SKRIPSI SARJANA
OLEH :
RAFIQA SYARAFINA NIM : 170704034
PROGRAM STUDI SASTRA ARAB FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini tidak pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah dituliskan atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang tertulis dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.
Apabila pernyataan yang saya perbuat tidak benar, saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar kesarjanaan yang saya peroleh.
Medan, 20 September 2021
RAFIQA SYARAFINA
NIM.170704034
i
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul" Analisis ويبشتلا /at-tasybĭh / Dalam Kitab نيعبرلاا ثيذح تيوونلا/ hadits al-arba’ĭn an-nawawiyah”., sebagai suatu karya tulis dalam memenuhi tugas akhir untuk mendapatkan gelar Sarjana Sastra (S.S) pada Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Medan.
Shalawat beriring salam kepada junjungan Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya, semoga kita mendapat syafaatnya di yaumul mahsyar kelak, aamiin.
Peneliti tentunya menyadari pada skripsi ini masih di temukan kekurangan disebabkan keterbatasan pengetahuan peneliti. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritikan dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini.
Akhir kata peneliti berharap semoga skripsi ini bermanfaat baik bagi peneliti dan para pembaca khususnya para peminat bahasa Arab.
Medan, 20 September 2021
RAFIQA SYARAFINA NIM. 170704034
ii
UCAPAN TERIMAKASIH
Pertama-pertama peneliti mengucapkan bersyukur Alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang tiada terhitung. Di antaranya nikmat kesehatan sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan seizin-Nya, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada Departemen Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Begitu pula, shalawat dan salam peneliti sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan petunjuk ke jalan yang diridhai-Nya. Pada kesempatan ini, peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu hingga selesainya skripsi ini. Sebagai ungkapan rasa bahagia peneliti ingin menghanturkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si, selaku Rektor Universitas SumateraUtara (USU), dan Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H.,M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) periode 2016-2021 yang telah mengelola dan menyelenggarakan universitas sesuai dengan visi dan misi Universitas Sumatera Utara beserta Wakil Rektor I Bapak Dr. Edy Ikhsan SH.
M.A, Wakil Rektor II Bapak Muhammad Arifin Nasution, S.Sos., M.Si., Apt.
2. Ibu Dr. T. Thyrhaya Zein, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU), dan Dr. Budi Agustono M.S. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) periode 2016-2021 beserta Wakil Dekan I Bapak Prof. Drs. Mauly Purba, M.A., Ph.D, Wakil Dekan II Ibu Dra. Heristina Dewi, M.Pd, dan Wakil Dekan III Bapak Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si, yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada peneliti untuk mengikuti pendidikan program Sarjana di Fakultas Ilmu Budaya USU.
3. Ibu Dr. Nursukma Suri, M.Ag selaku ketua Program Studi Sastra Arab dan Bapak Andi Pratama Lubis, S.S.,M.Hum selaku Sekretaris Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Dan Ibu Dra.
Rahlina Muskar Nst, M.Hum., Ph.D, selaku Ketua Program Studi Sastra Arab dan Bapak Drs. Bahrum Saleh, M.Ag, selaku Sekretaris Program Studi Sastra
iii
Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Periode 2017-2021, yang telah meluangkan waktu untuk membantu peneliti menyelesaikan penelitian ini.
4. Ibu Dr. Rahimah M.Ag, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan banyak perhatian dan dukungan serta meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran guna memberikan bimbingan dan arahan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga ibu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin
5. Bapak Dr. Windi Chaldun, Lc.,M.Hum dan Drs. Suwarto,M.Ag selaku dosen penguji dan pengajar dengan penuh perhatian dan kasih sayang serta telah meluangkan waktu dan pikiran dalam membantu dalam proses penelitian ini hingga selesai.
6. Ibu Dr. Pujiati, M.Sos.Sc.,Ph.D, selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah memberikan perhatian, arahan dan nasehat kepada peneliti selama masa perkuliahan di Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
7. Seluruh Staf Pengajar di Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan banyak ilmu kepada peneliti selama masa perkuliahan. Semoga Allah melipatgandakan kebaikan untuk semua staf pengajar atas jasanya dalam menyebarkan ilmu. Aamiin.
8. Teristimewa dan tersayang, dengan penuh kasih sayang dan rasa cinta peneliti ucapkan kepada Ayah tercinta Sugianto dan Ibu tercinta Sumawarningsih yang telah memberikan banyak dukungan, dorongan, nasihat, semangat, perhatian, ketulusan, yang semua itu tak ternilai hingga peneliti dapat menyelesaikan pendidikan dan mendapat gelar sarjana. Semoga keduanya senantiasa mendapat curahan rahmat dan karunia-Nya. diberi kesehatan, umur yang berkah, serta limpahan rezeki oleh Allah SWT. Aamiin.
9. Tersayang, Suami Saya Riski Agung Gumelar dan Adik Nada Nabihlah dan Muhammad Oryza Sativa Husin, serta seluruh keluarga dan juga kerabat dekat peneliti yang telah memberikan bantuan do‟a dan semangat kepada peneliti sehingga skripsi ini selesai dan peneliti mencapai gelar sarjana.
iv
10.Tersayang sahabat terbaik Nur Fitriyani, Nur Silvi, dan teman-teman kost Kriswati, Siska, Putri Ayu, Wulandari, Nadia, Nurul dan kak Isti yang selalu memberikan semangat, dukungan, dan do‟a sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi ini. Semoga persahabatan ini akan terjalin selamanya.
10. Seluruh keluarga besar Sastra Arab khususnya teman-teman sekelas angkatan 2017, Deti, Feny, Rilla, Kaya, Devi, Putri Oktavian dan teman-teman seperjuangan lainnya yang tidak bisa peneliti tuliskan satu persatu. Semoga kita sukses dan persaudaraan kita tetap terjaga.
11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Terimakasih untuk segala kebaikan dan ketulusan dalam membantu proses skripsi ini. Semoga diganjar Allah dengan kehidupan yang penuh berkah. Aamiin.
Medan, 20 September 2021
Peneliti,
RAFIQA SYARAFINA
NIM.170704034
v DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
UCAPAN TERIMAKASIH... ii
DAFTAR ISI ... v
ABSTRAK ... vii
ةروص تيذيرجت ... viii
PEDOMAN TRANSLITERASI ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian... 8
1.4 Manfaat Penelitian... 8
1.5 Metode Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1 Kajian terdahulu ... 10
2.2 Landasan Teori ... 13
2.2.1 Pengertian Hadits Arba‟in An-Nawawiyah ... 13
2.2.2 Pengertian Balaghah ... 14
2.2.3 Pengertian Ilmu Bayan... 16
2.2.4 PengertianTasybih... 17
A. Pengertian Tasybih... 17
B. Rukun Tasybih... 19
C. PembagianTasybih... 19
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26
3.1 Hasil ... 26
3.1.1 Jumlah Tasybih yang terdapat dalam kitab Hadits Arba‟in An Nawawiyah ... ... 26
3.2 Pembahasan... 27
3.2.1 Jenis- Jenis Tasybih yang terdapat dalam kitab Hadits Arba‟in An-Nawawiyah ... 27
BAB IV PENUTUP ... 67
4.1 Kesimpulan ... 67
4.2 Saran ... 68
DAFTAR PUSTAKA ... 69 LAMPIRAN I ...
LAMPIRAN II ...
vi ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis ٚ٤جؾزُا /at-tasybĭh yang terdapat pada kitab Hadits Arba‟in An Nawawiyah. Peneliti membatasi penelitian hanya pada jenis ٚ٤جؾزُا /at-tasybĭh yang dilihat dari adaatu tasybih dan wajhu syibh nya saja, yaitu : tasybih mursal , tasybih mujmal, tasybih mufashshal, tasybih muakkad dan tasybih baligh. Dalam menganalisis permasalahan penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan menerapkan pembacaan dan pemilihan langsung dari kitab Hadits Arba‟in An-Nawawiyah dengan mencari, mencatat dan menganalisis jenis tasybih yang terdapat dalam kitab tersebut menggunakan teori Jarim dan Amin dalam buku Albalaghah Al- Wadhiha. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ٚ٤جؾزُا /at-tasybĭh yang terdapat pada kitab Hadits Arba‟in An Nawawiyah berjumlah 39 (tiga puluh Sembilan) yang terdiri dari 8 (delapan) tasybih mursal, 5 (lima) tasybih mujmal, 25 (dua puluh lima) tasybih baligh, 1(satu) tasybih mufashshal. Jenis tasybih yang ditemukan pada kitab Hadits Arba‟in An-Nawawiyah ada empat yaitu tasybih mursal , tasybih mujmal, tasybih mufashshal, dan tasybih baligh.
Kata kunci : Tasybih, Hadits, Arba'in An Nawawiyah, Penelitian
vii
تيذيرجت ةروص
عاٞٗأ ٝ داذػ٧ ٖػ خكشؼُٔ شؾجُا ازٛ فذٜ٣ ٖ٤ؼثسلاا ش٣ذؽ ةبزً ٢ك ٚ٤جؾزُا
خ٣ُٝٞ٘ا . ػوك ٚجؾُا ٚعٝ ٝ ٚ٤جؾزُا حادا ٖٓ ٢ئشُٔا ٚ٤جؾزُا عٞٗ ٠ِػ ػوك شؾجُا شؽبجُا شصو٣
٢ك .ؾ٤ِجُا ٚ٤جؾُا ٝ َصلُٔا ٚ٤جؾزُا ,َٔغُٔا ٚ٤جؾزُا , ذًؤُٔا ٚ٤جؾزُا,َعشُٔا ٚ٤جؾزُا ٞٛ ٝ . خ٤ػُٞ٘ا خ٤لصُٞا خو٣شطُا تربٌُا ّذخزغر شؾجُا ًَبؾٓ َ٤ِؾر شؾجُا ٞٛ شؾجُا ازٛ
٢جزٌُٔا ؾر ,
خ٣ُٝٞ٘ا ٖ٤ؼثسلاا شثذؾُا تزً حءاشه ن٣شغ ٖػ يُر ْز٣ دبٗب٤ث َ٤صؾر ٝ خِ٤ٌ
ٖػ شؾجُا ٍلاخ ٖٓ حشؽبجٓ
ُا عاٞٗا .ٚ٤جؾز
ٖ٤ٓأ ٝ ْ٣شع ٖٓ خ٣شظُ٘ا َٔؼزغر ةبزً ٢ك
ضاُٞا خؿلاجُا
َ٤ِؾر ذعٞ٣ شؾجُا ازٛ ٖٓ خغ٤زُ٘ا بٓأٝ . ٖ٤ؼثسلاا ش٣ذؽ ةبزً ٢ك ٚ٤جؾزُا
٣ُٝٞ٘ا
ٙداذػؤج 33 . 8
ُا ٖٓ
,َعشُٔا ٚ٤جؾز 5
,َٔغُٔا ٚ٤جؾزُا ٖٓ
1 ٝ ,َصلُٔا ٚ٤جؾزُا ٖٓ
25 خؼثسا خ٣ُٝٞ٘ا ٖ٤ؼثسلاا ش٣ذؾُا ةبزً ٢ك دٞعُٞٔا ٚ٤جؾزُا عاٞٗا ٝ .ؾ٤ِجُا ٚ٤جؾزُا ٖٓ
ؾ٤ِجُا ٚ٤جؾُا ٝ َصلُٔا ٚ٤جؾزُا ,َٔغُٔا ٚ٤جؾزُا , ,َعشُٔا ٚ٤جؾزُا : ٞٛٝ
حذؽشٓ خًِٔ
: ،ش٣ذؽ ،ٚ٤جؾزُا شؾث ،خ٣ُٝٞ٘ا ٖ٤ؼثسلاا
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN
viii
Pedoman transliterasi yang digunakan adalah Sistem Transliterasi Arab- Latin Berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.158/1987 dan No. 0543 b/U/1987 tertanggal 22 Januari 1988.
A. Konsonan Tunggal
Huruf Arab Huruf Huruf Latin Keterangan
ا Alif - tidak
dilambangkan
ة Ba B -
د Ta T -
س Tsa ṡ s (dengan titik di
atasnya)
ط Jim J -
ػ Ha ḥ h (dengan titik
di bawahnya)
ؿ Kha Kh -
د Dal D -
ر Dzal Ż z (dengan titik
di atasnya)
س Ra R -
ص Zai Z -
ط Sin S -
ػ Syin Sy -
ؿ Sad Ś s (dengan titik di
atasnya)
ض Dad ḍ d (dengan titik
di bawahnya)
غ Ta ṭ t (dengan titik di
bawahnya)
ظ Zha ẓ z (dengan titik
ix
Hamzah (ء (yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apa pun. Jika ia terletak di tengah atau di akhir, maka ditulis dengan tanda (‟).
B. Konsonan Rangkap
Konsonan rangkap, termasuk tanda syaddah, ditulis rangkap. Contoh: خ٣ذٔؽ أ ditulis /aḥmadiyya
C. Tā`′ marbuṭāh di akhir kata
1. Bila dimatikan ditulis h, kecuali untuk kata-kata Arab yang sudah terserap menjadi bahasa Indonesia, seperti salat, zakat, dan sebagainya.
Contoh: خػبٔع ditulis /jama‟ah/
2. Bila dihidupkan ditulis t
di bawahnya)
ع „ain „ koma terbalik
(di atas)
ؽ Gain G -
ف Fa F -
م Qaf Q -
ى Kaf K -
ٍ Lam L -
ّ Mim M -
ٕ Nun N -
ٝ Waw W -
ٙ Ha H -
ء Hamzah ′ apostrof, tetapi
lambing ini tidak dipergunakan untuk hamzah di
awal kata
١ Ya Y -
x
Contoh: ءب٤ُٝ٧ا خٓاشً ditulis /karāmatu al-auliyā ′/
D. Vokal Pendek
Fathah ditulis „a‟, contoh: تِغ ditulis / ṭalaba/
Kasrah ditulis „i‟, contoh: مصسditulis /rizqun/
Dhammah ditulis „u‟, contoh: ٖغؽ ditulis /hasuna/
E. Vokal Panjang
a panjang ditulis „ā‟, contoh: ّبٗ/nāma/
i panjang ditulis „ȋ‟, contoh:ت٣شه /qarȋbun/
u panjang ditulis „ū‟, contoh :سٞطك /faṭūr /
F. Vokal Rangkap
Vokal rangkap ١ َـ (fathah dan ya ′) ditulis „ai‟
Contoh: ذ٤ث ditulis /baitun/
Vokal rangkap ٝ ُـ (fathah dan waw) ditulis „au‟
Contoh: َّٞه ditulis /qaumun/
G. Vokal-vokal Pendek yang Berurutan dalam satu kata Dipisahkan dengan apostrof (′)
Contoh:ْزٗأأ ditulis /a ′antum/
H. Kata Sandang Alif+ Lam
1. Bila diikuti huruf qamariyah ditulis al- Contoh: ٕاشوُا/Al-Qur‟an/
2. Bila diikuti huruf syamsiyah, huruf pertama diganti dengan huruf syamsiah yang mengikutinya.
Contoh: ظٔؾُا /asy-syamsu/
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Hadits adalah sumber ajaran agama Islam kedua setelah Al-Qur'an, karenanya mempelajari hadits - hadits Rasulullah SAW merupakan kewajiban sebagaimana mempelajari Al-Qur‟an. Hadits sangat penting difahami oleh umat Islm karena hadits juga merupakan penjelasan ayat Al – Qur‟an yang memiliki arti yang umum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hadits adalah sabda (perkataan) dan perbuatan Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan atau diceritakan oleh sahabat sahabatnya (untuk menjelaskan dan menentukan hukum Islam).
Pengertian hadits menurut syaikh Al - Utsaimin dalam kitab Musthalahul Hadits : tt : 12
ٞٛ ش٣ذؾُا ٝا ش٣شور ٝا َؼك ٝا ٍٞه ٖٓ ِْعٝ ٚ٤ِػ الله ٠ِص ٢جُ٘ا ٠ُا ق٤ظا بٓ
. قصٝ
/ alhadȋṡu huwa mā uḍȋfa ilā an-nabĭyi ṣallallāhu „alaihi wasallam min qaulin au fi‟lin au taqrĭrin au waṣfin/. Hadits adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi Shallallahu„alaihi wasallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi‟il (perbuatan), taqrir (diam), serta sifatnya.
Hadits menurut istilah syari‟at ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu„alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi‟il (perbuatan), taqrir (diam), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri‟ (pensyari‟atan) bagi ummat Islam.Adapun hadits menurut bahasa ialah sesuatu yang baru. Secara istilah sama dengan Hadits menurut Jumhur Ulama.
Ada ulama yang menerangkan makna asal secara bahasa bahwa: Hadits itu untuk perbuatan dan taqrir.
Hadits menurut istilah ulama ushul fiqih ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi selain dari Al-Qur-an, baik perbuatan, perkataan, taqrir (penetapan) yang baik untuk menjadi dalil bagi hukum syar‟i. Ulama ushul fiqih
2
membahas dari segala yang disyari‟atkan kepada manusia sebagai undang-undang kehidupan dan meletakkan kaidah-kaidah bagi perundang-undangan tersebut.
(https:almanhaj.or.id/2263-pengertian-as-sunnah-menurut-syariat.html) diunduh pada 23 oktober 2019..
Berdasarkan defenisi tersebut, dapat dipahami bahwa hadits adalah segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun diamnya. Hadits sendiri berisi tentang ketetapan dan hukum yang dijadikan pedoman oleh umat islam, baik dalam hal ibadah maupun mu'amalah. Salah satu kitab hadits yang dijadikan sumber hukum fiqih bagi para ahli fiqh adalah kitab hadits Arba'in An - Nawawiyah yang disusun oleh imam Nawawi.
Hadits Arba‟in adalah kumpulan 42 hadits nabi Muhammad Shallaulahu
„alaihi wasallam yang dikumpulkan oleh imam Nawawi R.A, Imam Nawawi adalah seorang pakar muslim di bidang fiqih dan hadits. Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqa atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, adalah salah seorang ulama besar mazhab Syafi'i. Ia lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat nama beliau yaitu, An-Nawawi Ad-Dimasyqi.
(Sumber: id.m.wikipedia.org , 14 mei 2009 disunting 31 januari 2021) Berdasarkan pandangan di atas, penulis mengambil kitab Hadits Arba'in An -Nawawiyah sebagai objek penelitian. Penulis tertarik meneliti terkait lafaz hadits yang berisi penyerupaan (similarity) yang terdapat dalam hadits pada kitab Hadits Arba'in Nawawiyah. Untuk melihat lafaz hadits yang berisi perumpamaan (similarity) adalah dengan menerapkan disiplin ilmu balaghah dalam meneliti, salah satunya ialah tasybih.
Tasybih merupakan bagian dari kajian ilmu bayan yang merupakan salah satu dari cabang ilmu balaghah. Oleh karena itu judul penelitian yang diambil penulis adalah" Analisis ويبشتلا /at-tasybĭh / Dalam Kitab تيوونلا نيعبرلاا ثيذح / hadits al-arba’ĭn an-nawawiyah”. Dalam penelitian ini penulis akan meneliti tasybih yang ada dalam matan hadits saja, dan tidak meneliti pada sanad dan perawinya.
3
Pada penelitian sementara mengenai tasybih dalam kitab Hadits Arba‟in An-Nawawiyah, terdapat 23 tasybih dalam berbagai jenis, yang dicermati dari kelengkapan rukun tasybih yang di fokuskan pada adatu at-tasybih dan wajhu asy- syibh nya.
Peneliti mengambil judul di atas karena hadits merupakan pedoman umat islam kedua setelah Al-Qur‟an yang memiliki bahasa yang indah dan halus.
Keindahan Bahasa yang ada di dalam hadits bisa di teliti dengan salah satu cabang ilmu bahasa Arab yaitu Ilmu Balaghah.
Balaghah adalah ilmu yang mengungkapkan metode untuk mengungkapkan bahasa yang indah, mempunyai nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan muktadhal hal / situasi dan kondisi, serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya. (Rahimah 2004: 5)
Adapun menurut Jarim dan Amin (tt:8) pada kitabnya Al- balaghah Al - wadhihah, balaghah adalah :
ؤر ٢ٜك خؿلاجُا د
ةلاخ شصأ ظلُ٘ا ٢ك بُٜ ،خؾ٤صك خؾ٤ؾص حسبجؼث بؾظاٝ َ٤ِغُا ٠٘ؼُٔا خ٣
ُِٞٔ ّلاً ًَ خٓءلآ غٓ
ا ٣ ٖ٣زُا ؿبخؽ٧اٝ ،ٚ٤ك ٍبو٣ ٟزُا ٖغ بخ
ٕٞجغ
/Al-balāghatu fahiya ta‟diyatu al-ma‟nā „al-jalīli wāḍiḥān bi‟ibāratin ṣaḥīḥatin faṣīḥatin, lahā fi an-nafsi aṣaru khallābi, ma‟a mulā‟imatin kullu kalāmin lilmauṭini al-laẓi yuqālu fīhi, wa al-asykhāsu al-laẓina yukhāṭibūn/.‟Balaghah adalah cara mengungkapkan makna yang estetik dengan jelas menggunakan ungkapan yang benar, berpengaruh dalam jiwa tetapi tetap menyesuaikan sikap perkataannya dengan tempat ketika kata itu diucapkan, dan sesuai dengan lawan bicaranya.
Syamsuddin (2003:4) menjelaskan, ilmu Balāghah terbagi kepada tiga bagian , yakni sebagai berikut :
٠ُا خؿلاجُا ِْػ ْغو٘٣ غ٣ذجُا ِْػ ٝ ٕب٤جُا ِْػٝ ٠ٗبؼُٔا ِْػ : خ٤عبعا ٕبًسا خصلاص
/Yanqasimu „ilmu al-balāghati ilā śalāśati arkānin asāsiyyatin : „ilmu al ma‟āni wa‟ilmu al-bayāni, wa „ilmu al-badȋ‟i/.‟ Ilmu balaghah terbagi kepada tiga bagian yakni ilmu ma‟āni, ilmu bayān dan ilmu badȋ‟.
4
Ilmu balaghah terbagi menjadi tiga disebutkan juga oleh „Atiq Ilmu Ma‟ani (2009:25)
Adapun fokus penelitian ini adalah pada ilmu bayan. Ilmu bayan menurut Basyuni dalam kitab ‟ilmu bayān ( 2015 : 15)
طصإ ٢ك ٕب٤جُا لا
ش٣إ ٚث فشؼ٣ ١زُا ِْؼُا : ٜٞك ػ ػٞظٝ ٢ك خلِزخٓ مشطث ذؽاُٞا ٠٘ؼُٔا دا
ٚ٤ِػ خُلاذُا
/ al-bayānu fī ishtilāhin fahuwa : al-„ilmu al-laẓi yu‟rafu bihi īrādu al-ma‟nā al- wāhidi bituruqin mukhtalifatin fī wudūhi ad-dalālati „alaihi/. ‟Ilmu bayan menurut istilah adalah ilmu yang diketahui dengannya maksud suatu makna dengan cara yang berbeda beda dalam menjelaskan alasannya „.
Ilmu bayan memuat beberapa bidang kajian yaitu, tasybih, majaz, dan kinayah. Dari ketiga bidang ini, peneliti mengambil kajian tasybih untuk meneliti kitab Hadits Arba‟in An-Nawawiyah guna untuk mengetahui penyerupaan (similarity) pada buku hadits tersebut.
Untuk masuk pada pembahasan tasybih perlu dijelaskan pengertian tasybih yaitu :
Tasybih berasal dari kata ٚ٤جؾر yang berarti penyerupaan (simile). (Ali Al – Khuli:
257) .
Sedangkan menurut istilah adalah :
بٛٞؾٗ ٝا فبٌُا ٢ٛ حادبث شضًا ٝا خلص ٢ك بٛش٤ؿخًسبؽ ءب٤ؽاٝا بئ٤ؽ ٕا ٕب٤ث ٞٛ ٚ٤جؾزُا ٝا خظٞلِٓ
- خظٞؾِٓ
/ At-tasybĬhu huwa bayānun anna syai'an au asy yāin syārikatin gairahā fȋ ṣifatin au akṣarin bi'adatin hiya alkāfu au nahwuhā malfūzhatan au malḥūzhathan /.‟
At- tasybih yaitu menjelaskan bahwa sesuatu memiliki kesamaan sifat dengan yang lainnya dalam satu sifat atau lebih dengan menggunakan perantara yaiatu
“kaf” dan sejenisnya baik secara tersurat maupun tersirat‟.( Jarim dan Amiin tt:20)
5
Defenisi lain dari Tasybih menurut Al Maraghi dalam ulumul balaghah (1993:213) tasybih adalah:
ٚعٝ ( ىشربؾٓ ٠٘ؼٓ ٢ك ) ٚث ٚجؾُٔا ( شٓبث ) ٚجؾُٔا ( شٓا مبؾُا : بؽلاطصا ٚ٤جؾزُا بٓ ٝ ٕبً ٝ فبٌُا( حادبث )ٚجؾُا ) حذئ بك( ضشـُ ) بٔٛب٘ؼٓ ٢ه
/At-tasybȋhu isṭilāhān : ilhāqu amrin ( al-musyabbah ) biamrin (al-musyabbah bihi ) fĬ ma‟na musytarik ( wajhu asy-syabhi ) biadatin ( al-kaf wa kaanna wa mā fĬ ma‟nahumā) ligarḍin (faidatun)/„‟Tasybih menurut istilah adalah mempertemukan sutu perkara (musyabbah) dengan perkara yang lain (musyabbah bihi ) dalam satu makna yang terpadu (sebagai wajhu syabhi ) dengan tanda /adat ( huruf kaf dan kaanna dan kata lain yang semakna ) dengan satu tujuan.
Dari defenisi defenisi di atas ,dapat dinyatakan bahwa tasybih adalah penyerupaan antara dua perkara atau lebih dengan menggunakan adat tasybih sesuai dengan tujuan yang dikehendaki oleh pembicara.
Untuk menganalisis tasybih sangat penting untuk mengetahui struktur tasybih.
Struktur tasybih pada dasarnya dilengkapi oleh rukun tasybih yaitu : a. Musyabbah (sesuatu yang diserupakan )
b. Musyabbah Bihi (sesuatu yang diserupai)
c. Wajhu Asy Syabhi (titik persamaan , sifat yang terdapat pada kedua pihak itu)
d. Adaatu At Tasybih ( huruf atau kata yang mengatakan penyerupaan) Seperti : huruf kaf, kaanna, syibhu, mitslu, dan shaara
Rukun Tasybih dalam buku Balaghah Al – Wadhihah ( Jarim dan Amin tt: 20 )
, ٚ٤جؾزُا حادا ٝ , ٚ٤جؾزُا ٠كشغ ٕب٤ٔغ٣ ٝ , ٚث ٚجؾُٔا , ٚجؾُٔا : ٢ٛ , خؼثسا ٚ٤جؾزُا ٕبًسا ٚعٝٝ
. ٚجؾُا
/Arkānu at - tasybȋhi arba‟at , hiya : al - musyabbahu, wa al - musyabbahu bihi, wa yusammayāni tharafay tasybih, wa`adātu at – tasybih, wa wajhu asy – syabhi/`Rukun tasybih ada empat, yaitu : Musyabbah (sesuatu yang diserupakan ),
6
Musyabbah Bihi (sesuatu yang diserupai), dan keduanya dinamakan tharfai tasybih, dan Adaatu At Tasybih ( huruf atau kata yang mengatakan penyerupaan), dan` Wajhu Asy Syabhi (titik persamaan , sifat yang terdapat pada kedua pihak itu)
Ali Jarim dan Musthofa Amiin (tt:25) Albalagah waadhihah pembagian tasybih yang ditinjau dari ada dan tidak adanya adat tasybih dan wajhu syabhi ada lima macam yaitu :
1. Tasybih Mursal 2. Tasybih Muakkad 3. Tasybih Mujmal 4. Tasybih Mufashshal 5. Tasybih Baligh
Oleh karena pembahasan tasybih sangat luas, maka penulis membatasi kajian hanya sampai pada pembagian tasybih yang ditinjau dari unsur adat tasybih dan wajhu syabhi saja. Pembagian tasybih yang ditinjau dari wajhu syabhi dan adaatu at-tasybih ini adalah hal yang sangat dasar untuk diketahui oleh para pemula yang mempelajari ilmu Balaghah. Karena pembahasan yang yang masih muda di fahami. Setelah memperhatikan pembagian tasybih ini, maka penulis menemukan tasybih pada Hadits Nabi dalam kitab Hadits Arba‟in An-Nawawiyah dengan contoh sebagai berikut.hadits yang mengandung tasybih dalam kitab Hadits Arbai'in An- Nawawiyah karya Imam Nawawi (tt: 20) :
Contoh 1:
ٕا يؽٞ٣ ٠ٔؾُا ٍٞؽ ٠ػش٣ ٠ػاشُا بً ّاشؾُا ٢ك غهٝ دبٜجؾُا ٢ك غهٝ ٖٓ ٝ
ٚ٤ك غرش٣
... ...
.../Wa man waqa‟a fĬ as-syubuhāti waqa‟a fĬ al-harāmi kā ar-rā‟Ĭ yar‟a haula al – himā yusyiku `an yarta‟a fĬhi/...` Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya‟.
(HR. Bukhari dan Muslim( HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599), halaman 11, Hadits ke 6)
7
Sumber https://rumaysho.com/17476-hadits-arbain-06-hati-hati-dengan-syubhat- dan-jaga-hati.html diunduh pada 23 april 2018
Contoh 2:
.. .ة
خؾ٤صُ٘ا ٖ٣ذُا .
...
/...Ad-dĬnu An-naṣĬhah.../.‟Agama adalah nasihat‟.
(H.R Imam Muslim, halaman 12, hadits ke 7 ) Contoh 3:
ط ... .
سٞٗ حلاصُا
...
/As-salātu nūrun/.‟Shalat adalah cahaya‟
(H.R Imam Muslim, halaman 25, hadits ke 23 )
ٚجؾُٔا
ٚث ٚجؾُٔا
ٚ٤جؾزُا حادا
ٚجؾُا ٚعٝ
٢ك غهٝ ٖٓٝ
٢ك غهٝ دبٜجؾُا
ّشؾُا
ٖ٣ذُا
حلاصُا ٠ٔؾُا ٠ػش٣ ٠ػاشُا
ٕا يؽٞ٣
ٚ٤ك غرش٣
خؾ٤صُ٘ا
سٞٗ
بً
-
- -
-
-
8
Berdasarkan hadits di atas, Rasulullah SAW menyerupakan orang yang jatuh ke dalam perkara syubhat seperti penggembala yang membiarkan ternaknya masuk ketempat terlarang.
Peneliti tertarik untuk meneliti lebih dalam terhadap kitab Hadits Arba‟in An-Nawawiyah guna untuk mengetahui dan mengungkap jenis tasybih yang terdapat di dalam kitab Hadits Arba‟in An-Nawawiyah
1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusaan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Berapa jumlah tasybih yang terdapat dalam kitab Hadits Arba‟in An- Nawawiyah ?
2. Apa saja jenis tasybih yang terdapat dalam kitab Hadits Arba‟in An- Nawawiyah ?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui jumlah tasybih yang terdapat dalam kitab Hadits
Arba‟in An –Nawawiyah
2. Untuk mengetahui jenis tasybih yang terdapat di dalam buku Hadits Arba‟in An –Nawawiyah
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Berdasarkan pembahasan di atas , maka manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Untuk menambah pemahaman ilmiah dalam bidang ilmu balaghah
khususnya tentang tasybih di dalam ilmu bayan .
2. Menambah hazanah hasil penelitian tentang pembahasan ilmu Balaghah 3. Penelitian ini dapat menambah bahan rujukan ilmiah bagi akademisi khususnya pada program sarjana Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
9 1.5 METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research), yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku – buku, literatur – literatur, catatan – catatan, dan laporan – laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan (Nazir, 1998:111)
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bentuk datanya bukan angka angka ( Mahsun, 2005:230).Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori Jarim dan Amin. Data dalam penelitian ini diambil dari kitab Hadits Arba‟in An-Nawawiyah sebagai data primer. Sedangkan data sekunder bersumber dari literatur yang ada relevansinya dengan penelitian ini.
Pemindahan tulisan arab kedalam tulisan latin , peneliti memakai system transliterasi Arab Latin SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI 158/1987 tertanggal 22 januari 1988. Adapun tahap-tahap yang di tempuh peneliti dalam hal ini adalah membaca buku Hadits Arba‟in An- Nawawiyah juga memahami Tasybih dari buku-buku balaghah, khususnya bagian tasybih yang dilihat dari adaatu at-tasybih dan wajhu asy-syibhi , mengklasifikasikan data yang sudah di dapat kemudian menganalisis nya menyusun hasil analisis secara sistematis dalam sebuah laporan ilmiah berupa skripsi.
10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Kajian Terdahulu
Penelitian yang berkenaan mengenai tasybih ini sebelumnnya telah dilakukan oleh beberapa peneliti yang penulis jadikan masukan dan bandingan ketika mengadakan penelitian ini antara lain :
1.Wahyu Rahmadsyah Berutu 2019, NIM. 1411001, Balaghah At Tasybih fi Kitab Riyadhus Shalihin Min Bab An Niyyah Ila Bab Wara dirasah Tahliliyah Balaghah, UIN Sunan Kalijaga. Penulisan mengenai penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya beberapa hadits dalam kitab Riyadus shalihin yang mengandung rukun tasybih dengan gaya bahasa yang menarik, diantaranya adalah penggunaan salah satu rukun tasybih yaitu wajhu syabah yang tidak pernah diletakkan langsung dalam hadits, akan tetapi diletakkan dalam bentuk gambaran dari beberapa keadaan peristiwa yang akan mempengaruhi jenis tasybih yang digunakan. Kemudian peneliti tertarik untuk meneliti tentang tujuan tujuan penggunaan gaya bahasa tasybih yang ada dalam kitab “Riyadus Shalihin “dari bab niat sampai wara‟.
Skripsi ini mengunakan Bahasa Arab. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. penelitian ini merupakan penelitian pustaka library research, adapun teori yang dipakai oleh penulis adalah teori ali jarim dan musthofa amin dalam buku Balagha al wadhihah dan teori al hasyimi dalam buku Jawahirul balaghah. Peneliti menemukan tujuh jenis tasybih dalam kitab Riyadus Shaalihin dari bab niat sampai wara‟ dari dua puluh lima hadits yang mengandung unsur tasybih disertai unsur khayal, dan terdapat pada beberapa hadits yang mencangkup beberapa jenis tasybih. Adapun tujuan penggunaan gaya bahsa tasybih dalam kitab Riyadus Shaalihin dari bab niat sampai bab wara‟
peneliti menemukan empat tujuan penggunaan gaya bahasa tasybih yang seluruhnya bersifat menjelaskan.
11
2.Mar’atul Fitriyah An Nahwiyah 2016 (A01212013), AT TASYBIH FII SYI‟RI AHMAD RAMI, UIN Sunan Ampel Surabaya. Skripsi ini menggunakan Bahasa Arab dan Tujuan pembahas dalam membahas skripsi ini adalah: untuk mengetahui tasybih dalam syi‟ir Ahmad Rami. Metode yang digunakan pada pembahasan ini adalah metode kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teori al – hasyimi dalam kitab Jawahirul Balaghah.
Adapun kesimpulan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut: 1.
Pembahas menemukan beberapa macam tasybih dalam sebagian syi‟ir Ahmad Rami, yaitu tasybih mursal dan tasybih mujmal. 2. Pembahas menemukan beberapa maksud dan tujuan tasybih dalam sebagian syi‟ir Ahmad Rami, yaitu untuk menjelaskan keadaan musyabah, menegaskan keadaan musyabah, dan memperindah atau memperburuk musyabah. Dengan adanya tasybih dalam syi‟ir Arab, khususnya dalam syi‟ir Ahmad Rami, maka dapat ditemukan keindahan (absurd) yang terungkap dari susunan lafadz syi‟ir tersebut, sehingga para pembaca dan pengkaji syi‟ir Arab akan lebih semangat untuk terus mendalami keindahan lafadz-lafadz syi‟irnya. Peneliti menemukan ada 20 tasybih mursal mujmal di dalam sya‟ir Ahmad Rami.
3.Siti Ma’rufatus Sholihah 2014 ,AL TASYBIYAH WA ANWA‟UH FII SURAH AL BAQARAH,UIN Sunan Ampel Surabaya. Skripsi ini menggunakan Bahasa Arab, Dalam skripsi ini, penulis membahas tentang tasybih dan macam – macamnya dalam Q.S Al – Baqarah. Penulis menggunakan metode kuantitatif, teori yang digunakan adalah teori Jarim dan Amin dalam kitab balaghah al – wadhihah dan Al – Hasyimi dalam kitab jawahirul balaghah.
Peneliti menemukan ada 3 tasybih tamsil, 1 tasybih mursal mufashshal, 2 tasybih mursal mujmal, dan 1 tasybih baligh.
4.Kasri 2013 ,Tasybih dalam surah Al A‟raf. UIN Sunan Ampel Surabaya .Dalam skripsi ini penulis menggunakan metode kualitataif dan menggunakan teori Al Hasyimi. Membahas tentang apa itu tasybih, macam macam at tasybih dan ada beberapa macam tasybih yang terkandung dalam surah al a‟raf, baik
12
ditinjau dari segi adaatu tasybih maupun wajhu syabahinya. Adapun tasybih dalam surah al araf dilihat dari segi madahnya mengandung dua tasybih sehingga diberi nama dengan dua nama sekaligus yaitu tasybih mursal mujmal, disamping itu juga ditemukan tasybih dhimni dan tasybih tamtsil. Skripsi ini menggunakan Bahasa Arab. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tasybih yang terdapat di dalam Q.S Al a‟raf Peneliti menemukan adanya tasybih di dalam Q.S Al A‟raf yaitu, tasybih dhamni berjumlah 1, tasybih mursal mujmal berjumlah 3, tasybih tamsil berjumlah 1, dan tasybih baligh berjumlah 1.
Penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya, yaitu meneliti tentang kajian ilmu balaghah mengenai tasybih, namun sepanjang kajian pustaka yang dilakukan, peneliti belum menemukan karya khusus yang membahas penyerupaan (tasybih ) di dalam kitab Hadits Arba‟in An – Nawawiyah. Oleh karena itu, peneliti memilih kitab Hadits Arba‟in An – Nawawiyah menjadi sumber data penelitian karena ditemukan tasybih dalam kitab tersebut. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelunnya. Perbedaannya terletak pada objek dan data penelitiannya.
Pada penelitian ini, penulis menggunakan teori Jarim dan Amin, dan teori yang peneliti gunakan sama dengan teori yang digunakan oleh peneliti Wahyu Rahamdsyah Berutu dan peneliti Siti Ma‟rifatus Sholihah yaitu menggunakan teori Jarim dan Amin dan Al - hasyimi, sedangkan peneliti Kasri dan peneliti Mar‟atul Fitriyah An-nahwiyah menggunakan teori Al - Hasyimi. Pada penelitian ini, penulis menelusuri kitab Hadits Arba‟in An-nawawiyah kemudian mengumpulkan dan mengklasifikasi tasybih lalu menganalisisnya sesuai dengan teori Jarim dan Aamiin.
13 2.2Landasan Teori
2.2.1 Hadits Arba’in An Nawawiyah
Hadits adalah sumber ajaran islam setelah Al Qur‟an . Hadits disebut juga sunnah . hadits adalah segala perbuatan ,perkataan , ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad Shallaulahu Alaihi Wasallam yang dijadikan landasan syari‟at islam .
Hadits sendiri berisi tentang ketetapan dan hukum yang dijadikan pedoman oleh umat islam, baik dalam hal ibadah maupun mu'amalah. Salah satu kitab hadits yang dijadikan sumber hukum fiqih bagi para ahli fiqh adalah kitab Hadits Arba'in An - Nawawi yah yang disusun oleh imam Nawawi.
Hadits Arba‟in An-Nawawiyah adalah kumpulan 42 hadits nabi Muhammad Shallaulahu „alaihi wasallam yang dikumpulkan oleh imam Nawawi R.A, Imam Nawawi adalah seorang pakar muslim di bidang fiqih dan hadits. Imam al- Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, adalah salah seorang ulama besar mazhab Syafi'i.
Ia lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat nama dia, an-Nawawi ad-Dimasyqa.
Kitab Hadits Arbai'n An -Nawawiyah merupakan kitab yang tidak asing bagi umat islam , bukan hanya di Indonesia, namun di seluruh dunia. Umat islam sangat mengenal kitab ini, karena kitab ini menghimpun banyak Hadits yang sangat penting dalam kehidupan manusia yaitu memuat tentang kehidupan beragama, ibadah, muamalah, dan syari‟ah.
Terdapat beberapa alasan yang menunjukkan pentingnya kedudukan kitab arba‟in an wawiyah ini :
1. Mencangkup sebagian besar urusan dan kebutuhan umat islam di dunia dan di akhirat baik dari aqidah, hukum, syari‟ah, muamalah dan akhlak.
14
2. Merupakan kumpulan hadits hadits Nabi pilihan dan merupakan jawami‟ul kalim yang memiliki keutamaan dalam pembahasan yang singkat dan padat .
3. Banyak di gunakan oleh para ulama untuk mengajarkan kepada umat islam bahkan menjadi sandaran utama dalam memberikan pemahaman ajaran islam .
Hadits-hadits dalam Arbaîn Nawawiyah merupakan landasan atau fondasi dalam agama Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa ajaran Islam, atau setengahnya, atau sepertiganya berlandaskan pada hadits-hadits dalam kitab ini
(Imam an-Nawawi, al-Arba‟în an-Nawawiyah, Beirut: Dar el-Minhaj, cetakan pertama, 2009, h. 44).Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/119246/mengenal- arbain-nawawiyah--kitab-40-hadits-pilihan-yang-masyhur
Berdasarkan defenisi tersebut, dapat dipahami bahwa hadits adalah segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun fiamnya. Hadits sendiri berisi tentang ketetapan dan hukum yang dijadikan pedoman oleh umat islam, baik dalam hal ibadah maupun mu'amalah. Salah satu kitab hadits yang dijadikan sumber hukum fiqih bagi para ahli fiqh adalah kitab Hadits Arba'in An - Nawawi yah yang disusun oleh imam Nawawi.
Hadits –Hadits Nabi sallallahu alaihi wasallam ini dapat dicermati keindahan bahasanya dari sudut pandang Ilmu Balaghah.
2.2.2 Pengertian Balaghah
Bahasa Arab memiliki beberapa cabang ilmu yaitu : ilmu lughah, ilmu nahwu, ilmu sharf, ilmu khat, ilmu ashwat, dan salah satunya adalah ilmu balaghah.Ilmu Balaghah merupakan salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang mempelajari kaidah mengenai gaya bahasa untuk digunakan dalam pembicaraan dan tulisan.
Balaghah merupakan salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang sangat penting dalam memahami Al – Qur‟an dan Hadits. Karena Al – Qur‟an dan Hadits menggunakan bahasa Arab yang indah.
Balaghah adalah ilmu yang mengungkapkan metode untuk mengungkapkan bahasa yang indah, mempunyai nilai estetis (keindahan seni) ,memberikan makna sesuai dengan muktadhal hal / situasi dan kondisi, serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya. (Rahimah 2004: 5)
15
Menurut etimologi balaghah berasal dari kata ؾِث, didalam kamus Al- munawwir (1989: 115) ؾِث memiliki arti sama dengan kata َصٝ yaitu “sampai” . Makna ini dapat kita lihat pada firman Allah surah Al Ahqaf (56) ayat 15
خََ٘ع َٖ٤ِؼَثسَا َؾََِث َٝ َُّٙذَؽَا َؾََِث اَرِا ٠َّزَؽ ...
…
/... ḥattā iẑā balaga asyaddahu wa balaga 'arba‟ina sanata.../. 'Sehingga apabila ia telah sampai dewasa dan umurnya sudah sampai empat puluh tahun‟...
Defenisi balaghah menurut Al - Hasyimi (tt: 40 ) pada kitab jawahirul balaghah adalah
ػوك ٌِْزُٔا ٝ ّلاٌُِ بلصٝ ػلاطص لاا ٢ك بٓأ ءبٜزٗلاا ٝ ٍٞصُٞا خـُِا ٢ك خؿلاجُا
/Al-balāgatu fĬ allugati alwuṣūlu wa al-intihā 'ammā fĬ al-ishṭilāhi waṣfan li al- kalāmi wa al-mutakallimi faqaṭ/. „Balaghah menurut bahasa adalah sampai atau berakhir adapun menurut istilah sifat dari perkataan dan orang yang mengungkapkannya saja‟.
Adapun menurut Jarim dan Amin (tt:8) pada kitabnya Al- balaghah Al - wadhihah , balaghah adalah :
ؤر ٢ٜك خؿلاجُا د
ةلاخ شصأ ظلُ٘ا ٢ك بُٜ ،خؾ٤صك خؾ٤ؾص حسبجؼث بؾظاٝ َ٤ِغُا ٠٘ؼُٔا خ٣
ٕٞجغبغ٣ ٖ٣زُا ؿبخؽ٧اٝ ،ٚ٤ك ٍبو٣ ٟزُا ٖغ اُِٞٔ ّلاً ًَ خٓءلآ غٓ
/Al-balāghatu fahiya ta‟diyatu al-ma‟nā „al-jalīli wādihān bi‟ibāratin ṣaḥīḥatin faṣīḥatin, lahā fĬ an-nafsi aṡaru khallābi, ma‟a mulā‟imatin kullu kalāmin li almawāṭini al-laẓĬ yuqālu fīhi, wa al-asykhāṣu al-laẓina yukhāṭibūn/. „Balaghah adalah cara mengungkapkan makna yang estetik dengan jelas menggunakan ungkapan yang benar, berpengaruh dalam jiwa tetapi tetap menyesuaikan sikap perkataannya dengan tempat yang dia akan mengungkapkan perkataannya itu, dan menyesuaikan dengan lawan bicaranya‟.
16
Dari defenisi defenisi yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa balaghah adalah cara dalam menyampaikan suatu pesan kepada penerima pesan dengan fasih , memperhatikan situasi dan kondisi serta mempengaruhi jiwa si penerima pesan tersebut .
Menurut „Atiq ilmu ma‟ani (2009:25) balaghah mencakup tiga bidang kajian ilmu.
جُا ٝ ٢ٗبؼُٔا : خكٝشؼُٔا خصلاضُا خؿلاجُا غ٣ذجُا ٝ ٕب٤
.
/ Al-balāgati aṡ-ṡalāṡati ma‟rūfati : al-ma‟ani, al-bayani, al-badĬ‟/.‟Tiga cabang ilmu balaghah yang telah dikenal : ma‟ani, bayan dan badi‟.
Ilmu balaghah memiliki tiga cabang yaitu : ilmu ma‟ani, ilmu bayan dan ilmu badi‟. Ilmu ma‟ani adalah ilmu yang difahami sebagai ilmu yang mengandung kaidah kaidah yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan kualitas kalimat dari sisi kesesuaian kalimat itu dengan konteksnya .yang kedua yaitu ilmu bayan, ilmu bayan adalah cabang ilmu balaghah yang berfungsi untuk menghindarkan ketidak jelasan suatu perkataan terhadap kandungan makna yang dikehendaki atau yang dimaksudkan . yang ketiga yaitu ilmu badi‟, ilmu badi‟
adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui bentuk-bentuk dan keutamaan- keutamaan yang dapat menambah nilai keindahan dan estetika suatu ungkapan, membungkusnya dengan bungkus yang dapat memperbagus dan meperindah ungkapan itu, disamping relevansinya dengan tuntutan keadaan. (al-Hasyimi, 1960: 360)
2.2.3 Pengertian Ilmu Bayan
Ilmu Bayan merupakan salah satu cabang ilmu balaghah yang berfungsi untuk menghindarkan ketidak jelasan suatu perkataan terhadap kandungan makna yang dikehendaki atau yang dimaksudkan .
17
Secara bahasa, bayan artinya „terbuka‟ atau „jelas‟. Sedangkan dalam ilmu balaghah, ilmu bayan adalah ilmu yang mempelajari cara cara mengemukakan suatu gagasan dengan berbagai macam redaksi .
Pengertian Ilmu Bayan dikemukakan oleh Basyuni adalah sebagai berikut :
ٓ مشطث ذؽاُٞا ٠٘ؼُٔا داش٣إ ٚث فشؼ٣ ١زُا ِْؼُا : ٜٞك ػلاطصإ ٢ك ٕب٤جُ
اػٞظٝ ٢ك خلِزخ
ٚ٤ِػ خُلاذُا
/Al-bayānu fī iṣṭilāhin fahuwa : al-„ilmu al-laẓi yu‟rafu bihi īrādu al-ma‟nā al- wāḥidi / biṭuruqin mukhtalifatin fī wuḍūhi ad-dalālati „alaihi/. „Ilmu bayan menurut istilah adalah ilmu yang diketahui dengannya maksud suatu makna dengan jalan yang berbeda-beda dalam penjelasannya” (Basyuni, 2015 : 15)
Defenisi yang sama di temukan dalam referensi lain yaitu :
ٖػ بٜعؼث قِزخ٣ مشطث ذؽاُٞا ٠٘ؼُٔا داش٣ا.بٜث فشؼ٣ ذػاٞه ٝ ٍٞصا ٞٛ ٕب٤جُا ِْػ .٠٘ؼُٔا يُار ظلٗ ٠ِػ خُلاذُا ػٞظٝ ٢ك طؼث
/Ilmu al-bayāni huwa uṣūlun wa qawā‟idun yu‟rafu bihā irādu al-ma‟nā al- waḥidi biṭuruqin yakhtalifu ba‟ḍahā „an ba‟ḍin fī wuḍuhi ad-dalālati „alā nafsi ẑālika al-ma‟na/.'Ilmu bayan adalah qaidah ilmu yang pada dasarnya digunakan untuk mengetahui makna yang diinginkan dengan cara membedakan antara sebagian dengan sebagian nya dalam memperjelas dalil-dalil tentang makna tersebut. ( Al- Hasyimi : 616)
2.2.4 Pengertian Tasybih a.Pengertian Tasybih
Tasybih berasal dari kata tasyābahah yang artinya penyerupaan . Sedangkan menurut istilah adalah
وا ةظوفلم اهونح وا فاكلا يه ةاداب رثكا وا ةفص في اهيرغةكراش ءايشاوا ائيش نا نايب وه هيبشتلا –
ةظوحلم
18
/ At-tasybĬhu huwa bayānun anna syai'an au asy yāin syārikatin gairahā fȋ ṣifatin au akṣarin bi'adatin hiya al-kāfu au nahwuhā malfūzhah au malḥūzhah /.
‟Tasybih adalah Menjelaskan bahwa sesuatu memiliki kesamaan sifat dengan yang lainnya dalam satu sifat atau lebih dengan menggunakan perantara yaitu
“kaf” dan sejenisnya baik secara tersurat maupun tersirat‟.
( Jarim dan Amiin tt:20)
Menurut Al Hasyimi ( tt : 219) dalam kitab Jawahirul Balaghah ialah:
ٙذصو٣ دشـُ حدؤث شضًا ٝا خلص ٢ك بًٜٔاشزؽا ذصه , شضًا ٝأ ٕشٓأ ٖ٤ث خِضٔٓ ذوػ ٞٛ ٚجؾزُا . ٌِْزُٔا
/At-tasybihu huwa „aqdun mumṡilatun baina amrin au akṡarin, qaṣdu isytirākahumā fȋ ṣiffatin au akṡarin bi'adatin ligardin yaqṣuduhu al-mutakallimi/.‟
Tasybih adalah menyerupakan antara dua perkara atau lebih yang memiliki kesamaan sifat gigdengan satu alat , dengan tujuan yang dikehendaki oleh pembicara‟.
Defenisi lain dari Tasybih menurut Al Maraghi dalam ulumul balaghah (1993:213) tasybih adalah:
ٚعٝ ( ىشربؾٓ ٠٘ؼٓ ٢ك ) ٚث ٚجؾُٔا ( شٓبث ) ٚجؾُٔا ( شٓا مبؾُا : بؽلاطصا ٚ٤جؾزُا ) حذئ بك( ضشـُ ) بٔٛب٘ؼٓ ٢ه بٓ ٝ ٕبً ٝ فبٌُا( حادبث )ٚجؾُا
/At-tasybȋhu isṭilāhān : ilhāqu amrin ( al-musyabbah ) biamrin (al-musyabbah bihi ) fĬ ma‟na musytarikin ( wajhu asy-syabhi ) biadatin ( al-kaf wa ka'anna wa mā fĬ ma‟nahumā) ligarḍin ( fa'idatin) /. „‟Tasybih menurut istilah adalah mempertemukan sutu perkara (musyabbah) dengan perkara yang lain ( musyabbah bihi ) dalam satu makna yang terpadu (sebagai wajhu syabhi ) dengan tanda /adat ( huruf kaf dan kaanna dan kata lain yang semakna ) dengan satu tujuan.
19
Dari beberapa definisi tasybih di atas, dapat dinyatakan bahwa tasybih adalah menyerupakan antara dua perkara atau lebih dengan menggunakan adatu tasybih sesuai dengan tujuan yang dikehendaki oleh pembicara.
B.Rukun Tasybih
a. Musyabbah (sesuatu yang diserupakan) b. Musyabbah bih (sesuatu yang diserupai)
c. Wajhu syabah (titik persamaan, sifat yang terdapat pada kedua pihak itu)
d. Adat tayhbih (huruf atau kata yang menyatakan penyerupaan), baik diucapkan atau tidak diucapkan. Huruf huruf yang merupakan adaatu at- tasybih adalah huruf kaf, kaanna, shaara, mitslu, dan syibhu
C.Pembagian Tasybih
A. Ditinjau dari ada dan tidak adanya adat at-tasybih dan wajh syibh maka tasybih terbagi menjadi lima macam yaitu :
1. Tasybih Mursal 2. Tasybih Mu‟akkad 3. Tasybih Mujmal 4. Tasybih Mufashshal 5. Tasybih Baligh
1.Tasybih Al-Mursal ) َعشُٔا ٚ٤جؾزُا(
حدلاا ٚ٤ك دشًر بٓ ٞٛ َعشُٔا ٚ٤جؾزُا
/At-tasybihu al-mursalu huwa mā ẓukirat fȋhi al-adat/‟ Tasybih mursal adalah tasybih yang adatu tasybihnya disebutkan dalam ungkapan‟.
20 contohnya :
َبًَ ٍْْ٤ِٜثَ ٍَْ٤َُ ٢ِك بَْٗشِع - ب ثبَٛ ْسِا َٝ ب َٓلاَظ شِؾَجُا َٚٗ
/Sirnā fȋ lailin bahĬmin ka'anna al-bahri ẓalāmān wa irhābān/.‟Kami berjalan di malam yang gelap gulita ,sepertinya malam itu bagaikan laut yang gelap dan mencengkam‟.
Dalam contoh di atas , penyair menyerupakan malam yang gelap dengan kondisi laut yang gelap dan mencengkam , penutur dalam syair ini menyertakan adat tasybih /perangkat untuk menggabungkan keserupaan dua hal . yaitu pada kata ka‟ anna
Contoh 2:
...ىاش٣ ٚٗبك ٙاشر ٌٖر ُْ ٕبك ٙاشر يٗبً الله ذجؼر ٕا...
.../An ta‟budallāha ka'annaka tarāhu fain lam takun tarāhu fainnahu yarāka/...‟Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak bisa melihatnya, yakinlah bahwa Dia melihatmu‟.
Pada jumlah الله ذجؼر ٕا, adalah sebagai musyabbah, يٗبً sebagai adātu at-tasybih , pada jumlah ٙاشر sebagai musyabbah bihi dan wajhu syabhinya terletak pada jumlah .ىاش٣ ٚٗبك ٙاشر ٌٖر ُْ ٕبك . Jenis tasybih yang terdapat di dalam hadits kedua ini adalah tasybih mursal mufashshal, karena di dalam penggalan matan ini disebutkan adaatu at tasybihnya sebagai perangkat untuk menghubungkan keserupaan dua hal dan juga disebutkan wajhu syibhinya.
)H.R Muslim, halaman 6, hadits ke 2)
21 2.Tasybih Al-Mu‟akkad ) ذًؤُٔا ٚ٤جؾزُا)
حادلاا ٚ٘ٓ ذكزؽ بٓ ٞٛ ذًؤُٔا ٚ٤جؾزُ
ا/At-tasybĬh al-mu‟akkad huwa mā ḥuẑifat minhu al-adat/.‟Tasybih muakkad adalah tasybih yang dibuang adatu tasybihnya .
Contohnya :
ٌقِغَبؽ ٌمَشَث ِخَػْشُغُا ٢ِك ُداَٞغَُا
/Al-jawādu fĬ as-sur‟ati baraqun ḥāṭifun/ .„kecepatan kuda itu bagaikan kilat yang menyambar.
Pada contoh di atas kata
ِخَػْشُغُا ٢ِك ُداَٞغَُا
/Al-jawādu fĬ as-sur‟ati/ „kecepatan kuda itu‟, merupakan musyabbah dan pada jumlahٌقِغَبؽ ٌمَشَث /
baraqun ḥāṭifun/kilat yang menyambar, merupakan musyabbah bihi.
3.Tasybih Al-Mujmal ) َٔغُٔا ٚ٤جؾزُا (
ٚجؾُا ٚعٝ ٚ٘ٓ فزؽ بٓ ٞٛ َٔغُٔا ٚ٤جؾزُا
/At-tasybĬhu al-mujmal huwa mā huẑifa minhu wajhu asy-syibhi/‟Tasybih mujmal adalah tasybih yang wajhu syabhi nya tidak jelas disebutkan dalam rangkaian sebuah ungkapan‟ .
Contoh :
ِتِؽبَصُا َبً ُةَبزٌُِا
/Al-kitābu ka aṣ-ṣāhibi/.‟buku layaknya seorang teman / sahabat „.
22
Dalam contoh ini kata ةبزٌُا /Al-kitābu/ buku merupakan musyabbah , huruf َبً/al- kaaf/ bagaikan, merupakan adātu tasybih dan ِتِؽبَصُا / aṣ-ṣāhibi / seorang teman adalah musyabbah bihi .dan pada penyerupaan ini tidak dituliskan wajhu asy syabhinya.maka dari itu perumpamaan diatas termasuk tasybih mujmal yang meniadakan wajhu syabhi dalam ungkapan nya.
Contoh 2:
بً ّاشؾُا ٢ك غهٝ دبٜجؾُا ٢ك غهٝ ٖٓٝ..
....ٚ٤ك غرش٣ ٕا يؽٞ٣ ٠ٔؾُا ٍٞؽ ٠ػش٣ ٠ػاشُ
/.../Wa man waqa‟a fĬ as-syubuhāti waqa‟a fĬ al-harāmi kā ar-rā‟Ĭ yar‟a haula al – himā yusyiku `an yarta‟a fĬhi/...` Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya‟.
(HR. Bukhari dan Muslim(HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599 ) halaman 11, hadits ke 6)
Pada jumlah ّاشؾُا ٢ك غهٝ دبٜجؾُا ٢ك غهٝ ٖٓٝ adalah sebagai musyabbah, ٠ػش٣ ٠ػاشُ
ٚ٤ك غرش٣ ٕا يؽٞ٣ ٠ٔؾُا ٍٞؽ, sebagai musyabbah bihi dan بً sebagai adātu tasybih.
Jenis tasybih yang terdapat pada penggalan hadits ini adalah mursal mujmal, karena di dalam penggalan hadits tersebut disebutkan adaatu at tasybihnya dan tidak disebutkan wajhu asy syibhinya.
4.Tasybih Al-Mufasshal ) َصلُٔا ٚ٤جؾزُا (
ٚ٤جؾزُا
ٚجؾُا ٚعٝ ٚ٤ك شًر بٓ ٞٛ َصلُٔا
/At-tasybĬhu al-mufaṣṣal huwa mā ẑukira fĬhi wajhu asy-syabhi/.‟Tasybih mufashshal adalahh tasybih yang wajhu syabhi nya jelas disebutkan dalam rangkaian sebuah ungkapan‟ .
23 Contoh :
ب ْ٘غُؽ ِسُذُا ْ٢ِك ََُٚٓلاًََ ٝ
/Wakalāmahu fĬ ad-duri husnān/.“perkataannya bagaikan mutiara dari sisi kebaikannya”
Pada contoh di atas kalimat
ََُٚٓلاًََ ٝ
/Wakalāmahu/‟dan perkataannya‟adalah musyabbah dan pada kalimatب ْ٘غُؽ ِسُذُا ْ٢ِك /
fĬ ad-duri husnān/ mutiara dari sisi kebaikannya „ merupakan musyabbah bihiContoh 2:
...ىاش٣ ٚٗبك ٙاشر ٌٖر ُْ ٕبك ٙاشر يٗبً الله ذجؼر ٕا
.../An ta‟budallāha ka'annaka tarāhu fain lam takun tarāhu fainnahu yarāka/...‟Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak bisa melihatnya, yakinlah bahwa Dia melihatmu‟.
(H.R Muslim, halaman 6, hadits ke 2)
Pada jumlah الله ذجؼر ٕا, adalah sebagai musyabbah, يٗبً sebagai adātu tasybih , pada jumlah ٙاشر sebagai musyabbah bihi dan wajhu syabhinya terletak pada jumlah .ىاش٣ ٚٗبك ٙاشر ٌٖر ُْ ٕبك . Jenis tasybih yang terdapat di dalam hadits kedua ini adalah tasybih mursal mufashshal, karena di dalam penggalan matan ini disebutkan adātu tasybihnya sebagai perangkat untuk menghubungkan keserupaan dua hal dan juga disebutkan wajhu syibhinya
5.Tasybih Al-Baligh ) ؾ٤ِجُا ٚ٤جؾزُا (
ٚجؾُا ٚعٝٝ حدلاا ٚ٘ٓ ذكزؽ بٓ ٞٛ ؾ٤ِجُا ٚ٤جؾزُا
/At-tasybĬhu al-balig huwa mā huzifat minhu al-adatu wa wajhu asy – syabhi/‟‟Tasybih baligh adalah tasybih yang tidak menyebutkan adātu tasybih dan wajhu syabhi dalam sebuah ungkapan‟.
24 Contoh :
ٍسٌٞٗ َمَٞك ٌسُٞٗ َذَٗا ٌسْذَث َذَٗا ٌظَٔؽ َذَْٗا
/Anta syamsun anta badrun anta nurun fauqa nurin/.‟Engkau adalah matahari, engkau adalah bulan, engkau adalah cahaya diatas cahaya „.
Pada contoh di atas kalimat
َذَْٗا /
Anta / engkau adalah sebagai musyabbah dan pada kalimatٌظَٔؽ /
syamsun / matahari adalah sebagai musyabbah bihi.Contoh 2:
...ءب٤ظ شجصُا.
...../Aṣ-ṣabru diyā'un/...‟Sabar itu adalah cahaya‟.
)H.R Muslim, halaman 25, hadits ke 23)
Pada kata شجصُا adalah sebagai musyabbah dan kata ءب٤ظ sebagai musyabbah bihi.
Jenis tasybih yang terdapat pada penggalan matan hadits di atas adalah tasybih baligh, karena di dalam jumlah tersebut hanya ada musyabbah dan musyabbah bihi saja, dan tidak disebutkan adaatu at tasybih dan wajhu asy syibhi nya.
Berikut contoh - contoh lain dari tasybih :
حٝلاؾُا ٢ك ذٜؽا بً ٕلاك ّلاً.
ا /Kalāmu fulānin kā asy-syahdi fĬ al- ḥilawat/.‟ Perkataan si fulan bagaikan madu dalam manisnya.ُا ٢ك تؾُٔا تِهٝ ُِٕٞا ٢ك تؾُا خ٘عًٞ َ٤ٜعٝ.ة
ٕبولؾ
/Wa suhail kawajnati al-hibbi fĬ al-launi wa qalbi al-muhibbi fĬ al-hifqāni/ .‟
Dan suhail (nama salah satu bintang ) yang cahayanya itu bagaikan pipi orang yang sedang jatuh cinta dalam warnanya dan bagaikan hati orang yang mencinta yaitu selalu menggoncangkan .
25
ٍٞؽ ٠ػش٣ ٠ػاشُا بً ّاشؾُا ٢ك غهٝ دبٜجؾُا ٢ك غهٝ ٖٓ ٝ .ط
ٚ٤ك غرش٤ٗا يؽٞ٣ ٠ٔؾُا
/Wa man waqa‟a fĬ asy-syubuhāti waqa‟a fĬ al-harāmi kā ar-rā‟Ĭ yar‟ā haula al- himā yūsyiku an yarta‟a fĬhi/.‟Dan barang siapa yang jatuh dalam melakukan perkara yang syubhat itu, berarti ia telah jatuh dalam perkara yang haram seperti penggembala yang membiarkan kambingnya disekitar tanah larangan , lambat laun dia akan masuk ke dalamnya.
Berikut adalah tabel penjelasan rukun tasybih dari contoh-contoh tasybih di atas.
وبشلا وجو ةدلاا وب وبشملا وبشملا
حٝلاؾُا فبٌُا ذٜؽ ٕلاك ّلاً
ساشٔؽلاا ٞٛٝ ُِٕٞا فبٌُا تؾُا خ٘عٝ َ٤ٜع
ٕبولؾُا "حسذوٓ" فبٌُا ؼُٔا تِه َ٤ٜع
فبٌُا ٍٞؽ ٠ػش٣ ٠ػاشُا
غرش٤ٗا يؽٞ٣ ٠ٔؾُا
ٚ٤ك
٢ك غهٝ ٖٓٝ
٢ك غهٝ دبٜجؾُا
ّشؾُا
Penulis tertarik untuk meneliti hadits pada kitab Hadirs Arba'in An - Nawawiyah dengan menganalisis tasybih yang terdapat dalam kitab Hadits Arba‟in An Nawawiyah. dan bagaimana pentingnya ilmu balaghah dalam memahami hadits . Namun karena pembahasan tasybih itu sangat luas, maka penulis membatasi hanya pada pembagian tasybih yang di tinjau dari unsur adat tasybih dan wajhu syibhi nya saja.
26 BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
3.1.1 Jumlah Tasybih Yang Terdapat Dalam Kitab Hadits Arba’in An- Nawawiyah
Tasybih adalah salah satu kajian ilmu dalam ilmu bayan yang merupakan cabang ilmu balaghah yan membahas tentang perumpamaan, di dalam buku Balaghah Al wadhihah karangan Jarim dan Aamiin , struktur tasybih itu terdiri dari musyabbah, musyabbah bihi, adaatu tasybih dan wajhu asy syibhi. Adapun pembagian tasybih yang dilihat dari adaatu at tasybih dan wajhu asy syibh nya ada lima bagian yaitu : mursal, muakkad, mujmal, mufashshal dan baligh.
1. Tasybih mursal adalah tasybih yang di dalam kalimat perumpamaan itu disebutkan adaatu tasybihnya.
2. Tasybih muakkad adalah kalimat perumpaan yang di dalamnya tidak memakai adaatu tasybih.
3. Tasybih mujmal adalah kalimat perumpamaan yang di dalamnya tidak memakai wajhu asy syibh
4. Tasybih mufashshal adalah kalimat perumpamaan yang di dalamnya disebutkan wajhu asy syibhnya
5. Tasybih baligh adalah kalimat perumpamaan yang di dalamnya tidak disebutkan adaatu tasybih dan wajhu asy syibhnya, yang mana di dalmynya hanya terdapat tharfai tasybih saja yaitu musyabbah dam musyabbah bihi.
Berdasarkan data yang peneliti peroleh dari Kitab Hadits Arba‟in An- Nawawiyah jumlah tasybih yang terdapat di dalamnya berjumlah 39 (tiga puluh Sembilan) yaitu terdiri dari 8 (delapan) tasybih mursal, 3 (tiga) tasybih mujmal, 1(satu) tasybih mufrashshal, dan 25 (dua piliu lima) tasybih baligh.
27 3.2 Pembahasan
3.2.1 Jenis Tasybih Yang Terdapat Pada Kitab Hadits Arba’in Nawawiyah.
Jenis tasybih yang ditemukan pada Kitab Hadits Arba‟in An-Nawawi terdapat empat jenis tasybih yaitu : Mursal, Mujmal, Mufashshal, dan Baligh.
A.Tasybih yang terdapat di dalam Kitab Hadits Arba’in An- Nawawiyah 1. Hadits ke-2 tentang Iman, Islam dan Ihsan