• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pinisi: Journal of Teacher Professional Volume 3, Nomor 3 November 2021 e-issn: DOI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pinisi: Journal of Teacher Professional Volume 3, Nomor 3 November 2021 e-issn: DOI"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

196 DOI.10.26858

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN SIKAP PERCAYA DIRI DAN KERJASAMA

SISWA KELAS VI SD NEGERI 229 WARU KECAMATAN MALILI KABUPATEN LUWU TIMUR

Andi Sompa1 , Zaid Zainal2 , Taslim Tawil3

Email: [email protected]

1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, SD Negeri 229 Waru Email: [email protected]

2Matematika, Universitas Negeri Makassar Email: [email protected]

3Pendidikan Guru Sekolah Dasar, UPT SPF SD Perumnas IV

Artikel info Abstrak

Received; 9-9-2021 Revised:10-10-2021 Accepted;25-11-2021 Published,16-11-2021

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar Matematika melalui peningkatan kerjasama dan sikap percaya diri siswa. Guru mengajar menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning pada materi Menentukan Mean, Median dan Modus dari data Tunggal untuk melihat peningkatan pada sikap percaya diri dan kerjasama antar siswa dalam menyelesaikan suatu masalah. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 229 Waru Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur dengan Jumlah siswa 15 orang. Penelitian ini melibatkan keaktifan siswa, subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri 229 Waru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa meningkat melalui kerjasama dan sikap kepercayaan diri siswa dalam belajar. Kelebihan dari penerapan Model Problem Based Learning antara lain siswa dapat melatih kerjasama dalam kelompok, siswa lebih aktif dalam pembelajaran, kemampuan siswa akan lebih terasah, dapat memunculkan sikap percaya diri siswa ketika bekerjasama dalam kelompok, dapat pula meningkatkan semangat siswa dalam bekerja kelompok.

Key words:

Based Learning, Sikap Percaya Diri dan Kerja Sama,Hasil Belajar

artikel pinisi:journal of teacher proffesonal dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY-4.0

PENDAHULUAN

Permendikbud nomor 81 A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum, lampiran IV (1) Pedoman Umum Pembelajaran menyebutkan bahwa secara prinsip kegiatan pembelajaran merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup

(2)

197 umat manusia. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar akan mengacu pada kurikulum yang bertujuan agar siswa memiliki kemampuan untuk mengenal konsep- konsep yang Matematika yang berkaitan dengan kehidupan nyata keseharian siswa, memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, memenculkan rasa ingin tahu yang tinggi, dapat memecahkan masalah, memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, berkolaborasi dengan siswa lainnya dalam kelompok. Siswa yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi akan lebih aktif dalam proses pembelajaran serta yakin akan kemampuannya sendiri sehingga ia tidak minder untuk bekerjasama dengan siswa lainnya ketika menyelesaikan suatu masalah. Agar tercapai tujuan di atas maka salah satu indkatornya adalah aktivitas siswa dalam belajar Matematika harus tinggi namun melalui observasi dan wawancara terbatas pada sekolah tersebut khususnya pada guru dan siswa kelas VI SD Negeri 229 Waru masih terlihat beberapa anak yang kurang memperhatikan materi pelajaran ketika diajarkan oleh guru, terlihat pula beberapa orang siswa kurang bersemangat dalam belajar matematika sehingga berdampak pada hasil belajar yang tergolong rendah, sebagian siswa mengatakan bahwa pembelajaran matematika tergolong pelajaran yang sangat susah, terdapat beberapa siswa kurang percaya diri dalam menyampaikan ide-idenya dan dalam bekerjasama dalam kelompok tidak nampak suatu kerjasama dan kolaborasi antara siswa. Padahal sebelumnya guru telah berusaha menerapkan model pembelajaran saat pembelajaran berlangsung. Hal ini terlihat saat siswa melakukan presentasi rata-rata sebagian dari siswa tersebut kurang bekerjasama dalam kelompok dan kurang percaya diri ketika menyampaikan hasil diskusi dan saling lempar untuk menanggapi pertanyaan dari teman-temannya yang berbeda kelompok.

Melihat permasalahan tersebut maka perlu dilakukan perbaikan agar proses pembelajaran menjadi lebih baik sehingga dapat meningkatkan sikap percaya diri dalam membangun kerjasama dalam kelompok belajar khususnya pembelajaran Matematika. Salah satu cara yang dapat dilakukan agar keaktifan, sikap percaya diri dan kerjasama dapat tercapai yaitu dengan cara menerapkan model pembelajaran yang sesuai atau yang cocok dengan materi dalam matematika dalam hal ini menerapkan Model Problem Based Learning yaitu model pembelajaran berbasis masalah, subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas Vi SD Negeri 229 Waru yang terletak di Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur. Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang berkaitan dengan masalah dunia nyata siswa sebagai konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pembelajaran.

Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang siswa untuk bernalar dan berpikir tingkat tinggi dalam situasi yang berorientasi pada masalah yang termasuk di dalamnya belajar. Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah guru sebagai fasilitator (memfasilitasi siswa dalam menerima materi pembelajaran) serta guru juga menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan. Probel Based Learning merupakan suatu model suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat membangun pengetahuannya yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan suatu masalah. Problem Based Learning ini merupakan proses pembelajaran yang diawal proses pembelajarannya diawali dengan suatu masalah dalam kehidupan nyata siswa kemudian dari masalah ini siswa dirangsang untuk mempelajari masalah ini berdasarkan pengetahuan dan pengalaman barunya dan berdasar dari

(3)

198 pengalaman inilah maka sikap percaya diri siswa akan muncul sehingga siswa dapat bekerjasama dengan aktif di dalam kelompok belajarnya dengan siswa lainnya tanpa adanya sikap minder. Orang yang memiliki sikap percaya diri yang tinggi biasanya akan lebih mudah dikenali seperti mudah bergaul dengan lingkungannya. Berbagai karakteristik individu yang memiliki kepercayaan diri telah banyak diungkapkan oleh beberapa ahli. Menurut Lauster (2002:4) terdapat beberapa karakteristik untuk menilai kepercayaan diri individu, diantaranya 1). Percaya kemampuan sendiri, yaitu suatu keyakinan atas diri sendiri terhadap segala fenomena yang terjadi yang berhubungan dengan kemampuan individu untuk mengevaluasi serta mengatasi fenomena yang terjadi tersebut. 2) Bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, yaitu dapat bertindak dalam mengambil keputusan terhadap apa yang dilakukan secara mandiri tanpa adanya keterlibatan orang lain. Karakteristik kepercayaan diri yaitu, 1). bila seseorang merasa bahwa ia dapat melakukan segala sesuatu. 2). Bila seseorang dapat diterima di kelompoknya. 3) Bila seseorang percaya sekali pada diri sendiri serta memiliki ketenangan sikap, yaitu tidak gugup bila ia melakukan atau mengatakan sesuatu secara tidak sengaja dan ternyata hal tersebut salah. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas maka disebutkan ciri-ciri orang yang memiliki percaya diri yaitu orang-orang yang mandiri, optimis, aktif serta yakin akan kemampuan yang dimiliki oleh diri serta tidak perlu membandingkan dirinya dengan orang lain, mampu melaksanakan tugas dengan baik dan bekerjasama secara efektif, berani bertindak dan mengambil setiap kesempatan yang dihadapi, memiliki pegangan hidup yang kuat dan punya rencana untuk masa depannya kelak, mampu mengembangkan motivasinya,mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungannya yang dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang akan dilakukan dan yang telah dilakukannya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada siswa kela VI di SD Negeri 229 Waru Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur tahun ajaran 2020/2021, yang terdiri dari 15 siswa yaitu 8 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. Fokus pada penelitian ini adalah untuk mengamati bagaimana pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada kegiatan pembelajaran Matematika berlangsung dan sekaligus untuk melihat atau mengamati kerjasama siswa dalam kelompok belajar yang ada di dalam kelas dan untuk mengamati sikap percaya diri siswa dalam mempresentasikan hasil kerjasama antar siswa dalam kelompok belajar tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK), dengan alur kegiatan yaitu dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, obervasi, dan refleksi pada tiap siklus tersebut. McNiff (1992:1) dengan tegas mengatakan bahwa “penelitian tindakan kelas merupakan bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat ukur dalam hal pengembangan dan perbaikan pembelajaran”. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposeful sampling ( Gall et al., 2003). Dengan mengamati atau melihat kemampuan akademik siswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 229 Waru Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur. Berdasarkan dari data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi hasil observasi

(4)

199 pada kegiatan siswa dalam menyelesaikan soal matematika dalam hal ini siswa berpikir secara kreatif untuk menyelesaikan soal matematika tersebut yang dikaitan dengan kehidupan nyata siswa berbasis masalah, hasil pengamatan observasi untuk melihat sikap percaya diri dan kerjasama siswa dalam kelompok belajar.

Presentase skor hasil belajar siswa setelah dilaksanakan dari hasil belajar Matematika melalui model pembelajaran Problem Based Learning 1 orang siswa yang mendapat kategori sangat kurang (10%), 3 orang siswa yang memperoleh kategori kurang dengan persentase (30%), siswa yang memperoleh kategori cukup ada 5 orang siswa dengan persentase (50%), dan yang memperoleh kategori baik 1 orang siswa dengan persentase (10%). Berdasarkan hasil analisis data diperoleh skor rata-rata hasil belajar siswa pada siklus 1 sebesar 61 jika dimasukkan pada tabel 2.1. maka skor tersebut termasuk kategori cukup, berdasarkan standar yang ditetapkan oleh SD Negeri 229 Waru. Berarti rata-rata hasil yang dicapai siswa kelas VI SD Negeri 229 Waru setelah dilaksanakan melalui model pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran Matematika berada pada kategori cukup Ini berarti bahwa perlu diadakan siklus II karena masih di bawah standar penilaian yang telah ditetapkan oleh SD Negeri 229 Waru yaitu 70.

Bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 229 Waru Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur setelah dilaksanakan proses belajar melalui Model pembelajaran Problem Based Learning siklus II sebesar 71. Skor tertinggi yang dicapai siswa adalah 90 dan skor terendah 60. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemampuan siswa cukup bervariasi.

Jika skor hasil belajar Matematika siswa tersebut dikelompokkan ke dalam 5 kategori, maka hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 229 Waru Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur diperoleh distribusi frekuensi dan presentase bahwa dari 10 siswa kelas SD Negeri 229 Waru Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur presentase skor rata-rata hasil belajar siswa setelah dilaksanakan siklus II pada mata pelajaran Matematika melalui Model pembelajaran Problem Based Learning, tidak ada siswa (0%) berada pada kategori sangat kurang dan kurang, 8 orang siswa dengan kategori cukup (80%), 1 0rang siswa dengan persentase (10%) berada pada kategori baik dan 1 orang siswa dengan persentase (10%) berada pada kategori sangat baik. Apabila hasil belajar siswa pada siklus II dianalisis data dan mengacu kepada indikator keberhasilan yang ditetapkan, maka disimpulkan bahwa pembelajaran yang dilakukan masih belum berhasil. Oleh karena itu, tujuan pembelajaran belum tercapai.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif terhadap skor tes hasil belajar siklus III yang diberikan pada siswa kelas IV SD Negeri 229 Waru Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur setelah diberikan mata pelajaran Matematika melalui Model pembelajaran Problem Based Learning, Menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 229 Waru yang berada di Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur setelah dilaksanakan proses belajar melalui Model pembelajaran Problem Based Learning siklus III sebesar 80,5 Skor tertinggi yang dicapai siswa adalah 90 dan skor terendah 65. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemampuan siswa beragam dan cukup bervariasi.

Jika skor hasil belajar Matematika siswa tersebut dikelompokkan kedalam 5 kategori maka akan memperoleh data bahwa dari 10 siswa kelas SD Negeri 229 Waru Kecamatan

(5)

200 Malili Kabupaten Luwu Timur presentase skor rata-rata hasil belajar siswa setelah dilaksanakan siklus III pada mata pelajaran Matematika melalui Model pembelajaran Problem Based Learning, tidak ada siswa (0%) berada pada kategori sangat kurang dan kurang, 2 orang siswa dengan kategori cukup (20%), 6 0rang siswa dengan persentase (60%) berada pada kategori baik dan 2 orang siswa dengan persentase (20%) berada pada kategori sangat baik.

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh skor rata-rata hasil belajar siswa pada siklus III sebesar 80,5. jika skor rata-rata dimasukkan pada tabel 9 maka berada pada kategori Baik.

Berarti bahwa rata-rata peningkatan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 229 Waru Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur setelah dilaksanakan siklus III pada mata pelajaran Matematika melalui model pembelajaran Problem Based Learning berada pada kategori baik, berdasarkan standar penilaian yang ditetapkan oleh Depdikbud berarti hasil belajar siswa meningkat.

Setelah hasil belajar siswa pada siklus III dianalisis, maka diperoleh data bahwa dari 10 siswa terdapat 10% siswa yang belumtuntas belajar, 90% siswa yang sudah tuntas belajar.Hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran tindakan siklus III menunjukkan bahwa semua siswa secara aktif bekerjasama dalam menyelesaikan masalah yang telah dikemukakan pada LKPD dengan sikap percaya diri siswa mempresentasikannya di depan teman kelasnya. Mereka sudah percaya diri dan berani mengemukakan pendapatnya dalam mempresentasikan hasil pekerjaannya dengan menggunakan bahasa yang baku yang sesuai dengan ejaan yang telah disempurnakan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih saya tujukan kepada kepala sekolah yang telah memberikan motivasi, semangat dan memberikan izin untuk melakukan penelitian, terima kasih pula saya ucapan kepada semua guru dan siswa yang telah berpartisipasi dan membantu saya dalam penelitian ini. Selain itu ucapan terima kasih juga saya tujukan kepada dosen pendamping program studi pendidikan guru sekolah dasar dan guru pamong program studi pendidikan sekolah dasar di Universitas Negeri Makassar yang telah membimbing dan mengarahkan dalam penulisan artikel ini dan terima kasih pula saya ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu saya sehingga artikel ini dapat terselesaikan.

SIMPULAN

Dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dalam

pembelajaran maka dapat meningkatkan kerjasama antar siswa dan meningkatkan sikap percaya diri siswa dalam mengutarakan pendapatnya di hadapan teman lainnya pada mata pelajaran Matematika materi Menentukan Mean, Median dan Modus dari data tunggal. Hal ini dapat dibuktikan pada siklus I pada pertemuan I masih berada pada kategori cukup, pada siklus II juga masih belum berhasil namun sudah ada ada kenaikan hasil belajar siswa, pada siklus III sudah dalam kategori baik.

(6)

201 DAFTAR PUSTAKA

Kemdikbud. (2013) Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013.

Wijaya, A (2014). “Contoh Penerapan Model pembelajaran Berbasis Masalah Matematika”.

Shofiah. V, Hubungan Kepercayaan Diri dan Motivasi Berprestasi Belajar Pada Mahasiswa, UI basic, Surakarta, T.A 2000/2001, Thesis ppd UGM, Yogyakarta

Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas . Jakarta: Penerbit PT Bumi Aksara.

Aisyah, Nyimas. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Jakarta : PT Bumi Aksara.

Creswell, J. (2015). Riset Pendidikan Perencanaan Pelaksanaan dan Evaluasi Riset Kualitati dan Kunatitaf, Pustaka Belajar: Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang masalah solusi yang disarankan berikut ini rumusan masalah yang dapat dikembangkan dalam penyajian yaitu bagaimana perencanaan pembelajaran,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Problem Based Learning terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas II Penelitian Tindakan kelas

Hasil penelitian pada praktik mengajar 1 diperoleh data 58% Langkah model telah terlaksana dengan baik, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa mencapai 60% dari

Guru membagikan lembar kerja kelompok kepada masing-masing kelompok, sehingga masing-masing anggota kelompok sudah dapat merencanakan apa yang akan mereka selidiki

2. Guru mempersiapkan alat media seperti laptop, proyektor, layar, dll. Guru menyiapkan video yang akan ditampilkan sesuai dengan tema yang diajarkan dan memastikan PPT

Aktivitas belajar siswa Kelas II SDN Nusantara Jaya selama mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan Problem Based Learning (PBL) Pada Muatan

Penerapan model pembelajaran project based learning pada saat kegiatan PPL di TK Miftahul Falah, penulis menggunakan metode demonstrasi, yaitu dengan melakukan

Untuk mencapai hasil belajar secara optimal, upaya yang dapat dilakukan seorang guru adalah menggunakan model yang sesuai dalam menyampaikan materi kepada peserta