• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM PENDIDIKAN MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM PENDIDIKAN MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA"

Copied!
244
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MANAJEMEN KONFLIK DAN JOB INSECURITY TERHADAP INTENSI TURNOVER DI PT. MIDI UTAMA INDONESIA,

TBK BRANCH MEDAN

(The Influence of Conflict Management and Job Insecurity toward Turnover Intention At PT. Midi Utama Indonesia, Tbk Branch Medan)

TESIS

Digunakan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Magister Profesi Psikologi dalam Program Pendidikan Magister Psikologi Profesi Universitas Sumatera Utara

Oleh:

Letty Trisilia 147029003

PROGRAM PENDIDIKAN MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2017

(2)
(3)
(4)

Pengaruh Manajemen Konflik dan Job Insecurity terhadap Intensi Turnover di PT. Midi Utama Indonesia, Tbk Branch Medan

Letty Trisilia, Emmy Mariatin, Ferry Novliadi

ABSTRAK

PT. Midi Utama Indonesia, Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang retail dengan turnover yang selalu ada setiap bulannya. Dari wawancara keluar kerja (exit interview) yang dilakukan, diinformasikan bahwa penyebab keluarnya karyawan salah-satunya dikarenakan tidak teratasinya konflik melalui manajemen konflik dan adanya ketidakamanan kerja (job insecurity) yang dirasakan karyawan terkait pekerjaannya di perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh manajemen konflik terhadap intensi turnover, bagaimana pengaruh job insecurity terhadap intensi turnover, dan bagaimana pengaruh manajemen konflik dan job insecurity secara bersama-sama terhadap intensi turnover karyawan di PT. Midi Utama Indonesia, Tbk, Branch Medan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi sederhana dan regresi berganda. Jumlah subjek yang digunakan adalah 219 karyawan kontrak yang bekerja di gerai toko di PT. Midi Utama Indonesia Branch Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh negatif antara manajemen konflik terhadap intensi turnover dengan sumbangan efektif sebesar 4.3%, terdapat pengaruh positif antara job insecurity terhadap intensi turnover dengan sumbangan efektif 16.5%, dan terdapat pengaruh manajemen konflik dan job insecurity secara bersama-sama terhadap intensi turnover dengan sumbangan efektif sebesar 19.4%.

Kata Kunci : manajemen konflik, job insecurity, intensi turnover

(5)

The Influence of Conflict Management and Job Insecurity toward Turnover Intention At PT. Midi Utama Indonesia, Tbk Branch Medan

Letty Trisilia, Emmy Mariatin, Ferry Novliadi

ABSTRACK

PT. Midi Utama Indonesia, Tbk is a company who engaged in the field of retail would have a turnover every month. From the exit interview, it was informed that the cause of the employee’s dismissal was only due to the conflict management and job insecurity that employees felt related to their work in the company. This study aim to determine how the influence of conflict management on turnover intentions, how the influence of job insecurity on turnover intentions, and how the influence of conflict management and job insecurity together to the intention of employee turnover in PT. Midi Utama Indonesia, Tbk, Branch Medan. This research uses quantitative approach with simple regression and multiple regression method. The subject used is 219 contract employees who work in stores outlets in PT. Midi Utama Indonesia, Tbk branch medan. The result showed that there is a negative influence between conflict management on turnover intention with effective contribution of 4.3%, there is a positive influence between job insecurity on turnover intention with effective contribution of 16.5%, and there is influence of conflict management and job insecurity together towards a turnover intention with an effective contribution of 19.4%.

Keyword : conflict management, job insecurity, turnover intention

(6)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, nikmat serta karunia-Nya sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian tesis yang berjudul “Pengaruh Manajemen Konflik dan Job Insecurity Terhadap Turnover Intention di PT. Midi Utama Indonesia, Tbk Branch Medan”, guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Master Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Berbagai proses telah penulis alami selama ini. Perlu banyak usaha, kerja keras dan kemauan yang tinggi dalam setiap prosesnya. Penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan dukungan dari banyak pihak.

Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Zulkarnain Amin, Ph.D, Psikolog selaku dekan Fakultas Psikologi 2. Ibu Emmy Mariatin, Ph.D, M.A, Psikolog selaku dosen pembimbing I, dan

bapak Ferry Novliadi, M.Si selaku dosen pembimbing II, terima kasih atas bimbingan dan motivasi yang diberikan sehingga penyusunan tesis ini dapat terselesaikan.

3. Kepada Bapak Eka Danta Jaya Ginting, MA, Psikolog, selaku dosen penguji seminar proposal, dan Bapak Fahmi Ananda, M.Psi, Psikolog selaku dosen penguji seminar hasil dan tesis yang telah menyediakan waktunya untuk melakukan pengujian terhadap kelayakan tesis yang telah penulis selesaikan.

(7)

4. Kedua orang tua penulis, Rusman dan Salna Jamilah yang senantiasa memberikan kasih sayang, doa, dukungan baik moril dan materil, serta selalu merangkul demi capaian cita yang diimpikan buah hatinya.

5. Kepada keluarga terdekat, Yuk Indah Fitriasary, Bang Erizal yang memberikan kasih sayang dengan caranya, serta dukungan yang diberikan, keempat keponakan penulis, bang opal, bang abil, kak ara, dan dek keyla yang selalu membuat aunty marah sekaligus memberikan senyuman dan kebahagiaan karena tingkahnya, dan tersima kasih pula untuk kakakku Febry Adesta.

6. Kepada teman-teman satu angkatan, satu perjuangan Anggi (terima kasih atas kesediaan waktu dan kupingnya untuk mendengar segala ocehan kakak), Bang Brown a.k.a Bang Daniel (terima kasih atas kesediaannya untuk waktu, berbagi ilmu serta sedia dijadikan tumbal kami satu angkatan), Friyanka atau ocha, Mamak a.k.a kak Vera, Shoffa, Yuni, Mila, kalian the best dan selalu menyediakan waktu maupun tempat untuk berbagi ilmu dan pengalaman (banyak lagi yang ingin di tulis, namun tak cukup kertas jika diutarakan segalanya disini ).

7. Kepada semua dosen pengajar di Magister Psikologi Profesi yang telah bersedia berbagi ilmu kepada kami mahasiswanya.

8. Kepada teman-teman penulis Koyud, Kak Ridah, Bu Entin (orang-orang lama MIDI), terima kasih atas segala dukungan dan semangat serta menemani penyelesaian penulisan proposal ini.

(8)

9. Kepada seluruh staf akademik di MP2, kak Elly, Bang Eko, Bang Yudi terima kasih atas kesediaannya direpotkan dan mau membantu segala keperluan akademik kami.

10. Seluruh teman-teman MP2, khususnya angkatan 2013, 2014, 2015 yang telah bersedia diganggu dan berbagi ruang bersama di fakultas.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam penelitian ini. Oleh karenanya, penulis mengharapkan adanya masukan dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak, guna menyempurnakan penelitian ini agar menjadi lebih baik lagi. Akhirnya, kepada Allah jua penulis berserah diri.

Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Medan, Juli 2017

Letty Trisilia

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GRAFIK ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

1. Manfaat Teoritis ... 8

2. Manfaat Praktis ... 8

E. Sistematika Penulisan ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Intensi Turnover ... 10

1. Pengertian Intensi Turnover ... 10

2. Proses Intensi Turnover ... 12

3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Intensi Turnover ... 13

4. Pengukuran Intensi Turnover ... 16

B. Manajemen Konflik ... 18

1. Pengertian Konflik ... 18

2. Pengertian Manajemen Konflik ... 18

3. Jenis-jenis Konflik ... 19

4. Jenis Manajemen Konflik ... 21

5. Pengukuran Manajemen Konflik ... 22

(10)

6. Dampak Konflik ... 23

C. Job Insecurity ... 25

1. Pengertian Job Insecurity ... 25

2. Pengukuran Job Insecurity ... 26

3. Dampak Job Insecurity ... 27

D. Dinamika Antar Variabel ... 28

1. Manajemen Konflik terhadapTurnover Intention ... 28

2. Job Insecurity terhadapIntensi Turnover... 30

3. Manajemen Konflik dan Job Insecurity terhadap Intensi Turnover ... 32

E. Hipotesis Penelitian ... 33

BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 34

B. Definisi Operational Variabel ... 34

1. Intensi Turnover ... 34

2. Manajemen Konflik ... 35

3. Job Insecurity ... 35

C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 36

D. Metode Pengambilan Data ... 37

E. Blueprint Skala ... 38

1. Skala Intensi Turnover Intention ... 38

2. Skala Manajemen Konflik ... 39

3. Skala Job Insecurity ... 40

F. Reliabilitas Alat Ukur, Uji Daya Beda Aitem, dan Validitas ... 41

1. Reliabilitas Alat Ukur ... 41

2. Uji Daya Beda Aitem ... 42

3. Validitas Alat Ukur ... 42

G. Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 43

1. Skala Intensi Turnover ... 43

2. Skala Manajemen Konflik ... 45

3. Skala Job Insecurity ... 47

(11)

H. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 49

1. Tahap Persiapan Penelitian ... 49

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 50

3. Tahap Pengolahan Data Penelitian ... 50

I. Metode Analisa Data ... 50

J. Uji Hipotesa ... 53

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 55

1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ... 55

2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia ... 55

3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Lama Bekerja ... 56

4. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 57

B. Hasil Penelitian ... 57

1. Hasil Uji Asumsi ... 57

2. Hasil Uji Analisa Data ... 61

a. Pengaruh Manajemen Konflik terhadap Intensi Turnover ... 61

b. Pengaruh Job Insecurity terhadap Intensi Turnover ... 63

c. Pengaruh Manajemen Konflik dan Job Insecurity terhadap Intensi Turnover ... 65

3. Nilai Empirik, Hipotetik, dan Kategorisasi Penelitian ... 67

a. Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik ... 67

1) Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik Intensi Turnover ... 67

2) Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik Manajemen Konflik ... 68

3) Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik Job Insecurity ... 68

b. Kategorisasi Penelitian ... 69

1) Kategorisasi Intensi Turnover ... 69

2) Kategorisasi Manajemen Konflik ... 70

3) Kategorisasi Job Insecurity ... 71

C. Pembahasan ... 72

1. Pengaruh Manajemen Konflik Terhadap Intensi Turnover ... 72

(12)

2. Pengaruh Job Insecurity Terhadap Intensi Turnover ... 74

3. Pengaruh Manajemen Konflik dan Job Insecurity terhadap Intensi Turnover ... 76

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 78

B. Saran ... 79

1. Saran Metodologis ... 79

2. Saran Praktis ... 80

DAFTAR PUSTAKA ... xiii DAFTAR LAMPIRAN

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 Blueprint Skala Intensi Turnover ... 38

Tabel 2 Blueprint Skala Manajemen Konflik ... 39

Tabel 3 Blueprint Skala Job Insecurity ... 40

Tabel 4 Distribusi Skala Intensi Turnover Yang Lulus Uji Coba ... 45

Tabel 5 Distribusi Skala Manajemen KonflikYang Lulus Uji Coba ... 47

Tabel 6 Distribusi Skala Job Insecurity Yang Lulus Uji Coba ... 49

Tabel 7 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ... 55

Tabel 8 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia ... 56

Tabel 9 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 57

Tabel 10 Hasil Uji Normalitas ... 58

Tabel 11 Hasil Uji Linieritas ... 59

Tabel 12 Hasil Uji Autokorelasi ... 59

Tabel 13 Hasil Uji Multikolinieritas ... 60

Tabel 14 Hasil Ringkasan Analisis Regresi Sederhana Variabel Manajemen Konflik ... 61

Tabel 15 Hasil Ringkasan Analisis Regresi Sederhana Variabel Job Insecurity ... 63

Tabel 16 Hasil Ringkasan Analisis Regresi Berganda ... 65

Tabel 17 Perbandingan Mean Hipotetik dan Mean Empirik Intensi Turnover ... 67

Tabel 18 Perbandingan Mean Hipotetik dan Mean Empirik Manajemen Konflik ... 67

Tabel 19 Perbandingan Mean Hipotetik dan Mean Empirik Job Insecurity ... 68

Tabel 20 Norma Kategorisasi Intensi Turnover ... 69

Tabel 21 Kategorisasi Data Intensi Turnover ... 69

Tabel 22 Norma Kategoriasi Manajemen Konflik ... 70

Tabel 23 Kategorisasi Data Manajemen Konflik ... 70

Tabel 24 Norma Kategorisasi Job Insecurity ... 71

Tabel 25 Kategorisasi Data Job Insecurity ... 71

(14)

DAFTAR GRAFIK

Halaman Grafik 1 Uji Heterokedasitas ... 60 Grafik 2 Pengaruh Manajemen Konflik Terhadap Intensi Turnover ... 62 Grafik 3 Pengaruh Job Insecurity Terhadap Intensi Turnover ... 64

(15)

Pengaruh Manajemen Konflik dan Job Insecurity terhadap Intensi Turnover di PT. Midi Utama Indonesia, Tbk Branch Medan

Letty Trisilia, Emmy Mariatin, Ferry Novliadi

ABSTRAK

PT. Midi Utama Indonesia, Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang retail dengan turnover yang selalu ada setiap bulannya. Dari wawancara keluar kerja (exit interview) yang dilakukan, diinformasikan bahwa penyebab keluarnya karyawan salah-satunya dikarenakan tidak teratasinya konflik melalui manajemen konflik dan adanya ketidakamanan kerja (job insecurity) yang dirasakan karyawan terkait pekerjaannya di perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh manajemen konflik terhadap intensi turnover, bagaimana pengaruh job insecurity terhadap intensi turnover, dan bagaimana pengaruh manajemen konflik dan job insecurity secara bersama-sama terhadap intensi turnover karyawan di PT. Midi Utama Indonesia, Tbk, Branch Medan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi sederhana dan regresi berganda. Jumlah subjek yang digunakan adalah 219 karyawan kontrak yang bekerja di gerai toko di PT. Midi Utama Indonesia Branch Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh negatif antara manajemen konflik terhadap intensi turnover dengan sumbangan efektif sebesar 4.3%, terdapat pengaruh positif antara job insecurity terhadap intensi turnover dengan sumbangan efektif 16.5%, dan terdapat pengaruh manajemen konflik dan job insecurity secara bersama-sama terhadap intensi turnover dengan sumbangan efektif sebesar 19.4%.

Kata Kunci : manajemen konflik, job insecurity, intensi turnover

(16)

The Influence of Conflict Management and Job Insecurity toward Turnover Intention At PT. Midi Utama Indonesia, Tbk Branch Medan

Letty Trisilia, Emmy Mariatin, Ferry Novliadi

ABSTRACK

PT. Midi Utama Indonesia, Tbk is a company who engaged in the field of retail would have a turnover every month. From the exit interview, it was informed that the cause of the employee’s dismissal was only due to the conflict management and job insecurity that employees felt related to their work in the company. This study aim to determine how the influence of conflict management on turnover intentions, how the influence of job insecurity on turnover intentions, and how the influence of conflict management and job insecurity together to the intention of employee turnover in PT. Midi Utama Indonesia, Tbk, Branch Medan. This research uses quantitative approach with simple regression and multiple regression method. The subject used is 219 contract employees who work in stores outlets in PT. Midi Utama Indonesia, Tbk branch medan. The result showed that there is a negative influence between conflict management on turnover intention with effective contribution of 4.3%, there is a positive influence between job insecurity on turnover intention with effective contribution of 16.5%, and there is influence of conflict management and job insecurity together towards a turnover intention with an effective contribution of 19.4%.

Keyword : conflict management, job insecurity, turnover intention

(17)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

PT. Midi Utama Indonesia, Tbk adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang retail yang berdiri pada bulan juni 2007. Perusahaan memiliki kantor pusat yang beralamat di jalan M.H. Thamrin No. 9, Cikokol Tangerang, dan mengawali bisnisnya dengan membuka gerai pertama dengan nama Alfamidi di Jalan Garuda, Jakarta Pusat. Bisnis alfamidi dibangun dengan konsep perdagangan umum termasuk toserba atau swalayan dan mini market dengan menyesuaikan perubahan belanja konsumen dari belanja bulanan menjadi belanja mingguan di toko terdekat. Luas area penjualan sendiri antara 200 hingga 400 meter persegi.

Dari tahun ke tahun Alfamidi melakukan pengembangan dengan melakukan penyebaran dan membuka cabang yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Cabang-cabang ini meliputi cabang Bitung, cabang Bekasi, cabang Makassar, cabang Surabaya, cabang Medan, cabang Samarinda, dan cabang Jogyakarta. Keseluruhan cabang melaksanakan bisnisnya dengan koordinasi dari kantor pusat. Sejalan dengan perkembangan tersebut, cabang-cabang juga mulai membuka gerai di wilayah sekitarnya, termasuk cabang yang ada di wilayah Medan. Cabang ini resmi dibuka pada tahun 2012, dan sampai dengan bulan Desember 2016, tercatat telah memiliki 164 gerai toko yang tersebar di beberapa kabupaten di wilayah Sumatera Utara.

(18)

Penyebaran yang dilakukan, tidak terlepas dari harus tersedianya sumber daya manusia, sumber daya manusia ini mendukung organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Berkaitan denganhal tersebut, Alfamidi mengalami suatu kondisi dimana perputaran karyawan terjadi dengan cepat, selalu ada penerimaan dan pemberhentian karyawan yang dilakukan, dan secara berkala melakukan perekrutan karyawan untuk menempati posisi baru atau posisi yang ditinggalkan karyawan sebelumnya. DariManajerHuman Capital didapatkan informasi yang menegaskan bahwa setiap bulannya selalu terdapat sejumlah karyawan yang mengundurkan diri ataupun karyawan yang tidak diperpanjang kontrak kerjanya, hal ini menyebabkanturnovermenjadi cukup tinggi dansekaligus memberikan dampakbagi perusahaan, salah satu dampak negatif yang dirasakan perusahaan adalah dampak kerugian. Martin (2000) mengungkapkanbahwa turnover karyawan berarti kerugian bagi perusahaan, apalagi bila perilaku turnover ini dilakukan oleh beberapa karyawan berbakat, terampil dan berpengalaman, maka perusahaan tersebut akan memikul biaya untuk proses rekrutmen dan seleksi yang besar, gangguan arus kerja perusahaan juga ditambah dengan biaya dan waktu untuk melatih karyawan yang baru masuk. Biaya proses rekrutmen dan seleksi menjadi lebih besar karena penyelenggaraan untuk seleksi karyawan baru yang menggantikan tenaga yang keluar akan mengalir, di samping biaya rekrutmen dan seleksi awal karyawan yang keluar tersebut. Waktu penggantian karyawan yang tidak cepat juga akan menyebabkan gangguan arus kerja perusahaan yang dapat menimbulkan kerugian pula.

(19)

Handoko (2012) menyatakan bahwa turnover adalah perilaku karyawan meninggalkan perusahaan dan mencari kesempatan untuk bekerja di perusahaan lain, yang diawali dengan adanya niat atau intensi untuk keluar dari perusahaan.

Intensi turnover itu sendiri dinyatakan oleh Harnoto (2002) adalah kadar intensitas dari keinginan untuk keluar dari perusahaan yang disebabkan oleh banyak alasan, salah satunya adalah keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Robbins (2006) menjelaskan bahwa penarikan diri seseorang keluar dari suatu organisasi (turnover) dapat diputuskan secara sukarela (voluntary turnover) maupun secara tidak sukarela (involuntary turnover). Voluntary turnover atau quit merupakan keputusan karyawan untuk meninggalkan organisasi secara sukarela yang disebabkan oleh faktor seberapa menarik pekerjaan yang ada saat ini, dan tersedianya alternatif pekerjaan lain. Sebaliknya, involuntary turnover atau pemecatan menggambarkan keputusan pemberi kerja (employer) untuk menghentikan hubungan kerja dan bersifat uncontrollable bagi karyawan yang mengalaminya.

Dari wawancara keluar kerja(exit interview)yang dilakukan oleh departemen human resource, didapatkan informasi bahwa karyawan memutuskan keluar dari perusahaan salah satunya dikarenakan terdapat ketidakcocokan antara karyawan tersebut dengan atasan atau dengan karyawan lainnya. Ketidakcocokan ini berhubungan dengan beberapa hal terkait pekerjaan, seperti dalam pembagian pekerjaan, gaya komunikasi, perbedaan usia, dan perbedaan pengetahuan. Dalam hal pembagian pekerjaan, ketidakcocokan dirasakan akibat tidak diselesaikannya pekerjaan berdasarkan pembagian yang telah dilakukan, ada karyawan yang tidak

(20)

bekerja secara maksimal dan ketika terdapat komplain dari atasan, maka penyelesaian harus dilakukan oleh karyawan yang ada pada saat itu, meskipun bukan karyawan yang menanggungjawabi pekerjaan tersebut. Dalam hal komunikasi, ketidakcocokan dirasakan terkait dengan budaya dari masing masing pekerja, yang misalnya penggunaan kata ‘kau’ kasar bagi sebagian orang dan biasa untuk orang yang lain. Hal ini membuat karyawan merasa tidak dihargai.

Dalam hal usia, perbedaan usia yang tidak terpaut jauh antara atasan dan bawahan di gerai toko membuat tidak semua bawahan mau mengikuti arahan yang diajukan atasan, yang dalam hal ini membuat pertikaian antara atasan dan bawahan. Dalam hal pengetahuan, meskipun kesemua karyawan telah mendapatkan pelatihan sebelum bekerja, namun pemahaman yang dimiliki antar karyawan tidak selalu sama, dan hal ini membuat ada karyawan yang dapat dengan cepat naik jabatannya dan sebagian yang lain tidak. Hal ini membuat kecemburuan antar satu karyawan dengan karyawan lainnya.

Ketidakcocokan antara satu karyawan dengan karyawan lainnya dalam bekerja dikenal sebagai konflik, dan konflik yang tidak terselesaikan melalui manajemen konflik menimbulkan keinginan untuk keluar dari perusahaan.Diungkapkan oleh Maier (1971) mengenai beberapa hal yang mempengaruhi tingginya intensi turnoverseorang karyawan meliputi usia dan tingkat pendidikan. Kondisi ini mendukung keterikatan antara konflik dan intensiturnover. Seperti yang diungkapkan Riyanto (2008) dalam penelitiannya, yang menemukan suatu hubungan negatif antara manajemen konflik dan intensi turnover, dimana semakin tinggi manajemen konflik maka semakin rendah intensi

(21)

turnover karyawan dan sebaliknya semakin rendah manajemen konflik maka akan semakin tinggi intensi turnovernya. Penelitian tersebut juga menyatakan bahwa manajemen konflik dapat dijadikan prediktor untuk memprediksikan intensi turnover karyawan.

Handoko (2012) menyatakan terdapat lima jenis konflik dalam organisasi yang meliputi konflik dalam diri individu, konflik antar individu dalam organisasi, konflik antar individu dan kelompok, konflik antar kelompok dalam organisasi, dan konflik antar organisasi. Kesemua konflik yang ada ini apabila tidak dimanajemeni dengan baik akan memberikan dampak negatif bagi perusahaan, dampak-dampak tersebut meliputi meningkatnya jumlah absensi karyawan, meningkatnya keluhan mengenai pekerjaan sampai dengan kecenderungan keluar masuk perusahaan.Manajemen konflik adalah suatu proses dimana pihak yang terlibat atau pihak ketiga menyusun strategi konflik dan menerapkannya untuk mengendalikan konflik agar menghasilkan resolusi yang diinginkan. Manajemen konflik merupakan cara yang dapat digunakan dari pihak yang terlibat konflik atau pihak ketiga untuk menghadapi perselisihan atara dua orang atau lebih atau dua kelompok atau lebih supaya menemukan titik terang atas permasalahan tersebut (Wirawan, 2010).

Selain adanya konflik yang terjadi di perusahaan, alasan yang juga diungkapkan melalui wawancara keluar kerja adalah adanya ketidakamanan yang dirasakan karyawan. Aturan yang ditetapkan di perusahaan mengenai pemindahan karyawan dari satu gerai toko ke gerai toko lainnya dalam waktu yang tidak ditentukan membuat karyawan sulit untuk mengatur alur kerjanya, dan beban

(22)

NBH (Nota Barang Hilang) yang harus ditanggung jawabi karyawan dikarenakan terdapat barang yang hilang, ataupun barang rusak yang tidak segera diproses, harus dibayarkan karyawan setiap bulannya melalui pemotongan gaji, dirasakan terlalu besar, karena karyawan merasa kesalahan akan terjadinya kehilangan barang ataupun kerusakan barang bukan disebabkan oleh dirinya, namun aturan perusahaan mengharuskan ketika terjadi NBH diluar toleransi perusahaan, maka semua karyawan dalam satu gerai toko tersebutlah yang harus menanggungjawabinya. Hal ini menyangkut dengan berkurangnya penghasilan yang didapatkan karyawan tersebut dikarenakan harus membayar beban NBH.

Selain itu, kebanyakan karyawan di gerai toko masih berstatus kontrak. Hal ini memperbesar ketidakamanan yang dirasakan karyawan.

Ketidakamanan dalam pekerjaan dikenal dengan job insecurity. Smithson dan Lewis (2010) menyatakan bahwa job insecurity adalah suatu kondisi psikologis seorang karyawan yang menunjukkan rasa bingung atau merasa tidak aman dikarenakan kondisi lingkungan yang berubah-ubah (perceived impermanence).Suhartono (2007) menyatakan bahwa karyawan akan mengalami rasa tidak aman terkait dengan kondisi pekerjaan, konflik peran, pengembangan karir, dan pusat pengendalian yang semakin meningkat karena ketidakstabilan terhadap status pekerjaan mereka yang hanya sebagai karyawan kontrak, sehingga bisa memicu tingginya angka intensiturnover (keinginan keluar) karyawan yang terjadi di suatu perusahaan, dan Greenhalgh & Rosenblatt(1984) menyatakan bahwakaryawan yang mengalami tekanan job insecurity memiliki alasan rasional

(23)

untuk mencari alternatif pekerjaan lain yang dapat mendukung kelanjutan dan memberikan rasa aman bagi karirnya.

Gunalan dan Adnan (2015) dalam penelitiannya mengenai job insecurity dan intensiturnover menyatakan bahwa job insecurity memiliki pengaruh positif terhadap intensiturnover, yang artinya tingginya job insecurity yang dirasakan karyawan akan menyebabkan tingginya intensiturnover, dan sebaliknya, rendahnya job insecurity juga akan memperendah intensiturnover. Hal ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Suwandi dan Indriantoro (1999) yang menyatakan bahwa job insecurity merupakan faktor yang secara langsung mempengaruhi intensi turnover.

Berdasarkan paparan di atas, peneliti ingin mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana pengaruh manajemen konflik dan job insecurity terhadap intensi turnover yang ada di PT. Midi Utama Indonesia, Tbk.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan latar belakang permasalahan di atas, maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah terdapat pengaruh manajemen konflik terhadap intensiturnover?

2. Apakah terdapat pengaruhjob insecurity terhadap intensi turnover?

3. Apakah terdapat pengaruh antara manajemen konflik dan job insecurity terhadap intensiturnover?

C. Tujuan Penelitian

(24)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensiturnover, manajemen konflik, dan job insecurity di PT. Midi Utama Indonesia, Tbk serta melihat apakah terdapat pengaruh dari manajemen konflik dan job insecurity terhadap intensi turnover.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memperoleh manfaat teoritis dan manfaat praktis sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk mengembangkan ilmu psikologi khususnya psikologi industri dan organisasi, dengan tema pengaruh manajemen konflik dan job insecurityterhadap intensiturnover.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk PT. Midi Utama Indonesia, Tbk khususnya branch Medan untuk mengetahui tingkat intensiturnover, manajemen konflik, dan job insecurityyang ada di perusahaannya serta mengetahui bagaimana pengaruh dari manajemen konflik dan job insecurity terhadap intensi turnover karyawan.

E. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

(25)

Bab ini berisi latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, serta sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi penjelasan mengenai teori organisasi yang terkait masalah, serta teori terkait dengan variabel prediktordan variabel kriteria yang diteliti.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini berisi pendekatan penelitian, tipe penelitian, desain penelitian, rumusan permasalaham, hipotesis penelitian, responden penelitian, metode pengumpulan data, metode analisis data, dan prosedur penelitian.

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Bab ini menjelaskan mengenai keseluruhan hasil penelitian. Bab analisisa data dan pembahasan akan dimulai dengan memberikan gambaran umum subjek penelitian dilanjutkan dengan hasil penelitian dan pembahasan mengenai hasil analisa data.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini menjelaskan mengenai kesimpulan yang didapatkan dari hasil penelitian dan saran metodologis serta saran praktis yang akan diuraikan.

(26)
(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Turnover Intention

1. Pengertian Turnover Intention

Fishben dan Ajzen (1975) mengemukakan bahwa intensi adalah subyektifitas individu yang melibatkan hubungan antara dirinya dan suatu perilaku, dengan teori pembentukan tingkah laku berdasarkan hubungan antara keyakinan (belief), sikap (attitude), dan intensi (intention) individu. Keyakinan dikategorikan sebagai aspek kognitif yang melibatkan pengetahuan, pendapat dan pandangan individu terhadap obyek. Sikap dikategorikan sebagai aspek afektif yang mengarah pada perasaan individu terhadap suatu obyek serta evaluasi yang dilakukannya. Intensi dikategorikan sebagai aspek konatif yang menunjukkan intensi individu dalam bertingkah laku (behavioral intention) dan bertindak ketika berhadapan langsung dengan suatu obyek serta evaluasi yang dilakukannya.

Sementara turnover adalah berhentinya seseorang dari tempatnya bekerja secara sukarela. Cascio (1987) mendefinisikan turnover sebagai berhentinya hubungan kerja secara permanen antara perusahaan dengan karyawannya, dan Maier (1971) menyatakan bahwa turnover merupakan perpisahan antara perusahaan dan pekerja.

Terdapat beberapa definisi mengenai intensiturnover, yang dinyatakan sebagai berikut; Mobley (2000) menyatakan bahwa intensi turnover adalah penghentian keanggotaan dalam organisasi oleh individu yang berkeinginan untuk pindah kerja dengan menerima upah moneter dari organisasi.

(28)

Mathis & Jackson (2001) menyatakan intensiturnoveradalah proses dimana tenaga kerja meninggalkan organisasi dan harus ada yang menggantikannya.

Zeffane (2003) menyatakan intensiturnoveradalah kecenderungan atau niat karyawan untuk berhenti bekerja dari pekerjaanya secara sukarela menurut pilihannya sendiri.

Robbins (2006), menjelaskan bahwa penarikan diri seseorang keluar dari suatu organisasi (turnover) dapat diputuskan secara sukarela (voluntary turnover) maupun secara tidak sukarela (involuntary turnover). Voluntary turnover atau quit merupakan keputusan karyawan untuk meninggalkan organisasi secara sukarela yang disebabkan oleh faktor seberapa menarik pekerjaan yang ada saat ini, dan tersedianya alternatif pekerjaan lain. Sebaliknya, involuntary turnover atau pemecatan menggambarkan keputusan pemberi kerja (employer) untuk menghentikan hubungan kerja dan bersifat uncontrollable bagi karyawan yang mengalaminya.

Booth & Hamer (2007) mengartikan intensiturnover sebagai dampak terburuk dari ketidakmampuan suatu organisasi dalam mengelola perilaku individu sehingga individu merasa memiliki intensi pindah kerja yang tinggi.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwaintensi turnover adalah kecenderungan atau niat karyawan untuk keluar dari organisasi secara sukarela dengan mencari alternatif pekerjaan lain menurut pilihannya sendiri yang didasari dengan keyakinan dan sikap telebih dahulu.

(29)

2. Proses Turnover Intention

Mobley (2000) menyatakan tahapan proses intensiturnover sebelum pada tahap melakukanturnover adalah sebagai berikut :

Bagan Tahapan Berfikir Turnover Intention (Mobley, 2000)

Proses kognitif dalam turnover dimulai saat individu mulai berfikir untuk berhenti (thinking of quiting) yang ditandai dengan munculnya pemikiran- pemikiran untuk meninggalkan pekerjaannya saat ini. Hal ini melibatkan proses evaluasi individu terhadap pemikirannya apakah meninggalkan pekerjaan akan memberikan hasil yang sesuai dengan harapannya atau tidak (evaluation of the expected utility of search). Individu merasakan adanya ketertarikan pada pekerjaan atau pekerjaan lain, yang muncul berdasarkan harapan bahwa pekerjaan atau perusahaan tersebut akan mendatangkan berbagai konsekuensi baik positif maupun negatif mengenai hasil dan nilainya. Kemudian, setelah individu menemukan bahwa terdapat peluang untuk mendapatkan alternatif pekerjaan atau perusahaan lain. Lalu, setelah individu melakukan pencarian, proses evaluasi kembali dilakukan terhadap alternatif pekerjaan yang ada dengan

Thought of quiting

Evaluation of the expected

utility of search

Intention to search

Search

Evaluation of alternatives

Intention to quit

Withdrawal decision Turnover behaviour

(30)

mempertimbangkan konsekuensi positif dan negatif dari setiap alternatif tersebut (evaluation of alternatives). Hasil evaluasi tersebut kemudian akan berlanjut pada munculnya kecenderungan untuk meninggalkan pekerjaan saat ini (intention to quit).

Setelah melewati proses kognisi yang dimulai dari tahap pertama sampai dengan tahap keenam, terdapat tahap withdrawal decision dan turnover behavior, yang merupakan tahapan di luar proses kognisi dan merupakan tahapan dimana pada akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan. Tahapan ini adalah bentuk realisasi dari intensi untuk meninggalkan pekerjaan, yaitu berhenti dari pekerjaan atau keluar dari perusahaan.

3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi IntensiTurnover

Mueller (2003) menyatakan beberapa aspek yang dapat menjadi prediktor intensi turnover, yang meliputi :

a. Variabel Konstektual

Faktor yang penting dalam permasalahan mengenai turnover adalah adanya alternatif pekerjaan lain yang tersedia di luar organisasi, alternatif- alternatif yang tersedia di dalam organisasi dan bagaimana individu tersebut menerima nilai atau menghargai perubahan pekerjaan (perceived cost of job change). Variabel konstektual ini mencakup :

a) Alternatif-alternatif yang ada di luar organisasi (external alternatives)

(31)

Adanya kecenderungan karyawan untuk meninggalkan organisasi dikarenakan adanya alternatif pekerjaan baru di luar organisasi.

Sementara itu dari sisi individu, umumnya pembentuk intensi turnover berdasarkan persepsi subyektif dari pasar tenaga kerja, dan umumnya individu akan benar-benar melakukan perpindahan kerja jika persepsi yang ia bentuk sesuai dengan kenyataan, dan mereka merasa aman dengan pekerjaan baru.

b) Alternatif-alternatif yang ada di dalam organisasi (internal alternatives)

Adanya alternatif yang timbul dari dalam organisasi dimana kecenderungan karyawan melakukan intensi turnover disebabkan karyawan melihat ada organisasi yang memiliki peluang kerja yang sama dengan sebelumnya yang bisa membuat karyawan tersebut lebih baik dari organisasi sebelumnya.

c) Harga atau nilai dari perubahan kerja (cost of job change)

Individu meninggalkan organisasi seringkali dikarenakan tersedianya alternatif-alternatif yang mendorong mereka untuk keluar dari organisasi. Namun ada faktor lain yang membuat individu memilih untuk tetap bertahan, yakni faktor keterikatan.

Individu yang merasa terikat dengan organisasi cenderung untuk tetap bertahan di organisasi. Keterikatan menunjukkan pada kesulitan yang dihadapi oleh individu untuk berpindah atau mengubah pekerjaan, meski ia mengetahui adanya alternatif yang

(32)

lebih baik di luar. Salah satu faktor yang meningkatkan harga dari intensi turnover adalah asuransi kesehatan dan benefit yang didapat dari organisasi (misal pensiun dan bonus-bonus).

b. Sikap Kerja (work attitudes)

Hampir semua model proses turnover dimulai dengan premis yang menyatakan bahwa keputusan turnover dikarenakan oleh tingkat kepuasan kerja yang rendah dan komitmen organisasi yang rendah pula.

c. Kejadian-kejadian kritis (critical events)

Kebanyakan orang jarang memutuskan apakah mereka tetap bertahan di pekerjaan yang ada ataupun tidak, dan tetap mempertahankan pekerjaan yang sama sebagai fungsi dari suatu pilihan dibanding suatu kebiasaan.

Kejadian-kejadian kritis memberikan kejutan yang cukup kuat bagi sistem kognitif individu untuk menilai ulang kembali situasi yang dihadapi dan melakukan tindakan nyata. Contoh dari kejadian-kejadian kritis diantaranya adalah perkawinan, perceraian, sakit atau kematian dari pasangan, kelahiran anak, kejadian yang berkaitan dengan pekerjaan seperti diabaikan dalam hal promosi, menerima tawaran yang lebih menjanjikan atau mendengar tentang kesempatan kerja yang lain. Semua kejadian-kejadian tersebut bisa meningkatkan atau menurunkan kecenderungan seseorang untuk turnover, karena setiap kejadian bisa disikapi secara berbeda antara individu satu dengan yang lain.

Spector (2007) mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi terjadinya turnover meliputi lama kerja, dimana turnover lebih banyak terjadi

(33)

pada karyawan yang masa kerjanya lebih singkat. Usia, bahwa pekerja yang memiliki usia lebih muda memiliki tingkat intensi turnover yang lebih tinggi dibandingkan pekerja yang lebih tua. Status perkawinan, tingkat inteligensi, dimana tingkat inteligensi yang rendah akan memandang tugas-tugas sulit sebagai tekanan sehingga mudah gelisah dan individu akan berusaha mencari pekerjaan baru dan keluar dari perusahaan. Mobley (2008) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi intensi turnover meliputi tiga hal, yaitu lingkungan hidup atau ekonomi, individu, dan organisasi. Sedangkan Sularo, Purwati, wulandari (2013) dalam penelitiannya mendapatkan hasil yang menyatakan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi adanya intensi turnover meliputi kepuasan kerja, komitmen organisasi, konflik peran dan job insecurity.

4.Pengukuran Intensi Turnover

Pengukuran intensi turnover dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Fishben dan Ajzen (1975) mengemukakan pendekatan untuk melakukan pengukuran intensi turnover secara langsung melalui pertanyaan yang diajukan secara langsung kepada individu apakah ia akan melakukan perilaku tertentu atau tidak, dengan titik tolak penilaian tunggal, yaitu ya - tidak, atau mau – tidak mau. Sedangkan pengukuran intensi secara tidak langsung dilakukan dengan menggunakan skala yang bertitik tolak pada model pilihan jawaban dari sangat sesuai sampai sangat tidak sesuai terhadap perilaku tertentu.

Pengukuran intensi secara langsung menekankan pada isi intensi atau spontanitas keinginan untuk melakukan suatu perilaku tertentu dalam

(34)

memperlihatkan proses yang melalui terbentuknya intensi itu sendiri. Sebaliknya pengukuran intensi secara tidak langsung berdasarkan pada model kerangka konseptual pembentukan perilaku, yaitu bahwa intensi merupakan fungsi dari dua determinan utama, yaitu sikap pribadi terhadap perilaku yang akan dilakukan (attitude toward the behavior) dan persepsi individu terhadap tekanan sosial untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu.

Pengukuran intensi turnover dalam penelitian ini didasarkan pada teori Fishben dan Ajzen (1975) yang mengemukakan empat aspek alam mengukur intensi, yang meliputi :

a. Perilaku (behavior), yaitu perilaku spesifik yang nantinya akan diwujudkan.

b. Sasaran (target), yaitu objek yang menjadi sasaran perilaku. Objek yang menjadi sasaran dari perilaku spesifik dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu orang atau sekelompok objek tertentu (particular object), sekelompok orang atau sekelompok objek (a class of object), dan orang atau objek pada umumnya (any object).

c. Situasi (situation), yaitu situasi yang mendukung untuk dilakukannya suatu perilaku (bagaimana dan dimana perilaku itu akan diwujudkan).

d. Waktu (time), yaitu waktu terjadinya perilaku yang meliputi waktu tertentu dalam satu periode atau jangka waktu tidak terbatas.

(35)

B. Manajemen Konfik 1. Pengertian Konflik

Terdapat beberapa pendapat mengenai pengertian konflik. Killman dan Thomas (1978) menyatakan konflik merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja.

Menurut Luthans (1981) menyatakan konflik adalah kondisi yang ditimbulkan olehadanya kekuatan yang saling bertentangan. Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada keinginan manusia. Istilah konflik sendiri diterjemahkan dalam beberapa istilah yaituperbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa konflik adalah suatu kondisi dimana terdapat ketidakcocokan atau pertentangan yang terjadi dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain yang dapat mengganggu bahkan mempengaruhi efisiensi dan produktifitas kerja.

2. Pengertian Manajemen Konflik

Menurut Ross (1993) bahwa manajemen konflik merupakan langkah- langkah yangdiambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arahhasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupapenyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif. Manajemen konflik dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama

(36)

dalam memecahkan masalah (dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak ketiga. Suatu pendekatan yang berorientasi pada proses manajemen konflik menunjuk pada pola komunikasi (termasuk perilaku) para pelaku dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan dan penafsiran terhadap konflik.

Lynne Irvine (1998) mendefinisikan manajemen konflik sebagai strategi dari organisasi untuk mengelola perbedaan individu untuk mengurangi biaya dari konflik yang tidak teratasi dan memanfaatkannya sebagai sumber inovasi dan perbaikan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen konflik adalah suatu usaha atau langkah-langkah yang diambildalam rangka menyelesaikan konflik, dengan pola komunikasi dan perilaku serta memanfaatkannya menjadi sumber inovasi dan perbaikan.

3. Jenis-jenis Konflik

Menurut Sentanu K. (1985) konflik dapat dibagi menjadi lima jenis yang meliputi :

a. Konflik internal individu

Yaitu konflik yang terjadi pada individu anggota organisasi. Masalahyang menyebabkan terjadinya konflik selain berhubungan dengan masalah industrial relation.Masalah - masalah yang berhubungan dengan industrial relation antara lain adalah kepastianindividu tersebut terhadap masa depan profesi dan karir pekerjaan, apakah mempunyai prospekyang baik ataukah tidak. Bagaimana kondisi jaminan sosial ekonomi yang diterima

(37)

dariorganisasi, apakah dapat mencukupi atau tidak dan lain - lain.Sementara yang berhubungan dengan masalah - masalah diluar industrial relation dapatdisebutkan antara lain pengaruh dari pihak keluarga yang menghadapi berbagai masalah, dan lain-lain. Sehingga didalam diri individu yang bersangkutan terjadi konflik yang dapatmempengaruhi performancenya dalam pekerjaan.

b. Konflik antara individu dalam suatu organisasi,

Yaitu konflik ini timbul oleh karena adanya ketidaksesuaian cara pandang terhadap masalah tertentu antara individu yang satu denganindividu yang lain dalam suatu organisasi, penyebabnya adalah perbedaan kepribadian.Masalah - masalah yang menyebabkan terjadinya konflik dapat bermacam-macam, bisa dalambentuk perbedaan posisi pekerjaan dalam organisasi ataupun masalah - masalah pengaturan kerjayang kurang adil.

c. Konflik antar individu dan kelompok dalam suatu organisasi;

Yaitu konflik yang terjadiantara individu tertentu dengan kelompok pekerja. Konflik ini terjadi biasanya dalam hubunganindustrial organisasi.

Misal sanksi dan tekanan kelompok terhadap individu atas pekerjaan yangditentukan kelompok organisasi, sehingga individu yang bersangkutan merasa tertekankarenanya.

d. Konflik antara kelompok kerja dalam suatu organisasi,

Yaitu konflik ini terjadi lebihdisebabkan karena perbedaan kepentingan dan unsur - unsur penyebabnya antara lain karenaperbedaan mengambil

(38)

peran dan penempatan sumber daya yang tersedia, peroleh kontraprestasidan lain - lain.

e. Konflik antara organisasi,

Yaitu konflik ini adalah konflik yang biasa terjadi karena perbedaanprinsip, konsep, strategi dan sistem yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan.

4.Jenis Manajemen Konflik

Gottman dan Korkoff (dalam Fisher, 2000) menyebutkan bahwa secara garis besar ada dua manajemen konflik, yaitu :

a. Manajemen konflik destruktif yang meliputi menyerang dan lepas kontrol(conflict engagement), menarik diri (withdrawal) dari situasi tertentu yang kadang-kadang sangat menakutkan hingga menjauhkan diri ketika menghadapi konflikdengan cara menggunakan mekanisme pertahan diri, dan menyerah dan tidak membela diri (compliance).

b. Manajemen konflik konstruktif yaitu positive problem solvingyang terdiri dari kompromi dan negosiasi. Kompromi adalah suatu bentuk akomodasi dimana pihak-pihak yangterlibat mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada. Sikap dasar untuk melaksanakan kompromi adalah bahwa salah satu pihak bersedia untuk merasakan dan memahami keadaan pihak lainnya dan sebaliknya sedangkan negosiasi yaitu suatu cara untuk menetapkan keputusan yang

(39)

dapat disepakati dan diterima oleh dua pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang.

5. Pengukuran Manajemen Konflik

Pengukuran manajemen konflik dilakukan dengan menggunakan teori yang diungkapkan oleh Gottman dan Korkoff (dalam Fisher, 2000), dengan melakukan pengukuran terhadap manajemen konflik konsktuktif dengan positive problem solving, yang meliputi :

a. Kompromi, yang merupakan suatu bentuk akomodasi dimana pihak-pihak yangterlibat mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada. Sikap dasar untuk melaksanakan kompromi adalah bahwa salah satu pihak bersedia untuk merasakan dan memahami keadaan pihak lainnya

b. Negosiasi, yang merupakan suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati dan diterima oleh dua pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang.

6. DampakKonflik

Stevenin (2000) menjelaskan bahwa sebuah konflik yang tidak terselesaikan akan merusak lingkungan kerja dan orang-orang yang ada di dalamnya. Adapun dampak dari tidak terselesainya konflik meliputi :

a. Kehilangan karyawan yang berharga dan memiliki keahlian teknis.

(40)

b. Tertahan dan terubahnya informasi yang diperlukan rekan-rekan sekerja dengan tujuan agar tetap dapat mencapai prestasi.

c. Keputusan yang lebih buruk yang diambil oleh perseorangan atau tim karena mereka sibuk memusatkan perhatian pada orangnya, bukan pada masalahnya.

d. Kemungkinan sabotase terhadap pekerjaan atau peralatan. Seringkali dimaklumi sebagai faktor “kecelakaan” atau “lupa”. Namun, dapat membuat pengeluaran yang diakibatkan tak terhitung banyaknya.

e. Sabotase terhadap hubungan pribadi dan reputasi anggota tim melalui gosip dan kabar burung.

f. Menurunkan moral, semangat, dan motivasi kerja. Seorang karyawan yang jengkel dan merasa ada yang berbuat salah kepadanya tidak lama kemudian dapat meracuni seluruh anggota tim.

g. Masalah yang berkaitan dengan stres. Ada bermacam-macam, mulai dari efisiensi yang berkurang sampai kebiasaan membolos kerja.

Dampak tersebut, didukung oleh Wijono (1993), yang menjelaskan bahwa kurang efektifnya pengelolaan konflik akan memunculkan keadaan-keadaan seperti :

a. Meningkatkan jumlah absensi karyawan dan seringnya karyawan mangkir pada waktu jam-jam kerja berlangsung seperti misalnya ngobrol berjam- jam, berjalan mondar-mandir menyibukkan diri, tidur selama pimpinan

(41)

tidak ada di tempat, pulang lebih awal atau datang terlambat dengan berbagai alasan yang tak jelas.

b. Banyak karyawan yang mengeluh karena sikap atau perilaku teman kerjanya yang dirasakan kurang adil dalam membagi tugas dan tanggung jawab. Seringnya terjadi perselisihan antar karyawan yang bisa memancing kemarahan, ketersinggungan yang akhirnya dapat mempengaruhi pekerjaan, kondisi psikis dan keluarganya.

c. Banyak karyawan yang sakit-sakitan, sulit untuk konsentrasi dalam pekerjaannya, muncul perasaan-perasaan kurang aman, merasa tertolak oleh teman ataupun atasan, merasa tidak dihargai hasil pekerjaannya, timbul stres yang berkepanjangan yang bisa berakibat sakit tekanan darah tinggi, maag ataupun yang lainnya.

d. Seringnya karyawan melakukan mekanisme pertahanan diri bila memperoleh teguran dari atasan, misalnya mengadakan sabotase terhadap jalannya produksi, dengan cara merusak mesin-mesin atau peralatan kerja, mengadakan provokasi terhadap rekan kerja, membuat intrik-intrik yang merugikan orang lain.

e. Meningkatnya kecenderungan karyawan yang keluar masuk dan ini disebut labor turnover. Kondisi semacam ini bisa menghambat kelancaran dan kestabilan organisasi secara menyeluruh karena produksi bisa macet, kehilangan karyawan potensial, waktu tersita hanya untuk kegiatan seleksi dan memberikan latihan dan dapat muncul pemborosan dalam cost benefit.

(42)

C. Job Insecurity

1. Pengertian Job Insecurity

Definisi job insecurity, dijelaskan oleh Saylor (2004) sebagai perasaan tegang gelisah, khawatir, stress, dan merasa tidak pasti dalam kaitannya dengan sifat dan keberadaan pekerjaan selanjutnya yang dirasakan pada pekerja.

Ketakutan yang berlebih menciptakan keinginan untuk selalu bekerja lebih keras untuk menghindari resiko terjadinya ketidakamanan dalam bekerja (job insecurty) seseorang. Pekerjaan yang berjangka pendek (kontrak) akan mengakibatkan ketidakpastian.

Rowntree (2005), ketidakamanan kerja atau dapat disebut dengan job insecurity dapat didefinisikan sebagai kondisi yang berhubungan dengan rasa takut seseorang akan kehilangan pekerjaannya atau prospek akan demosi atau penurunan jabatan serta berbagai ancaman lainnya terhadap kondisi kerja yang berasosiasi menurunnya kesejahteraan secara psikologis dan menurunnya kepuasan kerja.

Kang, Jeff, dan Daewon (2012) menganggap ketidakamanan kerja sebagai suatu kegelisahan yang dirasakan karyawan pada saat bekerja dimana mereka dihadapkan pada kondisi yang tidak menyenangkan.

Menurut Green (2003) job insecurity merupakan ketidakpastian yang menyertai suatu pekerjaan yang menyebabkan rasa takut atau tidak aman terhadap konsekuensi pekerjaan tersebut yang meliputi ketidakpastian penempatan atau ketidakpastian masalah gaji serta kesempatan mendapatkan promosi atau pelatihan. Menurut Green faktor yang mempengaruhi ketidakamanan kerja (job

(43)

insecurity) dipengaruhi oleh lingkungan kerja yang meliputi lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja psikis, kondisi di luar lingkungan kerja, dan diri pribadi.

Saylor (2004) berpendapat bahwa aspek-aspek job insecurity meliputi ketakutan akan kehilangan pekerjaan, bekerja lebih keras, dan ketakutan akan kehilangan status sosial.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa job insecurity adalah kegelisahan yang dirasakan karyawan terkait pekerjaannya, seperti ketakutan akan kehilangan pekerjaan dikarenakan kondisi pekerjaan yang berubah-ubah, status kepegawaian, dan kegelisahan yang dirasakan dikarenakan kondisi yang tidak menyenangkan dalam bekerja.

2. PengukuranJob Insecurity

Pengukuran job insecurity akan dilakukan dengan menggunakan aspek job insecurity yang dikemukakan oleh Adkins, James dan Jing(2001), yang meliputi :

a. Ancaman terhadap aspek-aspek dalam pekerjaan.

Aspek-aspek yang berkaitan di dalam pekerjaan salah satunya sepertikebebasan menentukan jadwal pekerjaan. Persepsi seseorang mengenaibesarnya ancaman aspek-aspek pekerjaan dapat diketahui melalui seberapabesar aspek-aspek itu dirasakan penting dan seberapa besar kemungkinanindividu akan kehilangan aspek-aspek tersebut.

Semakin penting dan semakintinggi aspek-aspek tersebut dipersepsikan

(44)

mungkin hilang, maka semakintinggi tingkat ancaman terhadap aspek- aspek dalam pekerjaan yang dirasakanindividu tersebut.

b. Ancaman kehilangan pekerjaan secara keseluruhan.

Ancaman kehilangan pekerjaan secara keseluruhan merupakan persepsiseseorang mengenai adalanya kejadian-kejadian negatif yang dapat mempengaruhi pekerjaannya, seperti diberhentikan untuk sementara waktu.Ancaman tersebut dapat diketahui melalui seberapa penting dan seberapamungkin kejadian-kejadian negatif tersebut dipersepsikan akanmempengaruhi pekerjaannya secara keseluruhan.

c. Ketidakberdayaan.

Ketidakberdayaan menujukkan ketidakmampuan seseorang untuk mencegahmunculnya ancaman yang berpengaruh terhadap aspek-aspek pekerjaan danpekerjaan secara keseluruhan. Semakin individu merasa tidak berdaya,semakin tinggi tingkat job insecurity.

3. Dampak Job Insecurity

Ashford dan Wright (1989) menyatakan bahwa job insecurityyang tinggi yang dirasakan karyawan akan berhubungan dengan :

a. Keinginan untuk mencari pekerjaan baru

Job insecurity dapat memberikan efek pada turnover karyawan, dimana job insecurity akan berhubungan dengan respon penarikan diri, sebagai usaha untuk menghindari stress.

b. Komitmen organisasi yang rendah

(45)

Perasaan job insecurity dapat mengancam level komitmen, kepuasan dan kepercayaan yang tinggi terhadap perusahaan.

c. Trust terhadap organisasi yang rendah

Individu yang merasa perusahaan tidak dapat diandalkan untuk menghasilkan komitmen terhadap karyawan dapat mengurangi komitmen karyawan terhadap organisasi, dan komitmen terhadap organisasi berhubungan dengan kepercayaan karyawan terhadap perusahaan.

d. Kepuasan kerja yang rendah

Persepsi terhadap organisasi memiliki hubungan secara negatif dengan pengukuran kepuasan kerja, dimana karyawan dengan tingkat persepsi terhadap job insecurity yang rendah akan kurang puas dengan pekerjaan mereka.

D. Dinamika Antar Variabel

1. Manajemen Konflik tehadapIntensi Turnover

Sebuah pandangan menyatakan bahwa konflik organisasi merupakan suatu hal yang negatif, menjerumus pada perpecahan organisasi, karena itu harus dihilangkan karena akan menghambat kerja optimal. Perselisihan dianggap sebagai indikasi adanya sesuatu yang salah dengan organisai, dan itu bearti aturan-aturan organisasi tidak dijalankan (Wahyudi, 2006). Konflik di suatu organisasi dapat meliputi konflik dalam diri individu, konflik antar individu, konflik antar individu dalam kelompok, serta konflik antar kelompok (Wirawan, 2010).

(46)

Kesemua konflik yang ada ini harus dapat diterima dan dikelola dengan baik, serta harus didorong, karena konflik merupakan kekuatan untuk mendatangkan perubahan dan kemajuan dalam lembaga. Wahyudi (2006) dalam penelitiannya mengatakan bahwa, jika konflik dapat dikelola secara sistematis dapat berdampak positif, yaitu memperkuat hubungan kerjasama, meningkatkan kepercayaan dan harga diri, mempertinggi kreativitas dan produktivitas. Karena itu penyelesaian konflik harus dilakukan dengan manajemen konflik yang baik.

Selain dampak positif dari konflik,terdapat beberapa dampak negatif yang diungkapkan oleh Wijono (1993) disebabkan karena kurang efektifnya pengelolaan konflik atau terdapat kecenderungan untuk membiarkan konflik tumbuh subur dan menghindari terjadinya konflik. Pembiaran konflik yang dilakukan akan mengakibatkan beberapa hal yang meliputi ; meningkatnya jumlah absensi karyawan dan seringnya karyawan mangkir pada jam kerja berlangsung.

Hal ini menurut Harnoto (2002) merupakan tanda-tanda dari karyawan yang memiliki intensiturnoverdimana adanya intensiturnover akan ditandai dengan absensi karyawan yang meningkat, serta diikuti dengan tanggung jawab akan pekerjaan yang berkurang dibandingkan dengan sebelumnya. Karyawan juga akan mulai malas untuk bekerja dan merasa bahwa bekerja di tempat lain lebih dapat memenuhi keinginan karyawan tersebut.

Hubungan antara konflik dengan intensiturnover itu sendiri berdasarkan beberapa penelitian merupakan hubungan yang negatif, hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sanders (2017) mengenai keterkaitan antara relationship conflict, performance denganturnover intentiondengan job burnout

(47)

sebagai variabel mediator, menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara relationship conflict dengan turnover intention, dan hubungan antara manajemen konflik dengan turnover intention juga merupakan hubungan negatif dan sangat signifikan (Riyanto, 2008) dimana semakin tinggi manajemen konflik maka semakin rendah intensi turnover karyawan, dan sebaliknya semakin rendah manajemen konflik maka semakin tinggi intensi turnover karyawan. Peranan atau sumbangan efektif manajemen konflik terhadap intensi turnover sebesar 16,4%.

2. Job Insecurity terhadap IntensiTurnover

Dalam bekerja, seorang karyawan membutuhkan keamanan dalam hal psikologis, keamanan tersebut berhubungan dengan tidak adanya rasa bingung dikarenakan kondisi lingkungan yang berubah-ubah maupun status karyawan yang tidak tentu akan dapat terus bekerja pada perusahaan yang sama atau tidak dikarenakan berstatus sebagai karyawan kontrak (Smithson & Lewis, 2000)

Ketidakamanan yang dirasakan akan berkaitan dengan keinginan untuk berpindah. Seperti yang diungkapkan Mobley (2000), bahwa terdapat banyak faktor yang membuat individu memiliki keinginan untuk berpindah. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah kepuasan kerja, komitmen organisasi dari karyawan, kepercayaan terhadap organisasi, dan job insecurity.Hal ini didukung oleh Greenhalgh dan Rosenbalt (1984) yang menyatakan bahwa karyawan yang mengalami tekanan job insecurity memiliki alasan rasional untuk mencari alternatif pekerjaan lain yang mendukung kelanjutan dan memberikan rasa aman bagi karirnya.

(48)

Mowday, Porter dan Steers (1982) juga menyatakan bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi intensi turnover karyawan adalah keterikatan karyawan terhadap pekerjaan, dimana ketika karyawan merasa terikat secara kuat dengan perusahaannya, maka akan membentuk perasaan memiliki (sense of belonging), rasa aman (security), efikasi, tujuan dan arti hidup serta gambaran diri yang positif, dan sebaliknya ketika tidak terdapat keterikatan karyawan dalam pekerjaan, akan membentuk tidak adanya sense of belonging, efikasi, tujuan dan arti hidup, serta merasa tidak aman(insecurity)terhadap pekerjaan.

Hal tersebut menguatkan hubungan antarajob insecurity terhadap intensiturnoveryang juga dibuktikan oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh Wardani (2009) yang mengatakan bahwa terdapat hubungan antara job insecurity dengan intention to quit, hubungan yang terjadi merupakan hubungan positif, dimana job insecurity yang tinggi akan menguatkan intention to quit, dan job insecurity yang rendah akan melemahkan intention to quit karyawan. Penelitian lain mengenai pengaruh antara job insecurity terhadap intensi turnover dilakukan oleh Gunalan, Mustafa dan Adnan (2015) dengan hasil yang menunjukkan bahwa job insecurity memiliki pengaruh yang signifikan terhadap intensiturnover.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hanafiah (2014) yang juga menyatakan hal yang sama bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara job insecurity terhadap turnover intention, serta penelitian Kurniasari (2004) yang mengatakan bahwa besarnya intensi turnover dipengaruhi job insecurity yang berada pada level tidak aman. Hasil tersebut mengindikasikan adanya pengaruh searah antara job insecurity dan intention to quit. Artinya kenaikan nilai job

(49)

insecurity akan menaikkan level intention to quit. Semakin tinggi job insecurity, maka akan semakin tinggi intensi keluar dari pekerjaan.

3. Manajemen Konflik dan Job Insecurity terhadap Intensi Turnover

Judge (1993) menyatakan bahwa salah satu penyebab timbulnya keinginan berpindah atau intensi turnover pada karyawan disebabkan karena pengaruh buruk dari adanya pemikiran dysfunctional. Pengaruh ini timbul karena terjadi konflik, perasaan tidak senang dan tidak puas terhadap lingkungan kerja yang dapat memacu rasa tidak aman pada pekerjaan (job insecurity). Teori yang dikemukakan oleh Abraham Maslow (1943) mengenai need, menyatakan bahwa kebutuhan akan rasa aman (safety and security) merupakan kebutuhan dasar bagi setiap individu. Dalam tingkatannya, setiap individu akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasar terlebih dahulu, sebelum memenuhi tingkatan kebutuhan setelahnya.

Intensi turnover sendiri diidentifikasikan sebagai sikap individu yang mengacu pada hasil evaluasi mengenai kelangsungan hubungannya dengan organisasi dimana dirinya bekerja dan belum terwujud dalam bentuk tindakan pasti (Suwandi dan Indarantoro, 1999), dan individu yang mengalami tekanan job insecurity memiliki alasan rasional untuk mencari alternatif pekerjaan lain yang dapat mendukung kelanjutan dan memberikan rasa aman bagi karienya (Greenhalgh dan Rosenblatt, 1984).

Dalam penelitian yang dilakukan Sularso, Purwati, dan Wulandari (2013) mengenai pengaruh antara kepuasan kerja, komitmen organisasi, konflik peran

(50)

dan job insecurity terhadap intensi turnover, mendapatkan hasil yang mengatakan bahwa faktor pembentuk dari turnover intention meliputi kedua variabel yang akan diteliti, yaitu konflik yang meliputi konflik peran dan job insecurity. Dalam hal konflik, ketika permasalahan konflik tidak terselesaikan akan merusak lingkungan kerja dan orang-orang yang ada didalamnya, yang akan berdampak salah satunya pada kehilangan karyawan yang berharga dikarenakan karyawan tersebut pengunduran diri yang dilakukan (Stevenin, 2000)

E. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian yang dipaparkan di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

1. Terdapat pengaruh negatif antara manajemen konflik terhadap intensiturnover 2. Terdapat pengaruhpositif antarajob insecurity terhadap intensiturnover

3. Terdapat pengaruh manajemen konflik dan job insecuritysecara bersama-sama terhadap intensiturnover

(51)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

Penelitian ini menggunakan dua jenis variabel yang meliputi : a. Variabel Kriteria :Intensi Turnover (Y)

b. Variabel Prediktor :Manajemen Konflik (X1) dan Job Insecurity (X2)

B. Definisi Operational Variabel

Definisi operasional adalah definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati (Azwar, 2010). Adapun definisi operational yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Intensi Turnover

Intensi turnover adalah kecenderungan atau niat karyawan untuk keluar dari organisasi secara sukarela dengan mencari alternatif pekerjaan lain menurut pilihannya sendiri yang didasari dengan situasi, dan waktu yang tepat.

Intensi turnoverdiukur dengan menggunakan teori yang dikemukakan oleh Fishben dan Ajzen (1975) yang meliputi (a) perilaku, (b) sasaran, (c) situasi, dan (d) waktu.

Skor intensiturnover diperoleh dari total skor yang diperoleh dari skala intensi turnover. Dimana skor tinggi pada skala intensiturnover menunjukkan semakin tingginya intensi atau keinginan karyawan untuk meninggalkan

Gambar

Tabel 1. Blueprint Skala Intensi Turnover
Tabel 2. Blueprint  Skala Manajemen Konflik
Tabel 3. Blueprint Skala Job Insecurity
Tabel 4.Distribusi Skala Intensi Turnover Yang Lulus Uji Coba
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Sikap mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2017 mengenai pola makan dan aktivitas fisik terkait faktor resiko diabetes melitus tipe 2

Telah benar-benar paham atas penjelasan yang disampaikan oleh peneliti dalam penelitian yang berjudul ―Perbedaan Kualitas Hidup Penderita dan Bukan Penderita Rinitis Alergi

Asuhan keperawatan gerontik meliputi pengkajian keperawatan terkait masalah kesehatan usia lanjut, perumusan diagnosa dan rencana keperawatan, intervensi keperawatann dengan

Wanita usia subur yang menjadi sasaran imunisasi Td berada pada kelompok usia 15-39 tahun yang terdiri dari WUS hamil (ibu hamil) dan tidak hamil. Imunisasi lanjutan pada

Penelitian ini menunjukkan dengan tidak adanya afirmasi diri, mereka yang paling rentan secara psikologis karena kecemasan akademik, mungkin merasa status harga diri mereka

Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2017 tentang jenis-jenis pemeriksaan radiologi pada

Terkait dengan asas hirarkhi perundang-undangan yang menyatakan bahwa peraturan yang derajatnya lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang derajatnya lebih rendah

Berdasarkan Pasal 26 ayat (1) dinyatakan bahwa, penyedia jasa berkewajiban untuk memulai pelaksanaan pekerjaan pada tanggal mulai kerja, dan melaksanakan pekerjaan sesuai