Kajian Potensi Pengembangan Kawasan Transit Oriented Development (TOD) Di Stasiun K.A Medan

118  115  Download (17)

Teks penuh

(1)

KAJIAN POTENSI DEVELO

UN

NSI PENGEMBANGAN KAWASAN TRANSIT ELOPMENT (TOD) DI STASIUN K.A MEDA

SKRIPSI

OLEH

NOVA LESTARI SIREGAR 110406021

DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(2)

KAJIAN POTENSI PENGEMBANGAN KAWASAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) DI STASIUN K.A MEDAN

SKRIPSI

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Dalam Departemen Arsitektur

Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

Oleh

NOVA LESTARI SIREGAR 110406021

DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

PERNYATAAN

KAJIAN POTENSI PENGEMBANGAN KAWASAN TRANSIT ORIENTED

DEVELOPMENT (TOD) DI STASIUN K.A MEDAN

SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Skripsi ini tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi,

dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang

pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu

dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 28 Juli 2015

Penulis

(4)

Judul Skripsi : Kajian Potensi Pengembangan Kawasan Transit

Oriented Development (TOD) Di Stasiun K.A Medan Nama Mahasiswa : Nova Lestari Siregar

Nomor Pokok : 110406021 Departemen : Arsitektur

Menyetujui

Dosen Pembimbing

(Dr.Ir.Dwira N. Aulia, M.Sc)

Koordinator Skripsi,

(Dr.Ir.Dwira N.Aulia, M.Sc)

Ketua Program Studi,

(Ir. N. Vinky Rahman, MT)

(5)

Telah diuji pada Tanggal : 04 Juli 2015

Panitia Penguji Skripsi

Ketua Komisi Penguji : Dr.Ir.Dwira N Aulia, M.Sc Anggota Komisi Penguji : 1. Dr.Wahyu Utami S.T., M.Sc

(6)

KATA PENGANTAR

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan Program

Studi Strata Satu (S1) Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas

Sumatera Utara. Adapun judul skripsi yang diambil adalah:

“KAJIAN POTENSI PENGEMBANGAN KAWASAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) DI STASIUN K.A MEDAN”

Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini tidak terlepas dari

dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin

menyampaikan terima kasih kepada pihak yang berperan penting yaitu:

1. Ibu Dr.Ir.Dwira N Aulia, M.Sc selaku Dosen Pembimbing, yang telah

banyak memberikan bimbingan, masukan, dan dukungan, serta

meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membantu penulis

menyelesaikan skripsi ini.

2. Ibu Dr.Wahyu Utami S.T., M.Sc dan Ibu Wahyuni Zahra, S.T., M.S.

selaku Dosen Penguji yang telah banyak memberikan kritik dan saran

yang sangat membangun utuk skripsi ini.

3. Bapak Ir.Vinky Rahman MT selaku Ketua Departemen Arsitektur dan

Bapak Ir. Rudolf Sitorus, MLA selaku Sekretaris Departemen Arsitektur

serta Bapak/Ibu staff pengajar Departemen Arsitektur Fakultas Teknik

Universitas Sumatera Utara.

4. Seluruh pegawai administrasi Departemen Arsitektur Fakultas Teknik

Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan selama ini

(7)

5. Kepada keluarga penulis, Ayah dan Bunda tercinta atas jasa-jasanya,

kesabaran, kasih sayang, yang selalu mendoakan keberhasilan dan

keselamatan selama menempuh pendidikan, kepada adek kesayangan,

Azhari Siregar dan Halmia Siregar yang selalu memberikan keceriaan dan

tawa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu.

6. Kepada Team 7 ( Dede, Nurul, Astri, Ridwan, Ary dan Susi) terima kasih

untuk 8 semester yang amWOWzing, berbagi tawa, canda, sedih bersama.

Team 7 always till the end ☺. Untuk Dede as Plankton, thanks for all

karena sudah bersedia menemani survei keliling K.A Medan dan terimah

kasih atas semangatnya, kepada Nurul dan adek kesayangan Riski Rahayu

Efendi yang telah bersedia membantu menyebar kuisioner (masa yang tak

terlupakan☺☺☺). Sertakawan-kawan seperjuangan Arsitektur USU

angkatan 2011 yang tidak dapat disebutkan seluruhnya. Perjuangan kita

belum selesai teman, Keep fighting!!!

7. Kepada staff pegawai K.A Medan yang telah memberikan izin untuk

menyebarkan kuisioner, dan para penumpang K.A Medan yang telah

bersedia membantu dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.

8. Dan yang paling utama, semua ini tidak terlepas dari rahmat dan karunia

Allah swt. Syukur Alhamdulillah atas rahmat, nikmat dan rezeki yang luar

biasa yang Allah swt limpahkan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan

tepat waktu. Dan tidak ada lagi nikmat Allah swt yang bisa didustakan, “as

long as you did the best, Allah swt will handle the rest”.. ☺ Alhamdulillah

Mengingat adanya keterbatasan-keterbatasan yang penulis miliki, maka penulis

(8)

saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca diharapkan untuk

penyempurnaan skripsi ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan skripsi ini

bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, 28 Juli 2015

Penulis

(9)

ABSTRAK

Transportasi merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi kualitas kota. Jaringan transportasi yang buruk akan berujung pada pemborosan pengunaan bahan bakar, kualitas udara memburuk, menurunnya akses bagi pejalan kaki serta menjadikan kota yang tidak ramah lingkungan. Konsep TOD hadir sebagai solusi sebagai salah satu konsep pembangunan berkelanjutan khususnya untuk memecahkan masalah transportasi. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui karakteristik TOD apa saja yang sudah diimplementasikan pada kawasan stasiun K.A sebagai kawasan transit berbasis TOD.Hasil studi menunjukkan bahwa Kawasan Stasiun K.A Medan sebagai kawasan TOD sudah memiliki karakteristik pembentuk TOD seperti Fungsi transit, area komersial pusat, area hunian campuran, fungsi ruang publik, area sekunder dan fungsi campuran. Tetapi masing-masing variabel masih berdiri sendiri atau tidak terintegrasi antara satu dan yang lainnya . Adapun lingkungan TOD di stasiun kereta api Medan belum terintegrasi dengan penggunaan lahan dan daerah sekitarnya. Adapun saran atau rekomendasi yang dapat diusulkan untuk stasiun terpadu dalam kawasan TOD adalah integrasi antara lokasi stasiun dengan tata guna lahan di kawasan sekitar stasiun.

Kata kunci: (TOD), Stasiun Kereta Api, Karakteristik TOD

ABSTRACT

Transportation is one of the things that greatly affect the quality of city. Poor transportation problems will lead to wasted fuel, air quality deteriorates, reduced access for pedestrians and make the city are not environmentally friendly. TOD concept is present as a solution as one of the concept of sustainable development in particular to solve the problem of transportation. This research is important to know the characteristics of TOD what is already implemented in the railway station area as a transit area based TOD. This type of research that will be used is qualitative research. The study shows as a region of Medan Train Station TOD forming own characteristics such as transit function, the core commercial area, residential area, public space, secondary area and mixed function. But each variable still stands alone or is not integrated between the one and the other.. As for TOD neighborhood in Medan railway station has not integrated with land use and the surrounding area. While the recommendation for the development of the field railway station is the transit point must be integrated with the surrounding area by maximizing the area of pedestrian path as the access link.

(10)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

ABSTRAK ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.4. Manfaat Penelitian ... 4

1.5. Kerangka Berfikir ... 5

BAB 2. TINJAUAN TEORI ... 6

2.1. Transit Oriented Development (TOD) ... 6

2.2. Defenisi Transit Oriented Development (TOD) ... 7

2.3. Struktur Transit Oriented Oriented Development (TOD) ... 8

2.4. Tipologi Transit Oriented Development ... 11

2.5. Tipe Pengembangan TOD ... 12

2.6. Variabel Pembentuk Transit Oriented Development (TOD) ... 14

2.7. Keuntungan Dari Diterapkannya TOD ... 15

2.8. Karakteristik Fisik TOD ... 16

(11)

2.9.1. Buangkok MRT Station, Singapore ... 25

2.9.2. Kowloon Station, Hongkong ... 28

2.10. Diagram Kepustakaan ... 31

2.11. Penelitian yang sudah dilakukan... 33

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 37

3.1. Jenis Penelitian ... 37

3.2. Variabel Penelitian ... 37

3.3. Populasi dan Sampel ... 38

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 40

3.4.1. Pengamatan (observation) ... 40

3.4.2. Kuisioner/ Angket. ... 40

3.4.3. Dokumen ... 41

3.5. Kawasan Penelitian ... 41

3.5.1. Deskripsi Kawasan ... 42

3.6. Metode Analisis Data ... 45

BAB 4. ANALISA DAN PEMBAHASAN ... 46

4.1. Analisa Kawasan Makro ... 46

4.2. Analisa Kawasan Mikro Stasiun K.A Medan ... 47

4.3. Fungsi Transit ... 49

4.4. Area Komersial Pusat ... 51

4.5. Area Hunian Campuran ... 60

4.6. Fungsi Ruang Publik ... 64

(12)

4.6.2. Area Parkir ... 68

4.7. Area Sekunder ... 70

4.8. Area Campuran ... 71

4.9. Pembahasan ... 72

4.9.1. Fungsi Transit ... 76

4.9.2. Area Komersial Pusat ... 79

4.9.3. Area Hunian Campuran ... 82

4.9.4. Fungsi Ruang Publik ... 85

4.9.5. Area Sekunder ... 88

4.9.6. Fungsi Campuran ... 89

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 95

5.1. Kesimpulan ... 95

5.2. Saran ... 96

DAFTAR PUSTAKA ... 97

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Struktur TOD ... 11

3.1 Variabel TOD ... 38

4.1 Hasil tabulasi penyebaran kuisioner ... 50

4.2 Hasil analisa fungsi transit pada kawasan penelitian ... 76

4.3 Hasil analisa area komersial pusat ... 79

4.4 Hasil analisa area hunian campuran ... 82

4.5 Hasil analisa fungsi ruang publik ... 85

4.6 Hasil analisa area sekunder ... 88

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Konsep TOD ... 7

2.2 Urban TOD dan Neigborhood TOD ... 12

2.3 Redevelopment site ... 13

2.4 Infill Site ... 13

2.5 New Growth Area ... 14

2.6 Side walk ... 18

2.7 Penggunaan lantai atas bangunan ... 19

2.8 Tipe permukiman dikawasan TOD ... 19

2.9 Zona antara sidewalk dan rumah ... 20

2.10 Dimensi ideal ruang jalan di area TOD ... 20

2.11 Pembagian zona pada sidewalk ... 21

2.12 Lebar Trotoar minimal 1,5 meter ... 22

2.13 Jarak antar pohon pada jalur pedestrian ... 23

2.14 Lebar area Parkir ... 25

(15)

2.16 Interior Buangkok MRT ... 26

2.17 Eksterior Buangkok MRT ... 27

2.18 Potongan Bangunan Stasiun ... 27

2.19 Ground plan Buangkok Stasiun ... 28

2.20 Lokasi Kowloon Station ... 29

2.21 Eksisting Kowloon Station ... 29

2.22 Kowloon stasiun roof plan ... 30

2.23 Interior Kowloon Station ... 30

2.24 Kowloon Station level 2 ... 31

2.25 Kowloon Station site plan ... 31

3.1 Peta kota Medan ... 42

3.2 Kawasan Stasiun K.A Medan sebagai TODcity ... 43

3.3 Kawasan penelitian radius 600meter ... 44

4.1 Rencana pengembangan Stasiun K.A di Kota Medan ... 46

4.2 Tataguna lahan kawasan TOD ... 48

4.3 Jalur utama menuju stasiun K.A Medan ... 49

(16)

4.5 Pasar Ikan Medan ... 53

4.6 Jalur pedestrian pasar Ikan Medan ... 54

4.7 Kesawan Square ... 55

4.8 Kondisi jalur pedestrian pada Jl.Ahmad Yani ... 56

4.9 Parkir on-street pada Jl.Ahmad Yani ... 57

4.10 Merdeka Walk Lapangan Merdeka... 57

4.11 Kondisi jalur pedestrian Merdeka Walk ... 58

4.12 Titi Gantung ... 60

4.13 Kondisi area Titigantung ... 61

4.14 Area Hunian Campuran ... 62

4.15 Area hunian campuran pada kawasan TOD ... 62

4.16 Kondisi area hunian pada kawasan TOD ... 63

4.17 Jalur pejalan kaki pada area hunian ... 64

4.18 Lapangan Merdeka sebagai ruang terbuka ... 65

4.19 Lapangan Merdeka sebagai ruang terbuka ... 66

4.20 Lapangan Merdeka sebagai ruang terbuka ... 66

(17)

4.22 Kondisi jalur pedestrian ... 67

4.23 Street Furniture ... 68

4.24 Kondisi jalur pedestrian ... 68

4.25 Parkir on-street ... 69

4.26 Parkir on-street ... 70

4.27 Parkir on-street ... 70

4.28 Area sekunder ... 71

4.29 Area campuran ... 72

4.30 Kawasan Bersejarah di kota Medan ... 74

4.31 Posisi titik transit stasiu K.A Medan ... 75

4.32 Persentase moda yang digunakan pengguna ... 77

4.33 Persentase moda yang digunakan pengguna ... 77

4.34 Integrasi moda transportasi umum ... 78

4.35 Persentasi hasil analisa area komersial pusat ... 80

4.36 Masyarakat pengguna area komersial pusat ... 81

4.37 Kondisi aktivitas masyarakat pada area hunian ... 83

(18)

4.39 Hasil persentasi jarak tempat tinggal pengguna ... 84

4.40 Aktifitas masyarakat pada fungsi ruang publik ... 86

4.41 Hasil persentasi tujuan perjalanan pengguna kereta api ... 87

4.42 Centre Point sebagai salah satu generator aktivitas kawasan ... 89

4.43 Centre Point sebagai fungsi campuran pada kawasan TOD ... 90

4.44 Jl. Stasiun dan Jl. Jawa sebagai akses menuju Stasiun Bandara ... 91

4.45 Pengguna Stasiun Bandara ... 91

4.46 Kondisi jalur pedestrian pada area depan Centre Point ... 92

(19)

ABSTRAK

Transportasi merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi kualitas kota. Jaringan transportasi yang buruk akan berujung pada pemborosan pengunaan bahan bakar, kualitas udara memburuk, menurunnya akses bagi pejalan kaki serta menjadikan kota yang tidak ramah lingkungan. Konsep TOD hadir sebagai solusi sebagai salah satu konsep pembangunan berkelanjutan khususnya untuk memecahkan masalah transportasi. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui karakteristik TOD apa saja yang sudah diimplementasikan pada kawasan stasiun K.A sebagai kawasan transit berbasis TOD.Hasil studi menunjukkan bahwa Kawasan Stasiun K.A Medan sebagai kawasan TOD sudah memiliki karakteristik pembentuk TOD seperti Fungsi transit, area komersial pusat, area hunian campuran, fungsi ruang publik, area sekunder dan fungsi campuran. Tetapi masing-masing variabel masih berdiri sendiri atau tidak terintegrasi antara satu dan yang lainnya . Adapun lingkungan TOD di stasiun kereta api Medan belum terintegrasi dengan penggunaan lahan dan daerah sekitarnya. Adapun saran atau rekomendasi yang dapat diusulkan untuk stasiun terpadu dalam kawasan TOD adalah integrasi antara lokasi stasiun dengan tata guna lahan di kawasan sekitar stasiun.

Kata kunci: (TOD), Stasiun Kereta Api, Karakteristik TOD

ABSTRACT

Transportation is one of the things that greatly affect the quality of city. Poor transportation problems will lead to wasted fuel, air quality deteriorates, reduced access for pedestrians and make the city are not environmentally friendly. TOD concept is present as a solution as one of the concept of sustainable development in particular to solve the problem of transportation. This research is important to know the characteristics of TOD what is already implemented in the railway station area as a transit area based TOD. This type of research that will be used is qualitative research. The study shows as a region of Medan Train Station TOD forming own characteristics such as transit function, the core commercial area, residential area, public space, secondary area and mixed function. But each variable still stands alone or is not integrated between the one and the other.. As for TOD neighborhood in Medan railway station has not integrated with land use and the surrounding area. While the recommendation for the development of the field railway station is the transit point must be integrated with the surrounding area by maximizing the area of pedestrian path as the access link.

(20)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Kota merupakan suatu kawasan ataupun tempat berlangsungnya berbagai

aktivitas masyarakat, dan memiliki kepadatan yang tinggi. Menurut Kostof dalam

Weishaguna (2007) bahwa kota adalah tempat kumpulan bangunan dan manusia.

Karena kota merupakan suatu kawasan yang kompleks, maka banyak

permasalahan yang harus dihadapi oleh suatu kota, salah satu permasalahan serius

yang dialami oleh kota pada masa sekarang ini adalah pertumbuhan penduduk

yang semakin meningkat. Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah

Anggraeni menyebutkan pada tahun 2025 diperkirakan jumlah penduduk

Indonesia yang mendiami perkotaan mencapai 195 juta setara 65 persen jumlah

penduduk (Guslina, 2011). Pengaruh pertumbuhan penduduk yang semakin

meningkat terhadap perkembangan kota adalah terjadinya fenomena urban sprawl.

Menurut Mungkasa (2012) urban sprawl merupakan fenomena perkembangan

kota yang terjadi tanpa terencana yang mengakibatkan pertambahan luas kota

secara fisik ke arah suburban (pinggiran kota). Urban sprawl merupakan kondisi

dimana suatu kawasan perumahan, industri dan daerah komersial saling

berjauhan, sehingga kondisi ini akan mendorong penduduk untuk mengunakan

kendaraan pribadi sebagai alat transportasi mereka. Karena banyaknya penduduk

yang menggunakan kendaraan pribadi maka jumlah kendaraan akan semakin

bertambah sedangkan kapasitas jalan masih tetap. Hal ini akan menyebabkan

(21)

disebabkan oleh kemacetan adalah kualitas udara yang semakin memburuk, biaya

perjalanan semakin bertambah, waktu perjalanan yang semakin lama, dan boros

bahan bakar.

Salah satu upaya dalam mengatasi permasalahan kemacetan didaerah

perkotaan adalah dengan menerapkan konsep TOD sebagai pengembangan

kawasan transit. Transit Oriented Development (TOD) merupakan pola

pembangunan tata kota yang terintegrasi dengan sistem transportasi sehingga

menciptakan suatu kota yang efisien (Asriadi, 2010). Konsep Transit Oriented

Development (TOD) pada dasarnya adalah untuk mengintegrasikan jaringan jalan

dengan bangunan sekitarnya dikaitkan dengan manusia sebagai penggunanya

sehingga tercipta lingkungan yang walkable, aman dan nyaman (Wijaya, 2009).

Saat ini kawasan TOD di kota medan belum terlihat menerapkan konsep TOD

sebagai pengembangan kawasan transitnya. Salah satu kawasan TOD yang ada di

kota Medan adalah Stasiun K.A Medan. Stasiun K.A medan merupakan salah satu

tempat transit yang cukup besar yang berada di kota Medan, dan memiliki

kawasan yang cukup kompleks. Stasiun ini juga merupakan stasiun kereta api

yang melayani penduduk dengan kapasitas penumpang 2000-2500 per harinya

(http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Medan). Namun stasiun K.A medan sebagai

kawasan TOD juga belum terlihat mengusung konsep TOD sebagai

pengembangan kawasannya. Menurut RTRW kota Medan tahun 2010-2030,

stasiun K.A Medan akan dijadikan sebagai TOD city yang terintegrasi dengan

moda transportasi publik seperti Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP),

Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP), mini bus, Angkutan Kota (Angkot),

(22)

pengembangan kawasan Stasiun K.A Medan dalam RTRW kota Medan tahun

2010-2030 adalah pengembangan kawasan transit dengan konsep TOD. Tetapi

hingga saat ini kawasan Stasiun K.A Medan belum terlihat mencirikan karakter

kawasan TOD. Maka dari itu penelitian ini penting dilakukan untuk melihat

sejauh mana kawasan Stasiun K.A Medan sudah menerapkan konsep TOD.

Sehingga hasil dari penelitian ini nantinya adalah rekomendasi berupa point-point

apa saja yang penting untuk dilakukan demi terciptanya kawasan TOD yang baik

pada kawasan Stasiun K.A Medan.

1.2.Rumusan Masalah

Karakteristik TOD apa saja yang sudah diimplementasikan pada

kawasan Stasiun K.A sebagai kawasan transit berbasis TOD ?

Upaya apa saja yang perlu dilakukan agar kawasan Stasiun K.A

Medan sesuai dengan prinsip TOD ?

1.3.Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui karakter TOD apa saja yang sudah

diimplementasikan pada kawasn Stasiun K.A Medan sebagai

kawasan transit berbasis TOD.

Untuk mengetahui upaya apa saja yang perlu dilakukan agar

(23)

1.4.Manfaat Penelitian

Untuk Kota Medan

o Untuk dapat mengembangkan kawasan Stasiun K.A Medan sesuai dengan prinsip TOD, sebagai langkah awal dalam

memperbaiki kualitas lingkungan kota Medan.

o TOD sebagai alternatif mengatasi kemacetan di kota Medan.

o Menuju kota Medan yang Berkelanjutan dengan sistem Transit Oriented Development.

Untuk Ilmu Pengetahuan

o Memberikan kajian suatu karya arsitektur yang berbicara mengenai konsep TOD sebagai alternatif

dalam mengatasi kemacetan.

o Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah

wawasan mengenai konsep TOD dan dapat mengetahui

(24)

1.5.Kerangka Berfikir

LATAR BELAKANG

Transportasi merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi kualitas suatu kota. Jaringan transportasi yang buruk akan berujung pada pemborosan pengunaan bahan bakar, kualitas udara memburuk, menurunnya akses bagi pejalan kaki serta menjadikan kota yang tidak ramah lingkungan. Konsep TOD hadir sebagai salah satu konsep sustainable development khususnya untuk mengatasi masalah transportasi. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui karakteristik TOD apa saja yang sudah diimplementasikan pada kawasan stasiun K.A sebagai kawasan transit berbasis TOD, demi mewujudkan kota medan yang berkelanjutan dengan konsep Transit Oriented Development.

Judul Penelitan

KAJIAN POTENSI PENGEMBANGAN KAWASAN TOD DI STASIUN K.A MEDAN

Rumusan Masalah

Karakteristik TOD apa saja yang sudah di implementasikan pada kawasan Stasiun K.A sebagai kawasan transit berbasis TOD ?

Upaya apa saja yang perlu dilakukan agar kawasan Stasiun K.A Medan sesuai dengan prinsip TOD ?

Tujuan Penelitian

(25)

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1.Transit Oriented Development (TOD)

Transit Oriented Development muncul pertama kali pada tahun 1990-an yang

di pelopori oleh Peter Calthorpe. TOD muncul dikarenakan fenomena urban

sprawl yang mengakibatan tingginya penggunaan kendaraan pribadi dan

mengakibatkan kemacetan (Yuniasih, 2007).

Menurut Taolin (2008) Gerakan pengembangan kawasan berbasis transit

didasari oleh kualitas kehidupan kota yang semakin memburuk yang ditandai

dengan kemacetan, sprawl, dan tata guna lahan yang tidak terintegrasi. TOD

memiliki tujuan menciptakan tujuan yang nyaman, aman, menyenangkan dan

mecukupi bagi pejalan kaki (walkable environment). Dengan mencampurkan

berbagai fungsi kegiatan perjalanan yang perlu dilakukan dapat digabungkan

menjadi lebih singkat dan cepat. Fungsi-fungsi tersebut adalah pusat area

komersil, perkantoran, retail, servis, pemukiman dengan kepadatan sedang hingga

(26)

2.2.Defenisi Transit Oriented Development (TOD)

Defenisi Transit Oriented Development menurut Calthorpe dalam

Yuniasih (2007) adalah :

A mixed-use community within an average 2,000-foot walking distance of a transit stop and core commercial area. TODs mix residential, retail, office, open space, and public uses in a walkable environment, making it convenient for residents and employees to travel by transit, bicycle, foot, or car

Defenisi lain dari TOD, (Danburry, 2010) :

Transit-oriented development, or TOD, is a type of community development that includes a mixture of housing, office, retail and/or other commercial development and amenities integrated into a walkable neighborhood and located within a half-mile of quality public transportation

Konsep Transit Oriented Development (TOD) ini menawarkan alternatif

menuju pola pengembangan dengan menyediakan fungsi-fungsi working,

living,leisure dalam populasi yang beraneka ragam, dalam kepadatan yang rendah Gambar. 2.1

Konsep TOD

(27)

sampai dengan tinggi, dengan konfigurasi fasilitas pedestrian dan akses transit.

Karakteristik bentuk kota ini bercirikan keragaman dan densitas tinggi dalam

skala lokal/kawasan, dan terhubungkan dengan bagian kota lain oleh sistem

transit. Konsep Transit Oriented Development (TOD) di awali dengan konsep

aktivitas pergerakan manusia, baik dengan moda maupun berjalan. Pergerakan

sebagai salah satu aktivitas yang paling banyak dilakukan oleh manusia, diwadahi

dengan penempatan-penempatan pusat-pusat aktivitas yang terintegrasi dengan

titik-titik transit, sehingga diharapkan dapat mendorong penggunaan transportasi

publik. Pusat-pusat aktivitas dihubungkan antara satu dengan yang lain dalam

jarak tempuh berjalan yang nyaman dan aman sebagai upaya untuk mengurangi

pergantian antar moda (Wijaya, 2009).

2.3.Struktur Transit Oriented Oriented Development (TOD)

Menurut Calthorpe dalam Yuniasih (2007) struktur TOD dan daerah

disekitarnya terbagi menjadi area-area sebagai berikut :

Fungsi publik (public uses). Area fungsi publik dibutuhkan

untuk memberi layanan bagi lingkungan kerja dan permukiman

di dalam TOD dan kawasan disekitarnya. Lokasinya berada

pada jarak yang terdekat dengan titik transit pada jangkauan 5

menit berjalan kaki.

Pusat area komersial (core commercial area). Adanya pusat

area komersial sangat penting dalam TOD, area ini berada pada

lokasi yang berada pada jangkauan 5 menit berjalan kaki.

Ukuran dan lokasi sesuai dengan kondisi pasar, keterdekatan

(28)

ada umumnya berupa retail, perkantoran, supermarket,

restoran, servis dan hiburan.

Area permukiman ( residential area). Area permukiman

termasuk permukiman yang berada pada jarak perjalanan kaki

dari area pusat komersial dan titik transit. Kepadatan area

permukiman harus sejalan dengan variasi tipe permukiman,

termasuk single-family housing, town house, condominium dan

apartement.

Area sekunder (secondary area). Setiap TOD memiliki area

sekunder yang berdekatan dengannya, termasuk area

diseberang kawasan yang dipisahkan oleh jalan arteri. Area ini

berjarak lebih dari 1 mil dari pusat area komersial. jaringan

area sekunder harus menyediakan beberapa jalan/akses

langsung dan jalur sepeda menuju titik transit dan area

komersil dengan seminimal mungkin terbelah oleh jalan arteri.

Area ini memiliki densitas yang lebih rendah dengan fungsi

single- family housing, sekolah umum, taman komunitas yang

besar, fungsi pembangkit perkantoran dengan intensitas rendah,

dan area parkir.

Fungsi-fungsi lain , yakni fungsi-fungsi yang secara ekstensi

bergantung pada kendaraan bermotor, truk atau intensitas

perkantoran yang sangat rendah yang berada di luar kawasan

(29)
(30)

mendukung

2.4.Tipologi Transit Oriented Development

Terdapat dua model pengembangan didalam TOD menurut Calthorpe dalam

Yuniasih (2007) yakni:

NeighorhoodTOD

Merupakan TOD yang berloasi pada jalur bus feeder dengan jarak

jangkauan 10 menit berjalan (tidak lebih dari 3 mil) dari titik

transit. NeigborhoodTOD harus berada pada lingkungan hunian

dengan densitas menengah, fasilitas umum, servis, retail, dan

rekreasi. NeigborhoodTOD ini dirancang dengan fasilitas publik

dan ruang terbuka hijau serta memberi kemudahan akses bagi

pengguna moda pergerakan.

UrbanTOD

Merupakan TOD dengan skala pelayanan kota berada pada jalur

sirkulasi utama kota seperti halte bus antar kota dan stasiun kereta

api baik light rail maupun heavy rail. Urban TOD harus

dikembangkan bersama fungsi komersial yang memiliki intensitas

tinggi, blok perkatoran, dan hunian dengan intensitas menengah Tabel. 2.1 Struktur TOD

(31)

Gambar.2.3 Redevelopment Site

tinggi. Setiap TOD pada kota, memiliki karakter tersendiri sesuai

dengan karakter lingkungannya.

2.5.Tipe Pengembangan TOD

Berdasarkan tipe pengembangannya menurut Calthorpe dalam Wijaya (2009)

tipe pengembangan TOD terbagi atas 3 jenis, yaitu :

Redevelopment Site

Peremajaan dengan penyuntikan fungsi-fungsi baru serta penataan

lingkungan dengan melengkapi fasilitas transit. Sumber : Calthrope, 1993

Gambar. 2.2

UrbanTOD (kiri) dan NeighborhoodTOD (kanan)

(32)

Infill Site

Pengembangan dari berbagai daerah kosong/terbengkalai yang

umumnya terletak pada perbatasan daerah pengembangan lain.

New Growth Area

Pembukaan daerah-daerah baru yang luas dan umumnya terletak di

daerah perbatasan pinggir kota (periphery). Sumber : Wijaya,2009

Gambar.2.4 Infill Site

Sumber : Wijaya,2009

(33)

2.6.Variabel Pembentuk Transit Oriented Development (TOD)

Menurut Calthorpe dalam Wijaya (2009) zonasi TOD dibagi kedalam

beberapa area (elemen desain TOD), berikut merupakan deskripsi variabel

pembentuk TOD menurut Calthorpe:

Area Komersial Pusat

Area dengan fungsi campuran ini berfungsi memberi pelayanan

pada kegiatan transit seperti fungsi retail, perkantoran skala

regional, supermarket, komersial dan hiburan serta hunian pada

level lantai atas. Dapat menjadi daya tarik keragaman tujuan pada

lokasi.

Area Hunian Campuran

Hunian dalam jarak jangkau daerah komersial pusat dan

penghentian dengan berjalan kaki, dengan hunian dengan beragam

tipe (tunggal, apartemen atau town house).

Fungsi Ruang Publik

Bentuknya dapat berupa taman, plaza, tata hijau, yang melayani

sekitar lingkungan. Ruang publik yang didesain dalam bangunan

umum atau fasilitas publik disesuaikan dengan kebutuhan.

Area Sekunder

Berjarak sekitar 1 mil dari daerah pusat dan memiliki jaringan jalan

sebagai penghubung ke daerah belakang. Penghubung ini

dilengkapi dengan jalur pedestrian dan sepeda. Area sekunder ini

terdiri dari perumahan berkepadatan rendah, Fasilitas umum serta

(34)

Fungsi Campuran

Fungsi dalam TOD bersifat beragam dan campuran, yaitu fungsi

publik, pusat komersial dan hunian. Dimana bangunan dengan

fungsi ragam secara vertikal merupakan type yang disarankan.

Konsep TOD yang diutarakan oleh Calthrope tidak terlepas dari

sistem pergerakan kota yang berupa kendaraan baik kendaraan

umum maupun pribadi serta manusia yang terus bergerak

mengikuti pola aktivitasnya, serta bagaimana memanfaatkan suatu

lahan kosong yang tidak terpakai menjadi sangat berguna bagi

warganya.

2.7.Keuntungan Dari Diterapkannya TOD

Menurut Calthorpe dalam Wijaya (2007) konsep Transit Oriented

Development (TOD) pada dasarnya adalah untuk mengintegrasikan jaringan jalan

dengan bangunan sekitarnya dikaitkan dengan manusia sebagai penggunanya

sehingga tercipta lingkungan yang walkable, aman dan nyaman, dimana dapat

diuraikan :

Tujuan Lingkungan

o Meningkatkan kualitas udara, menghemat penggunaan energi dan membuat lingkungan yang berkelanjutan.

o Mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor pada lingkungan yang didominasi oleh kendaraan bermotor.

Tujuan Perencanaan/Transportasi

(35)

o Menciptakan variasi perumahan dengan berbagai kepadatan dari rendah sampai dengan tinggi dalam radisu tertentu dari

lokasi transit (Calthrope mendefinisikan dengan radius

200ft (600m) dan Bernick – Carvero mendefinisikan

sebesar ¼ mil (375m).

o Merencanakan lingkungan dengan fungsi campuran ( mixed-used) serta ‘walkable’ terhadap pejalan kaki pada area

transit.

2.8.Karakteristik Fisik TOD

Adapun karakteristik fisik TOD menurut Calthorpe dalam Taolin (2008)

adalah :

a) Kriteria Umum

Bangunan harus memiliki akses langsung kejalan dengan entrance,

balkon, serambi, dan fitur arsitektural lain untuk menciptakan

lingkungan yang ramah pejalan kaki. Intensitas, orientasi, dan

bangunan harus mendukung area komersial yang aktif, mendukung

pengguna transit, dan memperkuat ruang publik.

b) Area Komersial

Tata guna lahan pada kawasan TOD dikembangkan dengan prinsip

mixed-used. Penggabungan fungsi retail dan perkantoran menjamin

kawasan yang aktif sepanjang hari tanpa terikat jam-jam sibuk. Selain

itu kawasan harus dibuat atraktif, aman dan aksesibel dengan berjalan

kaki. Terdapat tiga cara memadukakan fungsi retail dan perkantoran

(36)

atau residensial diatasnya pada bangunan yang sama), horizontal

(fungsi-fungsi terletak bersebelahan).

Area komersial berfungsi untuk memenuhi kebutuhan penggunan kawasan sambil melakukan perjalanan dari tempat satu ketempat lain.

Di area komersial, fungsi retail dapat dikombinasikan dengan

residensial dan perkantoran, namun intensitas retail itu sendiri tidak

boleh berkurang. Jumlah parkir harus ditambah untk fungsi-fungsi

tambahan tersebut. Pertimbangan khusus harus dilakukan agar tercipta

privasi untuk fungsi residensial. Entrance kedua fungsi harus dipisah.

Penambahan fungsi tersebut sebaiknya dilakukan secara vertikal.

Hasil adalah ketinggian bangunan bertambah, menciptakan

kemenarikan visual dan karakter urban yang lebih kuat. Gambar.2.6

(37)

Fasad bangunan harus bervariasi dan terartikulasi untuk memberikan

ketertarikan visual bagi pedestrian. Jika syarat ini tidak dipenuhi,

pengalaman ruang kala berjalan kaki akan terasa membosankan dan

terasa semakin jauh

c) Area Residensial

Tujuan TOD adalah mengurangi tingkat penggunaan mobil pribadi.

dengan perancangan dan lokasi area residensial yang tepat tujuan ini

dapat dicapai. Residensial sebaiknya berdekatan dengan area komersial

dan dan transit.

Gambar.2.7

Penggunaan lantai atas bangunan sebagai residensial Sumber : Calthorpe, 1993

Gambar.2.8

(38)

Kepadatan area residensial dirancang untuk mendukung pengguna

transit. Tipe permukiman bervariasi terdiri dari tipe single family, tipe

townhouse, dan apartemen.

d) Pedestrian

Jalan di kawasan TOD merupakan elemen paling vital dalam

menentukan kualitas ruang publik. Jalan di kawasan TOD harus dibuat

pedestrian-friendly. Untuk menciptakan ruang jalan yang demikian

harus dipikirkan berapa luas yang diperlukan untuk pedestrian untuk

menciptakan ruang publik yang aktif,sementara tetap menjaga

keseimbangan dengna ruang parkir, jalur bersepeda dan pergerakan

kendaraan.

Sumber : Calthorpe, 1993

Gambar.2.9

Zona antara sidewalk dan rumah

Sumber : Calthorpe, 1993

Gambar.2.10

(39)

Lebar jalan dan jumlah lajur kendaraan harus dikurangi tanpa

mengorbankan parkir paralel dan akses sepeda. Jalan harus dirancang

untuk dilalui dengan kecepatan mobil tak lebih dari 24 km/jam. Jalan yang

lebih sempit dapat mengurangi lebar jalan dan jumlah lajur memberikan

ruang yang lebih besar untuk penataan lansekap. Dimensi jalan yang relatif

kecil ditujukan untuk menciptakan skala manusia.

Sidewalk secara virtual terbagi atas beberapa zona yaitu; zona tepi yang

berbatasan langsung dengan jalur mobil (minimal 1,2 meter untuk

kawasan TOD, untuk menyediakan ruang menunggu), zona furnishing

yang mengakomodasi perletakan street furniture seperti pohon atau

fasilitas transit, zona ‘melintas’ yatu jalur yang dapat dilalui tanpa

gangguan, dan zona ‘frontage’ yaitu ruang bersih antara fasad bangunan

(tempat pejalan kaki melakukan window shopping, area keluar dan masuk

dari dalam bangunan) dan zona ‘melintas’. Lebar sidewalk minimum yang Sumber : Calthorpe, 1993

Gambar.2.11

(40)

disarankan adalah 3 meter (pada area komersial minimum 4 meter), tidak

batas maksimum untuk lebar sidewalk namun jika terlalu lebar

menyebabkan ketidaknyaman karena terkesan kosong dan tidak

mengundang.

Lebar zona sidewalk minimal untuk dilalui pejalan kaki adalah 1,5 meter

(dapat dialui dua orang sekaligus). Dimensi sidewalk lebar di area

komersial dimana aktivitas pedestrian lebih besar dan seating luar sangat

direkomendasikan (1,8 meter -2,5 meter). Jalur pedestrian yang nyaman

akan mengurangi penggunaan mobil dan menambah efisiensi

penggunaan transit.

Street furniture pada pedestrian sangat diperlukan bagi pejalan kaki. Jika

ruang jalan tidak memiliki fasilitas ini maka pemakaian ruang jalan

mnjadi tidak nyaman. Misalnya jika tidak ada lampu jalan menyebabkan

ketidaknyaman dan tidak tersedianya tempat sampah membuat jalan jadi

kotor dan membuat orang enggan berjalan kaki. Untuk menciiptakan Sumber : Calthorpe, 1993

Gambar.2.12

(41)

sense of community dapat melalui pemilihan desain street furniture yang

mencerminkan karakter lokal.

Pepohonan untuk peneduh diperlukan disepanjang. Jarak antara

pohon-pohon tersebut tidak boleh lebih dari 9 meter. Jenis pohon-pohon dan teknik

penanaman harus diseleksi dengan seksama untuk menciptakan kesan

meyatu pada ruang jalan, menyediakan naungan yang efektif, dan

menghindari kerusakan trotoar. Banyak ruang jalan yang dikenang orang

karena deretan pepohonan di sepanjang jalan. Keberadaan pohon penting

untuk kenyamanan pejalan kaki karena menyediakan naungan dari cuaca

dan mengurangi suhu panas yang dihasilkan permukaan aspal dan

menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk. Selain itu pepohonan juga

memberikan keindahan pada ruang jalan.

Akan akan lebih baik jika jalan memiliki vista menuju area pusat,

bangunan publik, taman atau fitur-fitur alami. Jalan yang membingkai

vista akan lebih mudah diingat (memorable). Jalan yang ideal sebaiknya

mempunyai titik tujuan yang penting. Dalam hal ini jalan lurus lebih Gambar.2.13

(42)

mudah diimplimentasikan karena memiliki pandangan yang jelas

kesebuah landmark.Landmark memudahkan orientasi pedestrian dan

membuat rute perjalanan lebih menarik. Jalan lurus juga memberikan

aksesibilitas visual yang tinggi, ketika tujuan dapat terlihat seseorang

akan lebih tertarik untuk berjalan kesana.

e) Parkir

Parkir on-street sangat direkomendasikan dan lebarnya sebaiknya antaa

2,1-2,4 meter. Parkir dipinggir jalan ini sangat untuk mencegah fokus

pada lahan parkir dan lebih mengutamakan jalan. Parkir paralel lebih

baik namun parkir dengan sudut lebih direkomendasikan untuk area

komersial. Parkir on-street dapat membantu mengurangi kecepatan mobil

yang melintas karena membuat ruang jalan lebih sempit secara visual,

juga berfungsi sebagai buffer antara trotoar dengan lajur mobil.

Selain itu parkir paralel juga bisa membuat aktivitas pada ruang jalan

hidup karena akan mendukung fungsi-fungsi komersial. Parkir paralel

secara visual membuat ruang jalan lebih sempit. Sumber : Calthorpe, 1993

Gambar.2.14

(43)

Sistem parkir sealain on-strret sebaiknya tidak bersebelahan langsung

dengan ruang jalan. Lahan parkir dibelakang bangunan lebih disarankan.

2.9.Studi Banding

Pada negara berkembang konsep TOD sudah banyak diterapkan sebagai solusi

dalam mengatasi kemacetan, juga untuk menciptakan ruang publik lebih

berkualitas. TOD bukan hanya sekedar konsep melainkan jawaban untuk kualitas

hidup yang lebih baik diperkotaan.

Berikut merupakan studi banding terhadap negara yang sudah memakai

(44)

2.9.1. Buangkok MRT Station, Singapore

Stasiun Buangkok MRT direncanakan pada lokasi permukiman yang

memiliki tingkat densitas yang tinggi (mixed-used), dan direncanakan dengan

mengintegrasikan antara subway (kereta bawah tanah) dengan bus yang melayani

penduduk kota. Pada bagian atas subway disediakan tempat pemberhentian bus

dan taxi yang nyaman, dengan menyediakan kanopi sebagai pelindung dari panas,

hujan dan ultraviolet. Desain interior menggunakan warna-warna yang

mencerminkan semangat rakyat Singapura, sehingga desain pada stasiun tidak

membosankan dan kaku. Perencanaan Stasiun Buangkok tidak hanya berhenti

pada fungsinya sebagai titik transit, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan

penggunanya. (Altoon and James, 2011)

Gambar. 2.15

Lokasi Buangkok MRT Station Sumber : Altoon and James,2011

Sumber : Altoon and James,2011

(45)

Sumber : Altoon and James,2011

Gambar. 2.17 Eksterior Stasiun

Sumber : Altoon and James,2011

(46)

Sumber : Altoon and James,2011

Gambar. 2.19

(47)

2.9.2. Kowloon Station, Hongkong

Kowloon Station direncanakan secara signifikan sebagai titik transit untuk

mengubah seluruh transport publik di Hongkong. Kawasan ini tidak hanya

direncanakan sebagai titik transit, tetapi juga merencanakan bengunan-bangunan

mixed-use pada lokasi transit. Dengan begitu, maka peminat penumpang terhadap

kereta bawah tanah yang disediakan semakin tinggi. Hal ini menyebabkan

penggunaan kendaraan pribadi berkurang. Tujuan perencanaan Stasiun Kowloon

adalah untuk menciptakan sebuah sistem transport kelas dunia yang terintegrasi

dengan tata guna lahan, moda transportasi dan titik transit(Altoon and James,

2011).

Gambar. 2.20

Lokasi Kowloon Stasiun Hongkong Sumber : Altoon and James,2011

Sumber : www.pbase.com (30/04/2015)

(48)

Gambar. 2.22 Kowloon Station Roof Plan

Sumber : Altoon and james,2011

Sumber : Altoon and James,2011 Gambar. 2.23

(49)

Sumber : Altoon and James,2011

Gambar. 2.24 Kowloon Station level 2

Gambar. 2.25 Kowloon Station site plan

(50)

2.10. Diagram Kepustakaan

TOD (Transit Oriented Development) (Chaltrope. 1993)

Defenisi Transit Oriented Development (Chaltrope, 1993)

Tipologi Transit Oriented Development Urban Downtown

Urban Neighborhood (Dittmar dan Ohland,2004)

Struktur Transit Oriented Development (Chaltrope, 1993)

Variabel Pembentuk TOD (Chaltrope, 1993)

Kajian Potensi Pengembangan Transit Oriented Development (TOD) Di Kota Medan

Studi Kasus : Stasiun K.A Medan Tipe pengembangan TOD

(Chaltrope, 1993)

(51)

2.11. Penelitian yang sudah dilakukan

Judul, Tahun, Wilayah, Nama

peneliti

Tujuan Penelitian Metode Penelitian dan Pendekatan Muhammad Hidayat Isa dan Ketut Dewi

Martha Erli

Handayeni

Penelitian ini mengkaji tentang upaya untuk mendorong penggunaan kereta api komuter melalui integrasi antara simpul transportasi transit berbasis transit oriented development prinsip TOD terhadap tingkat penggunaan kereta komuter koridor Surabaya-Sidoarjo, dilakukan melalui tiga tahapan analisis

Mengidentifikasi karakteristik kawasan transit kereta komuter koridor Surabaya-prinsip TOD terhadap jumlah penggunaan kereta komuter koridor

Surabaya-Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

adanya potensi

pengembangan kawasan transit berbasis TOD pada koridor

(52)

Sidoarjo Luh Asti Widyahari.

Apa sajakah prasyarat

suatu kawasan

dikembangkan sebagai TOD?

Dimana lokasi yang Potensial dikembangkan sebagai TOD di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung?

Apa syarat yang harus dipenuhi untuk

mengembangkan TOD di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung?

Pendekatan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang terbagi atas deskriptif dan preskriptif. Pendekatan deskriptif studi ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi karakterisitik kawasan TOD di wilayah studi. Pendekatan preskriptif, yaitu metode analisis

dengan cara analisis pada studi ini, yakni analisis deskriptif dan analisis isi (content analysis). Analisis deskriptif ini berfungsi untuk mengetahui

bagaimana

karakteristik kondisi saat ini terkait dengan kriteria dan indikator untuk potensi maupun peluang kriteria dan indikator untuk potensi dan kawasan yang memiliki

(53)
(54)

Dan menggunakan deskriptif kualitatif dalam

menganalisis peran pemangku

kepentingan.

Universitas

Sumatera

(55)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1.Jenis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang sudah ditentukan

diawal, maka jenis penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah jenis

penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala,

peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Sedangkan untuk metode

penelitian, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Menurut

Creswell dalam Noor (2011) penelitian kualitatif merupakan analisis yang bersifat

deskriptif, landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian

sesuai fakta di lapangan.

Dalam penelitian ini ada tiga tahapan yang harus dilakukan, yaitu

menetapakan kawasan Stasiun K.A Medan sebagai kawasan penelitian. Observasi

wilayah studi berdasarkan variabel penelitian yang telah ditetapkan. Dan yang

terakhir penarikan kesimpulan apakah wilayah studi berpotensi untuk

dikembangkannya sistem transportasi TOD.

3.2.Variabel Penelitian

Variabel penelitian merupakan kegiatan menguji hipotesis, yaitu menguji

kecocokan antara teori dan fakta (Noor, 2011).

(56)

Sumber Variabel Sub-Variabel

Dalam penelitian, populasi digunakan untuk menyebutkan seluruh elemen/

anggota dari suatu wilayah yang menjadi sasaran penelitian atau merupakan

keseluruhan dari objek peneliti (Noor, 2011).

Pada penelitian ini populasi adalah seluruh penumpang Stasiun K.A Medan

yang lingkungannya merupakan pusat transportasi kota medan. Pengambilan Tabel.3.1 Variabel TOD

(57)

sampel dengan menggunakan sampel probabilitas (probabiliti sampling) yaitu,

pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama kepada setiap anggota

populasi untuk menjadi sampel. Sedangkan teknik pengambilan sampel

menggunakan teknik simple random sampling. Teknik simple random sampling

merupakan teknik yang paling sederhana (simple). Sampel diambil secara acak,

tanpa memperhatikan tingkatan yang ada dalam populasi, tiap elemen populasi

memiliki peluang yang sama dan diketahui untuk terpilih sebagai subjek (Noor,

2011).

Untuk menentukan jumlah populasi, diambil dari jumlah pengguna Stasiun

K.A Medan yaitu sebanyak 2000-2500orang/ hari. Dari data tersebut maka

ditentukan jumlah populasi adalah 2500 orang, sedangkan untuk menentukan

jumlah sampel, akan ditentukan dari jumah populasi dengan menggunakan rumus

Slovin sebagai berikut:

= N 1 + N e 2

n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi

e = Batas toleransi kesalahan (eror tolerance)

= 2500 1 + 2500 0,1 2

(58)

3.4.Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

teknik pengamatan (observation), wawancara (interview) dan studi dokumentasi.

3.4.1. Pengamatan (observation)

Merupakan pengamatan langsung objek penelitian untuk melihat

fenomena-fenomena yang terjadi di wilayah studi. Hal yang perlu

dioberservasi berupa variabel penelitian yang telah ditentukan, yaitu :

Fungsi Transit

Area Komersial Pusat

Area Hunian Campuran

Fungsi Ruang Publik

o Pedestrian

o Parkir

Area Sekunder.

Fungsi Campuran

3.4.2. Kuisioner/ Angket.

Merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan memberikan atau

menyebar daftar pertanyaan kepada responden. Adapun daftar pertanyaan

berhubungan dengan variabel penelitian yang telah ditentukan, yaitu :

Tujuan Perjalanan Waktu perjalanan Lokasi stasiun

(59)

Usia

Jenis kelamin Jenis pekerjaan

3.4.3. Dokumen

Pengumpulan data dokumen berupa data-data yang diperoleh dari

pemerintah/swasta, dalam penelitian ini berupa Rencana Tata Ruang

Wilayah (RTRW) kota Medan tahun 2010-2030 , buku, data di sever dan

flashdisk, dan data yang tersimpan di web site.

3.5.Kawasan Penelitian

Kriteria awal dalam memilih kawasan pada penelitian ini adalah kawasan

TOD di kota Medan. Dalam RTRW kota Medan tahun 2010-2030 Stasiun K.A

Medan akan ditetapkan sebagai kawasan TOD city, yang akan diintergrasikan

dengan moda transportasi publik yang melayani penduduk.

Teori Calthorpe (1993) mengatakan bahwa kawasan TOD harus dapat

dijangkau dengan berjalan kaki atau sejauh 2000-foot (600 meter). Berdasarkan

teori tersebut maka ditetapkan kawasan penelitian adalah Stasiun K.A Medan

(60)

3.5.1. Deskripsi Kawasan

Alamat : Jl. Stasiun Kereta Api No.1, Medan

Kecamatan : Medan Barat

Kelurahan : Kesawan

Batas Barat : Medan Deli

Batas Timur : Medan Petisah

Batas Selatan : Medan Timur

Batas Utara : Deli Serdang

(61)

Gambar 3.2

(62)

Batas kawasan penelitian :

Batas Barat : Jl. Imam Bonjol

Batas Timur : Jl. Tamrin

Batas Utara : Jl. Perintis Kemerdekaan

Batas Selatan : Jl. Mt. Haryono Gambar 3.3

Kawasan penelitian radius 600m dari titik transit

A). Stasiun K.A Medan

B). Centre Point

C). Titi Gantung

D).Uni Plaza Sumber : Hasil Analisa

H). Kesawan Square G). Bank Indonesia

F). Grand Aston E). Merdeka Walk

Universitas

Sumatera

(63)

3.6.Metode Analisis Data

Metoda yang akan digunakan dalam menganalisis data adalah metoda analisis

deskriptif. Setelah semua data yang diperlukan telah terkumpul, maka data-data

tersebut kemudian dianalisis dengan metoda analisis deskriptif.

3.6.1. Analisis Kualitatif

Analisis kualitatif dilakukan dengan cara merumuskan data-data

yang didapat dari lapangan.Data fisik mengenai eksisting kawasan

studi kasus, dalam hal ini Stasiun K.A Medan digambarkan

kembali sesuai dengan hasil survey. Berdasarkan data eksisting

tersebut didata unsur apa saja yang sesuai dengan variabel

penelitian dan dideskripsikan bagaimana keadaannya.

Observasi lapangan atau survey visual dilakukan dengan

melakukan pemotretan terhadap situasi ataupun keadaan terkini di

Stasiun K.A Medan kemudian dianalisa. Hal ini bertujuan untuk

mendapatkan deskripsi bagaimana kondisi kawasan. Sarana untuk

merekam kondisi tersebut adalah fotografi, yang dilengkapi catatan

untuk menjelaskan kondisi lapangan. Foto-foto dilakukan dengan

menggunakan alat berupa kamera digital. Foto-foto hasil

pemotretan yang bersifat perspektifis digunakan sebagai acuan

(64)

BAB 4

ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1.Analisa Kawasan Makro

Gambar.4.1

(65)

Pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan tahun 2010-2030

Stasiun K.A Medan akan terintegrasi dengan beberapa terminal di kota Medan.

Pemerintah kota Medan juga akan melakukan penambahan Stasiun kereta api

baru. Adapun stasiun kereta api yang dapat dikembangkan pada tahun

perencanaan antara lain :

Stasiun Kereta Api Besar, Jalan Kereta Api Medan di Kecamatan

Medan Barat

Stasiun Kereta Api Medan Pasar, Jl. M.H. Thamrin di Kecamatan

Medan Area

Stasiun Kereta Api Pulo Brayan di Kecamatan Medan Timur

Stasiun Kereta Api Belawan di Kecamatan Medan Belawan

Stasiun Kereta Api City Chek in, Jalan Kereta Api Medan di

Kecamatan Medan Timur

Stasiun Kereta Api Polonia di Kecamatan Medan Polonia

Stasiun Kereta Api Labuhan di Kecamatan Medan Labuhan

Stasiun Kereta Api di Kecamatan Helvetia

4.2.Analisa Kawasan Mikro Stasiun K.A Medan

Berdasarkan tinjauan teori yang telah dilakukan, diketahui bahwa kawasan

TOD berjarak radius 600 meter dari titik transit. Stasiun K.A Medan sebagai titik

transit memiliki kawasan yang cukup kompleks yang didominasi oleh fungsi

komersial. Menurut Calhtrope (1993) tipologi TOD berbeda-beda berdasarkan

(66)

dua model pengembangan didalam TOD, antara lain NeigborhoodTOD dan

UrbanTOD. Berdasarkan hasil analisa, kawasan Stasiun K.A Medan termasuk

kedalam Urban TOD, hal ini ditandai dengan adanya fungsi komersial yang

memiliki intensitas tinggi di sekitar kawasan. Sedangkan untuk tipe

pengembangannya kawasan Stasiun K.A termasuk kedalam jenis Redevelopment

Site yaitu peremajaan dengan penyuntikan fungsi-fungsi baru serta penataan

lingkungan dengan melengkapi fasilitas transit.

Gambar.4.2

(67)

Jl. Stasiun Kereta Api sebagai jalan utama menuju lokasi transit merupakan

jalur satu arah. Dari arah Barat dapat melalui Jl. Raden Saleh, sedangkan dari

arah Utara dapat diakses melalui Jl.Prof.HM.Yamin.

4.3.Fungsi Transit

Menurut Calthorpe (1993) fungsi transit pada kawasan TOD berfungsi sebagai

tempat aktivitas transit dengan lokasi terletak sedekat mungkin dengan jaringan

pergerakan transit utama kota. Pada kawasan penelitian Stasiun K.A Medan

sebagai titik transit belum terintegrasi dengan jaringan pergerakan transit utama Jl.Prof.HM.Yamin

Jl.Raden Saleh

Jl.Bukit Barisan

Gambar.4.3

(68)

kota, dalam hal ini adalah angkutan kota (Angkot). Hal ini dapat dilihat dari

belum tersedianya titik-titik tempat pemberhentian angkutan umum disekitar

Stasiun.

Sedangkan untuk pola pergerakan penumpang pada Stasiun K.A Medan yang

diperoleh dari hasil tabulasi kuisioner adalah sebagai berikut :

Jenis kelamin 57% perempuan

Usia 93% 18-25 tahun

Pekerjaan 75% pelajar/mahasiswa

Tempat tujuan 31% Binjai

Kemudahan menjangkau Stasiun K.A Medan 53% mudah

Moda menuju stasiun 60% angkutan kota

Moda meninggalkan stasiun 49% angkutan kota

Kemudahan mendapatkan angkutan umum pada saat meninggalkan stasiun

46% mudah

Tujuan perjalanan 29% sekolah/kuliah

Frekuensi perjalanan 34 % 2-5 kali Pulang

pergi

Waktu yang dihabiskan dalam perjalanan 44% <1 jam Jarak antara tempat tinggal dengan Stasiun K.A

Medan

51% 1-10 km

Jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta 42% memuaskan

Dalam kawasan TOD stasiun sebagai titik transit seharusnya terintegrasi

dengan moda angkutan kota yang lainnya dan harus memiliki integrasi antarmoda

yang baik. Saat ini mayoritas responden, yaitu sebanyak 53% mengatakan mudah Sumber : Hasil analisa

(69)

dalam menjangkau stasiun, dan sebanyak 46% mudah untuk mendapatkan

angkutan umum untuk tujuan akhir perjalanan mereka. Responden yang merasa

masih sulit menemukan moda transportasi di sekitar stasiun dikarenakan

aksesibilitas yang buruk. Selain itu tidak terdapat titik pemberhentian moda

sehingga ketidakdisiplinan supir angkutan kota sering menyebabkan kemacetan

karena sembarangan berhenti pada saat menaik-turunkan penumpang. Dapat

disimpulkan bahwa kondisi integrasi antarmoda di sekitar stasiun masih kurang

baik karena walaupun lokasinya sudah dekat namun aksesibilitasnya kurang baik.

Dalam konteks TOD, kegiatan disekitar stasiun harus ditunjang dengan

sirkulasi pejalan kaki yang baik dan nyaman. Saat ini, dari seluruh responden

ternyata lebih memilih moda angkutan umum untuk menuju dan meninggalkan

Stasiun K.A Medan. Sebanyak 60% menggunakan angkutan kota pada saat

menuju lokasi dan sebanyak 49% menggunakan angkutan kota pada saat

meninggalkan stasiun. Hanya 2% saja yang berjalan kaki menuju stasiun, dan

hanya 7% yang berjalan kaki pada saat meninggalkan stasiun. Hal ini mugkin

dikarenakan jarak antara Stasiun K.A Medan dengan tempat tinggal mereka cukup

jauh, terbukti karena sebanyak 51% responden memiliki jarak yang cukup jauh

dari Stasiun, yaitu 1-10 km.

4.4.Area Komersial Pusat

Area komersial pusat dalam TOD menurut Calthorpe (1993) adalah area

dengan fungsi campuran yang berfungsi memberi pelayanan pada kegiatan transit

seperti fungsi retail, supermarket, komersial dan hiburan serta hunian pada level

(70)

area komersial pusat pada kawasan penelitian yaitu Merdeka Walk, Titi Gantung,

Pasar Ikan Medan, dan Kesawan Square

Pada kawasan penelitian terdapat beberapa area komersial pusat, antara lain:

a) Pasar Ikan Medan

Pasar Ikan Medan atau yang lebih sering disebut Pajak Ikan merupakan

pasar tekstil yang cukup terkenal di Kota Medan. Lokasinya yang berada

di jantung kota Medan, membuat kawasan ini selalu ramai dikunjungi

oleh masyarakat. Merdeka Walk

Pasar Ikan Medan Kesawan Square

Titi Gantung

Gambar.4.4

(71)

Dalam kawasan TOD, keberadaan area komersial cukup penting karena berfungsi

untuk memenuhi kebutuhan penggunaan kawasan sambil melakukan perjalanan

dari tempat satu ketempat lain. Berdasarkan hasil analisa keberadaan Pajak Ikan

sebagai pusat komersial tidak terintegrasi dengan titik transit. Hal ini dapat dilihat

dari masih terjadinya kemacetan disepanjang Jl. Stasiun Kereta Api sebagai akses

utama menuju pasar ini. Jalan Stasiun Kereta Api sebagai akses utama Pajak Ikan

Medan merupakan titik yang sering mengalami kemacetan. Hal ini dikarenakan

banyaknya kendaraan yang melintasi daerah ini, parkir on street, dan angkutan

(72)

Keterangan gambar :

Tidak tersedianya jalur pedestrian membuat masyarakat berjalan dibahu

jalan.

Jalur pedestrian hanya satu sisi, dan dialih fungsikan sebagai tempat

berjualan oleh pedagang.

Parkir on street dibahu jalan, sepanjang Jl. Stasiun Kereta Api. Sumber : Hasil Analisa

(73)

b) Kesawan Square

Kesawan Square merupakan kawasan bersejarah di kota Medan dan

merupakan kawasan yang dipenuhi bangunan-bangunan peninggalan kolonial

Belanda. Jarak antara Stasiun K.A Medan sebagai titik transit dengan Kesawan

adalah ±300 meter. Dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, seharusnya

tempat ini dapat menjadi daya tarik tersendiri pada kawasan TOD. Tetapi tidak

adanya akses khusus pejalan kaki menuju tempat ini menjadikan kawasan ini

padat dilalui lalu lintas. Untuk jalur pedestrian untuk kawasan ini belum terencana

dengan baik, perencanaan jalur pedestrian tidak merata. Sedangkan untuk area

parkir, di sepanjang Jl. Ahmad Yani memakai parkir on-street. Gambar.4.7

(74)

Keterangan gambar :

Kondisi jalur pedestrian tidak terawat dengan baik,

Tidak banyak masyarakat yang menggunakan jalur pedestrian pada

kawasan ini.

Kendaraan bermotor masih mendominasi pada kawasan ini.

Gambar.4.9

Kondisi parkir On-stret pada Jl. Ahmad Yani Gambar.4.8

Kondisi jalur pedestrian pada Jl. Ahnmad Yani Sumber : Hasil analisa

(75)

c) Merdeka Walk

Salah satu area komersial pusat yang berada pada kawasan transit Stasiun

K.A Medan adalah Merdeka Walk. Karena lokasinya yang sangat strategis

yaitu di Lapangan Merdeka membuat tempat ini menjadi tempat yang

paling sering dikunjungi oleh masyarakat setempat maupun wisatawan

yang datang ke Kota Medan. Adanya tempat ini sangat berpengaruh

terhadap lokasi transit, karena jaraknya yang cukup dekat dengan titik

transit. Sehingga tempat ini dapat sebagai area komersial yang berfungsi

untuk memenuhi kebutuhan penggunaan kawasan sambil melakukan

perjalanan dari tempat satu ketempat lain (Peter Calthorpe dalam Taolin). Gambar.4.10

(76)

Berdasarkan hasil analisa area komersial ini sudah cukup terintegrasi dengan

titik transit. Selain lokasinya yang cukup dekat, akses menuju tempat ini juga

cukup mudah. Tetapi kondisi jalur pedestrian masih kurang karena dimensinya

yang tidak begitu lebar dan tidak dilengkapi dengan street furniture. Saat ini

stasiun K.A dalam tahap pegembangang kawasan, yang akan mengintegrasikan

lapangan merdeka dengan Stasiun K.A Medan. Selain pembangunan akses

langsung dari Lapangan Merdeka menuju stasiun K.A Medan melalui sky cross ,

akan disediakan lahan parkir kendaraan, dan retail. Dalam kawasan TOD area

komersial pusat harus dapat memenuhi kebutuhan pengguna kawasan yang

melakukan perjalanan, dengan adanya pengembangan kawasan Stasiun K.A Gambar.4.11

Kondisi jalur pedestrian menuju Merdeka Walk dari Stasiun K.A medan

Merdeka Walk

(77)

Medan saat ini diharapkan dapat mewujudkan hal tersebut, sehingga tercipta

kawasan TOD yang baik

d) Titi Gantung (Tigan)

Titi gantung merupakan jembatan yang berada diatas rel kereta api Medan

yang menghubungkan Jl. Stasiun Kereta Api dengan Jl. Jawa. Titi gantung

merupakan jembatan yang dibangun pada masa kolonial Belanda, yang masih

berdiri kokoh hingga saat ini. Keberadaan titi gantung pada kawasan ini bukan

hanya sekedar sebagai jembatan penghubung jalan, melainkan dijadikan area

komersial pusat oleh penduduk setempat. Kawasan ini selalu ramai dikunjungi

oleh masyarakat, karena lokasinya yang dekat dengan Stasiun K.A maka tempat

ini dijadikan penduduk setempat sebagai tempat untuk dapat melihat kereta api Gambar.4.12

Titi Gantung Stasiun K.A Medan

Figur

Gambar. 2.17
Gambar. 2.17 p.45
Gambar. 2.18
Gambar. 2.18 p.45
Gambar. 2.19
Gambar. 2.19 p.46
Gambar. 2.23
Gambar. 2.23 p.48
Gambar. 2.26
Gambar. 2.26 p.50
Tabel.3.1 Variabel TOD
Tabel.3.1 Variabel TOD p.56
Gambar.3.1
Gambar.3.1 p.60
Gambar.4.1
Gambar.4.1 p.64
Gambar.4.2 Tata Guna Lahan Kawasan Stasiun K.A Medan
Gambar.4.2 Tata Guna Lahan Kawasan Stasiun K.A Medan p.66
Gambar.4.3
Gambar.4.3 p.67
Gambar.4.4
Gambar.4.4 p.70
Gambar.4.5
Gambar.4.5 p.71
Gambar.4.6
Gambar.4.6 p.72
Gambar.4.7
Gambar.4.7 p.73
Gambar.4.9
Gambar.4.9 p.74
Gambar.4.10
Gambar.4.10 p.75
Gambar.4.11
Gambar.4.11 p.76
Gambar.4.12
Gambar.4.12 p.77
Gambar.4.14
Gambar.4.14 p.79
Gambar.4.16
Gambar.4.16 p.80
Gambar.4.17
Gambar.4.17 p.81
Gambar.4.18
Gambar.4.18 p.82
Gambar.4.19
Gambar.4.19 p.83
Gambar.4.25
Gambar.4.25 p.86
Gambar.4.26
Gambar.4.26 p.87
Gambar.4.28
Gambar.4.28 p.88
Gambar.4.29
Gambar.4.29 p.89
Gambar.4.31 PosisPosisi titik transit Stasiun K.A Medan terhadap pusat kegiatan
Gambar.4.31 PosisPosisi titik transit Stasiun K.A Medan terhadap pusat kegiatan p.92
Tabel. 4.2. Hasil Analisa fungsi transit pada kawasan penelitian
Tabel. 4.2. Hasil Analisa fungsi transit pada kawasan penelitian p.93
Gambar 4.34

Gambar 4.34

p.95

Referensi

Memperbarui...