• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2019"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

MELAKSANAKAN PERJANJIAN KERJASAMA DENGAN MITRA USAHA STASIUN PENGISIAN

BAHAN BAKAR UMUM (SPBU)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakutas Hukum

Universitas Sumatera Utara Oleh:

AULIA PUTRI RIHAN NIM: 150200382

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)
(3)

i

ABSTRAK

Aulia Putri Rihan*

Hasim Purba **

Muhammad Husni***

Perjanjian yang ditawarkan oleh pihak Perseroan Terbatas Pertamina kepada calon mitra usaha Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum adalah dalam bentuk perjanjian baku yang menyebabkan keadaan tidak seimbang karena calon mitra usaha tidak memiliki posisi tawar. Permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini adalah Bagaimanakah Bentuk Perjanjian Kerjasama PT. Pertamina dengan Mitra Usaha SPBU, Bagaimana kedudukan PT. Pertamina dalam perjanjian kerjasama tersebut, dan Bagaimana permasalahan hukum dalam perjanjian kerjasama tersebut.

Metode yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah metode hukum normatif dan juga empiris.Penelitian normatif adalah pendekatan yang dilakukan berdasarkan bahan hukum utama dengan cara menelaah teori-teori, konsep-konsep dan asas-asas hukum sedangkan metode empiris adalah penelitian hukum yang memakai sumber data primer. Adapun sifat dari penulisan ini adalah deskriptif yaitu menggambarkan secara sistematis dan jelas dimana melakukan penelitian termasuk survey ke lapangan untuk memperoleh data.

Adapun kesimpulan dari skripsi ini yaitu terdapat 3 bentuk perjanjian kerjasama yang terdapat didalam perjanjian baku yang dibuat oleh PT. Pertamina yaitu COCO (Company Owned Company Operated), DODO (Dealer Owned Dealer Operated), CODO (Company Owned Dealer Operated) dimana PT.

Pertamina berkedudukan sebagai Pemerintah yang harus menetapkan prinsip Good Corporate Governance dalam melakukan perjanjian kerjasama tersebut, didalam perjanjian kerjasama tersebut terdapat 2 jenis pelanggaran yaitu pelanggaran administrasi dan pelanggaran operasi yang dapat terkena sanksi sesuai perjanjian kerjasama tersebut.

Kata kunci: Perjanjian Kerjasama, PT. Pertamina & Mitra Usaha SPBU

*Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

**Dosen Pembimbing I

***Dosen Pembimbing II

(4)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas setiap rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam penulis ucapkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah menuntun kita semua hingga saat ini dan semoga kita mendapatkan pertolongan di hari kiamat nanti.

Skripsi ini berjudul “Kedudukan PT. Pertamina Dalam Melaksanan Perjanjian Kerjasama Dengan Mitra Usaha SPBU” yang disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk memperolah Gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari di dalam proses penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan dan doa dari berbagai pihak, dalam kesempatan ini Penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar- besarnya kepada :

1. Terima Kasih Penulis Kepada Mama saya tercinta Dwi Andriani Irma dan Papa saya tersayang Ivan Maltar, penulis menghaturkan banyak terimakasih dan rasa syukur karena telah membesarkan, merawat, mendidik serta memberikan kasih sayang serta mendoakan penulis dalam menjalani kehidupan ini.

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H.,M.Hum Selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

3. Bapak Prof. Dr. OK. Saidin, S.H.,M.Hum Selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

(5)

iii

4. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H.,M.Hum Selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

5. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H.,M.Hum Selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

6. Ibu Dr. Rosnidar Sembiring, SH.,M.Hum selaku Ketua Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan bayak ilmu dan nasehat selama penulis menjalani masa perkuliahan.

7. Staf dan Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang dengan penuh dedikasi menuntun dan membimbing penulis selama mengikuti masa perkuliahan sampai dengan menyelesaikan skripsi ini.

8. Bapak Prof. Dr. Hasim Purba, SH., M.Hum selaku Dosen Pembimbing I, yang telah meluangkan waktu,tenaga serta pemikirannya untuk memberikan petunjuk dan bimbingan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Bapak Muhammad Husni, SH.,M.H selaku Dosen Pembimbing II, yang telah meluangkan waktu,tenaga serta pemikirannya untuk memberikan petunjuk dan bimbingan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Terima Kasih Penulis Kepada Dimas Luqman Hakim selaku Abang penulis yang selalu memberikan support dan yang selalu berusaha bersama untuk menjaga dan membanggakan kedua orang tua.

11. Terima Kasih Penulis Kepada Sahabat Penulis Andy Maulana Putra yang telah menemani hari-hari penulis selama menyelesaikan

(6)

iv

perkuliahan dan memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini

12. Terima Kasih Kepada Sahabat Penulis sejak SD sampai sekarang Zahra Shafira yang telah mendengarkan dengan sabar keluh kesah penulis.

13. Terima Kasih Kepada Sahabat Penulis sejak SMA sampai Akhir Semester Nada, Umil, Upeng, Mira, Puwu, Angel, Rizka Amanda, Rifky Pratama yang telah memberikan semangat selama ini.

14. Terima Kasih Kepada KIUK yaitu Ola, NJ, ND, Iyan, Ijun, Inu sejak semester satu sampai semester akhir yang telah mendampingi dan menghibur penulis.

15. Terima Kasih Kepada Kelompok Klinis Penulis Umil, Rizka , NJ, Vanes, Ojan, Keo, Ijun, Temi, Upeng yang telah bersama berusaha menyelesaikan klinis sebaik mungkin.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kata kesempurnaan, namun penulis berharap semoga penulisan skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak terkhusus bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Medan, 17 Juni 2019 Hormat Penulis,

Aulia Putri Rihan

NIM: 150200382

(7)

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Perumusan Masalah... 7

C.Tujuan Penelitian... 8

D.Manfaat Penelitian... 8

E.Metode Penelitian ... 9

F. Keaslian Penelitian ... 12

G.Sistematika Penelitian ... 13

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN KERJA SAMA ... 16

A.Pengaturan Kerjasama Kemitraan dalam Hukum Perdata ... 16

B.Bentuk-Bentuk Perjanjian Kerjasama dalam Dunia Usaha ... 26

C.Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Perjanjian Kerjasama Mitra Usaha ... 40

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KERJASMA MITRA USAHA ANTARA PT. PERTAMINA DENGAN MITRA USAHA SPBU... 47

A.Dasar Pengaturan Perjanjian Mitra Usaha ... 47

B.Fungsi dan Tujuan Kerjasama Mitra Usaha bagi Para Pihak ... 51

C.Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Perjanjian Kerjasama Mitra Usaha pada PT.Pertamina ... 53

(8)

vi

BAB IV KEDUDUKAN PT. PERTAMINA DALAM MELAKSANAKAN

PERJANJIAN KERJASAMA DENGAN MITRA USAHA SPBU ... 74

A.Bentuk Perjanjian Kerjasama Penrtamina (Persero) dengan Mitra Usaha SPBU ... 74

B.Kedudukan Pertamina (Persero) dalam melakukan Perjanjian Kerjasama dengan Mitra Usaha SPBU. ... 77

C.Permasalahan-Permasalahan Hukum dalam Pelaksanaan Perjanjian Kerjasama Kemitraan pada Pertamina dengan Mitra Usaha SPBU .... 79

BAB V PENUTUP... 91

A.Kesimpulan... 91

B.Saran ... 92

DAFTAR PUSTAKA ... 93

LAMPIRAN ... 96

(9)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang telah dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa berupa kekayaan alam yang terkandung diwilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang diapit oleh dua benua serta dua samudera. Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki alam yang sangat subur, kondisi geografis yang strategis, serta kaya akan keanekaragaman sumber daya alam yang terkandung di dalamnya menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara yang besar khususnya di Asia Tenggara. Sumber daya alam yang sangat besar pengaruhnya bagi kepentingan bangsa Indonesia adalah minyak bumi dan gas bumi. Peran PT. Pertamina sebagai Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara itu sebagian telah diambil kembali oleh pemerintah melalui UU No. 22/2001 yang membuka kesempatan bagi pelaku bisnis untuk berkiprah dalam bisnis migas nasional, Pertamina masih dianggap dan diharapkan menjadi perusahaan migas utama dalam pembangunan sektor migas nasional1.

Pertamina adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal

1 Mudrajad Kuncoro, Transformasi Pertamina: Dilema Antara Orientasi Bisnis dan Pelayanan Publik, (Yogyakarta: Galang Press Group, 2000), hlm. 9

(10)

10 Desember 1957 dengan nama PT Permina. Pada tahun 1961 perusahaan ini berganti nama menjadi PN Permina dan setelah merger dengan PN Pertamin ditahun 1968, namanya berubah menjadi PN Pertamina. Setelah bergulirnya Undang-Undang No. 8 Tahun 1971 tentang Perusahaaan Pertambangan dan Minyak Bumi, sebutan perusahaan berubah menjadi PT Pertamina. Sebutan ini tetap dipakai setelah Pertamina berubah status badan hukumnya menjadi Pertamina (Persero) pada tanggal 17 September 2003 berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.2

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) atau yang dikenal oleh masyarakat dengan istilah Pompa Bensin merupakan unit Usaha Migas mitra Perseroan Terbatas (PT) PERTAMINA dengan komoditas yang sangat strategis, kegiatan utamanya adalah menyalurkan atau menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dan BBM non subsidi kepada Masyarakat umum khususnya untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan rakyat/pribadi. PT.Pertamina sejak tahun 2002 berdasarkan Undang Undang Migas No. tahun 2002 tidak lagi menjadi regulator yang merangkap pemain. Saat ini kedudukan PT. Pertamina sama dan setara dengan perusahaan lain, yaitu sebagai pemain, tidak adalagi hak-hak

2PT. Pertamina (Persero), ”Sejarah PERTAMINA” , diakses dari http://www.pertamina.com tanggal 19 Juli 2019.

(11)

privilege yang dapat melindungi PT.Pertamina di arena persaingan, kecuali PT. Pertamina sendiri membangun kekuatan sendiri.3

Setelah bergulirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, kegiatan usaha minyak dan gas bumi diserahkan kepada mekanisme pasar, sehingga Pertamina tidak lagi menjadi satu- satunya perusahaan yang memonopoli industri MIGAS. Menghadapi persaingan bebas tersebut, khususnya di sektor retail BBM, Pertamina saat ini sedang berbenah untuk melakukan transformasi di segala bidang, termasuk di fungsi Retail outlet SPBU. Upaya yang dilakukan dalam transformasi tersebut adalah pemberian standarisasi pelayanan SPBU Pertamina. Pertamina berkomitmen memberikan pelayanan terbaik, dengan istilah “Pertamina Way”, SPBU yang telah sukses menerapkan Pertamina Way berhak mendapatkan Sertifikat Pasti Pas.4

Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) Peratutan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2003 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) menjadi Perusahaan Perseroan (Persero), tujuan dari PT. Pertamina adalah :

1. Mengusahakan keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan Perseroan secara efektif dan efisien.

3Ibid.

4 SPBU, diakses dari http://sppbe.pertamina.com/off/spbu.aspx, tanggal 27 Mei 2019

(12)

2. Memberikan kontribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Pertamina melaksanakan beberapa kegiatan usaha untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut. Kegiatan usaha tersebut meliputi:5

1. Menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi beserta hasil olahan dan turunannya.

2. Menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang panas bumi yang ada pada saat pendiriannya, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang telah mencapai tahap akhir negosiasi dan berhasil menjadi milik Pertamina.

3. Melaksanakan pengusahaan dan pemasaran Liquifield Natural Gas (LNG) dan produk lain yang dihasilkan dari kilang LNG.

4. Menyelenggarakan kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam nomor 1,2, dan 3.

Berkaitan dengan salah satu kegiatan usaha yang dilakukan oleh Pertamina, yaitu menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi beserta hasil olahan dan turunannya, maka Pertamina memproduksi antara lain produk-produk hasil olahan minyak dan gas bumi yang meliputi Bahan Bakar Minyak (yang terdiri dari minyak bensin, minyak solar, minyak tanah, minyak diesel, dan minyak bakar), Bahan Bakar Khusus (BBK), Non BBM, petrokimia, pelumas, dan gas, yang terdiri dari LPG

5 PT. PERTAMINA (persero), “Tentang PERTAMINA”, diakses dari http://www. pertamina .com, tanggal 14 Maret 2019

(13)

(Liqueifield Petroleum Gas), BBG (Bahan Bakar Gas), dan Musicool (Pengganti CFC yang ramah lingkungan).6

Pertamina kemudian melaksanakan pendistribusian dan pemasaran atas keseluruhan produknya yang ditujukan terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Dalam kegiatan pendistribusian produk Pertamina, khususnya BBM, Pertamina dituntut untuk melaksanakan pendistribusian ke seluruh pelosok tanah air dalam jumlah yang cukup, waktu yang tepat, mutu yang baik dengan harga yang layak (sesuai ketentuan yang berlaku).7 Pertamina melakukan pemasaran dengan cara yang banyak antara lain adalah dengan bekerjasama dengan Pengusaha/Mitra usaha dan didasari oleh sebuah Perjanjian.

Dalam Burgelijk Wetboek (BW) yang kemudian diterjemahkan oleh Subekti, dan R. Tjitrosudibio menjadi Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) bahwa mengenai hukum perjanjian diatur dalam Buku III tentang Perikatan, dimana hal tersebut mengatur dan memuat tentang hukum kekayaan yang mengenai hak-hak dan kewajiban yang berlaku terhadap orang-orang atau pihak-pihak tertentu.8

Sebagaimana lazimnya suatu hubungan bisnis, kerjasama antara Pertamina dengan pengusaha SPBU Pertamina Pasti Pas diatur dalam

6Ibid.

7 Tengku Ninoy Rafina, Tesis, “Analisis Tentang Perjanjian SPBU Antara PT.

Pertamina (Persero) Dengan Pengusaha SPBU 14.201.103 Setia Budi Medan.”

(Medan : USU, 2010) hlm. 17

8 R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, cet, 28, (Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 1996), hlm. 323.

(14)

suatu perjanjian yang dituangkan dalam Surat Perjanjian Kerjasama Pengusahaan SPBU. Surat perjanjian kerjasama yang mengikat Pertamina dengan SPBU Pertamina Pasti Pas merupakan perjanjian bentuk baru yang sama sekali berbeda dengan perjanjian pengusahaan SPBU sebelumnya (yang tidak bersertifikasi Pasti Pas). Pada perjanjian kerjasama ini Pertamina menerapkan prosedur monitoring yang lebih ketat, mulai dari proses pembangunan SPBU, pemeliharaan, pengoperasian, hingga pengelolaan SPBU. Selain itu, Pertamina juga menetapkan standar tertentu, yaitu ”standar pelayanan” yang harus dipatuhi oleh seluruh SPBU yang telah bersertifikasi Pasti Pas. Selama masa perjanjian berjalan, SPBU Pertamina Pasti Pas wajib mematuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Pertamina.

Perjanjian kerjasama dalam bentuk baru tersebut merupakan perwujudan dari asas kebebasan berkontrak seperti diatur dalam Pasal 1338 Kitab Undangundang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek, selanjutnya disebut BW) yang tetap tak terlepas dari keharusan untuk memenuhi syarat sahnya perjanjian sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 BW.

Ketentuan atau peraturan yang menjamin para pihak yang terlibat dalam kegiatan pengadaan bahan bakar bensin masih belum berkembang, karena perjanjian pengadaan bahan bakar yang dibuat oleh Pertamina dan SPBU hanya terbatas pada perjanjian jual beli saja, dimana pedagang dalam hal ini pihak Pertamina sabagai pemberi kredit atau penjual dan

(15)

SPBU sebagai debitur. Namun mengenai hal-hal yang telah dijanjikan sudah merupakan suatu perjanjian yang sah meskipun hubungannya hanya terbatas pada penjual dan pembeli saja.

Dalam praktek pengadaan bahan bakar banyak sekali hambatan – hambatan yang terjadi, antara lain lemahnya posisi SPBU dalam menghadapi (Pertamina). Sebagai contoh, karena perjanjian telah dibuat secara tulis atau standar maka sering kali terjadi masalah dimana isi perjanjian kurang sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Selain itu sering kali dalam pelaksanaan pengadaan bahan bakar tersebut timbul perselisihan diantara para pihak dan bukan hal yang luar biasa jika pihak Pertamina atau Pemerintah melakukan praktek wanprestasi yang merugikan pihak SPBU. Tetapi jika hal ini dilakukan oleh pihak SPBU akibatnya akan fatal.

Permasalahan-permasalahan yang timbul seputar pelaksanaan perjanjian kerjasama pengadaan bahan bakar seperti bentuk wanprestasi yang dilakukan para pihak dan penyelesaiannya dapat diketahui,juga

untuk mengetahui sejauh mana perlindungan hukum dapat menjamin kepentingan para pihak baik Pertamina maupun Mitra Usaha.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang diatas maka Rumusan Masalah yang ada antara lain sebagai berikut :

(16)

1. Bagaimanakah Bentuk Perjanjian Kerjasama PT. Pertamina dengan Mitra Usaha SPBU?

2. Bagaimanakah Kedudukan PT. Pertamina (Persero) dalam melaksanakan perjanjian kerjasama dengan Mitra Usaha SPBU?

3. Bagaimanakah Permasalahan-permasalahan hukum dalam pelaksanaan perjanjian kerjasama kemitraan pada PT. Pertamina dan Mitra Usaha SPBU ?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk Mengetahui bentuk-bentuk perjanjian PT.Pertamina dalam Pelaksanaan Perjanjian Kerjasama dengan Mitra Usaha SPBU.

2. Untuk Mengetahui kedudukam PT. Pertamina dalam melaksanakan perjanjian kerjasama dengan mitra usaha SPBU.

3. Untuk Mengetahui permasalahan-permasalahan hukum dalam pelaksanaan perjanjian kerjasama kemitraan pada PT. Pertamina dan mitra usaha SPBU.

D. Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis, sebagai Bahan Informasi dan Bahan Perbandingan bagi penelitian lanjutan untuk memperluas atau memperoleh hasil penelitian yang telah ada terhadap Kedudukan PT.Pertamina dalam Perjanjian Kerjasama dengan Mitra Usaha SPBU

(17)

b. Manfaat Praktis, diharapkan hasil penulisan ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yuridis yang berkaitan dalam perlindungan hukum PT. Pertamina yang melaksanakan perjanjian kerjasama dengan Mitra Usaha SPBU ini.

E. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah adalah cara-cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid,dengan tujuan dapat ditemukan,dikembangkan,dan dibuktikan suatu pengetahuan tertentu,sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami,memecahkan dan mengantisipasi masalah9

Dalam penulisan skripsi ini, digunakan metode penelitian pengumpulan

data dan materi-materi yang berkaitan dengan skripsi ini,agar tulisan ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,maka penulis mengusahakan agar mengumpulkan data dengan menggunakan metode sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan di skripsi ini ialah yuridis normatif dan juga yuridis empiris. Pendekatan yuridis normatif adalah pendekatan yang dilakukan berdasarkan bahan hukum utama dengan cara menelaah teori-teori, konsep-konsep,asas-asas hukum serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penelitian ini sedangkan pendekatan yuridis empiris adalah penelitian hukum yang memakai sumber data primer. Data yang

9 Sugiyono,Metode Penilitian Pendidikan:Pendekatan Metode Kuantitatif, Kualitatif , R&D, (Bandung:Alfabeta: 2009), hal.6

(18)

diperoleh berasal dari observasi yang dilakukan langsung yaitu dengan melakukan penelitian yang bertempat di Kantor PT. Pertamina Medan.

2. Sifat Penilitian

Sifat penelitian yang digunakan adalah bersifat deskriptif dengan melakukan wawancara kepada pihak pertama yaitu PT. Pertamina agar mendapatkan informasi yang akurat,dapat dipertanggungjawabkan dan menggambarkan secara sistematis dan jelas dimana kita melakukan penelitian termasuk survey ke lapangan untuk memperoleh data.10

3. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam skripsi ini adalah data sekunder dan

data primer yang diperoleh dan disusun secara sistematis dan dianalisis secara yuridis.

a. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Data sekunder mencakup:

i. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang mengikat dan yang telah ditetapkan oleh pihak-pihak yang berwenang,yakni berupa Undang-Undang Dasar 1945 Kitab

10 Amiruddin dan H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006), hal.118

(19)

Undang-Undang Hukum Perdata,Kitab Undang-Undang Hukum Dagang,Peraturan Presisden No.16 Tahun 2018,Peraturan Presiden No.54 Tahun 2010, Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa No. 9 Tahun 2018, Peraturan Presiden No.38 Tahun 2015.

ii. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder yaitu semua dokumen resmi yang mempunyai hubungan erat dengan bahan hukum primer yaitu berupa Doktrin-doktrin,jurnal hukum maupun artikel- artikel yang dapat ditemukan pada website di internet.

iii. Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier yaitu semua dokumen yang melengkapi bahan hukum primer dan sekunder yang dapat berupa kamus dan ensiklopedia

b) Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung. Data yang diperoleh penulis sendiri ialah perjanjian (kontrak) kerjasama antara PT. Pertamina dengan Mitra Usaha SPBU.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada skripsi ini adalah dengan menggunakan cara sebagai berikut:

(20)

a) Penelitian Kepustakaan ( Library Research)

Pada Teknik ini peneliti melakukan penelitian terhadap buku- buku,karya ilmiah,dan pendapat para sarjana hukum yang dapat penulis gunakan dalam pengembangan uraian teoritis penulisan skripsi ini.

b) Penilitian Lapangan ( Field Research )

Penelitian ini penulis lakukan dengan observasi langsung ke lapangan

untuk mengetahui bagaimana langkah dan proses yang harus dilakukan oleh PT. Pertamina untuk melaksanakan perjanjian kerjasama antara PT.

Pertamina dengan Mittra Usaha SPBU.

F. Keaslian Penelitian

Penulisan mengenai “Kedudukan Pertamina (Persero) dalam melakukan Perjanjian Kerjasama dengan Mitra Usaha SPBU.” ini belum pernah dilakukan dalam topik permasalahan yang sama, baik di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, maupun di lingkungan lainnya. Hal ini diketahui penulis setelah melakukan pemeriksaan judul di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan melalui penjelajahan di media internet. Tulisan ini mengfokuskan penelitiannya terhadap kedudukan PT. Pertamina dalam perjanjian kerjasama yang dilakukan antara PT. Pertamina dan Mitra Usaha SPBU.

(21)

G. Sistematika Penelitian

Sistematika penulisan skripsi ini terbagi dalam empat bab. Mengenai uraian sistematika pokok-pokok pembahasannya adalah sebagai berikut :

Bab I : PENDAHULUAN

Merupakan latar belakang dan perumusan masalah, penjelasan judul, alasan pemilihan judul, tujuan penulisan, metode penulisan dan pertanggungjawaban sistematika. Bab ini merupakan landasan dari penulis untuk menyelesaikan skripsi ini, sehingga kerangka kerangka dasar yang berhubungan dengan rumusan masalah dalam skripsi dijabarkan dalam bab ini.

Bab II : TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN

KERJASAMA

Pada skripsi ini menjawab mengenai tinjauan umum mengenai perjanjian kerjasama. Bab ini terdiri dari tiga sub- bab. Sub-bab pertama membahas mengenai pengaturan kerjasama kemitraan dalam hukum perdata dan pada sub-bab kedua membahasa mengenai bentuk-bentuk perjanjian kerjasama dan sub-bab ketiga membahas hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian kerjasama

(22)

Bab III : TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN KERJASAMA MITRA USAHA ANTARA PT.

PERTAMINA DENGAN MITRA USAHA SPBU

Menguraikan mengenai tinjauan umum tentang perjanjian kerjasma mitra usaha antara PT. Pertamina dengan mitra usaha SPBU. Pada bab ini terdapat tiga sub-bab. Sub-bab pertama membahas tentang dasar pengaturan perjanjian mitra usaha dan pada sub-bab kedua akan membahas tentang fungsi dan tujuan dari kerjasama mitra usaha bagi para pihak dan sub-bab terakhir membahas mengenai hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian kerjasama tersebut.

Bab IV : KEDUDUKAN PT PERTAMINA DALAM

MELAKSANAKAN PERJANJIAN KERJASAMA MITRA USAHA SPBU.

Mengenai kedudukan PT Pertamina dalam perjanjian kerja sama dengan Mitra Usaha SPBU. Pada bab keempat tersebut, antara lain dibahas mengenai bentuk-bentuk perjanjian kerjasama PT. Pertamina dan mitra usaha SPBU dan kedudukan PT. Pertamina dalam perjanjian tersebut sampai dengan permasalahan-permasalahan yang dapat terjadi dalam proses perjanjian kerjasama tersebut.

(23)

Bab V : PENUTUP

Bab ini berisi kesimpulan atas hasil pembahasan dari bab kedua, bab ketiga, dan bab keempat yang telah diuraikan.

Selain itu, bab ini juga berisikan saran-saran yang diharapkan dapat bermanfaat untuk perkembangan hukum di Indonesia terutama dalam bidang hukum kontrak.

(24)

BAB II

TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN KERJA SAMA

A. Pengaturan Kerjasama Kemitraan dalam Hukum Perdata

Kerjasama merupakan salah satu bentuk interaksi sosial. Menurut Abdulsyani, kerjasama adalah suatu bentuk proses sosial, dimana didalamnya terdapat aktivitas tertentu yang ditunjukkan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami aktivitas masing-masing.11

Kerjasama juga diartikan sebagai kegiatan yang di lakukan secara bersama- sama dari berbagai pihak untuk mencapai tujuan bersama.12

Sebagaimana dikutip oleh Abu Ahmadi, Roucek dan Warren, mengatakan bahwa kerjasama berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama.

Ia adalah satu proses sosial yang paling dasar. Biasanya, kerjasama melibatkan pembagian tugas, dimana setiap orang mengerjakan setiap pekerjaan yang merupakan tanggung jawabnya demi tercapainya tujuan bersama.13

Sedangkan dalam istilah administrasi, pengertian kerjasama sebagaimana yang dijelaskan oleh Hadari Nawawi adalah usaha untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan melalui pembagian tugas/pekerjaan, tidak sebagai pengkotakan kerja akan tetapi sebagai satu kesatuan kerja, yang semuanya terarah pada pencapaian tujuan.14

11 Abdulsyani, Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan, Bumi Aksara, Jakarta, 1994, Hal. 156

12 W.J.S. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1985, Hal. 492.

13 Abdulsyani, Op.cit, Hal.157

14 Engkoswara dan Aan Komariah, Administrasi Pendidikan, (Bandung:

Alfabeta, 2012) hlm. 25

(25)

Menurut Business Dictionary, pengertian kerjasama adalah pengaturan kemitraan saling menguntungkan yang dilakukan secara sukarela oleh dua bidang usaha atau lebih. Kerjasama ini menjadi hal yang menguntungkan karena beberapa permasalahan menjadi lebih ringan.15

Didalam Hukum Perdata biasanya suatu kerjasama didasari oleh sebuah perjanjian. Secara yuridis pengertian perjanjian terdapat pada Pasal 1313 KUHPerdata yang berbunyi: Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lainnya atau lebih”.Dilihat dari bentuknya perjanjian itu dapat berupa suatu perikatan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis.16

Perjanjian diatur dalam Kitab Undang Undang Hukum Perdata di Buku ketiga tentang Perikatan. Buku ketiga disamping mengatur tentang perikatan yang timbul dari perjanjian, juga mengatur perikatan yang timbul dari undang undang. Contoh perikatan yang lahir dari undang-undang sebagi berikut :17

1. Perikatan yang menimbulkan kewajiban-kewajiban tertentu diantara penghuni pekarangan yang saling berdampingan.

2. Perikatan yang menimbulkan kewajiban mendidik dan memelihara anak 3. Perikatan karena adanya perbuatan melawan hukum.

15 https://www.maxmanroe.com/pengertian-kerjasama.html, diakses pada tanggal 26 juni 2019

16 Hasanudin Rahman, Legal Drafting, (Bandung: PT Citra aditya Bakti, 2000) hlm. 4

17https://naufalalfatih.wordpress.com/2012/10/10/perjanjiankontrak/,diakses pada tanggal 26 juni 2019

(26)

4. Perikatan yang timbul karena perbuatan sukarela, sehingga perbuatan sukarela tersebut haruslah dituntaskan.

5. Perikatan yang timbul dari pembayaran tidak terhutang.

6. Perikatan yang timbul dari perikatan wajar.

Kemitraan menurut perspektif etimologis diadaptasi dari kata partnership, dan berasal dari akar kata partner. Partner bisa diartikan pasangan atau sekutu.

Maka partnership dapat diterjemahkan menjadi persekutuan atau perkongsian.18. Kemitraan memiliki pengertian yang beragam sebagaimana dikemukakan oleh banyak sarjana. Menurut Tim Penyusun Kamus Bahasa Indonesia19 kata mitra memiliki arti teman, kawan kerja, pasangan kerja, rekan, sedangkan

“kemitraan adalah perihal hubungan atau jalinan kerjasama sebagai mitra”.

Sedangkan menurut Wie kemitraan merupakan kerjasama usaha antara perusahaan besar atau menengah yang bergerak di sektor produksi barang- barang maupun di sektor jasa dengan industri kecil berdasarkan atas asas saling membutuhkan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan.20Pendapat lain dikemukakan oleh Hafsah21 yang menyebutkan:

“Kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling

18 Ambar Teguh Sulistiyani, Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan, (Yogyakarta: Gaya Media,2004) hlm. 129

19 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cetakan Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 588.

20 Thee Kian Wie. Ed. Dialog Kemitraan dan Keterkaitan Usaha Besar dan Kecil dalam Sektor Industri Pengolahan (Jakarta: Gramedia, 1992), hlm 3.

21 Muhammad Jafar Hafsah, Kemitraan Usaha (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999), hlm. 43.

(27)

membesarkan. Karena merupakan strategi bisnis maka keberhasilan kemitraan sangat ditentukan oleh adanya kepatuhan di antara yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis.”

Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun kelompok.

Kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara individu-individu, kelompok- kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. Ada berbagai pengertian kemitraan secara umum (Promkes Depkes RI) meliputi:22

a. Kemitraan mengandung pengertian adanya interaksi dan interelasi minimal antara dua pihak atau lebih dimana masing-masing pihak merupakan

”mitra” atau ”partner”.

b. Kemitraan adalah proses pencarian/perwujudan bentuk-bentuk kebersamaan yang saling menguntungkan dan saling mendidik secara sukarela untuk mencapai kepentingan bersama.

c. Kemitraan adalah upaya melibatkan berbagai komponen baik sektor, kelompok masyarakat, lembaga pemerintah atau non-pemerintah untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama berdasarkan atas kesepakatan, prinsip, dan peran masing-masing.

d. Kemitraan adalah suatu kesepakatan dimana seseorang, kelompok atau organisasi untuk bekerjasama mencapai tujuan, mengambil dan

22 Notoatmodjo, Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku (Jakarta: Rineka Cipta. 2007), Hlm. 45.

(28)

melaksanakan serta membagi tugas, menanggung bersama baik yang berupa resiko maupun keuntungan, meninjau ulang hubungan masingmasing secara teratur dan memperbaiki kembali kesepakatan bila diperlukan.

Kemitraan usaha merupakan salah satu upaya pemerintah untuk tercapainya pembangunan pertanian modern yang berorientasi agribisnis dalam bidang perkebunan khususnya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, salah satunya dengan melakukan upaya kemitraan usaha antara usaha besar dengan usaha kecil dalam berbagai pola hubungan. Pola hubungan kemitraan ini ditujukan agar pengusaha kecil dapat lebih aktif berperan bersama-sama dengan pengusaha besar, hal ini juga difaktori bahwa usaha kecil merupakan bagian yang integral dari dunia usaha nasional dan mempunyai eksistensi, potensi, peranan yang sangat penting dan strategis dalam mewujudkan pembangunan ekonomi khususnya.

Menurut Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Kemitraan adalah kerja sama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan Usaha Besar.

Selanjutnya menurut Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan, mendefinisikan kemitraan adalah kerjasama usaha antara Usaha Kecil dengan Usaha Menengah dan atau dengan Usaha Besar disertai pembinaan dan pengembangan oleh Usaha Menengah dan atau Usaha

(29)

Besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.

Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 peran pemerintah dalam mengatur pola kemitraan pengusaha besar, menengah dan kecil tertuang dalam ketentuan umum Pasal 1 ayat (8) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 yang menyebutkan tentang: 23

“Kerjasama usaha antara usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan yang berkelanjutan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan”.

Dari definisi kemitraan sebagaimana tersebut di atas, mengandung makna bahwa tanggung jawab moral pengusaha menengah/besar untuk membimbing dan membina pengusaha kecil mitranya agar mampu mengembangkan usahanya sehingga mampu menjadi mitra yang handal untuk menarik keuntungan dan kesejahteraan bersama. Selanjutnya dari definisi tersebut dapat diketahui unsur- unsur penting dari kemitraan, yaitu:24

1. Kerjasama usaha, yang didasari oleh kesejajaran kedudukan atau mempunyai derajat yang sama bagi kedua pihak yang bermitra, tidak ada pihak yang dirugikan dalam kemitraan dengan tujuan bersama

23 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, Pasal 1 Ayat 8.

24Ian Linton, Kemitraan Meraih Keuntungan Bersama, (Jakarta : Hailarang, 1997), hlm. 10.

(30)

untuk meningkatkan keuntungan atau pendapatan melalui pengembangan usaha tanpa saling mengeksploitasi satu sama lain serta saling berkembangnya rasa saling percaya diantara mereka.

2. Antara pengusaha besar atau menengah dengan pengusaha kecil, diharapkan usaha besar atau menengah dapat bekerjasama saling menguntungkan dengan pelaku ekonomi lain (usaha kecil) untuk mencapai kesejahteraan bersama.

3. Pembinaan dan pengembangan, yang dilakukan oleh usaha besar atau usaha menengah terhadap usaha kecil, yang dapat berupa pembinaan mutu produksi, peningkatan kemampuan SDM, pembinaan manajemen produksi, dan lainlain

4. Prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan, yang akan terjalin karena para mitra akan dan saling mengenal posisi keunggulan dan kelemahan masing-masing yang akan berdampak pada efisiensi dan turunya biaya produksi. Karena kemitraan didasarkan pada prinsip win-win solution partnership, maka para mitra akan mempunyai posisi tawar yang akan setara berdasarkan peran masing-masing. Ciri dari kemitraan adalah kesejajaran kedudukan, tidak ada pihak yang dirugikan dan bertujuan untuk meningkatkan keuntungan bersama melalui kerjasama tanpa saling mengeksploitasi satu dan yang lain dan tumbuhnya rasa saling percaya diantara mereka.

(31)

Selanjutnya Ian Linton mengartikan kemitraan sebagai sebuah cara melakukan bisnis dimana pemasok dan pelanggan berniaga satu sama lain untuk mencapai tujuan bisnis bersama.25 Berdasarkan motivasi ekonomi tersebut maka prinsip kemitraan dapat didasarkan atas saling memperkuat.

Pengertian tentang kemitraan ini juga dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan. Dari pengertian tentang kemitraan ini ada beberapa unsur yang terkandung di dalamnya, yaitu:

1) Kemitraan merupakan kerjasama usaha.

2) Pihak-pihak adalah usaha skala kecil dengan usaha skala menengah dan usaha skala besar.

3) Kemitraan tersebut harus disertai dengan pembinaan dan pengembangan oleh usaha yang lebih besar.

4) Prinsip-prinsip yang digunakan dalam kemitraan adalah saling menguntungkan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.

Konsep kemitraan tersebut secara lebih rinci diuraikan dalam Pasal 27 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995, disebutkan bahwa kemitraan dapat dilaksanakan dengan beberapa bentuk antara lain:26

1. Inti-plasma adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar sebagai inti membina dan mengembangkan

25 Ibid.

26 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, Pasal 27.

(32)

usaha kecil yang menjadi plasma dalam penyediaan lahan, penyediaan sarana produksi, pemberian bimbingan teknis manajemen usaha, produksi, perolehan, penguasaan, dan peningkatan teknologi yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi dan produktifitas usaha. Program inti-plasma ini, diperlukan keseriusan dan kesiapan, baik pihak usaha kecil sebagai pihak yang mendapat bantuan untuk dapat mengembangkan usahanya, maupun pihak usaha besar yang mempunyai tanggung jawab sosial untuk mengembangkan usaha kecil sebagai mitra usaha dalam jangka panjang.

2. Sub kontraktor adalah suatu sistem yang menggambarkan hubungan antara usaha besar dengan usaha kecil/menengah, di mana usaha besar sebagai perusahaan induk (parent firm) meminta kepada usaha kecil/menengah (selaku subkontraktor) untuk mengerjakan seluruh atau sebagian pekerjaan (komponen) dengan tanggung jawab penuh pada perusahaan induk.

3. Dagang umum adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar yang berlangsung dalam bentuk kerjasama pemasaran, penyediaan lokasi usaha, atau penerimaan pasokan dari usaha kecil mitra usahanya untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh usaha besar dan atau usaha menengah yang bersangkutan.

4. Waralaba (franchise) adalah suatu sistem yang menggambarkan hubungan antara usaha besar (franchisor) dengan usaha kecil (franchises), di mana franchisee diberikan hak atas kekayaan

(33)

intelektual atau penemuan ciri khas usaha, dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak franchisor dalam rangka penyediaan atau penjualan barang dan atau jasa.

5. Keagenan merupakan hubungan kemitraan, dimana pihak principal memproduksi/memiliki sesuatu, sedangkan pihak lain (agen) bertindak sebagai pihak yang menjalankan bisnis tersebut dan menghubungkan produk yang bersangkutan langsung dengan pihak ketiga.

Bentuk-bentuk lain diluar pola sebagaimana yang tertulis di atas, yang saat ini sudah berkembang tetapi belum dibakukan atau pola-pola baru yang timbul dimasa yang akan datang.Kemitraan sebagaimana tersebut di atas juga telah dimuat kembali dalam Pasal 26 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang menyebutkan kemitraan dilaksanakan dengan pola:27

a. Inti-plasma;

b. Subkontrak;

c. Waralaba;

d. Perdagangan umum;

e. Distribusi dan keagenan; dan

f. Bentuk-bentuk kemitraan lain, seperti: bagi hasil, kerjasama operasional, usaha patungan (joint venture), dan peyumberluaran (outsourching).

27 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil,dan Menengah, Pasal 26.

(34)

Berdasarkan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil mengatakan bahwa “Hubungan kemitraan dituangkan dalam bentuk perjanjian tertulis yang sekurang-kurangnya mengatur bentuk dan lingkup kegiatan usaha kemitraan, hak dan kewajiban masing-masing pihak, bentuk pembinaan dan pengembangan, serta jangka waktu dan penyelesaian perselisihan.”.

B. Bentuk-Bentuk Perjanjian Kerjasama dalam Dunia Usaha

Pengertian Perjanjian Kerjasama dapat kita lihat yaitu Suatu perbuatan dengan mana satu pihak atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih (Pasal 1313 KUH Perdata). Suatu perjanjian antara dua orang atau lebih yang menciptakan kewajiban untuk berbuat atau tidak berbuat suatu hal yang khusus. Para pihak yang bersepakat mengenai hal- hal yang diperjanjikan, berkewajiban untuk menaati dan melaksanakannya, sehingga perjanjian tersebut menimbulkan hubungan hukum yang disebut perikatan (verbintenis).

Bentuk-bentuk perjanjian kerjasama dalam dunia usaha yaitu: 28 1. Perjanjian tertulis :

a. Perjanjian dibawah tangan b. Perjanjian dengan saksi notaris

c. Perjanjian yang dibuat dihadapan dan oleh notaris dalam bentuk akta notariel.

28https://www.academia.edu/11995808/Materi_Kuliah_Pengantar_Hukum_Bisni s_-_Kontrak_Dalam_Bisnis, diakses pada tanggal 26 Juni 2019

(35)

2. Perjanjian tidak tertulis.

Di dalam Dunia Usaha terdapat beberapa bentuk kerjasama yang sering ditemui, antara lain:

1. Merger (Penggabungan)

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (UUPT) menggunakan istilah “Penggabungan” sebagai pengganti terminology “Merger”.UUPT memberikan pengertian penggabungan adalah perbuatan hokum yang dilakukan oleh dua Perseroan atau lebih untuk meleburkan diri dengan cara mendirikan satu Perseroan baru yang karena hukum memperoleh aktiva dan pasiva dari Perseroan yang menggabungkan diri beralih Karena hukum kepada Perseroan yang menerima penggabungan dan selanjutnya status badan hukum Perseroan yang menggabungkan diri berakhir karena hukum.

Menurut Abdulkadir Muhammad istilah Merger di Indonesiakan menjadi Penggabungan. Penggabungan sama halnya dengan akuisisi merupakan pengembangan perusahaan yang sudah ada. Pengembangan ini terjadi karena ada beberapa (minimal dua) perusahaan yang bergabung, tetapi salah satunya tetap berdiri, sedangkan yang lainnya bubar karena dilebur kedalam perusahaan yang masih ada. 29

Menurut Rr. Dijan Widijowati, merger adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu perseroan atau lebih untuk menggabungkan

29 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia,2010, PT. Citra Aditya Bakti Bandung, hlm. 378

(36)

diri dengan perseroan lain yang telah ada dan selanjutnya perseroan yang menggabungkan diri menjadi bubar.30

Merger merupakan salah satu cara perusahaan dalam mengatasi persaingan usaha yang terjadi dalam praktik, untuk menciptakan suatu perusahaan yang lebih besar dan kuat dalam pasar, mengingat merger merupakan bagian upaya restrukturisasi untuk menciptakan sinergi dibandingkan cara lain dalam mengatasi persaingan, seperti memfokuskan sumber daya ekonomi yang dimiliki pada segmen tertentu yang lebih kecil.31

Merger memilik tujuan yaitu : 1) Memperbesar modal

2) Menyelamatkan kelangsungan produksi 3) Mengembangkan jalur produksi

4) Menciptakan system pasar monopolistic.32

Merger memiliki manfaat yang besar, baik terhadap perusahaan perusahaan yang melakukan merger maupun terhadap konsumen, diantaranya:

1) .Memberikan efisiensi dan peningkatan produktifitas bagi perusahaan yang melakukan merger;

30 Rr. Dijan Widijowati, Hukum Dagang, 2012, Andi Yogyakarta, hlm. 141

31 Ibid.

32 Ibid.

(37)

2) Memberikan penyelesaian dalam beragam masalah, seperti masalah kesulitan keuangan atau masalah ancaman bangkrut ( failing firm reasoning);

3) Dapat meningkatkan utilisasi kapasitas berlebih (idle capacity), menekan biaya transportasi, dan mengganti manajer berkinerja buruk yang tidak tesedia secara internal;

4) Dapat memberikan akses modal dalam internal perusahaan;

5) Dapat memberikan manfaat dalam riset dan pengembangan (research & development);

6) Dapat menghasilkan biaya produksi yang lebih rendah, penurunan harga, dan peningkatan kualitas barang yang menguntungkan konsumen.33

Menurut Munir Fuadi, secara yuridis yang manjadi dasar hukum bagi merger adalah:

1) Dasar hukum utama (Undang-Undang dan peraturan pelaksana);

2) Dasar hukum kontraktual;

3) Dasar hukum status perusahaan, seperti pasar modal, Penanaman Modal Asing (PMA), Badan Usaha Milik Negara (BUMN);

4) Dasar hukum konsekuensi merger;

5) Dasar hukum pembidangan usaha.34

33 Rr. Dijan Widijowati , Op.Cit, hlm. 142

(38)

Berdasarkan hubungan usaha, serta ada atau tidaknya kesamaan sifat dari 2 (dua) entitas usaha yang melakukan merger, bentuk merger dapat diklasifikasikan sebagai berikut:35

1) Horizontal Merger,dalam arti merger dari 2 (dua) unit usaha atau lebih yang memiliki produk sejenis baik barang atau jasa.

Horizontal merger dilakukan untuk mengurangi persaingan industri, memperkuat pangsa pasar, dan memperoleh efisiensi biaya operasional;

2) Vertikal Merger,dalam arti merger antara 2 (dua) unit usaha atau lebih yang mempunyai keterkaitan supplier atau pelanggan.

Vertical merger dilakukan untuk lebih menjaga kontinuitas produksi dan operasi perusahaan.

3) Congeneric Merger,dalam arti merger 2 (dua) unit usaha atau lebih dalam industry sejenis yang tidak memiliki keterkaitan supplier atau pelanggan;

4) Conglomerate Merger,dalam arti merger antara dua unit usaha atau lebih dalam industry yang berbeda dan tidak ada keterkaitan satu sama lain, sehingga model ini merupakan diversifikasi usaha untuk mengurangi resiko.

34 Munir Fuadi, Hukum Tentang Merger, (Bandung:PT. Citra Aditya Bakti, 2002) hlm. 62

35 Rr.Dijan Widijowati, Op.Cit, hlm. 143

(39)

Di pandang dari aspek hukum, bentuk kerjasama ini hanya dapat dilakukan pada badan usaha dengan status badan hukum (dalam hal ini perseroan terbatas).

2. Konsolidasi

Konsolidasi yang berasal dari kata “consolidation” , yang berarti

“melebur”, adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh 2 (dua) perseroan atau lebih untuk meleburkan diri dengan cara mendirikan satu perseroan baru yang karena hukum memperoleh aktiva dan pasiva dari perseroan yang meleburkan diri, selain status badan hukum perseroan yang meleburkan diri berakhir karena hukum.36

Konsolidasi atau yang disebut juga sebagai peleburan perusahaan, merupakan perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu atau lebih perseroan untuk meleburkan diri dengan perseroan lain dengan membentuk satu perseroan baru, yang masing-masing perseroan yang meleburkan diri menjadi bubar (tanpa proses likuidasi), sehingga perseroan-perseroan yang telah membubarkan diri membentuk perusahaan baru. Singkat kata, konsolidasi merupakan penggabungan perusahaan yang bergabung menjadi satu dan membentuk perusahaan baru.37

Antara konsolidasi dan merger sering kali dipersamakan sehingga dalam praktik kedua istilah ini sering di pertukarkan dan dianggap sama artinya, namun sebenarnya terdapat perbedaan pengertian antara

36 Cornelia Simanjuntak,Merger Perusahan Publik Suatu Kajian Hukum Korporasi, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2006) hlm. 21

37 Rr. Dijan Widijowati, Op.cit, hlm 145

(40)

konsolidasi dan merger. Dalam merger penggabungan antara dua atau lebih badan usaha tidak membuat badan usaha yang bergabung menjadi lenyap, sedangkan konsolidasi adalah penggabungan antara dua atau lebih badan usaha yang menggabungkan diri saling melebur menjadi satu dan membentuk satu badan usaha yang baru, oleh kerena itu, konsolidasi ini sering kali di sebut dengan peleburan.

Menurut Abdulkadir Muhammad sebagaimana halnya dengan penggabungan, maka peleburan juga bertujuan untuk mencapai hal-hal berikut:

1. Memperbesar jumlah modal;

2. Memperbesar sinergi perseroan;

3. Menyelamatkan kelangsungan produksi;

4. Mengamankan jalur distribusi; dan

5. Mengurangi pesaing dan mampu bersaing secara monopolistic. 38

3. Joint Venture

Menurut Engga Prayogi, Joint Venture adalah suatu persetujuan diantara dua pihak atau lebih, untuk melakukan kerjasama dalam suatu kegiatan. Persetujuan yang dimaksud adalah kesepakatan atas suatu perjanjian yang berpegangan pada prinsip-prinsip KUH Perdata.

Pesetujuan harus memenuhi syarat dan sah menurut KUH Perdata seperti

38 Abdulkadir Muhammad, Op.cit, hlm. 392

(41)

yang tertuang dalam Pasal 1320. Adapun bunyi Pasal 1320 sebagai berikut:

1. Para pihak sepakat untuk mengikatkan dirinya;

2. Para pihak cakap untuk melakukan suatu perbuatan hukum;

3. Perbuatan hukum tersebut harus mengenai suatu hal tertentu;

4. Persetujuan tersebut harus mengenai seuatu hal yang tidak bertentangan dengan hukum, kesusilaan dan ketertiban umum.39

Menurut Fikriyah, Joint Venture atau usaha patungan merupakan persetujuan diantara dua pihak atau lebih untuk melakukan kerjasama di dalam suatu proyek, seringkali suatu joint venture dilakukan apabila perusahaan-perusahaan dengan teknologi yang saling melengkapi ingin menciptakan barang atau jasa yang akan saling memperkuat posisi masing-masing perusahaan. Suatu joint venture biasanya dibatasi pada suatu proyek Investasi dalam joint venture Kepemilikan atas investasi dalam joint venture dapat dilakukan secara bervariasi. Pada umumnya kepemilikan mayoritas ada pada pihak asing, dan kepemilikan minoritas ada di tangan pihak nasional. Kepemilikan dapat juga ditentukan seimbang, dapat pula 100% pemilikan dipegang oleh salah satu partner, sedangkan partner yang lain mempunyai hak opsi untuk mendapatkan sebagian atau keseluruhan saham.40

39 Engga Prayogi, Op.cit, hlm. 101-102

40http://fumarolla.wordpress.com/2009/11/22/join-venture-di-indonesia/ , diakses pada tanggal 15 Mei 2019

(42)

Joint venture atau usaha patungan ini dikategorikan sebagai kegiatan penanaman modal asing (“PMA”) sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 1 huruf (c) UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (“UU Penanaman Modal”).

Berdasarkan Pasal 27 UU Penanaman Modal, maka Pemerintah mengoordinasi kebijakan penanaman modal, baik koordinasi antar instansi Pemerintah dengan Bank Indonesia, antar instansi Pemerintah dengan pemerintah daerah, maupun antar pemerintah daerah. Koordinasi pelaksanaan kebijakan penanaman modal ini dilakukan oleh Badan Kepala Koordinasi Penanaman Modal (“BKPM”). BKPM merupakan lembaga independen non-departemen yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Presiden kemudian menetapkan Peraturan Presiden No. 90 Tahun 2007 tentang Badan Koordinasi Penanaman Modal pada 3 September 2007 (“Perpres No. 90/2007”).

Joint venture secara umum dapat di artikan sebagai suatu persetujuan di antara dua pihak atau lebih, untuk melakukan kerjasama dalam suatu kegiatan. Persetujuan di sini adalah kesepakatan yang di dasari atau suatu perjanjian yang harus tetap berpedoman kepada syarat sahnya suatu perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Jadi menurut Amirizal joint venture adalah kerjasama antara

(43)

pemilik modal asing dengan pemilik modal nasional semata – mata berdasarkan suatu perjanjian belaka (contractueel).41

Subjek dari joint venture dapat di bagi menjadi dua jenis kerjasama yaitu : 1. Antara orang atau badan hukum RI dengan orang atau badan hukum

RI

2. Antara orang atau badan hukum RI dengan orang atau badan hukum asing/lembaga internasional.

Keuntungan dari kerjasama Joint Venture adalah:

1. badan usaha Indonesia akan mendapat bantuan pendanaan dengan memanfaatkan modal asing;

2. badan usaha Indonesia dapat memanfaatkan kemampuan manajemen asing yang sudah berpengalaman;

3. badan usaha Indonesia dapat memanfaatkan dan menembus pasar di luar negeri;

4. bagi pihak asing mempermudah akses ke sumber-sumber local;

5. pihak asing mempunyai akses untuk masuk ke pasar domestik yang mungkin dimiliki mitra lokal.

4. Waralaba

Waralaba (Inggris: Franchising; Prancis: Franchise) untuk kejujuran atau kebebasan adalah hak-hak untuk menjual suatu produk atau

41http://ashibly.blogspot.com/2012/06/bentuk-bentuk-kerjasama- dalam-kegiatan.html, diakses pada tanggal 15 Mei 2019

(44)

jasa maupun layanan. Sedangkan menurut versi pemerintah Indonesia, yang dimaksud dengan waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa.

Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia, yang dimaksud dengan Waralaba ialah:Suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.42

Selain pengertian waralaba, perlu dijelaskan pula apa yang dimaksud dengan franchisor dan franchisee. Franchisor atau pemberi waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimilikinya.

Franchisee atau penerima waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas

42 http://id.wikipedia.org/wiki/Waralaba. diunduh pada 15 Mei 2019

(45)

kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki pemberi waralaba.43

Waralaba yang dulu dikenal dengan istilah franchise sekarang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba.

Waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.

Waralaba dapat dibagi menjadi dua:

1. Waralaba luar negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.

2. Waralaba dalam negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba.

Kriteria tertentu yang dimaksudkan adalah syarat mutlak untuk adanya waralaba, kriteria tersebut adalah :

1. Memiliki ciri khas usaha, artinya suatu usaha yang memiliki keunggulan atau perbedaan yang tidak mudah ditiru dibandingkan

43 Ibid

(46)

dengan usaha lain yang sejenis dan membuat konsumen selalu mencari ciri khas di maksud. Misalnya sistem manajemen, cara penjualan dan pelayanan dsb.

2. Terbukti sudah memberikan keuntungan, maksudnya bahwa usaha tersebut berdasarkan pengalaman pemberi waralaba yang telah dimiliki kurang lebih 5 ( lima ) tahun dan telah mempunyai kiat – kiat bisnis untuk mengatasi masalah – masalah dalam perjalanan usahanya, terbukti masih bertahan dan berkembangnya usaha tersebut dengan menguntungkan.

3. Memiliki standar atas pelayanan dan barang dan/atau jasa yang ditawarkan yag dibuat secara tertulis, dimaksud dengan standar atas pelayanan dan barang dan/atau jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis adalah supaya penerima waralaba dapat melaksanakan usaha dalam kerangka kerja yang jelas dan sama ( standard operational procedure ).

4. Mudah diajarkan dan di aplikasikan, maksudnya usaha tersebut mudah dilaksanakan sehingga penerima waralaba yang belum memiliki pengalaman atau pengetahuan mengenai usaha sejenis dapat melaksanakannya dengan baik sesuai dengan bimbingan operasional dan manajeman yang berkesinambungan yang diberikan oleh pemberi waralaba.

5. Adanya dukungan yang berkesinambungan, yaitu dukungan dari pemberi waralaba kepada penerima waralaba secara terus – menerus seperti bimbingan operasional, pelatihan, dan promosi

(47)

6. Hak kekayaan intelektual yang telah terdaftar, adalah HKI yang terkait dengan usaha seperti merek, hak cipta, paten, dan rahasia dagang, sudah di daftarkan dan mempunyai sertifikat atau sedang dalam proses pendaftaran di instansi yang berwenang.

Menurut Abdulkadir Muhammad, melalui system Franchise ini, kegiatan usaha kecil di Indonesia dapat berkembang secara wajar dengan menggunakan resep, teknologi, kemasan, manajemen pelayanan dan merek dagang/jasa pihak lain dengan membayar sejumlah royalty berdasarkan lisensi franchise.44

Di Indonesia, sistem waralaba mulai dikenal pada tahun 1950-an, yaitu dengan munculnya dealer kendaraan bermotor melalui pembelian lisensi. Perkembangan kedua dimulai pada tahun 1970-an, yaitu dengan dimulainya sistem pembelian lisensi plus, yaitu franchisee tidak sekedar menjadi penyalur, namun juga memiliki hak untuk memproduksi produknya[12] . Agar waralaba dapat berkembang dengan pesat, maka persyaratan utama yang harus dimiliki satu teritori adalah kepastian hukum yang mengikat baik bagi franchisor maupun franchisee.

Karenanya, kita dapat melihat bahwa di negara yang memiliki kepastian hukum yang jelas, waralaba berkembang pesat, misalnya di AS dan Jepang. Tonggak kepastian hukum akan format waralaba di Indonesia dimulai pada tanggal 18 Juni 1997, yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 16 Tahun 1997 tentang Waralaba. PP No. 16

44 Adulkadir Muhammad, Op.cit, hlm 555

(48)

tahun 1997 tentang waralaba ini telah dicabut dan diganti dengan PP no 42 tahun 2007 tentang Waralaba. Selanjutnya ketentuan-ketentuan lain yang mendukung kepastian hukum dalam format bisnis waralaba adalah sebagai berikut:

a. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No.

259/MPP/KEP/7/1997 Tanggal 30 Juli 1997 tentang Ketentuan Tata Cara Pelaksanaan Pendaftaran Usaha Waralaba.

b. Peraturan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 31/M- DAG/PER/8/2008 tentang Penyelenggaraan Waralaba

c. Undang-undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten.

d. Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.

e. Undang-undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.

C. Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Perjanjian Kerjasama Mitra Usaha

Untuk timbulnya hak dan kewajiban diperlukan suautu peristiwa hukum yang oleh hujum dihubungkan sebagai suatu akibat. Artinya hak seseorang terhadap sesuati benda menimbulkan kewajiban pada orang lain, yaitu kewajiban untuk menghormati dan tidak boleh mengganggu hak dan kewajiban tersebut .

(49)

Ada 2 teori dalam ilmu hukum untuk menjelaskan kebenaran hak:45

a. Teori Kepentingan (Rudolp Von Jhering) : hak itu suatu yang penting bagi seseorang dan harus dilindungi oleh hukum. Teori ini dibantah oleh UTRECHT yang mengatakan bahwa hukum memang memilki tugas kepentingan dari yang berhak tetapi tidak boleh mengacaukan hak dan kepentingan karena hukum sering melindungi kkepentingan, dan tidak memberikan hak kepada yang bersangkutan.

b. Teori Kehendak (Bernard Winscheip) : hak adalah kehendak yang dilengkapi dengan kekuatan dan diberi tata tertib hukum kepada seseorang.

Kewajiban merupakan sebuah beban yang diberikan hukum kepada subjek hukum. Kewajiban lahir karena beberapa faktor: 46

a. Karena diperolehnya suatu hak yang membebani kewajiban

b. Berdasarkan kesalahan / kelalaian seseorang yang menimbulkan keruguan pada orang lain, sehingga ia berkewajiban mengganti rugi.

c. Karena telah menikmati hak tertentu yang harus diimbangi kewajiban tertentu.

45https://cerdaskananak.blogspot.com/2015/12/hak-dan-kewajiban-dalam- hukum.html, diakses pada tanggal 26 juni 2019

46 Ibid.

(50)

Di dalam Pasal 1313 KUHPerdata mengisyaratkan bahwa sesungguhnya dari suatu perjanjian lahirlah hak dan kewajiban atau prestasi dari setiap masing-masing pihak, bahwasanya pihak-pihak yang berjanji memiliki hak dan kewajiban akibat dari perjanjian yang mereka buat. Rumusan tersebut memberikan konsekuensi hukum bahwa dalam suatu perjanjian akan selalu ada dua pihak, di mana satu pihak adalah pihak yang wajib memberikan prestasi (debitur) dan pihak lainnya adalah pihak yang berhak atas prestasi tersebut (kreditur). Subekti mengemukakan bahwa

“perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang lain atau lebih, dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal”.47 Suatu hal yang dimaksud adalah hak dan kewajiban dari para pihak yang membuat akta perjanjian. Hak dan kewajiban yang dimaksud tersebut merupakan objek perjanjian.

Hak dan kewajiban tersebut harus dipenuhi kedua belah pihak untuk mewujudkan perjanjian tersebut.

Kemitraan adalah suatu hubungan hukum kerjasama antara para pihak dengan didasari prinsip saling menguntungkan dan saling menghargai diantara mereka.

Kemitraan memungkinkan bagi para pihak untuk saling menutupi dan saling memberi dalam menghadapi kekurangan diantara mereka. Kemitraan dapat berlangsung dengan baik dan memenuhi harapan berbagai pihak yang bekerjasama, maka kemitraan harus dirumuskan dan dituangkan dalam suatu perjanjian yang memuat hak dan kewajiban para pihak secara jelas, sehingga membentuk pola kerjasama yang teratur dan mengikat.48

47 R. Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta:Intermasa, 1994) hal.14.

48 Muhammad Jafar Hafsah, Kemitraan Usaha (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999), hlm. 37.

Referensi

Dokumen terkait

Upaya yang dilakukan dalam penyelesaian sengketa wanprestasi pada perjanjian pemborongan pekerjaan milik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara oleh CV.. Dina Utama yaitu dengan

Berdasarkan sengketa dihubungkan dengan pertimbangan hakim dan amar putusan dalam Putusan Pengadilan yang memutuskan yang telah diuraikan di atas, dapat dinyatakan bahwa

Di dalam kasus sengketa perjanjian pengikatan jual beli hak atas tanah yang termuat dalam Putusan MA No.3703.K/PDT/2016, permasalahan yang terjadi adalah bahwa

MITRA SAFIR SEJAHTERA TERHADAP TRANSAKSI JUAL BELI APARTEMEN KEMANGGISAN RESIDENCE (STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR 28/PKPU/PN.NIAGA.Jkt.Pst)”, merupakan karya ilmiah yang

2. Menyusun laporan analisa yang diperlukan yang berisi penguraian dan kesimpulan serta perjanjian alternatif sebagai pertimbangan untuk pengambilan keputusan oleh pimpinan dari

Pihak kedua (CV. Mitra Natako Group) menerima dan sanggup untuk melaksanakan serta menyediakan kendaraan jenis dumptruck untuk pekerjaan melangsir tanah timbun tersebut di atas

Adapun permasalahan yang dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimana penyelenggaraan pembangunan infrastruktur di bidang pekerjaan umum, pengaturan bea masuk bahan

Dari uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa (1) perjanjian non-proliferasi (NPT) memang memuat sejumlah hak dan kewajiban yang mengikat seluruh anggota perjanjian ini namun