commit to user 5 BAB II LANDASAN TEORI A. AROMATERAPI 1. Pengertian
Aromaterapi dikenal sebagai suatu tindakan perawatan alami untuk
menyembuhkan penyakit secara menyeluruh (Primadiati,
2002).Aromaterapi adalah salah satu teknik pengobatan atau perawatan menggunakan bau-bauan yang menggunakan minyak esensial aromaterapi (Prima Dewi, 2011).
Aromaterapi merupakan suatu metode yang menggunakan minyak atsiri untuk meningkatkan kesehatan fisik dan juga memengaruhi kesehatan emosi seseorang.Minyak atsiri dapat dimanfaatkan sebagai anti-inflamasi, antiseptik, merangsang nafsu makan, karminatif, koleretik, merangsang sirkulasi, deodorant, ekspektoran, stimulasi granulasi, insektisida, insekrepelen, dan sedative (Koensoemardiyah, 2009).
2. Jenis – jenis aromaterapi
Aromaterapi memiliki berbagai macam jenis, antara lain aromaterapi yang berasal dari bunga lili, benzoin, apel, cendana
(sandalwood), peppermint, chamomile ,jasmine, lavender, rose, dan
lain sebagainya. Aromaterapi tersebut memiliki manfaat merilekskan, aromaterapi tersebut memiliki keunggulan masing-masing dalam hal
commit to user
menenangkan, menyembuhkan, merangsang, pembangkit semangat (Primadiati, 2002).
3. Manfaat Aromaterapi
Koensoemardiyah (2009) memaparkan berbagai macam manfaat aromaterapi dalam kehidupan, antara lain :
a. Minyak atsiri sebagai antiseptic
Minyak atrisi bekerja sebagai antiseptik adalah menanggulangi penyakit akibat infeksi pernapasan.
b. Minyak atsiri sebagai zat analgesik
Sifat analgetik aromaterapi bekerja karena ada sifat anti radang (anti-inflamasi) efek pada peredaran darah dan menghilangkan racun atau efek mati rasa.
c. Minyak atsiri sebagai zat anti radang
Minyak atsiri bermanfaat untuk meringankan peradangan ringan, seperti terkena sinar matahari dan gigitan serangga.
d. Minyak atsiri sebagai zat antitoksin
Minyak atsiri mempunyai efek menginaktivasi racun yang dihasilkan bakteri.
e. Minyak atsiri sebagai zat balancing
Minyak atsiri mempunyai efek balancing yang ditandai efek kontradiksi dari suatu minyak atsiri. Satu minyak atsiri pada suatu keadaan mungkin berkhasiat membangunkan, sedang pada keadaan lain berkhasiat menidurkan.
f. Minyak atsiri sebagai zat immunostimulan
Peran sebagai immunostimulan bekerja dengan cara meningkatkan immunoglobin.
g. Minyak atsiri sebagai zat mukolitik dan ekspektoran
Peran sebagai zat mukolitik karena mengandung karvon, menton, thuyon, pinokamfon. Aplikasinya secara inhalasi sehingga dapat memasuki sistem pernapasan
4. Cara Kerja
Minyak atsiri akan memberikan efek kesembuhan harus dikenakan pada badan manusia (Koensoemardiyah, 2009). Ada beberapa cara dalam penggunaan aromaterapi, antara lain :
a. Ingesti
Penggunaan aromaterapi dengan cara ingesti adalah melalui mulut dan kemudian kesaluran pencernaan. Sasaran ke saluran pencernaan juga dapat dilakukan melalui dubur atau liang kemaluan (Primadiati, 2002). Minyak atsiri yang digunakan dalam cara ini harus dalam keadaan terlarut
b. Olfaksi atau inhalasi
Proses melalui penciuman merupakan jalur yang sangat cepat dan efektif untuk menanggulangi masalah gangguan emosional. Rongga hidung mempunyai hubungan langsung dengan sisten susunan saraf pusat yang bertanggungjawab terhadap kerja minyak esensial (Primadiati, 2002). Koensomardiyah (2009)
commit to user
menjelaskan bahwa penggunaan aromaterapi inhalasi dapat dilakukan dengan cara :
1) Dengan bantuan botol semprot
2) Dihirup melalui tissue atau sarung tangan
Menurut Buckle (2004) minyak atsiri diteteskan sebanyak 5-6 tetes.Sangat efektif bila dibutuhkan hasil yang cepat (immediate result), lama penggunaan metode inhalasi 5-10 menit. Seorang penderita asma tidak boleh diberikan terapi inhalasi lebih dari 30 detik (Primadiati, 2002)
Koensomardiyah (2009) menambahkan bahwa tisu yang sudah ditetesi dengan minyak lavender dapat diletakkan di dada sehingga minyak atsiri yang menguap akibat panas badan tetap terhirup oleh nafas pasien.
3) Dihisap melalui telapak tangan
Inhalasi melalui telapak tangan dilakukan dengan meneteskan minyak 1 tetes lalu dihirup dalam keadaan terpejam.
4) Penguapan
Metode ini dengan cara diteteskan dalam air panas lalu dihirup uapnya.
c. Absorbsi melalui kulit
Penyerapan minyak esensial melalui kulit akan memengaruhi kerja susunan saraf pusat dan sistem sirkulasi limfatik setelah
minyak esensial tersebut memasuki lapisan dermis kulit
(Primadiati,2002).Begitu menembus lapisan epidermis,
molekul minyak atsiri dapat dengan mudah menyebar ke bagian tubuh. Molekul itu akan bersirkulasi ke setiap sel dalam tubuh (Koensoemardiyah, 2009).
B. AROMATERAPI LAVENDER
1. Pengertian
Nama lavender berasal dari bahasa Latin “lavera” yang berarti menyegarkan.Bunga lavender memiliki 25-30 spesies, beberapa
diantaranya adalah Lavandula Angustifolia dan Lavandula
Stoechas.Penampakan bunga ini adalah berbentuk kecil, berwarna
ungu kebiruan dan tinggi tanaman mencapai 72cm. Tanaman ini tumbuh baik pada daerah dataran tinggi (Prima Dewi, 2011).
2. Kandungan minyak lavender
Salah satu kandungan yang berperan dalam minyak lavender adalah linalool.Menurut penelitian yang sudah dilakukan pada kandungan minyak lavender, didapatkan bahwa linalool adalah kandungan aktif utama yang berperan pada efek anti cemas (relaksasi) pada lavender (Prima Dewi, 2011)
3. Manfaat lavender
a. Penyembuhan sel-sel kulit yang terbakar sinar matahari, terluka, dan rash
commit to user b. Meringankan nyeri otot dan sakit kepala
c. Mengobati infkesi paru-paru, sinus, vagina dan kulit
(Koensoemardiyah, 2009)
d. Mengatasi masalah pencernaan dan gangguan menstruasi
e. Mengatasi keluhan sumbatan hidung atau sakit menelan akibat influenza (Primadiati, 2002)
f. Menghindarkan dari gigitan nyamuk
g. Dapat dijadikan minyak esensial yang sering dipakai sebagai
aromaterapi karena dapat memberikan manfaat relaksasi
(carminative) dan memiliki efek sedasi (sedative).
4. Kerja lavender dalam memberikan efek ketenangan
Arometerapi yang digunakan melalui cara dihirup akan menghantarkan pesan kimia melalui bulbusolfactory. Pesan kimia tersebut akan dikirimkan ke sistem limbik pada otak. Sistem limbik adalah sistem yang berhubungan dengan pusat nyeri, takut, senang, depresi, emosi dan marah.Didalam sistem limbik terdapat komponen
amygdale dan hippocampus.Amygdale bertanggungjawab atas respon
emosi kita terhadap aroma, sedangkan hippocampus bertanggungjawab atas memori dan pengenalan terhadap bau tempat dimana bahan kimia apada aromaterapi merangsang gudang-gudang penyimpanan memori otak kita terhadap pengenalan bau-bau (Prima Dewi, 2011).
Bau yang menyenangkan akan merangsang hipofisis mengeluarkan
menghasilkan perasaan sejahtera. Rasa tenang akan merangsang daerah di otak yang disebut raphe nucleus untuk mensekresi serotonin
yang menghantarkan tidur (Koensoemardiyah, 2009).
Menurut Buckle (2004), penggunaan aromaterapi lavender secara inhalasi dapat menimbulkan efek setelah dihirup selama 5-10 menit.
C. NYERI
1. Pengertian
Nyeri adalah suatu kondisi yang lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu (Potter dan Perry, 2006).Nyeri merupakan sensasi yang rumit, unik, universal dan bersifat individual.Dikatakan bersifat individual karena respons individu terhadap sensai nyeri beragam dan tidak bisa disamakan satu dengan lainnya (Asmadi, 2008).
2. Fisiologi Nyeri
Stimulus penghasil nyeri mengirimkan impuls melalui serabut saraf perifer. Serabut nyeri memasuki medulla spinalis dan menjalani salah satu dari beberapa rute saraf dan akhirnya sampai di dalam massa berwarna abu-abu di medulla spinalis. Terdapat pesan nyeri dapat berinteraksi dengan sel-sel saraf inhibitor, mencegah stimulus nyeri sehingga tidak mencapai otak atau ditransmisi tanpa hambatan ke
korteks serebral.Sekali stimulus nyeri mencapai korteks serebral,
commit to user
tentang pengalaman dan pengetahuan yang lalu serta asosiasi kebudayaan dalam upaya menginterpretasikan nyeri (Potter dan Perry, 2006).
3. Ambang Nyeri
Ambang nyeri adalah jumlah stimulasi nyeri yang dibutuhkan seseorang untuk merasakan nyeri.Individu dengan individu lainnya berbeda toleransi nyerinya.Satu individu dapat menahan rasa nyeri, namun tidak dengan individu lainnya.Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosiokultural. Toleransi nyeri meningkat sejalan dengan usia (Kozier, 2009).
4. Faktor yang Memengaruhi Nyeri
Banyak faktor yang memengaruhi nyeri seseorang, antara lain : a) Usia
Usia merupakan variabel penting yang memengaruhi nyeri, khususnya pada anak-anak dan lansia. Perbedaan perkembangan, yang ditemukan diantara kelompok usia ini dapat memengaruhi bagaimana anak-anak dan lansia bereaksi terhadap nyeri (Potter dan Perry, 2006).
Menurut Santrock (2012) memaparkan bahwa usia beranjak dewasa adalah usia 18-25 tahun dimana masa ini adalah masa transisi dari remaja menjadi dewasa. Masa ini adalah masa kritis yang dialami seorang individu yang akan memasuki usia dewasa. Masa ini ditandai dengan ketidakstabilan individu dalam memilih
jalan hidupnya. Berbeda dengan individu dengan usia lebih dari 25 tahun yang telah memiliki kestabilan emosi dan kemapanan hidup.
Upton (2013) menambahkan bahwa masa dewasa adalah masa dimana kondisi psikologis individu merasa mampu mengambil tanggungjaab atas tindakan-tindakan mereka dan mampu berinteraksi dengan orang-orang dewasa lainnya.
b) Jenis kelamin
Pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam berespons terhadap nyeri.
c) Makna nyeri
Makna seseorang yang dikaitkan dengan nyeri
memengaruhi pengalaman nyeri dan cara seseorang beradaptasi terhadap nyeri (Potter dan Perry, 2006).
d) Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat memengaruhi persepsi nyeri.Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya
pengalihan dihubungkan dengan respon nyeri yang
menurun.Konsep ini merupakan salah satu konsep yang perawat terapkan diberbagai terapi untuk menghilangkan nyeri (Potter dan Perry, 2006).
commit to user
Ancaman karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan mengontrol nyeri atau kejadian disekitarnya sering menambah persepsi nyeri.Keletihan mengurangi kemampuan seseorang untuk mengatasi nyeri sehingga meningkatkan persepsi nyeri.Orang yang sedang mengalami nyeri tetapi percaya bahwa mereka dapat mengontrol nyerinya dapat menurunkan rasa takut dan kecemasannya sehingga menurunkan persepsi nyeri. Persepsi kurangnya kontrol terhadap nyeri atau merasa tidak berdaya cenderung meningkatkan persepsi nyeri (Kozier, 2009)
Kecemasan menggambarkan kondisi psikologis individu. Ibu dengan kondisi psikologis yang tidak stabil akan mempersepsikan nyeri lebih dibandingkan dengan psikologis yang stabil. Hal ini didukung oleh Mander (2004), teori gerbang kendali menyatakan bahwa banyak faktor yang memengaruhi persepsi individual mengenai intensitas nyeri dan sebagian dari faktor ini adalah faktor psikologis, bukan fisiologis.
Kondisi psikologis ibu nifas antara lain postpartum blues
atau depresi ringan setelah melahirkan yang akan terjadi pada hari ke-3 dan hari ke-5. Postpartum blues tidak memengaruhi kemampuan ibu dalam merawat bayinya. Ibu masih bisa merawat bayinya dengan baik. Postpartum blues terjadi setelah ibu berada dirumah.
Pengalaman nyeri sebelumnya mengubah sensitivitas klien terhadap nyeri (Kozier, 2009). Individu yang mengalami nyeri dengan jenis sama berulang-ulang, tetapi nyeri tersebut berhasil dihilangkan maka akan lebih mudah dalam menginterpretasikan sensasi nyeri. Individu yang tidak pernah mengalami nyeri maka persepsi pertama nyeri akan mengganggu koping terhadap nyeri (Potter dan Perry, 2006).
g) Gaya Koping
Gaya koping yang dimaksud adalah pengontrolan pasien terhadap lingkungan terhadap hasil akhir dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.Individu yang memiliki lokus kendali internal mempersepsikan diri mereka sebagai individu yang dapat mengendalikan lingkungan mereka dan hasil akhir suatu peristiwa.Sebaliknya individu yang memiliki lokus eksternal mempersepsikan faktor-faktor lain didalam lingkungan mereka (Potter dan Perry, 2006).
Nyeri dapat menyebabkan ketidakmampuan individu. Klien seringkali menemukan berbagai cara untuk mengembangkan koping terhadap efek fisik dan psikologis. Sumber-sumber gayakoping seperti berkomunikasi dengan keluarga, melakukan latihan atau menyanyi dapat digunakan dalam rencana asuhan kebidanan untuk mendukung mengurangi tingkat nyeri (Potter dan Perry, 2006).
commit to user
Mobilisasi adalah bentuk latihan ibu nifas dengan jahitan nyeri perineum.Ambulasi yang dilakukan adalah berlatih duduk dan berjalan (Saleha, 2009). Ambulasi atau mobilisasi yang dilakukan dengan baik adalah salah satu gaya koping ibu untuk mengurangi rasa nyeri luka jahitan perineum.
h) Dukungan Keluarga dan Sosial
Individu yang mengalami nyeri sering bergantung terhadap oranglain.Apabila tidak ada keluarga atau teman, seringkali membuat pasien tertekan dan meningkatkan persepsi nyeri.(Potter dan Perry, 2006)
5. Penatalaksanaan Nyeri
Penatalaksanaan nyeri antara lain farmakologi dan non-farmakologi. Penatalaksanaan nyeri non-farmakologi antara lain hipnosis, acupressure,yoga, umpan balik, biologis (biofeedback), sentuhan terapeutik, terapi-aroma, jamu-jamuan atau uap (Bobak, 2004).
D. NYERI PASCANATAL
Menurut Mander (2004), pelaksanaan perawatan pascanatal kurang diperhatikan. Tenaga kesehatan terutama bidan banyak yang menganggap
bahwa masa pascanatal adalah masa yang kurang berharga dan kurang sumber daya. Macam – macam nyeri pascanatal antara lain :
1. Afterpain
Afterpain adalah nyeri setelah melahirkan.Afterpain merupakan nyeri
yang berhubungan dengan kontraksi Braxton Hicks.Wanita merasakan kontraksi uterus menimbulkan nyeri pada saat-saat tertentu.
2. Nyeri perbaikan perineum
Nyeri yang disebabkan oleh perbaikan perineum telah
diabaikan.Menurut penelitian yang telah dilakukan, hanya sepertiga wanita tidak merasakan nyeri selama prosedur ini.Wraight (1993) mengacu pada wanita yang tidak puas dengan pengendalian nyeri mereka selama penjahitan.
3. Nyeri perineum
Masalah nyeri perineum pascanatal tidak hanya pada nyeri itu sendiri, tetapi juga mengenai efeknya pada hubungan wanita dengan orang yang dekat dengannya.Berhubungan dengan kemampuan menyusui bayinya (Mander, 2004).
Menurut Prawirohardjo (2008), perineum merupakan ruang berbentuk jajaran genjang yang terletak dibawah dasar panggul. Perineum terletak antara vulva dan anus, dengan panjang rata-rata 4 cm. Pada saat persalinan kadangkala menimbulkan trauma perineal karena luka jahitan episiotomi dan laserasi yang menimbulkan rasa tidak
commit to user
nyaman pascapersalinan dalam jangka waktu yang panjang (Baston, 2012).
Menurut Baston (2012) terdapat klasifikasi trauma perineum dan genital yaitu derajat satu, dua, tiga dan empat.Derajat satu dideskripsikan cedera pada kulit perineum, derajat dua pada kulit dan otot-otot perineum, derajat tiga cedera pada kompleks sfingter ani, dan derajat empat cedera pada perineum meliputi kompleks sfingter ani dan epitel anus.
Nyeri perineum adalah suatu sumber morbiditas yang bermakna bagi banyak ibu setelah melahirkan, tidak hanya selama masa pascapersalinan awal melainkan juga untuk jangka waktu yang lebih panjang (Baston, 2012).
E. CARA KERJA LAVENDER SECARA INHALASI TERHADAP
NYERI
Nyeri digambarkan dengan diterimanya rangsang nyeri oleh saraf sensorik.Nyeri bekas jahitan perineum merupakan jenis nyeri dengan reseptor serabut saraf tipe delta C yaitu saraf dengan penerimaan lambat dan nyeri terasa berkelanjutan. Impuls nyeri ini akan diteruskan melalui
tractus ascendens yang dikenal dengan tractus spinotalamicus lateralis
(jaras penerimaan nyeri), yang selanjutnya dibawa ke sinaps columna
grisea posterior. Didalam sinaps tersebut dilepaskan neurotransmitter
oblongata, pons, korteks serebri maka nyeri akan terapresiasi serta dimulainya reaksi emosional. Reaksi emosional ini diatur oleh sistem limbik (Snell, 2006).
Minyak lavender yang digunakan secara inhalasi, akan memasuki hidung dan pesan ini akan mengaktifkan pusat emosi didalam sistem limbik yang selanjutnya akan mengantarkan pesan balik ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi. Pesan yang diantar ke seluruh tubuh akan dikonversikan menjadi suatu aksi dengan pelepasan substansi neurokimia yaitu endorphin yang menyebabkan perasaan senang, rileks, tenang (Koensoemardiyah, 2009). Dengan demikian aromaterapi lavender secara inhalasi akan memengaruhi reaksi emosi terhadap nyeri melalui manipulasi sistem limbik yang diatur untuk menghasilkan perasaan rileks, senang dan tenang. Buckle (2004) mengatakan bahwa relaksasi telah menunjukkan perubahan persepsi klien terhadap nyeri.
F. KEBUTUHAN DASAR IBU NIFAS
Periode postpartum adalah waktu penyembuhan dan perubahan, waktu kembali ke keadaan tidak hamil.Beberapa kebutuhan ibu nifas antara lain :
1. Kebutuhan nutrisi dan cairan
Ibu nifas membutuhkan nutrisi yang cukup, bergizi seimbang, terutama kebutuhan protein dan karbohidrat.Ibu nifas harus
commit to user
mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari yaitu sekitar 4 porsi makan per hari (Yeti, 2010).
Hubungan kebutuhan nutrisi dengan nyeri jahitan adalah ketika ibu
postpartum telah terpenuhi kebutuhan nutrisinya maka secara otomatis
keletihan akan sedikit berkurang. Potter dan Perry (2006) memaparkan bahwa keletihan adalah salah satu faktor yang memengaruhi nyeri. Seseorang dengan keletihan yang berat akan dengan mudah mempersepsikan nyeri yang sedang dialaminya.
2. Kebutuhan Ambulasi
Ambulasi dini ialah kebijaksanaan agar secepat mungkin ibu untuk bangun dari tempat tidur. Ambulasi ini antara lain gerakan miring ke kanan dan ke kiri, duduk dan jalan. Ambulasi dini dapat dilakukan apabila ibu tidak lemas dan tidak merasa pusing.
Ambulasi merupakan salah satu gaya koping responden untuk mengurangi tingkat nyeri jahitan perineum yang sedang dialami. Ibu dengan ambulasi (gaya koping) yang baik akan berbeda persepsi nyerinya dengan ibu yang memiliki gaya koping yang tidak baik. Sesuai dengan teori Potter dan Perry (2006) yang memaparkan bahwa gaya koping adalah pengontrolann pasien terhadap hasil akhir dari peristiwa-peristiwa yang terjadi. Individu yang memiliki lokus kendali internal mempersepsikan diri mereka sebagai individu yang dapat mengendalikan lingkungan mereka dan hasil akhir suatu peristiwa.
commit to user
Eliminasi adalah kebutuhan buang air kecil dan buang air besar (Yeti, 2010).Ibu postpartum paling tidak harus sudah dapat buang air kecil setelah 2 jam postpartum. Ibu postpartum yang sudah dapat BAK otomatis mobilisasi sudah baik sehinggaakan memengaruhi persepsi nyeri jahitan perineum.
4. Kebersihan Diri atau Perineum
Perawatan luka perineum bertujuan untuk mencegah infeksi, meningkatkan rasa nyaman dan mempercepat penyembuhan. Perawatan luka perineum dapat dilakukan dengan cara mencuci daerah genital dengan air dan sabun setiap kali habis BAK/BAB yang dimulai dengan mencuci bagian depan, baru kemudian daerah anus (Suherni, 2008).
5. Kebutuhan Istirahat
Ibu nifas memerlukan istirahat yang cukup, istirahat tidur yang dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari. Hal-hal yang dilakukan pada ibu untuk membantu memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur.
Istirahat berhubungan dengan keletihan yang ibu rasakan. Potter dan Perry (2006) memaparkan bahwa keletihan adalah salah satu faktor yang memengaruhi nyeri. Seseorang dengan keletihan yang berat akan dengan mudah mempersepsikan nyeri yang sedang dialaminya.
commit to user
Bagan 2.1Masuknya minyak atsiri ke dalam badan (Price dalam Koensoemardiyah, 2009)
Minyak atsiri lavender
Sistem limbik
Cortex Hipocampusamigdala
Hipotalamus
Sistem endokrin Sistem saraf otonom
Kelenjar pituitari
Hormon endorfin Penghilang rasa sakit alami
dan menghasilkan perasaan sejahtera
Raphe nucleus
Sekresi serotonin penghantar tidur Parfum minyak uap, obat semprot, inhalasi hidung
Membran sinyal
Mukosa elektrokimiawi
Nyeri Relaks
Minyak atsiri lavender
Sistem limbik
Cortex Hipocampusamigdala
Hipotalamus
Sistem endokrin Sistem saraf otonom
Kelenjar pituitari
Hormon endorfin Penghilang rasa sakit alami
dan menghasilkan perasaan sejahtera
Raphe nucleus
Sekresi serotonin penghantar tidur Parfum minyak uap, obat semprot, inhalasi hidung
Membran sinyal
commit to user
G. KERANGKA KONSEP
Bagan 2.2 Bobak (2004), Koensoemardiyah (2009), Primadiati (2002), Potter = variabel terikat
Aromaterapi Lavender
Masuk ke hidung melaui
bulbus olfactory Tenang (relaks) Nyeri Faktor yang mempengaruhi nyeri 1. Usia 2. Jenis Kelamin 3. Makna Nyeri 4. Perhatian 5. Ansietas (kondisi psikologis) 6. Keletihan 7. Pengalaman sebelumnya 8. Gaya Koping (mobilisasi) 9. Dukungan
Penatalaksanaan nyeri non-farmakologis :
1. Hypnosis
2. Accupressure
3. Yoga
4. Umpan balik biologis
(biofeedback) 5. Sentuhan terapeutik 6. Terapi-aroma 7. Jamu-jamuan Hipotalamus Sistem endokrin Kelenjar pituitari Hormon endorfin Penghilang rasa sakit alami dan penghasil perasaan sejahtera Raphe nucleus Sekresi serotonin Menuju sasaran yaitu
sistem limbik
Amygdale
Hippocampus
= variabel bebas = variabel
commit to user
H. HIPOTESIS
Ada pengaruh pemberian aromaterapi lavender secara inhalasi terhadap nyeri jahitan perineum di RSUD Surakarta.