60
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah “tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan masyarakat tersebut melalui bahasanya, serta peristilahan” (Kirk dan Miller dalam Djajasudarma, 2010: 11). Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif karena tidak didesain berdasarkan hitungan statistik, tetapi berdasarkan model kualitatif (Subroto, 2013: 25). Selanjutnya, data penelitian ini tidak berwujud angka, melainkan berwujud leksem.
B. Data dan Sumber Data
Data untuk penelitian ini berbentuk pasangan leksem verba bahasa Indonesia yang memiliki kesinoniman yang berciri (+INSAN) beserta artinya. Selain itu, digunakan pula beberapa konteks kalimat dalam analisis data sebagai cara untuk menentukan pembeda ciri arti leksem-leksem yang memiliki kesinoniman. Data diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Keempat sebagai data utama. Pemilihan sumber tersebut didasarkan atas empat alasan. Pertama, kamus merupakan khazanah yang memuat kosakata masyarakat penutur bahasa. Kedua, kamus merupakan sumber informasi kosakata yang memadai sehingga dianggap sebagai sumber utama dalam memberikan
kemudahan untuk mengumpulkan pasangan sinonim. Ketiga, kamus menyajikan makna antarkata dan pemakaiannya (Zgusta, 1971: 197). Terakhir, penyusunan kamus memanfaatkan sejumlah teks dalam berbagai bidang kehidupan yang ditulis oleh penulis dari berbagai latar belakang geografis (Wedhawati, 1997: 89 dalam Widiyanto, 2002: 40).
Selain hal di atas, verba beserta artinya terdapat di dalam kamus dan kamus yang digunakan sebagai rujukan utama di Indonesia adalah KBBI Edisi Keempat. Kemudahan dalam pengumpulan data dibandingkan dengan pengumpulan dari sumber lisan, ketersediaan dana, dan ketersediaan waktu juga merupakan alasan pemilihan sumber data tersebut.
Untuk mempermudah dalam penentuan pasangan leksem verba insani yang bersinonim dalam bahasa Indonesia, digunakan Tesaurus Bahasa Indonesia (2007), Tesaurus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (2008), Kamus Sinonim Bahasa
Indonesia (1977), dan Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia (2000). Selain
itu, data yang bersumber dari KBBI edisi sebelumnya, yakni KBBI edisi pertama, edisi kedua, dan edisi ketiga digunakan sebagai data pembanding dalam penelitian ini jika ditemukan kesulitan saat menganalisis data. Data tersebut berfungsi untuk menanggulangi kesulitan ketika menganalisis data yang mengalami perluasan atau penyempitan definisi di dalam KBBI Edisi Keempat.
C. Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian ini adalah deskriptif. Artinya, penelitian hanya menggambarkan ciri-ciri data secara akurat sesuai dengan sifat alamiah itu sendiri
(Djajasudarma, 2010: 16). Selain itu, penelitian ini hanya menggambarkan relasi sinonimi data itu semata.
D. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Berkaitan dengan penelitian deskriptif kualitatif, data dalam penelitian “Kesinoniman Verba Insani dalam bahasa Indonesia” dikumpulkan dengan metode simak dengan teknik catat. Metode simak atau penyimakan karena memang berupa penyimakan: dilakukan dengan menyimak, yaitu menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993: 133). Teknik catat menurut Sudaryanto (1993: 135) merupakan lanjutan dari metode simak, dilakukan dengan pencatatan pada kartu data yang segera dilanjutkan dengan klasifikasi.
Pengumpulan data dilakukan dengan kriteria sebagai berikut. a. leksem yang diberi label ragam bahasa termasuk leksem yang dianalisis.
b. leksem yang menjadi salah satu anggota pasangan sinonim dan diberi label semantik regional termasuk leksem yang dianalisis, misalnya “Jw” yang menunjukkan kata tersebut digunakan dalam bahasa Jawa.
c. penjelasan makna yang memiliki lebih dari satu makna, makna yang diambil sebagai data adalah makna yang bernomor angka Arab “1” atau makna yang bernomor angka Arab selain “1” yang maknanya mengacu pada verba insani. d. contoh penggunaan yang disertakan dalam penjelasan makna diambil sebagai
data untuk memperjelas makna leksem.
Data dikumpulkan dengan membaca sumber data dan mencatatnya di dalam suatu file. Setelah itu, dilanjutkan dengan klasifikasi data dan mencatatnya
di dalam suatu file. Kemudian, file tersebut disimpan di dalam komputer. Data dicatat di dalam file dengan bentuk seperti berikut:
Tabel 3
Contoh Pencatatan Data
No. Data Sumber Data
1. a. kasih v cak beri: siapa yg -- kue ini? b. beri v serahkan sesuatu kepada orang lain
(KBBI, 2013: 631) (KBBI, 2013: 178) 2. a. alih v pindah; ganti; tukar; ubah
b. ganti cak v berganti; bertukar; berpindah: --
kereta api
(KBBI, 2013: 40) (KBBI, 2013: 414
E. Klasifikasi Data
Dalam proses pencarian data, pada beberapa data ditemukan lebih dari satu kesinoniman verba. Namun, pasangan sinonim hanya diambil yang paling dekat sinonimnya. Untuk mempermudah dalam pengolahannya, data perlu diklasifikasikan. Klasifikasi data yang berupa verba insani yang bersinonim dalam bahasa Indonesia dalam penelitian ini yang bersumber dari KBBI Edisi Keempat berdasarkan klasifikasi menurut Collinson (dalam Ullman, 2012: 177) sebagai berikut:
a. Satu kata (baca: leksem) lebih umum daripada yang lain Tabel 4
Contoh Klasifikasi Data Satu Leksem Lebih Umum Daripada yang Lain
No. Data Sumber Data
1. a. aduk v arau b. karau v aduk
(KBBI, 2013: 12) (KBBI, 2013: 625) 2. a. piknik v bepergian ke suatu tempat di luar kota
untuk bersenang-senang dng membawa bekal makanan dsb; bertamasya: hari ini mereka -- ke
Cibodas
b. pelesir v pergi berpelesir; senang berpelesiran
(KBBI, 2013: 1073)
(KBBI, 2013: 1040)
b. Satu kata lebih intens daripada yang lain Tabel 5
Contoh Klasifikasi Data Satu Leksem Lebih Intens Daripada yang Lain
No. Data Sumber Data
1. a. bangkit v bangun (dr tidur, duduk) lalu berdiri:
ia -- dari duduk; ia -- berdiri sambil mempersilakan tamunya duduk
b. bangun v bangkit; berdiri (dr duduk, tidur, dsb): anak itu berkali-kali terjatuh, tetapi ia
selalu dapat -- kembali
(KBBI, 2013: 132)
(KBBI, 2013: 134)
2. a. basmi v tumpas
b. berantas v basmi, babat, habis
(KBBI, 2013: 144) (KBBI, 2013: 176)
c. Satu kata lebih emotif daripada yang lain Tabel 6
Contoh Klasifikasi Data Satu Leksem Lebih Emotif Daripada yang Lain
No. Data Sumber Data
1. a. mohon v minta dengan hormat; berharap supaya mendapat sesuatu: ia -- agar permintaannya dikabulkan
b. minta v berkata-kata supaya diberi atau mendapat sesuatu; mohon: anak itu
merengek-rengek -- dibelikan mainan
(KBBI, 2013: 925)
(KBBI, 2013: 917)
2. a. sanggup v bersedia; mau: saya -- menunaikan
tugas itu
b. sudi v bersedia (akan): kabarnya pihak direksi
-- juga berunding dng wakil buruh
(KBBI, 2013: 1221)
(KBBI, 2013: 1347)
d. Satu kata dapat mencakup penerimaan atau penolakan moral, sedangkan yang lain netral
Tabel 7
Contoh Klasifikasi Data Satu Leksem Dapat Mencakup Penerimaan atau Penolakan Moral, Sedangkan yang Lain Netral
No. Data Sumber Data
1. a. bunting v (dl keadaan) mengandung anak dl perut (biasanya dikatakan bagi binatang); hamil; berbadan dua (bagi manusia)
b. hamil v mengandung janin dalam rahim karena sel telur dibuahi oleh spermatozoa
(KBBI, 2013: 478)
2. a. minggat v kas melarikan diri; pergi tanpa minta izin (berpamitan): beberapa orang tahanan
diketahui -- dr penjara
b. kabur v berlari cepat-cepat; melarikan diri:
pengebut -- dikejar polantas
(KBBI, 2013: 916)
(KBBI, 2013: 597)
3. a. jamah v sentuh; raba; pegang b. raba v jamah
(KBBI, 2013: 561) (KBBI, 2013: 1127)
e. Satu kata lebih profesional daripada yang lain Tabel 8
Contoh Klasifikasi Data Satu Leksem Lebih Profesional Daripada yang Lain
No. Data Sumber Data
1. a. edit v perbaiki naskah; sunting naskah b. sunting v menyunting
(KBBI, 2013: 351)
(KBBI, 2013: 1358)
f. Satu kata lebih literer daripada yang lain Tabel 9
Contoh Klasifikasi Data Satu Leksem Lebih Literer Daripada yang Lain
No. Data Sumber Data
1. a. dekap v peluk; lekap
b. peluk v dekap (pd leher, tubuh, dsb);
(KBBI, 2013: 305) (KBBI, 2013: 1042)
2. a. singgah v berhenti sebentar di suatu tempat ketika dl perjalanan; mampir: kami tidak terus
ke bedugul, tetapi -- dahulu di Kintamani
b. mampir v singgah: dl perjalanan pulang ke
tanah air ia -- di Singapura
(KBBI, 2013: 1312)
(KBBI, 2013: 869)
g. Satu kata lebih kolokial (bersifat keseharian) daripada yang lain Tabel 10
Contoh Klasifikasi Data Satu Leksem Lebih Kolokial Daripada yang Lain
No. Data Sumber Data
1. a. pulang v pergi ke rumah atau ke tempat asalnya; kembali (ke); balik (ke): kapan engkau
-- Semarang?; sudah tengah malam ia belum juga --; -- kpd istri pertama, rujuk dengan
istrinya yang pertama
b. balik v kembali; pulang: kapan ia -- ke
surabaya?
c. kembali v balik ke tempat atau ke keadaan semula; pesawat antariksa itu sudah -- di bumi
(KBBI, 2013: 1114)
(KBBI, 2013: 126)
(KBBI, 2013: 661)
2. a. bikin v cak buat
b. buat v kerjakan; lakukan
(KBBI, 2013: 191) (KBBI, 2013: 211)
h. Satu kata lebih bersifat lokal atau dialek daripada yang lain Tabel 11
Contoh Klasifikasi Data Satu Leksem Lebih Bersifat Lokal atau Dialek Daripada yang Lain
No. Data Sumber Data
1. a. lepit Jk v melepit
b. lipat v patah dua sehingga bidangnya menjadi seperdua (tt kertas, kain, dsb): pisau --
(KBBI, 2013: 818) (KBBI, 2013: 834)
2. a. pirsa Jw v tahu; melihat
b. tahu v mengerti sesudah melihat (menyaksikan, mengalami, dsb): ia -- bahwa saya yg
menolongnya; perkara mesin, dia lebih -- dp saya
(KBBI, 2013: 1081) (KBBI, 2013: 1376)
i. Salah satu dari sinonim termasuk bahasa kanak-kanak Tabel 12
Contoh Klasifikasi Data Salah Satu dari Sinonim Termasuk Bahasa Kanak-kanak
No. Data Sumber Data
1. a. pipis v cak kencing
b. kencing v buang air kecil; berkemih
(KBBI, 2013: 1080) (KBBI, 2013: 667)
F. Metode Analisis Data
Untuk menganalisis data dalam penelitian “Kesinoniman Verba Insani dalam Bahasa Indonesia” digunakan dua metode. Pertama, metode agih dengan
teknik ganti untuk menentukan seberapa jauh pasangan sinonim dapat dipertukarkan. Kedua, metode analisis komponen makna untuk menentukan komponen makna leksem yang bersinonim.
Metode yang digunakan untuk mengulas masalah pertama adalah metode agih dengan teknik ganti. Teknik ganti bertujuan untuk mengetahui kadar kesamaan kelas atau kategori unsur terganti atau unsur ginanti dengan unsur pengganti, khususnya bila tataran pengganti sama dengan tataran terganti atau tataran ginanti (Sudaryanto, 1993: 48). Menurut Macaulay, teknik tersebut merupakan teknik yang terbaik untuk pembatasan sinonim (dalam Ullman, 2012: 178). Alasannya, teknik ganti akan menjawab persoalan seberapa jauh kata-kata yang bersinonim itu dapat dipertukarkan. Jika berterima saat dimasukkan ke dalam konteks kalimat yang berbeda maka leksem-leksem tersebut dapat saling menggantikan dan sebaliknya. Contoh:
(39) Ana telah pulih dari sakit demam berdarah. (40) Ana telah sembuh dari sakit demam berdarah.
Jika dimasukkan ke dalam konteks kalimat yang berbeda menjadi seperti berikut.
(41) Keadaan keuangan perusahaannya telah pulih. (42) *Keadaan keuangan perusahaannya telah sembuh.
Di dalam konteks kalimat (39) dan (40) di atas, kedua kalimat berterima berarti kedua kata dapat saling menggantikan. Akan tetapi, pada konteks kalimat lain, seperti kalimat (41) dan (42) ada kalimat yang tidak berterima, yaitu kalimat (42) sehingga kedua leksem tidak dapat saling menggantikan. Oleh karena itu, terbukti bahwa kata pulih dan sembuh tidak bersinonim mutlak.
Metode kedua untuk mengulas masalah kedua adalah analisis komponen makna. Analisis komponen makna yang digunakan dalam penelitian ini adalah pandangan analisis komponen makna menurut Nida untuk menentukan komponen makna suatu leksem. Nida (1975: 54–61) menjelaskan prosedur analisis komponen makna. Pertama, pada beberapa analisis meliputi penemuan tentatif pada makna yang muncul untuk hubungan dekat dalam arti bahwa mereka merupakan relativitas terdefinisi ranah semantis dengan keutamaan pada membagi nomor komponen bersama. Tahap kedua adalah mendaftar semua jenis spesifik pada acuan beberapa makna yang termasuk ranah pertanyaan. Tahap ketiga, terdiri dari menentukan komponen yang mungkin benar dari makna bentuk yang satu dan yang lainnya tetapi tidak semua bentuk pada pertanyaan. Tahap keempat, terdiri atas menentukan komponen diagnostik yang diaplikasikan pada beberapa makna, jadi makna father „ayah‟ mungkin ditunjukkan memiliki komponen: male „laki-laki‟. Tahap kelima, terdiri dari menentukan pemeriksaan silang dengan data yang diperoleh pada tahap pertama. Tahap keenam, yaitu pendeskripsian sistematik pada fitur diagnostik.
Wedhawati menguraikan bahwa sistem dan struktur medan leksikal dapat ditemukan dengan menganalisis komponen makna butir-butir leksikal pembentuk medan leksikal (2005: 102). Sebelum menentukan komponen makna suatu leksem, diperlukan kalimat diagnostik untuk mempermudah dalam menentukan komponen maknanya. Hal ini didasarkan atas pandangan Lyons (1991: 268) yang menyatakan bahwa medan leksikal terbentuk oleh seperangkat butir leksikal yang berelasi secara paradigmatis dan sintagmatis.
Wedhawati (2000: 262) menyatakan untuk mengecek reaksi semantis (o), (+), dan reaksi (*), digunakan kalimat diagnostik dengan tetapi (but-test, Cruse, 1986: 16-17), sedangkan reaksi semantis (-) dicek dengan kalimat perikutan (entailment, Cruse, 1986: 16-17). Untuk menentukan reaksi semantis (o), (+), dan (*) dalam kalimat ini digunakan kalimat diagnostik dengan tetapi (but-test). Selanjutnya, untuk menentukan reaksi semantis (-) digunakan kalimat perikutan
(entailment). Terakhir, untuk menentukan reaksi semantis (+/-) digunakan kalimat
diagnostik dengan tetapi dan kalimat perikutan. Berikut contoh analisis komponen makna verba pulih dan sembuh.
Interaksi antara pasangan sinonim dan komponen makna INSAN menimbulkan reaksi semantis (+), seperti yang dapat dibaca pada kalimat diagnostik di bawah ini.
(43)
Dia sudah , tetapi itu
Kalimat (43a) tidak berterima secara semantis karena pemakaian tetapi di situ tidak mengungkapkan hubungan perlawanan antara makna klausa pertama dan makna klausa kedua. Kalimat (43b) berterima karena tetapi di situ mengungkapkan hubungan perlawanan antara makna klausa pertama dan makna klausa kedua. Jadi kedua leksem berkomponen makna (+) INSAN.
Reaksi semantis +SELESAI dalam kaitannya dengan pulih dan sembuh, seperti yang dapat dibaca pada kalimat diagnostik berikut. Selesai merupakan situasi kata tersebut sudah selesai dialami.
pulih sembuh pulih sembuh a. *dialami insan b. tidak dialami insan
(44)
Luka Nia , tetapi
Kalimat (44a) tidak berterima secara semantis karena pemakaian tetapi di situ tidak mengungkapkan hubungan perlawanan antara makna klausa pertama dan makna klausa kedua. Kalimat (44b) berterima karena tetapi di situ mengungkapkan hubungan perlawanan antara makna klausa pertama dan makna klausa kedua. Jadi kedua leksem berkomponen makna (+) SELESAI.
Reaksi semantis +SAKIT dalam kaitannya dengan pulih dan sembuh, seperti yang tampak pada kalimat diagnostik berikut.
(45)
Saya sudah , tetapi
Secara semantis, kalimat (45a) tidak berterima karena pemakaian tetapi di situ tidak mengungkapkan hubungan perlawanan antara makna klausa pertama dan makna klausa kedua, sedangkan kalimat (45b) berterima karena pemakaian
tetapi di situ mengungkapkan hubungan perlawanan antara makna klausa pertama
dan makna klausa kedua. Jadi kedua leksem berkomponen (+) SAKIT.
Reaksi semantis (+) SEHAT dalam kaitannya dengan cuci, basuh, seperti yang terlihat pada kalimat diagnostik berikut.
(46)
Saya berusaha , tetapi
pulih sembuh
a. *dari sakit. b. bukan dari sakit.
pulih sembuh a. *sedang dialami. b. selesai dialami. pulih sembuh a. *bertujuan sehat b. tidak bertujuan sehat
Kalimat (46a) tidak berterima karena penggunaan tetapi di sana tidak mengungkapkan hubungan perlawanan antara makna antara klausa pertama dan makna klausa kedua, sedangkan kalimat (46b) berterima karena pemakaian tetapi di situ mengungkapkan hubungan perlawanan antara makna klausa pertama dan makna klausa kedua. Jadi, kedua leksem berkomponen (+) SEHAT.
Reaksi semantis (+) terhadap komponen KESEHATAN dalam kaitannya terhadap leksem pulih dan sembuh dapat dilihat dalam kalimat diagnostik berikut ini.
(47) Kesadarannya sudah , tetapi itu
Kalimat (47a) tidak berterima karena penggunaan tetapi di sana tidak mengungkapkan hubungan perlawanan antara makna antara klausa pertama dan makna klausa kedua, sedangkan kalimat (47b) berterima karena pemakaian tetapi di situ mengungkapkan hubungan perlawanan antara makna klausa pertama dan makna klausa kedua. Jadi, kedua leksem berkomponen (+) KESEHATAN.
Reaksi semantis (-) menandai komponen EKONOMI dalam kaitannya dengan sembuh sebagaimana terlihat pada kalimat perikutan berikut.
(48)
Keadaan ekonominya telah Keadaan keuangan kami belum pulih.
Secara semantis, kalimat (48a) berterima karena kalimat perikutan di atas mengungkapkan hubungan perikutan antara makna kalimat pertama dan kalimat perikutan. Kalimat (48b) tidak berterima karena kalimat perikutan di atas tidak
a. pulih b. *sembuh pulih sembuh a. *digunakan pada bidang kesehatan
b. tidak digunakan pada bidang kesehatan
mengungkapkan hubungan perikutan antara kalimat pertama dan kalimat perikutan. Jadi, leksem sembuh berkomponen -EKONOMI.
Berdasarkan kalimat diagnostik dan kalimat perikutan di atas, dapat ditentukan komponen makna verba yang dianggap bersinonim, yakni pulih dan
sembuh sebagai berikut.
Tabel 13
Contoh Analisis Komponen Makna Pasangan Sinonim Leksem pulih dan sembuh
Dimensi P ENG ALA M ASP EK SIT UA S I KEA DA AN TUJU AN B ID AN G P ENG GU NA AN Komponen Leksem IN S AN S ELESAI SAK IT S EHA T KESEHA TAN EKO NO MI pulih + + + + + + sembuh + + + + + -
Berdasarkan analisis komponen makna di atas, dapat diketahui bahwa leksem pulih dan sembuh memiliki kesamaan komponen yaitu +INSAN, +SELESAI, +SAKIT, +SEHAT, +KESEHATAN dan memiliki perbedaan komponen makna yaitu pulih berkomponen +EKONOMI, sedangkan sembuh berkomponen -EKONOMI. Jadi, kedua leksem tidak bersinonim mutlak karena terdapat perbedaan komponen makna, yakni komponen EKONOMI.
G. Metode Penyajian Hasil Analisis Data
Metode penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini adalah metode formal dan informal. Metode penyajian formal adalah perumusan dengan tanda dan lambang-lambang, sedangkan metode informal dilakukan dengan cara mendeskripsikan data yang telah dianalisis dengan kata-kata atau kalimat (Sudaryanto, 1993: 145).