• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS RISIKO DALAM USAHATERNAK AYAM BROILER (Studi Kasus Usaha Peternakan X di Desa Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS RISIKO DALAM USAHATERNAK AYAM BROILER (Studi Kasus Usaha Peternakan X di Desa Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor)"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS RISIKO DALAM USAHATERNAK AYAM BROILER (Studi Kasus Usaha Peternakan X di Desa Tapos,

Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor)

Oleh

FAISHAL ABDUL AZIZ H34066044

PROGRAM SARJANA AGRIBISNIS PENYELENGGARAAN KHUSUS DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

RINGKASAN

FAISHAL ABDUL AZIZ. Analisis Risiko dalam Usahaternak Ayam Broiler (Studi Kasus Usaha Peternakan X di Desa Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor). Di Bawah Bimbingan JUNIAR ATMAKUSUMA.

Usaha peternakan ayam broiler mempunyai risiko yang tinggi. Risiko tinggi yang dihadapi peternak ayam broiler sangat dirasakan oleh Bapak Rahmat, pemilik usaha peternakan X di Desa Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor. Usaha peternakan X adalah usaha peternakan ayam broiler plasma yang mempunyai kapasitas produksi sebanyak 4000 ekor setiap periodenya. Risiko yang dihadapi usaha peternakan X adalah risiko harga (baik harga input maupun harga jual output), risiko produksi (cuaca dan iklim bisa menyebabkan tingkat mortalitas sebesar 30-50 persen dan penyakit bisa menyebabkan tingkat mortalitas sebesar 50 persen), dan risiko sosial. Risiko-risiko tersebut sangat berpengaruh terhadap keuntungan atau pendapatan bersih yang diterima peternak. Kemampuan dalam meminimalkan risiko sangat dibutuhkan usaha peternakan X dalam menjalankan produksinya. Manajemen risiko adalah alat bantu bagi peternak untuk meminimalkan atau menghindari risiko yang dihadapinya.

Berdasarkan kondisi di atas, maka beberapa permasalahan yang akan diteliti adalah : (1). Bagaimana pengaruh risiko terhadap pendapatan usaha peternakan X?, (2). Bagaimana alternatif manajemen risiko yang diterapkan untuk mengatasi risiko yang dihadapi oleh usaha peternakan X?. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk : (1). Menganalisis pengaruh risiko terhadap pendapatan usaha peternakan X, (2). Menganalisis alternatif manajemen risiko yang diterapkan untuk mengatasi risiko yang dihadapi oleh usaha peternakan X.

Penelitian dilakukan pada usaha peternakan X di Desa Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner, observasi dan wawancara dengan pemilik peternakan, kepala kandang, anak kandang, dan field controller perusahaan inti. Data primer tersebut berupa keadaan umum lokasi penelitian dan manajemen risiko yang diterapkan usaha peternakan X. Data sekunder diperoleh melalui studi literatur dari instansi yang terkait dengan penelitian. Data sekunder tersebut diantaranya berupa data harga input dan output, laporan biaya, penerimaan, dan pendapatan perusahaan. Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan analisis risiko dan analisis deskriptif. Analisis risiko digunakan untuk menganalisis tingkat risiko yang dihadapi usaha peternakan X. Analisis risiko yang digunakan adalah dengan menghitung expected return, ragam (variance), simpangan baku (standard deviation), koefisien variasi (coefficient variation), dan batas bawah pendapatan. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis manajemen risiko yang diterapkan oleh usaha peternakan X.

Usaha peternakan X berdiri pada akhir tahun 2002 dan mulai beroperasi pada bulan Maret 2003. Usaha peternakan X telah menjalin kemitraan dengan tiga perusahaan inti, yaitu PT Inter Agro Prospek (2003-2004), PT Prima Karya Persada (2004-2006), dan PT Super Unggas Jaya (2006-sekarang). Usaha peternakan X terletak di Kampung Cibentang RT 01/ RW 05, Desa Tapos,

(3)

Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor. Usaha peternakan X memiliki struktur organisasi yang sangat sederhana. Struktur organisasi sederhana dapat mengantisipasi perubahan lingkungan dengan cepat.

Nilai expected return yang diterima usaha peternakan X adalah sebesar Rp 5.768.199. Nilai ini menggambarkan bahwa pendapatan bersih yang diharapkan dapat diperoleh oleh usaha peternakan X setiap periode di masa yang akan datang adalah sebesar Rp 5.768.199 (cateris paribus). Nilai standard deviation yang diperoleh usaha peternakan X adalah sebesar Rp 10.095.088. Nilai tersebut menunjukkan bahwa risiko yang harus dihadapi usaha peternakan X setiap periode di masa yang akan datang adalah sebesar Rp 10.095.088 (cateris paribus). Nilai coefficient variation yang diperoleh usaha peternakan X adalah sebesar 1,75. Nilai coefficient variation sebesar 1,75 menunjukkan bahwa risiko yang ditanggung oleh peternak sebesar 175 persen dari nilai return yang diperoleh peternak. Nilai coefficient variation yang lebih besar dari 0,5 menunjukkan bahwa usaha peternakan X akan menghadapi peluang merugi pada setiap periode di masa yang akan datang (cateris paribus). Nilai batas bawah pendapatan yang diperoleh usaha peternakan X adalah sebesar Rp –14.421.977. Nilai ini menunjukkan bahwa kemungkinan risiko paling rendah atau kerugian terendah yang akan dihadapi usaha peternakan X setiap periode di masa yang akan datang adalah sebesar Rp –14.421.977 (cateris paribus). Berdasarkan hasil analisis risiko, risiko yang dihadapi usaha peternakan X yaitu risiko harga, risiko produksi, dan risiko sosial sangat berpengaruh terhadap pendapatan usaha peternakan X. Risiko-risiko tersebut menyebabkan pendapatan usaha peternakan X berfluktuasi tajam. Bahkan pada periode ke-6 dan ke-12 usaha peternakan X mengalami kerugian masing-masing sebesar Rp 3.326.570 dan Rp 21.213.029.

Hasil kuesioner menunjukkan bahwa manajemen risiko yang diterapkan di usaha peternakan X adalah manajemen risiko harga, manajemen risiko produksi dan manajemen risiko sosial. Manajemen risiko produksi (proses persiapan kandang dan proses budidaya) dan manajemen risiko harga yang diterapkan masih belum efektif. Hal ini diindikasikan karena masih tingginya rata-rata tingkat mortalitas dan nilai FCR yaitu masing-masing sebesar 10 persen dan 1,88. Jumlah tersebut melebihi angka mortalitas dan nilai FCR standar yaitu sebesar 5 persen dan 1,5-1,6. Indikasi lain belum efektifnya manajemen risiko produksi dan manajemen risiko harga yang diterapkan adalah tingginya fluktuasi pendapatan bersih yang diterima usaha peternakan X. Manajemen risiko sosial yang diterapkan juga belum efektif, karena masih terjadinya kasus pencurian ayam.

Alternatif manajemen risiko yang dapat diterapkan oleh usaha peternakan X diantaranya adalah mendatangkan tim medis yang dikepalai oleh seorang dokter hewan yang bertanggung jawab penuh terhadap kesehatan ayam secara keseluruhan. Adanya tim medis ini diharapkan dapat meminimalkan tingkat mortalitas akibat penyakit yang mewabah di usaha peternakan X. Alternatif manajemen risiko yang dapat juga diterapkan oleh usaha peternakan X adalah memperbaiki teknologi dalam hal pengaturan sirkulasi kandang. Perbaikan teknologi dalam hal pengaturan sirkulasi kandang dapat meminimalkan tingkat mortalitas akibat cuaca dan iklim yang tidak menentu. Beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya adalah membuat air deflector, memasang insulasi di atap kandang (Roof Insulation), dan memasang kipas angin.

(4)

ANALISIS RISIKO DALAM USAHATERNAK AYAM BROILER (Studi Kasus Usaha Peternakan X di Desa Tapos,

Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor)

FAISHAL ABDUL AZIZ H34066044

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

pada

Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM SARJANA AGRIBISNIS PENYELENGGARAAN KHUSUS DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh : Nama Mahasiswa : Faishal Abdul Aziz Nomor Registrasi Pokok : H34066044

Program Mayor : Agribisnis

Judul : Analisis Risiko Dalam Usahaternak Ayam Broiler (Studi Kasus Usaha Peternakan X Di Desa Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor)

Dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui : Dosen Pembimbing

Ir. Juniar Atmakusuma, MS. NIP. 130 804 891

Mengetahui :

Ketua Departemen Agribisnis

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS. NIP. 131 415 082

(6)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ANALISIS RISIKO DALAM USAHATERNAK AYAM BROILER (STUDI KASUS USAHA PETERNAKAN X DI DESA TAPOS, KECAMATAN TENJO, KABUPATEN BOGOR) ADALAH HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Januari 2009

Faishal Abdul Aziz H34066044

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 21 Oktober 1984 sebagai anak kandung dari Bapak Jaya Rahmat dan Ibu Rohani. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara.

Penulis mengikuti pendidikan sekolah dasar di SD Negeri Kawunggading Cianjur dan lulus pada tahun 1996. Pendidikan tingkat menengah dapat diselesaikan penulis pada tahun 1999 di SMP Negeri 2 Cianjur. Pendidikan tingkat atas dapat diselesaikan penulis pada tahun 2002 di SMU Negeri 1 Cianjur. Penulis melanjutkan pendidikan pada tahun 2002 ke Program Diploma III Manajemen Agribisnis, Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Setelah lulus pada tahun 2005, penulis melanjutkan pendidikan pada tahun 2006 ke Program Sarjana Agribisnis Penyelenggaraan Khusus, Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Penulis aktif pada berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan seperti di Departemen Islamic Social Economic Development (ISED) Keluarga Muslim Sosek (KMS) pada tahun 2002-2003, Biro Aplikasi Pertanian Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM-A) pada tahun 2003-2004, dan Biro Kerohanian Islam Forum Komunikasi MAB (FK-MAB) pada tahun 2002-2004. Selain itu, penulis juga pernah aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bulu Tangkis IPB pada tahun 2002.

Penulis pernah bekerja pada tahun 2006-2007 di PT Pamapersada Nusantara, sebuah perusahaan kontraktor pertambangan batu bara unit bisnis Heavy Equipment PT Astra Internasional, Tbk. Jabatan penulis selama bekerja di perusahaan tersebut adalah sebagai Community Development Officer pada Community Development Department. Penulis kemudian merintis usaha peternakan ayam broiler dengan kapasitas produksi sebesar 4.000 ekor di Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor pada tahun 2007 hingga sekarang.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberikan kekuatan dan kemudahan kepada penulis dalam menyusun tulisan ilmiah ini. Tulisan ilmiah ini disusun penulis dalam rangka menyelesaikan pendidikan pada Program Sarjana Agribisnis Penyelenggaraan Khusus, Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Tulisan ilmiah ini berjudul ”Analisis Risiko dalam Usahaternak Ayam Broiler (Studi Kasus Usaha Peternakan X di Desa Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor)”. Tulisan ilmiah ini menguraikan tingkat risiko yang dihadapi oleh usaha peternakan X dan manajemen risiko yang diterapkan oleh usaha peternakan X. Pola pemikiran penulis diawali dengan melihat tingginya risiko yang dihadapi dalam usaha peternakan ayam broiler yang merupakan bagian dari sub sektor peternakan di Indonesia. Pola pemikiran ini terus berkembang, sehingga pada akhirnya penulis mencoba untuk menganalisis risiko dalam usahaternak ayam broiler pada usaha peternakan X di Desa Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Penulis sangat mengharapkan kritik, saran, dan sumbangan pemikiran yang bersifat membangun dari para pembaca sebagai masukan untuk perbaikan penulisan di masa yang akan datang. Penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat dalam perkembangan keilmuan dan kehidupan bagi semua pihak.

Bogor, Januari 2009

Faishal Abdul Aziz H34066044

(9)

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada :

1. Ir. Juniar Atmakusuma, MS selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan saran kepada penulis mulai dari tahap awal sampai pada tahap akhir penulisan skripsi ini.

2. Dr. Ir. Anna Fariyanti, MS dan Rahmat Yanuar, SP, MSi selaku Penguji Utama dan Penguji Komdik yang telah memberikan arahan dan saran untuk perbaikan terhadap isi dan format penulisan skripsi ini.

3. Ir. Popong Nurhayati, MM selaku dosen evaluator kolokium yang telah memberikan saran untuk perbaikan isi skripsi ini.

4. Bapak Rahmat, Bapak Junaedi, dan Bapak Syaiful Basri, S.Pt selaku fasilitator dalam kegiatan penelitian di lapangan yang telah bersedia memberikan kesempatan, fasilitas dan data yang dibutuhkan penulis dalam penyusunan skripsi ini.

5. Ayah dan ibu tercinta atas perhatian dan kasih sayang yang diberikan serta dorongan moril dan materil yang tidak terhingga jumlahnya kepada penulis dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.

6. dr. Anggia Nurafrilla, S.Ked sahabat hati yang telah memberikan motivasi dan saran yang sangat dibutuhkan penulis dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.

Penulis berharap semoga semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini mendapatkan balasan dari Allah SWT. Penulis juga berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengembangan keilmuan di masa yang akan datang.

Bogor, Januari 2009 Penulis

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix I. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Perumusan Masalah ... 6 1.3. Tujuan Penelitian ... 11 1.4. Kegunaan Penelitian... 12 II. TINJAUAN PUSTAKA ... 13

2.1. Usaha Peternakan Ayam Broiler ... 13

2.2. Faktor-Faktor Produksi Usaha Peternakan Ayam Broiler ... 16

2.2.1. Lahan ... 16

2.2.2. Kandang dan Peralatan Kandang ... 17

2.2.3. Day Old Chick (DOC) ... 19

2.2.4. Pakan ... 20

2.2.5. Obat-Obatan, Vaksin dan Vitamin ... 21

2.2.6. Tenaga Kerja ... 22

2.3. Risiko dan Ketidakpastian dalam Agribisnis ... 22

2.4. Penelitian Terdahulu ... 24

III. KERANGKA PEMIKIRAN ... 30

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 30

3.1.1. Konsep Dasar Risiko ... 30

3.1.2. Sumber – Sumber Risiko ... 33

3.1.3. Sikap dalam Menghadapi Risiko ... 35

3.1.4. Konsep Manajemen Risiko ... 36

3.1.5. Ukuran Risiko ... 40

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 41

IV. METODE PENELITIAN ... 45

4.1. Lokasi dan Waktu ... 45

4.2. Data dan Sumber Data ... 45

4.3. Teknik Pengumpulan Data ... 46

4.4. Metode Analisis Data ... 46

4.4.1. Analisis Deskriptif ... 48

4.4.2. Analisis Risiko ... 48

V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 54

5.1. Keadaan Umum Usaha Peternakan X ... 54

(11)

5.1.2. Lokasi Perusahaan ... 57

5.1.3. Struktur Organisasi Perusahaan ... 58

5.2. Kegiatan Produksi Ayam Broiler Usaha Peternakan X ... 61

5.2.1. Persiapan Kandang ... 62

5.2.2. Kegiatan Budidaya ... 65

5.2.2.1. Tahap Periode Pemanasan (Brooding Period) ... 65

5.2.2.2. Tahap Pertumbuhan ... 71

5.2.3. Pemanenan ... 74

5.2.4. Saluran Pemasaran ... 76

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 77

6.1. Analisis Pengaruh Risiko terhadap Pendapatan Usaha Peternakan X ... 77

6.1.1. Pengaruh Risiko terhadap Produksi Usaha Peternakan X ... 77

6.1.2. Pendapatan Bersih Usaha Peternakan X ... 85

6.1.2.1. Biaya Produksi ... 85

6.1.2.2. Penerimaan ... 88

6.1.2.3. Pendapatan Bersih ... 91

6.1.3. Hasil yang Diharapkan (Expected Return) ... 94

6.1.4. Ragam (Variance) ... 95

6.1.5. Simpangan Baku (Standard Deviation) ... 96

6.1.6. Koefisien Variasi (Coefficient Variation) ... 97

6.1.7. Batas Bawah Pendapatan (L) ... 98

6.2. Analisis Manajemen Risiko yang Telah Diterapkan Usaha Peternakan X ... 99

6.2.1. Manajemen Risiko Harga ... 101

6.2.2. Manajemen Risiko Produksi ... 102

6.2.2.1. Manajemen Risiko Persiapan Kandang ... 102

6.2.2.2. Manajemen Risiko Budidaya Usahaternak ... 103

6.2.2.3. Manajemen Risiko Pemanenan ... 107

6.2.3. Manajemen Risiko Sosial ... 108

6.3. Penerapan Manajemen Risiko Usaha Peternakan X ... 111

6.4. Alternatif Manajemen Risiko Usaha Peternakan X ... 113

VII. KESIMPULAN DAN SARAN ... 116

7.1. Kesimpulan ... 116

7.2. Saran ... 119

DAFTAR PUSTAKA ... 121

(12)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Populasi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2003-2007 ... 1

2. Konsumsi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2000-2007 ... 2

3. Produksi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2003-2007 ... 3

4. Produksi Ternak Unggas di Kota Bogor Tahun 2006 ... 4

5. Fluktuasi Harga DOC, Pakan, Broiler Hidup dan Daging Broiler di Usaha Peternakan X Tahun 2003-2008 ... 8

6. Luas Kandang Ayam Broiler ... 17

7. Jenis Alat Pemanas Berdasarkan Sumber Energinya ... 18

8. Kandungan Gizi Daging Ayam Broiler per 100 Gram ... 19

9. Kebutuhan Zat Nutrisi Berdasarkan Energi Metabolisme dan Protein ... 20

10. Program Vaksinasi Ayam Broiler ... 21

11. Penelitian Terdahulu tentang Ayam Broiler dan Risiko ... 25

12. Metode Analisis untuk Menjawab Tujuan Penelitian ... 47

13. Kebutuhan Temperatur untuk DOC Selama Periode Pemanasan . 66 14. Jadwal Penerangan dan Pencahayaan Ayam Broiler ... 67

15. Waktu Produksi Usahaternak di Usaha Peternakan X Selama Periode Pengamatan (13 Februari 2006-23 Desember 2007) ... 77

16. Tingkat Mortalitas Usaha Peternakan X Selama Periode Pengamatan (13 Februari 2006-23 Desember 2007) ... 80

17. Feed Convertion Ratio (FCR) Usaha Peternakan X Selama Periode Pengamatan (13 Februari 2006-23 Desember 2007) ... 82

18. Jumlah Ayam Hilang di Usaha Peternakan X karena Kasus Pencurian Selama Periode Pengamatan (13 Februari 2006-23 Desember 2007) ... 83

19. Biaya Sosial Usaha Peternakan X Selama Periode Pengamatan (13 Februari 2006-23 Desember 2007) ... 84

20. Biaya Produksi Usaha Peternakan X Selama Periode Pengamatan (13 Februari 2006-23 Desember 2007) ... 86

21. Kontribusi Penggunaan Biaya terhadap Total Biaya Produksi dalam Setiap Periode Pengamatan (13 Februari 2006-23 Desember 2007) ... 87

22. Penerimaan Usaha Peternakan X Selama Periode Pengamatan (13 Februari 2006-23 Desember 2007) ... 89

(13)

23. Pendapatan Bersih Usaha Peternakan X Selama Periode

Pengamatan (13 Februari 2006-23 Desember 2007) ... 91 24. Expected Return Usaha Peternakan X Selama Periode

Pengamatan (13 Februari 2006-23 Desember 2007) ... 94 25. Nilai Ragam (Variance) Usaha Peternakan X (Rupiah) ... 95

(14)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Fluktuasi Tingkat Mortalitas di Usaha Peternakan X ... 10

2. Sikap dalam Menghadapi Risiko ... 35

3. Tahapan dalam Proses Manajemen Risiko ... 37

4. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional ... 44

5. Struktur Organisasi Usaha Peternakan X ... 59

6. Saluran Pemasaran Usaha Peternakan X... 76

7. Fluktuasi Harga Input dan Output Usaha Peternakan X Selama Periode Pengamatan (13 Februari 2006-23 Desember 2007) ... 79

8. Fluktuasi Pendapatan Bersih Usaha Peternakan X Selama Periode Pengamatan (13 Februari 2006-23 Desember 2007) ... 93

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Populasi Daging Ayam Broiler Menurut Provinsi

di Indonesia Tahun 2003 – 2007 (000 Ekor) ... 124 2. Produksi Daging Ayam Broiler Menurut Provinsi

di Indonesia Tahun 2003 – 2007 (Ton) ... 125 3. Konsumsi Daging Ayam Broiler Menurut Provinsi

di Indonesia Tahun 2003 – 2007 (Ton) ... 126 4. Rincian Penggunaan Biaya Pakan, DOC, dan Obat-Obatan

Usaha Peternakan X Selama Periode Pengamatan ... 127 5. Daftar Harga Kontrak Periode Ke-1 (13 Februari-23 Maret 2006) 128 6. Daftar Harga Kontrak Periode Ke-2 (12 April-20 Mei 2006)... 129 7. Daftar Harga Kontrak Periode Ke-3 (18 Juni-27 Juli 2006) ... 130 8. Daftar Harga Kontrak Periode Ke-4 (17 Agustus-25 Sept 2006) .. 131 9. Daftar Harga Kontrak Periode Ke-5 (16 Oktober-22 Nov 2006) .. 132 10. Daftar Harga Kontrak Periode Ke-6 (14 Des 2006-21 Jan 2007) .. 133 11. Daftar Harga Kontrak Periode Ke-7 (11 Februari-20 Maret 2007) 134 12. Daftar Harga Kontrak Periode Ke-8 (13 April-18 Mei 2007)... 135 13. Daftar Harga Kontrak Periode Ke-9 (8 Juni-17 Juli 2007) ... 136 14. Daftar Harga Kontrak Periode Ke-10 (9 Agustus-8 Sept 2007) .... 137 15. Daftar Harga Kontrak Periode Ke-11 (27 September-26 Okt 2007) 138 16. Daftar Harga Kontrak Periode Ke-12 (16 November-23 Des 2007) 139 17. Kuesioner Risiko dan Manajemen Risiko ... 140

(16)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sub sektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian yang sangat potensial untuk dikembangkan. Pengembangan sub sektor peternakan perlu untuk dilakukan karena sub sektor ini bisa memberikan nilai tambah (added value) bagi pertanian Indonesia. Kontribusi sub sektor peternakan terhadap pertanian Indonesia ditentukan oleh seberapa jauh kemampuan kita untuk mengembangkan usaha peternakan tersebut agar mempunyai prospek yang baik di pasaran. Terkait dengan hal tersebut, maka sub sektor peternakan yang ingin dibangun di masa depan adalah yang mampu menghasilkan produk-produk yang dapat bersaing di pasar dan mampu berkembang secara berkelanjutan.

Peternakan ayam broiler adalah salah satu andalan dalam sub sektor peternakan di Indonesia. Peternakan ayam broiler mempunyai prospek yang sangat baik untuk dikembangkan, baik dalam skala peternakan besar maupun skala peternakan kecil (peternakan rakyat). Pembangunan peternakan ayam broiler di Indonesia dapat dilihat dari perkembangan jumlah populasinya. Jumlah populasi ayam broiler di Indonesia disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Populasi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2003 – 2007

No Tahun Jumlah (Ekor) Pertumbuhan (%)

1 2003 847.743.895 -

2 2004 778.969.843 - 8,11

3 2005 811.188.684 4,13

4 2006 797.527.446 -1,68

5 2007 920.851.121 15,46

(17)

Berdasarkan Tabel 1, jumlah populasi ayam broiler terus berkembang. Jumlah populasi ayam broiler pada tahun 2007 merupakan jumlah populasi tertinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu sebesar 920.851.121 ekor. Jumlah populasi yang besar ini merupakan potensi yang harus dikelola dengan baik agar usaha peternakan ayam broiler bisa terus berkembang di masa yang akan datang.

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan masyarakat akan daging ayam semakin meningkat. Faktor lain yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan daging ayam adalah meningkatnya jumlah pendapatan masyarakat, meningkatnya daya beli masyarakat, dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi protein hewani. Kebutuhan masyarakat akan daging ayam dapat dilihat dari jumlah konsumsi daging ayam. Jumlah konsumsi daging ayam broiler di Indonesia disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Konsumsi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2003 – 2007

No Tahun Jumlah (Ton) Pertumbuhan (%)

1 2003 1.368.200 -

2 2004 1.425.300 4,17

3 2005 1.573.000 10,36

4 2006 1.486.100 -5,52

5 2007 1.564.200 5,25

Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan, 2008

Berdasarkan Tabel 2, jumlah konsumsi daging ayam broiler terbesar terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 1.573.000 ton dengan tingkat pertumbuhan sebesar 10,36 persen dari tahun sebelumnya. Besarnya jumlah konsumsi tersebut merupakan apresiasi yang baik dari masyarakat terhadap produk peternakan ayam

(18)

broiler. Potensi inilah yang harus dikembangkan dengan baik agar usaha peternakan ayam broiler dapat terus berkembang secara berkelanjutan.

Peternakan ayam broiler mempunyai banyak kelebihan, salah satunya adalah siklus produksi yang sangat pendek yaitu sekitar 30-40 hari. Siklus produksi yang pendek inilah yang menjadi daya tarik bagi para peternak karena perputaran modalnya relatif lebih cepat. Modal yang telah dikeluarkan akan cepat kembali, sehingga keuntungan akan cepat didapatkan. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap minat para peternak untuk terus memproduksi ayam broiler. Jumlah produksi ayam broiler terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah konsumsi terhadap daging ayam broiler. Jumlah produksi ayam broiler di Indonesia disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Produksi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2003 – 2007

No Tahun Jumlah (Ton) Pertumbuhan (%)

1 2003 771.112 -

2 2004 846.097 9,72

3 2005 779.109 -7,91

4 2006 861.262 10,54

5 2007 918.479 6,64

Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan, 2008

Berdasarkan Tabel 3, jumlah produksi ayam broiler terbesar terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 918.479 ton dengan tingkat pertumbuhan sebesar 6,64 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah produksi di tahun 2007 meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah konsumsi daging ayam di tahun 2007 yaitu sebesar 1.564.200 ton (Tabel 2). Jumlah produksi ayam broiler dari tahun ke tahun ternyata tidak mampu memenuhi jumlah permintaan ayam broiler. Hal ini disebabkan karena masih rendahnya jumlah produksi ayam broiler dibandingkan

(19)

dengan jumlah konsumsi ayam broiler. Peningkatan jumlah produksi ayam broiler harus terus dilakukan untuk memenuhi jumlah konsumsi daging ayam broiler.

Kota Bogor merupakan salah satu daerah sentra produksi ayam broiler di Jawa Barat. Jumlah produksi ayam broiler memiliki kontribusi yang cukup signifikan terhadap jumlah produksi unggas secara keseluruhan di Kota Bogor, namun jumlahnya masih rendah jika dibandingkan dengan jumlah produksi ayam buras. Jumlah produksi ternak unggas di Kota Bogor disajikan dalam Tabel 4.

Tabel 4. Produksi Ternak Unggas di Kota Bogor Tahun 2006

No Jenis Unggas Jumlah (Ekor) Kontribusi (%)

1 Ayam Buras 554.434 75,12

2 Ayam Broiler 178.000 24,11

3 Ayam Ras Petelur 2.500 0,34

4 Itik/Bebek 3.094 0,42

Jumlah 738.028 100

Sumber : Dinas Agribisnis Kota Bogor, 2007

Berdasarkan Tabel 4, jumlah produksi ayam broiler di Kota Bogor sebanyak 178.000 ekor dengan kontribusi sebesar 24,11 persen terhadap jumlah keseluruhan ternak unggas di Kota Bogor. Jumlah produksi tersebut masih sangat rendah jika dibandingkan dengan jumlah produksi ayam buras yaitu sebesar 554.434 ekor. Peningkatan produksi ayam broiler di Kota Bogor harus dilakukan untuk memenuhi permintaan ayam broiler yang terus meningkat.

Pengembangan usahaternak ayam broiler akan berhasil apabila peternak mampu mengelola usahaternaknya dengan baik. Pengelolaan usahaternak ayam broiler harus ditunjang dengan kemampuan manajemen yang baik, mulai dari manajemen produksi, keuangan, sumberdaya manusia, sampai kepada manajemen pemasaran. Peternak sebagai pengambil keputusan bisnis harus memiliki

(20)

kompetensi yang baik dalam mengelola seluruh fungsi perusahaan. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap keberhasilan usahanya.

Kemampuan manajemen yang baik harus ditunjang oleh infrastruktur peternakan yang memadai. Infrastruktur yang memadai dapat ditunjukkan dengan kemudahan akses terhadap jalan, jaringan listrik dan telepon, sumber mata air, tersedianya kandang dan peralatan kandang yang layak pakai, dan sebagainya. Penggunaan teknologi yang tepat guna juga merupakan faktor yang penting dalam mendukung infrastruktur peternakan yang memadai. Infrastruktur yang baik merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam keberhasilan usahaternak ayam broiler yang dijalankan.

Usaha peternakan ayam broiler tidak terlepas dari beberapa kendala yang dihadapi. Kendala tersebut merupakan hambatan yang cukup kompleks dalam mengusahakan peternakan ayam broiler. Kendala yang dimaksud adalah tingginya tingkat risiko yang dihadapi. Risiko yang dihadapi dalam usahaternak ayam broiler ini adalah risiko harga, baik harga-harga input seperti Day Old Chick (DOC), pakan dan obat-obatan, maupun harga jual output berupa ayam hidup dan daging. Risiko lain yang dihadapi dalam usahaternak ayam broiler adalah risiko produksi (yang disebabkan oleh cuaca dan iklim serta penyakit) dan risiko sosial. Tingginya risiko yang dihadapi peternak ayam broiler sangat dirasakan oleh Bapak Rahmat, pemilik usaha peternakan X di Desa Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor. Usaha peternakan X milik Bapak Rahmat adalah usaha peternakan rakyat yang memproduksi ayam broiler dengan kapasitas produksi sebanyak 4000 ekor. Usaha peternakan ini merupakan usaha peternakan plasma yang bekerjasama dengan perusahaan inti yaitu PT Super Unggas Jaya. Usaha

(21)

peternakan X memiliki kapasitas produksi ayam terbanyak diantara peternakan ayam broiler lainnya di Desa Tapos. Hal itulah yang menjadi alasan penelitian ini dilakukan di usaha peternakan X milik Bapak Rahmat.

Pengelolaan usahaternak ayam broiler yang dihadapkan pada risiko tinggi harus disertai dengan pengetahuan peternak dalam meminimalkan risiko. Kemampuan mengelola risiko yang baik sangat diperlukan peternak untuk meminimalkan risiko, sehingga peternak bisa mendapatkan keuntungan yang maksimal. Manajemen risiko adalah alat bantu bagi peternak dalam proses pengambilan keputusan untuk mengurangi atau menghindari risiko yang dihadapinya. Manajemen risiko yang diterapkan oleh usaha peternakan X harus efektif agar tujuan perusahaan dapat tercapai. Harapannya adalah usaha peternakan X milik Bapak Rahmat dapat menjalankan usahanya dengan meraih keuntungan yang tinggi dan terjaminnya kontinuitas usaha.

Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan suatu kajian yang menganalisis risiko dan manajemen risiko dalam usahaternak ayam broiler. Kajian ini diperlukan untuk menekan peluang risiko yang terjadi dalam usahaternak ayam broiler. Dengan kajian ini, diharapkan peternak dapat mengambil keputusan yang tepat dan strategis terkait dengan risiko yang dihadapinya. Harapannya adalah para peternak ayam broiler dapat menjalankan usahanya dengan lebih baik di masa yang akan datang.

1.2. Perumusan Masalah

Usaha peternakan X milik Bapak Rahmat sebagai peternak plasma yang bekerjasama dengan PT Super Unggas Jaya menghadapi berbagai risiko dalam

(22)

menjalankan usahanya. Risiko tersebut adalah risiko harga, risiko produksi (yang disebabkan oleh cuaca dan iklim serta penyakit) dan risiko sosial. Risiko-risiko tersebut harus dikelola dengan baik agar kelangsungan usahaternak ayam broiler dapat dijaga dengan baik.

Risiko harga yang dihadapi usaha peternakan X merupakan risiko yang paling berat. Harga input produksi yang tidak stabil bahkan cenderung naik sangat merugikan peternak. Kenaikan harga-harga input produksi salah satunya merupakan akibat dari kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 Juni 2008 sebagai akibat dari kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$ 147/barel. Selain harga-harga input produksi, harga jual output pun sangat berfluktuatif dan tidak menentu. Harga jual yang diterima peternak berdasarkan harga kontrak dengan perusahaan inti, dimana harga kontrak tersebut ditetapkan berdasarkan harga pasar. Harga kontrak tersebut setiap periodenya selalu berubah karena mengikuti harga pasar sehingga terjadi fluktuasi harga. Harga daging ayam broiler paling tinggi biasanya terjadi pada hari raya Idul Fitri. Setelah hari raya Idul Fitri berakhir, harga daging ayam broiler kembali turun. Harga daging ayam broiler akan kembali naik secara perlahan hingga mencapai harga tertinggi pada hari raya Idul Fitri berikutnya. Fluktuasi harga DOC, pakan, broiler hidup dan daging broiler di usaha peternakan X disajikan dalam Tabel 5.

(23)

Tabel 5. Fluktuasi Harga DOC, Pakan, Broiler Hidup dan Daging Broiler di Usaha Peternakan X Tahun 2003 – 2008

No Komoditi Satuan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 --- Rp --- 1 DOC Ekor 2.500 3.000 2.800 3.400 3.500 3.800 2 Pakan 1*) Kg 3.475 3.400 3.650 3.500 3.550 4.475 3 Pakan 2*) Kg 3.400 3.375 3.625 3.475 3.500 4.450 4 Broiler Kg 8.050 9.528 10.380 9.936 10.414 11.140 5 Daging Kg 9.625 10.725 11.425 10.850 11.525 12.650 Keterangan *) : Pakan 1 = Pakan Starter, Pakan 2 = Pakan Finisher

Sumber : Usaha Peternakan X, 2008

Berdasarkan Tabel 5, harga-harga untuk setiap komoditas sangat berfluktuasi dan menunjukkan trend yang naik. Harga DOC paling rendah terjadi pada tahun 2003 dengan harga Rp 2.500/ekor, namun harga tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar Rp 3.800/ekor. Kecenderungan harga naik juga sangat terlihat pada harga pakan, baik pakan starter maupun pakan finisher. Harga pakan tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar Rp 4.475/kg. Kelangkaan dan kenaikan harga kedelai dan jagung sebagai bahan baku pakan ayam broiler adalah salah satu penyebab tingginya harga pakan. Begitu juga halnya dengan harga-harga output berupa broiler hidup dan daging ayam yang berfluktuasi. Fluktuasi harga jual output salah satunya disebabkan karena tingkat permintaan yang berfluktuasi.

Risiko produksi adalah salah satu risiko yang dihadapi oleh usaha peternakan X. Sumber risiko produksi adalah perubahan cuaca dan iklim yang semakin tidak menentu sebagai akibat dari pemanasan global. Perubahan cuaca dan iklim yang tidak menentu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya ternak ayam broiler. Saat musim hujan, suhu udara di dalam kandang menjadi dingin, udara dalam kandang sangat lembab, dan banyak terdapat genangan air. Sebaliknya di musim kemarau, suhu udara di dalam kandang menjadi panas, kadar

(24)

karbondioksida meningkat, penguapan meningkat, dan kekeringan pun tidak bisa dihindari. Kondisi seperti itu membuat ternak ayam sulit beradaptasi sehingga mengakibatkan kematian dengan tingkat mortalitas yang sangat tinggi yaitu sekitar 30-50 persen (PT Super Unggas Jaya, 2008).

Sumber risiko produksi selain cuaca dan iklim adalah penyakit dan parasit yang berbahaya. Ayam broiler sangat rentan terhadap gangguan dari berbagai macam parasit dan penyakit. Salah satu penyebab rentannya ayam broiler terhadap penyakit adalah karena perubahan cuaca dan iklim yang tidak menentu. Penyakit yang menyerang ayam broiler di usaha peternakan X adalah Coccidiosis (penyakit berak darah), Fowl Typoid, Fowl Cholera (penyakit berak hijau), Nutritional Deficiency (penyakit defisiensi nutrisi), Newcastle Disease (penyakit tetelo), dan Pullorum Disease (penyakit berak putih). Penyakit-penyakit tersebut dapat mengakibatkan tingginya tingkat mortalitas ayam broiler yang bisa mencapai 50 persen (PT Super Unggas Jaya, 2007). Bahkan menurut Fadilah et al. (2007), tingkat mortalitas akibat penyakit Pullorum Disease (penyakit berak putih) bisa mencapai 100 persen. Tingkat mortalitas di usaha peternakan X berfluktuatif setiap periodenya. Fluktuasi tingkat mortalitas di usaha peternakan X disajikan dalam Gambar 1.

(25)

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Periode T in gk at M or tal it as ( %)

Gambar 1. Fluktuasi Tingkat Mortalitas di Usaha Peternakan X Sumber : Usaha Peternakan X, 2008

Berdasarkan Gambar 1, tingkat mortalitas di usaha peternakan X sangat berfluktuasi. Tingkat mortalitas tertinggi terjadi pada periode ke-12 yaitu hampir mendekati 50 persen. Tingkat mortalitas yang tinggi juga terjadi pada periode ke-6 yaitu hampir mendekati 25 persen. Tingginya tingkat mortalitas yang terjadi pada periode ke-6 dan ke-12 ini disebabkan oleh penyakit Pullorum Disease (penyakit berak putih) yang menyerang usaha peternakan X.

Risiko sosial merupakan salah satu risiko yang harus dihadapi usaha peternakan X dalam menjalankan usahanya. Usahaternak ayam broiler dapat menyebabkan polusi udara yang tidak sedap, kondisi keamanan yang tidak terjamin, dan bahkan bisa menciptakan kecemburuan sosial di lingkungan masyarakat setempat. Risiko sosial dapat diatasi jika peternak memiliki tanggung jawab sosial (social responsibility) terhadap lingkungan masyarakat setempat.

(26)

Bentuk tanggung jawab sosial tersebut misalnya merekrut calon tenaga kerja dari lingkungan masyarakat setempat, memberikan kompensasi yang layak kepada masyarakat karena efek negatif yang ditimbulkan dari usahaternak, dan bentuk kegiatan lainnya yang melibatkan lingkungan masyarakat sekitar. Apabila tanggung jawab sosial tidak dijalankan dengan baik, maka akan terbentuk citra yang buruk di masyarakat sehingga tidak akan tercipta rasa aman dan rasa saling memiliki terhadap usaha yang dijalankan.

Berdasarkan kondisi yang telah dipaparkan di atas, maka beberapa permasalahan yang akan diteliti adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh risiko terhadap pendapatan usaha peternakan X ?

2. Bagaimana alternatif manajemen risiko yang diterapkan untuk mengatasi risiko yang dihadapi oleh usaha peternakan X?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Menganalisis pengaruh risiko terhadap pendapatan usaha peternakan X.

2. Menganalisis alternatif manajemen risiko yang diterapkan untuk mengatasi risiko yang dihadapi oleh usaha peternakan X.

(27)

1.4. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan mempunyai beberapa kegunaan, antara lain : 1. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi usaha peternakan X dalam

mengambil suatu keputusan bisnis, sehingga usaha peternakan X dapat mengambil keputusan bisnis yang strategis dan tepat sasaran.

2. Sebagai bahan informasi dan rujukan untuk penelitian selanjutnya. Harapannya adalah penelitian selanjutnya dapat lebih baik dan bisa menganalisis lebih dalam lagi berkaitan dengan penulisan ilmiah tentang usahaternak khususnya tentang risiko dalam usahaternak ayam broiler.

3. Sebagai sarana bagi penulis untuk melatih kemampuan menulis dan menganalisis terhadap suatu permasalahan yang kompleks terkait dengan agribisnis, khususnya di bidang usahaternak ayam broiler. Harapannya adalah penulis bisa mengapresiasikan hasil tulisannya dengan mencoba merintis usaha peternakan ayam broiler di masa yang akan datang.

(28)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Usaha Peternakan Ayam Broiler

Usaha peternakan ayam pedaging atau ayam broiler pada awalnya merupakan usaha sampingan dari usaha peternakan ayam petelur. Seiring dengan berjalannya waktu, industri peternakan ayam broiler saat ini telah banyak berdiri. Melalui aktivitas bisnisnya yaitu memproduksi ayam pedaging, yang meliputi budidaya ayam broiler (farming operation) dan industri pengolahan daging ayam, industri peternakan ayam broiler telah memberikan peranan yang nyata terhadap perkembangan sub sektor peternakan di Indonesia.

Usaha peternakan ayam broiler saat ini berkembang sangat pesat, baik dari segi skala usaha maupun dari segi tingkat efisiennya. Banyak para pelaku usaha menekuni usaha peternakan ayam broiler, baik secara sistem mandiri maupun secara sistem plasma. Alasannya adalah selain jumlah permintaan daging ayam yang terus meningkat, perputaran modal yang sangat cepat merupakan daya tarik tersendiri bagi para pelaku usaha untuk menekuni usaha peternakan ayam broiler ini. Alasan lainnya adalah tersedianya faktor-faktor produksi dalam jumlah yang banyak. Khusus untuk usaha peternakan ayam broiler dengan sistem plasma, faktor-faktor produksi seperti DOC, pakan, obat-obatan, vaksinasi, dan vitamin tidak harus dibayar langsung. Faktor-faktor produksi tersebut sudah bisa dipakai untuk diproduksi selama masa produksi yaitu selama 30-40 hari dan baru bisa dibayar setelah ayam broiler dipanen.

Usaha peternakan ayam broiler dapat diusahakan dalam berbagai skala produksi, baik skala besar maupun skala kecil. Saat ini telah banyak para pelaku

(29)

usaha ayam broiler yang menggabungkan beberapa unit usaha menjadi satu kesatuan unit usaha yang terintegrasi (integrated). Misalnya usaha pembibitan ayam bergabung dengan usaha pakan ternak, usaha beternak ayam broiler komersial, dan proses pemotongan ayam. Bahkan banyak diantaranya yang menggabungkan usahanya dengan usaha pengolahan ayam, sehingga ayam potong yang dijual tidak hanya dalam bentuk ayam hidup ataupun dalam bentuk karkas tetapi bisa berupa produk hasil olahan seperti fillet atau nugget. Produk hasil olahan ini diproduksi berdasarkan permintaan konsumen yang terus berkembang.

Usaha peternakan dapat digolongkan menjadi beberapa bagian. Menurut Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 472/Kpts/TN.330/6/96, usaha peternakan terbagi menjadi tiga kategori, yaitu Peternak Rakyat, Pengusaha Kecil Peternakan, dan Pengusaha Peternakan. Peternak Rakyat adalah peternak yang mengusahakan budidaya ayam dengan jumlah populasi maksimal 15.000 ekor per periode. Pengusaha Kecil Peternakan adalah peternak yang membudidayakan ayam dengan jumlah populasi maksimal 65.000 ekor per periode. Pengusaha Peternakan adalah peternak yang membudidayakan ayam dengan jumlah populasi melebihi 65.000 ekor per periode. Pengusaha peternakan ini bahkan memiliki kelebihan yaitu berhak mendapatkan bimbingan dan pengawasan dari pemerintah. Hal tersebut ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 16 Tahun 1977 tentang Usaha Peternakan. Peraturan Pemerintah tersebut menjelaskan bahwa Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang peternakan atau pejabat yang ditunjuk olehnya berkewajiban melakukan bimbingan dan pengawasan atas pelaksanaan perusahaan-perusahaan peternakan.

(30)

Menurut Deshinta (2006), saat ini usaha peternakan ayam broiler dikembangkan secara terintegrasi, yaitu dengan kecenderungan ke arah integrasi vertikal. Ditambahkan lagi oleh pendapatnya bahwa integrasi vertikal merupakan bagian dari struktur industri tipe industrial dimana seluruh bidang pada satu alur produk disatukan dalam satu kelompok usaha yang kemudian dikenal dengan istilah Unit Agribisnis Industrial. Unit Agribisnis Industrial mengintegrasikan antar sub sistem dalam sistem agribisnis peternakan, yaitu sub sistem agribisnis hulu, sub sistem agribisnis usahaternak, sub sistem agribisnis hilir, dan sub sistem agribisnis lembaga penunjang.

Sub sistem agribisnis hulu meliputi seluruh proses produksi sapronak (sarana produksi ternak) seperti DOC, pakan, obat-obatan, mesin, dan peralatan peternakan. Sub sistem agribisnis usahaternak berkaitan dengan proses produksi ternak dengan menggunakan input yang dihasilkan oleh sub sistem agribisnis hulu untuk menghasilkan output yang siap diolah dan dipasarkan. Sub sistem agribisnis hilir meliputi kegiatan pengolahan produk yang dihasilkan oleh sub sistem usahaternak menjadi produk olahan dan produk akhir. Aktivitas perdagangan dan distribusi merupakan bagian dari sub sistem ini. Sedangkan sub sistem lembaga penunjang adalah sub sistem yang ikut menunjang keberhasilan ketiga sub sistem diatas. Sub sistem lembaga penunjang ini meliputi lembaga keuangan baik lembaga keuangan bank atau non bank, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga pendidikan dan pelatihan, transportasi, komunikasi, dan kebijakan-kebijakan pemerintah.

(31)

2.2. Faktor – Faktor Produksi Usaha Peternakan Ayam Broiler

Menurut Murtidjo (1990) dalam Gustriyeni (2007), faktor-faktor produksi yang digunakan dalam produksi ayam broiler terbagi menjadi dua, yaitu faktor produksi tetap dan faktor produksi variabel. Faktor produksi tetap terdiri dari lahan, kandang, dan peralatan. Adapun faktor produksi variabel terdiri dari DOC, pakan, obat-obatan, vaksin, vitamin, sekam, air, listrik, bahan bakar untuk pemanas, dan tenaga kerja.

2.2.1. Lahan

Lokasi lahan yang dipilih untuk usaha peternakan ayam broiler harus jauh dari pemukiman penduduk. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya konflik dengan lingkungan masyarakat sekitar akibat polusi udara atau polusi debu yang ditimbulkan. Tujuan lainnya adalah agar ayam terhindar dari kontaminasi penyakit yang dibawa oleh manusia atau binatang lainnya seperti ayam kampung, itik, kambing, sapi, kerbau, dan sebagainya.

Selain lokasi lahan harus jauh dari pemukiman penduduk, lokasi lahan yang dipilih harus memiliki sumber air yang cukup. Kebutuhan air akan sangat terasa terutama pada musim kemarau. Air adalah kebutuhan penting bagi ayam karena kandungan air dalam tubuh ayam bisa mencapai 70 persen (Fadilah et al., 2007).

Lokasi lahan yang dipilih juga harus memiliki akses yang baik terhadap infrastruktur seperti jalan, jaringan listrik, dan jaringan telepon serta dekat dengan tempat pemasaran. Usaha peternakan ayam broiler banyak berhubungan dengan aktivitas transportasi, seperti pengiriman DOC, pakan, dan pengangkutan pada

(32)

saat pemanenan ayam. Jaringan listrik berfungsi untuk penerangan lampu, pompa air, dan peralatan kandang lainnya. Sedangkan jaringan telepon berfungsi untuk mempermudah sarana komunikasi. Lokasi lahan harus dekat dengan tempat pemasaran karena akan terhindar dari risiko kematian yang tinggi, biaya transportasi yang dikeluarkan rendah, serta kondisi ayam yang lebih segar bila datang lebih awal.

2.2.2. Kandang dan Peralatan Kandang

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pendirian kandang diantaranya adalah arah kandang, ukuran kandang, bentuk dan konstruksi kandang, dan ventilasi kandang. Kandang yang baik adalah kandang yang arahnya menghadap timur atau barat. Tujuannya adalah untuk mencegah masuknya sinar matahari dalam jumlah yang banyak dan waktu yang lama. Ukuran kandang disesuaikan dengan jumlah populasi ayam yang akan diproduksi. Luas kandang ayam broiler disajikan dalam Tabel 6.

Tabel 6. Luas Kandang Ayam Broiler No Umur Ayam

(Minggu)

Luas per Ekor (Cm2)

Luas Tempat Pakan per Ekor (Cm2)

Luas Tempat Minum per Ekor (Cm2)

1 0 – 4 279 2,5 0,5

2 4 – 8 697 2,5 0,5

Sumber : Fadilah et al., 2007

Bentuk dan konstruksi kandang didasarkan pada kegunaan dan rencana usaha yang akan dijalankan. Menurut Fadilah et al. (2007), bentuk kandang dapat dibagi berdasarkan lantainya. Bentuk kandang berdasarkan lantainya yaitu tipe lantai (floor types) dan tipe sangkar (cage types).

(33)

Kandang yang baik adalah kandang yang memiliki ventilasi udara yang baik. Kandang ayam harus bebas dari segala penghalang sehingga udara dapat lebih mudah masuk ke kandang. Salah satu kendala beternak ayam broiler di daerah beriklim tropis adalah tingginya temperatur udara. Temperatur di daerah tropis adalah 22-39o Celcius. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap produktivitas ayam broiler. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tingginya temperatur udara adalah memasang kipas angin, membuat hujan buatan, menanam pohon di sekitar kandang, menanam rumput atau tanaman pendek di sekitar kandang, dan sebagainya.

Peralatan kandang yang digunakan dalam usahaternak ayam broiler adalah tempat pakan, tempat minum, peralatan pemanas, dan peralatan lainnya seperti drum air, ember, garpu pembalik sekam, dan gerobak pengangkut pakan. Tempat pakan yang sering digunakan adalah berbentuk tabung dengan kapasitas 5-7 kg. Tempat minum ayam bisa bertipe galon manual atau galon otomatis. Tempat pakan dan minum tersebut harus selalu dijaga kebersihannya serta tata letak dan ketinggiannya harus benar. Peralatan pemanas selama periode pemanasan (umur 1-14 hari) terdiri dari pemanas (brooder) dan lingkaran pelindung. Jenis pemanas sangat beragam tergantung dari sumber energi yang digunakan (Tabel 7).

Tabel 7. Jenis Alat Pemanas Berdasarkan Sumber Energinya

No Sumber Energi Alat Pemanas Kapasitas Jenis Pemanas (Ekor)

1 Minyak Tanah Kompor 250-700

2 Gas LPG Gasolec dan Regulator 1000-1500

3 Batu Bara Kompor 750-1200

4 Listrik Lampu 40-100 Watt 100-250

5 Sekam Kompor 100-500

(34)

2.2.3. Day Old Chick (DOC)

Day Old Chick (DOC) adalah komoditas unggulan perunggasan hasil persilangan dari jenis-jenis ayam berproduktifitas tinggi yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Salah satu ciri khas yang dimiliki komoditas ini adalah memiliki pertumbuhan yang sangat cepat. Day Old Chick merupakan faktor produksi utama dalam usahaternak ayam broiler. Beberapa ciri DOC yang berkualitas baik diantaranya adalah bebas dari penyakit, bobot DOC tidak kurang dari 37 gram (tergantung dari strain ayamnya), DOC terlihat aktif, berbulu cerah, kakinya besar dan basah, dan tampak segar, tidak ada cacat fisik, dan tidak ada lekatan tinja atau kotoran di duburnya. Day Old Chick yang baik akan menghasilkan ayam broiler yang baik, dimana daging ayam broiler memiliki ciri khas rasa dagingnya yang enak dan empuk serta memiliki kandungan gizi protein hewani yang banyak (Tabel 8). Day Old Chick yang berkualitas juga dapat dilihat dari jumlah mortalitas yang tidak melebihi jumlah mortalitas standar yaitu sebesar 4-5 % dari total populasi ayam yang diproduksi per periodenya (Fadilah et al., 2007).

Tabel 8. Kandungan Gizi Daging Ayam Broiler per 100 Gram

No Kandungan Gizi Jumlah Satuan

1 Kalori 404 Kkal 2 Protein 18,2 Gram 3 Lemak 25 Gram 4 Kolesterol 60 Mg 5 Vitamin A 243 Mcg 6 Vitamin B1 0,8 Gram 7 Vitamin B6 0,16 Gram 8 Asam Linoleat 6,2 Mg 9 Kalsium 14 Gram 10 Posfor 200 Mg

(35)

2.2.4. Pakan

Seperti halnya DOC, pakan merupakan faktor produksi yang penting dalam usahaternak ayam broiler. Menurut Fadilah et al. (2007), jenis pakan ayam broiler terbagi menjadi tiga, yaitu starter, grower, dan finisher. Pakan starter diberikan pada ayam berumur 1-14 hari, pakan grower diberikan pada ayam berumur 15-39 hari, dan pakan finisher diberikan pada ayam berumur 40 hari sampai panen. Pakan yang diberikan harus mengandung nutrisi seperti energi, protein, lemak, vitamin, mineral, dan suplemen nutrisi lainnya. Adapun kebutuhan nutrisi berdasarkan kandungan Energi Metabolisme (porsi energi yang tidak hilang melalui feses, urine, dan gas) dan protein disajikan dalam Tabel 9.

Tabel 9. Kebutuhan Zat Nutrisi Berdasarkan Energi Metabolisme dan Protein No Jenis Pakan Umur Ayam

(Hari) Energi Metabolisme (Kkal/Kg Pakan) Protein (%) 1 Starter 1 – 14 3.080 24 2 Grower 15 – 39 3.190 21 3 Finisher 40 – panen 3.300 18,5

Sumber : Fadilah et al., 2007

Indikator penggunaan pakan yang efektif dapat diukur dengan nilai Feed Conversion Ration (FCR). Feed Conversion Ration adalah rasio perbandingan antara jumlah pakan yang digunakan dengan jumlah bobot ayam yang dihasilkan. Penggunaan pakan akan efektif jika nilai FCR yang dihasilkan lebih kecil dari nilai FCR standar. Nilai standar FCR bervariasi tergantung dari jumlah populasi ayam yang dipelihara yaitu sekitar 1,5-1,6 (Fadilah et al., 2007).

(36)

2.2.5. Obat-Obatan, Vaksin, dan Vitamin

Obat-obatan, vaksin, dan vitamin merupakan faktor produksi dalam usahaternak ayam broiler yang cukup penting. Program pengobatan dilakukan pada ayam yang telah terdeteksi terkena penyakit. Beberapa contoh antibiotik yang dapat dipakai untuk mengatasi penyakit pada ayam broiler diantaranya adalah Salynomycin, Sulfonamida, Tetracycline, Nitrofuran, Quinolon, Aminocilycoside, Betalactam, Macrolide, dan Cloramphenicol. Pemberian obat secara umum dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu melalui air minum, melalui pakan, dan melalui suntikan.

Program vaksinasi merupakan cara yang digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit. Vaksinasi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam terhadap berbagai penyakit, terutama penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri. Cara melakukan vaksinasi diantaranya adalah melalui tetes mata, tetes hidung, mulut, suntik daging, suntik bawah kulit, tusuk jarum, melalui air minum, pakan, dan penyemprotan. Vaksin pada ayam broiler terdiri dari Vaksin Tetelo 1 (ND Live), Vaksin Gumboro (IBD Live), dan Vaksin Tetelo 2 (ND Live). Program vaksinasi ayam broiler disajikan dalam Tabel 10.

Tabel 10. Program Vaksinasi Ayam Broiler

No Umur (Hari) Jenis Vaksin Dosis Aplikasi

1 4 ND Killed dan ND Live 0,5 Ds (Normal) Tetes Mata

2 9 – 12 IBD Live Normal Air Minum

3 18 – 23 IBD Live Normal Air Minum

4 21 ND Live Normal Air Minum

5 32 ND Live Normal Air Minum

(37)

2.2.6. Tenaga Kerja

Tenaga kerja sangat diperlukan untuk kegiatan operasional kandang, seperti pemberian pakan, pemberian minum, pelaksanaan vaksinasi, pengaturan pemanas, pembersihan kandang, dan sebagainya. Tenaga kerja yang digunakan dalam usahaternak ayam broiler adalah tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan pengalaman di dunia peternakan. Jumlah tenaga kerja disesuaikan dengan jumlah populasi ayam broiler yang dipelihara. Umumnya jumlah populasi ayam sebanyak 2000-3000 ekor mampu dipelihara oleh satu orang tenaga kerja, jika pengelolaan usahaternak secara manual atau tanpa alat-alat otomatis. Akan tetapi jika pengelolaannya menggunakan alat-alat otomatis seperti tempat minum otomatis, maka satu orang tenaga kerja mampu memelihara sebanyak 6000-7000 ekor ayam broiler. Tenaga kerja dalam usahaternak ayam broiler sebagian besar dilakukan dengan sistem kontrak per periode. Biasanya tenaga kerja dibayar berdasarkan jumlah ayam yang dipelihara.

2.3. Risiko dan Ketidakpastian dalam Agribisnis

Risiko adalah kemungkinan kejadian yang menimbulkan kerugian. Setiap usaha pasti mengandung risiko, termasuk dalam agribisnis. Risiko dalam agribisnis diantaranya adalah risiko dalam hal produk dimana produk agribisnis tersebut gagal panen, rendahnya kualitas produk, dan produk tersebut tidak dapat dijual, risiko karena kelangkaan bahan baku, risiko dalam hal teknologi seperti rusaknya mesin dan alat-alat pertanian serta terjadinya pencurian terhadap mesin dan alat-alat pertanian. Selain itu, risiko yang mungkin terjadi dalam dunia agribisnis adalah terjadinya risiko kredit macet.

(38)

Ketidakpastian adalah suatu situasi dimana setiap orang tidak dapat mengetahui apa yang akan terjadi. Ketidakpastian menggambarkan sebuah kejadian dimana outcome dari pilihan keputusan tidak dapat diketahui secara pasti. Suatu kejadian yang tidak pasti biasanya memiliki lebih dari dua kemungkinan outcome yang dapat diperoleh. Setiap pengambilan keputusan pada situasi yang tidak pasti bersifat unik bagi setiap individu, karena adanya persepsi yang berbeda dalam memandang suatu kejadian. Pasti dan tidak pastinya suatu kejadian selalu dikaitkan dengan tingkat akurasi dari future expectation mengenai outcome yang diperoleh pada setiap kejadian.

Ketidakpastian dalam suatu usaha sangat mungkin terjadi, tidak terkecuali dengan dunia agribisnis. Ketidakpastian dalam agribisnis diantaranya adalah ketidakpastian produksi, ketidakpastian harga, ketidakpastian teknologi, dan ketidakpastian kebijakan. Ketidakpastian produksi dalam agribisnis meliputi tiga aspek, yaitu aspek kuantitas (quantity), kualitas (quality), dan keberlangsungan (continuity). Ketidakpastian dalam tiga aspek tersebut disebabkan oleh semakin tidak menentunya cuaca, iklim dan musim, waktu produksi, dan adanya wabah penyakit. Tidak menentunya cuaca, iklim dan musim salah satunya disebabkan karena adanya pemanasan global. Pemanasan global akan mengancam industri peternakan, karena akan menurunkan produktivitas ternak. Dalam jangka panjang ketika suhu atmosfer bumi tinggi, maka kondisi fisik ternak akan terganggu karena sistem pertahanan tubuhnya akan menurun.

Ketidakpastian harga disebabkan oleh semakin berfluktuasinya permintaan dan adanya ketidakpastian dalam produksi. Harga-harga input dan output dalam suatu usaha agribisnis termasuk usahaternak ayam broiler seringkali tidak stabil.

(39)

Tidak stabilnya harga karena tingkat fluktuasinya yang tinggi sangat merugikan para pelaku usaha. Sedangkan ketidakpastian teknologi terjadi karena perkembangan teknologi yang cepat sehingga harus dapat diadaptasi dengan cepat dan tepat. Jika lambat dalam beradaptasi terhadap teknologi, maka akan menghambat terhadap proses produksi yang dijalankan.

Ketidakpastian terakhir dalam agribisnis adalah ketidakpastian dalam kebijakan. Kebijakan pemerintah yang sering berubah-ubah secara tidak langsung dapat berpengaruh terhadap usaha yang dijalankan. Misalnya dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga BBM. Kondisi tersebut sangat merugikan para pelaku usaha, tidak terkecuali para peternak ayam broiler dimana sebagian dari aktivitas bisnisnya berhubungan dengan kegiatan transportasi seperti pengiriman DOC, pakan, dan pengangkutan pada saat pemanenan ayam.

2.4. Penelitian Terdahulu

Penelitian tentang risiko telah banyak dilakukan sebelumnya. Namun penelitian tentang risiko terhadap usaha peternakan ayam broiler masih sangat terbatas, sehingga hanya sebagian penelitian terdahulu yang dapat dijadikan bahan acuan dalam penulisan penelitian ini. Beberapa penelitian terdahulu yang dapat dijadikan bahan acuan dalam penulisan penelitian ini disajikan dalam Tabel 11.

(40)

Tabel 11. Penelitian Terdahulu tentang Ayam Broiler dan Risiko No Judul Penelitian Penulis Metode

Analisis Tujuan 1 Manajemen Risiko Usaha Peternakan Broiler (Studi Kasus di Sunan Kudus Farm, Bogor) Siti Robi’ah (2006) Analisis Risiko dan Analisis Keputusan Berisiko Mengetahui manajemen risiko yang diterapkan perusahaan,

menganalisis tingkat risiko, menganalisis expected value yang diberikan perusahaan 2 Analisis Pendapatan

Tunai, Risiko dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Usaha Peternakan Broiler di Perusahaan X, Bekasi Desi Merina (2004) Analisis Pendapatan Tunai, Analisis Risiko dan Analisis Regresi Menghitung pendapatan tunai usaha, menghitung besar risiko usaha, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi risiko

3 Analisis Risiko Usaha Peternakan Sapi Perah (Studi Kasus di Kelurahan Kebon Pedes, Bogor) Puspitasri Dewi Anggraini (2003) Analisis Regresi dan Analisis Risiko Mengetahui karakteristik usahaternak sapi perah, mengetahui faktor-faktor penyebab risiko, menghitung besarnya risiko 4 Analisis Finansial dan Risiko Usahaternak Sapi Perah di PT X, Bogor Selatan Ari Abdul Rauf (2005) Analisis Evaluasi Finansial, Analisis Risiko, Analisis Regresi Mengetahui kelayakan usahaternak sapi perah, mengetahui tingkat risiko yang dihadapi, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi risiko 5 Kajian Ekonomi Perusahaan Peternakan Ayam Ras Pedaging dengan Analisis Biaya Produksi dan Pendapatan (Kasus CV Pekerja Keras, Bogor) Herawati (2001) Analisis Biaya Produksi dan Pendapatan Menganalisis tingkat keuntungan yang

diperoleh setiap periode

Penelitian yang dilakukan oleh Robi’ah (2006) menjelaskan bahwa manajemen risiko yang dilakukan oleh Sunan Kudus Farm (SKF) terbagi menjadi dua bagian, yaitu manajemen risiko kegiatan produksi dan manajemen risiko

(41)

pemasaran. Manajemen risiko kegiatan produksi dilaksanakan dalam proses perencanaan produksi, pengorganisasian, pengarahan dalam pengelolaan, dan koordinasi dalam pengelolaan unit produksi. Menurut Robi’ah (2006), manajemen risiko kegiatan produksi belum dilaksanakan secara baik. Alasannya adalah belum terlaksananya fungsi-fungsi manajemen produksi dengan baik. Hal ini dikarenakan nilai FCR SKF yang dihasilkan sebesar 1,83 berada diatas rata-rata yaitu sebesar 1,5. Selain itu, tingkat mortalitas di SKF sangat tinggi setiap periodenya yaitu sebesar 9,03 % yang berarti berada diatas rata-rata sebesar 5 %.

Manajemen risiko pemasaran yang dilakukan oleh SKF sudah termasuk baik. Hal ini dikarenakan SKF telah memiliki seorang manajer untuk mengelola pemasaran, telah mempunyai jalur pemasaran yang tetap, dan mempunyai kemudahan untuk mendapatkan informasi pasar. Hal lain yang dilakukan oleh SKF diantaranya adalah memilih pembeli yang akan memberikan kontribusi yang menguntungkan bagi SKF seperti mempunyai track record pembayaran yang baik. Untuk menjamin perputaran uang, SKF menggunakan sistem pembayaran dengan jangka waktu 3-7 hari setelah pengambilan ayam broiler bagi pembeli langganan dan layanan pembayaran tunai bagi pembeli baru.

Hasil analisis risiko menunjukkan bahwa return yang diperoleh SKF sebesar Rp 36.747.387,92. Nilai tersebut merupakan rata-rata pendapatan bersih SKF selama 12 periode. Nilai standard deviation SKF sebesar Rp 47.629.868,52, yang artinya nilai risiko yang harus dihadapi sebesar Rp 47.629.868,52 (cateris paribus). Nilai koefisien variasi 1,3 yang berarti bahwa risiko atau fluktuasi pendapatan bersih yang ditanggung oleh peternak sebesar 130 persen dari pendapatan bersih rata-rata (return) yang diperoleh. Adapun nilai pendapatan

(42)

bersih terendah yang diterima SKF adalah sebesar Rp – 58.512.349,12 yang artinya bahwa SKF tidak akan merugi lebih besar dari nilai tersebut.

Hasil analisis keputusan berisiko menunjukkan bahwa pada periode Idul Fitri expected value manambah populasi (Rp 128.969.580) lebih besar daripada expected value tidak menambah populasi (Rp 107.474.650). Sedangkan pada periode tahun ajaran baru, expected value mengurangi populasi (Rp 14.368.120) lebih kecil daripada expected value tidak mengurangi populasi (Rp 17.960.150). Berdasarkan hasil ini, maka SKF lebih baik menambah populasi ayam broiler pada periode Idul Fitri berikutnya dan tidak mengurangi populasi ayam broiler pada periode tahun ajaran baru berikutnya.

Hasil penelitian Merina (2004) menjelaskan bahwa jumlah pendapatan tunai total yang diterima perusahaan selama periode produksi tahun 2003 adalah sebesar Rp 596.964.491. Sedangkan nilai R/C Ratio sebesar 1,12 yang artinya bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 1,12. Berdasarkan hasil analisis risiko, nilai return yang diperoleh sebesar Rp 49.747.040,92, dimana nilai tersebut merupakan rata-rata

pendapatan bersih selama 12 periode. Nilai simpangan baku sebesar Rp 45.549.095,56, artinya nilai risiko yang harus dihadapi sebesar Rp 45.549.095,56 (cateris paribus). Nilai koefisien variasi sebesar 0,93 yang

berarti bahwa risiko yang ditanggung oleh peternak sebesar 93 persen dari pendapatan bersih rata-rata (return) yang diperoleh. Nilai pendapatan bersih terendah sebesar Rp – 41.351.150,21 yang artinya bahwa usaha ini tidak akan merugi lebih besar dari nilai tersebut. Hasil analisis regresi menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi risiko pada usaha peternakan X adalah fluktuasi

(43)

harga DOC, fluktuasi harga pakan, fluktuasi biaya obat, fluktuasi jumlah bonus tenaga kerja, fluktuasi harga broiler, waktu penjualan, fluktuasi jumlah mortalitas, dan fluktuasi hasil produksi.

Anggraini (2003) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat risiko dalam usaha peternakan sapi perah di Kelurahan Kebon Pedes, Bogor adalah fluktuasi keuntungan di musim hujan, fluktuasi keuntungan di musim kemarau, fluktuasi harga susu, fluktuasi biaya pakan, skala usaha, dan saluran pemasarannya. Adapun hasil analisis risiko yang didapatkan adalah nilai return sebesar Rp 1.623.216,9,- dimana nilai tersebut merupakan rata-rata pendapatan bersih selama 12 periode. Nilai simpangan baku

sebesar Rp 398.441,4,- artinya nilai risiko yang harus dihadapi sebesar Rp 398.441,4 (cateris paribus). Nilai koefisien variasi sebesar 0,2 yang berarti

bahwa risiko atau fluktuasi pendapatan bersih yang ditanggung oleh peternak sebesar 20 persen dari pendapatan bersih rata-rata (return) yang diperoleh. Adapun nilai pendapatan bersih terendah sebesar Rp 826.334, artinya bahwa peternak paling sedikit mendapatkan keuntungan sebesar Rp 826.334.

Hasil penelitian Rauf (2005) menyatakan bahwa usaha peternakan sapi perah PT X adalah layak untuk diusahakan. Berdasarkan hasil analisis evaluasi finansial, nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp 751.892.074, dimana nilai NPV lebih besar dari nol; nilai Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 1,16, dimana nilai BCR lebih besar dari satu; sedangkan nilai Internal Rate of Return (IRR) sebesar 25,94 %, dimana nilai IRR tersebut lebih besar dari tingkat suku bunga yaitu sebesar 18 %. Berdasarkan hasil analisis risiko, nilai return yang diterima sebesar Rp 7.977.305, dimana angka tersebut adalah pendapatan rata-rata selama

(44)

30 bulan. Nilai simpangan baku sebesar Rp 12.767.045, artinya nilai risiko yang harus dihadapi sebesar Rp 12.767.045 (cateris paribus). Nilai koefisien variasi sebesar 1,60 yang berarti bahwa risiko atau fluktuasi pendapatan bersih yang ditanggung oleh peternak sebesar 160 persen dari pendapatan bersih rata-rata (return) yang diperoleh. Nilai pendapatan bersih terendah sebesar Rp – 4.789.740 yang berarti bahwa perusahaan akan menghadapi kerugian sebesar Rp 4.789.740 per bulan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi risiko pada PT X adalah fluktuasi penerimaan susu, fluktuasi penerimaan non susu, fluktuasi biaya pakan, fluktuasi penjualan susu, fluktuasi harga susu, fluktuasi sapi laktasi, dan musim.

Hasil penelitian Herawati (2001) menyatakan bahwa biaya paling besar yang dikeluarkan CV Pekerja Keras dalam produksinya adalah biaya pakan sebesar 62,55 persen dan DOC sebesar 29,23 persen. Sedangkan biaya obat dan vaksin, biaya tenaga kerja, biaya sewa kandang dan biaya lain-lain relatif kecil yaitu sebesar 4,06 persen, 1,34 persen, 1,23 persen dan 0,33 persen. Keuntungan yang diterima CV Pekerja Keras sangat berfluktuatif setiap periodenya. Keuntungan terbesar selama delapan periode yang diteliti terjadi pada periode ke-5 (April-Mei 2000) yaitu sebesar Rp 218.644.674 yang disebabkan harga jual ayam pada saat itu naik sebesar Rp 332,3/kg. Sedangkan keuntungan terendah terjadi pada periode ke-2 (Oktober-November 1999) yaitu sebesar Rp 2.691.351 yang disebabkan terjadinya kebakaran kandang sehingga tingkat mortalitas sangat tinggi. Selama periode penelitian terdapat dua periode yang mengalami kerugian, yaitu periode ke-1 dan periode ke-4. Kerugian terbesar terjadi pada periode ke-4 sebesar Rp 63.432.562 yang disebabkan karena adanya peningkatan total biaya produksi sedangkan harga jual ayam pada saat itu turun sebesar Rp 740,99/kg.

Gambar

Tabel 1. Populasi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2003 – 2007
Tabel 2. Konsumsi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2003 – 2007
Tabel 3. Produksi Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2003 – 2007
Tabel 4. Produksi Ternak Unggas di Kota Bogor Tahun 2006
+7

Referensi

Dokumen terkait

Analisis kelayakan usaha peternakan ayam broiler Berkah Sejahtera Farm merupakan dasar untuk menilai apakah kegiatan investasi yang dilakukan dalam penambahan jumlah

Namun pada penelitian Pinto (2011) menyatakan bahwa risiko yang terjadi pada peternakan ayam broiler milik Bapak Restu di Desa Cijayanti, Kab.Bogor adalah risiko

1) Analisis kelayakan non finansial usaha peternakan ayam broiler peternakan Agus Suhendar dengan sistem kemitraan pola inti plasma bersama CV. Tunas Mekar Farm

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan usaha peternakan ayam broiler pada peternakan rakyat di Desa Karya Bakti Kecamatan Rungan, Kabupaten Gunung

risiko lebih besar dibandingkan dengan usaha peternakan lainnya. Peternak di- hadapkan pada tingginya risiko produksi serta risiko harga. Hal ini menyebabkan terbentuknya

Strategi yang dapat diterapkan untuk pengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal berdasarkan matriks SWOT adalah mengadakan kerjasama dalam hal

Aspek teknis meliputi proses pembangunan bisnis secara teknis dan pengoperasiannya setelah bisnis tersebut selesai dibangun sehingga pada pengembangan usaha

Pemanas yang digunakan usaha peternakan Abdul Djawad Farm adalah semawar dengan bahan bakar minyak tanah. Setiap kandang dilengkapi lima buah pemanas. Satu buah pemanas dapat