• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN PROFIL LIPID PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 YANG OBESE DAN NON-OBESE DI RSUP HAJI ADAM MALIK TAHUN 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "GAMBARAN PROFIL LIPID PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 YANG OBESE DAN NON-OBESE DI RSUP HAJI ADAM MALIK TAHUN 2015"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN PROFIL LIPID PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 YANG

OBESE DAN NON-OBESE DI RSUP HAJI ADAM MALIK

TAHUN 2015

Oleh :

DAHRANI RAVI 130100446

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2017

(2)

GAMBARAN PROFIL LIPID PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 YANG

OBESE DAN NON-OBESE DI RSUP HAJI ADAM MALIK

TAHUN 2015

SKRIPSI

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran

Oleh :

DAHRANI RAVI 130100446

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2017

(3)

i

(4)

ii

ABSTRAK

Latar Belakang epidemi di seluruh dunia berhubungan dengan diabetes mellitus, terutama karena peningkatan tingkat obesitas. Kelainan lipid profil pada pasien kelebihan berat badan dan obesitas dengan diabetes dan kontribusi yang signifikan untuk komplikasinya.

Metode Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian dilakukan di RSUP. H. Adam Malik Medan pada bulan Agustus – Oktober 2016.

Subjek dipilih dengan metode total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Dari 271 pasien rawat inap Diabetes Melitus tipe II terdapat 128 pasien yang memenuhi kriteria. Profil lipid dinilai dengan melihat kadarnya pada rekam medis sedangkan obesitas dan non-obesitas dinilai dengan menggunakan BMI (Body Mass Index) yaitu membagi berat badan dengan tinggi badan kuadrat.

Data-data ini kemudian diolah dengan program komputer SPSS.

Hasil Dari 128 pasien rawat jalan DM tipe II didapatkan 74 pasien dengan DM tipe II obesitas dan 54 pasien dengan DM tipe II non-obesitas, yang mana pada penelitian ini didapatkan bahwa pada DM tipe II yang obesitas kolesterol total tinggi(67,6%) dan kolesterol HDL rendah(67,6%) lebih banyak daripada non- obesitas. Trigliserida Tinggi pada DM tipe II obesitas(71,6%) dan non- obesitas(75,9%) dalam batas yang sama. Sementara itu, kolesterol LDL tinggi lebih banyak pada DM tipe II non-obesitas(75,9%) daripada DM tipe II obesitas(58,1%). Hal ini menunjukkan bahwa pada DM tipe II yang obesitas terjadi peningkatan kolesterol total dan trigliserida serta penurunan kolesterol HDL sedangkan pada DM tipe II non-obesitas terjadi peningkatan trigliserida dan LDL.

Kata Kunci: Profil Lipid, Diabetes Melitus Tipe II, Obesitas, Non-obesitas, BMI (Body Mass Index), Total Kolesterol

(5)

iii

ABSTRACT

Background Worldwide epidemic exists with respect to diabetes mellitus, primarily because of increased rates of obesity. Lipid profile abnormalities are common in overweight and obese patients with diabetes and contribute significantly to its complications.

Methods The research design was used a descriptive. The study was conducted in RSUP. H. Adam Malik Medan during August – October 2016. Subject was selected by total sampling method based on inclusion and exclusion criteria. Of 271 Type II Diabetes Melitus non hospitalized patients contained 128 patients who met the criteria. Lipid profile levels are assessed by looking at medical records, while obese and non-obese was assessed by using BMI (Body Mass Index), which divides weight by height squared. Then these data are processed by SPSS computer program.

Results Of the 128 non hospitaliazed patients with type II DM was found 74 patients with obese type II DM, and 54 patients with non-obese type II DM, which in this study, high total cholesterol more in obese type II DM (67,6%)high triglycerides in obese and non-obese almost in the same amount,and low HDL cholesterol as much as (67,6%) in the obese type II DM. Meanwhile, high LDL cholesterol more in non-obese type II DM (75.9%). it shows that in obese type II DM there was an increase in total cholesterol and triglycerides and lower HDL cholesterol.

Keywords Lipid Profile, Type II Diabetes Mellitus, Obese, Non-Obese, BMI(Body Mass Index),Total Cholesterol.

(6)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sebagai sarjana kedokteran program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Karya tulis ilmiah ini berjudul “GAMBARAN PROFIL LIPID PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 YANG OBESE DAN NON- OBESE PADA TAHUN 2015”. Dalam penyelesaian penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis telah banyak menerima bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan rasa terima kasih kepada :

1. dr.T. Helvi Mardiani M.Kes dan dr. Sake Juli Martina, Sp.FK selaku Dosen Pembimbing penulisan skripsi saya yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan masukan kepada penulis, sehingga karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik dan sempurna.

2. Dosen ketua penguji dr. Riri Andri Muzasti M.ked(pd),sp.pd dan penguji kedua dr.Dwi Rita Anggraini,M.Kes,SpPA yang telah memberikan masukan demi kesempurnaan skripsi ini.

3. Kedua orang tua saya, Ravi sinnappan dan Nagesuary nagalinggam yang telah membesarkan dengan penuh pengorbanan, serta selalu memberi doa, semangat, dan dukungan moril.

4. Ahli rekam medis RSUP Haji Adam Malik serta seluruh siswi yang telah memberikan izin, kerjasama,dan bantuan dalam penelitian ini.

5. Kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah memberikan bantuan dalam dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.

Kepada semua pihak tersebut, penulis ucapkan terima kasih. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu membalas semua kebaikan yang selama ini diberikan kepada penulis dan melimpahkan rahmat-Nya.

Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang

(7)

v

membangun demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat berguna bagi kita semua.

Medan, 2 Desember 2016, Penulis,

Dahrani Ravi 130100446

(8)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PENGESAHAN ... i

ABSTRACT ... ii

ABSTRAK ... iii

KATA PENGHANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR SINGKATAN ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.4. Manfaat Penelitian ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1. Diabetes mellitus ... 4

2.1.1. Definisi ... 4

2.1.2. Etiologi ... 4

2.1.3. Klasifikasi... 5

2.1.4. Faktor Risiko ... 5

2.1.5. Patofisiologi ... 6

2.1.6. Aksi insulin pada metabolisme karbohidrat ... 7

2.1.7. Efek insulin pada metabolisme lemak ... 9

2.1.8. Manifestasi klinis ... 11

2.1.9. Diagnosis ... 12

2.1.10. Komplikasi ... 12

2.1.11. Prognosis ... 14

2.2. obesitas ... 14

2.2.1. Definisi ... 14

2.2.2. Indeks massa tubuh ... 14

2.2.3. Tabel IMT... 14

2.2.4. Faktor risiko ... 14

2.2.5. Komplikasi ... 16

2.2.6. Pencegahan ... 19

2.3. Profil lipid ... 19

2.3.1. Definisi ... 19

2.3.2. Jenis lipid... 20

2.3.3. Tabel lipid... 21

2.3.4. Metabolisme lemak eksogen ... 21

2.3.5. Metabolisme lemak endogen ... 22

2.4. Hubungan antara obesitas dan resistensi insulin ... 24

(9)

vii

BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

PENELITIAN ... 27

3.1. Kerangka Teori Penelitian... 27

3.2. Kerangka Konsep Penelitian ... 27

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 28

4.1. Rancangan Penelitian ... 28

4.2. Lokasi dan waktu Penelitian ... 28

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 28

4.4. Metode Pengumpulan Data ... 29

4.5. Metode Analisis Data ... 29

4.6 Definisi Operasional... 29

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 31

5.1 Deskripsi Lokasi Penelitian... 31

5.2 Distribusi Karakteristik Sampel ... 31

5.3 Pembahasan ... 33

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 37

6.1 Kesimpulan ... 37

6.2 Saran ... 37

DAFTAR PUSTAKA ... 39 LAMPIRAN

(10)

viii

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman 2.1 Tabel IMT ... 14 2.2 Tabel lipid ... 21 5.1 Distribusi frekuensi dan persentase sampel berdasarkan IMT ... 31 5.2 Distribusi frekuensi dan persentase sampel berdasarkan profil lipid pada penderita dm tipe 2 yang obese ... 32 5.3 Distribusi frekuensi dan persentase sampel berdasarkan profil lipid pada penderita dm tipe 2 yang non obese ... 32

(11)

ix

DAFTAR SINGKATAN

IMT-Indeks massa tubuh HDL-high density lipoprotein LDL-low density lipoprotein

(12)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Curiculum Vitae

Lampiran 2 Daftar Data Rekam Medik Lampiran 3 Surat Ethical Clearance Lampiran 5 Surat Izin Penelitian

(13)

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Insiden diabetes mellitus tipe 2 meningkat di seluruh dunia. Ada bukti kuat bahwa obesitas dan kekurangan aktivitas adalah faktor utama bagi penyakit ini.1 Diabetes mellitus mengacu pada sekelompok gangguan metabolik umum yang berbagi fenotipe hiperglikemia.2 Diabetes mellitus juga ditandai dengan peningkatan konsentrasi glukosa yang beredar terkait dengan kelainan metabolisme lemak, karbohidrat dan protein. Diabetes tipe 2 adalah gangguan yang kompleks yang dihasilkan dari resistensi insulin perifer, dikombinasikan dengan kekurangan insulin relatif.3

Diabetes merupakan ancaman utama bagi kesehatan umat manusia pada abad 21. Menurut (WHO) pada tahun 2000 jumlah penderita diabetes di atas umur 20 tahun, berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian, jumlah itu akan meningkat menjadi 300 juta orang. Meningkatnya prevalensi diabetes di beberapa negara berkembang, karena peningkatan kemakmuran, peningkatan pendapatan per kapita dan perubahan gaya hidup.4 Data kejadian diabetes pada orang tua jarang, tetapi mereka menunjukkan bahwa prevalensi diabetes meningkat dengan usia. Prevalensi umumnya melebih 10 persen pada mereka yang berusia di atas 60. Menurut studi framingham pria dan wanita yang kelebihan berat badan lebih dari 40 persen memiliki dua kali prevalensi diabetes dibandingkan dengan mereka yang berat badanya normal.5

Obesitas merupakan suatu penyakit yang terjadi akibat akumulasi jaringan lemak berlebihan, sehingga dapat menggangu kesehatan.4 Kegemukan dan obesitas merupakan faktor risiko utama untuk sejumlah penyakit kronis, termasuk diabetes.6 Indeks massa tubuh (IMT) adalah salah satu cara untuk mengetahui apakah kita berada di berat badan normal, kelebihan berat badan atau obesitas.

BMI 18,5-24,9 berada dalam kisaran normal. Seseorang dengan BMI 25-29,9

(14)

2

dianggap kelebihan berat badan, dan seseorang dengan BMI 30 atau lebih besar dianggap obesitas.7

Obesitas di seluruh dunia telah lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1980.8 Setelah dianggap masalah obesitas hanya di negara-negara berpenghasilan tinggi, sekarang secara dramatis meningkat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, khususnya di perkotaan.6 42 juta anak di bawah usia 5, mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada tahun 2013.pada tahun 2014, lebih dari 1,9 miliar orang dewasa, 18 tahun dan lebih tua, adalah kelebihan berat badan.dari jumlah tersebut lebih dari 600 juta mengalami obesitas.secara keseluruhan, sekitar 13% dari populasi dunia dewasa yang mengalami obesitas pada tahun 2014.8 Penderita diabetes tipe 2 memiliki tidak pekaan terhadap insulin yang berkorelasi dengan distribusi lemak perut. Penyebab utama resistensi terhadap insulin pada jaringan target pasien obesitas, diyakini kecacatan pada postreseptor dalam aksi insulin. Pada penderita diabetes tipe 2 yang tidak obesitas, kekurangan insulin oleh sel pankreas B tampaknya menjadi cacat, namun terdapat juga resistensi insulin pada tingakat postreseptor.9 Link yang kuat antara peningkatan lemak perut dan hiperinsulinisme, resistensi insulin, hipertrigliseridemia, dan berkurang HDL telah diakui selama beberapa dekade.10

Dislipidemia adalah umum pada penderita diabetes. Diabetes mellitus tipe 2 biasanya dikaitkan dengan obesitas dan resistensi insulin. Resistensi insulin menyebabkan beberapa efek pada metabolisme lipid. Pada pasien diabetes mellitus tipe 2 yang kurang terkontrol, mengalami peningkatan dari trigliserida, rendahnya tingkat HDL, dan perubahan komposisi LDL. Komposisi partikel LDL sering abnormal pada orang dengan diabetes. Kelainan paling sering digambarkan adalah partikel LDL yang kecil dan mungkin aterogenik. LDL sering tidak diklasifikasikan sebagai meningkat pada orang dengan diabetes.3

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah bagaimana gambaran profil lipid pada penderita diabetes melitus tipe 2 yang obese dan non-obese di RSUP.H.Adam Malik Medan.

(15)

3

1.3. Tujuan penelitian 1.3.1.Tujuan Umum

Mengetahui gambaran profil lipid pada penderita diabetes melitus tipe 2 yang obese dan non-obese.

1.3.2.Tujuan Khusus

1. Mengetahui distribusi pasien diabetes mellitus tipe 2 yang obese dan non- obese.

2. Mengetahui profil lipid seperti LDL, HDL, trigliserida, dan total kolesterol pada penderita diabetes mellitus tipe 2.

1.4.Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:

1. Manfaat Teoritis

Dapat memberikan bukti-bukti empiris gambaran profil lipid pada penderita diabetes mellitus tipe 2 yang obese dan non-obese.

2. Manfaat Praktis;

a. Memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan penderita untuk mengenal diabetes mellitus tipe 2 pada obese dan non-obese.

b. Dalam segi medis dan non-medis, membantu memberikan tambahan pengetahuan tentang profil lipid pada penderita diabetes melitus tipe 2 yang obese dan non obese agar dapat disebar luaskan kepada masyarakat.

(16)

4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Diabetes Mellitus 2.1.1. Definisi

Diabetes mellitus adalah sindrom gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin atau penurunan sensitiviti dari jaringan terhadap insulin.11 Diabetes mellitus juga adalah penyakit metabolik, dengan hiperglikemia yang terjadi karena kekurangan sekresi insulin atau penurunan efektivitas biologis insulin atau kedua-duanya.12 Hiperglikemia yang terdapat di diabetes menyebabkan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, jantung, saraf dan pembuluh darah.4

2.1.2. Etiologi

1. Bila memiliki diabetes tipe 2, lemak, hati dan sel-sel otot tidak merespon dengan benar terhadap insulin.ini disebut resistensi insulin. Akibatnya, gula darah tidak masuk ke dalam sel-sel untuk disimpan sebagai energi.

Ketika gula tidak bisa masuk ke dalam sel, tingkat kadar gula yang menumpuk dalam darah.ini disebut hiperglikemia.

2. Diabetes tipe 2 biasanya terjadi perlahan-perlahan dari waktu ke waktu.

Kebanyakan orang dengan obesitas atau kelebihan berat badan ketika mereka didiagnosis. Peningkatan lemak membuat lebih sulit bagi tubuh untuk menggunakan insulin dengan cara yang benar.

3. Dm tipe 2 juga berkembang pada orang-orang yang kurus. Hal ini lebih umum pada orang tua.

4. Riwayat keluarga dan gen memainkan peran dalam dm tipe 2.

5. Rendahnya tingkat aktivitas, pola makan yang buruk, dan kelebihan berat badan sekitar pinggang meningkatkan kesempatan untuk mendapatkan penyakit ini.13

(17)

5

2.1.3. Klasifikasi 1. Tipe 1

Dm tipe 1 adalah kondisi di mana pankreas memproduksi insulin sedikit atau tidak.14 Dm tipe 1 adalah penyakit kronis yang ditandai dengan ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi insulin karena kerusakan autoimun sel beta di pankreas. Onset paling sering terjadi pada masa kanak-kanak.15

2. Tipe 2

Dm tipe 2 adalah penyakit seumur hidup di mana tingkat tinggi gula dalam darah. Dm tipe 2 adalah bentuk paling umum dari diabetes. Orang yang menderita tipe ini, lemak, hati dan sel-sel otot tidak berespon terhadap insulin yang disebut resistensi insulin.16

3. Dm tipe lain

Adalah dm yang berhubungan dengan kondisi lain seperti kecacatan genetik, cacat genetik dalam aksi insulin, penyakit pankreas, bahan kimia atau obat, infeksi, hormon dan sindroma genetik.2

4. Diabetes gestational

Diabetes gestasi adalah jenis diabetes yang berkembang selama kehamilan.17

2.1.4. Faktor resiko 1. Riwayat keluarga

Risiko dm tipe 2 meningkat jika orang tua atau saudara kandung memiliki dm tipe 2.

2. Obesitas

kelebihan berat badan merupakan faktor risiko utama untuk dm tipe 2.Apabila kita memiliki lebih jaringan lemak, jadi sel-sel kita akan lebih resistant pada insulin.

(18)

6

3. Kurang aktivitas fisik

Aktivitas fisik membantu mengontrol berat badan dan menggunakan glukosa sebagai energi dan membuat sel-sel lebih sensitif terhadap insulin.

4. Ras & etnik

Meskipun tidak jelas mengapa, orang dari ras tertentu termasuk kulit hitam, hispanik, indian amerika dan asia-amerika lebih mengembangkan dm tipe 2 dibandingkan dengan orang kulit putih.

5. Hipertensi

Kadar hdl kolesterol<35mg/dl (0.90mmol/dl) dan kadar trigliserida>250 mg/dl (2.82mmol/dl)2

6. Usia

Risiko dm tipe 2 meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 45.

7. Gestational diabetes

Jika mengembangkan dm gestasi, ketika sedang hamil, resiko terkena dm tipe 2 meningkat. Jika melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4kg berisiko dm tipe 2.

8. Sindrom Ovarium polikistik

Bagi wanita yang menderita sindroma ini, kondisi umum yang ditandai dengan periode menstruasi yang tidak teratur, pertumbuhan rambut berlebihan dan obesitas meningkatkan risiko diabetes.18

2.1.5. Pathofisiologi

Diabetes tipe 2 ditandai dengan sekresi gangguan insulin, resistensi insulin, produksi glukosa berlebihan, dan metabolisme lemak abnormal. Pada tahap awal gangguan, glukosa tetap normal, meskipun resistensi insulin, karena sel-sel beta pankreas mengkompensasi dengan meningkatkan produksi insulin.

Peningkatan resistensi insulin dan kompensasi hiperinsulinemia, menyebabkan islats pankreas pada individu tertentu tidak dapat mempertahankan keadaan hiperinsulinemia. Penurunan lebih lanjut dalam sekresi insulin dan peningkatan

(19)

7

produksi glukosa hepatik memyebabkan diabetes dengan hiperglykemia puasa, dan kegagalan sel beta.2

2.1.6 .Aksi Insulin Pada Metabolisme Karbohidrat

Setelah makan makanan tinggi karbohidrat, glukosa yang diserap ke dalam darah menyebabkan sekresi insulin dengan cepat. Insulin pada giliranya menyebabkan penyerapan yang sepat, penyimpanan, dan penggunaan glukosa oleh hampir semua jaringan tubuh, terutama oleh otot, jaringan adiposa dan hati.

1. Insulin mempromosikan penyerapan glukosa otot dan metabolisme

Di bawah dua kondisi otot menggunakan sejumlah besar glukosa. Yang pertama adalah selama aktivitas ataupun berolahraga. Glukosa tidak memerlukan sejumlah besar insulin karena serat otot yang berolahraga menjadi lebih permeable terhadap glukosa bahkan tanpa adanya insulin.

Kondisi kedua adalah selama beberapa jam setelah makan. Pada saat ini konsentrasi glukosa darah tinggi dan pankreas mensekresi jumlah besar insulin. Insulin yang berlebihan menyebabkan transportasi cepat glukosa ke dalam sel-sel otot.

2. Penyimpanan glikogen di otot

Kalau otot tidak berolahraga setelah makan banyak, maka sebagian besar dari glukosa akan disimpan dalam bentuk glikogen di otot, bukanya digunakan untuk energi. Glikogen yang yang disimpan akan dapat digunakan sebagai energi oleh otot semasa puasa.

3. Insulin mempromosikan serapan hati, penyimpanan dan penggunaan glukosa.

Salah satu efek insulin yang penting adalah menyebabkan sebagian besar glukosa diserap setelah makan, untuk disimpan di hati dalam bentuk glikogen. Ketila makanan tidak tersedia dan konsentrasi glukosa darah mulai jatuh, seksesi insulin menurun dengan cepat, dan glikogen di hati dibagi kembali menjadi glukosa, dan dilepaskan kembali ke dalam darah untuk menjaga konsentrasi glukosa yang terlalu rendah.

(20)

8

4. Mekanisme insulin yang menyebabkan penyerapan dan penyimpanan glukosa di hati meliputi beberapa langkah hampir bersamaan.

a. Insulin menginaktivasi fosforilase hati, enzim yang menyebabkan glikogen hati untuk dipecah menjadi glukosa. Ini mencegah glikogen yang telah disimpan dalam sel-sel hati dari brtukar menjadi glukosa.

b. Insulin meningkatkan penyerapan glukosa dari darah oleh sel-sel hati. Ini dilakukan dengan meningkatkan aktivitas enzim glukokinase, yang merupakan salah satu enzim yang menyebabkan fosforilasi awal glukosa setelah berdifusi ke dalam sel hati.

c. Insulin juga meningkatkan aktivitas enzim yang mempromosikan sintesis glikogen.

d. Efek dari semua tindakan ini adalah untuk meningkatkan jumlah glikogen dalam hati.

Glukosa dilepaskan dari hati antara waktu makan, beberapa mekanisme menyebabkan hati untuk melepaskan glukosa kembali ke sirkulasi darah.

a. Penurunan glukosa darah menyebabkan pankreas untuk mengurangi sekresi insulin.

b. Kurangnya insulin maka membalikkan semua mekanisme yang disebutkan sebelumnya untuk penyimpanan glikogen,pada dasarnya menghentikan sintesis lebih lanjut glikogen dalam hati dan mencegah penyerapan lebih lanjut glukosa oleh hati dari darah.

c. Kurangnya insulin mengaktifkan fosforilase enzim, yang menyebabkan pemecahan glikogen menjadi fosfat glukosa.

d. Enzim fosfatase glukosa,yang telah dihambat oleh insulin, sekarang menjadi aktif oleh kurangnya insulin dan menyebabkan glukosa bebas untuk berdifusi kembali ke dalam darah. Hati menghilangkan glukosa dari darah ketika lebih setelah makan dan kembalikan ke darah ketika kadar glukosa darah turun di antara waktu makan.

5. Insulin mempromosikan konversi glukosa menjadi asam lemak dan menghambat glukoneogenesis di hati.

(21)

9

Ketika kuantitas glukosa yang memasuki sel-sel hati adalah lebih dari dapat disimpan sebagai glikogen, insulin mempromosikan konversi seluruh kelebihan glukosa ini ke asam lemak. Asam lemak, selanjutnya dikemas sebagai trigliserida di lipoprotein VLDL dan diangkut dalam bentuk ini dalam darah ke jaringan adiposa dan disimpan sebagai lemak.

2.1.7 Efek insulin pada metabolism lemak

1. Insulin mempromosikan sintesis dan penyimpanan lemak

Insulin memiliki beberapa efek yang menyebabkan penyimpanan lemak di tisu adiposa. Insulin meningkatkan pemanfaatan glukosa oleh sebagian besar jaringan tubuh, dan secara otomotis menurunkan pemanfaatan lemak. Insulin juga mempromosikan produksi asam lemak. Ini terutama terjadi ketika lebih banyak karbohidrat tertelan selain dapat digunakan untuk energi, segera sehingga memberikan substrat untuk sintesa lemak.

Sintesa ini terjadi di sel-sel hati dan asam lemak kemudian diangkut dari hati dengan bentuk lipoprotein darah ke sel adiposa untuk disimpan.

Berbagai faktor menyebabkan peningkatan sistesis asam lemak di hati meliputi berikut ini.

a. Insulin meningkatkan transportasi glukosa ke dalam sel hati. Apabila, konsentrasi glikogen hati mencapai 5 sampai 6 persen, ini sendiri menghambat glikogen lanjut sintesis. Jadi semua glukosa tambahan memasuki sel-sel hati menjadi tersedia untuk membentuk lemak.

Glukosa pertama dibagi menjadi piruvat dalam jalur glikolisis, dan piruvat diubah menjadi aseti-CoA, substrat yang asam lemak sintesis.

b. Kelebihan sitrat dan isositrat ion dibentuk oleh siklus asam sitrat ketika jumlah kelebihan glukosa yang digunakan untuk energi.

c. Sebagian besar asam lemak disintesis dalam hati dan digunakan untuk membentuk trigliserida, bentuk biasa dari penyimpanan lemak. Ini dilepaskan dari sel-sel hati ke darah di lipoprotein. Insulin mengaktifkan lipoprotein lipase di dinding kapiler dari jaringan adiposa, yang membagi triglyserida lagi menjadi asam lemak,

(22)

10

persyaratan bagi mereka untuk diserap ke dalam sel adiposa, di mana mereka lagi dikonversi ke triglyserida dan disimpan.

2. Peran insulin dalam penyimpanan lemak dalam sel adiposa

a. Insulin menghambat aksi hormon-sensitif lipase.ini adalah enzim yang menyebabkan hidrolisis trigliserida yang sudah tersimpan dalam sel lemak. Jadi, pelepasan asam lemak dari jaringan adiposa ke dalam sirkulasi darah terhambat.

b. Insulin mempromosikan transportasi glukosa melalui membran sel ke dalam sel-sel lemak.glukosa ini kemudian digunakan untuk sistesis asam lemak, tetapi yang lebih penting, itu juga membentuk jumlah besar alpha-gliserol phosphate. Substansi ini mengabungkan gliserol dengan asam lemak untuk membentuk trigliserida yang merupakan bentuk penyimpanan lemak di sel adiposa. jadi, ketika insulin tidak tersedia, bahkan penyimpanan sejumlah besar asam lemak yang diangkut dari hati di lipoprotein hampir diblokir.

3. Kekurangan insulin meningkatkan penggunaan lemak untuk energi.

Pemecahan lemak dan penggunaanya untuk energi ditingkatkan dengan tidak adanya insulin. Ini menjadi bahkan biasanya antara makanan ketika sekresi insulin adalah minimal, tetapi menjadi ekstrim dalam diabetes ketika sekresi insulin hampir nol. Efek yang dihasilkan sebagai berikut.

a. Kekurangan insulin menyebabkan lipolisis lemak penyimpanan dan pelepasan asam lemak bebas.

Dengan tidak adanya insulin, semua efek insulin yang disebutkan sebelumnya bahwa penyebab penyimpanan lemak, terbalik. Efek yang paling penting adalah aktivasi enzim hormon-sensitif lipase dalam sel lemak. Ini menyebabkan hidrolisis trigliserida yang tersimpan, melepaskan jumlah besar asam lemak dan gliserol ke dalam sirkulasi darah. Konsentrasi asam lemak plasma meningkat. Asam lemak bebas ini kemudian menjadi substrat energi yang digunakan oleh semua jaringan tubuh kecuali otak.

(23)

11

b. Kekurangan insulin meningkatkan kolesterol plasma dan konsentrasi fosfolipid.

kelebihan asam lemak dalam plasma yang terkait dengan kekurangan insulin, juga mempromosikan konversi beberapa asam lemak ke fosfolipid dan kolesterol di hati. Fosfolipid dan kolesterol adalah produk utama metabolisme lemak. Dua zat ini bersama dengan kelebihan trigliserida terbentuk di hati, pada saat sama, kemudian dilepaskan ke dalam darah di lipoprotein. Lipoprotein plasma meningkat sebanyak tiga kali lipat dalam ketiadaan insulin.

Konsentrasi lipid yang tinggi,terutama konsentrasi tinggi dari kolesterol mempromosikam perkembangan aterosklerosis pada orang dengan diabetes serius.

c. Kelebihan penggunaan lemak selama kekurangan insulin menyebabkan ketosis dan asidosis.11

2.1.8. Manifestasi klinis

Tanda dan gejala diabetes mellitus tipe 2 sering berkembang secara perlahan:

1. Peningkatan rasa haus dan sering buang air kecil

Kelebihan gula dalam aliran darah memyebabakan cairan ditarik dari jaringan. Hal ini dapat membuat haus. Akibatnya penderita dapat minum dan buang air kecil lebih dari biasanya.

2. Peningkatan kelaparan

Tanpa cukup insulin untuk menindahkan gula ke alam sel-sel, otot dan organ menjadi kehabisan energi. Hal memicu rasa lapar.

3. Penurunan berat badan

Meskipun makan lebih dari biasanya untuk menghilangkan rasa lapar, mungkin kehilangan berat badan. Tanpa kemampuan untuk memetabolisme glukosa, tubuh menggunakan bahan bakar alternatif yang disimpan dalam otot dan jaringan lemak. Kalori yang hilang sebagai kelebihan glukosa dilepaskan dalam urin.

(24)

12

4. Kelelahan

Jika sel-sel dirampas gula, mungkin menjadi lelah dan mudah marah.

5. Penglihatan kabur

Jika gula darah terlalu tinggi, cairan dapat ditarik dari lensa mata. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan untuk fokus.

6. Lambat penyembuhan luka atau sering infeksi

Diabetes tipe 2 mempengaruhi kemampuan untuk menyembuhkan dan melawan infeksi.

7. Kulit gelap

Beberapa orang dengan diabetes tipe 2 memiliki bercak, kulit gelap di lipatan-lipatan tubuh, biasanya di ketiak dan leher. Kondisi ini disebut acanthosis nigricans, mungkin terjadi tanda resistensi insulin.18

2.1.9. Diagnosis

Apabila dokter menduga bahwa anda memiliki diabetes jika kadar gula darah lebih tinggi dari 200mg/dL, Jadi mengkonfirmasi diagnosis, satu atau lebih dari tes berikut harus dilakukan.

1. kadar glukosa darah puasa

Diabetes didiagnosis jika lebih tinggi dari 126mg/dL(7.0mmol/L) dua waktu yang berbeda.

2. Toleransi glukosa oral

Diabetes didiagnosis jika kadar glukosa lebih tinggi dari 200mg/dL(11.1mmol/L) 2 jam setelah minum minuman gula khusus.13 3. Konsentrasi glucosa darah random

Diabetes didiagnosis jika kadar glukosa darah lebih dari 200mg/dL(11.1 mmol/L).2

(25)

13

2.1.10. Komplikasi

1. Penyakit jantung dan pembuluh darah

Diabetes secara dramatis meningkatkan risiko berbagai masalah kardiovaskuler, termasuk arteri koroner,nyeri dadah, miokard infark, stroke, aterosklerosis dan tekanan darah tinggi.

2. Kerusakan saraf(neuropati)

Kelebihan gula dapat merusak dinding pembuluh darah kecil yang menyehatkan saraf, terutama di kaki. Hal ini dapat memyebabkan kesemutan, rasa mati. terbakar atau sakit yang biasanya dimulai pada ujung jari kaki atau jari dan secara bertahap menyebar ke atas. Kurang terkontrol gula darah akhirnya dapat menyebabkan kehilangan semua rasa perasaan pada tungkai yang terkena. Kerusakan saraf yang mengontrol pencernaan dapat menyebabkan masalah dengan mual, muntah, diare atau sembelit. Untuk pria, disfungsi ereksi dapat menjadi masalah.

3. Kerusakan ginjal (nefropati)

Ginjal mengandung jutaan cluster pembuluh darah kecil yang menyaring limbah dari darah.diabetes dapat merusak sistem penyaring halus.

Kerusakan parah dapat menyebabkan gagal ginjal, yang sering akirnya membutuhkan dialisis atau transplantasi ginjal.

4. Kerusakan mata

Diabetes dapat merusak pembuluh darah retina (retinopati diabetik), berpotensi menyebabkan kebutaan. Diabetes juga meningkatkan risiko kondisi visi serius lainya, seperti katarak dan glukoma.

5. Kerusakan kaki

Kerusakan saraf di kaki atau aliran darah yang buruk ke kaki meningkatkan resiko berbagai komplikasi kaki. Diobat luka lecet dapat menjadi infeksi serius, yang menyebabkan penyembuhan buruk.

Kerusakan parah mungkin menyebabkan amputasi kaki.

6. Gangguan pendengaran

Masalah pendengaran lebih umum pada orang dengan diabetes.

(26)

14

7. Kondisi kulit

Diabetes dapat membuat lebih rentan terhadap masalah kulit, termasuk infeksi bakteri dan jamur.18

2.1.11. Prognosis

Diabetes adalah penyakit seumur hidup. Beberapa orang dengan diabetes mellitus tipe 2 tidak lagi membutuhkan obat jika mereka menurunkan berat badan dan menjadi lebih aktif. Ketika mereka mencapai berat badan ideal, insulin tubuh mereka sendiri dan diet yang sehat dapat mengontrol kadar gula darah mereka.13

2.2.Obesitas 2.2.1.Definisi

Obesitas merupakan suatu penyakit yang terjadi akibat akumulasi jaringan lemak berlebihan, sehingga dapat menggangu kesehatan. Obesitas terjadi bila, jumlah sel lemak pada tubuh meningkat atau bertambah besar. Bila seseorang meningkat berat badanya, maka ukuran sel lemak akan bertambah besar dan jumlahnya bertambah banyak.4

2.2.2.Indeks massa tubuh

Indeks massa tubuh dihitung dengan membagi berat badan(dalam kilogram)dengan tinggi badan(dalam meter persegi) atau berat badan(dalam pound) dikalikan dengan 704 dan dibagi tinggi badan(dalam inci kuadrat).19 Tabel 2.1 IMT

BMI(kg/m2) Obesity class Risk of disease Underweight <18.5

Healthy weight 18.5-24.9

Overweight 25.0-29.9 Increased

Obesity 30.0-34.9 I High

Obesity 35.0-39.9 II Very high

Extreme obesity >40 III Extremely high

2

(27)

15

2.2.3. Faktor resiko 1. Genetika

Gen dapat mempengaruhi jumlah lemak tubuh yang menyimpan, dan dimana lemak didistribusikan. Genetika juga mungkin memainkan peran dalam seberapa efisien tubuh mengubah makanan menjadi energi dan bagaimana tubuh membakar kalori saat berolahraga.

2. Gaya hidup keluarga

Obesitas cenderung berjalan dalam keluarga. Jika salah satu atau kedua orang tua mengalami obesitas, resikonya meningkat. Itu bukan hanya karena genetik. Anggota keluarga cenderung berbagi kebiasaan makan dan kegiatan serupa.

3. Kekurangan aktivitas

Kekurangan aktivitas, tidak dapat membakar banyak kalori.dengan gaya hidup ini, dengan mudah mengambil lebih banyak kalori setiap hari daripada orang yang bakar melalui olahraga.

4. Diet yang tidak sehat

Diet yang tinggi kalori, kekurangan pengambilan buah-buahan dan sayuran, pengambilan makanan cepat saji, minuman berkalori tinggi, dan porsi yang besar menyebabkan kenaikan berat badan.

5. Obat-obatan

Beberapa obat dapat menyebabkan kenaikan berat badan jika tidak memberikan kompensasi melalui diet atau olahraga. Obat-obatan ini termasuk beberapa antidepresan, anti-kejang, obat diabetes, antipsikotik, steroid dan beta blockers.

6. Usia

Obesitas dapat terjadi pada semua usia. Tapi seiring pertambahan usia, perubahan hormonal dan gaya hidup kurang aktif meningkat resiko obesitas. Selain itu, jumlah otot dalam tubuh cenderung menurun dengan usia. Massa otot yng lebih rendah ini menyebabkan penurunan metabolisme. Perubahan ini juga mengurangi kebutuhan kalori, dan dapat membuat lebih sulit untuk menjaga kelebihan berat badan.

(28)

16

7. Kehamilan

Selama kehamilan, berat badan seorang wanita tentu meningkat. Beberapa wanita menemukan berat ini sulit menurunkan setelah bayi lahir. Berat badan ini dapat berkontribusi terhadap perkembangan obesitas pada wanita.

8. Kurang tidur

Tidak cukup tidur atau terlalu banyak tidur dapat menyebabkan perubahan hormon yang meningkatkan nafsu makan. Jadi mungkin ini akan menginginkan makanan tinggi kalori dan karbohidrat, yang dapat menyebabkan peningkatan berat badan.20

2.2.4. Komplikasi

1. Penyakit jantung koroner

Indeks massa tubuh yang meningkat, akan meningkatkan resiko penyakit jantung koroner. Pjk adalah suatu kondisi di mana zat lilin yang disebut plak di dalam arteri koroner.arteri ini menyuplai darah kaya dengan oksigen ke jantung. Plak dapat mempersempit atau memblok arteri koroner dan mengurangi aliran darah ke otot jantung. Hal ini dapat menyebabkan angina(nyeri dadah) atau serangan jantung. Obesitas juga dapat menyebabkan gagal jantung. Ini adalah kondisi serius dimana jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

2. Hipertensi

Tekanan darah adalah kekuatan darah mendorong dinding arteri sebagai jantung memompa darah. Jika tekanan ini meningkat dan tetap tinggi dari waktu ke waktu,hal itu dapat merusak tubuh dalam banyak cara.

Kesempatan memiliki tekanan darah tinggi lebih besar jika kelebihan berta badan atau obesitas.

3. Stroke

Obesitas dapat menyebabkan penumpukan plak di arteri. Akhirnya area plak dapat pecah dan menyebabkan bekuan darah terbentuk. Jika bekuan

(29)

17

dekat otak, ia dapat memblok aliran darah dan oksigen ke otak dan menyebabkan stroke.

4. Diabetes tipe 2

Pada diabetes tipe 2, sel-sel tubuh tidak menggunakan insulin dengan benar. Pada awalnya, tubuh bereaksi dengan mensekresi lebih banyak insulin. Seiring waktu, bagaimanapun, tubuh tidak dapat mensekresi cukup insulin untuk mengontrol kadar gula darahnya. Kebanyakan orang yang memiliki diabetes tipe 2 adalah obesitas atau kelebihan berat badan.

5. Lemak darah yang abnormal

Peningkatan lemak abnormal di darah adalah salah satu komplikasi pada orang obesitas. Ini termasuk kadar trigliserida yang tinggi dan ldl kolesterol dan rendahnya tingkat HDL kolesterol. Tingkat lemak abnormal darah merupakan faktor resiko untuk pjk.

6. Sindroma metabolik

Sindroma metabolik adalah nama untuk sekelompak faktor resiko penyakit jantung dan masalah kesehatan lainnya, seperti diabetes dan stroke.

7. Kanker

Obesitas meningkatkan resiko untuk kanker usus besar, payudara, endometrium, dan kantong empedu.

8. Osteoarthritis

Osteoarthritis adalah masalah umum dri lutut, piggul dan punggung bawah. Kondisi ini terjadi jika jaringan yang melindungi sendi menipis.

Obesitas dapat menempatkan lebih banyak tekanan dan menyebabkan nyeri.

9. Sleep apnea

Sleep apnea adalah gangguan umum di mana memiliki satu atau lebih jeda dalam bernapas atau dangkal napas saat tidur. Seseorang yang memiliki apnea tidur mungkin memiliki lebih banyak lemak yang disimpan di sekitar leher. Hal ini dapat mempersempit jalan napas, sehingga sulit untuk bernapas.

(30)

18

10. Obesitas hipoventilasi sindrom

Sindrom obesitas hipoventilasi(ohs) adalah gangguan pernapasan yang mempengaruhi beberapa orang obesitas. Dalam ohs hasil pernapasan kurang baik adalah karena terlalu banyak karbon dioksida(hipoventilasi) dan terlalu sedikit oksigen(hipoksemia) dalam darah. Ohs dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

11. Masalah reproduksi

Obesitas dapat menyebabkan masalah menstruasi dan infertilitas pada wanita.

12. Batu empedu

Batu empedu adalah potongan-potongan keras bahan seperti yang terbentuk di kandung empedu. Sebahagian besarnya terbuat dari kolesterol. Batu empedu dapat menyebabkan perut atau sakit punggung.

Orang yang obesitas meningkatkan resiko mengalami batu empedu. Juga kelebihan berat badan dapat mengakibatkan kandung empedu yang membesar yang tidak bekerja dengan baik.21

13. Komplikasi kehamilan

Seperti diabetes gestational atau pre-eklampsia seorang wanita mengalami kenaikan tekanan darah selama kehamilan.

14. Gastro-esofagus refluks(gerd)

Dimana asam lambung bocor keluar dari perut dan ke tenggorokan.

15. Penyakit hati dan ginjal

Beberapa masalah sehari-hari yang dapat disebabkan oleh obesitas meliputi:

a. Sesak napas

b. Meningkat berkeringkat c. Keruh

d. Kesulitan melakukan aktivitas fisik e. Merasa sangat lelah

f. Nyeri sendi dan punggung.22

(31)

19

2.2.5. Pencegahan

1. Berolahraga secara teratur

Kita perlu mendapatkan 150-300 minit aktivitas intensitas sedang seminggu untuk mencegah kenaikan berat badan. Kegiatan fisik termasuk seperti jalan cepat dan berenang.23 Membuat peluang waktu siang untuk beberapa aktivitas pembakaran kalori hanya 10 atau 15 menit seperti berjalan atau naik dan turun tangga di tempat kerja.24

2. Mengikuti rencana makan yang sehat

Fokus pada rendah kalori, makanan padat nutrisi, seperti buah-buahan, sayuran dan biji-bijian. Hindari lemak jenuh dan permen batas dan alkohol. Makan tiga kali secara teratur sehari dengan ngemil terbatas.

3. Memantau berat badan secara teratur

Orang yang timbang berat sendiri setidaknya sekali seminggu lebih berhasil dalam menjaga kelebihan berat badan. Pemantaun berat badan dapat membantu mendeteksi peningkatan berat badan kecil sebelum menjadi masalah besar.23

4. Mengurangi waktu di depan tv dan komputer kurang dari dua jam sehari.

5. Mendorong untuk makan hanya saat lapar, dan makan secara perlahan.

6. Penuhkan kulkas dengan susu bebas lemak dan buah segar dan sayuran bukannya minuman ringan tinggi gula dan lemak.

7. Melayani setidaknya lima porsi buah dan sayuran setiap hari.

8. Pilih makanan gandum seperti beras merah dan roti gandum. Hindari makanan yang diproses dibuat dengan gula putih halus, tepung dan lemak jenuh.24

2.3. Profil lipid 2.3.1. Definisi

Profil lipid adalah pengukuran berbagai lipid yang ditemukan dalam darah.

Tes darah ini sering digunakan untuk menilai resiko penyakit jantung. Profil lipid berisi informasi tentang beberapa jenis lipid yang biasanya beredar dalam darah seperti trigliserida, cholesterol HDL, dan LDL.25

(32)

20

2.3.2. Jenis lipid 1. Trigliserida

Trigliserida adalah jenis yang umum dari lipid yang terbentuk pada manusia ataupun hewan. Jaringan lemak terutama untuk penyimpanan bentuk lipid ini. Kadar trigliserida bervariasi sedikit selama periode waktu yang singkat. Makanan yang tiggi gula, lemak, atau alkohol dapat meningkatkan tingkat trigliserida dengan drastik. Langkah yang paling berulang dari lipid ini diambil setelah 12 jam puasa. Tubuh kita akan mengkonversi kelebihan kalori menjadi trigliserida untuk penyimpanan jangka panjang. Nilai di bawah 150mg/dL menunjukkan tidak ada peningkatan resiko, 150-200mg/dL menunjukkan sedikit resiko, dan lebih dari 200mg/dL merupakan resiko tinggi.

2. Kolesterol

Kolesterol merupakan molekul yang diperlukan dalam metabolisme manusia. Kolesterol yang diperlukan untuk metabolisme normal diproduksi oleh hati. Umumnya, tingkat kurang dari 200mg/dL dianggap batas normal. Antara 200mg/dL dan 240mg/dL dianggap batas tinggi, dan lebih dari 240mg/dL dianggap tinggi. Kolesterol dalam darah terbentuk dalam 3 bentuk.

3. LDL

LDL atau low density liporotein, disebut sebagai kolesterol jahat. Bentuk ini mengandung jumlah kolesterol tertinggi. Nilai antara 130-159mg/dL adalah batas tinggi, dan lebih dari 160mg/dL dianggap tinggi.

4. HDL

HDL kolesterol, atau high density lipoprotein disebut sebagai kolesterol baik. Semakin tinggi angkanya, semakin baik.nilai di bawah 40mg/dL dianggap sebagai faktor resiko.25

(33)

21

Tabel 2.2 Lipid Lipid

LDL cholesterol <100 Optimal

100-129 Near optimal

130-159 Borderline high

160-189 High

>190 Very high

Total cholesterol <200 Desirable

200-239 Borderline high

>240 High

HDL cholesterol <40 Low

>60 High

Triglycerides <150 Normal

150-199 Borderline high

200-499 High

>500 Very high

26

2.3.3. Metabolisme Lemak Eksogen Eksogen

1. Normal metabolisme

Makanan yang berlemak terdiri atas trigliserida dan kolesterol. Selain dari makanan, dalam usus juga terdapat kolesterol dari hati yang diekskresi bersama empedu ke usus halus. Trigliserid dan kolesterol dalam usus halus akan diserap ke dalam mukosa usus halus. Kemudian, trigliserid akan diserap sebagai asam lemak bebas sedang kolesterol sebagai kolesterol. Di dalam usus halus asam lemak bebas akan diubah lagi menjadi trigliserid, sedang kolesterol akan mengalami esterifikasi menjadi kolesterol ester dan

(34)

22

keduanya bersama akan membentuk lipoprotein yang dikenal sebagai kilomikron. Kilomikron ini akan masuk ke saluran limfe dan akhirnya akan masuk ke dalam aliran darah. Trigliserid dalam kilomikron akan mengalami hidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase menjadi asam lemak bebas. Asam lemak bebas dapat disimpan sebagai trigliserid kembali di jaringan lemak, tetapi bila terdapat dalam jumlah yang banyak sebagian akan diambil oleh hati untuk pembentukan trigliserid di hati.4 Sebagian dari trigliserida dalam kilomikron ditransfer ke hdl dalam pertukaran untuk kolesterol ester dalam proses difasilitasi oleh transfer protein kolesterol ester(cetp). Proses ini menghasilkan konversi kilomikron kepada kilomikron remnant yang habis trigliserida dan diperkaya ester kolesterol.dalam kondisi normal kilomikron remnant cepat dibersihkan dari plasma dan tidak menumpuk dalam plasma.27

2. Perubahan metabolik pada diabetes tipe 2

Perkembangan insulin resistensi pada diabetes tipe 2 mengganggu jalur ini di beberapa langkah. Aktivitas lipoprotein lipase akan menurun pada orang yang memiliki insulin resistensi. Peningkatan konsentrasi dari kilomikron dan remnant disertai dengan peningkatan pertukaran trigliserida untuk kolesterol ester dari HDL. Ini menghasilkan partikel HDL yang kaya trigliserida dan ketiadaan kolesterol ester. Hidrolisis selanjutnya hdl trigliserida oleh lipase hepatik mengarah pada pembentukan HDL yang lebih kecil dan lebih padat dari biasanya. Hasil keseluruhan adalah mengurangi konsentrasi HDL-c dan fraksi HDL ditandai oleh partikel padat kecil. Remnant yang mungkin terakumulasi dalam plasma pada diabetes tipe 2.27

2.3.4. Metabolisme lemak endogen Endogen

1. Normal metabolisme

Trigliserid dan kolesterol yang disintesis di hati dan disekresi ke dalam sirkulasi sebagai lipoprotein VLDL. Dalam sirkulasi, trigliserid di VLDL akan mengalami hidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase dan VLDL

(35)

23

berubah menjadi IDL yang juga akan mengalami hidrolisis dan berubah menjadi LDL. Sebagian dari VLDL, IDL, dan LDL akan mengangkut kolesterol ester kembali ke hati. LDL adalah lipoprotein yang paling banyak mengandung kolesterol.sebagian dari kolesterol di LDL akan dibawah ke hati dan jaringan steroidogenik lainnya yang mempunyai receptor untuk kolesterol LDL. Sebagian lagi dari kolesterol LDL akan mengalami oksidasi dan ditangkap oleh receptor di makrofag.4 Mekanisme yang kolesterol berlebih di sel ekstrahepatik dihapus melibatkan transfer kolesterol dari membrane sel ke HDL di ekstraselular. Proses ini difasilitasi oleh abca 1 dan abcg 1 transporters di sel:kolesterol acyltransferose(lcat) di plasma. Ester kolesterol HDL kemudian dapat diangkut ke hati atau untuk dihapus dari tubuh dalam empedu. Mempunyai dua jalur yaitu langsung ke hati ang dimediasi oleh receptor (sr-b1) dan tidak lansung di mana HDL kolesterol ester.pertama dipindahkan ke vldl/ldl dan kemudian diambil oleh hati.27

2. Perubahan metabolik pada diabetes tipe 2

Lipolisis di adiposit biasanya ditekan oleh peningkatan kadar insulin plasma, selepas makan. Penindasan ini menurun di sel adiposit yang mengalami resistensi insulin. Ini menyebabkan pelepasan asam lemak bebas, bahkan selama keadaan postprandial. Peningkatan asam lemak hati mengarah ke peningkatan produksi trigliserid dan VLDL. Kekurangan aktivasi lipoprotein lipase, menghasilkan peningkatan konsentrasi VLDL dalam plasma. Ini mendorong cetp-dimediasi trigliserid dan kolesterol ester antara HDL dan VLDL, mengakibatkan peningkatan kolesterol ester di VLDL dan peningkatan trigliserid di HDL. Kemudian pertukaran serupa cetp-dimediasi trigliserid dan kolesterol ester antara VLDL dan LDL, hasil dalam formasi partikel LDL yang kaya trigliserid. Kemudian enzim hati lipase menghidrolisis trigliserid dalam kedua HDL dan LDL, menghasilkan LDL dan HDL partikel yang lebih kecil dan padat dari normal. Partikel ini rentan terhadap oksidasi dan menyebabkan perkembangan plak aterosklerosis.27

(36)

24

2.4. Hubungan antara obesitas dan resistensi insulin 1. Peningkatan asam lemak bebas

Telah lama diakui bahwa konsentrasi asam lemak plasma biasanya meningkat pada penderita obesitas, terutama karena peningkatan asam lemak terkait dengan ekspansi jaringan lemak. Resistensi insulin pada obesitas bisa dijelaskan oleh persaingan antara glukosa dan asam lemak untuk metabolisme oksidatif di insulin-reponsif sel. Asam lemak dan beberapa metabolit termasuk acyl-CoA, seramides, dan diacyglycerol berfungsi sebagai molekul sinyal yang mengaktifkan kinase seperti protein kinase c, juni kinase, dan inhibitor dari faktor nuklir B(NF B) kinase- (IKK). Kinase ini kemudian dapat mengganggu sinyal insulin.

2. Akumulasi lipid ektopic

Peningkatan asam lemak dan lipid lainnya yang terjadi dalam obesitas menyebabkan penyimpanan lemak ektopic sebagai trigliserida di otot dan hati. Akumulasi lipid ektopik telah terlibat dalam resistensi insulin.

3. Hormon adiposit a. Leptin

Kekurangan atau ketiadaan leptin menyebabkan gangguan metabolik dramatis.

b. Adinopectin

Kadar adinopektin rendah pada obesitas, dan administrasi adinopektin meningkatkan resistensi insulin. Kekurangan adinopektin mengembangkan intoleransi glukosa, resistensi insulin, dan peningkatan asam lemak. Di hati, adinopektin meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi masuknya asam lemak, meningkatkan oksidasi asam lemak, dan mengurangi glukosa hepatik output. Di otot, merangsang penggunaan glukosa dan oksidasi asam lemak.

c. Resistin

Serum resistin meningkat pada orang obesitas, dan ekspresi berkelanjutan resistin menghasilkan insulin resistensi.

(37)

25

d. Interleukin-6 (IL-6)

IL-6 adalah sitokin yang terkait dengan obesitas dan resistensi insulin.

Konsentrasi IL-6 dalam plasma memprediksi pengembangan diabetes mellitus tipe 2 dan perifer administerasi IL-6 menginduksi hiperlipidemia, hiperglikemia, dan resistensi insulin.

e. Tumor nekrosis faktor alpha (TNF alpha)

TNF adalah sitokin pertama yang terlibat dalam patogenesis obesitas dan resistensi insulin.jaringan adiposa ekspresi TNF meningkat pada obesitas dan berkorelasi dengan adipositas dan resistensi insulin.

Makrofag adalah sumber utama TNF di jaringan adiposa.

f. Retinol-binding protein 4 (RBP4)

RBP4 diidentifikasi sebagai adipokine yang ekspresi meningkat dalam jaringan adiposa dan menyebabkan resistensi insulin dengan inaktivasi dari transporter glukosa GLUT 4. Di manusia, tingkat RBP 4 telah terbukti meningkat pada beberapa kelompok resistensi insulin.peningkatan RBP4 berkontribusi terhadap resistensi insulin dengan merusak penyerapan glukosa di otot dan meningkatkan produksi glukosa hepatik, meskipun mekanisme ini tidak jelas.

4. Peradangan

a. Peradangan kronis sistemik memiliki peran penting dalam patogenesis obesitas kait resistensi insulin. Biomarker peradangan seperti TNF, IL-6 dan protein c-reaktif(CRP) hadir pada individu yang resisten insulin dan obesitas dengan kadar yang tinggi. Biomarker ini memprediksi perkembangan diabetes mellitus tipe 2. Aktivasi jalur inflamasi dalam hepatosit menyebabkan resistensi insulin lokal maupun sistemik. Obesitas ditandai dengan akumulasi makrofag pada jaringan adiposa, yang menyebabkan peradangan di jaringan adiposa.

Makrofag di adiposa cenderung untuk berkontribusi pada produksi beberapa adipokines. Kinase yang penting adalah seperti JUN N- terminal kinase (JNK1) dan serine/threonine protein kinase, yang diaktifkan oleh banyak rangsangan inflamasi termasuk TNF. Aktivasi

(38)

26

dari JNK1 mengarah ke serine fosforilasi IRS-1 yang merusak insulin aksi.

b. Kelas lain dari mediator inflamasi berkontribusi resistensi insulin adalah SOCS protein. Tiga anggota keluarga SOCS (SOCS-1, SOCS- 3, SOCS-6) telah terlibat dalam pengambatan insulin dengan mengganggu fosforilasi IRS-1 dan IRS-2.28

(39)

27

BAB 3

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

3.1.Kerangka Teori

3.2.Kerangka konsep

Diabetes mellitus tipe 2

obese Lipid profil

Non-obese Lipid profil Obesitas

Perubahan lipid profil

Peningkatan asam lemak bebas

Hormon adiposit

leptin

adiponektin

resistin

IL-6

TNF

RBP4

Inflamasi Penyimpanan lemak

ektopik

Menyebabkan resistensi insulin

Diabetes mellitus tipe 2

(40)

28

BAB 4

METODE PENELITIAN DAN DEFINISI OPERATIONAL

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional yaitu penelitian mendeskripsi bagaimana profil lipid pada penderita diabetes mellitus tipe 2 yang obese dan non-obese di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2015. Studi cross-sectional merupakan suatu bentuk studi observational. Studi cross-sectional mencakup semua jenis penelitian yang pengukuran variabel-variabelnya dilakukan hanya satu kali, pada satu saat.

4.2. Lokasi dan Waktu penelitian 4.2.1. Waktu Penelitian

Waktu penelitian direncanakan mulai dari September – Desember 2016.

4.2.2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan dengan mengambil data penderita diabetes mellitus tipe 2 untuk periode 1 januari- desember 2015.

4.3. Populasi dan sampel 4.3.1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah penderita yang didiagnosa diabetes mellitus tipe 2 di RSUP Haji Adam Malik Medan.

4.3.2. Sampel Penelitian

Sampel pada penelitian ini adalah penderita diabetes mellitus tipe 2 yang dirawat jalan di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2015.

1. Kriteria inklusi:

a. Penderita diabetes mellitus tipe 2 yang pertama kali didiagnosa.

(41)

29

b. Penderita diabetes mellitus tipe 2 yang di rawat jalan.

2. Kriteria eksklusi:

a. Penderita diabetes mellitus tipe 2 yang datang untuk kontrol.

b. Data rekam medis yang tidak lengkap.

Besar sampel diperoleh dengan metode total sampling.

4.4. Metode Pengumpulan Data

Data yang diperoleh adalah data sekunder yaitu data yang diambil dari rekam medis penderita diabetes mellitus tipe 2 pada tahun 2015. Data ini diperoleh dari klinik penyakit dalam RSUP Haji Adam Malik Medan.

4.5. Metode Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer, kemudian dianalisa secara deskriptif dan hasilnya disajikan dalam bentuk tabel distribusi.

4.6. Definisi operational 1. Diabetes mellitus

Diabetes mellitus adalah diagnosa dokter pada rekam medik yang menunjukkan kurangnya sekresi insulin atau penurunan sensitiviti dari jaringan terhadap insulin yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah.

2. Obesitas

Obesitas merupakan kategori gambaran indeks massa tubuh yang dilihat dengan rumus IMT yang dihitung dengan membagi berat badan(kg) dengan tinggi badan(m2) dengan nilai >30.

3. Profil lipid

Profil lipid adalah hasil pengukuran berbagai lipid yang ditemukan dalam darah yang terdapat beberapa jenis lipid yang biasanya beredar dalam darah seperti trigliserida, kolesterol total, HDL, dan LDL.

(42)

30

variabel Definisi operational

Cara ukur Alat ukur

Hasil ukur

Skala ukur Diabetes

mellitus tipe 2

Diabetes mellitus adalah sindroma metabolisme yang

ditandai dengan peningkatan glukosa darah.

Melihat diagnosis dokter dari rekam medik

Rekam medik

Diabetes mellitus tipe 2

Nominal

obesitas Kategori gambaran indeks massa tubuh yang dilihat dari rumus IMT dengan nilai

>30.

Melihat data tinggi badan dan berat badan pada rekam medik dan menghitung IMT.

Rumus IMT BB/TB2

Kategori hasil hitung IMT

<29,9 non- obese

>30.0 obese.

Nominal

Profil lipid Hasil pengukuran berbagai lipid yang ditemukan dalam darah.

Melihat dari rekam medik

Rekam medik

Satuan unit mm/dL

Rasio

(43)

31

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

RSUP H. Adam Malik Medan merupakan rumah sakit kelas A dengan SK Menkes No.335/Menkes/SK/VII/1990 dan juga sebagai Rumah sakit Pendidikan sesuai dengan SK Menkes No.502/Menkes/SK/IX/1991 yang memiliki visi sebagai pusat pelayanan kesehatan dan pendidikan unggulan. Lokasinya di Jalan Bunga Lau No.17 Km 12, Kecamatan Medan Tuntungan Kotamadya Medan Provinsi Sumatera Utara. Selain itu, berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No. 502/Menkes/IX/1991 pada tanggal 6 September 1991,rumah sakit ini ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan. Kemudian pada tanggal 11 Januari 1993, pusat pendidikan fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara secara resmi dipindahkan ke RSUP H. Adam Malik.

5.2. Distribusi Karakteristik Sampel

Semua data sampel diambil dari rekam medis penderita. Sebanyak 128 kasus diabetes mellitus tipe 2 rawat jalan yang ditemui dalam data rekam medis, RSUP Haji Adam Malik Medan dari Januari 2015 hingga Desember 2015.

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Sampel berdasarkan IMT IMT Frekuensi

(N)

Persentase % OBESE

NON OBESE

74 54

57,8 42,2 Total 128 100

Dari tabel 5.1. diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi penderita diabetes mellitus tipe 2 rawat jalan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2015 hingga 2015 berdasarkan IMT tertinggi adalah golongan obese yaitu sebanyak 74 orang (57,8%), dan terendah golongan non obese sebanyak 54 orang (42,2%).

(44)

32

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Sampel berdarkan profil lipid pada penderita dm tipe 2 yang obese

Profil Lipid Lipid Profil Range(mg/dL)

Frekuensi (N)

Persentase ( %)

Total Cholesterol Normal<200 24 32,4

Tinggi>200 50 67,6

Trigliseride Normal<150 21 28,4

Tinggi>150 53 71,6

HDL Kurang<40 50 67,6

Normal>40 24 32,4

LDL Normal<129 31 41,9

Tinggi>130 43 58,1

Dari tabel 5.2. diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi penderita diabetes mellitus yang obese rawat jalan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2015 hingga 2015 berdasarkan total cholesterol yang tertinggi adalah kadar yang lebih dari 200 yaitu sebanyak 50 orang (67.6%), dan terendah adalah kadar kurang dari 200 yaitu sebanyak 24 orang (32.4%). Triglyceride tertinggi adalah kadar yang lebih dari 150 yaitu sebanyak 53 orang (71,6%), dan kadar kurang dari 150 yaitu sebanyak 21 orang (28.4%). HDL yang tertinggi adalah kadar yang kurang dari 40 yaitu sebanyak 50 orang (67.6%), dan terendah adalah kadar lebih dari 40 yaitu sebanyak 24 orang (32.4%). LDL yang tertinggi adalah kadar yang lebih dari 130 yaitu sebanyak 43 orang (58,1%), dan terendah adalah kadar kurang dari 129 yaitu sebanyak 31 orang (41,9%).

Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi dan Persentase Sampel berdarkan profil lipid pada penderita dm tipe 2 yang non obese

Profil Lipid Lipid Profil Range(mg/dL)

Frekuensi (N)

Persentase ( %)

Total Cholesterol Normal<200 41 75,9

Tinggi>200 13 24,1

Trigliseride Normal<150 13 24,1

Tinggi>150 41 75,9

HDL Kurang<40 9 16,7

Normal>40 45 83,3

LDL Normal<129 13 24,1

Tinggi>130 41 75,9

(45)

33

Dari tabel 5.6. diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi penderita diabetes mellitus yang non obese rawat jalan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2015 hingga 2015 berdasarkan total cholesterol yang tertinggi adalah kadar yang kurang dari 200 yaitu sebanyak 41 orang (75,9%), dan terendah adalah kadar lebih dari 200 yaitu sebanyak 13 orang (24,1%). Triglyceride yang tertinggi adalah kadar yang lebih dari 150 yaitu sebanyak 41 orang (75,9%), dan terendah adalah kadar kurang dari 150 yaitu sebanyak 13 orang (24,1%). HDL yang tertinggi adalah kadar yang lebih dari 4O yaitu sebanyak 45 orang (83,3%), dan terendah adalah kadar kurang dari 40 yaitu sebanyak 9 orang (16,7%). LDL yang tertinggi adalah kadar yang lebih dari 130 yaitu sebanyak 41 orang (75,9%), dan terendah adalah kadar kurang dari 129 yaitu sebanyak 13 orang (42,1%).

5.3.Pembahasan

Berdasarkan penelitian ini yang menggunakan data sekunder rekam medis di RSUP H. Adam Malik dari Januari 2015 hingga Desember 2015, diperoleh data mengenai penderita Diabetes Mellitus tipe 2 yang dirawat jalan. Data-data yang dikumpul akan digunakan sebagai dasar dari pembahasan hasil akhir penelitian ini dan akan dijabarkan seperti berikut.

5.3.1. obese dan non obese

Dari tabel 5.1. diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi penderita Diabetes Mellitus tipe 2 rawat jalan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2015 hingga 2015 berdasarkan IMT tertinggi adalah golongan obese yaitu sebanyak 74 orang (57,8%), dan terendah golongan non obese sebanyak 54 orang (42,2%). Golongan obesitas mempunyai risiko tinggi terjadinya Diabetes Mellititus tipe 2 dibandingkan dengan yang non obese. Journal dari university of mosul menunjukkan Distribusi jenis kelamin menurut BMI di non-obesitas,

kelebihan berat badan dan Obesitas laki-laki penderita Diabetes adalah 26 (14,1%), 93 (50,6%) dan 65 (35,3%) masing-masing berbanding 17 (9,8%), 94 (54,7%) dan 61 (35,5%) pada wanita penderita diabetes.29 menurut journal dari NCBI Obesitas adalah aturan antara pasien datang ke klinik Diabetes rumah sakit

(46)

34

ini, dengan 86% dari orang-orang dengan Diabetes tipe 2 kelebihan berat badan atau Obesitas.30 Obesitas merupakan faktor resiko utama untuk penyakit Diabetes Mellitus tipe 2.6Pada penderita Obesitas, kelebihan jaringan lemak akan menyebabkan sel-sel lebih resistant pada insulin.2Riwayat keluarga yang kuat ditambah dengan gaya hidup dan kebiasaan makan yang buruk menyebabkan Diabetes Mellitus tipe 2 pada yang non obese.31

5.3.2. Profil lipid pada penderita DM tipe 2 yang obese

Dari tabel 5.2, 5.3, 5.4, dan 5.5 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi penderita Diabetes Mellitus yang obese rawat jalan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2015 hingga 2015 berdasarkan profil lipid. Dari tabel 5.2. distribusi frekuensi penderita Diabetes Mellitus yang obese berdasarkan Total Cholesterol yang tertinggi adalah kadar yang lebih dari 200 yaitu sebanyak 50 orang (67.6%), dan terendah adalah kadar kurang dari 200 yaitu sebanyak 24 orang (32.4%). Dari tabel 5.3. distribusi frekuensi penderita Diabetes Mellitus tipe 2 yang obese berdasarkan triglyceride tertinggi adalah kadar yang lebih dari 150 yaitu sebanyak 53 orang (71,6%), dan kadar kurang dari 150 yaitu sebanyak 21 orang (28.4%).Dari tabel 5.4. distribusi frekuensi penderita Diabetes Mellitus yang obese berdasarkan HDL yang tertinggi adalah kadar yang kurang dari 40 yaitu sebanyak 50 orang (67.6%), dan terendah adalah kadar lebih dari 40 yaitu sebanyak 24 orang (32.4%).Dari tabel 5.5. distribusi frekuensi penderita Diabetes Mellitus yang obese berdasarkan LDL yang tertinggi adalah kadar yang lebih dari 130 yaitu sebanyak 43 orang (58,1%), dan terendah adalah kadar kurang dari 129 yaitu sebanyak 31 orang (41,9%). Menurut a poor reviewed international journal di antara 50 pasien Diabetes Obesitas tingkat total kolesterol meningkat pada 28 pasien, kadar trigliserida dibesarkan di 32 pasien; tingkat LDL meningkat pada 25 pasien dan tingkat HDL mengalami penurunan di 19 pasien. Ini menunjukkan trigliserida secara signifikan tinggi, tinggi LDL dan rendah HDL tipe 2 Diabetes Mellitus dengan Obesitas. Tidak ada perubahan yang signifikan dalam kadar kolesterol total.32 Journal dari university of mosul menunjukkan tingkat serum HDL-C yang menurun secara signifikan dengan meningkatnya BMI. Terendah

Gambar

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Sampel berdarkan profil                      lipid pada penderita dm tipe 2 yang obese

Referensi

Dokumen terkait

terdapat hubungan antara profil lipid pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan IMT di RSUD Karanganyar dan didapatkan nilai IK 95% antara -0,62 sampai -0,10 (rerata = - 0,36 dengan p

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan penderita diabetes mellitus tentang komplikasi Diabetes Melitus di RSUP H. Adam

Hasil penelitian ini menemukan 49% dari 100 subjek yang menderita diabetes mellitus tipe 2 mengalami xerostomia dan persentase penderita diabetes mellitus tipe 2 yang

PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RUSP. Saya mengikuti diet diabetes melitus dengan memperhatikan jenis makanan yang boleh saya konsumsi.. a)

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross- sectional yang bertujuan untuk mengetahui prevalensi Diabetes Mellitus tipe 2 dengan tuberkulosis

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross- sectional yang bertujuan untuk mengetahui prevalensi Diabetes Mellitus tipe 2 dengan tuberkulosis

menderita diabetes mellitus tipe 2 mengalami xerostomia dan persentase penderita. diabetes mellitus tipe 2 yang mengalami xerostomia lebih besar

“ Gambaran Berat Jenis dan Glukosa pada Urin Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2.. di