SURAT KETERANGAN
PENYERAHAN HAK EKSKLUSIF
Bahwa yang bertandatangandibawahini, penulisdanpihakperusahaantempatpenelitian, bersedia : “Bahwahasilpenelitiandapatdionlinekansesuaidenganperaturan yang berlaku, untuk
kepentinganrisetdanpendidikan”.
Bandung, 03September 2012
Penulis, Perusahaan
Catatan :
Bilakeberatandengandi-online-kandata perusahaan di BAB III/di Bab yang
mencantumdataperusahaan (pengecualiankhususdata
perusahaan,bolehuntuktidakdionlinekan),ketikanpadalembarcatatanini,
………
PENGARUH PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TERHADAP
KEPATUHAN PERPAJAKAN DAN IMPLIKASINYA PADA
PENERIMAAN PAJAK
(Survey Pada KPP yang terdaftar di Kanwil Jawa Barat 1)
THE INFLUENCE OF VALUE ADDED TAX TO TAX
COMPLIANCE AND IT’S IMPLICATION TO TAX REVENUE
(Survey On Small Taxpayers Office At West Java Regional Office 1)
Ridwan Setiadi 21108031
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat skripsi guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi Akuntansi
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
BANDUNG
PENGARUH PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TERHADAP KEPATUHAN PERPAJAKAN DAN IMPLIKASINYA PADA PENERIMAAN PAJAK
(Survey Pada KPP yang terdaftar di Kanwil Jawa Barat 1)
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan pada 10 Kantor Pelayanan Pajak di Kantor Wilayah Jawa Barat I. pemungutan pajak pertambahan nilai belum optimal, kepatuhan pajak diindonesia masih menunjukan level kepatuhan yang rendah, rendahnya realisasi penerimaan pajak tidak mencapai target, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pajak pertambahan nilai dan kepatuhan perpajakan terhadap penerimaan pajak pada KPP Kantor Wilayah Jawa Barat I.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan verifikatif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah 50 wajib pajak badan sebagai data primer dari 10 kantor pelayanan pajak pratama di kanwil jawa barat 1. Dan unit analisis adalah data sekunder dan data primer, data sekunder berupa laporan penerimaan pajak dari 10 KPP pratama di Kanwil Jawa Barat 1 periode tahun 2011. Data primer penyebaran kuesioner ke 10 KPP Pratama di Kanwil Jawa Barat 1.Sampel dalam penelitian ini 10 kantor pelayanan pajak pratama di kanwil jawa barat 1. Pengujian statistic yang digunakan adalah path analisis, koefisien determinasi, uji hipotesis, dan juga menggunakan program aplikasi spss 18.0 for windows sebagai alat bantu analisis.
Hasil penelitian menunjukan bahwa variable pajak pertambahan nilai terhadap kepatuhan perpajakan memiliki hubungan yang kuat dan erat dengan arah positif, kemudian variable kepatuhan perpajakan terhadap penerimaan pajak memiliki hubungan yang kuat dan erat dengan arah positif. Kesimpulan dari analisis statistic tersebut adalah pajak pertambahan nilai berpengaruh terhadap kepatuhan perpajakan, kepatuhan perpajakan bepengaruh terhadap penerimaan pajak, pajak pertambahan nilai dan kepatuhan perpajakan berpengaruh terhadap penerimaan pajak ini dikarenakan pajak pertambahan nilai untuk meningkatkan penerimaan pajak, dan kepatuhan perpajakan untuk meningkatkan penerimaan pajak, pajak pertambahan nilai berpengaruh untuk memaksimalkan kepatuhan perpajakan sedangkan pajak pertambahan nilai dan kepatuhan perpajakan berpengaruh untuk meningkatkan penerimaan pajak.
THE INFLUENCE OF VALUE ADDED TAX TO TAX COMPLIANCE AND IT’S
IMPLICATION TO TAX REVENUE
(Survey on small taxpayers office at west java regional office 1)
ABSTRACT
The research conducted at tax service offices in 10 regional offices West Java 1. Value added tax is not optimal, tax compliance in Indonesia is still showing a low level of compliance, low realization of tax revenue does not reach the target, the aim of this study was to determine the effect of value added tax and tax compliance to tax income at the tax office in the area of Java pratama west 1.
The method used in this research is descriptive method with quantitative approach and verifikatif. The population in this study were 50 corporate taxpayers as the primary data from 10 pratama tax office in West Java Regional Offices 1. And the unit of analysis is a secondary data and primary data, secondary data from reports of tax receipts pratama 10 LTO Regional Office of West Java in a period in 2011. Primary data questionnaires to 10 LTO Primary in West Java Regional Office in this study 1.Sampel 10 pratama tax office in West Java Regional Offices 1. Test statistic used is the path analysis, the coefficient of determination, hypothesis testing, and also use the program spss 18.0 for windows application as a tool of analysis.
The results showed that the variable value added tax on tax compliance has a strong and close relationship with the positive direction, then the variable tax compliance to tax revenue has a strong and close relationship with the positive direction. Conclusions from the statistical analysis is the value added tax effect on tax compliance, tax compliance bepengaruh on tax income, value added tax and tax compliance effect on tax revenues is due to value added tax to increase tax revenues, and tax compliance to increase tax revenue, tax effect to maximize the value added tax compliance while the value added tax and tax compliance effect to increase tax revenues.
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Illahi Rabbi. Shalawat
dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.
beserta seluruh keluarganya, sahabatnya, dan akhirnya kepada kita semua selaku
keturunannya hingga akhir zaman nanti.
Atas rahmat dan ridha – Nya, akhirnya Penulis dapat menyelesaikan
penyusunan skripsi. Skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat
kelulusan dan menempuh jenjang Strata 1 (S1) Program Studi Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM). Dimana judul Skripsi
yang diambil, yaitu: “Pengaruh Pajak Pertambahan Nilai terhadap
Kepatuhan Perpajakan dan Implikasinya pada Penerimaan Pajak (Survey pada KPP yang terdaftar di Kanwil Jawa Barat I)”.
Tentunya dalam proses penelitian, penulisan serta penyusunan skripsi ini
banyak kendala yang dihadapi penulis, namun berkat bantuan yang diberikan oleh
berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Untuk itu Penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing Dr.Ely Suhayati,SE.,M.Si.,AK yang telah
banyak meluangkan waktu guna membimbing, mengarahkan, dan memberikan
petunjuk yang sangat berharga demi selesainya penyusunan skripsi ini, akhirnya
Dalam kesempatan ini pula Penulis mengucapkan terimakasih kepada
Bapak/Ibu :
1. Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, M.Sc., selaku Rektor Universitas Komputer
Indonesia.
2. Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra., SE., M.Si., selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Komputer Indonesia.
3. Sri Dewi Anggadini, SE., M.Si., selaku Ketua Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia.
4. Surtikanti, SE., M.si., selaku Doden Wali kelas Akuntansi 1.
5. Seluruh Staff Dosen Pengajar UNIKOM yang telah membekali Penulis
dengan pengetahuan.
6. Segenap Pimpinan dan Staff Direktorat Jendral Pajak Kantor Wilayah Jawa
Barat 1, yang telah memberikan ijin penulis untuk melakukan penelitian.
7. Ayah dan Mamah yang selalu memberikan doa dengan penuh kasih sayang,
keikhlasan dan kesabaran serta pengorbanan yang tiada hentinya,
mendorong dan selalu memberi semangat Penulis untuk menyelesaikan
skripsi ini.
8. Kakaku tercinta Rinna Purwanti, juga semua anggota keluargaku yang telah
memberikan doa, dorongan, semangat serta kasih sayang yang tulus.
9. Untuk sahabat – sahabatku, Susan, Giska, Windy, Reni, Egit, Ressa dan
teman kelas Akuntansi 1 terimakasih atas dukungan dan bantuannya.
10. Seluruh pihak yang membantu penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat
Semoga Allah SWT membalas jasa semua pihak yang telah membantu
Penulis dalam penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih
jauh dari sempurna. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati Penulis
bersedia menerima segala kritik dan saran dari semua pihak untuk peningkatan
mutu skripsi ini.
Akhir kata Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan
menjadi pendorong untuk lebih maju serta semangat berbuat yang terbaik untuk
diri sendiri dan orang lain.
Terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Bandung, Juli 2012 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN MOTTO
ABSTRACT ... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah ... 11
1.2.1 Identifikasi Masalah ... 11
1.2.2 Rumusan Masalah ... 11
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 12
1.3.1 Maksud Penelitian ... 12
1.3.2 Tujuan Penelitian ... 12
1.4 Kegunaan Penelitian ... 13
1.4.1 Kegunaan Praktis……… 13
1.4.2 Kegunaan Praktis………. 13
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 14
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka ... 16
2.1.1 Pajak Pertambahan Nilai……….. 16
2.1.1.1Pengertian Pajak Pertambahan Nilai……… 16
2.1.1.2Karakteristik PPN dan PPnBM……… 16
2.1.1.3Kewajiban Pengusaha Kena pajk………. 18
2.1.2 Kepatuhan Perpajakan ... 20
2.1.2.1Pengertian Kepatuhan Perpajakan……….. .. 20
2.1.2.2Faktor-faktor Kepatuhan Perpajakan……… 21
2.1.2.3Kriteria Kepatuhan Wajib Pajak………. . 22
2.1.2.4Manfaat Predikat Wajib Pajak Patuh…………. .. 22
2.1.3 Penerimaan Pajak ... 23
2.1.3.1Pengertian Penerimaan Pajak……… 23
2.1.3.2Faktor-Faktor Penerimaan Pajk………. 25
2.1.4 Hasil Penelitian Sebelumnya………. 27
2.2.3 PPN dengan Kepatuhan Perpajakan, Penerimaan Pajak… 32
2.3 Hipotesis………. ... 33
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1Objek Penilitan ... 34
3.2Metode Penelitian ... 34
3.2.1 Desain Penelitian ... 36
3.2.2 Operasional Variabel ... 40
3.2.3 Sumber Data dan Teknik Penentuan Data ... 46
3.2.3.1 Sumber Data ... 46
3.2.3.2Teknik Penentuan Data ... 46
3.2.4 Teknik Pengumpulan Data ... 49
3.2.5 Rancangan Analisis dan Pengujian Hipotesis ... 61
3.2.5.1 Rancangan Analisis ... 61
3.2.5.2 Pengujian Hipotesis ... 68
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1Gambaran Umum Perusahaan ... 70
4.1.1 Sejarah Perusahaan ... 70
4.1.2 Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajk ... 74
4.1.3 Uraian Tugas Kantor Pelayanan Pajak ... 75
4.1.4 Kegiatan Kantor Pelayanan Pajak ... 77
4.2Karakteristik Responden………. 78
4.3Analisis Deskriptif ... 80
4.3.1 Analisis Deskriptif PPN Pada KPP Pratama………. 81
4.3.2 Analisis Deskriptif Kepatuhan Perpajakan……… 90
4.3.3 Analisis Deskriptif Peneriman Pajak……….. 98
4.4 Analisis Verifikatif……… 101
4.4.1 Analisis pengaruh PPN terhadap Kepatuhan Perpajakan.. 104
4.4.2 Analisis pengaruh Kepatuhan Perpajakan terhadap Penerimaan Pajak……… 108
4.4.3 Analisis PPN terhadap Kepatuhan Perpajakan dan Implikasinya pada Penerimaan Pajak……….. 111
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1Kesimpulan ... ……… 112
5.2Saran……….. 114
DAFTAR PUSTAKA ... 115
KUESIONER……….. 117
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 123
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Penelitian
Pajak merupakan sumber penerimaan negara yang sangat penting dan
potensial, yang digunakan untuk membiayai pengeluaran negara, baik pengeluaran
rutin maupun pengeluaran untuk pembangunan, penerimaan pajak mempunyai
peranan dominan dalam pos penerimaan negara (Suryadi,2006). Selanjutnya masih menurut suryadi negara mempunyai kewajiban untuk memenuhi kepentingan
rakyatnya dengan melaksanakan pembangunan, untuk melaksanakan pembangunan,
negara membutuhkan dana pembangunan yang tidak sedikit dimana kebutuhan dana
pembangunan tersebut setiap tahun semakin meningkat seiring dengan peningkatan
jumlah dan kebutuhan masyarakat, selanjutnya masih menurut suryadi maka dari itu
penerimaan pajak merupakan sumber pembiayaan negara yang dominan baik untuk
belanja rutin maupun pembangunan (Suryadi,2006).
Selain itu berfungsi sebagai alat untuk menentukan politik perekonomian,
fungsi pajak yang pertama adalah fungsi penerimaan (budgetair) yaitu pajak yang
dipergunakan sebagai alat untuk memasukan dana secara optimal ke kas negara yang
dilakukan system pemungutan berdasarkan undang-undang perpajakan yang berlaku,
dan fungsi kedua adalah fungsi (regulerend) atau disebut juga fungsi mengatur, yaitu
Penerimaan pajak merupakan gambaran partisipasi masyarakat dalam
pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan negara, apabila
kontribusi penerimaan perpajakan semakin besar terhadap pembangunan, pajak yang
telah dipungut dari masyarakat akan dikembalikan secara tidak langsung kepada
masyarakat dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana pabrik, menyediakan
lapangan kerja, memberikan rasa aman dan nyaman (Moh.zain, 2007).
Disisi lain penerimaan pajak merupakan sumber pembiayaan negara yang
dominan baik untuk belanja rutin maupun pembangunan.(Suryadi 2006). Dalam meningkatkan penerimaan pajak pemerintah menargetkan penerimaan pajak di 2012
mencapai Rp. 1.019,3 Triliun (M’amur hasanuddin, 2011). untuk mencapai target penerimaan pajak tersebut pemerintah mengadakan sensus pajak nasional yang
dimulai pada tanggal 30 september hingga akhir november 2011 dengan menyasar
1,5 juta wajib pajak, SPN bertujuan memperkuat organisasi ditjen pajak untuk dapat
menarik semakin banyak pembayar pajak (Fuad Rahmany,2011), metode SPN sebenarnya sama saja dengan program canvassing yang dilakukan ditjen pajak sejak
lama Bedanya, SPN butuh tambahan anggaran (Anshari ritonga,2011).
Target penerimaan negara dari sektor perpajakan dalam APBN dinilai masih
terlalu besar akibatnya, beban pencapaian target yang diemban petugas pajak
menjadi beban psikologis sehingga dikhawatirkan dapat memicu tindakan yang
menyimpang. Selanjutnya masih meurut haryadi, demi mengejar target penerimaan
pajak yang tinggi, para petugas pajak kemudian mematok angka yang tinggi untuk
Pajak (WP) mengajukan keberatan dan banding atas setoran pajaknya (Haryadi B Sukamdani,2010).
Sebelumnya penerimaan pajak ditahun 2011 ditargetkan mencapai Rp.109
triliun atau sekitar 18,25 persen dari target penerimaan pajak dalam RAPBN-P 2010
sebesar Rp. 597,4 Triliun dan sebagaimana diketahui target penerimaan pajak dalam
RAPBN-P 2010 diturunkan dari target APBN yang sebelumnya Rp.109 Triliun
(Tjitardjo,2010). Dan target ditahun 2011 sebesar Rp. 878,684 Triliun secara keseluruhan target yang mencapai Rp. 1.169,91 Triliun (Kementrian keuangan RI,2011).
Di tengah upaya menuju kemandirian anggaran yang mengandalkan pada
penerimaan perpajakan, ternyata rasio pajak Indonesia (perbandingan antara jumlah
penerimaan pajak terhadap PDB dalam periode satu tahun fiskal) masih relatif rendah
dibandingkan negara lain, rasio pajak terhadap PDB (tax ratio) yang mencerminkan
tingkat kepatuhan atau ketaatan wajib pajak, perilaku petugas pajak dan kondisi
perekonomian. Masih Menurut radjawarta pada APBN tahun ini, ratio pajak 12,1
persen, berada di bawah Vietnam (13,8 persen), Thailand (17 persen), Korea Selatan
(26,8 persen), dan Turki (32,5 persen). Menurut Akbar, semakin besar tax ratio
semakin meningkat pula penerimaan pajak, sekaligus menambah kemampuan negara
membiayai program-program pembangunan (Radjawarta, 2011).
Selain itu rasio penerimaan pajak Indonesia masih rendah jika dibandingkan
membayar pajak, orang Indonesia termasuk yang rendah patuh membayar pajak.
(Fuad Rahmany, 2011).
Disisi lain realisasi penerimaan bakal tidak tercapai, di tahun 2010 juga target
naik lagi, padahal kondisi ekonomi juga belum jelas arah pemulihannya, karena
realisasi selalu di bawah target, akibatnya ada ongkos yang harus ditanggung oleh
APBN, pemerintah juga masih memiliki problem tentang pemetaan penerimaan pajak
yang potensial (Hendri Saparini,2010). Direktorat Jenderal Pajak dihadang oleh tiga kendala yang dapat menyebabkan target penerimaan pajak tidak tercapai, kendala
utamanya adalah kesadaran masyarakat yang belum tinggi dalam menunaikan
kewajibannya sebagai pembayar pajak yang tepat waktu dan sesuai dengan jumlah
tagihannya, tantangan yang dihadapi yaitu nomor satu adalah kesadaran masyarakat
wajib pajak dan tingkat kepatuhannya yang perlu ditingkatkan (Mohammad Tjiptardjo, 2010). Dua kendala lainnya adalah data yang tidak lengkap dan sumber daya manusia (SDM) yang terbatas. Masalah data sangat menentukan dalam upaya
peningkatan jumlah penerimaan pajak, meskipun sudah ada aturan yang mewajibkan
seluruh lembaga dan korporasi menyetorkan data, data yang dimiliki Ditjen Pajak
tidak semakin mudah dilengkapi (Mohammad Tjiptardjo,2010).
Total penerimaan pajak yang tidak sesuai target, yaitu realisasi penerimaan
pajak pada tahun 2011 tidak mencapai sasaran target pemerintah Rp Rp 878,7 triliun.
Realisasi mencapai Rp 872,6 triliun atau 99,3% dari target, kurang 'tipis' Rp 6 triliun.
Walaupun kurang tipis, tapi tetap saja disayangkan karena tidak sesuai dengan target
Berkaitan dengan hal tersebut, fenomena lain yang berhubungan dengan
belum optimalnya penerimaan pajak, telihat pula pada KPP Pratama yang ada di
Kantor Wilayah Jawa Barat I. Lebih jelasnya terlihat di tabel 1.1.
Tabel 1.1
Pencapaian Target Penerimaan Pajak pada KPP Pratama di Wilayah Bandung Periode 2011/2012
(dalam jutaan rupiah) No KPP
Pratama/ Madya
Netto 2012 Netto 2011 Target 2012 *)
% thd target
% growth
Index kinerja
1 Bojonegara 167.051,20 127.313,80 696.669,80 23,98 31,21 28,32 2 Cibeunying 284.428,60 233.220,90 877.138,30 32,43 21,96 26,14 3 Cicadas 170.279,00 162.931,50 514.015,40 33,13 4,51 15,96 4 Karees 203.961,00 192.993,80 677.314,20 30,11 5,68 15,45 5 Tegalega 134.793,90 129.515,50 471.710,50 28,58 4,08 13,88 6 Majalaya 64.368,70 67.230,00 239.143,20 26,92 -4,26 8,21 7 Sumedang 62.449,00 53.693,40 246.262,70 25,38 16,4 19,99 8 Cimahi 203.959,30 198.481,60 789.571,00 25,83 2,76 11,99 9 Soreang 156.563,00 163.895,40 551.390,70 28,39 -4,47 8,67 10 Madya
Bandung
1.723.271,70 1.722.838,10 7.842.665,70 21,97 0,03 8,8
Sumber : Direktorat Jenderal Pajak, 2012
Dari tabel di atas terlihat bahwa penerimaan pajak tiap-tiap KPP dan madya
tidak mencapai target yang diharapkan oleh direktorat jenderal pajak.
Penerapan self assasment system akan efektif jika kondisi kepatuhan sukarela
(voluntary compliance) pada masyarakat telah terbentuk (Elia Mustikasari,2007). Kepatuhan pajak merupakan persoalan laten dan akrual yang sejak dulu ada di
perpajakan, untuk mengoptimalisasi penerimaan pajak sebaiknya kepatuhan wajib
kepatuhan masih rendah, hal ini bisa dilihat dari belum optimalnya penerimaan pajak
yang tercermin dari angka tax ratio.
Tingkat kepatuhan para wajib pajak memang harus ditingkatkan terkait
dengan target penerimaan pajak tahun ini, tahun ini kita akan memberikan insentif
berupa kemudahan dalam menyerahkan SPT para wajib pajak seperti e-SPT, sehingga
para wajib pajak (WP) tidak mengalami kesulitan lagi dalam mengirimkan SPT-nya
(I Awan Nurmawan, 2011).
Pengamat pajak dari Tax Center Universitas Indonesia (UI) Darussalam
mengatakan tingkat kepatuhan wajib pajak yang dilihat berdasarkan rasio
penyampaian SPT tahunan hanya merupakan bentuk dari kepatuhan yang bersifat
formal. Masih menurut Darussalam tingkat kepatuhan formal seharusnya juga diikuti
dengan tingkat kepatuhan material yaitu apakah pajak yang terhutang dalam SPT
sudah sesuai dengan jumlah pajak yang seharusnya terutang berdasarkan peraturan
yang berlaku.
Hal senada juga disampaikan oleh pengamat pajak dari Universitas Pelita
Harapan Ronny Bako, ukurannya bukan naiknya persentase (penyampaian SPT),
tetapi tingkat kepatuhan yang konsisten yang diukur dari kewajiban membayar setiap
bulannya dari wajib pajak (WP).
Meminta agar peningkatan rasio penyampaian SPT tersebut memiliki
implikasi terhadap peningkatan penerimaan pajak, dia juga menilai naiknya rasio
dengan kebijakan reformasi perpajakan yang telah berjalan selama 6 bulan terakhir
(Arif Budimanta,2011).
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat I menargetkan rasio
kepatuhan penyampaian surat pemberitahuan (SPT) tahunan mencapai 62,5% dengan
mengintensifkan sosialisasi dan pemberian sanksi tegas.
Kepala kanwil Direktorat Jenderal Pajak Jawa barat 1 Adjat Djatnika
mengatakan pertumbuhan wajib pajak (WP) selama ini belum diimbagi dengan rasio
kepatuhan secara keseluruhan. Masih menurut Adjat Djatnika pertambahan wajib
pajak orang pribadi terus terjadi, hanya saja, rasio kepatuhan penyampaian SPT masih
rendah.
Pada 2011, rasio kepatuhan penyampaian SPT si wilayah DJP hanya
mencapai sekitar 45%, data DJP Jabar 1 mencatat terdapat sebanyak 1,2 juta Wajib
Pajak (WP) orang pribadi (OP) dan sekitar 90.000 Wajib Pajak (WP) badan, untuk
mencapai target kepatuhan tersebut, DJP Jabar 1 mengintensifkan sosialisasi dengan
cara menggelar pecan panutan pajak,selain itu, otoritas pajak juga menyediakan drop
box antara lain di sejumlah pusat perbelanjaan untuk memudahkan WP
menyampaikan SPT, di sisi lain, DJP Jabar 1 juga akan menindak tegas para WP
yang tidak memenuhi kewajiban perpajakannya (Adjat Djatnika,2011).
Dia mengatakan pemberian sanksi diharapkan menimbulkan efek jera bagi
pengeplang pejek, sehingga bias menggunakan penerimaan negera, “Kami terus
jumlahnya sangat banyak, sedangkan yan sudah ,asuk proses penyidikan ada dua
wajib pajak (WP) (Adjat Djatnika,2011).
Pelaksanaan tax compliance di kota yogyakarta juga masih belum maksimal,
dengan kata lain tax compliance belum menginternalisasi dalam diri semua wajib
pajak di kota yogyakarta, hal ini tentunya berimbas pada tidak optimalnya
penerimaan pajak di kota yogyakarta (Dahliana Hasan,2008).
Penerimaan perpajakan meliputi pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai
barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah, pajak bumi dan bangunan,
bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, cukai, bea masuk, pajak/pungutan
ekspor, dan pajak lainnya sesuai peraturan perundang-undangan (Sukardji,2000). Pajak pertambahan nilai atau value added tax pertama kali dikenalkan
diperancis pada tahun 1954 dan mulai diadaptasi oleh bank negara sejak saat itu,
dalam implementasinya terjadi perkembangan yang berbeda-beda disetiap negara
yang menggunakannya, antara lain karena berbeda bahasa dan kebijakan negara
tersebut, berbagai nama atau istilah digunakan atas pajak ini seperti value added tax
(VAT) diinggris dan beberapa negara lain, taxe sur la valuer ajoutee (TVA)
diperancis, belasting over de toegevevoegde waarde (BTW) dibelanda, imposta sul
valore agguinto (IVA) diitalia, umsatzteurgesetz dijerman dan pajak pertambahan
nilai diindonesia (Untung sukarji, 2005).
Sebagaimana telah dijelaskan PPN yang ditetapkan dengan UU no.18 tahun
2000 merupakan pajak yang dikenakan terhadap pertambahan nilai (value added)
menyiapkan, menghasilkan, menyalurkan, dan memperdagangkan barang atau
pemberian pelayanan jasa kepada para konsumen (Siti kurnia rahayu, 2010).
Selain itu menurut pendapat lain mengenai pengertian pajak pertambahan nilai
merupakan pengenaan pajak atas pengeluaran untuk konsumsi baik yang dilakukan
perseorangan maupun badan baik badan swasta maupun badan pemerintah dalam
bentuk belanja barang atau jasa yang dibebankan pada anggaran belanja negara.
Masih menurut sukardji berdasarkan objek yang dikenakan pajak pertambahan nilai
adalah konsumsi barang dan jasa, maka pajak pertambahan nilai secara bebas dapat
diartikan pajak yang dikenakan atas pertambahan nilai suatu barang atau jasa, secara
matematis pertambahan nilai atau nilai tambah suatu barang atau jasa dapat dihitung
dari nilai/harga pembelian, sehingga salah satu unsure pertambahan nilai atau nilai
tambah suatu barang atau jasa adalah laba yang diharapkan (Sukardji,2000).
Pajak pertambahan nilai mempunyai 5 fungsi secara garis besar yaitu sebagai
penerimaan negara yang artinya merupakan fungsi pada tujuan utama dari setiap
pelaksanaan pemungutan pajak yang digunakan untuk membiayai pengeluaran
pemerintah salah satunya, fungsi yang kedua yaitu membantu pengusaha kecil yang
dimaksud pengusaha kecil yang menghasilkan dan menjual barang atau memberikan
jasa dibebaskan dari penggunaan pajak dengan dikecualikan pengusaha kecil
mengembangkan usahanya, fungsi ketiga yaitu mendorong ekspor yang diartikan
selanjutnya atas barang dikenakan tarif 0%, bahkan PPN yang telah termasuk dalam
harga barang yang telah diekspor dapat dikembalikan, fungsi yang keempat yaitu
pajak yang terbebaskan dari PPH, secara tidak langsung menjadi penanggung pajak
melalui konsumsi yang dilakukannya, dan yang terakhir dari fungsi PPN yaitu
mendorong investasi yang dimaksud dengan pembebasan atau pengembalian PPN
atas perolehan atas impor barang modal diharapkan akan mendorong investasi (Moh zain, 2007).
rendahnya realisasi penerimaan pajak, khususnya penerimaan pajak dalam hal
pemungutan pajak pertambahan nilai, karena tingkat kepatuhan perusahaan dalam
membayar pajak masih kurang, serta belum lengkapnya data perusahaan, masih
banyak sector ekonomi yang belum bayar pajak, sebenarnya sudah mulai tapi belum
optimal, tingkat kepatuhan masyarakat khususnya pelaku ekonomi masih rendah
dalam menyetorkan pajak pertambahan nilai (Fuad rahmany, 2011).
Sistem self assessment, yaitu ketetapan pajak yang ditetapkan oleh wajib
pajak sendiri yang dilakukannya dalam surat pemberitahuan (SPT), wajib pajak harus
melaporkan semua informasi yang relevan dalam surat pemberitahuannya,
menghitung dasar pengenaan pajaknya, mengkalkulasi jumlah pajak yang terutang
dan melunasi pajak yang terutang atau mengangsur jumlah pajak yang terutang, wajib
pajak pun harus sungguh-sungguh memperhatikan tanggal jatuh tempo atau tanggal
menjelang jatuh tempo pengisian SPT dan pembayarannya, agar tidak dianggap
bersalah melakukan kelalaian memenuhi kewajiban perpajakannya atau dengan
perkataan lain penggunaan self assessment system, selain partisipasi wajib pajak yang
kesempatan penyelundupan pajak yang lebih luas, baik unilateral maupun bilateral
serta mudahnya terjadi ekstorsi.
Berdasarkan uraian fenomena berkaitan dengan penerimaan pajak, kepatuhan
perpajakan dan pajak pertambahan nilai di atas maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pajak Pertambahan Nilai terhadap Kepatuhan Perpajakan dan Implikasinya pada Penerimaan Pajak”.
1.2Identifikasi dan Rumusan Masalah 1.2.1 Identifikasi Masalah
Berdasarkan pada uraian fenomena di latar belakang penelitian diatas, penulis
identifikasikan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai belum optimal.
2. Kepatuhan pajak di Indonesia yang masih menunjukkan level kepatuhan yang
rendah.
3. Rendahnya realisasi Penerimaan pajak tidak Mencapai target
1.2.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas, maka
perumusan masalah penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh pajak pertambahan nilai terhadap kepatuhan perpajakan
pada KPP Pratama di kanwil jawa barat 1.
2. Bagaimana pengaruh kepatuhan perpajakan terhadap penerimaan pajak pada
3. Seberapa besar pengaruh pajak pertambahan nilai dan kepatuhan perpajakan
terhadap penerimaan pajak pada KPP Pratama di kanwil jawa barat 1.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian
Maksud dari penulis mengadakan penelitian ini adalah untuk memperoleh dan
mengumpulkan data atau keterangan serta informasi mengenai pengaruh pajak
pertambahan nilai terhadap kepatuhan perpajakan dan implikasinya terhadap
penerimaan pajak.
1.3.2 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh pajak pertambahan nilai terhadap kepatuhan
perpajakan pada KPP Pratama di kanwil Jawa Barat 1.
2. Untuk mengetahui pengaruh kepatuhan perpajakan terhadap penerimaan pajak
pada KPP Pratama di kanwil Jawa Barat 1.
3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pajak pertambahan nilai dan
kepatuhan perpajakan terhadap penerimaan pajak pada KPP Pratama di
1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Praktis
Sebagai tambahan informasi mengenai Pengaruh Pajak Pertambahan Nilai Terhadap Kepatuhan Perpajakan Dan Implikasinya Terhadap Penerimaan Pajak pada
KPP Pratama di kanwil jawa barat 1.
1.4.2 Kegunaan Akademis 1. Bagi Perkembangan Ilmu
Dapat menjadi referensi ilmiah tentang Pengaruh Pajak Pertambahan Nilai
Terhadap Kepatuhan Perpajakan Dan Implikasinya Terhadap Penerimaan
Pajak pada KPP Pratama di kanwil jawa barat 1.
2. Bagi Peneliti
Peneliti mengharapkan hasil penelitian dapat bermanfaat dan selain itu untuk
menambah pengetahuan, dan juga memperoleh gambaran langsung
bagaimana Pengaruh Pajak Pertambahan Nilai Terhadap Kepatuhan
Perpajakan Dan Implikasinya Terhadap Penerimaan Pajak pada KPP Pratama
di kanwil jawa barat 1.
3. Bagi Peneliti Lain
Dapat dijadikan sebagai bahan tambahan pertimbangan dan pemikiran dalam
penelitian lebih lanjut dalam bidang yang sama, yaitu Pajak Pertambahan
Nilai, Kepatuhan Perpajakan Dan Penerimaan Pajak pada KPP Pratama di
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian 1.5.1 Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini penulis berencana melaksanakan penelitian pada 10
Kantor Pelayanan Pajak Pratama di kanwil jawa barat 1. Tabel 1.2
Lokasi Penelitian
No Nama Kantor Pelayanan Pajak Alamat
1 KPP Pratama Bandung Bojonagara Jl. Asia Afrika No.114 2 KPP Pratama Bandung Cibeunying Jl. Purnawarman No.21 3 KPP Pratama Bandung Cicadas Jl. Soekarno Hatta No. 781
4 KPP Pratama Bandung Karees Jl. Ibrahim Adjie (d/h Jl. Kiara Condong) No.372 5 KPP Pratama Bandung Tegallega Jl. Soekarno-Hatta No.216
6 KPP Pratama Bandung majalaya Jl. Peta No.7 Lingkar Selatan
7 KPP Pratama Bandung Sumedang Jl. Ibrahim Adjie (d/h Jl. Kiara Condong) No.372 8 KPP pratama Bandung cimahi Jl. Raya Barat No.574 Kotak Pos 112
9 KPP pratama Bandung Soreang Jl. Raya Cimareme No. 205 Ngamprah, kab. Bandung Barat 10 KPP madya Bandung Jl. Soekarno Hatta No. 781
1.5.2 Waktu Penelitian
Adapun waktu pelaksanaan penelitian adalah dimulai pada Maret 2012 sampai
Tabel 1.3 Jadwal Penelitian
Mar-12 Apr-12 Mei-12 Jun-12 Jul-12 Agust-12 Tahap Persiapan :
1. Bimbingan dengan dosen pembimbing 2. Membuat outline dan proposal skripsi 3.Mengambil formulir penyusunan skripsi 4.Menentukan tempat penelitian
Tahap Pelaksanaan :
1. Mengajukan outline dan proposal skripsi 2.Meminta surat pengantar ke perusahaan 3.Penelitian di perusahaan
4.Penyusunan skripsi Tahap Pelaporan : 1.Menyiapkan draft skripsi 2.Sidang akhir skripsi
3.Penyempurnaan laporan skripsi 4.Penggadaan skripsi
I
Tahap Prosedur Bulan
II
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1. Pajak Pertambahan Nilai (X)
2.1.1.1 Pengertian Pajak Pertambahan Nilai
Definisi pajak pertambahan nilai menurut Sukardji yaitu:
“Pengenaan pajak atas pengeluaran untuk konsumsi baik yang dilakukan perseorangan maupun badan baik badan swasta maupun badan pemerintah dalam bentuk belanja barang atau jasa yang dibebankan pada anggaran belanja Negara.”
(2000:22)
Definisi pajak pertambahan nilai menurut Supramono theresia woro damayanti yaitu:
“Pajak yang dikenakan atas konsumsi didalam negeri (daerah pabean), baik
konsumsi barang kena pajak (BKP) maupun konsumsi jasa kena pajak (JKP).”
(2009:125)
Dari dua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Pajak Pertambahan Nilai
didapat dari suatu barang yang dikonsumsi berupa barang kena pajak atau jasa kena
pajak.
2.1.1.2 Karakteristik PPN dan PPnBM
A. PPN merupakan Pajak Tidak Langsung
Konsekuensi yuridis bahwa antara pemikul beban pajak dengan penanggung
B. PPN sebagai Pajak Obyektif
Pajak Obyektif adalah suatu jenis pajak yang saat timbulnya kewajiban pajak
ditentukan oleh factor obyektif, yaitu adanya keadaan atau peristiwa.
C. Multi Stage Tax
PPN dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi dan distribusi. Setiap
penyerahan barang yang menjadi obyek PPN mulai dari tingkat manufaktur
sampai dengan konsumen akhir dikenakan PPN.
D. PPN terutang dibayar ke kas negara dihitung menggunakan indirect
substraction method/credit method/invoice method.
Pajak yang dipungut PKP tidak otomatis wajib dibayar ke kas negara. PPN
terutang yang wajib dibayar ke kas Negara merupakan hasil perhitungan
mengurangkan PPN yang dibayar kepada PKP lain (Pajak Masukan) dengan
PPN yang dipungut dari pembeli (pajak keluaran). Pola ini dinamakan
indirect substraction method.
Pajak yang dikurangkan dengan pajak untuk memperoleh jumlah pajak yang
akan dibayar ke kas negara dinamakan tax credit. Maka pola ini dinamakan
credit method.
Untuk mendeteksi kebenaran jumlah pajak masukan dan pajak keluaran yang
terlibat dalam mekanisme ini dibutuhkan suatu dokumen penunjang sebagai
alat bukti, dokumen tersebut adalah faktur pajak sehingga metode ini
E. PPN adalah pajak atas konsumsi umum dalam negeri
PPN hanya dikenakan atas konsumsi barang kena pajak dan jasa kena pajak
yang dilakukan didalam negeri.
F. PPN bersifat netral
Netralitas PPN dibentuk oleh factor PPN dikenakan atas konsumsi barang
dan jasa, serta factor dalam pemungutannya PPN menganut prinsip tempat
tujuan, prinsip tempat tujuan PPN dipungut ditempat barang atau jasa
dikonsumsi.
G. Tidak menimbulkan dampak pengenaan pajak berganda
PPN dipungut atas nilai tambah saja. PPN yang dibayar kepada pemasok
pada mata rantai sebelumnya dapat diperhitungkan dengan PPN yang
dipungut dari mata rantai jalur distribusi berikutnya.
2.1.1.3 Kewajiban pengusaha kena pajak (pasal 3 A UU PPN)
A. Kewajiban melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP
Pengusaha yang memenuhi ketentuan sebagai PKP harus melaporkan
usahanya untuk dikukuhkan menjadi PKP sebelum melakukan penyerahan
BKP / JKP. Kantor pelayanan pajak (KPP) menerbitkan surat pengukuhan
PKP paling lama 3 (tiga) hari kerja berikutnya setelah pelaporan beserta
B. Memungut PPN dan PPnBM terutang
Kewajiban memungut PPN ini diimplementasikan dalam wujud PKP wajib
membuat faktur pajak atas setiap kegiatan penyerahan BKP/JKP didalam
daerah pabean.
C. Menyetor PPN dan PPnBM terutang
Setelah kewajiban seorang PKP yang lain adalah menyetorkan hasil
penghitungannya tentang PPN/PPnBM yang terutang dalam suatu saat atau
masa pajak. PKP menyetorkan pajak yang terutang dengan menggunakan
sarana SSP paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya setelah berakhirnya
masa pajak.
D. Melaporkan PPN dan PPnBM terutang
Kewajiban PKP ini diwujudkan dengan pemenuhan kewajiban penyampaian
SPT masa PPN paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya setelah
berakhirnya masa pajak. Kecuali bila pada tanggal tersebut merupakan hari
libur, maka penyampaian SPT dilakukan pada hari kerja sebelumnya
(KEP-543/PJ./2000).
Adapun Indikator Pajak Pertambahan nilai Menurut Siti Kurnia Rahayu indicator Pajak Pertambahan nilai yaitu:
1. Mekanisme pemungutan 2. Obyek PPN
3. Subyek Pajak
2.1.2 Kepatuhan Perpajakan
2.1.2.1 Pengertian Kepatuhan Perpajakan
Definisi kepatuhan perpajakan menurut Erard dan Feinsten dikutip oleh Chaizi nasucha dalam buku Siti kurnia rahayu yaitu:
“Rasa bersalah dan rasa malu, persepsi wajib pajak atas kewajaran dan
keadilan beban pajak yang mereka tanggung, dan pengaruh kepuasan terhadap pelayanan pemerintah.”
(2010:139)
Definisi kepatuhan perpajakan menurut Safri nurmanto dalam buku Siti kurnia rahayu yaitu:
“Sebagai sutau keadaan di mana Wajib Pajak memenuhi semua kewajiban
perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya.”
(2010:138)
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepatuhan wajib pajak
merupakan pemenuhan kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh pembayar
pajak dalam rangka memberikan kontribusi bagi pembangunan dewasa ini yang
2.1.2.2 Faktor-faktor yang menentukan kepatuhan
Menurut Safri Nurmantu factor-faktor yang menentukan tinggi rendahnya kepatuhan, yaitu:
1. “Kejelasan Makin jelas undang-undang dan peraturan pelaksanaan perpajakan,
makin mudah bagi wajib pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya. Makin
berbelit aturan pelaksanaan perpajakan, apalagi jika terdapat ketidakpastian, dan
tidak adanya kesinambungan peraturan, maka makin sulit bagi wajib pajak untuk
memenuhi kewajiban perpajakannya;
2. Biaya kepatuhan terdiri dari antara lain fee untuk konsultan/akuntan, biaya
pegawai, biaya transport ke kantor pajak/bank/kas negara, dan biaya foto copy
sebagai biaya fisik, dan biaya psikis berupa stres, keingintahuan, dan
kekhawatiran. Makin rendah biaya kepatuhan, makin mudah bagi wajib pajak
untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya. Permintaan lembar foto copy
lebih dari satu kali oleh seksi/petugas kantor pajak di bawah satu atap merupakan
contoh dari biaya kepatuhan yang tidak perlu;
3. Sistem panutan di kalangan masyarakat wajib pajak di Indonesia untuk menjadi
wajib pajak "terbesar" dapat merupakan faktor yang meningkatkan rasa kepatuhan
perpajakan, menjadi salah satu dari 100 pembayar pajak terbesar mendorong
konglomerat, baik pada tingkat pusat maupun pada tingkat daerah untuk
meningkatkan pembayaran pajaknya yang sekaligus mendekatkan dirinya pada
2.1.2.3 Kriteria Kepatuhan Wajib Pajak
Menurut Chaizi nasucha yang dikutip oleh Siti kurnia rahayu kepatuhan wajib pajak dapat diidentifikasi dari yaitu :
1. Kepatuhan wajib pajak dalam mendaftarkan diri;
2. Kepatuhan untuk menyetorkan kembali surat pemberitahuan;
3. Kepatuhan dalam penghitungan dan pembayaran pajak terutang; dan, 4. Kepatuhan dalam pembayaran dan tunggakan.
(2010:139)
Selain Menurut Chaizi Nasucha di atas ukuran kepatuhan wajib pajak menurut Erly Suandy yaitu :
1. Patuh terhadap kewajiban intern, yakni dalam pembayaran atau laporan masa, SPT masa, SPT PPN setiap Bulan.
2. Patuh terhadap ketentuan material, yakni norma-norma yang menerangkan keadaan, perbuatan, peristiwa hukum yang dikenakan pajak, siapa yang dikenakan pajak dasar pengenaan pajak, hapusnya piutang pajak.
3. Patuh terhadap ketentuan yuridis formal, yakni saat dan tempat terutangnya pajak, hak-hak fiskus untuk mengawasi wajib pajak mengenai keadaan, perbuatan, dan peristiwa yang menimbulkan utang pajak, menyelnggarakan pembukuan sebagaimana mestinya.”
(2001:103)
2.1.2.4 Manfaat predikat wajib pajak patuh
Definisi wajib pajak patuhmenurut siti kurnia rahayu, yaitu:
“Wajib pajak yang sadar pajak, paham hak dan kewajiban perpajakannya dan
diharapkan peduli pajak yaitu melaksanakan kewajiban perpajakan dengan benar dan paham akan hak perpajaknnya”.
Wajib pajak yang berpredikat patuh dalam pemenuhan kewajiban
perpajakannya tentunya akan mendapat kemudahan dan fasilitas yang lebih
dibandingkan dengan pembei pelayanan pada wajib pajak yang belum atau tidak
patuh. Fasilitas yang diberikan oleh dirjen pajak terhadap wajib pajak patuh adalah
sebagai berikut:
A. Pemberian batas waktu penerbitan surat keputusan pengembalian pendahuluan
kelebihan pajak (SKPPKP) paling lambat 3 (tiga) bulan sejak permohonan
kelebihan pembayaran pajak yang diajukan wajib pajak diterima untuk pajak
penghasilan (PPH) dan 1 (satu) bulan untuk pajak pertambahan nilai (PPN),
tanpa melalui penelitian dan pemeriksaan oleh dirjen pajak.
B. Adanya kebijakan percepatan penerbitan surat keputusan pengembalian
pendahuluan kelebihan pajak (SKPPKP) menjadi paling lambat 2 (dua) bulan
untuk PPH dan 7 (tujuh) hari untuk PPN.
Bagi wajib pajak belum patuh atau tidak patuh, fasilitas tersebut tidak
diberikan padanya, penerbitan SKPPKP harus menunggu penelitian dan pemeriksaan
yang memakan waktu, biaya, dan menjadi sumber terjadinya korupsi,kolusi, dan
Tentunya dengan penekanan penerimaan pajak sebagai kontribusi terbesar
penerimaan Negara diharapkan semua wajib pajak diindonesia berpredikat patuh, yang
akan berimplikasi pada optimalisasi penerimaan pajak, pengurangan biaya wajib pajak
(compliance cost) dan biaya bagi pemerintah (administrative cost) dalam kewajiban
administrasi perpajakan.
Adapun indicator menurut Timbul hamonangan simanjuntak yaitu: 1. Aspek ketepatan waktu
Sebagai indicator kepatuhan adalah presentase pelaporan SPT yang disampaikan tepat waktu sesuai ketentuan yang berlaku.
2. Aspek income atau penghasilan WP.
Sebagai indicator kepatuhan adalah kesediaan membayar kewajiban angsuran pajak penghasilan (PPh) sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Aspek law enforcement (pengenaan sanksi).
Sebagai indicator kepatuhan adalah pembayaran tunggakan pajak yang ditetapkan berdasrkan surat ketetapan pajak (SKP) sebelum jatuh tempo.
4. Dalam perkembangannya indicator kepatuhan ini dapat juga dilihat dari aspek lainnya, misalnya aspek pembayaran dan aspek kewajiban pembukuan.
(2012:103)
2.1.3 Penerimaan Pajak (Z)
2.1.3.1 Pengertian Penerimaan Pajak
Definisi penerimaan pajak menurut Suryadi, yaitu:
“Penerimaan pajak merupakan sumber pembiayaan negara yang dominan baik
untuk belanja rutin maupun pembangunan”.
2.1.3.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Pajak
Menurut Siti Kurnia Rahayu Faktor-Faktor Penerimaan Pajak, yaitu:
1. “Kepastian Peraturan Perundang-Undangan dalam Bidang Perpajakan
Undang-undang haruslah jelas, sederhana dan mudah dimengerti, baik oleh fiskus, maupun
oleh pembayar pajak. Timbulnya konflik mengenai interpretasi atau tafsiran
mengenai pemungutan pajak akan berakibat pada terhambatnya pembayaran pajak
itu sendiri. Di sisi lain, pembayar pajak akan merasa bahwa sistem pemungutan
sangat berbelit-belit dan cenderung merugikan dirinya sebagai pembayar pajak ;
2. Kebijakan pemerintah dalam mengimplementasikan undang – undang perpajakan
merupakan suatu cara atau alat pemerintah di bidang perpajakan yang memiliki
suatu sasaran tertentu atau untuk mencapai suatu tujuan tertentu di bidang sosial
dan ekonomi ;
3. Sistem administrasi perpajakan yang tepat hendaklah merupakan prioritas tertinggi
karena kemampuan pemerintah untuk menjalankan fungsinya secara efektif
bergantung kepada jumlah uang yang dapat diperolehnya melalui pemungutan
pajak ;
4. Kualitas pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah beserta aparat perpajakan
merupakan hal yang sangat penting dalam upaya optimalisasi penerimaan pajak ;
5. Kesadaran dan Pemahaman warga Negara Rasa nasionalisme tinggi, kepedulian
memadai, maka secara umum akan makin mudah bagi wajib pajak untuk patuh
kepada peraturan perpajakan ;
6. Kualitas petugas pajak sangat menentukan efektifitas undang – undang dan
peraturan perpajakan. Petugas pajak memiliki reputasi yang baik sepanjang yang
menyangkut kecakapan teknis, efisien, dan efektif dalam hal kecepatan, tepat dan keputusan yang adil”.
(2010:27)
Definisi penerimaan pajak menurut UU tentang anggaran pendapatan dan
belanja negara, yaitu:
“Penerimaan pajak adalah semua penerimaan yang terdiri dari pajak dalam
negeri dan pajak perdagangan internasional”.
(2001:155)
Menurut John Hutagaol Pengertian Penerimaan Pajak, yaitu:
“Penerimaan Pajak adalah pengelolaan penerimaan pajak dilakukan melalui
instrumen kebijakan dan administrasi perpajakan”.
(2007 :8)
Berdasarkan ketiga definisi di diatas dapat disimpulkan bahwa penerimaan
pajak adalah sumber pembiayaan negara dan sumber penerimaan yang terdiri dari
pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional yang dilakukan melalui
Adapun indicator Penerimaan Pajak, yaitu:
Jumlah Realisasi Penerimaan Pajak di tahun 2011 pada KPP Pratama di Kanwil
Jawa Barat 1.
[image:37.612.107.592.234.670.2]2.1.4 Hasil Penelitian Sebelumnya
Tabel 2.1
Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu
No Peneliti/ judul Hasil penelitian Perbedaan Persamaan 1 Pelaksanaan tax
compliance dalam upaya optimalisasi penerimaan pajak di
kota yogyakarta, dahliana hasan,2008
Tax compliance belum menginternalisasi dalam diri semua wajib pajak di kota Yogyakarta, yang tentunya berimbas pada tidak optimalnya penerimaan pajak di Kota Yogyakarta. Variabel ini membahas kepatuhan dan penerimaan pajak secara umum Menggunakan variabel independent
yang sama yakni kepatuhan perpajakn
dan penerimaan pajak
2 Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak Badan,
ERWIN HARINURDIN, Bisnis
& Birokrasi, Jurnal Ilmu Administrasi dan
Organisasi, Mei– Agustus 2009, hlm. 96-104 Volume 16, Nomor
2
ISSN 0854-3844
This research was carried out to research the behavior of
the company’s tax
compliance especially the big company that was registered
in the Large Tax Office in Jakarta. Variabel ini membahas kepatuhan wajib pajak secara umum Menggunakan variabel independent
yang sama yakni kepatuhan perpajakan
3 REMITTANCES, VALUE ADDED TAX, INDEVELOPING COUNTRIES, Christian Hubert Ebeke, 2010
This paper examines the impact of international remittances on both the level and the instability of government tax revenue in
receiving countries. It investigates in particular whether the presence of a value added tax
(VAT) system increases the benefit of the inflows of remittances in terms of high and less volatile tax revenue
Variabel ini membahas PPN
secara umum
Menggunakan variabel independent
ratio. 4 Relationship between
Income Size, Inspection and VAT Compliance: Evidence
from Private Firms in Kenya, An International
Multidisciplinary Journal, Ethiopia Vol. 6 (1), Serial No.
24, January, 2012
ISSN 1994-9057
The study revealed that VAT non compliance is high among the middle-income
business firms and that Inspection of business firms by tax authorities had a
slight positive relationship with VAT compliance Variabel ini membahas PPN dan kepatuhan secara umum Menggunakan variabel indeendent
yang sama yakni PPN dan kepatuhan
perpajakan
5 PengaruhKepatuhan Wajib Pajak dan pemeriksaan pajak terhadap penerimaan
PPH pasal 25/29 wajib pajak badan pada KPP Pratama Denpasar Timur, Maria M.Ratna Sari
dan ni nyoman afriyanti,2009
Berdasarkan Hasil Analisis diketahui bahwa kepatuhan wajib pajak dan pemeriksaan
pajak secara simultan berpengruh signifikan terhadap penerimaan pajak pada kantor pelayanan pajak
pratana Denpasar Timur periode 2004-2008. Variabel ini membahas kepatuhan perpajakan secara umum Menggunakan variabel independent yakni kepatuhan perpajakan
6 Comparing Direct and Indirect Taxation: The Influence of Framing
on Tax Compliance Christoph Watrin, Robert Ullmann, The European Journal of
Comparative Economics Vol. 5, n. 1, pp. 33-56
ISSN 1722-4667
Standard theory of the optimal mix of direct and indirect taxation implicitly assumes that compliance is not influenced by the framing of the taxes. According to our findings, this is not the case.
Using an
experimental approach, we examine whether framing the
tax payment decision as income tax or consumption tax influences
compliance. Variabel ini membahas kepatuhan perpajakan secara umum Menggunakan variabel independent yakni kepatuhan perpajakan
7 Analisis hubungan tingkat kepatuhan wajib
pajak orang pribadi dengan penerimaan pajak, desi handayani,
2000
Tingkat kepatuhan wajib pajak adalah salah satu hal yang berpengaruh dalam hal
8 Vat compliance in the united kingdom
Paul Webley, 2002 ISSN 1444-8211
This study aimed to uncover the factors that influence
Value Added Tax (VAT) compliance.
Variabel ini membahas ppn
dan kepatuhan perpajakan
Menggunakan variabel independent
yang sama yakni PPN dan kepatuhan
perpajakan
2.2 Kerangka Pemikiran
Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara yang merupakan komponen
pendapatan negara didalam APBN, dengan adanya pendapatan tersebut maka
pemerintah dapat membiayai pembangunan nasional. Tetapi sampai sekarang masih
kurang kesadaran masyarakat Indonesia dalam membayar pajak, pasalnya baru
sekitar 7,73 persen masyarakat yang memiliki kesadaran membayar pajak. Oleh
sebab itu kepatuhan perpajakan belum manginternalisasi dalam diri semua wajib
pajak, yang tentunya berimbas pada tidak optimalnya penerimaan pajak
Selain itu , rendahnya realisasi penerimaan Pajak, khususnya penerimaan pajak
dalam hal pemungutan pajak pertambahan nilai, karena tingkat kepatuhan perusahaan
dalam membayar pajak masih kurang, serta belum lengkapnya data perusahaan,
masih banyak sector ekonomi yang belum bayar pajak, sebenarnya sudah mulai tapi
belum optimal, tingkat kepatuhan masyarakat khususnya pelaku ekonomi masih
rendah dalam menyetorkan pajak pertambahan nilai (Fuad rahmany, 2011). 2.2.1 Pengaruh Pajak Pertambahan Nilai terhadap Kepatuhan Perpajakan
“Pajak Pertambahan nilai berpengaruh terhadap kepatuhan perpajakan dalam
PPN administrasi kepatuhan setor dan kepatuhan lapor.”
(2012:198)
“Perbedaan perolehan jenis pajak PPN yang jauh lebih besar dibandingkan dengan perolehan jenis pajak lain , pada satu sisi dapat menunjukkan tingkat kepatuhan akan mempengaruhi jenis pajak PPN lebih tinggi ataukah janis pajak lain yang lebih tinggi. Hal ini dapat terjadi karena para wajib pajak tidak merasa terbebankan secara langsung ketika akan membayar PPN karena pengenaan PPn tidak secara langsung memotong penghasilan seseorang.”
(2012:197)
Menurut Naibei, Isaac Kiprotich,yaitu:
“The study revealed that VAT non compliance is high among the middle-income business firms by tax authorities had a slight positive relationship with VAT compliance,
“Penelitian ini menunjukkan PPN ketidakpatuhan tinggi dikalangan yang berpenghasilan menengah khususnya bagi perusahaan bisnis yang memiliki hubungan positif dengan kepatuhan PPN.
(2012)
Menurut Paul Webley,yaitu :
“This study aimed to uncover the factors that influence value added tax (VAT)
compliance,
“Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap factor-faktor yang mempengaruhi pajak pertambahan nilai terhadap kepatuhan.”
1. Sanksi dan Hukuman (Pencegahan) 2. Ekuitas
3. Kepribadian
4. Kepuasan dengan otoritas pajak 5. Akuntansi mental.
2.2.2 Pengaruh Kepatuhan Perpajakan terhadap Penerimaan Pajak
Menurut John Hutagaol, Wing Wahyu Winarno, dan Arya Pradipta Pengaruh Kepatuhan Perpajakan Terhadap Penerimaan Pajak, yaitu:
“Kepatuhan wajib pajak berpengaruh atas penerimaan dari sektor pajak.”
(2007)
Menurut Indra Ismawan hubungan Kepatuhan Perpajakan terhadap Penerimaan Pajak, yaitu:
“Permasalahan tax compliance ini menjadi penting artinya karena apabila tidak ada kepatuhan atau compliance maka akan menimbulkan tindakan penghindaran, penyelundupan dan pelalaian pajak yanga pada akhirnya akan berimbas pada penurunan penerimaan pajak negara”.
(2001:11)
Menurut Dahliana Hasan, yaitu:
“Tax compliance belum menginternalisasi dalam diri semua wajib pajak di
yogyakarta, yang tentunya berimbas pada tidak optimalnya penerimaan pajak di Kota Yogyakarta.”
(2008)
Menurut Desi Handayani, yaitu:
“Tingkat kepatuhan wajib pajak merupakan salah satu hal yang berpengaruh dalam penerimaan kantor pelayanan pajak, khususnya pada kantor pelayanan pajak pekanbaru senapelan. Besarnya jumlah penerimaan pajak ada hubungannya dengan tingkat kepatuhan wajib pajak, yaitu patuh atau tidaknya wajib pajak dalam membayar pajak.”
2.2.3 Pengaruh Pajak Pertambahan Nilai terhadap Kepatuhan Perpajakan dan Implikasinya pada Penerimaan Pajak .
Menurut Imam Mukhlis, yaitu:
Pajak Pertambahan Nilai diukur dari kepatuhan administrasi itu sendri,
kepatuhan dalam setor dan kepatuhan lapor berpengaruh signifikan terhadap
penerimaan pajak.
(2012:198)
Adapun perbedaan dan persamaan penelitian penulis dengan penelitian
sebelumnya yang dijadikan acuan oleh penulis adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1
Paradigma Penelitian Pajak Pertambahan
Nilai (value added tax)
(X)
Kepatuhan Perpajakan
(Tax compliance)
(Y)
Penerimaan Pajak (tax revenue)
2.5 HIPOTESIS
Pengertian Hipotesis menurut Sugiyono, yaitu:
“Jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, oleh karena itu
rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan”.
(2011:93)
Berdasarkan pernyataan diatas disimpulkan bahwa hipotesis penelitian dapat
diartikan sebagai jawaban sementara yang harus diuji dan dibuktikan kebenarannya,
maka untuk memperoleh jawaban yang benar dari hipotesis penulis yang telah disebut
pada kerangka penelitian, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut :
H1= Pengaruh Pajak pertambahan nilai terhadap kepatuhan perpajakan pada KPP
Pratama di Kanwil Jawa Barat 1 .
H2= Pengaruh Kepatuhan Perpajakan berpengaruh terhadap penerimaan pajak pada
KPP Pratama di Kanwil Jawa Barat 1.
H3= Pengaruh Pajak Pertambahan Nilai terhadap Kepatuhan Perpajakan dan
implikasinya pada penerimaan pajak pada KPP Pratama di Kanwil Jawa Barat
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan
Kantor Pelayanan Pajak Wilayah Jawa Barat 1 merupakan unsure
pelaksana Direktorat Jenderal Pajak yang bertugas untuk melaksanakan kegiatan
operasional pelayanan perpajakan di bidang Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Pajak Tidak
Langsung Lainnya. Umumnya dalam daerah wewenangnya berdasarkan kebijakan
tekhnis yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
4.1.1 Sejarah Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat 1
Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat 1 merupakan unsur
pelaksana Direktorat Jenderal Pajak yang bertugas untuk melaksanakan kegiatan
operasional pelayanan perpajakan di bidang Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Pajak Tidak
Langsung lainnya. Umumnya dalam daerah wewenangnya berdasarkan kebijakan
teknis yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Sejarah pajak mula-mula berasal dari negara Perancis pada zaman
pemerintahan Napoleon Bonaparte, yang pada zamannya beliau terkenal dengan
nama “Cope Napoleon”. Pada masa itu negara Belanda dijajah oleh negara
Perancis. Sistem pajak yang diterapkan Perancis kepada Belanda diterapkan pula
oleh Belanda kepada Indonesia pada saat Belanda menjajah Indonesia, yang pada
Konsep pajak itu kemudian dibuat pada tahun 1942 di Australia disaat Indonesia
masih diduduki tentara Jepang. Maksud dari peralihan mengenai pajak ini
merupakan suatu peraturan yang dibuat untuk mempersiapkan bilamana
dikemudian hari penjajah Jepang ditarik kembali dari Indonesia.
Pemungutan pajak ini oleh pemerintah Belanda dilaksanakan oleh suatu
badan yaitu “Deinspetie van Vinancian”, yang kemudian diganti dengan nama “Zeinenbu” oleh pemerintah Jepang pada tanggal 15 maret 1942. Lima bulan
kemudian, 15 Agustus 1942, nama tersebut diubah menjadi “Kantor Inspeksi
Keuangan” dan berkantor di Gedung Concordia (sekarang Gedung Merdeka)
Jalan Asia Afrika. Pada tanggal 21 Agustus 1947 bersamaan dengan Agresi
Militer Belanda I, Kantor Inspeksi Keuangan Bandung dipindahkan ke Bandung
Selatan di Kabupaten Soreang, bersama-sama dengan Tentara Keamanan Rakyat
berevakuasi.
Setelah Agresi Militer Belanda II menyerang lagi pada tanggal 19
Desember 1948, Kantor Inspeksi Keuangan Bandung dipindahkan ke
Tasikmalaya. Bersamaan dengan kejadian tersebut, kekuasaan Republik
Indonesia terpecah menjadi dua yaitu:
a. Kelompok Coorporative, yaitu kelompok anti republik yang tidak ikut
evakuasi dan yang bekerja sama dengan NICA.
b. Kelompok Non-Coorporative, yaitu kelompok anti NICA bersama-sama
Republik Indonesia bergerilya didaerah kantong-kantong yang tidak
dikuasai oleh Belanda.
Bandung yang berada di Tasikmalaya dibubarkan dan kedudukannya
dikembalikan ke Bandung pada tanggal 17 Desember 1947. Kantor Inspeksi
Keuangan Bandung pada saat itu diserahterimakan oleh menteri yang pertama,
Bapak Safrudin Prawiranegara, dan kemudian menteri negara ini menunjuk Bapak
Sahid Koesoemosarminto sebagai kepala Kantor Inspeksi Keuangan Bandung
yang pertama, periode 1947-1950, berkantor di km “0” (Groofpostweg), saat ini di
Jalan Asia Afrika Nomor 114 Bandung.
Sejak tahun 1968, Kantor Inspeksi Keuangan berganti nama menjadi
Kantor Inspeksi Pajak Bandung. Pada tanggal 1 Agustus 1980, Kantor Inspeksi
Pajak Bandung dibagi menjadi dua yakni Kantor Inspeksi Pajak Bandung Barat
dan Kantor Inspeksi Pajak Bandung Timur. Berdasarkan Keputusan Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor Kep-48/KMK.01/1988 tanggal 19 Januari
1988 dibentuklah kantor baru yang diberi nama Kantor Inspeksi Bandung Tengah
beralamat di Jalan Purnawarman No.21 Bandung dengan Drs. Untung Rivai
sebagai kepala kantornya. Sejak berlakunya keputusan menteri keuangan tersebut
maka di Bandung dibagi atas tiga kantor inpeksi pajak, yakni :
1. Kantor Inspeksi Pajak Bandung Timur
2. Kantor Inspeksi Pajak Bandung Tengah
3. Kantor Inspeksi Pajak Bandung Barat
Kemudian berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
tanggal 23 Maret 1988 Nomor Kep-276/KMK/.01/1988, strukutr organisasi dan
tata kerja Direktorat Jendral Pajak di rombak dan berubah nama menjadi Kantor
dipandang perlu adanya pembagian wilayah kerja agar dapat dimaksimalisasi
penerimaan dari sektor pajak. Perkembangan terakhir pada bulan April 2002,
kantor pelayanan pajak di wilayah Bandung telah menjadi 10 KPP yakni :
1. KPP Bojonegara, Jalan Asia Afrika No.114
2. KPP Bandung Karees, Jalan Kiaracondong No.372 3. KPP Bandung Tegallega, Jalan Soekarno Hatta No.2116 4. KPP Bandung Cimahi, Jalan Raya Barat No.574
5. KPP Bandung Cibeunying, Jalan Purnawarman No.21 6. KPP Bandung Cicadas, Jalah Soekarno Hatta No. 78 7. KPP Bandung Majalaya, Jalan Peta No. 7 Lingkar Selatan 8. KPP Madya, Jalan Asia Afrika No. 114
9. KPP Sumedang, Jalan Kiaracondong No. 372
10. KPP Soreang, Jalan Cimareme No. 205 Ngamprah Kab Bandung Barat
Adapun Visi dan Misi dari Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat 1 yaitu:
1. Visi
Menjadi model pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem dan
manajemen perpajakan kelas dunia, yang dipercaya dan dibanggakan masyarakat.
2. Misi
A. Politik, Mendukung Demokrasi Bangsa
B. Kelembagaan, Senantiasa memperbaharui diri, selaras dengan aspirasi
masyarakat dan teknokrasi perpajakan serta administrasi perpajakan
mutakhir.
C. Fiskal, Menghimpun penerimaan dalam negeri dari sektor pajak yang
menunjang kemandirian pembiayaan pemerintah berdasarkan
D. Ekonomi, Mendukung kebijaksanaan pemerintah dalam mengatasi
permasalahan ekonomi bangsa dengan kebijaksanaan yang minimizing
distortion.
4.1.2 Struktur Organisasi KPP di Kanwil Jawa Barat 1
Struktur organisasi KPP di Kanwil Jawa Barat 1 berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Keuangan No.64/KMK.01/1994 Tanggal 20 Maret 2009
adalah sebagai berikut:
1. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung. 2. Sub. Bagian Umum.
3. Seksi Pelayanan.
4. Seksi Pengolahan Data dan Informasi. 5. Seksi Eksentifikasi Perpajakan
6. Seksi Penagihan. 7. Seksi Pemeriksaan.
8. Seksi Pengawasan dan konsultasi.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran tentang Struktur
Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung.
4.1.3 Uraian Tugas Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat 1
Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat 1 Dipimpin oleh seorang
Kepala Kantor yang bertugas melaksanakan kegiatan operasional pelayanan
perpajakan dalam daerah wewenagnnya yang meliputi luas daerah tempat
kedudukan Wajib Pajak dan Pajak pada daerah tertentu berdasarkan kebijaksanaan
teknis yang diterapkan oleh Direktorat Jendral Pajak.
Deskripsi jabatan dari stuktur organisasi KPP Pratama Wilayah Kota
1. Kepala Kantor Pelayanan Pajak.
a. Mengawasi jalannya kegiatan operasional pelayanan perpajakan yaitu Pajak
Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Tidak
Langsung Lainnya (PTLL) berdasarkan kebijakan teknis yang dilakukan
Direktorat Jenderal Pajak.
b. Membina karyawan yang ada di wilayah wewenang kekuasaannya.
c. Menerima laporan kerja dari setiap seksi.
d. Membuat kegiatan operasional KPP wilayah Jawa Barat.
2. Sub Bagian Umum, mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Melakukan urusan kepegawaian,
b. Melakukan urusan Keuangan,
c. Melakukan urusan tata usaha,
d. Melakukan urusan rumah tangga.
3. Seksi Pelayanan, mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Melakukan urusan penatausahaan pendaftaran,
b. Melakukan urusan pemindahan dan pencabutan identitas wajib pajak,
c. Melakukan urusan penerimaan dan penelitian surat pemberitahuan (SPT) dan
surat pajak lainnya,
d. Melakukan urusan kearsipan berkas wajib pajak serta penerbitan suratsurat
ketetapan pajak.
4. Seksi Pengolahan Data dan Informasi, mempunyai tugas sebagai berikut:
b. Mempunyai tugas melakukan pengolahan data,
c. Mempunyai tugas menganalisis dan penyajian informasi perpajakan.
5. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan, mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Melakukan urusan penetapan,
b. Melakukan urusan instensifikasi dan ekstensifikasi perpajakan,
c. Melakukan urusan penetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
6. Seksi Penagihan, mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Melakukan urusan tata usaha piutang pajak,
b. Melakukan urusan penagihan dan pembuatan usul penghapusan piutang
Perpajakan,
c. Melakukan urusan penetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
7. Seksi Pemeriksaan, mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Mempunyai tugas menatausahakan dan mengusulkan pemeriksaan rutin,
b. Mempunyai tugas menatausahakan dan mengusulkan penerbitan SP3,
c. Melakukan pemeriksaan lapangan oleh Fungsional Pemeriksa, serta
d. Merekam Nota Hitung.
8. Seksi Pengawasan dan Konsultasi, mempunyai tugas sebagai berikut :
a.Melakukan pengawasan terhadap Wajib Pajak atas kewajiban perpajakannya,
b. Melaksanakan penelitian dan analisa kepatuhan Wajib Pajak,
c. Penyusunan nota perhitungan, dan sebagai
4.1.4 Kegiatan Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat 1
Tujuan dari Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I, memberikan
pelayanan publik dengan baik kepada Wajib Pajak, dengan memenuhi semua
kebutuhan Wajib Pajak untuk dalam melakukan pemenuhan kewajiban
perpajakannya. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan Prosedur dan tata kerja
organisasi pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I aktivitas-aktivitas
yang dijalankan antara lain:
1. Pelayanan terhadap Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan
melalui prosedur yang mudah dan sistematis.
2. Melakukan kegiatan Operasional perpajakan di bidang pengolahan data
informasi, tata usaha perpajakan, pelayananan, penagihan, pengawasan dan