BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Laporan Keuangan
2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan
Pada umumnya laporan keuangan bagi suatu perusahaan hanyalah
sebagai “alat penguji” dari pekerjaan bagian pembukuan, tetapi
untuk selanjutnya laporan keuangan tidak hanya sebagai alat penguji,
tetapi sebagai dasar untuk menemukan atau menilai posisi keuangan
perusahaan tersebut, dari hasil analisis tersebut, pihak-pihak yang
berkepentingan dalam mengambil suatu keputusan.
Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat
memberikan informasi tentang keadaan suatu perusahaan sekaligus
merupakan alat komunikasi antar data keuangan atau aktivitas
perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data
atau aktivitas perusahaan tersebut.
Menurut Raharjo (2000:45),
2.1.2 Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan menurut APB Statement No.4 digolongkan sebagai berikut:
2.1.2.1 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha dan perobahan posisi keuangan lainnya secara wajar dan sesuai dengan General Accepted Accounting Principle (GAAP). 2.1.2.2 Tujuan umum
Adapun tujuan umum dari laporan keuangan adalah sebagai berikut:
2.1.2.2.1 Memberikan informasi yang terpecaya tentang sumber-sumber ekonomi dan kewajiban perusahaan dengan maksud:
2.1.2.2.1.1 Untuk menilai kekuatan dan kelemahan perusahaan.
2.1.2.2.1.2 Untuk menunjukkan posisi keuangan dan investasinya.
2.1.2.2.1.3 Untuk menilai kemampuannya untuk menyelesaikan utang-utangnya.
2.1.2.2..1.4 Menunjukkan kemampuan sumber-sumber kekayaan yang ada untuk pertumbuhan perusahaan.
2.1.2.2.2 Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba dengan maksud:
2.1.2.2.2.1 Memberikan gambaran tentang deviden yang diharapkan pemegang saham.
2.1.2.2.2.2 Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban kepada kreditur, supplier, pegawai, pajak, mengumpulkan dana untuk perluasan.
2.1.2.2.2.3 Memberikan informasi kepada manajemen untuk digunakan dalam pelaksanan fungsi perencanaan dan pengawasan.
2.1.2.2.3 Memeberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
2.1.2.2.4 Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan harta dan kewajiban.
2.1.2.2.5 Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan para pemakai laporan keuangan. 2.1.2.3 Tujuan Kualitatif
2.1.2.3.2 Relevan
Memilih informasi yang benar-benar dapat membantu pemakai laporan.
2.1.2.2.2 Understandability
Informasi yang dipilih untuk disajikan bukan saja yang penting tetapi juga harus informasi yang dimengerti para pemakainya.
2.1.2.2.3 Verifiability
Hasil akuntansi itu harus dapat diperiksa oleh pihak lain yang akan menghasilkan pendapat yang sama, dengan kata lain ukurannya harus ada.
2.1.2.2.4 Netrality
Laporan akuntansi itu harus netral terhadap pihak-pihak yang berkepentingan. Informasi dimaksudkan untuk pihak umum bukan untuk pihak-pihak tertentu saja.
2.1.2.2.5 Time-Liness
Laporan akuntansi bermanfaat untuk pengambilan keputusan apabila diserahkan pada saat yang tepat.
2.1.2.2.6 Comparability
Laporan akuntansi harus dapat saling diperbandingkan artinya akuntansi harus memiliki prinsip yang sama baik untuk suatu perusahaan maupun perusahaan lain.
2.1.2.2.6.1 Completeness
2.1.3 Pihak-Pihak yang Berkepentingan.
Menurut Munawir (2004:2),
Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan maupun perkembangan suatu perusahaan adalah:
2.1.3.1 Pemilik Perusahan
Bagi pemilik perusahaan laporan keungan sangat berguna untuk menilai sukses tidaknya manajer dalam memimpin perusahaannya dan kesuksesan seseorang manajer tersebut dinilai dengan laba yang diperoleh perusahaan karena hasil-hasil stabilitas serta kontinuitas atau kelangsungan perusahannya tergantung dari cara kerja atau efisiensi manajemennya, maka jika hasil-hasil yang dicapai oleh manajemennya tidak memuaskan maka para pemilik perusahaan dalam hal ini pemegang saham mungkin akan mengganti manajemennya atau bahkan menjual saham-sahamnya yang dimiliki tersebut. Keputusan untuk mengganti manajemen adalah untuk mempertahankan saham yang dimiliki atau menjual saham-sahamnya akan tergantung dari hasil analisis mereka terhadap laporan keuangan perusahaan tersebut. Dengan kata lain laporan keuangan diperlukan oleh pemilik perusahaan diperlukan untuk menilai hasil-hasil yang akan dicapai di masa yang akan datang sehingga bisa menafsirkan bagian keuntungan yang akan diterima dan perkembangan harga saham
2.1.3.2 Manajer atau Pemimpin Perusahaan
2.1.3.3 Investor (Penanam Modal Jangka Panjang)
Investor sangat memerlukan laporan keuangan perusahaan dimana mereka ini penanam modalnya. Mereka ini berkepentingan terhadap prospek keuntungan di masa mendatang dan perkembangan perusahaan selanjutnya, untuk mengetahui jaminan investasinya dan untuk mengetahui kondisi kerja atau kondisi keuangan jangka pendek perusahaan tersebut. Dari hasil analisis laporan tersebut para investor akan dapat menentukan langkah-langkah yang harus ditempuhnya.
Para investor berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan dalam rangka penentuan kebijksanaan penanaman modalnya, apakah mempunyai prospek yang cukup baik dan akan diperoleh keuntungan atau “rate of return” yang cukup baik.
2.1.3.4 Para Kreditur dan Bankers
Sebelum mengambil keputusan untuk memberi atau menolak permintaan kredit dari suatu perusahaan, perlu mengetahui terlebih dahulu posisi keuangan dari perusahaan yang bersangkutan. Posisi atau keadaan keuangan perusahaan bagi pemberi kredit akan dapat diketahui melalui penganalisaan laporan keuangan perusahaan tersebut. Hal ini akan dilakukan baik oleh kreditur jangka pendek maupun kreditur jangka panjang.
Kreditur jangka panjang selain ingin mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar hutangnnya dan beban-beban bunganya, juga untuk mengetahui apakah kredit yang akan diberikan itu cukup untuk mendapat jaminan dari perusahaan tersebut, yang digambarkan atau terlihat pada kemampuan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Sehingga mereka dalam mengadakan analisis laporan keuangan terbatas datanya, yaitu hanya atas dasar laporan-laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan tersebut.
2.1.3.5 Pemerintah
Pemerintah adalah suatu pihak dimana perusahaan berdomisili, pemerintah sangat berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan tersebut di samping untuk menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung oleh perusahaan juga sangat diperlukan oleh Biro Pusat Statistik Dinas Perindustrian, perdagangan dan tenaga kerja untuk dasar perencanaan pemerintah.
2.1.3.6 Karyawan Perusahaan
Karyawan perusahaan biasanya juga mengetahui laporan keuangan perusahaan tersebut. Bagi karyawan laporan keuangan diperlukan guna menawar kontrak kerja berikutnya.
2.2 Keterbatasan Laporan Keuangan
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002:6) dikatakan bahwa, Keterbatasan laporan keuangan adalah:
2.2.1 Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat bukan masa kini. Karena laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi apalagi untuk meramalkan masa depan atau menentukan nilai (harga) perusahaan saat itu.
2.2.2 Laporan Keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu atau pihak khusus saja seperti untuk pihak yang akan membeli perusahaan.
2.2.3 Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran dan berbagai pertimbangan.
2.2.4 Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material. Demikian pula, penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta atau pos tertentu mungkin tidak dilaksanakan jika hal ini tidak menimbulkan pengaruh secara material terhadap kelayakan laporan keuangan.
jika harga pasar melebihi harga pokok tidak dicatat sebagai laba.
2.2.6 Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu peristiwa/transaksi daripada bentuk hukumnya (formalitas). Misalnya jika perusahaan memiliki kredit Rp. 1 milyar, artinya perusahaan memiliki dana yang dapat ditarik setiap saat sebesar jumlah itu. Namun jika itu belum ditarik maka kita tidak dibolehkan mencatatnya sebagai unsur kas di neraca.
2.2.7 Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis, dan pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan.
2.2.8 Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis dan tingkat kesuksesan antar perusahaan. Metode penilaian persediaan boleh menggunakan metode LIFO (last in first out), FIFO (first in first out), Average yang hasilnya pasti berbeda. Demikian juga metode penyusutan: garis lurus, saldo menurun, Sum of Years Digit, dan sebagainya.
2.2.9 Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikuantifikasikan umumnya diabaikan.
2.3 Komponen-komponen Laporan Keuangan
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002:1.3), “laporan keuangan yang
lengkap terdiri dari komponen-komponen neraca, laporan laba rugi, laporan
perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan
tersebut.”
2.3.1 Neraca atau laporan posisi keuangan (Balance Sheet)
Defenisi neraca menurut Reeve, Warren dan Fees (2002:24) adalah
“Laporan mengenai suatu daftar aktiva, kewajiban dan ekuitas
pemilik pada tanggal tertentu biasanya pada akhir bulan atau akhir
Neraca terdiri dari 3 bagian yaitu: Aktiva, Hutang, dan Modal
2.3.1.1 Aktiva
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002:13) aktiva adalah
“Sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat
dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi
dimasa depan diharapkan akan diperoleh.”
Aktiva tidak terbatas pada kekayaan perusahaan yang
berwujud saja, tetapi juga termasuk
pengeluaran-pengeluaran yang belum dialokasikan pada penghasilan
yang akan datang serta aktiva yang tidak berwujud lainnya
(intangible assets) misalnya Goodwil, hak paten dan sebagainya.
Pada dasarnya aktiva dapat diklasifikasikan menjadi dua
bagian yaitu aktiva lancar dan aktiva tidak lancar.
2.3.1.1.1 Aktiva Lancar
Secara umum aktiva lancar, meliputi kas dan
semua aktiva yang dalam jangka waktu singkat
akan kembali lagi dalam bentuk kas. Dimana
jangka waktunya tidak lebih dari satu tahun
terhitung dari tanggal neraca.
Penyajian pos-pos aktiva lancar di dalam neraca
didasarkan pada urutan likuiditasnya, sehingga
penyajiannya diliputi dari aktiva yang paling
likuid sampai pada aktiva yang paling tidak
likuid.
Dari uraian diatas yang temasuk dalam kelompok
aktiva yang likuid adalah sebagai berikut:
2.3.1.1.1.1 Kas atau uang tunai, yang meliputi
uang kertas, cek dan segala sesuatu
yang dapat disamakan dengan uang
kas,
2.3.1.1.1.2 Surat-surat berharga yang merupakan
investasi jangka pendek, berupa
saham, obligasi dan jenis-jenis surat
berharga lainnya yang dapat dijual,
2.3.1.1.1.3 Piutang wessel, tagihan kepada pihak
perjanjian yang diatur dalam undang
undang,
2.3.1.1.1.4 Piutang dagang, tagihan kepada
pihak lain (kepada kreditur atau
langganan) sebagai akibat adanya
penjualan barang dagangan secara
kredit,
2.3.1.1.1.5 Persediaan, adalah persediaan yang
berupa barang dagangan, barang
setengah jadi, atau bahan mentah
yang dimiliki perusahaan pada suatu
saat tertentu,
2.3.1.1.1.6 Penghasilan yang masih harus
diterima, adalah tagihan perusahaan
kepada pihak lain yang timbul dari
penghasilan yang sudah menjadi hak
perusahaan tetapi saat penyesuaian
neraca belum diterima
pembayarannya,
2.3.1.1.1.7 Biaya dibayar dimuka, adalah
pembayaran dimuka yang telah
dilakukan oleh perusahaan seperti
pembayaran premi asuransi dimuka
dan lain sebagainya.
2.3.1.1.2 Aktiva Tidak Lancar
Menurut Munawir (2004:16), “aktiva tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai umur kegunaan relatif permanen atau jangka panjang (mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun atau tidak akan habis dalam satu kali perputaran operasi perusahaan).” Sedangkan menurut Tunggal (1995:11), “aktiva
tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai masa penggunaan yang relatif panjang, dalam arti tidak akan habis dipakai dalam satu siklus operasi perusahaan atau satu tahun dan tidak dengan segera dijadikan kas.”
Yang termasuk dalam aktiva tidak lancar adalah
sebagai berikut:
2.3.1.1.2.1 Investasi jangka panjang, dapat
berupa surat-surat berharga seperti
saham, obligasi, wessel jangka
panjang, investasi dalam bentuk
aktiva tetap berwujud (tanah,
mesin-mesin) tetapi belum digunakan usaha
sekarang, penyisihan dana untuk
tujuan jangka panjang seperti dana
pelunasan obligasi, dan pembelian
2.3.1.1.2.2 Aktiva tetap berwujud, kekayaan
yang dimiliki oleh perusahaan yang
fisiknya nampak (konkrit) dan
digunakan dalam operasi yang
bersifat permanen (aktiva tersebut
mempunyai umur manfaat jangka
panjang atau tidak habis dalam satu
periode kegiatan perusahaan). Seperti
bangunan kantor, pabrik, mesin, dan
lain sebagainya.
2.3.1.1.2.3 Aktiva tetap tak berwujud (intangible fixed asset), merupakan kekayaan perusahan yang secara fisik tidak
tampak tetapi merupakan milik
perusahaan dan digunakan dalam
kegiatan operasi perusahaan.
2.3.1.1.2.4 Beban yang ditangguhkan (deferred charges), merupakan pengeluaran yang dibebankan perusahaan pada
2.3.1.1.2.5 Aktiva lain-lain yang mana belum
menunjukkan kekayaan atau aktiva
perusahaan yang belum dimasukkan
dalam klasifikasi sebelumnya seperti
gedung dalam proses, tanah dalam
penyelesaian, piutang jangka panjang
dan sebagainya.
2.3.1.2 Kewajiban (Hutang)
Menurut Munawir (2004:18), “hutang adalah Semua
kewajiban keuangan perusahan kepada pihak lain yang
belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber
dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditor.”
Dari pengertian di atas maka hutang dapat dibedakan
menjadi dua bagian yaitu:
2.3.1.2.1 Hutang lancar (hutang jangka pendek)
Hutang lancar adalah kewajiban dari perusahaan
yang harus dibayarkan dalam jangka pendek (satu
tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan
Hutang lancar terdiri atas:
2.3.1.2.1.1 Hutang dagang, adalah suatu bentuk
hutang lancar yang tidak disertai
dengan janji tertulis secara formal
yang timbul akibat pembelian barang
atau jasa secara kredit.
2.3.1.2.1.2 Hutang wessel, hutang yang disertai
janji tertulis (diatur oleh
undang-undang) yang dibuat oleh perusahaan
untuk membayar sejumlah uang
kepada atau perusahaan lain pada
waktu yang telah ditetapkan dalam
surat tersebut.
2.3.1.2.1.3 Hutang pajak, baik pajak perusahaan
tersebut maupun pajak pendapatan
karyawan yang belum disetorkan ke
kas negara.
2.3.1.2.1.4 Biaya yang masih harus dibayar,
adalah hutang yang timbul karena
jasa-jasa yang diterima oleh
perusahaan dalam suatu periode
Misalnya, hutang gaji kepada
pegawai, hutang bunga, hutang
pajak, hutang sewa, dan lain-lain
biaya yang masih harus dibayar.
2.3.1.2.2 Hutang jangka panjang.
Hutang jangka panjang adalah kewajiban
keuangan dari perusahaan yang mana jangka
waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih
jangka panjang lebih dari satu tahun sejak tanggal
neraca yang terdiri atas:
2.3.1.2.2.1 Hutang obligasi, adalah suatu janji
tertulis untuk membayar pokok
pinjaman pada saat jatuh tempo
ditambah dengan bunga yang akan
dibayar secara teratur pada waktu
tertentu,
2.3.1.2.2.2 Hutang hipotik yaitu hutang yang
dijamin dengan aktiva tetap tertentu,
2.3.1.3 Ekuitas (Modal)
Modal merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh
pemilik perusahaan yang ditunjukkan dalam pos modal
(modal saham), surplus dan laba yang ditahan, atau dapat
diartikan sebagai selisih antara aktiva yang dimiliki
perusahaan dengan seluruh hutang-hutang perusahaan.
Terkadang dalam prakteknya klasifikasi dalam neraca
seringkali membingungkan pembaca dengan nama reserve (cadangan) yang merupakan surplus, yang mana cadangan
tersebut merupakan hak para pemilik perusahaan, sebagai
contoh “cadangan untuk ekspansi” adalah merupakan
pemisahan sebagian dari laba yang ditahan (retained earning) yang mana dalam neraca akan masuk dalam klasifikasi modal (appropriated surplus).
2.3.3 Laporan Laba Rugi (Income Satement)
Laporan laba rugi merupakan suatu laporan yang sistematis tentang
penghasilan dan biaya yang diperoleh suatu perusahaan selama
periode tertentu.
Bentuk-bentuk laporan laba rugi terbagi atas dua yaitu:
2.3.3.1 Bentuk single step, adalah dengan menggabungkan semua penghasilan menjadi suatu kelompok, sehingga untuk
langkah yakni mengurangkan total biaya dengan total
pendapatan.
2.3.3.2 Bentuk multiple step, yakni pengelompokan yang lebih teliti sesuai prinsip yang digunakan secara umum.
Tujuan pokok laporan laba rugi adalah melaporkan kemampuan riil
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Laporan laba rugi
perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai
unsur kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar.
Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos berikut: 2.3.3.1 Pendapatan,
2.3.3.2 Laba rugi usaha, 2.3.3.3 Beban pinjaman,
2.3.3.4 Bagian dari laba atau rugi perusahaan afiliasi dan asosiasi yang diperlukan menggunakan metode ekuitas,
2.3.3.5 Beban pajak,
2.3.3.6 Laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan, 2.3.3.7 Pos luar biasa,
2.3.3.8 Hak minoritas,
2.3.3.9 Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan. (IAI, 2002:1.14)
2.3.4 Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode yang bersangkutan. Perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukkan:
2.3.4.1 Laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan,
2.3.4.2 Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian beserta jumlahnya yang berdasarkan PSAK terkait diakui secara langsung dalam ekuitas,
2.3.4.3 Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap kesalahan mendasar sebagaimana diatur dalam PSAK terkait,
2.3.4.5 Saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahan, dan
2.3.4.6 Rekonsiliasi antar nilai tercatat dari masing-masing jenis modal saham, agio dan cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan. (IAI, 2002:1.17)
Laporan perubahan ekuitas, kecuali untuk perubahan yang berasal
dari transaksi dengan pemegang saham seperti setoran modal dan
pembayaran dividen, menggambarkan jumlah keuntungan dan
kerugian yang berasal dari kegiatan perusahaan selama periode yang
bersangkutan.
2.3.5 Laporan Arus Kas
Laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan
para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih,
struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan
kemapuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam
rangka adaptasi dengan perubahan keadaan dan peluang. (IAI,
2002:2.1) Informasi arus kas berguna untuk menilai kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan
memungkinkan para pemakai mengembangkan model untuk menilai
dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan (future cash flow) dari berbagai perusahaan.
2.3.6 Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis.
Setiap pos dalam neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas
Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan:
2.3.6.1 Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi yang penting,
2.3.6.2 Informasi yang diwajibkan dalam pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tetapi tidak disajikan di neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas,
2.3.6.3 Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.
(IAI, 2002:1.17)
2.4 Analisis Laporan Keuangan
Menurut Soemarso (2005:21), “analisis laporan keuangan adalah
menghubungkan angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan
dengan angka lain atau menjelaskan perubahannya (trend).” Sedangkan menurut Harahap (1997:190),
Analisis laporan keuangan adalah menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau mempunyai makna antara satu dengan yang lainnya baik antara data kuantitatif maupun data nonkuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa pemakai dari laporan keuangan
terdiri dari pemakai internal perusahaan dan eksternal perusahaan.
Pemakai internal seperti manajemen dalam menganalisa laporan keuangan
dapat menilai perkembangan perubahan serta berpengaruh terhadap proses
pengambilan keputusan yang akan datang. Sedangkan untuk pemakai
eksternal, laporan keuangan tersebut dapat memberikan informasi bagi
kondisi keuangan dari perusahaan tersebut. Oleh karena itu untuk
menjawab adanya pertanyaan-pertanyaan dari pihak eksternal dan internal
tersebut maka perlu dilakukan analisis terhadap laporan keuangan tersebut
yang berfungsi untuk membandingkan atau mengidentifikasikan laporan
keuangan tersebut terhadap pos-pos yang terdapat dalam laporan keuangan
tersebut.
2.4.1 Sifat-sifat Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan mempunyai sifat-sifat seperti:
2.4.1.1 Fokus pelaporan adalah laporan laba rugi, neraca, arus
kas, yang merupakan akumulasi transaksi dari keterjadian
historis, dan penyebab terjadinya dalam suatu perusahaan,
2.4.1.2 Prediksi, analisis harus mengkaji implikasi kejadian yang
sudah berlalu terhadap dampak prospek perkembangan
keuangan perusahaan dimasa yang akan datang,
2.4.1.3 Dasar analisa adalah laporan keuangan yang memiliki sifat
dan prinsip tersendiri sehingga hasil analisa sangat
tergantung pada kualitas laporan ini. Penguasaan pada
sifat akuntansi, prinsip akuntansi sangat diperlukan dalam
menganalisa laporan keuangan.
2.4.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan yang dilakukan dimaksudkan untuk
Secara lengkap tujuan analisis laporan keuangan adalah:
2.4.2.1 Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam,
daripada yang terdapat dari laporan keuangan,
2.4.2.2 Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat
mata (explicit) dari suatu laporan keuangan atau yang berada dibalik laporan keuangan (implicit),
2.4.2.3 Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam
laporan keuangan,
2.4.2.4 Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten
dalam hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik
dikaitkan dengan komponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari
luar perusahaan,
2.4.2.5 Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat
melahirkan model-model dan teori-teori yang terdapat
dilapangan seperti untuk prediksi dan peringkat (rating) 2.4.2.6 Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para
pengambil keputusan seperti:
2.4.2.6.1 Dapat menilai prestasi perusahaan,
2.4.2.6.3 Dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan
masa sekarang dari aspek waktu tertentu seperti
posisi keuangan (asset, dan modal pada neraca), hasil usaha perusahaan (hasil dan biaya),
likuiditas, solvabilitas, aktivitas, rentabilitas
atau profibilitas, dan indikator pasar modal,
2.4.2.6.4 Menilai perkembangan dari waktu ke waktu,
2.4.2.6.5 Melihat komposisi struktur keuangan, arus dana
2.4.2.7 Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria tertentu yang sudah dikenal dalam bisnis,
2.4.2.8 Dapat membandingkan situasi perusahaan dan perusahaan
lain dengan periode sebelumnya atau dengan standar
industri normal atau standar ideal.
2.4.2.9 Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang
dialami perusahaan, baik posisi keuangan, hasil usaha,
struktur keuangan, dan sebagainya,
2.4.2.10 Dapat memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan di masa yang akan datang.
2.4.3 Prosedur Analisis
Menurut Smith dan Skousen (2001:590),
Prosedur analitis dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu: 2.4.3.1 Perbandingan dan pengukuran berdasarkan data
2.4.3.2 Perbandingan dan pengukuran berdasarkan data keuangan hanya dari suatu periode fiskal
Kategori ini mencakup penetapan hubungan neraca dengan perhitungan rugi laba periode berjalan dan penganalisaan laba dan kemampuan menghasilkan laba.
2.4.4 Metode Analisis
Secara umum metode analisis laporan keuangan dapat
diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
2.4.4.1 Metode Analisis Horizontal
Adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara
membandingkan laporan keuangan untuk beberapa tahun
(periode) sehingga dapat diketahui perkembangan dan
kecenderungannya. Metode ini disebut juga dengan
metode analisis dinamis karena metode ini bergerak dari
tahun ketahun (periode).
2.4.4.2 Metode Analisis Vertikal
Adalah metode yang dilakukan dengan cara menganalisis
laporan keuangan pada tahun (periode) yang sama, karena
membandingkan antara pos-pos yang satu dengan pos-pos
yang lainnya pada laporan keuangan yang sama.
Metode ini disebut juga sebagai metode statis karena
metode ini hanya membandingkan pos-pos laporan
2.4.5 Teknik analisis
Teknik analisis yang biasa digunakan dalam analisis laporan
keuangan adalah sebagai berikut:
2.4.5.1 Analisis perbandingan laporan keuangan,
2.4.5.2 Analisis seri trend atau angka index,
2.4.5.3 Laporan dengan persentase per komponen (common size statement),
2.4.5.4 Analisis sumber dan penggunaan modal kerja,
2.4.5.4 Analisis sumber dan penggunaan dana,
2.4.5.5 Analisis rasio,
2.4.5.6 Analisis perubahan laba kotor
2.4.5.7 Analisis Break-even
Dari jenis analisis di atas, penulis akan mempersempit cakupan
pembahasannya, yaitu hanya menyajikan analisis rasio dalam
Penelitian ini sesuai dengan yang dikemukakan yaitu mengenai
analisis rasio.
2.5 Analisis Rasio
Menurut Harahap (1997:293), “rasio keuangan adalah angka yang
diperoleh dari hasil perbandingan dari suatu pos laporan keuangan dengan
(berarti).” Analisis rasio adalah suatu cara untuk menganalisis laporan
keuangan yang mengungkapkan hubungan matematik antara suatu jumlah
dengan jumlah lainnya atau perbandingan antara satu pos dengan pos
lainnya. Analisis rasio juga merupakan suatu alat analisis keuangan yang
sangat populer dan banyak digunakan. Namun perannya sering disalah
pahami dan sebagai konsekuensinya, kepentingan sering dilebih lebihkan.
Kita harus ingat bahwa rasio merupakan alat untuk menyatakan pandangan
terhadap kondisi yang mendasari, dalam hal ini kondisi financial perusahan Analisis rasio sering kali digunakan dalam melakukan analisis
terhadap kondisi keuangan perusahaan. Rasio ini berfungsi untuk
menyederhanakan informasi yang menggambarkan hubungan antara pos
tertentu dengan pos lainnya. Sehingga dengan melihat perbandingan
tersebut dengan rasio lain maka dapat diambil penilaian dan kita dapat
memperoleh informasi yang lebih cepat.
2.5.1 Keunggulan Analisis rasio
Analisis rasio mempunyai keunggulan-keunggulan yang membuat
analisis tersebut banyak dipergunakan oleh banyak perusahaan
ataupun perusahan jasa. Keunggulan tersebut adalah sebagai
berikut:
2.5.1.1 Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang
2.5.1.2 Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi
yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan
rumit,
2.5.1.3 Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lainnya,
2.5.1.4 Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi
model-model pengambilan keputusan dan model-model prediksi,
2.5.1.5 Menstandarisir size perusahan,
2.5.1.6 Lebih mudah membandingkan perusahaan dengan
perusahan lain atau melihat perkembangan perusahaan
secara periodik atau “time series”
2.5.1.7 Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi dimasa yang akan datang.
2.5.2 Keterbatasan Analisis Rasio
Selain terdapat keunggulan dari analisis rasio ini maka terdapat
juga beberapa keterbatasan yang harus disadari ketika
menggunakannya sehingga kita tidak salah dalam penggunanya.
Keterbatasan tersebut berupa hal-hal sebagai berikut:
2.5.2.1 Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat
digunakan untuk kepentingan pemakainya,
2.5.2.2 Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atau laporan
2.5.2.3 Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu banyak
mengandung taksiran dan judgment yang dapat dinilai biasa atau subyektif,
2.5.2.4 Metode pencatatan yang tergambar dalam standar
akuntansi bisa diterapkan berbeda oleh perusahan yang
berbeda,
2.5.2.5 Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada
angka rasio,
2.5.2.6 Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan
menimbulkan kesulitan dalam menghitung rasio,
2.5.2.7 Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio
adalah nilai perolehan (cost) bukan harga pasar, 2.5.2.8 Sulit jika data yang tersedia sinkron,
2.5.2.9 Jika dua perusahaan dibandingkan bisa saja standar
akuntansi yang dipakai tidak sama. Oleh karena itu jika
dilakukan perbandingan dapat menimbulkan kesalahan.
2.5.3 Jenis-jenis Rasio
Secara umum rasio yang sering digunakan oleh perusahaan dalam
menganalisa posisi keuangan perusahan adalah:
Rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio rentabilitas. Namun
sebenarnya masih banyak rasio yang dapat dilihat untuk menilai
2.5.4 Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk
menyelesaikan kewajiban jangka pendek. Rasio ini dihitung
melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos pos aktiva
lancar dan hutang lancar.
Menurut Soemarso (2005:385), “rasio likuiditas adalah analisis
laporan keuangan yang dapat mengukur kemampuan perusahaan
memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang jatuh tempo.”
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa rasio likuiditas
adalah rasio yang menunjukkan hubungan kas dan aktiva lancar
lainnya dengan kewajiban lancar. Secara umum untuk dapat
menilai posisi keuangan jangka pendek (likuiditas) diberikan
beberapa rasio yang dapat digunakan sebagai alat untuk
menganalisa atau menginterpretasikan data laporan keuangan
tersebut adalah sebagai berikut:
2.5.4.1 Current ratio (rasio lancar)
Rasio lancar adalah analisis laporan keuangan yang
angkanya dihitung dari aktiva lancar dibagi kewajiban
lancar. Angka ini menunjukkan tingkat kemampuan
perusahaan melunasi kewajiban lancarnya dengan aktiva
yang diharapkan dapat dicairkan menjadi uang tunai dalam
periode yang sama dengan jatuh temponya kewajiban.
lancar maka semakin tinggi kemampuan perusahaan
menutupi kewajiban jangka pendeknya.
Apabila rasio lancar 1:1 atau 100%, ini berarti bahwa
aktiva lancar dapat menutupi semua hutang lancar. Rasio
lancar yang lebih aman adalah jika berada di atas 1 atau
diatas 100%, artinya aktiva lancar harus jauh di atas
jumlah hutang lancar.
Current Ratio =
lancar g
Hu
lancar Aktiva
tan
2.5.4.2 Cash ratio (rasio kas)
Rasio kas adalah perbandingan antara jumlah kas
(termasuk yang disimpan di bank) dan surat berharga yang
segera dapat diuangkan dengan jumlah hutang lancar.
Cash ratio =
lancar g
Hu
Efek Kas
tan +
2.5.4.3 Acid Test Ratio (rasio cepat)
Rasio cepat atau disebut dengan quick ratio adalah perbandingan antara aktiva lancar setelah dikurangi
dengan persediaan dengan kewajiban lancar. Rasio cepat
merupakan ukuran dalam menilai kemampuan perusahaan
dalam membayar kewajibannya tanpa memperhitungkan
Aktiva mudah atau membutuhkan waktu yang relatif lama untuk
direalisisir menjadi uang kas walaupun sebenarnya
persedian lebih likuid daripada piutang.
Quick Ratio =
2.5.4.4 Working Capital to Total Asset Ratio (Rasio modal kerja atas total harta)
Rasio modal kerja atas total harta adalah perbandingan
antara jumlah modal kerja bersih (jumlah aktiva lancar
setelah dikurangi dengan kewajiban lancar) dengan
seluruh aktiva perusahaan.
Working capital to total asset ratio =
2.5.5 Inventory Turnover
Menurut Munawir (2004:77), “Inventory Turnover adalah merupakan rasio antara jumlah harga pokok barang yang dijual
dengan rata-rata persediaan yang dimiliki oleh perusahaan”.
Perputaran ini menunjukkan berapa kali jumlah persediaan barang
dagangan diganti dalam satu tahun (dijual atau diganti). Tingkat
perputaran persediaan mengukur perusahaan dalam memutarkan
barang dagangannya, dan menunjukkan hubungan antara barang
yang diperlukan untuk menunjang atau mengimbangi tingkat
penjualan yang ditentukan. Penghitungan tingkat perputaran ini
diterpakan dalam persediaan bahan mentah maupun persediaan
barang dalam proses. Apabila harga pokok penjualan tidak
diperoleh maka perputaran persediaan dapat dihitung dari penjulan.
Inventory turnover adalah untuk mengukur efisiensi perusahaan dalam mengelola dan menjual persediaannya. Rasio ini
menggambarkan kecepatan persediaan, sehingga besar rasio akan
semakin baik. Sehingga tinggi perputaran rasio ini maka akan
semakin baik waktu rata-rata antara penanaman modal dalam
persediaan dengan transaksi penjualan. Hal tersebut menunjukkan
semakin tinggi permintaan atau penjualan produk perusahaan serta
semakin efisien kerja dari tim manajemen persediaan maka
semakin tinggi laba yang akan diperoleh. Rumus Inventory Turnover yang digunakan:
Inventory Turnover =
Persediaan rata
Rata
Penjualan Pokok
a H
− arg
2.5.6 Return on Assets (ROA)
Return on Assets (ROA) merupakan salah satu rasio profitabilitas. Dalam analisis laporan keuangan, rasio ini paling sering disoroti,
karena mampu menunjukkan keberhasilan perusahaan
menghasilkan keuntungan. ROA mampu mengukur kemampuan
perusahaan manghasilkan keuntungan pada masa lampau untuk
diperoleh dari modal sendiri maupun dari modal asing yang telah
diubah perusahaan menjadi aktiva-aktiva perusahaan yang
digunakan untuk kelangsungan hidup perusahaan.
Return on Assets =
Aktiva Total
Laba
Sekitar tahun 1919, Du Pont Company menggunakan pendekatan
khusus untuk analisis rasio agar dapat mengevaluasi efektivitas
perusahaan. Salah satu variasi dari pendekatan Du Pont memiliki
relevansi khusus untuk memahami pengembalian atas investasi
perusahaan. Ketika margin laba bersih dikalikan dengan perputaran
total aktiva, diperoleh pengembalian atas investasi, atau daya untuk
menghasilkan laba (earning power) atas total aktiva. Baik margin laba bersih maupun rasio perputaran aktiva tidak dapat
memberikan pengukuran yang memadai atas efektivitas
keseluruhan jika berdiri sendiri. Margin laba bersih tidak dapat
memperhitungkan penggunaan aktiva, sementara rasio perputaran
total aktiva tidak memperhitungkan profitabilitas alam penjualan.
Rasio pengembalian atas investasi, atau daya untuk menghasilkan
laba, mengatasi kedua kelemahan tersebut. Peningkatan dalam
daya untuk menghasilkan laba perusahaan akan terjadi jika terdapat
peningkatan dalam perputaran aktiva, peningkatan dalam margin
laba bersih, atau keduanya. Dua perusahaan dengan margin laba
Misalnya perusahaan A, dengan margin laba bersih hanya 2 persen
dan perputaran total aktiva 10, memiliki daya untuk menghasilkan
laba yang sama yaitu 20, dengan perusahaan B yang memiliki
margin laba bersih 20 persen dan rasio perputaran total aktiva 1.
Bagi setiap perusahaan tersebut, setiap 100 dollar yang
diinvestasikan dalam aktiva akan kembali 20 dollar laba setelah
pajak per tahunnya.
2.5.7 Operating Ratio
Selisish antara net margin ratio (rasio laba bersih dengan penjualan) dengan 100% menunjukkan prosentase yang tersisa
untuk menutup harga pokok penjualan dan biaya operasi,
prosentase ini dinamakan “operating ratio” atau rasio antara (harga pokok penjualan + biaya operasi) dengan penjualan bersih.
Operating Ratio =
Sales Net
Operasi Biaya
Sold Good of
Cost +
Operating ratio mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan, sehingga rasio yang tinggi menunjukkan keadaan yang kurang baik
karena berarti bahwa setiap penjualan yang terserap dalam biaya
juga tinggi, dan tersedia untuk laba kecil. Tetapi rasio yang tinggi
dikendalikan oleh management, tetapi juga factor ekstern, misalnya
factor harga yang sulit dikendalikan oleh manajemen.
2.5.8 Time Interest Earned
Time Interest Earned adalah mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban dalam melunasi beban yang
ditimbulkan karena dana dari pihak eksternal bukan pemilik
dengan menggunakan dana dari laba usaha (EBIT). Rasio ini
disebut juga rasio penutupan (Coverage Ratio), yaitu mengukur kemampuan pemenuhan kewajiban bunga tahunan dengan laba
operasi (EBIT), sejauh mana laba operasi boleh turun tanpa
menyebabkan kegagalan dalam pemenuhan kewajiban membayar
bunga pinjaman.
Time Interest Earned =
e Ch Interest
EBIT Taxes and Interest Before
Earning
arg
) (
Sebagaimana di ketahui bahwa Time Interest Earned di tentukan dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan
beban bunga, artinya bahwa dengan semakin tinggi nilai rasio ini,
maka perusahaan memiliki kemampuan dalam membayar
bunga-bunga atas segala hutang-hutangnya dengan menggunakan laba
mencari tambahan dana untuk kegiatan investasinya karena tingkat
kemanan yang baik dari para kreditur yang digambarkan oleh
tingginya kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atas
hutangnya. Laba sebelum bunga dan pajak merupakan gambaran
keuntungan perusahaan yang di dapatkan dari kegiatan operasi
perusahaan. Dengan perolehan keuntungan yang besar maka
perusahaan disamping dapat membayar beban bunganya, juga
memperlihatkan kemampuan laba perusahaan yang kuat sehingga
investor atau calon investor tertarik untuk menanamkan modalnya
pada perusahaan.
Perolehan TIE yang rendah mengindikasikan bahwa perusahaan
belum mampu menunjukkan kemampuannya dalam menghasilkan
laba usaha yang cukup. Hal ini perlu adanya pembenahan oleh
pihak manajemen dalam meningkatkan hasil operasi perusahaan.
Misalnya dengan meningkatkan produktivitas dari komoditi utama
atau pangsa pasar perusahaan, yang kesemuanya dimungkinkan
untuk mengarah pada perbaikan laba usaha. Sehingga tahun-tahun
yang akan datang para pemegang saham khususnya, merasa lebih
optimis dan loyal kepada perusahaan karena seharusnya mereka
juga berhak mendapat pembagian hasil atas upaya investasi yang
dilakukan. Seandainya penurunan nilai TIE berlangsung
dari para pemegang sahamnya, dan akhirnya berdampak juga pada
kelangsungan hidup perusahaan.
2.6 Pengaruh Likuiditasterhadap ROA
Likuiditas adalah rasio yang bertujuan untuk mengukur kemampuan suatu
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Semakin tinggi
Likuidtas suatu perusahaan berarti semakin kecil resiko kegagalan perusahaan
dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Akibatnya resiko yang akan
ditanggung pemegang saham juga semakin kecil. Nilai Likuidtas yang tinggi
dari suatu perusahaan akan mengurangi ketidakpastian bagi investor, namun
mengindikasikan adanya dana yang menganggur (idle cash) sehingga akan
mengurangi tingkat profitabilitas perusahaan, akibatnya ROA juga semakin
kecil. Dengan demikian diduga semakin besar nilai Likuiditas maka ROA
semakin kecil .
2.7 Pengaruh Inventory Turnover terhadap ROA
Informasi mengenai tingkat perputaran persediaan dapat digunakan sebagai
dasar untuk menentukan apakah suatu persediaan lambat dalam proses
penjualan atau memakaiannya dalam kegiatan perusahaan. Inventory
Semakin tinggi perputarannya menunjukkan perusahaan semakin efisien
dalam menekan biaya atas persediaan tersebut. Dengan demikian sangat
dimungkinkan bahwa hubungan antara Inventory turnover dengan ROA
adalah positif. Semakin besar inventory turnover akan semakin baik karena
berarti semakin efisien seluruh aktiva yang digunakan untuk menunjang
kegiatan penjualan. ROA yang meningkat karena dipengaruhi oleh inventory
turnover.
2.8 Penelitian Terdahulu
Lubis (2004) melakukan penelitian dengan judul "Analisis Pengaruh
Likuiditas Terhadap Profitabilitas Pada PT. Perkebunan Nusantara III
(Persero) Medan". Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh
variabel-variabel current ratio, cash ratio, dan acid test ratio terhadap profitabilitas. Kesimpulan yang dihasilkan melalui pengujian secara
serentak (uji-f) adalah current ratio, cash ratio, dan acid test ratio secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap profitabilitas.
Pengujian secara parsial (Uji-t) menghasilkan kesimpulan bahwa hanya
current ratio yang dapat mempengaruhi atau menjelaskan profitabilitas secara signifikan.
Ari Anggarani (2010) dalam penelitiannya menguji pengaruh rasio
Dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa secara simultan, tidak
terdapat pengaruh yang signifikan antara variavbel current ratio (CR), total asset turnover (TATO), return on equity (ROE), debt to equity ratio (DER), dan economic value added (EVA) terhadap return saham pada perusahaan yang tergabung dalam saham Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2007. Secara parsial, terdapat pengaruh yang
signifikan antara current ratio (CR), dan debt to equity ratio (DER), terhadap return saham pada perusahaan yang tergabung dalam saham Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2007.
Sedangkan variabel total asset turnover (TATO), return on equity (ROE), dan economic value added (EVA) tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap return saham pada perusahaan yang tergabung dalam saham Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2007.
Budi Priharyanto (2010) dalam penelitiannya menguji analisis pengaruh
current ratio, inventory turnover, debt to equity ratio, dan size terhadap profitabilitas (Studi pada Perusahaan Food and Beverage dan Perusahaan Consumer Goods yang Listed di BEI Periode Tahun 2005-2007). Berdasarkan pengujian hipotesis hasilnya menunjukkan bahwa secara
parsial variabel current ratio, size tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel ROA pada perusahaan food and beverage, sehingga hipotesis
ditolak. Sedangkan variabel inventory turnover, DER secara parsial berpengaruh signifikan positif terhadap variabel ROA pada perusahaan
Untuk perusahaan consumer goods, variabel inventory turnover, DER secara parsial berpengaruh signifikan positif terhadap variabel ROA
sedangkan variabel current ratio, size tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel ROA pada perusahaan consumer goods.
Secara parsial menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh
Inventory Turnover (IT), Debt to Equity Ratio (DER), dan Size terhadap Profitabilitas (ROA) pada Perusahaan Food and Beverage dan Perusahaan Consumer Goods yang Terdaftar (listed) di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2007.
Harefa (2005), “Pengaruh Profitabilitas Industri, Rasio Leverage Keuangan Tertimbang dan Intensitas Modal Tertimbang terhadap "ROA"
dan "ROE" Perusahaan Kayu dan Pengolahannya di Bursa Efek Jakarta”.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, tiga variabel, yaitu ROA
industri, rasio leverage keuangan tertimbang dan rasio intensitas modal tertimbang terbukti berpengaruh signifikan terhadap ROA perusahaan.
Kedua, dari ketiga variabel, hanya variable ROE industri yang terbukti
berpengaruh signifikan terhadap ROE perusahaan. Ketiga, rasio leverage
keuangan tertimbang terbukti paling signifikan dalam menjelaskan ROA,
sedangkan variabel yang paling signifikan dalam menjelaskan ROE adalah
Table 2
Penelitian Terdahulu
No Peneliti Variabel Metode Analisis
Secara serentak (uji-f) current ratio, cash ratio, dan acid test ratio secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Secara parsial (Uji-t) menghasilkan kesimpulan bahwa hanya current ratio yang dapat
mempengaruhi atau
value added signifikan antara current ratio (CR), dan debt to equity ratio (DER), terhadap return saham Sedangkan total asset turnover (TATO), return on equity (ROE), dan economic value added (EVA) tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap return saham.
3 Budi to equity ratio, dan size
Analisis regresi berganda
Current ratio, size tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Inventory turnover, DER secara parsial berpengaruh signifikan positif terhadap ROA. Terdapat perbedaan pengaruh Inventory Turnover (IT), Debt to Equity Ratio (DER), dan Size terhadap Profitabilitas (ROA)
ROA industri, rasio leverage keuangan tertimbang dan rasio intensitas modal tertimbang berpengaruh signifikan terhadap ROA, ROE industri yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap ROE. Rasio leverage keuangan tertimbang paling signifikan dalam menjelaskan ROA, sedangkan yang paling signifikan dalam menjelaskan ROE adalah ROE industri.
Sumber: Berbagai Jurnal dan Penelitian
2.10 Kerangka Konseptual
Berdasarkan pada telaah pustaka dan penelitian terdahulu, maka variabel
variabel independen (Xi). Pengaruh Current ratio, Cash ratio,Quick Ratio Working capital to total asset ratio dan inventory Turnover terhadap ROA dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual 2.11 Hipotesis
Dari gambar di atas menunjukkan bahwa H1: Quick Ratio, Working Capital to Total Asset, Inventory Turnover, Operating Ratio dan Time Interest Earned berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap Return
Inventory Turnover
Time Interest Earned Quick Ratio
Working capital to total asset ratio
Operating Ratio