10 BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Tinjauan Pustaka 1. Hakikat Model Pembelajaran
a. Pengertian Model Pembelajaran
model dapat diartikan sebagai suatu bentuk tiruan (replika) dari benda yang sesungguhnya, sehingga memiliki bentuk atau konstruksi yang sama atau mirip dengan benda yang dibuatkan tiruannya atau contohnya. Selain itu model juga dapat diartikan sebagai suatu contoh konseptual atau prosedural dari suatu program, sistem, atau proses yang dapat dijadikan acuan atau pedoman dalam rangka memecahkan suatu masalah atau mencapai suatu tujuan (Sulisyorini, 2007: 13).
Hakikat model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencarakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas (Trianto, 2015: 51).
Joyce and Calhoun (2000: 1) menyatakan bahwa: "Models of teaching are really models of learning. As we help student acquire information, ideas, skills, value, ways of thingking and means of expressing themselves, we are also teaching them hew to learn.
Hal ini berarti bahwa model mengajar merupakan model belajar dengan model tersebut guru dapat membantu siswa untuk mendapatkan atau memperoleh informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide diri sendiri. Selain itu, mereka juga mengajarkan bagaimana mereka belajar. Sementara itu Arends (dalam Trianto 2015:
53) menyatakan bahwa: “The term teaching model refers to a particular approach to instruction that includes its goals, syntax, enviroment, and
management system". Artinya istilah model pembelajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungannya, dan sistem pengelolaannya.
Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur. Strategi meliputi kegiatan atau pemakaian teknik yang dilakukan oleh pengajar mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pada tahap evaluasi, serta program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (Kosasih, 2010: 20). Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan tercapai secara optimal (Sanjaya, 2006: 147).
Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus ialah: (1) memiliki rasional teoritis logis yang disusun oleh pencipta atau pengembangnya; (2) memiliki landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar atau tujuan pembelajaran yang akan dicapai; (3) berupa tindakan atau “action” mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; (4) memerlukan lingkungan belajar agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai (Trianto, 2015: 55).
Menurut Rahardjo dan Daryanto (2012: 159) sebuah pembelajaran sangat ditentukan keberhasilan oleh kiat masing-masing guru di kelas. Hal ini karena guru berperan dalam proses transformasi pengetahuan dan ketrampilan, juga memadu segenap proses pembelajaran. Helmawati (2016: 147) mengungkapkan model pembelajaran merupakan proses mempengaruhi peserta didik.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.
b. Pengertian Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan (Research and Development) adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang sudah ada yang dapat dipertanggungjawabkan. Produk yang dimaksud tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas atau di laboratorium, tetapi juga dapat berbentuk perangkat lunak (Software), seperti program komputer untuk mengolahan data, program untuk pembelajaran di kelas, program untuk perpustakaan atau laboratorium, atau model-model pendidikan, strategi pembelajaran, pelatihan, bimbingan, evaluasi, manajemen dan sebagainya (Sukmadinata, 2012: 164).
Menurut Sugiyono (2015: 297) penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut
Penelitian pengembangan dalam dunia pendidikan lebih di kenal dengan sebutan educational research and development yaitu suatu proses dalam mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. Produk yang dimaksud dapat berupa meteri ajar, media, instrument evaluasi atau model pembelajaran. Penelitian pengembangan perlu mendukung pemecahan masalah praktis dalam dunia pendidikan, khususnya masalah pembelajaran di kelas atau di laboratorium. Oleh sebab itu, penelitian pengembangan diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara antara penelitian dengan implementasi hasil penelitian penelitian dalam bentuk pembelajaran di kelas atau di laboratoriun. Sukmadinata (2012:
165) berpendapat bahwa Research and development adalah sebuah strategi atau metode penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktik.
Banyak pengembangan model, salah satunya ialah Pengembangan model pembelajaran menulis cerita berbasis media video untuk peserta didik Sekolah Dasar di Kabupaten Cilacap. Berdasarkan objeknya, yaitu
pengembangan model pembelajaran menulis cerita berbasis media video sebagai bagian dari kurikulum dan proses pembelajaran, maka penelitian ini dapat dikelompokkan ke dalam penelitian pendidikan (Sukmadinata, 2012: 163). Secara metodologis pengembangan ini adalah jenis penelitian pengembangan (Borg and Gall, 2003: 123-124). Penelitian pengembangan ini merupakan kombinasi penelitian kualitatif dan kuantitatif. Dalam penelitian ini peneliti mengembangkan beberapa metode antara lain: (1) metode deskriptif, (2) metode evaluatif dan (3) metode eksperimental.
Metode deskriptif digunakan dalam penelitian awal untuk menghimpun data tentang kondisi awal. Kondisi awal yang ada mencakup: (1) konsidi produk yang sudah ada, sebagai bahan perbandingan atau bahan dasar (embrio) untuk produk yang akan dikembangkan; (2) kondisi pihak pengguna (stakeholders), Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Agama, sekolah, guru, Kepala Sekolah, Peserta Didik dan masyarakat; (3) kondisi faktor pendukung dan penghambat pengembangan dan pengguna produk yang akan dihasilkan mencakup: manusia, sarana prasarana, biaya, pengelolaan dan lingkungan.
Metode evaluatif digunakan untuk mengevaluasi proses uji coba pengembangan suatu produk. Produk dikembangkan melalui serangkaian uji coba terbatas dan uji coba lebih luas serta uji keefektivan model.
Setiap uji coba diadakan evaluasi, baik evaluasi hasil maupun evaluasi produk. Berdasarkan temuan-temuan hasil uji coba diadakan penyempurnaan.
Metode eksperimen digunakan untuk menguji keampuhan dari produk yang dihasilkan. Walaupun dalam tahap uji coba terbatas dan uji coba lebih luas telah ada evaluasi, tetapi sifatnya masih dalam rangka pengembangan produk. Dalam uji keefektivan model perlu adanya kelompok eksperimen dan kelompok pembanding (kontrol).
Pembandingan hasil eksperimen kedua dan ketiga (kalau perlu) dapat menunjukkan tingkat keampuhan dari produk yang dihasilkan.
c. Model yang Dikembangkan
Tipe model yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah tipe prosedural. Disebut sebagai tipe prosedural, karena menyebutkan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, yang berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Dalam pembelajaran menulis cerita berbasis media video ini menggunakan prosedur atau skenario pembelajaran yang harus ditempuh sekalipun dalam pelaksanaannya masing-masing guru dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing sekolah. Walaupun dalam pelaksanaan terdapat variasi prosedural namun tetap mengacu dan berlandaskan prinsip-prinsip pembelajaran menulis cerita berbasis media video.
Model pembelajaran menulis cerita berbasis media video ini diharapkan lebih mudah dilaksanakan, lebih baik dan efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran apabila dibandingkan dengan model pembelajaran menulis cerita secara konvensional yang selama ini digunakan di SD Kabupaten Cilacap. Selain itu pembelajaran menulis cerita berbasis media video ini akan mampu membangun dan meningkatkan motivasi siswa dalam beiajar serta akan membuat siswa senang (enjoy) melakukan pembelajaran.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2005: 523) konvensional artinya berdasarkan kebiasaan atau tradisional. Jadi pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru. Pada umumnya pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang berpusat pada guru. Akibatnya terjadi praktik pembelajaran yang kurang optimal karena siswa pasif dalam kegiatan pembelajaran.
Suyitno (dalam Sulistyorini, 2007: 160) pada umumnya pembelajaran konvensional yang sering dilakukan oleh pendidik selama ini memiliki banyak kelemahan antara lain sebagai berikut: (1) Kegiatan
belajar adalah memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa. Tugas guru adalah memberi, dan tugas siswa adalah menerima. (2) Kegiatan pembelajaran seperti mengisi botol kosong dengan pengetahuan. Siswa merupakan penerima pengetahuan yang pasif. (3) Pembelajaran cenderung mengkotak-kotakkan siswa. (4) Kegiatan pembelajaran lebih menekankan hasil daripara proses. (5) Memacu siswa dalam kompetisi yang tidak sehat, yaitu siswa bekerja keras untuk mengalahkan teman sekelasnya. Siapa yang kuat dia yang menang.
Sementara itu menurut Neil (1998: 3) model pembelajaran menulis secara konvensional adalah pembelajaran yang lebih menekankan pada hubungan stimulus dan respon yang teramati. Asumsi teori ini adalah bahwa sifat hubungan manusia dengan lingkungan adalah pasif dan reaktif. Teori psikologi tingkah laku mengemukakan bahwa kegiatan belajar akan terjadi secara mekanistis melalui hubungan stimulus dan respon yang terkondisi.
Model pembelajaran konvensional, umumnya bersifat formal dan rutin. Aktivitas pokok guru dalam mengajar adalah dengan ceramah sesekali dengan variasi tanya jawab atau demonstrasi. Guru mendominasi pembelajaran dan siswa lebih banyak bersikap pasif. Model pembelajaran konvensional lebih menitikberatkan persamaan daripada perbedaan individual. Model konvensional mengabaikan perbedaan individual, padahal seperti yang dinyatakan Russel (1984: 4) bahwa semua individu siswa di kelas terdapat perbedaan kemampuan awal.
Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah, sebaiknya guru tidak terikat pada penggunaan satu model atau teori belajar untuk menyajikan materi pembelajaran. Dalam proses pembelajaran tidak ada model atau teori belajar yang paling unggul untuk semua situasi (Eggen, 1989: 3).
Disarankan guru menggunakan berbagai model atau teori dalam pembelajaran agar pelaksanaan pembelajaran bervariasi, menyenangkan dah tidak membosankan. Semakin banyak model atau teori yang dikembangkan, maka guru akan menjadi lebih leluasa dalam menentukan
pilihannya agar sesuai dengan situasi dan kondisi kelas, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif.
Peneliti lain seperti Borg and Gall, (1983: 772) mengkategorikan penelitian semacam ini sebagai educational research and development dan disingkat RD. Metode ini digunakan karena peneliti mengembangkan produk, yaitu buku pedoman guru: model pembelajaran menulis cerita berbasis media video, yang didalamnya memuat silabus dan RPP, serta alat evaluasi pembelajaran menulis. Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif untuk mengamati fenomena yang terjadi dan teknik yang digunakan adalah teknik observasi partisipatif, serta metode kuantitatif untuk menguji efektivitas model.
Dalam penelitian ini, kegiatan terpenting yang dilakukan adalah pengembangan model pembelajaran menulis cerita berbasis media video yang dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang dicita- citakan dalam kurikulum. Tujuan penelitian ini sesuai dengan tujuan yang diungkapkan Borg dan Gali sebagai: "... to yield products that are ready for operational use in the schools (Borg dan Gali, 1983: 772), yaitu bahwa untuk menyusun produk yang siap untuk diterapkan di sekolah atau kelas.
Merujuk pada kutipan di atas, bahwa hasil akhir dari penelitian ini berupa produk yang berupa model pembelajaran menulis cerita berbasis media video yang didalamnya memuat (a) landasan keilmuan, (b) prosedur persiapan program pembelajaran menulis cerita berbasis media video, (c) silabus, (d) contoh RPP yang siap dimanfaatkan oleh guru dalam mengembangkan serangkaian pengalaman belajar peserta didik di kelas, serta alat evaluasi pembelajaran menulis.
2. Hakikat Menulis a. Pengertian Menulis
Menulis bukan sekedar melukiskan lambang-lambang grafis, melainkan menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat-
kalimat yang dirangkai secara utuh, lengkap, dan jelas, sehingga pikiran pikiran tersebut dapat dikomunikasikan kepada pembaca secara berhasil. Oleh karenanya, di samping harus menguasai topik dan permasalahan yang akan di tulis, penulis dituntut menguasai komponen lainnya, seperti grafologi, struktur, kosakata, kelancaran, dan sebagainya (Winarni dan Slamet, 2014:31).
Aktifitas menulis merupakan suatu bentuk manifestasi kemampuan dan ketrampilan berbahasa yang paling akhir dikuasai oleh siswa setelah kemampuan mendengar, berbicara dan membaca. Dibandingkan dengan ketiga kemampuan yang lain, kemampuan menulis lebih sulit dikuasai (Nurgiyantoro, 2010:422)
Gie (1994:17) berpendapat menulis merupakan padanan dari kata mengarang. Mengarang adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikan melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Unsur karang-mengarang meliputi empat hal, yaitu : (1) gagasan (idea), adalah topik atau tema yang di ungkapkan secara tertulis;
(2) tuturan (discourse), yaitu bentuk pengungkapan gagasan untuk dipahami pembaca; (3) tatanan (organization), yaitu tertib pengaturan dan penyusunan gagasan dengan memperhatikan aturan, asas, teknik, dan prosedur; (4) wahana (medium), yaitu sarana penghantar gagasan berupa bahasa tulis yang berkaitan dengan kosakata, tata bahasa dan retorika.
Menulis merupakan ketrampilan berbahasa aktif. Menulis merupakan kemampuan puncak seseorang untuk dikatakan terampil berbahasa. Menulis merupakan keterampilan yang sangat kompleks. Hal ini disebabkan kemampuan menulis menghendaki atau mensyaratkan penguasaan berbagai unsur kebahasaan yang akan menjadi isi tulisan. Baik unsur bahasa maupun unsur isi pesan harus terjalin sedemikian rupa sehingga menghasilkan tulisan (karangan) yang runtut, padu, dan berisi ( Nurjamal, Sumirat, dan Darwis, 2011:4).
Celse-Murcia dan Olshtain (dalam Mulyati dan Tarmizi, 2009: 5.1) mengemukakan ketrampilan menulis merupakan ketrampilan yang paling
sukar. Menulis merupakan suatu kegiatan yang jauh lebih aktif dari pada membaca (Hayon, 2003: 93). Dapat diartikan juga bahwa menulis adalah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak orang lain secara tertulis (Suriamiharja, Husen, Nurjanah, 1997:1). Selanjutnya juga dapat diartikan bahwa menulis adalah mengubah bahasa lisan, mungkin menyalin atau melahirkan pikiran atau perasaan seperti mengarang, membuat surat, membuat laporan, dan sebagainya.
Ketrampilan menulis ialah ketrampilan berbahasa selain berbicara, membaca, mendengar, dan menyimak. Menulis merupakan sebuah wujud cara berkomunikasi dengan menggunakan media. Setiap orang mempunyai bakat untuk mengembangkan ketrampilan menulis (Pamungkas, 2012: 57).
Sejalan dengan pendapat Zainurrahman (2013: 7-8) mengemukakan ketrampilan menulis memiliki ruang yang begitu luas dan dalam untuk dipelajari, memang harus dikuasai jika seseorang ingin menjadi penulis yang baik. Ketelitian seorang penulis dalam menggunakan tanda baca, struktur bahasa, pemilihan kata, serta penguasaan format jenis tulisan merupakan pokok penting.
Menurut Sujanto (1988:60) menulis merupakan suatu proses pertumbuhan melalui banyak latihan. Sebagai suatu proses, menulis merupakan serangkaian aktivitas (kegiatan) yang terjadi dan melibatkan beberapa fase (tahap) yaitu fase pramenulis (persiapan), penulisan (pengembangan isi karangan), dan pascapenulisan (telaah dan revisi atau penyempurnaan tulisan) yang memerlukan banyak latihan (Slamet, 2007:97)
Menulis merupakan suatu kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan (informasi) secara tertulis kepada pihak lain dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Aktivitas menulis melibatkan beberapa unsur, yaitu: penulis sebagai penyampaian pesan, isi tulisan, saluran atau media, dan pembaca.
Menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis dalam tujuan, misalnya memberitahu, meyakinkan, atau menghibur. Hasil dari proses kreatif ini biasa disebut dengan istilah karangan
atau tulisan. Kedua istilah tersebut mengacu pada hasil yang sama meskipun ada pendapat yang mengatakan kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Istilah menulis sering melekatkan pada proses kreatif yang sejenis ilmiah. Sementara istilah mengarang sering dilekatkan pada proses kreatif yang berjenis nonilmiah.
Menulis juga dapat dikatakan sebagai kegiatan merangkai huruf menjadi kata atau kalimat untuk disampaikan kepada orang lain, sehingga orang lain dapat memahaminya. Dalam hal ini, dapat terjadinya komunikasi antar penulis dan pembaca dengan baik (Dalman, 2015:3-4)
Saddhono dan Slamet (2014:151-152), berpendapat bahwa pada dasarnya menulis itu, bukan hanya berupa melahirkan pikiran atau perasaan saja, melainkan juga merupakan pengungkapan ide, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman hidup seseorang dalam bahasa tulis. Oleh karena itu, menulis bukanlah merupakan kegiatan yang sederhana dan tidak perlu dipelajari, tetapi justru dikuasai.
Menurut Kurniawan (2104:111) menulis adalah suatu kegiatan yang membutuhkan tenaga, pikiran dan waktu untuk meluangkan ide yang ada di dalam pikiran manusia.
Hastuti (1982:1) (dalam Saddhono dan Slamet, 2014:153), menyatakan bahwa kegiatan menulis merupakan kegiatan yang sangat kompleks, karena melibatkan cara berfikir yang teratur dan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan teknik penulisan, antara lain (1) adanya kesatuan gagasan, (2) penggunaan kalimat yang jelas dan efektif, (3) paragraf disusun dengan baik, (4) penerapan kaidah ejaan yang benar, dan (5) penguasaan kosakata yang memadai
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah serangkaian proses kegiatan yang kompleks yang memerlukan tahapan-tahapan, dan menuangkan ke dalam bentuk tulisan sehingga pembaca dapat memahami isi dari gagasan yang disampaikan. Dengan kata lain bahwa menulis merupakan serangkaian kegiatan yang akan melahirkan pikiran dan perasaan melalui tulisan untuk disampaikan kepada pembaca.
b. Unsur-unsur Menulis
Dalam membuat sebuah tulisan, diperlukan beberapa unsur yang harus diperhatikan. Menurut Gie (1992: 17-18), unsur menulis terdiri atas gagasan, tuturan (narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi), tatanan, dan wahana.
1) Gagasan
Topik yang berupa pendapat, pengalaman, atau pengetahuan seseorang. Gagasan seseorang tergantung pengalaman masa lalu atau pengetahuan yang dimiliki.
2) Tuturan
Merupakan pengungkapan gagasan yang dapat dipahami pembaca.
Ada bermacam-macam tuturan, antara lain narasi, deskripsi, dan eksposisi, argumentasi, dan persuasi.
3) Tatanan
Tatanan merupakan aturan yang harus diindahkan ketika akan menuangkan gagasan. Berarti ketika menulis tidak sekedar menulis harus mengindahkan aturan-aturan dalam menulis.
4) Wahana
Wahana juga sering disebut sebagai alat. Wahana berupa kosakata, gramatika, retorika (seni memakai bahasa). Bagi penulis pemula, wahana sering menjadi masalah. Mereka menggunakan kosakata, gramatika, retorika yang masih sederhana dan terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut seorang penulis harus memperkaya kosakata yang belum diketahui artinya.
Seorang penulis harus rajin menulis dan membaca.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa unsur- unsur menulis terdiri atas pengungkapan gagasan, tuturan yang digunakan penulis dalam menyampaikan tulisannya, tatanan dalam penulisan, dan wahana yang berupa kosakata, serta ejaan dan tanda baca.
c. Tujuan Menulis
Tujuan yang harus dicapai melalui pembelajaran menulis di sekolah dasar adalah agar siswa siswa memahami cara menulis berbagai hal yang
telah dikemukakan serta mampu mengkomunikasikan ide atau pesan kedalam sebuah tulisan. Tujuan menulis yang perlu diperhatikan, bukan hanya memupuk pengetahuan dan ketrampilan menulis, tetapi juga harus memupuk jiwa estetis, informatif, dan persuasif (Supriyadi, Nuraeni, Sutanjaya, dan Rumini, 1994:270)
Widyamartaya (1991:13) membedakan tujuan mengarang menjadi tiga macam: (1) memberi tahu, memberi informasi karangan khusus ditujukan pada pikiran untuk menambah pengetahuan, mengajukan pendapat, mengupas persoalan, (2) menggerakan hati, menggetarkan perasaan, mengharukan, karangan khusus ditujukan untuk menggugah perasaaan, untuk mempengaruhi, mengambil hati, membangkitkan simpati, (3) campuran kedua hal diatas, yaitu memberi tahu sekaligus mempengaruhi.
Seseorang harus mengetahui maksud dan tujuan yang harus dicapai sebelum menulis , menurut Ahmadi (1990:28), program pengajaran menulis pada dasarnya dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan: (1) mendorong siswa untuk menulis dengan jujur dan bertanggung jawab, dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa secara berhati-hati, integritas, dan sensitif, (2) merangsang imajinasi dan daya pikir atau intelek siswa, (3) menghasilkan tulisan/karangan yang bagus organisasinya, tepat, jelas, dan ekonomis penggunaan bahasanya dalam membebaskan segala sesuatu yang terkandung dalam hati dan pikiran.
Tujuan artistik atau estetis yaitu tujuan tentang nilai keindahan, tujuan informatif yaitu memberikan informasi kepada pembaca, tujuan persuasif yaitu mendorong atau menarik perhatian pembaca agar mau menerima informasi yang disampaikan penulis.
Setelah mencermati pendapat di atas bahwa tujuan pembelajaran menulis di sekolah, siswa mampu menulis berbagai jenis tulisan atau karangan yang digunakan. Misalnya, bila jenis atau bentuk tulisan laporan atau paparan tujuan yang ingin dicapai ialah memberitahu atau memberi informasi. Apabila jenis atau bentuk tulisan cerita atau narasi tujuannya untuk menceritakan sesuatu agar pembaca tergerak hatinya atau perasaannya.
d. Manfaat Menulis
Menulis merupakan suatu kegiatan yang mempunyai banyak manfaat yang dapat diterapkan oleh penulis itu sendiri. Menurut akhadiah, dkk. (1994:
1-2) ada beberapa manfaat menulis antara lain yaitu: (1) dengan menulis dapat lebih mengenali kemampuan dan potensi pribadi yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang ditulis, (2) melalui kegiatan menulis dapat mengembangkan berbagai gagasan atau pemikiran yang akan dikemukakan, (3) dari kegiatan menulis dapat memperluas wawasan kemampuan berpikir, baik dalam bentuk teoritis maupun dalam bentuk berpikir terapan, (4) permasalahan yang kabur dapat dijelaskan dan dipertegas melalui kegiatan menulis, (5) melalui tulisan dapat menilai gagasan sendiri secara objektif, (6) dalam konteks yang lebih konkret, masalah dapat dipecahkan dengan lebih melalui tulisan, (7) dengan menulis dapat memotivasi diri untuk belajar dan membaca lebih giat. Penulis menjadi penemu atau pemecah masalah bukan sekedar menjadi penyadap informasi dari orang lain, (8) melalui kegiatan menulis dapat membiasakan diri untuk berpikir dan berbahasa secara tertib.
Untuk menjelaskan pentingnya menulis Wiyanto (2006: 3) mengajukan pertanyaan “Mengapa kita harus menulis?” yang membedakan zaman prasejarah ditandai dengan diabadikan dengan tulisan sehingga tidak diketahui generasi sesudahnya. Baru setelah ditemukan batu tertulis, peristiwa penting masa lalu dapat diketahui dan manusia meninggalkan zaman prasejarah untuk memasuki zaman sejarah.
Lebih lanjut Wiyanto (2006: 4) megatakan bahwa tulisan adalah rekaman peristiwa, pengalama, pengetahuan, ilmu, dan pemikiran manusia.
Tulisan dapat menembus ruang dan waktu. Artinya, tulisan dapat dibaca oleh orang yang berbeda di berbagai tempat pada waktu sekarang dan yang akan datang. Dengan tulisan itu manusia lain yang tinggal di tempat yang jauh dapat menangkap dan memahami pengetahuan dan pikiran tersebut. Hebatnya lagi tulisan dapat dibaca sekarang, sepuluh tahun lagi, bahkan sampai kapanpun. Sampai sekarang masih banyak kita jumpai buku-buku yang ditulis berabad-abad yang lalu dan masih dibaca dan dipraktekkan dalam kehidupan
masyarakat zaman zekarang. Karena itu, seandainya sekarang tidak ada yang mau menulis, lambat laun pengetahuan itu hilang dan generasi berikutnya akan kembali lagi ke zaman prasejarah.
Mengarang itu banyak keuntungan. Terutama bagi orang yang suka bergelut dengan ilmu pengetahuan. Orang yang sering mengarang, pengetahuan nya akan tambah dan berkembang. Sebab untuk membuat sebuah karangan orang perlu banyak membaca. Dengan demikian seorang pengarang akan berlatih dan terlatih membaca kritis. Mengarang juga juga dapat melatih orang untuk mengeluarkan pikiran nya dengan baik sehingga dapat dimengerti orang lain. Dengan demikian pengarang yang baik tentu akan membina dan memajukan hidup masyarakatnya sendiri.
Setelah mencermati pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat menulis dapat meningkatkan kecerdasan, mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas, menumbuhkan keberanian serta merangsang kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.
e. Aspek yang Dinilai dalam Pembelajaran Menulis
Pembelajaran menulis dalam pelajaran bahasa Indonesia ada aspek yang perlu dinilai sebagai keluaran dari pembelajaran. Kategori keluaran yang dinilai dari pembelajaran menurut Bloom dibedakan menjadi tiga
“ranah” yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik (Nurgiyantoro, 2010: 56).
Ketiga ranah yang kemudian terkenal dengan sebutan taksonomi Bloom itu berikut akan dibahas secukupnya.
1) Ranah Kognitif (Cognitive Domain)
Ranah kognitif berkaitan dengan kemampuan intelektual dan kompetensi berpikir seseorang. Ranah ini akan membawa siswa ke dalam proses berpikir seperti mengingat, memahami, menganalisis, menghubungkan, mengonseptualisasikan, memecahkan masalah dan sebagainya. Ranah kognitif terdiri dari enam jenjang berpikir yang disusun dari tingkatan yang lebih sederhana ke yang lebih kompleks, dari jenjang yang hanya menuntut aktivitas intelektual sederhana ke yang menuntut kerja intelektual tinggat tinggi. Keenam tingkatan itu menurut
Blomm dalam Nurgiyantoro, (2010: 57) adalah: ingatan {knowledge, Cl); pemahaman {comprehension, C2); penerapan (application, C3);
analisis (analysis, C4); sintesis (synthesis, C5); dan evaluasi (evaluation, C6). Jenjang ingatan sampai penerapan disebut sebagai jenjang berpikir tingkat sederhana, sementara itu jenjang analisis sampai evaluasi sebagai jenjang berpikir tingkat tinggi.
Kegiatan praktik berbahasa aktif produktif berbicara dan menulis juga diprasiasati oleh kemampuan berpikir, baik berpikir memilih bahasa yang tepat (unsur bentuk, sarana komunikasi) maupun sesuatu yang akan dituturkan (unsur isi pembicaraan). Proses memilih bahasa 'dan bahan penuturan, adalah proses berpikir, proses kognitif ( Nurgiyantoro, 2010:58).
2) Ranah Afektif (Affective Domain)
Ranah afaktif berkaitan dengan perasaan, nada, emosi, motivasi, kecenderungan bertingkah laku, tingkatan penerima dan penolakan terhadap sesuatu. Dalam pembelajaran di kelas, ranah afektif ini sering kurang mehdapat perhatian yang cukup seperti halnya ranah kognitif. Hai ini nampaknya disebabkan ranah afektif tidak secara langsung dengan kompetensi dasar, indikator, dan materi pembelajaran dan karenanya tidak mudah diukur.
Ranah afektif menjadi prasyarat yang harus dimiliki seseorang untuk mau berpikir dan berkinerja. Oleh sebab itu, salah saatu tugas guru adalah membangkitkan dan meningkatkan motivasi siswa agar lebih baik belajarnya.
3) Ranah Psikomotorik (Psychomotor Domain)
Ranah psikomotorik berkaitan dengan kompetensi berunjuk kerja yang melibatkan gerakan-gerakan otot psikomotor. Sebagai bukti bahwa siswa telah memperoleh keterampilan (gerak otot) itu, mereka mampu berunjuk kerja tertentu sesuai dengan kompetensi yang dibelajarkan.
Kompetensi untuk kerja berbahasa, walau bernama kinerja, doing
something, pada hakikatnya tidak terlalu banyak menuntut aktivitas fisik seperti halnya berolahraga atau praktik yang lainnya. Tuntutan kompetensi motorik berbahasa sebenarnya tidak terlalu banyak, misalnya yang berupa aktivitas pelafalan di lidah dan gerakan di tangan seperti menulis.
Evaluasi keterampilan menulis merupakan evaluasi yang mengukur keterampilan siswa dalam mengungkapkan gagasan, menentukan teknik penyajian dalam menulis, dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar di dalam bahasa tulisan ( Mariani, 2008:
2). Penekanan evaluasi menulis adalah kepekaan siswa terhadap penggunaan pola-pola kata yang tepat di dalam bahasa remi tulisan.
Kepekaan siswa terhadap penggunaan pola-pola tersebut meliputi: (1) kesesuaian antara subjek dengan bentuk kata kerja dalam kalimat; (2) kesejajaran bentuk kata dalam kalimat; (3) pemakaian kata ganti; (4) penggunaan kata sifat; dan (5) penggunaan kata tambahan.
Ketrampilan menulis siswa dapat diukur melalui berbagai kegiatan, misalnya (1) menyalin; (2) menyadur; (3) membuat; ikhtisar, catatan, formulir, bagan, denah, tabel; (d) menulis: laporan, notulen; hasil diskusi, surat, pidato, iklan, kuitansi, resensi, riwayat hidup dan proposal kegiatan.
Sementara itu aspek yang dinilai dalam evaluasi menulis adalah didasarkan pada ruang lingkup dan tingkat kedalaman pembelajaran serta tujuan pembelajaran yang ditetapkan dalam kurikulum. Menurut Mariani (2008: 2) secara khusus aspek yang dapat dinilai dalam evaluasi menulis diantaranya:
1) Aspek kebahasaan: isi, penalaran, ketepatan, kesesuaian, teknik penyajian, gaya penyajian dan bahasa, keterbacaan/kejelasan, ejaan, tanda baca, pilihan kata.
2) Aspek penampilan dan sikap: kesungguhan, memikat pembaca, hati- hati, teliti, bijaksana, berani dan percaya diri.
Sementaraa itu Nurgiyantoro, 2010: 439, memaparkan bahwa
aspek yang dinilai dari tulisan atau karangan siswa dengan tema tertentu adalah sebegai berikut: (1) Kualitas isi karangan; (2) Keakuratan dan keluasan isi karangan; (3) Organisasi penulisan; (4) Kebermaknaan keseluruhan tulisan; (5) Ketepatan diksi; (6) Ketepatan kalimat; (7) Ejaan dan tata tulis; dan (8) Kelengkapan sumber rujukan.
Untuk mengukur keterampilan siswa dalam menulis, dalam evaluasi menulis dapat ditanyakan hal-hal seperti berikut ini.
1) Menguji kesesuaian antara subjek dan bentuk kata kerja dalam kalimat.
2) Menguji kesejajaran bentuk kata dalam kalimat.
3) Menguji pemakaian/penggunaan kata ganti, kata sifat, kata tambahan, gaya bahasa, ejaan dan tanda baca.
4) Menguji kemampuan menyusun isi karangan atau menyusun ulang kalamat/paragraf yang diacak tempatnya.
5) Mendaftar/mencatat.
6) Mengisi.
7) Menuliskan.
8) Melengkapi.
9) Membuat/menyusun
f. Indikator Kemampuan Menulis
Pembelajaran menulis, atau yang lebih dikenal dengan
“mengarang” termasuk kegiatan dalam pendidikan bahasa Indonesia yang rumit. Guru bahasa Indonesia sebagai contoh dalam kemahiran menulis agak langka dijumpai (Mariani, 2008: 1). Meskipun demikian guru bahasa Indonesia tetap memiliki kewajiban untuk melaksanakan apa saja yang digariskan dalam kurikulum. Oleh sebab itu untuk mendorong'siswa agar terlatih dan, terbiasa menggunakan bahasa tulis dalam karangannya, terkadang dijumpai tugas-tugas yang cukup sederhana, namun sangat berat dalam penyelesaiannya.
Dalam pembelajaran dan evaluasi yang berbasis kompetensi komunikatif, indikator kemampuan menulis masih perlu disesuaikan
dengan konteks komunikasi. Menurut Mariani (2008: 9). Indikator kemampuan menulis adalah: indikator mengurutkan; indikator mengembangkan; indikator memvariasikan /mengubah; serta indikator menyunting.
1) Indikator Mengurutkan
Indikator mengurutkan berkaitan dengan kemampuan mengorganisasikan ide dalam menulis. Indikator merngurutkan dalam tes menulis mencakup: (1) mengurutkan kata; (2) mengurutkan kalimat menjadi paragraf yang utuh dan kohesif; (3) mengurutkan tindak tutur dalam wacana tertentu; (4) mengurutkan paragraf menjadi wacana utuh; dan (5) mengurutkan ide dalam kerangkan karangan;
serta (6) mengurutkan tulisan.
2) Indikator Mengembangkan
Indikator mengembangkan berkaitan dengan kemampuan mengembangkan: (1) tema menjadi sub tema; (2) sub tema yang dipilih menjadi pernyataan, pernyataan menjadi tesis karangan; (3) tesis menjadi kerangka karangan; (4) kalimat topik menjadi paragraf.
3) Indikator memvariasikan/mengubah
Indikator mamvariasikan/mengubah ini berkaitan dengan kemampuan memvariasikan isi, bahasa, dan urutan wacana sesuai dengan konteks.
4) Indikator menyunting
Indikator menyunting dalam tes menulis mencakup menyuntingan bahasa, penyuntingan teknik (ejaan, tanda baca, dan sistematika), serta penyuntingan isi. Indikator menyunting dalam tes menulis masih dipecah-pecah lagi dalam indikator yang lebih kecil yakni: (1) menghilangkan bagian yang berlebih; (2) melengkapi yang seharusnya ada tetapi belum ada; (3) mengganti bagian yang tidak tepat: paragraf, kalimat atau kata; (4) memperbaiki: urutan, struktur, ejaan, tanda baca, sistematika, atau isi; (5) mengidentifikasi penggunaan bahasa/ejaan yang tidak tepat atau yang tepat.
g. Jenis Tes Kemampuan Menulis
Aktivitas menulis merupakan suatu bentuk manifestasi kompetensi berbahasa paling akhir dikuasai pembelajar bahasa setelah kompetensi mendengarkan, berbicara, dan membaca. Dibandingkan tiga kompetensi berbahasa lainnya, kompetensi menulis secara umum boleh dikatakan lebih sulit dikuasai (Nurgiyantoro, 2010: 422).
Penyelenggaraan tes kemampuaan (proficiency tesf) dimaksudkan untuk melakukan evaluasi terhadap tingkat kemampuan seseorang dalam suatu bidang atau keterampilan tertentu tanpa mengaitkannya dengan suatu program pembelajaran tertentu (Djiwandono, 2008: 89). Tes kemampuan menulis yang paling sering diberikan kepada siswa adalah tes dengan menyediakan tema atau sejumlah tema, dan ada kalanya sudah berupa judul yang harus dipilih salah satu diantaranya.
Sebagaimana hubungan antara kemampuan menyimak dan kemampuan membaca, yang sama-sama merupakan kemampuan bahasa pasif-reseptif, dengan rincian kemampuan yang mirip satu sama lain, demikian halnya dengan hubungan antara kemampuan berbicara dan kemampuan menulis (Djiwandono, 2008: 121).
Dilihat dari segi kompetensi berbahasa, menulis adalah aktivitas aktif produktif, aktivitas menghasilkan bahasa. Jenis tes menulis menurut Depdiknas (2002) adalah: (a) tes diskrit, integratif dan komunikatif; (b) tes performansi langsung dan tidak langsung; serta (c) tes objektif, subjektif, dan cloze.
Pertama: tes diskrit yaitu tes yang hanya mengukur satu aspek bahasa saja, seperti menulis. Aspek menulis itu dapat dipahami dan diteskan secara sendiri dan terpisah dari aspek bahasa yang lain karena setiap aspek itu diwakili unitnya. Dengan kalimat lain, tes diskrit merupakan tes bahasa yang secara analitis didasarkan pada pikiran bahwa hanya satu bagian dari kaidah-kaidah bahasa yang diteskan.
Tes integratif beranggapan bahwa kemampuan berbahasa secara keseluruhan harus dijaring dengan tes yang menyeluruh dan bukan melaluhtes yang terpisah-pisah. Dengan demikian tes dengan pendekatan integratif memperlakukan butir-butir kebahasaan dan keterampilan secara Keterpaduan tersebut dimaksudkan untuk menguji kemampuan siswa dalam menggunakan dua atau lebih keterampilan berbahasa secara simultan.
Sementara itu tes komunikatif merupakan tes prakmatik, yaitu suatu prosedur atau tugas yang menuntut siswa untuk menghasilan urutan-urutan unsur bahasa sesuai dengan penggunaan bahasa itu secara nyata dan sekaligus menuntut siswa untuk menghubungkan siswa untuk menghubungkan unsur-unsur bahasa dengan konteks ekstranlinguistik.
Dengan demikian, sesungguhnya tes komunikatif sejalan dengan tes integratif. Tes komunikatif menuntut siswa untuk menggunakan bahasa dalam berbagai keperluan komunikasi secara khusus.
Kedua: tes performansi langsung dan performansi tidak langsung. Tes performansi langsung lahir berdasarkan pendekatan performansi yang menganggap bahasa bukan sebagai sistem, tetapi bahasa sebagai action. Berdasarkan pendekatan tersebut belajar bahasa adalah belajar melaksanakan performansi berbahasa dalam berbagai konteks.
Dari pendekatan performansi tersebut muncullah tes performansi langsung .dan tes performansi tidak langsung. Tes performansi langsung merupakan jenis tes yang menuntut siswa untuk dapat menggunakan kompetensi berbahasanya secara serentak dan langsung untuk memahami maupun melakukan tindak komunikasi. Tes ini menuntut siswa untuk memahami dan menghasilkan wacana dalam berbagai konteks khusus baik secara tulis maupun lisan. Kelebihan jenis tes performansi langsung mencakup: (a) memiliki tingkat validitas konstruk yang sangat tinggi, (b) otentik, dan (c) memenuhi kriteria performansi yang tinggi. Sementara itu kelemahan jenis ter performasi langsung mencakup: (a) memerlukan
waktu yang banyak, (b) keajegan hasil pengukuran rendah, dan (c) memerlukan tenaga dan waktu yang banyak dari guru (korektor).
Tes menulis langsung menuntut siswa untuk menemukan, membatasi, mengembangkan, dan mengorganisasikan gagasannya secara terpadu dan utuh. Melalui tes menulis langsung ini siswa menggunakan berbagai keterampilan bahasanya untuk mengekspresikan gagasan yang telah dipilih. Tes langsung ini berupa tugas menulis dengan stimulus tertentu. Misalnya, menulis berdasarkan pengamatan objek/kegiatan tertentu, menulis dengan diberikan tema tertentu, menulis berdasarkan gambar seri yang disediakan, menulis berdasarkan informasi yang didengar, atau menulis berdasarkan buku.
Tes performansi tidak langsung termasuk tes komunikastif yang menuntut siswa dapat menggunakan dan memahami bahasa dalam konteks komunikasi yang terbatas (memahami atau menghasilkan bagian wacana tertentu). Dalam tes performansi tidak langsung keseluruhan keterampilan bawahan serentak diamati. Misalnya, tes untuk melengkapi ulasan buku yang belum mengandung banyak pernyataan tentang kelebihan/manfaat buku, tes untuk melengkapi iklan dengan kalimat ajakan yang sesuai dan seterusnya.
Kelebihan jenis tes performansi tidak langsung antara lain (a) memiliki tingkat objektivitas yang tinggi, (b) efisiensi dari segi waktu dan dana dalam pelaksanaan maupun pengoreksian. Sedangkan kelemahan tes tersebut dikaitkan dengan validitas konstruk yang tidak mencakup keseluruhan konstruk. Hal ini menyebabkan validitas konstruk tes secara empiris tidak tinggi, tetapi hanya cukup saja.
3. Hakikat Cerita Anak a. Pengertian Cerita Anak
Surumpaet (203:108) berpendapat cerita anak adalah cerita yang ditulis untuk anak dan berbicara mengenai kehidupan anak dan sekeliling
yang mempengaruhi anak serta cerita itu hanya dapat dinikmati oleh anak dengan bantuan dan pengarahan orang dewasa
Cerita anak adalah mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada disekitar atau ada di dunia anak, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah dipahami tetapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak (Purwanto, 2008:7).
Menurut Hunt (dalam Witakania,2008) mendefinisikan cerita anak sebagai buku bacaan yang dibaca secara khusus cocok untuk memuaskan sekelompok anggota yang kini disebut anak. Jadi cerita anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untuk dibaca anak-anak. Isi buku tersebut harus sesuai dengan minat dan dunia anak-anak, sesuai dengan tingkat perkembangan emosional dan intelektual anak, sehingga dapat memuaskan mereka.
Tarigan (1995:5) mendefinisikan bahwa cerita anak adalah buku yang menempatkan mata anak-anak sebagai pengamat utama, mata anak- anak sebagai fokusnya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa cerita anak adalah karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, kejadian dan sebagainya yang ditujukan untuk anak yang ceritanya sederhana namun kompleks dan komunikatif serta mengandung nilai moral bagi anak dan pantas dikonsumsi oleh anak-anak.
b. Ciri-ciri Cerita Anak
Riris K. Toha-Sarumpaet (1976: 29-32) secara khusus menuliskan adanya 3 (tiga) ciri yang dapat membedakan cerita anak-anak dengan cerita dewasa. Ciri-ciri tersebut berupa :
1) Unsur Pantangan
Unsur pantangan merupakan unsur-unsur yang berhubungan dengan segi isi cerita yang bersifat negatif yang tidak pantas untuk diketahui anak karena unsur-unsur tersebut dapat mempengaruhi
perkembangan jiwa anak kearah yang tidak baik. Hal atau unsur-unsur yang harus dihindari itu menyangkut persoalan-persoalan yang menyangkut masalah seks, cinta yang erotis, kekerasan atau kekejaman, kecurangan atau kelicikan, dan dendam yang menimbulkan kebencian. Apabila ada hal-hal buruk dalam kehidupan yang terpaksa harus diangkat dalam cerita anak-anak, misalnya tentang kemiskinan, kekejaman ibu tiri, dan perlakuan tidak adil pada tokoh protagonis, biasanya amanat lebih disederhanakan dengan cara memberikan kebahagiaan diakhir cerita.
2) Penyajian
Cerita anak harus disajikan secara langsung, tidak berbelit- belit. Dialog dalam cerita anak-anak sangat diperlukan karena dapat membantu pemahaman anak terhadap cerita yang disajikan. Dialog yang diucapkan atau dilakukan para tokoh cerita harus wajar dan hidup. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan harus singkat dan lugas, tidak menggunakan gaya bahasa yang biasa digunakan oleh orang dewasa. Perwatakan para tokoh digambarkan secara hitam putih. Artinya, setiap tokoh yang dihadirkan hanya mengemban satu sifat utama, yaitu tokoh baik atau buruk.
3) Fungsi Terapan
Cerita anak-anak pada umumnya memiliki fungsi terapan.
Artinya, cerita anak-anak disusun dengan mengemban misi pendidikan, pengetahuan, pertumbuhan anak, dan pengalaman tentang kehidupan. Fungsi terapan ditunjukan oleh unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam cerita. Dapat pula diketahui informasi-informasi yang perlu diketahui, misalnya : Cerita Asal Mula Kota Banyuwangi.
Memberi informasi tentang letak kota Banyuwangi; pengertian kata banyu dan wangi. Dalam cerita-cerita lain anak dapat memperoleh pengetahuan tentang sifat atau watak orang-orang dari suku-suku atau bangsa-bangsa lain, budaya dari berbagai daerah atau negara.
Melalui cerita juga anak dapat memperoleh kematangan emosi,intelektual, dan pengalaman-pengalaman tentang kehidupan.
c. Manfaat Cerita Anak
Cerita anak-anak (buku) dapat menjadi sahabat karib bagi anak- anak. Buku cerita anak-anak dapat dibaca pada saat sebelum tidur, pada waktu senggang atau pada waktu yang sengaja disediakan secara khusus.
Cerita yang bagus dapat memberikan pandangan tentang rasa percaya diri, rasa aman, tentram, sebagai anggota sebuah keluarga, anggota lingkungan sekolah atau masyarakat. Anak-anak dapat merasakan rasa cinta kasih yang terdapat dalam diri manusia, dia juga akan dapat menghayati kasih sayang yang diterimanya dari orang tuanya, saudara-saudaranya, guru-gurunya dan sesama temannya. Sebaliknya, ia juga akan menyadari kewajibannya untuk membalas segala kebaikan yang diberikan orang lain kepadanya. Dengan kata lain, cerita anak dapat menanamkan rasa peka dalam batinnya untuk bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk, menanamkan kesadaran tentang kebenaran dan keadilan, keberanian, kejujuran, kesetiaan, pengorbanan, dan kehormatan. Cerita anak-anak dapat membuka mata hati anak lebih jauh kedepan untuk melihat tujuan dan hakikat hidup yang sebenarnya. Nilai edukatif bisa mendidik anak akan rasa cinta tanah air dan bangsa, cinta seni, profesi, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Pada akhirnya, cerita anak akan membantu anak dalam memecahkan masalahnya sendiri.
Ditinjau dari segi bahasa, cerita anak-anak dapat memperkaya pembendaharaan kata anak-anak. Menjadikan anak terampil berbahasa secara lisan dan tulis. Anak-anak yang pandai berbicara atau menulis pada umumnya adalah anak-anak yang banyak membaca. Buku-buku cerita yang baik dapat membangkitkan semangat dan hasrat anak-anak untuk belajar. Melalui khayal yang ada pada diri anak dapat dibina dan diarahkan kepada tujuan-tujuan yang sehat.
Dari sebuah cerita, anak bukan saja dapat mengetahui perkara- perkara baru, tetapi juga dapat meningkatkan minatnya terhadap hal-hal
baru. Dalam waktu-waktu senggang buku cerita dapat dijadikan sebagai hiburan, yang bukan saja menciptakan suasana santai bagi diri anak, melainkan juga dapat memberi kepuasan dan kesenangan kepada anak.
Manfaat lain yang dapat dirasakan yaitu:
1) Kemampuan Berbahasa Meningkat
Kemampuan berkomunikasi seseorang dipenguhi oleh kemampuan berbahasanya sejak kecil. Oleh karena itu, dengan membacakan cerita kepada anak dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasanya. Saat dibacakan cerita, anak-anak akan mendengar beragam kosakata, istilah, struktur kalimat, ungkapan dan peribahasa. Terkadang didalam cerita ada kata yang belum dimengerti anak. Saat itulah orang tua bisa menjelaskan arti dan penggunaan kata-kata baru tersebut pada anak. Pengenalan terhadap beragam elemen bahasa inilah yang akan meningkatkan kemampuan barbahasanya.
2) Kemampuan Mendengarkan Meningkat
Sebuah penelitian di London, menemukan bahwa 2 dari 3 anak usia dini menginginkan waktu yang lebih banyak untuk mendengar dongeng sebelum tidur. Penelitian tersebut juga memperlihatkan lebih dari 75% anak ingin orang tua mereka yang membacakannya. Saat dibacakan cerita yang menarik, perhatian anak-anak akan tersedot pada cerita itu. Dengan mendengarkan, anak belajar bagaimana sebuah kata diucapkan. Ketika mendengar menjadi sebuah kebiasaan, maka dengan sendirinya anak juga belajar berkonsentrasi dan melatih kemampuan logikanya.
3) Kemampuan Berkomunikasi Verbal Meningkat
Topik yang menarik pada cerita dapat memancing anak untuk membahasnya. Dialog yang terjadi antara anak dan orang tua pada saat membacakan cerita merupakan pengalaman anak dalam berkomunikasi verbal. Dari pengalamannya ia akan belajar bagaimana bertanya, menanggapi, dan mengungkapkan pendapat.
Oleh karea itu, saat membacakan cerita perlu mrngusahakan agar terjadi komunikasi dua arah. Jangan biarkan anak anak pasif mendengarkan saja sepanjang membacakan cerita. Selingi dengan pertanyaan-pertanyaan ringan yang berhubungan dengan alur cerita atau menggantung kalimat untuk sekedar memancing komentar anak.
4) Kemampuan Konseptual Meningkat
Dongeng dapat memperkenalkan anak pada konsep-konsep baru. Bahkan melalui dongeng, konsep abstrak seperti hormat, sayang dan tolong menolong dapat dimengerti anak. Kemampuan konseptual anak kemudian akan berpengaruh pada kemampuan anak dalam menyikapi konsep-konsep yang ditemuinya.
5) Kemampuan Memecahkan Masalah Meningkat Selain Dari Pengalaman Langsung
Anak-anak dapat juga belajar dari cerita. Semakin banyak cerita yang didengarkannya, semakin banyak pengetahuan anak.
Cerita yang dituturkan membuat anak belajar berbagai kejadian, memahami berbagai karakter tokoh, mengerti sebab akibat. Hal ini dapat memperluas pengetahuan dan mempertajam logika anak.
Dengan pengetahuan yang luas dan kemampuan logika yang baik, anak dapat mengatasi masalahnya sendiri sesuai dengan usianya.
6) Daya Imajinasi Dan Kreativitas
Cerita anak memiliki ruang imajinasi yang lebih luas dari pada cerita untuk usia remaja dan dewasa. Berbagai adegan terasa menegangkan, berbagai karakter dapat saja muncul, berbagai keajaiban pun bisa datang. Saat cerita dibacakan, imajinasi anak akan berjalan sesuai dengan jalan cerita. Imajinasi-imajinasi dalam cerita inilah yang dapat memancing imajinasi anak. Imajinasi anak dapat menumbuhkan jiwa petualang, mendorong anak untuk memandang dunia sebagai tempat yang mengasyikan.
Pengembangan daya imajinasi ini penting sebagai dasar pengembangan kreativitas anak.
7) Kecerdasan Emosi (EQ) Meningkat
Daniel Goleman, seorang ahli psikologi melakukan penelitian mengenai kecerdasan emosi menyatakan bahwa 80% keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20% ditentukan oleh kecerdasan otak. Karakter dalam cerita anak dapat mengetahui apa yang dimaksud sedih, gembira, marah, takut, bingung dan lain-lain. Bukan hanya dari penampakan visual yang menggambarkan emosi tersebut tapi juga penyebab mengapa orang merasakan, mengendalikan, mengekspresikan dan mengenali emosi tertentu.
8) Nilai Moral Bertambah
Cerita yang baik bermuatan nilai moral. Bahkan ajaran moral menjadi inti dari cerita yang disampaikan. Biasanya cerita anak menyisipkan nilai moralseperti penghargaan terhadap teman, penghormatan kepada orang tua, menolong sesama, etika bermasyarakat dan lain-lain. Tentu saja nilai-nilai moral tersebut disampaikan sesuai dengan tahapan perkembangan dan pemahaman anak. Melalui cerita orang tua dibantu untuk mengajarkan pesan- pesan moral dengan cara yang menyenangkan, tidak memaksa dan mengintimidasi. Dari beberapa cerita yang pesan moralnya tidak diungkap secara gamblang, orang tua dapat membantu anak menemukan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Orang tua juga dapat menyisipkan beberapa pesan moral lain yang relevan dengan jalan cerita.
9) Wawasan Bertambah
10) Pengetahuan Ragam Budaya Bertambah 11) Mendapatkan Reaksi Jiwa Dan Raga
Saat sebelum tidur adalah waktu yang tepat untuk membacakan dongeng. Dongeng dan kenyamanan merupakan
kombinasi yang mampu membuat anak mampu mendapatkan relaksasi jiwa dan raga. Hasil penelitian menunjukan bahwa anak yang dibacakan dongeng sebelum tidur dapat tidur lebih nyenyak.
Kualitas tidur yang baik, termasuk pada anak akan mempengarugi kesiapan mental dan kesegaran fisik pada esok paginya ketika bangun.
12) Keakraban Emosi Antara Orang Tua dan Anak
Keakraban emosi antara orang tua dan anak dapat meningkat dengan membacakan cerita. Saat membacakan cerita, orang tua cenderung berada di samping anak, mengadakan kontak fisik seperti memeluk atau membelai kepala anak. Kontak fisik yang terjadi membuat anak merasa nyaman dan akrab dengan orang tuanya. Saat membaca cerita terjadi interaksi, transfer nilai, pemahaman dan kesepakatan bersama yang membuat anak merasa dekat secara emosional dengan orang tuanya.
d. Jenis-jenis Cerita anak
Cerita dapat dikelompokan berdasarkan tujuan atau fungsi cerita, kelompok usia anak, atau sifat cerita itu sendiri. Untuk keperluan SD maka pengelompokan cerita anak-anak didasarkan atas perkembangan jiwa sesuai dengan usia anak.
Anak-anak SD dikelompokan pada usia antara 6-13 tahun. Apabila dikelompokan berdasarkan jenjang kelas maka mereka terkelompok menjadi kelompok anak kelas rendah dan kelompok anak kelas tinggi berusia 10-13 tahun.
Perkembangan jiwa anak-anak usia 6-9 tahun berada pada tahap imajinasi dan fantasi yang tinggi sehingga cerita-cerita yang disenangi oleh anak-anak usia ini adalah cerita-cerita yang mengandung daya khayali atau fantasi. Cerita-cerita seperti ini tergolong kedalam jenis dongeng. Anak juga menyenangi cerita-cerita yang tokoh-tokohnya diambil dari dunia binatang.
Pada usia 10-13 tahun anak mulai meninggalkan fantasi-fantasi dan mengarah kecerita-cerita nyata atau realistis, meskipun pandangannya tentang dunia ini masih sangat sederhana. Anak usia 13 tahun ada yang sudah benar-benar meninggalkan dunia fantasi. Mereka mulai berusaha mengetahui dan mengamati faktor-faktor yang ada dalam kehidupan nyata. Cerita-cerita yang disenangi anak-anak kelompok ini berupa cerita- cerita tentang kepahlawanan, petualangan, detektif, dan cerita-cerita tentang drama kehidupan. Jenis cerita lain yang disenangi anak-anak usia SD, baik kelas rendah maupun kelas tinggi adalah cerita yang mengandung humor atau hiburan.
Jenis-jenis cerita yang cocok untuk anak-anak usia SD dapat dikelompokan kedalam :
1) Cerita Jenaka
Cerita jenaka merupakan cerita yang mengungkapkan hal ihwal atau tingkah laku seorang tokoh yang lucu. Kebodohan yang diungkapkan dapat berupa karena kebodohan sang tokoh dapat pula karena kecerdikannya. Cerita yang di sebabkan karena kebodohan sang tokoh misalnya: cerita “Pak Belalang”, “Pak kodok”, dan cerita- cerita sejenisnya. Kelucuan yang disebabkan karena kecerdikan sang tokoh misalnya : cerita “Abu Nawas”, “Nassaruddin”, “Kabayan”.
2) Dongeng
Dongeng adalah cerita yang didasari atas angan-angan atau hayalan. Di dalam doneng terkandung cerita yang menggambarkan sesuatu diluar dunianyata, seperti bebek bertelur emas, peri yang baiak hati,dan sebagainya. Kisah-kisah seperti ini dapat ditemukan pada cerita “ Ketimun Emas “,” Tongkat Ajaib “, “ Cinderela “, “ Dewi Sri
“ yang di kisahkan sang Dewi menolak di peristri oleh Batara Guru.
Dewi Sri meninggal ketika dimakamkan dari jenazahnya tumbuh pohon padi, dari kepala tumbuh pohon kelapa dan dari giginya tumbuh pohon jagung.
3) Fabel
Febel adalah cerita yang menampilkan hewan-hewan sebagai tokoh-tokohnya. Didalam fabel, para hewan atau binatang digambarkan sebagaimana layaknya manusia yang dapat berpikir, bereaksi, dan berbicara. Fabel mengandung unsur mendidik karena diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang mengandung ajaran moral.
Contoh fabel yaitu: “Kancil dan Buaya”,” sikancil dengan kura-kura”, dia memiliki akal yang cerdik yang dapat mengelabui kura-kura.
Menurut (Swyer Dar Comer 1991 : 78-79) fabel adalah cerita yang digunakan untuk mendidik moral. Kebanyakan febel menggunakan tokoh-tokoh binatang, ada yang munggunakan manusia atau dengan benda mati sebagai tokoh.
4) Legenda
Legenda adalah cerita yang berasal dari zaman dahulu. Cerita legenda bertalian dengan sejarah yang sesuai dengan kenyataan yang ada pada alam atau cerita tentang terjadinya suatu negeri, danau atau gunung.
Dalam bukunya (tradisi lisan jawa, 2005 : 164), suwardi memaparkan bahwa legenda adalah cerita asal-usul suatu tempat dengan ditandainya tokoh makhluk superior. Jadi, legenda artinya suatu cerita yang dianggap benar oleh masyarakat, kebenaran itu dianggap sebagai kebenaran dari segi sejarah atau kepercayaan semata-mata.
Contoh cerita “Malin Kundang”, “Batu Menangis”,
“Sangkuriang”, “Asal Usul Kota Surabaya”, “Wali Songo” (legenda keagamaan). Mereka adalah manusia biasa, tokoh yang memang benar-benar ada, akan tetapi dalam uraian ceritanya ditampilkan sebagai figur-figur yang memilik kesaktian. Kesaktian yang mereka miliki digambarkan diluar batas-batas manusia biasa.
5) Mitos
Mitos merupakan cerita yang berkaitan dengan kepercayaan kuno, menyangkut kehidupan dewa-dewa atau kehidupan makhluk halus.
Mitos adalah cerita yang mengandung unsur-unsur misteri, dunia ghaib dan alam dewa. Tokoh-tokoh mitos mengandung kekuatan yang hebat dan memiliki kekuatan ghaib. Tokoh-tokoh ini bukan saja terdiri atas manusia, tetapi juga dewa-dewa dan makhluk ghaib.
Menurut Bascom (via Danandjaja,1986:50) mitos adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empunya cerita. Mitos tokohnya para dewa. Peristiwa terjadi didunia lain, atau di dunia yang bukan seperti kita kenal sekarang, dan terjadi di masa lampau. Karena itu, dalam mitos sering ada tokoh pujaan yang dipuji dan atau sebaliknya, ditakuti.
4. Hakikat Media Video a. Pengertian Media Video
Media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar (Mufarokah, 2009:104).
Munir (2015: 18) Mengemukakan bahwa video adalah alat atau media yang dapat menunjukan simulasi benda nyata. Sebagai media digital yang menunjukan susunan atau urutan gambar-gambar bergerak.
Video juga dapat diartikan teknologi penangkapan, perekaman, pengolahan, penyimpanan, pemindahan urutan gambar diam dengan menyajikan adegan-adegan dalam gerak secara elektronik. Video merupakan gambar bergerak, jika obyek pada animasi adalah buatan, maka obyek pada video adalah nyata.
Menurut Agnew dan Kellerman (dalam Munir, 2015: 290) video adalah sebagain media digital yang menunjukan susunan atau urutan gambar-gambar dan memberikan ilusi, gambaran serta fantasi pada gambar yang bergerak. Video juga bisa dikatakan sebagai gabungan gambar-gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan kecepatan tertentu.
Media Video adalah seperangkat alat yang dapat memproyeksikan gambar bergerak bersuara. Paduan antara gambar dan suara membentuk karakter sama dengan objek aslinya (Sanaky, 2013: 119). Menurut Riyana (2007: 25) media video pembelajaran adalah media yang menyajikan audio dan visual yang berisi pesan-pesan pembelajaran baik yang berisi konsep, prinsip, prosedur, teori aplikasi pengetahuan untuk membantu pemahaman terhadap suatu materi pembelajaran. Video merupakan bahan pembelajaran tampak dengar (audio visual) yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan/materi pelajaran
Menurut Arsyad (2004: 36) media video pembelajaran dapat digolongkan kedalam jenis media audio visual aids (AVA) atau media yang dapat dilihat dan didengar. Biasanya media ini disimpan dalam bentuk piringan atau pita. Media VCD adalah media dengan sistem penyimpanan dan perekam video dimana signal audio visual direkam pada disk plastic bukan pada pita magnetic.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media video merupakan salah satu jenis media audio-visual dan dapat menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara alamiah atau suara yang sesuai. Video menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep yang rumit, mengajarkan keterampilan, menyingkat atau memperpanjang waktu, dan mempengaruhi sikap.
b. Karakteristik Media Video
Krakteristik media video pembelajaran menurut Menurut Riyana (2007:8-11) untuk menghasilkan video pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi dan efektivitas penggunanya maka pengembangan
video pembelajaran harus memperhatikan karakteristik dan kriterianya.
Karakteristik video pembelajaran yaitu:
1) Clarity of Massage (kejalasan pesan)
Dengan media video siswa dapat memahami pesan pembelajaran secara lebih bermakna dan informasi dapat diterima secara utuh sehingga dengan sendirinya informasi akan tersimpan dalam memory jangka panjang dan bersifat retensi.
2) Stand Alone (berdiri sendiri)
Video yang dikembangkan tidak bergantung pada bahan ajar lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar lain.
3) User Friendly (bersahabat/akrab dengan pemakainya)
Media video menggunakan bahasa yang sedehana, mudah dimengerti, dan menggunakan bahasa yang umum. Paparan informasi yang tampil 23 bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon, mengakses sesuai dengan keinginan.
4) Representasi Isi
Materi harus benar-benar representatif, misalnya materi simulasi atau demonstrasi. Pada dasarnya materi pelajaran baik sosial maupun sain dapat dibuat menjadi media video.
5) Visualisasi dengan media
Materi dikemas secara multimedia terdapat didalamnya teks, animasi, sound, dan video sesuai tuntutan materi. Materi-materi yang digunakan bersifat aplikatif, berproses, sulit terjangkau berbahaya apabila langsung dipraktikkan, memiliki tingkat keakurasian tinngi.
6) Menggunakan kualitas resolusi yang tinggi
Tampilan berupa grafis media video dibuat dengan teknologi rekayasa digital dengan resolusi tinggi tetapi support untuk setiap sistem komputer.
7) Dapat digunakan secara klasikal atau individual
Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan karakteristik media video dapat digunakan oleh para siswa secara individual, tidak hanya dalam setting sekolah, tetapi juga dirumah.
Dapat pula digunakan secara klasikal dengan jumlah siswa maksimal 50 orang bias dapat dipandu oleh guru atau cukup mendengarkan uraian narasi dari narator yang telah tersedia dalam program.
c. Tujuan Penggunaan Media Video dalam Pembelajaran
Anderson, (1987: 104) mengemukakan tentang beberapa tujuan dari pembelajaran menggunakan media video yaitu mencakup tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiga tujuan ini dijelaskan sebagai berikut:
1) Tujuan Kognitif
a) Dapat mengembangkan kemampuan kognitif yang menyangkut kemampuan mengenal kembali dan kemampuan memberikan rangsangan berupa gerak dan sensasi.
b) Dapat mempertunjukkan serangkaian gambar diam tanpa suara sebagaimana media foto dan film bingkai meskipun kurang ekonomis.
c) Video dapat digunakan untuk menunjukkan contoh cara bersikap atau berbuat dalam suatu penampilan, khususnya menyangkut interaksi manusiawi.
2) Tujuan Afektif
Dengan menggunakan efek dan tekhnik, video dapat menjadi media yang sangat baik dalam mempengaruhi sikap dan emosi.
3) Tujuan Psikomotorik
a) Video merupakan media yang tepat untuk memperlihatkan contoh keterampilan yang menyangkut gerak. Dengan alat ini diperjelas baik dengan cara memperlambat ataupun mempercepat gerakan yang ditampilkan.
b) Melalui video siswa langsung mendapat umpan balik secara visual terhadap kemampuan mereka sehingga mampu mencoba keterampilan yang menyangkut gerakan tadi.
Melihat beberapa tujuan yang dipaparkan di atas, sangatlah jelas peran video dalam pembelajaran. Video juga bisa dimanfaatkan untuk hampir semua topik, model - model pembelajaran, dan setiap ranah:
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pada ranah kognitif, siswa dapat mengobservasi rekreasi dramatis dari kejadian sejarah masa lalu dan rekaman aktual dari peristiwa terkini, karena unsur warna, suara dan gerak di sini mampu membuat karakter berasa lebih hidup. Selain itu dengan melihat video, setelah atau sebelum membaca, dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap materi ajar. Pada ranah afektif, video dapat memperkuat siswa dalam merasakan unsur emosi dan penyikapan dari pembelajaran yang efektif. Pada ranah psikomotorik, video memiliki keunggulan dalam memperlihatkan bagaimana sesuatu bekerja, video pembelajaran yang merekam kegiatan motorik/gerak dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengamati dan mengevaluasi kembali kegiatan tersebut.
Sebagai bahan ajar non cetak, video kaya akan informasi untuk diinformasikan dalam proses pembelajaran karena pembelajaran dapat sampai ke peserta didik secara langsung. Selain itu, video menambah dimensi baru dalam pembelajaran, peserta didik tidak hanya melihat gambar dari bahan ajar cetak dan suara dari program audio, tetapi di dalam video, peserta didik bisa memperoleh keduanya, yaitu gambar bergerak beserta suara yang menyertainya.
d. Manfaat Penggunaan Media Video dalam Pembelajaran
Manfaat media video menurut Munir (2015 : 287), antara lain : 1) Memberikan pengalaman yang tak terduga kepada peserta didik.
2) Memperlihatkan secara nyata sesuatu yang pada awalnya tidak mungkin bisa dilihat.
3) Menganalisis perubahan dalam periode waktu tertentu.
4) Memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk merasakan suatu keadaan tertentu.
5) Menampilkan presentasi studi kasus tentang kehidupan sebenarnya yang dapat memicu diskusi peserta didik.
Berdasarkan penjelasan di atas, keberadaan media video sangat tidak disangsikan lagi di dalam kelas. Dengan video siswa dapat menyaksikan suatu peristiwa yang tidak bisa disaksikan secara langsung, berbahaya, maupun peristiwa lampau yang tidak bisa dibawa langsung ke dalam kelas. Siswa pun dapat memutar kembali video tersebut sesuai kebutuhan dan keperluan mereka. Pembelajaran dengan media video menumbuhkan minat serta memotivasi siswa untuk selalu memperhatikan pelajaran.
e. Penggunaan Media Video di Kelas
Ada 2 macam video sebagai pembelajaran. Pertama, video yang sengaja dibuat atau didesain untuk pembelajaran. Video ini dapat menggantikan guru dalam mengajar. Video ini bersifat interaktif terhadap siswa. Hal inilah yang menjadikan video ini bisa menggantikan peran guru dalam mengajar. Video semacam ini bisa disebut sebagai “video pembelajaran”. Guru yang menggunakan media video pembelajaran semacam ini dapat menghemat energi untuk menjelaskan suatu materi kepada siswa secara lisan. Peran guru ketika memilih menggunakan media pembelajaran ini hanyalah mendampingi peserta didik, dan lebih bisa berperan sebagai fasilitator. Selain dilengkapi dengan materi, video pembelajaran juga dilengkapi dengan soal evaluasi, kunci jawaban, dan lain sebagainya sesuai dengan kreatifitas yang membuatnya. Biasanya satu video berisi satu pokok bahasan.
Kedua, video yang tidak didesain untuk pembelajaran, namun dapat digunakan atau dimanfaatkan untuk menjelaskan sesuatu hal yang berkaitan dengan pembelajaran. Misalnya video tari-tarian daerah.
Dengan menggunakan video ini siswa dapat melihat secara jelas bagaimana model sebuah tarian. Contoh lain adalah video terjadinya