• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

i

KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA

PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan

Oleh

Miftahul Khoiriah

111-12-138

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

(2)
(3)

iii

KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA

PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan

Oleh

Miftahul Khoiriah

111-12-138

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

(4)
(5)
(6)
(7)

vii MOTTO









“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.

(Q.S al-Insyirah: 6)

SELALU OPTIMIS UNTUK MERAIH KESUKSESAN

PERSEMBAHAN

Untuk Orangtuaku (Bapak Ngatno dan Ibu Satini),

Para Saudara-saudaraku, dosen-dosen serta guru-guruku,

Teman-teman seperjuanganku, sahabat-sahabatku,

(8)

viii ABSTRAK

Khoiriah, Miftahul. 2016. Konsep Pendidikan Keluarga Perspektif Zakiah Daradjat. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institus Agama Islam Negeri Salatiga. Dr. Asfa Widiyanto, M.A.

Kata Kunci: Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah

Penelitian ini membahas konsep pendidikan Islam dalam keluarga perspektif Zakiah Daradjat. Kajianya dilatarbelakangi bahwa pendidikan keluarga dapat dikembangkan dalam lingkungan keluarga dan sekolah serta hasil dari pendidikan itu dapat diaplikasikan dalam kehidupan mereka. Karena pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama, serta merupakan peletak fondasi awal dari watak dan pendidikan anak. Fokus penelitian (1) Bagaimana konsep pendidikan keluarga perspektif Zakiah Daradjat? (2) Bagaimana relevansi konsep pendidikan Islam dalam keluarga perspektif Zakiah Daradjat. Guna menjawab pertanyaan tersebut peneliti melakukan penelitian literatur yaitu lebih menekankan kata-kata sebagai unit analisis, dibandingkan dengan angka-angka.

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT.yang telah melimpahkan rahmat,

taufik, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua. Sehingga penulis bisa

menjalani kehidupan ini sesuai dengan ridho-Nya. Sholawat dan salam

semoga tercurahkan kepada Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW. atas

limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

dengan judul “ Konsep Pendidikan Keluarga Perspektif Zakiah

Daradjat”. Sesuai dengan rencana.

Ucapan terimakasih tidak lupa penulis sampaikan kepada berbagai

pihak yang telah memberikan motivasi, bimbingan, arahan dan bantuan

dalam menyelesaikan skripsi ini, khususnya kepada:

1. Dr. Rahmat Haryadi, M. Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga

2. Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

IAIN Salatiga.

3. Siti Rukhayati, M.Ag., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

IAIN Salatiga

4. Dra. Ulfa Susilowati, M.Si selaku Dosen Pembimbing Akademik.

5. Dr. Asfa Widiyanto, M.A selaku pembimbing skripsi yang telah

mengarahkan, membimbing, memberikan petunjuk dan meluangkan

(10)

x

6. Bapak dan Ibu dosen IAIN Salatiga yang telah memberikan ilmu,

bagian akademik dan staf perpustakaan yang telah memberikan

layanan serta bantuan kepada penulis.

7. Bapak Ngatno dan Ibu Satini yang senantiasa memberikan dukungan

berupa moril, materil dan spiritual kepada penulis dalam penyusunan

skripsi ini.

8. Keluargaku,, teman-teman kos, sahabat-sahabatku seperjuangan

Mahasiswa “Pendidikan Agama Islam angkatan 2012” yang peneliti sayangi. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per

satu. Terimakasih atas bantuan dan motivasinya.

Semoga kebaikan yang mereka berikan kepada peneliti diberikan

balasan yang terbaik dan lebih baik oleh Allah SWT. Semoga skripsi ini

dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Salatiga, 14 September 2016

Penulis

Miftahul Khoiriah

(11)

xi DAFTAR ISI

SAMPUL ... i

GAMBAR BERLOGO ... ii

JUDUL ... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv

PENGESAHAN KELULUSAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... vi

MOTTO ... vii

BAB II BIOGRAFI ZAKIAH DARADJAT A. Latar Belakang Keluarga Zakiah Daradjat ... 15

B. Latar Belakang Pendidikan Zakiah Daradjat ... 17

C. Karya-karya Zakiah Daradjat ... 22

(12)

xii

4. Pembinaan Kepribadian dan Sosial Anak ... 37

C. Pendidikan Agama dalam Keluarga ... 38

D. Pembentukan Sifat-sifat Terpuji... 40

1. Menghayati Al Akhlakul Mahmudah ... 41

2. Penerapan Al Akhlakul Mahmudah dalam Kehidupan Sehari-hari ... 42

E. Pendidikan Anak Secara Umum ... 43

1. Perkembangan Bahasa ... 44

2. Perkembangan Sosial... 44

3. Perkembangan Agama ... 44

BAB IV RELEVANSI KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT DENGAN PENDIDIKAN ISLAM A. Tinjauan Pendidikan Islam ... 46

B. Analisis Konsep Pendidikan Keluarga Perspektif Zakiah Daradjat ... 54

(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Tugas Pembimbing Skripsi

Lampiran 2 Lembar Bimbingan Skripsi

Lampiran 3 Lembar Dokumentasi

Lampiran 4 Daftar Nilai SKK

(14)
(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak

pernah selesai sampai kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di

dunia ini. Dikatakan demikian, karena pendidikan merupakan bagian dari

kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Hal ini

sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki potensi kreatif dan

inovatif dalam segala bidang kehidupannya (Hasbullah, 2009 :

IX).Pendidikan pada dasarnya adalah sebuah proses transformasi

pengetahuan menuju ke arah perbaikan , pengetahuan, dan penyempurnaan

semua potensi manusia. Oleh karena itu, pendidikan tidak mengenal ruang

dan waktu; ia tidak dibatasi oleh tebalnya tembok sekolah dan juga

sempitnya waktu belajar di kelas. pendidikan berlangsung sepanjang hayat

dan bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja manusia mau dan mampu

melakukan proses kependidikan.

Dalam Islam, tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan adalah

membentuk insan kamil, yakni manusia paripurna yang memiliki

kecerdasan intelektual dan spiritual sekaligus. tujuan seperti ini tidak

mungkin bisa terwujud tanpa adanya sistem dan proses pendidikan yang

baik. Oleh karena itu, para pakar pendidikan Islam kemudian mencoba

merumuskan dan merancang bangunan pemikiran kependidikan Islam

(16)

yang diharapkan mampu menciptakan manusia-manusia paripurna, yang

akan mengembang tugas menyejahterakan dan memakmurkan kehidupan

di muka bumi ini (Raqib, 2009 : v).

Belajar dikatakan identik dengan sekolah, padahal sekolah

hanyalah salah satu dari tempat belajar bagi peserta didik. Pendidikan

adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadiaan

manusia yang berjalan seumur hidup. Dengan kata lain pendidikan tidak

hanya berlangsung di dalam kelas tetapi berlangsung di luar kelas.

Pendidikan bukan hanya bersifat formal saja, tetapi mencangkup pula yang

non formal (Zuhairini, 1995 : 149).

Konsep pendidikan Islam mencangkup kehidupan manusia

seutuhnya, tidak hanya memperhatikan segi akidah saja, juga tidak

memperhatikan segi ibadah saja, tidak pula segi akhlak. Akan tetapi jauh

lebih luas dan lebih dalam dari pada itu ( Zakiah Daradjat, 1995 :

35).Pendidikan Islam dimulai dari keluarga (rumah) dimana anak-anak

menerima pengaruh dari apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya

dengan cara meniru dan menerima pelajaran.

Agama Islam adalah agama yang universal, yang mengajarkan

kepada umat manusia berbagai aspek kehidupan, baik duniawi maupun

akhirat.Salah satu diantara ajaran Islam tersebut adalah mewajibkan

kepada umat Islam untuk melaksanakan pendidikan karena menurut ajaran

(17)

mutlak yang harus dipenuhi, demi untuk mencapai kesejahteraan dan

kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan demikian itu pula manusia akan

mendapatkan sebagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal dan

kehidupannya (Zuhairini, 1995 : 98).

Pendidikan akhlak wajib dimulai dari lingkungan keluarga yaitu

dengan diberi bimbingan dan petunjuk-petunjuk yang benar agar

anak-anak terbiasa dengan adat dan kebiasaan yang baik, meraka harus dilatih

sejak dini mungkin berperilaku yang baik dari dalam keluarga. Sebab anak

pada saat demikian ini dalam keadaan masih bersih dan mudah

terpengaruhi atau di didik, ia ibarat kertas putih yang belum ada coretan

tinta sedikitpun.Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak, di

lingkungan keluarga pertama-tama anak mendapatkan pengaruh.

Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:



Artinya “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(QS. At Tahrim : 6).

Karena itu keluarga merupakan pendidik tertua yang bersifat

(18)

semenjak manusia itu ada. Tugas keluarga adalah meletakkan dasar-dasar

bagi perkembangan secara baik.Keluarga bukan saja bertugas mendidik

anak-anak tetapi sekaligus mampu memerankan anak, dimana anak

diharapkan mampu memerankan dirinya, menyesuaikan diri, mencontoh

pola dan tingkah laku dari orang tua serta dari orang-orang yang berada

dekat dengan lingkungan keluarga. Jadi peran ayah, ibu dan seluruh

anggota keluarga adalah hal yang paling penting bagi proses pembentukan

dan pengembangan pribadi (Nur Ahid, 2010 : 1).

Dengan demikian terlihat betapa besar tanggung jawab orang tua

terhadap anak. Bagi seorang anak, keluarga merupakan persekutuan hidup

pada lingkungan keluarga tempat dimana ia menjadi pribadi atau diri

sendiri. Keluarga juga merupakan wadah pertama bagi anak dalam konteks

proses belajarnya untuk mengembangkan dan membentuk diri dalam

fungsi sosialnya. Disamping itu keluarga merupakan tempat belajar bagi

anak dalam segala sikap untuk berbakti kepada Tuhan sebagai perwujudan

nilai hidup tertinggi.

Pada dasarnya pendidikan di sekolah merupakan bagian dari

pendidikan dalam keluarga, yang sekaligus juga merupakan lanjutan dari

pendidikan dalam keluarga. Disamping itu kehidupan di sekolah adalah

jembatan bagi anak yang menghubungkan kehidupan dalam keluarga

dengan kehidupan dalam masyarakat kelak. Pendidikan di sekolah adalah

(19)

bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat (mulai

dari Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi).

Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah yang lahir dan

berkembang secara efektif dan efisien dari dan oleh serta untuk

masyarakat, merupakan perangkat yang berkewajiban memberikan

pelayanan kepada masyarakat dalam mendidik warga negara. Sekolah

dikelola secara formal, hierarkis dan kronologis yang berhaluan pada

falsafah dan tujuan pendidikan nasional (Hasbullahh,2009 : 47).

Terdapat tiga lingkungan yang bertanggung jawab dalam mendidik

anak. Ketiga lingkungan yang bertanggung jawab tersebut adalah keluarga

(kedua orang tua), sekolah (para guru), dan masyarakat (tokoh masyarakat

dan pemerintah) peran dan tanggung jawab dalam bidang pendidikan dari

tiga lingkungan tersebut adalah keluarga memiliki tanggung jawab utama

dan peran pertama dalam bidang pendidikan. Berbagai aspek yang terkait

dalam keluarga selalu mempertimbangkan dengan perannya sebagai

pendidik tersebut.

Zakiah Daradjat (1995:35) berpendapat bahwa pembentukan

identitas anak menurut Islam dimulai sejak anak dalam kandungan, bahkan

sebelum membina rumah tangga harus mempertimbangkan kemungkinan

dan syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat membentuk pribadi

(20)

bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup dan pendidikan anak

adalah orang tua (Hasbullah, 2009 : 39).

Menurut Zakiah Daradjat (1995:55) orang tua adalah pembina

kepribadian yang pertama dalam kehidupan anak. Kepribadian orang tua,

sikap dan cara hidup mereka, merupakan unsur-unsur pendidikan yang

tidak langsung yang dengan sendirinya akan masuk kedalam pribadi anak

yang sedang bertumbuh itu.

Penulis mengatakan dalam kaitanya dengan pendidikan Islam di

lingkungan keluarga bahwa yang paling utama dan pertama adalah

lingkungan keluarga karena anak pertama kali mendapatkan didikan dan

bimbingan, juga dapat dikatakan sebagai besar kehidupan anak adalah di

dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak

adalah dalam keluarga atau orang tua. Dan sekolah sebagai suatu

pendidikan formal supaya anak dapat lebih mendapatkan pengalaman yang

banyak dan mendapatkan pendidikan yang teratur dan terencana. Karena

keluarga dan sekolah dalam pendidikan sangat saling berkaitan terutama

dalam pendidikan agama Islam.

Gagasan dan pemikiran Zakiah Daradjat tersebut menarik untuk

diteliti lebih mendalam lagi, maka dari itu penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul: KONSEP PENDIDIKAN

KELUARGA PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT.

(21)

Rumusan masalah berisi penegasan mengenai

pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabannya melalui penelitian. Di

dalamnya tercakup keseluruhan ruang lingkup masalah yang akan diteliti

berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah (Maslikhah, 2013 : 302).

1. Bagaimana konsep pendidikan dalamkeluarga perspektif Zakiah

Daradjat?

2. Bagaimana relevansikonsep pendidikan dalam keluarga perspektif

Zakiah Daradjat dengan pendidikan Islam masa kini?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian berisi gambaran yang khusus atau spesifik

mengenai arah dari kegiatan kajian kepustakaan yang dilakukan, berupa

keinginan realitas penelitian tentang hasil yang akan diperoleh. Tujuan

penelitan harus mempunyai kaitan atau hubungan yang relevan dengan

masalah yang akan diteliti.

Adapun tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui konsep pendidikan dalamkeluargaperspektif Zakiah

Daradjat.

2. Untuk dapat mengatahui relevansi konsep pendidikan dalam keluarga

perspektif Zakiah Daradjat dengan masa pendidikan Islam masa kini.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini dapat dikemukakan menjadi dua sisi :

(22)

Penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat secara teori, dapat

berguna sebagai sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan

khusunya dunia pendidikan Islam.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Penulis

Menambah wawasan kependidikan terutama dalam bidang konsep

pendidikanIslam dalam keluarga dan sekolah perspektif Zakiah

Daradjat.

b. Bagi Lembaga Pendidikan

1) Sebagai masukan yang membangun guna meningkatkan

kualitas lembaga kependidikan yang ada, termasuk para

pendidik yang ada di dalamnya dan penentu kebajikan dalam

lembaga pendidikan serta pemerintahan secara umum.

2) Dapat menjadi pertimbangan untuk diterapkan dalam dunia

pendidikan pada lembaga-lembaga pendidik yang ada di

Indonesia sebagai solusi terhadap permasalahan pendidikan

yang ada.

c. Bagi Ilmu Pengetahuan

1) Menambah khazanah keilmuan tentang konsep pendidikan

keluarga menurut tokoh Islam sehingga mengetahui pemikiran

tokoh dalam dunia pendidikan.

2) Sebagai bahan referensi dalam ilmu pendidikan sehingga dapat

(23)

3) Bagi peneliti berikutnya dapat dijadikan sebagai bahan

pertimbangan atau dikembangkan lebih lanjut, serta referensi

terhadap penelitian yang sejenisnya.

E. Metode Penelitian

Istilah metode berasal dari kata Yunani berarti cara atau jalan.

Menyangkut dengan upaya ilmiah, metode dihubungkan dengan cara kerja

yaitu cara kerja untuk dapat memahami, objek yang menjadi sasaran ilmu

yang bersangkutan. Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh

peneliti untuk mendapatkan data dan informasi mengenai beberapa hal

yang berkaitan dengan masalah yang diteliti (Darmawan, 2013:127).

Adapun komponen dalam metode ini adalah :

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan dalam

penelitian ini adalah pendekatan penelitian pustaka (Library Research)

yaitu suatu peenelitian yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu

masalah yang pada dasarnya bertumpuh pada penelaahan kritis

mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan(Subagyo, 1991:

100). Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan

mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur,

catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan

masalah yang dipecahkan (Nazir, 1988: 111).

(24)

Sumber data ialah benda, hal atau prang tempat peneliti

mengamati, membaca, atau bertanya tentang data (Arikunto, 2005 :

88). Dalam penulisan skripsi ini, sumber data yang digunakan adalah

sumber data yang relevan dengan pembahasan skripsi. Data yang

terkumpul melalui penelitian ini adalah data yang sesuai denga fokus

penelitian yaitu mengenai konsep pendidikan Islam dalam keluarga

dan sekolah perspektif Zakiah Daradjat.

Adapun sumber data sebagai berikut :

a. Sumber Primer

Merupakan sumber data utama yang digunakan dalam

penelitian ini, data yang diperoleh atau dikumpulkan secara

langsung oleh peneliti dari lapangan. Sumber langsung yang

diperoleh dengan observasi dan wawancara dan buku Pendidikan

Islam dalam Keluarga dan Sekolah karangan Prof. Dr. Hj. Zakiah

Daradjat yang diterbitkan oleh CV Ruhama.

b. Sumber sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh atau

dikumpulkan oleh peneliti dari sumber-sumber yang telah ada.

Data sekunder disebut juga data tersedia atau sumber tertulis. Data

sekunder berasal dari sumber buku, majalah ilmuah, dokumen

resmi, arsip dan lain-lain. Data-data tersebut berguna untuk

melengkapi data primer.

(25)

Oleh karena sumber data yang digunakan dalam skripsi ini

adalah bahan-bahan perpustakaan, maka teknik pengumpulan data

yang di terapkan adalah membaca bagian-bagian terpenting dari bahan

pustaka yang telah disiapkan berdasrkan sub bab yang ada

relevansinya dengan pembahasan, kemudian diadakan analisis

kembali dalam rangka berfikir sistematis, selanjutnya peneliti

tuangkan dalam bentuk konsep atau kesimpulan.

4. Teknik Analisis Data

Untuk menganalisis terhadap data yang sudah terkumpul,

pendekatan yang di gunakan adalah “Deskriptif Analitik” yaitu dengan menggambarkan dan memaparkan konsep pendidikan Islam dalam

keluarga perspektif Zakiah Daradjat kemudian di analisa secara cermat

dengan menggunakan berbagai metode sebagai berikut :

a. Metode Deduktif

Yaitu proses berfikir yang bergerak dari

pertanyaan-pertanyaan umum kepertanyaan-pertanyaan khusus dengan penerapan

Kaidah-kaidah logika. Dalam kaitannya dengan pembahasan kali ini,

Metode deduksi di gunakan untuk memperoleh gambaran detailnya

pemikiran Zakiah Daradjat tentang pendidikan dalam keluarga dan

sekolah.

b. Metode Induktif

Yaitu proses berfikir yang berangkat dari

(26)

di tarik generalisasi yang mempunyai sifat umum.Dalam kaitannya

dengan penelitian ini, metode ini di gunakan untuk memperoleh

gambaran yang utuh terhadap pemikiran Zakiah Daradjat tentang

pendidikan keluarga dan sekolah.

F. Penegasan Istilah

Untuk menghindari kesalahpahaman penafsiran terhadap judul

penelitian di atas, maka penulis menjelaskan dari berbagai istilah pokok

yang terkandung dalam judul tersebut, diantaranya sebagai berikut :

1. Konsep

Konsep adalah ide umum, pengertian, pemikiran, renungan, dan

rencana dasar (Jumali, 2004:132). Konsep merupakan abstraksi suatu

ide atau gambaran mental, yang dinyatakan dalam suatu kata atau

simbol.

2. Pendidikan

Menurut UU No. 20 th 2003. Pendidikan adalah usaha sadar

dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian

diri, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa

dan negara.Pendidikan diartikan juga sebagai proses timbal balik dari

tiap pribadi manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam, dengan

teman dan keluarga (Jumali, 2004 : 18).

(27)

Keluarga adalah sebagai wadah pertama dalam pendidikan.

Keluarga ialah sanak saudara, kaum kerabat, orang seisi rumah dan

anak bini (Ahmad Marimba, 1962 : 19).

4. Pendidikan Keluarga

Pendidikan keluarga yaitu pendidikan yang berlangsung dalam

keluarga yang dilaksanakan oleh orang tua sebagai tugas dan

tanggung jawabnya dalam mendidik anak dalam keluarga.

G. Sistematika Penulisan

Sitematika penulisan skripsi terbagi dalam tiga bagian yaitu, yaitu

bagian awal, bagian isi, bagian akhir. Bagian awal terdiri dari sampul,

lembar berlogo, halaman judul, halaman persetujuan pembimbing,

halaman pengesahan kelulusan, halaman pernyataan orisinalitas, halaman

motto dan persembahan, halaman kata pengantar, halaman abstrak,

halaman daftar isi, halaman daftar lampiran.

Bagian inti atau isi dalam penelitian ini, penulis menyusun

kedalam lima bab dengan rincian sebagai berikut :

BAB 1 PENDAHULUAN

Pada bab pendahuluan ini berisi latar belakang masalah,

rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,

metode penelitian, penegasan istilah, dan sistematika

penulisan.

(28)

Dalam bab ini akan diuraikan menganai : Biografi Zakiah

Daradjat yang memuat tentang latar belakang keluarga,

pendidikan dan karya-karyanya.

BAB III KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF

ZAKIAH DARADJAT

Dalam bab ini akan memaparkan pemikiran Zakiah

Daradjat mengenai konsep pendidikan keluargaperspektif

Zakiah Daradjat.

BAB IV RELEVANSI KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA

PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT DENGAN

PENDIDIKAN ISLAM

Dalam bab ini akan diuraikan pembahasan tentang hasil

penelitian data: relevansikonsep pendidikan dalam keluarga

perspektif Zakiah Daradjat terhadap pendidikan Islam pada

masa kini.

BAB V PENUTUP

Dalam bab terakhir ini akan disajikan tentang kesimpulan

sebagai hasil dari penelitian dan dilanjutkan dengan

saran-saran yang sekiranya dapat dijadikan pikiran bagi yang

(29)

BAB II

BIOGRAFI ZAKIAH DARADJAT A. Latar Belakang Keluarga

Dalam Buku Jajat Burhanudin (2002:140) mengatakan bahwa

Zakiah Daradjat dilahirkan di kampung Kota Merak, Nagari Lambah,

Kecamatan Ampek Angkek, Agam, Kotamadya Bukit Tinggi Sumatera

Barat, 6 November 1929. Ayahnya, Haji Daradjat Husain memiliki dua

istri. Dari istri yang pertama, Rafi’ah, ia memiliki enam anak, dan Zakiah adalah anak pertama dari keenam bersaudara. Sedangkan dari istri yang

kedua, HJ Rasunah, ia dikaruniai lima orang anak. Dengan demikian, dari

dua istri tersebut, H. Dradjat memiliki 11 orang anak putra. Meskipun

memiliki dua istri, ia kelihatannya cukup berhasil mengelola keluarganya.

Hal ini terlihat dari kerukunan yang tampak dari putra-putrinya itu. Zakiah

memperoleh perhatian yang besar dari ibu tirinya, sebesar kasih sayang ia

terima dari ibu kandungnya (Abudin Nata, 2005:233).

H. Daradjat yang bergelar Raja Ameh (Raja Emas) dan Rapi’ah binti Abdul Karim, sejak kecil tidak hanya dikenal rajin beribadah, tetapi

juga tekun belajar. Keduanya dikenal aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial.

H.Daradjat ayah kandung Zakiah tercatat sebagai aktivis organisasi

Muhammadiyah. Sedangkan ibunya aktif di Sarikat Islam (PSII). Kedua

organisasi yang berdiri pada akhir penjajahan Belanda ini tercatat sebagai

organisasi yang cukup disegani masyarakat karena kiprah dan

(30)

menangani mengolah pendidikan modern serta mengatasi problema sosial

keagamaan dan sebagainya.Sejak kecil Zakiah Daradjat telah ditempa

pendidikan agama dan dasar-dasar keimanan yang kuat . Ia sudah

dibiasakan oleh ibunya untuk menghadiri pengajian-pengajian agama dan

dilatih berpidato oleh ayahnya. Zakiah Daradjat meninggal di Jakarta

dalam usia 83 tahun pada 15 Januari 2013 sekitar pukul 09.00 WIB.

Setelah dislatkan, jenazahnya dimakamkan di Komplek UIN Ciputat pada

hari yang sama. Menjelang akhir hayatnya, ia masih aktif mengajar, ia

sempat menjalani perawatan di RS Hermina, Jakarta Selatan pada

pertengahan Desember 2012.

Jajat Burhanudin (2002:142) mengatakan “Semasa hidup Zakiah Daradjat tidak hanya dikenal sebagai psikolog dan dosen, tetapi juga

mubaligh dan tokoh masyarakat”. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat menyebut Zakiah Daradjat sebagai pelopor psikologi

Islam di Indonesia. Sementara itu, Wakil Menteri Agama Nasaruddin

Umar mencatat, Zakiah Daradjat adalah sosok yang bisa diterima dengan

baik oleh semua kalangan. Umar menambahkan, sosok Zakiah Daradjat

seperti sosok Hamka dalam versi Muslimah.

Dari hasil penelitian Jajat (2002:143) di atas penulis

menyimpulkan bahwa Zakiah Daradjat merupakan sosok pribadi yang

tekun, karena Zakiah mengatakan “jika tiba waktu shalat, masyarakat kampung saya akan meninggalkan semua aktivitasnya dan bergegas pergi

(31)

Zakiah bukan dari kalangan ulama atau pemimpin agama. Lingkungan

keluarga Zakiah yang senantiasa dinafasi semangat keIslaman, tak heran

jika Zakiah sudah mendapatkan pendidikan agama dan dasar keimanan

yang kuat. Sejak kecil Zakiah sudah dibiasakan oleh ibunya untuk

menghadiri pengajian-pengajian agama.

B. Latar Belakang Pendidikan

Zakiah pertama kali masuk ke sekolah standars school

Muhammadiyah di bukit tinggi. Di lembaga pendidikan inilah, pertama

kali Zakiah mendapatkan pendidikan agama serta ilmu pengetahuan dan

pengalaman intelektual. Semenjak belajar di lembaga pendidikan ini,

Zakiah telah memperlihatkan minatnya yang cukup besar dalam ilmu

pengetahuan. Hal ini terlihat pada usianya yang baru 12 tahun, Zakiah

telah berhasil menyelesaikan pendidikan dasarnya cukup baik, tepatnya

pada tahun 1941 (Jajat Burhanudin, 2002:140). Kecenderungan, bakat dan

minat Zakiah untuk menjadi ahli agama Islam terlihat jelas pula mengikuti

kuliyatul mubalighat dipadang pajang selama hampir enam tahun.

Dilembaga pendidikan ini, Zakiah memperoleh pendidikan agama secara

lebih mendalam. Namun demikian, perhatiannya terhadap bidang studi

umum, juga tetap besar. Hal ini terlihat pada aktivitas Zakiah dalam

memasuki sekolah menengah pertama negeri (SMPN) dikota yang sama.

Di lembaga pendidikan ini, Zakiah berhasil menyelesaikannya dengan

tepat waktu. Pendidikan yag ia dapati darikedua lembaga ini benar-benar

(32)

pendidikan yang lebih tinggi. Sementara itu budaya minangkabau yang

memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada perempuan didaerah

lain, juga memberikan hasil andil cukup besar dalam diri Zakiah.

Setelah selesai menamatkan pendidikan dasar dan menengah

pertama, Zakiah melanjutkan ke sekolah menengah atas pemuda bukit

tinggi. Dilembaga pendidikan ini Zakiah memilih program B, yaitu

program yang mendalami ilmu alam dan selesai sesuatu waktu (Zakiah

Daradjat, 2002:207).

Masuknya Zakiah pada sekolah menengah atas (SMA) dengan

program B tersebut ternyata bukan merupakan petunjuk bahwa ia akan

menjadi ahli ilmu umum, melainkan ilmu umum itu hanya sebagai

pengetahuan yang pada suatu saat dapat digunakan sebagai dasar untuk

memahami agama lebih mendalam lagi. Hal ini terlihat ketika Zakiah

memasuki perguruan tinggi ternyata yang ia pilih adalah perguruan tinggi

agama Islam negeri (PTAIN) Yogyakarta. Bakat dan minat serta dasar

pengetahuan agama dan umum yang cukup ternyata menjadi dasar bagi

Zakiah untuk menyelesaikan studinya dengan baik dan berprestasi

diperguruan tinggi tersebut.

Prestasi yang demikian itu selanjutnya telah membuka peluang

bagi Zakiah untuk mendapatkan tawaran melanjutkan studi di Kairo.

Tawaran tersebut tidak disia-siakan oleh Zakiah. Ia berangkat ke Kairo

(33)

psikologi. Sesampainya di Kairo, Zakiah mendaftarkan diri di Universitas

Ain Syam Fakultas Tarbiyah dengan kosentrasi special diploma for

Education, dan Zakiah diterima tanpa tes. Dengan bakal pengetahuan yang

kuat serta didukung oleh ketekunan, semangat dan bakatnya yang besar,

menyebabkan ia berhasil menyelesaikan studinya sesua dengan waktu

yang ditentukan.

Setelah itu Zakiah mengikuti Program Magister pada jurusan

Spesialisasi Kesehatan Mental pada Fakultas Tarbiyah di Universitas yang

sama. Program ini ia selesaikan dalam waktu yang singkat, yaitu selama

dua tahun, dengan tesis yang berjudul Problematika Remaja di Indonesia

(Musykilat al-Muharaqah fi Indonesia).Untuk menuntaskan studi

tingginya Zakiah mengikuti Program Dokter (Ph.D) pada Universitas yang

sama dengan mendalami lagi bidang psikologi, khusunya psikoterapi.

Desertasi yang berhasil disusun dan dipertahankan pada program

doktornya ini adalah “Perawatn Jiwa Untuk Anak-anak (Dirasah tajribiyah li taghayyur al-lati tathrau ala sykhyat al- athfal al- musykil infi’al fi khilal fitrah al-aja al- nafs ghir al- muwajjahann thariq al-la’b) bimbingan Mustafa Fahm dan Atia Mahmoud Hanna. Dengan demikian Zakiah telah

menjadi seorang doktor muslimah pertama dalam bidang psikologi dengan

spesialisasi psikoterapi (Jajat Burhanudin, 2002:146).

Selanjutnya pada tahun 1984, bersama dengan ditetapkannya

sebagai direktur pascasarjana di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di

(34)

IAIN. Karena itu secara akademis lengkap sudah ia sebagai ilmuwan yang

memiliki keahlian yang handal dalam bidangnya. Namun demikian,

Zakiah tetap seorang yang rendah hati, sabar, lemah lembut dan tidak

tinggi hati (Jajat Burhanudin, 2002:143).

Melihat kemampuan yang dimiliki Zakiah yang demikian itu, maka

pada tahun, 1967 Zakiah dipercaya oleh Syaifuddin Zuhri selaku mentri

agama Republik Indonesia untuk menduduki jabatan sebagai kepala dinas

penelitian dan kurikulum perguruan tinggi di biro perguruan tinggi dan

pesantren luhur departemen agama (Zakiah Daradjat,2002:209). Tugas ini

berlangsung hingga jabatan mentri agama dipegang oleh A.Mukti Ali pada

masa kepemimpinan Mukti Ali inilah Zakiah Daradjat dipromosikan untuk

menduduki sebagai direktur perguruan tinggi Agama Islam (Dinpartais)

Departemen Agama. Dengan demikian, ia telah menjadi seorang ilmuwan

dan sekaligus biokrat pendidikan. Jabatan sebagai derpatais ini telah

dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Zakiah Daradjat melalui pengembangan

dan pembaharuan dalam bidang pendidikan. Hal demikian sejalan pula

dengan kebijakan pemerintah orde baru yang berusaha melakukan

pembaharuan dalam berbagai kehidupan, termasuk dalam bidang

pendidikan.Adalah satu gagasan pembaharuan yang monumental yang

hingga kini masih terasa pengaruhnya dalam keluarnya surat keputusan

bersama tiga mentri, yaitu mentri agama republik Indonesia, mentri

(35)

Lahirnya SKB tiga mentri ini tidak bisa dilepaskan dari peran yang

dilakukan oleh Zakiah Daradjat.

Dengan SKB tiga mentri ini terjadi perubahan dalam bidang

pendidikan Madrasah (Jajat Burhanudin, 2002: 153). Diantara perubahan

tersebut bahwa kedalam Madrasah diberikan pengetahuan umum sebanyak

70 persen dan pengetahuan agama sebanyak 30 persen. Dengan demikian

kurikulum mengalami perubahan yang amat signifikan, dan dengan

demikian lulusnya dapat diterima di perguruan tinggi umum sebagaimana

telah disebutkan diatas. Lulusan Madrasah Aliyah produk SKB3 mentri ini

terjadi pada tahun 1987, dan diantaranya ada yang diterima kuliah di

Institut Pertanian Bogor (IPB). Upaya lainnya yang dilakukan oleh Zakiah

Daradjat adalah peningkatan mutu pengolahan (administrasi) dan

akademik madrasah-madrasah yang ada di Indonesia. Untuk di zaman ini

telah muncul apa yang disebut sebagai Madrasah Model.

Selanjutnya Zakiah Daradjat juga berupaya menyelesaikan kasus

ujian guru agama (UGA) yang cukup menggegerkan pada saat ini.

Pembaharuan dan penerbitan perguruan tinggi agam Islam seperti haknya

Institute Agama Islam Negeri juga mendapatkan perhatian Zakiah

Daradjat. Pada zamanya brhasil disusun rencana induk penegmbangan

(RIP) IAIN untuk jangka waktu selama 25 tahun yang berfungsi sebagai

landasan bagi pengembangan IAIN dalam jangka panjang (Jajat

(36)

Pengalaman Zakiah Daradjat sebagai direktur perguruan tinggi

agama serta berbagai konsep serta teorinya dalam bidang pendidikan telah

mendorongnya untuk mengaplikasikannya melalui lembaga pendidikan

yang didirikan dan dikelolanya. Lembaga pendidikan yang ia

selenggarakan mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah

menengah atas dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Lembaga

pendidikan yang ada di Desa Pisangan kecamatan Ciputat Tengerang

Banten itu, bernaung di bawah yayasan yang bernama Ruhama.

Dari penelitian diatas penulis mengatakan bahwa Zakiah Daradjat

adalah sosok multimendimensi. Ia tidak hanya dikenal sebagai tokoh

psikolog, tetapi juga mubaligah dan sekaligus pendidik. Zakiah merupakan

satu-satunya perempuan yang dikirim studi ke Mesir karena kepintarannya

dan minatnya untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih

tinggi. Sehingga Ia mendapatkan mewujudkan keinginannya.

C. Karya-karya Zakiah Daradjat

Zakiah Daradjat(1975:3) Sebagai salah seorang itelektual beliau

banyak mengadakan penelitian tentang kesehatan mental dan pembinaan

pendidikan agama di Indonesia. Welly Catur (2011: 12) Adapun di antara

hasil karya dan terjemahan beliau adalah :

a. Penerbit Bulan Bintang

1) Ilmu Jiwa Agama

(37)

3) Problema Remaja di Indonesia

4) Perawatan Jiwa untuk Anak-anak

5) Pembinaan Nilai-nilai Moral di Indonesia

6) Perkawinan yang Bertanggung Jawab

7) Islam dan Peranan Wanita

8) Peranan IAIN dalam Pelaksanaan P4

9) Pembinaan Remaja

10) Ketenangan dan Kebahagiaan dalam Keluarga

11) Pendidikan Orang Dewasa

12) Menghadapi Masa Manopoase

13) Kunci Kebahagiaan

14) Membangun Manusia Indonesia yang Bertaqwa Kepada Tuhan

YME.

15) Kepribadian Guru

16) Pembinaan Jiwa/ Mental

b. Penerbit Gunung Agung

1) Kesehatan Mental

2) Peranan Agama dalam Kesehatan Mental

3) Islam dan Kesehatan Mental

c. Penerbit YPI Ruhama

1) Shalat Menjadikan Hidup Bermakna

2) Kebahagiaan

(38)

4) Puasa meningkatkan Kesehatan Mental

5) Doa Menunjang Semangat Hidup

6) Zakat Pembersih Harta dan Jiwa

7) Remaja, Harapan dan Tantangan

8) Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah

9) Shalat untuk Anak-anak

10) Puasa untuk Anak-anak.

d. Penerbit Pustaka Antara

1) Kesehatan Jilid I, II, III

2) Kesehatan (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) Jilid IV

3) Kesehatan Mental dalan Keluarga

Dari hasil penelitian di atas penulis mengatakan bahwa dari

kegemarannya menulis Zakiah telah banyak menulis buku-buku yang

bermanfaat. Beberapa buku yang ditekuni oleh Zakiah adalah menulis

(39)

BAB III

KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF ZAKIAH DARADJAT

A. Keluarga Sebagai Wadah Pertama Pendidikan

Zakiah Daradjat (1995:41) mengatakan bahwa Pembentukan

identitas anak menurut Islam, dimulai jauh sebelum anak itu diciptakan.

Nur Ahid (2010:100) bahwa keluarga merupakan pendidikan informal,

tugas keluarga adalah meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan anak

berikutnya, agar anak dapat berkembang secara baik. Karena keluarga

sebagai lingkungan pendidikan yang pertama sangat penting membentuk

pola kepribadian anak.

Menurut Murni (1984:34) mengatakan pada umumnya pendidikan

dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan

pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara

kodrati suasan dan strukturnya memberikan kemungkinan alami

membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat

adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal

balik antara orang tua dan anak. Islam memberikan berbagai syarat dan

ketentuan pembentukan keluarga, sebagai wadah yang akan mendidik

anak sampai umur tertentu yang disebut baligh-berakal. Karena itu perlu

kita singgung sedikit syarat-syarat pembentukan keluarga (Zakiah

Daradjat, 1995:42).

(40)

a. Larangan menikah dengan wanita yang dalam hubungan darah dan

kerabat tertentu. Hal ini dilarang, karena dapat melahirkan

anak-anak yang kurang cerdas akalnya atau ediot.

b. Larangan menikah dengan orang yang berbeda agama. Larangan

ini disebabkan karena sulitnya mewujudkan rumah tangga yang

sakinah yang disebabkan karena kedua orang tua dalam rumah

tangga tersebut berbeda-beda agamanya. Seorang anak yang

dilahirkan dalam keluarga yang berbeda agama akan kebingunan

dalam mengikuti agama kedua orang tuanya. Selanjutnya, jika

timbul permasalahan dalam keluarga tersebut akan sulit

dipecahkan, karena masing-masing agama memiliki konsep

pemecahan yang berbeda.

c. Larangan menikah dengan orang yang berzina. Larangan ini

dilakukan karena sang suami sulit mendapatkan ketenangan. Suami

selalu dibayangi oleh kemungkinan istrinya menyeleweng atau

selingkuh dengan laki-laki lain. Dengan demikian larangan ketiga

hal tersebut diatas karena didasarkan keinginan menciptakan rumah

tangga yang sakinah yang sehat yang memungkinkan dapat

melahirkan putra putri yang cerdas, taat kepada Allah dan

rasul-Nya, taat kepada kedua orangtuanya serta berakhlak mulia.

2. Syarat-syarat Pernikahan

a. Suka sama suka (saling mencintai)

(41)

c. Dihadiri oleh saksi

d. Mengucapkan ijab kobul

e. Memberi maskawin serta

f. Memiliki kesiapan mental spiritual, lahir batin, jasmani dan rohani.

Setelah syarat-syarat bagi kedua calon suami istri itu dipenuhi,

maka dilaksanakanlah pernikahan menurut ketentuan yang diwajibkan

Allah. Setelah mereka diikat oleh tali perkawinan, maka masing-masing

pasangan suami istri mempunyai hak dan kewajiban yang ditentukan.

Mereka dibekali dengan beberapa petunjuk dalam mendayungkan bahtera

kehidupan dengan kasih sayang dan kepatuhan kepada ketentuan Allah,

agar mereka dapat meraih ketentraman dan kebahagiaan (sakinah). Firman

Allah syarat Ar Rum ayat 21:

















































“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

Dalam buku Zakiah Daradjat (1995:44), dijelaskan bahwa Setelah

terbentuknya keluarga muslim yang memenuhi persyaratan yang

(42)

keturunan, beberapa petunjuk dan pedoman yang membantu terciptanya

kehidupan sakinah pun telah dipahami dan dilaksanakan maka selanjutnya

keluarga tersebut memohon kepada Allah swt.supaya mereka dikaruniani

anak atau keturunan yang saleh.

3. Kewajiban Suami

a. Memberi nafkah keluarga

b. Perlindungan terhadap keluarga

c. Kasih sayang

d. Dan tanggungjawab atas keamanan keluarga

4. Kewajiban Istri

a. Menjaga dan mengatur rumah tangga dan harta benda milik

bersama

b. Menjaga dirinya

c. Merawat dan membimbing putra putrinya di rumah

d. Serta memberikan kasih sayang dan menyusuianya

Penulis menyimpulkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin

antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan

membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal. Keluarga

adalah umat kecil yang memiliki pimpinan dan anggota, mempunyai

pembagian tugas dan kerja, serta hak dan kewajiban bagi masing-masing

anggotanya. Perkawinan menjadi salah satu bagian penting masalah

keagamaan. Sebab setiap agama berbicara tantang perkawinan dan

(43)

pemelukknya. Kehidupan keluarga apabila diibaratkan sebagai satu

bangunan, demi terpeliharanya bangunan itu dari hantaman badai dan

guncangan gempa.

Zakiah Daradjat (1995:53) mengatakan Setelah terbentukya

keluarga muslim yang memenuhi persyaratan yang ditentukan Allah dan

siap mendapatkan keturunan ada beberapa petunujuk dan pedoman yang

membantu terciptanya kehidupan sakinah, selanjutnya adalah petunjuk

do’a yang baik diucapkan dari Allah. 1. Masalah Kejiwaan

Masalah kejiwaan menampilkan diri dalam berbagai bentuk, ada

yang dalam ketidaktentraman batin, cemas, gelisah, takut, sedih, marah,

bimbang, tertekan, frustasi, rasa rendah diri, rasa sombong, tidak percaya

diri, pesimis, putus asa dan sebagainya. Keadaan tidak tenteram itu boleh

jadi disertai oleh tidak dapat tidur, hilang nafsu makan, sulit buang air,

atau tidak mampu mengandalikan (Zakiah Daradjat,1995a:45).

Selanjutnya keadaan jiwa yang tidak tenteram dapat

mempengaruhi kemampuan berpikir, sehingga orang menjadi pelupa, tidak

dapat berkonsentrasi (memusatkan pikiran), sulit melanjutkan pemikiran

yang teratur, malas, lesu, bosan, cepat lelah, mudah dipengaruhi orang,

sulit belajar dan sulit berprestasi, baik dalam belajar maupun bekerja dan

sebagainya. Faktor luar, di antaranya perubahan nilai dan keadaan

sosial-ekonomi yang menyebabkan orang kehilangan pegangan atau sulit

(44)

sangat cepat di bidang fisik, tetapi kurang dibidang nilai dan agama, serta

kejiwaan pada umumnya.

Kemajuan lahiriah dapat dirasakan keuntungan dan kesenanganya

secara nyata, dapat dilihat, diraba dan dinikmati. Sehingga orang mudah

tertarik untuk mengejarnya, tanpa memperhitungkan nilai, koral, kaidah

dan ketentuan agama, sehingga orang telah melepaskan nilai-nilai lama,

tetapi belum menemukan nilai-nilai lama, tetapi belum menemukan nilai

baru yang kuat dan mantap.Akibat ketidakseimbangan kemajuan lahiriah

dan batiniah itu, menyebabkan orang tidak mampu mengendalikan diri dan

mudah terpengaruh oleh kesenangan-kesenangan semua yang dapat

dijangkaunya.

Jiwa yang halus dan hati yang lembut penyayang dapat berubah

menjadi kasar, kesal maupun kejam, sehingga terjadilah berbagai

kekejaman, kekasaran dan kejahatan yang berat. Disamping itu terdapat

pula gejala-gejala kejiwaan yang mengarah kepada penyakit kejiwaan

yang berat (Zakiah Daradjat, 1995b:46).

2. Peranan Ibu dalam Keluarga

Menurut Zakiah Daradjat (1995:46) Keluarga adalah wadah

pertama dan utama bagi pertumbuhan dan pengembangan anak. Jika

suasana dalam keluarga itu baik dan menyenangkan, maka anak akan

tumbuh dengan baik pula. Jika tidak, tentu akan terhambatlah

pertumbuhan anak tersebut. Peranan ibu dalam keluarga amat penting.

(45)

anggota keluarga, menjadi mitra sejajar yang saling menyayangi dengan

suaminya. Murni (1984:34) mengatakan Ibu merupakan orang yang

mula dikenal anak, yang mula menjadi temannya dan yang

mula-mula dipercayainya. Apapun yang dilakukan ibu dapat dimanfaatkannya,

kecuali apabila ia ditinggalkan.

Di antara langkah penciptaan suasana yang baik itu adalah usaha

menciptakan terwujudnya saling pengertian, saling menerima, saling

menghargai, saling mempercayai dan saling menyayangi di antara

suami-istri dan antara seluruh anggota keluarga. Dengan pengertian, penerimaan,

penghargaan, kepercayaan dan kasih sayang yang dilandasi oleh keimanan

yang mendalam, yang terpantul ke dalam kehidupan sehari-hari, maka

akan dapatlah dihindarkan berbagai masalah negatif yang kadang-kadang

terjadi dalam tindakan dan sikap masing-masing atau salah seorang

(suami-istri). Suami akan bekerja dengan tenang dan penuh gairah, dalam

menghadapi tugasnya, ia tidak akan pernah berpikir mencari sesuatu yang

tidak di ridhoi Allah. Demikian juga istri, dengan hati lembutnya yang

penuh keimanan, dapat menerangi suasana keluarga sehingga menjadi

cerah ceria. Suasana keluarga itu merupakan tanah subur bagi penyemaian

tunas-tunas muda yang lahir dalam keluarga itu (Zakiah

Daradjat,1995c:47) .

Penulis menyimpulkan bahwa seorang ibu yang bijaksana tahu hak

(46)

ana-anaknya dengan baik, bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani

anak.

Dan tanggung serang ibu terhadap masa depan anak yang dimana

ibu juga mengikut sertakan anak dalam berbagai kegiatan seperti

membaca, memperbaiki alat rumah, dan cara bersosialisasi dengan

masyarakat sekitar.

B. Pembentukan Kepribadian Anak

Berbahagialah anak yang lahir dan dibesarkan oleh ibu yang saleh,

penyayang dan bijaksana (Zakiah Daradjat,1995d:53). Kerana

pertumbuhan kepribadian anak terjadi melalui seluruh pengalaman yang

diterimanya sejak dalam kandungan. Ibu yang baik, saleh dan penyayang

sejak semula, sebelum mengandung ia telah memohon kepada Allah agar

dikaruniai anak yang saleh yang berguna bagi bangsa, negara dan

agamanya. Bila ia mulai mengandung, hatinya gembira menanti kelahiran

bayinya. Sejak dalam kandungan, janin itu mendapat pengaruh yang

menyenangkan dan menjadi unsur positif dalam kepribadianya yang akan

bertumbuh kelak.

Waktu dalam kandungan janin mendapatkan pengaruh sikap dan

perasaan ibu terhadapnya, melalui saraf-saraf pada rahim ibu. Maka, sikap

positif ibu terhadap janin dan ketenteraman batin dalam hidup,

menyebabkan saraf-saraf bekerja lancar dan wajar, karena tidak ada

kegoncangan jiwa yang menegangkan. Hubungannya dengan suaminya

(47)

berbagai kesiapan dan perlengkapan sesuai kemampuan yang ada padanya.

Dengan demikian unsur-unsur dalam pertumbuhan kepribadian anak yang

akan lahir cukup baik dan positif, yang nanti menjadi dasar pertama dalam

pertumbuhan selanjutnya setelah lahir.

Pendidikan anak pada dasarnya adalah tanggung jawab orang tua.

Hanya karena keterbatasan kemampuan orang tua, maka perlu adanya

bantuan dari orang yang mampu dan mau membantu orang tua dalam

pendidikan anak-anaknya, terutama dalam mengajarkan berbagai ilmu dan

keterampilan yang selalu berkembang dan dituntut pengembangannya bagi

kepentingan manusia. Pada umunya pendidik muslim menjadikan

Luqmanul Hakim sebagai contoh dalam pendidikan, di mana nasihatnya

kepada anaknya terdapat dalam surat Luqman ayat 12-19. Allah

mengatakan Luqman dikaruniai-Nya hikmah dan bijaksana (Zakiah

Daradjat,1995e:54).

Penulis menyimpulkan bahwa kepribadian anak tergantung pada

kondisi keluarganya. Terutama yang terletak pada sosok ibunya, karena

anak pertama kali yang dikenalnya adalah ibunya. Anak akan meniru

semua kegiatan yang dilakukan oleh ibunya baik dari segi perilaku

maupun perkataan.

1. Pembinaan Iman dan Tauhid

Pembentukan iman seharusnya mulai sejak dalam kandungan,

sejalan dengan pertumbuhan kepribadian. (Zakiah Daradjat,1995f:54)

(48)

menunjukkan bahwa janin yang dalam kandungan, telah mendapat

pengaruh dari keadaan sikap dan emosi ibu yang mengandungnya.

Luqmanul Hakim orang yang diangkat Allah sebagai manusia contoh

dalam pendidikan anak, telah dibekali oleh Allah dengan iman dan

sifat-sifat terpuji, di antaranya syukur kepada Allah, yang sudah pasti beriman

dan bertaqwa kepada-Nya.

Oleh karena itu, pendidikan iman terhadap anak, sesungguhnya

telah dimulai sejak persiapan wadah untuk pembinaan anak, yaitu

pembentukan keluarga, yang syarat-syaratnya ditentukan Allah di dalam

beberapa ayat di antaranya :

a. Persyaratan keimanan

b. Pesyaratan akhlak

c. Persyaratan Tidak ada Hubungan Darah.

Setelah persyaratan itu dipenuhi, maka hubungan kedua calon

suami istri diikat dengan tali pernikahan yang ditentukan Allah. Kemudian

kehidupan dan hubungan antara suami dan istridiatur pula dengan hak dan

kewajiban masing-masing yang dipedulikan. Si anak mulai mendapat

bahan-bahan atau unsur-unsur pendidikan serta pembinaan yang

berlangsung tanpa disadari oleh orang tuanya.

Penulis menyimpulkan bahwa pendidikan iman dan tauhid

dilakukan dengan kata-kata yang baik dan dengan perilaku yang baik juga.

(49)

kandungan. Contohnya dengan kebiasaan orang tua yang sering

mengucapkan basmalah dan hamdalah.

2. Pembinaan Akhlak

Menurut Deden (2013:139) Akhlak merupakan amal perbuatan

yang sifatnya terbuka sehingga dapat menjadi indikator seseorang apakah

seorang Muslim yang baik dan buruk. Akhlak ini merupakan buah dari

akidah dan syariah yang benar dan secara mendasar, akhlak ini erat dengan

kejadian manusia yaitu pendipta dan yang diciptakan. Akhlak adalah

implementasi dari iman dalam segala bentuk perilaku. (Zakiah

Daradjat,1995g:58) Diantara contoh akhlak yang diajarkan oleh Luqman

kepada anaknya adalah :

a. Akhlak anak terhadap kedua bapak ibunya

Zakiah Daradjat (1995: 58) Akhlak terhadap kedua bapak ibunya,

dengan berbuat baik dan berterima kasih kepada keduanya. Bahkan anak

harus tetap hormat dan memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik,

kecuali mereka mempersekutukan Tuhan, hanya yang dilarang adalah

mengikuti ajakan mereka untuk meninggalkan iman tauhid. Deden

(2013:150) mengatakan dalam Islam semua anggota keluarga memiliki

hak dan kewajiban yang sama-sama harus dilaksanakan. Seluruh anggota

keluarga berperan untuk memberikan konstribusi menciptakan keluarga

yang sakinah dan mawadah dan penuh rahmah.

(50)

Akhlak terhadap orang lain, adalah adab, sopan santun dalam bergaul,

tidak sombong dan tidak angkuh, serta berjalan sederhana dan bersuara

lembut. Zakiah Daradjat (1995:59) Pendidikan akhlak di dalam

keluarga dilaksanakan dengan contoh dan teladan dari orang tua.

2) Akhlak dalam Penampilan.

Zakiah Daradjat (1995:59) Perkataan dan cara berbicara, bahkan gaya

menanggapi teman-temannya atau orang lain, terpengaruh oleh orang

tuanya. Adapun akhlak, sopan santun dan cara menghadapi orang

tuanya, banyak tergantung kepada sikap orang tua terhadap anak.

Dari keterangan diatas penulis menyimpulkan bahwa dengan

pembinaan akhlak yang baik, anak akan mempunyai kepribadian dengan

sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang mulia dengan semua orang

teruatam berakhlak kepada orang tuanya (Ibu Bapak). Dan dengan akhlak

yang baik anak akan tau mana yang baik dan mana yang buruk. Selain

berakhlak kepada orang tua seseorang juga berakhlak pada diri sendiri,

dan masyarakat.

3. Pembinaan Ibadah dan Agama Pada Umumnya

Pembinaan ketaatan beribadah pada anak, juga mulai dari dalam

keluarga (Zakiah Daradjat,1995h:60). Maka pelaksanaan perintah tersebut

bagi anak-anak adalah dengan persuasi, mengajak dan membimbing

mereka untuk melakukan shalat. Jika anak-anak telah terbiasa shalat dalam

keluarga, maka kebiasaan tersebut akan terbawa sampai ia dewasa, bahkan

(51)

Penulis mengatakan bahwa ketaatan beribadah anak yang dimulai

dari orang tua atau keluarga. Anak akan meniru keluarganya terutama pada

bapak ibunya ketika mereka sedang melaksanakan ibadah shalat, dan

orang tua juga berkewajiban memerintah bagi anaknya untuk

melaksanakan ibadah dengan mengajak dan membimbing dan

memberikan kebiasaan itu akan terbawa sampai ia dewasa seumur

hidupnya.

4. Pembinaan Kepribadian dan Sosial Anak

Pembentukan kepribadian terjadi dalam masa yang panjang, mulai

sejak dalam kandungan sampai umur 21 tahun. Pembentukan kepribadian

berkaitan erat dengan pembinaan iman dan akhlak. Secara umum para

pakar kejiwaan berpendapat, bahwa kepribadian merupakan suatu

mekanisme yang mengendalikan dan mengarahkan sikap dan perilaku

seseorang.

Kepribadian terbentuk melalui semua pengalaman dan nilai-nilai

yang diserapnya dalam pertumbuhan dan perkembangannya, terutama

pada tahun-tahun pertama dari umurnya. Apabila nilai-nilai agama banyak

masuk ke dalam pembentukan kepribadian seseorang, maka tingkah laku

sesesorang tersebut akan banyak di arahkan dan dikendalikan oleh

nilai-nilai agama. Di sinilah letak pentingnya pengalaman dan pendidikan

agama pada masa-masa pertumbuhan dan perkembangan seseorang

tentang pembinaan iman (tauhid), amal saleh, akhlak terpuji dan

(52)

Para pendidik muslim masih perlu mengkaji dan mengolah prinsip-prinsip

pendidikan dan psikologi yang ada, untuk kemudian kluar dengan suatu

teori pendidikan Islam yang mudah dilaksnakan di dalam keluarga,

sekolah dan masyarakat (Zakiah Daradjat,1995i:62).

Penulis telah mengatakan pada sebelumnya bahwa pembinaan

kepribadian dan sosial anak tergantung pada keluarganya terutama orang

tuanya. Pembinaan kepribadian dan sosial anak berhubungan dengan

pembinaan iman dan akhlak. Kepribadian yang terbentuk melalui semua

pengalaman baik dari dalam rumah mapun dari luar rumah. Dan nilai-nilai

yang diserapnya dalam pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang

dihiasi dengan sifat-sifat yang menyenangkan baik untuk diri sendiri

maupun untuk sekitarnya seperti ramah, rendah hati, lemah lembut dan

sopan santun.

C. Pendidikan Agama dalam Keluarga

Dalam Islam penyemaian rasa agama dimulai sejak pertemuan ibu

dan bapak yang membuahkan janin dalam kandungan, yang dimulai

dengan do’a kepada Allah. Selanjutnya memanjat do’a dan harapan kepada Allah, agar janinnya kelak lahir dan besar menjadi anak yang saleh

(Zakiah Daradjat,1995j:64).

Agama bukan ibadah saja. Agama mengatur seluruh segi

kehidupan. Semua penampilan ibu dan bapak dalam kehidupan sehari-hari

yang disaksikan dan dialami oleh anak bernafaskan agama, di samping

(53)

kecil, sesuai pertumbuhan dan perkembangan jiwanya. Apabila anak tidak

mendapatkan pendidikan, latihan dan pembinaan keagamaan waktu

kecilnya, ia akan besar dengan sikap tidak acuh atau anti agama. Dalam

memperkenalkan sifat-sifat Allah kepada anak, hendaklah didahulukan

sifat-sifat Allah yang mendekatkan hatinya kepada Allah, misalnya

Penyayang, Pengasih, Pemurah, Adil dan sebagainya, pada umur anak

belum mencapai 12 tahun.

Perlu diketahui, bahwa kualitas hubungan anak dan orang tuanya,

akan mempengaruhi keyakinan beragamanya di kemudian hari. Apabila ia

merasa disayang dan diperlakukan adil, maka ia akan meniru orang tuanya

dan menyerap agama dan nilai-nilai yang dianut oleh orang tuanya. Dan

jika yang terjadi sebaliknya, maka ia menjauhi apa yang diharapkan orang

tuanya, mungkin ia tidak mau melaksanakan ajaran agama dalam

hidupnya, tidak shalat, tidak puasa dan sebagainya (Zakiah

Daradjat,1995k:66). Perkembangan sikap sosial pada anak terbentuk mulai

di dalam keluarga. Orang tua yang penyayang, lemah lembut, adil dan

bijaksana, akan menumbuhkan sikap sosial yang menyenangkan pada

anak. Ia akan terlihat ramah, gembira dan segera akrab dengan orang lain.

Karena ia merasa diterima dan disayangi oleh orang tuanya, maka akan

tumbuh padanya rasa percaya diri dan percaya terhadap lingkungannya,

hal yang menunjang terbentuknya pribadinya yang menyenangkan dan

(54)

Penulis mengatakan bahwa keluarga sebagai lingkungan

pendidikan yang pertama yang sangat penting untuk membentuk pola

kepribadian anak. Yang dimana anak pertama kali mengetahui nilai dan

norma pengetahuan agama dan kepercayaan dan nilai-nilai moral.

D. Pembentukan Sifat-sifat Terpuji

Didalam ajaran Islam, akhlak tidak dapat dipisahkan dari iman.

Iman merupakan pengakuan hati, dan akhlak adalah pantulan iman itu

pada perilaku, ucapan dan sikap. Iman adalah maknawi, sedangkan akhlak

adalah bukti beriman dalam perbuatan, yang dilakukan dengan kesadaran

dan karena Allah semata (Zakiah Daradjat, 1995l : 67).

Didalam Al Qur’an banyak ayat-ayat yang mendorong manusia untuk beriman dan beramal saleh dengan berbagai janji, di antaranya

terdapat di dalam surat Yunus ayat 9 :



”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya[670], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan”.

[670] Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga.

(55)

”Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.

[1406] Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.

Di dalam beberapa ayat tersebut, jelas mendorong Allah kepada

manusia agar beriman kepada-Nya dan mengerjakan amal saleh (perbuatan

terpuji), dengan janji akan mendapatkan surga di akhirat nanti, dikeluarkan

dari kegelapan menuju tempat yang terang benderang, memperoleh

bimbingan kehidupan, meraih ampunan, pahala dan rezeki dari Allah.

Zakiah Daradjat (1995m:70) Janji Allah akan membalas setiap

amal saleh dengan pahala yang berlipat ganda, akan menjadikan manusia

beramal dengan ikhlas, tanpa mengaharap balas dari orang yang

ditolongnya atau yang disebut dengan istilah tanpa pamrih. Deden

(2013:142) mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang sudah tertanam

dalam jiwa yang mendorong perilaku seseorang dengan mudah sehingga

menjadi perilaku kebiasaan. Jika sifat tersebut melahirkan suatu perilaku

yang terpuji menurut akal dan agama dinamakan akhlak baik (akhlak

mahmudah) dan sebaliknya akhlak yang tercela atau buruk (akhlak

mazmumah).

a. Menghayati Al Akhlakul Mahmudah

Zakiah Daradjat (1995:70) Yang dimaksud dengan Al

Akhlakul Mahmudah adalah akhlak terpuji, semua perilaku baik dan

(56)

sebenarnya arti dari Al Akhlakul Mahmudah itu. Memahami sesuatu

belum tentu secara otomatis menghayatinya. Pemahaman terhadap Al

Akhlakul Mahmudah sudah jelas, baiknya dan pentingnya dimiliki

oleh setiap orang. Di dalam rangka penghayatan Al Akhlakul

Mahmudah yang sudah dipahami, perlu adanya pengalaman.

pengalaman lewat penerapannya dalam berbagai keadaan dan

kesempatan. Dan pengalaman tersebut akan membawa kepada

kepuasan dan kegembiraan yang berhasil dicapai dalam pergaulan dari

reaksi orang yang berhubungan dengannya.

b. Penerapan Al Akhlakul Mahmudah Dalam Kehidupan Sehari-hari

Zakiah Daradjat (1995:71) Menerapkan Al Akhlakul

Mahmudah dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi para pendidik

amat penting, sebab penampilan, perkataan, akhlak dan apa saja yang

terdapat padanya, dilihat, didengar dan diketahui oleh para anak didik

akan mereka serap dan tiru dan lebih jauh akan mempengaruhi

pembentukan dan pembinaan akhlak mereka.

Menghentikan kebiasaan yang lama dan menggantinya dengan

yang baru, memerlukan usaha dan pengorbanan, karena menumbuhkan

kebiasaan baru itu memerlukan pemikiran, kesadaran dan kesengajaan.

Dilain pihak kebiasaan lama sering terjadi tanpa proses pengolahan

dalam pikiran dan mudah menyelesaikan masalah. Oleh karena itu

kemampuan menerapkan Al Akhlakul Mahmudah perlu dibina dan

(57)

Akhlakul Mahmudah perlu disertai dengan petunjuk agama,

pelaksanaan agama dalam kehidupan sehari-hari (Zakiah

Daradjat,1995n:73).

Penulis mengatakan bahwa pembentukan sifat-sifat terpuji

salah satunya adalah pembentukan akhlak yang mulia dan terpuji,

karena akhlak akan menjadi perhatian orang dimana saja, baik dalam

masyarakat maupun dalam keluarganya sendiri. Karena akhlak

merupakan hal yang utama dan yang penting untuk kehidupan

sehari-hari dan untuk pribadi diri sendiri.

E. Pendidikan Anak Secara Umum

Zakiah Daradjat (1995:73) Pendidikan anak secara umum di dalam

keluarga terjadi secara alamiah, tanpa disadari oleh orang tua, namun

pengaruh dan akibatnya amat besar. Terutama pada tahun-tahun pertama

dari kehidupan anak atau pada masa balita (di bawah lima tahun). Pada

umur tersebut pertumbuhan kecerdasan anak masih terkait kepada panca

inderanya dan belum berumbuh pemikiran logis atau maknawi (abstrak),

atau dapat kita katakan bahwa anak masih berpikir inderawi.

Faktor indentifikasi dan meniru pada anak-anak amat penting,

sehingga mereka terbina, terdidik dan belajar dari pengalaman langsung,

lebih besar dari pada informasi atau pengajaran lewat intruksi dan

petunjuk dengan kata-kata. Karena itulah maka suasana keluarga, ketaatan

ibu bapak beribadah dan perilaku, sikap dan cara hidup yang sesuai

(58)

dalam keluarga baik, beriman dan berakhlak terpuji (Zakiah

Daradjat,1995o:75).

1. Perkembangan Bahasa

Kata-kata merupakan awal dari bahasa, yang kemudian membantu

pengembangan pikir anak lewat pendengaran. Semakin banyak anak dapat

mengenal kata, semakin berkembang daya pikirnya.

2. Perkembangan Sosial Anak

Sebenarnya anak pada umur 3 atau 4 tahun mulai tertarik pada

anak lain seumuran mereka, karena mereka mulai suka bergaul, mencoba

memberi, disamping menerima dan belajar memperhatikan orang lain,

bukan hanya mementingkan dirinya sendiri. Karena itu pelaksanaan

pendidikan agama yang bersifat gerak, bermain dan bersama-sama dengan

teman-teman sebaya akan membantu pengembangan akhlak agamis.

3. Perkembangan Agama

Zakiah Daradjat (1995:77) Anak mulai mengenal agama lewat

pengalaman melihat orang tuanya melaksanakan ibadah, mendengarkan

kata Allah dan kata agamis yang mereka ucapkan dalam berbagai

kesempatan. Maka pembinaan kebudayaan pada anak oleh ibunya

berlangsung secara tidak sengaja, dibawa bersama dalam kehidupan dan

penampilan ibu di hadapannya setiap harinya.

Penulis mengatakan bahwa pendidikan anak secara umum yaitu

semua pengalaman yang terjadi secara langsung dari dalam keluarga atau

(59)

hidup yang baik. Semua itu akan diserapnya dalam pendidikannya baik

Referensi

Dokumen terkait

Konsep Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga dan Sekolah Perspektif Zakiah Daradjat dan Relevansinya dengan Pendidikan Karakter bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah.Skripsi.Jurusan

Zakiah Daradjat adalah: gagasan pemikiran pendidikan islam menurut Zakiah Daradjat, konsep pendidikan Islam dalam keluarga dan komponen pendidikan Islam yang

Pemaparan diatas berkenaan dengan masalah strategi penghidupan keluarga miskin di dalam menunjang pendidikan anggota keluarganya yang tergolong usia sekolah, maka peneliti akan

Sekolah dari mata pelajaran inti dan mata pelajaran muatan lokal. Otonomi tersebut memudahkan pihak Sekolah untuk memutuskan penetapan pendidikan lingkungan hidup agar

Berdasarkan hasil analisis data pada BAB 4, dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran matematika yang dikembangkan berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Pembuatan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup yang dikembangkan oleh peneliti adalah tema yang dekat dan sangat dikenal anak dan juga berhubungan

Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, 42-43.. pembinaan akal, dan d) aspek tujuan sosial yaitu perkembangan sikap sosial pada anak yang di mulai dari

Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode deskripif, deduktif, dan induktif yang menunjukkan bahwa: Konsep pendidikan karakter dalam pengajaran