• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Tegallega

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "V. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Tegallega"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

5.1. Gambaran Umum Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Tegallega

5.1.1 Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Tegallega Perkembangan pajak di Indonesia sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dimana pada waktu itu sudah ada pemungutan pajak yang dikenal dengan nama Oorlogs Avergangs Blastik yang berarti “pajak peralihan”.

Seperti layaknya pemungutan pajak saat ini, pemungutan pajak pada zaman dulu dipungut berdasarkan undang-undang yang berlaku saat itu.

Pemungutan ini dilaksanakan oleh badan yang bernama Inspectie Vinantie yang memiliki wewenang untuk mengurus dan mengawasi masalah pemungutan pajak yang dilakukan secara paksa pada rakyat.

Keluar dari masa penjajahan Belanda, Indonesia masuk dalam masa penjajahan Jepang istilah Oorlogs Avergangs Blastik diganti dengan Zaimuba yang diberi tugas untuk mengurus masalah keuangan Jepang di Indonesia. Lepas dari tangan penjajah Jepang Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 pemerintah baru Indonesia mengganti istilah Zaimuba dengan “Inspeksi Keuangan”. Badan ini bertempat di Corcodia (Gedung Merdeka) Bandung yang terletak di Jalan Raya Barat atau untuk sekarang dikenal dengan nama jalan Asia Afrika.

Inspeksi Keuangan Bandung meliputi daerah swatantra tingkat II Kota Praja Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar.

Melalui Surat Keputusan Menkeu RI No. 276/KMK/1989 terhitung mulai tanggal 1 April 1989 seluruh Kantor Inspeksi Pajak di Indonesia berubah namanya menjadi “Kantor Pelayanan Pajak”. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menkeu RI No 561/KMK.01/1992 tanggal 21 Mei 1992 Organisasi Direktorat Jenderal Pajak diadakan reorganisasi sehingga jumlah KPP yang ada menjadi 120 KPP. Jumlah KPP di kodya Bandung sendiri menjadi 4 KPP yaitu:

(2)

1. KPP Bandung Timur yang terletak di jalan Kiaracondong No 372 Bandung.

2. KPP Bandung Tengah yang terletak di jalan Purnawarman No 21 Bandung.

3. KPP Bandung Barat yang terletak di jalan Soekarno Hatta Bandung.

4. KPP Cimahi yang terletak di jalan Raya Cimahi Bandung.

Untuk meningkatkan penerimaan dan pemberian pelayanan pajak kepada masyarakat secara selektif dan efisien maka perlu diadakan kembali penetapan mengenai organisasi dan tata kerja Direktorat Jenderal pajak.

Oleh karena itu, diberlakukanlah Surat Keputusan Menkeu RI No 756/KMK.01/1993 tanggal 3 Agustus 1993 yang disempurnakan lagi dengan Surat Keputusan Menkeu RI No 94/KMK.01/1994 tanggal 29 maret 1994 serta penyesuaian dengan wilayah.

Keberadaan KPP Pratama Bandung Tegallega dimulai pada tanggal 1 Januari 1980, saat Inspeksi Pajak Bandung dipecah menjadi dua bagian yaitu:

1. Inspeksi Pajak Bandung Timur yang berkedudukan di Jalan Asia Afrika Nomor 114 Bandung

2. Inspeksi Pajak Bandung Barat yang pada waktu itu berkedudukan di Jalan Purnawarman Nomor 21 dan mulai Januari 1981 pindah menempati gedung baru yang beralamat di Jalan Soekarno Hatta Nomor 216 Bandung

Pada tanggal 1 April 1989 seluruh kantor Inspeksi Pajak di seluruh Indonesia diubah menjadi Kantor Pelayanan Pajak. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No.276/KMK/89 tanggal 25 Maret 1989, istilah Inspeksi Pajak diubah menjadi tiga bagian yaitu:

1. Kantor Pelayanan Pajak (KPP)

Kantor bertugas menangani masalah pemberian Nomor Wajib Pajak (NPWP), masalah Surat Pemberitahuan (SPT), Penagihan Pajak dan Keberatan serta Pengukuhan Kena Pajak (PKP).

(3)

2. Unit Pemeriksaan dan Penyidikan (UPP)

Unit ini bertugas untuk melakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang telah memenuhi kriteria untuk diperiksa sebagaimana diatur dalam PP No. 31 tahun 1986 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Perpajakan.

3. Kantor Penyuluhan Perpajakan

Kantor ini bertugas memberikan penyuluhan kepada Wajib Pajak atau pada masyarakat agar seluruhnya mengetahui hak dan kewajiban sebagai Warga Negara Republik Indonesia untuk membayar pajak.

Berdasarkan surat Keputusan DJP Nomor KEP.112/PJ/2007, tentang penerapan organisasi, tata kerja dan saat mulai beropersinya Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi di lingkungan Kantor Wilayah DJP Banten, Kanwil Jawa Barat I dan II tanggal 28 Agustus 2007, terhitung mulai 9 Agustus 2007, KPP di Bandung dibagi menjadi:

1. KPP Karees yang beralamat di jalan Kiaracondong No 372 Bandung 2. KPP Cibeuning yang beralamat di jalan Purnawarman No 21 Bandung 3. KPP Tegallega yang beralamat di jalan Soekarno Hatta No 216

Bandung

4. KPP Bojonagara yang beralamat di jalan Asia Afrika No 114 Bandung 5. KPP Cicadas yang beralamat di jalan Soekarno Hatta No 781 Bandung

Adapun wilayah kerja untuk KPP Bandung Tegallega meliputi:

1. Kecamatan Bandung Kulon 2. Kecamatan Astana Anyar 3. Kecamatan Babakan Ciparay 4. Kecamatan Bojong Kaler 5. Kecamatan Bojongloa Kidul

5.1.2 Kantor Pelayanan Pajak Pratama

KPP Pratama merupakan salah satu badan pelaksana Direktorat Jenderal Pajak di bidang pelayanan pajak yang berada di bawah wewenang Kantor Wilayah Pajak

(4)

Dasar pemikiran dibentuknya KPP Pratama adalah sebagai berikut (Liberti Pandiangan, 2008):

1. Struktur penerimaan pajak saat ini masih bertumpu pada Wajib Pajak Badan (PPh dan PPN).

2. Kontribusi penerimaan PPH Wajib Pajak Orang Pribadi perlu ditingkatkan sebagaimana lazimnya di negara maju.

3. Pelayanan dan pengawasan yang lebih baik dengan cara membentuk kantor yang terintergrasi dengan cakupan wilayah yang lebih luas dan lebih dekat ke Wajib Pajak.

4. Pengawasan dan konsultasi perpajakan yang lebih intensif melalui pendekatan teritorial (dilakukan oleh Account Representative).

5. Sistem administrasi perpajakan yang lebih tertib

6. Sistem informasi yang terintegrasi dan pemanfaatan data secara maksimal.

7. Peningkatan kualitas pelayanan yang berkesinambungan.

8. Penerapan praktek Good Governance secara konsisten.

Karakteristik KPP Pratama sebagai berikut:

1. Gabungan dari tiga unit kanor (KPP, KP PBB dan Karipka).

2. All Taxes- mengadministrasikan PPh, PPN, PBB dan BPHTB.

3. Mengadministrasikan Wajib Pajak Badan dan Wajib Pajak Orang Pribadi.

4. Jumlah Wajib Pajak yang ditangani sangat banyak (ribuan).

5. Kontribusi pajak per Wajib Pajak kecil.

6. Penerapan konsep teritorial (penguasaan wilayah).

7. Terdapat seksi Ekstensifikasi Perpajakan- jumlah Wajib Pajaknya dapat terus bertambah.

Pada tanggal 28 Agustus 2007 terjadi penggabungan KPP, KP PBB dan Karipka menjadi KPP Pratama Bandung Tegallega. Tugas dan fungsi yang ada pada KPP, KP PBB dan Karipka bergabung pada seksi-seksi yang ada pada KPP Pratama sehingga ada beberapa perubahan baik dalam struktur organisasi, tugas dan fungsi, sistem kerja, sumber daya manusia dan sarana kantor.

(5)

5.1.3 Visi, Misi, Motto, Slogan dan Etos Kerja Pelayanan KPP Pratama Bandung Tegallega

Visi KPP Pratama Bandung Tegallega adalah Menjadi model pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem dan manajemen perpajakan kelas dunia yang dipercaya dan dibanggakan masyarakat.

Penjelasan mengenai visi tersebut sebagai berikut:

1. Menjadi model pelayanan masyarakat merefleksikan cita-cita untuk menjadi contoh pelayanan masyarakat bagi unit-unit instansi pemerintah lainnya.

2. Berkelas dunia berarti keinginan untuk mencapai tingkatan standar dunia atau standar internasional baik untuk kualitas aparatnya maupun kualitas kinerja dan hasil-hasilnya.

3. Dipercaya dan Dibanggakan Masyarakat merefleksi cita-cita untuk mendapatkan pengakuan masyarakat bahwa eksistensi dan kinerjanya memang benar-benar berkualitas tinggi dan akurat, mampu memenuhi harapan masyarakat serta cita-cita yang baik dan bersih.

Misi KPP Pratama Bandung Tegallega adalah menghimpun dana dalam negeri dari sektor pajak yang mampu menunjang kemandirian pembiayaan pemerintah berdasarkan undang-undang perpajakan dengan tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi. Motto KPP Pratama Bandung Tegallega adalah Wujudkan Masyarakat Sadar dan Peduli Pajak. Slogan KPP Pratama Bandung Tegallega adalah Tekad Kami Pelayanan Prima.

KPP Pratama Bandung Tegallega memiliki panduan kualitas pelayanan yang disebut Tujuh Etos Kerja Pelayanan, yang terdiri dari:

1. Komitmen terhadap janji pelayanan.

2. Mempertahankan profesionalisme demi kepentingan bangsa dan masyarakat.

3. Peduli kepada keindahan dan kebersihan.

4. Menjaga semangat kerjasama yang kokoh.

5. Menghormati perbedaan dan menjaga kesetaraan.

6. Bekerja dengan semangat menyelesaikan masalah wajib pajak dengan cepat,akurat dan profesional.

7. Menjaga nilai-nilai luhur budaya lokal dan nasional.

(6)

5.1.4 Struktur Organisasi, Fungsi dan Tugas KPP Pratama Bandung Tegallega

Struktur Organisasi KPP Pratama Bandung Tegallega terdiri dari : 1. Kepala Kantor

2. Sub Bagian Umum

a. Urusan Tata Usaha dan Kepegawaian b. Urusan Keuangan

c. Urusan Rumah Tangga

3. Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) 4. Seksi Penagihan

a. Sub Seksi Tata Usaha Piutang pajak (TUPP) b. Sub Seksi Penagihan Aktif

5. Seksi Pemeriksaan 6. Seksi Pelayanan

7. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan

8. Seksi Pengawasan dan Kosultasi (Waskon)

a. Sub Seksi Waskon I dengan wilayah kerja di Kecamatan Bandung Kulon

b. Sub Seksi Waskon II dengan wilayah kerja di Kecamatan Babakan Ciparay

c. Sub Seksi Wakon III dengan wilayah kerja di Kecamatan Bojongloa Kaler dan Bojong Kidul

d. Sub Seksi Wakon III dengan wilayah kerja di Kecamatan Astana Anyar

9. Kelompok Jabatan Fungsional

KPP Pratama merupakan salah satu badan pelaksana Direktorat Jenderal Pajak di bidang pelayanan pajak yang berada di bawah wewenang Kantor Wilayah Pajak. KPP Pratama Bandung Tegallega mengklasifikasikan fungsi dan tugasnya sebagai berikut:

1. Kepala KPP Pratama mempunyai fungsi dan tugas untuk memberikan penyuluhan, pelayanan dan pengawasan dalam pemeriksaan dan penagihan.

(7)

2. Sub Bagian Umum mempunyai fungsi dan tugas untuk melaksanakan urusan keuangan, kepegawaian, rumah tangga, tata usaha dan perlengkapan.

3. Seksi Pengolahan Data dan Informasi mempunyai fungsi dan tugas untuk mengumpulkan dan mengolah data, menyajikan informasi perpajakan, merekam dokumentasi perpajakan, mengurus tata usaha penerimaan pajak, pengalokasian dan penatausahaan penerimaan PBB dan BPHTB, pelayanan dukungan teknis komputer, memantau aplikasi e-SPT dan e- Filling serta menyiapkan laporan kinerja.

4. Seksi Penagihan mempunyai fungsi dan tugas untuk melaksanakan pelaksanaan dan penatausahaan penagihan aktif, piutang pajak, penundaan angsuran tunggakan pajak dan usulan penghapusan piutang pajak.

5. Seksi Pemeriksaan mempunyai fungsi dan tugas untuk melaksanakan penyusunan rencana pemeriksaan, pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan, penertiban dan penyaluran SP3 dan administrasi pemeriksaan lainnya.

6. Seksi Pelayanan mempunyai fungsi dan tugas untuk melaksanakan pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penetapan dan penertiban hukum pajak, penerimaan dan pengolahan surat pemberitahuan dan surat lainnya, memberikan penyuluhan pajak, pelaksanaan registrasi wajib pajak dan kerjasama perpajakan.

7. Seksi Ekstensifikasi mempunyai fungsi dan tugas untuk melaksanakan pelaksanaan dan penatausahaan pengamatan potensi pajak, pendataan subjek dan objek pajak, penilaian objek dan kegiatan ekstensifikasi perpajakan.

8. Seksi Pengawasan dan Konsultasi mempunyai fungsi dan tugas untuk melaksanakan pengawasan kepatuhan wajib pajak, memberikan bimbingan dan himbauan pada wajib pajak, konsultasi teknis perpajakan kepada wajib pajak menyusun profil wajib pajak analisis kinerja wajib pajak, rekonsiliasi data wajib pajak dalam rangka intensifikasi dan melakukan evaluasi hasil banding.

(8)

9. Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai fungsi dan tugas untukmelaksanakan koordinasi dengan seksi pemeriksaan pejabat fungsional, penilai dan berkoordinasi dengan seksi ekstensifikasi.

5.1.5 Tata Ruang, Sarana dan Fasilitas KPP Pratama Bandung Tegallega Saat ini KPP Pratama Bandung Tegallega yang beralamat di jalan Soekarno Hatta No 216 Bandung memiliki gedung kantor yang terdiri dari dua lantai yaitu :

1. Lantai satu terdiri dari : a. Ruang Pelayanan

b. Ruang Pengolahan Data dan Informasi c. Ruang Pemeriksaan

d. Mushola

2. Lantai dua terdiri dari : a. Ruang kepala kantor b. Ruang kesekretariatan c. Ruang Bagian Umum

5.2. Karakteristik Karyawan

Seluruh karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega berjumlah 90 orang baik pimpinan maupun non pimpinan. Karakteristik karyawan dapat dilihat pada Tabel 3.

Karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terdiri dari 65 orang laki- laki (72%) dan 25 orang perempuan (28 %). Berdasarkan usia, responden terbanyak berusia 31-40 tahun sebanyak 36 orang (40%). Berdasarkan masa kerja, responden terbanyak telah bekerja selama 1-2 tahun sebanyak 85 orang (94%). Masa kerja yang digunakan adalah masa kerja karyawan yang dihitung sejak terjadi pembentukan KPP Pratama Bandung Tegallega tanpa menghitung masa kerja sebelumnya meskipun sebagian besar karyawan telah bekerja di bidang sejenis. Berdasarkan tingkat pendidikan, responden terbanyak lulusan D4/S1 sebanyak 36 orang (40%). Berdasarkan golongan, responden terbanyak berada pada golongan IIIa-IIId sebanyak 54 orang

(9)

(60%). Berdasarkan bidang atau seksi, responden terbanyak berada di seksi pengawasan dan konsultasi sebanyak 27 orang (30%).

Tabel 3. Karakteristik karyawan

No Karakteristik Perbedaan Jumlah Persentase

1. Jenis Kelamin Laki-laki 65 72

Perempuan 25 28

2. Usia 21-30 21 23

31-40 36 40

41-50 17 19

>50 16 18

3 Masa Kerja 1< tahun 5 6

1-2 tahun 85 94

4. Tingkat Pendidikan SMA 17 19

D1-D3 23 26

D4/S1 36 40

S2-S3 14 15

5. Tingkat

Jabatan/Golongan

IIa- IId 34 38

IIIa-IIId 54 60

IVa-IVd 2 2

6. Sub/Seksi Kepala Kantor 1 1

Bagian Umum 9 10

PDI 10 11

Penagihan 6 7

Pemeriksaan 3 3

Pelayanan 17 19

Ekstensifikasi Perpajakan 5 6

Waskon 27 30

Fungsional 12 13

5.3. Analisis Penerapan Model Sistem Organisasi Pembelajaran pada KPP Pratama Bandung Tegallega

5.3.1 Tingkat Penerapan Sub Sistem Dinamika Pembelajaran

Dinamika pembelajaran merupakan sub sistem pertama dari model sistem organisasi pembelajaran. Hasil jawaban karyawan terhadap tingkat penerapan sub sistem dinamika pembelajaran pada KPP Pratama Bandung Tegallega berdasarkan karakteristik karyawan dapat dilihat pada Tabel 10.

Nilai range result diperoleh dari hasil perkalian setiap skala dengan jumlah responden yang memilih skala tersebut. Hasil perkalian tersebut kemudian dibagi dengan jumlah responden dalam penelitian. Adapun contoh perhitungan untuk range result sub sistem dinamika pembelajaran dengan responden karyawan laki-laki sejumlah 65 orang dapat dilihat pada Tabel 4.

(10)

Tabel 4. Contoh perhitungan range result sub sistem dinamika pembelajaran dengan responden karyawan laki-laki

Sub Indikator

Pembelajaran

Individu Kelompok Organisasi

Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 Jumlah 7 8 9 Jumlah 10 Jumlah

Pemilih 1 = 8 1 3 7 8 2 29 1 4 1 6 4 4

Pemilih 2 = 14 13 12 18 30 14 101 15 11 20 46 24 24

Pemilih 3 = 35 37 37 33 24 38 204 38 27 31 96 26 26

Pemilih 4 = 8 14 13 7 3 11 56 11 23 13 47 11 11

Jumlah 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65

Perhitungan [ (1x29) + (2x101) + (3x204) + (4x56)] : 65 [ (1x6) + (2x46) + (3x96) + (4x47)] : 65

[ (1x4) + (2x24) + (3x26) + (4x11)]

: 65 Hasil

perhitungan 16,42 8,83 2,68

Nilai Range Result Sub Sistem Dinamika Pembelajaran = (16,42 + 8,83 + 2,68) = 27,92

Berdasarkan perhitungan di atas maka sub sistem dinamika pembelajaran dengan responden laki-laki telah diterapkan dengan baik. Hal tersebut didasarkan pada range result menurut Marquardt. Bila nilai rata- rata akhir (range result) di atas 32 berarti tingkat penerapan model sistem organisasi pembelajaran sangat baik, 24-31 berarti tingkat penerapan model sistem organisasi pembelajaran baik, 16-23 berarti tingkat penerapan model sistem organisasi pembelajaran cukup dan di bawah 16 berarti tingkat penerapan model sistem organisasi pembelajaran kurang (Marquardt, 1996).

1. Tingkat Penerapan Sub Sistem Dinamika Pembelajaran Berdasarkan Jenis Kelamin Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem dinamika pembelajaran bila dilihat dari jenis kelamin menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan laki-laki dengan hasil jawaban karyawan perempuan.

Hal tersebut menunjukan bahwa penerapan pembelajaran individu, pembelajaran kelompok, dan pembelajaran organisasi dilakukan tanpa membedakan jenis kelamin karyawan.

2. Tingkat Penerapan Sub Sistem Dinamika Pembelajaran Berdasarkan Usia Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem dinamika pembelajaran bila dilihat dari usia menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan

(11)

bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan usia 21-30 tahun, usia 31-40 tahun, usia 41-50 tahun dan usia lebih dari 50 tahun. Hal tersebut menunjukan bahwa penerapan pembelajaran individu, pembelajaran kelompok, dan pembelajaran organisasi dilakukan tanpa membedakan usia karyawan.

Tabel 5. Persepsi karyawan terhadap penerapan sub sistem dinamika pembelajaran berdasarkan karakteristik karyawan

Karakteristik Karyawan

Range Result

Sub Sistem Dinamika Pembelajaran Nilai Range

Result Interpretasi Pembelajaran

Individu

Pembelajaran Kelompok

Pembelajaran Organisasi Jenis

Kelamin

Laki-laki 16,42 8,83 2,68 27,92 Baik

Perempuan 14,96 8,60 2,56 26,12 Baik

Usia

21-30 15,48 8,43 2,57 26,48 Baik

31-40 16,42 9,08 2,67 28,17 Baik

41-50 16,41 9,18 2,71 28,29 Baik

>50 15,44 8,06 2,63 26,13 Baik

Masa Kerja

1< tahun 13,80 6,60 2,60 23,00 Cukup Baik

1-2 tahun 16,14 8,89 2,65 27,68 Baik

Tingkat Pendidikan

SMA 14,53 8,24 2,53 25,29 Baik

D1-D3 14,83 8,17 2,61 25,61 Baik

D4/S1 16,81 9,36 2,75 28,92 Baik

S2-S3 17,71 8,86 2,57 29,14 Baik

Tingkat Golongan

IIa- IId 14,15 8,06 2,47 24,68 Baik

IIIa-IIId 17,05 9,20 2,72 28,96 Baik

IVa-IVd 20,00 9,00 3,50 32,50 Sangat baik

Sub/Seksi

Kepala Kantor

&

Bagian Umum

13,00 7,00 2,60 22,90 Cukup Baik

PDI 14,70 7,60 2,60 24,90 Baik

Penagihan 17,83 9,00 2,33 29,17 Baik

Pemeriksaan 16,33 8,67 2,33 27,33 Baik

Pelayanan 14,59 8,65 2,59 25,82 Baik

Ekstensifikasi 18,00 8.,60 2,60 29,20 Baik

Waskon 17,52 9,67 3,11 30,30 Baik

Fungsional 16,17 9,33 2,00 27,50 Baik

3. Tingkat Penerapan Sub Sistem Dinamika Pembelajaran Berdasarkan Masa Kerja Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem dinamika pembelajaran bila dilihat dari masa kerja kurang dari 1 tahun menunjukkan persepsi yang cukup baik dan masa

(12)

kerja 1-2 tahun menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan dengan masa kerja kurang dari 1 tahun dan karyawan dengan masa kerja 1-2 tahun. Hal tersebut dapat terjadi karena karyawan dengan masa kerja kurang dari 1 tahun belum mengenal dan memahami KPP Pratama Bandung Tegallega lebih dalam dan masih minimnya keterlibatan dalam penerapan pembelajaran individu, pembelajaran kelompok, dan pembelajaran organisasi.

4. Tingkat Penerapan Sub Sistem Dinamika Pembelajaran Berdasarkan Tingkat Pendidikan Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem dinamika pembelajaran bila dilihat dari tingkat pendidikan menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan dengan tingkat pendidikan SMA, D1-D3, D4/S1 dan S2-S3. Hal tersebut menunjukan bahwa penerapan pembelajaran individu, pembelajaran kelompok, dan pembelajaran organisasi dilakukan tanpa membedakan tingkat pendidikan karyawan.

5. Tingkat Penerapan Sub Sistem Dinamika Pembelajaran Berdasarkan Tingkat Golongan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem dinamika pembelajaran bila dilihat dari golongan IIa-IId menunjukkan persepsi yang baik, golongan IIIa-IIId menunjukkan persepsi yang baik dan golongan IVa-IVd. menunjukkan persepsi yang sangat baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa terdapat perbedaan perbedaan persepsi yang signifikan antara hasil jawaban karyawan golongan IIa-IId, golongan IIIa-IIId dan golongan IVa-IVd.

Hal tersebut dapat dimungkinkan terjadi karena semakin tinggi tingkat golongan karyawan maka keterlibatan dalam penerapan pembelajaran individu, pembelajaran kelompok, dan pembelajaran organisasi semakin tinggi.

(13)

6. Tingkat Penerapan Sub Sistem Dinamika Pembelajaran Berdasarkan Sub/Seksi

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem dinamika pembelajaran bila dilihat dari sub/seksi pengolahan data dan informasi (PDI), penagihan, pemeriksaan, pelayanan, ekstensifikasi, pengawasan dan konsultasi (WasKon), dan fungsional menunjukkan persepsi yang baik. Sedangkan bila dilihat dari persepsi kepala kantor dan bagian umum menunjukkan persepsi yang cukup baik. Hal tersebut dapat dimungkinkan terjadi karena pekerjaan di bagian umum tidak membutuhkan keahlian khusus dan seringkali bersifat rutinitas sehingga keterlibatan dalam penerapan pembelajaran individu, pembelajaran kelompok, dan pembelajaran organisasi dipersepsikan cukup oleh bagian umum.

Pembelajaran individu penting untuk transformasi organisasi yang berkelanjutan, untuk memperluas kemampuan inti organisasi, dan untuk mempersiapkan semua orang menghadapi masa yang akan datang.

Pembelajaran individu menjadi penting dilakukan agar kemampuan setiap anggota organisasi dapat berkembang dengan optimal.

Pembelajaran individu yang telah dilaksanakan oleh KPP Pratama Bandung Tegallega diantaranya adalah menempatkan pembelajaran secara kontinyu pada setiap karyawan sebagai prioritas utama, selalu berusaha mendorong karyawannya untuk belajar dan mengembangkan kemampuannya sendiri dan melakukan pelatihan mengenai cara belajar yang benar kepada karyawan.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa setiap karyawan harus mengikuti proses pelatihan yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Pelatihan yang dilakukan ada yang bersifat umum dan bersifat khusus.

Pelatihan yang umum biasanya diikuti oleh calon karyawan sebelum mulai bekerja. Pelatihan khusus disesuaikan dengan tugas-tugas pada bidang-bidang atau seksi-seksi tertentu saja, misalnya pelatihan yang berhubungan dengan pelayanan maka, KPP Pratama Bandung Tegallega akan mengikutsertakan karyawan seksi pelayanan untuk mengikuti pelatihan tersebut. Selain itu, beberapa karyawan KPP Pratama Bandung

(14)

Tegallega ada yang melanjutkan studinya baik dengan biaya sendiri maupun beasiswa untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas individu.

Pembelajaran kelompok penting untuk dilakukan karena suatu organisasi terdiri dari berbagai individu yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pembelajaran kelompok yang telah dilakukan oleh KPP Pratama Bandung Tegallega diantaranya adalah mensosialisasikan dan melakukan pelatihan bagaimana sebuah kelompok/tim bekerja sebagai sebuah tim yang saling berbagi dan belajar, mengadakan rapat lintas seksi, dan membuat tim fungsional lintas seksi.

Pembelajaran organisasi di KPP Pratama Bandung Tegallega menekankan pada bagaimana mencapai peningkatkan kemampuan organisasi, peningkatkan cara pandang dan produktivitas serta komitmen bersama. KPP Pratama Bandung Tegallega melakukan perencanaan dan evaluasi terhadap kemampuan organisasi setiap tahunnya. Selain itu, beberapa kegiatan formal maupun non formal dilakukan secara bersama untuk meningkatkan cara pandang, produktivitas dan komitmen bersama misalnya melalui kegiatan studi banding ke KPP Pratama lain.

Hasil nilai range result (rata-rata akhir) pada sub sistem dinamika pembelajaran secara umum dinilai baik oleh karyawan dari berbagai karakteristik. Hanya karyawan dengan masa kerja kurang dari satu tahun dan sub/seksi bagian umum yang menilai cukup baik dan karyawan dengan tingkat golongan IVa-IVd yang menilai sangat baik. Hal tersebut mengindikasikan mayoritas karyawan menyatakan bahwa sub sistem dinamika pembelajaran pada KPP Pratama Bandung Tegallega sebagian besar telah diterapkan (range result 24-31).

5.3.2 Tingkat Penerapan Sub Sistem Transformasi Organisasi

Transformasi organisasi merupakan sub sistem kedua dari model sistem organisasi pembelajaran. Hasil jawaban karyawan terhadap tingkat penerapan sub sistem transformasi organisasi pada KPP Pratama Bandung Tegallega berdasarkan karakteristik karyawan dapat dilihat pada Tabel 6.

(15)

Tabel 6. Persepsi karyawan terhadap penerapan sub sistem transformasi organisasi berdasarkan karakteristik responden

Karakteristik Karyawan

Range Result

Sub Sistem Transformasi Organisasi Nilai

Range Result Interpretasi Visi Budaya Strategi Struktur

Jenis Kelamin

Laki-laki 9,38 8,32 5,82 5,46 28,98 Baik

Perempuan 8,64 8,04 5,24 4,88 26,80 Baik

Usia

21-30 8,67 7,95 5,62 5,05 27,29 Baik

31-40 9,67 8,50 5,86 5,50 29,53 Baik

41-50 9,53 8,53 5,94 5,24 29,24 Baik

>50 8,38 7,75 4,94 5,25 26,31 Baik

Masa Kerja

1< tahun 7,40 6,80 5,20 5,20 24,60 Baik

1-2 tahun 9,28 8,33 5,68 5,31 28,60 Baik

Tingkat Pendidikan

SMA 8,82 7,47 5,18 4,47 26,24 Baik

D1-D3 8,04 7,57 5,22 5,09 25,91 Baik

D4/S1 9,81 8,83 6,08 5,58 30,31 Baik

S2-S3 9,86 8,79 5,86 5,57 30,07 Baik

Tingkat Golongan

IIa- IId 8,41 7,56 5,21 4,91 26,09 Baik

IIIa-IIId 9,59 8,59 5,91 5,50 29,59 Baik

IVa-IVd 11,00 10,50 6,50 6,50 34,50 Sangat

baik

Sub/Seksi

Kepala Kantor

&

Bagian Umum

8,10 6,60 5,10 5,00 24,80 Baik

PDI 8,00 6,80 5,30 4,90 25,00 Baik

Penagihan 10,83 8,17 6,33 6,00 31,33 Baik

Pemeriksaan 8,67 8,33 6,33 4,67 28,00 Baik

Pelayanan 8,12 8,35 4,88 4,82 26,18 Baik

Ekstensifika

si 10,00 7,60 5,00 5,20 27,80 Baik

Waskon 10,30 9,33 6,44 6,37 32,44 Sangat

Baik

Fungsional 9,00 8,50 5,50 4,00 27,00 Baik

1. Tingkat Penerapan Sub Sistem Transformasi Organisasi Berdasarkan Jenis Kelamin Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem transformasi organisasi bila dilihat dari jenis kelamin menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan laki-laki dengan hasil jawaban karyawan perempuan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa KPP Pratama Bandung Tegallega memiliki visi, budaya, strategi dan struktur yang jelas dan telah

(16)

diterapkan dengan baik serta dipahami oleh karyawan laki-laki dan karyawan perempuan.

2. Tingkat Penerapan Sub Sistem Transformasi Organisasi Berdasarkan Usia Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem transformasi organisasi bila dilihat dari usia menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan usia 21-30 tahun, usia 31-40 tahun, usia 41-50 tahun dan usia lebih dari 50 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa KPP Pratama Bandung Tegallega memiliki visi, budaya, strategi dan struktur yang jelas dan telah diterapkan dengan baik serta dipahami oleh semua karyawan dengan usia yang berbeda.

3. Tingkat Penerapan Sub Sistem Transformasi Organisasi Berdasarkan Masa Kerja Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem transformasi organisasi bila dilihat dari masa kerja menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan dengan masa kerja kurang dari 1 tahun dan karyawan dengan masa kerja 1-2 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa KPP Pratama Bandung Tegallega memiliki visi, budaya, strategi dan struktur yang jelas dan telah diterapkan dengan baik serta dipahami oleh semua karyawan dengan masa kerja yang berbeda.

4. Tingkat Penerapan Sub Sistem Transformasi Organisasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem transformasi organisasi bila dilihat dari tingkat pendidikan menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan dengan tingkat pendidikan SMA, D1-D3, D4/S1 dan S2-S3. Hal tersebut menunjukkan bahwa KPP Pratama Bandung Tegallega memiliki visi, budaya, strategi dan struktur yang jelas dan

(17)

telah diterapkan dengan baik serta dipahami oleh semua karyawan dengan tingkat pendidikan yang berbeda.

5. Tingkat Penerapan Sub Sistem Transformasi Organisasi Berdasarkan Tingkat Golongan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem transformasi organisasi bila dilihat dari golongan IIa-IId menunjukkan persepsi yang baik, golongan IIIa-IIId menunjukkan persepsi yang baik dan golongan IVa-IVd menunjukkan persepsi yang sangat baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa terdapat perbedaan perbedaan persepsi yang signifikan antara hasil jawaban karyawan golongan IIa-IId, golongan IIIa-IIId dan golongan IVa-IVd.

Hal tersebut terjadi karena golongan IVa-IVd merupakan perumus dan penentu kebijakan sehingga memiliki tingkat pemahaman yang lebih baik tentang visi, budaya, strategi dan struktur KPP Pratama Bandung Tegallega.

6. Tingkat Penerapan Sub Sistem Transformasi Organisasi Berdasarkan Sub/Seksi

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem transformasi organisasi bila dilihat dari sub/seksi bagian umum, pengolahan data dan informasi (PDI), penagihan, pemeriksaan, pelayanan, ekstensifikasi, dan fungsional menunjukkan persepsi yang baik. Sedangkan bila dilihat dari persepsi sub/seksi pengawasan dan konsultasi (WasKon) menunjukkan persepsi yang sangat baik.

KPP Pratama Bandung Tegallega memiliki visi yang jelas dan telah disosialisasikan kepada seluruh karyawan. Pimpinan dan non pimpinan KPP Pratama Bandung Tegallega menyadari pentingnya arti dari sebuah visi sebagai visi bersama yang menyediakan energi dan fokus terhadap pembelajaran, menciptakan tujuan dan nilai-nilai bersama, memberikan panduan perencanaan dan pemikiran strategis bagi organisasi.

Budaya yang berlaku di suatu organisasi akan menjadi petunjuk bagi anggota untuk berpikir, bertindak dan bersikap. Budaya organisasi membantu anggota untuk menemukan jati diri dan memiliki peranan

(18)

penting dalam pencapaian keberhasilan organisasi. Hal ini menyebabkan pemahaman tentang budaya organisasi penting diketahui, dipahami dan dibudayakan oleh setiap anggota.

Budaya organisasi yang berlaku di KPP Pratama Bandung Tegallega tertuang dalam Tujuh Etos Kerja Pelayanan. Etos kerja pelayanan ini menjadi panduan bagi karyawan untuk mengedepankan kualitas pelayanan yang sebagian besar telah diterapkan di KPP Pratama Bandung Tegallega.

Hasil jawaban pada Tabel 6 memperlihatkan bahwa KPP Pratama Bandung Tegallega selalu berusaha untuk menciptakan strategi-strategi yang dapat meningkatkan kemampuan organisasi. Strategi yang telah diterapkan dengan baik salah satunya berupa peningkatan kinerja pelayanan dengan mempersingkat mekanisme pembayaran pajak dan jangka waktu pelayanan. KPP Pratama Bandung Tegallega terus berusaha menciptakan strategi-strategi baru guna menghadapi perubahan lingkungan internal maupun eksternal.

KPP Pratama Bandung Tegallega berusaha untuk meningkatkan komunikasi hubungan kerja antar karyawannya. Upaya tersebut dapat dilihat dari proses penggabungan KPP, KP PBB dan Karipka sehingga terjadi perubahan baik dalam struktur organisasi, tugas dan fungsi, sistem kerja, sumber daya manusia dan sarana kantor yang mempermudah proses komunikasi. Selain itu, karyawan melakukan koordinasi satu sama lain atas dasar tujuan pembelajaran yang sama dan tidak mengkotak- kotakkan diri dalam lingkup seksi saja, tetapi juga melakukan proses belajar dari seksi ke seksi lain yang ada.

Hasil nilai range result (rata-rata akhir) pada sub sistem transformasi organisasi secara umum dinilai baik oleh karyawan dari berbagai karakteristik. Hanya karyawan dari tingkat golongan IVa-IVd dan karyawan dari sub/seksi pengawasan dan konsultasi yang menilai sangat baik. Hal tersebut tersebut mengindikasikan mayoritas karyawan menyatakan bahwa transformasi organisasi pada KPP Pratama Bandung Tegallega sebagian besar telah diterapkan (range result 24-31).

(19)

5.3.1. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pemberdayaan Manusia

Pemberdayaan manusia merupakan sub sistem ketiga dari model sistem organisasi pembelajaran. Hasil jawaban karyawan terhadap tingkat penerapan sub sistem pemberdayaan manusia pada KPP Pratama Bandung Tegallega berdasarkan karakteristik karyawan dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Persepsi karyawan terhadap penerapan sub sistem pemberdayaan manusia berdasarkan karakteristik responden

Karakteristik Karyawan

Range Result Sub Sistem Pemberdayaan Manusia Nilai Range Result

Interpreta Pegawai Manajer Pelanggan Supplier Mitra si

Kerja Masya

rakat Jenis

Kelamin

Laki-laki 5,74 9,43 5,37 2,57 2,37 2,26 27,74 Baik

Perempuan 4,96 8,44 5,00 2,16 2,12 1,84 24,52 Baik

Usia

21-30 5,19 9,00 5,14 2,43 2,14 2,14 26,05 Baik

31-40 5,18 9,58 5,53 2,47 2,39 2,22 28,00 Baik

41-50 5,59 9,00 5,12 2,35 2,41 2,12 26,59 Baik

>50 5,25 8,56 5,00 2,56 2,19 2,00 25,56 Baik

Masa Kerja

1< tahun 4,60 7,60 4,60 1,80 1,60 1,60 21,80 Cukup Baik 1-2 tahun 5,58 9,25 5,31 2,49 2,34 2,18 27,14 Baik

Tingkat Pendidikan

SMA 5,06 8,18 4,59 2,18 2,06 1,88 23,94 Cukup

Baik

D1-D3 4,78 7,96 5,09 2,35 2,04 1,78 24,00 Baik

D4/S1 6,03 9,92 5,47 2,56 2,42 2,33 28,72 Baik

S2-S3 6,00 10,36 5,86 2,71 2,71 2,57 30,21 Baik

Tingkat Golongan

IIa- IId 5,00 8,21 4,97 2,29 2,00 1,79 24,26 Baik IIIa-IIId 5,80 9,67 5,43 2,54 2,46 2,35 28,24 Baik IVa-IVd 7,00 11,50 6,00 3,00 3,00 2,50 33,00 Sangat

baik

Sub/Seksi

Kepala Kantor

&

Bagian Umum

5,00 8,10 4,20 1,90 1,90 1,80 23,00 Cukup

Baik

PDI 5,10 7,90 5,00 1,90 1,80 1,70 23,40 Cukup

Baik Penagihan 6,17 10,33 6,33 3,00 3,00 3,00 31,83 Baik Pemeriksaan 6,33 9,67 3,33 3,00 1.,33 2,00 24,67 Baik Pelayanan 4,65 7,94 5,12 2,41 2,06 1,53 23,71 Cukup

Baik Ekstensifikasi 5,80 8,40 5,00 2,80 3,20 2,40 27,60 Baik

Waskon 6,00 10,30 6,26 2,93 2,74 2,59 30,81 Baik

Fungsional 5,83 9,83 4,42 2,08 1,92 2,17 26,25 Baik

1. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pemberdayaan Manusia Berdasarkan Jenis Kelamin Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem pemberdayaan manusia bila dilihat dari jenis

(20)

kelamin menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan laki-laki dengan hasil jawaban karyawan perempuan.

2. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pemberdayaan Manusia Berdasarkan Usia Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem pemberdayaan manusia bila dilihat dari usia menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan usia 21-30 tahun, usia 31-40 tahun, usia 41-50 tahun dan usia lebih dari 50 tahun.

3. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pemberdayaan Manusia Berdasarkan Masa Kerja Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem pemberdayaan manusia bila dilihat masa kerja kurang dari 1 tahun menunjukkan persepsi yang cukup baik dan masa kerja 1-2 tahun menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan dengan masa kerja kurang dari 1 tahun dan karyawan dengan masa kerja 1-2 tahun. Hal tersebut dapat terjadi karena karyawan dengan masa kerja kurang dari 1 tahun belum mengenal dan memahami KPP Pratama Bandung Tegallega lebih dalam dan hanya melihat sebagian kecil pemberdayaan manusia yang telah dilakukan.

4. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pemberdayaan Manusia Berdasarkan Tingkat Pendidikan Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem pemberdayaan manusia bila dilihat dari tingkat pendidikan D1-D3, D4/S1 dan S2-S3 menunjukkan persepsi yang baik dan tingkat pendidikan SMA menunjukkan persepsi yang cukup baik.

Hasil jawaban karyawan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan dengan tingkat pendidikan SMA dengan tingkat pendidikan D1-D3, D4/S1 dan S2-S3.

(21)

5. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pemberdayaan Manusia Berdasarkan Tingkat Golongan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem pemberdayaan manusia bila dilihat dari golongan IIa-IId menunjukkan persepsi yang baik, golongan IIIa-IIId menunjukkan persepsi yang baik dan golongan IVa-IVd. menunjukkan persepsi yang sangat baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan golongan IIa- IId, golongan IIIa-IIId dan golongan IVa-IVd. Hal tersebut terjadi karena golongan IVa-IVd merupakan perumus dan penentu kebijakan sehingga menganggap pemberdayaan manusia telah dilakukan dengan baik oleh KPP Pratama bandung Tegallega.

6. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pemberdayaan Manusia Berdasarkan Sub/Seksi

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem pemberdayaan manusia bila dilihat dari sub/seksi penagihan, pemeriksaan, ekstensifikasi, pengawasan dan konsultasi (WasKon) dan fungsional menunjukkan persepsi yang baik. dan bila dilihat dari persepsi kepala kantor, sub/seksi bagian umum, pengolahan data dan informasi (PDI), dan pelayanan menunjukkan persepsi yang cukup baik.

KPP Pratama Bandung Tegallega berupaya mengembangkan dan memberdayakan karyawan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kinerja dengan cara mendelegasikan wewenang pada setiap pegawai untuk menyelesaikan pekerjaan maupun kegiatan belajarnya, pegawai diberi kesempatan untuk ikut dalam hal pengambilan keputusan, membuat rencana-rencana kerja, dan target-target individu.

Manajer/pimpinan KPP Pratama Bandung Tegallega memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk bekerja bersama-sama dalam melakukan proses belajar dan mengikutsertakan karyawan dalam memecahkan suatu masalah bersama. Pimpinan berperan aktif dalam melatih, mendampingi, dan memfasilitasi proses pembelajaran yang dilakukan oleh karyawan. Selain itu pimpinan KPP Pratama Bandung

(22)

Tegallega terus berusaha meningkatkan kesempatan belajar, bereksperimen, dan mempraktekkan apa yang telah dipelajari dan didapat oleh karyawan sehingga pengetahuan baru yang mereka peroleh dapat terus digunakan.

KPP Pratama Bandung Tegallega telah melakukan pemberdayaan pelanggan dengan baik dalam rangka perbaikan kualitas pelayanan yang diberikan. Pelanggan KPP Pratama Bandung Tegallega terdiri dari Wajib Pajak Orang Pribadi dan Wajib Pajak Badan yang tersebar di Kecamatan Bandung Kulon, Kecamatan Astana Anyar, Kecamatan Babakan Ciparay, Kecamatan Bojong Kaler, dan Kecamatan Bojongloa Kidul.

Kegiatan pemberdayaan pelanggan yang dilakukan adalah dengan berbagi informasi dengan pelanggan untuk mendapatkan saran-saran dari mereka yang berguna untuk perbaikan kualitas pelayanan melalui kotak saran dan kontak pengaduan. Selain itu, KPP Pratama Bandung Tegallega juga memberikan penyuluhan dan mengedukasi pelanggan melalui penyebaran pamflet, poster, kegiatan seminar maupun pelatihan.

Supplier bagi KPP Pratama Bandung Tegallega umumnya

memasok alat tulis kantor, software dan hardware komputer maupun perlengkapan perpajakan lainnya. Supplier melakukan kerjasama secara langsung dengan KPP atau melalui Kantor Wilayah Pajak terkait.

Pemberdayaan supplier telah diterapkan dalam proses pembelajaran yang terjadi di KPP Pratama Bandung Tegallega. Hal ini mencerminkan bahwa KPP Pratama Bandung Tegallega juga memperhatikan supplier yang dapat berkontribusi terhadap kegiatan organisasi dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Pemberdayaan mitra kerja telah dilakukan KPP Pratama Bandung Tegallega dalam rangka peningkatan pelayanan kepada pelanggan. Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam pemberdayaan mitra kerja adalah dengan memberi kesempatan kepada karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega untuk mengikuti seminar dan pelatihan yang diadakan oleh mitra kerja dengan harapan karyawan dapat belajar dari mereka dan pembelajaran ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan

(23)

ketrampilan baru yang berguna bagi karyawan. Mitra kerja dari KPP Pratama Bandung Tegallega adalah bank-bank pemerintah seperti Bank BRI, kantor pos, ditjen pajak, dan instansi pemerintah seperti pemda dan pemkot.

KPP Pratama Bandung Tegallega telah melakukan pemberdayaan masyarakat dengan cara memberikan informasi-informasi yang berhubungan dengan produk-produk mereka, melakukan edukasi dan penyadaran masyarakat akan pentingnya membayar pajak melalui media cetak dan media elektronik. KPP Pratama Bandung Tegallega memandang masyarakat sebagai salah satu sumber informasi yang dapat digunakan untuk memprediksi perubahan-perubahan di sekitar masyarakat yang sebagian juga merupakan pelanggan mereka.

Hasil nilai range result (rata-rata akhir) pada sub sistem pemberdayaan manusia secara umum dinilai baik oleh karyawan dari berbagai karakteristik. Hanya karyawan dengan masa kerja kurang dari satu tahun, tingkat pendidikan SMA, bagian umum, pengolahan data dan informasi (PDI) dan pelayanan menunjukkan persepsi yang cukup baik serta karyawan dengan tingkat golongan IVa-IVd menunjukkan persepsi yang sangat baik. Hal tersebut mengindikasikan mayoritas karyawan menyatakan bahwa pemberdayaan manusia pada KPP Pratama Bandung Tegallega sebagian besar telah diterapkan (range result 24-31).

5.3.3 Tingkat Penerapan Sub Sistem Pengelolaan Pengetahuan

Pengelolaan pengetahuan merupakan sub sistem keempat dari model sistem organisasi pembelajar. Hasil jawaban karyawan terhadap tingkat penerapan sub sistem pengelolaan pengetahuan pada KPP Pratama Bandung Tegallega berdasarkan karakteristik karyawan dapat dilihat pada Tabel 8.

1. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pengelolaan Pengetahuan Berdasarkan Jenis Kelamin Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem pengelolaan pengetahuan bila dilihat dari jenis kelamin menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan

(24)

menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan laki-laki dengan hasil jawaban karyawan perempuan.

Tabel 8. Persepsi karyawan terhadap penerapan sub sistem pengelolaan pengetahuan berdasarkan karakteristik responden

Karakteristik Karyawan

Range Result Sub Sistem Pengelolaan Pengetahuan Nilai Range

Result Interpretasi Akuisisi Penciptaan Penyimpanan Penyebaran

Jenis Kelamin

Laki-laki 8,71 8,08 5,29 6,09 28,17 Baik

Perempuan 8,04 7,56 5,12 5,68 26,40 Baik

Usia

21-30 8,33 7,76 5,05 5,90 27,05 Baik

31-40 8,81 8,11 5,39 6,17 28,47 Baik

41-50 8,47 8,18 5,53 6,06 28,24 Baik

>50 8,19 7,50 4,88 5,56 26,13 Baik

Masa Kerja

1< tahun 7,20 6,60 4,00 4,80 22,60 Cukup Baik

1-2 tahun 8,60 8,01 5,32 6,05 27,98 Baik

Tingkat Pendidikan

SMA 7,76 7,53 5,18 5,53 26,00 Baik

D1-D3 7,78 7,48 4,91 5,61 25,78 Baik

D4/S1 9,11 8,22 5,42 6,31 29,06 Baik

S2-S3 9,14 8,43 5,43 6,29 29,29 Baik

Tingkat Golongan

IIa- IId 7,91 7,65 5,09 5,71 26,35 Baik

IIIa-IIId 8,81 8,04 5,30 6,11 28,26 Baik

IVa-IVd 11,00 10,00 6,50 7,00 34,50 Sangat baik

Sub/Seksi

Kepala Kantor

&

Bagian Umum

7,50 6,50 4,20 4,80 23,00 Cukup Baik

PDI 7,60 7,30 4,60 5,40 24,90 Baik

Penagihan 9,00 8,83 6,00 7,00 30,83 Baik

Pemeriksaan 10,33 8,33 5,67 6,67 31,00 Baik

Pelayanan 7,71 7,65 5,35 5,88 26,59 Baik

Ekstensifikasi 8,20 8,40 5,60 5,60 27,80 Baik

Waskon 9,15 8,56 5,74 6,74 30,19 Baik

Fungsional 9,33 7,92 4,75 5,33 27,33 Baik

2. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pengelolaan Pengetahuan Berdasarkan Usia Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem pengelolaan pengetahuan bila dilihat dari usia menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan usia 21-30 tahun, usia 31-40 tahun, usia 41-50 tahun dan usia lebih dari 50 tahun.

(25)

3. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pengelolaan Pengetahuan Berdasarkan Masa Kerja Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem pengelolaan pengetahuan bila dilihat dari karyawan dengan masa kerja kurang dari 1 tahun menunjukkan persepsi yang cukup baik dan karyawan dengan masa kerja 1-2 tahun menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan dengan masa kerja kurang dari 1 tahun dan karyawan dengan masa kerja antara 1-2 tahun.

4. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pengelolaan Pengetahuan Berdasarkan Tingkat Pendidikan Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem pengelolaan pengetahuan bila dilihat dari tingkat pendidikan menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan dengan tingkat pendidikan SMA, D1-D3, D4/S1 dan S2-S3.

5. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pengelolaan Pengetahuan Berdasarkan Tingkat Golongan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem pengelolaan pengetahuan bila dilihat dari golongan IIa-IId menunjukkan persepsi yang baik, golongan IIIa-IIId menunjukkan persepsi yang baik dan golongan IVa-IVd menunjukkan persepsi yang sangat baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa terdapat perbedaan perbedaan persepsi yang signifikan antara hasil jawaban karyawan golongan IIa-IId, golongan IIIa-IIId dan golongan IVa-IVd.

6. Tingkat Penerapan Sub Sistem Pengelolaan Pengetahuan Berdasarkan Sub/Seksi

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem pengelolaan pengetahuan bila dilihat dari sub/seksi pengolahan data dan informasi (PDI), penagihan, pemeriksaan, pelayanan, ekstensifikasi, pengawasan dan konsultasi (WasKon) dan

(26)

fungsional menunjukkan persepsi yang baik dan bila dilihat dari persepsi sub/seksi bagian umum menunjukkan persepsi yang cukup baik.

KPP Pratama Bandung Tegallega telah menyadari arti pentingnya pengetahuan dan kemampuan dalam memanfaatkan informasi yang ada untuk meningkatkan kinerja organisasi. Akuisisi (penguasaan) pengetahuan berkaitan dengan pengumpulan informasi dan data yang ada dari dalam dan luar organisasi. KPP Pratama Bandung Tegallega memberi kesempatan yang sama bagi setiap karyawan untuk aktif mencari informasi yang berguna bagi organisasi baik informasi yang berasal dari dalam maupun dari luar organisasi. KPP Pratama Bandung Tegallega memberikan kesempatan bagi setiap karyawan untuk mengakses informasi melalui internet, studi banding ke organisasi lain, mengikuti pelatihan dan seminar yang dapat menambah pengetahuan setiap karyawan.

Penciptaan pengetahuan melibatkan pengetahuan baru yang diciptakan dalam organisasi melalui wawasan dan pemecahan masalah yang dihadapi oleh organisasi. KPP Pratama Bandung Tegallega telah melakukan penciptaan pengetahuan baru dengan cara mempersingkat proses pelayanan perpajakan dan meningkatkan kinerja karyawan sehingga terjadi peningkatan kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan.

Penyimpanan pengetahuan merupakan kegiatan pengkodean dan pemeliharaan pengetahuan organisasi agar dapat dengan mudah diakses oleh karyawan yang berkepentingan. Hasil jawaban responden tersebut memperlihatkan bahwa KPP Pratama Bandung Tegallega telah menerapkan penyimpanan pengetahuan dengan baik. KPP Pratama Bandung Tegallega memiliki sistem dan prosedur untuk memastikan bahwa pengetahuan (informasi) yang penting tersimpan dan tersedia agar setiap karyawan dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang mereka butuhkan baik yang berkaitan dengan pelanggan maupun pekerjaan karyawan, sehingga pekerjaan mereka dapat mereka selesaikan dengan baik.

(27)

Penyebaran dan penggunaan pengetahuan di KPP Pratama Bandung Tegallega telah dirasakan baik oleh karyawannya dan tidak hanya terpusat pada beberapa karyawan. Penyebaran informasi dan pengetahuan dilakukan melalui berbagai kegiatan baik secara formal maupun informal dengan cara pemberian buku atau lembar informasi, diskusi sesama karyawan, kegiatan seminar dan pelatihan. KPP Pratama Bandung Tegallega terus berusaha mengembangkan strategi dan mekanisme baru dalam penyebaran dan penggunaan pengetahuan dengan memanfaatkan teknologi.

Hasil nilai range result (rata-rata akhir) pada sub sistem pengelolaan pengetahuan secara umum dinilai baik oleh karyawan dari berbagai karakteristik. Hanya karyawan dengan masa kerja kurang dari satu tahun dan sub/seksi bagian umum menunjukkan persepsi yang cukup baik serta karyawan dengan tingkat golongan IV.a-IVd menunjukkan persepsi yang sangat baik. Hal tersebut mengindikasikan mayoritas karyawan menyatakan bahwa pengelolaan pengetahuan pada KPP Pratama Bandung Tegallega sebagian besar telah diterapkan (range result 24-31).

5.3.4 Tingkat Penerapan Sub Sistem Penerapan Teknologi

Penerapan teknologi merupakan sub sistem kelima dari model sistem organisasi pembelajaran. Hasil jawaban karyawan terhadap tingkat penerapan sub sistem penerapan teknologi pada KPP Pratama Bandung Tegallega berdasarkan karakteristik karyawan dapat dilihat pada Tabel 9.

1. Tingkat Penerapan Sub Sistem Penerapan Teknologi Berdasarkan Jenis Kelamin Karyawan

Persepsi karyawan KPP Pratama Bandung Tegallega terhadap tingkat penerapan sub sistem penerapan teknologi bila dilihat dari jenis kelamin menunjukkan persepsi yang baik. Hasil jawaban karyawan menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil jawaban karyawan laki-laki dengan hasil jawaban karyawan perempuan.

Gambar

Tabel 3. Karakteristik karyawan
Tabel 4. Contoh perhitungan range result sub sistem dinamika pembelajaran  dengan responden karyawan laki-laki
Tabel  5.  Persepsi  karyawan  terhadap    penerapan  sub  sistem  dinamika   pembelajaran berdasarkan karakteristik karyawan
Tabel  6.  Persepsi  karyawan  terhadap  penerapan  sub  sistem  transformasi  organisasi berdasarkan karakteristik responden
+6

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Kesadaran Perpajakan, Lingkungan, dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Kasus Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tegallega Bandung).

1) Pengecekan SPT dan E-SPT pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tegalega (KPP Pratama Tegalega) Pada umumnya telah mengikuti prosedur pengecekan SPT dan E-SPT

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penagihan pajak dengan surat teguran dan surat paksa terhadap pencairan tunggakan pajak di KPP Pratama

kerja praktek, Tata Cara Pemanfaatan Bank Data Pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bandung Tegallega telah berjalan dengan baik sesuai dengan SOP yang ditetapkan

No Item Pertanyaan Skor Tanggapan Responden Skor Skor % Skor 5 4 3 2 1 Aktual Ideal Aktual 1. Artinya klasifikasi data dalam database organisasi pada KPP Pratama di Wilayah Kota

KPP Pratama Lubuk Pakam sebelumnya adalah Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan Lubuk Pakam yang berada dibawah organisasi Kanwil Sumut II.Sejak dileburnya ketiga jenis

Mengingat KPP Pratama merupakan penggabungan dari KPP, KPPBB, dan Karikpa maka kepala Kantor KPP Pratama mempunyai Tugas Mengkoordinasi Pelaksanaan penyuluhan, pelayanan

Pembentukan KPP Wajib Pajak Besar dan KPP Madya telah diselesaikan pada akhir tahun 2006, sedangkan KPP Pratama yang ada saat ini baru berjumlah 15 KPP Pratama, yaitu KPP Pratama