• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

1

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kabupaten Kepulauan Anambas merupakan daerah destinasi wisata mancanegara yang memiliki sebagian besar adalah laut, ini menjadi perhatian pemerintah untuk melakukan penataan sanitasi di sektor Air Limbah Domestik, Persampahan dan Drainase agar menjadikan lingkungan tetap bersih dan sehat.

Sehingga akan menjadi nyaman ketika wisatawan lokal dan mancanegara berkunjungan ke Kabupaten Kepulauan Anambas dan akan mendorong pendapatan daerah. Sanitasi merupakan salah satu sektor pelayanan publik yang mempunyai kaitan erat dengan kesehatan masyarakat. Rendahnya kualitas sanitasi menjadi salah satu faktor bagi menurunnya derajat kesehatan masyarakat. Khusus permasalahan disektor sanitasi saat ini di Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas merupakan suatu pekerjaan yang harus segera diselesaikan oleh Pemerintah Kabupaten yang tentu saja memerlukan dukungan semua staheholder dengan pendanaan yang cukup besar.

Oleh karena itu dibutuhkan suatu dokumen perencanaan untuk menentukan strategi apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan sanitasi yang layak bagi masyarakat, berfungsi secara berkelanjutan, dan memenuhi standar teknis sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan.

Berdasarkan kondisi tersebut maka Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas mengambil suatu tindakan yang lebih kongkrit melalui Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP), yang diarahkan untuk menciptakan lingkungan kondusif yang mendukung terciptanya percepatan pembangunan sanitasi, melalui advokasi, perencanaan strategis, dan implementasi yang komprehensif dan terintegrasi. Salah satunya melaksanakan kebijakan nasional tentang program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) diantaranya melalui penyusunan SSK sebagai tahap awal dalam pelaksanaan program pembangunan sanitasi, sehingga pada akhirnya dapat digunakan secara efektif dan

(2)

2

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

efesien. Penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) dimaksudkan agar Pemerintah Daerah mempunyai kerangka berpikir dan kerangka tindak secara strategis dalam melaksanakan pembangunan dan pengelolaan sanitasi secara komprehensif yang berkelanjutan. Tersusunnya dokumen perencanaan strategis sanitasi Kabupaten yang dapat dijadikan rujukan perencanaan pembangunan sanitasi Kabupaten dalam jangka menengah (5 tahunan).

Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di Indonesia sampai dengan Tahun 2015 tertuang dalam Millennium Development Goals (MDG’s).

Namun selanjutnya konsep Sustainable Development Goals (SDG’s) menjadi kerangka pembangunan baru yang mengakomodasi semua perubahan yang terjadi pasca 2015-MDG’s. Hal-hal yang menjadi perhatian terutama berkaitan dengan perubahan lingkungan yaitu mengenai isu deplesi sumber daya alam, kerusakan lingkungan, perubahan iklim yang semakin krusial. Terdapat 3 pilar Indikator yang digunakan dalam konsep SGDs ini adalah Pembangunan Manusia, Pembangunan sosial ekonomi dan Pembangunan lingkungan yang berupa ketersediaan sumber daya alam dan kualitas lingkungan yang baik dengan konsep pembangunan berkelanjutan.

Dari ketiga pilar indikator ini SDGs menetapkan 17 tujuan (goals) dimana tujuan ke 6 nya adalah “Menjamin akses dan ketersediaan serta keberkelanjutannya pengelolaan air bersih dan sanitasi untuk semua masyarakat”.

Untuk mencapai tujuan ke 6 ini SDG’s menetapkan 6 target yang yaitu : 1. Terwujudnya akses air minum yang aman, terjangkau dan merata untuk

semua pada Tahun 2030;

2. Terwujudnya akses sanitasi yang layak dan kebersihan yang merata untuk semua, menghilangkan perilaku buang air besar sembarangan, memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan wanita dan anak-anak perempuan dan kondisinya yang rentan pada Tahun 2030;

3. Meningkatnya kualitas air dengan mengurangi polusi, menghilangkan dumping, meminimalkan pencemaran air oleh bahan kimia berbahaya, mengurangi hingga separuh proporsi air limbah tidak diberikan perlakuan

(3)

3

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

secara kimia serta meningkatkan daur ulang air limbah untuk dapat dimanfaatan kembali secara aman pada Tahun 2030;

4. Meningkatnya penghematan pemanfaatan air di semua sektor dan memastikan pemasokan air bersih ke daerah yang kekurangan air dan mengurangi jumlah orang yang menderita kelangkaan air pada Tahun 2030;

5. menerapkan pengelolaan terpadu sumberdaya air di semua tingkatan, termasuk melalui kerjasama lintas sektor dan lintas daerah pada Tahun 2030;

6. melindungi dan memulihkan kondisi air melalui pelestarian ekosistem, termasuk pegunungan, hutan, lahan basah, sungai dan danau pada Tahun 2020.

Target- target SDGs ini didalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional III (RPJMN III) 2015-2019 merupakan sasaran pokok pembangunan nasional yaitu ketahanan air, infrastruktur dasar dan konektivitas dengan isu strategis peningkatan ketahanan air, pangan dan energi. Melalui kebijakan dan strategi menjamin ketahanan sumber daya air domestik melalui optimalisasi bauran sumber daya air domestic, penyelenggaraan sinergi air minum dan sanitasi yang dilakukan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan masyarakat serta peningkatan peran pemda dalam penyediaan rumah baru layak huni dan meningkatkan kualitas hunian masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) ditetapkan indikator dan target yang dikenal dengan Universal Access berupa akses air minum yang layak 100%, Rumah tangga kumuh perkotaan 0% dan Akses sanitasi layak ( air limbah domestik, sampah dan drainase lingkungan) 100%. Pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.

14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, meliputi jenis pelayanan berdasarkan indikator kinerja dan target tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, pelayanan yang dimaksud pada SPM tersebut meliputi : Sumber Daya Air, Air Minum, Penyehatan Lingkungan Permukiman (Sanitasi Lingkungan dan Persampahan) dan Penanganan Permukiman Kumuh Perkotaan.

Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) merupakan dokumen perencanaan jangka menengah (5 tahun) yang disusun untuk memberikan arah pengembangan sanitasi di Kabupaten Kepulauan Anambas. Saat ini SSK yang dimiliki oleh Kabupaten Kepulauan Anambas adalah SSK yang disusun untuk tahun 2012-2017. Dengan telah

(4)

4

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

berakhirnya program MDG’s yang dilanjutkan dengan SDG’s serta telah ditetapkannya RPJMN III 2015-2019 maka perlu dilakukan pemutahiran dokumen SSK Kabupaten Kepulauan Anambas 2017-2021 sebagai dokumen perencanaan sanitasi yang berkelanjutan. Pemutakhiran juga didasarkan pada pemikiran bahwa baik kondisi sanitasi maupun program/kegiatan prioritas Kabupaten Kepulauan Anambas dipengaruhi berbagai faktor seperti perubahan geografis, kependudukan, dan pergantian kepala daerah yang merubah visi dan misi Kabupaten Kepulauan Anambas.

Permasalahan disektor sanitasi saat ini merupakan suatu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas yang tentu saja memerlukan dukungan semua staheholder dengan pendanaan yang cukup besar. Oleh karena itu dibutuhkan suatu dokumen perencanaan untuk menentukan strategi apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan sanitasi yang layak bagi masyarakat, berfungsi secara berkelanjutan, dan memenuhi standar teknis sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan yang dikenal dengan Buku Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK).

Dalam penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) terdapat 4 (empat ) kriteria penting yang harus dipenuhi untuk kualifikasi yaitu:

1. Disusun oleh dari, dan untuk kota dan Kabupaten 2. Komprehensif, Multisektor & terintegrasi

3. Berdasarkan data empiris (aktual)

4. Gabungan pendekatan top down dan bottom up

Program PPSP telah dilaksanakan mulai tahun 2010 - 2014 dan telah diikuti oleh 446 kabupaten/kota. Sedangkan pada tahun 2015 beberapa dokumen perencanaan sanitasi kab/kota sudah habis masa berlakunya. Padahal memasuki Tahun 2015 Pemerintah Indonesia akan memasuki periode RPJMN baru 2015 – 2019 yang menetapkan target baru yaitu 100% (universal access) akses sanitasi layak di akhir tahun 2019, maka dalam rangka mendukung pencapaian universal access tersebut, maka Program PPSP dilanjutkan kembali pada periode RPJMN selanjutnya

(5)

5

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

melalui Program PPSP Tahap II 2015 – 2019. Melalui Program PPSP Tahap II, Kab/kota yang dokumen BPS, SSK dan MPS sudah habis masa berlakunya akan dilakukan updating/review kembali agar dapat segera diimplementasikan. Adapun dokumen perencanaan yang telah direview tersebut dinamai pemutakhiran SSK dan disusun dalam 1 (satu) tahun anggaran saja.

SSK pada dasarnya adalah proses data terkait profil sanitasi serta mengidentifikasi sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dalam pembangunan sanitasi dari rencana yang telah disusun di dalam SSK sebelumnya. Proses ini akan menghasilkan informasi terhadap kemajuan yang dicapai Kabupaten/Kota dalam pembangunan sanitasi berdasarkan rencana yang telah disusun sebelumnya.

Strategi pembangunan sanitasi selanjutnya akan sepenuhnya tergantung dari informasi yang dihasilkan dari proses ini dengan tentu saja mempertimbangkan perkembangan atas kebijakan-kebijakan baru yang ada terkait sanitasi, terutama kebijakan di tingkat Pusat dan juga Provinsi.

Strategi Sanitasi Kabupaten Kepulauan Anambas perlu dilakukan mengingat beberapa kondisi di bawah ini :

1) Masih terdapat pelaksanaan pembangunan sanitasi yang berjalan secara parsial dan belum terintegrasi dalam suatu “grand design” yang sifatnya integratif dan memiliki sasaran secara menyeluruh serta jangka waktu yang lebih panjang.

2) Adanya kebutuhan untuk mempercepat implementasi terutama terkait dengan pencapaian target Universal Access di tahun 2019.

3) Apabila ada penyesuaian/perubahan RPJMD yang menjadi acuan dari SSK.

Perubahan RPJMD terjadi akibat adanya perubahan Kepala Daerah.

Dalam penyusunan pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) untuk menetapkan rencana sistem sanitasi jangka panjang (10 – 15 tahun ) dengan memperhatikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), proyeksi kepadatan penduduk dan kondisi lingkungan dan mempedomani tujuan penataan ruang, kebijakan penataan ruang, struktur dan pola ruang dalam RTRW Kabupaten

(6)

6

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

Kepulauan Anambas, dimana kebijakan penataan ruang, struktur dan pola ruang dalam RTRW Kabupaten Kepulauan Anambas menjadi acuan dalam penentuan wilayah kajian dalam penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK), dan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) juga menggunakan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menangah Daerah (RPJMD) sebagai referensi untuk memperoleh data isu-isu strategis dan permasalahan mendesak terkait program sanitasi yang harus ditangani segera dan sebagai pedoman untuk menentukan visi dan misi serta kebijakan sanitasi kedepan.

1.2. Metodologi Penyusunan

Metode yang dipakai dalam penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) ini disusun oleh Pokja Sanitasi Kabupaten Kepulauan Anambas secara partisipatif dan terintegrasi lewat diskusi, lokakarya dan pembekalan baik yang dilalukan oleh Tim Pokja sendiri maupun dengan dukungan fasilitasi dari Tim Konsultan. Metode yang digunakan dalam penyusunan SSK ini menggunakan beberapa pendekatan dan alat bantu yang secara bertahap untuk menghasilkan dokumen perencanaan yang lengkap.

Serangkaian kegiatan dan metode yang dilakukan dengan menggunakan metode sesuai milestone /Pedoman SSK sebagai berikut :

1.2.1 Metode Penyusunan SSK

Untuk melakukan proses SSK, terdapat lima (5) proses utama yang perlu dijalani oleh Pokja Kabupaten Kepulauan Anambas, proses tersebut adalah :

(7)

7

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

a. Proses 1 Internalisasi dan Penyamaan Persepsi Tujuan :

1) Mendapatkan kesepahaman dan kesamaan persepsi mengenai pentingnya pembangunan sanitasi serta perlunya pemutakhiran SSK 2) Menyepakati proses penyusunan, jadwal kerja, pembagian tugas dan

tanggung jawab anggota Pokja.

Output :

1) Input/masukan untuk SSK, Bab 1: Pendahuluan.

2) Kesepakatan Rencana Kerja pemutakhiran SSK

b. Proses 2 Pemetaan Kondisi dan Kemajuan Pembangunan Sanitasi Tujuan :

1) Menyepakati wilayah kajian

2) Menyusun dan menyepakati profil wilayah dan profil sanitasi Kabupaten/Kota

3) Memetakan kondisi sanitasi Kabupaten/Kota terkini dan permasalahan yang dihadapi

4) Menyepakati are besiko sanitasi Output :

1) Tersusunnya wilayah kajian dan profil wilayah kabupaten/kota

2) Instrumen Profil Sanitasi terisi dengan data yang sumbernya disepakati oleh Pokja

3) Tersepakatinya dan tersusunnya profil sanitasi kabupaten/kota 4) Disepakatinya permasalahan mendesak yang dihadapi

Kabupate untuk Air Limbah Domestik, Persampahan dan Drainase Perkotaan

5) Kesepakatan area berisiko sanitasi

6) Dituliskannya input/masukan untuk SSK, Bab 2: Profil Wilayah dan Sanitasi saat Ini.

(8)

8

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

c. Proses 3 Skenario Pembangunan Sanitasi Tujuan :

1) Menyusun indikasi program dan kegiatan percepatan pembangunan sanitasi untuk jangka waktu lima tahun

Output :

1) Disepakatinya Visi dan Misi Sanitasi.

2) Ditetapkannya zona dan sistem sanitasi serta cakupan layanannya.

3) Perumusan tujuan dan sasaran pembangunan sanitasi.

4) Disusunnya strategi pengembangan sanitasi.

5) Disepakatinya daftar Indikasi Program dan Kegiatan Pengembangan Sanitasi.

6) Disusunnya matriks monitoring dan evaluasi capaian SSK.

7) Dituliskannya input/masukan untuk SSK, khususnya “Bab 3:

Kerangka Pengembangan Sanitasi; Bab 4: Strategi Pengembangan Sanitasi, draft Bab 5 Program, Kegiatan dan Indikasi Pendanaan Sanitasi dan “ Bab 6: Monitoring dan Evaluasi Capaian SSK”.

d. Proses 4 Konsolidasi Penganggaran dan Pemasaran Sanitasi Tujuan :

1) Melakukan sosialisasi program dan kegiatan serta anggaran sanitasi kepada stakesholder terkait di tingkat Kab./Kota, Provinsi dan Pusat.

2) Membangun kesepahaman dan dukungan terhadap program, kegiatan dan pendanaan pembangunan sanitasi dari berbagi pemangku kepentingan baik pemerintah maupun non-pemerintah di tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat, kemudian meng- alokasikan anggaranya untuk pembangunan sanitasi didaerah.

(9)

9

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

Output :

1) Teridentifikasinya program, kegiatan dan besaran pendanaan yang diperlukan untuk mencapai sasaran.

2) Terbangunnya komitmen program, kegiatan dan indikasi sumber pendanaan pembangunan sanitasi di tingkat Kabupaten/Kota.

3) Dibahasnya daftar program, kegiatan dan indikasi sumber serta besaran pendanaan pembangunan sanitasi di tingkat Provinsi dan Pusat.

4) Teridentifikasi program, kegiatan dan indikasi besaran pendanaan yang belum ada sumber pendanaan (funding gap).

5) Tersusunnya deskripsi program/kegiatan yang belum ada sumber pendanaan (funding gap)

.

e. Proses 5 Finalisasi Tujuan :

1) Tersusunnya dokumen SSK

2) Disahkannya SSK oleh Kepala Daerah Output :

1) Tersusunnya Dokumen SSK Kabupaten/Kota

2) Teranggarkannya program dan kegiatan di dalam dokumen penganggaran Kabupaten/Kota.

3) Pengesahan SSK Kabupaten/Kota oleh Kepala Daerah yaitu Bupati/Walikota

(10)

10

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

1.2.2 Sumber Data

a) Data Primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama, misalnya dari individu atau perseorangan. Data ini berwujud hasil wawancara,

(11)

11

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

pengisian kuesioner atau bukti transaksi (Umar, 2003:84). Data yang diperoleh lansung dari sumber pertama yaitu berupa data hasil studi/kajian/survey.

b) Data Sekunder merupakan data yang berasal dari telaah pustaka dan data yang sudah tesedia di SKPD terkait dalam pengelolaan Sanitasi sehingga dapat dijadikan acuan dalam pengembangan sanitasi di kabupaten/kota

1.2.3 Pengumpulan Data

Pengumpulan data menggunakan berbagai teknik antara lain : a) Desk Study (Kajian Literature, Data Sekunder)

b) Field Research (Observasi, Wawancara Responden) c) FGD (Focus Group Disscussion) dan In-Depth Interview

1.2.4 Teknik Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data

Alat bantu analisis yang digunakan adalah program aplikasi statistik yaitu software SPSS (Statistics for Products and Services Solution) for windows versi 17.0., Epi Info dan Microsoft Excel. Sedangkan untuk Visualisasi data ditampilkan dalam bentuk table, grafik atau diagram dan peta. Sedangkan data-data yang bersifat penjelasan dipresentasikan secara deskriptif kualitatif dalam bentuk uraian.

Pengolahan data juga dilakukan menggunakan Analisis SWOT dan Kerangka Kerja Logis.

1.2.5 Analisis Data

Analisis data dilakukan secara Deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Merumuskan strategi sanitasi kabupaten yang menjadi basis penyusunan program dan kegiatan pembangunan sanitasi kabupaten jangka menengah Strategi Sanitasi Kabupaten Kepulauan Anambas (5 tahunan). Dengan alat analisis SWOT mengkaji kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman dan Diagram Sistem Sanitasi.

(12)

12

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

1.2.6 Proses Penulisan

Proses dalam penulisan pemutakhiran SSK berdasarkan semua output, baik yang berupa draf bab-bab SSK ataupun hasil-hasil lain dari setiap proses dalam milestone penyusunan SSK. Karena itu dalam proses penulisan SSK lebih banyak menyunting dan menyelaraskan bahasanya, serangkaian kegiatan dan metode yang dilakukan dengan menggunakan metode sesuai milestone /Panduan Praktis pemutakhiran SSK sebagai berikut :

(i) Kesesuaian draf tersebut dengan penjelasan rinci outline pemutakhiran SSK.

(ii) Konsistensi serta data/informasi minimum yang perlu dituliskan pada setiap bab berdasarkan template pemutakhiran SSK

(iii) Menggunakan bahasa yang jelas dan ringkas.

(iv) Dibaca, dipahami dan disepakati anggota pokja.

1.2.7 Proses Penyepakatan

Penyepakatan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) dilakukan melalui proses : a. Data dibuat berdasarkan Sektor yaitu Sektor Air Limbah Domestik,

Persampahan dan Drainase oleh SKPD masing-masing.

b. Data yang telah dibuat oleh masing-masing SKPD untuk selanjutnya disepakati pada forum rapat Pokja Kabupaten untuk dituangkan dalam draf Buku Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK)

c. Draf SSK yang telah siap, disosialisasikan melalui forum konsultasi publik untuk mendapat penyepakatan.

d. SSK yang telah disepakati selanjutnya disahkan oleh Bupati.

1.3. Dasar Hukum

Adapun Dasar Hukum yang melandasi Penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai berikut :

(13)

13

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

1.3.1 Undang - Undang

1 Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi, dan Kota Batam (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 181, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No 3902), sebagaimana diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi, dan Kota Batam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4880).

2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Anambas Di Provinsi Kepulauan Riau.

3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1966 Tentang Hygiene.

4 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3496)

5 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 3495).

6 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

7 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah

8 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air.

(14)

14

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

9 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

10 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.

11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antar Pemerintah Pusat dan Daerah.

12 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional 2005-2025.

13 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725).

1.3.2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1950 tentang Penetapan Mulai Berlakunya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950.

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1982 Tentang Pengaturan Air.

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 Tentang Sungai.

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Pemerintah Daerah.

8. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833).

(15)

15

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Pencemaran Udara

1.3.3 Peraturan Presiden Republik Indonesia

1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019.

1.3.2 Keputusan Presiden Republik Indonesia

1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 Tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.

2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 Tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air.

3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2002 Tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 Tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air

1.3.3 Keputusan Menteri

1. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 35/MENLH/7/1995 tentang Program Kali Bersih.

2. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi degan AMDAL.

3. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.

4. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006 tentang Persyaratan dan Tata Cara Perizinan Pembuangan Air Limbah ke Laut.

5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1205/MENKES/PER/X/2004 tentang Pedoman Persyaratan Kesehatan Pelayanan Sehat Pakai Air (SPA).

(16)

16

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/MENKES/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18/PRT/M/2007 tentang Penyelenggara Pengembangan Sistem Air Minum

8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2008 Tentang Kebijakan Dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman (KSNP-SPALP).

9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Noomor 14/PRT/M/2010 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.

10. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 03/PRT/M/2013 Tentang Penyelenggaraan Prasarana Dan Sarana Persampahan Dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

1.3.4 Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Riau

1. Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Riau Nomor 6 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintah yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

2. Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Riau Nomor 02 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2005 – 2025.

3. Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Riau Nomor 03 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2010 – 2015.

1.3.3 Peraturan Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas

1. Peraturan Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas Nomor 6 Tahun 2011 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas.

(17)

17

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

2. Peraturan Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2011 – 2015.

3. Peraturan Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas Nomor 4 Tahun 2013 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2005-2025.

4. Peraturan Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2011-2031.

1.3.4 Keputusan Bupati Kepulauan Anambas

1. Surat Keputusan Bupati Kepulauan Anambas Nomor 131 Tahun 2016 Tentang Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten Kepulauan Anambas Periode 2016-2020.

Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) merupakan salah satu bagian dari dokumen perencanaan khusus untuk bidang Sanitasi yang nantinya akan saling mendukung dengan dokumen perencanaan lainnya seperti RPJPD, RPJMD, Renstra SKPD dan RTRW yang menjadi dasar perencanaan kegiatan dalam RKPD.

a. Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) dengan RPJPD.

Dokumen laporan Akhir RPJPD Kabupaten Kepulauan Anambas tahun 2005-2025 digunakan sebagai referensi untuk memetakan permasalahan terkait sanitasi dan arah pelaksanaan program sanitasi ke depan.

b. Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) dengan RPJMD.

Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) menggunakan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menangah Dareah (RPJMD) sebagai referensi untuk memperoleh data isu-isu strategis dan permasalahan mendesak terkait program sanitasi yang harus ditangani segera dan sebagai pedoman untuk menentukan visi dan misi serta kebijakan sanitasi kedepan.

c. SSK dan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD).

(18)

18

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) menggambarkan rencana program dan kegiatan SKPD yang menangani sanitasi sebagaimana tertuang dalam Renstra SKPD tersebut dan setelah Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) final akan menjadi pedoman bagi satuan kerja perangkat daerah dalam penyesuaian program terhadap Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang berlaku sekarang.

d. Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) dan RTRW Kabupaten Kepulauan Anambas.

Dalam pelaksanaan penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) memperhatikan dan mempedomani tujuan penataan ruang, kebijakan penataan ruang, struktur dan pola ruang dalam RTRW Kabupaten Kepulauan Anambas, dimana kebijakan penataan ruang, struktur dan pola ruang dalam RTRW Kabupaten Kepulauan Anambas menjadi acuan dalam penentuan wilayah kajian dalam penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK).

1.4. Sistematika Penulisan

Strategi Sanitasi Kabupaten Kepulauan Anambas disusun dengan menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut :

a. BAB I PENDAHULUAN : Bab ini akan menguraikan mengenai latar belakang, metodelogi penyusunan, dasar hukum dan sistematika penulisan.

b. BAB II PROFIL WILAYAH DAN SANITASI SAAT INI : Bab ini menjelaskan wilayah kajian SSK dan kondisi umum Kabupaten, profil sanitasi saat ini, area berisiko dan permasalahan mendesak sanitasi.

c. BAB III KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI : Bab ini menjelaskan kerangka pengembangan sanitasi yang mencakup minimum informasi: (i) Visi dan misi Sanitasi, (ii) Tahapan Pengembangan Sanitasi (Sistem dan zonasi), (iii) tujuan dan sasaran sanitasi, (iv) skenario pencapaian sasaran, dan (v) kemampuan pendanaan sanitasi daerah.

d. BAB IV STRATEGI PENGEMBANGAN SANITASI : Bab ini menjelaskan mengenai strategi sanitasi yang mencakup tidak hanya aspek

(19)

19

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

teknis saja tetapi juga aspek non teknis (kelembagaan, pendanaan, komunikasi, partisipasi masyarakat dan dunia usaha serta aspek kesetaraan jender dan keberpihakan pada masyakarat miskin).

e. BAB V PROGRAM, KEGIATAN DAN INDIKASI PENDANAAN SANITASI : Bab ini memberikan informasi detail mengenai program dan kegiatan yang dihasilkan dari simulasi menggunakan Instrumen Perencanaan Sanitasi.

f. BAB VI MONITORING DAN EVALUASI CAPAIAN SSK : Bab ini menjelaskan mekanisme monev implementasi SSK 5 (lima) tahun kedepan.

(20)

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK)

1

KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

BAB II

PROFIL SANITASI

KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

2.1. Gambaran Wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas

Secara grografis, Kabupaten Kepulauan Anambas terdiri dari gugusan pulau-pulau besar dan kecil yang tersebar di seluruh wilayah administrasinya dan berbatasan langsung dengan negara lain atau lautan internasional. Dengan Jumlah pulau sebanyak 255 pulau.

Kepulauan Anambas terletak antara 2º10’0”- 3º40’0”LU sampai dengan 105º15’0” - 106º45’0” BT, hal ini berdasarkan pada UU No 33 Tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten Kepulauan Anambas. Kabupaten Kepulauan Anambas terdiri dari gugusan pulau- pulau besar dan kecil yang tersebar di seluruh wilayah administratifnya dan berbatasan langsung dengan negara lain atau lautan internasional. Dengan jumlah pulau sebanyak 255, tentunya memerlukan penanganan khusus terkait dengan otoritas batas wilayah daerah.

Keberadaan Kabupaten Kepulauan Anambas secara administratif memiliki 7 (tujuh) kecamatan yaitu : Kecamatan Jemaja, Kecamatan Jemaja Timur, Kecamatan Siantan Selatan, Kecamatan Siantan, Kecamatan Siantan Timur, Kecamatan Siantan Tengah, dan Kecamatan Palmatak. Kabupaten Kepulauan Anambas terdiri dari 2 Kelurahan dan 52 Desa dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

 Sebelah Utara : Laut Cina Selatan/ Vietnam

 Sebelah Selatan : Kabupaten Bintan

 Sebelah Barat : Laut Cina Selatan/Malaysia

 Sebelah Timur : Kabupaten Natuna

Pada saat ini Wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas memiliki luas sebesar 46.664 km² atau sekitar 2,47% dari luas Indonesia 1.890.754 km² denganpanjang garis pantai adalah 1.128,57 km². Dari luas wilayah tersebut sebesar 634,37 km² atau 63.437 Ha setara 1,36%

merupakan wilayah daratan dan sebesar 46.029,27 km² atau setara 98,64% adalah lautan.

Kabupaten Kepulauan Anambas terbagi menjadi Kecamatan Jemaja dengan luas 78,26 Km², Kecamatan Jemaja Timur dengan luas 154,24 Km², Kecamatan Siantan Selatan dengan luas

(21)

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK)

2

KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

115,48 Km², Kecamatan Siantan dengan luas 45,39 Km², Kecamatan Siantan Timur dengan luas 88,92 Km², Kecamatan Siatan Tengah dengan luas 22,14 Km², Kecamatan Palmatak dengan luas 129,94 Km². Gambaran luas wilayah administrasi dan terbangun dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1

Luas Wilayah Administrasi dan Terbangun Kabupaen Kepulauan Anambas Tahun 2016

Nama Kecamatan

Jumlah Kelurahan

Jumlah Desa

LuasWilayah

Administrasi Terbangun

(Km²)

(%) thd Total Administrasi

(Km²) (%) thd Luas Administrasi

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Jemaja 1 8 78.26 12.34

Jemaja Timur 4 154.24 24.31

Siantan Selatan

7 115.48 18.20

Siantan 1 6 45.39 7.16

Siantan Timur 6 88.92 14.02

Siantan Tengah

6 22.14 3.49

Palmatak 15 129.94 20.48

Total 2 52 634.37 100.00

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2016, diolah

Dilihat dari perkembangan yang terjadi, laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kepulauan Anambas pada tahun 2015, yang tersebar di setiap kecamatan yaitu Kecamatan Jemaja 1,250%, Kecamatan Jemaja Timur 1.268%, Kecamatan Siantan Selatan 1,216%, Kecamatan Siantan 1,258%, Kecamatan Siantan Timur 1,216%, Kecamatan Siantan Tengah 1,261%, dan Kecamatan Palmatak 1,238%. Secara lengkap dapat dilihat pada tabel 2.2 dan peta administrasi Kabupaten Kepulauan Anambas tahun 2016 pada gambar 2.1.

(22)

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK)

3

KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

Tabel 2.2

Jumlah Penduduk Saat Ini dan Proyeksi Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2016-2020

Nama Kecamatan

Jumlah Penduduk (Orang)

Wilayah Perkotaan Wilayah Perdesaan Total

Tahun Tahun Tahun

2015 2016 2017 2018 2019 2020 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2015 2016 2017 2018 2019 2020 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) Jemaja 1.844 1.867 1.890 1.914 1.931 1.951 4.076 4.127 4.176 4.227 4.266 4.309 5.920 5.994 6.066 6.141 6.197 6.260 Jemaja

Timur - - - - - - 2.129 2.156 2.182 2.209 2.229 2.252 2.129 2.156 2.182 2.209 2.229 2.252 Siantan

Selatan - - - - - - 3.454 3.496 3.538 3.583 3.616 3.653 3.454 3.496 3.538 3.583 3.616 3.653 Siantan 3.232 3.273 3.312 3.353 3.384 3.418 7.660 7.756 7.849 7.947 8.019 8.102 10.892 11.029 11.161 11.300 11.403 11.520 Siantan

Timur - - - - - - 3.455 3.497 3.539 3.583 3.616 3.653 3.455 3.497 3.539 3.583 3.616 3.653 Siantan

Tengah - - - - - - 2.855 2.891 2.926 2.962 2.988 3.020 2.855 2.891 2.926 2.962 2.988 3.020 Palmatak - - - - - - 11.713 11.858 12.000 12.149 12.260 12.386 11.713 11.858 12.000 12.149 12.260 12.386

Total

5.076 5.140 5.202 5.267 5.315 5.369 35.342 35.781 36.210 36.660 36.994 37.375 40.414 40.921 41.412 41.927 42.309 42.774 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2016, diolah

(23)

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK)

4

KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Kepulauan Anambas

Sumber : RTRW Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2011-2031

(24)

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK)

5

KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

Gambar 2.1.a Peta Wilayah Kajian Sanitasi (Lokasi A)

Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2016

(25)

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK)

6

KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

Gambar 2.1.b Peta Wilayah Kajian Sanitasi (Lokasi B)

Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2016

(26)

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK)

7

KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

Gambar 2.1.c Peta Wilayah Kajian Sanitasi (Lokasi C)

Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2016

(27)

2.2. Kependudukan Kabupaten Kepulauan Anambas

Pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat sangat merintangi taraf hidup kemajuan, peningkatan kesehatan dan sanitasi, pengadaan perumahan dan alat-alat pengangkutan, peningkatan kebudayaan, kesempatan rekreasi dan untuk banyak Negara merintangi pangan yang cukup kepada rakyat. Ringkasnya cita-cita manusia seluruh dunia untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik diganggu dan dibahayakan oleh pertumbuhan penduduk yang tak dikendalikan itu. Untuk mendorong penyebaran penduduk yang lebih merata pada masing-masing kecamatan, pemerintah daerah akan mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, industri dan perdagangan yang baru di kecamatan yang penduduknya masih jarang. Penduduk suatu daerah menjadi sangat krusial fungsinya bagi pemerintah daerah. Mengingat sifatnya yang sangat penting, kondisi penduduk menjadi salah satu tolak ukur pemerintah daerah dalam mengambil berbagai kebijakan strategis dalam pembangunan. Dengan data kependudukan yang benar, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, akan memperbesar tingkat keberhasilan suatu kebijakan.

Jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Anambas berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2015 adalah sebesar 47.903 jiwa, yang terdiri atas 24.793 laki-laki dan 23.110 perempuan. Penyebaran penduduk Kabupaten Kepulauan Anambas masih bertumpu di Kecamatan Siantan yaitu 13.668 jiwa, Kecamatan Palmatak yaitu 13.034 jiwa, dan Kecamatan Jemaja yaitu 6.918. Adapun Laju pertumbuhan penduduk yang terjadi rata-rata yaitu 1,255%.

Dengan luas wilayah daratan Kabupaten Kepulauan Anambas sekitar 634.37 Km² dengan total penduduk 40.921 jiwa, maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Kepulauan Anambas adalah sebanyak 64.507 Jiwa/Ha. Kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah Kecamatan Siantan yaitu sebanyak 242.983 Jiwa/Ha dan Kecamatan Siantan Tengah yaitu sebanyak 130.578 Jiwa/ha. Sedangkan yang paling rendah adalah Kecamatan Jemaja Timur yaitu sebanyak 13.978 Jiwa/Ha. Untuk lebih jelas lihat tabel 2.3.

(28)

Tabel 2.3

Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Kepadatan Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2016-2020 Nama

Kecamatan

Laju Pertumbuhan Penduduk (%) Kepadatan Penduduk (Jiwa/Ha)

Tahun Tahun

2016 2017 2018 2019 2020 2016 2017 2018 2019 2020

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)

Jemaja 1.250 1.201 1.236 0.912 1.017 76.591 77.511 78.469 79.185 79.990 Jemaja

Timur 1.268 1.206 1.237 0.905 1.032 12.978 14.147 14.322 14.452 14.601 Siantan

Selatan 1.216 1.201 1.272 0.921 1.023 30.274 30.637 31.027 31.313 31.633 Siantan 1.258 1.197 1.245 0.912 1.026 242.983 245.891 248.954 251.223 253.800 Siantan

Timur 1.216 1.201 1.243 0.921 1.023 39.327 39.800 40.295 40.666 41.082 Siantan

Tengah 1.261 1.211 1.230 0.878 1.071 130.578 132.159 133.785 134.959 136.405 Palmatak 1.238 1.198 1.242 0.914 1.028 91.258 92.350 93.497 94.351 95.321

Total 1.255 1.200 1.244 0.911 1.028 64.507 65.281 66.092 66.695 67.380 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Anambas, diolah

2.3. Tingkat Kemiskinan Kabupaten Kepulauan Anambas

Berdasarkan Data Kemiskinan Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas jumlah penduduk miskin adalah 6.243 Jiwa. Penduduk miskin terbanyak terletak di Kecamatan Palmatak yaitu 2.141 Jiwa dan terbanyak penduduk miskin kedua terdapat di Kecamatan Siantan yaitu 1.450, sedangkan untuk penduduk miskin terendah terletak di Kecamatan Siantan Tengah yaitu 155 Jiwa. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 2.4.

(29)

Tabel 2.4

Jumlah Penduduk Miskin per Kecamatan Tahun 2016

Nama Kecamatan Jumlah Penduduk Miskin (Jiwa)

(1) (2)

Jemaja 631

Jemaja Timur 449

Siantan Selatan 509

Siantan 1.450

Siantan Timur 908

Siantan Tengah 155

Palmatak 2.141

Total 6.243

Sumber : Dinas Sosil Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2016

2.4. Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas

Berbagai sektor-sektor perekonomian yang mendorong perekonomian daerah seperti pertanian, pertambangan, pariwisata, serta sektor lainnya yang ada di Kabupaten Bangka perlu dilakukan pemetaan wilayah strategis atau penataan ruang yang dipayungi oleh peraturan daerah sebagai legalistas-formal yang di dalamnya secara spesifik mengatur, memfasilitasi serta secara tidak langsung juga melindungi sumber daya/potensi ekonomi daerah kedepan. Diharapkan, pada akhirnya, pemanfaatan sumber daya yang tumpah tindih pada suatu wilayah terutama sektor pertambangan tidak terjadi lagi.

2.4.1. Kebijakan dan Strategi Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas

Rencana struktur ruang wilayah kabupaten merupakan kerangka tata ruang wilayah kabupaten yang tersusun atas konstelasi pusat-pusat kegiatan yang berhierarki satu sama lain yang dihubungkan oleh sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten terutama jaringan transportasi. Pusat kegiatan di wilayah kabupaten merupakan simpul pelayanan sosial, budaya, ekonomi, dan/atau administrasi masyarakat di wilayah kabupaten.

Kebijakan dan strategi penetapan sistem perdesaan meliputi Pengembangan kawasan perdesaan berdasarkan potensi kawasan dengan strategi mengembangkan kawasan perdesaan berbasis hasil perkebunan, meningkatkan pertanian berbasis hortikultura dan mengembangkan pusat pengolahan hasil pertanian. Dan pengembangan kawasan

(30)

agropolitan dengan strategi meningkatkan produksi, pengolahan dan pemasaran produk pertanian unggulan sebagai satu kesatuan sistem dan mengembangkan infrastruktur penunjang agropolitan serta pengembangan herarki pusat pelayanan pedesaan dengan strategi membentuk pusat pelayanan permukiman perdesaan pada tingkat dusun, mengembangkan pusat pelayanan permukiman perdesaan pada tingkat desa dan meningkatkan interaksi antara pusat pelayanan kegiatan. Adapun Kebijakan dan strategi penetapan sistem perkotaan meliputi Pengembangan herarki pusat pelayanan perkotaan dengan strategi mengembangkan PKW di perkotaan Terempa, mengembangkan PKL di perkotaan Tebangladan dan perkotaan Letung dan mengembangkan PPK pada permukiman perkotaan serta mengembangkan kawasan strategis Kabupaten.

Dalam Kebijakan dan strategi pengembangan sistem jaringan prasarana wilayah pemerintah melakukan Pengembangan jaringan jalan dalam mendukung pertumbuhan dan pemerataan wilayahdengan strategi meningkatkan pengembangan jalan penghubung perdesaan dan perkotaan, pengembangan jaringan jalan yang menghubungkan pelabuhan dengan pusat-pusat permukiman dan pusat produksi pertanian, meningkatkan pengembangan jalan kolektor primer yang akan diusulkan pada kewenangan nasional, meningkatkan pengembangan jalan kolektor primer yang akan diusulkan perubahannya pada kewenangan provinsi, meningkatkan pengembangan jalan lokal primer pada semua jalan penghubung utama antar Kecamatan dan penghubung dengan fungsi utama yang tidak terletak di jalan kolektor, meningkatkan pengembangan jalan penghubung utama antar klaster industri - jalan lintas, sekaligus dengan pelabuhan, meningkatkan pengembangan jalan perkotaan, jalan antar desa, dan meningkatkan pengembangan jalan sekunder di Kabupaten. Pengembangan infrastruktur pendukung pertumbuhan wilayah dengan strategi Pengembangan Areal Pangkalan Kendaraan (APK) dan Pengembangan terminal tipe C.

a. Pengembangan transportasi laut akses eksternal kawasan dalam lingkup yang lebih luas dengan strategi sebagai berikut:

1. Meningkatkan pengembangan jalur transportasi laut; dan

2. Meningkatkan pengembangan akses antar pulau dalam membuka keterisolasian.

b. Pengembangan transportasi laut akses internal kawasan yang menghubungkan simpul-simpul kegiatan dengan strategi sebagai berikut:

(31)

1. Pengembangan pelabuhan pengumpan lokal pada simpul-simpul perkembangan wilayah; dan

2. Pengembangan dermaga pelayaran rakyat.

c. Pengoptimalisasian pelayanan pelabuhan dari segi ketersediaan sarana pendukung dengan strategi sebagai berikut:

1. Meningkatkan pengembangan sarana pendukung pelabuhan umum;

2. Meningkatkan pengembangan sarana pendukung pelabuhan internasional dengan orientasi kegiatan ekspor-impor secara langsung; dan

3. Meningkatkan pengembangan angkutan laut massal yang murah dan efisien.

d. Pengoptimalisasian pelayanan pelabuhan dari segi sosial ekonomi dengan strategi sebagai berikut:

1. Meningkatkan kerjasama bilateral dengan negara target ekspor;

2. Meningkatkan pengembangan pelayaran untuk kegiatan bongkar muat antar pulau skala nasional; dan

3. Meningkatkan pengembangan pelayaran ekspor-impor hasil tambang, hasil pertanian, serta hasil kelautan dan perikanan.

e. Penyiapan kelembagaan operasional pengelola kawasan pelabuhan dan kawasan Industri Ship Service dengan strategi sebagai berikut:

1. Menyiapkan lahan dan infrastruktur penunjang pelabuhan; dan 2. Menyiapkan lembaga pengelola Industry Ship Service.

f. Pengotimalisasian dan pengembangan fasilitas transportasi udara dengan strategi sebagai berikut:

1. Peningkatan fungsi dan kapasitas bandara yang sudah ada;

2. Pengembangan bandara baru;

3. Meningkatkan volume dan rute penerbangan komersial; dan 4. Mengembangkan fasilitas pelayanan dan infrastruktur penunjang.

g. Pengoptimalisasian tingkat kenyamanan dan keselamatan penerbangan dengan strategi sebagai berikut:

1. Mengendalikan kawasan sekitar bandara sesuai aturan keselamatan penerbangan; dan

2. Meningkatkan volume ruang bebas hambatan.

h. Peningkatan jangkauan pelayanan dan kemudahan mendapatkannya dengan strategi sebagai berikut:

1. Menyediakan menara Base Transceiver Station (BTS) yang digunakan secara bersama menjangkau ke pelosok perdesaan;

2. Meningkatkan sistem informasi telekomunikasi pembangunan daerah berupa informasi berbasis teknologi internet; dan

3. Mengembangkan prasarana telekomunikasi meliputi telepon rumah tangga, telepon umum, dan jaringan telepon seluler.

(32)

i. Peningkatan jumlah dan mutu telematika tiap wilayah dengan strategi sebagai berikut:

1. Membangun teknologi telematika pada wilayah-wilayah pusat pertumbuhan;

dan

2. Membentuk jaringan telekomunikasi dan informasi yang menghubungkan setiap wilayah pertumbuhan dengan Ibukota Kabupaten.

j. Peningkatan sistem jaringan sumber daya air dengan strategi sebagai berikut:

1. Meningkatkan jaringan irigasi sederhana dan irigasi setengah teknis; dan 2. Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung.

k. Pengoptimalisasianfungsi dan pelayanan prasarana sumber daya air dengan strategi sebagai berikut:

1. Melindungi sumber-sumber mata air dan daerah resapan air;

2. Mengembangkan waduk baru, bendung, dan cekdam dalam upaya pengendalian sistem tata air; dan

3. Mencegah terjadinya pendangkalan terhadap saluran irigasi.

l. Pengoptimalisasian tingkat pelayanan penyediaan energi listrik dengan strategi sebagai berikut:

1. Memperluas jaringan (pemerataan) dan pengembangan jaringan baru;

2. Mengembangkan sumber daya energi;

3. Meningkatkan infrastruktur pendukung;

4. Menambahkan dan memperbaiki sistem jaringan; dan 5. Meningkatkan dan mengoptimalkan pelayanan.

m. Perluasan jangkauan listrik sampai ke pelosok desa dengan strategi sebagai berikut:

1. Meningkatkan jaringan listrik pada wilayah dapat dijangkau pada satu dataran daratan; dan

2. Mengembangkan sistem penyediaan setempat pada wilayah yang sulit dijangkau dan bukan pada satu dataran daratan.

n. Pengurangan sumber timbulan sampah sejak awal dengan strategi sebagai berikut:

1. Meminimalkan penggunaan sampah yang sukar didaur ulang secara alamiah;

2. Memanfaatkan ulang sampah (recycle) yang ada terutama yang memiliki nilai ekonomi; dan

3. Mengolah sampah organik menjadi kompos.

o. Pengoptimalisasian tingkat penanganan sampah perkotaan dengan strategi sebagai berikut:

1. Meningkatkan prasarana pengolahan sampah;

2. Mengadakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA); dan 3. Mengelola sampah berkelanjutan.

p. Pengoptimalisasian tingkat penanganan sampah perdesaan dengan strategi sebagai berikut:

(33)

1. Meningkatkan prasarana pengolahan sampah; dan

2. Menyediakan prasarana pengolahan sampah yang mendukung pertanian.

q. Penciptaan lingkungan yang sehat dan bersih dengan strategi sebagai berikut:

1. Menyediakan fasilitas septic tank per Kepala Keluarga di wilayah perkotaan;

2. Meningkatkan pengelolaan limbah rumah tangga dengan fasilitas sanitasi per Kepala Keluarga serta sanitasi umum pada wilayah perdesaan; dan

3. Meningkatkan sanitasi lingkungan untuk permukiman, produksi, jasa, dan kegiatan sosial ekonomi lainnya.

(34)

Gambar 2.2 Peta Rencana Struktur Ruang Kabupaten Kepulauan Anambas

Sumber : RTRW Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2011-2031

(35)

2.4.2. Pola ruang Wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas

Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukkan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Pola ruang wilayah kabupaten merupakan gambaran pemanfaatan ruang wilayah kabupaten.

baik untuk pemanfaatan yang berfungsi lindung maupun budidaya. Pola ruang wilayah kabupaten merupakan penjabaran lebih rinci dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi.

Kebijakan dan strategi pelestarian kawasan meliputi :

a. Pemantapan fungsi lindung pada kawasan yang memberi perlindungan kawasan bawahannya dengan strategi sebagai berikut:

1. Memulihkan fungsi pada kawasan yang mengalami kerusakan, melalui penanganan secara teknis dan vegetatif;

2. Membatasi pengembangan pada kawasan yang memberi perlindungan kawasan;

3. Mempertahankan kawasan resapan air;

4. Meningkatkan peran masyarakat sekitar kawasan;

5. Melestarikan kawasan yang termasuk hulu DAS dengan pengembangan hutan atau perkebunan tanaman keras tegakan tinggi; dan

6. Meningkatkan kesadaran akan lingkungan melalui pendidikan, pariwisata, penelitian, dan kerjasama pengelolaan kawasan.

b. Pemantapan kawasan perlindungan setempat dengan strategi sebagai berikut:

1. Membatasi kegiatan yang tidak berkaitan dengan perlindungan setempat;

2. Membatasi kawasan perlindungan setempat sepanjang sungai untuk kepentingan pariwisata dan mengupayakan sungai sebagai latar belakang kawasan fungsional;

3. Membatasi kawasan perlindungan setempat sekitar waduk dan mata air; dan 4. Mengamankan kawasan sempadan pantai.

c. Pemantapan kawasan suaka alam dan pelestarian alam dengan strategi sebagai berikut:

1. Memperuntukkan kawasan ini hanya bagi kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian kawasan;

2. Memelihara habitat dan ekosistem khusus yang ada dan sifatnya setempat;

3. Meningkatkan nilai dan fungsi kawasan dengan menjadikan kawasan sebagai tempat wisata, obyek penelitian, kegiatan pecinta alam;

4. Membatasi dan mengembalikan fungsi lindung pada kawasan hutan yang mengalami alih fungsi;

(36)

5. Mengamankan kawasan dan/atau benda cagar budaya dan sejarah dengan melindungi tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai sejarah, dan situs purbakala;

6. Memelihara dan melarang perubahan tampilan bangunan pada bangunan bersejarah yang digunakan untuk berbagai kegiatan fungsional; dan

7. Melaksanakan kerjasama pengelolaan kawasan.

d. Penanganan kawasan rawan bencana alam dengan strategi sebagai berikut:

1. Meminimalkan kawasan rawan bencana banjir dan bencana alam lainnya pada kawasan terbangun;

2. Melestarikan kawasan lindung dan mempertahankan kawasan-kawasan yang berfungsi sebagai resapan air; dan

3. Mengembangkan sistem peringatan dini dari kemungkinan adanya bencana alam.

e. Penanganan kawasan lindung geologi dengan strategi sebagai berikut:

1. membatasi pemanfaatan ruang untuk kegiatan budi daya terutama untuk fungsi perkotaan, permukiman dan fasilitas umum/fasilitas sosial, serta pemanfataan dengan mempertimbangkan karakteristik, jenis dan ancaman bencana;

2. menghindari kawasan rawan bencana alam zona patahan aktif, imbuhan air tanah dan sempadan mata air sebagai kawasan terbangun;

3. mengembangkan sistem peringatan dini dari kemungkinan adanya bencana alam;

4. mengembangkan hutan mangrove dan bangunan yang dapat meminimalkan bencana bila terjadi gelombang tinggi; dan

5. memberikan perlindungan terhadap kualitas air tanah dan sempadan mata air dari berbagai kegiatan dan bahan yang dapat menimbulkan pencemaran dan menyebabkan kerusakan kawasan.

f. Pemantapan kawasan lindung lainnya dengan strategi sebagai berikut:

1. melarang penggunan alih fungsi pada kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati dengan melakukan penjagaan kawasan secara ketat;

2. memelihara ekosistem pada kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan pengungsian satwa guna menjaga keberlanjutan kehidupan satwa;

3. melestarikan pantai berhutan bakau sebagai penyeimbang lingkungan pantai;

4. mengelola kawasan hutan kota sebagai paru-paru kota dan pusat interaksi;

5. memanfaatkan kawasan sebagai daya tarik wisata dan penelitian;

6. memelihara habitat dan ekosistem guna menjaga keaslian kawasan; dan 7. melaksanakan kerjasama dalam pengelolaan kawasan.

(37)

Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budi daya bmeliputi:

a. Pengembangan hutan produksi dengan strategi sebagai berikut:

1. Mengembangkan hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi tetapi tetap memiliki fungsi perlindungan kawasan;

2. Melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam mengelola hutan sebagai pola kemitraan pengelolaan hutan;

3. Memaksimalkan pengolahan hasil hutan;

4. Memberikan insentif pada kawasan hutan rakyat untuk mendorong terpeliharanya hutan produksi; dan

5. Melakukan penggantian lahan pada kawasan hutan produksi yang dikonversi untuk pengembangan hutan setidaknya tanaman tegakan tinggi tahunan yang berfungsi seperti hutan.

b. Pengembangan kawasan hutan rakyat dengan strategi sebagai berikut:

1. Memanfaatkan ruang untuk peningkatan ekonomi masyarakat dan menunjang kestabilan neraca sumber daya kehutanan; dan

2. Membatasi pendirian bangunan hanya untuk menunjang fungsi utama kawasan.

c. Pengembangan kawasan pertanian dengan strategi sebagai berikut:

1. Mempertahankan luas sawah irigasi teknis;

2. Melakukan pemeliharaan saluran irigasi;

3. Memberikan insentif pada lahan yang ditetapkan sebagai lahan pangan berkelanjutan;

4. Mengembangkan lumbung desa modern;

5. Melestarikan kawasan hortikultura;

6. Memulihkan lahan yang rusak atau alih komoditas menjadi perkebunan seperti semula;

7. Meningkatkan produktivitas dan pengolahan hasil perkebunan;

8. Mengembangkan kemitraan dengan masyarakat; dan

9. Melakukan usaha kemitraan dengan pengembangan peternakan.

d. Pengembangan kawasan kelautan perikanan dengan strategi sebagai berikut:

1. Mengembangkankawasan minapolitan;

2. Mengembangkan perikanan budi daya pada kawasan minapolitan;

3. Mengembangkan perikanan tangkap disertai pengolahan hasil ikan laut;

4. Mengembangkan penggunaan alat tangkap ikan laut yang ramah lingkungan;

dan

5. Meningkatkan kualitas ekosistem pesisir untuk menjaga mata rantai perikanan laut.

e. Pengembangan kawasan pertambangan dengan strategi sebagai berikut:

1. Memulihkan rona alam melalui pengembangan kawasan hutan, atau kawasan budi daya lain pada area bekas penambangan;

(38)

2. Meningkatkan nilai ekonomis hasil pertambangan melalui pengolahan hasil tambang;

3. Melakukan pencegahan aktifitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI);

4. Mensyaratkan melakukan kajian kelayakan ekologis dan lingkungan, ekonomis dan sosial, dan kajian lingkungan hidup strategis pada kawasan tambang bernilai ekonomis tinggi yang berada pada kawasan lindung atau permukiman bila akan dilakukan kegiatan penambangan; dan

5. Mengintensifkan pengelolaan lingkungan kawasan pertambangan.

f. Pengembangan kawasan peruntukan industri dengan strategi sebagai berikut:

1. Mengembangkan dan memberdayakan industri kecil dan industri rumah tanggauntuk pengolahan hasil pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan laut;

2. Mengembangkan industri yang mengolah bahan dasar hasil tambang;

3. Mengembangkan zona industri polutif berjauhan dengan kawasan permukiman;

4. Mengembangkan pusat promosi dan pemasaran hasil industri kecil dan kerajinan masyarakat;

5. Meningkatkan kegiatan koperasi usaha mikro, kecil dan menengah serta menarik investasi;

6. Mengembangkan kawasan industri secara khusus; dan

7. Mengembangkan kawasan industri pada kawasan ekonomi terpadu yang ditunjang pelabuhan ekspor di Kawasan Siantan Timur, sekaligus memberikan otoritas khusus pengelolaannya.

g. Pengembangan kawasan pariwisata dengan strategi sebagai berikut:

1. Mengembangkan daya tarik wisata andalan prioritas;

2. Membentuk zona wisata dengan disertai pengembangan paket wisata;

3. Meningkatkan promosi wisata;

4. Meningkatkan kegiatan festival wisata atau gelar seni budaya; dan

5. Mengembangkan pusat kerajinan masyarakat sebagai pintu gerbang wisata Kabupaten.

h. Pengembangan kawasan permukiman perdesaan dan perkotaan dengan strategi sebagai berikut:

1. Mengembangkan permukiman perdesaan disesuaikan dengan karakter fisik, sosial budaya dan ekonomi masyarakat perdesaan;

2. Meningkatkan sarana dan prasarana permukiman perdesaan;

3. Meningkatkan kualitas permukiman perkotaan;

4. Mengembangkan perumahan terjangkau;

5. Meningkatkan sarana dan prasarana permukiman perkotaan; dan

6. Mengembangkan Kawasan siap bangun dan Lingkungan siap bangunmandiri.

(39)

Rencana pelestarian kawasan lindung dan pengembangan kawasan budi daya yang berupa hutan dan lahan wajib dilengkapi dengan:

a. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi di Dalam Kawasan Hutan (RPRH) yang disahkan oleh Bupati; dan

b. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi di Lahan (RPRL) yang disahkan oleh Bupati

(40)

Gambar 2.3 Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Kepulauan Anambas

Sumber : RTRW Kabupaten Kepulauan Anambas Tahun 2011-2031

(41)

2.3. Profil Sanitasi Kabupaten Kepulauan Anambas Saat Ini

Gambaran tentang kondisi sanitasi Kabupaten Bangka saat ini terdiri dari gambaran umum sub sektor air limbah domestik, sub sektor persampahan, dan sub sektor drainase lingkungan.

A. Sektor Air Limbah Domestik

Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan satu salah tolak ukur dari Kualitas pelayanan kesehatan yang wajib dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas untuk selalu di upayakan kearah perbaikan sehingga akan memberikan kesejahteraan masyarakatnya khususnya masyarakat miskin dan tidak mampu. Hal ini tentunya tidak hanya mengendalakan dari pemerintah saja, namun peran serta swasta dan masyarakat juga diperlukan baik dari sisi perencanaan, penyediaan sarana prasarana maupun pengelolaan pemeliharannya agar tercapai kehidupan yang sehat dan berkualitas.

1. Kelembagaan

Saat ini kabupaten Kepulauan Anambas belum memiliki Lembaga atau Dinas yang secara khusus menangani permasalahan air limbah. Selain itu, peraturan daerah yang secara spesifik mengatur tentang air limbah juga belum tersedia.

Tabel 2.5

Peta Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan dan Pengelolaan Air Limbah Domestik di Kabupaten Kepulauan Anambas

FUNGSI

PEMANGKU KEPENTINGAN PEMERINTAH

KABUPATEN SWASTA MASYARAKAT

PERENCANAAN

Menyusun target pengelolaan air limbah

domestik skala Kabupaten - -

Menyusun rencana program air limbah

domestik dalam rangka pencapaian target - -

Menyusun rencana anggaran program air limbah domestik dalam rangka pencapaian target

- -

PENGADAAN SARANA

Menyediakan sarana pembuangan awal air

limbah domestic - -

Gambar

Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Kepulauan Anambas
Gambar 2.1.a Peta Wilayah Kajian Sanitasi (Lokasi A)
Gambar 2.1.b Peta Wilayah Kajian Sanitasi (Lokasi B)
Gambar 2.1.c Peta Wilayah Kajian Sanitasi (Lokasi C)
+7

Referensi

Dokumen terkait

kelompok asal mempelajari submateri pelajaran yang akan menjadi keahliannya, kemudian masing-masing mengerjakan tugas secara individual; c) Pembentukan Kelompok

Tujuan dari isi paper ini adalah untuk menganalisa unjuk kerja sistem kompresi citra grayscale asli, apakah informasi data citra hasil rekonstruksi benar-benar dapat

Berdasarkan pengujian yang dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa transparansi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap tingkat korupsi pada

Mayoritas warga kampung nelayan pesisir Muara Angke memiliki keberanian menjadi wirausahawan karena tekanan ekonomi yang mendesak. Selain itu, mereka memiliki minat

Qtrap digunakan untuk mendeteksi email-email yang masuk apakah mengandung kata-kata tertentu yang dilarang atau tidak. Jika mengandung kata-kata yang dilarang, maka program ini

fokus SFAS 87 adalah tercapainya ukururan biaya pensiun yang stail dan ermanen oeh karena itu beban pensiun yang termasuk dalam laba bersih disebut biaya

MANAJEMEN TRAFO TERHADAP BEBAN MAXIMUM YANG BERPENGARUH PADA EFESIESI TRAFO DI PT.PLN

casei dalam memfermentasi jenis gula yang bermacam-macam menjadikan dia mampu untuk tumbuh dengan baik dalam santan dan menurunkan nilai pH relatif lebih baik dibandingkan