• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pinisi: Journal of Teacher Professional Volume 3, Nomor 3 November 2021 e-issn: DOI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pinisi: Journal of Teacher Professional Volume 3, Nomor 3 November 2021 e-issn: DOI"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

696 DOI.10.26858

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA

KELAS IV DI SDN BUTUNG 1

Syamsidar1, Muh. Faisal2, Hj. Sriyanti Sinusi3

Email: [email protected]

1PGSD, UPT SPF SD Negeri Butung I Email: [email protected]

2Bahasa Indonesia, Universitas Negeri Makassar Email: [email protected]

3Pendidikan Guru Sekolah Dasar, UPT SPF SD Negeri KIP Baraya 2

Artikel info Abstrak

Received; 9-9-2021 Revised:10-10-2021 Accepted;25-11-2021 Published,16-11-2021

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap hasil belajar siswa kelas IV UPT SPF SD Negeri Butung I pada pembelajaran tematik tema 9, sub tema 3, pembelajaan 3. Penelitian ini menggunakan penelitian quasi experiment tipe nonequivalent control group design kepada seluruh siswa kelas IV A dan IV B. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, observasi, wawancara, dan kuesioner . Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas V pada pembelajaran tematik tema 3 subtema 1 pembelajaran 2. Besarnya pengaruh sebesar r = 0,65 atau setara dengan 42%

yang termasuk dalam kategori efek besar. Hasil uji perbedaan selisih skor pretest-posttest menggunakan statistik parametrik dengan Independent samples t-test menunjukkan bahwa rerata selisih skor pada kelompok eksperimen (M = 33,06, SE = 1,19) lebih tinggi daripada rerata selisih skor pada kelompok kontrol (M = 19,84, SE = 1,86). Perbedaan tersebut signifikan dengan t(46,67) = -5,96 dan p = 0,00. Harga Sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak dan H1 diterima artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest-pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.

Key words:

Problem Based Learning,

Hasil belajar, Tematik artikel pinisi:journal of teacher proffesonal dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY-4.0

PENDAHULUAN

Pembelajaran yang berlangsung di sekolah tentu tak lepas dari peraturan dan kurikulum yang telah ditentukan.Saat ini Indonesia tengah menerapkan Kurikulum 2013 yang berbasis pada pembelajaran tematik.Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.Tema yang diberikan

(2)

697 merupakan pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi topik pembelajaran (Trianto, 2011).

Berdasarkan penjelasan tersebut maka sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013 tentunya telah menerapkan pembelajaran tematik.Pembelajaran berdasarkan tema ini mengaitkan beberapa mata pelajaran dengan memilih tema tertentu, oleh karena itu mata pelajaran tetaplah ada dalam pembelajaran tematik seperti halnya Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA merupakan salah satu dari mata pelajaran inti di sekolah dasar.Dalam kurikulum sekolah dasar, IPA menjadi salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep- konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Proses pembelajaran IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah (BSNP, 2006)

IPA di sekolah dasar hendaknya membantu mereka mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban berdasarkan bukti serta mengembangkan cara berpikir ilmiah. Fokus program pengajaran IPA di sekolah dasar hendaknya ditujukan untuk memupuk minat dan pengembangan anak didik terhadap dunia di mana mereka hidup (Samatowa, 2011). Pembelajaran IPA di sekolah dasar memerlukan inovasi agar dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.Oleh karena itu, seharusnya guru IPA di sekolah dasar harus mampu membuat inovasi dalam pembelajaran IPA.Inovasi pembelajaran tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan model-model pembelajaran, salah satunya adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah.Menurut Ibrahim & Nur (Rusman 2010) Pembelajaran Berbasis Masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi siswa dalam situasi yang berorientasi pada masalah dunia nyata, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Menurut (Sugiyono, 2010) metode penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan (treatment) tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Sedangkan menurut (Kountour, 2003) penelitian eksperimen adalah penelitian di mana ada perlakuan (treatment) terhadap variabel independen.Sebagaimana telah diutarakan, penelitian eksperimen dapat memberikan penjelasan tentang “alasan mengapa”. Penelitian ini menggunakan tipe desain pretest- postest yang tidak ekuivalen karena penelitian jumlah siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen berbeda. Tipe desain pretest-postest yang tidak ekuivalen dilakukan dengan cara memberi pretest sebanyak satu kali untuk mengetahui kemampuan awal siswa tiap kelompok (Sudijono, 2011). Penelitian dilakukan di kelas IV A dan IV BUPT SPF SD Negeri Butung I.Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, observasi, wawancara, dan kuesioner.Pengujian instrumen dilakukan sebelum instrumen digunakan dalam penelitian.Pengujian instrumen dilaukan untuk menghindari pertanyaanpertanyaan yang tidak dimengerti oleh responden.Teknik pengujian instrumen

(3)

698 berupa uji validitas dan uji reliabiltas.Teknik analisis data yang digunakan yaitu menggunkan uji asumsi, uji perlakuan awal dan analisis lebih lanjut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji normalitas dilakukan dengan menganalisis skor pretest, posttest, dan selisih skor postest ke pretest. Data yang digunakan berasal dari kleompok kontrol dan kelompok eksperimen.Data dianalisis dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa harga Sig. (2-tailed) > 0,05 untuk semua aspek pretest, postest, dan selisih postest-pretest untuk kelompok kontrol dan eksperimen. Hal tersebut berarti Hnull diterima dan H1 ditolak sehingga tidak ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas data atau data terdistribusi normal.

Uji asumsi untuk memeriksa homogenitas varians dengan melihat harga Sig. Levene’s test.Jika harga Sig. (2-tailed) > 0,05 maka variankedua data yang dibandingkan sama atau homogen. Jika harga Sig. (2- tailed) < 0,05 maka varian kedua data tidak homogen (Priyatno, 2012). Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 0,095 dan harga Sig. (2-tailed) = 0,759, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas varians data karena harga Sig. (2-tailed) >0,05.

Uji perbedaan kemampuan awal bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji ini dilakukan untuk memastikan bahwa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama, meskipun poengambilan sampel penelitian tidak dilakukan secara random, sehingga kedua kelompok dapat dibandingkan.

Uji perbedaan kemampuan awal menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 95% dengan kriteria untuk menolak Hnull adalah jika Sig. (2- tailed) < 0,05 (Priyatno, 2012). Berikut hasil uji perbedaan kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.

Rerata skor yang dicapai oleh kelompok eksperimen (M = 8,96, SE= 0,35) lebih rendah daripada rerata skor yang dicapai kelompok kontrol (M = 8,06, SE = 0,33). Perbedaan skor tersebut tidak signifikan dengan t(57) = 1,86 dan p = 0,068. Harga Sig. (2-tailed) >

0,05 maka Hnull diterima dan H1 ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest kemampuan awal kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sehingga kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama.

Uji perbedaan selisih nilai pretest ke posttest dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan selisih nilai antara pretest dan posttest. Uji selisih nilai pretest ke posttest dilakukan menggunakan analisis parametrik yaitu Independent samples t-test karena data berdistribusi normal dan homogen. Kriteria untuk menolak Hnull jika harga Sig. (2- tailed) < 0,05 (Priyatno, 2012: 24).

Rerata selisih skor pada kelompok eksperimen (M = 26,73, SE = 2,31) lebih tinggi daripada rerata selisih skor pada kelompok kontrol (M = 13,52, SE = 2,41). Perbedaan

(4)

699 tersebut signifikan dengan t(57) = - 3,94 dan p = 0,00. Harga Sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak dan H1 diterima artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest-pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penerapan model Problem Based Learning berpengaruh terhadap hasil belajar.

Perbedaan selisih antara kelompok kontrol dengan mean= 13,52 dengan kelompok eksperimen dengan mean= 26,73. Kelompok kontrol memiliki selisih skor pretest dan posttest yang lebih rendah daripada kelompok eksperimen. Perhitungan persentase peningkatan skor pretest ke posttest dilakukan untuk mengetahui besarnya persentase peningkatan hasil belajar pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Cara menghitung persentase ini dengan mengurangkan skor posttest dengan skor pretest, kemudian hasilnya dibagi dengan skor pretest dan dikalikan 100%.

Dapat diketahui bahwa ada peningkatan skor antara pretest ke posttest pada kelompok kontrol dan eksperimen. Nilai mean pretest pada kelompok kontrol sebesar 64,03 dan nilai mean posttest sebesar 77,55. Persentase peningkatan pretest ke posttest kelompok kontrol yaitu 21%. Nilai mean pretest pada kelompok eksperimen sebesar 57,60 dan nilai mean posttest sebesar 84,33. Persentase peningkatan pretest ke posttest kelompok ekperimen yaitu 46%. Persentase peningkatan pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Hasil uji signifikansi peningkatan skor pretest ke posttest pada kelompok kontrol menunjukkan harga Sig. (2-tailed) sebesar 0,00 dan pada kelompok eksperimen menunjukkan harga Sig. (2-tailed) sebesar 0,00. Kedua kelompok sama-sama memiliki harga Sig. (2-tailed) <0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima sehingga ada perbedaan yang signifikan antada rerata selisih skor pretest dan posttest pada kelompok kontrol dan eksperimen. Dengan kata lain, kedua kelompok mengalami peningkatan skor yang signifikan pada hasilbelajar.

Uji ini dilakukan untuk mengetahui besar peningkatan efek nilai pretest ke posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji ini menggunakan data hasil analisis paired samples t-test yang dilakukan pada uji peningkatan nilai pretest dan posttest.

Berdasarkan uji besar pengaruh perlakuan, harga r (effect size) pada hasil belajar kelompok kontrol adalah sebesar 0,72 yang setara dengan efek besar. Harga r2 yaitu 0,53 sehingga jika dikalikan 100% maka presentase besar pengaruh perlakuan pada hasil belajar yaitu 53%. Artinya metode ceramah yang diterapkan pada kelompok kontrol memberikan pengaruh sebesar 53% terhadap hasil belajar siswa. Sedangkan untuk harga r (effect size) pada hasil belajar kelompok eksperimen adalah sebesar 0,9 yang setara dengan efek besar. Harga r2 yaitu 0,81 sehingga jika dikalikan 100% maka presentase besarpengaruh perlakuan pada hasil belajar yaitu 81%. Artinya Model Problem Based Learning memberikan pengaruh sebesar 81% terhadap hasil belajar.

(5)

700 UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terimakasih saya tunjukkan kepada kepala sekolah yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian, serta siswa di kelas IVA dan IV B UPT SPF SD Negeri Butung I. Selain itu ucapan terimakasih ditunjukkan kepada dosen pendamping program studi pendidikan guru sekolah dasar dan guru pamong program studi pendidikan guru sekolah dasar di Universitas Negeri Makassar yang telah membimbing penulisan artikel dan memotivasi dalam penelitian serta ucapan terimakasih semua pihak yang telah membantu hingga selesainya artikel ini.

SIMPULAN

Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran Tema 1 Subtema 1 Pembelajaran 3 pada siswa kelas V SD Negeri Tegalrejo 2.Hasil analisis terhadap data penelitian menjawab hipotesis penelitian. Hasil uji perbedaan selisih skor pretest-posttest menggunakan statistik parametrik dengan Independent samples t-test menunjukkan bahwa rerata selisih skor pada kelompok eksperimen (M=26,73, SE=2,31) lebih tinggi dari pada rerata selisih skor pada kelompok kontrol(M=13,52,SE= 2,41). Perbedaan tersebut signifikan dengan t(57)

= -3,94 dan p = 0,00. Harga Sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak dan H1 diterima artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest-pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pengaruh Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar ini termasuk dalam kategori efek besar, hal tersebut ditunjukkan dengan harga r (effect size) sebesar r = 0,9 atau setara dengan 81%. Artinya model Problem Based Learning memberikan pengaruh sebesar 81% terhadap hasil belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

BSNP.(2006). Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006 tentang tandar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.Jakarta : Badan Standar Nasional Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional.

Kountur, Ronny.Metode Penelitian untuk Penulisan Skripsi dan Tesis.Jakarta : Penerbit PPM

Priyatno, D. (2012). Belajar Praktis Analisis Parametric dan Non Parametric dengan SPSS.Yogyakarta: Gava Media

Rusman. (2010). Model-model Pembelajaran : Mengembangkan Kompetensi Guru.

Jakarta : Rajagrafindo Persada.

Samatowa, Usman. 2011. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta : Indeks Sudijono.(2011). Pengantar Evaluasi Pendidikan.Jakarta : Raja Grafindo Jakarta Sugiyono.(2010). Metode Penelitian Pendidikan.Bandung : Alfabeta

Trianto.(2011). Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik. Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang masalah solusi yang disarankan berikut ini rumusan masalah yang dapat dikembangkan dalam penyajian yaitu bagaimana perencanaan pembelajaran,

Keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya dilihat dari aktivitas dan kinerja guru, salah satu komponen penting dalam pembelajaran yaitu adanya evalausi hasil

Penelitian ini menggunakan model pembinaan melalui supervisi akademik Kepala Sekolah yang bertujuan pada pertemuan pertama dalam pembinaan Kepala Sekolah agar guru dapat

Sedangkan pada aspek ketepatan terdapat 12 siswa atau 40% yang sangat tinggi / sangat aktif ditunjukkan dengan terpenuhinya 3 kriteria yaitu ketepatan pemeranan, ketepatan

Penelitian ini dilatari oleh masalah yang terjadi dalam pembelajaran kelas I SD, fokus masalah penelitian ini adalah ketika guru di dalam kelas mengajarkan materi

Penggunaan media audio visual dalam pembelajaran di Kelas V SDN Klayusiwalan, Batangan, Pati, dapat dilakukan dengan cara: a) Guru mempersiapkan ruangan kelas

Jika skor hasil belajar Matematika siswa tersebut dikelompokkan ke dalam 5 kategori, maka hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 229 Waru Kecamatan Malili Kabupaten

Untuk mencapai hasil belajar secara optimal, upaya yang dapat dilakukan seorang guru adalah menggunakan model yang sesuai dalam menyampaikan materi kepada peserta