• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pinisi: Journal of Teacher Professional Volume 3, Nomor 3 November 2021 e-issn: DOI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pinisi: Journal of Teacher Professional Volume 3, Nomor 3 November 2021 e-issn: DOI"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

218 DOI.10.26858

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING SISWA KELAS V

SD NEGERI 103 LUMBEWE

Asriani1, Erma Suryani Sahabuddin2, Fatmawaty3

Email: [email protected]

1Pendidikan Guru Sekolah Dasar, SD Negeri 103 Lumbewe Email: [email protected]

2Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Makassar Email: [email protected]

3Pendidikan Guru Sekolah Dasar, SD. Inpres Unggulan BTN Pemda

Artikel info Abstrak

Received; 9-9-2021 Revised:10-10-2021 Accepted;25-11-2021 Published,16-11-2021

Hasil belajar sangat penting dalam pembelajaran. Hasil belajar merupakan suatu hasil yang nyata yang dicapai oleh siswa dalam usaha menguasai materi pembelajaran yang diwujudkan berupa hasil evaluasi. Dengan adanya hasil belajar tersebut kita mampu untuk melihat perkembangan yang dimiliki oleh siswa. Dalam pembelajaran IPA, hasil belajar dapat digunakan sebagai acuan tingkat pemahaman siswa terhadap pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Bagaimanakah hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA materi siklus air. (2) Bagaimanakah proses penggunaan model pembelajaran discovery learning pada materi siklus air; dan (3) Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA setelah menggunakan model pembelajaran discovery learning. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas V-A SD Negeri 103 Lumbewe, Kabupaten Luwu Timur yang berjumlah 28 siswa, terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan.

Key words:

Discovery Learning, Siklus

Air, dan Hasil Belajar. artikel pinisi:journal of teacher proffesonal dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY-4.0

PENDAHULUAN

Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, IPA memiliki peran yang sangat penting. Bahkan kemajuan IPTEK yang begitu pesat sangat mempengaruhi perkembangan dalam dunia pendidikan terutama pendidikan

(2)

219 IPA di Indonesia dan negara-negara maju. Kenyataan yang terjadi di Indonesia, mata pelajaran IPA tidak begitu diminati dan kurang diperhatikan. Apalagi melihat kurangnya pendidik yang menerapkan konsep IPA. IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan keterampilan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.

Berdasarkan hal tersebut, jelas bahwa metode pembelajaran yang tepat digunakan dalam pembelajaran IPA adalah bersifat penemuan atau dikenal istilah discovery learning, yakni sebuah metode pembelajaran yang dapat menumbuhkan sensifitas pola pikir siswa secara aktif, kritis, dan inovatif. Oleh karena itu pembelajaran IPA yang ideal bagi tingkatan siswa SD yaitu perlunya menekankan pengalaman secara langsung. Hal ini bertujuan agar dapat merangsang (stimulasi) sensitif daya pikir siswa terhadap gejala alam yang timbul, menumbuhkan motivasi pola pikir aktif siswa untuk mengkritisi dan memecahkan masalah yang ada secara berkelompok tentang fenomena alam yang timbul. Dengan demikian siswa dapat memahami dan menguasai materi IPA dengan mudah karena mengalami secara langsung dan bekerjasama.

METODE PENELITIAN

Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian tindakan kelas (classroom action research) yaitu berbentuk siklus yaitu dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Model pembelajaran penyingkapan/penemuan (discovery learning) adalah memahami konsep, arti, dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan.

Discovery terjadi bila individu terlibat terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Aryana (2018) mengemukakan aktivitas model pembelajaran Discovery Learning yaitu dengan menggunakan sintak antara lain sebagai berikut, pertama, pemberian rangsangan (stimulation). Kedua, pernyataan/identifikasi masalah (problem statement). Ketiga, pengumpulan data (data collection). Keempat, pengolahan data (data processing). Kelima, pembuktian (verification). Dan keenam, menarik simpulan/generalisasi (generalization).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil test pra tindakan menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas 68,93; nilai maksimal 85;

nilai minimal 50 dan rentang nilai sebesar 35. Sementara persentase siswa yang telah mencapai KKM baru 50%. Hasil tersebut menggambarkan bahwa hasil belajar IPA siswa pada materi siklus air masih rendah. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan perbaikan yang harus segera dilakukan oleh peneliti untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pada saat observasi, peneliti melihat kegiatan pembelajaran IPA kurang menarik perhatian siswa. Peneliti mengajarkan materi dengan menggunakan pendekatan pembelajaran

(3)

220 ekspositori, yaitu pembelajaran berupa informasi verbal yang diperoleh dari buku dan penjelasan peneliti. Siswa hanya memperoleh informasi melalui aktifitas-aktifitas mendengarkan, membaca, dan mencatat. Sumber-sumber belajar yang digunakan sebagian besar bersifat tekstual, yaitu bahan ajar cetak yang terancang secara sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran seperti gambaran dan buku. Oleh karena itu, masih banyak siswa yang kurang antusias mengikuti pembelajaran. Guna meningkatkan minat dan antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA, perlu dirancang metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik IPA, sehingga pembelajaran IPA mestinya diajarkan dengan metode penemuan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gagne dan Berliner (Moedjiono dan Moh.Dimyati, 1991: 90) menyatakan bahwa metode discovery adalah metode dimana para siswa memerlukan penemuan konsep, prinsip dan pemecahan masalah untuk menjadi miliknya lebih dari pada sekedar menerimanya atau mendapatkannya dari seorang peneliti atau sebuah buku.

Pada pembelajaran siklus I, langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk menerapkan model Discovery Learning pada pembelajaran siklus air, pertama pemberian rangsangan (stimulation). Peneliti menyiapkan alat, bahan, media, dan LKPD yang akan digunakan sudah tersedia dan mencukupi untuk semua siswa. Kemudian membagi siswa ke dalam kelompok yang beranggotakan 4-5 orang, memfasilitasi siswa mengamati video proses terjadinya hujan, mengingatkan kembali pengertian dari penguapan dan pengembunan, dengan memberi instruksi kepada siswa untuk mendiskusikannya. Kedua, identifikasi masalah (problem statement) yaitu siswa merumuskan masalah yang akan dipecahkan dalam pembelajaran. peneliti menanyakan bagaimana tahap-tahap pada proses siklus air.

Ketiga, pengumpulan data (data collection) dengan mengamati toples kaca yang diberi air panas sepertiga bagian, kemudian toples ditutup. Bakar kapas dan masukkan ke dalam toples. Letakkan es batu di atas tutup toples. Selanjutnya siswa mengamati proses penguapan air dalam toples, setelah didinginkan uap air mengembun pada tutup toples dan jatuh kembali ke bawah. Keempat, pengolahan data (processing), siswa menjelaskan proses yang terjadi di dalam toples yaitu terjadi proses penguapan, pengembunan, dan presipitasi. Siswa mencari dari berbagai sumber bacaan tentang pengertian dari evaporasi, presipitasi, kondensasi, transpirasi, dan infiltrasi. Siswa membuat skema siklus air secara sederhana, misalnya dengan menggunakan gambar. Kelima, pembuktian (verification).

Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Keenam, kesimpulan (generalization). Siswa dalam kelompok menyimpulkan hasil penyelidikannya tentang siklus air dalam bentuk skema atau peta pikiran. Nilai rata-rata kelas pembelajaran siklus I menunjukkan peningkatan bila dibanding dengan pra tindakan, yaitu dari 68,93 menjadi 76,96. Nilai maksimal 95 dan nilai minimal 60. Sementara persentase siswa yang telah mencapai KKM pada siklus I meningkat 21,43%, dari 50% pada pra tindakan menjadi 71,43% pada siklus I. Pada pra tindakan ada 14 siswa yang masuk kategori gagal karena nilai dibawa KKM yang ditetapkan.

(4)

221 Pada siklus II, materi yang dibahas merupakan kelanjutan materi sebelumnya, yaitu tentang hasil penyelidikan siswa tentang siklus air dalam bentuk skema atau peta pikiran.

Proses pembelajaran sama dengan metode pembelajaran discovery learning sebelumnya dengan melakukan perbaikan-perbaikan sesuai dengan hasil refleksi terhadap pelaksanaan siklus I. Tindakan yang dilakukan pada siklus II masih tetap menggunakan pendekatan discovery learning, namun peneliti membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil yang heterogen baik berdasarkan prestasi, jenis kelamin, maupun kebiasaan bergaul. Hal ini sejalan dengan pendapat Slavin (Etin Solihatin, 2009: 4), pembagian kelompok yang heterogen dimaksudkan agar anggota kelompok dapat bekerja sama dan dapat menularkan pengetahuannya satu sama lain. Kemudian memberikan kesempatan kepada kelompok untuk maju kedepan mempresentasikan hasil praktikumnya. Dengan memberi kesempatan kepada kelompok yang terpilih untuk maju ke depan guna mempersentasikan hasil praktikumnya, suasana belajar menjadi lebih hidup, siswa nampak lebih bersemangat untuk mengemukakan pendapatnya. Akibat diberikan kesempatan bagi kelompok siswa yang terpilih untuk mempersentasikan hasil praktikumnya, mampu memacu semangat belajar siswa, sehingga pada siklus II siswa yang telah mencapai KKM mencapai 89,29% atau ada 25 siswa dari 28 siswa yang mencapai KKM. Masih menyisahkan 3 (tiga) siswa yang gagal mencapai KKM.

Selain siswa diberi bimbingan dan motivasi, peneliti juga memberikan penghargaan bagi kelompok yang aktif. Hal tersebut dapat meningkatkan motivasi siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan kelompok antara lain diskusi dalam mengerjakan soal dan persentasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Wina Sanjaya (2005: 196), yang mengatakan bahwa pemberian penghargaan dapat memotivasi kelompok untuk berprsetasi dan memotivasi kelompok lain meningkatnya prestasinya. Data yang dihasilkan pada siklus II ternyata sudah memenuhi keberhasilan penelitian, sehingga penelitian tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terimakasih ini, saya berikan kepada pihak pihak terkait yang telah mendukung perwujudan artikel penelitian ini, sebagai berikut :

1. Bapak Prof. Dr. H. Husain Syam, M.T.P., selaku Rektor Universitas Negeri Makasar, dengan dedikasinya beliau yang tinggi untuk kemajauan UNM, memotivasi penyusun untuk selalu menjaga nama baik almamater.

2. Bapak Dr. Ir. H. Darmawang, M.Kes, Prodi sebagai ketua PPG UNM yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melakukan penelitian.

3. Bapak Benediktus, S.Pd, yang telah berkenan memberikan ijin untuk penyelenggaran penelitian di SMA Negeri 2 Sungai Ambawang.

4. Bapak Dr. H. Ruslan, M.Pd, sebagai dosen pembimbing yang telah banyak memberikan ilmu, arahan dan motivasi untuk membimbing kami kepada jalan yang benar.

5. Ibu Siti Rokhmah,S.Si, S.Pd, sebagai guru pamong yang telah dengan sabar

(5)

222 membimbing cara mengajar dan membuat materi dengan baik dan benar.

6. Teman-teman satu angkatan (khususnya kelompok C) yang telah memberikan semangat dan saling membantu dalam hal positif.

SIMPULAN

Hasil penelitian siklus I menunjukkan bahwa persentase siswa yang nilainya di atas KKM baru mencapai 71,43%, sehingga masih belum dapat mencapai kriteria keberhasilan penelitian. Pada siklus II, langkah-langkah penerapan metode pembelajaran discovery learning untuk meningkatkan keberhasilan siswa dilakukan dengan cara pemberian motivasi, pembagian jumlah anggota kelompok yang lebih kecil dan keheterogenan anggotanya, serta memberikan kesempatan melakukan presentasi kelompok atas hasil praktikumnya di depan kelas. Persentase nilai siswa yang di atas KKM pada siklus II meningkat menjadi 89,29%. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran discovery learning mampu meningkatkan hasil belajar IPA siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Azhari. (2015). Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA1 Pada Materi Sistem Pernapasan di SMA Negeri UNGGUL Sigli. Jurnal Biologi Edukasi Vol.7 No.1, 16.

Depdiknas. (2003). Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.

Puspitasari. (2009). Skripsi: “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Ipa Siswa Kelas III Melalui Penerapan Metode Guided Inquiry – Discovery”. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Dorkas Tambalo, I. d. (2015). Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas IV SD Inpres 2 KasimberMelalui Metode Tanya Jawab pada Mata Pelajaran PKn. Jurnal Kreatif Tadulako Vol.2 No.4, 46.

Moedjiono Moh. Dimyati. (1991). Strategi Belajar Mengajar. Jakata: Depdikbud.

Karyatin. (2016). Penerapan Modified Problem Bases Learning (PBL) dengan Gallery walk (GW) untuk Meningkatkan Keterampilan Menyusun Peta Pikiran dan Hasil Belajar IPA. JPPIPA Vol.1 No.2, 43.

Ria Satini, A. A. (2015). Hubungan Minat Baca dan Motivasi Belajar Dengan Keterampilan Menulis Berita Siswa Kelas VIII SMP Negeri 24 Padang. Jurnal Bahas , Sastra dan Pembelajaran Vol.2 No.1, 33.

Rizky Puspitadewi, A. N. (2016). Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning untuk Meningkatakan Minat dan Prestasi Siswa Pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan kelas XI MIA 3 Semester Genap SMA N 1 Teras Tahun Pelajaran 2015/2016. Jurnal Pendidikan Kimia Vol.5 No.4, 115.

Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

(6)

223 Anggit Bagus Nugroho. (2013). Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui metode Pembelajaran Discovery Terbimbing pada siswa kelas V SDN Condongcatur Yogyakarta, Skripsi. Yokyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang masalah solusi yang disarankan berikut ini rumusan masalah yang dapat dikembangkan dalam penyajian yaitu bagaimana perencanaan pembelajaran,

Pembelajaran IPA di sekolah dasar memerlukan inovasi agar dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.Oleh karena itu, seharusnya guru IPA di sekolah dasar harus

Penggunaan media audio visual dalam pembelajaran di Kelas V SDN Klayusiwalan, Batangan, Pati, dapat dilakukan dengan cara: a) Guru mempersiapkan ruangan kelas

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Problem Based Learning terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas II Penelitian Tindakan kelas

Jika skor hasil belajar Matematika siswa tersebut dikelompokkan ke dalam 5 kategori, maka hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 229 Waru Kecamatan Malili Kabupaten

Guru membagikan lembar kerja kelompok kepada masing-masing kelompok, sehingga masing-masing anggota kelompok sudah dapat merencanakan apa yang akan mereka selidiki

2. Guru mempersiapkan alat media seperti laptop, proyektor, layar, dll. Guru menyiapkan video yang akan ditampilkan sesuai dengan tema yang diajarkan dan memastikan PPT

Untuk mencapai hasil belajar secara optimal, upaya yang dapat dilakukan seorang guru adalah menggunakan model yang sesuai dalam menyampaikan materi kepada peserta