Rencana pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya mencakup empat sektor yaitu
pengembangan permukiman, penataan bangunan dan lingkungan, pengembangan air
minum dan pengembangan penyehatan lingkungan permukiman (sub sektor air limbah,
persampahan dan drainase). Penjabaran perencanaan teknis untuk tiap-tiap sektor dimulai
dari pemetaan isu-isu strategis yang mempengaruhi, penjabaran kondisi eksisting sebagai
baseline awal perencanaan, serta permasalahan dan tantangan yang harus diantisipasi.
Dilanjutkan dengan tahapan analisis kebutuhan dan kajian terhadap program-program
sektoral dengan mempertimbangkan kriteria kesiapan pelaksanaan kegiatan. Kemudian
dilakukan perumusan usulan program dan kegiatan yang dibutuhkan.
7.1 Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman
Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman,
permukiman didefinisikan sebagai bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas
lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai sarana, prasarana, utilitas
umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau
perdesaan.
Kegiatan pengembangan permukiman terdiri dari pengembangan permukiman
kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Pengembangan permukiman kawasan
perkotaan terdiri dari pengembangan kawasan permukiman baru dan peningkatan
kualitas permukiman kumuh, sedangkan untuk pengembangan kawasan
permukiman perdesaan terdiri dari pengembangan kawasan permukiman perdesaan,
kawasan pusat pertumbuhan serta desa tertinggal.
Permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Pemerintah wajib
memberikan akses kepada masyarakat untuk dapat memperoleh permukiman yang
layak huni, sejahtera, berbudaya, dan berkeadilan sosial. Pengembangan
BAB
VII
RENCANA PEMBANGUNAN
permukiman ini meliputi pengembangan prasarani pusat berawalnya kegiatan yang
keberadaanya serni menjadia dan sarana dasar perkotaan, pengembangan
permukiman yang terjangkau, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah,
proses penyelenggaraan lahan, pengembangan ekonomi kota, serta penciptaan
sosial budaya di perkotaan. Adapun penyediaan permukiman tersebut baik
dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pesawaran sendiri maupun dengan
keikutsertan dari pihak swasta dalam memenuhi kebutuhan pemukiman tersebut.
Arahan kebijakan pengembangan permukiman mengacu pada amanat peraturan
perundangan, antara lain :
1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang NasionalArahan RPIJM tahap 3(2015-2019) menyatakan bahwa
pemenuhan kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana
pendukung bagi seluruh masyarakat terus meningkat, sehingga kondisi tersebut
mendorong terwujudnya kota tanpa permukiman kumuh pada awal tahapan
RPJMN berikutnya.
2. Undang-undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan
Permukiman Pasal 4 mengamatkan bahwa ruang lingkup penyelenggaraan
perumahan dan kawasan permukiman juga mencakup penyelenggaraan
perumahan (butir c), penyelenggaraan kawasan permukiman (butir d),
pemeliharaan dan perbaikan (butir e), serta pencegahan dan peningkatan
kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh (butir f)
3. Undang-undang No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun Pasal 15
mengamanatkan bahwa pembangunan rumah susun umum, rumah susun
khusus, dan rmuah susun negara merupakan tanggung jawab pemerintah.
4. Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan
KemiskinanPeraturan ini menetapkan salah sarunya terkait dengan
penanggulangan kawasan kumuh.
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar
Pelayananan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata RuangPeraturan ini
menetapkan target berkurangnya luas permukiman kumuh di kawasan
Kawasan Permukiman adalah kawasan inti yang seringkali mendominasi dalam
suatu kawasan perkotaan. Kawasan ini menjadi pusat berawalnya kegiatan yang
keberadaanya seringkali mengikuti perkembangan kawasn lainnya. Setiap kawasan
fungsional yang dikembangkan akan membutuhkan kawasan permukiman untuk
mengakomodasi perkembangan masyarakat yang beraktifitas di dalam kawasan
yang dikembangkan tersebut.
Perkembangan kawasan tersebut pada dasarnya dapat digolongkan ke dalam 2 (dua)
jenis yaitu Permukiman yang berkembang karena faktor historis dan permukiman
yang berkembang karena diciptakan. Permukiman jenis pertama adalah
permukiman yang pertama adalah permukiman yang telah berkembang sebelum
suatu wilayah atau kota berkembang menjadi sangat pesat. Permukiman jenis ini
umumnya ditenggarai sebagai titik awal perkembangan suatu wilayah atau kota
yang berkembang secara alami padalokasi lokasi yang dekat dengan sumber daya
alam yag digunakan manusia untuk hidup seperti bantaran sungai, bantaran rel
kereta api, daerah perbukitan, daerah SUTET, daerah pantai. Berkaitan dengan hal
tersebut, umumnya permukiman jenis ini berkembang secara sporadis disekitar
tempat tersebut. Untuk permukiman jenis kedua adalah permukiman yang
berkembang karena diciptakan oleh pengembang. Permukiman ini dikembangkan
pada lokasi lokasi yang umumnya berada di pinggiran kota untuk megakomodir
pertumbuhan pusat pusat baru di pinggiran kota tersebut. Permukiman jenis kedua
ini juga dikembangkan untuk memeratakan perkembangan wilayah atau kota serta
memenuhi kebutuhan perumahan penduduk.
Berkenaan dengan kedua jenis permukiman tersebut, dalam suatu wilayah atau kota
perkembangan dari kawasan permukiman sangat rentan terhadap adanya
perkembangan yang tidak terkendali. Adanya perrmintaan perumahan yang cukup
tinggi yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan pengembangan kawasan
permukiman yang memadai, menyebabkan perkembangan kawasan permukiman ini
menjadi salah satu pemberi sumbangan terhadap fenomenaurban sprawl. Selain itu
yaitu perumahan liardan permukiman kumuh yang seringkali berdampak lebh lanjut
pada meningkatnyatingkat kesenjangan masyarakat, tingginya angka kriminalitas
dan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat.
Berkaitan dengan banyaknya persoalan pembangunan yang muncul dari
perkembangan kawasan permukiman merupakan salah satu kawasan yang perlu
dilakukan penanganan secara khusus, namun dalam konteks keruangan,
penyelesaiannya tidak mungkin dilakukan secara bersamaan. Faktor luas kawasan
permukiman yang besar disuatu wilayah atau kota dan banyaknya persoalan yang
munculmegakibatkan tiap kawasan permukiman memiliki upaya penanganan yang
berbeda beda bahkan bersifat sangat spesifik. Hal ini disebabkan persoalan yang
muncul memiliki potensi dalam mempengaruhi keberlanjutan pembangunan
wilayah atau kota maka beberapa bagian bahkan perlu ditangani terlebih dahulu
atau diberikan prioritas penanganan bila dibandingkan dengan kawasan
permukiman lainnya. Berdasarkan petimbangan tersebut perlu adanya penanganan
didasarkan pada skala prioritas kawasan atau yang lazim diikenal penanganan
kawasanpermukiman prioritas.
Kawasan permukiman prioritas adalah bagian dari suatu wilayah administrasi
pemerintahan yang memiliki karakteristik dan atau persoalan khusus yang
menyebabkan kawasan ini perlu diprioritaskan atau diberikan perhaian khusus
dalam penanganannya. Kesalahan dalam megantisipasi pola penanganan dan
peberian prioritaspada kawasan dengan kebutuhan khusus tersebut akan berdampak
terhadap proses dan pencapaian tujuan pembangunanperkotaan secara keseluruhan.
7.1.1 Kondisi Eksisting
Peraturan perundangan-undangan di Kabupaten Pesawaran terkait peraturan daerah,
peraturan gubernur, peraturan walikota maupun peraturan lainnya yang mendukung
seluruh tahapan proses perencanaan, pembangunan dan pemanfaatan pembangunan
permukiman diuraikan pada masing-masing sektor pelaksanaan program di Bidang
Tabel 7.1 Peraturan Daerah Terkait Pengembangan Permukiman
RTRW Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten
Pesawaran
Sumber : Dokumen RTRW Kabupaten Pesawaran
Daerah permukiman kumuh yang ada di Kabupaten Pesawaran berpotensi
menimbulkan gangguan terhadap kesehatan lingkungan pemukiman dan bahaya
lain yang merugikan bagi yang tinggal di wilayah tersebut. Adapun sebaran
perumahan dan permukiman di Kabupaten Pesawaran dengan melihat kondisi
daerah permukiman kumuh dapat diidentifkasikan sebagai berikut :
A. Daerah Bantaran Sungai
Tipe kawasan permukiman ini sebagian besar Tidak teratur, pandangan atau
tata letanya membelakangi sungai, jalan masuk sempit, jenis perkerasan tanah
dan seringa mengalami genangan. Kondisi rumah semi permanen dan kurang
didukung PSD yang memadai sehingga cederung terlihat kumuh.
B. Daerah Pesisir Pantai (Daerah Nelayan)
Kawasan permukiman ini terletak di pesisir atau tepi pantai dimana umumnya
merrupakan bangunan ilegal mengingat berdirinya bangunan diatas lahan
milik negara/lainnya yang ditempati karena kedekatan dengan sumber mata
pencarian rumah yakni nelayan. Sebagian besar berbentuk panggung, sering
banjir/tergenang, tata letak bangunan kurang teratur dengan lingkungan yang
tidak sehat.
Kabupaten Pesawaran terdapat 3 (tiga) kecamatan yang memiliki
permukiman daerah nelayan yaitu Kecamatan Padang Cerimin, Kecamatan
Punduh Pidada dan Kecamatan Marga Punduh.
C. Daerah Lereng Bukit
Kabupaten Pesawaran dengan kondisi fisik yang berbukit bukit dan tersebar
sebagian besar hampir diseluruh kecamatan dimanfaatkan oleh sebagian
ini terletak dilereng bukit dengan aksesibilitas rendah dan sulit dijangkau,
prasarana air bersih, MK dan lainnya tidak tersedia, tipe rumah semi
permanen, kondisi lingkungan terkesan kumuh.
Tabel 7.2 Data Kawasan Permukiman Kumuh di Kabupaten Pesawaran
Umumnya Sarana dan Prasarana yang ada di kawasan permukiman kumuh sangat tidak
memadai. Dilihat dari aksesibilitas, fasilitas pelayanan, kesehatan lingkungan yang rendah.
Untuk mengantisipasi serta merehbilitasi kondisi dikwasan permukiman kumuh tersebut
dengan melalui perbaikan lingkungan permukiman.
Sejalan dengan pertumbuhan penduduk Kabupaten Pesawaran yang cenderung pesat,
menyebabkan permasalahan yang komprehensif untuk memenuhi kebutuhan akan rumah
pun yang juga semakin meningkat, sementara lahan yang tersedia untuk perumahan
semakin terbatas. Bagi penduduk yang memaksakan untuk memilih tempat tinggal/rumah
di daerah perkotaan maka harus rela berbagi lahan dengan yang lainnya dengan luas lantai
yang relative terbatas, hal ini mengakibatkan timbulnya daerah-daerah kumuh yang sangat
rentan terhadap gangguan kesehatan bagi para penghuninya.
Perkembangan permukiman hendaknya juga mempertimbangkan aspek-aspek sosial
budaya masyarakat setempat, agar pengembangannya dapat sesuai dengan kondisi
masyarakat dan alam lingkungannya. Aspek sosial budaya ini dapat meliputi desain, pola,
dan struktur, serta bahan material yang digunakan.
Dalam pengembangan kawasan permukiman perkotaan, diperlukan perencanaan dalam
penentuan sasaran penyediaan PSD bagi perumahan dan permukiman di setiap daerah
sangat ditentukan oleh kesiapan dan rencana pengembangan kelembagaan di daerah,
kinerja pemenuhan kebutuhan perumahan, kinerja pencapaian kualitas permukiman. Pada
saat ini telah terdapat beberapa program yang berkaitan dengan perumahan dan
permukiman di Kabupaten Pesawaran, antara lain:
Program peningkatan kualitas lingkungan permukiman
Program pengembangan Rumah Susun Sederhana Sewa (RUSUNAWA)
Program pengembangan Kawasan Siap Bangun (KASIBA)
Program pengembangan Lingkungan Siap Bangun (LISIBA)
Dalam pengembangan kawasan permukiman perdesaan dilakukan program dan kegiatan
A. Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Permukiman
Pembangunan di bidang perumahan dan permukiman di Kabupaten Pesawaran pada
khususnya dalam beberapa dekade belakangan ini tentunya menemui bannyak
tantangan dan permasalahan, permasalahan pembangunan permukiman dan perumahan
tersebut diantaranya adalah:
1) Belum melembaganya sistem penyelenggaraan perumahan dan permukiman
Secara umum sistem penyelenggaraan perumahan dan permukiman masih belum
mantap, baik di tingkat pusat, wilayah, maupun lokal, ditinjau dari segi SDM,
organisasi, tata laksana, dan dukungan prasarana serta sarananya.
Belum mantapnya pelayanan dan akses terhadap hak atas tanah untuk perumahan,
khususnya bagi kelompok masyarakat miskin dan berpendapatan rendah.
Belum efisiennya pasar perumahan, karena adanya intervensi yang mengganggu
penyediaan dan menyebabkan distorsi permintaan akan perumahan.
2) Rendahnya tingkat pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak dan
terjangkau
Tingginya kebutuhan perumahan yang layak dan terjangkau masih belum diimbangi
kemampuan penyediaan, baik oleh masyarakat, dunia usaha dan pemerintah.
Ketidakmampuan masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah untuk
mendapatkan rumah yang layak dan terjangkau serta memenuhi standar lingkungan
permukiman yang responsif (sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan), karena
terbatasnya akses informasi, terutama yang berkaitan dengan pertanahan dan
pembiayaan perumahan.
Belum tersedianya dana jangka panjang bagi pembiayaan perumahan yang
menyebabkan terjadinya mismatch pendanaan dalam pengadaan perumahan. Di
samping itu, sistem dan mekanisme subsidi perumahan bagi kelompok masyarakat
miskin dan berpenghasilan rendah masih perlu dimantapkan, baik melalui
mekanisme pasar formal maupun melalui mekanisme perumahan yang bertumpu
pada keswadayaan masyarakat.
Secara fungsional, sebagian besar kualitas perumahan dan permukiman masih belum memenuhi standar pelayanan yang memadai sesuai skala kawasan yang
ditetapkan, baik sebagai kawasan perumahan maupun kawasan permukiman yang
berkelanjutan, seperti terbatasnya ruang terbuka hijau, lapangan olah raga, tempat
usaha dan perdagangan di samping prasarana dasar perumahan dan permukiman,
seperti air bersih, sanitasi, dan pengelolaan limbah
Secara fisik lingkungan, masih banyak ditemui kawasan perumahan dan
permukiman yang telah melebihi daya tampung dan daya dukung lingkungan.
Dampak semakin menurunnya daya dukung lingkungan diantaranya adalah dengan
meningkatnya lingkungan permukiman kumuh pertahunnya.
Secara visual wujud lingkungan, juga terdapat kecenderungan yang kurang positif
bahwa sebagian kawasan perumahan dan permukiman telah mulai bergeser menjadi
lebih tidak teratur, kurang berjati diri, dan kurang memperhatikan nilai-nilai
kontekstual sesuai sosial budaya setempat serta nilai-nilai arsitektural yang baik.
Selain itu, kawasan yang baru dibangun juga tidak secara berlanjut dijaga
penataannya sehingga secara potensial dapat menjadi kawasan kumuh yang baru.
Tantangan pembangunan permukiman dan perumahan tersebut diantaranya adalah:
a) Banjir
Banjir yang terjadi di Kabupaten Pesawaran disebabkan atas beberaa hal antara lain
tingginya curah hujan, buruknya drainase, berkurangnya luas bantaran sungai,
kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah sembarangan, dan berkurangnya
daerah terbuka hijau. Hal lain yang juga sangat berperan menjadi penyebab banjir di
Kabupaten Pesawaran ini adalah penyempitan sungai yang mempunyai DAS
berukuran kecil yang merupakan drainase utama dari daerah pantai di sekitar Padang
Cermin.
Selain masalah penyempitan lahan tersebut, banjir yang terjadi di Kabupaten
Pesawaran juga diakibatkan oleh gundulnya kawasan pegunungan Kabupaten
Pesawaran sebagai salah satu gunung yang ada di Kabupaten Pesawaran. Pemerintah
Pesawaran mengalami kesulitan untuk mengontrol perubahan fungsi lahan kawasan
pribadi. Akibatknya para pemilik lahan dapat melakukan apapun terhadap lahan
tersebut tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan.Serin terjadi selain masalah
banjir, semakin berkurangnya kawasan perbukitan ini juga mengakibatkan longsor
dikawasan tersebut yang tidak jarang memakan korban.
Untuk mengatasi masalah ini pemerintah Kabupaten Pesawaran telah melaksakan
berbagai kegiatan baik dilakukan secara sendiri maupun bekerjsama dengan
pemeritah pusat dan lembaga swadaya masyarakat. Beberapa program yang telah
dilakukan antara lain program kali bersih, perbaikan drainase, pemberian perijinan
yang lebih ketat dan program dan kegiatan lainnya yang bertujuan untuk mengatasi
masalah banjir dan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga
kebersihan sungai.
b) Air Minum dan Sanitasi
Sebagaimana yang terjadi di sebagian besar kota di Indonesia, air mimum yang
bersumber dari PDAM menjadi sumber utama bagi masyarakat perkotaan untuk
memenuhi kebutuhan mereka. PDAM Pesawaran sebagai perusahaan daerah air
minum yang memberikan pelayanan air minum di Kabupaten Pesawaran berperan
besar untuk memenuhi kebutuhan warga Kabupaten Pesawaran akan air minum.
Akan tetapi sampai dengan tahun 2013, tingkat pencapaian MDGs sebesar 59,5%.
Akan tetapi pada kenyataannya PDAM Pesawaran tidak dapat memberikan
pelayanan secara menerus selama 24 jam karena terbatasnya debit air. Selain itu,
masih sangat banyak warga masyarakat mengenah ke bawah yang belum
memperoleh akses air minum dari PDAM ini. Oleh karena itu, dalam waktu dekat
PDAM akan menjalin kerjasama dengan pihak swasta untuk meningkatkan debit air
sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih luas kepada masyarakat dengan
tidak melupakan fungsi sosialnya untuk melayani masyarakat miskin untuk
memperoleh air dengan harga yang terjangkau.
Kondisi sanitasi lingkungan yang buruk di kawasan miskin mengakibatkan kerugian
ekonomi serta menurunkan kualitas hidup, terutama di kalangan wanita dan
sehingga keberjangkitan penyakit thypus di Indonesia tercatat tertinggi di Asia
Timur. Pesawaran merupakan salah satu Kabupaten di Indonesia yang juga
menghadapi masalah sanitasi. Data perhitungan MDGs pada tahun 2013
menunjukkan bahwa cakupan pelayanan sanitasi di Kabupaten Pesawaran adalah
83.48% dengan cakupan pelayanan sanitasi provinsi sebesar 45,49%, hal ini
menunjukkan bahwa masih ada sekitar 37,99% dari warga Kabupaten Pesawaran
yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan sanitasi yang sehat.
Menghadapi masalah ini pemerintah Kabupaten Pesawaran sejak tahun 2013
mengikuti program Sanitasi Masyarakat (Sanimas) yang bertujuan untuk untuk
mengenalkan pilihan lain, yaitu Sistem Pembuangan Limbah Berbasis Masyarakat.
Upaya ini diharapkan bisa menjadi pilihan pemerintah setempat dalam strategi
pembangunan sanitasinya. Program ini diikuti pula oleh berbagai program yang
disusun oleh pemerintah kota melalui dinas kesehatan seperti kegiatan kesehatan
keluarga dan kampanye hidup sehat. Melalui kegiatan yang saling mendukung ini
diharapkan jumlah warga yang memiliki akses terhadap sanitasi akan dapat
meningkat.
Adapun permasalahan yang dihadapi serta alternatif strategi yang terkait perencanaan
pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di Kabupaten Pesawaran dapat
dilihat pada table berikut:
Tabel 7.3 Identifikasi Permasalahan, Tantangan dan Alternatif Solusi Pengembangan
Permukimandi Kabupaten Pesawaran
No.
Permasalahan
Pengembangan
Permukiman
Tantangan Pengembangan Alternatif Solusi
1 Aspek Teknis Masih rendahnya mutu dan
kuantitas infrastruktur perkotaan
Meningkatkan mutu dan
kuantitas infrastruktur
perkotaan
Belum meratanya sarana
danprasarana perkotaan di
Meningkatkan mutu dan
No.
Permasalahan
Pengembangan
Permukiman
Tantangan Pengembangan Alternatif Solusi
seluruhwilayah kota dan gedung pemerintah
Adanya ancaman bencana
(longsor, banjir, gempa bumi dan
tsunami
pembangunan dan pemeliharaan
infrastruktur daerah
pengelolaan SDA dan LH
Belum optimalnya
Lemahnya kesadaran dan disiplin
masyarakat dalam menjaga
Kerusakan DAS yang cukup
tinggi
Meningkatkan pengawasan
dan pengendalian
No.
Permasalahan
Pengembangan
Permukiman
Tantangan Pengembangan Alternatif Solusi
Banyaknya pertambangan
(gunung dan bukit) yang merusak
lingkungan
Memperbaiki pengelolaan
SDA dan pelestarian fungsi
lingkungan hidup
Meningkatnya pencemaran
airPermukaan
Meningkatkan pengendalian
pencemaran dan perusakan
lingkungan hidup
Aspek Teknis
Penyediaan prasarana dan sarana dasar (PSD) perkotaan melalui pembangunan,
peningkatan maupun pemeliharaan telah dilakukan selama ini. Selain itu bantuan stimulan
sebagai pendorong dalam perbaikan PSD, perumahan dan permukiman juga telah
dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pesawaran, yang diberikan kepada warga/
masyarakat yang benar-benar membutuhkan untuk meningkatkan kualitas PSD perkotaan
dan perumahan maupun lingkungannya.
Banyak ditemui sebagian dari warga masyarakat di Kabupaten Pesawaran bertempat
tinggal di kawasan perkotaan, hal ini terkait dengan kemudahan aksesibilitas dan
tersedianya prasarana dan sarana perkotaan. Di sisi lain lahan dan ruang di kawasan
perkotaan sangat terbatas, sehingga sering dijumpai suatu kawasan perkotaan padat
penduduk yang mengakibatkan kawasan tersebut tidak tertata, tidak teratur dan menjadi
kumuh. Bila tidak segera kawasan kumuh ini ditata dan dibenahi dapat menimbulkan
kerawanan, seperti: masalah lingkungan hidup, sosial, kriminalitas dll.
Aspek Pendanaan
Adanya keterbatasan pembiayaan pembangunan mengakibatkan tidak seluruh wilayah
Kabupaten Pesawaran dapat menikmati prasarana dan sarana dasar permukiman yang
memadai. Adanya keterbatasan pendanaan ini maka pembangunan prasarana dan sarana
yang benar-benar belum memiliki serta membutuhkan prasarana dan sarana dasar
permukiman. Strategi pendanaan yang diterapkan pada penanganan masalah permukiman
secara terpadu ini, adalah dari dana APBD dan kucuran dana APBN.
Aspek Kelembagaan
Tanggung jawab kelembagaan yang menangani pengembangan dan pembangunan
perumahan dan permukiman di Kabupaten Pesawaran terdiri dari beberapa elemen, yakni:
Pemerintah Daerah, Swasta dan Masyarakat.
Namun secara garis besar instansi pemerintah daerah yang terlibat dalam hal ini adalah
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Dinas Pekerjaan Umum, , Dinas
Kebersihan dan Pertamanan, Badan Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
serta Bagian Tata Pemerintahan. Masing-masing mempunyai peran di dalam
penyelenggaraan pembangunan dan pengembangan perumahan dan permukiman di
Kabupaten Pesawaran, baik dalam hal pemberian izin, arahan lokasi, arahan/advis teknis,
planning, administrasi maupun pemantauan pembangunan fisik.
Pelaksanaan pembangunan perumahan dan permukiman di Kabupaten Pesawaran
dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dengan tugas pokok melaksanakan urusan rumah
tangga daerah dan urusan pembantuan di bidang perumahan dan permukiman serta urusan
lain yang diberikan oleh Bupati Kabupaten Pesawaran.
Dalam usaha membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan perumahan yang layak
huni terutama bagi masyarakat segmentasi ekonomi menengah ke bawah, pemerintah
memberikan program sistem KPR, KP-KSB, BTN, TAPERUM, RUSUNAWA dan
lain-lain. Beberapa program pembangunan perumahan untuk memenuhi kebutuhan rumah juga
telah banyak digulirkan oleh swasta, seperti koperasi perumahan, dan
kemudahan-kemudahan lainnya. Usaha tersebut juga nampaknya belum maksimal akibat keterbatasan
kemampuan masyarakat (khususnya golongan ekonomi lemah).
Dipihak lain, elemen terpenting yang sangat berperan didalam pembangunan perumahan
dan permukiman adalah masyarakat, dimana sebagian besar pembangunan perumahan dan
menangani pembangunan perumahan dan permukiman di Kabupaten Pesawaran secara
umum terdiri dari:
1. Dinas Pekerjaan Umum : Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar
2. Badan Perijinan dan Penanaman Modal : Penertiban Ijin Mendirikan Bangunan (IMB)
3. Badan Pertanahan Nasional : Sertfikat Tanah/status hak penggunaan lahan
Sedangkan untuk pembangunan perumahan dan permukiman skala besar atau yang
dilakukan oleh pengembang, perencanaannya berdasarkan hasil rekaman resmi dari
BKPRD (Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah) Kabupaten Pesawaran yang
beranggotakan dinas/intansi terkait terhadap penataan ruang menyangkut rekomendasi:
Kesesuaian fungsi peruntukan lahan
Penyediaan fasilitas umum dan sosial seperti: jalan, drainase, RTH, TPU, TPS dan
lain-lain.
Sasaran Strategi Operasional
Perwujudan kondisi lingkungan permukiman yang sehat, aman, harmonis dan
berkelanjutan akan dilakukan melalui strategi operasional dengan sasaran sebagai berikut:
1 Peningkatan Kualitas Lingkungan Permukiman
Dengan prioritas permukiman kumuh di kawasan perkotaan dan daerah pesisir, yang
meliputi:
Penataan dan rehabilitasi kawasan permukiman kumuh
Perbaikan prasarana dan sarana dasar permukiman
Pengembangan Rumah Sewa, termasuk Rumah Susun Sederhana Sewa
(RUSUNAWA) di perkotaan
Untuk mendukung keberlanjutan permukiman, kualitas lingkungan secara keseluruhan dari
segi fungsional, lingkungan dan visual wujud lingkungan harus dapat terjaga sesuai dengan
karakteristik dan dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan setempat serta dampak
kesalingterkaitannya dengan kawasan disekitarnya pada skala yang lebih luas. Pada
kawasan permukiman kumuh, upaya peningkatan kualitas tidak dapat dilakukan hanya
terbatas pada aspek fisik lingkungannya, seperti pengadaan dan perbaikan prasarana dan
tridaya, yaitu secara menyeluruh disamping kegiatan utamanya memperbaiki lingkungan,
perumahan dan pendayagunaan prasarana serta sarana lingkungan secara konstekstual, juga
harus dapat secara seimbang menampung kebutuhan pengembangan sistem sosial
masyarakat dan pemberdayaan ekonomi lokal masyarakatnya.
Upaya peningkatan kualitas lingkungan permukiman yang pernah dilaksanakan selama ini,
seperti perbaikan kampung (KIP), pemugaran serta peremajaan lingkungan perumahan dan
permukiman kumuh dilaksanakan secara lebih komprehensif, sehingga untuk
keberhasilannya sangat diperlukan aktualisasi konsep pembangunan partisipatif yang
berbasis kepada keswadayaan masyarakat, termasuk didalamnya pertimbangan
pengarusutamaan gender, dan melembaganya kemitraan positif dari berbagai pelaku
pembangunan tidak saja dari sisi pemerintah dan masyarakat tetapi juga dari sisi dunia
usaha.
Pada kawasan permukiman padat penduduk di perkotaan dan permukiman kumuh di
daerah pesisir/nelayan, upaya peningkatan kualitas permukiman diarahkan untuk dapat
memenuhi kebutuhan perumahannya yang dilakukan dengan mengembangkan sistem
rumah sewa atau Rumah Susun Sederhana Sewa (RUSUNAWA). Dalam kaitan dengan
upaya peningkatan kualitas permukiman kumuh, pembangunan peremajaan kawasan dan
RUSUNA/RUSUNAWA tersebut harus tetap memberikan prioritas kepada masyarakat
miskin dan berpenghasilan rendah yang tinggal di permukiman kumuh tersebut untuk dapat
lebih mudah mengakses kebutuhan huniannya dengan menciptakan berbagai kemudahan
tertentu bagi mereka dan tetap berpegang kepada prinsip pembangunan dengan tanpa
menggusur.
Penerapan tata lingkungan permukiman dengan sasaran sebagai berikut:
Pelembagaan Rencana Pengembangan Perumahan dan Permukiman Daerah (RP4D)
Pelestarian bangunan yang dilindungi dan lingkungan permukiman tradisional
Revitalisasi lingkungan permukiman strategis
Pengembangan penataan lingkungan permukiman dan pemantauan standar pelayanan
Upaya pengembangan permukiman juga ditujukan secara seimbang bagi permukiman yang
terbangun, dengan tujuan untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas permukimannya
dan untuk meningkatkan kinerja kawasan sehingga dapat melampui ukuran indeks minimal
keberlanjutan kawasan.
Sejalan dengan dinamika masyarakat yang berinteraksi melakukan kegiatan berusaha,
bersosial budaya dan bertempat tinggal, keberlanjutan suatu permukiman sangat ipengaruhi
oleh tingkat pencapaian masyarakat secara keseluruhan dari segi sosial, ekonomi, dan
tuntutan lingkungan yang dikehendaki. Karena itu, standar pelayanan minimal kawasan
permukiman harus terus dimantapkan sekaligus diaplikasikannya konsep penataan
lingkungan permukiman yang responsif (layak huni, berjatidiri dan produktif). Penataan
lingkungan permukiman akan dikembangkan mulai dari yang berskala tapak bangunan
suatu lingkungan sampai dengan skala kawasan, dengan memperhatikan berbagai aspek
seperti keragaman fungsi lingkungan/kawasan, aksesbilitas, ekologi lingkungan dan saling
keterkaitan dengan fungsi ruang dan kawasan lainnya termasuk pertimbangan
keberlangsungan keanekaragaman hayati yang ada.
Analisis Kebutuhan Pengembangan Permukiman
A. Analisa Permasalahan
Analisis permasalahan dalam pengembangan permukiman Kabupaten Pesawaran
adalah sebagai berikut:
1. Kebutuhan Rumah dan Ketersediaan Lahan
Pada daerah yang memiliki luas wilayah yang terbatas masih terjadi
pengembangan kawasan permukiman secara horizontal. Hal ini tentunya akan
meningkatkan persaingan dalam hal kepemilikan lahan permukiman. Adanya
persaingan ini berkembang menjadi suatu keinginan untuk melakukan
penguasaan lahan berskala besar yang bertujuan untuk kepentingan dan
keuntungan perseorangan.
Selain itu pula terdapat beberapa penguasaan lahan untuk aktifitas produktifitas
yang rendah seperti rumah tinggal pada daerah / tempat yang strategis. Hal inin
lahan strategis bagi kegiatan produktifitas tinggi yang berimbas pada pendapatan
daerah.
Makin bertambahnya penduduk dan terbatasnya ketersediaan lahan untuk
pengembangan permukiman dan perumahan juga telah berimplikasi pada alih
fungsi lahan kawasan lindung dan konservasi kota seperti kawasan bukit dan
gunung serta sempadan sungai dan pantai untuk kegiatan atau pembangunan
perumahan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada semakin menurunya
kualtas lingkungan serta timbulnya bencana alam seperti banjir dan longsor.
Oleh karena itu pembangunan perumahan pada kawasan konservasi dan lindung
kota perlu dikendaikan dan dibatasi. Penerapan pola insentif dan disinsentif juga
dapat diterapkan sebagai salah satu wujud pengendalian pembangunan
2. Ketersediaan Prasarana Sarana Dasar
Prasarana dan sarana air limbah
Kondisi PSD air limbah Kabupaten Pesawaran belum sesuai dengan standar
yang ada, dimana masih terdapat pemanfaatan alur sungai sebagai jamban.
Selain itu masih terdapat septic tank – septic tank yang berukuran kecil
sehingga belum dapat memberikan pengolahan limbah secara memadai.
Prasarana dan sarana air bersih
Dengan menggunakan standar kebutuhan air di lingkungan perumahan
30-50 lt/org/hr dan dengan asumsi setiap KK terdiri dari 5 jiwa, maka setiap
KK memerlukan air bersih ± 250 ltr/KK/hr.
Prasarana persampahan
Berdasarkan asumsi 1 KK menghasilkan 10 ltr/KK/hr, maka pada tahun
2017 Kabupaten Pesawaran akan menghasilkan timbulan sampah sebesar
1.354.175 liter/hari. Pada saat ini pelayanan persampahan hanya mencapai <
50 % dari jumlah penduduk. Untuk sampah yang tidak terangkut sebagian
dikelola oleh penduduk setempat dan sebagian lagi masuk ke sungai ataupun
drainase yang ada. Beberapa kelurahan mengalami kendala terbatasnya
persoalan renumerasi dan terbatasnya jumlah kontainer penampungan
sampah.
Prasarana jalan lingkungan dan drainase
Kondisi jalan lingkungan dan drainase di Kabupaten Pesawaran rata-rata
berkondisi sedang hingga rusak. Berdasarkan standar Departemen
Permukiman dan Prasarana Wilayah, jalan lingkungan memiliki panjang 40
–60 m/ha dengan lebar 2 –5 m. Dengan standar tersebut dan asumsi setiap
hektarnya memerlukan 60 m jalan lingkungan, maka pada tahun 2017
Kabupaten Pesawaran memerlukan jalan lingkungan sepanjang 348,46 m
dan drainase di sisi kanan dan kirinya.
3. Masalah kelembagaan
Permasalahan kelembagaan di Kabupaten Pesawaran terutama yang berkaitan
dengan penyediaan perumahan dan permukiman adalah:
Kurangnya koordinasi antara perencanaan yang telah dibuat dengan
implementasi yang ada di lapangan
Pemberian perijinan penguasaan lahan untuk kawasan perumahan dan
permukiman yang belum mengacu pada dokumen rencana tata ruang
wilayah yang ada sehingga seringkali memunculkan konflik guna lahan
Izin lokasi pemanfaatan perumahan dan permukiman yang diberikan
seringkali melebihi kebutuhan nyata, sehingga mengakibatkan luas lahan
tidur semakin meningkat
Belum terorganisasikannya perencanaan/pemograman pembangunan
perumahan dan permukiman yang dapat saling mengisi antara ketersediaan
sumberdaya pembangunan dan kebutuhan yang berkembang di masyarakat
Penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman nampaknya
belum menjadi prioritas bagi Pemerintah Daerah.
Belum terciptanya mekanisme kerjasama anatar instansi pemerintah dan
lintas wilayah sehingga proses koordinasi keterpaduan rencana antar
kabupaten/kota dalam penyiapan prasarana dan sarana dasar permukiman
B. Alternatif Pemecahan dan Rekomendasi
Dari permasalahan-permasalahan diatas terlihat bahwa belum adanya suatu pedoman
bagi penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman di daerah yang
bertumpu pada kondisi daerah yang bersangkutan. Untuk mengantisipasi
permasalahan perumahan dan permukiman dimasa mendatang perlu disusun suatu
pedoman yang mengakomodasi kepentingan-kepentingan dalam aspek perumahan
permukiman yang meliputi prasarana sarana dasar dan kelembagaan yang
mengelolanya serta aspek pembiayaan dalam usaha kepemilikan rumah sehat.
Berdasarkan hal tersebut diatas, langkah-langkah penanganan yang direncanakan
adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan perumahan dan permukiman secara vertikal pada lokasi-lokasi
padat di kawasan pusat Kabupaten Pesawaran.
2. Pelibatan peran serta masyarakat mulai dari proses perencanaan, pemanfaatan
hingga pengendalian ruang, khususnya dalam penyelenggaraan pembangunan
perumahan dan permukiman melalui pengembangan forum komunikasi dan
kerjasama
3. Penyusunan Norma, Standar, Pedoman dan Manual (NSPM) yang dijadikan
acuan/pedoman khususnya dalam penyelenggaraan pembangunan perumahan
dan permukiman di daerah yang didasarkan pada kondisi setempat.
4. Pengembangan mekanisme pembiayaan perumahan dan permukiman yang
didasarkan pada kemampuan dan kebutuhan masyarakat.
5. Pengembangan program-program pembangunan perumahan dan permukiman
serta perbaikan dan peningkatan prasarana dan sarana dasar permukiman
6. Pemberian disinsentif bagi perumahan yang tidak berada pada daerah
peruntukan permukiman
7. Pengembangan community based development, dimana masyarakat diajak,
didorong dan difasilitasi untuk dapat berpartisipasi dalam penyelenggaraan
pembangunan perumahan dan permukiman
8. Pelaksanaan sosialisasi terhadap hasil-hasil perencanaan maupun
program-program pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan masalah perumahan
9. Pengembangan institusi pelayanan perumahan dan permukiman satu atap, yang
memungkinkan terciptanya proses koordinasi dan keterpaduan program
pembangunan perumahan dan permukiman.
7.1.2 Program-Program Sektor Pengembangan Permukiman
Kegiatan pengembangan permukiman terdiri dari pengembangan permukiman
kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Pengembangan permukiman kawasan
Perkotaan terdiri dari :
1) Pengembangan kawasan permukiman baru dalam bentuk pembangunan
Rusunawa serta
2) Peningkatan kualitas permukiman kumuh dan RSH.
Sedangkan untuk pengembangan kawasan Perdesaan terdiri dari :
1) Pengembangan kawaan permukiman pedesaan untuk kawasan potenisal
(Agropolitan dan Minapolitan), rawan bencana, serta perbatasan dan pulau
kecil,
2) Pengembangan kawasan pusat pertumbuhan dengan program PISEW (RISE),
3) Desa tertinggal dengan program PPIP dan RIS PNPM.
Selain kegiatan fisik di atas program/kegiatan pengembangan permukiman
dapat berupa kegiatan non-fisik seperti penyusunan SPPIP dan RPKPP ataupun
review bilamana diperlukan.
Pengembangan Kawasan Permukiman Perkotaan
• Infrastruktur kawasan permukiman kumuh
• Infrastruktur permukiman RSH
• Rusunawa beserta infrastruktur pendukungnya
Pembangunan Kawasan Permukiman Perdesaan
• Infrastruktur kawasan permukiman perdesaan potensial
(agropolitan/minapolitan)
• Infrastruktur kawasan permukiman perbatasan dan pulau kecil
• Infrastruktur kawasan permukiman kegiatan ekonomi dan sosial (PISEW)
• Infrastruktur perdesaan PPIP
• Infrastruktur RIS PNPM
Adapun alur fungsi dan program pengembanganpermukiman tergambar dalam gambar
berikut
Gambar 7.1 Alur Program Pengembangan Permukiman
Kriteria Kesiapan (Readiness Criteria)
Dalam pengembangan permukiman terdapat kriteria yang menentukan, yang terdiri dari
kriteria umum dan khusus, sebagai berikut .
1. Umum
• Ada rencana kegiatan rinci yang diuraikan secara jelas.
a. penyusunann kebijakan teknis dan strategi pengembangan permukiman di perkotaan dan perdesaan ;
b. pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi pengembangan
kawasan permukiman di perkotaan
dan pembangunan kawasan perdesaan potensial ;
c. pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi peningkatan kualitas permukiman kumuh terma-suk peremajaan kawasan dan pem-bangunan rumah susun sederhana ;
d. pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi peningkatan kualitas permukiman di kawasan tertiggal, terpencil, daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil termasuk penanggulangan bencana alam dan kerusakan sosial ;
e. penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria, serta pembinaan kelembagaan dan peran serta masyarakat di bidang pengembangan permukiman ; dan
• Indikator kinerja sesuai dengan yang ditetapkan dalam Renstra.
• Kesiapan lahan (sudah tersedia)
• Sudah tersedia (DED).
• Tersedia Dokumen Perencanaan Berbasis Kawasan (SPPIP, RPKPP, Masterplan
Kawasan Agropolitan, Metropolitan dan KSK)
• Tersedia Dana Daerah untuk Urusan Bersama (DDUUB) dan dana daerah untuk
pembiayaan komponen kegiatan sehingga sistem bisa berfungsi.
• Ada unit pelaksanaan kegiatan.
• Ada lembaga pengelola pasca kontruksi.
2. Khusus
Rusunawa
• Kesedian Pemda untuk penandatanganan MoA
• Dalam Rangka penangananKawasan Kumuh
• Kesanggupan Pemda menyediakan Sambungan Listrik, Air Minum, dan PSD
lainnya
• Ada calon Penghuni
Selain kriteria kesiapan seperti diatas terdapat beberapa kriteria yang harus diperhatikan
dalam pengusulan kegiatan pengembangan permukiman seperti untuk penanganan
kawasan kumuh di perkotaan. Mengacu pada UU No. 1/2011 tentang Perumahan dan
Kawasan Permukiman, permukiman kumuh memiliki ciri (1) ketidakteraturan dan
kepadatan bangunan yang tinggi, (2) ketidaklengkapan prasarana, sarana, dan utiltas umum
(3) penurunan kualitas umum, serta (4) pembangunan rumah, perumahan, dan permukiman
yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. Lebih lanjut kriteria tersebut
diturunkan ke dalam kriteria yang selama ini diacu oleh Ditjen. Cipta Karya meliputi
sebagai berikut :
1. Vitalitas Non Ekonomi
a. Kesesuaian pemanfaatan ruang kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
b. Fisik bangunan perumahan permukiman dalam kawasan kumuh memiliki
indikasi terhadap penanganan kawasan permikiman kumuh dalam hal
kelayakan suatu hunian berdasarkan intensitas bangunan yang terdapat
didalamnya.
c. Kondisi kependudukan dalam kawasan permukimman kumuh yang dinilai,
mempunyai indikasi terhadap penanganan kawasan permukiman kumuh
berdasarkan kerapatan dan kepadatan penduduk.
2. Vitalitas Ekonomi Kawasan
a. Tingkat kepentingan kawasan dalam letak kedudukannya pada wilayah kota,
apakah kawasan itu strategis atau kurang strategis.
b. Fungsi kawasan dalam peruntukan ruang kota, dimana ketekaitan dengan
faktor ekonomi memberikan ketertarikan pada investor untuk dapat menangani
kawasan kumuh yang ada. Kawasan yang termasuk dalam kelompok ini adalah
pusat-pusat aktivitas bisnis dan perdagangan seperti pasar, terminal/stasiun,
pertokoan, atau fungsi lainnya.
c. Jarak jangkau kawasan terhadap tempat mata pencaharian penduduk kawasan
permukiman kumuh.
3. Status Kepemilikan Tanah
a. Stastus pemilikan lahan kawasan perumahan permukiman
b. Status sertifikat tanah yang ada
4. Keadaan Prasaran dan Sarana
a. Kondisi Jalan
b. Drainase
c. Air bersih
d. Air limbah
a. Keinginan pemerintah untuk penyelenggraan penanganan kawasan kumuh
dengan indikasi penyediaan dana dan mekanisme kelembagaan penangannya.
b. Ketersediaan perangkat dalam penanganan, seperti halnya rencana penanganan
(grand scenario) kawasan, rencana induk (master plan) kawasan dan lainnya.
7.1.3 Usulan Program dan Kegiatan Sektor Pengembangan Permukiman
Secara sistematis sistem infrastruktur permukiman di Kabupaten Pesawaran yang
diusulkan dalam prioritas program infrastruktur permukiman adalah sebagai
berikut:
Tabel 7.4 Usulan dan Prioritas Program Infrastruktur Permukiman Kabupaten Pesawaran
No Program/Kegiatan Kondisi Saat Ini Kondisi Yang
Diinginkan
1. Penataan dan
Peremajaan
Kawasan
Masih banyaknya
kawasan-kawasan kumuh yang belum
tertangani
Kondisi PSD RSH masih banyak
yang kurang memadai
Usulan program dan kegiatan pengembangan permukiman di Kabupaten Pesawaran secara
rinci seperti tertera pada tabel berikut.
Masing-masing proyek disusun dengan memperhatikan fungsionalisasi proyek yang akan
dilaksanakan, disusun berdasarkan urutan prioritas penanganan, sehingga diperoleh
RINCIAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
PENGEMBANGAN PERMUKIMAN
1 PERATURAN PENGEMBANGAN PERMUKIMAN
2 PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENGEMBANGAN PERMUKIMAN
Pendampingan Kab/Kota Menyusun RP2KP (Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman)
Penyusunan RP2KP 1 2018 1 Laporan 400.000
Penyusunan Rencana Kawasan Permukiman
Penyusunan DED PSD Kawasan Permukiman Kumuh Kec. Padang Cermin 2018 1 Kawasan 175.000 Penyusunan DED PSD Kawasan Permukiman Kumuh Kwsn Punduh Pedada Kec. Punduh Pidada 2018 1 Kawasan 175.000 Perencanaan Teknis / Penyusunan DED RSH Perumahan Negeri Sakti Kawasan Gedong Tataan 2018 1 Kawasan 70.000 Perencanaan Teknis / Penyusunan DED Kawasan Permukiman Perdesaan Kws Agropolitan Gedong Tataan 2018 1 Kawasan 70.000 Perencanaan Teknis / Penyusunan DED Kawasan Permukiman Perdesaan Kws Agropolitan Kedondong 2018 1 Kawasan 70.000 Perencanaan Teknis / Penyusunan DED Kawasan Permukiman Perdesaan Kws Minapolitan Punduh Pidada 2018 1 Kawasan
Pembinaan dan Fasilitasi Kegiatan Pengembangan Permukiman Pengawasan Pengembangan Kawasan Permukiman 3 INFRASTRUKTUR KAWASAN PERMUKIMAN PERKOTAAN
Infrastruktur Kawasan Permukiman Kumuh
Pembangunan Infrastruktur kawasan permukiman kumuh Kec. Padang Cermin 2019 1 Kawasan 5.000.000 250.000 Pengawasan/Supervisi Kawasan Kumuh Kec. Padang Cermin 2019 1 Kawasan 175.000 Pembangunan Infrastruktur kawasan permukiman kumuh Kwsn Punduh Pedada Kec. Punduh Pidada 2019 2 Kawasan 5.000.000 250.000 Pengawasan/Supervisi Kawasan Kumuh Kwsn Punduh Pedada Kec. Punduh Pidada 2019 1 Kawasan 175.000 Pengawasan/Supervisi Konstruksi RSH Kawasan Gedong Tataan 2019 1 Kawasan 70.000 Pembangunan Infrastruktur kawasan permukiman kumuh Desa Batu Menyan Kec. Padang Cermin 2018 1 Kawasan 5.000.000 Pembangunan Infrastruktur kawasan permukiman kumuh Desa Kota Jawa Kec. Punduh Pidada 2018 1 Kawasan 1.000.000 Pembangunan Infrastruktur kawasan permukiman kumuh Desa Tanjung Kerta Kec. Way Khilau 2019 1 Kawasan 1.000.000 Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Kws.Gedong Tataan Kec.Gedong Tataan 2019 1 Kawasan 1.500.000 Pembangunan Insfratruktur Kawasan Punduh Pidada Kec.Punduh Pidada 2018 1 Kawasan 5.000.000 Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Kws.Gedong Tataan Kec.Gedong Tataan 2020 1 Kawasan 2.000.000 Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Kws.Tegineneng Kec.Tegineneng 2020 1 Kawasan 1.500.000 Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Kws.Tegineneng Kec.Tegineneng 2020 1 Kawasan 2.000.000 Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Kws.Punduh Pidada Kec.Punduh Pidada 2020 1 Kawasan 1.500.000 Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Kws.Punduh Pidada Kec.Punduh Pidada 2021 1 Kawasan 1.100.000 Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Kws.Padang Cermin Kec.Padang Cermin 2021 1 Kawasan 1.500.000 Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Kws.Pasar Kedondong Kec.Pasar Kedondong 2021 1 Kawasan 1.500.000
Infrastruktur Kawasan Miskin Perkotaan
Pembangunan Infrastruktur Permukiman RSH (Sukaraja, Kurungan Nyawa, Negeri Sakti) Kawasan Gedong Tataan 2018 4 Kawasan 2.000.000 200.000
Neighborhood Upgrading Shelter and Sector Project Phase-2 (NUSP-2)
4 PENYEDIAAN RUMAH SUSUN SEWA BESERTA INFRASTRUKTUR PENDUKUNGNYA
5 INFRASTRUKTUR KAWASAN PERMUKIMAN PERDESAAN
Infrastruktur Kawasan Permukiman Perdesaan Potensial yang Meningkat Kualitasnya
Pembangunan/Peningkatan Infrastruktur Kws Permukiman Perdesaan Kws Agropolitan Gedong Tataan 2018 1 Kawasan 2.000.000 300.000 250.000 Pengawasan/Supervisi Kawasan Permukiman Perdesaan Kws Agropolitan Gedong Tataan 2018 1 Kawasan 60.000
Pembangunan/Peningkatan Infrastruktur Kws Permukiman Perdesaan Kws Agropolitan Kedondong 2018 1 Kawasan 2.000.000 300.000 250.000 Pengawasan/Supervisi Kawasan Permukiman Perdesaan Kws Agropolitan Kedondong 2018 1 Kawasan 60.000
Pembangunan/Peningkatan Jalan Poros Desa Kws Minapolitan Kec. Punduh Pedada Kws Minapolitan Punduh Pidada 2019 1 Kawasan 120.000 42.000 Pengawasan/Supervisi Kawasan Permukiman Perdesaan Kws Minapolitan Punduh Pidada 2019 1 Kawasan 100.000 300.000 250.000
Gedung Tataan Gedung Tataan 2019 1 Kawasan 1.500.000
PSD Kws Perdesaan Potensial Agro Kec.Gedong Tataan Kec.Gedong Tataan 2019 1 Kawasan 1.100.000 PSD Kws Perdesaan Potensial Minapolitan Kec.Punduh Pidada Kec.Punduh Pidada 2020 1 Kawasan 1.100.000 PSD Kws Perdesaan Potensial Agro Kec. Kedondong Kec. Kedondong 2020 1 Kawasan 1.100.000
Total 46.140.000 1.320.000 2.052.000 0 0 0 0 0
Sub Total 2017 - - - - - - - - -Sub Total 2018 - 17.520.000 - - - - - - -Sub Total 2019 - 15.320.000 - - - - - - - -Sub Total 2020 - 9.200.000 - - - - - - -Sub Total 2021 - 4.100.000 - - - - - -
-KPS CSR DED/FS AMDAL / UKL / UPL
SUMBER PENDANAAN READINESS CRITERIA INDIKATOR OUTPUT
APBN
Volume APBD
Kab/Kota
Tabel 7.5 Usulan Pembiayaan Pengembangan Permukiman Kabupaten Pesawaran
RINCIAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
1 PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN BANGUNAN GEDUNG Perda BG
Bangunan Gedung Hijau (BGH) Bangunan Gedung Negara (BGN) Bangunan Gedung Khusus (BGK) Rumah Negara (RN)
2 PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENATAAN BANGUNAN KAWASAN PERMUKIMAN STRATEGIS Kawasan Strategis
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan 2018 1 Laporan 500.000 Penyusunan RTBL Kawasan Gedung Tataan Gedung Tataan 2018 1 Laporan 800.000 Penyusunan RTBL Kawasan Padang Cermin Padang Cermin 2018 1 Laporan 800.000 Penyusunan RTBL Kawasan Tegineneng Tegineneng 2018 1 Laporan 800.000 Penyusunan Rencana Tindak Pendataan dan Revitalisasi Kota Gedong Tataan, Kedondong, Padang 2018 1 Laporan 350.000
Penataan dan Revitalisasi Kawasan Strategis Kec. Gedong Tataan 2018 1 Kawasan 3.000.000 150.000 . Supervisi PSD Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kec. Gedong Tataan 2018 1 Kawasan 105.000
Penataan dan Revitalisasi Kawasan Strategis Kec. Way Lima 2018 1 Kawasan 3.000.000 150.000 Supervisi PSD Penataan dan Revitalisasi Kawasan Strategis Kec. Way Lima 2018 1 Kawasan 105.000
Penataan dan Revitalisasi Kawasan Strategis Kec. Gedong Tataan 2019 1 Kawasan 3.000.000 150.000 Supervisi PSD Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kec. Gedong Tataan 2019 1 Kawasan 105.000
Penataan dan Revitalisasi Kawasan Pedesaan Wisata Berbasis Pulau dan Ekosistem Terumbu Karang
Desa Batu Menyan Kec. Teluk Pandan 2019 1 Kawasan 1.000.000 Penataan dan Revitalisasi Kawasan Pedesaan Wisata Berbasis
Pulau dan Ekosistem Terumbu Karang
Desa Pulau Pahawang, Kampung Baru dan Pekon Ampai Kec. Marga Punduh
2018 3 Kawasan 3.000.000
Penataan dan Revitalisasi Kawasan Pedesaan Wisata Berbasis Pulau dan Ekosistem Terumbu Karang
Desa Pulau Legundi, Sukarame dan Kota Jawa Kec. Punduh Pidada
2018 3 Kawasan 3.000.000
Penataan dan Revitalisasi Kawasan Pedesaan Wisata Alam Air Terjun
Desa Gunung Rejo, Ceringin Asri, Sumber Jaya, Ponco Rejo, Pesawaran Indah, Harapan Jaya Dan
Wates Way Ratai Kec. Way Ratai
2018 1 Kawasan 1.000.000
Kawasan Pusaka
Perencanaan Teknis / DED PSD Penataan dan Revitalisasi Kec. Gedong Tataan 2019 1 Kawasan 300.000 Perencanaan Teknis / DED PSD Penataan dan Revitalisasi Kec. Way Lima 2019 1 Kawasan 300.000 Perencanaan Teknis / DED PSD Penataan dan Revitalisasi
Kawasan Kec. Gedong Tataan 2019 1 Kawasan 300.000
Kawasan Hijau Kawasan Tradisonal 3 PENYELENGGARAAN BANGUNAN GEDUNG
Bangunan Gedung Pusaka Bangunan Gedung Hijau Bangunan Gedung Khusus
Penyusunan Rencanan Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK 1 2020 Laporan 500.000 Pembangunan PSD Penanggulangan Kebakaran 1 2020 Kawasan 800.000
Bangunan Gedung Negara 4 PENATAAN BANGUNAN
Implementasi Kegiatan Prioritas Kawasan Pusaka Implementasi Kegiatan Prioritas Kawasan Hijau
Penyusunan Rencana Tindak Ruang Terbuka Hijau Gedong Tataan 2020 1 Kawasan 250.000 100.000 Pembangunan Prasarana dan Sarana Ruang Terbuka Hijau Sidotot Gedong Tataan 2018 1 Kawasan 1.000.000
Supervisi Pembangunan PSD RTH Gedong Tataan 2018 1 Kawasan 35.000
Implementasi Kegiatan Prioritas Kawasan Khusus Kawasan Rawan Bencana
Kawasan Perbatasan/PLBN
Implementasi Kegiatan Prioritas Kawasan Tradisional 5 PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENATAAN LINGKUNGAN
Lingkungan Permukiman Tradisional
Penyusunan Rencana Tindak Kawasan Tradisional/Bersejarah Way Lima dan Punduh Pidada 2018 1 Laporan 250.000 Perencanaan Teknis / DED PSD Kawasan Tradisional dan
Bersejarah Kec. Way Lima 2018 1 Kawasan 30.000 Pembangunan PSD Kawasan Tradisional dan Bersejarah Kec. Way Lima 2019 1 Kawasan 1.000.000 100.000 Supervisi PSD Kawasan Tradisional dan Bersejarah Kec. Way Lima 2019 1 Kawasan 35.000
Perencanaan Teknis / DED PSD Kawasan Tradisional dan
Bersejarah Kec. Punduh Pidada 2019 1 Kawasan 30.000 Pembangunan PSD Kawasan Tradisional dan Bersejarah Kec. Punduh Pidada 2019 1 Kawasan 1.000.000 100.000 Supervisi PSD Kawasan Tradisional dan Bersejarah Kec. Punduh Pidada 2020 1 Kawasan 35.000
Perencanaan Teknis / DED PSD Kawasan Tradisional dan
Bersejarah Kec. Padang Cermin 2020 1 Kawasan 35.000 Pembangunan PSD Kawasan Tradisional dan Bersejarah Kec. Padang Cermin 2020 1 Kawasan 1.000.000 100.000 Supervisi PSD Kawasan Tradisional dan Bersejarah Kec. Padang Cermin 2020 1 Kawasan 35.000
Perencanaan Teknis / DED PSD Kawasan Tradisional dan
Bersejarah Kec. Tegineneng 2021 1 Kawasan 30.000 Pembangunan PSD Kawasan Tradisional dan Bersejarah Kec. Tegineneng 2021 1 Kawasan 1.000.000 100.000 Supervisi PSD Kawasan Tradisional dan Bersejarah Kec. Tegineneng 2021 1 Kawasan 35.000
Lingkungan Prasejahtera 6 KESWADAYAAN MASYARAKAT
27.540.000 0 1.875.000 100.000 0 0 0 0
Sub Total 2017 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Total 2018 17.745.000 0 330.000 0 0 0 0 0
Sub Total 2019 6.140.000 0 1.280.000 0 0 0 0 0
Sub Total 2020 2.620.000 0 135.000 100.000 0 0 0 0
Sub Total 2021 1.035.000 0 130.000 0 0 0 0 0
7.6 Usulan Program dan Kegiatan Pengembangan Permukiman Kabupaten Pesawaran
7.2 Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
Penataan bangunan dan lingkungan adalah serangkaian kegiatan yang diperlukan
sebagai bagian dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang, terutama untuk
mewujudkan lingkungan binaan, baik di perkotaan maupun di perdesaan,
khususnya wujud fisik bangunan gedung dan lingkungannya.
Kebijakan penataan bangunan dan lingkungan mengacu pada Undang-undang dan
peraturan antara lain :
1) UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
memberikan amanat bahwa penyelenggaraan penyelanggaraan perumahan
dan kawasan permukiman adalah adalah kegiatan perencanaan,
pembangunan, pemanfaatan, dan pengendalian, termasuk didalamnya
pengembangan kelembagaan, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran
masyarakat yang terkoordinasi dan terpadu.
Pada UU No. 1 Tahun 2011 juga di amantkan pembangunan kaveling tanah
yang telah dipersiapkan harus sesuai dengan persyaratan dalam
pembangunan, penguasaan, pemilikan yang tercantum pada rencana rinci tata
ruang dan Rencana tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)
2) UU No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
UU No. 28 Tahun 2002 memberikan amanat bangunan gedung
diselenggarakan secara tertib hukum dan diwujudkan sesuai dengan
fungsinya, serta dipenuhinya persyaratan administratif dan teknis bangunan
gedung.
Persyaratan administratif yang harus dipenuhi adalah :
a. Status hak atas tanah, dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas
tanah ;
b. Status kepemilikan bangunan gedung; dan
Persyaratan teknis bangunan gedung melingkupi persyaratan tata bangunan dan
persyaratan keandalan bangunan.Persyaratan tata bangunan ditentukan pada RTBL
yang di tetapkan oleh Pemda, mencakup peruntukan dan intensitas bangunan
gedung, arsitektur bangunan gedung, dan pengendalian dampak lingkungan.
Sedangkan, persyaratan keandalan bangunan gedung mencakup keselamatan,
kesehatan, keamanan, dan kemudian, UU No.28 tahun 2002 juga mengamatkan
bahwa dalam penyelenggaraan bangunan gedung yang meliputi kegiatan
pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran, juga diperlukan peran
masyarakat dan pembinaan oleh pemerintah.
3) PP 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung
Secara lebih rinci UU No. 28 tahun 2002 dijelskan dalam PP No. 36 Tahun 2005
tentang peraturan pelaksanaan dari UU No. 28/2002. PP ini membahas ketentuan
fungsi bangunan gedung, persyaratan bangunan gedung, penyelenggaraan
bangunan gedung, peran masyarakat, dan pembinaan dalam penyelenggaraan
bangunan gedung.Dalam peraturan ini ditekankan pentingnya bagi pemerintah
daerah untuk menyusun Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) sebagai
acuan rancang bangun serta alat pengendalian pengembangan bangunan dan
lingkungan.
4) Permen PU No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungan
Sebagai panduan bagi semua pihak dalam menyusun dan pelaksanaan dokumen
RTBL, maka telah ditetapkan Permen PU No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman
Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.Dalam peraturan tersebut,
dijelaskan bahwa RTBL disusun pada skala kawasan baik di perkotaan maupun
perdesaan yang meliputi kawasan baru berkembang cepat, kawasan terbangun,
kawasan dilestarikan, kawasan rawan bencana, serta kawasan gabungan dari
jenis-jenis kawasan tersebut.Dokumen RTBL yang disusun kemudian ditetapkan melalui
peraturan walikota/bupati.
5) Permen PU No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang
Permen PU No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang merupakan urusan wajib daerah yang
berhak diperoleh setiap warga secara minimal. Pada Permen tersebut dilampirkan
indikator pencapaian SPM pada setiap Direktorat Jenderal di lingkungan
Kementerian PU beserta sektor-sektornya.
Lingkup tugas dan fungsi tersebut dilaksanakan sesuai dengan kegiatan pada sektor PBL,
yaitu kegiatan penataan lingkungan permukiman, kegiatan penyelenggaraan bangunan
gedung dan rumah negara dan kegiatan pemberdayaan komunitas dalam penanggulangan
kemiskinan seperti ditunjukan pada gambar berikut.
Gambar 7.2 Lingkup Tugas PBL
Lingkup kegiatan untuk dapat mewujudkan lingkungan binaan yang baik sehingga terjadi
peningkatan kualitas permukiman dan lingkungan meliputi :
a. Kegiatan pembinaan lingkungan permukiman
• Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) ;
• Bantuan Teknis pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) ;
• Pembangunan Prasarana dan Saran peningkatan lingkungan permukiman kumuh dan nelayan ;
• Pembangunan prasarana dan sarana penataan lingkungan permukiman
tradisional
.
b. Kegiatan pembinaan teknis bangunan dan gedung
• Diseminasi peraturan dan perundangan tentang penataan bangunan dan
lingkungan;
• Peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan dan gedung ;
• Pengembangan sistem informasi bangunan gedung dan arsitektur ;
• Pelatihan teknis.
c. Kegiatan pemberdayaan masyarakat di perkotaan
• Bantuan teknis penanggulangan kemiskinan di perkotaan ;
• Paket dan Replikasi
7.2.1 Kondisi Eksisting
Di Kabupaten Pesawaran dalam mendirikan atau membangun/merenovasi
bangunan gedung baik fungsi hunian, fungsi keagamaan, fungsi usaha, fungsi
sosial, fungsi budaya atau fungsi kegiatan khusus dengan melihat dan memenuhi
persyaratan-persyaratan teknis dan administratif yang telah disebutkan dan
dijabarkan dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung,
sehingga dapat diatur/tertib, efisien, serasi, selaras dan terwujudnya bangunan
gedung yang menjamin keandalan dari segi keselamatan, kesehatan, kenyamanan
dan kemudahan.
Tabel 7.7 Isu Strategis Sektor PBL Kabupaten Pesawaran
N
No. Kegiatan Sektor PBL Isu Strategis Sektor PBL
1 Penataan Lingkungan
Permukiman
a Beberapa lokasi permukiman mengalami
perkembangan kegiatan yang terjadi
disekitarnya
2 Penyelenggaraan Bangunan
Gedung dan Rumah Negara
a Izin Mendirikan Bangunan (IMB) ditujukan
untuk terwujudnya tertib bangunan. Sehingga
setiap pengelola pembangunan dan
pemanfaatannya harus dilakukan secara tepat
guna, tertib, aman, serasi dan seimbang
dengan lingkungan hidup
3 Pemberdayaan Komunitas
dalam Penanggulangan
Kemiskinan
a Peningkatan peran serta masyarakat didalam
aktivitas penataan kawasan kumuh baik yang
berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan
(konstruksi) maupun pasca konstruksi
Sumber :Analisis RPIJM Kabupaten Pesawaran, 2016
Penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan di Kabupaten Pesawaran diperkuat
dengan adanya peraturan daerah dan peraturan lainnya.
Tabel 7.8 Peraturan Daerah/Peraturan Walikota terkait Penataan Bangunan dan Lingkungan di Kabupaten Pesawaran
No.
1 Peraturan Daerah No.3 tahun
2013 Ranperda Bangunan
2 Peraturan Lainnya - Izin Mendirikan
Bangunan
Sumber :BappedaKabupaten Pesawaran, 2016
Penggunaan lahan di Kabupaten Pesawaran secara eksisting sampai saat ini secara garis
Kabupaten Pesawaran secara eksisting juga telah menambah luas daratan Kabupaten
Pesawaran.
Mengenai kebersihan dan keindahan Kabupaten Pesawaran dalam beberapa tahun terakhir
dapat dikatakan mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah bertambahnya
pedagang kaki lima dan kantong-kantong permukiman kumuh.Bertambahnya jumlah
penduduk dan perilaku penduduk yang kurang peduli terhadap lingkungan berakibat
terhadap seringnya terjadi banjir apabila terjadi hujan. Banjir hampir merata terjadi di
beberapa lokasi akibat banyaknya penumpukan sampah dan Lumpur, sistem drainase dan
gorong-gorong yang tidak berfungsi dengan baik.
Hal penting yang perlu mendapat perhatian dalam memelihara kondisi lingkungan hidup
Kabupaten Pesawaran adalah mengintegrasikan fungsi sungai yang ada sebagai pengendali
banjir, pengaturan pemanfaatan kawasan gunung dan berbukit sebagai daerah resapan,
penataan ruang terbuka hijau dan pengelolaan kawasan pantai/pesisir.
A. Penataan Lingkungan Permukiman
Seiring dengan pertambahan penduduk dan perkembangan berbagai kegiatan
perkotaan, kondisi permukiman semakin lama semakin menurun. Beberapa lokasi
permukiman mengalami penurunan kualitas lingkungan akibat perkembangan
kegiatan yang terjadi disekitarnya. Sementara beberapa lokasi lainnya sejak awal
berada dibawah standar lingkungan perkotaan yang sehat dan nyaman akibat lokasi
rumah yang kurang memadai.
B. Bangunan Gedung dan Rumah Negara
Pemerintah Kabupaten Pesawaran melalui Dinas Tata Kota mengeluarkan suatu
prosedur tentang perizinan kepada seluruh warga masyarakat Kabupaten Pesawaran
yang akan melaksanakan pembangunan/menggunakan lahan dan hak atas
tanah/sertifikat diharuskan memiliki ijin peruntukan penggunaan tanah (Keterangan
Tabel 7.9 Penataan Lingkungan Permukiman di Kabupaten Pesawaran Kawasan
Tradisional/Bersejarah RTH Pemenuhan SPM Penanganan Kebakaran
Nama
an IMB % IMB HSBGN Instansi
Prasarana
Sumber :Analisis RPIJMKabupaten Pesawaran, 2016
Tabel 7.10 Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara di Kabupaten Pesawaran
No Jumlah bangunan Kondisi Bangunan Kepemilikan Fungsi
1
2
35 Gedung Kantor
1 Rehab Kantor Camat
Negeri Katon
Baik RR RB Milik Pemerintah
C. Pemberdayaan Masyarakat di Perkotaan
Untuk menjamin keberlanjutan pelaksanaan penataan kawasan kumuh salah satu
upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pesawaran adalah
peningkatan peran serta masyarakat didalam aktivitas penataan kawasan kumuh baik
yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan (konstruksi) maupun pasca
konstruksi.
Pemerintah Kabupaten Pesawaran dalam menata lingkungan kumuh berbasis
komunitas dengan menciptakan kemandirian masyarakat telah mencanangkan
program yaitu suatu program yang direncanakan oleh masyarakat dan untuk
masyarakat.
Tabel 7.11 Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan di Kabupaten Pesawaran
NO KECAMATAN KEGIATAN PNPM
BABAKAN LOAK
GUNUNG SARI BAYAS JAYA
PADANG CERMIN
KOTA JAWA KOTA JAWA
RUSABA RUSABA
BATURAJA BATURAJA
BAWANG BAWANG
SUKAMAJU SUKAMAJU
PAGAR JAYA PAGAR JAYA
PULAU LEGUNDI PULAU LEGUNDI
BANGUN REJO BANGUN REJO
BANDING AGUNG BANDING AGUNG
SUKAJAYA PIDADA SUKAJAYA PIDADA
SUKARAME
6 MARGA
PUNDUH
SUKAJAYA PUNDUH SUKAJAYA PUNDUH
TAJUR TAJUR
UMBUL LIMUS UMBUL LIMUS
PEKON AMPAI PEKON AMPAI
KUNYAIAN KUNYAIAN
KEKATANG KEKATANG
KAMPUNG BARU KAMPUNG BARU
SUKARAME PULAU PUHAWANG
PULAU PUHAWANG MAJA
MAJA
7 TEGINENENG
KRISNO WIDODO KRISNO WIDODO
BATANG HARI OGAN BATANG HARI OGAN
BUMI AGUNG BUMI AGUNG
GEDUNG GUMANTI GEDUNG GUMANTI
GERNING GERNING
GUNUNG SUGIH
BARU GUNUNG SUGIH BARU
KOTA AGUNG KOTA AGUNG
MARGO MULYO MARGO MULYO
MARGO REJO MARGO REJO
NEGARA RATU
WATES NEGARA RATU WATES
REJO AGUNG REJO AGUNG
SINAR JATI KEJADIAN
KEJADIAN TRIMULYO PANCA BAKTI
8 WAY LIMA
KOTA DALAM PADANG MANIS
PEKONDOH PEKONDOH GEDUNG
BANJAR NEGERI SINDANG GARUT
CIMANUK BATURAJA
MARGODADI WAY HARONG
PADANG MANIS GUNUNG REJO
PEKONDOH GEDUNG GEDUNG DALAM
SINDANG GARUT PAGUYUBAN
LUMBIREJO LUMBIREJO
ROWOREJO ROWOREJO
SIDOMULYO SIDOMULYO
SINAR BANDUNG SINAR BANDUNG
BANGUN SARI BANGUN SARI
PURWOREJO TANJUNG REJO
TANJUNG REJO NEGERI KATON
PONCO KRISNO NEGARA SAKA
TRI RAHAYU PAJAMBON
TRISNO MAJU PONCO KRISNO
TRI RAHAYU KARANG REJO NEGERI ULANGAN JAYA
BUMI AGUNG
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pesawaran, 2016
D. Permasalahan dan Tantangan
Penataan bangunan dan lingkungan adalah serangkaian kegiatan yang diperlukan
sebagai bagian dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang, terutama untuk
mewujudkan lingkungan binaan, baik di perkotaan maupun di perdesaan, khususnya
wujud fisik bangunan gedung dan lingkungan.
Visi penataan bangunan dan lingkungan adalah terwujudnya bangunan gedung dan
lingkungan yang layak huni dan berjati diri, sedangkan misinya adalah: i)
Memberdayakan masyarakat dalam penyelenggaraan bangunan gedung yang tertib,
berjati diri, serasi dan selaras, ii) Memberdayakan masyarakat agar mandiri dalam
penataan lingkungan yang produktif dan berkelanjutan.
Dalam penataan bangunan dan lingkungan terdapat beberapa permasalahan dan
tantangan yang antara lain:
1. Permasalahan dan tantangan di bidang Bangunan Gedung
Kurang ditegakkannya aturan keselamatan, keamanan dan kenyamanan