i
KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA
PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan
Oleh
Miftahul Khoiriah
111-12-138
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
iii
KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA
PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan
Oleh
Miftahul Khoiriah
111-12-138
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
vii MOTTO
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.
(Q.S al-Insyirah: 6)
SELALU OPTIMIS UNTUK MERAIH KESUKSESAN
PERSEMBAHAN
Untuk Orangtuaku (Bapak Ngatno dan Ibu Satini),
Para Saudara-saudaraku, dosen-dosen serta guru-guruku,
Teman-teman seperjuanganku, sahabat-sahabatku,
viii ABSTRAK
Khoiriah, Miftahul. 2016. Konsep Pendidikan Keluarga Perspektif Zakiah Daradjat. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institus Agama Islam Negeri Salatiga. Dr. Asfa Widiyanto, M.A.
Kata Kunci: Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah
Penelitian ini membahas konsep pendidikan Islam dalam keluarga perspektif Zakiah Daradjat. Kajianya dilatarbelakangi bahwa pendidikan keluarga dapat dikembangkan dalam lingkungan keluarga dan sekolah serta hasil dari pendidikan itu dapat diaplikasikan dalam kehidupan mereka. Karena pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama, serta merupakan peletak fondasi awal dari watak dan pendidikan anak. Fokus penelitian (1) Bagaimana konsep pendidikan keluarga perspektif Zakiah Daradjat? (2) Bagaimana relevansi konsep pendidikan Islam dalam keluarga perspektif Zakiah Daradjat. Guna menjawab pertanyaan tersebut peneliti melakukan penelitian literatur yaitu lebih menekankan kata-kata sebagai unit analisis, dibandingkan dengan angka-angka.
ix
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT.yang telah melimpahkan rahmat,
taufik, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua. Sehingga penulis bisa
menjalani kehidupan ini sesuai dengan ridho-Nya. Sholawat dan salam
semoga tercurahkan kepada Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW. atas
limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan judul “ Konsep Pendidikan Keluarga Perspektif Zakiah
Daradjat”. Sesuai dengan rencana.
Ucapan terimakasih tidak lupa penulis sampaikan kepada berbagai
pihak yang telah memberikan motivasi, bimbingan, arahan dan bantuan
dalam menyelesaikan skripsi ini, khususnya kepada:
1. Dr. Rahmat Haryadi, M. Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga
2. Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
IAIN Salatiga.
3. Siti Rukhayati, M.Ag., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam
IAIN Salatiga
4. Dra. Ulfa Susilowati, M.Si selaku Dosen Pembimbing Akademik.
5. Dr. Asfa Widiyanto, M.A selaku pembimbing skripsi yang telah
mengarahkan, membimbing, memberikan petunjuk dan meluangkan
x
6. Bapak dan Ibu dosen IAIN Salatiga yang telah memberikan ilmu,
bagian akademik dan staf perpustakaan yang telah memberikan
layanan serta bantuan kepada penulis.
7. Bapak Ngatno dan Ibu Satini yang senantiasa memberikan dukungan
berupa moril, materil dan spiritual kepada penulis dalam penyusunan
skripsi ini.
8. Keluargaku,, teman-teman kos, sahabat-sahabatku seperjuangan
Mahasiswa “Pendidikan Agama Islam angkatan 2012” yang peneliti sayangi. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per
satu. Terimakasih atas bantuan dan motivasinya.
Semoga kebaikan yang mereka berikan kepada peneliti diberikan
balasan yang terbaik dan lebih baik oleh Allah SWT. Semoga skripsi ini
dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.
Salatiga, 14 September 2016
Penulis
Miftahul Khoiriah
xi DAFTAR ISI
SAMPUL ... i
GAMBAR BERLOGO ... ii
JUDUL ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
PENGESAHAN KELULUSAN ... v
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... vi
MOTTO ... vii
BAB II BIOGRAFI ZAKIAH DARADJAT A. Latar Belakang Keluarga Zakiah Daradjat ... 15
B. Latar Belakang Pendidikan Zakiah Daradjat ... 17
C. Karya-karya Zakiah Daradjat ... 22
xii
4. Pembinaan Kepribadian dan Sosial Anak ... 37
C. Pendidikan Agama dalam Keluarga ... 38
D. Pembentukan Sifat-sifat Terpuji... 40
1. Menghayati Al Akhlakul Mahmudah ... 41
2. Penerapan Al Akhlakul Mahmudah dalam Kehidupan Sehari-hari ... 42
E. Pendidikan Anak Secara Umum ... 43
1. Perkembangan Bahasa ... 44
2. Perkembangan Sosial... 44
3. Perkembangan Agama ... 44
BAB IV RELEVANSI KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT DENGAN PENDIDIKAN ISLAM A. Tinjauan Pendidikan Islam ... 46
B. Analisis Konsep Pendidikan Keluarga Perspektif Zakiah Daradjat ... 54
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Tugas Pembimbing Skripsi
Lampiran 2 Lembar Bimbingan Skripsi
Lampiran 3 Lembar Dokumentasi
Lampiran 4 Daftar Nilai SKK
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak
pernah selesai sampai kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di
dunia ini. Dikatakan demikian, karena pendidikan merupakan bagian dari
kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Hal ini
sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki potensi kreatif dan
inovatif dalam segala bidang kehidupannya (Hasbullah, 2009 :
IX).Pendidikan pada dasarnya adalah sebuah proses transformasi
pengetahuan menuju ke arah perbaikan , pengetahuan, dan penyempurnaan
semua potensi manusia. Oleh karena itu, pendidikan tidak mengenal ruang
dan waktu; ia tidak dibatasi oleh tebalnya tembok sekolah dan juga
sempitnya waktu belajar di kelas. pendidikan berlangsung sepanjang hayat
dan bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja manusia mau dan mampu
melakukan proses kependidikan.
Dalam Islam, tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan adalah
membentuk insan kamil, yakni manusia paripurna yang memiliki
kecerdasan intelektual dan spiritual sekaligus. tujuan seperti ini tidak
mungkin bisa terwujud tanpa adanya sistem dan proses pendidikan yang
baik. Oleh karena itu, para pakar pendidikan Islam kemudian mencoba
merumuskan dan merancang bangunan pemikiran kependidikan Islam
yang diharapkan mampu menciptakan manusia-manusia paripurna, yang
akan mengembang tugas menyejahterakan dan memakmurkan kehidupan
di muka bumi ini (Raqib, 2009 : v).
Belajar dikatakan identik dengan sekolah, padahal sekolah
hanyalah salah satu dari tempat belajar bagi peserta didik. Pendidikan
adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadiaan
manusia yang berjalan seumur hidup. Dengan kata lain pendidikan tidak
hanya berlangsung di dalam kelas tetapi berlangsung di luar kelas.
Pendidikan bukan hanya bersifat formal saja, tetapi mencangkup pula yang
non formal (Zuhairini, 1995 : 149).
Konsep pendidikan Islam mencangkup kehidupan manusia
seutuhnya, tidak hanya memperhatikan segi akidah saja, juga tidak
memperhatikan segi ibadah saja, tidak pula segi akhlak. Akan tetapi jauh
lebih luas dan lebih dalam dari pada itu ( Zakiah Daradjat, 1995 :
35).Pendidikan Islam dimulai dari keluarga (rumah) dimana anak-anak
menerima pengaruh dari apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya
dengan cara meniru dan menerima pelajaran.
Agama Islam adalah agama yang universal, yang mengajarkan
kepada umat manusia berbagai aspek kehidupan, baik duniawi maupun
akhirat.Salah satu diantara ajaran Islam tersebut adalah mewajibkan
kepada umat Islam untuk melaksanakan pendidikan karena menurut ajaran
mutlak yang harus dipenuhi, demi untuk mencapai kesejahteraan dan
kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan demikian itu pula manusia akan
mendapatkan sebagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal dan
kehidupannya (Zuhairini, 1995 : 98).
Pendidikan akhlak wajib dimulai dari lingkungan keluarga yaitu
dengan diberi bimbingan dan petunjuk-petunjuk yang benar agar
anak-anak terbiasa dengan adat dan kebiasaan yang baik, meraka harus dilatih
sejak dini mungkin berperilaku yang baik dari dalam keluarga. Sebab anak
pada saat demikian ini dalam keadaan masih bersih dan mudah
terpengaruhi atau di didik, ia ibarat kertas putih yang belum ada coretan
tinta sedikitpun.Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak, di
lingkungan keluarga pertama-tama anak mendapatkan pengaruh.
Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:
Artinya “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(QS. At Tahrim : 6).
Karena itu keluarga merupakan pendidik tertua yang bersifat
semenjak manusia itu ada. Tugas keluarga adalah meletakkan dasar-dasar
bagi perkembangan secara baik.Keluarga bukan saja bertugas mendidik
anak-anak tetapi sekaligus mampu memerankan anak, dimana anak
diharapkan mampu memerankan dirinya, menyesuaikan diri, mencontoh
pola dan tingkah laku dari orang tua serta dari orang-orang yang berada
dekat dengan lingkungan keluarga. Jadi peran ayah, ibu dan seluruh
anggota keluarga adalah hal yang paling penting bagi proses pembentukan
dan pengembangan pribadi (Nur Ahid, 2010 : 1).
Dengan demikian terlihat betapa besar tanggung jawab orang tua
terhadap anak. Bagi seorang anak, keluarga merupakan persekutuan hidup
pada lingkungan keluarga tempat dimana ia menjadi pribadi atau diri
sendiri. Keluarga juga merupakan wadah pertama bagi anak dalam konteks
proses belajarnya untuk mengembangkan dan membentuk diri dalam
fungsi sosialnya. Disamping itu keluarga merupakan tempat belajar bagi
anak dalam segala sikap untuk berbakti kepada Tuhan sebagai perwujudan
nilai hidup tertinggi.
Pada dasarnya pendidikan di sekolah merupakan bagian dari
pendidikan dalam keluarga, yang sekaligus juga merupakan lanjutan dari
pendidikan dalam keluarga. Disamping itu kehidupan di sekolah adalah
jembatan bagi anak yang menghubungkan kehidupan dalam keluarga
dengan kehidupan dalam masyarakat kelak. Pendidikan di sekolah adalah
bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat (mulai
dari Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi).
Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah yang lahir dan
berkembang secara efektif dan efisien dari dan oleh serta untuk
masyarakat, merupakan perangkat yang berkewajiban memberikan
pelayanan kepada masyarakat dalam mendidik warga negara. Sekolah
dikelola secara formal, hierarkis dan kronologis yang berhaluan pada
falsafah dan tujuan pendidikan nasional (Hasbullahh,2009 : 47).
Terdapat tiga lingkungan yang bertanggung jawab dalam mendidik
anak. Ketiga lingkungan yang bertanggung jawab tersebut adalah keluarga
(kedua orang tua), sekolah (para guru), dan masyarakat (tokoh masyarakat
dan pemerintah) peran dan tanggung jawab dalam bidang pendidikan dari
tiga lingkungan tersebut adalah keluarga memiliki tanggung jawab utama
dan peran pertama dalam bidang pendidikan. Berbagai aspek yang terkait
dalam keluarga selalu mempertimbangkan dengan perannya sebagai
pendidik tersebut.
Zakiah Daradjat (1995:35) berpendapat bahwa pembentukan
identitas anak menurut Islam dimulai sejak anak dalam kandungan, bahkan
sebelum membina rumah tangga harus mempertimbangkan kemungkinan
dan syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat membentuk pribadi
bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup dan pendidikan anak
adalah orang tua (Hasbullah, 2009 : 39).
Menurut Zakiah Daradjat (1995:55) orang tua adalah pembina
kepribadian yang pertama dalam kehidupan anak. Kepribadian orang tua,
sikap dan cara hidup mereka, merupakan unsur-unsur pendidikan yang
tidak langsung yang dengan sendirinya akan masuk kedalam pribadi anak
yang sedang bertumbuh itu.
Penulis mengatakan dalam kaitanya dengan pendidikan Islam di
lingkungan keluarga bahwa yang paling utama dan pertama adalah
lingkungan keluarga karena anak pertama kali mendapatkan didikan dan
bimbingan, juga dapat dikatakan sebagai besar kehidupan anak adalah di
dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak
adalah dalam keluarga atau orang tua. Dan sekolah sebagai suatu
pendidikan formal supaya anak dapat lebih mendapatkan pengalaman yang
banyak dan mendapatkan pendidikan yang teratur dan terencana. Karena
keluarga dan sekolah dalam pendidikan sangat saling berkaitan terutama
dalam pendidikan agama Islam.
Gagasan dan pemikiran Zakiah Daradjat tersebut menarik untuk
diteliti lebih mendalam lagi, maka dari itu penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul: KONSEP PENDIDIKAN
KELUARGA PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT.
Rumusan masalah berisi penegasan mengenai
pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabannya melalui penelitian. Di
dalamnya tercakup keseluruhan ruang lingkup masalah yang akan diteliti
berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah (Maslikhah, 2013 : 302).
1. Bagaimana konsep pendidikan dalamkeluarga perspektif Zakiah
Daradjat?
2. Bagaimana relevansikonsep pendidikan dalam keluarga perspektif
Zakiah Daradjat dengan pendidikan Islam masa kini?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian berisi gambaran yang khusus atau spesifik
mengenai arah dari kegiatan kajian kepustakaan yang dilakukan, berupa
keinginan realitas penelitian tentang hasil yang akan diperoleh. Tujuan
penelitan harus mempunyai kaitan atau hubungan yang relevan dengan
masalah yang akan diteliti.
Adapun tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui konsep pendidikan dalamkeluargaperspektif Zakiah
Daradjat.
2. Untuk dapat mengatahui relevansi konsep pendidikan dalam keluarga
perspektif Zakiah Daradjat dengan masa pendidikan Islam masa kini.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini dapat dikemukakan menjadi dua sisi :
Penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat secara teori, dapat
berguna sebagai sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan
khusunya dunia pendidikan Islam.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Penulis
Menambah wawasan kependidikan terutama dalam bidang konsep
pendidikanIslam dalam keluarga dan sekolah perspektif Zakiah
Daradjat.
b. Bagi Lembaga Pendidikan
1) Sebagai masukan yang membangun guna meningkatkan
kualitas lembaga kependidikan yang ada, termasuk para
pendidik yang ada di dalamnya dan penentu kebajikan dalam
lembaga pendidikan serta pemerintahan secara umum.
2) Dapat menjadi pertimbangan untuk diterapkan dalam dunia
pendidikan pada lembaga-lembaga pendidik yang ada di
Indonesia sebagai solusi terhadap permasalahan pendidikan
yang ada.
c. Bagi Ilmu Pengetahuan
1) Menambah khazanah keilmuan tentang konsep pendidikan
keluarga menurut tokoh Islam sehingga mengetahui pemikiran
tokoh dalam dunia pendidikan.
2) Sebagai bahan referensi dalam ilmu pendidikan sehingga dapat
3) Bagi peneliti berikutnya dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan atau dikembangkan lebih lanjut, serta referensi
terhadap penelitian yang sejenisnya.
E. Metode Penelitian
Istilah metode berasal dari kata Yunani berarti cara atau jalan.
Menyangkut dengan upaya ilmiah, metode dihubungkan dengan cara kerja
yaitu cara kerja untuk dapat memahami, objek yang menjadi sasaran ilmu
yang bersangkutan. Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh
peneliti untuk mendapatkan data dan informasi mengenai beberapa hal
yang berkaitan dengan masalah yang diteliti (Darmawan, 2013:127).
Adapun komponen dalam metode ini adalah :
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan penelitian pustaka (Library Research)
yaitu suatu peenelitian yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu
masalah yang pada dasarnya bertumpuh pada penelaahan kritis
mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan(Subagyo, 1991:
100). Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan
mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur,
catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan
masalah yang dipecahkan (Nazir, 1988: 111).
Sumber data ialah benda, hal atau prang tempat peneliti
mengamati, membaca, atau bertanya tentang data (Arikunto, 2005 :
88). Dalam penulisan skripsi ini, sumber data yang digunakan adalah
sumber data yang relevan dengan pembahasan skripsi. Data yang
terkumpul melalui penelitian ini adalah data yang sesuai denga fokus
penelitian yaitu mengenai konsep pendidikan Islam dalam keluarga
dan sekolah perspektif Zakiah Daradjat.
Adapun sumber data sebagai berikut :
a. Sumber Primer
Merupakan sumber data utama yang digunakan dalam
penelitian ini, data yang diperoleh atau dikumpulkan secara
langsung oleh peneliti dari lapangan. Sumber langsung yang
diperoleh dengan observasi dan wawancara dan buku Pendidikan
Islam dalam Keluarga dan Sekolah karangan Prof. Dr. Hj. Zakiah
Daradjat yang diterbitkan oleh CV Ruhama.
b. Sumber sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau
dikumpulkan oleh peneliti dari sumber-sumber yang telah ada.
Data sekunder disebut juga data tersedia atau sumber tertulis. Data
sekunder berasal dari sumber buku, majalah ilmuah, dokumen
resmi, arsip dan lain-lain. Data-data tersebut berguna untuk
melengkapi data primer.
Oleh karena sumber data yang digunakan dalam skripsi ini
adalah bahan-bahan perpustakaan, maka teknik pengumpulan data
yang di terapkan adalah membaca bagian-bagian terpenting dari bahan
pustaka yang telah disiapkan berdasrkan sub bab yang ada
relevansinya dengan pembahasan, kemudian diadakan analisis
kembali dalam rangka berfikir sistematis, selanjutnya peneliti
tuangkan dalam bentuk konsep atau kesimpulan.
4. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis terhadap data yang sudah terkumpul,
pendekatan yang di gunakan adalah “Deskriptif Analitik” yaitu dengan menggambarkan dan memaparkan konsep pendidikan Islam dalam
keluarga perspektif Zakiah Daradjat kemudian di analisa secara cermat
dengan menggunakan berbagai metode sebagai berikut :
a. Metode Deduktif
Yaitu proses berfikir yang bergerak dari
pertanyaan-pertanyaan umum kepertanyaan-pertanyaan khusus dengan penerapan
Kaidah-kaidah logika. Dalam kaitannya dengan pembahasan kali ini,
Metode deduksi di gunakan untuk memperoleh gambaran detailnya
pemikiran Zakiah Daradjat tentang pendidikan dalam keluarga dan
sekolah.
b. Metode Induktif
Yaitu proses berfikir yang berangkat dari
di tarik generalisasi yang mempunyai sifat umum.Dalam kaitannya
dengan penelitian ini, metode ini di gunakan untuk memperoleh
gambaran yang utuh terhadap pemikiran Zakiah Daradjat tentang
pendidikan keluarga dan sekolah.
F. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman penafsiran terhadap judul
penelitian di atas, maka penulis menjelaskan dari berbagai istilah pokok
yang terkandung dalam judul tersebut, diantaranya sebagai berikut :
1. Konsep
Konsep adalah ide umum, pengertian, pemikiran, renungan, dan
rencana dasar (Jumali, 2004:132). Konsep merupakan abstraksi suatu
ide atau gambaran mental, yang dinyatakan dalam suatu kata atau
simbol.
2. Pendidikan
Menurut UU No. 20 th 2003. Pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara.Pendidikan diartikan juga sebagai proses timbal balik dari
tiap pribadi manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam, dengan
teman dan keluarga (Jumali, 2004 : 18).
Keluarga adalah sebagai wadah pertama dalam pendidikan.
Keluarga ialah sanak saudara, kaum kerabat, orang seisi rumah dan
anak bini (Ahmad Marimba, 1962 : 19).
4. Pendidikan Keluarga
Pendidikan keluarga yaitu pendidikan yang berlangsung dalam
keluarga yang dilaksanakan oleh orang tua sebagai tugas dan
tanggung jawabnya dalam mendidik anak dalam keluarga.
G. Sistematika Penulisan
Sitematika penulisan skripsi terbagi dalam tiga bagian yaitu, yaitu
bagian awal, bagian isi, bagian akhir. Bagian awal terdiri dari sampul,
lembar berlogo, halaman judul, halaman persetujuan pembimbing,
halaman pengesahan kelulusan, halaman pernyataan orisinalitas, halaman
motto dan persembahan, halaman kata pengantar, halaman abstrak,
halaman daftar isi, halaman daftar lampiran.
Bagian inti atau isi dalam penelitian ini, penulis menyusun
kedalam lima bab dengan rincian sebagai berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN
Pada bab pendahuluan ini berisi latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
metode penelitian, penegasan istilah, dan sistematika
penulisan.
Dalam bab ini akan diuraikan menganai : Biografi Zakiah
Daradjat yang memuat tentang latar belakang keluarga,
pendidikan dan karya-karyanya.
BAB III KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF
ZAKIAH DARADJAT
Dalam bab ini akan memaparkan pemikiran Zakiah
Daradjat mengenai konsep pendidikan keluargaperspektif
Zakiah Daradjat.
BAB IV RELEVANSI KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA
PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT DENGAN
PENDIDIKAN ISLAM
Dalam bab ini akan diuraikan pembahasan tentang hasil
penelitian data: relevansikonsep pendidikan dalam keluarga
perspektif Zakiah Daradjat terhadap pendidikan Islam pada
masa kini.
BAB V PENUTUP
Dalam bab terakhir ini akan disajikan tentang kesimpulan
sebagai hasil dari penelitian dan dilanjutkan dengan
saran-saran yang sekiranya dapat dijadikan pikiran bagi yang
BAB II
BIOGRAFI ZAKIAH DARADJAT A. Latar Belakang Keluarga
Dalam Buku Jajat Burhanudin (2002:140) mengatakan bahwa
Zakiah Daradjat dilahirkan di kampung Kota Merak, Nagari Lambah,
Kecamatan Ampek Angkek, Agam, Kotamadya Bukit Tinggi Sumatera
Barat, 6 November 1929. Ayahnya, Haji Daradjat Husain memiliki dua
istri. Dari istri yang pertama, Rafi’ah, ia memiliki enam anak, dan Zakiah adalah anak pertama dari keenam bersaudara. Sedangkan dari istri yang
kedua, HJ Rasunah, ia dikaruniai lima orang anak. Dengan demikian, dari
dua istri tersebut, H. Dradjat memiliki 11 orang anak putra. Meskipun
memiliki dua istri, ia kelihatannya cukup berhasil mengelola keluarganya.
Hal ini terlihat dari kerukunan yang tampak dari putra-putrinya itu. Zakiah
memperoleh perhatian yang besar dari ibu tirinya, sebesar kasih sayang ia
terima dari ibu kandungnya (Abudin Nata, 2005:233).
H. Daradjat yang bergelar Raja Ameh (Raja Emas) dan Rapi’ah binti Abdul Karim, sejak kecil tidak hanya dikenal rajin beribadah, tetapi
juga tekun belajar. Keduanya dikenal aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial.
H.Daradjat ayah kandung Zakiah tercatat sebagai aktivis organisasi
Muhammadiyah. Sedangkan ibunya aktif di Sarikat Islam (PSII). Kedua
organisasi yang berdiri pada akhir penjajahan Belanda ini tercatat sebagai
organisasi yang cukup disegani masyarakat karena kiprah dan
menangani mengolah pendidikan modern serta mengatasi problema sosial
keagamaan dan sebagainya.Sejak kecil Zakiah Daradjat telah ditempa
pendidikan agama dan dasar-dasar keimanan yang kuat . Ia sudah
dibiasakan oleh ibunya untuk menghadiri pengajian-pengajian agama dan
dilatih berpidato oleh ayahnya. Zakiah Daradjat meninggal di Jakarta
dalam usia 83 tahun pada 15 Januari 2013 sekitar pukul 09.00 WIB.
Setelah dislatkan, jenazahnya dimakamkan di Komplek UIN Ciputat pada
hari yang sama. Menjelang akhir hayatnya, ia masih aktif mengajar, ia
sempat menjalani perawatan di RS Hermina, Jakarta Selatan pada
pertengahan Desember 2012.
Jajat Burhanudin (2002:142) mengatakan “Semasa hidup Zakiah Daradjat tidak hanya dikenal sebagai psikolog dan dosen, tetapi juga
mubaligh dan tokoh masyarakat”. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat menyebut Zakiah Daradjat sebagai pelopor psikologi
Islam di Indonesia. Sementara itu, Wakil Menteri Agama Nasaruddin
Umar mencatat, Zakiah Daradjat adalah sosok yang bisa diterima dengan
baik oleh semua kalangan. Umar menambahkan, sosok Zakiah Daradjat
seperti sosok Hamka dalam versi Muslimah.
Dari hasil penelitian Jajat (2002:143) di atas penulis
menyimpulkan bahwa Zakiah Daradjat merupakan sosok pribadi yang
tekun, karena Zakiah mengatakan “jika tiba waktu shalat, masyarakat kampung saya akan meninggalkan semua aktivitasnya dan bergegas pergi
Zakiah bukan dari kalangan ulama atau pemimpin agama. Lingkungan
keluarga Zakiah yang senantiasa dinafasi semangat keIslaman, tak heran
jika Zakiah sudah mendapatkan pendidikan agama dan dasar keimanan
yang kuat. Sejak kecil Zakiah sudah dibiasakan oleh ibunya untuk
menghadiri pengajian-pengajian agama.
B. Latar Belakang Pendidikan
Zakiah pertama kali masuk ke sekolah standars school
Muhammadiyah di bukit tinggi. Di lembaga pendidikan inilah, pertama
kali Zakiah mendapatkan pendidikan agama serta ilmu pengetahuan dan
pengalaman intelektual. Semenjak belajar di lembaga pendidikan ini,
Zakiah telah memperlihatkan minatnya yang cukup besar dalam ilmu
pengetahuan. Hal ini terlihat pada usianya yang baru 12 tahun, Zakiah
telah berhasil menyelesaikan pendidikan dasarnya cukup baik, tepatnya
pada tahun 1941 (Jajat Burhanudin, 2002:140). Kecenderungan, bakat dan
minat Zakiah untuk menjadi ahli agama Islam terlihat jelas pula mengikuti
kuliyatul mubalighat dipadang pajang selama hampir enam tahun.
Dilembaga pendidikan ini, Zakiah memperoleh pendidikan agama secara
lebih mendalam. Namun demikian, perhatiannya terhadap bidang studi
umum, juga tetap besar. Hal ini terlihat pada aktivitas Zakiah dalam
memasuki sekolah menengah pertama negeri (SMPN) dikota yang sama.
Di lembaga pendidikan ini, Zakiah berhasil menyelesaikannya dengan
tepat waktu. Pendidikan yag ia dapati darikedua lembaga ini benar-benar
pendidikan yang lebih tinggi. Sementara itu budaya minangkabau yang
memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada perempuan didaerah
lain, juga memberikan hasil andil cukup besar dalam diri Zakiah.
Setelah selesai menamatkan pendidikan dasar dan menengah
pertama, Zakiah melanjutkan ke sekolah menengah atas pemuda bukit
tinggi. Dilembaga pendidikan ini Zakiah memilih program B, yaitu
program yang mendalami ilmu alam dan selesai sesuatu waktu (Zakiah
Daradjat, 2002:207).
Masuknya Zakiah pada sekolah menengah atas (SMA) dengan
program B tersebut ternyata bukan merupakan petunjuk bahwa ia akan
menjadi ahli ilmu umum, melainkan ilmu umum itu hanya sebagai
pengetahuan yang pada suatu saat dapat digunakan sebagai dasar untuk
memahami agama lebih mendalam lagi. Hal ini terlihat ketika Zakiah
memasuki perguruan tinggi ternyata yang ia pilih adalah perguruan tinggi
agama Islam negeri (PTAIN) Yogyakarta. Bakat dan minat serta dasar
pengetahuan agama dan umum yang cukup ternyata menjadi dasar bagi
Zakiah untuk menyelesaikan studinya dengan baik dan berprestasi
diperguruan tinggi tersebut.
Prestasi yang demikian itu selanjutnya telah membuka peluang
bagi Zakiah untuk mendapatkan tawaran melanjutkan studi di Kairo.
Tawaran tersebut tidak disia-siakan oleh Zakiah. Ia berangkat ke Kairo
psikologi. Sesampainya di Kairo, Zakiah mendaftarkan diri di Universitas
Ain Syam Fakultas Tarbiyah dengan kosentrasi special diploma for
Education, dan Zakiah diterima tanpa tes. Dengan bakal pengetahuan yang
kuat serta didukung oleh ketekunan, semangat dan bakatnya yang besar,
menyebabkan ia berhasil menyelesaikan studinya sesua dengan waktu
yang ditentukan.
Setelah itu Zakiah mengikuti Program Magister pada jurusan
Spesialisasi Kesehatan Mental pada Fakultas Tarbiyah di Universitas yang
sama. Program ini ia selesaikan dalam waktu yang singkat, yaitu selama
dua tahun, dengan tesis yang berjudul Problematika Remaja di Indonesia
(Musykilat al-Muharaqah fi Indonesia).Untuk menuntaskan studi
tingginya Zakiah mengikuti Program Dokter (Ph.D) pada Universitas yang
sama dengan mendalami lagi bidang psikologi, khusunya psikoterapi.
Desertasi yang berhasil disusun dan dipertahankan pada program
doktornya ini adalah “Perawatn Jiwa Untuk Anak-anak (Dirasah tajribiyah li taghayyur al-lati tathrau ala sykhyat al- athfal al- musykil infi’al fi khilal fitrah al-aja al- nafs ghir al- muwajjahann thariq al-la’b) bimbingan Mustafa Fahm dan Atia Mahmoud Hanna. Dengan demikian Zakiah telah
menjadi seorang doktor muslimah pertama dalam bidang psikologi dengan
spesialisasi psikoterapi (Jajat Burhanudin, 2002:146).
Selanjutnya pada tahun 1984, bersama dengan ditetapkannya
sebagai direktur pascasarjana di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di
IAIN. Karena itu secara akademis lengkap sudah ia sebagai ilmuwan yang
memiliki keahlian yang handal dalam bidangnya. Namun demikian,
Zakiah tetap seorang yang rendah hati, sabar, lemah lembut dan tidak
tinggi hati (Jajat Burhanudin, 2002:143).
Melihat kemampuan yang dimiliki Zakiah yang demikian itu, maka
pada tahun, 1967 Zakiah dipercaya oleh Syaifuddin Zuhri selaku mentri
agama Republik Indonesia untuk menduduki jabatan sebagai kepala dinas
penelitian dan kurikulum perguruan tinggi di biro perguruan tinggi dan
pesantren luhur departemen agama (Zakiah Daradjat,2002:209). Tugas ini
berlangsung hingga jabatan mentri agama dipegang oleh A.Mukti Ali pada
masa kepemimpinan Mukti Ali inilah Zakiah Daradjat dipromosikan untuk
menduduki sebagai direktur perguruan tinggi Agama Islam (Dinpartais)
Departemen Agama. Dengan demikian, ia telah menjadi seorang ilmuwan
dan sekaligus biokrat pendidikan. Jabatan sebagai derpatais ini telah
dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Zakiah Daradjat melalui pengembangan
dan pembaharuan dalam bidang pendidikan. Hal demikian sejalan pula
dengan kebijakan pemerintah orde baru yang berusaha melakukan
pembaharuan dalam berbagai kehidupan, termasuk dalam bidang
pendidikan.Adalah satu gagasan pembaharuan yang monumental yang
hingga kini masih terasa pengaruhnya dalam keluarnya surat keputusan
bersama tiga mentri, yaitu mentri agama republik Indonesia, mentri
Lahirnya SKB tiga mentri ini tidak bisa dilepaskan dari peran yang
dilakukan oleh Zakiah Daradjat.
Dengan SKB tiga mentri ini terjadi perubahan dalam bidang
pendidikan Madrasah (Jajat Burhanudin, 2002: 153). Diantara perubahan
tersebut bahwa kedalam Madrasah diberikan pengetahuan umum sebanyak
70 persen dan pengetahuan agama sebanyak 30 persen. Dengan demikian
kurikulum mengalami perubahan yang amat signifikan, dan dengan
demikian lulusnya dapat diterima di perguruan tinggi umum sebagaimana
telah disebutkan diatas. Lulusan Madrasah Aliyah produk SKB3 mentri ini
terjadi pada tahun 1987, dan diantaranya ada yang diterima kuliah di
Institut Pertanian Bogor (IPB). Upaya lainnya yang dilakukan oleh Zakiah
Daradjat adalah peningkatan mutu pengolahan (administrasi) dan
akademik madrasah-madrasah yang ada di Indonesia. Untuk di zaman ini
telah muncul apa yang disebut sebagai Madrasah Model.
Selanjutnya Zakiah Daradjat juga berupaya menyelesaikan kasus
ujian guru agama (UGA) yang cukup menggegerkan pada saat ini.
Pembaharuan dan penerbitan perguruan tinggi agam Islam seperti haknya
Institute Agama Islam Negeri juga mendapatkan perhatian Zakiah
Daradjat. Pada zamanya brhasil disusun rencana induk penegmbangan
(RIP) IAIN untuk jangka waktu selama 25 tahun yang berfungsi sebagai
landasan bagi pengembangan IAIN dalam jangka panjang (Jajat
Pengalaman Zakiah Daradjat sebagai direktur perguruan tinggi
agama serta berbagai konsep serta teorinya dalam bidang pendidikan telah
mendorongnya untuk mengaplikasikannya melalui lembaga pendidikan
yang didirikan dan dikelolanya. Lembaga pendidikan yang ia
selenggarakan mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah
menengah atas dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Lembaga
pendidikan yang ada di Desa Pisangan kecamatan Ciputat Tengerang
Banten itu, bernaung di bawah yayasan yang bernama Ruhama.
Dari penelitian diatas penulis mengatakan bahwa Zakiah Daradjat
adalah sosok multimendimensi. Ia tidak hanya dikenal sebagai tokoh
psikolog, tetapi juga mubaligah dan sekaligus pendidik. Zakiah merupakan
satu-satunya perempuan yang dikirim studi ke Mesir karena kepintarannya
dan minatnya untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih
tinggi. Sehingga Ia mendapatkan mewujudkan keinginannya.
C. Karya-karya Zakiah Daradjat
Zakiah Daradjat(1975:3) Sebagai salah seorang itelektual beliau
banyak mengadakan penelitian tentang kesehatan mental dan pembinaan
pendidikan agama di Indonesia. Welly Catur (2011: 12) Adapun di antara
hasil karya dan terjemahan beliau adalah :
a. Penerbit Bulan Bintang
1) Ilmu Jiwa Agama
3) Problema Remaja di Indonesia
4) Perawatan Jiwa untuk Anak-anak
5) Pembinaan Nilai-nilai Moral di Indonesia
6) Perkawinan yang Bertanggung Jawab
7) Islam dan Peranan Wanita
8) Peranan IAIN dalam Pelaksanaan P4
9) Pembinaan Remaja
10) Ketenangan dan Kebahagiaan dalam Keluarga
11) Pendidikan Orang Dewasa
12) Menghadapi Masa Manopoase
13) Kunci Kebahagiaan
14) Membangun Manusia Indonesia yang Bertaqwa Kepada Tuhan
YME.
15) Kepribadian Guru
16) Pembinaan Jiwa/ Mental
b. Penerbit Gunung Agung
1) Kesehatan Mental
2) Peranan Agama dalam Kesehatan Mental
3) Islam dan Kesehatan Mental
c. Penerbit YPI Ruhama
1) Shalat Menjadikan Hidup Bermakna
2) Kebahagiaan
4) Puasa meningkatkan Kesehatan Mental
5) Doa Menunjang Semangat Hidup
6) Zakat Pembersih Harta dan Jiwa
7) Remaja, Harapan dan Tantangan
8) Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah
9) Shalat untuk Anak-anak
10) Puasa untuk Anak-anak.
d. Penerbit Pustaka Antara
1) Kesehatan Jilid I, II, III
2) Kesehatan (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) Jilid IV
3) Kesehatan Mental dalan Keluarga
Dari hasil penelitian di atas penulis mengatakan bahwa dari
kegemarannya menulis Zakiah telah banyak menulis buku-buku yang
bermanfaat. Beberapa buku yang ditekuni oleh Zakiah adalah menulis
BAB III
KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT
A. Keluarga Sebagai Wadah Pertama Pendidikan
Zakiah Daradjat (1995:41) mengatakan bahwa Pembentukan
identitas anak menurut Islam, dimulai jauh sebelum anak itu diciptakan.
Nur Ahid (2010:100) bahwa keluarga merupakan pendidikan informal,
tugas keluarga adalah meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan anak
berikutnya, agar anak dapat berkembang secara baik. Karena keluarga
sebagai lingkungan pendidikan yang pertama sangat penting membentuk
pola kepribadian anak.
Menurut Murni (1984:34) mengatakan pada umumnya pendidikan
dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan
pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara
kodrati suasan dan strukturnya memberikan kemungkinan alami
membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat
adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal
balik antara orang tua dan anak. Islam memberikan berbagai syarat dan
ketentuan pembentukan keluarga, sebagai wadah yang akan mendidik
anak sampai umur tertentu yang disebut baligh-berakal. Karena itu perlu
kita singgung sedikit syarat-syarat pembentukan keluarga (Zakiah
Daradjat, 1995:42).
a. Larangan menikah dengan wanita yang dalam hubungan darah dan
kerabat tertentu. Hal ini dilarang, karena dapat melahirkan
anak-anak yang kurang cerdas akalnya atau ediot.
b. Larangan menikah dengan orang yang berbeda agama. Larangan
ini disebabkan karena sulitnya mewujudkan rumah tangga yang
sakinah yang disebabkan karena kedua orang tua dalam rumah
tangga tersebut berbeda-beda agamanya. Seorang anak yang
dilahirkan dalam keluarga yang berbeda agama akan kebingunan
dalam mengikuti agama kedua orang tuanya. Selanjutnya, jika
timbul permasalahan dalam keluarga tersebut akan sulit
dipecahkan, karena masing-masing agama memiliki konsep
pemecahan yang berbeda.
c. Larangan menikah dengan orang yang berzina. Larangan ini
dilakukan karena sang suami sulit mendapatkan ketenangan. Suami
selalu dibayangi oleh kemungkinan istrinya menyeleweng atau
selingkuh dengan laki-laki lain. Dengan demikian larangan ketiga
hal tersebut diatas karena didasarkan keinginan menciptakan rumah
tangga yang sakinah yang sehat yang memungkinkan dapat
melahirkan putra putri yang cerdas, taat kepada Allah dan
rasul-Nya, taat kepada kedua orangtuanya serta berakhlak mulia.
2. Syarat-syarat Pernikahan
a. Suka sama suka (saling mencintai)
c. Dihadiri oleh saksi
d. Mengucapkan ijab kobul
e. Memberi maskawin serta
f. Memiliki kesiapan mental spiritual, lahir batin, jasmani dan rohani.
Setelah syarat-syarat bagi kedua calon suami istri itu dipenuhi,
maka dilaksanakanlah pernikahan menurut ketentuan yang diwajibkan
Allah. Setelah mereka diikat oleh tali perkawinan, maka masing-masing
pasangan suami istri mempunyai hak dan kewajiban yang ditentukan.
Mereka dibekali dengan beberapa petunjuk dalam mendayungkan bahtera
kehidupan dengan kasih sayang dan kepatuhan kepada ketentuan Allah,
agar mereka dapat meraih ketentraman dan kebahagiaan (sakinah). Firman
Allah syarat Ar Rum ayat 21:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.
Dalam buku Zakiah Daradjat (1995:44), dijelaskan bahwa Setelah
terbentuknya keluarga muslim yang memenuhi persyaratan yang
keturunan, beberapa petunjuk dan pedoman yang membantu terciptanya
kehidupan sakinah pun telah dipahami dan dilaksanakan maka selanjutnya
keluarga tersebut memohon kepada Allah swt.supaya mereka dikaruniani
anak atau keturunan yang saleh.
3. Kewajiban Suami
a. Memberi nafkah keluarga
b. Perlindungan terhadap keluarga
c. Kasih sayang
d. Dan tanggungjawab atas keamanan keluarga
4. Kewajiban Istri
a. Menjaga dan mengatur rumah tangga dan harta benda milik
bersama
b. Menjaga dirinya
c. Merawat dan membimbing putra putrinya di rumah
d. Serta memberikan kasih sayang dan menyusuianya
Penulis menyimpulkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin
antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan
membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal. Keluarga
adalah umat kecil yang memiliki pimpinan dan anggota, mempunyai
pembagian tugas dan kerja, serta hak dan kewajiban bagi masing-masing
anggotanya. Perkawinan menjadi salah satu bagian penting masalah
keagamaan. Sebab setiap agama berbicara tantang perkawinan dan
pemelukknya. Kehidupan keluarga apabila diibaratkan sebagai satu
bangunan, demi terpeliharanya bangunan itu dari hantaman badai dan
guncangan gempa.
Zakiah Daradjat (1995:53) mengatakan Setelah terbentukya
keluarga muslim yang memenuhi persyaratan yang ditentukan Allah dan
siap mendapatkan keturunan ada beberapa petunujuk dan pedoman yang
membantu terciptanya kehidupan sakinah, selanjutnya adalah petunjuk
do’a yang baik diucapkan dari Allah. 1. Masalah Kejiwaan
Masalah kejiwaan menampilkan diri dalam berbagai bentuk, ada
yang dalam ketidaktentraman batin, cemas, gelisah, takut, sedih, marah,
bimbang, tertekan, frustasi, rasa rendah diri, rasa sombong, tidak percaya
diri, pesimis, putus asa dan sebagainya. Keadaan tidak tenteram itu boleh
jadi disertai oleh tidak dapat tidur, hilang nafsu makan, sulit buang air,
atau tidak mampu mengandalikan (Zakiah Daradjat,1995a:45).
Selanjutnya keadaan jiwa yang tidak tenteram dapat
mempengaruhi kemampuan berpikir, sehingga orang menjadi pelupa, tidak
dapat berkonsentrasi (memusatkan pikiran), sulit melanjutkan pemikiran
yang teratur, malas, lesu, bosan, cepat lelah, mudah dipengaruhi orang,
sulit belajar dan sulit berprestasi, baik dalam belajar maupun bekerja dan
sebagainya. Faktor luar, di antaranya perubahan nilai dan keadaan
sosial-ekonomi yang menyebabkan orang kehilangan pegangan atau sulit
sangat cepat di bidang fisik, tetapi kurang dibidang nilai dan agama, serta
kejiwaan pada umumnya.
Kemajuan lahiriah dapat dirasakan keuntungan dan kesenanganya
secara nyata, dapat dilihat, diraba dan dinikmati. Sehingga orang mudah
tertarik untuk mengejarnya, tanpa memperhitungkan nilai, koral, kaidah
dan ketentuan agama, sehingga orang telah melepaskan nilai-nilai lama,
tetapi belum menemukan nilai-nilai lama, tetapi belum menemukan nilai
baru yang kuat dan mantap.Akibat ketidakseimbangan kemajuan lahiriah
dan batiniah itu, menyebabkan orang tidak mampu mengendalikan diri dan
mudah terpengaruh oleh kesenangan-kesenangan semua yang dapat
dijangkaunya.
Jiwa yang halus dan hati yang lembut penyayang dapat berubah
menjadi kasar, kesal maupun kejam, sehingga terjadilah berbagai
kekejaman, kekasaran dan kejahatan yang berat. Disamping itu terdapat
pula gejala-gejala kejiwaan yang mengarah kepada penyakit kejiwaan
yang berat (Zakiah Daradjat, 1995b:46).
2. Peranan Ibu dalam Keluarga
Menurut Zakiah Daradjat (1995:46) Keluarga adalah wadah
pertama dan utama bagi pertumbuhan dan pengembangan anak. Jika
suasana dalam keluarga itu baik dan menyenangkan, maka anak akan
tumbuh dengan baik pula. Jika tidak, tentu akan terhambatlah
pertumbuhan anak tersebut. Peranan ibu dalam keluarga amat penting.
anggota keluarga, menjadi mitra sejajar yang saling menyayangi dengan
suaminya. Murni (1984:34) mengatakan Ibu merupakan orang yang
mula dikenal anak, yang mula menjadi temannya dan yang
mula-mula dipercayainya. Apapun yang dilakukan ibu dapat dimanfaatkannya,
kecuali apabila ia ditinggalkan.
Di antara langkah penciptaan suasana yang baik itu adalah usaha
menciptakan terwujudnya saling pengertian, saling menerima, saling
menghargai, saling mempercayai dan saling menyayangi di antara
suami-istri dan antara seluruh anggota keluarga. Dengan pengertian, penerimaan,
penghargaan, kepercayaan dan kasih sayang yang dilandasi oleh keimanan
yang mendalam, yang terpantul ke dalam kehidupan sehari-hari, maka
akan dapatlah dihindarkan berbagai masalah negatif yang kadang-kadang
terjadi dalam tindakan dan sikap masing-masing atau salah seorang
(suami-istri). Suami akan bekerja dengan tenang dan penuh gairah, dalam
menghadapi tugasnya, ia tidak akan pernah berpikir mencari sesuatu yang
tidak di ridhoi Allah. Demikian juga istri, dengan hati lembutnya yang
penuh keimanan, dapat menerangi suasana keluarga sehingga menjadi
cerah ceria. Suasana keluarga itu merupakan tanah subur bagi penyemaian
tunas-tunas muda yang lahir dalam keluarga itu (Zakiah
Daradjat,1995c:47) .
Penulis menyimpulkan bahwa seorang ibu yang bijaksana tahu hak
ana-anaknya dengan baik, bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani
anak.
Dan tanggung serang ibu terhadap masa depan anak yang dimana
ibu juga mengikut sertakan anak dalam berbagai kegiatan seperti
membaca, memperbaiki alat rumah, dan cara bersosialisasi dengan
masyarakat sekitar.
B. Pembentukan Kepribadian Anak
Berbahagialah anak yang lahir dan dibesarkan oleh ibu yang saleh,
penyayang dan bijaksana (Zakiah Daradjat,1995d:53). Kerana
pertumbuhan kepribadian anak terjadi melalui seluruh pengalaman yang
diterimanya sejak dalam kandungan. Ibu yang baik, saleh dan penyayang
sejak semula, sebelum mengandung ia telah memohon kepada Allah agar
dikaruniai anak yang saleh yang berguna bagi bangsa, negara dan
agamanya. Bila ia mulai mengandung, hatinya gembira menanti kelahiran
bayinya. Sejak dalam kandungan, janin itu mendapat pengaruh yang
menyenangkan dan menjadi unsur positif dalam kepribadianya yang akan
bertumbuh kelak.
Waktu dalam kandungan janin mendapatkan pengaruh sikap dan
perasaan ibu terhadapnya, melalui saraf-saraf pada rahim ibu. Maka, sikap
positif ibu terhadap janin dan ketenteraman batin dalam hidup,
menyebabkan saraf-saraf bekerja lancar dan wajar, karena tidak ada
kegoncangan jiwa yang menegangkan. Hubungannya dengan suaminya
berbagai kesiapan dan perlengkapan sesuai kemampuan yang ada padanya.
Dengan demikian unsur-unsur dalam pertumbuhan kepribadian anak yang
akan lahir cukup baik dan positif, yang nanti menjadi dasar pertama dalam
pertumbuhan selanjutnya setelah lahir.
Pendidikan anak pada dasarnya adalah tanggung jawab orang tua.
Hanya karena keterbatasan kemampuan orang tua, maka perlu adanya
bantuan dari orang yang mampu dan mau membantu orang tua dalam
pendidikan anak-anaknya, terutama dalam mengajarkan berbagai ilmu dan
keterampilan yang selalu berkembang dan dituntut pengembangannya bagi
kepentingan manusia. Pada umunya pendidik muslim menjadikan
Luqmanul Hakim sebagai contoh dalam pendidikan, di mana nasihatnya
kepada anaknya terdapat dalam surat Luqman ayat 12-19. Allah
mengatakan Luqman dikaruniai-Nya hikmah dan bijaksana (Zakiah
Daradjat,1995e:54).
Penulis menyimpulkan bahwa kepribadian anak tergantung pada
kondisi keluarganya. Terutama yang terletak pada sosok ibunya, karena
anak pertama kali yang dikenalnya adalah ibunya. Anak akan meniru
semua kegiatan yang dilakukan oleh ibunya baik dari segi perilaku
maupun perkataan.
1. Pembinaan Iman dan Tauhid
Pembentukan iman seharusnya mulai sejak dalam kandungan,
sejalan dengan pertumbuhan kepribadian. (Zakiah Daradjat,1995f:54)
menunjukkan bahwa janin yang dalam kandungan, telah mendapat
pengaruh dari keadaan sikap dan emosi ibu yang mengandungnya.
Luqmanul Hakim orang yang diangkat Allah sebagai manusia contoh
dalam pendidikan anak, telah dibekali oleh Allah dengan iman dan
sifat-sifat terpuji, di antaranya syukur kepada Allah, yang sudah pasti beriman
dan bertaqwa kepada-Nya.
Oleh karena itu, pendidikan iman terhadap anak, sesungguhnya
telah dimulai sejak persiapan wadah untuk pembinaan anak, yaitu
pembentukan keluarga, yang syarat-syaratnya ditentukan Allah di dalam
beberapa ayat di antaranya :
a. Persyaratan keimanan
b. Pesyaratan akhlak
c. Persyaratan Tidak ada Hubungan Darah.
Setelah persyaratan itu dipenuhi, maka hubungan kedua calon
suami istri diikat dengan tali pernikahan yang ditentukan Allah. Kemudian
kehidupan dan hubungan antara suami dan istridiatur pula dengan hak dan
kewajiban masing-masing yang dipedulikan. Si anak mulai mendapat
bahan-bahan atau unsur-unsur pendidikan serta pembinaan yang
berlangsung tanpa disadari oleh orang tuanya.
Penulis menyimpulkan bahwa pendidikan iman dan tauhid
dilakukan dengan kata-kata yang baik dan dengan perilaku yang baik juga.
kandungan. Contohnya dengan kebiasaan orang tua yang sering
mengucapkan basmalah dan hamdalah.
2. Pembinaan Akhlak
Menurut Deden (2013:139) Akhlak merupakan amal perbuatan
yang sifatnya terbuka sehingga dapat menjadi indikator seseorang apakah
seorang Muslim yang baik dan buruk. Akhlak ini merupakan buah dari
akidah dan syariah yang benar dan secara mendasar, akhlak ini erat dengan
kejadian manusia yaitu pendipta dan yang diciptakan. Akhlak adalah
implementasi dari iman dalam segala bentuk perilaku. (Zakiah
Daradjat,1995g:58) Diantara contoh akhlak yang diajarkan oleh Luqman
kepada anaknya adalah :
a. Akhlak anak terhadap kedua bapak ibunya
Zakiah Daradjat (1995: 58) Akhlak terhadap kedua bapak ibunya,
dengan berbuat baik dan berterima kasih kepada keduanya. Bahkan anak
harus tetap hormat dan memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik,
kecuali mereka mempersekutukan Tuhan, hanya yang dilarang adalah
mengikuti ajakan mereka untuk meninggalkan iman tauhid. Deden
(2013:150) mengatakan dalam Islam semua anggota keluarga memiliki
hak dan kewajiban yang sama-sama harus dilaksanakan. Seluruh anggota
keluarga berperan untuk memberikan konstribusi menciptakan keluarga
yang sakinah dan mawadah dan penuh rahmah.
Akhlak terhadap orang lain, adalah adab, sopan santun dalam bergaul,
tidak sombong dan tidak angkuh, serta berjalan sederhana dan bersuara
lembut. Zakiah Daradjat (1995:59) Pendidikan akhlak di dalam
keluarga dilaksanakan dengan contoh dan teladan dari orang tua.
2) Akhlak dalam Penampilan.
Zakiah Daradjat (1995:59) Perkataan dan cara berbicara, bahkan gaya
menanggapi teman-temannya atau orang lain, terpengaruh oleh orang
tuanya. Adapun akhlak, sopan santun dan cara menghadapi orang
tuanya, banyak tergantung kepada sikap orang tua terhadap anak.
Dari keterangan diatas penulis menyimpulkan bahwa dengan
pembinaan akhlak yang baik, anak akan mempunyai kepribadian dengan
sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang mulia dengan semua orang
teruatam berakhlak kepada orang tuanya (Ibu Bapak). Dan dengan akhlak
yang baik anak akan tau mana yang baik dan mana yang buruk. Selain
berakhlak kepada orang tua seseorang juga berakhlak pada diri sendiri,
dan masyarakat.
3. Pembinaan Ibadah dan Agama Pada Umumnya
Pembinaan ketaatan beribadah pada anak, juga mulai dari dalam
keluarga (Zakiah Daradjat,1995h:60). Maka pelaksanaan perintah tersebut
bagi anak-anak adalah dengan persuasi, mengajak dan membimbing
mereka untuk melakukan shalat. Jika anak-anak telah terbiasa shalat dalam
keluarga, maka kebiasaan tersebut akan terbawa sampai ia dewasa, bahkan
Penulis mengatakan bahwa ketaatan beribadah anak yang dimulai
dari orang tua atau keluarga. Anak akan meniru keluarganya terutama pada
bapak ibunya ketika mereka sedang melaksanakan ibadah shalat, dan
orang tua juga berkewajiban memerintah bagi anaknya untuk
melaksanakan ibadah dengan mengajak dan membimbing dan
memberikan kebiasaan itu akan terbawa sampai ia dewasa seumur
hidupnya.
4. Pembinaan Kepribadian dan Sosial Anak
Pembentukan kepribadian terjadi dalam masa yang panjang, mulai
sejak dalam kandungan sampai umur 21 tahun. Pembentukan kepribadian
berkaitan erat dengan pembinaan iman dan akhlak. Secara umum para
pakar kejiwaan berpendapat, bahwa kepribadian merupakan suatu
mekanisme yang mengendalikan dan mengarahkan sikap dan perilaku
seseorang.
Kepribadian terbentuk melalui semua pengalaman dan nilai-nilai
yang diserapnya dalam pertumbuhan dan perkembangannya, terutama
pada tahun-tahun pertama dari umurnya. Apabila nilai-nilai agama banyak
masuk ke dalam pembentukan kepribadian seseorang, maka tingkah laku
sesesorang tersebut akan banyak di arahkan dan dikendalikan oleh
nilai-nilai agama. Di sinilah letak pentingnya pengalaman dan pendidikan
agama pada masa-masa pertumbuhan dan perkembangan seseorang
tentang pembinaan iman (tauhid), amal saleh, akhlak terpuji dan
Para pendidik muslim masih perlu mengkaji dan mengolah prinsip-prinsip
pendidikan dan psikologi yang ada, untuk kemudian kluar dengan suatu
teori pendidikan Islam yang mudah dilaksnakan di dalam keluarga,
sekolah dan masyarakat (Zakiah Daradjat,1995i:62).
Penulis telah mengatakan pada sebelumnya bahwa pembinaan
kepribadian dan sosial anak tergantung pada keluarganya terutama orang
tuanya. Pembinaan kepribadian dan sosial anak berhubungan dengan
pembinaan iman dan akhlak. Kepribadian yang terbentuk melalui semua
pengalaman baik dari dalam rumah mapun dari luar rumah. Dan nilai-nilai
yang diserapnya dalam pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang
dihiasi dengan sifat-sifat yang menyenangkan baik untuk diri sendiri
maupun untuk sekitarnya seperti ramah, rendah hati, lemah lembut dan
sopan santun.
C. Pendidikan Agama dalam Keluarga
Dalam Islam penyemaian rasa agama dimulai sejak pertemuan ibu
dan bapak yang membuahkan janin dalam kandungan, yang dimulai
dengan do’a kepada Allah. Selanjutnya memanjat do’a dan harapan kepada Allah, agar janinnya kelak lahir dan besar menjadi anak yang saleh
(Zakiah Daradjat,1995j:64).
Agama bukan ibadah saja. Agama mengatur seluruh segi
kehidupan. Semua penampilan ibu dan bapak dalam kehidupan sehari-hari
yang disaksikan dan dialami oleh anak bernafaskan agama, di samping
kecil, sesuai pertumbuhan dan perkembangan jiwanya. Apabila anak tidak
mendapatkan pendidikan, latihan dan pembinaan keagamaan waktu
kecilnya, ia akan besar dengan sikap tidak acuh atau anti agama. Dalam
memperkenalkan sifat-sifat Allah kepada anak, hendaklah didahulukan
sifat-sifat Allah yang mendekatkan hatinya kepada Allah, misalnya
Penyayang, Pengasih, Pemurah, Adil dan sebagainya, pada umur anak
belum mencapai 12 tahun.
Perlu diketahui, bahwa kualitas hubungan anak dan orang tuanya,
akan mempengaruhi keyakinan beragamanya di kemudian hari. Apabila ia
merasa disayang dan diperlakukan adil, maka ia akan meniru orang tuanya
dan menyerap agama dan nilai-nilai yang dianut oleh orang tuanya. Dan
jika yang terjadi sebaliknya, maka ia menjauhi apa yang diharapkan orang
tuanya, mungkin ia tidak mau melaksanakan ajaran agama dalam
hidupnya, tidak shalat, tidak puasa dan sebagainya (Zakiah
Daradjat,1995k:66). Perkembangan sikap sosial pada anak terbentuk mulai
di dalam keluarga. Orang tua yang penyayang, lemah lembut, adil dan
bijaksana, akan menumbuhkan sikap sosial yang menyenangkan pada
anak. Ia akan terlihat ramah, gembira dan segera akrab dengan orang lain.
Karena ia merasa diterima dan disayangi oleh orang tuanya, maka akan
tumbuh padanya rasa percaya diri dan percaya terhadap lingkungannya,
hal yang menunjang terbentuknya pribadinya yang menyenangkan dan
Penulis mengatakan bahwa keluarga sebagai lingkungan
pendidikan yang pertama yang sangat penting untuk membentuk pola
kepribadian anak. Yang dimana anak pertama kali mengetahui nilai dan
norma pengetahuan agama dan kepercayaan dan nilai-nilai moral.
D. Pembentukan Sifat-sifat Terpuji
Didalam ajaran Islam, akhlak tidak dapat dipisahkan dari iman.
Iman merupakan pengakuan hati, dan akhlak adalah pantulan iman itu
pada perilaku, ucapan dan sikap. Iman adalah maknawi, sedangkan akhlak
adalah bukti beriman dalam perbuatan, yang dilakukan dengan kesadaran
dan karena Allah semata (Zakiah Daradjat, 1995l : 67).
Didalam Al Qur’an banyak ayat-ayat yang mendorong manusia untuk beriman dan beramal saleh dengan berbagai janji, di antaranya
terdapat di dalam surat Yunus ayat 9 :
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya[670], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan”.
[670] Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga.
”Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.
[1406] Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.
Di dalam beberapa ayat tersebut, jelas mendorong Allah kepada
manusia agar beriman kepada-Nya dan mengerjakan amal saleh (perbuatan
terpuji), dengan janji akan mendapatkan surga di akhirat nanti, dikeluarkan
dari kegelapan menuju tempat yang terang benderang, memperoleh
bimbingan kehidupan, meraih ampunan, pahala dan rezeki dari Allah.
Zakiah Daradjat (1995m:70) Janji Allah akan membalas setiap
amal saleh dengan pahala yang berlipat ganda, akan menjadikan manusia
beramal dengan ikhlas, tanpa mengaharap balas dari orang yang
ditolongnya atau yang disebut dengan istilah tanpa pamrih. Deden
(2013:142) mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang sudah tertanam
dalam jiwa yang mendorong perilaku seseorang dengan mudah sehingga
menjadi perilaku kebiasaan. Jika sifat tersebut melahirkan suatu perilaku
yang terpuji menurut akal dan agama dinamakan akhlak baik (akhlak
mahmudah) dan sebaliknya akhlak yang tercela atau buruk (akhlak
mazmumah).
a. Menghayati Al Akhlakul Mahmudah
Zakiah Daradjat (1995:70) Yang dimaksud dengan Al
Akhlakul Mahmudah adalah akhlak terpuji, semua perilaku baik dan
sebenarnya arti dari Al Akhlakul Mahmudah itu. Memahami sesuatu
belum tentu secara otomatis menghayatinya. Pemahaman terhadap Al
Akhlakul Mahmudah sudah jelas, baiknya dan pentingnya dimiliki
oleh setiap orang. Di dalam rangka penghayatan Al Akhlakul
Mahmudah yang sudah dipahami, perlu adanya pengalaman.
pengalaman lewat penerapannya dalam berbagai keadaan dan
kesempatan. Dan pengalaman tersebut akan membawa kepada
kepuasan dan kegembiraan yang berhasil dicapai dalam pergaulan dari
reaksi orang yang berhubungan dengannya.
b. Penerapan Al Akhlakul Mahmudah Dalam Kehidupan Sehari-hari
Zakiah Daradjat (1995:71) Menerapkan Al Akhlakul
Mahmudah dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi para pendidik
amat penting, sebab penampilan, perkataan, akhlak dan apa saja yang
terdapat padanya, dilihat, didengar dan diketahui oleh para anak didik
akan mereka serap dan tiru dan lebih jauh akan mempengaruhi
pembentukan dan pembinaan akhlak mereka.
Menghentikan kebiasaan yang lama dan menggantinya dengan
yang baru, memerlukan usaha dan pengorbanan, karena menumbuhkan
kebiasaan baru itu memerlukan pemikiran, kesadaran dan kesengajaan.
Dilain pihak kebiasaan lama sering terjadi tanpa proses pengolahan
dalam pikiran dan mudah menyelesaikan masalah. Oleh karena itu
kemampuan menerapkan Al Akhlakul Mahmudah perlu dibina dan
Akhlakul Mahmudah perlu disertai dengan petunjuk agama,
pelaksanaan agama dalam kehidupan sehari-hari (Zakiah
Daradjat,1995n:73).
Penulis mengatakan bahwa pembentukan sifat-sifat terpuji
salah satunya adalah pembentukan akhlak yang mulia dan terpuji,
karena akhlak akan menjadi perhatian orang dimana saja, baik dalam
masyarakat maupun dalam keluarganya sendiri. Karena akhlak
merupakan hal yang utama dan yang penting untuk kehidupan
sehari-hari dan untuk pribadi diri sendiri.
E. Pendidikan Anak Secara Umum
Zakiah Daradjat (1995:73) Pendidikan anak secara umum di dalam
keluarga terjadi secara alamiah, tanpa disadari oleh orang tua, namun
pengaruh dan akibatnya amat besar. Terutama pada tahun-tahun pertama
dari kehidupan anak atau pada masa balita (di bawah lima tahun). Pada
umur tersebut pertumbuhan kecerdasan anak masih terkait kepada panca
inderanya dan belum berumbuh pemikiran logis atau maknawi (abstrak),
atau dapat kita katakan bahwa anak masih berpikir inderawi.
Faktor indentifikasi dan meniru pada anak-anak amat penting,
sehingga mereka terbina, terdidik dan belajar dari pengalaman langsung,
lebih besar dari pada informasi atau pengajaran lewat intruksi dan
petunjuk dengan kata-kata. Karena itulah maka suasana keluarga, ketaatan
ibu bapak beribadah dan perilaku, sikap dan cara hidup yang sesuai
dalam keluarga baik, beriman dan berakhlak terpuji (Zakiah
Daradjat,1995o:75).
1. Perkembangan Bahasa
Kata-kata merupakan awal dari bahasa, yang kemudian membantu
pengembangan pikir anak lewat pendengaran. Semakin banyak anak dapat
mengenal kata, semakin berkembang daya pikirnya.
2. Perkembangan Sosial Anak
Sebenarnya anak pada umur 3 atau 4 tahun mulai tertarik pada
anak lain seumuran mereka, karena mereka mulai suka bergaul, mencoba
memberi, disamping menerima dan belajar memperhatikan orang lain,
bukan hanya mementingkan dirinya sendiri. Karena itu pelaksanaan
pendidikan agama yang bersifat gerak, bermain dan bersama-sama dengan
teman-teman sebaya akan membantu pengembangan akhlak agamis.
3. Perkembangan Agama
Zakiah Daradjat (1995:77) Anak mulai mengenal agama lewat
pengalaman melihat orang tuanya melaksanakan ibadah, mendengarkan
kata Allah dan kata agamis yang mereka ucapkan dalam berbagai
kesempatan. Maka pembinaan kebudayaan pada anak oleh ibunya
berlangsung secara tidak sengaja, dibawa bersama dalam kehidupan dan
penampilan ibu di hadapannya setiap harinya.
Penulis mengatakan bahwa pendidikan anak secara umum yaitu
semua pengalaman yang terjadi secara langsung dari dalam keluarga atau
hidup yang baik. Semua itu akan diserapnya dalam pendidikannya baik