• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PARTISIPASI BADAN KOMUNIKASI PEMUDA REMAJA MASJID INDONESIA (BKPRMI) DALAM MUSYAWARAH

PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) DESA DI KEC. LUBUK PAKAM KAB. DELI SERDANG

TESIS

OLEH :

SAHRUL HABIBI NASUTION 157003035/PWD

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2017

(2)

ANALISIS PARTISIPASI BADAN KOMUNIKASI PEMUDA REMAJA MASJID INDONESIA (BKPRMI) DALAM MUSYAWARAH

PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) DESA DI KEC. LUBUK PAKAM KAB. DELI SERDANG

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan

pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh :

SAHRUL HABIBI NASUTION 157003035/PWD

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2017

(3)

Judul Proposal : ANALISIS PARTISIPASI BADAN KOMUKASI PEMUDA REMAJA MASJID INDONESIA (BKPRMI)

DALAM MUSYAWARAH PERENCANAAN

PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) DESA DI KEC.

LUBUK PAKAM KAB. DELI SERDANG Nama Mahasiswa : Sahrul Habibi Nasution

Nomor Pokok : 157003035

Program Studi : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan

Menyetujui, Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. H. B Tarmizi, SU) (Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si) Ketua Anggota

Ketua Program Studi Direktur

(Prof. Dr. Lic. Rer. Reg. Sirojuzilam, SE) (Prof. Dr. Robert Sibarani, MS)

Tanggal lulus: 21 Agustus 2017 Telah diuji pada

Tanggal 21 Agustus 2017

(4)

PERNYATAAN

Judul Tesis

“ANALISIS PARTISIPASI BADAN KOMUNIKASI PEMUDA REMAJA MASJID INDONESIA (BKPRMI) DALAM MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) DESA DI

KECAMATAN LUBUK PAKAM KAB. DELI SERDANG”

Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.

Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, Juli 2017 Penulis

Sahrul Habibi Nasution

(5)

ANALISIS PARTISIPASI BADAN KOMUNIKASI PEMUDA REMAJA MASJID INDONESIA (BKPRMI) DALAM MUSYAWARAH

PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) DESA DI KEC. LUBUK PAKAM KAB. DELI SERDANG

ABSTRAK

Pembangunan yang baik akan terselenggara apabila diawali dengan perencanaan yang baik pula, sehingga mampu dilaksanakan oleh seluruh pelaku pembangunan serta memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk itu, maka proses perencanaan memerlukan keterlibatan masyarakat diantaranya pemuda melalui konsultasi public atau Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Proses musrenbang pada dasarnya mendata aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang dirumuskan melalui pembahasan di tingkat desa/kelurahan, Karena hanya dengan adanya partisipasi dari masyarakat penerima program, maka hasil pembangunan tersebut akan sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan lubuk pakam Kabupaten Deli Serdang tentang “Analisis Partisipasi Badan Komukasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Tahun 2017”. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda dan analisis deskriptif dengan jumlah sampel responden 66 orang dari 195 orang jumlah populasi. Pengambilan sampel responden berdasarkan probability sampling. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi partisipasi Badan Komukasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dalam musrenbang, yaitu pendidikan, pekerjaan, pemahaman, dan peraturan secara simultan berpengaruh signifikan. Secara parsial variabel pendidikan dan pemahaman berpengaruh positif dan signifikan terhadap partisipasi BKPRMI, sedangkan variabel pekerjaan dan peraturan berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap partisipasi BKPRMI. Variabel partisipasi BKPRMI yang meliputi pengambilan keputusan, pelaksanaan, menerima manfaat, dan menilai hasil program secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap musrenbang desa. Secara parsial variabel pengambilan keputusan dan menerima manfaat berpengaruh positif dan signifikan terhadap musrenbang desa, sedangkan variabel pelaksanaan dan menilai hasil program berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap musrenbang desa.

Kata kunci: Partisipasi BKPRMI, Musrenbang Desa

(6)

PARTICIPATION ANALYSIS OF THE INDONESIAN ADVISORY AGENCY COMMUNICATION (BKPRMI) IN MUSYAWARAH DEVELOPMENT PLANNING (MUSRENBANG) DESA IN KEC. PAKAM

POWDER KAB. DELI SERDANG

ABSTRACT

Good development will take place if started with a good plan as well, so that it can be implemented by all development actors and meet the needs of the community. Therefore, the planning process requires the involvement of the community among youth through public consultation or Development Planning Council (Musrenbang). The musrenbang process basically records the aspirations and needs of the community that are formulated through the discussion at the village / kelurahan level. Because only with the participation of the beneficiary community, the results of the development will be in accordance with the aspirations and needs of the community itself. The study was conducted in Kecamatan Lubuk pakam of Deli Serdang Regency on "Participation Analysis of Indonesian Mosque Youth Mosque Board (BKPRMI) in Development Planning Meeting (Musrenbang) Village in Kecamatan Lubuk Pakam Deli Serdang Regency Year 2017". The method of analysis used in this study is multiple linear regression analysis and descriptive analysis with the sample number of respondents 66 people from 195 people the population. Sampling of respondents based on probability sampling. From the result of the research, it is found that the factors influencing the participation of Indonesian Mosque Youth Mosque Youth Board (BKPRMI) in musrenbang, namely education, occupation, understanding, and regulation simultaneously have a significant effect. Partially, education and understanding variables have positive and significant effect on BKPRMI participation, while work and regulatory variables have positive but not significant effect on BKPRMI participation. BKPRMI participation variables that include decision making, implementation, receiving benefits, and assessing program outcomes simultaneously have a positive and significant influence on village musrenbang. Partially, decision-making and receiving variable have positive and significant effect to village musrenbang, while implementation variable and rate of program result have positive but not significant influence to village musrenbang.

Keywords: BKPRMI Participation, Village Musrenbang

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul: “Analisis Partisipasi Badan Komukasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Tahun 2017”. Tesis ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.

Penyusunan tesis ini penulis banyak mendapat bantuan, masukan dan bimbingan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada yang terhormat Bapak Prof. Dr. H. B Tarmizi, SU selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si selaku anggota Komisi Pembimbing dan Bapak Prof. Dr. Lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE selaku Ketua Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan USU Medan dan sekaligus dosen pembanding yang telah memberi saran, dukungan, pengetahuan dan bimbingan kepada penulis hingga tesis ini selesai.

Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Robert Sibarani, MS selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.

2. Bapak Prof. Dr. Lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE., Prof. Dr. Suwardi, MS dan Dr. Irsyad Lubis selaku dosen pembanding sekaligus penguji tesis yang telah memberikan masukan-masukan demi kesempurnaan tesis ini.

(8)

3. Seluruh Dosen Program Studi Perencanaan Pengembangan Wilayah dan Pedesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara atas segala keikhlasannya dalam memberikan ilmu pengetahuan dan pengalaman

4. Seluruh mahasiswa PWD kelas KEMENPORA anggkatan ke-3 terima kasih banyak atas keakrabannya, bantuan dan kerjasama yang telah diberikan selama ini.

5. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda Adanan Nasution dan Ibunda Maraganti Siregar yang telah membesarkan, mendidik dan membimbing penulis hingga dewasa saat ini.

6. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada isteri tercinta Siti Namora Hasibuan, Am.Keb atas segala kesabaran dan ketabahannya selama ini dalam mendampingi penulis serta dukungannya, sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Demikian pula kepada putri tercinta Alesha Anindya Zahra Nasution yang selalu sabar.

7. Kakak dan adik penulis yang selalu memberikan support dan dukungannya untuk menyelesaikan pendidikan.

Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini masih jauh dari sempurna.

Penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan untuk penyempurnaan tesis ini.

Akhirnya atas segala kekurangan dalam penyusunan tesis, penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dan berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan. Amiin.

Medan, Agustus 2017 Penulis

Sahrul Habibi Nasution

(9)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... ....i

ABSTRACT ... ....ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... ..viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... . 6

1.3 Tujuan Penelitian ... . 7

1.4 Manfaat Penelitian ... . 8

BAB II. KAJIAN PUSTAKA ... . 9

2.1 Penelitian Terdahulu ... . 9

2.2 Partisipasi ... 11

2.3 Tingkatan Partisipasi ... 12

2.4 Teori Pemuda ... 14

2.4.1 Pengertian Pemuda ... 14

2.4.2 Badan Komukasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia ... 15

2.4.3 Pembangunan Pemuda Menurut UU No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan ... 17

2.4.4 Konsep Partisipasi Pemuda ... 18

2.5 Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa ... 20

2.5.1 Prinsip-Prinsip Dalam Pelaksanaan Musrenbang ... 22

2.6 Perencanaan Pembangunan Desa ... 23

2.6.1 Perencanaan ... 23

2.6.2 Pembangunan Desa ... 25

2.7 Kerangka Berpikir Penelitian ... 28

2.8 Hipotesis ... 29

BAB III. METODE PENELITIAN ... 30

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 30

(10)

3.2 Jenis Penelitian ... 30

3.3 Jenis dan Sumber Data ... 30

3.4 Populasi dan Sampel... 31

3.4.1 Populasi ... 31

3.4.2 Sampel ... 31

3.5 Karakteristik Responden ... 32

3.6 Uji Coba Instrumen Penelitian ... 33

3.5.1 Uji Validitas ... 33

3.5.2 Uji Reliabilitas ... 34

3.7 Analisis Data ... 34

3.6.1 Uji Asumsi Klasik ... 38

3.6.1.1 Uji Normalitas ... 38

3.6.1.2 Uji Multikolinieritas ... 38

3.6.1.3 Uji Heteroskedastisitas ... 39

3.6.2 Pengujian Hipotesis ... 39

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... ..42

4.1. Hasil Penelitian ... ..42

4.1.1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian ... ..42

4.1.2. Pengujian Validitas dan Realibilitas ... ..42

4.1.2.1. Uji Validitas ... ..42

4.1.2.2. Uji Realibilitas ... ..44

4.1.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi BKPRMI dalam Musrenbang desa ... ..44

4.1.3.1. Pengujian Asumsi Klasik ... ..45

4.1.3.1.1. Uji Normalitas ... ..45

4.1.3.1.2. Uji Multikolinearitas ... ..47

4.1.3.1.3. Uji Heteroskedastisitas ... ..49

4.1.3.2. Pengujian Hipotesis ... ..50

4.1.3.2.1. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) ... ..50

4.1.3.2.2. Hasil Uji Simultan (Uji-F) ... ..50

4.1.3.2.3. Hasil Uji Parsial (Uji-t) ... ..51

4.1.4. Pengaruh Partisipasi BKPRMI terhadap Musrenbang desa... ..52

(11)

4.1.4.1. Pengujian Asumsi Klasik ... ..52

4.1.4.1.1. Uji Normalitas ... ..52

4.1.4.1.2. Uji Multikolinearitas ... ..55

4.1.4.1.3. Uji Heteroskedastisitas ... ..56

4.1.4.2. Pengujian Hipotesis ... ..57

4.1.4.2.1. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) ... ..57

4.1.4.2.2. Hasil Uji Simultan (Uji-F) ... ..58

4.1.4.2.3. Hasil Uji Parsial (Uji-t) ... ..59

4.2. Pembahasan ... ..60

4.2.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi BKPRMI dalam Musrenbang desa ... ..60

4.2.2. Pengaruh Partisipasi BKPRMI terhadap Musrenbang desa ... ..62

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... ..66

5.1. Kesimpulan ... ..66

5.2. Saran ... ..66

DAFTAR PUSTAKA ... 78

JURNAL ... 70

DAFTAR BACAAN ... 71

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Populasi dan Sampel Penelitian ... 32

Tabel 3.2 Karakteristik Responden ... 33

Tabel 3.3 Uraian Indikator Partisipasi BKPRMI dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi terhadap Musrenbang Desa ... 41

Tabel 4.1 Hasil pengujian validitas variabel penelitian ... 43

Tabel 4.2 Hasil Pengujian Reliabilitas ... 44

Tabel 4.3. Kolmogorov – Smirnov Test ... 47

Tabel 4.4. Hasil Uji Multikolinieritas ... 48

Tabel 4.5. Koefisien Determinasi ... 50

Tabel 4.6. Hasil Uji Simultan ... 50

Tabel 4.7. Uji Statistik-t ... 51

Tabel 4.8. Kolmogorov – Smirnov Test ... 54

Tabel 4.9. Hasil Uji Multikolinieritas ... 55

Tabel 4.10 Koefisien Determinasi ... 58

Tabel 4.11 Hasil Uji Simultan ... 58

Tabel 4.12 Uji Statistik-t ... 59

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tahap-Tahap Partisipasi Masyarakat ... 13

Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Penelitian ... 28

Gambar 4.1 Normal P-Plot of Regression Standardized Residual ... 45

Gambar 4.2 Histogram Partisipasi Masyarakat ... 45

Gambar 4.3 Grafik scatterplots Partisipasi BKPRMI ... 49

Gambar 4.4 Normal P-Plot of Regression Standardized Residual ... 53

Gambar 4.5 Histogram Musrenbang Desa ... 53

Gambar 4.6 Grafik scatterplots Musrenbang desa ... 57

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan salah satu negara sedang berkembang di dunia yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar dalam mewujudkan cita-cita dan amanat nasional sebagaimana tertuang di dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Amanat konstitusi menghendaki peningkatan kesejahteraan rakyat yang merata.

Peran pemerintah dinilai penting karena pemerintah menjadi “development agent” atau unsur pendorong pembaharuan/pembangunan (Abrahan dalam

Tjokroamidjojo, 1990: 18). Oleh karena itu, pembangunan penting dalam rangka mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik dan merata.

Pembangunan yang dilaksakan oleh pemerintah tidak dapat berjalan dengan baik jika tidak diiringi dengan pembangunan daerah. Pembangunan daerah adalah bagian yang integral dalam pembangunan nasional (Kartasasmita, 1996: 335).

Untuk itu, dalam penyelenggaraan pemerintah negara Indonesia harus mengutamakan asas desentralisasi dalam menitikberatkan pada demokrasi.

Upaya pelaksanaan pembangunan memerlukan suatu perencanan yang meliputi skala nasional dan daerah agar dihasilkan suatu perubahan besar kearah yang lebih baik. Perencanaan merupakan suatu alat dan prasyarat utama dalam pembangunan. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah, penyusunan perencaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur didalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber-sumber daya yang ada

(15)

dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu (Riyadi, 2005: 8). Perencanaan pembangunan daerah dibutuhkan agar dapat menjadi pedoman dalam melaksanakan kegiatan pembangunan daerah. Oleh sebab itu, setiap daerah otonom baik pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten/kota wajib menyusun dokumen perencanaan pembangunan daerah.

Salah satu daerah yang memiliki keseriusan dalam melaksanakan pembangunan daerah adalah Kabupaten Deli dibidang Ekonomi, Kabupaten Deli Serdang merupakan Kabupaten/Kota di Provinsi Sumut dengan angka kemiskinan terendah yaitu 4,71%, dibidang pendidikan beberapa indikator yang telah dicapai antara lain dengan terus meningkatnya Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM), serta menurunnya persentase angka putus sekolah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Deli Serdang bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Deli Serdang juga terus meningkat dari tahun ke tahun dari 76,17 pada Tahun 2012 menjadi 76,82 pada tahun 2013.

Tekad bersama untuk memajukan Deli Serdang lewat percepatan pembangunan diyakini akan terwujud sebagaimana yang tertuang pada visi misi pembangunan Deli Serdang, yaitu Deli Serdang yang maju, Berdaya saing, Religius dan bersatu dalam kebinekaan.

Dengan memegang prinsip melanjutkan pembangunan yang sudah berjalan, memantapkan dan meningkatkannya, lewat konsep kebersamaan dan semangat kegotong royongan yang diaplikasikan melalui program Gerakan Deli Serdang Membangun (GDSM), Pemkab Deli Serdang mengandalkan sinergi tiga pilar kekuatan pembangunan. Artinya, pembangunan tidak bisa berjalan secara

(16)

sendiri-sendiri, tetapi percepatan pembangunan dapat lebih nyata, jika digabung antara pemerintah, dukungan pihak swasta dan partisipasi masyarakat. Program yang mensinergikan tiga pilar kekuatan pembangunan ini berhasil mendongkrak percepatan pembangunan, terutama pada prioritas pembangunan, yakni infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan, dengan tidak mengabaikan sektor- sektor lainnya.

Pembangunan sebagai proses peningkatan kemampuan manusia untuk menentukan masa depannya mengandung arti bahwa masyarakat perlu dilibatkan dalam proses tersebut (Bryant dan White, 1987: 268). Masyarakat pelu ambil bagian dalam menjawab persoalan yang terjadi. Nurcholis, dkk. (2009: 11) mengemukakan bahwa pelibatan masyarakat (Stakeholders) sangat penting karena pada dasarnya pelaku utama pembangunan dalam sistem otonomi daerah adalah masyarakat. Keterlibatan pemuda dalam pembangunan dibutuhkan mulai dari proses perencanaan pembangunan itu sendiri. Wadah untuk melaksanakan hal ini sering disebut Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang yang merupakan forum antar pelaku dalam rangka menyusun rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah (Sutrisno dalam Pramusinto, 2009:

166).

Partisipasi pemuda di dalam pembangunan, khususnya pada proses perencanaan pembangunan dapat dilihat salah satunya dengan kehadiran pemuda dalam forum Musrenbang desa/kelurahan. Kemauan pemuda untuk menghadiri Musrenbang desa/kelurahan dapat dikatakan sebagai wujud kepedulian pemuda terhadap kemajuan pembangunan di daerahnya. Kehadiran pemuda dalam Musrenbang desa/kelurahan tersebut merupakan suatu proses yang mana pemuda

(17)

dapat menyampaikan usulan-usulan dan aspirasi untuk terlibat secara langsung merencanakan program pembangunan di daerahnya. Selain itu, kehadiran pemuda sebagai peserta Musrenbang desa/kelurahan mengandung makna terciptanya hak berdemokrasi. Ini berarti bahwa dalam Musrenbang desa/kelurahan, pemuda bebas menyampaikan pendapat dan pemuda diajak berdialog untuk penyusunan perencanaan pembangunan.

Menurut Sastropoetro (1986:23) masyarakat wajib dikonsultasikan dan reaksi/responsnya harus pula diperhitungkan dalam proses perencanaan. Conyers (1991: 154-155) mengemukakan tiga alasan utama mengapa partisipasi masyarakat mempunyai sifat sangat penting yaitu:

1. Partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat.

2. Masyarakat akan lebih mempercayai program kegiatan pembangunan apabila mereka dilibatkan dalam persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan lebih mengetahui seluk beluk program kegiatan tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap program kegiatan tersebut.

3. Mendorong partisipasi umum karena akan timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan. Keberhasilan suatu pembangunan sangat dipengaruhi oleh proses perencanaan karena perencanaan merupakan tahap awal dan dasar dari proses pembangunan.

Pentingnya partisipasi pemuda dalam perencanaan pembangunan daerah pada dasarnya telah menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah menerapkan perencanaan partisipatif (Participatory Planning) dalam perencanaan

(18)

pembangunan untuk menjaring aspirasi dan keterlibatan pemuda yang akan dihimpun menjadi program kegiatan pembangunan daerah. Namun, aspirasi tersebut dalam tahapan berikutnya harus disinkronisasikan dengan top-down planning. Oleh karena itu, sinkronisasi kebijakan pemerintah, kebijakan

pemerintah daerah, dengan kebutuhan pemuda diarapkan dapat tercapai melalui partisipasi pemuda dalam forum Musrenbang desa atau yang lebih dikenal dengan bottom-up planning dan top-down planning, meskipun demikian tidak semua

kebutuhan pemuda sinkron dengan kebijakan pemerintah daerah. Hal ini sejalan dengan Conyers (1991: 200) bahwa usulan dan saran masyarakat sering kali tidak sesuai dengan rencana yang telah dibuat meskipun usulan dan saran tersebut cukup beralasan. Dalam penyusunan rencana kebanyakan perencanaan yang disusun bersifat top-down planning. Akibatnya, kebanyakan kegiatan pembangunan yang dilakukan tidak sesuai dengan aspirasi dan keinginan masyarakat sehingga pemanfaatan dari hasil pembangunan oleh masyarakat menjadi tidak maksimal (Sjafrizal, 2009: 76).

Melalui pelaksanaan Musrenbang desa/kelurahan, masyarakat dapat menyampaikan aspirasinya dalam rangka merencanakan suatu program kegiatan pembangunan. Salah satu perencanaan pembangunan yang wajib disusun oleh pemerintah daerah adalah perencanaan tahunan daerah atau disebut Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Rencana Kerja Pembangunan Daerah merupakan dokumen rencana resmi daerah yang dipersyaratkan untuk mengarahkan pembangunan daerah dalam jangka waktu satu tahun ke depan.

RKPD menjembatani sinkronisasi rencana tahunan dengan rencana strategis, mengoperasionalkan rencana strategis dalam langkah-langkah tahunan yang lebih

(19)

konkret dan terukur untuk memastikan tercapainya rencana strategis jangka menengah (Nugroho, 2011: 108-109).

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan partisipasi pemuda dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) desa/kelurahan di kecamatan lubuk pakam untuk penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kecamatan Lubuk Pakam Tahun 2017. Musyawarah Perencanaan Pembangunan desa (Musrenbang) merupakan forum musyawarah perencanaan pembangunan yang paling awal dilaksanakan dalam proses penyusunan RKPD dan merupakan titik terdekat dengan pemuda untuk menampung aspirasi pemuda di setiap desa/kelurahan. Masyarakat desa/kelurahan selaku penerima manfaat langsung dari hasil pembangunan turut berpartisipasi menentukan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan dan mengetahui dampak yang akan ditimbulkan, serta social cost yang harus dibayar (Riyadi, 2005: 314).

Hal ini berarti bahwa aspirasi yang muncul pada saat pelaksanaan Musrenbang desa/kelurahan adalah aspirasi murni yang berasal dari pemuda.

Pentingnya partisipasi pemuda dalam Musrenbang desa/kelurahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam rangka menyusun RKPD. Berdasakan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa/Kelurahan di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Tahun 2017”.

(20)

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka beberapa pertanyaan yang menarik untuk dikaji lebih jauh adalah:

1. Bagaimanakah Partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa/Kelurahan di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang?

2. Apakah yang mempengaruhi partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa/Kelurahan di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang?

3. Apakah faktor pendidikan, pekerjaan, pemahaman dan peraturan desa dapat mempengaruhi partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa/Kelurahan di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Menganalisis Partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa/Kelurahan di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang.

2. Menganalisis apa yang mempengaruhi partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dalam Musyawarah

(21)

Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa/Kelurahan di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang?

3. Menganalisis faktor pendidikan, pekerjaan, pemahaman dan peraturan desa dapat mempengaruhi partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa/Kelurahan di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang?

1.4 Manfaat Penelitian

1. Memberikan masukan kepada lembaga terkait agar lebih mengoptimalkan partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa/Kelurahan daerah kabupaten Deli Serdang.

2. Secara akademis penelitian ini untuk menambah khasanah pengetahuan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa/Kelurahan dan bahan perbandingan bagi penelitian sejenis bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

3. Khusus bagi penulis, sebagai pengalaman dalam mengadakan penelitian khususnya pada lembaga organisasi kepemudaan.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Fathurrahman (2013), melakukan penelitian yang berkaitan dengan Partisipasi Masyarakat Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Di Kelurahan Kotabaru Tengah bahwa bentuk partisipasi masyarakat dalam Musrenbangkel Kotabaru Tengah pada tahun 2013 dari segi kehadiran peserta sudah representatif. Komunikasi antara pemerintah dan masyarakat sudah berjalan dengan baik dan sudah bersifat dua arah, dalam pemberian informasi sudah mulai diberikan jauh-jauh hari namun pemberitahuan secara formal masih terbatas dengan waktu. Masyarakat terlibat dalam proses penyusunan/perumusan kegiatan perancanaan pembangunan di Kelurahan Kotabaru Tengah, namun tidak ada sarana dalam melakukan kontrol dan pengawasan bagi masyarakat dalam Musrenbangkel. Masyarakat telah dapat memberikan usulan sesuai dengan permasalahan yang ada di lingkungan mereka, dalam penentuan skala prioritas ditentukan oleh peserta rapat dengan tim pelaksana Musrenbangkel dalam diskusi.

Pengambilan keputusan realisasi kegiatan tetap ditangan pemerintah, akan tetapi masih minimnya kontrol dan pengawasan dari masyarakat dan pemerintah.

Dikko Alrakhman (2013), melakukan kajian terkait dengan partisipasi masyarakat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan di Kecamatan Cipayung Kota Depok menunjukkan bahwa bentuk partisipasi perwakilan masyarakat dalam Musrenbang kelurahan adalah berupa kehadiran, pemikiran, saran, diskusi, maupun pendapat; motovasi perwakilan masyarakat untuk menghadiri Musrenbang kelurahan diantaranya adalah

(23)

keingintahuan masyarakat dalam melihat perkembangan di wilayahnya dan adanya rasa tanggungjawab.

Aisyah (2015), melakukan penelitian terkait partisipasi masyarakat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di Kelurahan Sei Putih Tengah Kecamatan Medan Petisah Kota Medan. Berdasarkan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa faktor rendahnya yang menghambat partisipasi masyarakat disebabkan beberapa faktor dalam tingkat pendidikan, sosial, dan pengalaman berorganisasi. Akan tetapi pada dasarnya keterlibatan masyarakat Kelurahan Sei Putih Tengah sudah cukup baik dalam Musrenbang yang tercermin dari hasil data dan wawancara, presentase dari kehadiran dan keaktifan masyarakat, dimana sebagian masyarakat Kelurahan Sei Putih Tengah cukup baik dalam menanggapi Musrenbang.

Tjitjik Rahaju (2015), menjelaskan didalam penelitian yang dilakukannya terkait dengan Partisipasi Masyarakat Dalam Perencanaan Pembangunan Desa Melalui Musrenbang dengan Studi Kasus Pada Pembangunan Japordes Desa Tunggunjagir Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan bahwa warga Desa Tunggunjagir Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan telah memberikan partisipasi dan dukungannya dalam pembangunan Jalan Poros Desa ( Japordes).

Warga Desa Tunggunjagir bersedia memberikan partisipasinya dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan yaitu partisipasi dalam perencanaan yang diwujudkan dengan kehadiran masyarakat dalam menghadiri musyawarah yang diselenggarakan oleh aparat Pemerintah Desa Tunggunjagir, partisipasi dalam pelaksanaan diwujudkan dalam bentuk tenaga, uang, bahan (marerial), partisipasi dalam kemanfaatan diwujudkan dalam bentuk kegiatan pemeliharaan lingkungan,

(24)

dan partisipasi dalam evaluasi diwujudkan dalam bentuk musyawarah perencanaan pembangunan untuk perbaikan Japordes. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dapat dinilai baik yang ditunjukkan dengan peran serta masyarakat yang aktif dalam pembangunan Japordes meskipun perlu adanya evaluasi dalam pembangunan Jalan Poros Desa (Japordes) agar dapat terselesaikan dengan baik.

2.2 Partisipasi

Partisipasi berasal dari bahasa Inggris, “participation” yaitu pengambilan bagian atau pengikutsertaan. Mubyarto mengartikan partisipasi sebagai tindakan mengambil bagian dalam kegiatan, sedangkan partisipasi masyarakat sendiri adalah keterlibatan masyarakat dalam suatu proses pembangunan dimana masyarakat ikut terlibat mulai dari tahap penyusunan program, perencanaan dan pembangunan, perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan (Huraerah, 2011:110). Sejalan dengan itu, Sulaiman mengungkapkan partisipasi sebagai keterlibatan aktif warga masyarakat secara perorangan, kelompok, atau dalam kesatuan masyarakat dalam proses pembuatan keputusan bersama, perencanaan dan pelaksanaan program serta usaha pelayanan dan pembangunan kesejahteraan sosial di dalam dan atau di luar lingkungan masyarakat atas dasar rasa kesadaran tanggung jawab sosialnya (Huraerah, 2011:110).

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 mendefinisikan partisipasi sebagai “keikutsertaan masyarakat untuk mengakomodasikan kepentingan mereka dalam proses penyusunan rencana pembangunan”. Masyarakat didefinisikan sebagai “orang perorangan, kelompok orang, termasuk masyarakat hukum adat atau badan hukum yang berkepentingan dengan kegiatan dan hasil pembangunan,

(25)

baik sebagai penanggung biaya, pelaku, penerima manfaat maupun penanggung resiko” (Sukardi, 2009: 255). Dengan demikian, partisipasi merupakan kekuasaan yang dimiliki oleh masyarakat untuk dapat terlibat dan memengaruhi sebuah kebijakan meskipun tidak benar-benar sangat menentukan (Muluk, 2007:63).

2.3 Tingkatan Partisipasi

Tingkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dipandang sebagai salah satu tolak ukur berhasilnya suatu pembangunan, serta merupakan pencerminan bahwa dalam pembangunan masyarakat lebih memberikan fokus perhatian pada aspek manusia dan masyarakat, bukan semata-mata pada fisik materil. Menurut Keith Davis dalam Suciati (2006) dikemukakan bahwa bentuk- bentuk dari partisipasi masyarakat adalah berupa; a) pikiran, b) tenaga, c) keahlian, d) barang, dan e) uang. Bentuk partisipasi masyarakat ini dilakukan dalam berbagai cara, yaitu; a) konsultan, biasanya dalam bentuk jasa, b) sumbangan spontanitas berupa uang dan barang, c) mendirikan proyek yang sifatnya berdikari dan dibiayai oleh masyarakat sendiri, d) sumbangan dalam bentuk kerja, e) aksi massa, f) mengadakan pembangunan didalam keluarga, dan g) membangun proyek masyarakat yang bersifat otonom.

Menurut Ericson dalam Slamet (1993), bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan terdiri atas tiga tahap, yaitu:

1. Partisipasi didalam tahap perencanaan (Idea Planning Stage);

Partisipasi pada tahap ini adalah pelibatan seseorang pada tahap penyusunan rencana dan strategi dalam penyusunan kepanitiaan dan anggaran pada suatu kegiatan. Masyarakat berpartisipasi dengan

(26)

memberika usulan, saran, dan kritikan melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan.

2. Partisipasi dalam tahap pelaksanaan (Implementetion Stage);

Partisipasi pada tahap ini adalah pelibatan seseorang pada tahap pelaksanaan pekerjaan suatu kegiatan. Masyarak disini dapat memberikan tenaga, materi, ataupun barang dan uang serta ide-ide sebagai salah satu bentuk partisipasinya pada pekerjaan tersebut.

3. Partisipasi dalam pemanfaatan (Utilitazion Stage);

Partisipasi pada tahap ini adalah pelibatan seseorang pada tahap pemanfaat suatu kegiatan setelah selesai dikerjakan. Partisipasi masyarakat pada tahap ini berupa tenaga dan uang untuk mengoperasikan dan memelihara proyek yang telah dibangun.

Mahalli (2010) menjelaskan bentuk partisipasi masyarakat dapat dikategorikan dalam beberapa tahap, yaitu; tahap perencanaan, pelaksanaan, penerima manfaat, dan evaluasi. Supaya lebih jelas penjelasan tentang tahap-tahap partisipasi masyarakat, berikut skemanya:

Tahap-Tahap Partisipasi Masyarakat

Gambar 2.1 Tahap-Tahap Partisipasi Masyarakat (Mahalli, 2010) PERENCANAAN

PELAKSANAAN

MANFAAT

EVALUASI

(27)

Ada faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat terdiri dari faktor dari dalam masyarakat (internal) dan faktor dari luar masyarakat (eksternal). Faktor internal yaitu kemampuan dan kesediaan masyarakat untuk berpartisipasi, sedangkan faktor eksternal yaitu peran aparat dalam lembaga formal yang ada. Terdapat dua kategori tingkatan partisipasi masyarakat. Pertama warga komunitas dilibatkan dalam tindakan yang telah dipikirkan atau dirancang oleh orang lain dan dikontrol oleh orang lain. Kedua, partisipasi merupakan proses pembentukan kekuatan untuk keluar dari masalah mereka sendiri.

2.4 Teori Pemuda 2.4.1 Pengertian Pemuda

Menurut Undang-Undang kepemudaan nomor 40 tahun 2009, pemuda adalah mereka yang berusia 16 tahun hingga 30 tahun, Sejarah membuktikan bahwa pemuda berperan penting dalam kemerdekaan dimana saja, dinegara mana saja kemerdekaan tidak pernah luput dari peran serta pemuda. Karena pemudalah memiliki semangat dan ambisius yang tinggi dalam mencapai keinginannya, memperjuangkan, mempertahankan perubahan kearah yang lebih baik. Pemuda memiliki banyak potensi yang tertanam dalam dirinya, pemuda harus berani bermimpi dan bercita-cita setinggi-tingginya.

Sedangkan menurut Thahan (2002), pemuda selalu berada di garis terdepan dalam perjuangan ummat dan mampu terlibat di semua sektor, yaitu:

a. Sektor Pembebasan dan Kemerdekaan

Pemuda adalah kemampuan, tekad, keberanian, dan kesabaranmenghadapi tantangan. Dengannya ummat menghalau musuh danmengangkat bendera kejayaannya.

(28)

b. Sektor Pemikiran dan Pembentukannya

Pemuda adalah unsur kokoh yang mampu belajar keras, menguasai dan menghasilkan pemikiran serta pembaruan. Ibarat ranting yang masih segar, kelenturannya cukup untuk terbentuknya pemikiran sekaligus mentransformasikan pemikiran tersebut kepada orang lain.

c. Sektor Iman dan Amal

Iman yang diam dan kehilangan dinamika tidak ada harganya, sedangkan keimanan pemuda selalu memunculkan energi tersembunyi yang besar dalam bentuk gerakan membina ummat.

d. Sektor Perubahan

Pemuda adalah pelopor dan sarana perubahan. Allah Suhhanahu wata'ala tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah kondisi jiwa mereka. Sedangkan pemuda memiliki kekuatan jiwa yang besar, maka perubahan yang dilakukannya pun besar.

Pemuda merupakan aset bangsa yang akan melanjutkan estafet pembangunan bangsa dimasa yang akan datang. Pemuda memiliki dinamisasi dan semangat yang tinggi dalam berbagai aspek dimasyarakat, pemuda dapat lebih diterima dilingkungannya jika membawa suasana-suasana kebaikan dan mengarah pada perubahan, perubahan yang diharapan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat. Semangat yang tinggi dan ide-ide memberikan peran kepada pemuda dalam setiap sektor kehidupan.

2.4.2 Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Dalam anggaran Rumah Tangga BKPRMI bab 1 pasal 1 dijelaskan bahwa pengertian lembaga tersebut adalah organisasi dakwah dan kepemudaan. Badan

(29)

Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) merupakan perhimpunan organisasi dan para aktifis pemuda remaja masjid, yang menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan pembinaan aqidah, akhlaq, ukhuwah, keilmuan dan keterampilan.

Adapun tujuan BKPRMI adalah membina dan mengembangkan potensi pemuda remaja masjid yang bertaqwa kepada Allah SWT. Memiliki wawasan keislaman dan keindonesiaan yang utuh dan kokoh, yang senantiasa memakmurkan masjid sebagai pusat ibadah dan perjuangan, memberdayakan ummat untuk mewujudkan masyarakat marhamah dengan tetap berpegang teguh pada prinsif aqidah, ukhuwah, dan dakwah islamiyah dan negara kesatuan republik indonesia. (Yanuar, A. dkk. 1997:3).

Arah perjuangan yang dilakukan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) adalah diantanya;

1) Pembinaan Ummat

BKPRMI bersikap bahwa seluruh organisasi islam adalah seiman, secita- cita dan seperjuangan dalam mewujudkan al-islam. Untuk itu BKPRMI mengajak bekerjasama dan berbasis masjid dalam membangun ummat islam.

2) Hubungan Dengan Pemerintah dan Masyarakat.

BKPRMI adalah salah satu kelompok pemuda indonesia. Sebagai warga negara indonesia yang memiliki tanggung jawab sosial turut berpartisifasi aktif mewujudkan pembangunan bangsa menuju masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

(30)

3) BKPRMI ikut mendukung dan berperan aktif menciptakan suasana harmonis, damai sejahtera ditengah-tengah masyarakat, baik secara nasional maupun internasional. (Ibid :180)

2.4.3 Pembangunan Pemuda Menurut UU No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan

Pembangunan kepemudaan menurut Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 diwujudkan dalam 3 hal, yaitu; kepemimpinan, kewirausahaan dan kepeloporan.

1. Pembangunan kepemimpinan pemuda disebutkan dalam BAB I ketentuan umum pasal 7 yang berbunyi “Pengembangan kepemimpinan pemuda adalah kegiatan mengembangkan potensi keteladanan, keberpengaruhan, serta penggerakan pemuda.”

2. Pembangunan kewirausahaan pemuda. Kewirausahaan termaktub dalam BAB I ketentuan umum pasal 8 bunyinya “Pengembangan kewirausahaan pemuda adalah kegiatan mengembangkan potensi keterampilan dan kemandirian berusaha”.

3. Pembangunan kepeloporan pemuda, termaktub dalam BAB I ketentuan umum pasal 9 berbunyi “Kepeloporan pemuda adalah kegiatan mengembangkan potensi dalam merintis jalan, melakukan terobosan, menjawab tantangan, dan memberikan jalan keluar atas pelbagai masalah.”

Sedangkan yang menjadi asas pembangunan pemuda disebutkan dalam BAB II pasal 2 berdasarkan; Pertama, ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua, kemanusiaan. Ketiga, kebangsaan. Keempat, kebhinekaan. Kelima, demokratis.

(31)

Keenam, keadilan. Ketujuh, partisipatif. Kedelapan, kebersamaan. Kesembilan, kesetaraan. Kesepuluh, kemandirian.

Selanjutnya tujuan pembangunan kepemudaan disebutkan dalam BAB II pasal 3 untuk mewujudkan pemuda yang; Pertama, Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, Berakhlak mulia. Ketiga, Sehat. Keempat, Cerdas.

Kelima, Kreatif. Keenam, Inovatif. Ketujuh, Mandiri. Kedelapan, Demokratis.

Kesembilan, Bertanggungjawab. Kesepuluh, Berdaya saing. Kesebelas, Memiliki jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, kepeloporan, dan kebangsaan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.4.4 Konsep Partisipasi Pemuda

Partisipasi pemuda merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam partisipasi masyarakat secara umum. Artinya dalam pembahasan partisipasi masyarakat mengandung unsur partisipasi pemuda secara khusus. Dengan demikian, dalam pembahasan ini kajian tentang partisipasi pemuda menjadi bagian tidak terpisahkan dengan kajian partisipasi masyarakat.

Terkait partisipasi masyarakat dalam hal ini pemuda, berdasarkan Undang- Undang nomor 25 Tahun 2004, menjelaskan bahwa sistem perencanaan pembangunan nasional salah satunya bertujuan untuk mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Selanjutnya tentang partisipasi masyarakat disebutkan pula pada pasal 5, 6, dan 7 Undang-Undang yang sama. Dalam undang-Undang ini pembangunan merupakan kombinasi antara pendekatan top-down dan bottom-up yang menekankan pada cara-cara aspiratif dan partisipatif. Selain UU nomor 25 Tahun 2004, terdapat juga peraturan perundang-undangan yang lain yang

(32)

menekankan perlunya partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan yaitu Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 8 tahun 2008 tentang tahapan, tata cara, penyusunan, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah.

Kelompok yang berpartisipasi dalam pengembangan masyarakat dan pembangunan perlu diorganisasikan menurut kepentingan masing-masing.

Kepada anggota kelompok, baik secara individu maupun kelompok, akan diserahkan tugas-tugas sesuai dengan keperluan pengembangan dan pembangunan. Pengorganisasian anggota kelompok penting, karena partisipasi anggota kelompok dalam kegiatan pengembangan dan pembangunan perlu diarahkan dalam tahap-tahap kegiatan; tahap identifikasi masalah dan kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi (Nasdian, 2014).

Di Indonesia, strategi meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan telah diusung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga melalui program Pengarusutamaan Pemuda (Youth Mainstreaming). Strategi bertujuan untuk meningkatkan peran serta pemuda dalam seluruh aspek kehidupan manusia dan memperhatikan serta melibatkan pemuda kedalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program diberbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Lebih jauhnya, strategi mengarusutamaan (peranserta) pemuda menuntut komitmen setiap pihak untuk memprioritaskan pembangunan kepemudaan dalam setiap proses pembangunan yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai kepada monitoring dan evaluasi, yang dilakukan secara koordinatif, sinergi, dan harmonis (Kemenpora RI, 2010).

(33)

Menurut Sitti (2014), istilah pengarusutamaan mencakup semua kegiatan dan prose komunikasi yang bertujuan untuk melembagakan (institusionalisasi) norma-norma, konsep, panduan dan gambaran baru dalam rangka mengenalkan dan menguatkan rutinitas, prosedur dan ritual baru dalam organisasi. Dengan demikian, partisipasi pemuda merupakan sub-kegiatan dari manajemen perubahan. Tujuan dari pengarusutamaan adalah perubahan paradigma, yang dilakukan melalui tiga pendekatan parallel, komunikasi (Bridging), penamaan identitas (brending), dan pembelajaran (boosting).

2.5 Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbang Desa) Pembangunan yang baik akan terselenggara apabila diawali dengan perencanaan yang baik pula, sehingga mampu dilaksanakan oleh seluruh pelaku pembangunan serta memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk itu, maka proses perencanaan memerlukan keterlibatan masyarakat, diantaranya melalui konsultasi public atau Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Musrenbang merupakan forum konsultasi para pemangku kepentingan untuk menghasilkan kesepakatan perencanaan pembangunan di daerah yang bersangkutan sesuai tingkatan wilayahnya. Penyelenggaraan musrenbang meliputi tahap persiapan, diskusi dan perumusan prioritas program/kegiatan, formulasi kesepakatan musyawarah dan kegiatan pasca Musrenbang. (Siagian:1994)

Musrenbang merupakan wahana utama konsultasi publik yang digunakan pemerintah dalam penyusunan rencana pembangunan nasional dan daerah di Indonesia. Musrenbang tahunan merupakan forum konsultasi para pemangku kepentingan untuk perencanaan pembangunan tahunan, yang dilakukan secara berjenjang melalui mekanisme “bottom-up planning”, dimulai dari musrenbang

(34)

desa/kelurahan, musrenbang kecamatan, forum SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dan musrenbang kabupaten/kota, dan untuk jenjang berikutnya hasil musrenbang kabupaten/ kota juga digunakan sebagai masukan untuk musrenbang provinsi.

Proses musrenbang pada dasarnya mendata aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang dirumuskan melalui pembahasan di tingkat desa/kelurahan, dilanjutkan di tingkat kecamatan, dikumpulkan berdasarkan urusan wajib dan pilihan pemerintahan daerah, dan selanjutnya diolah dan dilakukan prioritisasi program/kegiatan di tingkat kabupaten/kota oleh Bappeda bersama para pemangku kepentingan disesuaikan dengan kemampuan pendanaan.

Pada tingkat desa/kelurahan, fungsi musrenbang adalah menyepakati isu prioritas wilayah desa/kelurahan, program dan kegiatan yang dapat dibiayai dari Alokasi Dana Desa (ADD), diusulkan ke APBD, maupun yang akan dilaksanakan melalui swadaya masyarakat dan APBD Desa, serta menetapkan wakil/delegasi yang akan mengikuti musrenbang kecamatan. Pada tingkat kecamatan, fungsi musrenbang adalah menyepakati isu dan permasalahan skala kecamatan, prioritas program dan kegiatan desa/kelurahan, menyepakati program dan kegiatan lintas desa/kelurahan di wilayah kecamatan yang bersangkutan, sebagai masukan bagi Forum SKPD dan bahan pertimbangan kecamatan, sesuai dengan tugas dan kewenangannya dalam menyusun Rencana Kerja Kecamatan.

Sehubungan dengan hal diatas, sebagai bagian dari proses penyelenggaraan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, maka dalam perencanaan pembangunan perlu dilakukan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang akan membahas dan menyempurnakan

(35)

Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) untuk difinalisasi lebih lanjut sebagai pedoman dalam penyusunan rencana kerja dan anggaran yang merupakan mata rantai dalam proses penyusunan APBD.

Musrenbang adalah sebuah mekanisme yang benar–benar menjadi wadah dalam mempertemukan apa yang dibutuhkan masyarakat dan bagaimana Pemerintah merespon hal tersebut,namun kenyataan yang ada, masyarakat apatis terhadap mekanisme Musrenbang. Apalagi kenyataan yang ada hasil Musrenbang bukan menjadi bagian dari amanah yang akan dijalankan tahun berikutnya, akan tetapi terlihat dan terasa oleh masyarakat begitu banyak program yang terlaksana tanpa melalui musyawarah/proses komunikasi antar masyarakat dan pihak pelaksana.

2.5.1 Prinsip-Prinsip Dalam Pelaksanaan Musrenbang

Prinsip dalam Musrenbang berlaku baik untuk Fasilitator, peserta, narasumber, dan semua komponen yang terlibat dalam pelaksanaan Musrenbang dan hendaknya ini menjadi kesepakatan bersama sehingga Musrenbang benar–

benar menjadi sebuah wadah/forum dalam mengambil keputusan bersama dalam rangka menyusun program kegiatan pembangunan tahun berikutnya. Prinsip- prinsip tersebut adalah:

a. Prinsip kesetaraan:

Peserta musyawarah adalah kelompok masyarakat dengan hak yang setara untuk menyampaikan pendapat, berbicara, dan dihargai meskipun terjadi perbedaan pendapat. Sebaliknya, juga memiliki kewajiban yang setara untuk mendengarkan pandangan orang lain, menghargai perbedaan pendapat, dan juga menjunjung tinggi hasil keputusan bersama.

(36)

b. Prinsip musyawarah dialogis:

Peserta musrenbang memiliki keberagaman tingkat pendidikan, latar belakang, kelompok usia, jenis kelamin, status sosial-ekonomi, dan sebagainya. Perbedaan dan berbagai sudut pandang tersebut diharapkan menghasilkan keputusan terbaik bagi kepentingan masyarakat banyak diatas kepentingan individu atau golongan.

c. Prinsip keberpihakan:

Dalam proses musyawarah, dilakukan upaya untuk mendorong individu dan kelompok yang paling terlupakan untuk menyampaikan aspirasi dan pendapatnya, terutama kelompok miskin, perempuan dan generasi muda.

2.6 Perencanaan Pembangunan Desa 2.6.1 Perencanaan

Menurut Siagian (1994:108), “perencanaan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses pemikiran dan penetuan secara matang dari hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan”. Sedangkan Waterson dalam Conyers (1994:4) mengatakan bahwa pada hakikatnya perencanaan adalah usaha sadar terorganisir dan terus-menerus dilakukan guna memilih aternatif terbaik dari sejumlah alternatif untuk mencapai tujuan tertentu.

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa perencanaan diperlukan untuk merencanakan apa-apa yang hendak dilaksanakan di masa yang akan datang dan perencanaan digunakan untuk memilih alternatif terbaik dari sejumlah pilihan yang ada mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki maka perencanaan

(37)

diperlukan agar pelaksanaan suatu kegiatan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Menurut Abe (2005:31), dalam melakukan suatu perencanaan yang baik maka harus memuat prinsip-prinsip sebagai berikut.

a. Apa yang akan dilakukan, yakni jabaran misi dan visi;

b. Bagaimana mencapai hasil tersebut;

c. Siapa yang akan melakukan;

d. Lokasi aktifitas;

e. Kapan akan dilakukan dan berapa lama;

f. Sumber daya yang dibutuhkan.

Lebih lengkap pendapat yang dikemukakan oleh Syamsi dalam Surjono dan Nugroho (2008:84), bahwa perencanaan yang abaik dan lengkap harus memenuhi 6 (enam) unsur sebagai berikut.

1) Apa (what), yakni mengenai materi kegiatana apa yang akan dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan;

2) Mengapa (Why), yaitu alasan menagapa memilih dan menetapkan kegiatan tersebut dan mengapa diprioritaskan;

3) Bagaimana dan berapa (how and how much), yaitu mengenai cara dan teknis pelaksanaan bagaimana yang dibutuhkan untuk dilaksanakan dan dengan dana yang tersedia harus dipertimbangkan;

4) Dimana (where), yakni pemilihan tempat yang strategis untuk pelaksanaan kegiatan (proyek);

5) Kapan (when), yaitu pemilihan waktu/timing yang tepat dalam pelaksanaannya;

(38)

6) Siapa (who), menentukan siapa orang yang akan melaksanakan kegiatan tersebut. Ini merupakan subyek pelaksana. Kadang-kadang diperlukan juga untuk menentukan siapa yang menjadi obyek pelaksana kegiatan.

Dalam merencanakan pembangunan maka stakeholder utama adalah masyarakat karena masyarakat adalah sasaran utama pembangunan itu sendiri, dengan melibatkan masyarakat dalam perencanaan pembangunan maka pembangunan diharapkan akan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat karena sejatinya, masyarakatlah yang paling mengetahui tentang permasalahan yang mereka hadapi. Maka dari itu untuk menetapkan apa, mengapa, bagaimana, kapan, dimana, berapa, siapa yang melaksanakan dan menjadi sasaran pembangunan maka dalam perencanaan wajib hukumnya melibatkan masyarakat.

2.6.2 Pembangunan Desa

Munculnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, menegaskan bahwa Desa mempunyai otonomi dan berhak mengatur serta mengurus urusan rumah tangganya sendiri yang bersifat lokal dengan tetap mengacu pada pemerintahan di atasnya.

Hal ini diperjelas pada pasal 1 Undang- Undang tersebut yang berbunyi sebagai berikut; Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(39)

Penjelasan dari pasal tersebut menunjukkan bahwa negara mengakui kewenangan desa untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan prakarsa dan kebutuhan masyrakatnya setempat. Selanjutnya, Pembangunan Desa menurut Adisasmita (2006:4) adalah seluruh kegiatan pembangunan yang berlangsung di desa dan meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat serta dilaksanakan secara terpadu dengan mengembangkan swadaya dan gotong royong. Sedangkan tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa berdasarkan potensi dan sumber daya yang dimiliki.

Lebih lanjut, Adisasmita (2006:18) mengemukakan tujuan pembangunan desa sebagai berikut.

a) Tujuan pembangunan jangka panjang adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat desa secara langsung melalui peningkatan kesempatan kerja, kesempatan berusaha, dan pendapatan berdasarkan pendekatan bina lingkungan, bina usaha, dan bina manusia, dan secara tidak langsung adalah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi perusahaan nasional;

b) Tujuan pembangunan jangka pendek adalah untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam kegiatan ekonomi dan pemanfaatan sumber daya alam;

Selain itu, Adisasmita juga mengemukakan pendapatnya tentang pembangunan desa yang seharusnya menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Transparansi;

b. Partisipatif;

(40)

c. Dapat dinikmati masyarakat;

d. Dapat dipertanggungjawabkan;

e. Berkelanjutan.

Berangkat dari penjelasan di atas maka pembangunan desa adalah seluruh kegiatan yang dilakukan masyarakat desa secara gotong royong dan kekeluargaan dengan menumbuhkan semangat swadaya untuk melakukan perubahan demi terciptanya masyarakat desa yang lebih sejahtera dan berkualitas. Namun satu hal yang perlu diingat di dalam proses pembangunan, agar pembangunan itu dapat berhasil dan berjalan sesuai kehendak maka hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat perencanaan yang baik karena tahap awal dari semua proses pembangunan adalah perencanaan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Perencanaan Pembangunan Desa adalah proses kegiatan masyarakat secara bersama-sama dengan pemerintahan desa untuk menentukan apa yang akan dilaksanakan, kapan pelaksanaannya, bagaimana melaksanakannya dan lain-lain, dimana kesemua hal tersebut bertujuan untuk memajukan masyarakat dan mengubah desa menjadi lebih baik.

Perencanaan pembangunan desa dilaksanakan pada sebuah forum yang biasa disebut dengan Musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbang Desa). Di dalam Musrenbang dirumuskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) dengan jangka waktu enam tahun dan Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP Desa) dengan jangka waktu satu tahun. Hasil dari RPJM Desa dan RKP Desa akan dipakai sebagai acuan dalam menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa)

(41)

2.7 Kerangka Berpikir Penelitian

Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Penelitian UU No. 25 Tahun 2004

tentang SPPN

UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa

Perencanaan Pembangunan Desa

Musyawarah Perencanaan Pembangunan

UU No. 40 Tahun 2009 tentang Pemuda

Peran BKPRMI Dalam Perencanaan Pembangunan Desa

Perencanaan Pembangunan partisipatif

Perencanaan Pembangunan Yang Baik

Peran Pemuda Dalam BKPRMI

(42)

3.8. Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah, maka dapat diambil hipotesis secara simultan dan parsial yaitu:

Secara Simultan:

Ho : Pendidikan, pekerjaan, dan pemahaman secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI)

Ha : Pendidikan, pekerjaan, pemahaman secara simultan berpengaruh positif signifikan terhadap partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI)

Kriteria pengambilan keputusan terhadap uji F, adalah sebagai berikut : Jika probabilitas < 0,05, Ha diterima, Ho ditolak

Jika probabilitas > 0,05, Ha ditolak, Ho diterima Secara Parsial:

Ho : pendidikan, pekerjaan, dan pemahaman secara Parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI)

Ha : pendidikan, pekerjaan, pemahaman secara Parsial berpengaruh positif signifikan terhadap partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI)

Kriteria pengambilan keputusan terhadap uji F, adalah sebagai berikut : Jika probabilitas < 0,05, Ha diterima, Ho ditolak

Jika probabilitas > 0,05, Ha ditolak, Ho diterima

(43)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Lubuk Pakam yang merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Dengan mengambil lokasi penelitian di lima desa atau kelurahan yaitu, desa sekip, desa pagar merbau III, desa tanjung garbus, kelurahan syahmad, dan kelurahan pakam III. Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Juni 2017.

3.2 Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan ilmiah dengan menggunakan struktur teori untuk membangun satu atau lebih hipotesis yang membutuhkan pengujian secara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini untuk mengetahui partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) terhadap Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) desa di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang. Jenis penelitian ini adalah penelitian uji hipotesis yang mengambil sampel dari populasi dan menetapkan kriteria sesuai dengan tujuan penelitian.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini meliputi:

1. Data primer, yang diperoleh melalui serangkaian pertanyaan yang diajukan kepada responden baik yang berbentuk kuisioner maupun wawancara.

(44)

2. Data sekunder, diperoleh dari instansi terkait seperti Kantor Desa serta data yang bersumber dari instansi terkait yang mendukung dalam penelitian ini.

3.4 Populasi dan Sampel 3.4.1 Populasi

penelitian ini menganalisis partisipasi badan komunikasi pemuda remaja masjid indonesia (BPRMI) terhadap proses musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) desa dikecamatan lubuk pakam kabupaten deli serdang. Oleh karenanya yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota BKPRMI yang berada dikecamatan lubuk pakam.

3.4.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono; 2006). Dalam pengambilan sampel sebaiknya menggunakan cara-cara yang lebih dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah.

Pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik random sampling atau pengambilan sampel secara acak.

Untuk menentukan besarnya jumlah responden atau sampel, peneliti menggunakan rumus Slovin (Prasetyo; 2005) yaitu :

𝑛 = 𝑁

1 + 𝑁𝑒

2

Keterangan :

n = Ukuran Sampel N = Ukuran Populasi

(45)

e = Batas Toleransi Kesalahan 10% = 0,1. Sehingga didapat jumlah sampel yaitu:

n = 195

1 + 195 (0.1)2 n = 195

2.95 n = 66,10

Dari 195 populasi diperoleh sampel 66 responden. Anggota BKPRMI kecamatan diambil 18 orang dari pengurus harian dan masing-masing 10 orang dari 3 desa/kelurahan dan masing-masing 9 orang dari 2 desa/kelurahan tersebut.

Tabel 3.1 Populasi dan Sampel Penelitian

No. Jenis Populasi dan Sampel Populasi Sampel Persen

1 Anggota BKPRMI Kecamatan 36 18 27,27%

2 Anggota BKPRMI Desa Sekip 45 10 15,15%

3 Anggota BKPRMI Desa Pagar Merbau I 25 10 15,15%

4 Anggota BKPRMI Desa Pagar Merbau III 26 9 13,64%

5 Anggota BKPRMI Kelurahan Pakam III 30 9 13,64%

6 Anggota BKPRMI Kelurahan Syahmad 33 10 15,15%

Jumlah 195 66 100%

Sumber: Hasil Penelitian 2017

3.5 Karakteristik Responden

Dari 66 orang responden yang ada dapat digolongkan kedalam beberapa karakteristik diantaranya, Jenis kelamin, Pendidikan, pekerjaan

Tabel 3.2 Karakteristik Responden

(46)

No Keterangan Jumlah %

1 Jenis Kelamin Laki-laki 25 38 %

100%

Perempuan 41 62%

2 Pendidikan

SD 0 0%

100%

SMP 2 3%

SMA 60 90%

D3/S1 6 7%

3 Pekerjaan

PNS/POLRI 0 0%

100%

Wirausaha 10 15%

Pegawai Swasta 47 71%

Petani 7 11%

Pengangguran 2 3%

3.6 Uji Coba Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan media dalam pengumpulan data. Kuesioner dikatakan reliabel jika jawaban responden konsisten saat diajukan pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda. Untuk menguji kualitas data yang diperoleh dari penerapan instrumen, maka diperlukan uji validitas, dan uji reliabilitas dengan penjelasan sebagai berikut:

3.5.1 Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah (Arikunto: 2006). Uji validitas instrumen dilakukan untuk mengetahui instrumen penelitian mampu mencerminkan isi sesuai hal dan sifat yang diukur, artinya setiap butir instrumen telah benar-benar menggambarkan keseluruhan isi atau sifat bangun konsep yang menjadi dasar

(47)

penyusunan instrumen. Untuk pengujian ini digunakan korelasi product moment (Arikunto: 2006). Kriteria uji validitas secara singkat (rule of tumb) adalah berdasarkan tabel r Product Moment dengan responden 25 orang adalah 0,396.

Jika korelasi sudah lebih besar dari 0,396 pertanyaan yang dibuat dikategorikan valid atau sahih.

3.5.2 uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan dengan menghitung nilai alfa atau dengan Cronbach’s Alfa. Perhitungan Cronbach’s Alfa dilakukan dengan menghitung

rata-rata interkoneksi diantara butir-butir pertanyaan dalam kuesioner. Secara umum sekaran (2000) menyatakan bahwa reliabilitas yang ditentukan oleh nilai Cronbach’s Alfa - kurang dari 0,60 dinyatakan kurang baik. Cronbach’s Alfa

dengan nilai range 0,70 dinyatakan dapat diterima dan nilai lebih dari 0,80 adalah baik.

3.7 Analisis Data

Untuk menganalisis hipotesis pertama adalah faktor tentang pendidikan, pekerjaan, pemahaman dan peraturan. Sangat berpengaruh positif dan siknifikan terhadap partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) digunakan alat analisis regresi linier berganda yaitu (Sudjana: 1996):

Y = a + bX1 + bX2 + bX3 + bX4 + µ Dimana :

Y = Partisipasi BKPRMI (skala) A = konstanta

B = koefisien regresi X1 = Pendidikan (skala) X2 = Pekerjaan (skala)

(48)

X3 = Pemahaman (skala) X4 = Peraturan (skala) µ = Error term

Untuk memudahkan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) terhadap musrenbang desa, setiap variabel bebas dikelompokkan dan diinterpretasikan jenjangnya masing-masing (Yunizar: 2001), sebagai berikut:

1. Pendidikan

Peubah yang diamati dalam tingkat pendidikan formal anggota BKPRMI yang pernah ditempuh oleh responden, seperti tidak sekolah, SD, SMP, SMA, dan Akademisi/diploma serta perguruan tinggi. Pengukuran tingkat pendidikan responden adalah sebagai berikut: Tidak sekolah dan SD diberi skor 1, SMP diberi skor 2, SMA diberi skor 3 dan Akademisi/diploma serta perguruan tinggi diberi skor 4. Interpretasi jenjang skor pendidikan yaitu: skor 1 sampai dengan 2 berarti tingkat pendidikan rendah, skor 3 berarti tingkat pendidikannya menengah dan skor 4 berarti tingkat pendidikannya tinggi.

2. Pekerjaan

Peubah yang diamati adalah pekerjaan yang ditekuni oleh responden, seperti Pengangguran, Pegawai Swasta, Pedagang (Wirausaha) dan PNS/POLRI/TNI. Pengukuran tingkat pekerjaan responden sebagai berikut: Pengangguran diberi skor 1, Petani diberi skor 2, pegawai swasta diberi skor 3, Pedagang (Wirausaha) diberi skor 4, dan PNS/POLRI/TNI diberi skor 5.

3. Pemahaman

Gambar

Gambar 2.1 Tahap-Tahap Partisipasi Masyarakat (Mahalli, 2010) PERENCANAAN
Gambar 4.1. Normal P-Plot of Regression Standardized Residual
Tabel 4.3. Kolmogorov – Smirnov Test
Tabel 4.4. Hasil Uji Multikolinieritas
+7

Referensi

Dokumen terkait

1. Retno Widhiastuti, MS, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah banyak memberikan perhatian, nasihat, arahan dan waktu untuk berdiskusi dengan memberikan semangat secara

Tabel 52 Rerata Durasi Bunyi Silabis Kal_Beh Penutur Laki-Laki Solo Tabel 53 Rerata Durasi Bunyi Silabis Kal_Beh Penutur Perempuan Solo Tabel 54 Rerata Durasi Bunyi Silabis

Pengaruh paparan pestisida (pencampuran dosis, waktu penyemprotan, frekuensi penyemprotan, lama penyemprotan, arah angin, pemakaian alat.. pelindung diri) terhadap

Berdasarkan analisis yang telah dikemukakan sebelumnya, dibuktikan bahwa teknologi informasi dan budaya kerja dengan kompetensi sebagai variabel intervening tidak berpengaruh

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkah dan rahmat Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dalam rangka penulisan

Di Tingkat kelurahan/Desa organisasi ini disebut Dewan Pengurus Kelurahan/Desa Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia yang disingkat DP Kel/Des BKPRMI dan

Hasil estimasi model penelitian untuk mengetahui pengaruh faktor sosial ekonomi dan ekologi terhadap produksi kopi arabika spesialti, dari 14 (empat belas) variabel bebas yang

Untuk meningkatkan kinerja karyawan di RSUD Rokan Hulu dianjurkan untuk meningkatkan efektivitas gaya kepemimpinannya terutama pada aspek memberikan perhatian pada karyawan