• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "III. METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

20 III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fisika dan Mekanika Tanah dan Laboratorium Hidrolika dan Hidromekanika, Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei sampai Agustus 2009.

B. Bahan dan Alat 1. Bahan

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah :

a. Contoh tanah jenis Gleisol yang berasal dari Kebon Duren, Depok, Jawa Barat yang terletak pada 106049´13.7˝ BT dan 06026´55.1˝ LS.

b. Lem resin + katalis c. Air destilasi d. Larutan H2O2 6%

2. Alat

a. Oven n. Sendok pengaduk

b. Desicator o. pelantak (rammer)

c. Timbangan p. Stopwatch

d. Obeng q. Gelas ukur

e. Cangkul r. Gelas plastik

f. Kotak tumbuk manual s. Selang

g. Wadah/ember/cawan t. Kamera digital

h. Pisau u. Hidrometer

i. Termometer v. Dongkrak hidrolik

j. Piknometer w. Kotak model tanggul

k. Penyemprot air & Corong x. Meteran

l. Pemadat tanah (Proctor test) y. Alat uji permeabilitas

m. Saringan (4760, 2000, 840,420 , z. Alat uji pF 250,105,75) µm

(2)

21 C. Metode Penelitian

a. Pengambilan Contoh Tanah

Sebagai bahan timbunan model tanggul digunakan contoh tanah tidak utuh (terganggu). Contoh tanah tersebut diambil dengan alat cangkul pada kedalaman 20-40 cm, kemudian tanah dikeringkan dengan udara untuk mengurangi kadar airnya sehingga memudahkan dalam pengayakan. Tanah yang kering selanjutnya disaring dengan saringan 4760 m sesuai dengan uji pemadatan standar JIS A 1210-1980 ditutup rapat untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan air tanah yang berlebihan.

b. Pengukuran Sifat Fisik Tanah 1. Pengukuran Kadar Air

Pengukuran kadar air pada contoh tanah dilakukan dengan metode gravimetrik atau dengan menggunakan metode JIS A 1203-1978. Kadar air tanah dihitung dengan persamaan sebagai berikut (Sapei, et al., 1990) :

w = x 100 %... (6) dimana :

w = kadar air tanah (%)

ma = berat tanah basah dan wadah (g) mb = berat tanah kering oven dan wadah (g) mc = berat wadah (g)

2. Uji Tekstur

Uji tektur dilakukan untuk menentukan distribusi (sebaran) ukuran setiap butir partikel tanah. Distribusi ukuran partikel tanah ditentukan oleh variasi diameter partikel dan berdasarkan persentase berat setiap fraksi terhadap berat total. Metode yang digunakan sesuai standar JIS A 1204 – 1980 (Sapei et al, 1990).

3. Uji Permeabilitas

Permeabilitas merupakan kemampuan fluida untuk mengalir melalui medium yang berpori. Pengujian permeabilitas menggunakan metode ”falling

(3)

22 head”. Untuk mendapatkan koefisien permeabilitas tanah dengan metode ini digunakan persamaan :

Kr = ... (7) dimana :

Kr = koefisien permeabilitas tanah pada suhu T0C a = luas permukaan pipa gelas (cm2)

l = panjang contoh tanah (cm)

A = luas permukaan contoh tanah (cm2) T = waktu (detik)

h1 = tinggi minikus atas (cm) h2 = tinggi minikus bawah (cm)

Permeabilitas pada suhu standar (T = 200C) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Sapei, et al., 1990) :

K20 = (µT / µ20) KT ... (8) dimana :

K20 = koefisien permeabilitas pada suhu standar (T = 200C) µT = Viskositas air pada suhu T0C

µ20 = viskositas air pada suhu 200C

KT = koefisien permeabilitas pada suhu T0C

Gambar 6. Alat uji permeabilitas dengan metode falling head

(4)

23 4. Pengukuran Berat Jenis Tanah

Metode pengukuran berat jenis tanah yang digunakan sesuai dengan standar JIS A 1202 – 1978 (Sapei et al, 1990) dan menggunakan persamaan :

Gs = ……… (9)

dimana :

ms = Berat tanah kering oven di dalam piknometer, g ma = Berat piknometer dan air pada suhu TºC, g mb = Berat tanah, air, dan piknometer pada TºC, g

5. Pengukuran Berat Isi (Bulk Density)

Pengukuran berat isi (bulk density) dilakukan pada contoh tanah utuh.

Pengukuran berat isi menggunakan persamaan (Das, 1993) :

t = …………..………..…… (10)

d = ………..…………...……… (11)

dimana :

t = berat isi basah (g/cm3)

d = berat isi kering (g/cm3) Wtb = berat tanah basah (g) Wtk = berat tanah kering oven (g) V = volume tanah (cm3)

W = kadar air (%)

Pada uji pemadatan, nilai berat isi kering maksimum dari beberapa selang kadar air merupakan tingkat kepadatan maksimum dari suatu tingkat pemadatan.

Sedangkan kadar air pada berat isi maksimum tersebut merupakan kadar air optimum dari suatu pemadatan.

6. Porositas

Porositas (n) adalah bagian dari volume tanah yang diisi oleh pori-pori dan didefinisikan sebagai (Hardiyatmo, 1992) :

(5)

24

n = ……….….. (12)

Nisbah antara volume pori-pori (void) dengan bahan padatan disebut angka pori (nisbah void) (e).

e = ………. (13)

e = ……...………...…(14)

Vv = Vw + Va ……… (15) dimana :

n = porositas e = angka pori

V = volume total contoh tanah (cm3) Vv = volume pori (cm3)

Vs = volume butiran padat (cm3) Vw = volume air dalam pori (cm3) Va = volume udara dalam pori (cm3)

7. Pengukuran Potensial Air Tanah (pF)

Pengukuran nilai potensial air tanah yang dipadatkan dilakukan dengan menggunakan sand box dan wide range pF meter. Nilai potensial air tanah diambil dari tanah tanggul yang telah dialiri dengan menggunakan ring sample.

Sand box digunakan untuk pengujian nilai pF 0 – 1.0, sedangkan wide range pF meter digunakam untuk nilai pF 1.5 – 3.2. Untuk contoh tanah yang diukur pada nilai pF 4.2 adalah tanah terganggu yang lolos saringan 2000 µm yang diukur di laboratorium Departemen Ilmu Tanah. Pembacaan dalam pengukuran nilai pF dilakukan setelah ± 24 jam, selanjutnya nilai pF tersebut diplotkan dengan nilai kadar air yang didapatkan untuk mendapatkan kurva hubungan antara pF dengan nilai kadar air tersebut.

(6)

25 Gambar 7. Sand box

Gambar 8. Wide range pF meter dan automatic pressure controller

c. Pengukuran Sifat Mekanik Tanah 1. Uji Pemadatan

Uji pemadatan dilakukan dengan uji Proctor sebagai uji standar. Metode yang digunakan sesuai standar JIS A 1210 – 1980 1.1.1. Dari uji ini diperoleh kadar air optimum dan berat isi maksimum. Kedua nilai tersebut merupakan nilai uji pemadatan standar sebagai acuan untuk melakukan pemadatan tanggul.

Perhitungan untuk pemadatan tanah tersebut menggunakan persamaan berikut (Sapei et al, 1990) :

a) Berat isi basah ( t)

t = ………. (16)

b) Berat isi kering ( d)

(7)

26 Berat isi kering dihitung dengan menggunakan persamaaan 11.

c) Berat isi jenuh ( dsat)

dsat = ……….. (17)

dimana :

m1 = berat cetakan dan piringan dasar (kg)

m2 = berat tanah padat, cetakan dan piringan dasar (kg) v = kapasitas cetakan (cm3)

Gs = berat jenis w = kadar air (%)

w = berat jenis air (kg/cm3)

Gambar 9. Proctor test dan dongkrak hidrolik 2. Uji Tumbuk Manual

Uji tumbuk manual dilakukan untuk mendapatkan ratio of compaction (RC)

> 90% . Pada bahan timbunan tanggul, tanah dipadatkan dengan menggunakan alat tumbuk manual yang memiliki berat, tinggi jatuh, jumlah tumbukan, jumlah lapisan, dan energi serta frekuensi penumbukan yang telah diperhitungkan sehingga besarnya energi yang diberikan melalui jumlah tumbukan akan menunjukkan kepadatan maksimum dan kadar air optimum bahan tersebut. Nilai RC didapatkan dari persamaan berikut :

... (18) d di lapangan

RC =

d max uji standar proctor

(8)

27 Jumlah energi yang diberikan saat melakukan pemadatan bahan tanah dihitung dengan persamaan :

………... (19) dimana :

CE = jumlah energi pemadatan (kJ/m3) W = berat rammer (kg)

H = tinggi jatuhan rammer (m)

N = jumlah tumbukan pada setiap lapisan L = jumlah lapisan

V = volume cetakan (m3) g = gravitasi (m/detik2)

Setelah didapatkan hasil uji tumbuk manual ini, selanjutnya nilai tersebut dijadikan acuan perbandingan untuk melakukan pemadatan tanah pada model tanggul dengan persamaan sebagai berikut :

N2 = ………..(20)

Dimana :

N2 = jumlah tumbukan pada setiap lapisan pada model tanggul N1 = jumlah tumbukan pada setiap lapisan pada uji tumbuk manual L1 = luas kotak tumbuk manual (cm2)

L2 = luas tiap lapisan pada model tanggul (cm2)

Spesifikasi uji tumbuk manual ini seperti tertera pada Tabel 4, sedangkan alat uji tumbuk manual pada Gambar 10.

Tabel 4. Spesifikasi uji tumbuk manual

Komponen Satuan Nilai

Berat rammer Kg 2.05

Tinggi jatuhan M 0.3

Cetakan panjang M 0.4

Lebar M 0.3

Tinggi M 0.1

W x H x N x L x g CE = V

(9)

28 Gambar 10. Kotak tumbuk manual dan pelantak (rammer)

3. Pengujian Konsistensi Tanah

Metode pengukuran konsistensi tanah untuk batas cair (liquid limit) yang digunakan merupakan standar JIS A 1205-1980 dan peralatan yang digunakan disebut LL Device Grooving Tools. Sedangkan untuk pengukuran batas plastis (plastic limit) menggunakan metode standar JIS A 1206-1970 (1978). Nilai-nilai batas cair dan plastis yang diperoleh akan diplotkan dalam grafik plastisitas untuk mengetahui klasifikasi tanah yang diuji dengan menggunakan Sistem Klasifikasi Tanah Unified (Unified Soil Classification System).

d. Pembuatan Model Tanggul

Model adalah representasi suatu masalah dalam bentuk yang lebih sederhana sehingga lebih jelas dan mudah dikerjakan. Selain itu, pembuatan model juga bertujuan agar biaya yang dikeluarkan lebih murah. Secara umum, model terdiri dari beberapa jenis yaitu model ikonik, model analog, dan model matematik/simbolik. Model ikonik adalah memberikan visualisasi atau peragaan dari permasalahan yang ditinjau, model analog adalah didasarkan pada keserupaan gejala yang ditunjukkan oleh masalah dan dimiliki oleh model, sedangkan model matematik/simbolik adalah menyatakan secara kuantitatif persamaan matematik yang mewakili suatu masalah. Pembuatan model pada penelitian ini sendiri termasuk jenis model ikonik.

Model tanggul dibuat dalam sebuah kotak model yang terbuat dari bahan acrylic (fiberglass). Kotak model ini dilengkapi dengan inlet, spillway (sebagai kontrol ketinggian), dan outlet untuk pembuangan rembesan air.

(10)

29 Model tanggul yang dibuat direncanakan untuk mengkontrol kedalaman air kurang dari 1.5 m dengan lebar atas minimum tanggul 1.5 m. Tanggul yang direncanakan merupakan model dengan skala 1 : 12 dan “geometrically similar”, yaitu mempunyai skala horizontal dan vertikal yang bernilai sama. Nilai 1 : 12 diambil dengan pertimbangan untuk memudahkan dalam penentuan dan perhitungan dimensi model. Dimensi model tanggul selengkapnya tertera pada Tabel 5.

Tabel 5. Dimensi tanggul

Dimensi Ukuran

Lapangan Model

H (tinggi muka air), cm 150 12.5

Hf (tinggi jagaan), cm 60 5.0

Hd (tinggi tanggul), cm 210 17.5

B (lebar atas/mercu), cm 150 12.5

L (lebar bawah), cm 1680 140.0

Hp (tinggi tekanan air), cm 180 15.0

Kemiringan 1/3 1/3

Sumber : Soedibyo (1993)

Gambar 11. Model tanggul

L

1

3 B

H Hf

Hp

Hd

(11)

30 Gambar 12. Kotak model tanggul

Dimensi tanggul ditentukan berdasarkan kriteria kemiringan talud. Nilai kemiringan talud yang digunakan dalam pembuatan tanggul adalah 1 : 3 untuk memudahkan perhitungan. Selain itu, kemiringan talud ini sudah cukup aman pada selang tersebut. Lebar bawah tanggul dihitung berdasarkan kemiringan talud dan lebar atas. Sehingga lebar bawah tanggul adalah jumlah lebar atas dan dua kali tinggi tanggul yang dikalikan dengan talud.

e. Pengaliran Air pada Kotak Model Tanggul

Setelah tanah dipadatkan dan membentuk suatu model tanggul kemudian air dialirkan ke dalam kotak model tanggul melalui inlet dengan debit air tertentu.

Selama pengaliran air pada kotak model tanggul dilakukan beberapa kegiatan, yaitu :

Gambar 13. Proses pengaliran air

(12)

31 a) Pengambilan foto garis rembesan

Pengambilan foto rembesan pada tubuh tanggul dilakukan 3 menit sekali dari awal pengaliran pada bagian hulu tanggul sampai rembesan berada pada bagian hilir tanggul.

b) Pengukuran debit rembesan

Debit rembesan adalah besarnya jumlah air yang mengalir pada tubuh tanggul. Besarnya debit rembesan dihitung atau diukur dengan menggunakan tiga metode yaitu rumus empiris (berdasarkan persamaan 1 & 5), analisis program Seep/w dan pengukuran pada model tanggul secara langsung. Pada penelitian ini rencananya perhitungan debit rembesan secara langsung dilakukan pada kondisi dimana debit rembesan diperoleh dari air yang keluar di bagian hilir model tanggul (outlet) sampai didapatkan debit outlet yang konstan. Jumlah air yang keluar akan ditampung dengan menggunakan gelas ukur. Selama pengukuran debit rembesan, permukaan air di hulu dipertahankan agar tetap.

Gambar 14. Pengukuran debit outlet

f. Pembongkaran Model Tanggul

Setelah pengaliran air selesai dilakukan, tahap selanjutnya yaitu pembongkaran model tanggul. Sebelum pembongkaran, contoh tanah diambil dengan menggunakan ring sampel tanah untuk dilakukan pengukuran permeabilitas tanah dan uji potensial air tanah (pF). Tanah yang sudah dibongkar

(13)

32 dikeringkan udara dan disaring kembali untuk pengujian selanjutnya dengan beberapa ulangan.

g. Pengukuran Permeabilitas Tanah pada Model Tanggul

Setelah selesai pengamatan tahapan selanjutnya yaitu pengujian permeabilitas menggunakan metode falling head dengan contoh tanah diambil dari model tanggul di bagian hilir. Setelah dilakukan pengukuran permeabilitas tersebut, nilai koefisien permeabilitas yang diperoleh digunakan sebagai salah satu input untuk analisis debit rembesan dengan program Geo-Slope jenis Seep/w.

Untuk analisis debit rembesan dan panjang zona basah tersebut, selain data koefisien permeabilitas diperlukan juga data-data seperti : jenis bahan, tekanan, tinggi tekan (pressure head) dan unit flux. Pada penelitian ini penentuan analisis debit rembesan selain menggunakan program Seep/w digunakan pula metode pengukuran debit secara langsung (qinlet dan qoutlet) dan berdasarkan rumus empiris (metode Cassagrande, metode Grafik, dan metode Bowles). Tahapan-tahapan penelitian ini seperti yang tertera pada Gambar 15.

(14)

Gambar 15. Tahapan penelitian 33

ya Model tanggul dialiri air

Pembuatan model tanggul

tidak

ya Uji tumbuk manual

RC > 90 % Mulai

Pengambilan contoh tanah

Pengukuran sifat fisik tanah

Pengukuran konsistensi tanah

Uji pemadatan standar

Debit rembesan Analisis debit rembesan 1. Pengukuran langsung 2. Rumus empiris 3. Program Geoslope Uji permeabilitas & uji pF

Nilai permeabilitas dan pF

tidak

Pembongkaran model tanggul

Pengeringan tanah Pengambilan foto dan pengukuran debit rembesan

Selesai

Gambar

Gambar 6. Alat uji permeabilitas dengan metode falling head
Gambar 8. Wide range pF meter dan automatic pressure controller
Gambar 9. Proctor test dan dongkrak hidrolik  2.  Uji Tumbuk Manual
Gambar 13. Proses pengaliran air
+2

Referensi

Dokumen terkait

Keabsahan data dalam penelitian ditentukan dengan menggunakan kriteria kredibilitas (derajat kepercayaan). Kredibilitas dimaksudkan untuk membuktikan bahwa apa yang

Peta irisan melintang hasil pengolahan 2 dimensi di export dalam file ekstensi *.xyz yang selanjutnya digunakan sebagai input permodelan 3 dimensi menggunakan

Dari beberapa sumber diatas yang ada pada tabel 2.4 terkait kriteria yang digunakan oleh peneliti terdahulu, tabel dibawah ini adalah kriteria yang digunakan oleh peneliti

Kriteria yang digunakan untuk menilai integritas ruang terbuka publik terdiri dari nilai sejarah (historical value), nilai estetika (aesthetical value) dan nilai fungsi (functional

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan metode Purposive Sampling, yaitu metode pengambilan sampel yang disesuaikan dengan

Peta atau gambar master plan Kebayoran Baru digunakan untuk mengidentifikasi konsep kawasan tersebut menurut kriteria Howard (1898) yaitu berdasarkan ukuran, struktur, elemen,

Sebagai kriteria keberhasilan siswa, peneliti menetapkan nilai rata-rata minimal 70, tergantung dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh guru. Ini

Lokasi penelitian ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria seperti; (1) lokasi penelitian merupakan keterwakilan masing-masing dua etnis (Bugis dan Makassar) sebagai