersepsi yang diberikan kurang berkaitan

langsung dengan materi yang akan ajarkan.

(2) siswa dalam fase mengamati mengalami kesulitan dalam membuat pedoman observasi. (3) siswa kurang antusias mengumpulkan informasi dalam kelompok sehingga dalam fase mengumpulkan informasi perlu ditambah suber-sumber yang lebih menarik siswa. (4) suruhan dalam LKS sebagai penilaian proyek perlu disederhanakan. (5) siswa belum terbiasa membuat kesimpulan secara individu.

Hasil refleksi pada siklus I dilakukan dengan cermat sehingga kendala-kendala yang menyebabkan tidak optimalnya hasil penelitian ini dapat dhindari. Kendala- kendala pada siklus I dapat diatasi dengan bantuan dari berbagai pihak diantaranya:

(1) pada awal pembelajaran pemusatan perhatian siswa lebih ditekankan dengan menampilkan sebuah gambar, hal tesebut sangat berhasil membuat siswa terpokuskan. (2) guru memberikan rambu- rambu dalam membuat pedoman pengamatan/observasi. Ini sangat sesuai dengan prinsip-prinsip penilaian proyek (3) guru membuat sumber belajar dengan kata- kata yang sederhana, diertai gambar dengan desain menarik yang disukai siswa usia sekolah dasar, sehingga siswa sangat antusias dalam mencari informasi. (4) guru selalu membimbing siswa yang mengalami kesulitan ketika menjalankan observasi. (5) guru mengkerucutkan setiap hal-hal yang menjadi roh materi pembelajaran sehingga siswa mudah dalam menyimpulkan pembelajaran. Dari beberapa perbaikan hal tersebut sehingga pengetahuan IPS pada siklus II meningkat sebesar 87,5% yang tergolong pada kategori tinggi dan tingkat ketuntasan siswa secara klasikal sebesar 100%.

Dalam penerapan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek membuat siswa selalu harus berinteraksi dengan orang lain sehingga rasa toleransi, gotong royong, dan tanggung jawab mereka setelah beberapa kali mengikuti pembelajaran meningkat.

Siswa yang awalnya kurang senang mendengarkan pendapat teman menjadi sangat senang mendengarkan pendapat temannya, dalam mengerjakan tugas kelompok siswa yang awalanya tidak ikut

(9)

aktif berpartisipasi menjadi selalu ikut berpartisipasi. Siswa juga mulai berani jika menemukan kesulitan dalam belajar. Hal- hal tersebut sebagai bukti meningkatnya sikap sosial siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan penerapan pendekatan saintifik dengan penialaian proyek. Ini juga terlihat dari tingkat sikap sosial siswa pada siklus I 68.15% menjadi 87.63% pada siklus II ini terjadi peningkatan yang besar yaitu 19.48%.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan atas permasalahan yang dirumuskan dan hasil yang diperoleh dari penelitian maka dapat disimpulkan hal-hal berikut. (1) Penerapan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek pada siswa kelas IV SD Negeri 26 Pemecutan, dapat meningkatkan hasil belajar pengetahuan IPS siswa. Hal ini ditunjukkan persentase rerata hasil belajar IPS siswa pada siklus I mencapai 74.7% yang berada pada kategori sedang dan mengalami peningkatan pada siklus II mencapai 87.5%

berada pada kategori tinggi, ini terjadi peningkatan sebesar 12.8%. (2) Penerapan pendekatan saintifik dengan penilaian proyek pada siswa kelas IV SD Negeri 26 Pemecutan, dapat meningkatkan sikap sosial siswa. Hal ini ditunjukkan persentase rerata skor sikap sosial siswa pada siklus I mencapai 68.15% yang berada pada kategori sedang dan mengalami peningkatan pada siklus II mencapai 87.63% berada pada kategori tinggi, ini terjadi peningkatan sebesar 19.48%.

DAFTAR PUSTAKA

Agung, A.A Gede. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan.

Singaraja: Ikip Singaraja

________. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha

Ahmadi, Abu. 2009. Psikologi Sosial.

Jakarta: Rineka Cipta

Darmadi, Hamid. 2013. Dimensi-dimensi Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial. Bandung: Alfabeta

Daryanto. 2014. Pendekatan Pembelajaran Saintifik. Yogyakarta: Gava Media

Depdiknas. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional

_______. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 81A 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional

Gunawan, Rudy. 2011. Pendidikan IPS Filosofi, Konsep dan Aplikasi.

Bandung: Alfabeta

Indrawati, Wahyuni. 2013. Pengaruh Implementasi Teknik Klarifikasi Nilai (TKN) Bermuatan Masalah Konstektual Terhadap Sikap Sosial dan Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas V SD Di Gugus III Patimura Kecamatan Denpasar Selatan. Singaraja:

Universitas Pendidikan Ganesha Kurniasih, Imas dan Berlin Sani. 2014.

Sukses Mengimplementasikan Kurikulum 2013. Jakarta: Kata Pena

_______. 2014. Mengimplementasikan Kurikulum 2013. Jakarta: Kata Pena

Kurniawan, Deni. 2014. Pembelajaran Terpadu Tematik. Bandung:

Alfabeta

Kunandar. 2013. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Purwanto. 2014. Evaluasi Hasil Belajar.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sagala, Syaiful. 2012. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta Samlawi, Fakih. 1999. Konsep Dasar IPS.

Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar

(10)

Sapriya. 2014. Pendidikan IPS. Bandung:

PT Remaja Rosdakarya

Setyosari, Punaji. 2012. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan.

Jakarta: Kencana

Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Sudjana, Nana. 2013. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar.

Jakarta: Prenada Media Group Undiksha. 2013. Pedoman Penulisan

Skripsi dan Tugas Akhir.

Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha

Widoyoko, Eko Putro. 2014. Hasil Pembelajaran di Sekolah.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Gambar

Tabel 1.  Tabel  Data  Peningkatan  Pengetahuan  IPS  dan  Sikap  Sosial  Siswa  Kelas  IV  SD  Negeri 26 Pemecutan Siklus I dan Siklus II

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan IPS antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik

Hasil wawancara dengan guru pengampu bidang studi Matematika SD Lab Undiksha Singaraja di kelas IV didapatkan hasil, (1) siswa kurang memperhatikan penjelasan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran

Hal ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara kelompok siswa yang dibelajarkan

Tujuan dari wawancara ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak berwawancara diminta pendapat mengenai kemampuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan

Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Kartiwi (2010) menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika siswa yang mengikuti model pembelajaran berbasis masalah lebih

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Conceptual