• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES THERMAL PANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROSES THERMAL PANGAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

PROSES THERMAL PANGAN

R. Baskara Katri Anandito, S.TP, MP.

(2)

KURVA SURVIVOR MIKROBIA

Kurva Survivor Mikrobia selama Proses Pemanasan

(3)

Persamaan umum untuk menggambarkan kurva survivor mikrobia :

N = jumlah mikrobia ; k = konstanta penurunan jumlah mikrobia; n = orde reaksi.

• Penurunan jumlah mikrobia selama proses pemanasan mengikuti reaksi orde 1, sehingga persamaan menjadi :

(1) ...

...

kN dt -

dN

n

(2) ...

...

kN dt -

dN 

(4)

Apabila persamaan (2) diintegralkan, maka diperoleh persamaan :

N = jumlah mikrobia akhir; N0 = jumlah mikrobia awal; k = konstanta laju penurunan mikrobia; t = waktu pemanasan (dalam menit)

• Persamaan (3) menunjukkan plot kurva semilogaritma dari N terhadap t. Persamaan tersebut dapat diubah :

(3) ...

...

kt N -

ln N

0

(4) ...

...

2,303 - kt

N log N atau

kt N -

log N 2,303

0 0

(5)

Nilai 2,303 / k sering dinyatakan sebagai nilai D, sehingga :

Nilai D = waktu penurunan desimal (decimal reduction time)

• Nilai D menyatakan ketahahanan panas mikrobia atau sensitifitas mikroba oleh suhu pemanasan.

• Nilai D didefinisikan sebagai waktu dalam menit pada suhu tertentu yang diperlukan untuk menurunkan jumlah spora atau sel vegetatif tertentu sebesar 90%

atau satu logaritmik.

(5) ...

...

D - t N

log N

0

(6) ...

...

k 2,303

D 

(6)

• Setiap mikroba memiliki nilai D pada suhu tertentu. Semakin besar nilai D suatu mikroba pada suatu suhu tertentu, maka semakin tinggi ketahahan panas mikroba tersebut pada suhu yang tertentu.

Gambar 1. Logaritma jumlah mikroba yang hidup sebagai fungsi waktu pada suhu pemanasan T

(7)

• Gambar 1 memperlihatkan kurva hubungan antara jumlah mikrobia (sumbu y, skala logaritma) dan waktu pada suhu pemanasan tertentu (sumbu x). Kurva ini sering disebut dengan kurva semi-logaritma ketahanan panas mikroba.

Kurva ini berbentuk linier dengan nilai slopenya adalah -1/D.

• Dari Gambar 1, nilai D diperoleh dari penurunan jumlah mikroba sebesar 1 siklus logaritma atau 90% penurunan.

Misalnya, penurunan jumlah mikroba dari 10 5 cfu / ml menjadi 10 4 akan melewati 1 siklus logaritma atau menurun sebesar 90% (1D). Sedangkan untuk menurunkan jumlah mikroba dari 10 5 cfu/ ml menjadi 10 3 cfu/ml akan melewati 2 siklus logaritma atau penurunan sebesar 99 % (2D).

(8)

Contoh Soal

1. Data spora yang masih selamat (hidup) setelah proses pemanasan pada 100 0C sebagai berikut :

Tentukan nilai D dan estimasikan konstanta kecepatan (k) !

(9)

Data spora yang masih hidup :

Plot log jumlah spora (sumbu Y) vs waktu (Sumbu X) kemudian dilakukan regresi linier

(10)

0 10 20 30 40 50 60 70 0

1 2 3 4 5 6 7 8 9

f(x) = − 0.06 x + 7.2 R² = 0.85

Waktu (menit)

Log jumlah spora

(11)

2. Suatu suspensi mengandung 3 x 105 spora bakteri A yang mempunyai nilai D = 1,5 menit dan 8 x 106 spora bakteri B yang mempunyai nilai D = 0,8 menit (masing-masing pada suhu 121,1 0C). Suspensi tersebut dipanaskan pada suhu 121,1 0C. Hitunglah waktu yang diperlukan untuk memperoleh peluang mikrobia akhir 1 / 1000!

JAWAB :

Menggunakan persamaan (5) Untuk Bakteri A :

D121,1 = 1,5 menit N0 = 3 x 10 5 N = 1 / 1000 = 10 -3

(12)

Untuk Bakteri B :

D121,1 = 0,8 menit N0 = 8 x 106 N = 1/1000 = 10-3

menit 12,72

10 x10 log 3

x 1,5 t

1,5 - t

10 x 3 log 10

D - t N

log N

3 -

5 5

3 -

0

(13)

menit 10 7,92

x10 log 8

x 0,8 t

0,8 - t

10 x 8 log 10

D - t N

log N

3 -

6 6

3 -

0

(14)

Contoh 3 :

(15)

• Nilai D dipengaruhi oleh suhu  Semakin tinggi suhu maka nilai D semakin kecil  artinya, semakin tinggi suhu pemanasan, maka waktu yang diperlukan untuk menginaktivasi mikroba akan semakin pendek.

• Gambar 2 memperlihatkan pengaruh suhu terhadap nilai D.

Pada suhu pemanasan yang lebih tinggi, kurva akan semakin curam yang memberikan slope kurva -1/D semakin besar atau nilai D semakin kecil.

• Nilai D dari setiap mikroba memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap perubahan suhu  dinyatakan dengan nilai Z  perubahan suhu yang diperlukan untuk merubah nilai D sebesar 90% atau 1 siklus logaritma.

(16)

• Misalnya, Clostridium botulinum memiliki nilai Z sebesar 10

0C, artinya untuk merubah nilai D mikroba tersebut dari 0.25 menit pada suhu 121 0C menjadi 0.025 menit (menurun sebesar 90% atau 1 siklus logaritma), suhu pemanasan harus dinaikkan sebesar 10 0C, yaitu menjadi 131 0C. Dengan kata lain, untuk menurunkan C. botulinum sebesar 90% pada suhu 121 0C adalah 0.25 menit, sedangkan pada suhu 131 0C adalah 0.025 menit (10 kali lebih cepat).

(17)

Gambar 2. Kurva semilogaritma hubungan nilai D dengan suhu. Nilai z diperoleh dari kebalikan nilai slope kurva

(18)

Dari persamaan :

Nilai D pada berbagai suhu dapat dicari dengan :

DT = nilai D pada suhu T; D0 = nilai D pada suhu reference (250 F / 121,1 0C); z = nilai z ; Tref = suhu reference (250 F / 121,1 0C)

(7) ...

...

z T - - T D

log D

log

T

0 ref

(8) ...

...

10 x D D

z T - -T D

log D

z T - -T D

log - D log

z T - -T D log D

log

z T - T 0

T

ref 0

T

ref 0

T

0 ref T

ref

(19)

Contoh Soal

1. Data nilai D (decimal reduction time) dari suatu suspensi spora pada berbagai suhu sebagai berikut :

Tentukan nilai z !

(20)
(21)
(22)

2. Tentukan waktu proses pada suhu 280 F jika diketahui kandungan mikrobia awal adalah 10 spora / g produk dan diinginkan peluang kebusukannya adalah 1 kaleng dari 10 5 kaleng yang diproduksi (berat produk = 330 g / kaleng).

Diketahui D250 = 1,2 menit dan z = 18 0F JAWAB :

Untuk mencari D280, maka digunakan persamaan (8)

menit 0,026

10 x 1,2 D

10 x D

D

10 x D

D

18 280 - 250 280

280 - 250 250

280

z T - T 0

T

ref

z

(23)

Spora akhir (N) = 1 / 10 5 = 10 -5

Dengan menggunakan persamaan (5) :

kaleng /

spora 3300

kaleng) /

g (330 x

g) / spora (10

N

: awal spora

Jumlah

0  

menit 10 0,22

log 3300 x

0,026 t

0,026 - t

3300 log 10

D - t N

log N

5 - 5

- 0

Referensi

Dokumen terkait

Aplikasi desain factorial digunakan dalam penelitian ini sehingga dapat diketahui pengaruh masing-masing suhu pemanasan dan atau interaksinya serta waktu pemanasan yang optimum

Susu cair UHTmerupakan susu dengan proses pemanasan pada suhu tinggi dalam. waktu singkat dan dikemas dalam

1) Kapasitas penyerapan air, swelling power, nilai L*, nilai b*, waktu awal gelatinisasi, suhu awal gelatinisasi dari TKP dipengaruhi secara nyata oleh suhu perebusan. 2)

Gambar 6 menunjukkan pengaruh waktu pemanasan terhadap kadar vitamin C untuk berbagai suhu pemanasan pada pembuatan pasta tomat didapat bahwa semakin tinggi suhu pemanasan,

Diaplikasikannya suhu serta waktu produk lain untuk proses pasteurisasi santan dikhawatirkan dapat merusak nilai nutrisi yang terdapat dalam santan akibat suhu terlalu tinggi

Proses pengeringan/pemanasan dengan suhu tinggi secara matematika sangat menarik untuk diteliti, hal ini disebabkan karena proses pemanasan dapat dimodelkan ke dalam

Untuk mengetahui pengaruh suhu pemanasan dan waktu pemanasan terhadap kadar asam lemak bebas 1.4 Manfaat Penelitian Agar mengetahui dari suhu dan waktu pemanasan dalam stabilisasi

Dokumen ini membahas tentang teknologi pengalengan yang merupakan cara pengawetan pangan dengan cara pemanasan suhu