LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK
Acara:
III
Lemak
Disusun oleh:
Nama
: Yunisha Febriani
No. Mhs
: 140801460
Hari/Tanggal
: Jumat, 10 Maret 2015
Asisten
: Stefani Eka Aprilia
LABORATORIUM TEKNOBIO PANGAN
FAKULTAS TEKNOBIOLOGI
UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA
PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK
Judul Acara: Lemak
N
O KRITERIA
NILAI
STANDART
NILAI REVISI I
NILAI
ACC
Cover - -
-Lembar Pengesahan - - -PENDAHULUAN
JUDUL PERCOBAAN 2 TUJUAN PRAKTIKUM 3 II TINJAUAN PUSTAKA 10 III METODE
ALAT DAN BAHAN 5 CARA KERJA 5 III HASIL DAN PEMBAHASAN 40 IV KESIMPULAN 10 V DAFTAR PUSTAKA 5 **
* Lampiran - -
-**
* Format - -
-JUMLAH 80
Nama Mahasiswa : Yunisha Febriani No Mhs : 140801460 Mengetahui,
Asisten
A. Judul Lemak
B. Tujuan
II. TINJAUAN PUSTAKA
Lemak
Lipid adalah salah satu kategori molekul biologis yang besar yang tidak mencakup polimer. Senyawa yang disebut lipid dikelompokkan bersama karena memiliki satu ciri penting: lipid tidak memiliki atau sedikit sekali afinitasnya terhadap air. Perilaku hidrofobik lipid didasarkan pada struktur molekulnya. Meskipun lipid bisa memiliki ikatan polar yang berikatan dengan oksigen, lipid sebagian besar terdiri atas hidrokarbon (Campbell, dkk., 2002).
Lipid sederhana hanya tersusun atas unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Lipid ini dibedakan atas dua golongan, yaitu golongan lemak (fat) dan golongan malam (wax). Golongan lipid sederhana seperti lemak, selain berfungsi sebagai sumber energi yang efisien, juga berperan sebagai pelarut vitamin yang tidak larut dalam air, serta sebagai sumber asam lemak esensial. Selain itu, beberapa lipid yang terdapat dalam tubuh kita mempunyai fungsi khusus. Bloor mengklasifikasikan lipid menjadi lipid sederhana (simple lipid), lipid majemuk (compound lipid), dan derivat atau turunan lipid (Sumardjo, 2009).
Lemak disusun dari dua jenis molekul yang lebih kecil: gliserol dan asam lemak. Gliserol adalah sejenis alkohol yang memiliki tiga karbon, yang masing-masing mengandung sebuah gugus hidroksil. Asam lemak memiliki kerangka karbon yang panjang, umumnya 16 sampai 18 atom karbon panjangnya. Salah satu ujung asam lemak itu adalah “kepala” yang terdiri atas suatu gugus karboksil, gugus fungsional yang menyebabkan molekul ini disebut asam lemak. Yang berikatan dengan gugus karboksil itu adalah hidrokarbon panjang yang disebut “ekor”; ikatan C–H nonpolar yang terdapat pada ekor asam lemak itu menyebabkan lemak bersifat hidrofobik (Campbell, dkk., 2002).
dan asam lemak gliserol mempunyai tiga gugusan hidroksil di mana masing-masing akan mengikatsatu molekul asam lemak disebut trigliserida. Gambar 2.1 berikut ini menunjukkan struktur kimia dari trigliserida:
Gambar 2.1 Trigliserida
(Suhardjo dan Kusharto, 2010)
Asam Lemak
Asam lemak berasal dari makanan atau disintesis terutama di hati dari glukosa. Rangkaian enzim yang bekerja pada asam lemak dan lokasi jalur untuk metabolisme asam lemak berbeda-beda bergantung pada jumlah karbon dalam rantai asam lemak. Asam lemak dibagi menjadi empat kelompok: rantai pendek dengan 2 atau 3 karbon (asetat dan propionat), rantai sedang dengan 4-12 karbon, rantai panjang dengan 12-20 karbon, dan rantai sangat panjang dengan lebih dari 20 karbon. Asam lemak rantai panjang dengan 14-20 karbon merupakan asam lemak yang utama di dalam tubuh (Marks, dkk., 2000).
Asam lemak jenuh (saturated fatty acids) tidak mempunyai ikatan rangkap dalam struktur kimianya. Ada beberapa asam lemak jenuh, baik yang terdapat pada tanaman, hewan ataupun manusia. Pada umumnya asam lemak jenuh merupakan unit penyusun lemak hewan atau manusia. Ada beberapa asam lemak jenuh yang larut dan tidak larut dalam air, kelarutannya dalam air semakin berkurang dengan bertambahnya jumlah atom karbon penyusunnya. Contoh dari asam lemak jenuh adalah C3H7COOH (asam butirat), C5H11COOH (asam kaproat),
Menurut Sumardjo (2009), rantai karbon asam-asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acids), mempunyai satu atau lebih ikatan rangkap dua. Pada umumnya, asam lemak tak jenuh yang terdapat di alam dan mempunyai dua atau lebih ikatan rangkap, ikatan rangkap tersebut bersifat nonkonjugasi. Dibandingkan dengan asam-asam lemak jenuh, asam lemak tak jenuh ternyata mempunyai titik lebur lebih rendah. Jumlah asam lemak tak jenuh yang menyusun lipid alami lebih banyak dibandingkan dengan asam lemak jenuh. Contoh dari asam lemak tak jenuh adalah asam oleat dan struktur kimianya adalah sebagai berikut:
H3C – (CH2)7 – CH = CH – (CH2)7 – COOH
Sifat Lemak
Lemak murni tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Lemak tumbuh-tumbuhan yang berwarna dapat disebabkan oleh adanya pigmen asalnya, misalnya karotena, xantofil, tokoferol, atau klorofil. Karena proses kimia, misalnya proses oksidasi atau proses hidrolisis, rasa dan bau lemak menjadi tidak enak atau tengik. Lemak-lemak netral (neutral fats), yang asam lemak penyusunnya memiliki rantai karbon yang panjang, tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut lemak. Pelarut lemak yang baik antara lain benzene, kloroform, dan dietil eter. Titik lebur (melting point) lemak rendah, tetapi lebih tinggi dari suhu saat menjadi padat kembali (setting point) (Sumardjo, 2009).
Pembentukan Lemak
Menurut Fried dan Hademenos (2006), proses pembentukan lemak terjadi dalam dua tahap. Tahapan pertama yang penting, disebut lipogenesis, melibatkan pembentukan sebuah asam lemak berantai panjang. Peristiwa ini terjadi di luar mitokondria dan melibatkan keikutsertaan sebuah kompleks multienzim. NADPH, sebuah koenzim tereduksi yang aktif dalam berbagai proses sintesis, memainkan peranan penting dalam pembentukan asam lemak yang sangat tereduksi.
itu telah mengarahkan sejumlah ahli biokimia pada kesimpulan bahwa lemak dibentuk jika ada karbohidrat (Fried dan Hademenos, 2006).
Sabun
Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencurci dan membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang karena sejarah dan bentuk umumnya. Sabun menurunkan tegangan permukaan air, sehingga memungkinkan air untuk membasahi bahan yang dicuci dengan lebih efektif (Naomi, dkk., 2013). Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat sabun adalah asam stearat, minyak, natrium hidroksida (NaOH), gliserin, gula pasir, etanol, surfaktan, natrium klorida (NaCl), asam sitrat, pewarna, dan pewangi. Istilah penyabunan (saponification) (artinya pembuatan sabun) mula-mula digunakan untuk menjelaskan reaksi antara ester dan natrium hidroksida menghasilkan molekul sabun (natrium stearat):
C17H35COOC2H5 + NaOH C17H35COO–Na+ + C2H5OH
Etil stearat natrium stearat
Penyabunan kini telah menjadi istilah umum untuk hidrolisis basa dari semua jenis ester. Molekul sabun dicirikan oleh rantai hidrokarbon nonpolar yang panjang dan kepala polar (gugus –COO-). Rantai hidrokarbon mudah larut dalam
zat berminyak, sedangkan gugus ion karboksilat (–COO-) tetap di luar permukaan
nonpolar minyak. Gambar 2.2 menunjukkan cara kerja sabun:
Gambar 2.2 Kerja pembersihan oleh sabun. Molekul sabun digambarkan dengan kepala polar dan ekor hidrokarbon zigzag. Setetes minyak dapat dihilangkan dengan sabun karena ekor nonpolar larut dalam minyak, dan keseluruhan sistem menjadi larut dalam air karena bagian luar sekarang bersifat ionik
Sifat Sabun sebagai Agen Pengemulsi
Penggunaan surfaktan terbagi menjadi tiga golongan, yaitu sebagai bahan pembasah (wetting agent), bahan pengemulsi (emulsifying agent), dan bahan pelarut (solubiliting agent). Daya kerja pengemulsi disebabkan oleh bentuk molekul yang dapat terikat pada minyak dan air. Pemakaian surfaktan berfungsi sebagai peningkat kestabilan emulsi dengan cara menurunkan tegangan antar-muka antara fase pendispersi dan fase terdispersi. Surfaktan baik digunakan sebagai untuk emulsi minyak dalam air maupun untuk air dalam minyak. Tegangan permukaan larutan akan turun bila dalam larutan ditambahkan surfaktan (Rosen, 2004).
Pengaruh Air Sadah
Salah satu parameter kimia dalam persyaratan kualitas air adalah jumlah kandungan unsur Ca2+ dan Mg2+ dalam air yang keberadaannya biasa disebut
kesadahan air. Kesadahan adalah istilah yang digunakan pada air yang mengandung kation penyebab kesadahan. Kalsium dalam air mempunyai kemungkinan bersenyawa dengan bikarbonat, sulfat, klorida dan nitrat, sementara itu magnesium terdapat dalam air kemungkinan bersenyawa dengan bikarbonat, sulfat dan klorida. Kesadahan dalam air sangat tidak dikehendaki baik untuk penggunaan rumah tangga maupun untuk penggunaan industri. Bagi air rumah tangga, tingkat kesadahan yang tinggi mengakibatkan konsumsi sabun lebih banyak karena sabun jadi kurang efektif akibat salah satu bagian dari molekul sabun diikat oleh unsur Ca atau Mg (Said, 2008).
Uji Sifat Lemak
Pada uji ketidakjenuhan lipid, uji ini digunakan untuk membedakan lemak jenuh dan lemak tak jenuh. Parameter pengujian yang digunakan adalah adanya reaksi positif (berupa timbulnya warna merah saat ditetesi ion Hubs). Jika asam lemaknya tidak jenuh, maka akan timbul warna merah yang semakin lama semakin pudar. Jika asam lemaknya jenuh, maka timbul warna merah tetapi tidak pudar (Kartika, 2014).
III. METODE
A. Alat
1. Plat tetes 2. Gelas beker 3. Gelas ukur 4. Pipet tetes 5. Tabung reaksi 6. Rak tabung reaksi 7. Indikator universal 8. Pipet ukur
9. Pro pipet 10. Vortex
B. Bahan
1. Larutan sabun 2. Larutan CH3COOH
3. Larutan CaCl2 1%
4. Larutan MgSO4 1%
5. Larutan Pb Asetat 1% 6. Larutan HCl pekat 7. Larutan KMnO4 0,1N
8. Larutan eter 9. Minyak 10. Aquadest
C. Cara Kerja
1. Cara kerja uji pembentukan garam
D. Larutan sabun sebanyak 30ml diambil, kemudian dimasukkan ke dalam gelas beker. Setelah itu, larutan dicek pH-nya sampai pH = 7, jika belum 7 larutan ditambah dengan larutan CH3COOH sampai pH = 7. Larutan dibagi ke dalam tiga tabung reaksi
sama rata. Setelah dibagi rata, tabung pertama berisi 5ml larutan sabun ditambah larutan CaCl2 1% sebanyak 7 tetes, tabung kedua berisi 5ml
larutan sabun ditambah larutan MgSO4 1% sebanyak 7 tetes, dan
tabung ketiga berisi 5ml larutan sabun ditambah larutan Pb Asetat 1% sebanyak 7 tetes. Diamati perubahan yang terjadi pada masing-masing tabung.
2. Cara kerja uji hidrolisa sabun
E. Larutan sabun sebanyak 10ml diambil dan ditambahkan dengan 5ml akuades, kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Setelah itu, larutan ditambahkan dengan indikator PP sebanyak 3 tetes. Larutan lalu divortex sampai homogen dan diamati perubahan yang terjadi.
3. Cara kerja uji sifat emulsi lemak
F. Dalam tabung reaksi pertama, sebanyak 2ml akuades dimasukkan ke dalam tabung, kemudian ditambahkan dengan minyak sebanyak 5 tetes. Dalam tabung reaksi kedua, sebanyak 2ml akuades dimasukkan ke dalam tabung, kemudian ditambahkan dengan minyak sebanyak 5 tetes dan larutan sabun sebanyak 2ml. Setelah itu, larutan divortex dan didiamkan serta diamati perubahan yang terjadi.
4. Cara kerja uji sifat ketidakjenuhan lemak
G. Sebanyak 2ml minyak dan larutan eter sebanyak 5ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Setelah itu, larutan divortex dan ditambahkan dengan larutan KMnO4 0,1N sebanyak 3 tetes. Diamati
perubahan yang terjadi pada tabung. 5. Cara kerja uji pembuatan asam minyak
divortex dan didiamkan hingga terbentuk dua lapisan. Diamati perubahan yang terjadi pada tabung.
I. tabel hasil uji pembuatan garam pada tabel 1, hasil uji hidrolisa sabun pada tabel 2, hasil uji ketidakjenuhan lemak pada tabel 3, hasil uji sifat emulsi lemak pada tabel 4, dan hasil uji pembuatan asam minyak pada tabel 5:
Y. Tabel 1. Tabel Hasil Uji Pembentukan Garam
Z. Larutan AA. Warna BB. Endapan
Garam
OO. Pb Asetat PP. Putih keruh
QQ. Putih
keruh RR. ++
SS. Tabel 2. Tabel Hasil Uji Hidrolisa Sabun
TT. Larutan sabun WW. AwalUU. WarnaXX. Akhir YY. Ditambah
Phenolphthalein ZZ. Bening
CCC. Tabel 3. Tabel Hasil Uji Ketidakjenuhan Lemak
MMM.Tabel 4. Tabel Hasil Uji Sifat Emulsi Lemak
NNN. Minyak OOO. W VVV. Aquades 2ml + 5 tetes
minyak + 2ml larutan sabun
WWW.P
AAAA. Tabel 5. Tabel Hasil Uji Pembuatan Asam Minyak BBBB. Larut
IIII. Lipid adalah salah satu kategori molekul biologis yang besar yang tidak mencakup polimer. Senyawa yang disebut lipid dikelompokkan bersama karena memiliki satu ciri penting: lipid tidak memiliki atau sedikit sekali afinitasnya terhadap air. Perilaku hidrofobik lipid didasarkan pada struktur molekulnya. Meskipun lipid bisa memiliki ikatan polar yang berikatan dengan oksigen, lipid sebagian besar terdiri atas hidrokarbon (Campbell, dkk., 2002).
larutan sabun menjadi 7. Perlakuan ini dilakukan bertujuan untuk menetralkan larutan sabun yang bersifat basa menggunakan larutan asam, sehingga larutan sabun menjadi netral. Larutan sabun diperlukan dalam suasana netral agar tidak mengganggu jalannya reaksi pembentukan garam.
KKKK. Fungsi dari ketiga larutan yang digunakan (CaCl2, MgSO4,
Pb Asetat) adalah sebagai larutan pembentuk garam yang berfungsi mengekstraksi asam lemak dari larutan sabun, hanya saja kekuatan keelektropositifan dalam ekstraksi berbeda-beda tergantung reaksi yang akan terjadi nantinya. Saat ditambahkan dengan CaCl2 tidak terjadi perubahan pada
warna larutan, yaitu putih keruh. Setelah didiamkan beberapa saat baru terbentuk endapan garam. Endapan pada tabung ini paling banyak diantara tabung lainnya. Endapan garam berasal dari pembentukan ikatan Ca+ dengan
larutan sabun, dan endapan menunjukkan adanya pembentukan garam. Reaksi kimia yang terjadi adalah:
LLLL. 2 C17H35COONa + CaCl2 2 NaCl + Ca(C17H35COO)2
MMMM. Saat ditambahkan dengan MgSO4 tidak terjadi perubahan
pada warna larutan, yaitu putih keruh. Setelah didiamkan beberapa saat baru terbentuk endapan garam. Endapan pada tabung ini paling sedikit diantara tabung lainnya. Endapan garam yang terbentuk menunjukkan adanya pembentukan garam. Reaksi kimia yang terjadi adalah:
NNNN. 2 C17H35COONa + MgSO4 Na2SO4 + Mg(C17H35COO)2
OOOO. Penambahan Pb asetat ke dalam larutan sabun juga tidak menimbulkan perubahan warna, yaitu warna larutan tetap putih keruh. Sesudah didiamkan beberapa saat, barulah terbentuk endapan. Endapan ini memiliki jumlah sedang (rata-rata) dari ketiga tabung. Terbentuknya endapan ini mengindikasikan adanya pembentukan garam. Reaksi yang terjadi adalah:
PPPP. 2 C17H35COONa + Pb(CH3COOH)2 2 CH3COONa +
Pb(C17H35COO)2
berada di golongan II A periode 3. Akan tetapi endapan yang terbentuk mengindikasi kelarutannya, jadi semakin banyak endapannya maka semakin rendah kelarutannya, begitu pula sebaliknya. Larutan dalam tabung didiamkan sebentar hingga terbentuk endapan bertujuan agar larutan dapat bereaksi dengan baik.
RRRR.Pada uji hidrolisa sabun, uji ini bertujuan untuk mengetahui proses hidrolisis sabun. Hidrolisa adalah peristiwa penambahan akuades yang dapat memutuskan ikatan rangkap. Fungsi dari penambahan akuades ini adalah sebagai pelarut polar yang memisahkan antara air sabun dan lemak yang terlarut di dalamnya, serta dapat memutuskan ikatan rangkap dan sebagai pengencer. Penambahan indikator PP bertujuan agar larutan sabun berubah warna menjadi merah muda, dan sebagai indikator ada atau tidaknya basa dalam suatu larutan.
SSSS. Uji ini dapat digunakan untuk menentukan reaktan (baik alkali kuat maupun lemah) yang membentuk sabun. Reaksi kimia yang terjadi adalah:
TTTT. 2 C17H35COONa + H2O 2 C17H35COO- + NaOH
UUUU. Larutan berwarna merah muda disebabkan adanya hasil (produk) dari reaksi kimia tersebut yaitu NaOH, sehingga saat bereaksi dengan indikator PP menyebabkan warnanya berubah menjadi merah muda karena bersifat basa. Larutan dalam tabung divortex bertujuan agar larutan menjadi homogen.
VVVV. Pada uji ketidakjenuhan lemak, uji ini bertujuan untuk mengetahui sifat ketidakjenuhan lemak. Fungsi penambahan eter adalah sebagai pelarut non polar dan untuk melarutkan minyak. Tabung reaksi divortex agar larutan menjadi homogen, dan minyak benar-benar terlarut dalam eter. Fungsi penambahan larutan KMnO4 adalah sebagai oksidator
yang memecah ikatan rangkap lemak (lemak tak jenuh) menjadi ikatan tunggal (asam lemak jenuh). Mula-mula larutan berwarna bening kekuningan dan tidak terjadi perubahan warna.
XXXX. Oleic acid-Monounsaturated Fatty Acid + KMnO 4 H2O
Dihidroksi asam stearat + MnO2 (mengendap)
YYYY. Endapan di bawah tabung reaksi adalah MnO2 yang
mengindikasikan adanya sifat ketidakjenuhan lemak, karena dari ikatan tak jenuh mampu dioksidasi oleh KMnO4 menjadi ikatan tunggal.
ZZZZ. Pada uji sifat emulsi lemak, uji ini bertujuan untuk mengetahui adanya emulsi pada lemak. Untuk mengetahuinya dibutuhkan dua larutan yang mempunyai sifat dan ciri berbeda kemudian dicampurkan. Larutan pertama adalah akuades + minyak, larutan kedua adalah akuades + minyak + larutan sabun. Pada tabung pertama seharusnya tidak terbentuk emulsi karena air (bersifat polar) dan minyak tidak dapat bersatu dan pada hasil pengamatan, air dan minyak membentuk dua lapisan serta terbentuk sedikit emulsi yang berbentuk menggumpal. Pada tabung kedua terjadi emulsi karena ada larutan sabun yang berfungsi sebagai emulsifier.
AAAAA. Emulsifier dapat menstabilkan suatu emulsi karena menurunkan tegangan permukaan secara bertahap. Tegangan permukaan menurun karena terjadi adsorpsi oleh emulsifier pada permukaan cairan dengan bagian ujung yang polar berada di air dan ujung hidrokarbon pada minyak. Daya kerja emulsifier disebabkan oleh bentuk molekulnya yang dapat terikat baik dalam minyak maupun dalam air. Emulsifier akan membentuk lapisan di sekeliling minyak sebagai akibat menurunnya tegangan permukaan. Lapisan yang dibentuk emulsifier adalah lapisan misel dan lapisan ini terjadi karena sifat larutan sabun yang skizofeni yaitu memiliki ekor hidrofobik dan kepala hidrofilik (Kurniasari, 2010).
(asam kuat) dapat memecah ikatan rangkap pada sabun sehingga dihasilkan asam lemak dan molekul garam. Saat sabun ditambah asam kuat akan menghasilkan asam lemak dan garam dengan reaksi kimia sebagai berikut:
CCCCC. C17H35COONa + HCl C17H35COOH + NaCl
LLLLL. Sifat lemak adalah tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa (lemak murni), serta titik leburnya rendah.
MMMMMM. DAFTAR PUSTAKA
NNNNNN.
OOOOOO. Campbell, N.A., Reece, J.B., dan Mitchell, L.G. 2002.
Biologi Edisi Kelima Jilid
PPPPPP. Erlangga, Jakarta.
TTTTTT. Kartika, D. 2014. Lipid dan Lemak.
dwi.blog.unsoed.ac.id/files/2014/05/LIPID-UUUUUU. DAN-LEMAK.pdf. Diakses tanggal 8 April 2015. VVVVVV.Kurniasari, K. 2010. Optimasi Penambahan Alginat Sebagai
Emulsifier.
WWWWWW. http://eprints.undip.ac.id/16676/3/LAPORAN_PEN ELITIAN.pdf. Diakses
XXXXXX. tanggal 8 April 2015.
YYYYYY.Marks, D.B., Marks, A.D., dan Smith, C.M. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar.
ZZZZZZ. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
AAAAAAA. Naomi, P., Gaol, A.M., dan Toha, M.Y. 2013. Pembuatan Sabun Lunak dari
BBBBBBB. Minyak Goreng Bekas Ditinjau dari Kinetika Reaksi Kimia. Jurnal Teknik
CCCCCCC. Kimia, 2(19): 42-48.
DDDDDDD. Rosen, M.J. 2004. Surfactants and Interfacial Phenomena. John Wiley, New
KKKKKKK. Suhardjo dan Kusharto, C.M. 2010. Prinsip-prinsip Ilmu Gizi. Kanisius,
LLLLLLL. Yogyakarta.
MMMMMMM. Winarno, F. G. 1984. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia, Jakarta.
RRRRRRR.
BBBBBBBB. Gambar 1. Uji pembentukan
garam dengan larutan CaCl2
CCCCCCCC. (Dok. Pribadi)
KKKKKKKK. Gambar 2. Uji pembentukan
garam dengan larutan MgSO4
LLLLLLLL. (Dok. Pribadi)
TTTTTTTT. Gambar 3. Uji pembentukan
garam dengan larutan Pb Asetat
EEEEEEEEE. Gambar 4. Uji ketidakjenuhan lemak dengan endapan di dasar tabung
FFFFFFFFF. (Dok. Pribadi) GGGGGGGGG.
HHHHHHHHH. IIIIIIIII.
JJJJJJJJJ. KKKKKKKKK.
LLLLLLLLL. MMMMMMMMM.
NNNNNNNNN. Gambar 5. Uji pembuatan asam minyak (bagian yang dilingkari adalah emulsi)
OOOOOOOOO. (Dok. Pribadi) PPPPPPPPP.
QQQQQQQQQ. RRRRRRRRR.
SSSSSSSSS. TTTTTTTTT. UUUUUUUUU. VVVVVVVVV.
WWWWWWWWW. Gambar 6. Uji sifat emulsi lemak
XXXXXXXXX. (Dok. Pribadi)