TESIS Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Magister Dalam Bidang Ilmu Agama Islam

224  11  Download (0)

Teks penuh

(1)

AL- H I KM AH D ALAM P ERSPEKTI F AL- QUR' AN

D AN AKTU ALI SASI N YA D ALAM PEN GAM BI LAN KEBI JAKAN PU BLI K

TESIS Diajukan

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Magister Dalam Bidang

Ilmu Agama Islam

Oleh : Jazim Hamidi

NPM : 02.2.00.1.05.01.0038.

KONSENTRASI TAFSIR-HADIS

SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

ii

PERSETUJUAN DEWAN PENGUJI

Tesis dengan judul : " AL-HIKMAH DALAM AL-QUR'AN DAN AKTUALISASINYA DALAM PENGAMBILAN KEBIJAKAN PUBLIK ", yang ditulis oleh Jazim Hamidi, dengan Nomor Pokok Mahasiswa : 02.2.00.1.05.01.0038, telah diajukan dan dipertahankan

di hadapan dewan penguji pada hari Kamis, tanggal 4 Oktober 2007 M ( 23 Ramadhan 1428

H ) dan telah disempurnakan sebagaimana mestinya. Selanjutnya, tesis ini dapat diterima

sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata Dua.

NO N A M A TGL TTD

1. Dr. Sri Mulyati, MA ( Ketua Sidang / Penguji )

2. Prof. Dr. Masykuri Abdillah, MA ( Penguji )

3. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA ( Penguji )

4. Dr. Faizah Ali Syibromalisi, MA ( Pembimbing / Penguji )

(3)

iii

SURAT PERNYATAAN

Tesis yang berjudul " AL-HIKMAH DALAM AL-QUR'AN DAN AKTUALISASINYA DALAM PENGAMBILAN KEBIJAKAN PUBLIK " ini, adalah hasil karya saya sendiri kecuali kutipan yang disebutkan sumbernya

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Dan apabila terdapat kesalahan

dan kekeliruan dalam tulisan ini, maka hal itu menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya.

Jakarta, 3 Januari 2008 Penulis

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang telah menganugerahkan kepada manusia

potensi-potensi dasar agar mampu bersyukur kepada-Nya, yakni dengan senantiasa

mengasahnya sehingga mampu memahami dan mengamalkan ayat-ayat Allah demi

kemaslahatan umat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi

Muhammad SAW., keluarga, para sahabat, serta seluruh pengikut setianya sampai hari

kiyamat.

Tesis dengan judul AL-HIKMAH DALAM AL-QUR'AN DAN

AKTUALISASINYA DALAM PENGAMBILAN KEBIJAKAN PUBLIK ini adalah

dimaksudkan untuk mengungkap makna penting Al-Hikmah yang sering kali disalahartikan

atau disalahpahami, yang justru menghilangkan makna pentingnya sebagai hukum

kemasyarakatan.

Penelitian ini bukanlah akhir perjalanan akademis penulis tapi justru ini merupakan

titik awal untuk melakukan kajian kajian lain di bidang keagamaan yang lebih berbobot.

Dalam proses penulisan tesis ini, penulis merasa berhutang budi kepada semua pihak

yang telah mengulurkan bantuan, baik moril maupun materiil, sehingga penyusunan tesis ini

dapat selesai dengan baik. Oleh karena itu, penulis perlu menyampaikan rasa terima kasih

yang setulus-tulusnya secara khusus kepada :

1. Bapak Direktur Pascasarjana dan Ketua Program Studi Tafsir Hadis, yang telah

memberikan arahan dan bimbingan selama penulis melakukan studi di Pascasarjana

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Bapak Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, MA selaku ketua konsentrasi tafsir Hadis di

Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, atas motivasi dan dukungan tiada hentinya

yang diberikan kepada penulis, sehingga bisa diselesaikannya tesis ini.

3. Ibu Dr. Faizah Ali Syibromalisi, MA. Yang telah memberikan arahan, nasehat dan

bimbingan serta koreksian terhadap tesis ini sehingga dapat terselesaikan dengan

baik.

4. Ibu Dr. Sri Mulyati, MA, Bapak Prof. Dr. Masykuri Abdillah, Bapak Prof. Dr.

Ahmad Thib Raya, MA. Sebagai dewan penguji, yang telah memberikan koreksian

(5)

v

5. Bapak Pimpinan perpustakaan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan perpustakaan

ICC Jakarta yang telah memberikan banyak waktu, yang memungkinkan penulis bisa

memperoleh referensi yang diinginkan.

6. Para dosen, khususnya dilingkungan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

yang telah memberikan informasi-informasi ilmiah yang sangat bermanfaat bagi

penulis.

7. Kepada Direktur L-SiQ ( Lingkar Studi al-Qur'an ), Dr. Ahmad Husnul Hakim, MA.

Yang banyak memberikan masukan atas tulisan ini, sehingga penulis bisa

menyeleseikannya sampai ahir.

8. Kepada para dermawan yang telah memberikan beasiswa kepada penulis pada

program pasca sarjana UIN SYAHID Jakarta, terutama kepada ( alm.) KH. Masyhuri

Syahid, MA., ( alm ) Dr. Tjipto Sumartono MSc. Sp.B.Onk. (Taghammadahumâ

Allâh bi rahmatihî wa as-salâmah).

9. Kepada semua pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu, khususnya

kepada kedua orang tua penulis, ayahanda kami (Alm) Saeful Islam dan ibunda

Wasilah.yang telah memberikan bimbingan pertama dan utama, hingga penulis bisa

menyeleseikan studinya. Juga kepada kakanda tercinta Drs. Nur Rofiq, MA., Siti

Sa'adah dan adinda Muhammad Arwani yang selalu memberingan dorongan dan

semangat penulis untuk menimba ilmu pengetahuan.

8. Dan tentu tidak mungkin penulis lupakan, peran aktif istri tercinta, Fatimatuzzahra,

dan buah hati kami tercinta Iffa Madania Hamid yang secara tulus dan tanpa kenal

lelah mendampingi penulis selama melaksanakan studi, juga proses penulisan tesis

ini.

Akhirnya, sebagai kajian ilmiah, penulis sangat menyadari keterbatasan kemampuan

penulis, oleh karenanya penulis sangat berharap adanya kritikan yang kontruktif agar

kajian ini tidak kehilangan nilai-nilai kebenarannya. Dan kepada semua pihak yang telah

membantu penulis, baik moril maupun materiil, penulis hanya bisa mendo'akan semoga

Allah memberikan balasan yang setimpal. Jazâhum Allâh ahsan al-jazâ'. Amin.

(6)

vi

Husus lafazh ﷲا artikel لا tidak ditulis al, melainkan ditulis sebagaimana

(7)

vii

ABSTRAKSI

Kata hikmah adalah lafald yang sudah dikenal secara luas oleh masyarakat. Dalam

percakapan sehari-hari, kita sering mendengar komentar , " Semua itu ada hikmahnya.. ",

untuk merespons suatu kejadian. Kata hikmah pada kalimat tersebut mempunyai makna

faedah dari sebuah peristiwa. Atau hikmah diartikan juga dengan kesaktian ( kekuatan gaib )

sebagaimana yang terdapat di dalam Kamus besar Bahasa Indonesia. Namun bila dikaitkan

dengan pengertian lafal al-hikmah yang tertuang dalam al-Qur'an, kedua pengertian tersebut

tidaklah tepat makna.

Sesuai dengan makna dasarnya ( hakamah ), lafal al-hikmah yang tertuang di dalam

al-Qur'an lebih mengacu kepada makna bagaimana mengendalikan sesuatu, mengatur sesuatu

termasuk di dalamnya mengatur diri dan orang lain serta mencegahnya dari berberbuat

kerusakan dan kezaliman. Maka tugas hukûmah ( government ) yang seakar dengan kata

al-hikmah, mempunyai fungsi mengatur dan mengelola pemerintahan dan tidak kalah

pentingnya bagaimana mengambil kebijakan publik yang dilandasi nilai-nilai al-hikmah .

Dengan melihat redaksi-redaksi yang digunakan Qur'an untuk menjelaskan lafal

al-hikmah, bisa diketahui bahwa hikmah mempunyai dua sifat pokok dari perspektif cara

perolehannya, yaitu hudhûriyy ( knowledge by presence ) dan hushûliyy (acquired knowledge

- kasbiyy ).

Hudhûriyy artinya hikmah merupakan anugerah yang Allah berikan kepada hamba-Nya,

yang secara langsung menukik pada esensi ( dzât ) obyek yang diketahui dan terbebar (

secara langsung ) pada diri subyek, baik melalui media wahyu maupun ilham. Hushûliyy

artinya pengetahuan yang eksisitensi obyek tidak secara langsung terbebar atau tersaksikan

oleh subyek, tetapi subyek menangkapnya melalui perantara ( santiran konseptual - akal )

yang merepresentasikan obyek ( peran aktif subyek )..

Namun demikian bukan berarti hikmah yang bersifat hudhûriyy diperoleh tanpa

melalui perantara konseptual, dalam arti tanpa ada upaya aktif subyek. Hal itu dibuktikan

dengan hadirnya wahyu pertama kali ( iqra' ), didahului oleh upaya Nabi saw untuk

ber-tahannuts di gua Hirâ' sehingga wahyu dari Allah turun kepadanya. Demikian juga

(8)

viii

akal sangat dominan, akan tetapi pengetahuan yang pertama kali ditangkap oleh akal bersifat

hudhûriyy alias pemberian dari Allah swt. Hal ini dibuktikan ketika Nabi Adam as bisa

mengetahui dan menyebutkan nama-nama obyek di alam semesta ini adalah ta'lîm dari Allah

swt.

Dalam konteks hikmah yang dikaitkan dengan pengambilan kebijakan publik, agar

dapat diperoleh kebijakan-kebijakan yang benar, tepat guna dan tepat sasaran yang

mengedepankan keadilan sosial bagi seluruh rakyat ( Indonesia ), maka sebagai pihak yang

mempunyai wewenang dalam tata kelola pemerintahan, pemerintah harus berupaya secara

optimal untuk merumuskan kebijakan, menyusunnya sesuai dengan skala prioritas, dan

mengelola kebijakan secara integral dengan menjadikan nilai-nilai al-hikmah sebagai

landasan dalam setiap langkahnya, termasuk melakukan doa ( istikhârah ) sehingga

melahirkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan umatdan kebijakan yang berkeadilan

(9)

ix

DAFTAR ISI

PERSETUJUAN DEWAN PENGUJI ii

SURAT PERNYATAAN iii

KATA PENGANTAR iv

PEDOMAN TRANSLITERASI vi ABSTRAKSI vii

DAFTAR ISI ix

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1

B. Perumusan dan Pembatasan Masalah 15

C. Tujuan dan Signifikansi Penulisan 15

D. Metode dan Langkah-Langkah Penelitian 17

E. Sistematika Pembahasan 20

BAB II : TINJAUAN UMUM MAKNA AL-HIKMAH A. Pengertian al-Hikmah dalam Literatur Arab 21 B. Pengertian Lafal-Lafal al-Hikmah dalam al-Qur'an 29

1. Kelompok Ayat-Ayat Makkiyyah 33

2. Kelompok Ayat-Ayat Madaniyyah 48 3. Spirit Makna al-Hikmah Berdasarkan Periodesasinya 59

C Unsur-Unsur yang Membentukal-Hikmah 61 1 Keadilan ( Al-Adl) 62 2. Ilmu Pengetahuan ( Al-Ilm ) 68

(10)

x

5. Matang ( Ar-Rusyd) 77

6. Adil (Al-Qisth ) 81

BAB III : HAKEKAT AL-HIKMAH DALAM AL-QUR'AN DAN ASPEK-ASPEK YANG TERKAIT DENGAN MAKNANYA A. Hakekat al-Hikmah dalam al-Qur'an 86

1. Ilmu Hudhûriyy 87

- Melalui Wahyu 89

- Melaui Ilham ( Intuisi Positif ) 94 2. Ilmu Hushûliyy 102

B. Aspek-Aspek yang Terkait Dengan Makna al-Hikmah 116

1. Aspek Ibadah 117

2. Aspek Mu'âmalah : 127

a. Aspek Sosial 128

b. Aspek Pendidikan 138

c. Aspek Ekonomi 149

d. Aspek Politik 158

(11)

xi

B. Harapan-harapan yang ingin dicapai dari Kebijakan yang

Dilandasi al-Hikmah 190

1. Tercapainya Keadilan dan Kesejahteraan 191 2. Terciptanya Stabilitas Nasional 193 3. Terwujudnya Masyarakat Madani 196

BAB V : KESIMPULAN 203

DAFTAR PUSTAKA 206

(12)

1

BAB I PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH

Al-Qur'an adalah wahyu yang orisinalitasnya mendapat garansi langsung dari

Allah swt.1 Sebagai sebuah kitab suci, al-Qur'an diturunkan oleh Allah swt sebagai

guidance ( hudan ) bagi manusia agar bisa keluar dari kondisi kegelapan ( zhulumât )

menuju cahaya ( nûr ).2 Dengan demikian al-Qur'an bisa dikatakan sebagai kitab

pedoman hidup bagi manusia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan

di alam baka.

Kandungan al-Qur'an mencakup berbagai aspek kehidupan umat manusia,

walaupun terkadang tidak disajikan secara mendetail dan sistematis layaknya sebuah

karya ilmiah. Pembahasan berbagai aspek kehidupan di dalam al-Qur'an, dimaksudkan

agar manusia menyadari akan eksistensi dirinya, untuk apa dia diciptakan dan dihadirkan

ke dunia ini dan juga sebagai sarana untuk mengakui akan adanya realitas tunggal Yang

Maha Kuasa atas segala yang kuasa.3

1

Lihat QS. Al-Hijr / 15 : 9. " Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Qur'an dan Kami pula yang menjaganya ". Bentuk penjagaan Allah di dalam ayat ini diungkapkan dalam redaksi jama' ( Mutakallim ma' al-ghair ). Hal ini bisa dipahami bahwa penjagaan atau pemeliharaan tersebut melibatkan pihak lain. Oleh karena itu orisinalitas al-Qur'an juga tergantung pada concern umat Islam itu sendiri. Sebab banyak pihak yang mempertanyakan bahkan meragukan keotentikan al-Qu'an sebagai kitab wahyu, hususnya dari kalangan orientalis. Namun tuduhan ini disanggah oleh seorang pakar hadist kontemporer yang mendedikasikan dirinya pada penelitian mengenai sejarah penulisan al-Qur'an. M.M. Azami telah memberikan bukti yang kuat atas otentisitas Qur'an., ( lebih jelasnya lihat M.M Azami, Sejarah Teks al-Qur'an dari Wahyu sampai Kompilasi : Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, diterjemahkan oleh Sohirin Solihin dkk.dari The History of The Qur'anic Text from Revelation to Compilation : A Comparative Study with the Old and New Testaments, ( Jakarta : Gema Insani, 2005 ).

2

(13)

2

Nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur'an bersifat universal, sehingga ia selalu

aktual dan kandungan maknanya tidak akan pernah lekang karena panas dan tak lapuk

karena hujan. Ia tidak akan pernah habis digali maknanya melalui tinta-tinta penelitian

oleh para pemerhatinya.4

Berbagai upaya dilakukan untuk menguak kandungan al-Qur'an dengan

pendekatan metode, corak dan gaya penulisan yang sangat beragam. Tadabbur al-Qur'an

tersebut telah mewariskan hazanah peradaban yang gemilang sebagaimana yang

dilukiskan oleh Abdullah Darrâz ; al-Qur'an laksana intan yang setiap sudutnya

memancarkan cahaya yang berbeda dengan cahaya yang terpancar dari sudut yang lain,

dan tidak mustahil jika anda mempersilakan orang lain untuk memandanginya, maka ia

akan melihat banyak lagi cahaya dari pada yang anda lihat. 5

Di antara pesan-pesan al-Qur'an yang dipandang penting dan signifikan untuk

dibahas adalah lafal al-hikmah yang sering diartikan dengan sikap yang bijak atau

bijaksana. Lafal al-hikmah secara umum dipahami sebagai pengetahuan tentang berbagai

akibat yang timbul dari sebuah perbuatan. Sebagaimana pesan al-Qur'an untuk mengajak

umat manusia mengikuti prinsip-prinsip ajaran yang benar dengan cara al-hikmah :6

3

Mahmûd Syaltût di dalam bukunya : al-Islâm : 'Aqîdah wa Syarî'ah ( Mesir : Dâr asy-Syurîq : 2001 ), menjelaskan bahwa pokok-pokok ajaran al-Qur'an meliputi tiga persoalan : :1. Aqidah dan keimanan, 2. Budi pekerti yang luhur untuk diamalkan baik sebagai individu maupun masyarakat, dan ahlak tercela untuk dijauhi karena berakibat pada jatuhnya harkat kemanusiaanya, 3. al-Wa'du wa al-Wa'îd : janji dan ancaman

4

" Katakanlah wahai Muhammad : ' Seandainya lautan dijadikan tinta untuk menuangkan kandungan kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh lautan itu akan habis ( terlebih dahulu ) sebelum habis ( ditulis ) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu ( pula )' ". QS. Al-Kahfi / 18 : 109

5

Kalimat ini dinukil oleh M. Quraisy Syihab dalam bukunya : Membumikan al-Qur'an, Fungsi dan Peranan Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan 1993, h. 72

6

(14)

3

Metode dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam menghadapi manusia yang

beraneka ragam peringkat dan kecenderungannya untuk menyampaikan risalah Allah swt.

paling tidak tiga metode yang diterapkan yang disesuaikan dengan sasaran dakwah.

Terhadap cendekiawan yang memiliki pengetahuan yang tinggi diperintahkan

menyampaikan dakwah dengan hikmah yakni berdialog dengan kata-kata yang bijak

sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Terhadap kaum awam, diperintahkan untuk

menerapkan mau'izhah hasanah yakni memberikan nasehat dan perumpamaan yang

menyentuh jiwa sesuai dengan taraf hidup mereka yang sederhana. Sedangkan terhadap

Ahl al-Kitâb dan penganut agama lain, yang diperintahkan adalah jidâl ( perdebatan

dengan cara terbaik ) yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan

dan umpatan.7

Inti dari dakwah adalah pencerahan, sebagaimana fungsi kehadiran al-Qur'an

sebagai cahaya hidup8, yaitu upaya untuk merombak situasi dari dzulumât ilâ an-nûr baik

dalam tataran individu maupun tataran sosial ( kolektif ). Tujuan dari dakwah adalah

merubah keadaan masyarakat dari peradaban jahiliyyah menuju masyarakat madani, dari

masyarakat statis menjadi masyarakat dinamis dan inovatif, dari masyarakat jumud

menjadi masyarakat yang kritis, peduli, awarness, care dan sense of belonging terhadap

sesama, menghindarkan mafsadah ( kerusakan ) dan mendatangkan kemaslahatan dan

kemudahan, dari keterbelakangan menuju masyarakat modern dan berperadaban. Dari

kemelaratan menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur.

Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk ".

7

Lihat M. Quraisy Syihab, Tafsir al-Mishbah, ( Jakarta : Lenetera Hati, 2001 ), volume 7, h.386.

8

(15)

4

Tentunya untuk mewujudkan itu semua dibutuhkan pengetahuan dan wawasan

komprehensif terhadap persoalan yang dihadapi, mengena kepada kebenaran berdasar

ilmu. Dan putusan yang diambil haruslah dilakukan dengan tindakan dan cara yang bebas

dari kesalahan atau kekeliruan. Itulah metode al-hikmah yang ditawarkan oleh al-Qur'an

yang mengedepankan cara dan putusan argumentatif yang menghasilkan kebenaran yang

tidak diragukan, tidak mengandung kelemahan, tidak juga kekaburan.

Secara historis sudah dicontohkan bagaimana mengambil sebuah kebijakan publik

yang tepat dan akurat, oleh Shâhib asy-Syarî'ah Muhammad saw. sebagai pengemban

risalah Allah swt sebagaimana kebijakan yang diterapkan ketika beliau dan para

sahabatnya mendapatkan harta fai' 9 dalam ghazwahHunain 10, Beliau bagikan kepada

al-Mu'allafah Qulûbuhum11 ( orang-orang yang disejukkan hatinya ), dan tidak

memberikan bagiannya kepada sahabat Anshâr. Hal ini dijelaskan oleh hadis yang

diriwayatkan oleh 'Abdullah ibn Zaid ibn 'Ăshim :12

9

Harta Fai' adalah harta yang didapatkan dari non muslim bukan disebabkan karena peperangan. Lihat Tafsîr al-Kasysyâf karya Abû al-Qâsim Mahmûd ibn 'Umar az-Zamakhsyariyy pada surat al-Hasyr ayat 6. CD Tafsir.

10

Perang Hunain adalah perang yang terjadi setelah Fath Makkah, dilatarbelakangi oleh dendam beberapa suku yang mengelilngi Makkah al-Mukarramah setelah kota tersebut dikuasai oleh kaum muslimin. Pasukan suku-suku kafir tersebut dikomandani oleh Mâlik ibn 'Ăuf an-Nashriyy. Hunain adalah sebuah lembah di dekat perkampungan Dzî al-Majâz yang berjarak lebih dari sepuluh mil dari kota Makkah. Lihat ar-Rahîq al-Makhtûm Bahts fî as-Sîrah an-Nabawiyyah 'alâ Shâhibihâ Afdhal ash-Shalâh wa as-Salâm, karya Shafiyy ar-Rahmân, Dâr al-Hadîts, al-Madînah al-Munawwarah, Cet.ke-19, 2007. h.356

11

Al-Mu'allafah Qulûbuhum adalah kelompok manusia yang mendapatkan hak atas zakat disebabkan karena keislaman baru mereka, sebagaimana kebijakan yang Nabi saw terapkan dengan memberikan bagian ghanîmah Hunain kepada Shafwân ibn Umayyah setelah dia masuk agama Islam ( orang yang berbalik menjadi sahabat yang menjadikan Nabi saw sebagai manusia yang paling ia cintai setelah sebelumnya adalah manusia yang paling ia benci –Lihat Hadits riwayat Muslim dan at-Tirmidziyy bab zakat ). Lihat Tafsîr ibn Katsîr, karya Ismâîl ibn Katsîr al-Qurasyiyy ad-Dimisyqiyy pada surat at-Taubah ayat 60. CD Tafsir.

12

(16)

5

'Abdullah ibn Zaid ibn 'Ăshim berkata : Ketika Allah swt memberikan farta fai' kepada

Rasul-Nya saw. pada peperangan Hunain, Beliau membagikannya kepada al-Mu'allafah Qulûbuhum ( beberapa orang Arab yang baru masuk agama Islam seperti Shafwân ibn Umayyah ) tetapi tidak memberikannya kepada sahabat al-Anshâr sedikitpun, seakan-akan mereka sudah mendapatkan bagian karena mereka tidak memperoleh apa yang sudah didapatkan orang lain. Kemudian Rasulullah saw bersabda : " Wahai para sahabat al-Anshâr sekalian.., Bukankah aku mendapati kalian dalam kesesatan kemudian Allah memberikan petunjuk kepada kalian melalui perantara diriku, kalian juga sebelumnya berpecah belah ( bermusuhan ) kemudian Allah mempersatukan hati kalian lewat perantara aku, juga kalian dulu dalam kemelaratan lalu Allah memberiakan kepada kalian kekayaan juga karena perantara aku ". Kemudian ketika Rasulullah saw mengatakan sesuatu, para sahabat tersebut berkata : " Allah dan Rasul-Nya lebih bisa dipercaya ". Lalu Rasulullah saw bersabda : " Lalu apa yang menghalangi kalian

memenuhi ( perintah) Rasulullah saw ? ". Perawi ('Abdullah ibn Zaid ibn 'Ăshim )

berkata : Setiapa Rasululah saw bersabda, para sahabat al-Anshâr tersebut menimpalainya dengan perkataan : " Allah dan Rasul-Nya lebih bisa dipercaya ". Kemudian Rasulullah saw bersabda : " Jika kalian menghendaki, kalian akan berkata "

Engkau wahai Nabi saw ( dulu ) datang kepada kami begini begitu….13", Apakah kalian

puas jika orang lain pergi membawa kambing dan unta sedangkan kalian pulang bersama Nabi saw menuju kendaraan kalian, seandainya tidak ada hijrah maka aku ingin menjadi seseorang dari sahabat Anshâr, andai manusia melewati sebuah lembah

13

(17)

6

dan bukit maka aku akan melewati lembah dan bukit sahabat Anshâr14. Orang-orang

Anshâr adalah simbol ( lambang bagi Islam ), sedangkan manusia kebanyakan tertutupi ( terselimuti ). Sungguh kalian akan menemukan kesan yang terpuji setelahku, maka bersabarlah sampai kalian menemuilku di telaga ( surga ) ".

Kebijakan berupa pembagian harta fai' kepada sekelompok orang-orang Arab

yang baru masuk Islam tersebut, dimaksudkan untuk memperkuat Islam dan al-Qur'an

mensyariatkannya dalam surat at-Taubah : 60 sebagai kelompok yang mendapatkan hak

atas pembagian harta zakat.15 Lalu mengapa kelompok Anshâr yang lebih dekat dengan

Nabi saw dan lebih lama dalam melakukan perjuangan bersama beliau saw., justru tidak

diberikan bagian harta fai' ? Inilah kecemerlangan seorang pimpinan negara sekaligus

utusan Allah sawt. dalam mengambil kebijakan yang menyangkut orang-orang

terdekatnya ( sahabat Anshâr yang diwakili oleh Sa'd ibn 'Ubâdah16 ). Justru terhadap

orang-orang yang kedudukannya lebih dekat ( tinggi ) dengan-nya, beliau saw. tidak

memberikan hak lebih ( fasilitas-fasilitas ) dibanding orang-orang yang baru masuk Islam

tersebut yang merupakan representasi dari kelompok akar rumput ( rakyat kebanyakan ).

Beliau jelaskan kepada para al-Anshâr tersebut bahwa ada yang lebih berharga dari

14

Dalam Musnad Ahmad ditambahkan doa Raulullah saw kepada sahabat Anshâr : " Ya Allah sayangilah al-Anshâr dan anak cucu mereka ". Kemudian para sahabat itu menangis atas doa yang

dipanjatkan untuk mereka, dan hati mereka menjadi puas atas pembagian fai' ( kebijakan ) yang Rasulullah terapkan.

15

Muhammad Husain Haikal, Umar bin Khattab, alih bahasa : Ali Audah, Lentera AntarNusa, Jakarta, Cetakan ke-4, h. 744. Bandingkan kebijakan Nabi saw. tersebut dengan kebijakan penerusnya, al-Khalîfah 'Umar ibn al-Khaththâb, yang menerapkan kebijakan sebaliknya dalam persoalan yang sama menyangkut hak oaring-orang ( Arab ) yang disejukkan hatinya ( al-Mu'allafah Qulûbuhum ), di antaranya adalah 'Uyainah ibn Hisn dan Aqra' ibn Hâbis. Sesudah Islam kuat, 'Umar memandang tidak perlu lagi memberikan bagian zakat kepada mereka, walaupun Nabi saw dan Khalîfah pendahulunya Abû Bakr ash-Shiddîq memberikannya. Terbukti ketika beliau naik menjadi Khalîfah, kedua orang yang pernah diberikan bagian zakat tersebut datang menghadapnya, dengan membawa surat yang pernah diberikan Khalîfah Abû Bakr untuk mendapatkan haknya. Tetapi surat tersebut dirobek oleh 'Umar dengan mengatakan ; " Allah sudah memperkuat Islam dan tidak memerlukan kalian. Kalian tetap dalam Islam atau hanya pedang yang ada ". Tetapi pada waktu yang lain 'Umar memberlakukan lagi ketentuan tersebut, tergantung pada keadaan ( situasi ) terbukti beliau juga memberikan bagian zakat kepada Hormuzan ( kelompok mu'allaf ) ketika ia datang ke kota Madinah untuk menjadi Muslim. Lihat referensi yang sama, Umar bin Khattab, h. 743-744.

16

(18)

7

sekedar harta fai', yaitu keadaan mereka yang sudah tercerahkan ( dalam kondisi

keimanan yang mantap dan kedekatannya dengan Nabi saw. ) setelah sebelumnya mereka

dalam kesesatan dan saling bermusuhan. Beliau juga menjelaskan bahwa sahabat

al-Anshâr adalah simbol dan lambang bagi Islam dan namanya akan dikenang sepanjang

masa, serta mereka dijanjikan akan bertemu Nabi saw. di telaganya nanti di surga.

Kebijakan yang tepat sekaligus berkeadilan juga diterapkan Nabi saw.dalam

aspek hukum pidana Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Shafwan bin Umayyah

dicuri pakaiannya oleh seseorang. Kemudian dia menangkap pelakunya dan

membawanya kepada Rasulullah saw. Beliau memerintahkan untuk memotong tangan

pencuri tersebut, tetapi Shafwan memaafkan, maka Nabi saw bersabda : ﺄﺗنأﻞﺒﻗﻚﻟذنﺎﻛﻼﻫ

ﻪﺑﻲﻨﯿﺗ17

: Seharusnya ini ( pemaafan ) sebelum engkau membawanya kepadaku. Nabi saw.

menolak memberikan maaf kepada seorang pencuri setelah diajukan ke pengadilan,

walau pemilik harta telah memaafkannya.

Kebijakan Nabi saw. yang lain dalam urusan pidana ( jarîmah ) adalah sebuah

kasus yang melibatkan seorang laki-laki dari golongan Anshâr, bernama Thu'mah ibn

'Ubairiq dari Bani Dhafar ibn al-Hârits. Ia telah mencuri sebuah perisai tetangganya

sendiri yang bernama Qatâdah ibn Nu'mân. Persisai itu berada dalam kantong yang berisi

tepung, kemudian ia menyembunyikannya di rumah seorang Yahudi bernama Zaid ibn

as-Samîn. Ternyata kantong tempat perisai itu bocor. Ketika orang yang memiliki perisai

itu mengetahui telah kehilangan perisainya, maka ia mencarinya di rumah Thu'mah, dan

memang tidak ditemukan di tempatnya, bahkan Thu'mah bersumpah : " Demi Allah aku

tidak mengambilnya, dan aku tidak tahu menahu tentang itu ". Setelah mencari semalam

suntuk, melalui petunjuk adanya ceceran tepung, mereka menemukan perisai itu di rumah

17

(19)

8

Zaid ibn as-Samîn ( Yahudi tersebut ). Kontan saja dia terkena tuduhan pencurian. Tentu

saja Yahudi itu menolak, dan mengatakan kalau yang yang menitipkan perisai itu adalah

Thu'mah dan disaksikan oleh banyak orang ( warga Yahudi ). Kemudian kasus itu

diadukan keluarga Thu'mah ( Bani Dhafar ) kepada Rasulullah saw, dan mereka

membelanya dengan mengatakan : " Jika engkau ( wahai Nabi ) tidak berbuat ( membela

kami ) sungguh celakalah saudara kami, dan Yahudi itu akan bebas lagi tersohor ".

Rasulullah saw hampir saja terpengaruh oleh argumentasi yang dibangun oleh mereka,

kalau tidak diperingatkan oleh al-Qur'an. Bahkan beliau hampir menjatuhkan sanksi

kepada Yahudi, akan tetapi beliau dibimbing oleh Allah swt. Untuk menjatuhkan

hukuman yang benar atas perkara di atas, walaupun sepintas putusan hukuman tersebut

merugikan sahabat Anshâr dan menguntungkan Yahudi. Akan tetapi hukum tidak

mengenal kelas dan golongan, artinya hukum tidak boleh diintervensi oleh kepentingan

suku, golongan maupun agama. Keputusan yang tidak berpihak walaupun harus

mengorbankan kelompoknya tersebut adalah hikmah yang Allah anugerahkan kepada

Nabi saw.18

Tentunya peristiwa di atas adalah sebuah nikmat yang besar yang Allah ajarkan

serta anugerahkan kepada Rasul-Nya, sekaligus teguran kepada orang-orang yang

meragukan putusan Rasulullah saw, bahwa Allah memelihara beliau dari kesalahan.

Sekiranya bukan karena anugerah dan rahmat Allah, maka banyak di antara manusia

munafik berkeinginan keras untuk menyesatkan Muhammad saw, yaitu

menjerumuskannya dalam kesalahan, seperti menjatuhkan hukuman kepada orang

18

Kasus ini yang melatarbelakangi turunkannya ayat al-Qur'an : ﺎﻤﯿﺼﺧﻦﯿﻨﺋﺎﺨﻠﻟﻦﻜﺗﻻو ( an-Nisâ' ; 105 ) : " Dan janganlah kalian menjadi penantang ( orang-orang yang tidak bersalah ), karena ( membela ) orang-orang yang hianat ". Lihat Abî al-Hasan 'Aliyy ibn Ahmad al-Wâhidiyy Naisâburiyy, Asbâb an-Nuzûl,Dâr al-Fikr, Beirut, 1994, h. 100.

(20)

9

Yahudi atas tuduhan mencuri perisai. Tetapi kehendak Allah berkata lain, siapapun yang

berkeinginan keras untuk menjerumuskan Rasulullah saw, mereka tidak akan pernah

mampu menjerumuskannya ke dalam bahaya, bahkan sebenarnya yang mereka

jerumuskan adalah diri mereka sendiri.19

Anugerah Allah kepada Nabi Muhamad saw berupa ketepatan dalam

menyeleseikan persoalan di atas apakah hanya berlaku bagi dirinya sebagai utusan Allah

atau juga bisa dicontoh oleh umatnya ?. Apakah kebijakan beliau tersebut sebuah hikmah

yang pure dari Sang Khâliq ( taken for granted ), atau diusahakan oleh Rasulullah

sendiri. Dengan kata lain apakah hikmah bersifat hushûliyy atau hudhûriyy atau

kedua-duanya ? Persoalan-persoalan seperti inilah yang akan diangkat penulis dalam tesis ini.

Dalam tata cara pengambilan sebuah keputusan baik skala individual, regional

maupun skala nasional, dari lingkungan keluarga sampai negara, mungkin tidak ada

prinsip atau pandangan dasar yang sedemikian didambakan umat manusia sepanjang

sejarahnya melebihi keputusan yang bijaksana. Istilah bijaksana adalah terjemahan umum

dari lafal Arab al-hikmah yang mempunyai makna di antaranya tepat dan akurat.20

Untuk mencapai tahap kearifan, sikap bijak atau wisdom diperlukan sebuah kemampuan

untuk berbuat adil yang mempunyai pikiran dasar keseimbangan (al-mizan) yaitu sebuah

sikap tidak berlebihan ( berada di antara dua ekstrim kanan dan kiri ). Juga dengan

pengetahuan yang menyeluruh dan seimbang ( tidak pincang atau parsial ) tentang suatu

masalah.21

19

Lihat juga kaitan kisah di atas dengan kongklusi Q.S. an-Nisâ' : 113

20

Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir, PP. al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, 1984.

21

(21)

10

Dalam konteks kekinian, jika kita perhatikan kehidupan secara mikro dan

sederhana setiap hari banyak kita temukan problema kehidupan yang menuntut sikap

bijak dari masing-masing individu. Misalnya, ketika kita terjebak di jalan yang macet

yang nota bene menjadi ciri kota-kota besar, rasa jengkel hampir menghampiri semua

pengguna kendaraan. Setiap orang saling berebut karena merasa paling berhak dan benar

untuk berada di depan mendahului yang lain. Sikap menghargai dan menghormati hak

orang lain sudah dianggap usang karena masing-masing ingin segera sampai tujuan.

Toleransi yang menjadi kebanggaan masyarakat sudah tidak dindahkan, jalanan sudah

acap kali menjadi panggung untuk mendemontrasikan sikap individualitas dan arogansi.

Pertanyaannya adalah bijakkah sikap kita menyerobot jalanan seperti itu? Adilkah kita

memperlakukan sesama pengguna jalan ? Tentu saja persoalan jalan yang macet dan

bagaimana menyikapinya dibutuhkan kajian yang luas, integral dan komplek.

Kecenderungan untuk melihat sesuatu dari kaca mata kepentingan sendiri dan

mengabaikan kepentingan orang lain menjadikan persoalan semakin ruwet., karena

subyektivitas dijadikan pedoman dalam memandang suatu masalah..

Dalam skala nasional banyak sekali kita temukan kejanggalan-kejanggalan dan

kepincangan pemerintah di Republik ini dalam mengambil keputusan dan kebijakan

publik.22

22

Harian Umum Pelita, Sekali Lagi Soal Kabinet, Terbit 9 Mei 2007 M menjelaskan kebijakan ini secara panjang lebar : Tepat pada tanggal 7 Mei 2007 M, Presiden RI Susilo Bambang Yodoyono mengumumkan reshuffle kabinet ( perombakan ) jilid II, setelah rakyat dibuat resah begitu lama menunggu pergantian yang akan dilakukannya.

(22)

11

Sasaran kebijakan yang tidak tepat akan membawa implikasi tidak tercapainya

tujuan pembangunan Nasional bahkan bisa mengantarkan pada kondisi terpuruk dan tidak

mustahil krisis ekonomi bisa terulang kembali. Angka pengangguran semakin bertambah

disebabkan karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai dan PHK (

pemutusan Hubungan Kerja ) terjadi di mana-mana menambah keadaan perekonomian

rakyat semakin buruk.23

Sulit dibantah bahwa perombakan kabinet jilid II ini lebih berbobot politik dengan konotasi penguatan di sektor hukum dalam dimensi pemberantasan korupsi. Presiden tampaknya melihat dua sasaran terbuka untuk dituju melalui perombakan jabatan di sektor hukum, yaitu ingin menunjukkan sikap responsive dan konsistensi anti korupsi.

23

Suara Karya, Memaknai Reshuffle ( Kolom Opini dan Editorial ), Terbit Senin 7 Mei 2007, menmbeberkan :

Sasaran tersebut tentu ada benarnya dan kita memang tidak mengabaikan persoalan politik dan hukum. Tapi persoalan mendesak adalah perbaikan sosial ekonomi rakyat, dengan menggerakkan kehidupan sektor ekonomi riil. Sasaran utamanya adalah mengurangi pengangguran dan kemiskinan, yang dalam perkembangannya kini semakin mencemaskan. Mulai dari soal beras,minyak goring, gula, gas, hingga ke persoalan bumbu dapur seperti bawang dan cabe. Kendati sektor makro berpenampilan bagus, namun kinerjanya sangat berpotensi menjadi gangguan berbahaya. Sektor riil banyak yang macet dan mengancam krisis produksi. Investasi fisik tersendat, banyak perusahaan bangkrut, pengangguran membludak. Belakangan kondisi ini makin dirasakan menjadi beban berat bagi rakyat. Belum lagi soal wabah penyakit dan kondisi fasilitas serta infrastruktur pendidikan yang mengalami kerusakan.

Perombakan kabinet tidak menyentuh kepentingan ekonomi rakyat. Dengan sisa waktu 2,5 tahun menjalani mandat pemerintahannya, Presiden sulit mencapai target-target pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan dan kesejahteraan yang diharapkan. Tampaknya Presiden cukup puas dengan kinerja para menteri kabinet di bidang ekonomi, sehingga personil dan komposisinya tetap dipertahankan ( kecuali menteri BUMN dan itupun yang menguat, pertimbangan politisnya dibanding kinerjanya ). Apalagi menteri-menteri ekonomi itu sering disebut sebagai orang-orangnya Bank Dunia, IMF dan Amerika. Maka tim ekonomi tidak disentuh dalam formasi perombakan. Banyak pengamat mengatakan, Presiden dan para menterinya lebih banyak melakukan tebar pesona, tebar citra dari pada tebar kinerja.

Menurut Faisal Basri, seorang pengamat ekonomi, mengatakan bahwa tim ekonomi Presiden RI belum mampu mengatasi pengangguran dan kemiskinan. Kinerja di sektor ekspor serta stabilitas ekonomi makro yang meningkat juga sektor keuangan hingga saat ini belum menyentuh kehidupan rakyat ( bawah ). Sektor riil yang diharapkan dapat mengentaskan kedua masalah itu sejauh ini justru belum berjalan optimal akibat lemahnya dukungan menteri-menteri di tim ekonomi. Bahkan kata Kusfiardi, seorang pengamat sosial politik, mengemukakan bahwa kebijakan ekonomi pemerintahan SBY-Kalla sangat liberal yang diusung oleh tim ekonominya dan hanya menyengsarakan rakyat. Reshuffle yang tidak menyentuh tim ekonomi jelas menunjukkan intervensi lembaga ( DPR ) atau negara asing yang selama ini kental berada di balik menteri-menteri ekonomi.

(23)

12

Pembangunan Nasional merupakan komitmen seluruh komponen bangsa untuk

mewujudkan tujuan nasional yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh

tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan

bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,

perdamaian abadi dan keadilan sosial24.

Dengan demikian, kebijakan pembangunan nasional hendaknya mengarah dan

diprioritaskan pada penguatan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial yang merata.

Untuk mendorong terciptanya pemerataan dan mempercepat terwujudnya kesejahteraan

rakyat diperlukan upaya maksimal yang mengedepankan pembangunan ekonomi rakyat

sebagai bagian dari perekonomian nasional dengan memberdayakan sepenuhnya

kemampuan masyarakat dan mendayagunakan sumber daya alam secara berkelanjutan

sebagai basis kekuatan perekonomian Negara. Peningkatan daya saing ekonomi nasional

merupakan agenda yang perlu terus dikembangkan dengan memperkuat kemampuan

sumber daya manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Menyikapi suatu masalah baik skala mikro maupun makro haruslah dilakukan

secara arif dan bijaksana, apalagi menyangkut persoalan yang berkaitan erat dengan

urusan publik. Sorotan tajam yang ditujukan kepada para pengambil kebijakan di

Republik ini mengarah pada ketidakberpihakannya pada masyarakat tingkat grass root.

berorientasi ke sana. Contohnya DPD ( Dewan Perwakilan Daerah ). Sejumlah anggota DPD mengusulkan nama tertentu untuk menjadi menteri. Bahkan ada yang mengusulkan dirinya sendiri untuk duduk di kabinet SBY-JK. Hal ini sangat disayangkan karena sebagai lembaga baru, DPD harusnya konsentrasi pada optimalisasi kinerja dulu, seperti amandemen UUD 1945.

Reshuffle harusnya berorientasi kepada rakyat karena mereka yang memberikan mandat kepada Presiden. Yang rakyat pahami adalah dengan adanya reshuffle kondisi hidup mereka menjadi lebih baik, penghasilan meningkat, harga bahan pokok terjangkau, bisa menyekolahkan anak, bisa berobat kalau sakit, naik kendaran aman kalau bisa nyaman. Makna reshuffle harus disinkronkan dengan kemauan rakyat, hanya dengan begitu reshuffle jilid dua menjadi manfaat.

24

(24)

13

Desakan konstruktif mestinya dilakukan dari berbagai elemen masyarakat sehingga

kontrol publik bisa berjalan, dan tercapainya arah pembangunan yang dicanangkan. Enam

puluh tahun bukanlah waktu yang pendek untuk menata kehidupan bernegara sejak

Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Harusnya hari ini sudah tidak ada lagi

rakyat yang ngantri bahan pokok andai kebijakan dilakukan tepat sasaran dan law

inforcement ditegakkan. Negeri yang sangat kaya raya ini belum bisa memberikan

kesejahteraan bagi warganya secara layak. Dengan demikian di manakah sebenarnya

kekeliruannya ? di manakah kesalahannya ? Apakah rakyatnya yang malas bekerja,

terlalu bergantung dengan belas kasihan pemerintahannya ataukah rakyat Indonesia ini

salah asuhan karena kebijakan tidak berpihak pada mereka?

Bangsa Indonesia adalah bangsa religius, bangsa yang bertuhan, bangsa yang

mengakui adanya kekuasan di atas kekuasaan manusia, yaitu kekuasaan Allah swt Yang

Maha Perkasa. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan kemelaratan dan

keterbelakangan, akan tetapi realitanya berkata lain.

Menurut Badan Pusat Statistik Nasional, penduduk Indonesia beragama Islam,

mencapai hampir 90 %. Tingginya angka ini menunjukkan bahwa mayoritas bangsa ini

mengakui secara langsung maupun tidak langsung akan eksisitensi Allah swt yang

menjadikan al-Qur'an sebagai sumber nilai-nilai kehidupan umat manusia. Ajaran yang

bersifat universal ini juga bisa dijadikan inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk

mewujudkan cita-cita Nasional, dengan mengedepankan kesejahteraan umum dan

mencerdaskan kehidupan bangsa. Islam sebagai agama rahmatan li al-'alamîn25 adalah

25

(25)

14

agama yang menjangkau semua lapisan masyarakat, agama yang membawa rahmat, dan

agama yang menyerukan kesejahteraan rakyat.

Kebijakan publik yang terbaik ( bijak ) menurut, Riant Nugroho D., seorang

pengamat ekonomi adalah kebijakan yang mendorong setiap warga masyarakat untuk

membangun daya saingnya masing-masing, dan bukan semakin menjerumuskan ke dalam

pola ketergantungan. 26

Setiap hal yang ada di dunia ini pasti ada tujuannya, demikian juga kebijakan publik

hadir dengan tujuan tertentu yaitu untuk mengatur kehidupan bersama agar bisa

mencapai visi dan misi bersama yang telah disepakati ( kontrak perjanjian antara rakyat

dan pemimpinnya ). Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kebijakan publik

adalah jalan mencapai tujuan bersama yang dicita-citakan. Jika cita-cita bangsa Indonesia

adalah mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD

1945, maka kebijakan publik adalah seluruh prasarana dan sarana untuk mencapai "

tempat tujuan " tersebut.

Berangkat dari persoalan empiris di atas, penulis merasa tertarik untuk meneliti

dan mengkaji ayat-ayat al-Qur'an yang membicarakan masalah al-hikmah secara lebih

luas dan mendalam, serta proporsional, baik secara eksplisit menggunakan term

al-hikmah maupun ataupun lafal-lafal pendukungnya seperti kata al-'adl, al-qisth, , al-'ilm

dan al-hukm., yang dikaitkan dengan upaya pengambilan keputusan atau kebijakan yang

dilandasi al-hikmah. Termasuk juga penggambaran mengenai teori kebijakan yang

dicita-citakan ( putusan, tindakan dan sikap yang bijak ), maupun gambaran empiris mengenai

26

(26)

15

sebuah kebijakan yang diambil dari sejarah kenabian yang tertuang di dalam al-Qur'an

maupun kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan kondisi kekinian.

B. PERUMUSAN DAN PEMBATASAN MASALAH

Dari asumsi-asumsi di atas muncul beberapa masalah, dengan rumusan dan

batasan sebagai berikut :

1. Memahami hakekat al-hikmah yang tertuang dalam al-Qur'an ? Apa saja

aspek-aspek al-Qur'an yang menjadi faktor pembentuk al-hikmah?

2. Bagaimana cara memperoleh al-hikmah ? Apakah ia bersifat hudhûriyy atau

husûliyy ?

3. Dalam mengaplikasikan nilai-nilai al-hikmah, apa cara yang dilakukan untuk

mendapatakan keputusan ( publik ) yang bijak dan berkeadilan ?

C. TUJUAN DAN SIGNIFIKANSI MASALAH

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Memperkaya makna al-hikmah yang tertuang dalam al-Qur'an serta

mengeksplorasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya..

2. Menjelaskan secara integral pentingnya menerapkan asas al-hikmah pada

setiap perumusan, implementasi dan evaluai sebuah kebijakan, sehingga bisa

tercipta pribadi yang unggul, berani, bertanggung jawab dan berbudi luhur.

Dan sebagai konsekuensinya dari implementasi kebijakan yang penuh hikmah,

diharapkan tercipta suatu masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, aman,

sentosa di bawah naungan dan ridha Allah swt.

(27)

16

1. Mengembangkan hazanah pengetahuan keislaman di lingkungan perguruan

tinggi Islam, hususnya di bidang al-Qur'an dan cabang-cabangnya.

2. Mengetahui bagaimana al-Qur'an menjelaskan makna al-hikmah yang

tertuang di dalamnya serta kaitannya dengan sikap dan putusan yang bijak,

bagaimana mengimplementasikan dan melakukan evaluasi terhadap out put

dari sebuah kebijakan yang diterapkan.

3. Menformulasikan solusi atas problema umat hususnya yang berkaitan dengan

kebijakan publik, karena hal ini adalah sisi krusial dalam sebuah komunitas (

baik tataran individual atau sosial ) apalagi menyangkut sebuah pemerintahan.

Karena masalah ini sering diabaikan sehingga makna kebijakan mengalami

deviasi berdasarkan selera yang memimpin ( penguasa dan kekuasaan ).

4. Menambah pemahaman terhadap ajaran-ajaran yang tertuang dalam

al-Qur'an, terutama prinsip-prinsip dasar dalam sebuah tatanan sosial yaitu

pencerahan pada setiap lini kehidupan ( al-ikhrâj min adz-dzulumât ilâ an-nûr

), sebagaimana yang menjadi visi dan misi hadirnya al-Qur'an di tengah

masyarakat. Dengan harapan bisa meminimalisir sikap ambivalensi umat

Islam terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran agamanya.

Juga berupaya dapat menggiring pada pemahaman terhadap ajaran al-Qur'an

yang inklusif dan universal dan mengarahkan pemeluknya untuk menjadi

rahmatan li al-'âlamîn bagi semua umat manusia

5. Memberikan sumbangsih bagi masyarakat dan para pengambil kebijakan di

negara ini berupa definisi dan cara mencapai kebijakan yang berkeadilan demi

(28)

17

D. METODE DAN LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN

Penelitian yang dilakukan penulis bersifat kepustakaan ( library research ) murni,

dengan metode tafsir tematik. Metode tafsir tematik menjadi pilihan penulis untuk

mengupas permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini. Penulis berusaha mencari

konsep-konsep ayat al-Qur'an tentang masalah yang diteliti dengan jalan menghimpun

ayat-ayat yang terkait dan ayat-ayat pendukung bahkan hadis-hadis penguat, lalu

menganalisanya lewat ilmu-ilmu bantu yang relevan dengan masalah yang diteliti, untuk

kemudian melahirkan pandangan-pandangan tentang persoalan yang dibahas. Metode

komparasi antar referensi juga disuguhkan dalam penelitian ini.

Adapun langkah-langkah husus yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Menetapkan atau memilih tema al-Qur'an yang akan dikaji secara maudhû'iyy.

b. Memilih kata-kata di dalam al-Qur'an yang memilki kesesuaian dengan tema

yang dimaksud, baik langsung maupun tidak langsung ( padan katanya ).

c. Melacak dan mengumpulkan ayat-ayat yang memilki keterkaitan dengan tema

yang telah ditetapkan, baik secara keseluruhan maupun global.

d. Ayat-ayat yang dibahas disusun sesuai kronologisnya ( historical teksnya )

dengan menyebut sabab nuzûl-nya, dan memisahkan makkiyyah madaniyyah-nya.

e. Atau dengan menelaah sisi munâsabah-nya, antar ayat-ayat tersebut di dalam

masing-masing suratnya.

f. Menjelaskan tafsirnya dari segala seginya, bahasanya, mengkomparasikan

pendapat antar pakar tafsir dan lain-lain.

(29)

18

h. Melengkapai pembahasan dengan referensi pendukung seperti hadis, kitab dan

buku terkait.

Adapun langkah-langkah global yang dilakukan penulis :

Langkah pertama akan membahas bentuk-bentuk pengungkapan al-hikmah dalam

al-Qur'an, baik melalui term pokoknya maupun derivasinya, dan term-term lain yang

sepadan atau term pendukung ayat yang dibahas. Tahap ini adalah langkah penting

sebagai entry point untuk pembahasan berikutnya, sekaligus untuk membuktikan tepatnya

penggunaan term ini sebagai judul kecil.

Langkah kedua, adalah menjelaskan pengertian hakekat makna yang terkandung

dalam lafal al-hikmah. Mengkorelasikannya dengan tehnik pengambilan kebijakan.

Langkah ketiga, Menelusuri ayat-ayat al-Qur'an yang berkaitan dengan judul, sampai

ditemukan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, dalam rangka membentuk pribadi

yang bijak dan merumuskan kebijakan yang mencerahkan sebagai konsekuensi dan

harapan dari implementasi kebijakan yang penuh hikmah.

Langkah keempat, adalah mengemukakan kesimpulan dari seluruh pembahasan

sebelumnya sekaligus menjawab permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, dan

juga sebagai solusi tawar atas persoalan yang diangkat.

Ada dua sumber data yang akan dipakai dalam penelitian, yakni data primer dan

data sekunder.

Sebagai data primer dari penelitian ini digunakan referensi yang diambil dari kitab-kitab tafsir, seperti : Tafsir al-Mishbâh dan Wawasan al-Qur'an karya M. Quraisy

Syihab, al-Mîzân fî Tafsîr al-Qur'ân karya Muhammad Husain ath-Thaba'thabâ'iyy,

(30)

al-19

hasan Ibrâhîm ibn 'Umara al-Biqâ'iyy, Tafsir Jâmi' al-Bayân fi Ta'wîl âyi al-Qur'ân karya

Ibn Jarîr ath-Thabariyy ( w. 929 M ), Tafsir al-Kasysyâf karya az-Zamakhsyariyy ( w.

538 H ), Tafsir al-Kabîr / Mafâtîh al-Ghaib karya ar-Râziyy ( w. 606 H / 1210 M ),

Tafsir al-Qur'an al-'Azhîm karya Ibn Katsîr ( w. 774 H / 1372 M ), Tafsir Fî Zhilâl

al-Qur'an karya Sayyid Quthb ( w. 1966 M ), Manusia dan Agama ( terjemahan ) karya

Murtadhâ Muththahhariyy.. Juga buku-buku filsafat karya Zainin Kamal dan Haidar

Bagir, serta buku-buku sosiologi dan politik seperti Sosilogi Makro karya Stephen K.

Sanderson, Pengantar Analisis Kebijakan Publik karya William N. Dunn, buku

Kebijakan Publik Formulasi, Implementasi, Dan Evaluasi karya Nugroho D., Riant,

Demokrasi-Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani karya ICCE UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta, dan buku-buku lainnya. Referensi primer tersebut akan ditelaah

sedemikian rupa hingga bisa diambil makna, istilah, nilai-nilai atau hukum yang

terkandung di dalamnya. .

Untuk data sekunder diambilkan dari kitab-kitab pendukung seperti 'Ulûm al-Qur'an yang merujuk pada al-Burhân fi 'Ulûm al-Qur'an karya az-Zarkasyiyy, al-Itqân fi

' 'Ulûm al-Qur'an karya as-Suyuthiyy dan al-Muwâfaqât karya al-Lakhmiyy.

Untuk analisa kebahasaan, penulis merujuk pada kitab Mu'jam Mufradât li Alfadz

al-Qur'an karya ar-Raghîb al-Ashfahâniyy, Mu'jam Maqâyis al-Lughah karya Abû

al-Husain Ahmad ibn Fâris ibn Zakariya dan kitab Ta'rîfât karya al-Jurjâniyy dan

kitab-kitab pendukung lainnnya seperti kamus bahasa, ensiklopedi, dan lain-lain.

Adapun teknik pengumpulan data yang akan dilakukan adalah

a. Melakukan studi pustaka serta mengklasifikasikan data berdasarkan isinya

(31)

20

b. Menghubungkan penjelasan data kepustakaan dengan pemahaman terhadap

ayat-ayat utama yang berkaitan dengan topik permasalahan.

E. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Untuk menghasilkan sebuah karya yang komprehensif dan sistematis, maka

penelitian ini disusun dengan sistematika pembahasan sebagai berikut :

1. Bab pertama, merupakan pendahuluan yang mencakup latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan dan signifikansi penelitian, tinjauan

pustaka, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.

2. Bab kedua membahas definisi al-hikmah, dan unsur-unsur yang membentuk

al-hikmah.

3. Bab ketiga menjelaskan hakekat makna al-hikmah yang terkandung dalam al-Qur'an, apakah dia bersifat hushûliyy atau hudhûriyy, serta aspek-aspek yang

terkait dengan makna al-hikmah.

4. Bab keempat, bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai al-hikmah dalam pengambilan kebijakan public, cara tepat mencapai keputusan yang bijak dan

berkeadilan serta harapan-harapan yang bisa diraih dari keputusan yang dilandasi

al-hikmah .

(32)

٢١

BAB II

TINJAUAN UMUM MAKNA AL-HIKMAH

A. Pengertian al-Hikmah dalam Literatur Arab

Kata al-hikmah berasal dari kata ﺔﻤﻜﺣ–ﻢﻜﺤﯾ–ﻢﻜﺣ ( hakuma –yahkumu-

hikmatan ) : ﺎ ﻤﯿﻜﺣرﺎ ﺻىأ : menjadi orang yang menyandang al-hikmah.1 Sebagaimana

yang ditunjukkkan oleh sebuah syair karya an-Namîr ibn Taulab :

اﺪﯾورﺎﻀﻐﺑﻚﻀﯿﻐﺑﺾﻐﺑأو &

ﺎﻤﻜﺤﺗنأﺖﻟوﺎﺣﺖﻧأاذإ

ﺎﻤﯿﻜﺣنﻮﻜﺗنأﺖﻟوﺎﺣاذإىأ

Bencilah musuhmu sebentar saja ( sekedarnya ) jika kau ingin menjadi sahib al- hikmah2

Maka ungkapan kata qashîdah hakîmah berarti nyanyian yang penuh hikmah. Makna dasar

hakama adalah حﻼﺻﻹﺎﻌﻨﻣ–ﻊﻨﻣ : ( mencegah dengan maksud membuat emaslahatan ).

Sebagaimana yang dicontohkan oleh sebuah ungkapan : : ﺎ ﻬﺘﻌﻨﻣ : ﺎ ﻬﺘﻤﻜﺣأوﺔ ﺑاﺪﻟاﺖ ﻤﻜﺣ

ﻤﻜﺤﻟﺎﺑ

ﺔﻤﻜﺣﺎﻬﻟﺖﻠﻌﺟوﺔ Aku mengendalikan binatang dan menjadikan kendali baginya.3

al-Ashfahâniyy mengartikan al-hikmah dengan : ﻞ ﻘﻌﻟاوﻢﻠﻌﻟﺎ ﺑﻖ ﺤﻟاﺔﺑﺎ ﺻإ : ( mencapai

kebenaran dengan ilmu dan akal ) Kata al-hikmah adalah ismmashdar mufrad dengan bentuk

plural ﻢ ﻜﺣ ( hikam ) yang mengandung beberapa pengertian lughawiyy di antaranya adalah :

perkataan atau ucapan yang sesuai dengan kebenaran, filsafat, perkara yang benar dan lurus,

1 Ibn Manzhûr, Lisân al-'Arab , Dâr al-Ma'ârif, Tahqîq : 'Abdullâh 'Aliyy al-Kabîr , Muhammad

Ahmad Hasbullâh dan Hâsyim Muhammad asy-Syâdziliyy, Jilid 5, h. 951. Majma' al-Lughah al- Arabiyyah, al-Mu'jam al-Wasith, Juz I, Cetakan ke 3, h. 196.

2

Ibn Manzhûr, Lisân al-'Arab, h. 951.

3

(33)

٢٢

keadilan, ilmu, akil baligh atau sabar dan murah hati ( lapang dada ).4 Dalam Mu'jam

al-Wasîth pengertian al-hikmah juga meliputi : al-'illah dan at-tafaqquh serta mengetahui segala

sesuatu yang paling utama dengan pendekatan beberapa disiplin ilmu.5 Hikmah identik

dengan ilmu pengetahuan artinya dengan al-hikmah seseorang bisa tercegah dari kebodohan

dan keterbelakangan. Disamping itu al-hikmah juga diartikan : perkataan yang sedikit kata

tetapi penuh makna. Bahkan ada yang mengartikan ilmu al-hikmah dengan ilmu kimia dan

kedokteran.6

Kendali yang terpasang pada mulut dan hidung kuda atau sejenisnya disebut hakamah

al-lijâm. Biasanya terbuat dari tali kulit dan pohon jerami. Dinamai hakamah karena alat

tersebut mencegah ( mengendalikan ) hewan dari perilaku beringas ( liar ). Ada sebuah

ungkapan yang menggambarkan bahwa setiap manusia juga mempunyai hakamah (

pengendali diri ) : ﺔﻤﻜﺣﻪﺳأرﻰﻓوﻻإﻲﻣدأﻦﻣﺎﻣ " Tidak ada seorangpun dari anak Adam kecuali

di kepalanya ada hakamah " Kata hakamah ini juga dipakai untuk menggambarkan derajat

seseorang misalnya ungkapan : ﻪ ﺘﻤﻜﺣﷲاﻊ ﻓرﻊﺿاﻮﺗاذإﺪ ﺒﻌﻟانإ" Bila seorang hamba berlaku

rendah hati maka Allah akan angkat derajatnya ". Pengertian itu sesuai dengan akar term

al-hikmah yang terdiri dari tiga susunan huruf hâ', kâf dan mîm yang mempunyai makna

mencegah ( mengendalikan ). Seorang pemutus perkara disebut al-hâkim karena melakukan

putusan hukum untuk mencegah penganiaya berbuat aniaya.7 Dan dari akar kata ini lahir kata

4

Makluf Louis, al-Munjid fî al-Lughah, Cet.ke-37., h. 146.

5

Lihat al-Mu'jam al-Wasîth, h. 197

6

al-Mu'jam al-Wasîth, h. 197 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, terbitan Departemen pendidikan Nasional, hikmah diartikan lebih radikal yaitu ilmu yang berkaitan dengan kesaktian ( kekuatan ghaib ).

7

(34)

٢٣

hukûmah ( government ) yang mempunyai fungsi mengatur rakyat dan mencegahnya dari

berberbuat kerusakan dan kezaliman.8

Dalam Kamus al-Maurid al-Asâsiyy Edisi Bahasa Inggris–Arab kata al-hikmah

diterjemahkan dengan wisdom atau wiseness, yang mencakup makna keluasan wawasan,

kewaspadaan dan perhatian.9

Dalam kitabnya at-Ta'rîfât,10 al-Jurjâniyy menjelaskan makna al-hikmah adalah

cabang ilmu yang digunakan untuk mengeksplorasi hakekat sesuatu menurut wujud apa

adanya seukur dengan kekuatan manusia dan al-hikmah adalah ilmu yang tinggi.

Definisi kedua yang dikemukakannya adalah al-hikmah sebagai hai'ah ( bentuk ) kekuatan

yang logis, ilmiah dan moderat ( berada di antara dua ekstrim ) antara gharîzah dan balâdah.

Gharîzah artinya bersikap melampaui batas terhadap kekuatan ini dan balâdah berarti

menyia-nyiakan kekuatan yang ada.

Definisi ketiganya adalah al-hikmah sebagai ucapan atau perkataan yang logis yang terjaga

dari sisipan negatif, atau al-hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Atau

segala sesuatu yang berahir baik ( terpuji ) disebut al-hikmah. Sebagaimana al-Ashfahâniyy,

al-Jurjâniyy juga menjelaskan tentang al-hikmah al-Ilâhiyyah. Hikmah yang satu ini sebagai

cabang ilmu yang membahas tentang perilaku sesuatu yang maujud, yang berada di luar,

yang lepas dari hal-hal yang bersifat material, serta berada di luar kekuasaan dan ikhtiar

8 Ibn Manzhûr, Lisân al-'Arab h. 952. 9

Qâmûs al-Maurid al-Asâsi, Dâr al-'Âlam al-Malâyîn, Libanon, 2002.

10

(35)

٢٤

manusia. Al-Jurjâniyy mengklasifikasikan al-hikmah menjadi dua macam yaitu hikmah

al-maskût 'anhâ dan al-hikmah al-manthûq bihâ.11 .

a. Al-Hikmah al-Maskût 'anhâ adalah rahasia tentang suatu hakekat yang tidak

terlihat oleh pakar ilmu rasmiah ( ilmu lahiriah ) dan orang kebanyakan (

masyarakat awam ) atas suatu kemestian sehingga membahayakan mereka ( yang

menilai sesuatu dari lahiriahnya semata ). Al-Jurjâni mengisahkan suatu riwayat

bahwa Rasulullah saw pernah melewati gang-gang di sebagian kota Madinah

bersama para sahabat, tiba-tiba seorang perempuan menghampirinya dan meminta

Rasulullah untuk masuk ke dalam rumahnya, kemudian Beliau bersama sahabat

memasuki rumah perempuan tersebut. Sesampainya di dalam mereka kaget

melihat api yang membara berada di tengah-tengah anak-anaknya yang sedang

bermain. Kemudian perempuan tadi bertanya : Wahai Nabiyyallah ; Allah yang

lebih berbelas kasih terhadap hamba-hamba-Nya ataukah saya yang lebih sayang

terhadap anak-anakku ? Rasulullah saw kemudian menjawab : Allah Yang Maha

Belas Kasih karena Dia arham ar-râhimîn. Lalu perempuan itu meneruskan

pertanyaannya : " Katakan kepadaku apakah aku tega melemparkan anak-anakku

ke dalam api ? " " Tidak ", jawab Rasulullah saw. " Kenapa Allah melemparkan

hamba-hambanya ke dalam neraka ? ", lanjut perempuan tadi. Kemudian

Rasulullah menangis dan berkata : " Demikianlah yang diwahyukan kepadaku ".

b. Al-Hikmah al-Manthûqbihâ adalah ilmu-ilmu syarî'at ( cabang ilmu agama yang

membahas hukum-hukum agama secara lahiriah ) dan tharîqah. ( cabang ilmu

11

(36)

٢٥

agama yang membahas metode dan jalan menuju ma'rifatullah ). ( lihatlah

kitab-kitab rujukan yang membahas permasalahan tersebut )

Untuk lebih mengakselerasi pengertian al-hikmah, penulis paparkan bebarapa

pendapat pakar fiqh dan filosof. Dalam literatur fikih, permasalahan hikmah dibahas ketika

ulama usul fikih membicarakan sifat sifat yang bisa dijadikan 'illat hukum. Maka muncullah

istilah hikmah at-tasyrî' ( hikmah pensyari'atan ) yang didefinisikan sebagai : "suatu motivasi

dalam pensyariatan hukum dalam rangka mencapai suatu kemaslahatan atau menolak suatu

kemafsadatan " misalnya, kebolehan akad jual beli adalah ( hikmahnya ) dalam rangka

mendapatkan suatu manfaat yang dibutuhkan, perzinaan diharamkan dalam rangka

memlihara keturunan, danuntuk itu disyariatkan hukuman dera atau rajam, meminum

minuman keras diharamkan dalm rangka memelihara akal, dan untuk itu disyariatkan

hukuman dera; mencuri dilarang dalam rangka memelihara hartaorang lain, dan untuk itu

disyariatkan hukuman potong tangan; danmembunuh diharamkan untuk memelihara jiwa

orang lain, untuk itu disyariatkan qishâsh dalam pembunuhan sengaja.12

Berdasarkan hasil induksi ulama usul fikih terhadap sejumlah nash, seluruh hukum

yang disyariatkan oleh Syâri' (pembuat hukum; Allah SWT dan Rasul-Nya) bertujuan untuk

mencapai kemaslahatan manusia, yaitu untuk memperoleh manfaat bagi mereka atau untuk

menghindarkan dan menolak kemafsadatan atau kemudaratan mereka. Hal ini sejalan dengan

firman Allah SWT dalam surat al-Anbiyâ' ayat 107 yang artinya : " Dan tiadalah Kami

mengutus kamu,melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam," Ulama usul fikih

menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan rahmat dalam ayat diatas adalah berbagai

kemaslahatan manusia yang harus dicapai atau berbagai kemudaratan yang harus dihindarkan

dari mereka. Rahmat dalam hukum hukum syara' terlihat dengan jelas, seperti kebolehan

12

(37)

٢٦

berbuka bagi orang yang berpuasa dalam perjalanan atau dalam keadaan sakit, yang

hikmahnya adalah untuk menghindarkan kesulitan bagi mereka. Akan tetapi, penentuan

kemaslahatan dan kemudaratan itu, menurut imam Al-Ghazâliyy (tokoh usul fikih Mazhab

asy-Syâfi'iyy ) dan Imam asy-Syâthibiyy (tokoh usul fikih Madzab Mâlikiyy ) adalah

kehendak syara' bukan kehendak manusia.

Dalam rangka pembahasan sifat yang dapat dijadikan 'illat suatu hukum, ulama usul

fikih membedakan antara 'illat dan hikmah. Ilat hukum ('illah al-hukm) adalah suatu sifat

yang ditentukan oleh Syâri' sebagai pertanda dalam penetapan suatu hukum , sehingga Syâri'

menetapkan keterkaitan suatu hukum dengan sifat tersebut. Apabila sifat itu ada, maka

hukum pun ada, dan apabila sifat itu tidak ada, maka hukum pun tidak ada. Sifat inilah yang

diduga dapat mencapai kemaslahatan yang dikehendaki Syâri'. Sedangkan hikmah diartikan

sebagai kemaslahatan itu sendiri. Karenanya, kemaslahatan itu bisa berbeda kualitas dan

tingkatannya dari segi kejelasan dan ukurannya. Adakalanya kemaslahatan itu bersifat jelas

dan dapat diukur, dalam artian berlaku untuk semua orang dan adakalanya kemaslahatan itu

tidak jelas dan tidak dapat diukur, sehingga sulit untuk ditangkap oleh nalar mukallaf.

Untuk memperjelas perbedaan antara 'illat dan hikmah, ulama usul fikih

mengemukakan contoh. Apabila seorang mukallaf melakukan perjalanan (safar), maka

dibolehkan baginya meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat (shalat Qashar).

Kebolehan meringkas shalat ini ditetapkan atas dasar safar yang dilakukan. Safar ini

merupakan sifat yang nyata dan dapat diukur. Artinya, berlaku untuk setiap orang. Safar

inilah yang diduga keras sebagai penyebab munculnya masyaqqah (kesulitan) yang akan

ditemui dalam melaksanakan shalat empat rakaat. Sifat safar inilah yang ditetapkan ulama

(38)

٢٧

suatu kemaslahatan yang ingin dicapai Syâri'. Masyaqqah inilah yang disebut dengan

hikmah. Akan tetapi, tingkat kesulitan (masyaqqah) tersebut tidak sama untuk setiap orang,

sehingga ulama usul fikih menetapkan bahwa hikmah tersebut sulit untuk diukur.13

Hikmah menurut sebagian filosof diartikan sebagai filsafat itu sendiri. Sebagaimana

filsafat hikmah yang dikembangkan oleh Mulla Shadra14. Filsafat Shadra agak berbeda

dengan teori-teori filsafat sebelumnya. Pijakan teori ini justru mengandalakan dzauq ( intuisi

) sebagai daya paling andal untuk mencapai ( kebenaran ) ilmu pengetahuan. Akan tetapi

pada saat yang sama aliran filsafat ini beranggapan bahwa kebenaran tersebut justru harus

dapat diungkapkan dan diverifikasikan lewat suatu perumusan secara

diskursif-demonstrasional ( dirasionalisasikan ). Tentuya hikmah yang dikembangkan para filosof

sangat kontras dengan pengertian hikmah yang dijabarkan oleh para kaum sufi, yang sering

menyampaikan pengalaman mistikal-nya dengan menghindari bukt-bukti logis.15

Untuk lebih memudahkan memahami makna al-hikmah dalam Literatur Arab secara

umum, berikut penulis gambarkan pengertian lafal al-hikmah dalam bentuk tabel :

NO

ﻰﻈﻔﻟ ﻰﻨﻌﻣ Makna Etimologis

1. ﻖﺤﻟا ﻖﻓاﻮﻤﻟا مﻼﻜﻟا Perkataan atau ucapan yang sesuai dengan

13 Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 2, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, h. 551 14

Nama lengkapnya Muhammad ibn Ibrahim Yahya Qawamy Syirazi. Lahir di Syiraz pada tahun 1571 M Ayahnya seorang ahli hukum yang bekerja pada Pemerintahan Safawi, tepatnta di Propinsi Fars. Dia berguru ilmu naqli pada Syaikh Bahâ' ad-Dîn al-'Amili dan belajar ilmu filsafat dan logika pada Mir Damad. Karya monumentalnya adalah al-Hikmah al-Mut'âliyah fi al-Asfâr al-Arba'ah. Sifat sintetik pemikirannya dan inkorporasi al-Qur'an dan al-Haist yang dilakukannya, telah menjadikan filsafatnya ini sebagi bukti masih hidup dan dinamisnya Filsafat Islam Pasca Ibn Rusyd. Bahkan ada yang mengatakan bahwa filsafat hikmahnya sebagai Filsafat Islam yang sesungguhnya.

15

(39)

٢٨

kebenaran

2. هداﺪﺳ و ﺮﻣﻷا باﻮﺻ Perkara yang benar dan lurus

3. لﺪﻌﻟا Adil

4. ﻢﻠﻌﻟا Berilmu

5. ﻢﻠﺤﻟا Akil baligh / sabar dan murah hati

6. ﻪﻘﻔﺘﻟا Belajar

7. ﺔﻠﻌﻟا Alasan

8. هﺎﻨﻌﻣ ﻞﺠﯾ و ﻪﻈﻔﻟ ﻞﻘﯾ يﺬﻟا مﻼﻜﻟا Perkataan dengan sedikit ungkapan tetapi sarat makna

9. ﺐﻄﻟا و ءﺎﯿﻤﻜﻟا : ﺔﻤﻜﺤﻟا ﻢﻠﻋ Ilmu al-Hikmah : Ilmu Kimia dan Kedokteran

10. نﺎﻘﺗﻹا Mengerjakan sesuatu dengan dengan sempurna

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...