Modul PKBN SERI 4 WAJIB
SISTEM PERTAHANAN SEMESTA
DALAM GERAKAN NASIONAL BELA NEGARA
ISBN: 978-979-8878-12-1
Pengarah:
Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI
Penyunting:
Dr. Laksmi Nurharini, S.E., M.Si.
Penyusun:
Tim Pokja Modul Pembinaan Kesadaran Bela Negara
Desain Sampul:
Irene Angela, S.T. @ireneeangela Redaksi:
Direktorat Bela Negara Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI
Gedung Jenderal R. Soeprapto Lantai 6 Jalan Tanah Abang Timur Nomor 8 Jakarta Pusat 10110
Diterbitkan oleh:
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 13-14 Jakarta Pusat Telp : 021-3828893
Fax : 021-3505210
Email : [email protected]
Cetak Pertama – 2019
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
Hak Cipta dilindungi oleh Undang – Undang.
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
i
KEMENTERIAN PERTAHANAN RI
DIREKTORAT JENDERAL POTENSI PERTAHANAN
KATA PENGANTAR
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh, Salam Sejahtera Bagi Kita Semua,
Om Swastyastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.
Bapak, Ibu, Saudara-Saudara sebangsa dan setanah air.
Pengaturan Bela Negara dalam peraturan-perundang-undangan ini menjadi sangat penting terlebih mencermati perkembangan lingkungan strategis saat ini, baik di tingkat global, regional dan nasional yang menunjukkan multidimensionalitas ancaman terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa. Ancaman yang terjadi saat ini lebih didominasi ancaman nonmiliter, yang berdimensi ideologi, ekonomi, politik, sosial budaya, berdimensi teknologi, keselamatan umum, bahkan dapat berdimensi legislasi, namun mengingat sifatnya yang sulit diprediksi, bukan tidak mungkin pada suatu saat, ancaman militerpun kemungkinan bisa terjadi. Oleh karena itulah, kesadaran Bela Negara setiap warga negara tersebut menjadi sangat penting sebagai wujud daya tangkal dan kesiapsiagaan warga negara, baik dalam menghadapi kompleksitas ancaman nonmiliter maupun bila suatu saat negara membutuhkan untuk menghadapi ancaman militer. Itulah sebabnya kesadaran Bela Negara juga sebagai landasan membangun sistem pertahanan negara baik dalam menghadapi ancaman nonmiliter maupun ancaman militer.
Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN) adalah upaya menanamkan pengetahuan dan membentuk sikap mental dan perilaku serta tindakan warga negara yang memiliki kesadaran dan kemampuan Bela Negara. PKBN perlu dilaksanakan secara masif, terukur, terkoordinasi dan terstandarisasi di lingkup pendidikan, lingkup pekerjaan dan lingkup masyarakat, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara. Untuk itu Kementerian Pertahanan membuat Modul Pembinaan Kesadaran Bela Negara, yang terdiri dari 1 Modul Ringkasan Eksekutif, 4 Modul Wajib dan 8 Modul Pilihan. Modul ini menjadi acuan bagi Kementerian/Lembaga termasuk di Kementerian Pertahanan sendiri, TNI, Polri, Pemerintah Daerah, dan komponen bangsa lainnya dalam menyelenggarakan Pembinaan Kesadaran Bela Negara di lingkungannya masing-masing.
Saya berharap pemberian materi dalam modul tersebut akan menjadi bekal wawasan dan pengetahuan yang dapat menumbuhkan kesadaran dan menguatkan tekad, Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah
penantian atas lahirnya aturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Kini, Bela Negara telah menjadi norma hukum yang diatur secara khusus dalam Bab III Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang
Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara. Direktur Jenderal Potensi Pertahanan
iii
PENGANTAR MODUL
PEMBINAAN KESADARAN BELA NEGARA (PKBN)
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan
Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara, Bab I Pasal 1 menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Pertahanan Negara” adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman serta gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Sedangkan yang dimaksud dengan “Sumber Daya Nasional” adalah sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya buatan.
Dalam rangka mengimplementasikan amanat undang-undang tersebut, khususnya dalam pengelolaan sumber daya manusia Indonesia, yang dimaknai sebagai seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang memberikan daya dan usahanya untuk kepentingan bangsa dan negara. Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan, Kementerian Pertahanan, memadang perlu untuk melakukan program pembinaan kesadaran bela negara (PKBN). Pogram PKBN merupakan segala usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memberikan pengetahuan, pendidikan, dan/atau pelatihan kepada warga negara guna menumbuh-kembangkan sikap dan perilaku, serta menanamkan nilai dasar Bela Negara. Pada dasarnya pelaksanaan program PKBN ditujukan terutama untuk:
1. Menyadarkan seluruh warga negara Indonesia (WNI) akan pentingnya segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman serta gangguan terhadap bangsa dan negara, secara terus-menerus pantang menyerah, agar kesinam-bungan hidup bangsa dan negara dapat dipertahankan dari masa ke masa. 2. Membentuk sikap dan perilaku bela negara seluruh WNI yang mencerminkan
tekad, sikap dan perilaku WNI, baik secara perseorangan maupun kolektif dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dan negara, yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI, yang
iv
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia dan Negara dari berbagai ancaman.
3. Menggerakan seluruh WNI di setiap lingkup (pendidikan, masyarakat, dan pekerjaan) untuk melakukan upaya tindakan nyata bela NKRI, dalam gerakan nasional bela negara, siap menghadapi tantangan dan ancaman perubahan jaman dari era ke era berikutnya.
Salah satu sarana untuk mendukung keberhasilan tujuan program PKBN, Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan menyusun modul pembinaan kesadaran bela negara yang disingkat “Modul PKBN”, yang terdiri dari 12 judul pokok bahasan yaitu :
1. Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia 2. Empat Konsensus Dasar Negara 3. Tataran Dasar Bela Negara 4. Wawasan Kebangsaan 5. Wawasan Nusantara 6. Kearifan Lokal 7. Ketahanan Nasional 8. Kepemimpinan
9. Sistem Pertahanan Semesta
10. Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme 11. Pencegahan Korupsi
12. Pengetahuan Cyber
Keduabelas judul pokok bahasan tersebut disusun dalam rancangan pembela-jaran atau kurikulum, yang mendasarkan pada upaya pencapaian tujuan program PKBN tersebut diatas. Secara garis besar di-ilustrasikan pada gambar 1 - Payung, berikut ini :
v
Ilustrasi gambar “Payung”, merupakan dasar berpikir pengembangan penyusunan Modul PKBN, yang terdiri dari 3 (tiga) komponen utama, yaitu:
1. Kanopi (canopy), pelindung terhadap sinar matahari, hujan, angin, dan cuaca 2. Tiang (shank), memperkuat kanopi atau pelindung
3. Pegangan (handle), penahan tiang dan kanopi, merupakan kekuatan atau fondasi perlindungan terhadap berbagai perubahan cuaca
Kaitan pengembangan kurikulum program PKBN dengan ilustrasi payung tersebut dimuka, dalam penyusunan Paket Modul PKBN yang dirancang untuk mencapai tujuan program PKBN, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pokok bahasan yang befungsi sebagai “kanopi” dalam “melindungi” bangsa dan negara terhadap dinamika tantangan dan ancaman perubahan jaman, disusun 2 (dua) modul yang dirancang sebagai berikut:
a. Modul Wajib 1, Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia, dimana penekanan konten pada ranah “menyadarkan” warga negara agar terdo-rong untuk melakukan upaya bela negara, karena sejarah merupakan : 1) Sumber pelajaran sikap dan perilaku yang telah berhasil dilakukan oleh
para pendahulu bangsa, dalam upayanya mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara.
2) Sumber kesadaran waktu, yang menyadarkan seluruh WNI bahwa peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam sejarah merupakan sesuatu yang terus bergerak dari masa silam, bermuara ke masa kini, dan berlanjut ke masa depan. Hal ini menyadarkan warga negara bahwa sikap dan perilaku pada masa kini akan berimplikasi kepada kehidupan bangsa di masa depan, dan mendorong mereka untuk mengukir sejarahnya dengan sebaik-baiknya.
3) Sumber inspirasi, artinya sikap dan perilaku para pendahulu bangsa dalam kiprahnya mengangkat harkat dan martabat bangsa, serta memperjuangkan kelangsungan hidup bangsa dan negara, merupakan keteladanan yang meng-inspirasi warga negara generasi berikutnya. 4) Sumber yang menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme,
yang terbangun karena kesadaran adanya kesamaan sejarah di masa lampau, dan adanya keinginan untuk membuat sejarah besar di masa yang akan datang.
5) Sumber kesadaran jatidiri bangsa, merupakan identitas bangsa yang harus dibentuk secara berkesinambungan oleh WNI dari masa ke masa, agar dihormati dan dihargai negara lain di kancah internasional.
vi
b. Modul Wajib 2, 4 (empat) Konsensus Dasar Negara, dimana penekanan konten pada ranah “menyadarkan” bahwa keempat konsensus tersebut yaitu: Pancasila; UUD NRI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, merupakan dasar atau landasan warga negara dalam bersikap, berpikir, berkata dan bertindak, untuk mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara.
2. Pokok bahasan yang befungsi sebagai “tiang” dalam melindungi bangsa dan negara terhadap dinamika tantangan dan ancaman perubahan jaman, disusun 6 (enam) modul yaitu:
a. Modul Wajib 3, Tataran Dasar Bela Negara, berisi tentang konsep-konsep nilai-nilai dasar bela negara, dimana penekanan konten pada ranah “menyadarkan” dan “membangun sikap” warga negara agar terdorong untuk mengimplementasikan nilai-nilai dasar bela negara.
b. Modul Pilihan 3.1, Wawasan Kebangsaan, berisi tentang konsep-konsep kebangsaan, merupakan strategi membangun nilai-nilai dasar bela negara. Pemahaman wawasan kebangsaan diperlukan untuk “menyadarkan” dan “membangun sikap” membela bangsa Indonesia.
c. Modul Pilihan 3.2, Wawasan Nusantara, berisi tentang konsep-konsep nusantara atau kewilayahan, merupakan strategi membangun nilai-nilai dasar bela negara. Pemahaman kewilayahan diperlukan untuk “menyadarkan” dan “membangun sikap” membela negara kepulauan Indonesia.
d. Modul Pilihan 3.3, Kearifan Lokal, berisi tentang konsep-konsep kearifan lokal atau jatidiri bangsa, merupakan strategi membangun nilai-nilai dasar bela negara. Pemahaman kearifan lokal diperlukan untuk “menyadarkan” dan “membangun sikap” warga negara dalam merevitalisasi kearifan lokal sebagai upaya mempertahankan kesinambungan hidup bangsa dan negara.
e. Modul Pilihan 3.4, Ketahanan Nasional, berisi tentang konsep-konsep ketahanan nasional, merupakan strategi membangun nilai-nilai dasar bela negara. Pemahaman ketahanan nasional “menyadarkan” dan “membangun sikap” untuk meningkatkan astagatra ketahanan dalam upaya bela negara.
f. Modul Pilihan 3.5, Kepemimpinan, berisi tentang konsep-konsep
vii
kepemimpinan diperlukan untuk “menyadarkan” dan “membangun sikap” dalam memimpin program aksi bela negara menghadapi tantangan dan ancaman perubahan jaman, demi keberlangsungan hidup bangsa dan negara
3. Pokok bahasan yang berfungsi sebagai “pegangan/fondasi” dalam melindungi bangsa dan negara terhadap dinamika tantangan dan ancaman perubahan jaman, disusun 4 (empat) modul yang dirancang sebagai berikut:
a. Modul Wajib 4, Sistem Pertahanan Semesta, berisi tentang konsep-konsep dan operasionalisasi pertahanan negara, dalam suatu sistem yang bersifat kesemestaan yang melibatkan seluruh sumber daya nasional, baik warga negara, sumber daya alam, sumber daya buatan maupun sarana-prasarana, dalam menghadapi ancaman militer, non militer dan hibrida di semua bidang. Pemahaman sistem pertahanan semesta diperlukan untuk “membangun” dan “membentuk sikap dan perilaku nyata” membela negara b. Modul Pilihan 4.1, Pencegahan Penanggulangan Terorisme, berisi tentang
konsep-konsep dan operasionalisasi metode pencegahan dan penanggulangan terorisme yang berpotensi membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara. Pemahaman materi ini diperlukan untuk “membangun” dan “membentuk sikap dan perilaku nyata” membela negara menghadapi ancaman terorisme. c. Modul Pilihan 4.2, Pencegahan Korupsi, berisi tentang konsep-konsep dan
operasionalisasi metode pencegahan dan penanggulangan korupsi yang berpotensi merusak moral kehidupan bangsa dan negara. Pemahaman materi ini diperlukan untuk “membangun” dan “membentuk sikap dan perilaku nyata” dalam membela negara dalam upaya pemberantasan korupsi.
d. Modul Pilihan 4.3, Pengetahuan Cyber, berisi tentang konsep-konsep dan operasionalisasi ancaman di ranah kejahatan cyber (antara lain: pembobolan situs, pencurian data, penyebaran virus/program jahat) yang berpotensi membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara. Pemahaman pengetahuan cyber diperlukan untuk “membangun” dan “membentuk sikap dan perilaku nyata” membela negara terhadap ancaman kejahatan cyber.
Rancang bangun hubungan antar modul rangkaian Modul PKBN, seperti terlihat pada gambar 2 - “desain instruksional” berikut ini:
viii
DESAIN INSTRUKSIONAL
MODUL PKBN
SERI
3.1
PILIHAN SERI3
WAJIBMODUL :
WAWASAN KEBANGSAAN
MODUL
:
WAWASAN NUSANTARA
SERI3.3
PILIHANMODUL
:
KEARIFAN LOKAL
SERI3.2
PILIHANMODUL :
TATARAN DASAR
BELA NEGARA
SERI3.4
PILIHANMODUL
:
KETAHANAN NASIONAL
MODUL : SEJARAH PERJUANGAN BANGSA INDONESIA
SERI
1
WAJIBMODUL : 4 (EMPAT) KONSENSUS DASAR NEGARA
(PANCASILA; UUD NRI 1945 ; NKRI; BHINEKA TUNGGAL IKA)
SERI2
WAJIB SERI4
WAJIBMODUL
:
SISTEM
PERTAHANAN
SEMESTA
SERI4.3
PILIHANMODUL
:
PENGETAHUAN CYBER
MODUL
:
PENCEGAHAN KORUPSI
MODUL
:
PENCEGAHAN & PENANGGULANGAN
TERORISME
SERI4.2
PILIHAN SERI4.1
PILIHAN SERI3.5
PILIHANMODUL
:
KEPEMIMPINAN
ix
Setiap Topik Modul PKBN disusun berdasarkan alur pikir yang diawali dengan pengertian atau pemahaman dari judul topik bahasan, kemudian di elaborasi pada konsep-konsep dari topik bahasan, selanjutnya pembahasan digiring mengerucut pada paparan implementasi kearah gerakan nasional bela negara. Alur pikir pembahasan topik Modul PKBN, dapat dilihat pada gambar 3 – desain instruksional setiap topik modul.
Modul PKBN dirancang sebagai bekal atau pedoman mengajar bagi para Instruktur/ Pengajar/Pembina/Widyaiswara, yang ditugaskan untuk menyadarkan, menginternalisasi-kan nilai-nilai dasar bela negara, membentuk serta memberdayakan sikap dan perilaku nyata warga negara untuk secara terus-menerus membela bangsa dan NKRI, yang terwujud di dalam tindakan warga negara sehari-hari, baik di lingkup pendidikan, lingkup masyarakat maupun lingkup pekerjaan.
Rancangan setiap Modul PKBN, merupakan “Paket Pembelajaran” yang disusun ke dalam 7 (tujuh) kategori sebagai berikut :
A. MATERI / BAHAN AJAR B. KELOMPOK PESERTA PKBN
C. STANDAR KOMPETENSI PER KELOMPOK PESERTA
D. METODE/STRATEGI PEMBELAJARAN PER KELOMPOK PESERTA E. SARANA/MEDIA PEMBELAJARAN PER KELOMPOK PESERTA F. METODE EVALUASI HASIL BELAJAR PER KELOMPOK PESERTA G. PENGUATAN (REINFORCEMENT) PEMBELAJARAN
Penyusun sangat menyadari bahwa modul ini jauh dari sempurna. Dengan segala kekurangan yang ada pada modul ini, kami mohon kesediaan pembaca untuk dapat memberikan masukan yang konstruktif guna penyempurnaan selanjutnya, semoga modul ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Jakarta, Desember 2019
Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
x
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………
PENGANTAR MODUL PKBN ……… i
DAFTAR ISI ………. viii
DAFTAR GAMBAR ………...……… DAFTAR TABEL ……… A. MATERI / BAHAN AJAR ………. Bagian I : PEMAHAMAN SISTEM PERTAHANAN SEMESTA (SISHANTA) …………
1. Pengertian ..……… 1.1. Pertahanan Negara Indonesia ……….. 1.2. Sistem Pertahanan Semesta ………. 2. Sejarah Pertahanan Semesta (Sishanta)……….
2.1. Sishanta Pada Masa Penjajahan ………. 2.2. Sishanta dalam Perjuangan Kemerdekaan RI ………. 2.3. Sishanta dalam Menghadapi Ancaman Dalam Negeri ……… 2.4. Kesimpulan Pertahanan Dalam Perspektif Sejarah ………… Bagian II : ANCAMAN TERHADAP PERTAHANAN SEMESTA NKRI ……….
1. Lingkungan Strategis ……… 2. Ragam Ancaman Pertahanan Negara ……..……… 7 Bagian III : PEMBANGUNAN PERTAHANAN SEMESTA NKRI ………
1. Latar Belakang ………..…. 2. Penguatan Pertahanan Militer ……….………... 3. Penguatan Pertahanan Nirmiliter …….……….. 4. Penguatan Sumber Daya Nasional ……….
4.1. Bela Negara ……….... 4.2. Penataan Komponen Pendukung ……….. 4.3. Pembentukan Komponen Cadangan ……….. 4.4. Penguatan Komponen Utama ……… 4.5. Mobilisasi dan Demobilisasi ……… 5. Ragam Instrumen Penangkalan Pertahanan Semesta ………
.
Bagian IV : IMPLEMENTASI PERTAHANAN SEMESTA NKRI …….………….……. 35 1. Strategi Sishanta ………. 3 2. Implementasi Pertahanan Negara Menghadapi Ancaman …………
i iii x xii xii 1 1 1 1 3 4 5 5 8 8 9 9 18 20 20 20 21 22 22 25 27 30 31 32 36 36 36
xi
2.1. Implementasi dalam Menghadapi Ancaman Militer ………… 2.2. Implementasi dalam Menghadapi Ancaman Nonmiliter …….. Bagian V : GERAKAN BELA NEGARA DALAM SISHANTA
MENGHADAPI BERBAGAI ANCAMAN BANGSA DAN NKRI ……… 1. Gerakan Bela Negara Melawan Ancaman Pemecah Belah Bangsa 2. Gerakan Bela Negara Melawan Ancaman Pandemi ……….. 3. Gerakan Bela Negara Melawan Ancaman Korupsi ………. 4. Gerakan Bela Negara Melawan Ancaman Radikal–Terorisme ………… 5. Gerakan Bela Negara Melawan Ancaman Narkoba ……… 6. Gerakan Bela Negara dalam Cyber Warfare (Perang Siber) ……... 7. Gerakan Bela Negara Melawan Ancaman
Kekayaan Alam Nasional ………
B. KELOMPOK PESERTA PKBN ……… C. STANDAR KOMPETENSI ……….……….
1. Pengertian ………. 2. Garis Besar Standar Kompetensi di setiap Tingkat ………..
3. Matriks Standar Kompetensi di setiap Lingkup ………. D. METODE/STRATEGI PEMBELAJARAN ………
1. Pengertian ……….. 2. Garis Besar Metode/Strategi Pembelajaran di setiap Tingkat ……… 3. Matriks Metode/Strategi Pembelajaran di setiap Lingkup ……… E. SARANA/MEDIA PEMBELAJARAN ……….. 1. Pengertian ……….. 2. Garis Besar Sarana/Media Pembelajaran di setiap Tingkat ……….. 3. Matriks Sarana/Media Pembelajaran di setiap Lingkup ……….. F. METODE EVALUASI ……….…
1. Pengertian ……….. 2. Garis Besar Metode Evaluasi di setiap Tingkat ……… 3. Matriks Metode Evaluasi di setiap Lingkup ……….. G. PENGUATAN (Reinforcement) PEMBELAJARAN ………. DAFTAR PUSTAKA ……… 36 42 53 53 55 55 58 59 61 63 65 67 67 70 71 73 73 80 81 83 83 84 85 86 86 88 89 91 96
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Ilustrasi Kurikulum – Paket Modul PKBN ……….…. Gambat 2 : Desain Instruksional - Modul PKBN ………..…..… Gambar 3 : Desain Instruksional – Modul Sistem Pertahanan Semesta ………..
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Kelompok Lingkup Pendidikan ……… Tabel 2 : Kategori Kompetensi Ranah Pengetahuan (Cognitive : C) ………. Tabel 3 : Kategori Kompetensi Ranah Sikap (Affective : A) ……….. Tabel 4 : Kategori Kompetensi Ranah Perilakui ( Psikomotorik : P) ………. Tabel 5 : Standar Kompetensi – Sistem Pertahanan Semesta ………... Tabel 6 : Matriks Standar Kompetensi – Sistem Pertahanan Semesta ………. Tabel 7 : Metode Pembelajaran – Sistem Pertahanan Semestra ……… Tabel 8 : Matriks Metode Pembelajaran – Sistem Pertahanan Semesta ………… Tabel 9 : Matriks Media Pembelajaran – Sistem Pertahanan Semesta ………….…. Tabel 10 : Metode Evaluasi – Sistem Pertahanan Semesta ………. Tabel 11 : Matriks Metode Evaluasi – Sistem Pertahanan Semesta ……….. iv viii xiii 65 67 68 69 70 71 80 81 85 88 89
xiii
DESAIN INSTRUKSIONAL - SISTEM PERTAHANAN SEMESTA
Gambar 3 : Desain Instruksional – Sistem Pertahanan Semesta
Contoh Gerakan antara lain: 1. Gerakan Bela Negara Melawan
Ancaman Pemecah Belah Bangsa 2. Gerakan Bela Negara Melawan
Ancaman Pandemi
3. Gerakan Bela Negara Melawan Ancaman Korupsi
4. Gerakan Bela Negara Melawan Ancaman Radikal-Terorisme 5. Gerakan Bela Negara Melawan
Ancaman Narkoba
6. Gerakan Bela Negara dalam Cyber Warfare (Perang Siber)
7. Gerakan Bela Negara Melawan Ancaman Kekayaan Alam Nasional
1
Bagian I
PEMAHAMAN SISTEM PERTAHANAN SEMESTA (SISHANTA)
1. Pengertian
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Negara ini juga memiliki posisi geografis yang unik sekaligus menjadikannya strategis. Hal ini dpat dilihat dari letak Indonesia yang berada di antara dua samudera dan dua benua, sekaligus memiliki perairan yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan internasional. Posisi ini menempatkan Indonesia berbatasan laut dan darat secara langsung dengan sepuluh negara di kawasan. Keadaan ini menjadikan Indonesia rentan terhadap sengketa perbatasan dan ancaman keamanan yang menyebabkan instabilitas dalam negeri di kawasan. Kondisi geografis suatu negara menentukan peristiwa-peristiwa yang memiliki pengaruh secara global. Di masa yang akan datang, keberadaan Indonesia akan dipengaruhi oleh kondisi dan letak geografisnya. Maka tata kelola sumber daya alam, wilayah perbatasan, dan pertahanan yang mumpuni sangat diperlukan.1 Untuk memahami sistem pertahanan semesta, perlu terlebih dahulu mengerti tentang pertahanan negara Indonesia itu sendiri, yang mendorong perlunya dibentuk suatu sistem pertahanan negara Indonesia yang bersifat semesta.
1.1. Pertahanan Negara Indonesia
Pertahanan negara Indonesia adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.2 Jadi tujuan dari pertahanan negara adalah untuk menjaga dan melidungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman dan gangguan baik yang berasal dari luar maupun dari dalam
1 Purnomo Yusgiantoro, Kata Pengantar, Buku Putih Pertahanan Indonesia, Kementerian Pertahanan RI, 2014
2 Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 23 Tahun 2019, Tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional Untuk Pertahanan Negara.
2
negeri. Oleh karena itu pertahanan negara disusun dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.3
Untuk mencapai tujuan pertahanan negara tersebut, ada empat sasaran strategis yang saling terkait, yaitu:4
a. Terselenggaranya pertahanan negara yang mampu menghadapi ancaman militer, untuk menjamin eksistensi NKRI. Ancaman militer bersifat fisik dan dapat berbentuk agresi maupun bukan agresi.
b. Terselenggaranya pertahanan negara yang mampu menghadapi ancaman non militer, untuk menjamin keutuhan NKRI. Walaupun tidak secara langsung mengancam eksistensi NKRI, namun ancaman nonmiliter dapat mengganggu dan melemahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.
c. Terlenggaranya pertahanan negara yang mampu untuk ikut serta mewujudkan perdamaian dunia dan stabilitas regional. Keikutsertaan Indonesia dalam perda-maian dunia dan menjaga stabilitas regional merupakan bentuk upaya untuk meniadakan atau mengurangi ancaman terhadap eksistensi bangsa dan negara. d. Terselenggaranya pertahanan negara yang didukung oleh industri pertahanan
yang kuat dan mandiri. Untuk mampu menghadapi ancaman militer dan non militer diperlukan dukungan alat utama sistem senjata (alutsista) yang tidak saja canggih, tetapi juga sustainable. Oleh karena itu, untuk memenuhi alutsista tersebut diperlukan industri pertahanan yang kuat dan mandiri.
Dalam rangka menjamin eksistensi bangsa dan negara dengan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tanah tumpah darah Indonesia, serta untuk mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah NKRI, diperlukan suatu sistem pertahanan negara Indonesia yang kuat dan hadal.5
Pertahanan Negara yang bersifat semesta bagi bangsa Indonesia merupakan model yang dikembangkan sebagai pilihan. Dilihat dari jenis ancaman terhadap pertahanan negara dapat digolongkan dalam ancaman militer dan ancaman nonmiliter. Menghadapi ancaman militer menempatkan TNI sebagai Komponen Utama diperkuat
3 Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 3 Tahun 2002, Tentang Pertahanan Negara
4 Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Strategi Pertahanan Negara. Kementerian Pertahanan RI, 2014, hal: 49-51 5 Ibid, hal. 51
3
Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Menghadapi ancaman nonmiliter menempatkan Kementerian/Lembaga di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama, dibantu unsur-unsur lain kekuatan bangsa.6
1.2. Sistem Pertahanan Semesta
Sistem pertahanan negara Indonesia menganut pada sistem pertahanan negara yang bersifat semesta. Semesta artinya seluruh atau segenap.7 Pertahanan dalam sifat kesemestaan artinya melibatkan seluruh warga negara, wilayah, serta segenap sumber daya nasional yang dipersiapkan secara dini oleh pemerintah. Upaya pertahanan negara tersebut didasarkan pada kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara, keyakinan akan kekuatan sendiri, kegotong-royongan, pantang menyerah, keterpaduan, totalitas, dan kebersamaan.8
Sifat kesemestaan dimanifestasikan dalam kesatuan cara berpikir dan cara ber-tindak warga negara Indonesia, untuk terlibat dalam usaha-usaha pertahanan negara. Kewajiban ikut serta dalam pembelaan negara ditujukan bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali, sesuai dengan ketentuan Undang-Undang. Pertahanan bersifat semesta dilaksanakan dengan melibatkan Pertahanan Militer dan Pertahanan Nirmiliter secara sinergi, terintegrasi, dan terkoordinsi untuk menghadapi setiap bentuk ancaman. Sumber daya Pertahanan Militer bertumpu pada TNI sebagai komponen utama, yang didukung oleh komponen cadangan dan komponen pendukung melalui mobilisasi yang dipersiapkan dan diorganisir untuk menghadapi ancaman militer, sedangkan Pertahanan Nirmiliter bertumpu pada peran serta Kementerian/ Lembaga di luar bidang pertahanan sebagai Unsur Utama dibantu oleh Unsur-Unsur Lain kekuatan masyarakat dalam menghadapi ancaman nonmiliter. 9
Sifat kesemestaan merupakan konsekuensi dari upaya mempertahankan dan melindungi keselamatan negara dan bangsa. Seluruh Bangsa Indonesia harus memandang serangan dari negara lain sebagai ancaman terhadap seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali. Kesengsaraan dan kehancuran suatu negara akibat perang
6 Purnomo Yusgiantoro, Kata Pengantar, Strategi Pertahanan Negara. Kementerian Pertahanan RI, 2014 7 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Arti Semesta, diunduh dari https://kbbi.web.id/semesta 8 Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Strategi Pertahanan Negara, op.cit., hal: 57 9 Ibid, hal 54
4
tidak hanya berakibat pada militer atau TNI semata, rakyat atau masyarakat juga akan merasakan akibat perang yang menghancurkan itu. Dalam kebersamaan, peran rakyat sangat penting untuk menentukan kekuatan semangat atau moral angkatan perang, sebaliknya militer harus dapat melindungi rakyat dari segenap bentuk kesengsaraan dan kehancuran.10
Pertahanan semesta pada prinsipnya diselenggarakan di seluruh wilayah kedau-latan Republik Indonesia. Seluruh wilayah Indonesia bisa menjadi mandala (lingkaran) perang, baik di darat, laut maupun udara. Dalam pelaksanaannya pertahanan negara dapat dibagi menjadi beberapa mandala sesuai dengan hakikat dan intensitas ancaman. Setiap mandala menjadi ruang penyelenggaraan pertahanan negara yang disesuaikan dengan karakteristik geografi Indonesia yang bercirikan negara kepulauan.11
Sistem pertahanan semesta disingkat sishanta, merupakan sistem pertahanan yang melibatkan seluruh sumber daya nasional meliputi: sumber daya manusia; sumber daya alam; dan sumber daya buatan, yang dipersiapkan secara dini oleh Pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berkelanjutan untuk menegakkan kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman.12
2. Sejarah Pertahanan Semesta (Sishanta)
Konsep Pertahanan Negara yang bersifat semesta tersebut lahir dari sejarah panjang perjuangan rakyat Indonesia yang diawali masa penjajahan, masa kemerde-kaan, masa mengisi kemerdekaan sampai sekarang. Kesemestaan yang dibangun telah terbukti mampu merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari kaum kolonialis pada masa revolusi perang kemerdekaan.13
Fakta sejarah perjuangan bangsa Indonesia mengungkapkan bahwa, pada dasarnya sejak masa sebelum kemerdekaan, bangsa Indonesia telah menerapkan sistem pertahanan semesta (Sishanta) dalam upayanya menghadapi ancaman militer,
10 Ibid, hal 57 11 Ibid, hal. 58
12Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 23 Tahun 2019, op.cit. 13 Ibid
5
non militer maupun hibrida (ancaman perpaduan antara militer dan nonmiliter). Usaha bersama-sama seluruh rakyat Indonesia dalam mempertahankan negara Indonesia terhadap ancaman negara atau bangsa lain ini, mencerminkan sikap nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air. Hal ini perlu dicontoh dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya sebagai wujud aksi nyata bela negara. Kesadaran rakyat dalam pembelaan Negara pada masa penjajahan yang pada hakekatnya adalah merupakan kesadaran untuk memupuk dan memelihara semangat perjuangan dengan perlawanan bersenjata. Berikut ini beberapa contoh fakta sejarah yang mencerminkan penerapan sishanta sejak masa penjajahan hingga masa kemerdekaan:
2.1. Sishanta pada Masa Penjajahan
Partisipasai rakyat dalam pertahanan dimasa penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1927, pemerintah Belanda mengikut sertakan rakyat Indonesia dalam kekuatan pertahanan keamanan (defensie grondslagen) untuk tugas militer yang sifat-nya non tempur (non-kombatan), yang bertujuan membantu korps-korps bantuan (hulpkerpsen), antara lain : Barisan Madura, Legiun Mangku Negara, serta Legiun Paku Alam dan Prajuda Bali14.
Pasa masa Penjajahan Jepang, dalam rangka pertahanan, Jepang membentuk semacam komponen pendukung, seperti : Seinendan (Pasukan Pemuda), Shui Sentai (Barisan Pelopor), Keibodan (Barisan Keamanan), Heiho (Pembantu Serdadu) dan lain sebagainya. Mereka dimasukan dalam angkatan darat Jepang (Kikugun), angkatan laut (Kaigun), serta Polisi Militer (Kempwiho). Selanjutnya pada Bulan September 1943 dibentuk Bae Oyagun atau Tentara Sukarela “Pembela Tanah Air”.15
2.2. Sishanta dalam Perjuangan Kemerdekaan RI
a. Perlawanan Nirmiliter. Pada abad ke 20, rakyat Indonesia sudah mula dijiwai
oleh “state of mind” yang disebut Nasionalisme untuk mencapai sebuah wadah yang namanya Negara Nasional (National State). Sifat perjuangannyapun mengalami kemajuan dengan didirikannya organisasi modern, baik pada bidang
14 Departemen Pertahanan Keamanan-Pusat Perlawanan dan Keamanan Rakyat. Partisipasi Rakyat Dalam Usaha Pembelaan Negara. Jakarta: Wankamra-Hansip, 1972, Hal 10-11
6
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, sehingga tidak semata-mata menggu-nakan kekuatan fisik (bersenjata). Contoh : Organisasi Boedi Utomo 1908, Partai Nasional Indonesia 1927 yang didirikan Ir. Soekarno, serta gerakan Soempah Pemuda 28 Oktober 1928, puncaknya keputusan politik bangsa Indo-nesia dengan memproklamasikan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.
b. Perlawanan Militer. Beberapa contoh penerapan sishanta antara lain:
1) Pertempuran Lima hari,16 merupakan serangkaian pertempuran antara
rakyat Indonesia melawan tentara Jepang di Semarang pada masa transisi kekuasaan dari Jepang ke Belanda yang terjadi pada tanggal 15–19 Oktober 1945. Kejadian ini bermula ketika pemuda Indonesia memindahkan tawanan Jepang dari Cepiring ke Bulu, dan di tengah jalan mereka kabur dan bergabung dengan pasukan Kidō Butai dibawah pimpinan Jendral Nakamura. Pemuda-pemuda rumah sakit mendapat instruksi dari dr. Karyadi untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara. Mereka menyita sedan milik Kempetai dan merampas senjata mereka. Sore harinya, para pemuda ikut aktif mencari tentara Jepang dan kemudian menjebloskannya ke Penjara Bulu. Sekitar pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti delapan anggota polisi istimewa yang waktu itu sedang menjaga sumber air minum bagi warga Kota Semarang Reservoir Siranda di Candilaman. Akhirnya terjadi pertempuran antara pemuda dengan tentara Jepang, dan gugurnya Dr. Karyadi. Dalam pertempuran 5 hari lima malam, pihak Jepang jatuh korban sekitar 500 orang dan pihak Indonesia 2000 orang.
2) Pertempuran 10 Nopember 1945.17 Pertempuran Surabaya merupakan
pertempuran tentara dibantu oleh milisi pro-kemerdekaan Indonesia atau rakyat, melawan tentara Brintania Raya dan India Britania. Ini merupakan pertempuran pertama setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya
16 Pusat Sejarah dan Tradisi TNI-Markas Besar TNI, Jakarta: Pusat Sejarah dan Tradisi TNI, 2000, hal 106 17Ibid
7
pada tanggal 17 Agustus 1945. Peristiwa pertempuran Surabaya merupakan pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia dijadikan simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap Kolonialisme.
3) Palagan Ambara,18 adalah peristiwa perlawanan rakyat bersama tentara, melawan Sekutu yang terjadi di Ambarawa-Jawa Tengah yang berlangsung dari 20 Oktober hingga 15 Desember 1945, yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman.
4) Pertempuran Medan Area,19 merupakan pertempuran di Kota Medan antara TNI didukung Laskar Rakyat /Pemuda melawan Tentara Sekutu dan NICA pada tanggal 9 Oktober 1945 hingga 15 Februari 1947 dan NICA. Kedatangan tentara sekutu dan NICA ternyata memancing berbagai insiden terjadi di Hotel yang terletak di Jalan Bali, Kota Medan, Sumatra Utara pada tanggal 13 Oktober 1945. Saat itu, seorang penghuni merampas dan menginjak-injak lencana merah putih yang dipakai pemuda Indonesia. Hal ini mengundang kemarahan pemuda Indonesia. Pada tanggal 13 Oktober 1945, barisan pemuda dan TKR ber-tempur melawan Sekutu dan NICA dalam upaya mengambil alih gedung-gedung pemerintahan dari tangan Jepang.
5) Peristiwa Bandung Lautan Api20 adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 23 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan.
6) Pertempuran Puputan Margarana21merupakan salah satu pertempuran
antara Indonesia dan Belanda dalam masa Perang kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada 20 November 1946. Pertempuran ini dipimpin oleh Kepala
18 Ibid
19 Pertempuran Medan Area, diunduh dari https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Medan_Area, diakses Senin, 16 Desember 2019
20 Bandung Lautan Api diunduh dari https://id.wikipedia.org/wiki/Bandung_Lautan_Api, diakses Kamis, 19 Desember 2019. 21 Puputan Margarana diunduh dari https://id.wikipedia.org/wiki/Puputan_margarana, diakses Kamis, 19 Desember 2019
8
Divisi Sunda Kecil Kolonel I Gusti Ngurah Rai. Dimana Pasukan TKR didukung oleh rakyat di wilayah ini bertempur dengan habis-habisan untuk mengusir Pasukan Belanda yang kembali datang setelah kekalahan Jepang, untuk menguasai kembali wilayahnya yang direbut Jepang pada Perang Dunia II, mengakibatkan kematian seluruh pasukan I Gusti Ngurah Rai yang kemudian dikenang sebagai salah-satu Puputan di era awal kemerdekaan.
2.3. Sishanta dalam Menghadapi Ancaman Dalam Negeri
Sishanta dalam menumpas pemberontakan, atas inisatif dari rakyat berdasarkan pada pengalaman dalam perjuangan kemerdekaan, mereka menyusun kekuatan-kekuatan berupa antara lain: Operasi Keamanan Desa (OKD); Operasi Perlawanan Rakyat (OPR); PAGER DESA (Pasukan Gerilya Desa) berkembang menjadi Wanra (Perlawanan Rakyat); Kamra (Keamanan Rakyat). Organisasi kekuatan rakyat tersebut berperan mendukung gerakan-gerakan operasi militer yang dilakukan oleh ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), baik dalam penumpasan pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), PRRI/PERMESTA (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta), dan G30S PKI (Gerakan Tigapuluh September PKI). 22
2.4. Kesimpulan pertahanan dalam perspektif sejarah
Fakta sejarah menunjukkan bahwa, pertahanan sebuah bangsa membutuhkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat. Dengan adanya partisipasi rakyat Indonesia yang bahu-membahu mendukung TKR (Tentara Keamanan Rakyat, cikal bakal TNI) dalam pertahanan negara di masa penjajahan Belanda dan Jepang, terbukti berperan penting bagi perjuangan bangsa Indonesia, di dalam upayanya merebut dan mem-pertahankan kemerdekaan RI. Partisipasi rakyat dalam melawan berbagai ancaman, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri, merupakan cerminan sikap dan perilaku bela negara, yang tidak hanya menggunakan kekuatan bersenjata tetapi juga tanpa bersenjata, misalnya dengan melakukan pendekatan diplomasi, perundingan dan sejenisnya.
9
Bagian II
ANCAMAN TERHADAP PERTAHANAN SEMESTA NKRI
1. Lingkungan Strategis NKRI
Dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia dan NKRI, aspek pertahanan merupakan faktor yang sangat hakiki. Keberadaan bangsa dan negara sangat tergantung pada kemampuan seluruh Warga Negara Indonesia dalam upayanya mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar negeri dan /atau dari dalam negeri.
Ancaman terhadap pertahanan bangsa Indonesia dan NKRI senantiasa berubah sesuai dengan dinamika perkembangan lingkungan strategis baik global, regional maupun nasional, diantaranya:23
a. Dinamika Keamanan Lingkungan Strategis di Kawasan Asia Pasifik
Kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan yang sangat dinamis, cepat berubah, dan penuh ketidakpastian. Situasi tersebut berdampak bukan hanya dalam masalah ekonomi, melainkan juga dalam masalah keamanan. Ada sekurang-kurangnya tiga perkembangan yang perlu dicermati dalam kurun waktu lima tahun ke depan yang dapat berimplikasi pada stabilitas keamanan kawasan, yaitu: perkembangan kekuatan militer Tiongkok; perkembangan kebijakan strategis Amerika Serikat di kawasan; dan perkembangan di Laut Tiongkok Selatan (South
China Sea). Pertumbuhan perekonomian Tiongkok yang tinggi menyebabkan
Tiongkok memiliki peluang untuk melakukan upaya modernisasi kekuatan dan peningkatan kapasitas militernya. Disisi lain Amerika Serikat (AS) telah menerapkan suatu kebijakan strategis yang dinamakan “US Rebalancing
Strategy”, yang menentukan perubahan lingkungan strategis di masa depan.
Selain itu, beberapa negara di kawasan Asia Pasifik juga telah melakukan upaya modernisasi kekuatan pertahanan, terutama yang dipicu dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
10
b. Isu Perbatasan Antarnegara
Di kawasan Asia Pasifik masih terdapat sengketa perbatasan yang belum sepe-nuhnya dapat diselesaikan oleh semua pihak. Fakta empiris menyatakan bahwa salah satu penyebab utama terjadinya perang adalah persoalan batas wilayah. Beberapa contoh antara lain: Di laut Tiongkok Timur masih terjadi saling klaim atas kepemilikan Pulau Senkaku (Jepang) atau Diaayu (Tiongkok) antara Tiongkok dan Jepang; Sementara itu di laut Tiongkok Selatan masih terjadi persoalan tumpang tindih pengakuan batas wilayah di Kepulauan Spratly dan Paracel yang melibatkan Tiongkok dengan beberapa negara Asia Tenggara yaitu, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Brunai; Juga Indonesia dan Papua New Guinea (PNG) masih memiliki permasalahan perbatasan.
c. Konflik Intra dan Antarnegara
Konflik intra masih terjadi di kawasan Afrika bahkan sampai perang saudara yang menyebabkan terjadinya korban kekerasan, dan pengungsian penduduk. Konflik terjadi karena dipicu masalah pertarungan politis dan kekuasaan, ketidak-puasan dan ketidakadilan sosial dan ekonomi, persaingan akses ke sumber daya, penindasan serta kepemimpinan yang korup dan tidak demokratis. Konflik intranegara cenderung bereskalasi dan bertransformasi. Konflik yang terjadi di beberapa kawasan di Kongo, Mali, Suriah, Sudan, Afrika Tengah, Israel-Palestina, Irak, Afghanistan, dan Pakistan masih terus berlangsung, bahkan cenderung meningkat dan berubah menjadi perang sipil yang sulit diselesaikan.
Sementara, Konflik Antarnegara masih berpotensi terjadi di Semenanjung Korea karena pihak yang terlibat cenderung saling melakukan tindakan yang bersifat provokatif. Penyelesaian konflik masih membutuhkan pendekatan baru.
d. Kecenderungan Konflik Kontemporer
Pada dekade terakhir, pola konflik bersenjata mengalami perubahan yang signifikan. Perkembangan teknologi pertahanan, upaya untuk menghindari jatuh-nya korban, biaya perang yang tinggi, dan semakin ketatjatuh-nya penerapan
kaidah-11
kaidah hukum dan konvensi internasional yang terkait dengan perang, telah mempengaruhi kecenderungan bentuk konflik di dunia.
Pola untuk menguasai ruang sudah tidak lagi dilakukan secara frontal, tetapi dilakukan dengan cara-cara nonlinier, tidak langsung dan bersifat “Proxy War”, yaitu penciptaan kondisi lewat propaganda yang dilakukan dengan meman-faatkan kemajuan teknologi informasi dan ruang “cyber” seperti jejaring sosial. Tren untuk menguasai suatu negara dengan menggunakan senjata berupa “isu-isu” seperti : Pelanggaran Hak Asasi Manusia; Senjata Pemusnah Massal; Pemimpin yang Tirani; Ketidakadilan Ekonomi, Sosial Budaya, Korupsi; dan pluralisme suatu negara dengan menebarkan ancaman berdasarkan perbedaan agama/sekte, suku, ras, dan antargolongan, yang kemudian disebarluaskan melalui jejaring sosial di dunia maya atau cyber space.
e. Terorisme
Proses globalisasi yang sedang berlangsung masih memberikan peluang bagi terorisme global untuk berkembang. Berbagai organisasi teroris masih memanfaatkan era keterbukaan untuk mendapatkan informasi dan saling bekerja sama secara internal antara satu organisasi teroris dan yang lainnya. Peluang tersebut masih dipergunakan oleh organisasi-organisasi teroris untuk menga-mankan akses secara geografi dan untuk mendapatkan persenjataan serta du-kungan finansial dan tempat-tempat berlindung, sebagaimana yang terjadi di Afrika Utara, Afrika Tengah, Timur Tengah, Asia Tengah dan Selatan. Pada kon-disi tersebut, organisasi teroris global, termasuk kelompok-kelompok radikal keagamaan, melaksanakan aksi-aksi terror di negara-negara yang situasi politik-nya belum stabil dan pertahanan pemerintahanpolitik-nya belum kuat.
f. Spionase
Kegiatan intelijen dengan berbagai cara dan metode cenderung dilakukan oleh setiap negara. Pada era saat ini hingga lima tahun ke depan, dengan situasi lingkungan strategis berkembang secara dinamis, penuh ketidakpastian, situasi-nya sangat kompleks dan mudah berubah, sangat sulit bagi suatu negara untuk mengidentifikasikan dan mengetahui hakikat ancaman dan tantangan terhadap
12
kepentingan nasionalnya. Oleh karena itu, untuk menjawab hakikat ancaman dan tantangan terhadap kepentingan nasionalnya, negara-negara tersebut akan berusaha mendapatkan informasi strategis.
Upaya mendapatkan informasi akan dilakukan dengan kegiatan intelijen. Berba-gai bentuk kegiatan intelijen antara lain: intelijen dengan menggunakan agen, klandestin atau mata-mata (human intelligence); maupun dengan penggunaan teknologi seperti intelijen citra (imageri intelligence), intelijen sinyal (signals
intelligence), intelijen elektronik (electronic intelligence), dan intelijen sumber
terbuka. Indonesia menyadari dan mewaspadai adanya upaya kegiatan intelijen termasuk penyadapan yang dilakukan pihak asing.
g. Kejahatan Lintas Negara
Kawasan Asia Tenggara masih rawan terhadap kejahatan lintas negara. Sesuai dengan ASEAN Plan of Action to Combat Transnational Crimes (ASEAN-PACTC) tahun 2002, di kawasan Asia Tenggara terdapat 8 (delapan) jenis keja-hatan lintas negara yaitu: perdagangan gelap narkoba, perdagangan manusia, sea-piracy atau pembajakan di laut, penyelundupan senjata, pencucian uang, terorisme, kejahatan ekonomi internasional, dan kejahatan cyber. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki lautan yang luas dan rawan adanya gangguan keamanan.
Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, mempengaruhi perkembangan jenis kejahatan lintas negara. Perkembangan teknologi kerap mempengaruhi kecen-derungan peningkatan kejahatan pencurian dan penyelundupan objek-objek budaya, perdagangan kejahatan pencurian dan penyelundupan objek-objek budaya, perdagangan organ tubuh manusia, kejahatan lingkungan seperti antara lain pencurian kayu, pencurian ikan, dan pencurian satwa-satwa liar hidup maupun mati termasuk tumbuh-tumbuhan. Secara umum kejahatan ini merujuk secara luas kepada non-violent crime yang pada umumnya mengakibatkan kerugian finansial.
13
h. Dinamika Perkembangan Perubahan lmu Pengetahuan dan Teknologi
Perubahan strategis dunia saat ini merupakan produk globalisasi yang didorong oleh perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Dunia sedang mengalami kemajuan di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan seperti teknolgi informasi dan komunikasi, bioteknologi, teknologi nano, perkembangan teknologi persenja-taan khususnya teknologi senjata pemusnah massal, maupun pesawat tak ber-awak dan berbagai teknologi lainnya. Kemajuan itu membawa dampak positif maupun negatif.
Revolusi di bidang teknologi informasi telah mengubah lingkungan keamanan strategis secara signifikan. Lingkungan keamanan pada abad ke-21 telah berubah sangat cepat dan signifikan seiring dengan penggunaan jaringan komunikasi dan informasi, terutama internet oleh masyarakat modern, termasuk di sektor pertahanan.
Kemajuan teknologi dan informasi telah menyebabkan berbagai sector kehidu-pan menjadi terhubung dalam suatu ruang maya (cyber space) yang tercipta oleh jaringan, kabel, dan alamat internet protocol (IP) melalui computer dan sarana lain. Perorangan dan komunitas terhubung, tersosialisasi, dan terorganisasi secara mendunia dalam dan melalui cyber space. Disamping memberikan dampak positif dari sisi informasi dan komunikasi, disisi lain dapat menciptakan suatu peluang bagi terjadinya kejahatan cyber (cyber crime). Dari aspek pertahanan, ruang cyber telah menghasilkan domain kelima yang dapat dijadikan sebagai medan peperangan (cyber war), selain medan perang darat, laut, udara, dan ruang angkasa. Aktor negara dan aktor non-negara dapat memanfaatkan ruang cyber untuk mengancam kepentingan, keamanan negara lain.
i. Perubahan Iklim
Perubahan iklim global berpengaruh pada lingkungan kehidupan umat manusia. Perubahan ini telah memperlihatkan kecenderungan naiknya temperature permu-kaan bumi, perubahan suhu air laut, perubahan ekosistem, naiknya permupermu-kaan air laut, perubahan musim yang tidak menentu, meningkatnya curah hujan,
mem-14
perpanjang kekeringan, serta meningkatnya badai dan topan. Kecenderungan tersebut berdampak secara langsung maupun tidak langsung pada kebutuhan dasar umat manusia, terutama pangan, air, kesehatan, dan energy.
Perubahan iklim secara tidak langsung berpengaruh pada masalah keamanan. Tidak terpenuhinya kebutuhan dasar umat manusia akan menyebabkan tergang-gunya ketahanan, kemampuan beradaptasi dan kemampuan mengelola stress yang pada akhirnya akan menyebabkan kerawanan bila ditinjau dari aspek keamanan. Secara tidak langsung, perubahan akan menyebabkan instabilitas politik, kekacauan perekonomian, krisis air, krisis pangan, munculnya berbagai penyakit pandemik, migrasi penduduk dan konflik, baik konflik horisontal maupun konflik vertikal.
j. Bencana Alam
Indonesia merupakan daerah yang rawan bencana alam. Sebagai negara yang terletak pada tiga lempeng (plate) yang selalu bergerak dan pada posisi Pacific
Ring of Fire yang memiliki deretan gunung berapi yang aktif, sehingga rentan
terhadap gempa tektonik maupun vulkanik.
Di Indonesia terdapat beberapa kategori bencana. Kategori tersebut dapat dibagi dua, yaitu bencana alam dan bencana sosial. Bencana alam terdiri dari antara lain: tsunami; gempa bumi; banjir; puting beliung; kekeringan; tanah longsor; erupsi gunung berapi; dan kebakaran hutan. Bencana sosial terdiri dari antara lain: kerusuhan sosial; konflik sosial; pencemaran lingkungan hidup, dan kegagalan infrastruktur sosial.
k. Keamanan Pangan, Air dan Energi
Ketersediaan pangan dunia yang semakin berkurang, berpengaruh terhadap pe-menuhan pangan dalam negeri. Penurunan ketersediaan pangan ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk dunia, peningkatan kualitas hidup manusia, dan ketersediaan lahan yang semakin sempit, serta berkembangnya industri yang mengurangi lahan produktif. Indonesia masih mengalami ketergantungan terhadap beberapa jenis pangan dari luar negeri. Berkurangnya lahan pertanian
15
sebagai akibat pesatnya pertumbuhan dan kebutuhan penduduk, serta berkurangnya SDM pengelola pertanian, merupakan faktor penting penyebab berkurangnya ketahanan pangan di Indonesia.
l. Epidemi - Pandemi
Dunia masih menghadapi epidemic beberapa penyakit infeksi yang berbahaya pada manusia. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization / WHO) masih memberikan peringatan kepada dunia bahwa penyakit infeksi berbahaya bagi umat manusia masih belum sepenuhnya diatasi, bahkan cenderung semakin meluas penyebarannya. WHO telah mengumumkan sejumlah penyakit yang masih mengancam umat manusia, yaitu antara lain: Penyakit pernafasan Covid-19; Demam berdarah (Dengue Fever); Tuberculosis (TBC); Avian Inflenza (H7N9);
Middle East Respiratory Syndrome (MERS); Severe Acute Respiratory Syndrome
(SARS).
Pandemi Koronavirus 2019-2020. Penyakit pernafasan atau dikenal sebagai Pandemi COVID-19 adalah peristiwa menyebarnya penyakit koronavirus 2019 di seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2.24 Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019, dan ditetapkan sebagai “pandemic” oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020.25 Data jumlah kasus per tanggal 21 Juni 2020, di dunia terdata sebanyak 8.755.796 kasus dan meninggal 464.399 penderita. Indonesia terdata 45.891 kasus, meninggal 2.405 penderita dan sembuh 18.404 pasien.26
24 Gorbalenya, Alexander E. "Severe acute respiratory syndrome-related coronavirus – The species and its viruses, a statement of the Coronavirus Study Group". BioRxiv (dalam bahasa Inggris):
2020.02.07.937862. doi:10.1101/2020.02.07.937862. 11 Februari 2020.
25 World Head Organization. “WHO Director-General's opening remarks at the media briefing on COVID-19 - 11 March
2020". diunduh dari: www.who.int (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-03-22.
26BBC com. Update Covid-19 di Indonesia: Kurva, data, peta pasien terinfeksi, meninggal, dan sembuh di Indonesia serta dunia, dikutip dari https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51850113, diakses tanggal 22 Juni 2020
16
m. Perkembangan Lingkungan dan Konteks Strategis Nasional
1) Ideologi. Pengamalan ideology Pancasila mengalami degradasi. Pancasila
sebagai ideology bangsa dan cita-cita negara, yang menjadi dasar tata sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa Indonesia, semakin dilupakan dan ditinggalkan. Aksi kekerasan merajalela di masyarakat, hilangnya nilai-nilai multikulturalitas, kebinnekaan dan nilai-nilai keadilan. Kemerosotan nasional-isme memunculkan aktivitas kelompok-kelompok radikal, baik secara terbuka maupun tertutup di dalam lingkungan masyarakat. Berbagai peristiwa keke-rasan, kerusuhan, dan konflik berlatar belakang suku, agama, ras, dan antar-golongan menandakan bahwa sebagian masyarakat mulai mengalami keme-rosotan nasionalisme.
2) Politik
Kondisi politik nasional masih menghadapi sejumlah tantangan jika ditinjau dari infrastruktur politik, suprastruktur politik, dan budaya politik.
Pada tataran Infrastruktur Politik nasional, masih diwarnai dengan isu per-soalan hukum, terutama berkaitan dengan masalah korupsi yang menyan-dera partai politik. Persoalan hukum yang dihadapi oleh partai politik, sering dijadikan sebagai “bargaining” politik oleh lawan politik. Persoalan korupsi menyebabkan sebagian partai politik dinilai belum mampu berfungsi sebagai lembaga pendidikan politik bagi rakyat dan sebagai lembaga yang kredibel dalam menyiapkan kader pimpinan bagi masyarakat.
Pada tataran Suprastruktur Politik, masih terdapat kendala untuk mengem-bangkan komunikasi, kerja sama dan hubungan antar lembaga tinggi negara. Salah satu penyebabnya adalah adanya perbedaan penafsiran terhadap konstitusi dan produk-produk turunannya, sehingga wacana untuk mengeva-luasi Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sering mengemuka.
Pada tataran Budaya Politik, yang berkembang pada era reformasi ini lebih bersifat pragmatis. Hal ini dapat dilihat dengan adanya indikasi penurunan
17
moral dan etika berpolitik yang terjadi pada kalangan elit politik, sehingga struktur politik demokrasi tidak dapat berjalan dengan baik.
3) Ekonomi
Perkembangan perekonomian dunia masih sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global. Terintegrasinya ekonomi Indonesia dengan perekonomian global membuat Indonesia harus mewaspadai arah dan tren ekonomi global, serta diperlukan suatu kebijakan yang cepat, tepat, dan terukur guna merespon peluang dan tantangan. Setelah mengalami pertum-buhan pesat beberapa tahun terakhir, sejumlah indikator menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sedang memasuki fase perlambatan yang perlu diantisipasi sebagai dampak pandemic covid-19.
4) Sosial Budaya.
Kondisi sosial budaya bangsa Indonesia menghadapi tantangan pergeseran nilai-nilai. Globalisasi serta euphoria reformasi yang sarat dengan semangat perubahan berdampak kepada perubahan nilai-nilai sosial budaya bangsa. Perubahan yang mempengaruhi pola pikir, pola sikap, dan perilaku generasi penerus bangsa dalam menyikapi berbagai permasalahan kebangsaan. Ditengah semakin kaburnya wujud dan bentuk ancaman yang berkembang dewasa ini, kerapuhan jiwa dan semangat kebangsaan merupakan potensi ancaman terbesar bagi keberlangsungan dan keutuhan bangsa. Degradasi pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika, menghambat semangat dan kesadaran bela negara seluruh warga negara Indonesia.
5) Keamanan Dalam Negeri
Indonesia masih rawan terhadap konflik vertical. Gerakan separatis masih menjadi isu keamanan dalam negeri yang mengancam keutuhan wilayah NKRI, dan mengancam kewibawaan pemerintah serta keselamatan masyarakat. Gerakan separatis di Indonesia dilakukan dalam bentuk separatis politik dan gerakan separatis bersenjata. Gerakan separatis politik di luar
18
negeri dilakukan dalam bentuk mendirikan perwakilan-perwakilan seperti di AS, Inggris, Australia, Belanda dan negara-negara di kawasan Pasifik Selatan, dalam rangka mencari dukungan dari dunia internasional. Gerakan separatis bersenjata walaupun masih dalam skala kecil, namun sering menyebabkan terjadinya gangguan keamanan.
2. Ragam Ancaman Pertahanan Negara
Ancaman terhadap pertahanan adalah setiap usaha dan kegiatan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang bertentangan dengan Pancasila dan mengancam atau membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa.27
Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk pertahanan negara dipersiapkan secara dini untuk menghadapi ancaman. Ancaman tersebut terdiri atas ancaman militer, ancaman non militer dan ancaman hibrida.28
a. Ancaman Militer adalah ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata yang terorganisasi yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa.29 Ancaman militer bersifat fisik dan dapat berbentuk agresi maupun bukan agresi. Ancaman militer berbentuk agresi berupa penggunaan kekuatan bersenjata yang dilakukan oleh suatu negara yang mengancam NKRI. Ancaman yang berbentuk bukan agresi merupakan ancaman militer yang berskala terbatas sehingga ditangani dengan pendekatan tertentu yang berbeda dengan pendekatan untuk agresi militer suatu negara.30
b. Ancaman Nonmiliter adalah ancaman yang tidak menggunakan kekuatan ber-senjata, namun dinilai mempunyai kemampuan atau potensi yang membaha-yakan atau berimplikasi mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman non militer pada hakikatnya merupakan ancaman yang disebabkan oleh faktor nonmiiter yang
27 Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 23 Tahun 2019, op.cit. 28 ibid
29 Penjelasan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara
19
dapat membahayakan atau berimplikasi mengancam pertahanan negara. Ancaman nonmilitrer berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi, keselamatan umum, dan legislasi. Jenis ancaman ini dapat berasal dari luar negeri dan dapat pula bersumber dari dalam negeri, serta dilakukan oleh aktor negara, maupun aktor non-negara.31
c. Ancaman Hibrida, adalah ancaman yang bersifat campuran dan merupakan keterpaduan antara ancaman militer dan ancaman nonmiliter.32
Perwujudan ancaman militer, ancaman nonmiliter dan ancaman hibrida dapat berupa: agresi, terorisme, komunisme, separatisme, pemberontakan bersenjata, bencana alam, kerusakan lingkungan, pelanggaran wilayah perbatasan, perompakan dan pencurian sumber daya alam, wabah penyakit, peredaran dan penyalahgunaan narkoba, serangan kejahatan cyber, serangan nuklir, serangan biologi, serangan kimia, atau wujud ancaman yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik lndonesia, dan keselamatan segenap bangsa.33
31 Peraturan Menteri Pertahanan RI, Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Strategis Pertahanan Nirmiliter, hal. 24 32 Penjelasan Undang Undang nomor 23 tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional
Untuk Pertahanan Negara.
20
Bagian III
PEMBANGUNAN PERTAHANAN SEMESTA NKRI
1. Latar Belakang
Sistem pertahanan semesta memadukan Pertahanan Militer dan Pertahanan Nirmiliter, melalui usaha membangun kekuatan dan kemampuan pertahanan yang kuat dan disegani, serta memiliki daya tangkal. Pertahanan yang dipersiapkan secara dini berarti sistem pertahanan semesta dibangun sejak masa damai sampai masa perang, sebagaimana kondisi nyata bahwa membangun pertahanan membutuhkan waktu yang lama, sedangkan perang dapat terjadi setiap saat.34
Pada masa damai, penerapan Sistem Pertahanan Semesta dilaksanakan dalam kerangka pembangunan nasional yang tertuang dalam program pemerintah yang berlaku secara nasional. Pada masa perang, Sistem Pertahanan Semesta memadukan Pertahanan Militer dan Pertahanan Nirmiliter dalam susunan komponen utama yaitu TNI, komponen cadangan dan komponen pendukung melalui mobilisasi. Mobilisasi ditentukan oleh kebijakan dan keputusan politik negara melalui pernyataan Presiden atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mengerahkan dan menggunakan secara menyeluruh sumber daya nasional sebagai kekuatan pertahanan negera Republik Indonesia.35
Kemanunggalan TNI dan Rakyat merupakan modal penting dalam upaya perta-hanan negara yang bersifat semesta. Dalam pertaperta-hanan yang bersifat semesta, upaya pertahanan negara diselenggarakan dengan mengerahkan kekuatan Pertahanan Militer dan Pertahanan Nirmiliter yang bersinergi.36
2. Penguatan Pertahanan Militer
Pertahanan Militer dibangun berdasarkan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pesatnya terknologi informasi yang berdampak pada kemungkinan adanya ancaman dunia maya (cyber space), serta pesawat tanpa awak dan satelit yang
34 Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Buku Putih Pertahanan Indonesia. op.cit, hal. 41 35 Ibid, hal. 43
21
ngun untuk digunakan dalam menjaga dan melindungi perbatasan. Pertahanan Militer dibangun dan diperkuat berdasarkan Postur Pertahanan Militer yang bertumpu pada TNI sebagai Komponen Utama (Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara), yang didukung oleh Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung melalui mobilisasi yang dipersiapkan dan diorganisir untuk menghadapi ancaman militer.37
Dalam pembangunan sumber daya Pertahanan Militer mengacu kepada ke-bijakan pembangunan postur kekuatan pokok minimal (Minimum Essential Force/MEF), yang terdiri dari: Sumber Daya Manusia (SDM); Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista); Sarana Pangkalan dan Daerah Latihan; Industri Pertahanan; Organisasi; dan Anggaran. Dalam Pertahanan Militer, TNI sebagai lapis utama, melaksanakan tugas Operasi Militer Perang (OMP), dan tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP).38
3. Penguatan Pertahanan Nirmiliter
Pertahanan Nirmiliter merupakan komponen pertahanan negara yang dibentuk dengan tujuan menangkal ancaman nonmiliter yang berdimensi : ideology, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi, keselamatan umum, dan berdimensi legislasi.39
Pertahanan Nirmiliter bertumpu pada peran serta seluruh Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah dan Polri sebagai unsur-unsur utama, dibantu unsur-unsur lain kekuatan bangsa di lingkup pendidikan, lingkup masyarakat dan lingkup pekerjaan, dalam menghadapi ancaman nonmiliter. Pertahanan Nirmiliter memperhatikan pendidikan kewarganegaraan yang diwujudkan dalam Bela Negara. Keterlibatan warga negara Indonesia dalam Pertahanan Nirmiliter disesuaikan dengan kapabilitas profesi, pengetahuan, dan keahlian mereka sebagai perwujudan Sistem Pertahanan Semesta, yang esensinya adalah perwujudan dari keikutsertaan segenap warga negara dalam pertahanan negara. Pertahanan Nirmiliter selain berfungsi sebagai usaha untuk menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan segenap bangsa, juga berfungsi dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. 40
37 Kementerian Pertahanan RI. Buku Putih Pertahanan Indonesia. op.cit, hal. 50 38 Kementerian Pertahanan RI. Strategi Pertahanan Negara, op.cit., hal. 54 39 Kementerian Pertahanan RI. Buku Putih Pertahanan Indonesia. op.cit, hal. 52 40 Ibid
22
4. Penguatan Sumber Daya Nasional
Strategi Pertahanan Negara diimplementasikan dengan mengerahkan seluruh sumber daya nasional, melalui proses transformasi atau mengubah serta meningkatkan nilai guna dan daya guna potensi sumber daya nasional tersebut, yang meliputi:
a. Sumber Daya Manusia (SDM) adalah warga negara yang memberikan daya dan usahanya untuk kepentingan bangsa dan negara.
b. Sumber Daya Alam (SDA) adalah potensi yang terkandung dalam bumi, air, dan udara yang dalam wujud asalnya dapat didayagunakan untuk kepentingan Pertahanan Negara.
c. Sumber Daya Buatan adalah sumber daya alam yang telah ditingkatkan daya gunanya untuk kepentingan Pertahanan Negara.
Penguatan sumber daya nasional dilaksanakan melalui berbagi usaha yaitu: Bela Negara; Penataan Komponen Pendukung; Pembentukan Komponen Cadangan; Penguatan Komponen Utama; serta Mobilisasi dan Demobilisasi, yang akan dipaparkan pada uraian berikut ini :
4.1. Bela Negara
Bela Negara adalah tekad, sikap, dan perilaku serta tindakan warga negara, baik secara perseorangan maupun kolektif dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dan Negara, yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945, dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia dan Negara dari berbagai Ancaman.41
Usaha Bela Negara diwujudkan dalam setiap aktivitas Warga Negara, baik fisik maupun nonfisik, sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya, meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya, serta pertahanan keamanan, baik dalam masa damai maupun dalam masa perang. Setiap Warga Negara Indonesia mempunya hak dan kewajiban terhadap pembelaan Negara sebagai berikut:42
41 Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 23 Tahun 2019, op.cit 42 Ibid
23
a. Hak Warga Negara dalam usaha Bela Negara berupa:
1) Mendapatkan pendidikan kewarganegaraan yang dilaksanakan melalui Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN). PKBN merupakan segala usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memberikan pengetahuan, pendidikan dan/atau pelatihan kepada Warga Negara guna menumbuh-kembangkan sikap dan perilaku yang mencerminkan 5 (lima) Nilai Dasar Bela Negara yaitu: Cinta Tanah Air; Sadar Berbangsa dan Bernegara; Setia pada Pancasila sebagai Ideologi Negara; Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara; dan Kemampuan Awal Bela Negara.
PKBN diselenggarakan di 3 (tiga) lingkup yaitu :
a) Lingkup Pendidikan, dilaksanakan melalui sistem pendidikan nasional, dan diselenggarakan pada setiap jalur, jenjang dan jenis pendidikan.
PKBN melalui sistem pendidikan dilaksanakan oleh Kementerian Pertahanan bekerjasama dengan Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan.
b) Lingkup Masyarakat, ditujukan bagi Warga Negara yang meliputi: Tokoh Agama; Tokoh Masyarakat; Tokoh Adat; Kader Organisasi Masyarakat; Kader Organisasi Komunitas; Kader Organisasi Profesi; Kader Parta Politik; dan Kelompok Masyarakat Lainnya.
c) Lingkup Pekerjaan, ditujukan bagi Warga Negara yang bekerja pada: lembaga negara; kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian dan pemerintah daerah;Tentara Nasional Indonesia; Kepolisian Negara Republik Indonesia; Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah; Badan Usaha Swasta; dan Badan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2) Mendaftar sebagai calon anggota Tentara Nasional Indonesia. 3) Mendaftar sebagai calon anggota Komponen Cadangan. b. Kewajiban Warga Negara dalam usaha Bela Negara meliputi:
1) Kewajiban yang diberlakukan kepada Warga Negara yang menjadi prajurit TNI sebagai alat Pertahanan Negara. Keikutsertaannya dalam usaha Bela Negara
24
dilaksanakan melalui pengabdian sebagai prajurit TNI secara sukarela atau secara wajib.
2) Kewajiban yang diberlakukan kepada Warga Negara sebagai anggota Komponen Cadangan yang di-Mobilisasi dalam menghadapi ancaman militer dan hibrida. Keikutsertaannya dalam usaha Bela Negara dilaksanakan melalui pelatihan dasar kemiliteran secara wajib, yang diberlakukan bagi Warga Negara sebagai calon Komponen Cadangan yang memenuhi persyaratan.
Disamping melalui pendidikan kewarganegaraan, pelatihan dasar kemiliteran secara wajib, serta pengabdian sebagai prajurit TNI secara sukarela atau secara wajib, keikutsertaan Warga Negara Indonesia dalam usaha Bela Negara juga diselenggarakan melalui pengabdian sesuai dengan profesi.
Pengabdian sesuai dengan Profesi adalah pengabdian Warga Negara yang mempunyai profesi tertentu untuk kepentingan Pertahanan Negara, termasuk dalam menanggulangi dan/atau memperkecil akibat yang ditimbulkan oleh perang, bencana alam, atau bencana lainnya. Profesi yang yang dibutuhkan untuk pertahanan Negara antara lain : pilot, nakoda kapal, supir, tenaga kesehatan, ahli IT, insinyur sipil, insinyur mesin, ahli metalurgi, ahli cuaca, ahli kimia, ahli fisika, ahli komunikasi, ahli hukum, teknik elektro, peneliti pertahanan dan pemerhati pertahanan, sosiolog, psikolog, ahli nuklir, ahli bahan peledak, peneliti intelijen, ahli strategi, ahli forensik, dan lain-lain.
Setiap Warga Negara melaksanakan pengabdian sesuai dengan profesinya untuk kepentingan Pertahanan Negara. Pengabdian sesuai dengan profesi disiapkan secara dini untuk menghadapi Ancaman militer, Ancaman nonmiliter, dan Ancaman hibrida. Pengabdian sesuai dengan profesi untuk menghadapi Ancaman militer dan Ancaman hibrida dilakukan melalui keanggotaan Komponen Cadangan dan/atau Kom-ponen Pendukung. Sedangkan pengabdian sesuai dengan profesi untuk menghadapi Ancaman nonmiliter dikoordinasikan oleh kementerian atau lembaga pemerintah non kementerian sesuai dengan bidang profesi yang berkaitan dengan tugas dan fungsi kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian tersebut.43
43 Ibid