• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM SARJANA ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM SARJANA ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2019"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat-Syarat dalam Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh:

BENEDICTA SHINTYA MANURUNG 150200427

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN

PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM KEPERDATAAN BW

PROGRAM SARJANA ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2019

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih, penyertaan dan berkat-Nya yang tiada berkesudahan dalam kehidupan saya.

Semua hanya karena anugerah-Nya sehingga saat ini saya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Eksekusi Terhadap Objek Jaminan Fidusia Yang Tidak Diketahui Keberadaannya (Studi Putusan Nomor 78/PDT.G/2016/PN.Rap)”

Keingintahuan saya mengenai Jaminan Fidusia membuat saya ingin mendalami dan memahaminya sehingga lahirlah keinginan untuk membahas Jaminan Fidusia dalam skripsi ini. Saya menyadari dalam penelitian ini masih banyak terdapat ketidaksempurnaan akibat keterbatasan kemampuan saya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat saya harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Diharapkan pula skripsi ini dapat bermanfaat dalam perkembangan Hukum Perdata pada umumnya khususnya dalam bidang Hukum Jaminan Fidusia.

Skripsi ini khusus saya persembahkan untuk kedua orang tua saya, Alm.

Pdt. Dr. Ir. Bangun Suprapman Manurung, M.plan, papi terhebat yang saat ini telah berbahagia bersama Bapa di Surga namun selamanya dan selalu ada di hati saya, serta Pdm. Martha Dermawana Manik, S.H., mami sangat kuat dan penuh kasih sayang. Semoga saya dapat selalu membanggakan orang tua saya.

Saya juga ingin menghaturkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan serta pelajaran berharga baik dalam penelitian ini maupun selama perjalanan kehidupan saya:

(5)

1. Bapak Prof Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

3. Bapak Prof. Dr. Saidin, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

4. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

5. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

6. Ibu Suria Ningsih, S.H., M.Hum selaku Dosen Pembimbing Akademik;

7. Ibu Dr. Rosnidar Sembiring, S.H., M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

8. Bapak Syamsul Rizal, S.H., M.Hum selaku Sekretaris Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

9. Bapak Prof. Dr. Tan Kamello, S.H., M.S., selaku Dosen Pembimbing I yang dengan penuh kesabaran telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran di sela kesibukan dalam membimbing saya menyelesaikan skripsi ini;

10. Bapak Dr. Dedi Harianto, S.H., M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II yang dengan penuh kesabaran telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran di sela kesibukan dalam membimbing saya menyelesaikan skripsi ini;

(6)

11. Seluruh staf pengajar dan pegawai Fakultas Hukum USU yang telah banyak memberikan bantuan, arahan, dan ilmu yang berguna bagi saya selama saya menjalani perkuliahan maupun selama proses penyelesaian skripsi ini;

12. Pimpinan PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Kantor Wilayah Papua dan seluruh staf yang telah mengizinkan serta menyediakan waktu untuk membantu saya dalam melengkapi data untuk penulisan skripsi ini;

13. Bapak Lucky Lahope, selaku Head of Bussiness Banking PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Kantor Wilayah Papua yang memberikan banyak bantuan dan kemudahan dalam penulisan skripsi ini;

14. Terima kasih paling spesial kepada Orang tua saya yang tersayang, Alm.

Pdt. Dr. Ir. Bangun Suprapman Manurung, M.Plan dan Pdm. Martha Dermawana Manik, S.H., atas doa, kasih sayang, dan dukungan yang tiada hentinya kepada saya;

15. Terima kasih paling spesial juga kepada Saudara-saudara saya, Badia Selando Manurung, Thimotius Sebastian Manurung, dan Bungaran Samuel Manurung yang senantiasa menyayangi dan mendukung saya;

16. Keluarga besar Pomparan Ompung Timbul Manurung dan Pomparan Ompung Hana Manik atas dukungan dan semangat yang diberikan;

17. Keluarga besar Jemaat GBI DOCK4 Jayapura yang senantiasa mendukung dan mendoakan saya;

18. Sahabat-sahabat karib saya, Rakhee Bhatari, Stella Larissa, Nisia Ono, dan Denies Mayorga yang selalu mendukung saya sejak masa SMA hingga saat ini;

(7)

19. Sahabat-sahabat karib saya, Emya Pratidina Sembiring, Sarah Pratiwi Putri Siregar, Somaya Permata Hati, Reinhard Siahaan, yang telah menemani saya sejak awal perkuliahan hingga berakhirnya masa studi;

20. Chrispo Mual Natio Simanjuntak yang tanpa henti memberikan dukungan kepada saya dalam proses penyelesaian skripsi serta membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik;

21. Pengurus Komisariat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Masa Bakti 2017-2018, Bang Hans, Amos, Ishak, Olin, Revi, Andre, Daniel Nikolas, Sinta, Abraham, Yan, Garcia, Ricky, Epin, dan Mesty atas pelajaran dan kebersamaan dalam melayani. Biarlah tetap semangat dalam melayani;

22. Pengurus Komisariat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Masa Bakti 2018-2019 Andre, Garcia, Revi, Star, Cindy, Lucy, Elisabeth, Surya, Samuel, Daniel Ronaldo, Zethro, Nico, Cici, dan Angel. Tidak hanya sebagai rekan pelayan, namun juga keluargaku yang telah mendukung dan menyemangati saya agar semangat dalam melayani maupun menyelesaikan skripsi ini. Aku mengasihi kalian;

23. Keluarga besar GMKI Komisariat Fakultas Hukum USU atas kebersamaan dan segala hal yang telah diajarkan kepada saya;

24. Teman-teman Grup F Angkatan 2015 dan teman-teman Angkatan 2015 lainnya, yang karena kebersamaannya saya mampu menyelesaikan semua kegiatan perkuliahan dengan baik;

(8)

25. Shania Junianatha, Azizi Asadel, Beby Chaesara, Ratu Vienny, Shani Indira, dan Shania Gracia yang banyak memberikan hiburan dan semangat disaat kurang bersemangat mengerjakan skripsi;

26. Seluruh pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Medan, April 2019 Hormat Saya,

Benedicta Shintya Manurung 150200427

(9)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... vi

ABSTRAK ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 10

E. Metode Penelitian ... 12

1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 12

2. Pendekatan Penelitian ... 13

3. Sumber Data ... 13

4. Teknik Pengumpulan Data ... 15

5. Alat Pengumpulan Data ... 16

6. Analisis Data ... 16

F. Keaslian Penulisan ... 17

G. Sistematika Penulisan ... 20

BAB II KETENTUAN HUKUM JAMINAN MENGENAI LARANGAN PENGALIHAN OBJEK JAMINAN FIDUSIA ... 22

A. Sistem Hukum Jaminan ... 22

1. Pengertian Hukum Jaminan ... 22

2. Asas-asas Hukum Jaminan ... 25

3. Sistem dan Ketentuan Hukum Jaminan ... 26

4. Fungsi Hukum Jaminan ... 28

5. Klasifikasi Hukum Jaminan ... 28

B. Jaminan Fidusia ... 36

1. Pengertian Jaminan Fidusia ... 36

2. Subjek dan Objek Jaminan Fidusia ... 41

3. Pembebanan, Pendaftaran, dan Pengalihan Jaminan Fidusia ... 45

4. Hapusnya Jaminan Fidusia ... 57

C. Ketentuan Hukum Jaminan Mengenai Larangan Pengalihan Objek Jaminan Fidusia ... 59

BAB III TANGGUNG JAWAB PEMBERI FIDUSIA APABILA OBJEK FIDUSIA DIALIHKAN ATAU TIDAK DIKETAHUI KEBERADAANNYA ... 64

A. Hak dan Kewajiban Penerima Jaminan Fidusia ... 64

(10)

1. Hak Penerima Fidusia... 65

2. Kewajiban Penerima Fidusia ... 68

B. Hak dan Kewajiban Pemberi Fidusia ... 72

1. Hak Pemberi Fidusia ... 72

2. Kewajiban Pemberi Fidusia ... 74

C. Tanggung Jawab Pemberi Fidusia Apabila Objek Fidusia Dialihkan atau Tidak Diketahui Keberadaannya... 78

BAB IV EKSEKUSI TERHADAP OBJEK JAMINAN FIDUSIA YANG TIDAK DIKETAHUI KEBERADAANNYA BERDASARKAN PERKARA PERDATA PENGADILAN NEGERI RANTAUPRAPAT NOMOR 78/PDT.G/2016/PN-RAP ... 93

A. Pengertian dan Pengaturan Eksekusi ... 93

B. Eksekusi Jaminan Fidusia ... 100

C. Kronologi Kasus ... 104

1. Kasus Posisi ... 104

2. Pertimbangan Hakim ... 110

3. Putusan Hakim... 123

D. Analisa Putusan Hakim dalam Perkara Perdata Pengadilan Negeri Rantau Prapat Nomor 78/PDT.G/2016/PN-Rap Terkait Eksekusi Terhadap Objek Jaminan Fidusia yang Tidak Diketahui Keberadaannya ... 125

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 134

A. Kesimpulan ... 134

B. Saran ... 135

DAFTAR PUSTAKA ... 136

(11)

ABSTRAK Tan Kamello*

Dedi Harianto**

Benedicta Shintya Manurung***

Salah satu bentuk usaha dari lembaga pembiayaan yang sering digunakan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan ialah pembiayaan konsumen (consumer finance). Masyarakat tidak perlu menyediakan dana yang terlalu besar untuk mewujudkan keinginannya. Kegiatan pembiayaan konsumen tidak bisa steril dari unsur resiko dikarenakan timbulnya utang-piutang antara debitor dan kreditor maka diberlakukan hukum jaminan untuk melindungi kreditor maupun debitor selama perjanjian utang-piutang mengikat mereka. Lembaga jaminan kebendaan yang banyak diterapkan dalam perjanjian pembiayaan kendaraan bermotor adalah Jaminan Fidusia. Salah satu sifat Jaminan Fidusia ialah kemudahan untuk melakukan eksekusi atas benda objek jaminan fidusia untuk mendapatkan pelunasan piutangnya apabila debitor cidera janji atau wanprestasi. Pada praktiknya di lapangan, sering ditemukan kasus bahwa kreditor mengalami hambatan saat hendak melakukan eksekusi objek jaminan saat debitor cidera janji.

Kesulitan ini dihadapi kreditor dikarenakan objek jaminan fidusia telah dialihkan oleh debitor kepada pihak ketiga, bahkan tidak diketahui keberadaannya. Hal ini terlihat dari adanya pendaftaran gugatan di Pengadilan Negeri Rantau Prapat oleh PT. Oto Multiartha Cabang Rantau Prapat sebagai Penggugat melawan Habibullah Harahap sebagai Tergugat, dengan nomor registrasi perkara: Nomor 78/Pdt.G/2016/PN-Rap. Berdasarkan latar belakang yang ada, muncul beberapa rumusan masalah yaitu: 1. Bagaimana ketentuan hukum jaminan mengatur larangan pengalihan objek jaminan fidusia? 2. Bagaimana tanggung jawab pemberi fidusia apabila objek jaminan fidusia dialihkan atau tidak diketahui keberadaannya? 3. Bagaimana eksekusi terhadap objek jaminan fidusia yang tidak diketahui keberadaannya berdasarkan perkara perdata Pengadilan Negeri Rantau Prapat Nomor 78/Pdt.G/2016/PN-Rap?

Untuk menjawab rumusan masalah tersebut maka jenis penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan pendekatan normatif- terapan dengan tipe judicial case study. Hasil penelitian ini yakni: 1. Ketentuan hukum jaminan yang mengatur mengenai larangan pengalihan objek jaminan fidusia diatur dalam Undang-Undang jaminan Fidusia, Perjanjian Pembiayaan Konsumen dan Perjanjian Jaminan Fidusia. 2. Tanggung jawab pemberi fidusia bila objek jaminan fidusia dialihkan yaitu pertanggungjawaban pidana dan perdata. Tanggung jawab dalam ranah perdata ialah ganti kerugian. 3. Eksekusi terhadap objek jaminan fidusia yang tidak diketahui keberadaannya berdasarkan perkara perdata Pengadilan Negeri Rantau Prapat Nomor 78/Pdt.G/2016/PN-Rap ialah eksekusi secara penjualan atau pelelangan bila objek jaminan fidusia telah ditemukan.i

Kata Kunci: Pembiayaan Konsumen, Jaminan Fidusia, Eksekusi

* Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

** Dosen Pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

*** Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(12)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Salah satu bentuk usaha dari lembaga pembiayaan yang sering digunakan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan ialah pembiayaan konsumen (consumer finance). Masyarakat tidak perlu menyediakan dana yang terlalu besar untuk

mewujudkan keinginannya dalam membeli barang-barang yang dibutuhkan, cukup dengan menyediakan 10% (sepuluh persen) sampai 20% (dua puluh persen) saja dari harga barang sebagai down payment (DP) maka masyarakat sudah bisa membawa pulang barang-barang yang diinginkannya.1 Pembiayaan konsumen ini sering digunakan dalam hal pemenuhan kebutuhan akan kendaraan bermotor.

Pembiayaan konsumen adalah “kegiatan pembiayaan dalam bentuk dana untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran”. 2 Pranata hukum pembiayaan konsumen dipakai sebagai terjemahan dari istilah “Consumer Finance”. Pembiayaan konsumen ini tidak lain dari sejenis kredit konsumer (consumer credit). Hanya saja, jika pembiayaan konsumen dilakukan oleh perusahaan pembiayaan, sementara kredit konsumen diberikan oleh bank.3

Sebagai salah satu bentuk usaha dari lembaga pembiayaan, pembiayaan

1 D. Y. Witanto, Hukum Jaminan Fidusia dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen, (Bandung: Mandar Maju, 2015), hal. 6

2 Pasal 1 ayat (7) Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan

3 Widaningsih, Analisis Yuridis Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.

130/PMK.010/2012 Tentang Pendaftaran Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan, Jurnal Hukum Perdata Vol.1, 2016, hal 90

(13)

konsumen pada dasarnya tidak menekankan pada aspek jaminan (collateral).

Namun, karena pembiayaan konsumen merupakan lembaga bisnis, maka dalam kegiatan pembiayaan konsumen tidak bisa steril dari unsur risiko dikarenakan timbulnya utang-piutang antara debitor dan kreditor.

Timbulnya risiko dalam pembiayaan konsumen ini mengakibatkan diperlukannya peranan hukum yang berfungsi untuk melindungi para pihak agar tidak dirugikan oleh pihak lainnya. Dalam hal pemberian kredit, maka diberlakukan hukum jaminan untuk melindungi kreditor maupun debitor selama perjanjian utang-piutang mengikat kreditor dan debitor.

Makna jaminan dalam pemberian kredit adalah keyakinan kreditor atas kemampuan dan kesanggupan nasabah debitor untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan. Untuk memperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari debitor.4

Bank maupun Lembaga Keuangan Bukan Bank sebagai kreditor memberikan kredit didasarkan pada prinsip kehati-hatian yang terlihat dalam sistem penilaian yang dilakukan dengan prinsip keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan nasabah debitor untuk melunasi kewajibannya. Dengan dilakukannya penilaian terhadap debitor, bank atau lembaga pembiayaan sebagai kreditor mensyaratkan adanya suatu jaminan dari debitor agar menimbulkan rasa aman dan untuk memastikan pengembalian uangnya dan memperkecil risiko kerugian dalam pemberian kredit.

4 Trisadini Prasastinah Usanti, Hak Jaminan Atas Resi Gudang Dalam Perspektif Hukum Jaminan, Jurnal Hukum Perdata Vol. XIX, 2014, hal.166

(14)

Menurut Munir Fuady, jaminan yang ada dalam pembiayaan konsumen pada prinsipnya sama dengan jaminan dalam kredit bank, khususnya kredit konsumen, yaitu jaminan utama yang berupa kepercayaan, jaminan pokok yaitu berupa barang yang dibeli dengan dana dari perusahaan pembiayaan konsumen, dan jaminan tambahan berupa pengakuan utang atau kuasa menjual barang.5

Lembaga jaminan kebendaan yang banyak diterapkan dalam perjanjian pembiayaan kendaraan bermotor adalah Jaminan Fidusia. Jaminan Fidusia atau yang dulu dikenal sebagai Fiduciaire Eigendomsoverdaracht merupakan salah satu jaminan kebendaan yang dikenal dalam hukum positif di Indonesia. Menurut asal katanya, fidusia berasal dari kata “fiduciair” atau “fides”6 sedangkan dalam bahasa Inggris Fidusia disebut dengan istilah Fiduciary Transfer of Ownership yang memiliki arti yaitu “kepercayaan”.7 Digunakannya lembaga jaminan fidusia dalam pembiayaan konsumen dikarenakan objek jaminannya berada dalam penguasaan debitor, berbeda dengan gadai (pand) yang mengharuskan objek jaminan berada dalam penguasaan kreditor. Hal ini sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia yang selanjutnya dalam skripsi ini disebut UUJF, pada Pasal 1 angka 1 dijelaskan bahwa Fidusia adalah “pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.”

Hubungan hukum antara pemberi fidusia (debitor) dan penerima fidusia

5 Sunaryo, Hukum Lembaga Pembiayaan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 99 6Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Edisi 1, Cetakan 2, (Bandung:Alumni, 2006), hal. 36

7H. Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, (Jakarta: SinarGrafika, 2016), hal. 55

(15)

(kreditor) merupakan hubungan yang berdasarkan kepercayaan. Debitor percaya bahwa kreditor akan mengembalikan hak milik atas barang yang diserahkannya setelah utang dilunasi, begitu juga sebaliknya, kreditor percaya bahwa debitor tidak akan menyalahgunakan barang jaminan yang berada di dalam kekuasaannya. 8 Terhadap barang atau benda milik debitor yang dijadikan jaminan, akan dibuat perjanjian pembebanannya yang disebut Perjanjian Jaminan Fidusia.

Pasal 4 UUJF mengatur bahwa “Jaminan Fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi.” Maka perjanjian fidusia ini tidak dapat berdiri sendiri. Perjanjian jaminan ini timbul karena adanya perjanjian pokok, salah satunya berupa perjanjian pembiayaan konsumen.

Jaminan fidusia mengatur bahwa objek jaminan berada dalam penguasaan debitor atau pemberi jaminan fidusia. Maka penting bagi undang- undang untuk mengatur pelarangan pengalihan objek jaminan fidusia serta tanggung jawab pemberi jaminan fidusia apabila mengalihkan objek jaminan fidusia untuk menjamin kepentingan pelunasan piutang kreditor

Salah satu upaya undang-undang untuk melindungi kepentingan pelunasan piutang kreditor ialah kreditor diwajibkan untuk mendaftarkan objek jaminan fidusia. Pendaftaran ini penting, terutama terhadap atas jaminan benda bergerak yang tidak didaftar mengingat sulitnya untuk membuktikan siapa pemiliknya, karena berdasarkan pasal 1977 KUHPerdata yang mengatur bahwa “

8 Munir Fuady, Jaminan Fidusia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), hal. 3

(16)

barang siapa menguasai benda bergerak dia sebagai pemiliknya”.

Dengan telah dilakukannya pendaftaran jaminan fidusia, undang-undang juga dapat melindungi kreditor dalam hal debitor dilarang mengalihkan objek jaminan fidusia. Hal ini terlihat dalam Pasal 23 ayat (2) UUJF yang berisi

“Pemberi Fidusia dilarang mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan kepada pihak lain Benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia yang tidak merupakan benda persediaan, kecuali dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Penerima Fidusia.”

Setelah didaftarkannya objek jaminan fidusia maka dikeluarkanlah Sertifikat Jaminan Fidusia yang memiliki kekuatan eksekutorial sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Hal ini menunjukkan bahwa Lembaga Parate Eksekusi dikenal dalam jaminan fidusia.

Teddy Anggoro menuliskan bahwa:

“Parate eksekusi ialah hak seorang kreditor untuk melakukan penjualan atas kekuasaannya sendiri atau seolah-olah miliknya sendiri, benda- benda yang telah dijaminkan oleh debitor bagi pelunasan hutangnya, dimuka umum dengan syarat-syarat yang lazim berlaku, dengan sangat sederhana karena tanpa melibatkan debitor dan tanpa (fiat) izin hakim dan titel eksekutorial.”9

Penting untuk mengatur eksekusi terhadap jaminan fidusia dikarenakan adanya kemungkinan debitor atau pemberi fidusia melakukan cidera janji atau tidak melakukan prestasi untuk pelunasan utangnya.10 Kreditor atau penerima fidusia berhak melakukan eksekusi atas benda objek jaminan fidusia untuk

9 Teddy Anggoro, Parate Eksekusi: Hak Kreditur, yang Menderogasi Hukum Formil (Suatu Pemahaman Dasar dan Mendalam), Jurnal Hukum dan Pembangunan Universitas Indonesia Vol. 3, 2007, hal. 536

10 H Salim HS., Op.cit., hal. 90

(17)

mendapatkan pelunasan piutangnya. Eksekusi yang dilakukan oleh penerima jaminan fidusia (kreditor) mewajibkan pemberi fidusia untuk menyerahkan benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia tersebut.11 Hal ini terlihat dari penjelasan Pasal 15 ayat (3) UUJF yang menyatakan:

"Salah satu ciri Jaminan Fidusia adalah kemudahan dalam pelaksanaan eksekusinya yaitu apabila pihak Pemberi Fidusia cidera janji. Oleh karena itu, dalam Undang- undang ini dipandang perlu diatur secara khusus tentang eksekusi Jaminan Fidusia melalui lembaga parate eksekusi ".

Dapat dilihat bahwa berbeda dengan hipotik, hak parate eksekusi dalam fidusia diberikan oleh undang-undang (by law) tanpa perlu diperjanjikan oleh para pihak.12 Lembaga parate eksekusi ditujukan agar kreditor mendapat kemudahan pelunasan hak tagihnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari konsep lembaga jaminan khusus, yang sifatnya memberikan kemudahan dan kedudukan didahulukan bagi kreditor dalam mendapatkan pelunasan hak tagihnya.13

Pada praktiknya di lapangan, sering ditemukan kasus bahwa kreditor mengalami hambatan saat hendak melakukan eksekusi objek jaminan saat debitor cidera janji. Kesulitan ini dihadapi kreditor dikarenakan objek jaminan fidusia telah dialihkan oleh debitor kepada pihak ketiga, bahkan tidak diketahui keberadaannya. Hal ini kerap terjadi walau UUJF telah memberikan pengaturan bahwa pemberi fidusia dilarang melakukan fidusia ulang terhadap benda objek jaminan fidusia dan larangan mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan kepada pihak lain benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia yang tidak

11 Riky Rustam, Hukum Jaminan, (Yogyakarta: UII Press, 2017), hal. 157

12 Teddy Anggoro, Op.cit., hal. 551

13 Ibid.

(18)

merupakan benda persediaan kecuali dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu oleh penerima fidusia.

Jaminan fidusia memiliki ciri hak kebendaan droit de suite yaitu hak kebendaan itu melekat dan mengikuti bendanya di tangan siapapun benda itu berada meskipun benda telah dialihkan kepada pihak ketiga atau pihak lain14. Maka, apabila debitor wanprestasi dalam pelunasan utangnya, maka merupakan hak kreditor untuk mengeksekusi objek jaminan tersebut sebagai pelunasan utang debitor. Walau dialihkan oleh debitor, hak kebendaan tersebut tetap mengikuti objek jaminan. Namun, karena tidak diketahuinya keberadaan objek jaminan, menjadi sulit bagi kreditor mengeksekusinya sehingga harus menempuh jalur pengadilan agar mendapatkan haknya.

Hak penerima fidusia atau kreditor yang diberikan oleh undang-undang untuk mengeksekusi objek jaminan fidusia dalam sering kali terancam, hal ini dapat terlihat dari adanya pendaftaran gugatan di Pengadilan Negeri Rantau Prapat oleh PT. Oto Multiartha Cabang Rantau Prapat sebagai penggugat melawan Habibullah Harahap sebagai tergugat, dengan nomor registrasi perkara:

Nomor 78/Pdt.G/2016/PN-Rap.

Dalam perkara ini, Habibullah Harahap sebagai debitor telah diberikan fasilitas pembiayaan sebuah kendaraan roda empat oleh PT. Oto Multiartha Cabang Rantau Prapat sebagai kreditor. Keduanya telah sepakat mengikatkan diri mereka dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen, dan penggugat telah mendaftarkan unit kendaraan tersebut sebagai objek jaminan fidusia.

14 Riky Rustam, Op.cit., hal. 28

(19)

Dalam kewajibannya untuk melunasi utang, Habibullah Harahap sebagai debitor melakukan cidera janji di mana debitor selalu melakukan pembayaran lewat dari waktu yang ditentukan hingga debitor tidak lagi melaksanakan kewajiban untuk membayar angsuran kendaraan. PT. Oto Multiartha Cabang Rantau Prapat sebagai kreditor telah melaksanakan undang-undang dengan membuat Akta Jaminan Fidusia dan mendaftarkan benda yang dibebani Jaminan Fidusia. Maka dengan adanya Sertifikat Jaminan Fidusia yang memiliki kekuatan eksekutorial, maka tentunya kreditor memiliki hak untuk dapat melaksanakan eksekusi objek jaminan tanpa melalui putusan pengadilan. Pada faktanya kreditor terkendala dalam mengeksekusi kendaraan tersebut dikarenakan objek jaminan tidak diketahui keberadaannya.

Putusan Majelis Hakin Pengadilan Negeri Rantau Prapat dalam Perkara Perdata Nomor 78/Pdt.G/2016/PN-Rap memiliki amar:

1. Dalam Eksepsi, menolak eksepsi tergugat untuk seluruhnya;

2. Dalam Konpensi:

a. Mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian;

b. Menyatakan Tergugat telah melakukan Tindakan Wanprestasi (ingkar janji);

c. Menyatakan Penggugat sebagai Kreditor yang baik;

d. Menyatakan Perjanjian Pembiayaan Konsumen Nomor: 10-411-13- 00278 tanggal 06 Agustus 2013 sah secara hukum;

e. Menyatakan sertifikat jaminan fidusia No. W2. 151776.AH.05.01 Tahun 2013 yang dikeluarkan oleh Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia

(20)

Republik Indonesia Kantor Wilayah Sumatera Utara sah secara hukum;

f. Menyatakan Penggugat mempunyai hak untuk mengambil objek yang menjadi jaminan fidusia berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku;

g. Menyatakan Penjualan dan/atau pelelangan atas 1(satu) unit kendaraan guna pelunasan hutang Tergugat sah secara hukum;

h. Menyatakan Penggugat mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaannya sendiri berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku;

i. Menolak Gugatan Penggugat selain dan selebihnya;

3. Dalam Rekonpensi, Menolak Gugatan Rekonpensi Tergugat dk/ Penggugat dr untuk seluruhnya;

4. Dalam Konpensi/Rekonpensi, Menghukum Tergugat dk / Penggugat dr untuk membayar ongkos perkara yang timbul dalam perkara ini sebesar Rp.1.163.400,- (Satu juta seratus enam puluh tiga ribu empat ratus rupiah).

Berdasarkan latar belakang yang ada, maka penting untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dalam bentuk skripsi dengan judul “Eksekusi Terhadap Objek Jaminan Fidusia Yang Tidak Diketahui Keberadaannya (Studi Putusan Nomor 78/Pdt.G/2016/PN-Rap)”

B. Rumusan Masalah

Keberadaan suatu pembahasan disebabkan dengan adanya permasalahan yang dikaji dan dianalisis. Permasalahan yang dirumuskan memberi arah terhadap penelitian dan pembahasan. Latar belakang yang telah diuraikan di atas menimbulkan perumusan masalah, yaitu:

(21)

1. Bagaimana ketentuan hukum jaminan mengatur larangan pengalihan objek jaminan fidusia?

2. Bagaimana tanggung jawab pemberi fidusia apabila objek jaminan fidusia dialihkan atau tidak diketahui keberadaannya?

3. Bagaimana eksekusi terhadap objek jaminan fidusia yang tidak diketahui keberadaannya berdasarkan perkara perdata Pengadilan Negeri Rantau Prapat Nomor 78/Pdt.G/2016/PN-Rap?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam pembahasan skripsi yang berjudul “Eksekusi Terhadap Objek Jaminan Fidusia Yang Tidak Diketahui Keberadaannya (Studi Putusan Nomor 78/Pdt.G/2016/PN-Rap)” adalah sebagai berikut:

1. Untuk memahami ketentuan hukum jaminan yang mengatur larangan pengalihan objek jaminan fidusia.

2. Untuk mengetahui tanggung jawab pemberi fidusia apabila objek jaminan fidusia dialihkan atau tidak diketahui keberadaannya.

3. Untuk mengetahui bagaimana eksekusi terhadap objek jaminan fidusia yang tidak diketahui keberadaannya berdasarkan perkara perdata Pengadilan Negeri Rantau Prapat Nomor 78/Pdt.G/2016/PN-Rap.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang ingin dicapai dan diperoleh dari penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

(22)

Secara teoritis, pembahasan terhadap masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi para pihak sebagai berikut:

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dan menambah bahan kepustakaan yang membahas tentang eksekusi terhadap objek jaminan fidusia yang tidak diketahui keberadaannya.

b. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat untuk dijadikan sebagai dasar bagi penelitian selanjutnya dalam bidang yang sama.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, pembahasan terhadap masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi para pihak sebagai berikut:

a. Bagi Pemerintah khususnya kepada Badan Legislatif, penelitian ini diharapkan dapat menjadi ide, masukan dalam pembentukan dan penyempurnaan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan hukum jaminan fidusia.

b. Bagi praktisi hukum dijadikan acuan atau tolak ukur dalam mengembangkan ilmu hukum pada umumnya, khususnya yang berkaitan dengan hukum jaminan fidusia.

c. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran umum dan menjadi sumber ajar mengenai perlindungan hukum dalam jaminan fidusia.

(23)

d. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menambah kepustakaan dan tambahan referensi pada Program Sarjana (S1) Universitas Sumatera Utara dan bagi pihak yang ingin mengadakan penelitian lebih lanjut terkait hukum jaminan fidusia, khususnya mengenai eksekusi terhadap objek jaminan fidusia yang tidak diketahui keberadaannya.

E. Metode Penelitian

Soerjono Soekanto mendefinisikan metode penelitian sebagai “suatu prosedur atau cara memperoleh pengetahuan yang benar atau kebenaran melalui langkah-langkah yang sistematis.” 15 Metode penelitian yang digunakan dalam upaya untuk mengumpulkan data dan analisis data dalam rangka menyelesaikan tugas akhir penelitian hukum ini adalah:

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Dalam penelitian hukum dikenal dua jenis metode penelitian, yaitu penelitian yuridis normatif dan yuridis empiris. Jenis penelitian yuridis empiris merupakan “upaya untuk memperoleh kejelasan dan pemahaman dari permasalahan penelitian berdasarkan realita yang ada”. 16 Sementara, jenis penelitian yuridis normatif yaitu “membahas doktrin-doktrin atau asas-asas dalam ilmu hukum maka penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder sebagai bahan dasar untuk diteliti dengan cara mengadakan penelusuran terhadap peraturan-peraturan dan literatur-literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti”.17

15 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 1.

16 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1981), hal. 41.

17 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Op. Cit, hal. 13-14.

(24)

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif untuk meneliti norma-norma hukum tentang eksekusi terhadap objek jaminan fidusia yang tidak diketahui keberadaannya dalam bentuk peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan.

Sifat penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu “penelitian yang mengungkapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan teori-teori hukum yang menjadi objek penelitian.” 18 2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan masalah merupakan proses pemecahan atau penyelesaian masalah melalui tahap-tahap yang telah ditentukan sehingga mencapai tujuan penelitian. Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan normatif-terapan dengan tipe judicial case study yaitu pendekatan studi kasus hukum karena suatu konflik yang tidak dapat diselesaikan oleh para pihak berkepentingan sehingga diselesaikan melalui putusan pengadilan. 19 Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini akan mengkaji Putusan Hakim dalam Putusan Nomor 78/Pdt.G/2016/PN.Rap.

3. Sumber Data

Sumber data dari penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasil-hasil penelitian yang

18 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Cetakan Pertama (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), Hal. 106

19 Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 149

(25)

berwujud laporan, buku harian, dan seterusnya.20 Bahan penelitian yang akan digunakan adalah:

a. Bahan hukum primer

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai otoritas (autoritatif).21 Dalam penulisan ini, yang menjadi bahan hukum primer diantaranya:

1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

2) Herzien Inlandsch Reglement (HIR)/Rechtreglement voor de Buitengewesten (RBg)

3) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia (UUJF)

4) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia

5) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Lembaga Pembiayaan

6) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.010/2012 Tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia bagi Perusahaan

20 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cetakan Ketiga (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1984) Hal. 12

21 Ibid, hal. 47

(26)

Pembiayaan yang Melakukan Pembiayaan Konsumen untuk Kendaraan Bermotor dengan Pembebanan Jaminan Fidusia 7) Putusan Pengadilan Rantau Prapat Nomor

78/Pdt.G/2016/PN.Rap.

b. Bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang merupakan dokumen tidak resmi. Publikasi tersebut terdiri atas buku- buku teks yang membicarakan suatu dan/atau beberapa permasalahan hukum, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, dan komentar- komentar atas putusan pengadilan.22

c. Bahan hukum tertier

Bahan hukum tertier yakni bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder; contohnya adalah kamus, ensiklopedia, indeks kumulatif, dan seterusnya.23

4. Teknik Pengumpulan Data

Penulisan ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara studi kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian ini dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau disebut dengan data sekunder. Studi kepustakaan ini dilakukan untuk mendapatkan konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil- hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian dan didukung studi lapangan (field research) yaitu melakukan wawancara dengan

22 Zainuddin Ali, Op.Cit., hal. 54

23 Soerjono Soekanto, Op.Cit., hal. 52

(27)

narasumber atau informan yang mengetahui permasalahan mengenai eksekusi terhadap objek jaminan fidusia tidak diketahui keberadaannya. Penelitian studi lapangan ini dilakukan di PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk. Kantor Wilayah Papua.

5. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Studi dokumen yaitu melakukan inventarisasi dan sistemasi literatur yang berkaitan dengan permasalahan dan pembahasan dalam penelitian ini.

b. Pedoman Wawancara yakni panduan yang digunakan dalam melakukan kegiatan wawancara yang terstruktur dan telah ditetapkan oleh pewawancara dalam mengumpulkan data-data penelitian.24 Hasil wawancara yang diperoleh akan digunakan sebagai data penunjang dalam penelitian.

6. Analisis Data

Dalam analisis data, peneliti mengutarakan kesimpulan dari data yang telah diperoleh. Analisis data dalam penulisan ini adalah menggunakan analisis data kualitatif terhadap data primer dan data sekunder. Analisis kualitatif yaitu menganalisis data berdasarkan norma hukum secara mendalam dengan melihat tingkat relevansi norma-norma, prinsip-prinsip hukum dan termasuk doktrin-

24 Imami Nur Rachmawati, Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kualitatif: Wawancara, Jurnal Metodologi Penelitian Vol.11, 2007, hal. 36

(28)

doktrin terhadap rumusan masalah.25 Penulian skripsi ini terfokus pada analisis hukum dengan menelaah bahan-bahan hukum baik melalui peraturan perundang- undangan, buku-buku, kamus, jurnal, dan lain-lain yang berhubungan dengan judul skripsi untuk dapat menjawab permasalahan yang dihadapi.

Penarikan kesimpulan terhadap data yang berhasil dikumpulkan dilakukan dengan menggunakan metode penarikan kesimpulan deduktif, yaitu

“cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum selanjutnya ditarik ke hal-hal yang khusus, dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil, atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi- proposisi untuk menarik kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus“. 26 Hal-hal yang umum yang dimaksud ialah peraturan perundang-undangan yang ditarik ke hal yang khusus yaitu putusan hakim yang memutus suatu perkara.

F. Keaslian Penulisan

Keaslian penulisan merupakan suatu keharusan dalam penulisan ilmiah agar menjadi suatu tanda bahwa apa yang disusun dalam skripsi ini merupakan suatu hasil karya dan buah pemikiran sendiri. Untuk menghindari kesamaan dalam penelitian, dilakukan penelusuran kajian terdahulu yang mungkin berkaitan dengan penelitian ini, berikut kajian terdahulu yang ditemukan:

1. Dakka M. Silitonga, Nomor Induk Mahasiswa: 140200212, dengan judul skripsi “Eksekusi Jaminan Fidusia Kaitannya Dengan Peraturan

25 Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hal. 160

26 Ibid., hal. 109

(29)

Kapolri No. 8 Tahun 2011 Tentang Pengamanan Eksekusi Fidusia (PT. Bank X di Medan)” dengan rumusan masalah sebagai berikut:

a. Bagaimana Pelaksanaan Pemberian Jaminan Fidusia di PT. Bank X? 


b. Bagaimana Tata Cara Pelaksanaan Eksekusi Sita Jaminan di PT.

Bank X, 
kaitannya dengan Peraturan Kapolri Nomor. 8 Tahun 2011 tantang 
Pengamanan Eksekusi Fidusia? 


c. Apakah hambatan-hambatan yang timbul dalam praktek pelaksanaan eksekusi 
 objek Jaminan Fidusia di PT. Bank X, kaitannya dengan Peraturan Kapolri Nomor. 8 Tahun 2011 Tentang Pengamanan Eksekusi Fidusia?

2. Desi Irawani Hasibuan, Nomor Induk Mahasiswa: 040200117, dengan judul skripsi “Tinjauan Yuridis Eksekusi Benda Sebagai Objek Perjanjian Jaminan Fidusia Menurut Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999” dengan rumusan masalah sebagai berikut:

a. Bagaimana proses pelaksanaan eksekusi obyek fidusia?

b. Apa kendala-kendala yang dihadapi dalam melakukan eksekusi?

c. Bagaimana akibat hukum musnahnya obyek fidusia?

3. Rini Sugiani, Nomor Induk Mahasiswa: 090200393, dengan judul skripsi “Analisis Yuridis Kekuatan Eksekutorial Jaminan Fidusia Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor yang Telah Didaftarkan (Studi pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara) dengan rumusan masalah sebagai berikut:

(30)

a. Bagaimanakah kekuatan eksekutorial jaminan fidusia bukti kepemilikan kendaraan bermotor yang telah didaftarkan dalam memberikan perlindungan hukum terhadap pemegang jaminan fidusia?

b. Bagaimana proses pelaksanaan eksekusi terhadap jaminan fidusia bukti pemilikan kendaraan bermotor yang telah didaftarkan?

c. Apakah yang menjadi hambatan dan bagaimanakah upaya penyelesaian dalam proses pelaksanaan eksekusi terhadap jaminan fidusia bukti pemilikan kendaraan bermotor yang telah didaftarkan?

4. Muhammad Harsono, Nomor Induk Mahasiswa: 060200170, dengan judul skripsi “Pelaksanaan Eksekusi Sita Jaminan dalam Proses Peradilan Menurut RBG” dengan rumusan masalah sebagai berikut:

a. Bagaimana sinkronisasi pelaksanaan putusan hakim dengan eksekusi sita jaminan?

b. Bagaimana tata cara pelaksanaan eksekusi sita jaminan menurut RBG?

c. Bagaimana pernanan hukum terhadap eksekusi sita jaminan

d. Bagaimana penyelesaian perselisihan dalam pelaksanaan eksekusi sita jaminan

e. Bagaimana keadaan berakhirnya pelaksanaan eksekusi sita jaminan?

5. Dinda Anwar, Nomor Induk Mahasiswa: 110200133, dengan judul

(31)

skripsi “Tinjauan Yuridis Terhadap Pertanggungjawaban atas Hilangnya Objek Jaminan Fidusia (Studi Kasus Pada PT. Bank Muamalat Indonesia, Kantor Cabang Medan-Sudirman) dengan rumusan masalah:

a. Bagaimanakah tinjauan umum tentang jaminan fidusia terhadap hukum positif?

b. Bagaimanakah pelaksanaan tentang jaminan fidusia di PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk. Cabang Medan?

c. Bagaimana pertanggungjawaban atas hilangnya objek jaminan fidusia yang telah didaftarkan di Kemenhumkam?

Penulisan skripsi ini berjudul “Eksekusi Terhadap Objek Jaminan Fidusia Tidak Diketahui Keberadaannya (Studi Putusan Nomor 78/Pdt.G/2016/PN.Rap)”

telah diuji bersih di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan tidak didapati judul yang sama.

G. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan skripsi tentunya permasalahan yang diangkat dengan pembahasan skripsi harus sesuai sehingga diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur dan saling berkaitan satu sama lain agar memudahkan penulisan skripsi serta mudah dipahami. Setiap bab terdiri dari sub bab dengan harapan mempermudah pembahasan skripsi ini. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah:

(32)

Bab I Bab I adalah Pendahuluan. Bab ini merupakan pengantar yang di dalamnya termuat mengenai gambaran umum tentang penulisan skripsi yang terdiri dari latar belakang penulisan skripsi, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penelitian, keaslian penulisan, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.

Bab II Bab II akan menjelaskan mengenai pengertian hukum jaminan, jaminan fidusia, dan ketentuan-ketentuan hukum jaminan dalam mengatur larangan pengalihan objek jaminan fidusia.

Bab III Bab III akan membahas mengenai tanggung jawab debitor dalam hal objek jaminan fidusia dialihkan atau tidak diketahui keberadaannya.

Bab IV Bab IV akan menguraikan pengertian eksekusi secara umum, pelaksanaan eksekusi dalam jaminan fidusia serta analisis mengenai rentetan peristiwa hukum antara penerima fidusia dan pemberi fidusia, pertimbangan serta putusan hakim Pengadilan Negeri Rantau Prapat Nomor 78/Pdt.G/2016/PN-Rap.

Bab V Bab V adalah bab yang berisikan kesimpulan dan saran. Bab ini berisi kesimpulan dari bab-bab yang telah dibahas sebelumnya.

Sedangkan saran mencakup gagasan dan usulan terhadap permasalahan yang dibahas pada penelitian ini berdasarkan fakta- fakta yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya yang mungkin berguna bagi penerapan eksekusi terhadap objek jaminan fidusia yang tidak diketahui keberadaannya.

(33)

BAB II

KETENTUAN HUKUM JAMINAN MENGENAI LARANGAN PENGALIHAN OBJEK JAMINAN FIDUSIA

A. Sistem Hukum Jaminan 1. Pengertian Hukum Jaminan

Salah satu tujuan hukum ialah menciptakan damai sejahtera. Dalam situasi damai sejahtera, hukum melindungi kepentingan manusia baik secara materiel maupun imateriel dari perbuatan-perbuatan yang merugikan.27 Untuk menciptakan keadaan damai sejahtera tersebut, hukum mempertimbangkan kepentingan-kepentingan secara cermat dan menciptakan keseimbangan di antara kepentingan itu.28

Dalam rangka pembangunan ekonomi Indonesia, bidang hukum yang meminta perhatian yang serius dalam pembinaan hukumnya ialah lembaga jaminan karena perkembangan ekonomi dan perdagangan akan diikuti oleh perkembangan kebutuhan akan kredit. Fasilitas kredit ini tentunya memerlukan jaminan demi keamanan pemberian kredit tersebut.”29

Istilah jaminan merupakan terjemahan dari bahasa Belanda yaitu

”zekerheid”atau “cautie”. Zekerheid atau cautie mencakup secara umum cara- cara kreditor menjamin dipenuhinya tagihannya, di samping pertanggungan jawab

27 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), hal 129

28 Ibid, hal. 131

29 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, Cetakan Keempat, (Yogyakarta: Liberty Offset, 2007), hal. 1

(34)

debitor terhadap barang-barangnya.30 Jaminan berasal dari kata “jamin” yang berarti “tanggung”, sehingga jaminan dapat diartikan juga sebagai tanggungan.31

Sebagai perbandingan, berikut adalah pendapat para ahli mengenai pengertian jaminan:

a. Mariam Darus Badrulzaman:

“Jaminan adalah kekayaan yang dapat dipakai sebagai jaminan guna kepastian pelunasan di belakang hari kalau penerima kredit tidak melunasi hutangnya dan juga jaminan itu dapat berupa orang menyediakan dirinya untuk menjamin pembayaran dari penerima kredit (borgthocht).”32

b. Wiryono Prodjodikoro:

“Jaminan adalah berupa suatu tanggungan bahwa hak-hak dan kewajiban suatu perhubungan hukum akan dilaksanakan. Tanggungan ini dapat diberikan oleh salah satu pihak di antara mereka yang bersangkutan atau oleh pihak ketiga.”33

Dalam dunia perbankan, jaminan dikenal dengan istilah agunan. Pasal 1 angka 23 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan memberi pengertian Agunan adalah “Jaminan tambahan diserahkan nasabah debitor kepada bank dalam rangka mendapatkan fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip Syariah.”

30 H. Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), hal. 21

31 Abdul R. Saliman, Hukum Bisnis untuk Perusahaan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), hal. 19

32 Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, (Bandung: Alumni, 1994), hal. 73

33 Wiryono Prodjodikoro, Hukum Perdata tentang Hak-Hak atas Benda, (Jakarta: PT.

Pembimbing Masa, 1963), hal. 16

(35)

Berbeda dengan jaminan, istilah hukum jaminan berasal dari terjemahan zakerheidesstelling atau security of law.34 Sri Soedewi Masjhoen Sofwan berpendapat bahwa hukum jaminan adalah “keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara pembeli dan penerima jaminan dalam kaitannya dengan pembebanan jaminan untuk mendapatkan fasilitas kredit”.35 Selain Sofwan, M. Bahsan juga berpendapat bahwa hukum jaminan merupakan “himpunan ketentuan yang mengatur atau berkaitan dengan penjaminan dalam rangka utang piutang (pinjaman uang) yang terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini”.36

Menurut Salim HS, hukum jaminan adalah “keseluruhan dari kaidah- kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara pemberi dan penerima jaminan dalam kaitannya dengan pembebanan jaminan untuk mendapatkan fasilitas kredit.”37

Dari definisi yang diberikan Salim HS, tersebut terdapat unsur-unsur:38 a. Adanya kaidah hukum

Kaidah hukum dalam bidang jaminan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu kaidah hukum jaminan tertulis dan kaidah hukum jaminan tidak tertulis.

b. Adanya pemberi dan penerima jaminan

Pemberi jaminan adalah orang-orang atau badan hukum yang menyerahkan barang jaminan kepada penerima jaminan yang membutuhkan fasilitas kredit.

Penerima jaminan adalah orang atau badan hukum yang menerima barang jaminan dari pemberi jaminan.

34 H. Salim HS, Op.cit., hal. 5

35 Indrawati Soewarso, Aspek Hukum Jaminan Kredit, (Jakarta : Institut Bankir Indonesia, 2002), hal.9.

36 M. Bahsan, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, (Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada, 2008), hal. 3

37 H. Salim HS, Op.cit., hal. 6

38 Ibid., hal.7-8

(36)

c. Adanya jaminan

Pada dasarnya, jaminan yang diserahkan kepada kreditor adalah jaminan materiil dan imateriil. Jaminan materiil merupakan jaminan yang berupa hak- hak kebendaan, seperti jaminan atas benda bergerak dan benda tidak bergerak.

Jaminan imateriil merupakan jaminan nonkebendaan.

d. Adanya fasilitas kredit

Pembebanan jaminan yang dilakukan oleh pemberi jaminan bertujuan untuk mendapatkan fasilitas kredit dari bank atau lembaga keuangan nonbank.

Pemberian kredit merupakan pemberian uang berdasarkan kepercayaan, dalam arti bank atau lembaga keuangan nonbank percaya bahwa debitor sanggup untuk mengembalikan pokok pinjaman dan bunganya. Begitu juga debitor percaya bahwa bank atau lembaga keuangan nonbank dapat memberikan kredit kepadanya.

Pengertian-pengertian jaminan yang telah dijelaskan memberikan gambaran bahwa jaminan adalah “suatu tanggungan yang dapat dinilai dengan uang, berupa benda tertentu yang diserahkan oleh debitor kepada kreditor sebagai akibat dari perjanjian utang-piutang atau perjanjian lain yang dibuatnya.”39

2. Asas-Asas Hukum Jaminan

Dalam hukum jaminan terdapat beberapa asas-asas hukum yang umumnya berlaku di dalam hukum jaminan yaitu:

a. Asas sistem tertutup, artinya bahwa hak-hak atas benda bersifat limitatif, terbatas hanya pada yang diatur undang-undang. Di luar itu dengan perjanjian tidak diperkenankan menciptakan hak-hak yang baru.40

b. Asas publiciteit, yaitu asas bahwa semua hak, baik hak tanggungan, hak fidusia dan hipotek harus didaftarkan. Hal ini dimaksudkan agar pihak ketiga

39 Riky Rustam, Op.cit., hal. 47

40 Vivi Lia Falini Tanjung, Implementasi Asas-Asas Umum Hukum Kebendaan dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia, Jurnal Hukum Perdata Vol. 2, 2017, hal. 220

(37)

mengetahui bahwa benda jaminan tersebut sedang dilakukan pembebanan jaminan. 41

c. Asas specialiteit, yaitu bahwa hak tanggungan, hak fidusia, dan hipotek hanya dapat dibebankan atas barang-barang yang sudah terdaftar atas orang tertentu.42

d. Asas tidak dapat dibagi-bagi, yaitu asas dapat dibaginya utang tidak dapat mengakibatkan dapat dibaginya hak tanggungan, hak fidusia, hipotek, dan hak gadai walaupun telah dilakukan pembayaran sebagian.43

e. Asas inbezittstelling, yaitu barang jaminan (gadai) harus berada pada penerima gadai.44

f. Asas horizontal, yaitu bangunan dan tanah bukan merupakan satu kesatuan.

Hal ini dapat dilihat dalam penggunaan hak pakai, baik tanah Negara maupun tanah hak milik.45

3. Sistem dan Ketentuan Hukum Jaminan

Sistem pengaturan hukum jaminan adalah sistem tertutup (closed system). Sistem tertutup adalah orang tidak dapat mengadakan hak-hak jaminan

baru, selain yang telah ditetapkan dalam undang-undang,46 sedangkan sistem pengaturan hukum perjanjian adalah sistem terbuka yang artinya bahwa orang dapat mengadakan perjanjian mengenai apapun juga, baik yang sudah ada

41 Thomas Suyatno, Dasar-Dasar Perkreditan, Edisi Keempat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995), hal. 9

42 Ibid.

43 H. Salim HS, Op.Cit., hal. 9

44 Ibid.

45 Ibid.

46 Ashibly, Hukum Jaminan, (Bengkulu: MIH Unihaz, 2018), hal. 9

(38)

aturannya di dalam KUHPerdata maupun yang tidak tercantum dalam KUHPerdata.47

Ketentuan Hukum Jaminan pada umumnya diatur dalam Buku II KUHPerdata yang mengatur mengenai hukum kebendaan. Pada prinsipnya hukum jaminan merupakan bagian dari hukum kebendaan, sebab dalam Buku II KUHPerdata diatur mengenai pengertian, cara membedakan benda dan hak-hak kebendaan, baik yang memberi kenikmatan dan jaminan.48 Pengaturan hukum yang terkait dengan jaminan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:49

a. Di dalam buku II KUHPerdata b. Di luar buku II KUHPerdata

Ketentuan hukum jaminan dalam buku II KUHPerdata yang erat kaitannya dengan hukum jaminan dan masih berlaku ialah gadai (Pasal 1150 KUHPerdata sampai dengan Pasal 1161 KUHPerdata) dan sebagian dari hipotek (Pasal 1162 KUHPerdata sampai dengan Pasal 1232 KUHPerdata).50

Ketentuan hukum jaminan yang terdapat di luar KUHPerdata merupakan ketentuan-ketentuan hukum yang tersebar di luar KUHPerdata yang meliputi:51 a. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) tentang Hipotek Kapal Laut b. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Hukum Agraria c. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran

d. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan e. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia

47 H. Salim HS., Op.cit., hal. 13

48 Riky Rustam, Op.cit., hal. 44

49 H. Salim HS., Op.cit., hal. 11

50 Ibid.

51 Riky Rustam, Op.cit., hal. 44-45

(39)

4. Fungsi Hukum Jaminan

Fungsi jaminan secara yuridis adalah untuk kepastian hukum pelunasan hutang di dalam perjanjian kredit atau hutang piutang atau kepastian realisasi suatu prestasi dalam suatu perjanjian. Jaminan diberikan untuk melindungi kepentingan kreditor, yaitu untuk menjamin dana yang telah dikeluarkan oleh kreditor dalam suatu perikatan yang dilakukannya dengan debitor akan diterimanya kembali serta memberikan kepastian hukum kepada kreditor bahwa debitor akan mengembalikan dana yang telah diterimanya itu sesuai dengan perjanjian pengikatan jaminan. 52 Kepastian hukum ini dilakukan dengan peningkatan jaminan melalui lembaga-lembaga jaminan yang dikenal dalam hukum Indonesia Lembaga jaminan kebendaan dapat berupa hak tanggungan, hipotek, fidusia, dan gadai.53

Pemberian jaminan dalam suatu perjanjian utang-piutang maupun perjanjian kredit sangat diperlukan oleh kreditor karena kreditor mempunyai kepentingan untuk memastikan bahwa debitor akan memenuhi kewajibannya membayar utang.

5. Klasifikasi Hukum Jaminan

Pada umumnya lembaga jaminan yang dikenal dalam tata hukum Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu:

a. Menurut cara terjadinya:

1) Jaminan yang lahir karena ditentukan oleh undang-undang

52 Mariam Darus Badrulzaman (2), Kerangka Hukum Jaminan Indonesia dalam Hukum Jaminan Indonesia Seri Dasar Hukum Ekonomi 4, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1998), hal.

68

53 Riky Rustam, Op.cit., hal. 47

(40)

Jaminan yang lahir dari undang-undang ialah “jaminan yang lahir tanpa adanya perjanjian dari para pihak”54. Tergolong sebagai jaminan ini adalah jaminan umum berdasarkan ketentuan Pasal 1131 dan Pasal 1132 KUHPerdata.

Selain jaminan umum yang ditentukan Pasal 1131 dan Pasal 1132 KUHPerdata tersebut di atas, jaminan yang lahir karena ditentukan oleh peraturan perundang-undangan lainnya adalah hak retensi sebagaimana yang diatur dalam sejumlah pasal-pasal KUH Perdata, seperti perjanjian sewa menyewa (Buku III KUHPerdata), gadai, bezitter yang jujur (Buku II KUHPerdata), perjanjian pemberian kuasa, perjanjian perburuhan (Buku III KUHPerdata), KUHD, dan lain-lain.55

2) Jaminan yang lahir karena perjanjian

Jaminan yang lahir karena perjanjian adalah jaminan yang lahir dengan diperjanjikan terlebih dahulu oleh para pihak. Jaminan ini dibuat secara khusus dalam perjanjian dan dapat berbentuk jaminan yang bersifat kebendaan atau yang bersifat perorangan. Tergolong dalam jaminan ini adalah hipotek, gadai, fidusia, jaminan perorangan56, hak tanggungan, dan lain-lain.

b. Menurut bentuk golongannya:

1) Jaminan Umum

Jaminan Umum adalah jaminan yang ditentukan oleh undang-undang dalam hal ini ialah ketentuan Pasal 1131 KUHPerdata dan Pasal 1132

54 Riky Rustam, Op.cit., hal. 50

55 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Op.cit, hal. 44

56 Ibid., hal. 43-46

(41)

KUHPerdata. Pasal 1131 KUHPerdata menentukan bahwa “segala kebendaan milik si berutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan.”

Pasal 1132 KUHPerdata kemudian melanjutkan bahwa:

“Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang mengutang kepadanya; pendapatan penjualan benda- benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila di antara para berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan.”

Pasal 1131 KUHPerdata menentukan suatu kewajiban bagi debitor untuk memberikan jaminan kepada kreditor atas utang yang telah diterimanya, tanpa adanya jaminan yang ditentukan secara khusus maka segala harta kekayaan debitor baik yang sudah ada atau akan ada secara otomatis menjadi jaminan ketika membuat perjanjian utang.57

Dalam jaminan umum, masing-masing kreditor memiliki kedudukan dan hak yang sama (kreditor konkuren) untuk mendapatkan pelunasan utang dari hasil penjualan semua harta debitor. Hasil penjualan harta debitor akan dibagikan secara seimbang di antara para kreditor sesuai dengan besar masing-masing piutang kreditor.58

Jaminan umum yang bersumber dari Undang-Undang tersebut di atas mempunyai kelemahan yang bersifat mendasar dalam hal kemampuannya untuk melunasi utang debitor (si berutang) jika wanprestasi. Kelemahan jaminan umum yang dibebankan kepada seluruh

57 Riky Rustam, Op,cit., hal. 41

58 Ibid., hal 70

(42)

harta debitor terjadi ketika jumlah harta pemilik debitor tidak mencukupi untuk melunasi utangnya yang sangat besar.

Jaminan umum bukanlah jaminan yang dapat memberikan kepuasan kepada kreditor. Kreditor akan merasa aman jika ada benda-benda tertentu yang ditunjuk secara khusus sebagai jaminan piutangnya sehingga jaminan khusus merupakan solusi untuk menghindari terjadinya risiko atau kelemahan yang ada pada jaminan umum.

2) Jaminan Khusus

Jaminan khusus adalah jaminan yang lahir karena adanya perjanjian di antara para pihak. Jaminan ini dapat berupa yang bersifat perorangan maupun yang bersifat kebendaan.59

Perjanjian menurut rumusan Pasal 1313 KUHPerdata didefinisikan sebagai “suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.”

Rumusan yang diberikan dalam Pasal 1313 KUHPerdata tersebut menyiratkan bahwa sesungguhnya dari suatu perjanjian lahirlah kewajiban atau prestasi dari satu atau lebih orang (pihak) kepada satu atau lebih orang (pihak) lainnya, yang berhak atas prestasi tersebut.60 Dari rumusan perjanjian tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur perjanjian adalah:61

a) adanya para pihak

59 Ibid., hal. 52

60 Gunawan Widjaja, Ahmad Yani, Jaminan Fidusia, (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2001), hal. 13

61 P.N.H. Simanjuntak, Hukum Perdata Indonesia, (Jakarta: PrenadaMedia Group, 2015), hal. 286

(43)

b) adanya persetujuan para pihak c) adanya tujuan yang akan dicapai

d) adanya prestasi yang akan dilaksanakan

e) adanya bentuk tertentu baik lisan maupun tulisan f) adanya syarat-syarat tertentu

Syarat sah perjanjian diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata yaitu:62 a) sepakat mereka yang mengikatkan dirinya

b) kecakapan untuk membuat suatu perjanjian c) adanya suatu hal tertentu

d) adanya suatu sebab yang halal c. Menurut sifatnya:

1) Jaminan yang bersifat kebendaan

Jaminan yang bersifat kebendaan adalah adanya benda tertentu yang dipakai sebagai jaminan. Berikut ini adalah pengertian-pengertian jaminan yang bersifat kebendaan oleh para sarjana:

Sri Soedewi Masjchoen Sofwan:

“Jaminan kebendaan adalah jaminan yang berupa hak mutlak atas suatu benda yang mempunyai ciri-ciri dan hubungan langsung atas benda tertentu dari debitor, dapat dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti bendanya (droite de suite) dan dapat dialihkan.”63

Subekti:

“Jaminan kebendaan adalah pemberian jaminan kebendaan yang selalu berupa menyendirikan suatu bagian dari kekayaan seseorang, si pemberi

62 Ibid.

63 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Op.cit., hal.46-47

(44)

jaminan dan menyediakannya untuk pemenuhan (pembayaran) kewajiban (utang) seorang debitor”64

J. Satrio:

“Jaminan yang bersifat kebendaan berupa hak mutlak atas suatu benda tertentu dari debitor yang dapat dipertahankan pada setiap orang.”

Jaminan ini mempunyai ciri-ciri:

a) mempunyai hubungan langsung atas bendanya b) dapat dipertahankan kepada siapapun

c) selalu mengikuti bendanya (droit de suite)

d) yang lebih tua mempunyai kedudukan yang lebih tinggi e) dapat dialihkan kepada orang lain65

Jaminan kebendaan yang berlaku di Indonesia pada saat ini dapat digolongkan menjadi 5 (lima) golongan yaitu:

a) Gadai (pand), yang diatur dalam Bab 20 Buku II KUHPerdata

b) Jaminan hipotek, yang diatur dalam Bab 21 Buku II KUHPerdata (berlaku untuk jaminan atas kapal laut dan pesawat udara)

c) Hak Tanggungan, diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996

d) Jaminan Fidusia, diatur dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999

e) Jaminan Resi Gudang, diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang

Sebagaimana ketentuan Buku III KUHPerdata, hak jaminan dapat besifat sebagai hak kebendaan karena lahir bukan dari perjanjian obligatoir melainkan dari perjanjian kebendaan. Perjanjian kebendaan adalah suatu perjanjian yang dibuat oleh para pihak untuk melahirkan, mengubah, atau meniadakan hak kebendaan. Sebagai perjanjian kebendaan, kreditor yang merupakan pemegang hak jaminan akan memiliki hak-hak kebendaan

64 Soebekti, Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, (Bandung: Alumni, 1982), hal. 25

65 J. Satrio, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan Hak Tanggungan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002), hal. 13

(45)

dengan ciri yang sangant istimewa yaitu hak kebendaan bersifat mutlak, droit de suite, preferensi, dan ada prioritas.

2) Jaminan yang bersifat perorangan

Personal guarantee (jaminan perorangan) merupakan bagian dari hukum

jaminan yang mengatur tentang jaminan-jaminan piutang kreditor terhadap debitor. 66 Istilah jaminan perorangan berasal dari kata borgtocht.

Eksistensi jaminan perorangan dapat ditemukan berdasarkan ketentuan Pasal 1820 KUHPerdata yang menyebutkan bahwa “jaminan perorangan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang pihak ketiha, guna kepentingan si berpiutang, mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berutang manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya”. Jaminan perorangan diatur dalam Buku III, Bab XVII Pasal 1820 sampai dengan Pasal 1850 KUHPerdata tentang Penanggungan Utang.

Sri Soedewi Masjchoen Sofwan:

“Jaminan imateriil (perorangan) adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada perorangan tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap debitor tertentu terhadap harta kekayaan debitor umumnya”

Jaminan Perorangan ini timbul dengan adanya hubungan hukum yang akan menimbulkan kewajiban untuk melakukan pembayaran pada salah satu pihak. Agar pihak kreditor terjamin bahwa pembayarannya akan dipenuhi, maka disertakan pihak ketiga yang kadang-kadang sama sekali

66 Atik Indriyani, Aspek Hukum Personal Guaranty, Jurnal Hukum Prioris Vol 1, 2006, hal. 26

Referensi

Dokumen terkait

Dalam kasus gugatan perkara perdata ini terjadi hutang piutang antara Penggugat dan Tergugat I, Tergugat II. Pada perjanjiam hutang piutang antara Penggugat dan Tergugat I,

Adapun permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini sebagai berikut: Faktor-Faktor apa yang menyebabkan eksekusi objek jaminan fidusia pada Lembaga Pembiayaan Konsumen,

Dari tabel data diatas maka dapat dirangkum bahwa angka penyelesaian perkara kecelakaan lalu lintas pada tahun 2016 dan tahun 2017 secara umum rata- rata 50% saja dan

Majelis Hakim mengabulkan tuntutan ganti kerugian yang diajukan para penggugat, para Penggugat telah memenuhi syarat-syarat gugatan ganti kerugian Pasal 1365 KUH

1) Selama masih dalam pemeriksaan dan untuk mencegah kerugian yang lebih besar, pemilik Merek dan/atau penerima Lisensi selaku penggugat dapat mengajukan permohonan

Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa dari keempat karakteristik responden tersebut hanya karakteristik usia dan pendidikan terakhir yang mempengaruhi

Travel Medan dengan konsumennya hanya berbentuk lisan tanpa ada perjanjian tertulis, perlu dibuat penelitian mengenai kendala-kendala dalam pelaksanaan perjanjian

kelompok blanko, krim ekstrak kulit manggis 2, 3, 4 dan 5% pada saat sebelum penyinaran, setelah penyinaran, serta pemulihannya pada minggu pertama, kedua, ketiga dan keempat ...