• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Pemberian Vitamin D Terhadap Konversi Sputum pada Pasien Tuberkulosis Paru

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Pemberian Vitamin D Terhadap Konversi Sputum pada Pasien Tuberkulosis Paru"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tuberkulosis 2.1.1. Definisi

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit granulomatosa kronis menular

yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (M. tuberculosis). Penyakit ini

biasanya mengenai paru, tetapi dapat menyerang semua organ atau jaringan tubuh,

misalnya pada lymphnode, pleura dan area osteoartikular. Biasanya pada bagian

tengah granuloma tuberkel mengalami nekrosis perkejuan. Kuman M.

tuberculosis merupakan ordo Actinomycetalis, familia Mycobacteriaceae, dan

genus Mycobacterium. Bakteri M. tuberculosis berbentuk batang, ukurannya 1 – 4 μm x 0,γ – 0,6 μm sehingga dengan mudah masuk ke saluran pernapasan bawah. Komponen dinding sel sangat kompleks, hampir 60% terdiri dari asam lemak

mikolat, wax D, fosfatida, sulfatida dan trehalosa dimikolat menyebabkan bakteri

ini lebih tahan terhadap proses fagositosis dibandingkan bakteri lain. Kandungan

lipid yang tinggi pada dinding sel menyebabkan kuman ini sangat tahan terhadap

asam dan basa dan juga tahan terhadap kerja bakterisidal. Fosfatida pada dinding

kuman ini diduga bertanggung jawab terhadap nekrosis dan kaseosa jaringan.

(PDPI, 2011)

2.1.2. Epidemiologi

Tuberkulosis sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu masalah

kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi

Directly Observed Treatment Short-course (DOTS) telah diterapkan di banyak

negara sejak tahun 1995. Dalam laporan WHO tahun 2013, diperkirakan terdapat

8,6 juta kasus TB pada tahun 2012 dimana 1,1 juta orang (13%) diantaranya

adalah pasien TB dengan HIV positif. Sekitar 75% dari pasien tersebut berada di

wilayah Afrika. Pada tahun 2012, diperkirakan terdapat 450.000 orang yang

(2)

meninggal dunia. Meskipun kasus dan kematian karena TB sebagian besar terjadi

pada pria tetapi angka kesakitan dan kematian wanita akibat TB juga sangat

tinggi. Diperkirakan terdapat 2,9 juta kasus TB pada tahun 2012 dengan jumlah

kematian karena TB mencapai 410.000 kasus termasuk di antaranya adalah

160.000 orang wanita dengan HIV positif. Separuh dari orang dengan HIV positif

yang meninggal karena TB pada tahun 2012 adalah wanita. Pada tahun 2012

diperkirakan proporsi kasus TB anak diantara seluruh kasus TB secara global

mencapai 6% (530.000 pasien TB anak/ tahun). Sedangkan kematian anak

(dengan status HIV negatif) yang menderita TB mencapai 74.000 kematian/

tahun, atau sekitar 8% dari total kematian yang disebabkan TB. Meskipun jumlah

kasus TB dan jumlah kematian TB tetap tinggi untuk penyakit yang sebenarnya

bisa dicegah dan disembuhkan tetap fakta juga menunjukkan keberhasilan dalam

pengendalian TB. Peningkatan angka insidensi TB secara global telah berhasil

dihentikan dan telah menunjukkan tren penurunan (turun 2% per tahun pada tahun

2012), angka kematian juga sudah berhasil diturunkan 45% bila dibandingkan

tahun 1990. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif

secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan

kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada

kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia

meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun.

Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya

secara sosial, seperti stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. (WHO, 2012)

Profil tuberkulosis di Indonesia tahun 2012 tampak pada tabel 2.1, tabel

(3)

Tabel 2.1. Estimasi beban TB tahun 2012 (WHO, 2012)

Prevalensi (termasuk HIV+TB) 730 (350-1200) 297 (144-506)

Insidensi (termasuk HIV+TB) 460 (380-540) 185 (153-220)

Insidensi (HIV+ Hanya TB) 7.5 (5.6-9.7) 3.1 (2.3-3.9)

Penemuan kasus, semua bentuk (%) 72 (61-87)

Tabel 2.2. Laporan kasus TB tahun 2012 (WHO, 2012)

Kasus baru (%) Kasus pengobatan berulang (%)

BTA positif 202 319 (63) Relaps 5.942 (70)

Total kasus baru 328.824 Total pengobatan kembali 8 542

Lain-lain (riwayat

Tabel 2.3. Estimasi beban MDR TB tahun 2012 (WHO, 2012)

(4)

2.1.3. Reaksi imun terhadap tuberkulosis

Terdapat dua macam respon imun pertahanan tubuh terhadap infeksi

tuberkulosis yaitu respon imun selular (sel T dan makrofag yang teraktivasi)

bersama sejumlah sitokin dan pertahanan secara humoral (anti bodi-mediated).

Respon imun seluler lebih banyak memegang peranan dalam pertahan tubuh

terhadap infeksi tuberkulosis. Pertahanan secara humoral tidak bersifat protektif

tetapi lebih banyak digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis. Respon

ini diawali dengan diferensiasi limfosit B menjadi satu populasi sel plasma yang

memproduksi dan melepaskan anti bodi spesifik ke dalam darah yang dinamakan

imunoglobulin. Imunoglobulin (Ig) di bentuk oleh sel plasma yang berasal dari

ploriferasi sel B akibat adanya kontak dengan anti gen. Anti bodi yang terbentuk

secara spesifik ini akan mengikat anti gen baru lainnya yang sejenis. (Suharti

2003, Raja Alamelu 2004)

Respon imun primer terjadi sewaktu anti gen pertama kali masuk ke dalam

tubuh, yang ditandai dengan munculnya IgM beberapa hari setelah pemaparan.

Kadar IgM mencapai puncaknya pada hari ke-7. pada 6-7 hari setelah pemaparan,

barulah bisa di deteksi IgG pada serum, sedangkan IgM mulai berkurang sebelum

kadar IgG mencapai puncaknya yaitu 10-14 hari setelah pemaparan anti gen.

Respon imun sekunder terjadi apabila pemaparan anti gen terjadi untuk yang

kedua kalinya, yang di sebut juga booster. Puncak kadar IgM pada respon

sekunder ini umumnya tidak melebihi puncaknya pada respon primer, sebaliknya

kadar IgG meningkat jauh lebih tinggi dan berlangsung lebih lama. Perbedaan

dalam respon ini di sebabkan adanya sel B dan sel T memory akibat pemaparan

yang pertama. Kuman M. tuberculosis di inhalasi sehingga masuk ke paru-paru,

kemudian ditelan oleh makrofag. Makrofag tersebut mempunyai 3 fungsi utama,

yakni :

1. Memproduksi enzim proteolitik dan metabolit lainnya yang

memperlihatkan efek mycobactericidal.

2. Memproduksi sitokin sebagai respon terhadap M. tuberculosis yakni IL

(5)

Transforming Growth Factor Beta (TGF-). Sitokin mempunyai efek

imunoregulator yang penting.

3. Untuk memproses dan menyajikan anti gen terhadap limfosist T.

Pada tuberkulosis primer, perkembangan infeksi M. tuberculosis pada

target organ tergantung pada derajat aktivitas anti bakteri makrofag dari sistem

imun alamiah serta kecepatan dan kualitas perkembangan sistem imun yang di

dapat. Oleh sistem imun alamiah, basil akan dieliminasi oleh kerja sama antara

alveolar makrofag dan sel NK (Natural Killer) melalui sitokin yang dihasilkannya

yakni TNF- dan Interferon Gamma (IFN-). Mekanisme pertahanan tubuh

terhadap infeksi ini terutama dilakukan oleh sel-sel pertahanan (sel T dan

makrofag yang teraktivasi) bersama sejumlah sitokin. Pada limfonodi regional,

terjadi perkembangan respon imun yang didapat, yang akan mengenali basil

tuberkulosis. Tipe respon imun ini sangat tergantung pada sitokin yang dihasilkan

oleh sistem imun alamiah. Dominasi produksi sitokin oleh makrofag yang

mensekresikan IL-12 akan merangsang respon sel Th (T-Helper) 1, sedangkan

bila IL-4 yang lebih banyak disekresikan oleh sel-T maka akan timbul respon oleh

sel Th 2. Tipe respon imun ini akan menentukan kualitas aktivasi makrofag untuk

mempresentasikan anti gen kepada sel-T khususnya melalui jalur MHC (Major

Histocompatibility Complex) kelas-II. (Suharti 2003, Lyadova I 2012)

Selama imunitas yang didapat berkembang untuk mempercepat aktivasi

makrofag/monosit, terjadilah bakteremia. Basil menggunakan makrofag sebagai

sarana untuk menyebar dan selanjutnya tumbuh dan menetap pada sel-sel fagosit

di berbagai organ tubuh. Peristiwa ini akan terjadi bila sel-T spesifik yang

teraktivasi pada limfonodi mengalami resirkulasi dan melewati lesi yang

meradang yang selanjutnya akan membentuk granuloma. Pada peristiwa ini TNF

memegang peranan yang sangat vital. Bila respon imun yang didapat berkembang

tidak adekuat maka akan timbul manifestasi klinis akibat penyebaran basil yang

berupa tuberkulosis milier atau tuberkulosis meningen. Granuloma merupakan

mekanisme pertahanan utama dengan cara membatasi replikasi bakteri pada fokus

(6)

antara antigen spesifik dengan sel fagosit yang terinfeksi pada berbagai organ,

sel-T spesifik memproduki IFN- dan mengaktifkan fungsi anti mikroba makrofag.

Dalam granuloma terjadi enkapsulasi yang di picu oleh fibrosis dan kalsifikasi

serta terjadi nekrosis yang menurunkan pasokan nutrien dan oksigen, sehingga

terjadi kematian bakteri. Akan tetapi sering terjadi keadaan dimana basil tidak

seluruhnya mati tapi sebagian masih ada yang hidup dan tetap bertahan dalam

bentuk dorman. Infeksi yang terlokalisir sering tidak menimbulkan gejala klinis

dan bisa bertahan dalam waktu yang lama. (Suharti 2003, Nagata T 2012)

Pada tuberkulosis post primer, pertahanan tubuh di dominasi oleh

pembentukan elemen nekrotik yang lebih hebat dari kasus infeksi primer.

Elemen-elemen nekrotik ini akan selalu dikeluarkan sehingga akhirnya akan terbentuk

kavitas. Limfadenitis regional jarang terjadi, M. tuberculosis menetap dalam

makrofag dan pertumbuhannya dikontrol dalam fokus-fokus yang terbentuk.

Pembentukan dan kelangsungan hidup granuloma dikontrol oleh sel-T, dimana

komunikasi antara sel-T dan makrofag di perantarai oleh sitokin. Selanjutnya

IL-1, TNF-, GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor),

TGF-, IL-6, INF- dan TNF- merupakan sitokin yang mengontrol

kelangsungan granuloma, sebaliknya IL-4, IL-5, dan IL-10 menghambat

pembentukan dan perkembangan granuloma. Proses aktivasi makrofag oleh

sitokin merupakan faktor sentral dalam imunitas terhadap tuberkulosis. Pada

sistem ini, INF- telah diidentifikasikan sebagai sitokin utama untuk mengaktivasi

makrofag, yang selanjutnya dapat menghambat pertumbuhan patogen ini.

Pembentukan granuloma dan kavitas dipengaruhi oleh berbagai macam sitokin

sebagai hasil interaksi antara sel-T spesifik, makrofag yang teraktivasi dan

(7)

Gambar 2.1. Imunopatogenesis dari tuberculosis (Nagata T, 2012)

2.1.4. Fase pembentukan respon imun

Fase 1:

Dimulai dari masuknya kuman tuberkulosis ke alveoli. Kuman akan

difagositosis oleh makrofag alveolar dan umumnya dapat dihancurkan. Bila daya

bunuh makrofag rendah kuman tuberkulosis akan berproliferasi dalam sitoplasma

dan menyebabkan lisis makrofag. Pada umumnya pada stadium ini tidak terjadi

pertumbuhan kuman.

Fase 2

Fase simbiosis, kuman tumbuh secara logaritmik dalam makrofag yang

(8)

tuberkulosis difagositosis oleh makrofag lain yang masuk ke lokasi radang

karena faktor kemotaksis komponen C5 dan monocyte chemotractan protein

(MPC-1) Lama kelamaan makin banyak makrofag dan kuman tuberkulosis yang

berkumpul di tempat lesi. Kemudian mikroorganisme difagosit oleh makrofag,

terjadi fusi fagolisosom dan proses penghancuran dan pembunuhan

mikobakterium dengan cara pembentukan reactive oxygen intermediate (ROI),

reactive nitrogen intermediate (RNI), lingkungan asam dalam lisosom dan enzim

hidrolitik.

Fase 3

Terjadi nekrosis kaseosa, jumlah kuman tuberkulosis menetap karena

pertumbuhannya dihambat oleh respons imun tubuh terhadap tuberculin like

antigen. Pada stadium ini delayed type of hipersensitivity (DTH) merupakan

respon utama yang mampu menghancurkan makrofag yang berisi kuman. Respon

ini terbentuk 4-8 minggu dari saat infeksi. Dalam solid kaseosa center yang

terbentuk, kuman ekstraselular tidak dapat tumbuh, dikelilingi makrofag yang

tidak teraktivasi, dan makrofag yang teraktivasi sebagian. Pertumbuhan kuman

secara logaritmik terhenti, namun respon imun DTH ini menyebabkan perluasan

kaseosa center dan progresifitas penyakit. Kuman tuberkulosis masih dapat hidup

dalam solid kaseosa nekrosis tapi tidak dapat berkembang biak karena anoksia,

penurunan pH dan adanya inhibitory fatty acid. Pada keadaan dorman ini

metabolisme kuman minimal sehingga tidak sensitif teradap terapi. Caseous

necrosis merupakan reaksi DTH yang berasal dari limfosit T, khususnya T

sitotoksik (Tc) yang melibatkan clotting Factor, sitokin TNF-α, antigen reaktif,

nitrogen intermediate, kompleks antigen-antibodi, komplemen dan produk-produk

yang dilepaskan kuman yang mati.

Fase 4

Respon imun Cell Mediated Immunity (CMI) mengaktifkan makrofag

hingga mampu memfagositosis dan menghancurkan kuman. Makrofag teraktivasi

(9)

keadaan dimana CMI lemah, kemampuan makrofag untuk menghancurkan kuman

hilang, maka kuman akan dihancurkan oleh respon imun DTH, hingga caseous

necrosis makin luas. Kuman Tuberkulosis yang lepas akan masuk ke dalam

kelenjar limfe trakheobronkial dan menyebar ke organ lain.

Fase 5:

Terjadi likuifikasi caseous center, untuk pertama kalinya terjadi

multiplikasi kuman TB dalam jumlah besar. Respon imun CMI sering tidak

mampu mengendalikan. Terjadi perlunakan caseous necrosis, membentuk kavitas

dan erosi dinding bronkus. Perlunakan disebabkan oleh enzim hidrolisis dan

respon DTH terhadap tuberkuloprotein, menyebabkan makrofag tidak dapat

hidup. Kuman TB masuk ke cabang-cabang bronkus, menyebar ke bagian paru

lain dan jaringan sekitar. (Suharti 2003, Pando 2007)

2.1.5. Diagnosis tuberkulosis

Diagnosis tuberkulosis ditegakkan berdasarkan terdapatnya paling sedikit

satu spesimen konfirmasi M.tuberculosis atau sesuai dengan gambaran histologi

TB atau bukti klinis sesuai TB. Gejala utama pasien TB paru adalah batuk

berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala

tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas,

nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari

tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. Gejala-gejala tersebut

diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis,

bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB paru

di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke Unit

Pelayanan Kesehatan (UPK) dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai

seorang tersangka pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara

mikroskopis langsung pada pasien remaja dan dewasa, serta skoring pada pasien

(10)

2.1.6. Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan bakteriologis

Pemeriksaan bakteriologis untuk menemukan kuman TB mempunyai arti

yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan

bakteriologis ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura, bilasan bronkus, liquor

cerebrospinal, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar, urin, faeces, dan

jaringan biopsi. (PDPI, 2011)

Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai

keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak

untuk penegakan diagnosis pada semua suspek TB dilakukan dengan

mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan

yang berurutan berupa dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS):

 S (sewaktu): Dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung

pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk

mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.

 P(Pagi): Dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera

setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di

UPK.

 S(sewaktu): Dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat

menyerahkan dahak pagi. (PDPI, 2011)

Ada beberapa tipe interpretasi pemeriksaan mikroskopis, WHO

merekomendasikan pembacaan dengan skala IUATLD (International Union

Againts Tuberculosis and Lung Disease) (PDPI, 2011):

- Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapangan pandang, disebut negatif

- Ditemukan 1 – 9 BTA dalam 100 lapangan pandang, ditulis jumlah kuman yang ditemukan

(11)

2. Pemeriksaan radiologis

Pemeriksaan standar adalah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas indikasi

: foto lateral, top-lordotik, oblik, CT-Scan. Pada pemeriksaan foto toraks, TB

dapat memberikan gambaran bermacam-macam bentuk (multiform). Gambaran

radiologis yang dicurigai sebagai lesi TB aktif : adanya bayangan berawan/

nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus

bawah; kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan

atau nodular; bayangan bercak milier; efusi pleura unilateral (umumnya) atau

bilateral (jarang). Gambaran radiologis yang dicurigai lesi TB inaktif berupa:

fibrosis, kalsifikasi, Schwarte atau penebalan pleura. Luluh paru apabila terjadi

kerusakan jaringan paru.yang berat, sulit untuk menilai lesi hanya berdasarkan

gambaran radiologis sehingga perlu pemeriksaan bakteriologis untuk memastikan

akifitas penyakit. (Kemenkes RI 2014, Kusuma C 2007)

Secara radiologis luas lesi kelainan akibat TB dapat dibagi :

a. Lesi minimal yaitu terdapatnya sebagian kecil infiltrat non kapitas pada

satu paru maupun kedua paru, tapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus

paru.

b. Moderate yaitu adanya kapitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm,

jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Bila

bayangannya kasar tidak lebih dari satu pertiga bagian satu paru.

c. Far advanced yaitu terdapatnya infiltrat dan kapitas yang melebihi

keadaan pada moderate.

Saievicz membagi lapangan paru menjadi 6 zona, yang berguna dalam

penilaian luas dan sisi lesi, zona yaitu (Moraes, 2010):

1. Zona atas kanan (right upper zone) yang dibatasi dari atas sampai akhir iga

kedua anterior kanan.

2. Zona atas kiri (left upper zone) yang dibatasi dari atas sampai akhir iga

kedua anterior kiri

3. Zona tengah kanan (right middle zone) yang dibatasi dari bawah iga kedua

(12)

4. Zona tengah kiri (left middle zone) yang dibatasi dari bawah iga kedua

anterior kiri sampai akhir iga ke empat anterior kiri

5. Zona bawah kanan (right lower zone) yang dibatasi dari bawah iga ke

empat anterior kanan sampai akhir iga ke enam anterior kanan.

6. Zona bawah kiri (left lower zone) yang dibatasi dari bawah iga ke empat

anterior kiri sampai akhir iga ke enam anterior kiri.

3. Pemeriksaan khusus

Ada beberapa tehnik baru yang dapat mendeteksi kuman TB, seperti :

BACTEC, dengan metode radiometrik, dimana CO2 yang dihasilkan dari

metabolisme asam lemak M.tuberculosis dideteksi growth indexnya. Polymerase

chain reaction (PCR): dengan cara mendeteksi DNA dari M.tuberculosis.

pemeriksaan serologis: Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA), ICT,

Mycodot, dan Peroksidase Anti Peroksidase (PAP). (PDPI, 2011)

2.2. VITAMIN D

2.2.1. Struktur kimia dan biosintesis vitamin D

Vitamin D tergolong vitamin yang mudah larut dalam lemak dan

merupakan prahormon jenis sterol. Vitamin D merupakan kelompok senyawa

sterol yang terdapat di alam, terutama pada hewan, tetapi juga ditemuikan di

tumbuhan maupun ragi. Vitamin D terdiri dari dua jenis, yaitu vitamin D2

(ergocalciferol) dan vitamin D3 (cholecalciferol). Kedua jenis vitamin D tersebut

memiliki struktur kimia berbeda, namun fungsinya identik (gambar 2.2).

Sebenarnya, terdapat lebih kurang 10 derivat sterol yang memiliki aktivitas

vitamin D, namun ergosterol dan 7α-dehidrocholesterol, merupakan provitamin

D utama yang menghasilkan secara berturut-turut D2 dan D3. Pada tumbuhan,

iradiasi ergosterol menyebabkan terbentuknya ergocalciferol. Pada hewan,

(13)

Gambar 2.2. Produksi vitamin D2 dan vitamin D3. Ergosterol pada tanaman dan 7-dehydrocholesterol di kulit adalah masing -masing prekursor dari vitamin D2 dan vitamin D3 (Dusso, 2012)

Ketika kulit terpapar oleh sinar matahari atau sinar artifisial tertentu,

radiasi UV memasuki epidermis dan menyebabkan transformasi

7-dehydrocholersterol menjadi vitamin D3. Dengan paparan sinar matahari yang

cukup suplementasi vitamin tidak diperlukan. Ketika tubuh terpapar sinar

matahari yang cukup (sampai menimbulkan sedikit eritema pada kulit) kadar

vitamin D di dalam darah meningkat setara dengan mengkonsumsi vitamin D

10.000 – 25.000 IU peroral. Vitamin D (D3 dan D2) akan diangkut ke hati dan terikat oleh alfa globulin spesifik yaitu vitamin D binding protein (DBP) dan

sebagian kecil oleh albumin dan lipoprotein. Vitamin D3 dihidroksilasi pada posisi

ke-25, menjadi kalsidiol (calcidiol, atau 25-hidroksi-kolekalsiferol/ 25-hidroksi

(14)

25-hidroksi vitamin D3 (25OHD3) memasuki sirkulasi menuju ginjal. Bila kadar

kalsium dan fosfat darah rendah, kelenjar paratiroid mengeluarkan hormon

paratiroid (PTH), dan hormon fibroblast-like growth factor-23 (FGF23)

mengurangi sintesisnya yang akan merubah kalsidiol menjadi calcitriol. Proses ini

terjadi di mitokondria tubulus proksimalis ginjal, dimana 25-hidroksi vitamin D3

mengalami hidroksilasi pada posisi ke-1 menjadi 1α- 25-dihidroksi vitamin D3, dengan bantuan enzim 1α-hidroksilase (CYP27B1). Senyawa 1α-25-dihidroksi vitamin D3 inilah yang merupakan metabolit vitamin D3 yang paling kuat dan

berperan dalam meningkatkan absorbsi kalsium dalam usus dan reabsorbsi

kalsium dalam ginjal. Bila kadar kalsium darah tinggi, kelenjar gondok (tiroid)

mengeluarkan hormon kalsitonin (calcitonin) yang akan mengubah kalsidiol

menjadi 24,25-dihidroksi vitamin D3 dengan adanya peran enzim 24-hidroksilase

(CYP24A1) yang menghidrolisis 25-hidroksi vitamin D3 pada posisi 24. Metabolit

24,25-dihidroksi vitamin D3 (24,25(OH)2D3) ini adalah bentuk vitamin D inaktif,

berkepentingan dalam peningkatan absorbsi kalsium dari usus, tetapi menurunkan

kalsium dan fosfor serum untuk meningkatkan mineralisasi tulang (Gambar 2.3).

(15)

Gambar 2.3. Ikhtisar sintesis, asupan, dan aktivasi vitamin D (Dusso, 2011)

2.2.2. Mekanisme homeostasis vitamin D

Sintesa 1,25OHD di kontrol sangkat ketat oleh hormon paratiroid (PTH),

konsentrasi kalsium dan fosfat serum, serta fibroblast growth factor 23 (FGF-23).

Ketika konsentrasi ion kalsium tinggi melebihi 100 ng/ml maka sekresi PTH akan

(16)

akhirnya menurunkan absorbsi kalsium di duodenum. Konsentrasi PTH yang

rendah dan adanya 1,25OHD memicu enzim 24-OHase (CYP24) untuk

menghancurkan 25OHD dan 1,25OHD menjadi asam kalsitroik, yaitu bentuk

vitamin D yang inaktif dan larut dalam air. Sebaliknya, apabila terjadi defisiensi

vitamin D maka absorbsi kalsium dan fosfat dalam duodenum akan menurun

sehingga memicu sekresi PTH. Selanjutnya, PTH akan meningkatkan konversi

25OHD menjadi 1,25OHD yang akan memperparah kondisi defisensi vitamin D,

namun mempertahankan konsentrasi 1,25OHD dalam darah tetap normal.

(Soejitno A, 2009)

2.2.3. Metabolisme vitamin D dan ekspresi RVD pada sel sistem imun

Riset tentang makrofag alveolar paru pada penderita sarkoidosis

menunjukkan adanya sintesis 1,25OHD ekstra renal. Hal ini membuktikan bahwa

produksi 1,25OHD lokal mungkin menandakan adanya fungsi regulator pada

sel-sel sistem imun. Enzim yang mengkatalisir sintesis dan degradasi 1,25OHD pada

sel ginjal dan makrofag sarkoid adalah identik, tetapi berbeda secara bermakna

dalam hal bagaimana kadar enzim diregulasi dan dalam hal produksi hormon.

Enzim 1-OHase pada ginjal dan makrofag sarkoid mempunyai afinitas dan

spesifisitas yang sama terhadap substrat 25-OHase dan urutan cDNA yang

identik.27 Tetapi sintesis 1,25OHD di ginjal mengalami supresi sendiri sedangkan

pada marofag sarkoid tidak. Perbedan bermakna lainnya adalah dalam hal

degradasi 1,25-OHD. Pada ginjal 1,25-OHD menginduksi transkripsi CYP24A1

mengkoding 24-OHase dan meningkatkan degradasi hormon. Pada makrofag

teraktivasi tidak terjadi hal seperti itu. Tikus percobaan yang tidak memiliki

CYP27B1 mengalami pembesaran kelenjar limfe dan penurunan jumlah sel CD4+

dan CD8+. Hal ini tidak tampak pada manusia yang mengalami gangguan fungsi

reseptor vitamin D (RVD), sehingga tidak ada hubungan langsung antara

gangguan fungsi RVD dengan1,25-OHD. Hipotesis yang berkembang adalah

bahwa 1,25-OHD yang diproduksi lokal mungkin menunjukkan fungsi pengaturan

sel-sel sistem imun pada tempat inflamasi. Sel limfosit T perifer yang matang

(17)

teraktifasi melalui reseptor antigen sel B dan CD40 dengan adanya IL-4. Vitamin

D aktif atau 1,25-OHD menginduksi ekspresi gen CYP24A1 mengkoding

24-OHase 1,25-OHD yang akan mendegradasi hormon. Sel B yang teraktivasi

mungkin menonaktifkan produksi lokal 1,25-OHD. Dan sel T teraktivasi

mengekspresikan RVD dalam kadar yang tinggi dan gangguan 24-OHase

mungkin merupakan target penting dari 1,25-OHD yang diproduksi setempat.

Tikus percobaan yang tidak memiliki RVD mengalami gangguan produksi faktor

promotif Th1 dan IL-18, penurunan proliferasi sel Th1, dan penurunan ekspresi

signal transducer and activation of transcription 4 (STAT 4) yaitu suatu faktor

transkripsi sel Th1. Secara bersama-sama keadaan ini menunjukkan bahwa fungsi

RVD sangat esensial untuk perkembangan sel Th1. Pada tikus percobaan yang

tidak memiliki RVD terjadi penurunan respon proliferasi terhadap stimulasi CD3.

Makrofag yang tidak mempunyai RVD memiliki respon fagositosis dan

membunuh yang normal, tetapi mengalami penurunan respon kemotaksis. Koreksi

hipokalsemia pada tikus tanpa RVD secara penuh memperbaiki respon

kemotaksis makrofag. (Hayes CE 200,3, Dusso as 2005, Dini C 2012)

2.2.4. Peranan klasik vitamin D

Vitamin D sebagai sistem endokrin adalah komponen penting dalam

interaksi antara ginjal, tulang, hormon paratiroid, dan usus yang hasilnya menjaga

kadar kalsium ekstraseluler selalu dalam batas normal sehingga dapat berguna

dalam proses vital fisiologi dan integritas skeletal. Peranan vitamin D di usus

sangat penting dalam proses absorpsi kalsium dan fosfat darimakanan. Selain itu

1,25(OH)2D3 merangsang mekanisme mengambilan dan transpor kalsium secara

aktif ditingkat seluler. Vitamin D mempunyai peranan yang sangat penting di

skeleton untuk pembangunan dan pemeliharaan mineralisasi skeleton.

Pertumbuhan dari tulang membutuhkan kalsium dan 1,25(OH)2D3 membuat

formasi osteoblastik tulang yang optimal. Selain itu resorpsi osteoklastik juga

sangat membutuhkan 1,25(OH)2D3 dan RVD. Komponen tersebut sangat

dibutuhkan sehingga bila tidak ada satu komponen saja maka proses

(18)

Vitamin D pada kelenjar paratiroid merupakan suatu sistem endokrin yang

sangat berpotensi sebagai modulator dari fungsi paratiroid. Dimana defisiensi

vitamin D menyebabkan hiperplasia dari paratiroid yang akibatnya

terjadi peningkatan sintesis dan sekresi PTH. Pemberian 1,25(OH)2D3 akan

menghambat sintesis PTH dan pertumbuhan sel paratiroid sehingga pemberian

1,25(OH)2D3 sebagai terapi bagi hiperparatiroidisme pada pasien gagal ginjal

kronik. Peran terpenting dari efek endokrin 1,25(OH)2D di ginjal adalah kontrol

yang ketatdari hemostasisnya sendiri melalui mekanisme supresi dari 1α

-hydroxylase dan menstimulasi 24-hydroxylase dan melalui ekspresi dari megalin

di tubulus proksimal. (Hayes CE, 2003)

2.2.5. Peranan non-klasik/non-skeletal vitamin D

Organ-organ seperti otak, prostat, payudara, dan usus besar. serta sel-sel

imun memiliki reseptor vitamin D dan akan berespon terhadap

1,25-dihydroxyvitamin D, bentuk aktif dari vitamin D. Selain itu beberapa jaringan

tersebut dan sel tersebut akan mengekspresikan enzim 25-hydroxyvitamin D-1α -hydroxylase. Bentuk aktif vitamin D yaitu 1,25 dihydroxyitamin D mengontrol

lebih dari 200 gen baik secara langsung ataupun tidak langsung, termasuk gen

yang bertanggung jawab untuk pengaturan proliferasi sel, difirensiasi, apoptosis,

dan angiogenesis. Hal ini akan mengurangi proliferasi sel baik sel normal dan sel

kanker dan menginduksi sel tersehut ke tahap difèrensiasi terminal. Salah satu

aplikasi praktis adalah penggunaan 1,25-dihydroxyvitamin D3 dan analog aktif

untuk pengobatan psoriasis. Pada 1,25-dihydroxyvitamin D juga merupakan

imunomodulator yang kuat. Sel monosit dan makrofag yang telah terpapar oleh

lipopolisakarida atau M. tuberculosis akan meningkatkan regulasi gen vitamin D

reseptor dan 25-hydroxyvitamin D-1α-gen hidroksilase sehingga terjadi peningkatan produksi 1,25 dihydroxyvitamin D3. Hasil akhirnya adalah

peningkatan sintesis cathelicidin, yang merupakan suatu peptida yang mampu

menghancurkan M. tuberculosis serta agen infeksi lainnya. Ketika kadar serum

25-hydroxyvitamin D berada di bawah 20 ng per mililiter (50 nmol per liter,

(19)

bawaan ini. Hal ini dapat menjelaskan mengapa orang kulit hitam, dengan

kecenderungan defisiensi vitamin D, lebih rentan terhadap penyakit tuberkulosis

daripada orang kulit putih, dan cenderung memiliki bentuk yang lebih agresif

terhadap penyakit tuberkulosis. Pada 1,25-dihvdroxyvitamin D3 juga

menghambat sintesis renin, meningkatkan produksi insulin, dan meningkatkan

kontraktilitas miokard (Gambar 2.4). (Hayes CE 2003, Dusso AS 2005)

Gambar 2.4. Fungsi non klasik/non skeletal vitamin D pada berbagai organ (Adam JS, 2006)

2.2.6. Fungsi imunologi vitamin D terhadap tuberkulosis.

Vitamin D dalam bentuk aktif yaitu 1,25-hydroxyvitamin D, memiliki cara

yang kompleks pada sistem kekebalan tubuh, dengan memodulasi dan

menghambat aktivitasnya di berbagai cara. Pada tahun 2006, Liu dkk.

membuktikan bahwa pengindraan M. tuberculosis oleh kompleks Toll-like

reseptor 2/1 (TLR 2/1) meningkatkan ekspresi RVD dan CYP27B1 dalam

monosit. Sintesis 1,25-dihydroxyvitamin D mempromosikan mediasi transaktivasi

(20)

tuberculosis secara interseluler. Cathelicidin memiliki fungsi antimikroba

langsung. Selain sebagai efek anti-bakteri termasuk merusak membran, juga

memiliki efek antivirus dalam penghambatan virus herpes simplex, adenovirus

dan retrovirus. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa makrofag yang paling

efisien dalam memproduksi cathelicidin peptida antimikroba LL-37 setelah

terinfeksi kuman tuberkulosis, dan hal tersebut menunjukkan bahwa cathelicidin

dari makrofag dapat menjadi penting dalam respon imun bawaan selama infeksi

awal pada manusia. Liu menunjukkan bahwa regulasi transkripsional cathelicidin

dapat dimediasi oleh aktivasi 1,25-dihydroxivitamin D. Stimulasi reseptor

TLR dalam makrofag buatan mikroba menghasilkan peningkatan konversi dari

25-hydroxyvitamin D tidak aktif menjadi 1,25-hydroxyvitamin D yang aktif.

Menurut Adams dan rekan-rekan, konsekuensi dari aktivasi TLR adalah produksi

defensin-2 dan cathelicidin: dua antimikrobikal peptida yang sangat diatur oleh

1,25-hydroxyvitamin D. Bahkan menurut Liu, serum dari donor dengan kadar

dihydrovitamin D yang rendah didukung induksi yang lebih rendah pula dari

cathelicidin di monosit dibandingkan dengan serum donor dengan tingkat vitamin

D yang cukup. Sebuah kesimpulan serupa telah dilaporkan oleh studi Adams,

yaitu menggunakan serum dari pasien dengan tingkat vitamin D yang cukup, pada

saat sebelum dan sesudah diberikan Suplementasi vitamin D. Penelitian mereka

lebih lanjut dikonfirmasi pada bukti sebelumnya: dimana konsentrasi vitamin D 4

mg / ml yang dimetabolisme telah mampu mereproduksi sebuah cara untuk

melindungi makrofag manusia yang terinfeksi dan membatasi pertumbuhan

mikobakteri secara in vitro. Peran penting yang dimainkan oleh vitamin D dalam

merespon kekebalan M. tuberculosis terdiri atas produksi LL-37 dalam

mempromosikan pembentukan fagolisosom. Sebuah penelitian telah

mendokumentasikan bahwa 1,25-dihydroxyvitamin D mempromosikan autophagy

pada monosit. Autophagy dan vitamin D3 yang dimediasi oleh kekebalan bawaan

memberikan perlindungan terhadap infeksi M. tuberculosis secara intraseluler.

Sebuah studi dari Eun-Kyeong menegaskan pada temuan ilmiah bahwa peptida

antimikroba memainkan peran sentral pada kekebalan bawaan untuk

(21)

langsung. Secara khusus, cathelicidin LL-37 manusia telah terbukti menjadi

kunci komponen yang menghubungkan imunitas tergantung pada vitamin D3 dan

autophagy (Gambar 2.5). (Dini C, 2012)

Gambar 2.5. Aktivasi sistem imun bawaan oleh vitamin D pada makrofag (Adam JS 2006)

Skema proses pembentukan cathelicidin di dalam makrofag yang

teraktivasi oleh M.tuberculosis atau antigennya dan proses masuknya vitamin D

hingga terbentuknya vitamin D aktif didalam makrofag dapat dilihat pada gambar

2.6. Pada proses fagositosis dan imun rekognisi akan melibatkan beberapa

reseptor yang terdapat pada permukaan makrofag dan dinding sel bakteri di

antaranya adalah reseptor komplemen, reseptor mannosa dan scavenger reseptor.

Pada dinding bakteri yang terlibat diantaranya adalah lipoprotein M. tuberculosis,

Lipoarabinomannan (LAM). Ikatan dengan Toll-like reseptor (TLRs) yaitu TLR1

dan TLR2 pada imun rekognisi dapat terjadi pada permukaan sel atau pada

fagosom. Sinyal melalui TLRs menginduksi ekspresi enzim CYP27B1 endogen

(22)

vitamin D binding protein (DBP) atau dalam bentuk bebas, masuk ke dalam

makrofag dan menuju mitokondria. Dibutuhkan 25-OHD dalam jumlah yang

adekuat untuk diproses selanjutnya oleh CYP27B1 menjadi vitamin D aktif.

Kemudian 1,25-OHD yang dihasilkan tadi ditranslokasikan ke intisel. Di dalam

inti sel makrofag, 1,25-OHD berikatan dengan VDR, kemudian membentuk

heterodimer dengan retinoid X receptor (RXR). Interaksi VDR-XDR di inti sel

mempromosikan ekspresi cathelicidin. Selanjutnya cathelicidin mendukung

fagolisosom dalam rangka membunuh kuman M.tuberculosi. (Dini C 2012)

(23)

2.2.7. Kadar vitamin D dalam darah dan hubungannya dengan tuberkulosis

Untuk mengukur kadar vitamin D dalam darah, maka yang diperiksa

adalah vitamin D tidak aktif atau 25-OHD. Sampai sekarang belum ada

kesepakatan secara global untuk menyatakan berapa kadar vitamin D normal

dalam darah. Sehingga dalam berbagai penelitian untuk menetapkan apakah

seseorang telah defisiensi vitamin D (DVD) maka level vitamin D yang

digunakan masih bervariasi. Sebagai contoh Sashidaran dkk. di India dalam

penelitian case control tahun 1999, dimana saat itu belum ada ketentuan batas

defisiensi vitamin D, maka nilai terendah yang didapat dari kelompok kontrol

yaitu 9 ng/ml dianggap sebagai batas normal kadar vitamin D dalam darah. Lan T

Ho-Pham dkk. melakukan penelitian case control dengan judul Association

between vitamin D insufficiency and tuberculosis in a Vietnamese population

menggunakan batas DVD pada nilai < 20 ng/ml. (Pham LTH, 2010) Kemudian

dari berbagai penelitian dan kesepakatan regional ada yang membagi kadar

vitamin D menjadi (Internis, 2014):

1. Optimal, jika kadar 25-OHD darah >75nmol/l (>30ng/ml)

2. Sufisien, jika kadar 25-OHD darah 50-75 nmol/l (20-30 ng/ml)

3. Insufisiensi, jika kadar 25-OHD darah 25-50nmol/l (10-20 ng/ml)

4. Defisiensi, jika kadar 25-OH darah <25 nmol/l (<10 ng/ml).

Pasien TB sering memiliki kadar vitamin D lebih rendah daripada populasi

umum. Penelitian ilmiah mempelajari pengaruh vitamin D terhadap perjalanan

penyakit TB. Sebuah penelitian terbaru di Spanyol menunjukkan bahwa tingginya

proporsi kontak dengan pasien TB yang memiliki kadar serum 25(OH)D rendah

dan menyarankan bahwa peningkatan 25(OH)D yang cukup melindungi terhadap

konversi tes kulit tuberkulin (TST). Oleh karena itu hal tersebut mendukung

hipotesis bahwa kekurangan status vitamin D merupakan faktor risiko TB. Salah

satu penyebab utama global DVD adalah kurangnya sintesis matahari yang

diinduksi vitamin D. Sebuah survei di Jerman didapati bahwa antara anak-anak

(24)

untuk kekurangan vitamin D. Defisiensi vitamin D telah jelas muncul kembali

sebagai masalah juga di Inggris, terutama pada anak-anak, sebagian besar dari

Asia atau kelompok kulit hitam yang merupakan etnis minoritas. Pengamatan

pada imigran yang memiliki kadar serum vitamin D yang lebih rendah dengan

mencocokkan kontrol kesehatan mereka dapat disimpulkan bahwa penurunan

kadar vitamin D dikaitkan dengan migrasi dari daerah yang kaya sinar matahari ke

daerah yang miskin sinar matahari adalah penyebab pengurangan secara

konsekuen pada kekebalan seluler yang dapat memungkinkan dimana

sebelumnya fokus tuberkulosis diam menjadi pecah. (Nielsen NO, 2010). Pada

tahun 2011 Martineau mengamati bahwa DVD adalah sangat umum di kalangan

orang dewasa Afrika berkulit hitam yang tinggal di Cape Town dan dihubungkan

dengan kerentanan terhadap TB yang aktif dengan tanpa keduanya dan gambaran

infeksi HIV, dihubungkan sangat kuat pada orang-orang yang terinfeksi HIV.

Selain itu, hal tersebut menunjukkan bahwa variasi musiman yang terkait dalam

status vitamin D dan kejadian TB antara kulit hitam Afrika di Cape Town adalah

berhubungan dan menyarankan bahwa kadar vitamin D semua imigran Afrika

harus diperiksa, dalam rangka untuk mengembalikan kekurangan vitamin D.

(Martineau, 2011). Sebuah studi cross sectional dilakukan di antara pasien

tuberkulosis paru di Mwanza, Tanzania untuk mengidentifikasi prediktor status

vitamin D mereka. Para penulis menyimpulkan bahwa serum 25(OH)D adalah

ukuran valid status vitamin D selama fase respon akut dan bahwa konsentrasi

yang lebih rendah pada pasien TB mungkin mencerminkan peningkatan utilisasi

vitamin D. (Friis H, 2008). Sebuah studi oleh Gibney menegaskan adanya

hubungan yang kuat antara DVD dan infeksi Tuberkulosis laten (ITBL) pada

imigran Afrika di Melbourne. Sebuah studi lebih lanjut, di antara imigran Afrika

sub-Sahara datang ke klinik penyakit infeksi di Melbourne, mendokumentasikan

frekuensi infeksi TB laten atau aktif dan hubungannya dengan defisiensi vitamin

D. Penyakit tuberkulosis di India secara historis menjadi masalah kesehatan

masyarakat, karena prevalensi dan insiden infeksinya yang tinggi pada populasi

umum. Dalam tindak lanjut pada studi kohort dari Pakistan, kadar vitamin D

(25)

tangga yang sehat. Temuan ini mengesankan juga bahwa kerentanan wanita

lebih tinggi untuk terkena infeksi, karena status sosial ekonomi yang rendah, gizi

buruk, sifat budaya yang tradisional, dan sedikitnya paparan sinar matahari . Di

Negara-negara Asia Tenggara, TB juga merupakan masalah kesehatan masyarakat

yang utama. Sebuah studi di kalangan penduduk Vietnam di Kota Ho Chi Minh

menunjukkan bahwa status vitamin D yang rendah merupakan faktor risiko TB.

Sebuah tinjauan pada beberapa studi observasional (UK, Indonesia, Kenya,

Thailand, Hong Kong, India) ditemukan bahwa pasien dengan TB memiliki,

rata-rata, tingkat serum vitamin D yang rendah dibandingkan kontrol yang hubungkan

pada jenis kelamin, usia, etnis, pola makan, dan lokasi geografis. Kekhawatiran

tentang DVD dan risiko TB mungkin karena itu tidak terbatas pada adat

negara-negara Arab, Afro-Asia dan masyarakat migran. Setengah dari penduduk di

Eropa yang berusia lebih dari 60 tahun mengalami kekurangan vitamin D dan

kekhawatiran telah diungkapkan di Inggris mengenai peningkatan malnutrisi pada

lansia .Walaupun hingga saat ini batas defisiensi vitamin D masih perdebatan,

namun peranan vitamin D dalam kejadian tuberkulosis semakin banyak diteliti

ilmuwan. (Holick MF 2006)

2.2.8. Suplementasi vitamin D

Vitamin D telah memegang peranan penting dalam pertahanan kekebalan

Host terhadap M. tuberculosis sebagai studi observasional yang telah

ditemukannya bukti hubungan dengan kejadian VDD (Vitamin D Deficiency) dan

TB aktif. Bukti klinis menggunakan vitamin D dalam pengobatan TB dilaporkan

dalam beberapa penelitian. Penambahan vitamin D dalam terapi TB paru telah

terbukti menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam konversi sputum

dibandingkan dengan plasebo. Dalam penelitian Nursiyam dkk, kelompok pasien

yang diobati dengan vitamin D memiliki konversi sputum lebih tinggi dan

perbaikan radiologis (100%) dibandingkan dengan kelompok yang menggunakan

plasebo (76,7%) (Nursyam EW 2006). Penelitian Siswanto dkk. mendapatkan

bahwa konversi sputum bermakna pada bulan pertama untuk pasien Tuberkulosis

(26)

Begitu juga dengan perbaikan secara radiologis pada bulan pertama menunjukkan

bahwa yang mendapat suplemen vitamin D lebih tinggi (67%) dibandingkan yang

tidak (18%). (Siswanto, 2009). Yamshchikov AV dkk. meneliti seorang wanita

Amerika kulit hitam dengan hypovitaminosis D dan rentan terhadap obat TB paru

yang telah diobati dengan terapi antituberkulosis dan mengkoreksi defisiensi

vitamin D nya. Hasilnya menunjukkan perbaikan radiografi yang signifikan

dengan kultur dahak negatif dengan total terapi selama 13 bulan (Yamshchikov

AV, 2010). Penelitian yang dilakukan Adrian Martineau dkk telah menunjukkan

bahwa dosis oral tunggal vitamin D meningkatkan kekebalan kontak

antimikrobakterial tuberkulosis secara in vitro. Penemuan bahwa dosis oral

tunggal vitamin D 2,5 mg sangat mengoreksi kekurangan vitamin D setidaknya 6

minggu, tanpa menyebabkan hiperkalsemia, dengan catatan potensi penggunaan

formulasi ini aman, efektif, dan murah untuk intervensi kesehatan masyarakat.

(Martineau 2004), Selanjutnya tahun 2009 Martineau dkk melakukan penelitian

di London mengenai pengaruh dosis oral tunggal vitamin D2 dengan konsentrasi

serum 25-hydroxyvitamin D pada pasien tuberkulosis. Hasilnya menunjukkan

pasien yg awalnya semua mengalami hypovitaminosis vitamin D (75nmol/l)

mengalami peningkatan kadar konsentrasi 25(OH)D setelah diberi vitamin D oral

dosis tunggal 2,5 mg (109,5nmol) pada 1 minggu pertama dan tidak ada

tanda-tanda hiperkalsemia (p=0.0001). (Martineau 2009) Christian Wesje dkk (2009)

meneliti vitamin D sebagai pengobatan suplementasi pada pasien tuberkulosis

secara double blind pada 365 pasien di klinik TB Guinea-Bisau Denmark yang di

ikuti selama 12 bulan. Pada 2 kelompok tersebut masing-masing diberikan injeksi

100.000 IU Chalciferol dan plasebo. Hasilnya kelompok yang mendapat vitamin

D dan yang mendapatkan placebo pada skor TB dan konversi sputum tidak

menunjukkan nilai signifikan (6,7 vs 6,6; 66% vs 70%).46 Pada tahun 2011

Martineau dkk kembali melakukan penelitian mengenai efek pemberian dosis

tinggi vitamin D3 selama fase intensif dari pengobatan TB paru yang dilakukan

secara a double-blind randomized controlled trial di London. Penelitian ini

membagi 2 kelompok 126 pasien TB paru dengan hasil sputum positif dengan

(27)

dan 42 setelah memulai pengobatan. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien yang

mendapat intervensi Vitamin D pada kelompok pasien yang memiliki genotip tt

dari reseptor polimorfisme Vitamin D TaqI lebih cepat mengalami konversi kultur

sputum dibandingkan dengan yang diberikan placebo (p=0.02). Dan kadar vitamin

D pada grup intervensi lebih tinggi dibandingkan grup kontrol (p<0.0001).(Wesje

C 2009) Tahun 2012 Anna K. Coussen dkk meneliti mengenai peran vitamin D

dalam meningkatkan resolusi dari respon inflamasi selama pengobatan TB yang

dilakukan di London, Inggris. Pada 96 pasien TB paru yang telah mendapatkan

obat antituberkulosis dibagi menjadi 2 kelompok, dimana masing-masing

kelompok diberkan dosis tinggi suplemen vitamin D dan placebo. Hasilnya

Vitamin D mempercepat induksi sputum (p=0.04), sebagai pengobatan tambahan

dapat menginduksi peningkatan jumlah limfosit (p=0.0364), dan meningkatkan

efek penekanan pada pengobatan dalam jumlah monosit (p=0.0003), serta sebagai

penanda inflamasi dan konsentrasi sirkulasi pada kemokin, AMP, dan MMP-9 (p≤0.007β) . Secara administrasi, vitamin D juga meningkatkan induksi supresi dari respon sitokin antigen stimulasi Th-1, tetapi melemahkan pengobatan

induksi supresi dari reaksi antigen yang di stimulasi IL-4, CCL5, and IFN-α (Caussens AK, 2912). Pada tahun 2013 Nawal Salahuddin dkk melakukan

penelitian di Arab Saudi mengenai tingkat kesembuhan pasien TB setelah

pemberian suplementasi vitamin D. Penelitian ini dilakukan secara a randomized

double blinded clinical trial yang dilakukan pada 259 pasien TB paru yang

dirawat di RS. Universitas Aga Khan. Pasien di bagi 2 kelompok, dimana

kelompok pertama diberikan 600.000 IU vitamin D3 (cholecalciferol) secara

intramuskular, dan kelompok yang lain diberi placebo, 2 dosis dalam 1 bulan.

Hasilnya pasien yang diberikan vitamin D terjadi peningkatan berat badan lebih

cepat (p=0.009), perbaikan radiologis (p=0.004) dengan dijumpainya penurunan

ukuran kavitas (p=0.035), dan secara signifikan meningkatkan induksi M.

tuberculosis sekresi IFN- pada pasien yang pada dasarnya memiliki kadar serum

(28)

2.2.9. Dosis vitamin D

Studi klinis menunjukkan bahwa vitamin D dapat meningkatkan imunitas

antimikrobakterial dan kekurangannya dapat dihubungkan dengan kerentanan

terhadap penyakit. Dosis tinggi vitamin D banyak digunakan untuk mengobati TB

aktif pada era preantibiotik. Baru baru ini, studi kasus kontrol telah menunjukkan

bahwa diet vegetarian (rendah vitamin D) mempunyai keterkaitan dengan faktor

risiko untuk TB aktif di Asia Selatan, dan pasin TB yang berasal dari etnis Hindu

Gujarat memiliki resiko yang lebih tinggi untuk kadar vitamin D yang rendah

dibandingkan dengan etnis lain yang kontak pasien TB dengan hasil tuberkulin

positif.(Dini C, 2012)

Berdasarkan The Endocrine Society’s Clinical Guidelines, untuk

pemberian dosis vitamin D pada orang dewasa dapat diberikan 50.000 IU vitamin

D3 atau vitamin D2 sekali dalam seminggu selama 8 minggu atau setara dengan

6000 IU vitamin D2 atau vitamin D3 setiap hari untuk mencapai level diatas 30

ng/ml 25 (OH) D didalam darah diikuti dengan terapi pemeliharaan 1500-2000 IU

/hari. Strategi alternatif untuk penghuni panti jompo termasuk 50.000 IU vitamin

D 2 tiga kali per minggu selama 1 bulan, atau 100.000 IU vitamin D setiap 4

bulan. (The Endocryne Society, 2011)

Efek pemberian vitamin D antara injeksi dan oral telah diteliti

sebelumnya. Pada studi yang dilakukan Zabihiyeganeh dkk dimana

membandingkan keefektifitasan dan kepraktisan penggunaan dosis tinggi

(300.000 IU) ergocalciferol baik secara intramuskular maupun oral pada 92

pasien yang mengalami hipovitaminosis D (level serum 25(OH) D < 75 nmol/l)

yang secara acak dibagi 6 dosis dalam periode waktu 3 bulan. Kemudian

dievaluasi pada bulan ke 3 dan ke 6. Hasilnya pengobatan dengan kedua regimen

secara signifikan meningkatkan kadar 25(OH) D didalam darah (P=0.06). Kedua

rejimen sangat efektif, aman dan praktis dalam pengobatan hipovitaminosis D.

Pada akhirnya cara pengobatan tergantung pada pilihan pasien, kepatuhan dan

(29)

2.3 Hipotesis Penelitian

Suplementasi Vitamin D bermanfaat untuk pasien TB paru dalam

perbaikan klinis, mempercepat konversi sputum dan perbaikan radiologis dalam

(30)

2.4 Kerangka Teori

Catelicidin/LL-337  Defensin 2  TH1↓ TH2

(31)

2.5 Kerangka Konsep

Gambar 2.8. Kerangka Konsep

Keterangan:

= = Variabel Bebas

= = Variabel Terikat

OAT+Vitamin D

OAT+Plasebo Perbaikan

Foto Toraks Konversi

Sputum

Gambar

Tabel 2.2. Laporan kasus TB tahun 2012 (WHO, 2012)
Gambar 2.1. Imunopatogenesis dari tuberculosis (Nagata T, 2012)
Gambar 2.2.  Produksi vitamin D2 dan vitamin D3. Ergosterol pada tanaman dan 7-dehydrocholesterol di kulit adalah  masing -masing prekursor dari vitamin D2 dan vitamin D3
Gambar 2.3.  Ikhtisar sintesis, asupan, dan aktivasi vitamin D (Dusso, 2011)
+6

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian suplementasi vitamin D dapat meningkatkan kadar serum fetuin A dan menurunkan kadar serum hormone paratiroid pada pasien

Hasil : Ada peningkatan kadar vitamin C plasma pada kelompok perlakuan vitamin C dibandingkan dengan kelompok kontrol setelah pemberian suplementasi vitamin C 2 gram

Penurunan kadar Zink ditemukan pada penderita penyakit infeksi atau radang kronik, hal ini dapat dilihat dari redistribusi Zink serum ke dalam hepar yang terikat pada

Tujuan: untuk mengetahui pengaruh pemberian vitamin D terhadap kecepatan konversi sputum pada pasien TB paru beretnis Batak dihubungankan dengan polimorfisme ApaI

Penelitian peran polimorfisme ApaI gen RVD terhadap kecepatan konversi sputum pada pasien TB paru telah dibuktikan oleh Babb et al , 2007 pada populasi campuran

Afrika menunjukkan hasil yang tidak signifikan pada kerentanan atau resistensi. terhadap TB antara bentuk alel

Hasil ini sesuai dengan riset terdahulu yang dilakukan pada 738 orang, yang juga memperlihatkan korelasi negatif, dimana IMT yang semakin tinggi, maka semakin rendah konsentrasi serum

2018 Alamat Korespondensi email: Kadar Vitamin D [25OHD] Serum Pasien Tuberkulosis Tulang Belakang dan Tuberkulosis Paru di Bandung, Indonesia: Studi Epidemiologi Ahmad Ramdan,1