PENGADAAN BAHAN PUSTAKA PADA DINAS PERPUSTAKAAN SIBOLGA
KERTAS KARYA
DIAJUKAN SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MEMPEROLEH GELAR PROGRAM DIPLOMA III PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI
OLEH
MARTINA YUNI NAINGGOLAN 142201063
PROGRAM STUDI D3 PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
LEMBAR PERSETUJUAN
PENGADAAN BAHAN PUSTAKA PADA DINAS PERPUSTAKAAN SIBOLGA
OLEH
MARTINA YUNI NAINGGOLAN 142201063
Dosen Pembimbing,
NIP. 19560716 197903 2001
Dra. Zurni Zahara Samosir, M.Si.
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Kertas Karya : PENGADAAN BAHAN PUSTAKA PADA DINAS PERPUSTAKAAN SIBOLGA
Oleh : MARTINA YUNI NAINGGOLAN
NIM : 142201063
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dekan,
NIP. 19600805 198703 1001 Dr. Budi Agustono, MS
PROGRAM STUDI D-III PERPUSTAKAAN
Ketua,
NIP. 19780331 200501 2 003 Hotlan Siahaan, S.Sos., M.I.Kom.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan kertas karya dengan judul “Pengadaan Bahan Pustaka Pada Dinas Perpustakaan Sibolga”. Kertas karya ini dibuat dengan observasi dan dengan bantuan dari berbagai pihak untuk membantu penulis dalam menyelesaikan kertas karya sebagai tugas akhir.
Adapun tujuan penyusunan kertas karya ini merupakan salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan pendidikan Program Studi D3 Perpustakaan Universitas Sumatera Utara.Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, membimbing dan mendukung dalam penyusunan kertas karya. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.
2. Hotlan Siahaan, S.Sos., M.I.Kom
Dr. Budi Agustono. MS, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
3. Dra. Zurni Zahara Samosir, M.Si, selaku dosen pembimbing yang banyak membantu dan memberikan arahan dan masukan dalam pembuatan kertas karya.
, selaku ketua Program Studi D3 Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
4. Keluarga. Teristimewa untuk kedua orangtua, Bapak tercinta Mangapul Nainggolan dan Mama tercinta Lursi Manalu atas pengorbanannya. Kakak Elsida Yuni Nainggolan, adik Hotmatua, Febri dan Maria serta seluruh keluargaku atas cinta, dukungan, motivasi, saran, nasehat, dan doa yang selalu diberikan sehingga penulis tetap semangat dalam menyelesaikan kertas karya.
5. Kepada teman-teman seperjuangan stambuk 2014 jurusan Perpustakaan di bangku perkuliahan yang telahmemberikan semangat dan doa kepada penulis.
6. Teman-teman seperjuanganku, Agnes Martines, Norma Ranita, Tiara Elovani, Roulina Manullang atas perhatiannya yang selalu memberikan semangat dan membantu penulis dalam menyelesaikan kertas karya dengan baik. Ingatlah, kita pernah berjuang bersama-sama di satu universitas dan kelas yang sama selama 3 tahun.
7. Sahabatku, Media Sari Lestari dan adikku, Haryany Trifena, Desi Silitonga yang selalu mendukung dan memberi semangat.
Penulis menyadari penulisan kertas karya ini masih belum sempurna, untuk itu penulis mohon maaf apabila ada kata yang kurang tepat, yang tidak berkesinambungan karena penulis masih pemula dalam penulisan kertas karya ini.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca guna sempurnanya kertas karya ini dan memberikan manfaat bagi kita semua.
Medan, 24Agustus 2017 Penulis,
Martina Yuni Nainggolan NIM. 142201063
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
BAB I : PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan Penulisan ... 2
1.3. Manfaat Penelitian ... .2
1.3. Ruang Lingkup ... 3
1.4. Metode Pengumpulan Data ... 3
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perpustakaan Umum ... 4
2.1.1. Tujuan Perpustakaan Umum ... 5
2.1.2. Fungsi Perpustakaan Umum ... 6
2.1.3. Peran Perpustakaan Umum ... 7
2.2. Pengadaan Bahan Pustaka ... 9
2.2.1. Pengertian Pengadaan Bahan Pustaka ... 9
2.2.2. Fungsi Pengadaan Bahan Pustaka ... 10
2.2.3. Jenis Bahan Pustaka ... 12
2.3. Pemilihan Bahan Pustaka. ... 15
2.3.1. Metode Pemilihan Bahan Pustaka ... .15
2.3.2. Pihak yang Berwenang Memilih Bahan Pustaka ... 16
2.3.3. Prinsip Pemilihan Bahan Pustaka... .17
2.3.4. Alat Bantu Pemilihan Bahan Pustaka ... 18
2.4. Inventarisasi. ... 19
3.1. Sejarah Singkat Dinas Perpustakaan Sibolga ... 21
BAB III PEMBAHASAN 3.1.1. Visi dan Misi Dinas Perpustakaan Sibolga ... 22
3.1.2. Fungsi Dinas Perpustakaan Sibolga. ... 22
3.1.3. Tujuan Dinas Perpustakaan Sibolga ... 24
3.1.4. Jam Buka Dinas Perpustakaan Sibolga. ... 24
3.1.5. Struktur Organisasi ... 24
3.2. Sistem Pengadaan Bahan Pustaka ... .25
3.2.1. Pengadaan Melalui Pembelian ... 27
3.2.2. Pengadaan Melalui Hadiah/Sumbangan ... .29
3.2.3. Inventarisasi ... 31
3.3. Kendala/Hambatan Dalam Pengadaan Bahan Pustaka ... 33
BAB IV : PENUTUP 4.1. Kesimpulan. ... .35
4.2. Saran ... 35
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perpustakaan sangat diperlukan untuk pendidikan, penelitian/riset, dan pengabdian masyarakat. Perpustakaan akan dapat berfungsi dengan baik sebagai sumber informasi dan sumber belajar apabila di perpustakaan tersedia bahan pustaka yang menunjang kegiatan belajar. Dengan adanya bahan pustaka pengguna dapat belajar dan mencari informasi yang diinginkan. Bahan pustaka yang dapat menunjang kegiatan belajar adalah bahan pustaka yang secara terus- menerus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya.Pengadaan bahan pustaka adalah upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas bahan pustaka. Upaya peningkatan kualitas bahan pustaka dilakukan dengan mengadakan bahan pustaka yang belum dimiliki atau yang terbaru sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Sebaliknya, peningkatan kuantitas bahan pustaka adalah upaya peningkatan jumlah bahan pustaka agar kebutuhan pengguna dapat dipenuhi.
Dinas Perpustakaan Sibolga adalah salah satu perpustakaan umum yang selalu berusaha memberikan informasi yang up to date kepada para penggunanya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi dalam bentuk buku mengharuskan pustakawan bekerja keras untuk melaksanakan pemilihan atau menyeleksi buku dalam kegiatan pengadaan di Dinas Perpustakaan Sibolga.
Pustakawan harus mampu menyediakan buku-buku yang diminati oleh penggunanya, karena perpustakaan bertindak selaku penyimpan ilmu pengetahuan dan berperan dalam proses transformasi pengetahuan dan informasi. Perpustakaan dikatakan berhasil jika dapat memenuhi kebutuhan informasi yang relevan dengan kebutuhan pengguna.Perkembangan itu seharusnya menjadi acuan para pustakawan yang berkecipung di dunia perpustakaan untuk disikapi dengan sikap yang positif, jangan kita mundur untuk selalu memajukan perpustakaan, jadikan perpustakaan itu menjadi tempat basisnya informasi yang mudah dan gampang
dicari oleh pengguna, untuk itu perlu disiasati agar perpustakaan tidak ditinggalkan pengguna yakni dimulai dengan suatu pengembangan/pengadaan koleksi yang benar-benar update.
Bahan pustaka yang ada di Dinas Perpustakaan Sibolga tentu tidak langsung ada tanpa pengadaan bahan pustaka. Untuk itu perlu dilakukan pengadaan bahan pustaka yang diharapkan mampu memberikan informasi yang dibutuhkan pengguna secara mudah, cepat dan tepat. Dengan demikian Dinas Perpustakaan Sibolga dituntut untuk selalu mengadakan bahan pustaka dengan mengetahui perkembangan informasi. Dalam hal ini, penulis memilih Dinas Perpustakaan Sibolga sebagai objek untuk observasi karena penulis menganggap Dinas Perpustakaan Sibolga telah memiliki koleksi yang cukup banyak dan telah melaksanakan kegiatan kerja pengadaan bahan pustaka.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan kertas karya ini adalah
1. Untuk mengetahui proses kegiatan pengadaan bahan pustaka pada Dinas Perpustakaan Kota Sibolga.
2. Untuk mengetahui apa saja kendala yang ditemukan pada proses pengadaan bahan pustaka pada Dinas Perpustakaan Kota Sibolga.
1.3 Manfaat Penulisan
Kertas karya ini membahas tentang pengadaan bahan pustaka pada Dinas PerpustakaanSibolga yang memiliki manfaat bagi penulis, pembaca maupun penulisan selanjutnya. Adapun manfaat dalam penulisan kertas karya adalah sebagai berikut:
1. Manfaat bagi Dinas Perpustakaan Sibolga, dapat menambah jumlah variasi sumber referensi dan sebagai masukan untuk dapat meningkatkan atau memperhatikan kinerja dalam pengadaan bahan pustaka
2. Bagi penulis, dapat berlatih mengembangkan keterampilan dalam menulis kertas karya
3. Bagi penulisan selanjutnya, dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan menambah pengetahuan para pembaca mengenai pengadaan bahan pustaka
1.4 Ruang Lingkup
Sesuai dengan judul, yang menjadi batasan ruang lingkup penulisan kertas karya ini adalah mengenai proses pengadaan bahan pustaka yaitu pembelian, hadiah/sumbangan, dan inventarisasi.
1.5 Metode Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data, metode yang digunakan oleh penulis adalah : 1. Studi kepustakaan
Mengumpulkan bahan literatur dengan mempelajari buku- buku bacaan, diktat,bahan kuliah dan tulisan ilmiah lainnya yang relevan dengan judul kertas karyaini.
2. Penelitian Lapangan (Observasi)
Penulis langsung melakukan peninjauan dan pengamatan padaDinas PerpustakaanKota Sibolga untuk memperoleh data/informasi yang berkaitan denganpengadaan bahan pustaka.
3. Wawancara
Penulis mengadakan wawancara langsung yaitu dengan mengajukan pertanyaan kepada pustakawan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan pengadaan bahan pustaka.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perpustakaan Umum
Perpustakaan mencakup suatu ruangan, bagian dari gedung / bangunan atau gedung tersendiri yang berisi buku-buku koleksi, yang diatur dan disusun sedemikian rupa, sehingga mudah untuk dicari dan dipergunakan apabila sewaktu- waktu diperlukan oleh pembaca (Sutarno NS, 2006:11).
Untuk lebih jelas mengenai pengertian perpustakaan umum, maka penulis mengutip beberapa pendapat tentang pengertian perpustakaan umum menurut Hermawan dan Zen (2006 : 30) :
Salah satu jenis perpustakaan yang ada di Indonesia adalah perpustakaan umum, sesuai dengan namanya maka segala bentuk informasi dan jenis layanan yang dimiliki harus bersifat umum, dengan kata lain tersedianya berbagai bentuk informasi dan memberikan layanan kepada setiap orang tanpa memandang adanya perbedaan.
Perpustakaan Umum adalah perpustakaan yang melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang, status sosial, agama, suku, pendidikan, dan sebagainya”. Konsep dasar perpustakaan umum adalah didirikan oleh masyarakat untuk masyarakat dan didanai dengan dana masyarakat.
Berdasarkan pendapat Hermawan dan Zen yang menyatakan bahwa perpustakaan umum didirikan oleh masyarakat untuk masyarakat dapat dilihat bahwa perpustakaan umum itu melayani semua masyarakat tanpa melihat adanya perbedaan yang ada baik itu latar belakang, status sosial, agama, suku, pendidikan dan sebagainya. Untuk membandingkan pengertian perpustakaan umum,. Sebagai perbandingan selanjutnya dilihat pendapat Sutarno (2006 : 43) yang menyatakan:
Perpustakaan Umum merupakan lembaga pendidikan bagi masyarakat umum dengan menyediakan berbagai informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya, sebagai sumber belajar untuk memperoleh dan meningkatkan ilmu pengetahuan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, penulis dapat memahami bahwa perpustakaan umum sebagai suatu unit yang didirikan oleh masyarakat untuk masyarakat tanpa melihat adanya perbedaan. Pendapat Hermawan dan Zen hampir sama dengan yang dinyatakan oleh Hartanto yang juga menyatakan bahwa perpustakaan umum itu memberikan pelayanan tanpa melihat perbedaan pada pengguna yang dilayani. Lain halnya dengan Sutarno yang menyatakan perpustakaan umum itu lebih kepada fungsi dan tujuan dari perpustakaan tersebut, seperti : perpustakaan umum itu menyediakan berbagai sumber informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sumber belajar guna meningkatkan ilmu pengetahuan masyarakat.
2.1.1 Tujuan Perpustakaan Umum
Tujuan perpustakaan umum adalah sebagai sumber belajar dan bagian integral dari pusat informasi lainnya yang bersama - sama bertujuan mendukung proses kegiatan belajar - mengajar demi tercapainya suatu masyarakat yang terinformasi. Secara teknis, tujuan perpustakaan umum adalah melayani semua lapisan masayarakat untuk memperoleh dan meningkatkan ilmu pengetahuan.
Lebih jauh lagi perpustakaan umum yang diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani masyarakat umum tanpa membeda - bedakan usia, jenis kelamin, agama, ras, pekerjaan, serta layanan cuma-cuma bagi umum.
Menurut Manifesto Perpustakaan Umum UNESCO yang dikutip oleh Sulistyo-Basuki (2001 : 46) menyatakan bahwa perpustakaan umum mempunyai 4 tujuan utama yaitu:
1. Memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka kearah kehidupan yang lebih baik 2. Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat dan murah bagi
masyarakat, terutama informasi mengenai topik yang berguna bagi mereka dan yang sedang hangat dalam kalangan masyarakat
3. Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya,
sejauh kemampuan tersebut dapat dikembangkan dengan bantuan bahan pustaka
4. Bertindak selaku agen kultural, artinya perpustakaan umum merupakan pusat utama kehidupan sosial budaya bagi masyarakat sekitarnya.
Perpustakaan umum bertugas menumbuhkan apresiasi budaya masyarakat sekitarnya dengan cara menyelenggarakan pameran budaya, ceramah, pemutaran film, dan penyediaan informasi yang dapat meningkatkan keikutsertaan, kegemaran, dan apresiasi masyarakat terhadap segala bentuk seni budaya.
Sedangkan Hermawan dan Zulfikar (2006 : 31) menyatakan bahwa tujuan perpustakaan umum adalah:
1. Memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk menggunakan bahan pustaka dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesejahteraan
2. Menyediakan informasi yang murah, mudah, cepat dan tepat yang berguna bagi masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari
3. Membantu dalam pengembangan dan pemberdayaan komunitas melalui penyediaan bahan pustaka dan informasi
4. Bertindak sebagai agen kultural, sehingga menjadi pustaka utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitar
5. Memfasilitasi masyarakat untuk belajar sepanjang hayat
Dari uraian di atas, dapat diketahui tujuan perpustakaan umum adalah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menggunakan bahan pustaka dalam meningkatkan pengetahuan dan menyediakan informasi yang berguna bagi kehidupan masyarakat.
2.1.2 Fungsi Perpustakaan Umum
Penyelenggaraan sebuah perpustakaan tentunya ingin mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Perpustakaan umum mempunyai tugas mengumpulkan, menyimpan, memelihara dan mendayagunakan bahan pustaka untuk kepentingan masyarakat umum. Selain mempunyai tujuan dan tugas perpustakaan tentunya juga memiliki fungsi yang harus dilaksanakan. Adapun fungsi perpustakaan umum menurutDarmono (2007:3-6) sebagai berikut:
1. Fungsi Edukatif.Perpustakaan menyediakan berbagai macam informasi sebagai salah satu sarana untuk menerapkan tujuan pendidikan agar para
pengguna perpustakaan dapat mengembangkan minat yang telah dimiliki serta mendapat kesempatan untuk mendidik diri secara berkesinambungan..
2. Fungsi Informatif.Perpustakaan menyediakan berbagai macam informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya agar para pengguna perpustakaan dapat memperoleh berbagai informasi yang tersedia di perpustakaan untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat serta dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
3. Fungsi Kultural.Perpustakaan menyediakan berbagai macam informasi yang dapat dimanfatkan oleh para pengguna perpustakaan untuk meningkatkan mutu kehidupan dengan memanfatkan berbagai jenis informasi sebagai rekaman budaya bangsa dalam meningkatkan taraf hidup dan mutu kehidupan manusia baik secara individu maupun secara kelompok.
4. Fungsi Rekreasi.Perpustakaan menyediakan berbagai macam informasi untuk menciptakan kehidupan yang seimbang antara jasmani dan rohani serta mengembangkan minat rekreasi para pengguna perpustakaan melalui berbagai jenis koleksi buku yang ada dan memanfaatkan waktu senggang dalam menunjang berbagai kegiatan yang kreatif serta hiburan yang positif.
5. Fungsi Penelitian. Sebagai fungsi penelitian perpustakaan menyediakan berbagai jenis informasi sebagai penunjang kegiatan penelitian. Informasi yang disediakan sesuai dengan kebutuhan lembaga.
Dari defenisi diatas, perpustakaan umum memiliki banyak fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna dalam mencari informasi.
2.1.3 Peran Perpustakaan Umum
Peran perpustakaan umum sesungguhnya sangat strategis di tengah-tengah masyarakat. Perpustakaan umum adalah Perpustakaan yang ada di bawah lembaga yang mengawasinya. Perpustakaan juga pusat informasi lokal dari semua jenis ilmu pengetahuan dan informasi yang tersedia untuk para penggunanya. Menurut Sutarno (2006: 68), peranan perpustakaan adalah bagian tugas pokok yang harus dijalankan di dalam perpustakaan. Peranan tersebut berhubungan dengan keberadaan, tugas dan fungsi perpustakaan, peranan yang dapat dijalankan oleh perpustakaan antara lain:
a. Secara umum perpustakaan merupakan sumber informasi, pendidikan, penelitian, perservasi dan pelestarian khasanah budaya bangsa serta tempat rekreasi yang sehat, murah dan bermanfaat.
b. Perpustakaan merupakan media atau jembatan yang berfungsi menghubungkan antara sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi perpustakaan dengan pemakainya.
c. Perpustakaan mempunyai peranan sebagai sarana untuk menjalin dan mengembangkan komunikasi antara sesama pemakai, dan antara penyelenggara perpustakaan dengan masyarakat yang dilayani.
d. Perpustakaan dapat pula berperan sebagai lembaga untuk mengembangkan minat baca, dan budaya baca, kegemaran membaca dan yang membutuhkan sumber bacaan.
e. Perpustakaan dapat berperan aktif sebagai fasilitator, mediator, dan motivator bagi mereka yang ingin mencari, memanfaatkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuannya dan pengalamannya.
f. Perpustakaan merupakan agen perubahan, agen pembangunan, dan agen kebudayaan umat manusia. Sebab berbagai penemuan sejarah, pemikiran, dan ilmu pengetahuan yang telah ditemukan pada masa lalu, yang direkam dalam bentuk tulisan atau bentuk tertentu yang disimpan di perpustakaan.
g. Perpustakaan berperan sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi anggota masyarakat dan pengunjung perpustakaan. Mereka dapat belajar secara mandiri, melakukan penelitian, menggali, memanfaatkan dan mengembangkan sumber informasi dan ilmu pengetahuan.
h. Petugas perpustakaan dapat berperan sebagai pembimbing dan memberikan konsultasi kepada pemakai, dan pembinaan serta menanamkan pemahaman tentang pentingnya perpustakaan bagi orang banyak.
i. Perpustakaan berperan dalam menghimpun dan melestarikan koleksi bahan pustaka agar tetap dalam keadaan baik semua hasil karya umat manusia yang tidak ternilai harganya.
j. Perpustakaan dapat berperan sebagai ukuran atau kemajuan masyarakat dilihat dari intensitas kunjungan dan pemakaian perpustakaan. Sebab masyarakat yang sudah maju dapat ditandai dengan adanya perpustakaan yang maju pula, sebaliknya masyarakat yang sedang berkembang biasanya belum memiliki perpustakaan yang memadai representatif.
k. Secara tidak langsung, perpustakaan yang berfungsi dan telah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dapat ikut berperan dalam mengurangi dan mencegah kenakalan remaja seperti tawuran, penyalahgunaan obat-obat terlarang, dan indispliner.
2.2 Pengadaan Bahan Pustaka
2.2.1 Pengertian Pengadaan Bahan Pustaka
Bahan pustaka adalah bagian dari koleksi perpustakaan yang ada di perpustakaan. Menurut Bafadal (2001: 24) menyatakan bahwa:
Bahan pustaka adalah salah satu koleksi perpustakaan yang berupa karya cetak seperti buku teks (buku pengunjung), buku fisik, dan buku referensi yang dikumpulkan, diolah dan disimpan untuk di sajikan kepada pengguna untuk memenuhi kebutuhan informasi.
Pengadaan bahan pustaka adalah mengusahakan bahan-bahan pustaka yang belum dimiliki perpustakaan, dan menambah bahan-bahan pustaka yang sudah dimiliki perpustakaan. Pengadaan bahan pustaka merupakan rangkaian dari kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan.Pengadaan bahan pustaka adalah salah satu dari kegiatan pelayanan teknis pada suatu perpustakaan dalam usaha untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh para pengguna sesuai dengan perkembangan zaman. Melalui kegiatan pengadaan bahan pustaka tersebut, perpustakaan berusaha menghimpun bahan pustaka yang akan dijadikan koleksi perpustakaan baik itu koleksi seperti buku, majalah, jurnal, surat kabar, brosur dan koleksi non cetak seperti kaset, audio visual, mikrofilm, mikrofis, piringan hitam, video kaset, CD-ROM dan lain-lain.
•
Pengadaan bahan pustaka merupakan kegiatan memilih, menghimpun kemudian dilanjutkan dengan mengadakan bahan pustaka yang sesuai dengan prosedur yang mengatur kegiatan pengadaan bahan pustaka. Prosedur kegiataan pengadaan diatur dalam kebijakan pengembangan koleksi. Pengadaan bahan pustaka dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan pemustaka dan untuk menghindari masuknya koleksi yang dinilai kurang bermanfaat bagi pemustaka.Beberapa pengertian pengadaan yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain :
Menurut Sulistyo-Basuki (2001:27):
•
Pengadan bahan pustaka merupakan konsep yang mengacu kepada prosedur sesudah kegiatan pemilihan untuk memperoleh dokumen, yang digunakan untuk mengembangkan dan membina koleksi atau himpunan dokumen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan informasi serta mencapai sasaran unit informasi.
•
Sedangkan Darmono, (2001:57) mengatakan bahwa “Pengadaan bahan pustaka merupakan rangkaian dari kebijakan pengembangan koleksi akhirnya akan bermuara pada kegiatan pengadaan bahan pustaka”.
•
Selanjutnya Sumantri (2002:29) mengatakan bahwa “Pengadaan bahan pustaka yaitu proses menghimpun dan menyeleksi bahan pustaka yang akan dijadikan koleksi, hendaknya koleksi harus relevan dengan minat dan kebutuhan peminjam serta lengkap dan aktual”.
Menurut Sutarno (2006: 174):
Dari uraian beberapa pengertian pengadaan bahan pustaka yang dikemukan oleh para ahli diatas, penulis dapat memahami bahwa pengadaan bahan pustaka adalah rangkaian kegiatan untuk menghimpun dan menyeleksi bahan pustaka yang sekaligus berdasarkan peraturan kebijakan pengadaan bahan pustaka sehingga dapat memenuhi bahan pustaka yang diminati oleh penggunanya.
Pengadaan bahan pustaka adalah langkah awal dalam mengisi perpustakaan dengan sumber-sumber informasi. Pengadaan yakni suatu kegiatan mengadakan bahan pustaka yang tercetak maupun karya rekam untuk dijadikan koleksi perpustakaan. Pengadaan bahan pustaka merupakan bagian kegiatan dari kegiatan pengembangan koleksi.
Fungsi pengadaan bahan pustaka adalah menghimpun dan menyediakan bahan pustaka yang akan dijadikan koleksi perpustakaan. Bagian pengadaan bahan pustaka juga mengusahakan agar buku-buku yang dibutuhkan ada dalam koleksi.
2.2.2 Fungsi Pengadaan Bahan Pustaka
Selanjutnya, menurut Darmono (2001:55) fungsi pengadaan bahan pustaka untuk:
1) 2)
menjelaskan cakupan koleksi yang telah ada dan rencana pengembangan selanjutnya.
3)
memberi deskripsi yang sistis tentang strategi pengolahan dan pengembangan koleksi yang diterapkan di perpustakaan.
menjadi pedoman bagi para pustakawan sehingga ketaatan dalam proses seleksi terjamin.
Perpustakaan akan dapat memenuhi fungsinya dengan baik bila jenis dan mutu bahan pustaka yang disediakan baik pula. Kumpulan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan dikenal dengan istilah koleksi perpustakaan.Selain itu, bagian pengadaan bahan pustaka juga sangat memerlukan pembinaan bahan pustaka atau koleksi. Pembinaan koleksi perpustakaan merupakan salah satu dari kerja pelayanan teknis yang harus dilakukan perpustakaan dalam usahanya untuk memberikan pelayanan informasi kepada pengguna. Untuk itu, perlu di dasari oleh petugas, anggota staff, dan pengguna bahwa secara umum menjaga koleksi perpustakaan menjadi tanggung jawab bersama.
Menurut Massofa (2008), kebijakan pengadaan bahan pustaka berfungsi sebagai:
1. Pedoman bagi para selektor untuk bekerja lebih terarah.
2. Sarana komunikasi untuk memberitahu pada para pemakai, administrator, dewan pembina dan pihak lain, apa cakupan dan ciri-ciri koleksi yang telah ada dan rencana untuk pengembangan selanjutnya.
3. Sarana perencanaan untuk membantu dalam proses alokasi dana.
Sedangkan menurut Darmono (2001: 55) kebijakan pengadaan koleksi Berfungsi sebagai pedoman, sarana komunikasi, dan perencanaan sebab kebijakan tersebut:
1) Menjelaskan cakupan koleksi yang telah ada dan rencana pengembangan selanjutnya, agar diketahui oleh staf perpustakaan, pemakai, administrator, dan dewan pembina perpustakaan.
2) Memberi deskripsi yang sistis tentang strategi pengolahan dan pengembangan koleksi yang diterapkan di perpustakaan.
3) Menjadi pedoman bagi para pustakawan sehingga ketaatan dalam proses seleksi dan seleksi terjamin, koleksi yang responsive dan seimbang terbentuk dan dana dimanfaatkan dengan sebijaksana mungkin.
4) Menjadi standar tolok ukur untuk menilai sejauh mana sasaran pengembangan koleksi tercapai.
5) Berfungsi sebagai sumber informasi dan paduan bagi staf yang baru mulai berpartisipasi dalam pengembangan koleksi.
6) Memperlancar koordinasi antar anggota staf pengadaan koleksi.
Memperlancar kerjasama antar perpustakaan dalam pengembangan koleksi.
7) Membantu menjaga kontinuitas, khususnya apabila koleksi besar, serta menjadi kerangka kerja yang memperlancar transisi dari pustakawan lama ke penggantinya.
8) Membantu pustakawan menghadapi pengadaan berkenaan dengan bahan yang telah diseleksi atau ditolak.
9) Mengurangi pengaruh kolektor tertentu dan selera pribadi.
10) Membantu mempertanggungjawabkan alokasi anggaran.
11) Menjadi sarana komunikasi, baik dengan masyarakat yang dilayani maupun pihak luar lain yang memerlukan informasi mengenai tujuan dan rencana pengadaan dan pengembangan koleksi.
Adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin banyak informasi yang dibutuhkan serta semakin banyak pula berbagai jenis bahan pustaka yang tersedia. Hal ini menuntut perpustakaan untuk dapat mengembangkan koleksinya sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Berikut ini adalah jenis-jenis bahan pustaka dalam berbagai bentuk media:
2.2.3 Jenis Bahan Pustaka
1. Karya Cetak
Karya cetak adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk cetak.
a). Buku
Buku atau dikenal juga dengan istilah monograf adalah bahan pustaka yang merupakan satu kesatuan utuh tidak berseri. Berdasarkan standar UNESCO, tebal buku paling sedikit 48 halaman tidak termasuk kulit ataupun jaket buku. Di antaranya adalah buku teks, buku rujukan, buku fiksi. Biasanya dilengkapi dengan nomor standar intenasional, yaitu ISBN (Internationsl Standard Book Number).
b). Terbitan Berseri
Terbitan berseri adalah bahan pustaka yang direncanakan untuk diterbitkan terus-menerus dengan jangka waktu terbit tertentu. Misalnya, surat kabar (harian),
tabloid, majalah (mingguan, bulanan), buletin, jurnal, warta/newsletter, laporan tahunan. Untuk jenis terbitan berseri menggunakan nomor standar ISSN (International Standard Serial Number).
2. Karya Noncetak
Karya noncetak adalah bahan pustaka yang informasinya disampaikan dalam bentuk suara, gambar, teks, dan juga kombinasi dari bentuk-bentuk tersebut. Istilah lain dari karya ini adalah nonbooks materials (bahan nonbuku), nonprint(bahan noncetak), dan audiovisual materials (bahan pandang dengar).
a). Rekaman suara
Karya ini dituangkan dalam bentuk piringan hitam, pita kaset, dan cakram (disk). Jika dilihat dari segi isi, diantaranya adalah rekaman musik, wawancara, seminar, ceramah, pelajaran bahasa Inggris, dan sebagainya.
b). Film (gambar hidup) dan rekaman video
• Film
Film ada dua macam, yaitu film yang bersuara dan film yang tidak bersuara. Jika dilihat dari segi fisiknya ada 3 macam, yaitu film yang berukuran 18 mm, 16 mm, dan 35 mm. Alat bantu yang digunakan untuk melihatnya adalah proyektor dan layar.
• Rekaman video
Rekaman video mencakup semua bentuk video, diantaranya yang berbentuk kaset, gulungan, dan cakram. Alat bantu yang digunakan adalah televisi, komputer, VCR (Video Casette Recorder).
3. Bahan Grafika
Bahan grafika adalah bahan pustaka yang harus diproyeksikan, misalnya :
• Filmstrip, yaitu selongsongan film yang memuat gambar dalam urutan tertentu yang diproyeksikan satu persatu.
• Slide, yaitu gambar dalam suatu media film atau bahan transparan lain yang harus dilihat dengan bantuan proyektor slide.
• Trasparansi, yaitu selembar bahan transparan yang berisi gambar dan dirancang untuk digunakan dengan overhead projector atau kotak sinar.
4. Bahan Kartografi
Bahan kartografi adalah semua karya yang merupakan representasi grafika dari bumi, matahari, bulan, planet-planet, dan badan-badan ruang angkasa lainnya.
Bahan pustaka ini dapat berbentuk dua dimensi atau tiga dimensi. Misalnya, peta ruang angkasa, atlas, globe, foto udara, dan sebagainya.
5. Bentuk Mikro
Bentuk mikro adalah semua bahan pustaka yang menggunakan media film dan tidak dapat dibaca tanpa menggunakan alat bantu (microreader). Contoh bentuk mikro antara lain :
• Mikrofilm, yaitu bentuk gulungan film yang berukuran 16 mm dan 35 mm.
• Mikrofis, yaitu bentuk lembaran sebesar kartu pos, berukuran 4x6 inci atau 3x5 inci. Sumber informasi ini dikenal dengan istilaheye- readable material.
• Aperture card, adalah satu lembar mikrofilm ukuran 35 mm yang ditempelkan pada lembaran kartu.
• Microfilm Cartridge, bentuknya sama dengan mikrofilm ukuran 16 mm, namun selain ditempatkan pada satu kemasan film juga diberikan suatu tanda agar pada waktu membacanya dapat dilakukan secara otomatis.
• Microfilm jackets, adalah bentuk mikrofilm yang dimasukkan ke dalam kantong plastik transparan yang mempunyai jalur-jalur dan berisi 12 atau 14 lembar.
Pemilihan bahan pustaka adalah proses mengidentifikasi bahan pustaka yang akan ditambahkan pada koleksi yang telah ada di perpustakaan. Pemilihan bahan pustaka merupakan kegiatan penting yang perlu dilakukan karena berhubungan dengan mutu perpustakaan yang bersangkutan. Suatu perpustakaan tidak akan ada artinya bila koleksi yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Semua bahan pustaka hendaknya dipilih secara cermat, disesuaikan dengan standar kebutuhan pengguna perpustakaan dalam suatu skala prioritas yang telah ditetapkan.
2.3 Pemilihan Bahan Pustaka
Kegunaan pemilihan bahan pustaka adalah untuk menyesuaikan koleksi dengan kebutuhan pengguna baik kuantitas maupun kualitasnya. Selain itu pemilihan bahan pustaka dilakukan berdasarkan kemampuan dana yang tersedia.
Dalam usaha pemilihan bahan pustaka, sebelum masuk ke langkah selanjutnya maka perlu dilakukan tinjauan kembali terhadap buku yang akan dipilih, apakah sudah dimiliki sebelumnya untuk menghindari duplikasi bahan pustaka.
Tujuannya ialah untuk mengembangkan koleksi yang baik dan seimbang, sehingga mampu melayani kebutuhan pengguna yang berubah dan tuntutan pengguna yang sekarang maupun yang akan datang (Sulistyo-Basuki 2001: 427).
Adapun beberapa metode dalam pengadaan bahan pustaka adalah sebagai berikut :
2.3.1 Metode Pemilihan Bahan Pustaka
1) Pembelian, pemesanan dapat dilakukan pada penerbit atau pada toko buku
yang relatif murah. Penerbit Indonesia umumnya melayani permintaan perpustakaan, namun tidak dengan penerbit asing. Pemesanan juga bisa pada penjaja atau vendors selaku perantara. Biasanya, untuk buku-buku asing karena penerbit asing, hanya melayani toko-toko buku dan vendors.
Untuk di Indonesia yang menjadi vendors yaitu ada toko buku atau importir buku. Dalam hal ini, Soeatminah menegaskan bahwa perpustakaan hendaklah memilih penjaja sesuai dengan subjek dan jenis perpustakaan karena banyak penjaja mengkhususkan dalam bidang tertentu.
2) Hadiah, untuk mendapatkan buku secara cuma-cuma/ hadiah, maka perpustakaan dan pustakawan harus pro aktif bekerja sama dalam mencari unit kerja atau instansi atau LSM mana yang dapat menghadiahkan buku- bukunya bagi keperluan perpustakaan. Pendekatan ini sangat diperlukan, karena dengan adanya permohonan yang resmi dari pejabat perpustakaan akan memudahkan proses pustakawan dalam memperoleh buku-buku yang diperlukan perpustakaan secara cuma-cuma.
3) Sumbangan, perpustakaan dan pustakawan harus pro aktif mencari perpustakaan yang akan mengadakan penyiangan koleksi, sehingga bisa membuat permohonan buku-buku hasil penyiangan tersebut bisa disumbangkan dan dimanfaatkan oleh perpustakaan.
Dalam suatu perpustakaan, pihak yang berwenang untuk melakukan pemilihan bahan pustaka bukan hanya pustakawan saja tetapi semua unsur yang berkepentingan, termasuk pengguna jasa perpustakaan. Pihak yang berkecimpung dalam pemilihan bahan pustaka haruslah orang yang menguasai subjek dan mengetahui bahan pustaka.Pada akhirnya, pustakawanlah yang berwenang apabila bahan pustaka tersebut dipilih atau tidak, karena pustakawanlah yang mengetahui apakah bahan pustaka tersebut cocok atau tidak serta dana yang tersedia.
2.3.2 Pihak yang Berwenang Memilih Bahan Pustaka
Menurut Sulistyo-Basuki (2001: 429) untuk dapat melakukan pemilihan bahan pustaka, pihak-pihak yang berhubungan harus memiliki pengetahuan seperti :
1. Menguasai sarana bibliografi yang tersedia, paham akan dunia penerbitan, khususnya mengenai penerbit spesialisasi para penerbit, kelemahan mereka, standar hasil terbitan yang ada selama ini dan keunggulan suatu penerbit.
2. Mengetahui latar belakang para pemakai perpustakaan misalnya siapa saja yang menjadi anggota, minat dan penelitian yang sedang dan telah dilakukan berapa banyak mereka menggunakan perpustakaan dan mengapa ada kelompok pengguna bahan pustaka yang satu berbeda dengan pengguna perpustakan lain.
3. Mengetahui kebutuhan para anggota.
4. Personil pemilihan buku harus bersifat netral serta harus menguasai informasi dan akal sehat dalam pemilihan.
5. Pengetahuan mendalam mengenai koleksi perpustakan.
6. Mengetahui buku melalui proses membuka buka buku ataupun melalui proses membaca.
2.3.3 Prinsip Pemilihan Bahan Pustaka
Koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna dapat meningkatkan mutu perpustakaan. Suatu perpustakaan harus dapat mengembangkan koleksinya.
Dalam meningkatkan mutu koleksi perpustakaan perlu diingat prinsip-prinsip pemilihan bahan pustaka.Darmono (2001: 58) mengatakan bahwa beberapa prinsip dasar dalam pemilihan koleksi perpustakaan adalah :
1. Semua bahan pustaka harus dipilih secara cermat, disesuaikan dengan keperluan pemakai dan menurut skala prioritas yang telah ditetapkan.
Skala prioritas untuk masing-masing perpustakaan pada umumnya berbeda. Perbedaan ini dipengaruhi oleh jenis perpustakaan dan karakteristik masyarakat yang dilayani.
2. Pengadaan bahan pustaka didasarkan atas peraturan tertulis yang merupakan kebijakan pengembangan koleksi yang disahkan oleh penanggung jawab lembaga dimana perpustakaan bernaung.
Dari prinsip dasar pemilihan koleksi di atas, maka pustakawan khususnya bidang pengadaan bahan pustaka agar lebih professional dalam memilih koleksi perpustakaan. Informasi yang disediakan lebih up to date. Sehingga pengguna dapat lebih berwawasan luas tentang informasi. Menurut Siregar (2000: 6), secara umum ada beberapa prinsip pemilihan buku antara lain:
1. Relevansi atau kesesuian. Perpustakaan hendaknya mengusahakan agar koleksi perpustakaan relevan dengan fungsi dan tujuan perpustakaan serta tujuan lembaga induknya.
2. Orientasi kepada pengguna. Dalam pengadaan koleksi hendaknya mengutamakan kepentingan pengguna perpustakaan, sehingga kebutuhan pengguna terpenuhi dan tingkat keterpakaian koleksi dapat ditingkatkan.
3. Unsur Kelengkapan. Pengadaan koleksi hendaknya dilakukan dengan berpedoman kepada kelengkapan koleksi yang dibutuhkan oleh pengguna, bukan berpedoman kepada jumlah eksemplar buku. Mutu suatu perpustakaan bukan dilihat dari jumlah eksemplar koleksinya tetapi dari kelengkapan/jumlah judul dan kualitas koleksi yang dimiliki.
4. Unsur Kemutakhiran. Perpustakaan harus berusaha untuk menyediakan sumber-sumber informasi yang paling mutakhir, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
5. Unsur kerjasama dengan berbagai pihak. Perpustakaan sebaiknya menjalin kerjasama dengan pihak seperti pakar ilmu pengetahuan, pengguna dalam melaksanakan pemilihan bahan pustaka agar relevansi koleksi dengan kebutuhan pengguna dapat dipenuhi.
6. Menggunakan alat bantu pemilihan. Untuk memudahkan dan untuk mengetahui informasi buku secara lengkap, hendaknya pemilihan bahan pustaka dilakukan dengan menggunakan alat bantu pemilihan bahan pustaka seperti katalog penerbit.
2.3.4Alat Bantu Pemilihan Bahan Pustaka
Alat bantu pemilihan bahan pustaka yaitu alat bantu yang dapat membantu pustakawan untuk memutuskan apakah sebuah atau sekelompok bahan pustaka akan diseleksi, karena informasi yang diberikan dalam alat tersebut tidak terbatas pada data bibliografi, tetapi juga mencakup keterangan bahan pustaka tersebut dan keterangan lain yang diperlukan untuk mengambil keputusan.
Untuk bisa memilih bahan pustaka atau koleksi, dibutuhkan alat bantu seleksi. Menurut Milburga (2000: 74) alat bantu seleksi bahan pustaka tersebut adalah :
1. Katalog penerbit dalam dan luar negri yang berisi a. Judul, anak judul, judul paralel
b. Edisi, negara, bahasa, bentuk c. Kota terbit, penerbit
d. Tahun terbit e. Harga langanan f. ISSN/ISBN
2. Bibliografi Nasional dan Internasional 3. Bibliografi khusus bidang ilmu
4. Daftar tambahan koleksi perpustakan lain 5. Tim, bagan buku, iklan dan lain-lain.
Sedangkan menurut Darmono (2001: 55) yang termasuk alat bantu seleksi adalah sebagai berikut :
1. Katalog penerbit dari berbagai penerbit. Katalog penerbit berisi informsi buku-buku terbaru dari penerbit dalam dan luar negeri. Informasi yang dikandung biasanya berisi judul, pengarang, tahun terbit, jumlah halaman,
harga buku dan sering pula menyertakan anotasi atau deskripsi cakupan isi buku.
2. Tinjauan buku. Tinjauan buku biasanya dibuat pada majalah ilmiah, surat kabar, serta majalah popular. Ini merupakan salah satu alat untuk mengevaluasi dan seleksi tulisan bagi tulisan orang-orang ternama.
3. Bibliografi. Nasional Indonesia Berisi informasi tentang terbitan seluruh Indonesia yang mencakup buku, laporan penelitian, bacaan anak-anak, terbitan pemerintah, laporan konfrensi serta peta.
4. Daftar buku IKAPI. Daftar ini merupakan berbagai katalog penerbit Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Penerbitan Indonesia (IKAPI).
Katalog ini di terbitkan IKAPI dan isi daftar ini membuat judul, pengarang, jumlah halaman, ISBN dan harga buku.
5. Resensi. Resensi adalah uraian suatu pembicaraan maupun penilaian terhadap suatu karya yang menyangkut bentuk fisik maupun isinya.
Resensi dapat disampaikan pada media tatap muka, diskusi buku, media cetak (buku, majalah dan surat kabar) media dengar ( radio), maupun media pandang dengar atau televisi.
2.4 Inventarisasi
Menurut Massofa (2008), “Inventarisasi adalah kegiatan pencatatan setiap bahan pustaka ke dalam buku inventarisasi (buku Induk) sebagai tanda bukti pembendaharaan perpustakaan”. Sedangkan menurut Damayanti (2009),
“Inventarisasi bahan pustaka merupakan kegiatan pencatatan setiap bahan pustaka yang diterima oleh perpustakaan ke dalam buku induk atau buku inventaris perpustakaan menyangkut semua data bibliografis yang sesuai dengan kebutuhan pelaporan dan database, sebagai tanda bukti pembendaharaan perpustakaan atau kepemilikan perpustakaan”. Inventarisasi merupakan salah satu kegiatan yang harus dikerjakan oleh petugas di perpustakaan sebelum bahan pustaka diproses di bagian pengolahan. Adapun tugas bagian inventarisasi adalah menetapkan dan melaksanakan pencatatan menurut cara yang telah di tetapkan. Pada intinya, kegiatan inventarisasi bahan pustaka itu adalah kegiatan pencatatan semua bahan pustaka milik perpustakaan yang dilakukan oleh petugas perpustakaan atau pustakawan.
Menurut Milburga (2000: 76) keterangan yang dicatat dalam buku inventarisasi/induk adalah:
• Nomor urut
• Tanggal masuk buku
• Asal buku
• Nama pengarang
• Judul buku
• Nama penerbit dan tahun terbit
• Jumlah eksemplar
• Harga satuan dan jumlah harga
• Jenis buku: teks/informasi/fiksi/referensi
• Bahasa yang dipakai: Indonesia/Inggris dan lain-lain
• Keterangan mengenai keadaan buku.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangkaian kegiatan inventarisasi bahan pustaka menurut Bafadal (2001: 46) meliputi:
1. Pemberian stempel pada buku. Setiap bahan pustaka yang datang harus diperiksa. Dalam pemeriksaannya hendaknya diteliti nama pengarang, judul karangan, edisi, serta bentuk fisiknya. Setelah selesai diperiksa dan ternyata benar maka setiap bahan pustaka tersebut distempel dengan stempel inventaris perpustakaan.
2. Setiap bahan pustaka yang distempel dengan stempel perpustakaan sebagai tanda pengenal. Yang perlu distempel adalah halaman-halaman tertentu, seperti halaman judul, daftar isi bab per bab. Hal ini tergantung kepada kebijakan pustakawannya masing-masing.
3. Buku-buku yang telah distempel perpustakaan, perlu juga distempel dengan stempel inventaris yang memuat kolom isian inventaris dan tanggal menginventaris. Biasanya stempel inventaris ini distempelkan dibalik halaman judul.
4. Mendaftar bahan pustaka Bahan-bahan yang telah distempel segera diinventariskan ke dalam buku inventaris. Dalam penginventarisasiannya diusahakan dibagi menurut cara pengadaannya. Bahan pustaka yang diperoleh dari bantuan pemerintah hendaknya diinventariskan dalam buku inventaris bantuan pemerintah. Bahan pustaka yang diperoleh dari hadiah dan sebagainya.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1Sejarah Singkat Dinas Perpustakaan Sibolga
Perpustakaan Umum Kota Sibolga dibentuk berdasarkan Perda Kota Sibolga Nomor 1 Tahun 2001 tentang Pembentukan Organisasi Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD Kota Sibolga. Sejak awal pendiriannya, lembaga ini merupakan Sub bagian pada Bagian Humas Sekretariat Daerah Kota Sibolga yang ditindaklanjuti dengan SK Walikota Nomor 061.1/712/2001.Seiring dengan perkembangan pembangunan di Kota Sibolga serta semakin meningkatnya kebutuhan informasi dan minat baca masyarakat, maka pada tanggal 1 April 2004, Dinas Perpustakaan Sibolga telah memiliki gedung sendiri yang dibangun 2 lantai dan terbuka untuk umum yang berlokasi di jalan Letjend S. Parman No. 31-B Sibolga. Selanjutnya berdasarkan Perda Kota Nomor 3 Tahun 2007, kedudukan perpustakaan menjadi Kantor Perpustakaan Setingkat Eselon III.Kemudian berdasarkan amanat PP Nomor 41 Tahun 2007, Pemerintah Kota Sibolga bersama DPRD Kota Sibolga menetapkan Perda Kota Nomor 12 Tahun 2008, tentang organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kota Sibolga, yang mengubah status Kantor Perpustakaan menjadi Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Sibolga.
Kebijakan yang diterapkan oleh Dewan Perpustakaan Umum Kota Sibolga, peningkatan fasilitas dan pelayanan merupakan hak mutlak yang dilakukan oleh Perpustakaan Umum Kota Sibolga. Tugas utama Perpustakaan Umum Kota Sibolga adalah membantu para pengguna memperoleh sumber informasi, serta membantu melayani dan memenuhi kebutuhan pengguna yang datang berkunjung ke Perpustakaan Umum Kota Sibolga. Sistem layanan yang digunakan pada Perpustakaan Umum Kota Sibolga adalah sistem layanan terbuka (Open Access) dimana pengguna dapat mencari bahan pustaka secara langsung menuju ke rak buku biasanya pengguna menggunakan katalog online (OPAC)
untuk memudahkan pengguna dalam pencarian temu balik informasi yang diinginkan.
3.1.1 Visi dan Misi Dinas Perpustakaan Sibolga
Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Sibolga mempunyai visi dan misi sebagai berikut:
• Visi
“Menjadi Sumber Informasi Untuk Mewujudkan Masyarakat Kota Sibolga Yang Cerdas dan Berdaya Saing”
• Misi
a. Mewujudkan promosi dan sosialisasi gemar budaya baca dan sadar arsip;
b. Mewujudkan koleksi buku yang lengkap dan mutakhir;
c. Membina dan mengembangkan jenis perpustakaan di lingkungan Pemerintah Kota Sibolga;
d. Meningkatkan pelayanan bagi pemustaka dan pengguna arsip yang berbasis teknologi informasi;
e. Menyelamatkan dan mengamankan arsip daerah yang bernilai guna sebagai sumber informasi dan bahan bukti;
f. Mewujudkan tenaga perpustakaan dan arsip yang kompeten dan profesional;
g. Mengembangkan infrastruktur Perpustakaan dan Arsip yang modern.
3.1.2 Fungsi Dinas Perpustakaan Sibolga
Adapun fungsi Dinas Perpustakaan Sibolga adalah sebagai berikut:
1. Fungsi deposit, bertugas menyimpan dan melestarikan semua karya cetak dan karya rekam yang diterbitkan di wilayah Indonesia.
2. Fungsi informasi, perpustakaan berfungsimenyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya agar
pengguna perpustakaan dapat mengambil berbagai ide dari buku yang ditulis oleh para ahli dari berbagai bidang ilmu, menumbuhkan rasa percaya diri dalam menyerap informasi dalam berbagai bidang serta mempunyai kesempatan untuk dapat memilih informasi yang layak sesuai kebutuhannya.
3. Fungsi pendidikan, perpustakaan menjadi tempat dan menyediakan sarana untuk belajar baik dilingkungan formal maupun non formal, artinya perpustakaan merupakan tempat belajar diluar bangku sekolah maupun juga tempat belajar dalam lingkungan pendidikan sekolah. Melalui fungsi pendidikan, manfaat yang dapat diperoleh adalah agar pengguna perpustakaan mendapatkan kesempatan untuk mendidik diri sendiri secara berkesinambungan, untuk mengembangkan dan membangkitkan minat yang telah dimiliki pengguna.
4. Fungsi rekreasi, masyarakat dapat menikmati rekreasi dengan membaca dan mengakses berbagai sumber informasi hiburan seperti : novel, cerita rakyat, puisi, dan sebagainya.
5. Fungsi kultural, perpustakaan berfungsi untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat melalui berbagai aktivitas, seperti : pameran, pertunjukkan, bedah buku, mendongeng, seminar, dan sebagainya. Perpustakaan dimanfaatkan pengguna sebagai rekaman budaya bangsa untuk meningkatkan taraf hidup dan mutu kehidupan manusia baik secara individu maupun kelompok, membangkitkan minat terhadap kesenian dan keindahan yang merupakan salah satu kebutuhan manusia terhadap cita rasa seni, mendorong tumbuhnya kreativitas dalam kesenian, mengembangkan sikap dan sifat hubungan manusia yang positif serta menunjang kehidupan antar budaya secara harmonis.
6. Fungsi penelitian, perpustakaan menyediakan berbagai informasi untuk menunjang kegiatan penelitian meliputi berbagai jenis maupun bentuk informasi itu sendiri.
3.1.3Tujuan Dinas Perpustakaan Sibolga
Perpustakaan diselenggarakan dengan tujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan akan informasi masyarakat. Adapun tujuan dari Dinas Perpustakaan Sibolga adalah untuk menciptakan masyarakat terpelajar dan terdidik, terbiasa membaca, berbudaya tinggi serta mendorong terciptanya pendidikan sepanjang hayat.
3.1.4 Jam Buka Dinas Perpustakaan Sibolga
Perpustakaan Umum Kota Sibolga menggunakan sistem pelayanan terbuka atau open acces. Dimana setiap pengguna perpustakaan bebas mencari sendiri informasi yang dibutuhkan langsung ke rak buku tanpa melalui petugas perpustakaan. Perpustakaan ini telah memberikan layanan dan menetapkan peraturan jam buka pelayanan perpustakaan yaitu:
Senin – Kamis : Pukul 08.00 - 16.00 WIB Sabtu : Pukul 09.00 - 14.00 WIB
3.1.5 Struktur Organisasi
Struktur organisasi yang jelas sangat dibutuhkan pada suatu perpustakaan untuk memudahkan segala jenis kegiatan kerja dalam suatu organisasi. Dengan adanya struktur organisasi yang terarah maka dapat diketahui dengan jelas jenjang jabatan dan hubungan kerja dari masing-masing unit kerja yang ada. Struktur organisasi pada perpustakaan dapat berkembang sesuai dengan besarnya perpustakaan tersebut. Begitu juga halnya dengan Dinas Perpustakaan Sibolga yang membuat struktur organisasi untuk memudahkan proses pembagian kerja operasionalnya. Terlihat pada bagan struktur organisasi Dinas Perpustakaan Sibolga bahwa jabatan tertinggi dipegang oleh kepala kantor.
Adapun struktur organisasi Dinas Perpustakaan Sibolga dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Bagan Struktur Organisasi Dinas Perpustakaan Sibolga
Sumber: Dinas Perpustakaan Kota Sibolga
3.2Pengadaan Bahan Pustaka pada Dinas Perpustakaan Sibolga
Pada dasarnya kegiatan yang dilakukan pada bagian pengadaan adalah memilih, mengumpulkan bahan pustaka untuk kebutuhan pengguna perpustakaan.
Pada bagian pengadaan bahan pustaka, Dinas Perpustakaan Sibolga menggunakan sistem pengadaan dengan cara:
• Pembelian
• Hadiah/Sumbangan
Penambahan koleksi dengan tukar menukar belum dilaksanakan, hal ini disebabkan karena Dinas Perpustakaan Sibolga belum mempunyai sistem
Kepala Perpustakaan
Subbag Tata Usaha
Kelompok Jabatan Fungsional
Seksi Pengelolaan
Keperpustakaan Seksi
Pelayanan Seksi Pengadaan
Kearsipan
kerjasama dengan perpustakaan lainnya serta koleksi perpustakaan yang lain belum memadai.
3.2.1 Pemilihan Bahan Pustaka pada Dinas Perpustakaan Sibolga
Sibolga adalah kota yang terletak di pesisir pantai barat Sumatera, dimana sebahagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai nelayan dan kebudayaan pesisir yang melekat pada masyarakatnya. Sehingga Dinas Perpustakaan Sibolga pertama sekali mengadakan pemilihan bahan pustaka dengan melihat lingkungan sekitar perpustakaan berada, maka perpustakaan menyediakan koleksi tentang kelautan, perikanan dan kebudayaan pesisir.
Pemilihan bahan pustaka pada Dinas Perpustakaan Sibolga dilakukan oleh pihak- pihak yang bersangkutan yaitu:
1. Kepala Perpustakaan 2. Pegawai/Staff Perpustakaan
Untuk memilih bahan pustaka yang akan dijadikan koleksi, Dinas Perpustakaan Sibolga memiliki cara-cara atau prosedur. Prosedur dan pemilihan bahan pustaka pada Dinas Perpustakaan Sibolga adalah sebagai berikut:
1. Pengguna perpustakaan mengajukan usulan kepada pegawai perpustakaan.
2. Usulan-usulan tersebut dikumpulkan lalu diseleksi oleh kepala perpustakaan beserta staffnya, untuk menentukan usulan mana yang akan dipenuhi terlebih dahulu.
3. Kepala perpustakaan mengajukan usulan yang telah diseleksi kepada pemerintah untuk anggaran pengadaan bahan pustaka yang diperlukan.
4. Setelahdisetujui oleh pemerintah, kepala perpustakaan Sibolga membeli bahan pustaka yang telah diusulkan setelah diseleksi.
3.2.2 Alat Bantu Pemilihan Bahan Pustaka
Untuk pemilihan bahan pustaka, Dinas Perpustakaan Sibolga memiliki alat bantu. Alat bantu yang digunakan dalam pemilihan bahan pustaka pada Dinas Perpustakaan Sibolga yaitu:
1. Brosur
2. Katalog Penerbit
Dengan adanya alat bantu tersebut, maka pihak-pihak yang berwenang untuk memilih bahan pustaka dapat lebih terarah dan tepat untuk memilih bahan pustaka yang akan dipilih.
3.3 Pengadaan Melalui Pembelian
Dinas Perpustakaan Sibolga jarang melakukan pembelian bahan pustaka karena hal ini disebabkan oleh keterbatasan anggaran dana yang diberikan oleh pemerintah kepada perpustakaan. Dalam melakukan pembelian, kepala perpustakaan memprioritaskan kepada usulan yang diberikan oleh petugas perpustakaan. Pembelian bahan pustaka tergantung keputusan pemerintah.
Maksutdnya, apabila pemerintah menyetujui usulan tersebut maka pembelian dapat dilaksanakan. Proses pembelian bahan pustaka pada Dinas Perpustakaan Sibolga adalah sebagai berikut:
1. Staff perpustakaan langsung membeli bahan pustaka ke toko buku atau penerbit.
2. Pembayaran dilakukan dengan cara uang tunai yang dilakukan oleh staff perpustakaan.
3. Pelangganan terbitan berkala (surat kabar seperti koran) dengan cara pembayaran tiap bulan.
Dinas Perpustakaan Sibolga melakukan pembelian jika ada usulan, sehingga dalam melakukan pembelian bahan pustaka khususnya buku dalam setahun jumlahnya selalu berubah-ubah. Buku yang paling banyak diusulkan adalah buku- buku bacaan karena dilihat dari permintaan pengguna perpustakaan. Pada tahun 2014 yang lalu, Dinas Perpustakaan Sibolga membeli buku sebanyak 27%, tahun 2015 sebanyak 33%, tahun 2016 sebanyak 40%. Dari hasil yang diperoleh selama tiga tahun terakhir, tahun 2014-2015 pembelian bahan pustaka mengalami peningkatan sebanyak 6%, pada tahun 2015-2016 juga mengalami peningkatan sebanyak 7%.
Diagram Alir Pembelian Bahan Pustaka
DINAS PERPUSTAKAAN SIBOLGA
Menerima usulan judul dari staff
Mengumpulkan brosur dan daftar katalog
Seleksi urutan judul melalui katalog
Ada di koleksi YA/Lengkapi data TIDAK/Hapus dari
daftar
Daftar
Proses
Buku ada/tidak TIDAK/Pesanan
diganti
YA/Buku datang
SELESAI MULAI
3.4Hadiah/Sumbangan
Selain pembelian, Dinas Perpustakaan Sibolga juga mengadakan penambahan koleksinya melalui hadiah/sumbangan. Perpustakaan ini menerima hadiah/sumbangan dari perorangan atau siapa saja yang ingin menyumbang buku pada perpustakaan. Pada Dinas Perpustakaan Sibolga, hadiah/sumbangan yang diterima tidak atas permintaan, tergantung kemauan atau keinginan pengguna untuk menyumbangkan buku ke perpustakaan. Pengguna perpustakaan menyumbang buku untuk membantu dalam membangun koleksi pada perpustakaan. Biasanya buku yang disumbangkan berupa buku-buku bacaan seperti buku pelajaran, novel, dan komik.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan pustakawan, Dinas Perpustakaan Sibolgamenerima hadiah/sumbangan bahan pustaka berupa buku dari pengguna adalah sebanyak 65 eksemplar dalam tiga tahun terakhir dari tahun 2014- 2016,yaitu tahun 2014 sebanyak 18 eksemplar atau 28%, tahun 2015 sebanyak 23 eksemplar atau 35%, selanjutnya tahun 2016 sebanyak 24 eksemplar atau 37%.
Pengguna sangat jarang melakukan hadiah/sumbangan buku ke perpustakaan sehingga bahan pustaka dari hasil hadiah/sumbangan yang diterima sangat sedikit.Setiap tahunnya hasil sumbangan yang diperoleh mengalami sedikit peningkatan tetapi walaupun begitu, dapat diketahui bahwa tiap tahun adanya perkembangan terhadap pengguna yang datang ke perpustakaan.
Disamping itu, Dinas Perpustakaan Sibolga mengadakan penghibaan bahan pustaka ke luar seperti penghibaan bahan pustaka ke perpustakaan kelurahan.
Penghibaan bahan pustaka yang sering dilakukan adalah buku-buku umum seperti buku fiksi dan non fiksi. Dinas Perpustakaan Sibolga tidak sering melakukan penghibaan bahan pustaka, tergantung permohonan proposal yang dilakukan oleh perpustakaan kelurahan. Paling sedikit sekali dalam tiga tahun melakukan penghibaan bahan pustaka.
Diagram Alir Sumbangan Bahan Pustaka
Mulai
Dinas Perpustakaan Sibolga
Menerima sumbangan dari pengguna
Sumbangan yang diterima dicatat ke buku induk
Pengolahan buku/
menentukan nomor kelas
Shelving buku ke rak
3.2.3 Inventarisasi
Pada Dinas Perpustakaan Sibolga setiap bahan pustaka yang masuk menjadi milik perpustakaan. Bahan pustaka yang masuk ke perpustakaan terlebih dahulu dilakukan pengecekan buku, lalu diinventarisasikan, buku dikelola dan diinput (dicatat)ke dalam buku induk. Kegiatan inventarisasi pada Dinas Perpustakaan Sibolga adalah sebagai berikut:
1. Memberikan stempel pada bahan pustaka yang diterima
Bahan pustaka yang diterima terlebih dahulu diperiksa. Selanjutnya, membubuhkan stempel kepemilikan perpustakaan. Pemberian stempel pada Dinas Perpustakaan sudah ditetapkan.
Gambar 3.3. Stempel Milik Perpustakaan
2. Mendaftarkan bahan pustaka yang telah diberi stempel ke dalam buku induk. Proses inventarisasi pada Dinas Perpustakaan Sibolga dilakukan secara manual. Dengan adanya inventarisasi, setiap bahan pustaka yang diterima dapat diketahui keterangan catatan koleksi bahan pustaka.
Adapun kolom yang memuat buku inventaris sebagai berikut:
1. Kolom tanggal kedatangan buku
Kolom ini diisi ketika buku yang dibeli atau hadiah/sumbangan sudah diterima.
2. Kolom judul buku
Judul yang ditulis pada kolom ini adalah judul yang tercantum pada halaman judul secara lengkap.
3. Kolom nama pengarang
Kolom ini diisi nama pengarang atau siapa penulis buku tersebut.
Begitu juga dengan buku yang diperoleh diterbitkan oleh badan maka yang dimasukkan nama badan intansi.
4. Kolom penerbit
Kolom ini diisi dengan nama badan yang menerbitkan buku, baik badan pemerintah maupun swasta.
5. Kolom tahun terbit
Kolom ini diisi dengan tahun terbit buku. Bila buku diterbitkan ulang, ditulis tahun copyright dan tahun cetak ulang.
6. Kolom sumber buku
Kolom ini diisi dengan perolehan buku. Misalnya, buku pembelian, hadiah/sumbangan.
7. Kolom jumlah buku
Kolom ini diisi dengan jumlah buku yang diperoleh oleh perpustakaan. Misalnya buku yang diperoleh 3 eksemplar
8. Kolom keterangan
Kolom ini diisi dengan hal-hal yang dianggap perlu, misalnya nomor registrasi buku sekian ditempatkan pada ruang tertentu.
Gambar 3.4. Contoh Buku Induk (Inventaris)
Kegiatan inventarisasi dilakukan setelah pengadaan koleksi selesai dikerjakan yaitu pada waktu koleksi diterima. Dengan kegiatan ini, koleksi dapat diketahui berapa jumlah pertambahan dan jumlah koleksi yang dimiliki perpustakaan.
3.3 Kendala dalam Proses Pengadaan Bahan Pustaka
Setiap perpustakaan dalam melakukan pengadaan bahan pustaka mempunyai cara yang berbeda-beda. Begitu pula dengan Dinas Perpustakaan Sibolga juga mengadakan bahan pustaka seperti yang biasa dilakukan oleh perpustakaan lainnya.Petugas perpustakaan atau pustakawan yang bertugas untuk melakukan pengadaan bahan pustaka harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai sistem pengadaan bahan pustaka. Dalam melakukan kegiatan pengadaan bahan pustaka tentunya tidak semudah yang dibayangkan. Pasti ada kendala maupun hambatan yang dihadapi.
Adapun kendala yang dihadapi pustakawan dalam proses pengadaan bahan pustakapada Dinas Perpustakaan Sibolga adalah sebagai berikut:
1. Dana. Sulitnya dana yang diperoleh oleh Dinas Perpustakaan Sibolga membuat lambatnya proses pembelian buku. Ketersediaan dana pencairan yang tidak tepat waktu membuat pengadaan bahan pustaka tersendat, terutama dalam transaksi pembelian bahan pustaka yang akan diadakan.
2. Proses Pembayaran. Proses pembayaran agak rumit, dilakukan dengan teliti karena setelah dilakukannya pembayaran selanjutnya membuat laporan keuangan kepada pemerintah, laporan yang disampaikan harus tepat dengan apa yang dilakukan pada proses pembayaran, jika tidak maka dapat terjadi kesalahpahaman. Misalnya, jika laporan yang disampaikan salah dalam perhitungan, pemerintah sudah tidak mempercayai pihak perpustakaan.
3. Waktu pengiriman. Dalam sistem pembelian bahan pustaka yang dilakukan Dinas Perpustakaan Sibolga biasanya dari kota Medan karena lebih banyak terdapat toko buku maupun penerbit yang berada di kota Medan. Sehingga membutuhkan waktu dalam pengiriman bahan pustaka karena jarak yang cukup jauh untuk ditempuh antara Medan-Sibolga.
4. Pustakawan. Pada Dinas Perpustakaan Sibolga hanya memiliki dua pustakawan yang memang di bidang perpustakaan, selebihnya pustakawan yang ada tidak dibidangnya atau jurusannya sehingga banyak pustakawan yang masih kurang mengerti tentang perpustakaan.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan penulis ke Dinas Perpustakaan Sibolga, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Koleksi yang ada di perpustakaan berupa terbitan berseri seperti koran dan majalah, koleksi fiksi seperti novel, komik, cerpen, dan koleksi non fiksi seperti buku pelajaran, ensiklopedia. Jumlah keseluruhan koleksi yang ada sebanyak 14.219 eksemplar.
2. Pengadaan bahan pustaka diperoleh melalui pembelian dan hadiah/sumbangan dari masyarakat setempat.
3. Pengadaan bahan pustaka yang paling banyak dilakukan adalah melalui pembelian
4. Staff perpustakaan pada bidang ilmu perpustakaan hanya berjumlah 2 orang.
5. Anggaran dana yang diterima dari pemerintah sangat terbatas.
4.2 Saran
Setelah melakukan pengamatan langsung pada Dinas Perpustakaan Sibolga, penulis dapat memberikan saran yang bisa diharapkan dapat bermanfaat bagi Dinas Perpustakaan Sibolga, seperti:
1. Sebaiknya jumlah koleksi bahan pustaka di perpustakaan ditambah agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
2. Dinas Perpustakaan Sibolga belum melakukan sistem pertukaran bahan
berkembang. Sebaiknya Dinas Perpustakaan Sibolga mengadakan sistem pertukaran bahan pustaka pada perpustakaan lain agar koleksi yang dimiliki selalu diperbaharui serta guna mengatasi kekurangan koleksi perpustakaan.
3. Kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia) yang ahli dalam bidang ilmu perpustakaan sehingga masih ada staff perpustakaan yang belum mengerti dalam bidang perpustakaan.Sebaiknya, Dinas Perpustakaan Sibolga mengutamakan pustakawan yang memiliki keahlian dibidang ilmu perpustakaan agar perpustakaan dapat dikendalikan dengan baik.
4. Pustakawan masih berjumlah 2 orang, sebaiknya pustakawan perlu ditambah agar dapat meningkatkan pelayanan perpustakaan.
5. Sebaiknya dana atau anggaran perlu ditetapkan agar dapat meningkatkan jumlah koleksi bahan pustaka di perpustakaan.
DAFTAR PUSTAKA
Bafadal, Ibrahim. 2001. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Bafadal, Ibrahim. 2005. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Darmono, 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta:
Gramedia.
Darmono. 2007. Perpustakaan Sekolah : Pendekatan Aspek Manajement dan Tata Kerja. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.
Hermawan S., Rachman dan Zulfikar Zen, 2006. Etika Kepustakawanan : Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik Pustakawanan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.
Lasa Hs. 2007. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Pinus Book Publisher.
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sumantri, M.T. 2002. Panduan Penyelanggaraan Perpustakaan Sekolah.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sutarno, NS. 2006. Manajemen Perpustakaan : Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Sagung Seto.
Susanti, Nofrila dan Rahmah, Elva. 2013. Tinjauan Pengadaan Bahan Pustaka Di Perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang. Padang: FBS Universitas Negeri Padang. Diakses 29 Juni 2017
Alrosyid, Hafid. 2008. Pengadaan bahan pustaka di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah.Surakarta: FISIP Universitas Sebelas Maret. Diakses 02 Juni 2017
Rahayu, Ni Putu Dewi Gardina. 2015. Pengadaan Bahan Pustaka di Perpustakaan Pusat Universitas Warmadewa.Bali: FISIPUniversitas Udayana. Diakses 29 Juni 2017.