• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS MANAJEMEN PERSEDIAAN PRODUK IKAN SEGAR PADA HIPERMARKET (KASUS DI GIANT HYPERMARKET, MEGA BEKASI HYPERMALL, KOTA BEKASI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS MANAJEMEN PERSEDIAAN PRODUK IKAN SEGAR PADA HIPERMARKET (KASUS DI GIANT HYPERMARKET, MEGA BEKASI HYPERMALL, KOTA BEKASI)"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS MANAJEMEN PERSEDIAAN PRODUK IKAN SEGAR PADA HIPERMARKET

(KASUS DI GIANT HYPERMARKET, MEGA BEKASI HYPERMALL, KOTA BEKASI)

A N N I S A

SKRIPSI

PROGRAM STUDI

MANAJEMEN BISNIS DAN EKONOMI PERIKANAN – KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

(2)

ABSTRAK

ANNISA. Analisis Manajemen Persediaan Produk Ikan Segar pada Hipermarket (Kasus di Giant Hypermarket, Mega Bekasi Hypermall, Kota Bekasi). Di bawah bimbingan IIS DIATIN.

Perkembangan ritel modern memberikan lebih banyak pilihan tempat berbelanja bagi konsumen. Selain minimarket dan supermarket, hypermarket merupakan salah satu jenis ritel modern yang digemari karena beberapa keunggulannya. Dari berbagai barang yang diperdagangkan, produk ikan segar merupakan salah satu fresh product yang dapat dibeli di hypermarket. Mutu, kualitas serta kontinuitas ketersediaan produk ikan segar merupakan hal penting dalam manajemen persediaan. Pengendalian persediaan dengan biaya optimal, merupakan langkah penting bagi pihak manajemen hypermarket untuk mencapai efektivitas maupun efisiensi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kuantitas pemesanan produk ikan segar optimal di Giant Hypermarket Bekasi, menentukan tingkat persediaan pengaman optimal di Giant Hypermarket Bekasi, dan menentukan titik pemesanan kembali optimal Giant Hypermarket Bekasi,.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan metode EOQ (Economic Order Quantity), Giant Hypermarket Bekasi disarankan untuk menambah kuantitas dan mengurangi frekuensi pemesanannya terhadap produk ikan segar, atau sesuai dengan hasil perhitungan metode EOQ. Giant Hypermarket Bekasi juga disarankan untuk mengurangi persediaan pengamannya agar biaya penyimpanan yang ditimbulkan dapat minimal, serta menggunakan titik pemesanan kembali sebagai acuan dalam melakukan pemesanan.

Kata Kunci : Manajemen persediaan produk, ikan segar, metode EOQ.

(3)

ANALISIS MANAJEMEN PERSEDIAAN PRODUK IKAN SEGAR PADA HIPERMARKET

(KASUS DI GIANT HYPERMARKET, MEGA BEKASI HYPERMALL, KOTA BEKASI)

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – Institut Pertanian Bogor

Oleh:

A N N I S A C44104059

PROGRAM STUDI

MANAJEMEN BISNIS DAN EKONOMI PERIKANAN – KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

(4)

SKRIPSI

Judul Skripsi : Analisis Manajemen Persediaan Produk Ikan Segar pada Hipermarket (Kasus di Giant Hypermarket, Mega Bekasi Hypermall, Kota Bekasi)

Nama Mahasiswa : Annisa Nomor Pokok : C44104059

Program Studi : Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan-Kelautan

Menyetujui, Komisi Pembimbing

Ir. Iis Diatin, MM.

NIP. 131 878 936

Mengetahui,

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc NIP. 131 578 799

Tanggal Lulus : 19 Juni 2008

(5)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul :

ANALISIS MANAJEMEN PERSEDIAAN PRODUK IKAN SEGAR PADA HIPERMARKET (KASUS DI GIANT HYPERMARKET, MEGA BEKASI HYPERMALL, KOTA BEKASI)

adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan tercantum dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini.

Bogor, Juni 2007

Annisa C44104059

(6)

©Hak cipta milik Annisa, tahun 2008 Hak Cipta dilindungi

Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya

dalam bentuk apapun, baik cetak, fotokopi, microfilm, dan sebagainya

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini yang berjudul “Analisis Manajemen Persediaan Produk Ikan Segar Pada

Hipermarket (Kasus di Giant Hypermarket, Mega Bekasi Hypermall, Kota Bekasi)”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan-Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Penulis sangat menyadari begitu banyak pihak yang telah membantu memberikan bimbingan, bantuan, dukungan dan doa sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Sebagai bentuk rasa syukur yang tak terhingga, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ir. Iis Diatin, MM selaku dosen pembimbing atas bimbingan serta

kesabarannya membimbing penulis menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

2. Kedua orang tua (papa & mama) atas segala kasih sayang yang selalu tercurah kepada penulis, serta kakak dan adik-adik yang penulis banggakan.

Keluarga selalu menjadi sumber inspirasi bagi penulis.

3. Ir. Narni Farmayanti, M.Sc dan Ir. Anna Fathiya, M.Si selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik dan masukan pada skripsi ini.

4. Staf Departemen Seafood Giant Hypermarket Bekasi atas bantuan, kerjasama, serta kenyamanan yang diberikan kepada penulis selama melakukan penelitian.

5. Seluruh staf dan pengajar Departemen Sosial Ekonomi Perikanan,

khususnya untuk Bu Etty Eidman, Pak Gatot dan Bu Narni atas dukungan, kesabaran, dan segala yang diberikan sehingga SEI 41 dapat menyelesaikan pendidikan di Institut Pertanian Bogor dengan baik.

6. Deedee & Reni, sahabat-sahabatku yang sangat berarti di SEI. Dinal, Iqbal

& SEI “Queen” atas motivasi, bantuan, perhatian dan semangat yang kalian berikan. Teman-teman SEI 41 yang memberi begitu banyak kebahagiaan kepada penulis selama berada di “Jangkar” ini. Terima kasih teman-teman.

(8)

7. Oechi, Pie, & Lanjar, terima kasih atas dukungan dan semangat yang tak henti-henti diberikan. Penulis sangat bersyukur mengenal kalian.

8. Keluarga Pondok Asad, rumah kedua tercinta: Rite & Ingrid, kebersamaan dengan kalian yang tak ternilai harganya. Teman-teman 41 (Ayat, Tyas, Intan, Icha, Firda, Novan, Adi & Agung), serta keluarga Pondok Asad lainnya, AJKH atas doa, nasehat & bantuan yang selama ini diberikan.

9. Seluruh pihak yang membantu penyusunan skripsi penulis yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan sehingga dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun guna menyempurnakannya. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Bogor, Juni 2008

Annisa

(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 4 Februari 1986 dari pasangan Untung Barnas dan Farida. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara.

Penulis lulus dari SMU Negeri 4 Bekasi pada tahun 2004. Pada tahun yang sama penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Seleksi

Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada Program Studi Manajemen Bisnis Ekonomi Perikanan-Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota HIMASEPA (Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Perikanan IPB) dan HPMB (Himpunan Pemersatu Mahasiswa Bogor) sebagai tim buletin organisasi. Penulis turut aktif dalam berbagai kegiatan kepanitiaan di lingkungan Institut Pertanian Bogor seperti ROTASI 42 (Rangkaian Orientasi Mahasiswa IPB Angkatan 42), Masa Orientasi Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, PORIKAN (Pekan Olahraga & Seni Mahasiswa Perikanan dan Ilmu Kelautan), serta kegiatan kepanitiaan lainnya. Penulis juga mendapat kesempatan memperoleh BEASISWA dari yayasan SUPERSEMAR selama tiga periode berturut-turut yaitu periode 2005/2006, 2006/2007, dan 2007/2008.

Untuk menyelesaikan studi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, penulis melaksanakan penelitian yang berjudul “Analisis Menejemen Persediaan Produk Ikan Segar Pada Hipermarket (Kasus di Giant Hypermarket, Mega Bekasi Hypermall, Kota Bekasi)” dan lulus ujian skripsi pada tanggal 19 Juni 2008.

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan dan Kegunaan ... 4

II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Pengertian Hypermarket ... 5

2.2 Produk Ikan Segar ... 6

2.3 Pengertian Persediaan ... 6

2.3.1 Tipe dan Jenis Persediaan ... 7

2.3.2 Fungsi dan Kegunaan Persediaan ... 8

2.3.3 Biaya-biaya Persediaan ... 9

2.4 Metode EOQ (Economic Order Quantity) ... 10

2.5 Hasil Penelitian Sebelumnya ... 11

III KERANGKA PENDEKATAN STUDI ... 13

IV METODOLOGI ... 15

4.1 Metode Penelitian ... 15

4.2 Jenis dan Sumber Data ... 15

4.3 Metode Analisis Data ... 16

4.3.1 Analisis Kuantitas Pemesanan Optimal ... 16

4.3.2 Analisis Tingkat Persediaan Pengaman Optimal ... 17

4.3.3 Analisis Titik Pemesanan Kembali Optimal ... 18

4.4 Batasan dan Pengukuran ... 19

4.5 Tempat dan Waktu Penelitian ... 19

V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 20

5.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 20

5.1.1 PT Hero Supermarket ... 20

5.1.2 Giant Hypermarket ... 20

5.2 Pengelolaan Persediaan Produk Ikan Segar Giant Hypermarket Bekasi ... 24

5.2.1 Pemesanan Produk Ikan Segar ... 25

5.2.2 Pemajangan (display) Produk Ikan Segar ... 28

5.2.3 Penyimpanan Produk Ikan Segar ... 29

5.3 Tingkat Penjualan Produk Ikan Segar ... 30

5.4 Komponen Biaya Persediaan Produk Ikan Segar ... 34

5.4.1 Biaya Pemesanan Produk Ikan Segar... 34

5.5.2 Biaya Penyimpanan Produk Ikan Segar ... 35

(11)

5.5 Pengelolaan Persediaan Produk Ikan Segar Optimal ... 35

5.5.1 Kuantitas Pemesanan Optimal ... 37

5.5.2 Persediaan Pengaman Optimal ... 41

5.5.3 Titik Pemesanan Kembali Optimal ... 44

VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 47

6.1 Kesimpulan ... 47

6.2 Saran ... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 49

LAMPIRAN ... 50

DAFTAR TABEL

(12)

Halaman 1. Jumlah gerai PT. Hero Supermarket hingga Desember 2006 ... 1 2. Top Penjualan Ikan Giant Hypermarket Bekasi, Desember 2006 ... 26 3. Tingkat Penjualan Ikan Segar Giant Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 30 4. Biaya Pemesanan Ikan Segar per pesanan Giant Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 34 5. Biaya Penyimpanan Ikan Segar Per Kg Giant Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 35 6. Pengelolaan Persediaan Produk Ikan Segar yang Dilakukan Giant Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 36 7. Perbandingan Kuantitas Pemesanan yang Dilakukan Giant Hypermarket Bekasi dengan Metode EOQ ... 37 8. Perbandingan Frekuensi Pemesanan yang Dilakukan Giant Hypermarket Bekasi dengan Metode EOQ ... 39 9. Pengelolaan Persediaan Produk Ikan Segar Berdasarkan Metode EOQ Giant Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 40 10. Efisiensi Biaya Pengelolaan Persediaan Produk Ikan Segar Giant

Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 41 11. Kuantitas dan Biaya Penyimpanan Persediaan Pengaman Produk Ikan Segar Berdasarkan Sistem yang Dilakukan Giant Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 42 12. Kuantitas dan Biaya Penyimpanan Persediaan Pengaman Produk Ikan Segar Giant Hypermarket Bekasi Berdasarkan Metode EOQ Tahun 2007 ... 42 13. Efisiensi Biaya Penyimpanan Persediaan Pengaman Produk Ikan Segar Giant Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 43 14. Titik Pemesanan Kembali Produk Ikan Segar Giant Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 44

DAFTAR GAMBAR

(13)

Halaman 1. Hubungan Antara Dua Jenis Biaya Persediaan ... 10  2. Skema Kerangka Pendekatan Studi ... 14  3. Alur pemesanan Giant Hypermarket Bekasi ... 27  4. Grafik Tingkat Penjualan Setiap Jenis Ikan Segar Giant Hypermarket      

    Bekasi Tahun 2007 ... 32   

5. Grafik Tingkat Penjualan Ikan Segar Giant Hypermarket Bekasi      

    Tahun 2007 ... 33 

DAFTAR LAMPIRAN

(14)

Halaman

1. Struktur Organisasi Giant Hypermarket Bekasi... 51

2. Lokasi Penelitian ... 52

3. Fish Corner ... 53

4. Beberapa Jenis Ikan Segar yang Dijual di Giant Hypermarket Bekasi... 55

5. Perhitungan Biaya Pemesanan ... 56

6. Perhitungan Biaya Penyimpanan ... 62

7. Estimasi Mingguan Seafood Giant Hypermarket Bekasi Periode September 2007 ... 70

8. Perhitungan Kuantitas dan Frekuensi Pemesanan Produk Ikan Segar Berdasarkan Metode EOQ Giant Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 71

9. Perhitungan Rata-rata dan Standar Deviasi Penjualan Produk Ikan Segar Giant Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 72

10. Perhitungan Rata-rata dan Standar Deviasi Waktu Tunggu Pemesanan Produk Ikan Segar Giant Hypermarket Bekasi Periode 7 - 27 September 2007 ... 75

11. Standar Deviasi Waktu Tunggu Pemesanan dan Tingkat Penjualan Produk Ikan Segar Giant Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 76

12. Penentuan Tingkat Pelayanan (Service Level) Giant Hypermarket Bekasi Tahun 2007 ... 77

13. Policy Factor terhadap Frequency level Of Service ... 78

I. PENDAHULUAN

(15)

1.1 Latar Belakang

Kehidupan masyarakat hampir tidak terlepas dari pasar sebagai sarana jual beli berbagai kebutuhan. Sesuai dengan perkembangan yang ada, masyarakat mengenal pasar tradisional maupun pasar modern. Ritel modern pun terus berkembang di seluruh Indonesia, terbukti dengan kemudahan bagi masyarakat dalam menemukan minimarket, supermarket, hingga hypermarket di lingkungan perumahan mereka. Berdasarkan sensus pertumbuhan berbagai format ritel yang dilakukan AC Nielsen pada tahun 2006, jumlah gerai supermarket pada 2006 tumbuh 12% dari 1.141 toko menjadi 1.277 gerai. Untuk minimarket, pada 2006 pertumbuhan mencapai 15%, yang semula ada 6.465 toko menjadi 7.476, serta jumlah hypermarket tumbuh 17%, pada tahun 2005 sebanyak 83 toko, pada tahun 2006 sudah menjadi 97 gerai. Perkembangan ritel modern, salah satunya terlihat pada sejumlah gerai-gerai yang dimiliki oleh PT Hero Supermarket yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia yang jumlahnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah Gerai PT Hero Supermarket Hingga Desember 2006

Jenis Jumlah(unit)

Hero Supermarket 97

Star Mart Convenience Store 64

Guardian Toko Kecantikan dan Apotik 119

Giant Hypermarket 17

Mitra Toko Diskon 9

Total 306 Sumber: PT Hero Supermarket 2006.

Perkembangan ritel modern memberikan lebih banyak pilihan tempat belanja bagi konsumen. Selain minimarket dan supermarket, hypermarket merupakan salah satu ritel modern yang digemari karena beberapa

keunggulannya. Keunggulan utama yang membedakan hypermarket dengan jenis ritel modern lainnya adalah luas tempat yang sangat besar dan keragaman barang yang diperdagangkan, mulai dari barang kebutuhan sehari-hari hingga barang elektronik dan barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Bahkan, hypermarket seringkali memberikan harga yang lebih murah daripada supermarket, toko, maupun pasar tradisional. Selain faktor lokasi yang strategis, fasilitas dagang yang

(16)

ditawarkan hypermarket relatif teratur, bersih dan menarik melalui sentuhan manajemen modern dalam pengelolaannya.

Dari berbagai jenis barang yang ditawarkan, ikan segar merupakan salah satu fresh product yang dapat ditemui dan dibeli di hypermarket sebagai barang konsumsi sehari-hari selain sayuran dan buah-buahan. Ini merupakan alternatif bagi konsumen, khususnya konsumen dengan standar hidup tinggi, dalam membeli ikan segar selain di pasar tradisional yang dirasa kurang memberikan kenyamanan.

Kecenderungan masyarakat membeli produk segar di pasar tradisional yang makin menurun dan beralih ke pasar modern dipicu isu keamanan makanan dan faktor psikologis. Konsumen merasa yakin membeli produk di pasar ritel modern karena menilai pengelolanya melakukan seleksi serta pengecekan secara ketat pada setiap produk yang dipasok. Konsumen juga merasa bisa mengajukan tuntutan kepada peritel modern apabila produk segar yang dibeli ternyata tidak baik kondisinya. Hal ini memberi jaminan bahwa produk-produk yang dipajang di pasar ritel modern dalam hal ini hypermarket hanyalah yang layak dibeli oleh konsumen (AC Nielsen 2007).

Karena keyakinan konsumen terhadap mutu tersebut, maka pengadaan persediaan produk, khususnya ikan segar di hypermarket harus dapat menjamin kepuasan mereka. Ikan adalah produk yang tergantung musim dan mudah rusak sehingga diperlukan suatu sistem pengelolaan persediaan yang baik untuk menjamin kualitasnya.

Selain kualitas, kontinuitas ketersediaan produk ikan segar juga

merupakan bagian penting dalam manajemen persediaan yang merupakan faktor pemikat minat konsumen untuk tetap berbelanja pada suatu tempat karena apabila jenis ikan yang hendak dibeli tidak tersedia di tempat tersebut, maka dengan mudah konsumen akan berpindah ke tempat lain yang menurut mereka lebih lengkap.

Produk ikan segar adalah produk pelengkap, namun memiliki arti penting dalam kelengkapan suatu hypermarket sebagai ritel modern yang menyediakan segala kebutuhan konsumen. Pengendalian persediaan produk ikan segar dengan biaya yang optimal, merupakan langkah penting bagi pihak manajemen Giant

(17)

Hypermarket Bekasi untuk mencapai efektifitas maupun efisiensi. Hal ini memerlukan metode yang tepat agar tujuan perusahaan tercapai.

1.2 Perumusan Masalah

Penanganan persediaan produk ikan segar oleh manajemen pengelolaan persediaan (divisi Sea Food) di Giant Hypermarket Bekasi, tak lepas dari berbagai permasalahan. Kualitas produk adalah yang utama, mengingat produk ikan segar sangat rentan terhadap kerusakan sehingga perlu penanganan yang tepat.

Permasalahan yang sering dihadapi divisi Sea food dalam hal penanganan persediaan produk ikan segar di Giant Hypermarket Bekasi adalah broken stock yang sering kali berlebihan atau terlalu besar sehingga menimbulkan kerugian.

Selain itu, handling product yang kurang baik dari barang datang sampai tahap pemajangan (display) juga merupakan permasalahan yang semakin memperparah broken stock karena ikan menjadi rusak dan cepat busuk. Kerusakan mekanis pada ikan ini cukup berpengaruh terhadap penampilan dan penerimaan konsumen.

Langkah-langkah yang selama ini dilakukan oleh pihak manajemen Giant Hypermarket Bekasi dalam mengurangi broken stock antara lain melakukan estimasi yang tepat dan sesuai dengan daya jual, sistem penyimpanan ikan harus benar agar tidak cepat rusak, dan penyajian ikan yang benar dalam display (harus selalu diberi es).

Permasalahan lain yang sering dihadapi yaitu permintaan konsumen terhadap produk ikan segar yang seringkali berfluktuasi sehingga kuantitas persediaan produk harus dapat memenuhi fluktuasi tersebut. Akibat dari fluktuasi ini, Giant Hypermarket Bekasi tak jarang mengalami broken stock yang cukup besar karena estimasi tidak tepat. Fluktuasi permintaan konsumen Giant Hypermaket Bekasi terhadap tujuh produk ikan segar dari kurang lebih empat puluh jenis ikan segar yang dijual tercermin pada tingkat penjualan ketujuh jenis ikan segar tersebut sepanjang tahun 2007 yang dapat dilihat pada Gambar 4.

Untuk menjaga kontinuitas persediaan, manajemen Giant Hypermarket Bekasi sangat perlu menentukan kuantitas pemesanan dan waktu yang tepat untuk melakukan pemesanan kembali terhadap produk ikan segar tersebut serta tingkat persediaan pengaman yang harus disediakan. Kuantitas dan pemesanan pada

(18)

waktu yang tepat menjamin ketersediaan produk sehingga mencukupi untuk memenuhi permintaan pasar.

Dari uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan yang dihadapi Giant Hypermarket Bekasi dalam pengadaan produk ikan segar, yaitu:

1. Berapa kuantitas persediaan produk ikan segar yang harus dipenuhi oleh Giant Hypermarket Bekasi untuk memenuhi permintaan konsumen dan mengurangi broken stock.

2. Kapan pemesanan harus dilakukan untuk menjaga kontinuitas persediaan.

3. Berapa tingkat persediaan pengaman yang harus disediakan Giant Hypermarket Bekasi untuk menjaga kelancaran kegiatan pemasaran.

1.3 Tujuan dan Kegunaan

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

1. Menentukan kuantitas persediaan produk ikan segar yang optimal.

2. Menentukan tingkat persediaan pengaman produk ikan segar yang optimal.

3. Menentukan titik pemesanan kembali yang optimal.

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:

1. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan-Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2. Sebagai bahan pengetahuan bagi semua pihak yang membutuhkan.

3. Sebagai bahan pertimbangan bagi pihak manajemen Giant Hypermarket Bekasi dalam mengelola persediaan produk ikan segarnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Hypermarket

(19)

Hypermarket adalah bentuk pasar modern yang sangat besar, dalam segi luas tempat dan barang-barang yang diperdagangkan. Selain tempatnya yang luas, hypermarket biasanya juga memiliki lahan parkir yang luas. Dari segi harga, barang-barang di hypermarket seringkali lebih murah dari pada supermarket, toko, atau pasar tradisional. Ini dimungkinkan karena hypermarket memiliki modal yang sangat besar dan membeli barang dari produsen dalam jumlah lebih besar dari pada pesaingnya, tetapi menjualnya dalam bentuk satuan (Anonim 2008).

Di negara maju, sebuah hypermarket biasanya terletak di pinggiran kota agar tidak mematikan toko-toko yang kecil. Di Indonesia, menurut peraturan pemerintah, pasar modern dapat berdiri di semua Ibukota Provinsi dan Ibukota Kabupaten/Kota yang perkembangan kota dan ekonominya dianggap sangat pesat.

Di kota-kota penyangga ibukota Jakarta, yaitu Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, berbagai hypermarket telah membuka gerainya. Beberapa hypermarket di

Indonesia adalah Giant Hypermarket, Carrefour, Hypermart, dan Makro (Anonim 2008).

Perbedaan istilah minimarket, supermarket dan hypermarket adalah di format, ukuran dan fasilitas yang diberikan. Contohnya adalah minimarket berukuran kecil (100m2 s/d 999m2), supermarket berukuran sedang (1.000m2 s/d 4.999m2), hypermarket berukuran besar (5.000m2 ke atas). Perbedaan jam buka toko: hypermarket umumnya buka pukul 9 pagi hingga pukul 10 malam, sama dengan supermarket, sedangkan beberapa minimarket buka dari pukul 6 pagi hingga malam dan beberapa lainnya buka hingga 24 jam. Jenis barang yang diperdagangkan di minimarket lebih sedikit dan terbatas pada produk-produk yang banyak dibutuhkan dan dicari oleh konsumen, jenis barang yang diperdagangkan di supermarket lebih banyak dan lebih beragam daripada minimarket, sedangkan jenis barang yang diperdagangkan di hypermarket jauh lebih banyak, lebih beragam dan lebih lengkap. Produk pada minimarket didisplay pada rak-rak yang terbatas sehingga dalam satu rak bisa terdapat beberapa jenis produk yang berbeda. Supermarket dengan ukuran toko yang lebih luas, produk sejenis yang diperdagangkannya disusun lebih spesifik dalam satu rak, sedangkan hypermarket dengan produk yang lebih banyak dan lebih beragam, produk-produk yang

(20)

diperdagangkannya disusun dalam satu blok atau area sesuai dengan jenis produknya masing-masing (Anonim 2008).

2.2 Produk Ikan Segar

Produk ikan segar adalah ikan air laut dan ikan air tawar yang baru ditangkap yang belum mengalami perubahan apapun dan juga ikan yang sudah mengalami proses pengawetan dengan pembekuan/pendinginan tetapi masih mempunyai sifat yang serupa dengan ikan asli (Ilyas 1993).

Ciri-ciri produk ikan segar menurut Ilyas (1993):

1. Mata : Cemerlang, kornea bening, pupil hitam dan mata cembung.

2. Insang : Warna merah sampai merah tua, cemerlang.

3. Sisik : Melekat kuat, mengkilat dengan warna khusus tertutup lendir jernih.

4. Kondisi : Bebas dari parasit apapun tanpa luka atau kerusakan pada badan.

5. Bau : Segar dan menyenangkan seperti air laut, tidak berbau pesing.

2.3 Pengertian Persediaan

Menurut Handoko (1984), persediaan (inventory) adalah suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya-sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan.

Menurut Assauri (1980), persediaan adalah sebagai suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal, atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan/proses produksi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi. Jadi, persediaan

merupakan sejumlah bahan-bahan, parts yang disediakan dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang- barang jadi/produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari konsumen atau langganan setiap waktu.

Pengertian lain dari barang persediaan atau disebut juga inventory adalah barang-barang yang biasanya dapat dijumpai di gudang tertutup, lapangan, gudang terbuka, atau tempat-tempat penyimpanan lain. Barang-barang tersebut

(21)

dapat berupa bahan baku, barang setengah jadi, barang jadi, barang-barang untuk keperluan operasi, atau barang-barang untuk keperluan suatu proyek (Richardus 2003).

2.3.1 Tipe dan Jenis Persediaan

Setiap jenis persediaan mempunyai karakteristik khusus tersendiri dan cara pengelolaannya yang berbeda. Menurut Handoko (1984), berdasarkan jenisnya, persediaan dapat dibedakan atas:

1. Persediaan bahan mentah (raw materials), yaitu persediaan barang-barang yang berwujud yang digunakan dalam proses produksi.

2. Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts/components), yaitu persediaan bahan-bahan yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk.

3. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies), yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak merupakan bagian barang jadi.

4. Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang- barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses

produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.

5. Persediaan barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang yang telah selesai diproses dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada langganan.

Dilihat dari fungsinya, persediaan dapat dibedakan atas (Assauri 1980):

1. Batch Stock, yaitu persediaan yang diadakan karena membeli atau membuat  bahan‐bahan atau barang‐barang dalam jumlah yang lebih besar dari jumlah yang  dibutuhkan pada saat itu. 

2. Fluctuation Stock, yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan.

3. Anticipation Stock, yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang dapat diramalkan berdasarkan pola

(22)

musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan/permintaan yang meningkat.

2.3.2 Fungsi-Fungsi Persediaan

Efisiensi operasional suatu organisasi dapat ditingkatkan karena berbagai fungsi penting persediaan. Fungsi-fungsi tersebut meliputi (Handoko 1984):

1. Fungsi Decoupling

Fungsi decoupling yaitu fungsi persediaan bahan baku yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier.

2. Fungsi Economic Lot Sizing

Melalui penyimpanan persediaan, perusahaan dapat memproduksi dan membeli sumber daya-sumber daya dalam kuantitas yang dapat mengurangi biaya-biaya per unit. Persediaan lot size ini mempertimbangkan

penghematan-penghematan (potongan pembelian, biaya pengangkutan per unit lebih murah dan sebagainya) karena perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan.

3. Fungsi Antisipasi

Perusahaan sering menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan permintaan akan barang-barang selama periode pemesanan kembali,

sehingga memerlukan kuantitas persediaan ekstra yang sering disebut persediaan pengaman (safety inventories). Pada kenyataannya, persediaan pengaman merupakan pelengkap fungsi decoupling yang telah diuraikan di atas. Persediaan antisipasi ini penting agar kelancaran produksi tidak terganggu.

2.3.3 Biaya-biaya Persediaan

Menurut Assauri (1980), biaya-biaya yang terdapat dalam persediaan dapat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:

(23)

1. Biaya pemesanan (ordering costs), yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan pemesanan barang-barang atau bahan-bahan dari penjual, sejak dari pesanan dibuat dan dikirim sampai barang/bahan tersebut

diserahkan dan diinspeksi di gudang. Besarnya biaya yang dikeluarkan tidak tergantung pada banyaknya barang yang dipesan.

2. Biaya penyimpanan (inventory carrying costs), yaitu biaya-biaya yang diperlukan berkenaan dengan adanya persediaan yang meliputi seluruh pengeluaran yang dikeluarkan perusahaan sebagai akibat adanya sejumlah persediaan. Besarnya biaya ini tergantung dari besar kecilnya rata-rata persediaan yang terdapat di gudang.

3. Biaya kekurangan persediaan (out of stock costs), yaitu biaya yang timbul sebagai akibat terjadinya persediaan yang lebih kecil dari jumlah yang diperlukan.

4. Biaya yang behubungan dengan kapasitas (capacity associated costs), yaitu biaya yang terjadi karena adanya penambahan atau pengurangan kapasitas yang digunakan pada suatu waktu tertentu.

Menurut Handoko (1984), dalam pembuatan setiap keputusan yang akan mempengaruhi besarnya jumlah persediaan, biaya-biaya variabel di bawah ini harus dipertimbangkan. Biaya-biaya tersebut antara lain:

1. Biaya penyimpanan (holding costs atau carrying costs). Biaya ini terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan.

Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak, atau rata-rata persediaan semakin tinggi.

2. Biaya pemesanan/pembelian (orders costs atau procurement costs). Biaya pemesanan total per periode (tahunan) adalah sama dengan jumlah pesanan yang dilakukan setiap periode dikalikan biaya yang harus dikeluarkan setiap kali pesan.

3. Biaya penyiapan (manufacturing). Bila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri “dalam pabrik” perusahaan maka perusahaan menghadapi biaya penyiapan (set up costs) untuk memproduksi komponen tertentu.

(24)

4. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage costs). Biaya ini adalah biaya yang paling sulit diperkirakan. Biaya ini timbul bilamana persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan.

2.4 Metode EOQ (Economic Order Quantity)

Pengendalian persediaan bahan baku yang optimal dianalisis dengan menggunakan metode EOQ (Economic Order Quantity). Model EOQ digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan persediaan yang meminimumkan biaya langsung penyimpanan persediaan dan biaya kebalikannya yaitu biaya pemesanan persediaan (Handoko 1984).

Dengan metode Economic Order Quantity, kuantitas bahan baku yang dipesan dan frekuensi waktu pembelian akan optimal, serta total biaya persediaan menjadi minimal (Handoko 1984). Gambar 1 menunjukkan hubungan antara biaya penyimpanan dan biaya pemesanan dalam bentuk grafik.

Gambar 1. Hubungan Antara Dua Jenis Biaya Persediaan Sumber: Handoko, 1984

Rumusan EOQ diperoleh dengan perhitungan kalkulus melalui pengambilan turunan (derivatif) pertama persamaan biaya total berikut ini (Handoko 1984):

Biaya total , TC = (HxQ/2) + (SxD/Q)

Biaya total

EOQ Kuantitas (Q)

Biaya pemesanan (SxD/Q) Biaya Penyimpanan (HxQ/2)

(25)

adalah persediaan rata-rata; menunjukkan jumlah pesanan yang dilakukan per periode, dengan jumlah setiap kali pesan Q.

TC minimum terjadi bila dan

dimana:

D : penggunaan atau permintaan yang diperkirakan per periode waktu S : biaya pemesanan per pesanan

H : biaya penyimpanan per unit per tahun

2.5 Hasil Penelitian Sebelumnya

Penelitian sebelumnya mengenai manajemen persediaan produk ikan segar pada ritel modern dilakukan oleh Dini Wulansari (2002) dengan judul penelitian

”Analisis Manajemen Persediaan Produk Ikan Segar di Pasar Swalayan Hero, Ciledug, Tangerang”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan jenis ikan segar yang paling sering dipesan oleh Pasar Swalayan Hero, Ciledug adalah ikan Mas, Gurame, Kembung, Tongkol, dan Kakap. Ikan-ikan tersebut juga merupakan ikan-ikan yang mendominasi penjualan produk ikan segar di Pasar Swalayan Hero, Ciledug. Pemesanan produk ikan segar pada Pasar Swalayan Hero, Ciledung dilakukan setiap hari, sehingga frekuensi pemesanan setiap tahunnya cukup tinggi tetapi jumlah pesanan yang dilakukan setiap kali melakukan pemesanan tidak banyak. Besarnya jumlah pesanan optimal yang dicari dengan menggunakan metode EOQ mencapai dua kali lipat dari jumlah pesanan yang dilakukan pasar swalayan. Kuantitas pemesanan optimal yang lebih banyak

(26)

daripada kuantitas pemesanan yang dilakukan pasar swalayan lebih memberikan jaminan bahwa produk yang dibutuhkan akan tersedia dalam jangka waktu yang lama meskipun gudang pusat sebagai sumber utama penyedia produk tidak dapat melakukan pengiriman setiap hari akibat kelangkaan barang. Hasil perhitungan frekuensi pemesanan produk ikan segar Pasar Swalayan Hero, Ciledug dengan menggunakan metode EOQ menghasilkan jumlah frekuensi yang lebih sedikit daripada jumlah frekuensi pemesanan yang dilakukan pasar swalayan karena kuantitas pemesanan optimal yang dihasilkan dalam jumlah yang besar.

Berdasarkan hasil perhitungan metode EOQ diperoleh kuantitas persediaan pengaman yang lebih kecil dibandingkan dengan kuantitas persediaan pengaman yang dilakukan oleh Pasar Swalayan Hero, Ciledug. Tingkat persediaan

pengaman optimal yang lebih sedikit akan mengurangi biaya tambahan yang ditimbulkan karena pengadaan persediaan pengaman, sehingga biaya

penyimpanan persediaan pengaman yang harus dikeluarkan menjadi lebih efisien.

Dengan membandingkan hasil perhitungan antara metode EOQ dan sistem yang dilakukan pasar swalayan dapat diketahui bahwa sistem pengelolaan persediaan yang dilakukan Pasar Swalayan Hero, Ciledug belum optimal. Dari hasil perhitungan dengan meggunakan metode EOQ diperoleh kuantitas pemesanan yang lebih optimal yang memberikan efisiensi terhadap biaya pengadaan persediaan produk ikan segar serta tingkat persediaan pengaman optimal yang menimbulkan biaya tambahan yang lebih efisien dan dihasilkan titik pemesanan kembali optimal yang menjadi titik penentu bagi pasar swalayan dalam

melakukan pemesanan kembali, sehingga dapat dicapai optimasi dalam

manajemen pengelolaan persediaan produk ikan segar pada Pasar Swalayan Hero, Ciledug.

III. KERANGKA PENDEKATAN STUDI

(27)

Pengelolaan persediaan produk ikan segar yang sesuai dengan kebutuhan harus memperhatikan, tepat jumlah, tepat waktu, tepat mutu dan tepat harga.

Penentuan tepat jumlah dan tepat waktu di dalam pengadaan produk ikan segar di hypermarket menjadi perhatian utama karena sifat produk ikan segar yang dipengaruhi oleh musim dan sangat mudah rusak (highly perishable), sedangkan penentuan tepat mutu dan tepat harga secara tidak langsung dapat dipenuhi melalui tepat jumlah dan tepat waktu.

Jumlah pembelian persediaan yang tepat akan dapat meminimalkan biaya pengadaan persediaan sehingga harga produk yang ditetapkan nantinya adalah harga yang tepat bagi konsumen. Penentuan waktu pembelian persediaan yang tepat akan mempengaruhi mutu produk karena dengan waktu pembelian yang tepat, dapat menjamin produk-produk yang dijual adalah produk-produk segar.

Sebaliknya, apabila waktu pemesanan tidak tepat atau terlalu cepat dilakukan, maka akan menyebabkan produk menumpuk dalam ruang inventory sehingga dapat menurunkan mutu.

Dari penentuan tepat jumlah dan tepat waktu akan diperoleh kuantitas pembelian persediaan yang optimal, tingkat persediaan pengaman yang optimal dan titik pemesanan kembali yang optimal yang ketiganya dihitung dengan menggunakan metode EOQ dengan harapan akan tercapai optimasi dalam

manajemen pengelolaan persediaan produk ikan segar Giant Hypermarket Bekasi.

Skema kerangka pendekatan studi dapat dilihat pada Gambar 2 di halaman berikutnya.

Produk Ikan Segar

(28)

Gambar 2. Skema Kerangka Pendekatan Studi

Keterangan:

: Ruang Lingkup Penelitian

IV. METODOLOGI

Giant Hypermarket

Pengelolaan Persediaan

Tepat

Mutu Tepat

Jumlah

Tepat Waktu

• Kuantitas Pemesanan Optimal

• Tingkat Persediaan Pengaman Optimal

• Titik Pemesanan Kembali Optimal

Optimasi Manajemen Pengelolaan Persediaan Produk Ikan Segar

Metode EOQ

Tepat Harga

(29)

4.1 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dan sebagai satuan kasus adalah manajemen persediaan produk ikan segar di Giant Hypermarket Bekasi. Pemilihan tempat dilakukan secara sengaja (purposive) dengan beberapa pertimbangan antara lain lokasi Giant Hypermarket Bekasi yang sangat strategis yaitu di persimpangan tepat di depan pintu tol Bekasi Barat yang juga merupakan area transit kendaraan umum sehingga memudahkan pengunjung untuk mampir terlebih dahulu ke Giant Hypermarket Bekasi sebelum melanjutkan perjalanan mereka, serta lokasi di pusat kota yang mudah dijangkau oleh

pengunjung dari wilayah Bekasi dan sekitarnya. Pertimbangan lain adalah Giant Hypermarket Bekasi secara konsisten menerapkan slogannya yaitu CF3 (clean, full, fresh, & friendly) pada pasar segarnya, khususnya pada bagian fish corner, serta Giant Hypermarket Bekasi menjadi Giant contoh untuk pembangunan gerai Giant di Bekasi selanjutnya.

4.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data teks dan data image. Menurut Fauzi (2001), data teks adalah data yang ditampilkan baik dalam bentuk alphabet maupun angka numerik sedangkan data image adalah data yang didapatkan melalui bentuk diagram atau foto yang memberikan informasi secara spesifik mengenai keadaan tertentu.

Jenis data yang dihimpun dalam penelitian ini berdasarkan sumbernya meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui

pengamatan langsung terhadap kegiatan pengelolaan persediaan ikan segar di Giant Hypermarket Bekasi dan wawancara dengan karyawan serta pihak-pihak yang berkepentingan seperti Department Manager Fresh, Assistant Department Head Seafood, Department Head IT, Supervisor dan Staff Department Seafood.

Sedangkan data sekunder yang digunakan merupakan data penunjang yang diperoleh melalui literatur, dokumen dan informasi dari berbagai instansi terkait seperti Giant Hypermarket Bekasi (sebagai tempat penelitian), BPS, Telkom, PLN dan perpustakaan-perpustakaan instansi terkait.

(30)

4.3 Metode Analisis Data

4.3.1 Analisis Kuantitas Pemesanan Optimal

Metode Economic Order Quantity (EOQ) digunakan untuk menentukan jumlah dan frekuensi pembelian yang optimal. Metode ini mengasumsikan bahwa biaya pengendalian persediaan terdiri dari biaya pemesanan dan biaya

penyimpanan sehingga dapat diketahui rasio nilai keuntungan sebelum dan sesudah pemesanan optimal.

Metode EOQ dapat diterapkan apabila anggapan-anggapan berikut ini terpenuhi:

1. Permintaan akan produk adalah konstan, seragam dan diketahui.

2. Harga per unit produk adalah konstan.

3. Biaya penyimpanan per unit per tahun (C) adalah konstan.

4. Waktu antar pesanan dilakukan dan barang-barang diterima adalah konstan.

5. Biaya pemesanan per pesanan (P) adalah konstan.

6. Tidak terjadi kekurangan barang/back orders.

Persediaan produk ikan segar yang optimal dianalisis dengan metode EOQ. Dengan metode ini kuantitas produk ikan segar yang dipesan dan frekuensi pembelian akan optimal serta total biaya akan minimal. Hasil analisis yang diperoleh akan dibandingkan dengan keadaan yang terdapat pada perusahaan untuk mengetahui apakah dengan EOQ lebih menguntungkan atau tidak.

Secara sistematis, biaya pengendalian persediaan dapat ditulis sebagai berikut (Ahyari 1987):

Biaya Total Penyimpanan = (0,5Q)(C)

Biaya Total Pemesanan = (P)(F) = (P)(R/Q), dimana F = R/Q Maka, Biaya Total Persediaan:

TIC = P(R/Q) + (0,5Q)(C)………(1)

Nilai Q akan optimal apabila TIC mencapai nilai minimal. Hal ini dapat dicapai apabila turunan pertama TIC terhadap variable Q sama dengan nol.

Dengan demikian perhitungannya adalah sebagai berikut:

TIC = P(R/Q) + (0,5Q)(C) dTIC/dQ = - (P)(R/Q2) + (0,5C) C/2 – PR/Q2 = 0

(31)

Q2C = 2PR

EOQ = Q = √2PR/C………..(2) F = R/Q………..(3)

dimana:

P = Biaya pemesanan per pesanan (Rp)

C = Biaya penyimpanan per unit per tahun (Rp per Kg per tahun) Q = Jumlah produk setiap pembelian (Kg)

R = Jumlah produk yang dibutuhkan per tahun (Kg per Tahun) F = Frekuensi pembelian per tahun

T/C = Total biaya persediaan per tahun (Rp) EOQ = Jumlah setiap pembelian optimum (Kg)

Model persediaan EOQ berdasarkan asumsi bahwa permintaan dan waktu tunggu adalah konstan dan diketahui sehingga model EOQ kurang peka terhadap fluktuasi pemakaian dan waktu tunggu. Untuk itu perlu ditambahkan dengan menghitung titik pemesanan kembali sehingga model EOQ juga dapat digunakan perusahaan yang memiliki tingkat pemakaian dan waktu tunggu yang berfluktuasi.

4.3.2 Analisis Tingkat Persediaan Pengaman Optimal

Penentuan besarnya persediaan penyelamat dilakukan dengan pendekatan tingkat pelayanan (level of service approach). Pada pendekatan ini, kekurangan bahan dapat terjadi karena pemakaian bahan yang berfluktuasi dan ketidakpastian kedatangan barang. Persediaan pengaman ditentukan dengan menetapkan terlebih dahulu tingkat pelayanan (level of service) (Assauri 1980).

Menurut level of service approach, penentuan besarnya persediaan penyelamat yang sebaiknya diadakan perusahaan akan lebih tepat dan rasionil apabila diketahui hubungan antara tingkat pelayanan dengan tingkat persediaan penyelamat yang diadakan untuk tingkat pelayanan (level of service) tersebut.

Untuk melihat hubungan ini dibutuhkan suatu ukuran dari fluktuasi permintaan yang diharapkan dapat dipenuhi dari adanya persediaan. Ukuran tersebut menggunakan teori statistik. Rumus yang disediakan untuk demand frequency distribution salah satunya adalah dengan distribusi normal (The normal

(32)

distribution) yang umumnya digunakan untuk barang-barang yang cepat berganti/bergerak (Assauri 1980).

Besarnya jumlah persediaan pengaman dengan distribusi normal ditentukan dengan rumus sebagai berikut (Assauri 1980):

... (4)

……… (5) dimana:

S = Persediaan pengaman

K = Policy factor yang nilainya tergantung pada besarnya tingkat pelayanan t = Standar deviasi waktu pelindung

D = Standar deviasi dari penggunaan produk L = Standar deviasi dari waktu tunggu (lead time) L = Waktu tunggu rata-rata

D = Penggunaan produk rata-rata

Persediaan pengaman disebut juga persediaan minimum, sebaliknya persediaan maksimum merupakan batas persediaan tertinggi yang sebaiknya diadakan oleh perusahaan. Persediaan maksimum diperoleh dari jumlah pembelian produk yang optimal ditambah dengan persediaan pengaman.

4.3.3 Analisis Titik Pemesanan Kembali Optimal

Perhitungan titik pemesanan kembali harus memperhatikan besarnya penggunaan produk selama produk yang dipesan belum datang dan persediaan pengaman. Besarnya penggunaan selama produk yang dipesan belum datang adalah hasil perkalian antara waktu tunggu rata-rata dan tingkat penggunaan produk rata-rata.

Perhitungan titik pemesanan kembali pada metode EOQ dengan persediaan pengaman (safety stock) yaitu:

T = S + DL………..(6)

dimana:

S = Persediaan pengaman D = Pemakaian produk rata-rata

(33)

L = Waktu tunggu rata-rata T = Titik pemesanan kembali

4.4 Batasan dan Pengukuran

1. Produk ikan segar adalah ikan air laut dan ikan air tawar yang baru ditangkap yang belum mengalami perubahan apapun dan juga ikan yang sudah mengalami proses pengawetan dengan pembekuan atau pendinginan tetapi masih mempunyai sifat serupa dengan ikan asli (Ilyas 1993). Jenis ikan segar dalam penelitian ini meliputi ikan Bawal Hitam, Kembung Banjar, Patin, Bandeng Super, Tongkol Besar, Ayam- ayam, dan ikan Kakap Merah Bulat Kecil.

2. Kuantitas pemesanan persediaan (Q) yang dimaksud adalah kuantitas pesanan persediaan yang meminimumkan biaya penyimpanan dan biaya pemesanan dengan menggunakan metode EOQ (Economic Order Quantity).

3. Biaya penyimpanan (C) adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan selama satu tahun akibat adanya penyimpanan persediaan produk dalam ruang inventory (Rp per Kg).

4. Biaya pemesanan (P) adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan setiap kali melakukan pemesanan (Rp per pesanan).

5. Satuan waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu tahun selama periode tahun 2007.

4.5 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Giant Hypermarket Mega Bekasi Hypermall yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani No. 73, Bekasi Barat. Penelitian berlangsung selama kurang lebih lima minggu, yaitu pada tanggal 19 Desember 2007 sampai 23 Januari 2008.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum Perusahaan

(34)

5.1.1 PT Hero Supermarket

Hingga kini, Hero Pasar Swalayan merupakan industri ritel pasar swalayan (supermarket) terbesar di Indonesia yang berdiri pertama kali pada tanggal 23 Agustus 1971. Hero senantiasa menyediakan produk yang bermutu dan pelayanan yang terbaik kepada pelanggannya sehingga mereka merasa nyaman dan puas dalam berbelanja

PT Hero Supermarket memiliki visi yaitu menjadi pengecer makanan yang terkemuka di Indonesia, yang menawarkan makanan segar dan bahan bahan makanan terbaik dengan harga terjangkau. Misi yang dimiliki perusahaan adalah menjadi pengecer makanan modern yang terkemuka di Indonesia dari segi penjualan dan laba. Konsumen dengan pendapatan menengah hingga atas merupakan sasaran utama karena mereka memiliki daya beli besar.

Bisnis eceran merupakan kegiatan utama PT Hero Supermarket yaitu menyediakan berbagai komoditas utama kepada konsumen langsung seperti buah, sayur mayur, daging, toiletries, kosmetik, soft drink, alat-alat kebutuhan dapur, bahan-bahan pembersih dan barang-barang kebutuhan lainnya. Dalam kegiatan pemasaran, Hero Supermarket melakukan segmentasi berdasarkan tingkat

penghasilan masyarakat yaitu golongan menengah ke atas yang sekaligus menjadi konsumen targetnya. Hero juga melakukan positioning yaitu rumah belanja keluarga yang memiliki arti bahwa Hero bukan saja tempat belanja bagi ibu rumah tangga tapi juga menyediakan produk segala keperluan bagi ayah, ibu dan anak.

5.1.2 Giant Hypermarket

Giant Hypermarket merupakan bagian dari PT Hero Supermarket Tbk yang dibuka pertama kali pada tanggal 26 Juli 2002 di Villa Melati Mas, Serpong- Tangerang. Hingga bulan Juni 2007, Giant Hypermarket telah memiliki 17 gerai yang terletak di Jabodetabek (12), Surabaya (3), dan Bandung (2).

Giant Hypermarket dengan mottonya ”Banyak Pilihan Harga Lebih Murah” menyediakan jumlah barang yang besar antara 35.000-50.000 item yang 90%-nya berasal dari produk lokal dan etnik. Dengan operating philosopy

”Garansi Harga Murah Setiap Hari”, Giant ingin dikenal sebagai brand yang

(35)

murah terjangkau dan dapat dipercaya dengan memberikan nilai lebih dari harga yang dibayarkan.

Giant Hypermarket tidak hanya memberikan harga yang murah pada produk-produk yang dijualnya kepada masyarakat, namun juga memberikan pilihan dan koleksi produk yang beraneka ragam sehingga masyarakat senang melakukan kegiatan belanja di Giant Hypermarket. Beberapa bentuk jaminan dan layanan tambahan gratis yang diberikan oleh Giant Hypermarket untuk

memuaskan pelanggan diantaranya adalah:

1. Ada yang lebih murah? Kami ganti selisihnya 3 kali!

2. Tidak Puas? Kembalikan saja!

3. Harga kasir tidak sama harga di rak? Bayar yang termurah.

4. Bebas Biaya Antar.

5. Parkir gratis di beberapa lokasi gerai Hipermarket Giant.

6. Berbelanja dengan sistem kredit dari Sumber kredit.

Tentu saja bentuk-bentuk jaminan di atas memiliki banyak persyaratan khusus agar mereka tidak rugi. Bentuk jaminan di atas cukup memberikan dampak efek psikologis yang besar pada perilaku konsumen.

Struktur organisasi pada Giant Hypermarket Bekasi dapat dilihat pada Lampiran 1. Giant Hypermarket Bekasi dipimpin oleh seorang store manager (manajer toko). Dalam menjalankan tugasnya, manajer toko dibantu oleh beberapa orang division manager untuk masing-masing departemen.

Adapun uraian tugas dari masing-masing jabatan pada struktur organisasi Giant Hypermarket Bekasi adalah sebagai berikut:

1) Store Manager

• Bertugas dan berwenang memimpin outlet dan mengkoordinir serta mengawasi pelaksanaan operasional dari semua divisi di outlet tersebut.

2) Division Manager Grocery, Marchandising and Fresh

• Bertanggung jawab atas kegiatan pemajangan, pemberian harga, dan ketersediaan jenis barang dagangan masing-masing departemennya.

3) Division Head Grocery, Bazaar, Electrical, Bakery and RTE, dan Dairy Frozen

• Menyusun rencana kerja, jadwal kerja bulanan, mingguan dan harian secara berkesinambungan untuk mengatur penempatan karyawan yang efisien dan produktif.

(36)

• Mangawasi dan memonitor serta membuat kegiatan yang diupayakan dapat mengendalikan biaya operasional di departemennya.

• Mengembangkan sistem dan prosedur yang berkaitan dengan operasional kerja departemennya untuk meningkatkan keamanan dan kelancaran kerja.

4) Assistant Division Head Grocery food and non food, Marchandising, Meat Chicken and Seafood, Bakery and RTE.

• Membantu atau menggantikan Division Head dalam memimpin dan menjalankan kegiatan operasional masing-masing departemen sehingga dapat berjalan dengan sebaik-baiknya dan mencapai target penjualan dan operasional yang ditetapkan.

5) Supervisor Grocery food and non food, Marchandising, Meat Chicken and Seafood, Bakery and RTE dan Dairy Frozen.

• Mengawasi kegiatan pemajangan, proses pemberian harga jual, dan ketersediaan jenis barang masing-masing departemennya.

6) Sales Assistant Grocery food and non food, Marchandising, Meat Chicken and Seafood, Bakery and RTE dan Dairy Frozen.

• Memajang, memeriksa barang yang telah kosong atau berkurang kemudian mengisi kembali sesuai jenis barang masing-masing departemennya.

7) Division Manager Sales Support

• Bertanggung jawab untuk mengkoordinir, mengarahkan, dan mengawasi kegiatan pendukung penjualan toko.

8) Division Head Check Out and Receiving

• Bertanggung jawab untuk mengkoordinir, mengarahkan dan memeriksa kegiatan penerimaan dan penyimpanan barang.

9) Assistant Division Head Check Out and Receiving

• Membantu dan menggantikan Division Head dalam menjalankan tugasnya.

10) Supervisior Check Out and Receiving

• Mengawasi kegiatan penerimaan dan penyimpanan barang.

11) Sales Assistant Check Out and Receiving

• Mengecek dan menerima barang serta meyimpannya dalam gudang.

12) Assistant Division Head IT

• Mengembangkan teknologi IT serta prototypingnya.

• Mengatasi kerusakan maupun kekeliruan yang terjadi dalam sistem komputer.

• Bertanggung jawab atas pentransferan data dari toko ke pusat.

13) Sales Assistant IT

• Mengecek dan memasukkan semua data ke dalam komputer.

(37)

14) Division manager Store Administration

• Bertanggung jawab untuk mengarahkan, mengatur dan mengawasi terhadap semua kegiatan administrasi di dalam toko.

15) Sales Assistant Accounting

• Bertanggung jawab menyiapkan uang kecil untuk kasir, mencetak dan mengecek laporan keuangan, penjualan omset per departemen dan counter, memposting hasil penjualan; membuat laporan petty cash, kupon; mengecek isi brankas dan kupon atau voucher barang.

16) Division Head HRD

• Bertanggung jawab terhadap absen, jadwal kerja dan cuti karyawan; memberi laporan absensi ke kantor pusat; bekerja sama dengan supevisor memberi penilaian kerja, promosi, mutasi dan rotasi; perhitungan lembur.

17) Administration Department / POS

• Bertanggung jawab membuat laporan perubahan harga jual, POP (Point Of Purchase); bertanggung jawab terhadap pemrosesan faktur, DO, PO, CN (Credit Not); transfer data order ke IT.

18) Loss Prevention (LP)

• Bertanggung jawab atas keamanan di dalam dan di luar toko.

19) Cashier

• Bertanggung jawab atas penerimaan dan pengeluaran uang dalam operasi

Dalam memberikan pelayanan, Giant Hypermarket Bekasi memiliki slogan ”CF3” yaitu:

¾ Clean : penampilan area sales dan area lainnya harus bersih maksimal.

¾ Full : display harus penuh. Di rak harus compact/ padat dan display di wagon/

floor harus menggunung/ bulky.

¾ Fresh : display harus segar, terutama di buah, sayur, ikan, daging, bakery, RTE dan Grocery/ GMS harus layak jual.

¾ Friendly : semua karyawan, SPG, SPM, harus bersahabat dengan pengunjung dan siap melayani, terutama kasir.

Slogan ”CF3” tersebut secara konsisten juga diterapkan dalam pengelolaan fish corner. Area penjualan ikan harus bersih maksimal agar pengunjung merasa nyaman berbelanja. Area fish corner juga dilengkapi kran pencuci tangan agar pengunjung dapat dengan mudah membersihkan tangannya setelah melakukan

(38)

pemilihan ikan. Produk-produk ikan yang dipajang di meja display harus penuh untuk menarik minat pengunjung. Produk ikan segar tersebut dipajang di atas meja display yang disebut dengan ice bed yang selalu dipenuhi dengan es curai.

Produk ikan segar yang dipajang harus fresh dan layak jual. Untuk

mempertahankan kesegaran produk ikan segar yang dijual, pengelola senantiasa mengontrol pemberian es pada ikan di atas meja display (ikan harus selalu diselimuti oleh es curai). Keramahan dan kesopanan staf fish corner merupakan faktor penting agar pengunjung merasa dilayani dengan baik. Komunikasi dua arah yang baik antara staf fish corner dengan pengunjung akan memberikan keunggulan tersendiri dalam kualitas pelayanan.

5.2 Pengelolaan Persediaan Produk Ikan Segar Giant Hypermarket Bekasi Pengelolaan persediaan produk ikan segar Giant Hypermarket Bekasi berada di bawah pengawasan fresh manager yang bertanggung jawab terhadap tujuh departemen, antara lain: Fruit, Vegetable, Dairy, Bakery, Meat & Poultry, Ready to Eat, dan Seafood. Pengelolaan persediaan produk ikan segar adalah bagian dari departemen Seafood yang merupakan tanggung jawab langsung seorang ADH (Assistant Department Head).

Dalam menjalankan tugas, ADH dibantu oleh seorang supervisor dan beberapa orang staf departemen Seafood. ADH bertanggung jawab penuh terhadap pengelolaan departemen Seafood dan memiliki tugas antara lain:

melakukan estimasi produk yaitu menentukan jenis dan kuantitas ikan yang akan dipesan, memastikan mutu dan kualitas ikan yang dipajang dalam keadaan baik, menganalisa omset dan daya jual departemen Seafood, serta hubungan dengan supplier. Adapun tugas supervisor antara lain: menerima barang datang, melakukan penyortiran dan pengecekkan mutu dan kualitas ikan sebelum dipajang, menempatkan produk pada meja display, dan melayani pelanggan dengan dibantu oleh beberapa orang staf.

Prinsip atau perhatian utama departemen Seafood Giant Hypermarket Bekasi dalam pengelolaan produk ikan segar adalah kesegaran dan kualitas ikan.

Segar berarti produk harus fresh dan baru serta mutu dan kualitas terjaga. Sesuai dengan slogan Giant yaitu ”CF3”, clean, full, fresh, dan friendly, maka

(39)

penampilan area jual/fish corner harus bersih maksimal, produk pada meja display harus penuh, ikan-ikan yang dipajang harus segar dan layak jual, serta pelayanan yang ramah dari staf departemen Seafood.

Visi fresh manager Giant Hypermarket Bekasi dalam pengelolaan departemen Seafood adalah mencapai target penjualan perusahaan yaitu 200 juta per bulan serta mendapatkan profit sebesar 15%. Misi fresh manager adalah menjaga stok/ketersediaan barang yang seringkali menghadapi kendala musim sehingga stok ikan sulit diprediksi dan mengakibatkan target perusahaan tidak tercapai.

5.2.1 Pemesanan Produk Ikan Segar

Giant Hypermarket Bekasi memesan langsung produk ikan segarnya dari gudang pusat Hero di Cibitung, kecuali untuk ikan air tawar hidup dan beberapa item produk ikan beku lainnya yang dipesan langsung dari supplier. Ikan Bawal Hitam, Kembung Banjar, Patin, Bandeng Super, Tongkol Besar, Ayam-ayam, dan Kakap Merah Bulat Kecil adalah jenis-jenis ikan yang paling sering dipesan oleh Giant Hypermarket Bekasi karena digemari oleh konsumennya. Hal ini terlihat dari tingginya tingkat penjualan ikan-ikan tersebut dibandingkan dengan ikan segar jenis lainnya yang dijual di Giant Hypermarket Bekasi. Tabel 2

menunjukkan penjualan beberapa produk ikan segar yang disusun berdasarkan tingkat penjualannya periode Desember 2007.

Tabel 2. Top Penjualan Ikan Segar Giant Hypermarket Bekasi, Desember 2007

No. Jenis Jumlah (kg)

1 Ikan Mujair 189

2 Ikan Bawal Hitam 178

(40)

3 Ikan Bandeng Super 99

4 Ikan Ayam-ayam 96

5 Ikan Patin 88

6 Ikan Kembung Banjar 69

7 Ikan Tongkol Besar 59

8 Ikan Ekor Kuning 40

9 Ikan Kue (K) 34

10 Ikan Pari 32

11 Ikan Kakap Merah Bulat (K) 31

12 Ikan Baronang 29

13 Ikan Layur 28

14 Ikan Selar 27

15 Ikan Sebelah 23

Sumber: Seafood Department 2007

Penentuan jenis dan kuantitas ikan yang dipesan ditentukan oleh seorang Assistant Department Head (ADH) dengan dibantu oleh supervisor dan beberapa orang staf divisi seafood. Jenis dan kuantitas ikan yang dipesan ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan, antara lain: daya jual dan jumlah permintaan yang dapat dilihat dari penjualan-penjualan sebelumnya, hari libur, musim ikan, dan antisipasi kunjungan dari kantor pusat.

Pemesanan ikan segar dilakukan dengan menggunakan estimasi. Estimasi adalah daftar yang berisi jenis dan kuantitas ikan yang dipesan. Estimasi

dilakukan satu kali seminggu (untuk tujuh hari penjualan). Contoh bentuk estimasi untuk setiap periode pemesanan ikan dapat dilihat pada lampiran 7.

Estimasi dikirim setiap hari Senin melalui email ke Merchandise Director (MD) pusat Hero di Jakarta dan juga melalui fax ke gudang pusat Hero di

Cibitung untuk konfirmasi ulang pemesanan. MD pusat Hero kemudian

mengirimkan data pesanan yang dikirim melalui email tersebut ke gudang pusat Hero di Cibitung. Pesanan akan dikirimkan oleh gudang pusat Hero Cibitung ke Giant Hypermarket Bekasi pada hari yang telah ditentukan dalam estimasi dengan waktu tunggu yang berbeda-beda. Alur pemesanan dapat dilihat pada Gambar 3.

(41)

Gambar 3. Alur pemesanan Giant Hypermarket Bekasi

Ikan pesanan yang datang dari gudang pusat Hero Cibitung pada hari yang telah ditentukan dalam estimasi diterima oleh supervisor divisi Seafood Giant Hypermarket Bekasi. Ikan-ikan tersebut kemudian ditimbang dan dilakukan pengecekkan terhadap jenis dan kuantitasnya. Pengecekkan dilakukan untuk memastikan pesanan yang datang sesuai dengan estimasi yang dilakukan.

Pemesanan yang dilakukan Giant Hypermarket Bekasi mengeluarkan biaya. Biaya yang dikeluarkan oleh Giant Hypermarket Bekasi setiap kali melakukan pemesanan meliputi biaya order dengan email dan fax, biaya administrasi, serta biaya tenaga kerja.

5.2.2 Pemajangan (display) Produk Ikan Segar

Setiap hari, Supervisor menerima kedatangan ikan segar dan melakukan penyortiran terhadap mutu dan kualitas ikan yang akan dipajang. Ikan yang layak pajang adalah ikan-ikan yang segar dengan mutu dan kualitas baik, sesuai dengan slogan Giant yaitu fresh. Penentuan ikan yang layak pajang ini memperhatikan ciri-ciri kesegaran ikan yaitu mata cemerlang, insang berwarna merah dan cemerlang, daging ikan kenyal, sisik melekat kuat dan mengkilat tertutup lendir jernih, berbau segar, serta bebas dari parasit apapun tanpa luka atau kerusakan fisik. Ikan yang mengalami kerusakan atau mutu dan kualitasnya tidak baik tidak akan dipajang dan merupakan broken stock. Ikan-ikan yang telah mengalami

(42)

penurunan kualitas namun masih layak untuk dikonsumsi mendapat penanganan.

Ikan-ikan yang mengalami penurunan mutu namun masih layak untuk dikonsumsi tersebut tidak dibuang begitu saja. Hal ini ditujukan untuk mengurangi resiko usaha yang berdampak pada pengurangan omset penjualan. Untuk itu, perlakuan yang diberikan adalah dengan mengolah ikan tersebut melalui proses pemberian bumbu atau menjual ikan tersebut dengan harga yang lebih murah (special price).

Produk ikan segar akan dipajang di atas meja display yang disebut dengan ice bed yang selalu dipenuhi dengan es curai. Sebelum diletakkan di meja display, ikan disemprot dengan air bersih untuk menghilangkan kotoran dan pasir-pasir yang melekat pada permukaan tubuhnya. Setelah bersih, ikan tersebut dipajang di atas ice bed yang telah penuh dilapisi dengan es curai. Penataan dan penyajian ikan segar di atas meja display sangat diperhatikan dengan baik. Ikan segar tersebut tidak ditumpuk begitu saja namun disusun rapi secara berkelompok sesuai dengan jenisnya masing-masing dan diberi papan penunjuk nama dan harga untuk memudahkan konsumen menentukan pilihan. Ikan yang dipajang pada meja display adalah ikan yang datang pada setiap hari penjualan dan ikan sisa penjualan hari kemarin yang mutu dan kualitasnya masih baik sehingga masih layak pajang.

Ikan sisa penjualan yang mutu dan kualitasnya jelek merupakan broken stock.

Selama dipajang di atas meja display, ikan selalu dilapisi/ditaburi dengan es curai untuk menjaga kesegaran dan mencegah penurunan mutu.

Sesuai dengan slogan Giant yaitu full, meja display harus penuh. Yang paling baik jika meja display mencukupi adalah tidak ada ikan yang disimpan di dalam chiller pada waktu toko buka. Semua ikan segar harus dipajang karena jika tidak, besar kemungkinan departemen Seafood Giant Hypermarket Bekasi

menerima konsekuensi kehilangan kesempatan ikan-ikan tersebut dibeli oleh pelanggan sehingga penjualan tidak maksimal. Namun jika meja display tidak memungkinkan memajang semua ikan segar, maka untuk sementara kelebihan stok tersebut disimpan dalam chiller untuk kemudian dikeluarkan pada saat meja display mulai kosong.

5.2.3 Penyimpanan Produk Ikan Segar

Ikan segar yang disimpan dalam ruang penyimpanan adalah ikan-ikan yang tidak habis terjual pada setiap akhir hari penjualan dan stok ikan yang baru

(43)

datang dan belum sempat dipajang karena meja display tidak mencukupi. Ikan- ikan tersebut akan disimpan dalam chiller yang merupakan ruang penyimpanan berpendingin dengan luas 3x5m² dan suhu 0ºC sampai 5ºC. Chiller hanya sebagai tempat transit ikan atau tempat penyimpanan sementara karena ikan yang baru datang dari Cibitung biasanya langsung dipajang. Ikan yang disimpan dalam chiller paling lama tiga sampai lima hari penyimpanan.

Sebelum disimpan, ikan dibersihkan terlebih dahulu dengan air bersih untuk menghilangkan atau mengurangi kotoran akibat pemajangan karena

penyimpanan dalam suhu rendah tidak mematikan mikroorganisme, namun hanya menghambat pertumbuhannya. Jadi, pastikan ikan dalam keadaan bersih sebelum disimpan dalam chiller agar kotoran dan mikroorganisme awal sebelum

penyimpanan hilang sehingga ikan lebih tahan lama. Setelah dibersihkan, ikan disimpan dalam box styrofoam berukuran 60x35x25 cm3 yang sebelumnya telah dilapisi es pada bagian dasarnya. Ikan disusun dengan posisi perut di bagian atas karena bagian ini mudah rusak sehingga peletakan dengan posisi yang tepat diharapkan dapat meminimalisir kerusakan. Ikan di barisan bawah adalah ikan- ikan dengan ukuran yang lebih besar dan daging yang lebih kuat, kemudian di atasnya diletakkan ikan yang ukurannya lebih kecil dan dagingnya lebih lunak.

Setelah ikan disusun dan box telah terisi penuh, bagian atas ditutupi/dilapisi dengan es. Susunan peletakan ikan dan es dalam box styrofoam yaitu bagian dasar dilapisi es terlebih dahulu kemudian diatasnya diletakan ikan kemudian dilapisi es lagi kemudian diletakan ikan lagi dan terakhir bagian paling atas ditutupi lagi dengan es baru kemudian ditutup dengan penutup box.

5.3 Tingkat Penjualan Produk Ikan Segar

Penjualan ikan segar pada Giant Hypermarket Bekasi mengalami fluktuasi sepanjang tahun 2007. Penjualan tersebut didominasi oleh beberapa jenis ikan diantaranya Bawal Hitam, Kembung Banjar, Patin, Bandeng Super, Tongkol Besar, Ayam-ayam, dan Kakap Merah Bulat Kecil (nama disesuaikan dengan penggunaan pada Giant Hypermarket Bekasi). Dibandingkan dengan ikan segar jenis lainnya yang dijual di Giant Hypermarket Bekasi, ikan-ikan tersebut adalah ikan segar dengan tingkat penjualan yang tinggi yang berarti paling banyak

Gambar

Tabel 1. Jumlah Gerai PT Hero Supermarket Hingga Desember 2006
Gambar 1. Hubungan Antara Dua Jenis Biaya Persediaan  Sumber: Handoko, 1984
Gambar 2. Skema Kerangka Pendekatan Studi
Gambar 3. Alur pemesanan Giant Hypermarket Bekasi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Ray (2004), bakteri di sinyalir sebagai penyebab utama dari kerusakan pangan dan penyakit yang disebabkan akibat keracunan pangan karena kemampuan mereka

Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel kriteria investasi IRR diperoleh dengan nilai sebesar 48% sehingga dapat dikatakan bahwa IRR lebih besar dari SOCC, maka dengan

1 Telah memuat Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya untuk Jangka Menengah (lima

pada aspek mengevaluasi emosi mahasiswa suku Jawa juga lebih. tinggi dengan 9,33 daripada mahasiswa suku Batak dengan

Paper Mill PT Pura Barutama 1999 – 2002 Plant Manager – Divisi. Paper Converting PT

Simpulan dari hasil penelitian ini adalah ”Ada Hubungan Manajemen Humas Dengan Pembangunan Citra Sekolah Di SMP IT Tunas Cendekia Mataram Tahun Pelajaran 2014/2015” yang

tuturan bahasa Gorontalo di lingkungan masyarakat desa Tabumela. 2) Mendeskripsikan bentuk dan makna yang muncul akibat gejala anaptiksis dalam. tuturan bahasa Gorontalo

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh pengawasan, lingkungan kerja, dan kompensasi terhadap kinerja pada guru sertifikasi SMP Kecamatan Teluk Betung Utara