MAKALAH BLENDED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN. Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah ICT Pembelajaran. Dosen Pengampu : Saiful Amien, M.

Teks penuh

(1)

MAKALAH

BLENDED LEARNING DALAM

PEMBELAJARAN

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah ICT Pembelajaran

Dosen Pengampu : Saiful Amien, M.Pd

Disusun Oleh :

Marga Kusuma (201310010311017)

Muallifi Khoirul Azwar (201310010311038) Moch.Khoirul Hasbi (201310010311007) Mitha Rizki Amalia (201310010311016) Maya Nur Kumalasari (201310010311094)

JURUSAN TARBIYAH

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

TAHUN 2014

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam dzat yang tak seorangpun dapat menandingi-Nya, yang Maha pengasih kepada seluruh makhluk-Nya, dan yang Maha penyayang kepada hamba-Nya. Karena kasih sayang-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ICT pembelajaran dengan judul “BLENDED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN”.

Sholawat beserta salam semoga tetap tercurahkan kepada pribadi yang sidiq disetiap perkataannya, amanah disetiap tugasnya, tabligh disetiap titipannya, dan cerdas disetiap keputusannya, dialah Nabi Muhammad SAW. Sang pembawa kabar gembira bagi seluruh umat manusia, yang menjadikan sunnah-sunnahnya sebagai pedoman hidup agar selalu mendapat ridlo-Nya.

Tidak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini, dan semoga dapat memberikan manfaat kepada para pembaca khususnya kepada kami dan teman-teman sekalian.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kami sebagai penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, sehingga makalah yang kami tulis bisa menjadi makalah yang sesuai dan memenuhi kriteria dengan kaidah-kaidah penulisan makalah yang baik dan benar dan yang telah ada.

(3)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 1 1.3 Tujuan Penulisan ... 1 BAB II PEMBAHASAN ... 3 2.1 Pendahuluan ... 3

2.2 Konsep Blended Learning ... 4

2.3 Karakteristik Blended Blended e-Learning ... 10

2.4 Penerapan Blended Blended e-Learning ... 13

2.5 Prosedur Blended Learning dalam pembelajaran ... 15

BAB III PENUTUP ... 20

3.1 Kesimpulan ... 20

3.2 Saran ... 20

(4)

1

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ditengah-tengah kehidupan saat ini merupakan suatu kenyataan baru bagi upaya peningkatan mutu pembelajaran di negeri ini. Telah diketahui bersama bahwa, sekian juta jiwa masyarakat kita dari segala tingkatan usia dan kedewasaan yang ada telah dapat menggunakan dan memanfaatkan keberadaan TIK. Hal ini sebagaimana kita dapat perhatikan dengan hadirnya konsep dan aplikasi yang berupa government, e-commerce, e-community, e-learning dan lain sebagainya.

Salah satu permasalahan yang sering dialami seorang guru dan Dosen yang mengasuh pelajaran tingkat lanjut adalah ketidak seragaman dasar pengetahuan yang dimiliki siswa dan Mahasiswa. Pada proses pembelajaran, seringkali guru dan Dosen merasakan ada sebagian siswa dan Mahasiswa yang masih sangat kurang pada materi-materi tertentu sedangkan sebagian lainnya sudah sangat menguasai materi tersebut. Sebagai jalan tengah, banyak guru dan Dosen yang sedikit mereview materi-materi yang dianggap penting tapi kurang dikuasai oleh sebagian siswa dan Mahasiswa tersebut. Hal ini juga sering terbawa ke dalam buku-buku teks dan hand out materi pelajaran dan mata kuliah. Bagi siswa dan Mahasiswa yang sudah menguasai materi tersebut, pengulangan ini dirasakan membosankan dan membuang waktu saja. Tapi bagi mereka yang masih belum memahami, pengulangan yang hanya bersifat review ini sering kali dirasakan masih sangat kurang.

Perkembangan dunia teknologi saat ini telah mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Seiring dengan perkembangannya teknologi ini, dunia pendidikan pun harus mengalami perkembangan. Banyak cara yang dapat digunakan di dalam dunia pendidikan untuk mendapatkan manfaat dari teknologi informasi. Lembaga pendidikan yang makin berkualitas, bahkan bertaraf internasional.

Persaingan dalam bidang pendidikan pun banyak ditemui, tetapi persaingan ini dilakukan secara sehat agar dapat menghasilkan siswa dan mahasiswa yang memliki potensi besar yang memajukan bangsa. Salah satu bentuk persaingan yang ada diantaranya adalah penggunaan teknologi itu sendiri.

(5)

2

Situasi seperti saat ini mendorong berbagai lembaga pendidikan memanfaatkan berbagai macam sistem pendekatan dalam strategi pembelajaran. Pendekatan yang dilakukan dengan memanfaatkan berbagai macam media dan teknologi untuk meningkatkan efektivitas dan fleksibilitas pembelajaran. Sistem ini dikenal dengan istilah blended learning yang memadukan antara pembelajaran tatap muka, pembelajaran Blended Learning offline maupun online dan pembelajaran m-learning. Melalui blended learning sistem pembelajaran menjadi lebih luwes, dan sesuai dengan perkembangan IPTEK.

2.1. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah konsep Blended learning ?

2. Bagaimanakah karakteristik Blended Blended e-learning ? 3. Bagaimanakah penerapan Blended Blended e-learning ?

4. Bagaimanakah prosedur Blended Learning dalam pembelajaran ?

3.1. TUJUAN PENULISAN

1. Untuk mengetahui konsep Blended learning

2. Untuk mengetahui karakteristik Blended Blended e-learning 3. Untuk mengetahui penerapan Blended Blended e-learning

(6)

3

BAB II PEMBAHASAN 1.2 PENDAHULUAN

Dewasa ini perkembangan teknologi begitu pesat, khususnya pada bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Informasi sudah dapat diakses di mana-mana dengan menggunakan media komunikasi atau tanpa media komunikasi. Sehubungan dengan itu, dapat diperkirakan akan terjadi perubahan dalam setiap aspek kehidupan. Kini manusia tidak lagi merasakan keterbatasan-keterbatasan dalam mendapatkan informasi seperti yang mereka rasakan pada zaman dulu karena hal tersebut dapat diatasi dengan penggunaan teknologi. Contohnya Fani yang menjadi seorang TKW di Saudi Arabia, dia memiliki keluaraga di Desa Batu Katak Kabupaten Semarang. Suatu hari, desanya terkena bencana angin puting beliung yang dahsyat. Dengan adanya TIK, Fani akan cepat memeroleh informasi itu karena TIK memudahkan para pengguna dalam mengakses informasi di mana saja dan kapan saja.

Dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner serta terkait pada produktivitas kerja dan kompetitif. Kecenderungan dunia pendidikan di indonesia di masa mendatang adalah: pertama; berkembangnya pendidikan terbuka dengan modus belajar jarak jauh (distance learning). Kedua; sharing resource bersama antar lembaga pendidikan/latihan dalam sebuah jaringan. Ketiga; perpustakaan dan instrumen pendidikan lainnya (guru, laboratorium) berubah fungsi menjadi sumber informasi daripada sekadar rak buku. Keempat; penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif, seperti CD-ROM multimedia, dalam pendidikan secara bertahap menggantikan TV dan Video.1

Pengaruh TIK dalam dunia pendidikan pun semakin terasa karena dengan adanya TIK pola pembelajaran sedikit berbeda. Dari pola tatap muka yang konvensional atau biasa ke arah pendidikan yang terbuka dan bermedia. Dengan adanya teknologi yang bisa jarak jauh, pembelajaran pada masa kini pun ada yang melalui distance learning atau e-learning dengan menggunakan jaringan

1

Dr.Rusman, dkk.2011.pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.hal.240.

(7)

4

Internet. Distance learning yaitu belajar dengan jarak-jauh, namun tanpa interaksi langsung antara guru dan para peserta didik.

Proses pembelajaran diarahkan untuk mewujudkan kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Pembelajaran dengan menggunakan media internet atau dengan distance learning tidak menjadi andalan dalam pembelajaran karena tidak adanya interaksi antara guru dengan murid. Dalam Proses Belajar Mengajar (PBM), tatap muka atau konvensional merupakan proses pembelajaran utama yang dilakukan di sebagian besar sekolah dan perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Namun PBM tatap muka ini cenderung membuat siswa jenuh. Untuk itu perlu adanya inovasi pembelajaran, yaitu dengan menerapkan konsep Blended Learning.2

2.2. Konsep Blended Learning

Secara etimologi istilah Blended Learning terdiri dari dua kata yaitu Blended dan Learning. Kata blend berarti “campuran, bersama untuk meningkatkan kualitas agar bertambah baik” (Collins Dictionary), atau formula suatu penyelarasan kombinasi atau perpaduan (Oxford English Dictionary) (Heinze and Procter, 2006(dalam buku pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi). Sedangkan learning memiliki makna pola pembelajaran yang mengandung unsur pencampuran, atau penggabungan antara satu pola dengan pola lainnya. Apa yang dicampurkan? Elenena Mosa (2006) menyampaikan bahwa yang dicampurkan adalah dua unsur utama, yakni pembelajaran di kelas (classroom lesson) dengan online learning.

Selain blended learning ada istilah lain yang sering digunakan di antaranya blended learning dan hybrid learning . Istilah yang disebutkan tadi mengandung arti yang sama yaitu perpaduan, percampuran atau kombinasi pembelajaran. Supaya tidak membingungkan masalah tersebut pernah dijelaskan oleh Mainnen (2008) yang menyebutkan “blended learning mempunyai beberapa alternatif nama, yaitu mixed learning, hybrid learning, Blended Blended e- learnin dan melted learning (bahasa Finlandia)”. Karena model pembelajaran campuran ini lebih banyak menggunakan blended e-learning pada perkuliahan pada perkuliahan daripada tatap muka atau residensial dari tutorial kunjung, maka

2

http://www.academia.edu/4950884/Contoh_Jurnal_BLENDED_LEARNING_DALAM_PEMBELAJ ARAN

(8)

5

penulis menggunakan istilah Blended Blended e-Learning. Selain itu Heinze (2008) juga berpendapat “A better term for „blended learning‟ is „Blended Blended e-Learning‟”.

Pada perkembangannya istilah yang lebih popular adalah Blended Blended e-Learning dibandingkan dengan blended learning. Kedua istilah tersebut merupakan isu pendidikan terbaru dalam perkembangan globalisasi dan teknologi Blended e-Learning. Zhao (2008) menjelaskan “issu Blended Blended e-Learning sulit untuk didefinisikan karena merupakan sesuatu yang baru”. Walau cukup sulit mendefinisikan pengertian Blended Blended e-Learning tapi ada para ahli dan professor yang meneliti tentang blended Blended e-Learning dan menyebutkan konsep dari Blended e-Learning. Selain itu, pada penelitian Sharpen et.al (2006) ditemukan bahwa “banyak institusi yang telah mengembangkan dengan bahasa mereka sendiri, definisi atau tipologi praktik blended”. Definisi dari Ahmed, et.al (2008) menyebutkan :

Blended Blended e-Learning, on the other hand, merges acpects of blended e-learning such as: web-based instruction, streaming video, audio, synchronous and asynchronous communication, etc : with tradisional, face-to-face” learning.

Definisi lain yang hamper sama yaitu dari Soekartawi (2006) menjelaskan pengertian dari Blended Blended e-Learning yaitu :

One of newest models is called Blended Blended e-Learning (BEL). The model, BEL, is designed basically based on combination of the best acpects of application of information technology blended e-learning, structured face-to-face activities, and real world practice.

Berdasarkan pendapat tersebut, terdapat persamaan antara Blended Blended e-Learning yaitu penggabungan aspek blended e-learning yang termasuk web-based instruction, streaming video, audio, synchronous and asynchronous communication atau aspek terbaik pada aplikasi teknologi informasi blended e-learning, dengan kegiatan tatap muka. Blended Blended e-Learning juga merupakan pendekatan terbaru menurut atau model baru menurut Soekartowi.

Blended learning sebagai kombinasi karakteristik pembelajaran tradisional dan lingkungan pembelajaran elektronik atau blended e-learning, menggabungkan

(9)

6

aspek blended e-learning seperti pembelajran berbasis web, streaming video, komunikasi audio synchronous, dan asynkoronous dengan pembelejaran tradisional “tatap muka”. Pendapat lainnya dipaparkan Bhonk dan Graham (2006) juga mendedfinisikan sebagai berikut : blended learning is the combination of instruction from two historically separate models of teaching and learning: Traditional learning systems and distributed learning systems. It emphasizes the central role of computer-based technologies in blended learning”. (Handjerrouit, 2007). Bhonk dan Graham (2006) menjelaskan bahwa blended learning adalah gabungan dari dua sejarah model perpisahan mengajar dan belajar: sistem pembelejaran tradisional dan sistem penyebaran pembelejaran, yang menekankan peran pusat teknologi berbasis komputer dalam blended learning.

Deskripsi sejarah model perpisahan mengajar dan belajar tersebut juga dijelaskan oleh Heinze dan Procter (2004) sejarah perjalanan blended learning terjadi jika semakin tinggi teknologi yang digunakan maka semakin panjang waktu yang digunakan secara online learning. Pada awalnya pembelajaran tradisional tatap muka, kemudian makin tinggi teknologi maka semakin lama waktu pembelajaran beralih menggunakan elektronik murni (blended e-learning pure) dalam bentuk online. Tapi terjadi kombinasi metode pembelajaran tradisional dengan online (pure blended e-learning). Penjelasan mereka tentang konsep blended learning dijelaskan pada gambar berikut ini :

Dari definisi-definisi yang telah dijelaskan diatas maka dapat dikatakan secara sederhana Blended Blended e-Learning adalah kombinasi atau penggabungan pendekatan aspek blended e-learning yang berupa web-based instruction, cideo

Conception of Blended Learning-adapted from heinze and Procter (2004)

Gambar 2.1

(10)

7

streaming, audio, komunikasi synchronous dan asynchronous dalam jalur blended e-learning system LSM dengan pembelajaran tradisional “tatap muka” termasuk juga metode mengajar, teori belajar, dan dimensi pedagogic. Kesimpulan tersebut sama seperti yang dikemukakan oleh Bhonk dan Graham (2006) yaitu :

a. Combining instructional modalities or delivery media and technologies (traditional distance education, Internet, Web, CD ROM, video/audio, any other electronic medium, email, online books, etc)

b. Combining instructional methods, learning theories, and pedagogical dimensions

c. Combining blended e-learning and face-to-face learning.3

Istilah blended learning (pembelajaran dengan pendekatan campuran) menjadi popular sekitar tahun 2000 dan sekarang banyak digunakan di Amerika Utara, Inggris dan Australia, dan di kalangan akademik sebagaimana di kalangan pelatihan. Makna asli seklaigus yang paling umum bagi blended learning saat ini adalah mengacu pada kombinasi antara pembelajaran online dan pembelajaran tatap muka (face to face). Namun demikian, kombinasi dan teknologi, lokasi atau pendekatan pedagogi lain juga semakin sering diidentifikasikan sebagai blended learning.

Contoh :

Saat teknologi synchronous (sinkron) dan teknologi asyn-chronous (tak sinkron) digunakan bersama dalam program belajar online;

3 Rusman,dkk.2011. Opt.Cit .hal 242

Gambar 2.2 Blended Learning

(11)

8

 Saat kombinasi pembelajaran formal dan pembelajaran in-formal digunakan dalam pengembangan tempat kerja professional;

 Saat mahasiswa mengaksesmateri program belajar dan ber-sumber program belajar dari berbagai lokasi—dari rumah, dari learning centre, dari kampus, dari warnet, dan lain-lain;

 Saat teknologi digunakan untuk merancang ulang pendaftaran program belajar untuk meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya.

Ada penelitian baru yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa blended learning lebih efektif dan mahasiswa bias belajar lebih banyak dan lebih menikmatinya daripada pembelajaran face-to-face saja atau pembelajaran online saja.4 Blended Learning dikatakan menggabungkan kekuatan dan efektivitas dari pendekatan ruang kelas saja dan memungkinkan pembelajar menjadi lebih tersesuaikan dan lebih individualistis, pada saat yang sama memungkinkah jangkauan lebih besar dan pendistribusian pengiriman.

Tanpa perlu ikut-ikutan memasuki perdebatan abadi tentang ”mengajar versus belajar”, implikasi kuat dari istilah “blended learning” adalah :

1) Beragam kesempatan untuk menyajikan sumber-sumber pembelajaran dan cara-cara komunikasi tutor-mahasiswa dan mahasiswa-mahasiswa yang lebihfleksibel dan lebih diinginkan daripada solusi satu-jalur yang sempit; 2) Jika didorong memainkan peran aktif dalam pengembangan pendidikan

mereka sendiri individu pembelajar akan memilih sumber-sumber dan media-media pembelajaran yang beragam dan lebih nyaman sesuai dengan situasi pribadi mereka. Pilihan ini mungkin termasuk alternative (atau pengganti) kuliah dengan webcasts atau CD rekaman atas diskusi nyata dengan diskusi online yang asynchronous, dari artikel digital dengan dibidik jika tidak ada perpustakaan universitas terdekat berisi ribuan buku, atau penyediaan daftar bacaan terstruktur yang memiliki pranala ke jurnal akademik online.

Pertanyaan-pertanyaan yang berulang kali diajukan tentang blended learning umumnya terpusat pada blend (campuran) apa yang terbaik ? Adakah salah satu

4

(12)

9

blend lebih efektif daripada blend yang lain ? Sejauh ini masih ada terlalu sedikit bukti untuk membuat generalisasi yang tepat. Meski demikian, banyak pendidik dan pelatih yang menyimpulkan bahwa jawaban atas pertanyaan itu terletak pada adanya pergeseran budaya. Pergeseran itu menjauhi sekadar pengajaran dan pelatihan, tetapi lebih mengarah ke pembelajaran dan motivasi pembelajar. Pemikiran signifikan bagi perancang program belajar dan analis pendidikan adalah bagaimana merancang blended learning yang optimal, daripada membiarkan keadaan historis, kesempatan, dan pengajar individu membias kea rah mendiktekan pencampuran dari blend itu. Pendekatan ini seharusnya lebih menekankan pada keragaman dalam pengenmbangan bahan pembelajaran,

courseware,assessment dan sumber-sumber pendukung, dan menjadi sinonim

dengan distributed education, meskipun distributed education juga memiliki implikasi geografis yang kuat.

Alternatif yang agak mirip adalah istilah hybrid learning :

Online learning Blended Learning Online Learning

Online sepenuhnya input teknologi input teknologi pembelajaran Tanpa komponen tinggi rendah tradisional dalam kelas Tatap muka

peningkatan penggunaan komponen teknologi dan online

keseluruhan program belajar yang sedikit atau

diberikan melalui platform tertentu tanpa penggunaan teknologi

elearning, misalnya VLE

elearning Gambar 2.3

Deskripsi skematik blended learning.5

5

Robin Mason & Frank Rennie,2010,Elearning (Panduan lengkap memahami Dunia Digital dan Internet), Yogyakarta :PT BACA. Hal 18

(13)

10

2.3. Karakteristik Blended Blended e-Learning

Blended Learning adalah pembelajaran yang tercampur antara tatap muka dan jarak jauh, pembelajaran yang memadukan antara komponen online dan komponen tatap muka. Istilah “Blended learning” masih memiliki sinonim antara lain “adjunct mode” dan hybrid teaching atau hybrid courses” yang kedua-duanya sangat umum di Amerika Serikat. Blended learning merupakan pengembangan lebih lanjut dari metode e-Learning, yaitu metode pembelajaran yang menggabungkan antara sistem e-Learning dengan metode konvensional atau tatap muka (face-to-face).

Pada awalnya istilah blended learning digunakan untuk menggambarkan mata kuliah yang mencoba menggabungkan pembelajaran online terbaik dengan pembelajaran tatap muka terbaik. Saat istilah itu menjadi popular, maka semakin banyak kombinasi yang dirujuk sebagai blended learning. Misalnya: menggabungkan berbagai teknologi, berbagai metode pengajaran, berbagai pengalaman belajar, atau berbagai lokasi kegiatan pembelajaran.6

Gambar 2.4

Komponen Blended-Blended E-Learning (Hadjerrouit:2007)

Blended Blended e-Learning berisi tatap muka, di mana beririsan dengan blended e-learning. Pada blended e-learning terdapat pembelajaran berbasis komputer yang berisikan dengan pembelajaran online. Dalam pembelajaran online terdapat pembelajaran berbasis internet yang di dalamnya ada pembelajaran

(14)

11

berbasis web. Deskripsi tersebut disimpulkan bahwa dalam Blended Blended e-Learning terdapat tatap muka yang beririsan dengan blended e-learning di mana blended e-learning beserta komponen-komponennya yang berbasis komputer dan pembelajaran online berbasis web-internet untuk pembelajaran.

Menurut Sharpen et.al. (2006) Karakteristik Blended Blended e-Learning, adalah:

1. Ketetapan sumber suplemen untuk program belajar yang berhubungan selama garis tradisional sebagian besar, melalui institusional pendukung lingkungan belajar virtual.

2. Transformatif tingkat praktik pembelajaran didukung oleh rancangan pembelajaran sampai mendalam.

3. Pandangan menyeluruh tentang teknologi untuk mendukung pembelajaran. Berdasarkan penjelasan diatas, karakteristik Blended Blended e-Learning adalah sumber suplemen, dengan pendekatan tradisional juga mendukung lingkungan belajar virtual melalui suatu lembaga, rancangan pembelajaran yang mendalam pada saat perubahan tingkatan praktik pembelajaran dan pandangan tentang semua teknologi digunakan untuk mendukung pembelajaran. Penerapan suatu model pembelajaran harus berdasarkan teori belajar yang cocok untuk proses pembelajaran agar kelangsungan proses tersebut dapat sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.

Berdasarkan komponen yang ada dalam Blended Blended e-Learning maka teori belajar yang mendasari model pembelajaran tersebut adalah teori belajar konstuktivisme (individual learning). Karakteristik teori belajar konstruktivisme (individual learning) untuk blended e-learning (Hasibuan, 2006) adalah sebagai berikut:

a. Active learners

b. Learners construct their knowledge c. Subjective, dynamic and expanding

d. Processing and understanding of information e. Learner has his own learning.

Individual learning dalam teori ini pelajar adalah peserta yang aktif, kalau dapat membangun pengetahuan mereka sendiri, secara subjektif, dinamis dan berkembang. Kemudian memproses dan memahami suatu informasi, sehingga

(15)

12

pelajar memilik pembelajarannya sendiri. Pelajar membangun pengetahuan mereka berdasarkan atas pengetahuan dari pengalaman yang mereka alami sendiri. Teori belajar berikutnya yang melandasi model Blended Blended e- learning adalah teori belajar kognitif. Pendekatan kognitif menekankan bagan sebagai satu struktur pengetahuan yang diorganisasi (Brunner, 1990; Gagne et.al., 1993). Menurut Bloom (1956) mengidentifikasi enam tingkatan belajar kognitif yaitu “pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, dan sintesis”.

Teori terakhir adalah teori belajar konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vygotsky. Menurut Vigotsky (1978) adalah sebagai berikut: the way learners construct knowledge, think, reason, and reflect on is uniquely shaped by their relationships with others. He argued that the guidance given by more capable others, allows the learner to engage is levels of activity that could not be managed alone. Konstruktivisme sosial disebut juga collaborative learning. Karakteristik teori belajar tersebut adalah sebagai berikut (Hasibuan, 2006).

Teori ini membuat pelajar membangun pengetahuan, berpikir, mencari alasan, dan dicerminkan dengan bentuk yang unik melalui berhubungan dengan yang lain. Pelajar belajar dari penyelesaian masalah yang nyata, pelajar juga bergabung pada suatu pembangkit-pengetahuan. Pengajar juga masuk ke dalam sebagai pelajar bersama-sama dengan siswanya. Bentuk tugas juga akan diolah dan pengetahuan dinilai dan diciptakan lalu membangun pengetahuan yang baru.

Blended e-Learning memiliki beberapa keunggulan antara lain pendekatan belajar yang beragam, lebih mudah dalam mengakses pengetahuan, terjadi interaksi sosial, bersifat pribadi, menghemat biaya, dan memudahkan dalam revisi.

Pembelajaran berbasis blended learning merupakan pilihan terbaik untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan daya tarik yang lebih besar dalam berinteraksi antar manusia dalam lingkungan belajar yang beragam. Belajar blended menawarkan kesempatan belajar untuk menjadi baik secara bersama-sama dan terpisah, demikian pula pada waktu yang bersama-sama maupun berbeda. Sebuah komunitas belajar dapat dilakukan oleh pelajar dan pengajar yang dapat berinteraksi setiap saat dan di mana saja karena memanfaatkan yang diperoleh komputer maupun perangkat lain sebagai fasilitasi belajar. Blended learning

(16)

13

memberikan fasilitasi belajar yang sangat sensitif dan efektif terhadap segala perbedaan karakteristik psikologis maupun lingkungan belajar.7

2.4 Penerapan Blended Learning

Secara terminologis, Menurut Rosenberg (2000) bahwa blended e-lerning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

Istilah blended e-learning pada awalnya digunakan untuk menggambarkan mata kuliah yang mencoba menggabungkan pembelajaran online terbaik dngan pembelajaran tatap muka terbaik. Misalnya : menggabungkan berbagai teknologi , berbagai metode pembelajaran, berbagai penglaman belajar, atau berbagai lokasi pembelajaran. Kenyataannya, program belajar yang mengandung komponen online sekecil apapun (misalnya: situs web pendukung, akses email ke instruktur, daftar bacaan online) kadang-kadang disebut sebagai elearning. Hal itu juga menggambarkan semua program belajar yang memadukan berbagai media pembelajaran atau berbagai kesempatan pembelajaran: di tingkat paling dasar, mereka melibatkan berpikir, membaca dan pencampuran informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada.

Materi pelajaran yang disampaikan melalui media ini mempunyai grafik, teks, animasi, simulasi, audio dan video. Secara spesifik dalam pendidikan guru blended e- learning memiliki makana sebagai berikut:

a. Blended e-learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan-pelatihan tentang materi keguruan baik substansi materi pembelajaran maupun ilmu pendidikan secara online

b. Blended e-learning tidak berarti menggantikan model balajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan.

c. Blended e-learning menyediakan berbagai seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer.

(17)

14

d. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; dimana guru dan siswa, siswa dan sesama siwa, atau guru dengan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler.

e. Memanafaatkan keunggulan komputer (digital media dan komputer network).

Menurut Haughey (1998) pengembangan belended e-learning, terdapat tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu :

1) Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana antara peserta didik dan guru tidak langsung tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan penilaian, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan model ini dapat meningkatkan “knowledge dan skill” bagi peserta didik.

2) Web centric course adalah penggunaan internet dengan memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi di sampaikanmelalaui internet dan sebagian materi yang lain disampaikan di kelas dengan tatap muka. Dalam model ini pengajar dapat memberikan petunjuk kepada peserta didik untuk mempelajari materi yang sudah di buat dalam webnya. Model ini lebih relevan untuk digunakan dalam pengembangan pendidikan guru, dilihat dari kondisi, kultur yang dimiliki saat ini. Secara substansi materi keguruan identik dengan nilai yang tidak hanya ditransfer melalui pembelajaran tanpa tatap muka, melainkan diperlukan direct learning, sehingga unsur-unsur modeling guru dapat diterima dengan baik.

3) Model web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran. Fungsi internet dalam pembelajaran adalah untuk memberikan pengayaan antara peserta didik dengan guru, sesama peserta didik, anggota kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber yang lain. Oleh karena itu, peran guru disini dituntut untuk menguasai teknik informasi di internet, membimbing mahasiswa dengan menyajikan materi melalui web,

(18)

15

melayani bimbingan melalui internet, dan materi-materi lain yang diperlukan.

Menurut Harmon dan Jones, (2000), terdapat lima level penggunaaan ICT dalam pembelajaran, yaitu :

a) Level-1 information: pada level ini bahan-bahan pembelajaran tidak terlalu banyak yang disajikan melalui ICT, tetapi terbatas pada bahan yang sifatnya informasi untuk menunjang proses pembelajaran bahkan cenderung bersifat administratif dan aturan perkuliahan.

b) Level-2 supplemental: pada level ini sudah memasukkan bahan pembelajaran tetapi sifatnya masih terbatas, belum menguraikan isi pembelajaran secara lengkap, dan materi yang disajikan pokok-pokoknua saja. Misal melalui power point, acrobat reader, file html dan lain sebagainya.

c) Level-3 Essensial: dalam lavel ini hampir semua materi pembelajaran disajikan dalam bentuk web. Dengan demikian, sudah ada ketergantungan penggunaan ICT dalam pembelajaran.

d) Level-4 communal: pada level ini mengombinasikan pola pembelajaran tatap muka atau penggunaan web secara online. Pada pola ini dituntut kemandirian dari para guru untuk mencari dan mengembangkan bahan belajarnya secara mandiri dengan materi-materi yang dikuasainya.

e) Level-5 immersive: pada level ini pembelajaran dilangsungkan secara vitual. Seluruh isi materi pembelajaran disajikan secara online. Level ini memandang pembelajaran mulai dari perekrutan. Proses pembelajaran, sistem evaluasi, dan kelulusan dilangsungkan secara vitual.8

2.5 Prosedur Blanded Learning Dalam Pembelajaran

Peningkatan kualitas guru merupakan salah satu tujuan utama pemerintah Indonesia, Hal tersebut sebagai bentuk realisasi undang-undang guru dan dosen

(19)

16

no. 14/2005 yang mempersyaratkan guru untuk memiliki kualifikasi minimal S-1 dan memiliki sertifikat sebagai pengajar. Kondisi kekurangan masih juga dialami sebagian besar wilayah pada berbagai jenjang pendidikan. Dengan demikian, jumlah kebutuhan guru saat ini, maupun pada masa-masa mendatang sangatlah dibutuhkan.

Kemampuan LPTK yang ada di Indonesia pada saat ini yaitu sejumlah 278 LPTK (termasuk 32 LPTK negeri) belum mampu memenuhi jumlah guru yang dibutuhkan dalam waktu singkat. Dalam hal ini penerapan sistem pendidikan jarak jauh menjadi pilihan utama yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu, pada tahun 2007 Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi dan Direktorat Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan menetapkan 10 LPTK untuk bersama-sama menyelenggarakan sistem pendidikan jarak jauh untuk program peningkatan kualifikasi guru melalui pendidikan S-1 PGSD.

PJJ pada program ini berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi dengan menggunakan internet sebagai media utama, tatap muka dilakukan hanya beberapa kali pada program residensial selebihnya menggunakan program e-learning.

Keberhasilan PJJ PGSD dan sistem pembelajaran jarak jauh yang menggunakan e-learning sebagai alat belajar utama, sangat ditentukan oleh model learning management system (LMS) yang dikembangkan, dan pemerintah bersama pihak terkait masih mencari-cari model LMS yang handal dan mampu mewujudkan profil guru professional, yang memiliki kompetensi kependidikan dan keguruan yang setara bahkan melebihi guru dengan sistem pembelajaran regular.

Model Blended e-learning merupakan kombonasi dari beberapa pendekatan pembelajaran yaitu pembelajaran konvensional berupa tatap muka dan e-learning yang berbasis internet. Bentuk proses pembelajaran dalam PPJ berupa keterpisahan, belajar mandiri dan layanan belajar atau tutorial. Sementara itu, proses keberlangsungannya S-1 PGSD PPJ menggunakan model blended e-learning. Model tersebut harus dapat membuat mahasiswa S-1 PGSD PJJ termotivasi untuk belajar.9

(20)

17 Rekruitmen Tes Seleksi ORIENTASI Perkuliahan di Kampus RESIDENSIAL Pertemuan tatap muka Dosen-Mhs dan perkuliahan TUTORIAL Perkuliahan melalui LMS dan Video

Pembelajaran berbasis blended learning merupakan pilihan terbaik untuk meningkatkan efektivitas, efesiensi dan daya tarik yang lebih besar dalam berinteraksi antar manusia dalam lingkungan belajar yang beragam. Belajar blended menawarkan kesempatan belajar untuk menjadi baik secara bersama-sama dan terpisah, demikian pula pada waktu yang bersama-sama maupun berbeda. Sebuah komunitas belajar dapat dilakukan oleh pelajar dan pengajar yang dapat berinteraksi setiap saat dan dimana saja karena memanfaatkan yang diperoleh computer maupun perangkat lain (iphone) sebagai fasilitas belajar. Blended learning memberikan fasilitas belajar yang sangat sensitive terhadap segala perbedaan karakteristik psikologis maupun lingkungan10.

Seperti yang dikemukakan oleh Gegne (1984) Belajar yang efektif mempunyai kriteria sebagai berikut: a) melibatkan pembelajaran dalam proses

10

http://id.wikibooks.org/wiki/Pembelajaran_Berbasis_Blended_Learning )

GAMBAR 2.5

(21)

18

belajar; b) mendorong munculnya keterampilan untuk belajar mandiri (learn how to learn); c) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pembelajar; d) memberi motivasi untuk belajar lebih lanjut.

Darmodihardjo (1998) mengemukakan bahwa tutor dalam pelaksanaan tugasnya memiliki peran yang meliputi; (1) sebagai motivator, (2) sebagai fasilitator, (3) sebagai pembimbingan dan evaluator, (4) pengembangan materi pelajaran, (5) pengelola proses belajar mengajar, (6) agen pembaruan. Sementara itu Muhammad Zen (2000) mengemukakan bahwa tugas tutor selaku pengajar meliputi; (1) sebagai informator, (2) sebagai organisator, (3) sebagai motivator, (4) sebagai pengarah, (5) sebagai inisiator, (6) sebagai transmiter, (7) sebagai fasilitator, (8) sebagai mediator, (9) sebagai evaluator.11

Konsep Tutorial

Tutorial adalah suatu proses pemberian bantuan dan bimbingan belajar dari seseorang kepada orang lain, baik secara perorangan maupun kelompok. Dalam konsep ini, tutorial merupakan layanan belajar yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dengan karakteristik yang berbeda, seperti dosen yang berfungsi sebagai fasilitator kegiatan belajar bukan sebagai pengajar. Jenis-jenis tutorial yang sediakan adalah tutorial tatap mata (TTM) dan tutorial on-line.

1. Tutorial Tatap Muka

Dalam progam PJJ S1 PGSD ini semua mata kuliah diberikan bimbingan tutorial tatap muka (dilakukan pada masa residensial).Dalam model tutorial tatap muka, dosen diperkenakan untuk membuat model tutorial yang dianggap mampu mengaktifkan atau memancing mahasiswa sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai, karakteristik mata kuliah, karakteristik mahasiswa, serta sarana dan prasarana yang tersedia agar dapat berinteraksi secara maksimal, berikut ini terdapat tiga model tutorial yang merupakan contoh yaitu, model kooperatif-Aktif 1, Model Kooperatif-Aktif 2, dan Model Kooperatif-Aktif 3.

(22)

19 Gambar 2.6 Model kooperatif

KEGIATAN DOSEN LANGKAH KEGIATAN MHS

 Sajian pokok materi

 Siapkan sumber

 Simak sajian dosen

 Manfaatkan sumber Adakan diskusi/

Kerja Kelompok

 Berbagi ide & pengalaman

 Rumuskan kesimpulan Berikan tes atau

adakan silang tanya

 Ikuti tes

Ikuti acara silang tamya Berikan pemantapan

kelompok

Lakukan tindak lanjut

2. Tutorial Online

Tutorial ini dilakukan dengan bantuan jaringan komputer. Model tutorial online adalah model tutorial yang menggunakan jaringan komputer. Materi diberikan dalam bentuk naskah tutorial yang dapat diakses dimana saja mahasiswa berupa tanpa harus bertatap muka dengan tutor. Dalam model ini, tutor harus mempersiapkan naskah tutorial yang memungkinkan terjadinya interaksi antar tutor dan mahasiswa. Selain itu, partisipasi secara aktif dari mahasiswa juga sangat diperlukan karena mempengaruhi nilai akhir tutorial.12

(23)

20

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN

Konsep Blended Learning merupakan salah satu inovasi dalam pembelajaran. Inovasi ini menyangkut pencampuran model belajar konvensional dan model belajar online dengan jaringan internet. Pembelajaran Blended Learning ini adalah model pembelajaran campuran maka teori yang digunakan pun terdiri atas berbagai teori belajar dari beberapa ahli dengan menyesuaikan situasi dan kondisi belajar peserta didik. Teori pembelajaran yang cocok dalam pembelajaran ini salah satunya ialah teori disiplin mental, karena menganggap bahwa para siswa memiliki kekuatan, kemampuan atau potensi-potensi tertentu dan dalam belajar mental siswa didisiplinkan atau dilatih. Namun Blended Learning ini tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengembangan teknologi pendidikan.

3.2 SARAN

1. Hendaknya dalam menerapkan blended learning pendidik dapat memastikan bahwa seluruh pesertanya memiliki sarana dan prasarana yang memadai, sehingga dalam belajar secara mandiri via online tidak banyak hambatan yang dikarenakan oleh faktor sarana dan prasarana yang kurang memadai.

2. Hendaknya pendidik telah menyiapkan solusi terbaik dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang mungkin muncul dalam metode ini. 3. Pembagian materi belajar harus dapat dialokasikan dengan baik, dengan

mempertimbangkan isi bahan ajar, serta tujuan pembelajarannya, mana yang harus dibahas secara tatap muka atau dapat dipelajari secara mandiri. 4. Pendidik juga harus menyiapkan jadwal yang terorganisir untuk tatap

muka dan pembelajaran mandiri diawal, Agar peserta didik mengetahui secara jelas jadwal tersebut.

(24)

21

DAFTAR PUSTAKA

Dr.Rusman, dkk.2011. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

 http://www.academia.edu/4950884/Contoh_Jurnal_BLENDED_LEARNI NG_DALAM_PEMBELAJARAN.

http://www.learning-circuits.org/2003/jul/2003/rossett.htm

Robin Mason & Frank Rennie,2010, Elearning (Panduan lengkap memahami Dunia Digital dan Internet), Yogyakarta : PT BACA.

http://id.wikibooks.org/wiki/Pembelajaran_Berbasis_Blended_Learning

Figur

Gambar 2.2  Blended Learning

Gambar 2.2

Blended Learning p.10
Related subjects :