PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP HASIL
BELAJAR PENGETAHUAN PKN DITINJAU DARI KARAKTERISTIK
PERTANYAAN GURU PADA SISWA KELAS IV
SD GUGUS RADEN AJENG KARTINI
KECAMATAN DENPASAR BARAT
Ni Wayan Widyaningsih
1, Made Putra
2, I Nengah Suadnyana
31,2,3
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected]
1, [email protected]
2,
[email protected]
3Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan dengan jawaban tertunda dan siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan dengan jawaban segera pada siswa kelas IV SD Gugus Raden Ajeng Kartini Kecamatan Denpasar Barat. Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimen dengan desain penelitian yang digunakan adalah pra tes – pasca tes kelompok statis. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Gugus Raden Ajeng Kartini Kecamatan Denpasar Barat yang terdiri dari 8 sekolah dan didalamnya terdapat 21 kelas. Sampel diambil dengan teknik random
sampling. Data yang dikumpulkan adalah hasil belajar pengetahuan PKn yang
menggunakan tes hasil belajar bentuk pilihan ganda. Kemudian data dianalisis dengan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan dengan jawaban tertunda dan siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan dengan jawaban segera. Berdasarkan hasil uji-t didapat thitung = 0.51 dan pada taraf signifikansi 5% diperoleh ttabel =1.99. Berdasarkan kriteria pengujian thitung < ttabel (0.51<1.99) maka H0 diterima. Rata-rata hasil belajar pengetahuan PKn yang diperoleh kelompok siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan jawaban tertunda yaitu 82.46 dan rata-rata hasil belajar pengetahuan PKn yang diperoleh kelompok siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan jawaban segera yaitu 81.44. Dapat disimpulkan bahwa penerapan pedekatan saintifik ditinjau dari karakteristik pertanyaan guru tidak berpengaruh terhadap hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelas IV SD Gugus Raden Ajeng Kartini Kecamatan Denpasar Barat.
Kata kunci: pendekatan saintifik, pertanyaan guru, hasil belajar
pengetahuan PKn
Abstract
This research aims was to determine the differences of civic learning outcomes between students learned through scientific approach by using questions with delayed answers and studentsl earned through scientific approach by using question swith
immediate answers of fourth grade student in SD Gugus Raden Ajeng Kartini West Denpasar District. This research was a pre-experimental which used Pretest-post-test static group as the research design. The populations of this research were all students of fourth grade in SD Gugus Raden Ajeng Kartini West Denpasar District that consist of eight schools and twenty one classes. The samples were taken by a random sampling technique. The data collectedwas the result of learning civics knowledge which used the test results to learn multiple choices. Then, the datawere analyzed by t-test. The results show that there is no significant difference in civic knowledge learning outcomes between students who learned through scientific approach using questions with delayed answerand students who learned through scientific approach using questions with immediate answers. Based on the t-test result obtained tcount = 0.51 and ttable on 5% significant level = 1,99. Based on the testing criteria tcount < ttable (0.51 < 1,99) then H0 accepted. The average results of civic knowledge learning between students learned through scientific approach using questions with delayed answers is 82.46. And the average results of civic knowledge learning between students learned through scientific approach using questions with immediate answers is 81.44. It can be concluded that application of scientific approach in terms of the characteristics of a teacher's question has no effect on civic learning of fourth grade students in SD Gugus Raden Ajeng Kartini West Denpasar District.
Keywords : scientific approach, teacher’s questions, civic learning outcomes
PENDAHULUAN
Kurikulum yang berlaku di Indonesia pada saat ini dikenal dengan sebutan
kurikulum 2013. Kurikulum 2013
mendefinisikan Standar Kompetensi
Lulusan (SKL) mengenai kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Acuan dan
prinsip penyusunan kurikulum 2013
mengacu pada pasal 36 Undang-undang No. 20 tahun 2003 yang menyatakan
bahwa penyusunan kurikulum harus
memperhatikan peningkatan iman dan
takwa; peningkatan akhlak mulia;
peningkatan potensi, kecerdasan dan minat siswa; keragaman potensi daerah dan lingkungan; tuntutan pembangunan daerah
dan nasional; tuntutan dunia kerja;
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni; agama; dinamika perkembangan global dan persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
Tujuan pembelajaran menurut kurikulum 2013 disesuaikan dengan tujuan pendidikan nasional yang dinyatakan pada pasal 3 UU No 20 tahun 2003, yakni : “ Berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Berdasarkan pada landasan yuridis
tersebut, dapat dikatagorikan hasil belajar yang dicapai oleh siswa, meliputi sikap spiritual (beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa), Sikap Sosial (Berakhlak mulia, sehat mandiri dan
demokratis serta bertanggung jawab,
pengetahuan (berilmu) dan keterampilan (cakap dan kreatif).
Salah satu tujuan pembelajaran yang menghendaki terbentuknya warga negara yang demokratis dan bertanggung merupakan tujuan muatan ajar PKn. Selain itu pembelajaran PKn juga berkaitan dengan nilai, moral dan norma yang menuntun kearah pengenalan jati diri manusia dan kehidupannya.
Namun dalam aplikasinya,
pembelajaran PKn kurang diminati karena penyajian materinya yang bersifat hafalan belaka, sehingga pembelajaran PKn hanya
dalam bentuk konsep dan kurang
fungsional untuk menjadi acuan perilaku praksis. Daya tarik terhadap pembelajaran PKn yang lemah disebabkan karena materi dan metodenya tidak menantang siswa secara intelektual (Susanto, 2013 : 224). Proses pembelajaran PKn yang cenderung membosankan tentu akan berpengaruh terhadap hasil belajar PKn siswa. Menurut Darmansyah (2006 :13) hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa yang ditentukan dalam bentuk angka.
Kualitas proses belajar merupakan salah satu unsur yang berpengaruh terhadap hasil belajar, baik secara kognitif maupun afektif. Lebih lanjut Hamalik (2006:30) menyatakan bahwa hasil belajar adalah apabila siswa telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Dalam sistem pendidikan nasional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benjamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris (Sudjana, 2012 : 22). Ranah Kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek,
yakni pengetahuan atau ingatan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.
Hasil belajar pengetahuan PKn
adalah hasil aktivitas belajar yang berupa
kemampuan-kemampuan intelektual
mengenai pemerintahan, tata cara
demokrasi, tentang kepedulian, sikap dan pengetahuan politik pada periode tertentu yang dinyatakan dalam bentuk nilai-nilai atau angka (Susanto (2013 :228).
Banyak faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar, karena belajar merupakan hal yang cukup kompleks. Menurut Gagne (dalam Sunaryo, 1989:87) menyatakan bahwa, faktor- faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu Faktor Internal (dari dalam individu yang belajar). Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor yang mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain yaitu : motivasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya. Dan faktor eksternal (dari luar individu yang belajar). Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar siswa. Adapun faktor yang mempengaruhi
adalah mendapatkan pengetahuan,
penanaman konsep dan keterampilan, dan pembentukan sikap.
Selanjutnya dikemukakan oleh
Wasliman (2007 : 159) bahwa semakin tinggi kemampuan belajar siswa dan kualitas pembelajaran di sekolah maka semakin tinggi hasil belajar siswa demikian juga sebaliknya. Untuk mencapai hasil belajar PKn yang tinggi diperlukan usaha untuk mengembangkan pembelajaran di
sekolah. Salah satu usaha
mengembangkan pembelajaran PKn dapat dilakukan dengan mengadakan inovasi
dalam strategi pembelajaran dan
pengelolaan kelas.
Usaha tersebut telah dilakukan dalam
implementasi kurikulun 2013, melalui
penerapan pendekatan saintifik dalam
proses pembelajaran di sekolah.
Pendekatan saintifik yang disebut juga pendekatan ilmiah (Scientific Approach) berkaitan erat dengan metode saintifik. Metode saintifik (ilmiah) pada umumnya melibatkan kegiatan pengamatan atau
observasi yang dibutuhkan untuk
perumusan hipotesis atau mengumulkan data. Metode ilmiah pada umumnya dilandasi dengan pemaparan data yang
diperoleh melalui pengamatan atau
percobaan.(Sani,2014:50).
Komara(2014:88) juga mengemukakan bahwa metode ilmiah umumnya merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala,
memperoleh pengetahuan baru atau
mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya.
Untuk dapat disebut ilmiah, metode
pencarian (method of inquiry) harus
didasarkan pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang
spesifik. Pendekatan ilmiah memiliki
komponen proses pembelajaran antara lain mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengomunikasi(Sani, 2014 : 53).
Pengalaman belajar dalam
pembelajaran saintifik ini tidak harus dilakukan mengikuti prosedur yang kaku, namun disesuaikan dengan pengetahuan
yang hendak dipelajari. Pada suatu
pembelajaran mungkin dilakukan observasi terlebih dahulu sebelum memunculkan pertanyaan, namun pada pelajaran yang lain mungkin siswa mengajukan pertanyaan
terlebih dahulu sebelum melakukan eksperimen dan observasi.
Inti dari penerapan pendekatan saintifik ini adalah menciptakan siswa yang kreatif dan inovatif sehingga dapat mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri. Pengetahuan
yang dibangun sendiri oleh siswa akan lebih bermakna dibanding pengetahuan yang hanya diberikan oleh guru ( transfer ilmu). Selain itu dengan diberi kesempatan membangun pengetahuannya sendiri akan memberikan tantangan secara intelektual kepada siswa.
Keberhasilan penerapan pendekatan
saintifik dalam mengembangkan
pembelajaran di sekolah perlu ditunjang oleh kemampuan guru yang memadai. Guru
hendaknya menguasai delapan
keterampilan dasar mengajar yaitu
keterampilan membuka pelajaran,
keterampilan bertanya, keterampilan
memberi penguatan, keterampilan
mengadakan variasi, keterampilan
menjelaskan, keterampilan mengelola kelas dan keterampilan belajar perseorangan (Sardiman 2005 : 193)
Salah satu keterampilan mengajar yang berperan penting dalam pembelajaran saintifik adalah keterampilan bertanya. Guru mengajukan pertanyaan untuk merangsang siswa berpikir tentang hubungan, alternatif dan kemungkinan baru. Selain itu guru juga
mengajukan pertanyaan dalam upaya
memotivasi siswa untuk mengajukan
pertanyaan. Sehingga keterampilan guru bertanya akan mempengaruhi keberhasilan
proses menanya dalam penerapan
pendekatan Saintifik.
Pertanyaan yang yang baik menurut memiliki beberapa komponen yaitu (1) pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat, (2) pemberian acuan, (3) fokus pertanyaan, (4) pemindahan giliran, (5) penyebaran, (6) pemberian waktu berpikir, dan (7) pemberian tuntunan (Rusman, 2011 : 82) . Dari beberapa komponen tersebut, salah satu yang perlu diperhatikan adalah pemberian waktu berpikir. Kebanyakan guru tidak sabar untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan, karena menganggap hal tersebut lebih efektif. Atau seringkali
guru setelah mengajukan pertanyaan
langsung menunjuk salah satu siswa untuk
menjawab sehingga mengabaikan waktu tunggu yang seharusnya diberikan kepada siswa untuk memikirkan pertanyaan dan jawaban yang akan diberikan.
Waktu tunggu memegang peranan yang penting karena siswa harus diberi waktu yang cukup untuk mengolah pertanyaan
tersebut dalam pikirannya. Makna
mengolah disini mencakup tahap
memahami makna pertanyaan sebelum siswa menganalisis segala kemungkinan
jawaban dan merumuskan jawaban.
Dengan adanya waktu tunggu yang
diberikan kepada siswa untuk memahami pertanyaan dan memikirkan jawaban atas pertanyaan tersebut maka berarti guru telah memberikan pertanyaan dengan jawaban tertunda kepada siswa. Waktu tunggu yang
diberikan sejak pertanyaan diajukan
berkisar antara 3 - 5 menit (Harsanto, 2007 :75). Dengan waktu tunggu 3-5 menit tersebut, akan ada banyak dampak yang diperoleh seperti lebih banyak siswa yang dapat menanggapi pertanyaan tersebut secara tepat, tingkat kepercayaan diri siswa meningkat saat memberikan tanggapan,
meningkatkan kemampuan berpikir
spekulatif dan prediktif dalam diri siswa, memancing siswa mengajukan pertanyaan lebih banyak tetapi masalah kedisiplinan siswa dalam menjawab pertanyaan menjadi menurun.
Pertanyaan dengan jawaban tertunda yang memberikan waktu berpikir pada siswa biasanya merupakan pertanyaan tingkat lanjut. Dalam taksonomi Bloom pertanyaan tersebut tergolong pada tingkat kognitif tinggi mulai dari pertanyaan yang bersifat pemahaman, aplikasi (penerapan), analisis, sintesis dan evaluasi. Jenis
pertanyaan dengan jawaban tertunda
diawali dengan kata mengapa, bagaimana pendapatmu, jelaskan terjadinya, dan yang sejenis (Anitah, 2008, 7.12).
Dengan tidak memberikan waktu
tunggu bagi siswa untuk menyusun
jawaban akan menimbulkan berbagai akibat negatif dalam diri siswa yang tertunjuk, antara lain siswa merasa terpojok atau merasa tidak mampu menjawab. Padahal jika diberi waktu yang cukup, kemungkinan besar ia dapat memberi jawaban yang benar ( Harsanto, 2011 : 77)
Pertanyaan yang tidak memberikan
waktu tunggu kepada siswa untuk
menyusun jawaban setelah pertanyaan itu
diajukan disebut pertanyaan jawaban
segera. Pertanyaan yang digunakan guru merupakan pertanyaan tingkat dasar yang bersifat ingatan, seperti menanyakan apa, siapa, dimana atau berapa sehingga proses mental yang terjadi dalam diri siswa rendah karena siswa tidak perlu berpikir, tetapi hanya mengingat ( Anitah, 2008 : 7.12).
Pertanyaan yang diajukan guru dengan memberikan waktu tunggu untuk siswa
memikirkan jawabannya akan
mempengaruhi jawaban yang diberikan siswa seperti tanggapan yang diberikan siswa akan lebih panjang dan lengkap serta meningkatkan kepercayaan diri siswa. Sehingga dapat mengembangkan proses berpikirnya dan kualitas hasil belajarnya.
Sedangkan pertanyaan dengan
jawaban segera, siswa tidak diberikan waktu tunggu untuk memikirkan jawaban setelah pertanyaan diajukan sehingga jawaban siswa cenderung spontan dan kurang spesifik. Sehingga proses berpikir yang terjadi dalam diri siswa rendah karena cenderung jawaban yang diberikan hanya berdasarkan pada ingatan siswa.
Keterampilan guru dalam memilih ada
atau tidaknya waktu tunggu setelah
mengajukan pertanyaan akan berpengaruh pada proses berpikir siswa. Kualitas proses berpikir yang terjadi pada siswa saat pembelajaran berlangsung akan berkaitan dengan hasil belajar yang diperoleh siswa dalam berbagai muatan ajar, seperti muatan ajar PKn. Pertanyaan yang mampu mengembangkan proses berpikir siswa
berarti akan berdampak positif juga
terhadap hasil belajar siswa, sebaliknya pertanyaan yang kurang mengembangkan proses berpikir siswa berarti juga tidak memberi pengaruh yang berarti pada hasil belajar siswa.
Dari uraian diatas, maka diuji
cobakanlah pendekatan saintifik yang
ditinjau dari karakteristik pertanyaan guru yang memerlukan jawaban tertunda dan jawaban segera terhadap hasil belajar pengetahuan PKn dengan melaksanakan
penelitian yang berjudul “Pengaruh
Pendekatan Saintifik Terhadap Hasil Belajar
Pengetahuan PKn Tema Tempat Tinggalku Ditinjau dari Karakteristik Pertanyaan Guru pada Siswa kelas IV SD Gugus Raden Ajeng Kartini Kecamatan Denpasar Barat ”.
Berdasarkan judul tersebut, maka
tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui hasil belajar pengetahuan PKn siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan dengan jawaban tertunda pada kelas IV SD Gugus Raden Ajeng Kartini Kecamatan Denpasar Barat ; (2) Untuk mengetahui hasil belajar pengetahuan PKn siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan dengan jawaban segera pada kelas IV SD Gugus Raden Ajeng Kartini Kecamatan Denpasar Barat; (3) Untuk
mengetahui terdapat atau tidaknya
perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara kelompok siswa
yang dibelajarkan melalui pendekatan
saintifik menggunakan pertanyaan dengan jawaban tertunda dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan dengan jawaban segera pada kelas IV SD Gugus Raden Ajeng Kartini Kecamatan Denpasar Barat.
METODE
Penelitian ini pada dasarnya
bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan pendekatan saintifik ditinjau dari
karakteristik pertanyaan guru yang
memerlukan jawaban tertunda dan segera terhadap hasil belajar pengetahuan PKn
siswa, dengan memanipulasi variabel
bebas dalam strategi pembelajaran yang digunakan, namun belum menggunakan kontrol untuk variabel lain sehingga desain penelitian yang digunakan adalah desain pra eksperimen
Desain pra eksperimen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah desain prates-pascates kelompok statis (Sukmadinata, 2012 :209). Rancangan penelitian ini hanya memperhitungkan skor pasca tes saja yang dilakukan pada akhir penelitian atau dengan kata lain tanpa memperhitungkan skor pra tes. Dalam penelitian ini skor pra tes digunakan untuk menguji keseteraan sampel yakni antara siswa kelompok A dengan siswa kelompok B. Hal tersebut didukung oleh pendapat
Dantes (2012: 97) yang menyatakan bahwa pemberian pra tes biasanya untuk mengukur ekuivalensi atau penyetaraan kelompok.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan akhir penelitian. Pada tahap persiapan Penelitian langkah-langkah yang dilakukan yaitu, 1)
menyusun Rancangan Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), 2) menyusun media dan sumber belajar pembelajaran (alat peraga, LKS, silabus, dan kurikulum) yang nantinya digunakan selama pembelajaran pada kelompok A dan B, 3) menyusun instrumen penelitian berupa tes hasil belajar pada ranah kognitif/ pengetahuan untuk mengukur hasil belajar pengetahuan PKn siswa 4) mengadakan validasi instrumen
penelitian yakni tes hasil belajar
pengetahuan PKn. Pada saat pelaksanaan
penelitian langkah-langkah yang akan
dilakukan yaitu; 1) menentukan sampel penelitian berupa kelas dari populasi yang tersedia, 2) melaksanakan pra tes untuk uji kesetaraan sampel, 3) dari sampel yang telah diambil kemudian diundi untuk menentukan kelompok A dan kelompok B
4) melaksanakan penelitian yaitu
memberikan perlakuan kepada kelompok A berupa pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan dengan jawaban tertunda dan kelompok B yang diberi perlakuan berupa
pendekatan saintifik menggunakan
pertanyaan dengan jawaban segera. Pada tahap akhir penelitian, langkah-langkah yang akan dilakukan adalah memberikan post-test pada akhir penelitian, baik untuk kelompok A maupun kelompok B. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas IV SD Gugus Raden Ajeng Kartini Kecamatan Denpasar Barat tahun ajaran 2014/2015. Gugus Raden Ajeng Kartini terdiri dari 8 sekolah yaitu SDN 19 Pemecutan, SDN 15 Pemecutan, SDN 26 Pemecutan, SDN 27 Pemecutan, SDN 32 Pemecutan, SD Anak Mas, MI QUBA , SD Negeri Muhammadiya 3 Denpasar
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah random sampling yaitu dengan mengacak kelas yang sudah ada pada populasi untuk dijadikan sebagai
sampel penelitian. Pemilihan sampel
penelitian ini tidak dilakukannya
pengacakan individu, karena tidak bisa mengubah kelas yang telah terbentuk sebelumnya. Kelas yang dipilih telah terbentuk tanpa campur tangan peneliti dan tidak dilakukannya pengacakan individu,
kemungkinan pengaruh-pengaruh dari
keadaan subjek mengetahui dirinya
dilibatkan dalam penelitian dapat dikurangi
sehingga penelitian ini benar-benar
menggambarkan pengaruh perlakuan yang diberikan.
Cara yang digunakan untuk
menentukan sampel yaitu dengan
memberikan nomor urut pada setiap kelas yang ada di SD Gugus Raden Ajeng Kartini Kecamatan Denpasar Barat kemudian dilakukan randomisasi. Berdasarkan hasil random, didapatkan dua kelas sebagai sampel yaitu kelas IV B di SD Negeri 27 Pemecutan dan kelas IV B di SD Negeri 26 Pemecutan. Untuk menentukan siswa yang akan digunakan sebagai sampel penelitian maka dilakukan matching terhadap hasil pra tes siswa dari kedua sekolah. Siswa di SD Negeri 27 Pemecutan diberi kode A dan siswa di SD Negeri 26 Pemecutan diberi kode B.
Penelitian ini memiliki dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
pendekatan saintifik menggunakan
pertanyaan dengan jawaban tertunda
diterapkan pada kelompok A dan
pendekatan saintifik menggunakan
pertanyaan dengan jawaban segera
diterapkan pada kelompok B. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelas IV.
Definisi operasional variabel yang dimaksud dalam penelitian ini mencakup
pendekatan saintifik menggunakan
pertanyaan dengan jawaban tertunda,
pendekatan saintifik menggunakan
pertanyaan dengan jawaban segera dan hasil belajar pengetahuan PKn siswa.
Pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan jawaban tertunda adalah adalah
pendekatan pembelajaran yang
memandang proses pembelajaran sebagai
kegiatan yang ilmiah (mengamati,
menanya, mencoba, menalar dan
pembelajaran tersebut guru menggunakan
pertanyaan-pertanyaan kognitif tingkat
tinggi sehingga siswa diberikan waktu tunggu sekitar 3-5 menit untuk memahami pertanyaan dan memikirkan jawabannya.
Pendekatan saintifik menggunakan
pertanyaan jawaban segera adalah adalah
pendekatan pembelajaran yang
memandang proses pembelajaran sebagai
kegiatan yang ilmiah (mengamati,
menanya, mencoba, menalar dan
mengkomunikasikan) dan dalam
pembelajaran tersebut guru menggunakan
pertanyaan-pertanyaan kognitif tingkat
rendah sehingga setelah pertanyaan
diajukan siswa harus segera menjawab pertanyaan tersebut.
Hasil belajar pengetahuan PKn yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu hasil aktivitas belajar yang berupa kemampuan-kemampuan intelektual (kognitif) mengenai pemerintahan, tata cara demokrasi, tentang kepedulian, sikap dan pengetahuan politik pada periode tertentu yang dinyatakan dalam bentuk nilai-nilai atau angka. Nilai
aspek kognitif yang meliputi
pengetahuan(ingatan), pemahaman,
aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi diperoleh dari tes hasil belajar atau post – test yang diberikan pada akhir perlakuan, baik untuk kelompok A maupun kelompok B.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode tes. Instrumen yang digunakan adalah tes hasil belajar PKn. Sebelum digunakan, tes tersebut terlebih dahulu divalidasi secara teoritis dengan menyusun kisi-kisi soal dan dikonsultasikan dengan ahli, selanjutnya dilakukan validasi secara empirik dengan jumlah responden sebanyak 44 orang. Dari hasil uji instrumen yang meliputi uji validitas,uji daya beda, indeks kesukaran dan uji reliabilitas diperoleh 33 butir tes yang dinyatakan layak digunakan dalam penelitian dari total 50 butir tes yang diujicobakan.
Teknik yang digunakan untuk
menganalisis hasil belajar pengetahuan PKn dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis statistik yaitu uji-t. Sebelum dilaksanakannya uji-t terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi
uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varians.
Uji Normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah sebaran data skor hasil belajar pengetahuan PKn siswa masing-masing kelompok berdistribusi normal atau tidak sehingga dapat menentukan teknik analisis datanya. Uji Normalitas sebaran data dalam penelitian ini menggunakan uji Chi-kuadrat. Kriteria pengujian adalah jika x
2
hitung< x 2tabel, maka Ho diterima (gagal
ditolak) yang berarti data berdistribusi normal. Uji Homogenitas dilakukan untuk
menunjukkan bahwa perbedaan yang
terjadi pada uji hipotesis benar-benar terjadi akibat adanya perbedaan varians antar kelompok, bukan sebagai akibat perbedaan dalam kelompok.
Uji homogenitas dapat dilakukan apabila kelompok data tersebut berdistribusi normal. Uji homogenitas varians dilakukan dengan uji F. Kriteria pengujian, jika Fhit <
Ftabel maka sampel homogen. Analisis data
dalam penelitian ini menggunakan uji beda mean (uji-t) dengan rumus separated varians. Rumus separated varians digunakan apabila jumlah anggota sampel sama dan varians homogen. Kriterianya jika harga thitung < ttabel, maka Ho diterima, dan
jika harga thitung > ttabel maka Ho ditolak.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah hipotesis nol (Ho) yang berbunyi “tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui
pendekatan saintifik menggunakan
pertanyaan dengan jawaban tertunda
dengan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan dengan jawaban segera pada kelas IV SD Gugus Raden Ajeng Kartini Kecamatan Denpasar Barat. Rerata nilai hasil belajar pengetahuan PKn pada kelompok A yang dibelajarkan melalui
pendekatan saintifik menggunakan
pertanyaan dengan jawaban tertunda
adalah 82.46 dengan nilai tertinggi 94 dan nilai terendah 70. Varian kelompok A sebesar 58.12 dan standar deviasi 7.62.
Sedangkan rerata nilai hasil belajar
dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan jawaban segera adalah 81.44 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 70. Varian kelompok B sebesar 68.77 dan standar deviasi 8.29.
Sebelum dilakukan analisis data dengan uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas sebaran data kelompok A dan kelompok B.
Berdasarkan atas kurva normal, kelas interval, frekuensi observasi (fo) dan frekuensi empirik (fe) dari data hasil belajar pengetahuan PKn siswa pada kelompok A
diperoleh x2hit = 4.71 dan pada taraf
signifikan 5% dan derajat kebebasan (dk) = 5 diperoleh x2 tabel = x2 (α=0,05,5) = 11,07. Karena x2hit = 4,71 < x2 tabel (α=0,05,5) = 11,07 maka H0 diterima. Ini
berarti sebaran data hasil belajar
pengetahuan PKn pada kelompok A berdistribusi normal. Sedangkan data hasil belajar pengetahuan PKn siswa pada
kelompok B diperoleh x2hit = 7.65 dan pada
taraf signifikan 5% dan derajat kebebasan (dk) = 5 diperoleh x2 tabel = x2(α=0,05,5) = 11,07. Karena x2hit = 7.65 < x2 tabel (α=0,05,5) = 11,07 maka H0 diterima. Ini
berarti sebaran data hasil belajar
pengetahuan PKn pada kelompok A berdistribusi normal.
Selanjutnya dilakukan uji
homogenitas varians untuk membuktikan
perbedaan yang terjadi pada kedua
kelompok benar-benar terjadi akibat adanya perbedaan antar kelompok, bukan sebagai akibat adanya perbedaan individu dalam
kelompok. Berdasarkan perhitungan
menggunakan uji F dari Havley diperoleh Fhitung = 1,18 sedangkan Ftabel pada taraf signifikansi 5% dengan db pembilang = 31 dan db penyebut = 31 adalah 1,84. Ini berarti Fhitung = 1,18 < Ftabel (31,31) = 1,84. Ini berarti kedua kelompok memiliki varians yang homogen.
Berdasarkan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varians, diketahui bahwa
sampel berasal dari populasi yang
berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen. Dengan demikian uji hipotesis dengan menggunakan uji-t dapat dilakukan. Uji-t yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan rumus separated varians. Hal tersebut dikarenakan karena kelompok A dan kelompok B memiliki jumlah sampel yang sama dan data yang homogen. Berikut disajikan rekapitulasi hasil analisis data dengan menggunakan uji-t. pada Tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Analisis Uji-t
Kelompok
x
s2 n thitung ttabel KesimpulanKelompok A 82.46 58.12 32
0.51 1.99 thitung < ttabel
Kelompok B 81.44 68.77 32 H0 diterima
Uji hipotesis dengan menggunakan uji-t dalam penelitian ini menggunakan rumus separated varian karena jumlah sampel pada kedua kelompok sama dan varian homogen (Koyan, 2004 : 24). Dari perhitungan uji hipotesis menggunakan uji-t dengan rumus separated varians diperoleh thitung = 0,51. Nilai ttabel dihitung
dengan dk = n1 + n2 – 2, dk = 32 + 32 -2 =
62. Dari perhitungan di atas diperoleh ttabel
= 1,99. Dengan demikian, thitung = 0.51 < ttabel = 1,99, maka H0 diterima. Ini berarti
tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui
pendekatan saintifik menggunakan
pertanyaan dengan jawaban tertunda dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui
pendekatan saintifik menggunakan
pertanyaan dengan jawaban segera pada kelas IV SD Gugus Raden Ajeng Kartini
Kecamatan Denpasar Barat. Hasil
perhitungan uji hipotesis dibandingkan dengan nilai ttabel.. Nilai ttabel yang diperoleh
berdasarkan taraf signifikansi 5% adalah 1,99, karena thitung < ttabel maka Ho diterima .
Penerapan karakteristik pertanyaan guru yang teridiri dari pertanyaan dengan jawaban tertunda dan pertanyaan dengan jawaban segera tidak memberikan hasil belajar yang berbeda pada siswa karena
kedua jenis pertanyaan tersebut dapat mengembangkan cara berpikir siswa untuk memahami suatu materi, hanya saja teknik penyampaian pertanyaannya saja
yang berbeda. Sehingga dalam
penerapannya, sesungguhnya kedua jenis pertanyaan tersebut tidak dapat berdiri
sendiri, karena untuk memberikan
pertanyaan jawaban tertunda yang
tergolong pertanyaan dengan tingkat kognitif tinggi maka sebelumnya guru juga harus memberikan pertanyaan jawaban segera yang termasuk pertanyaan dengan tingkat kognitif rendah. Karena pertanyaan dengan kognitif rendah merupakan dasar sebelum beralih ke pertanyaan dengan
kognitif tinggi. Begitupun sebaliknya,
dalam pembelajaran guru tidak dapat hanya memberikan pertanyaan dengan
jawaban segera, tanpa memberikan
pertanyaan dengan jawaban tertunda, karena akan menghambat perkembangan proses berpikir siswa. Sesuai dengan pendapat Anitah (2008) bahwa jika guru hanya memberikan pertanyaan jawaban segera yang berupa ingatan semata, maka proses berpikir yang terjadi dalam diri siswa rendah karena siswa tidak perlu berpikir, tetapi hanya perlu mengingat. Sedangakn kalau guru menggunakan pertanyaan tingkat kognitif tinggi tanpa memberi pertanyaan pada tingkat kognitif rendah, maka akan membuat siswa
bingung dan dapat menghambat
perkembangan kemampuan berpikir kritis. Jadi pada dasarnya kedua pertanyaan ini
dalam penggunaanya tidak dapat
terpisahkan dan digunakan secara
berdampingan.
Karakteristik pertanyaan guru yang teridiri dari pertanyaan dengan jawaban tertunda dan pertanyaan dengan jawaban segera tidak berpengaruh terhadap hasil belajar pengetahuan siswa juga karena
dalam pembelajaran menggunakan
kurikulum 2013, siswa dapat memperoleh pengetahuan dari berbagai kegiatan ilmiah sesuai dengan pendekatan saintifik yang berupa mengamati, menanya, mencoba,
menalar dan mengkomunikasikan.
Sehingga pertanyaan guru dalam
pembelajaran hanya bagian kecil dari cara siswa memperoleh pengetahuan. Hal ini
didukung oleh pendapat Abidin (2013 : 127) yang menyatakan bahwa pendekatan saintifik diorientasikan guna membina kemampuan siswa memecahkan masalah melalui serangkaian aktivitas inkuiri yang
menuntut kemampuan berpikir kritis,
berpikir kreatif dan berkomunikasi dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa. Selain itu dalam pembelajaran yang memberi pengaruh terhadap hasil belajar siswa adalah rancangan pembelajaran secara keseluruhan yang meliputi strategi (pendekatan, model dan metode), tujuan, bahan ajar, media pembelajaran, serta evaluasi. Seperti pendapat Dick dan Carey ( dalam Iru, 2012 :5) yang menyebutkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.
SIMPULAN DAN SARAN
Rerata hasil belajar pengetahuan PKn pada siswa kelas IV B SD Negeri 27 Pemecutan sebagai kelompok A adalah 82.46, dengan presentase sebesar 31.25 % disekitar rata-rata, di bawah rata-rata sebesar 25%, dan di atas rata-rata
sebanyak 43.75 %. Hasil belajar
pengetahuan PKn siswa kelompok A yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik
menggunakan pertanyaan dengan
jawaban tertunda termasuk kategori baik. Rerata hasil belajar pengetahuan PKn pada siswa kelas IV B SD Negeri 26 Pemecutan sebagai kelompok B adalah 81.44 dengan presentase sebesar 31.25 % disekitar rata-rata, di bawah rata-rata sebesar 34.375%, dan di atas rata-rata
sebanyak 34.375 %. Hasil belajar
pengetahuan PKn siswa kelompok B yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik
menggunakan pertanyaan dengan
jawaban segera termasuk kategori baik. Dari perhitungan uji-t pada bab
sebelumnya, diperoleh thitung=0.51 dan
ttabel= 1.99. Kedua nilai tersebut
dibandingkan maka diperoleh thitung < ttabel
(0.51 < 1.99). Dari perbandingan ini maka
H0 diterima yang artinya tidak terdapat
perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn siswa yang dibelajarkan
melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan dengan jawaban tertunda dengan siswa yang dibelajarkan melalui
pendekatan saintifik menggunakan
pertanyaan dengan jawaban segera. Hal tersebut menyatakan bahwa tidak ada pengaruh penerapan pendekatan saintifik ditinjau dari karakteristik pertanyaan guru terhadap hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelas IV SD Gugus Raden Ajeng Kartini Kecamatan Denpasar Barat.
Berdasarkan hasil penelitian,
pembahasan dan kesimpulan, maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut.
(1) Kepada guru disarankan hasil
penelitian ini bisa dijadikan acuan dalam
pemilihan jenis pertanyaan dalam
pembelajaran. Guru dapat menggunakan pertanyaan dengan jawaban tertunda maupun pertanyaan jawaban segera dalam pembelajaran secara simultan karena kedua jenis pertanyaan tersebut membuat siswa berada pada kategori hasil belajar baik, (2) Kepada siswa disarankan lebih giat mengikuti kegiatan pembelajaran dan lebih aktif dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru baik pertanyaan dengan jawaban
segera maupun pertanyaan dengan
jawaban tertunda, (3) Kepada sekolah
disarankan sekolah melaksanakan
sosialisasi secara berkelanjutan mengenai
inovasi-inovasi pembelajaran kepada
guru-guru dalam membelajarkan siswa
dengan tujuan perubahan paradigm
proses pembelajaran di sekolah yang menunjang kredibelitas menjadi sekolah yang unggul dan inovatif, (4) Kepada
peneliti lain disarankan dapat
mengembangkan penelitian ini dengan meneliti dua kelompok yang salah satu menggunakan pertanyaan tersebut dan yang lainnya merupakan kelompok yang tanpa perlakuan pertanyaan.
DAFTAR PUSTAKA
Anitah,Sri,dkk.2008.Strategi Pembelajaran di SD.Jakarta : Universitas Terbuka
Dantes.2012.Metode Penelitian
.Yogyakarta : ANDI
Darmansyah.2006.Psikologi Belajar.
Jakarta : Rineka Cipta
Hamalik, Oemar.2011. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Harsanto,Radno.2007.Pengelolaan Kelas yang Dinamis.Yogyakarta: Kanisius Iru, La dan La Ode Safiun Arihi. 2012.
Analisis Penerapan Pendekatan, Metode, Strategi dan Model-model Pembelajaran . Yogyakarta : Multi Presindo
Komara, Endang . 2014. Belajar dan Pembelajaran Interaktif. Bandung : PT Refika Aditama
Sani, Ridwan Abdullah. 2014.
Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta : Bumi Aksara
Sardiman. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Sudjana, Nana.2012. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya
Sukmadinata, Nana Syaodih.2012.
Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya
Sunaryo. 1989. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Dekdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta : Kencana Prenada Media Grup