Komodifikasi Kain Tradisional Karo Pada Era Globalisasi

66  51  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN UMUM

UIS

KARO

Uis Karo merupakan istilah umum masyarakat Karo dalam penyebutan

kain tradisional Karo. Uis Karo dipergunakan sebagai pakaian adat dalam

berbagai kegiatan masyarakat Karo dalam upacara adat, seperti pesta pernikahan,

pesta kesenian, upacara kematian, pesta memasuki rumah baru, pesta tahunan dan

acara adat lainnya. Menurut kamus Darwin Prinst dalam Kamus Karo-Indonesia,

uis adalah nama umum untuk semua pakaian, kain baju yang dikenakan.

Gambar 2.1 : Pa Sendi, Sibayak Lingga bersama keluarganya dengan memakai

Uis Karo sebagai pakaiannya.

(Sumber : Photograph Archive KIT 1000 5426- Legacy in Cloth)

Uis Karo memiliki perbedaan didalam warna, corak dan fungsi. Perbedaan

tersebut berkaitan dengan waktu dan tempat penggunaannya pada pelaksanaan

kegiatan upacara tradisional adat Karo. Masyarakat Karo memahami bahwa uis

(2)

kebudayaan masyarakat Karo. Uis Karo merupakan suatu unsur kelengkapan

dalam budaya masyarakat Karo yang mampu menjadi identitas dan keberadaaan

suku Karo ditengah masyarakat banyak.

2.1 Uis Karo sebagai Tenun Ikat

Uis Karo termasuk dalam kategori tenun ikat. Tenun ikat merupakan seni

kriya tenun yang berupa kain yang ditenun dari helaian benang pakan (melintang

horizontal) dan benang lungsin (membujur vertikal) yang sebelumnya diikat dan

dicelupkan ke dalam zat pewarna alami.

Gambar 2.2 : Alat tenun primitif.

(Sumber : Ling Roth, Studies in Primitif Looms)

Persebaran tenun ikat sebagai budaya Indonesia terjadi semenjak

prasejarah, yaitu pada awal periode Neolitikum. Pada periode Neolitikum ini,

sekitar tahun 2000 SM nenek moyang bangsa Indonesia bermigrasi dari daratan

(3)

berupa sarung, selimut dan selendang yang pemanfaatannya masih terbatas

sebagai alat pelindung badan, status sosial, upacara adat dan kebudayaan. Pada

zaman tersebut, keterampilan mendisain ragam hias masih bersifat monoton

dengan ukuran tertentu dan tidak berubah. Tehnik menenun merupakan

pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur.

Gambar 2.3 : Salah satu bentuk tehnik tenun ikat.

(Sumber : nejad.com)

Menurut Bungaran Simanjuntak, seorang antropolog Universitas Negeri

Medan, tak ada catatan pasti sejak kapan orang Batak mulai menenun. Dia

memperkirakan, tenun Ulos telah ada sejak ribuan tahun lampau seiring

terbentuknya masyarakat Batak itu sendiri, ada Ulos dan ada Batak. Dalam buku

Seni Budaya Batak yang ditulis Jamaludin S Hasibuan (1985), teknik ikat dalam

tenun Batak berasal dari kebudayaan Dongson yang berkembang di kawasan

Indochina. Kebudayaan ini terjadi sekitar 700 SM dan berasal dari Tonkin serta

Assam Utara. Tehnik tenun tersebut meliputi teknologi pencelupan benang

dengan warna alam sebelum ditenun. Tehnik ini berkembang di Nusantara akibat

dari pengaruh Dongson dan Chou akhir. Ragam hias yang dihasilkan yaitu

(4)

garis lurus, garis putus-putus, dan lain-lainnya. Motif-motif tersebut di atas

diambil dari artefak perunggu kebudayaan Dongson. seperti nekara, kapak

upacara, dan genderang perang.

2.2 Pembuatan Uis Karo pada awalnya

Pada zaman dahulu sebelum kedatangan bangsa Belanda ke tanah Karo,

pakaian tradisional masyarakat Karo ditenun oleh wanita suku Karo sendiri dan

bahan bakunya juga berasal dari daerah suku Karo sendiri.

Gambar 2.1 : Perempuan Karo yang menenun (1857-1910)

(Sumber : Tropenmuseum)

Dalam buku Manusia Adat Karo, Tridah Bangun menjelaskan hanya

sebagian kecil saja dari wanita suku Karo yang dapat mengerjakan penenunan uis

Karo mulai dari bagian yang halus sampai kepada bagian yang kasar. Pekerjaan

(5)

pembuatan benang dan penenunannya yang memakan waktu cukup lama. Satu

helai uis Karo biasanya dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu dengan

waktu pengerjaan 9 jam sehari.

Menurut Sitepu (1980) Mengenal Seni Kerajinan Tradisional Karo, Bahan

utama untuk membuat uis Karo adalah kembayat, yaitu kapas yang berasal dari

hasil perkebunan warga yang kemudian dipintal menjadi sebuah benang.

Kemudian bahan untuk mewarnai benang dipergunakan air abu dapur, kapur,

kuning gersing (kunyit) dan telep yaitu sebuah tumbuhan yang bernama sarap.

Gambar 2.5 : Perempuan Karo dalam memintal benang (1914-1919)

(Sumber : Photograph Tassilo Adam. Photoarchives KIT 1001 4379)

Keempat bahan tersebut diaduk dalam sebuah wadah sampai menimbulkan

warna belau maupun warna gelap. Setelah itu gulungan benang dicelupkan ke

dalam wadah yang berisi ramuan tersebut. Cara mewarnai benang tersebut dalam

bahasa Karo ipelabuken yang berarti dicelup. Setelah benang tersebut berwarna

(6)

diremas). Kemudian benang tersebut dikeluarkan, kemudian disisir dan dijemur.

Setelah kering benang tersebut ikulkuli (digulung), kemudian isawean yaitu dibuat

ukuran sepanjang uis Karo dan ditenun melalui alat tenun gedokan. Jenis uis Karo

yang ditenun adalah Batu Jala, Ambu-ambu dan Kelam-kelam. Setelah selesai

ditenun ipiuhi (dipintal), kemudian diketang-ketang yaitu dibentuk ornamen dan

motif pada pinggir kanan dan kiri uis tersebut.

Pada zaman dulu, alat mewarnai benang cukup terbatas, masyarakat Karo

membuatnya sendiri dari bahan-bahan yang ada tersedia. Oleh karena itu warna

dasar dari berbagai jenis warna untuk masyarakat Karo hanya ada 3, yaitu putih

sebagai warna dasar, hitam dan merah. Seiring perkembangan zaman maka

ditemukan pewarna lain seperti warna kuning, hijau dan biru tua. Fungi warna

pada uis Karo adalah untuk menghidupkan motif.

2.3 Penenunan pada masyarakat Karo

Masyarakat Karo khususnya wanita bukanlah penenun seperti wanita

Batak Toba. Wanita Karo lebih memilih berladang karena keuntungan dari hasil

bertani yang begitu besar dibandingkan menenun. Menurut Liwen Tarigan salah

satu bukti masyarakat Karo bertenun adalah terdapat dalam mangmang (mantra,

nyanyian, kalimat sakti dan pendek berupa nasihat) pada Beka Buluh yang

dilakukan pada acara adat berbunyi: enda ia, iampeken kami man bandu nakku,

(7)

Dalam bukunya Legacy in Cloth: Batak Textiles of Indonesia (2009) dan

Batak Cloth and Clothing: A Dynamic Indonesian Tradition (1993) disebutkan,

setidaknya sudah sangat lama orang Karo berhenti menenun uis. Hal ini sebabkan

suburnya tanah Karo berkat keberadaan gunung berapi, seperti Sinabung sehingga

membuat pertanian di Karo lebih menjadi penopang hidup masayarkat Karo.

Sehingga aktivitas menenun uis Karo pun ditinggalkan demi pertanian. Dari hasil

pertanian ini, masyarakat Karo, masyarakat Karo mampu membeli tekstil impor

yang didatangkan dari India (Tamil) dan Eropa oleh para pedagang di wilayah

Kesultanan Aceh.

Gambar 2.6 : Gambar penenun tradisional edisi Sumatera Utara terdapat pada desain mata uang kertas tahun 1958 bernilai 25 Rupiah.

(Sumber : uang kuno magelang)

Usaha penenunan di tanah Karo tidak terlalu banyak seperti suku Batak

(8)

the Malay World Historical, Cultural and Social (2002), ada 2 kelompok kecil

dalam memproduksi bahan baku uis Karo, yaitu Sinuan Bunga dan Sinuan

Gamber. Kelompok Sinuan Bunga adalah masyarakat fokus memproduksi dan

mengembangkan kapas, mereka biasanya berdomisili di Binjai, Sunggal, Laucih,

Delitua dan Patumbak. Hasil pemintalan mereka diperdangkan ke masyarakat

Karo yang datarannya lebih tinggi, seperti daerah Sibolangit, Kelompok ini

dijuluki Sinuan Gamber (penanam gambir) karena mereka memproduksi gambir

untuk memproduksi pewarna tenunan yang dicelupkan pada benang kapas. Kapas

didagangkan dari wilayah Sinuan Bunga ke bagian lebih tinggi dari Tanah Karo

setelah diadakan pemintalan oleh orang-orang Karo.

Masyarakat Karo juga melakukan satu Proses penenunan yaitu

pencelupan. Niessen (2009) mengemukakan kota Kabanjahe pernah menjadi

menjadi pusat pencelupan benang. Proses pencelupan benang tersebut ini disebut

dalam bahasa Karo yaitu ertelep. Setelah benang tersebut dicelup, benang tersebut

dikirim melalui tenaga pemikul ke daerah Kuta Ketengahen (Kampung

Pertengahan) yang dalam istilah Batak disebut dengan sitolu huta (Tiga Desa),

yakni Tongging, Paropo, dan Silalahi yang terletak di pesisir utara Danau Toba.

Kampung berbatasan dengan masyarakat Karo di kecamatan Merek. Di tiga

kampung ini uis Karo ditenun kembali sesuai dengan pemesanan. Hasil

penenunan dijemput kembali oleh perlanja sira dan menyerahkannya kepada

(9)

Gambar 2.7 : Peralatan tenun tradisional Karo yang dibuat oleh masyarakat Toba pada tahun 1989

(Sumber : The Bataks, A.S. 192)

Seiring dengan era globalisasi, para pekerja di uis Karo meninggalkan

profesinya yang berhubungan dengan dunia tenun dan beralih ke profesi yang

lain. Ada mereka yang berpindah profesi karena tuntutan zaman yang

mengharuskan mereka bekerja di sektor-sektor seperti perkebunan, menjadi

petani, menjadi pegawai pemerintah, menjadi buruh di kota hingga yang merantau

ke luar Sumatera. Sejak masa itulah bekerja di bidang uis Karo semakin banyak

ditinggalkan oleh masyarakat Karo yang lebih disibukkan dengan usaha menanam

cabe, jeruk, kopi, tomat, dan palawija lainnya. Perlahan namun pasti, kegiatan

menenun uis Karo menjadi hal yang langka dari tanah Karo. Kini di tanah Karo

sudah tidak terdapat lagi penenun tradisional. Kebutuhan masyarakat Karo akan

(10)

2.4 Jenis-jenis Uis Karo

Pada umunya uis Karo ini dipakai dan digunakan dalam upacara adat

untuk jile-jile (kemegahan) dengan cara igonjeken (diselempangkan ke pinggang

hingga menutup mata kaki) atau icabingken (dipakai di bahu menutup badan

bagian atas terutama dada dan punggung). uis Karo juga dipergunakan sebagai

tudung oleh wanita dan bulang-bulang oleh pria pada pesta perkawinan.

Gambar 2.8 : Penggunaan Uis Karo pada tari Terang Bulan tempo dulu (Sumber : Postcard Karo)

Selain pemakaian pada tubuh, uis Karo juga diaplikasikan masyarakat

Karo sebagai dekorasi dalam upacara perkawinan seperti alas dari pinggan tempat

memberikan tukur atau perdalin emas yang berupa mahar. Uis Karo juga dipakai

oleh pengatin baru masyarakat Karo dengan disangkutkan sebagai hiasan tempat

tidur mereka agar pengantin hidup dengan tenang dalam mengarungi bahtera

rumah tangga ke depannya. Jenis uis yang dipakai pengantin baru ini adalah jenis

uis Nipes dan uis Kapal.

(11)

dengan istilah Ngosei binangun supaya nanti rumah dan penghuninnya tetap kuat

dan sehat.

Berdasarkan laporan penelitian pengumpulan dan dokumentasi ornamen

tradisional di Sumatera Utara tahun 1977/1980, uis Karo memiliki ciri-ciri sebagai

berikut:

1. Bidang tengah kain biasanya berisi unsur-unsur corak geometri seperti

garis-garis lurus, garis-garis putus-putus dan bersifat hanya sebagai penghias.

2. Pengetang-ngetang/Ketang-ketang yakni batas antara bidang tengah kain

dengan ambu-ambu yang berfungsi sebagai penguat ujung-ujung kain berupa

hiasan geometris.

3. Sebagian uis Karo memilki ambu-ambu/rambu, yaitu hiasan berupa benang

berjumbai pada pinggir atas dan bawah kain.

4. Gadingna merupakan batas antara bidang tengah kain dan pinggir kain.

Menurut A.G. Sitepu pada bukunya mengenai seni kerajinan tradisional

Karo seri B, terdapat 18 corak jenis uis Karo. Dia juga berpendapat bahwa jumlah

jenis uis berbeda-beda pada setiap daerah, hal ini diakibatkan oleh pengaruh dari

kebudayaan suku luar dan keadaan geografis. Dalam buku Pilar Budaya Karo

tulisan Sempa Sitepu, Bujur Sitepu dan A.G Sitepu, dalam masyarakat Karo

terdapat 19 jenis uis Karo. uis Karo tersebut adalah uis julu, uis teba, uis

(12)

mbacang, uis nipes padang rusak, uis nipes mangiring, dan uis nipes benang iring.

Gambar 2.9 : Penerapan simbol Uis Karo dalam logo Pijer Podi (Sumber : Pemerintah Kabupaten Karo)

Beberapa diantara uis Karo tersebut sekarang sudah langka karena tidak

lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Uis Karo tersebut hanya digunakan

dalam kegiatan acara budaya yang berhubungan dengan kepercayaan animisme

sehingga saat ini tidak digunakan dan ditenun lagi.

Berikut jenis-jenis uis Karo dan fungsinya menurut Sitepu (1980) : A. Uis Julu

Uis ini memilki warna hitam kebiru-biruan dengan corak garis-garis putih

berbentuk liris. Ketang-ketangnnya berwarna merah dan hitam yang disebut juga

ketang-ketang bujur. Selain itu, ada juga jenis uis julu yang memiliki ketang-ketang sirat yang diberi ragam corak ukiran. Pada pinggir ujung uis ini terdapat

memilki rambu (jumbai). Uis ini memiliki ketebalan seperti uis jongkit/gatip.

(13)

1. Sebagai pakaian wanita yang berfungsi sebagai pembalut tubuh dari dada

bagian atas hingga ke pergelangan kaki (abit) pada upacara adat yang

mengharuskan berpakaian adat lengkap.

2. Uis ini dijadikan sebagai tanda rasa hormat kepada Kalimbubu

(manéh-manéh) pada saat orang tua (baik pria maupun wanita) yang sudah lanjut usia

telah meninggal dunia (istilah Karo cawir metua, ketika semua anaknya telah

menikah).

3. Nambari (mengganti) pakaian orang tua laki-laki.

4. Sebagai cabin (sebagai selimut).

5. Gonjé atau sarung untuk laki-laki.

(14)

B. Uis Teba

Uis ini termasuk uis yang tebal. Uis teba memiliki warna hitam

kebiru-biruan dengan corak daris-garis putih berbentuk liris yang memilki kemiripan

dengan uis julu, yang perbedaannya adalah garis-garis pada uis teba agak jarang

sedangkan pada uis julu agak rapat. Uis ini memiliki rambu (jumbai) pada bagian

pinggir ujungnya. Uis teba ini juga memilki ketang-ketang berwarnanya merah

dan putih. Selain itu ada juga jenis uisteba yang memilki sirat atau ukiran. Fungsi

dari uisteba adalah :

1. Sebagai manéh-manéh, contohnya jika seorang perempuan meninggal dunia

maka manéh-manéhnya diberikan uis teba kepada saudaranya laki-laki.

2. Sebagai tudung bagi wanita (hanya boleh ditudungkan oleh orang tua yang

berumur lebih kurang 50 tahun keatas).

3. Untuk nambari uis orang tua (memberikan uis kepada orang tua perempuan

jika usianya sudah lanjut dan semua anaknya telah berumah tangga).

4. Sebagai alas pinggan, yaitu sebagai tempat emas kawin sewaktu

melaksanakan pembayaran kepada pihak perempuan.

(15)

Gambar 2.11 : Uis Teba (Sumber : dokumentasi pribadi)

Gambar 2.12 : Seorang perempuan Karo yang menggunakan Uis Teba sebagai

kain penggendong anak

(16)

C. Uis Arinteneng

Jenis uis ini berwarna hitam agak pekat polos dan memakai ambu-ambu.

Pada bagian sebelah atas dan bawah uis ariteneng terdapat les berwarna putih dan

biru muda. Pada bagian kiri dan kanan uis ini terdapat pengetang-ngetang dalam

bentuk ragam hias. Uis ini termasuk uis tebal. Fungsi dari uis ariteneng adalah :

1. Sebagai alas pinggan pasu yaitu tempat emas kawin yang akan diberikan

kepada keluarga pengantin perempuan.

2. Sebagai alas pinggan pasu (memiliki arti supaya roh-roh menjadi tenang).

3. Sebagai alas tempat makanan bagi pengantin sewaktu acara mukul (makan

6. Sebagai alat membayar utang adat kepada kalimbubu dalam acara adat duka

(17)

10. Diberikan sebagai parembah apabila seseorang anak laki-laki termama-mama

tendinya atau seseorang anak perempuan terbibi (saudara ayahnya yang

perempuan) tendinya.

11. Sebagai lapik (alas) bibit padi di ladang

12. Pada upacara njujung beras piher, uis ini di pakai dengan makna “tenang

tendi i rumah” yang berarti ketentraman

13. Sebagai isi lemari, yang bermaksud supaya pemikiran sang empunya rumah

teneng (tenang). uis Karo ini diikat dengan padang teguh supaya tendi (roh)

tetap berada di dalam rumah.

14. Pada logo tanah Karo Pijer Podi, uis Arinteneng dipakai dalam melambangkan

kesentosaan.

(18)

D. Uis Batu Jala

Uis ini memilki warna hitam pekat. Pada sebelah pinggir kanan dan kiri uis ini terdapat warna putih dengan ragam hias cekili kambing. Uis baru jala ini

tipis dan tidak memakai ambu-ambu. Fungsi dari uisbaru jala adalah :

1. Sebagai tudung bagi anak gadis pada waktu pesta guro-guro aron (pesta

muda-mudi)

2. Sebagai kadangen yaitu uis yang diselendangkan pihak laki-laki dengan tiga

lapis yaitu uis batu jala, uis rambu-rambu dan uis kelam-kelam.

Gambar 2.14 : UisBatu Jala dan penggunaanya

(Sumber : Dokumentasi pribadi – Koleksi Norma br Tarigan, Early twentieth century. Photoarchive KIT 6002 8077)

E. Uis Kelam-kelam

(19)

hitam. Meskipun jenis uis Karo ini termasuk tipis, uis ini memiliki sifat yang lebih

keras. Fungsi dari Uis kelam-kelam adalah :

1. Sebagai tudung orang tua

2. Sebagai morah-morah (kado untuk laki-laki pada pesta upacara kematian

wanita lanjut usia) dan yang menerima morah-morah ini ialah puang

kalimbubu.

3. Sebagai Kadangen yaitu uis yang diselendangkan pihak laki-laki dengan tiga

lapis yaitu uis batu jala, uis rambu-rambu dan uis kelam-kelam

Gambar 2.15 : Uis Kelam-kelam (Sumber : Dokumentasi pribadi)

F. Uis Beka Buluh

Uisbeka buluh memiliki warna dasar merah cerah dan pada bagian tengah

terdapat garis-garis berwarna kuning violet, ungu, putih. Warna beka buluh zaman

(20)

hias Karo dengan benang emas. Jenis uis Karo ini juga sering disebut

bulang-bulang. Menurut aturan adat dahulu yang boleh memakai uis beka buluh adalah

hanya laki-laki. Fungsi dari Beka Buluh adalah :

1. Sebagai bulang-bulang yaitu penutup kepala. Pada saat pesta Adat, uis ini

dipakai putra Karo sebagai mahkota di kepalanya pertanda bahwa untuk untuk

dialah pesta tersebut diselenggarakan. Uis ini dilipat dan dibentuk menjadi

mahkota pada saat pesta perkawinan, mengket rumah (peresmian bangunan),

dan cawir metua (upacara kematian bagi orang tua yang meninggal dalam

keadaan umur sudah lanjut)

2. Sebagai pertanda (céngkok-céngkok/tanda-tanda) yang diletakkan di pundak

sampai ke bahu dengan bentuk lipatan segitiga.

3. Sebagai maneh-maneh yaitu setiap putra Karo dimasa mudanya diberkati oleh

Kalimbubu (paman, saudara laki-laki dari ibu, pihak yang dihormati) agar dia

berhasil dalam hidupnya.

4. Pada saat acara duka, pihak keluarga akan membayar berkat yang diterima

tersebut dengan menyerahkan tanda syukur yang paling berharga kepada

pihak kalimbubu tersebut berupa mahkota yang biasa dikenakannya yaitu uis

beka buluh.

5. Uis beka buluh memiliki ciri gembira, tegas dan elegan. Uis ini merupakan

simbol wibawa dan tanda kebesaran bagi seorang putra Karo.

6. Uis ini juga biasa diletakkan di atas tudung wanita sebagai pengganti uis

(21)

7. Uis ini juga memiliki posisi yang tinggi karena letaknya pada pada bagian atas

seperti kepala dan bahu yang melambangkan kepemimpinan.

8. Pada logo Pijer Podi tanah Karo, uis ini dipakai dalam melambangkan

kepemimpinan.

Gambar 2.16 : Uis Beka Buluh (Sumber : dokumentasi penulis)

G. Uis Gobar Dibata

Uis Gobar ini termasuk uis yang tipis dan berukuran kecil. Uis ini memilki

warna biru tua, hitam, merah dan putih. Uis ini juga sering disebut uis Jinujung.

Fungsi utama dari uis gobar dibata adalah untuk berberjinujung (pemuja roh

nenek moyang), uis ini dipakai sewaktu erpangir kulau dan ngelandekken galuh

(22)

Gambar 2.17 : Uis Gobar

(Sumber : Legacy in Cloth, Batak textile of Indonesia : Catalog 3.2a)

H. Uis Gatip Gewang

Uis gatip gewang ini memilki warna hitam dan memiliki corak ragam hias

berwarna putih. Uis gatip gewang ini termasuk jenis uis yang tebal dan memakai

ambu-ambu. Fungsi dari uisgatip gewang sama dengan uisgatip cukcak yaitu uis

yang dipergunakan sebagai ndawa bagi perempuan dan sebagai abit (sarung) bagi

laki-laki. Perbedaannya dengan uis gatip cukcak adalah tidak memakai benang

(23)

Gambar 2.18 : Uis Gatip Gewang dan penggunaanya (Sumber : dokumentasi pribadi – koleksi AG Sitepu, 1870 Tropenmuseum)

I. Uis Gatip Jongkit/Kapal Jongkit

Uis gatip jongkit ini termasuk jenis uis yang tebal dan memilki ambu-ambu. Warna dasar dari uis ini adalah warna merah dan bercorak putih dan hitam.

Fungsi dari uis gatip jongkit ini adalah sebagai gonje (sebagai kain sarung) pada

laki-laki ketika acara pesta adat. uis ini dipakai oleh laki-laki untuk semua upacara

Adat seperti: acara pesta perkawinan, memasuki rumah baru, guro-guro Aron

yang mengharuskan berpakaian adat lengkap. Uis gatip jongkit ini juga

menunjukkan karakter kuat dan perkasa. Uis ini juga diberikan sebagai cabin

(24)

Gambar 2.19 : Uis Gatip Jongkit (Sumber : Dokumetasi Pribadi)

J. Uis Gatip Cukcak/Uis Kapal

Uis ini termasuk jenis uis yang tebal sehingga masyarakat Karo

menyebutnya uis Kapal. Uis ini termasuk uis yang memiliki ambu-ambu. Uis ini

berwarna hitam dan memilki corak bintik-bintik putih pada bagian tengah. Fungsi

dari uis gatip cukcak ini sama dengan uis gatip gewang yaitu digunakan sebagai

ndawa bagi perempuan dan sebagai abit (sarung) bagi laki-laki.

K. Uis Gara-gara

Uis ini termasuk jenis uis yang tebal dan memilki ambu-ambu. Warna

(25)

putih di bagian tengah yang mempunyai ragam hias bermotif ular sawah. Uis ini

juga mengunakan benang berwarna emas. dari uis gara-gara ini adalah :

1. Dipergunakan sebagai tudung pada pesta adat seperti pesta perkawinan dan

pesta memasuki rumah baru. Tudung ini bentuknya lebih pendek dari tudung

teger limpek.

2. Sebagai ndawa anak-anak (ketika anak-anak digendong, uis ini diabitkan

sekalian menjadi selimutnya ketika tidur).

3. Dipakai wanita sehari-hari sebagai penutup kepala di desa.

Gambar 2.20 : Uis Gara-gara (Sumber : dokumentasi pribadi)

L. Uis Pementing

Uis Karo ini termasuk jenis uis yang tebal dan memiliki ambu-ambu. Uis

ini berwarna gelap dan memilki corak putih berukuran kecil. Uis ini dipakai

(26)

memakai uis julu sebagai sarung. Uis ini juga disebut dalam bahasa Toba adalah

ulos ragi jenggi.

Gambar 2.21 : Uis Pementing dan penggunaan Uis Pementing sebagai ikat

pinggang

(Sumber : dokumentasi pribadi – koleksi AG Sitepu, Tropenmuseum)

M. Uis Pengalkal

Uis pengalkal hampir sama bentuknya dengan uis pementing. Uis ini

memilki warna hitam dan bergaris-garis dipinggirnya. Uis digunakan oleh

perempuan untuk mengikat ndawa.

N. Uis Parembah

(27)

putih dan kuning. Penggunaan uis ini harus sepasang yaitu parembah ndawa dan

uis pangalkal. Fungsi dari uis perembah ialah sebagai alat menggendong anak

kecil. Pada umumnya pihak anak beru membawa anaknya kepada kalimbubu

dengan maksud meminta uis perembah, sehingga pihak kalimbubu harus

menyediakan dan menyerahkan seperangkat uis perembah. Pemberian uis

perembah ini bermaksud agar anak tersebut sehat-sehat, dengan doa lampas mbelin ula sakit-sakit, sirang lau ras beras maka sirang ernande erbapa yang

berarti mendoakan supaya anak tersebut lekas besar dan sehat-sehat, panjang

umur, dan mampu mandiri dengan berpisah dengan ibu dan ayah.

Gambar 2.22 : UisPerembah (Sumber : dokumentasi pribadi – koleksi AG Sitepu)

O. Uis Jujung-Junjungen

(28)

sebagai jujungen yang diletakkan diatas tudung sewaktu mendadakan pesta

seperti, pesta perkawinan (dipakai oleh pengantin perempuan), guro-guro aron

(pesta muda-mudi) dan pesta mengket rumah mbaru oleh kemberahan (istri tuan

rumah). Pada saat uis ini jarang digunakan, dan diganti dengan uis beka buluh.

Menurut Norma Br Tarigan, pergantian uis jujung-jujungen menjadi uis beka

buluh untuk tudung berawal dari tukang salon yang pinter menghias yang

bernama Pudin, bukan dari suku Karo. Dari hasil desain tudung yang yang mirip

dengan suku minang, masyarakat Karo mengikuti tudung dengan uis beka buluh.

Gambar 2.23: Uis Jujung-jujungen

(Sumber : Legacy in Cloth, Batak textile of Indonesia : Catalog 7.10)

P. Uis Nipes

Uis nipes biasanya digunakan sebagai maneh-maneh (kado untuk

(29)

Kain ini jenisnya lebih tipis dari jenis uis Karo lainnya dan uis ini memilki

bermacam-macam motif dan warnanya seperti warna merah, coklat, hijau, dan

ungu. Pemakaian kain ini sering dipakai sebagai selendang bagi wanita.

Gambar 2.24 : Berbagai jenis warna UisNipes (Sumber : dokumentasi pribadi)

Berikut jenis-jenis uisnipes : a) Uis Nipes Ragi Mbacang

Uis ragi mbacang sering juga disebut dengan Uis Ragi Barat. Uis nipes ragi mbacang memiliki warna dasar merah bergaris emas. Uis ini termasuk jenis uis yang tipis. Uis nipes ragi mbacang dipakai sewaktu waktu pesta adat hanya

untuk perempuan sebagai langge-langge yaitu lapisan sebelah luar kain sarung.

Uis nipes ragi mbacang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pakaian

(30)

Gambar 2.25 : Uis Nipes Ragi Mbacang

(Sumber : Legacy in Cloth, Batak textile of Indonesia : Catalog 7.10)

b) Uis Nipes Padang Rusak

Warna dasar uis nipes padang rusak adalah merah dan memilIki corak

ragam hias yang beragam. Uis nipes padang rusak ini juga dipakai sebagai

langge-langge (selendang) oleh perempuan baik pada pesta maupun dalam

(31)

Gambar 2.26 : Uis Nipes Padang Rusak (Sumber : dokumentasi pribadi – koleksi AG Sitepu))

c) Uis Nipes Mangiring

Uis nipes mangiring ini berwarna merah dengan corak garis merah, kuning

dan putih, kainnya tipis. Fungsi uis nipes ini sebagai langge-langge (selendang

(32)

Gambar 2.27 : Corak UisNipes Mangiring

(Sumber : Legacy in Cloth, Batak textile of Indonesia : Catalog 5.7d)

d) Uis Nipes Benang Iring

Uis nipes benang iring ini berwarna merah bergaris putih ditambah benang

emas, Fungsi uis nipes ini sebagai langge-langge (selendang bahu bagi

perempuan) dalam upacara adat duka cita.

(33)

2.5 Makna Uis Karo Pada Acara Adat

Dalam kegiatan adat tradisonal masyarakat Karo, uis Karo menjadi sebuah

perlengkapan yang harus yang dipergunakan. Uis Karo tersebut mempunyai

tempat dan makna yang tersendiri bagi pemakai dan pemberi. Dalam upacara adat

tradisional seperti mengket rumah mbaru, pernikahan, berita ceda ate, dan

guro-guro aron.

Berikut pemaknaan uis Karo yang dirangkum dari buku Pdt. Dr.E.P.

Gintings (1999) “Religi Karo: Mambaca Religi Karo dengan Mata yang Baru”

dan tulisan Andi Satria Putranta Barus (2016) “Memaknai Yesus lewat pemakaian

uis dalam Adat suku Karo”. Pemaknaan uis Karo ini dikaji pada proses

pemakaian, proses pemberian beserta maknanya yang berarti memiliki pesan dan

harapan. Pemaknaan dalam uis Karo biasanya diberikan oleh seorang yang pandai

dalam berbicara dan bercerita.

1. Pemaknaan uis Karo untuk laki-laki

Uis beka buluh, bulang-bulang ini memilki corak bergaris-garis warna

putih dan bergaris-garis berwarna merah. Corak garis-garis warna putih

menggambarkan: sebuah gambaran anak yang mampu mengambil keputusan

yang bijak dan hati yang baik, garis-garis warna merah mengatakan yang benar

mempertahankan hak, dalam memperjuangkan kepentingan umum dengan tidak

membedakan-bedakan orang lain.

Uis beka buluh yang diletakkan di pundak mengatakan bahwa hari ini

(34)

yang menyertai kehidupan juga setiap langkah kehidupan tetap sehat, damai

sejahtera, dan hati orang yang jahat tidak sampai kepada diri kita, bukan bencana

atau kabar buruk yang terjadi pada kehidupan kita.

Pemberian sarung uis gatip jongkiten berwarna hitam kepada kalimbubu,

supaya yang memakainya mengetahui pantang mereha (hal-hal yang tidak boleh

dilakukan, hal-hal tabu) di dalam kehidupan ini. Contohnya jika seorang anak

beru menghadap kalimbubu, untuk menghindari jika resletingnya tidak sengaja

terbuka di depan kalimbubu, sehinga disarungkan uis gatip jonggiten.

Pemberian uis pementing/ragi jenggi yang dililitkan pada pinggang

(benting) artinya i genditken kami, bentingken kami man ban ndu anakku ragi jenggi enda gelah ula kam pagi mejengging yang berarti semoga anak yang

diberikan uispementing agar tidak tinggi hati.

Diletakkan sarung pada pundak, artinya supaya dia mengaku kepada

sangkep geluhnya yaitu senina, kalimbubu ras anak beru supaya satu

pengharapan dalam merga silima, karena itu dia harus mengendong, menjinjing,

menjunjung, tidak lebih tinggi atau lebih rendah dalam kehidupan.

Uis juga diberikan orang tua kepada anaknya sebagai upah perkawinan

(sereh) ketika dia sudah meninkah sebagai lambang kasih sayang (kekelengen)

orang tua kepada anaknya. Selain uis, tanah (taneh), rumah (jabu), perhiasan emas

(emas), pakaian(uis) hewan (rubia) dan uang (penampat), sebagai modal

(35)

2. Pemaknaan uis Karo untuk perempuan

Dipasangkan tudung berwarna hitam, bentuknya segi tiga, artinya semua

sangkep geluh orang Karo, senina, anak beru, kalimbubu, semua harus sama di

depan mata, saling menghargai, semua saling menghargai supaya tidak ada

kesenjangan sosial dalam kehidupan ini. Tetap teguh dalam kehidupan supaya

hidup damai sejahtera.

Diberikan gonje (sarung, busana pria yang panjang), disebut uis pengalkal

(tabah). Demikianlah supaya seorang istri ngalkal (tabah) berpikir, dibelah tidak

pecah, dipotong tidak putus dengan kata lain dia harus teguh berpikir dalam

kejujuran. Dia juga harus mampu menjaga pantangan-pantangan dalam kehidupan

di masa yang akan datang.

Diberikan kadang-kadang (sehelai kain yang digantungkan bebas di atas

bahu). Biasanya langge-langge ragi barat artinya orang yang menghias diri

terampil menampilkan diri beserta sangkep geluh. Ragi barat, maknanya bahwa

semua pekerjaan harus diselesaikan hingga petik mejile (baik/sempurna), maka

layaklah upah diterima. Barat maknanya pekerjaan yang dikerjakan dengan baik

dan ragi artinya lakon tandang guna, yang tidak berguna menjadi berguna seperti

yang diharapkan.

Kampil menandakan dan memperlihatkan kebijaksanaan dan kehormatan

bagi sangkep geluh dan halayak ramai. Kampil merupakan tempat ramuan sirih

yang terbuat dari pandan; tempat peluru; kampil gempang sawa, dipakai pria

pemakan sirih, sebagai alat untuk memulai pembicaraan waktu pesta perkawinan

(36)

(singalo bere-bere), penghulu (pengulu pihak sinereh), kalimbubu (senina sinereh), dan anak beru. Jadi kampil adalah hal utama sebagai alat menghadap kalimbubu di semua tahapan kehidupan. Contohnya, acara penabalan marga dan beru (ngampeken merga ras beru).

3. Pemaknaan uis Karo untuk teman meriah

Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Karo sangat menghormati teman

meriah (sahabat karib) sebagai sesama yang saling membantu. Jika setelah sekian

lama menjadi teman meriah, maka orang tersebut harus diangkat menjadi saudara

(sembuyak). Melalui sebuah musyawarah adat sangkep nggeluh, kepada teman

meriah tersebut diberikan kehormatan yaitu marga atau beru dan bebere juga

singalo perninin, perkempun dan seterusnya.

Perninin adalah apabila anak beru menteri (anak perempuan dari

keponakan (bere-bere) yang laki-laki) kawin, maka ia menerima perninin dan

disebut kalimbubu singalo perninin. Hutang adat perninin ini, hanya ada di

beberapa daerah Karo, seperti di Urung Julu, Lau Cih (Deli Serdang) serta

Langkat, di daerah Langkat disebut kalimbubu singalo perkempun.

Sedangkan perkempun merupakan nama keluarga yang diwarisi seseorang

(berasal) dari merga puang kalimbubunya, atau dari bere-bere ibunya, atau dari

beru neneknya (ibu dari ibunya)

Tata cara pemberian marga atau beru dan bebere harus sesuai dengan

perjalanan hidup pihak yang berkeinginan memberikan marga dan beru tersebut.

(37)

laki-laki dari ibu, Jika saudara laki-laki-laki-laki dari ibu sudah tidak ada bisa juga dilakukan

oleh isterinya dan bila itu juga sudah meninggal bisa dilakukan oleh anaknya yang

laki-laki.) harus memberikan bulang-bulang (penutup kepala laki-laki,

kehormatan adat). Beka buluh sebagai bulang-bulang memilki makna yang besar

dalam kehidupan orang Karo yaitu kehormatan dan kewibawaan.

Kemudian diberikan gonje, uis gatip jongkit berwarna hitam. Makna dari

pemberiannya adalah supaya si penerima kain ini mengetahui dan sadar menjaga

hal-hal yang tabu dalam kehidupan. Dia senantiasa menjaga supaya sangkep

nggeluh yang memberi marga tersebut dijaga harga dirinya, tidak menjadi malu

atau mendapat aib.

Kemudian dia juga diberikan kampuh kadang-kadangen (sarung yang

disandang di bahu), makna dari pemberian ini bahwa jika dia sudah mengaku

mendapatkan sembuyak senasib sepenanggungan/sehati sepikir dalam merga

silima, maka dia harus menggendong, menenteng dan menjunjung, tidak lebih

tinggi atau lebih rendah dibanding dengan sangkep sembuyak (saudara angkat)

yang telah menerima dia.

Kemudian diberikan lagi cengkok-cengkok, tempatnya diatas pundak kiri

dan kanan. Maknan dari pemberian cengkok-cengkok ini supaya dalam

kehidupannya dia senantiasa beroleh damai sejahtera, banyak rejeki, sehat

sentosa, dan terhindar dari malapetaka.

Pisau juga diberikan, maknanya supaya dia dan saudara angkatnya

(sembuyak) bisa menjadi seperti pisau yang tajam dalam mengerjakan tugas adat

(38)

Setelah marga dan bebere diberikan kepada laki-laki selesai, maka

diberikan beru, bebere dan seterusnya kepada si perempuan. Pertama

dipasangkan tudung (penutup kepala adat bagi wanita). Maknanya bahwa dalam

kehidupan orang Karo, sangkep nggeluh (kalimbubu, senina, anak beru)

semuanya pada dasarnya sederajat, harus saling menghormati-dihormati.

Kemudian diberikan gonje, gatip pengkalkal, maknanya bahwa ia harus

menjaga apa yang tabu, senantiasa tabah dalam berpikir, dibelah tiada bisa

terbelah, dipotong terasa kenyal, dengan kata lain dia berpikiran teguh dalam

kebaikan. Selanjutnya diberikan kadang-kadangen, maknanya bijaksana dalam

menjaga penampilan dan mengambil hati terhadap sangkep nggeluh nya. Kampil

(tempat sirih), maknanya mampu menghormati sangkep nggeluh dan khalayak

ramai.

Pada acara pemberian marga dan beru ini, diberi kata-kata petuah bahwa

harta warisan si pemberi marga tidak ikut disertakan kepada si penerima marga

untuk memiliki hak atau bagian. Namun pemberian marga dan beru ini

menunjukkan rasa persaudaraan yang sehati-sepikir dan senasib sepenanggungan.

4. Pemaknaan Beka Buluh untuk pemimpin

Pada acara pemberian beka buluh sebagai tanda kehormatan tertinggi

kepada seorang pemimpin yang terhormat, diiringi dengan kata-kata petuah

sebagai berikut : anda sebagai pemimpin, begitu banyak masyarakat Karo, sebagai

bapak pemimpin orang nomer satu ditanah Karo, ini kami berikan uis hasil

(39)

bambu, dalam beka buluh ini terdapat berbagai-bagai corak, yang berwana merah

berarti berani karena benar, karena karena berani berasal dari darah, berani

bertindak, warna belau malambangkan lingkungan kita yaitu bukit barisan,

kemudian warna putih berarti jujur dalam menjalankan tugas, warna kuning yang

berati jangan caci mencaci, sedikit pun salah kita jangan dibesar-besarkan.

Gambar 2.29 : Pemberian beka buluh untuk SBY sebagai simbol pemimpin

pada silaturahmi masyarakat Karo di JCC

(Sumber : http://presiden.co.id)

2.6 Pakaian Adat Tradisional (Ose)

Pakaian adat tradisional merupakan salah satu unsur kebudayaan yang

dihasilkan melalui pemikiran manusia. Perwujudannya tidak lepas dari rangkaian

pesan yang hendak disampaikan kepada para anggota masyarakat lewat lambang-

lambang yang dikenal dalam tradisi masyarakat secara turun-temurun. Pakaian

adat tradisional mampu memberikan keselarasan, keharmonisan bagi tubuh

(40)

Gambar 2.30 : Pakaian adat tradisional Karo pada tahun 80an

(Sumber : dokumentasi pribadi)

Pakaian adat tradisional adalah pakaian yang sudah dipakai secara

turun-temurun dan merupakan salah satu identitas yang dapat dibanggakan oleh

sebagian besar pendukung kebudayaan (Dharmika, 1988). Bentuk pakaian adat

tradisional juga dapat menyampaikan pesan-pesan mengenai nilai-nilai budaya

yang pemahamannya dapat dilakukan melalui berbagai simbol-simbol yang

(41)

Gambar 2.31 : Pakaian adat tradisional Karo beserta perhiasannya

(Sumber : Tata Rias Pengantin Dan Busana Seluruh Indonesia, 2010, hal. 37 )

Ose merupakan istilah masyarakat Karo yang berarti seperangkat pakaian

adat tradisional Karo beserta assesorisnya. Menurut kamus Darwin Prinst dalam

Kamus Karo-Indonesia, Ose adalah sejenis kain yang dipakai pada

upacara-upacara adat.Ose juga disebut pakaian ganti atau tukar. Sedangkan Rose yaitu

(42)

ipetunggungken yang berarti anggun, cantik, berhias agar mehaga ras mehamat

yang berarti menghormati dan dihormati. Osei ini pada dasarnya yang

memakaikannya kepada pemakai adalah orangtua dari istri atau saudaranya,

pakaian adat pengantin harus disediakan/dipinjamkan dan dipasangkan oleh

Kalimbubu beserta sembuyaknya. Pakaian pengantin pria disediakan oleh kalimbubu singalo ulu emas, sedangkan pakaian wanita disiapkan oleh kalimbubu singalo bere-bere. Mereka Ngosei pengantin di rumah masing-masing pengantin.

Selain manusia, bangunan juga bisa dipakaikan uis Karo yang disebut dengan

istilah Karo ngoseken binangun.

Gambar 2.32 : Ngosei (Sumber : Anton Sitepu)

Sebagian wanita suku Karo yang sudah berusia lanjut masih menyimpan

Ose lama di dalam keranjang ritual (baka) atau keranjang kulit kayu (kepuk) yang

(43)

Gambar 2.33: Kepuk (Sumber : Sora Surilo)

Secara umum, pakaian tadisional menurut buku Tanah Karo, Selayang

Pandang (2014) masyarakat Karo dapat dibedakan atas 3 bagian, yaitu pakaian

sehari-hari, pakaian untuk pesta dan pakaian kebesaran.

Gambar 2.34: Penggunaan Tudung dan Beka Buluh pada Masyarakat Karo (Sumber : Dokumen Pribadi)

Pakaian sehari-hari terbagi 2 yaitu untuk pria dan wanita. Pakaian pria

terdiri dari baju Gunting Cina lengan panjang, celana panjang bukan pentelon,

(44)

terdiri dari baju kebaya leher bulat, abit (kain sarung) atau tenunan, tutup kepala

(tudung) dan uis gara yang diselempangkan.

Pakaian untuk berkunjung hampir sama dengan pakaian sehari-hari. Hanya

saja pakaian hendaknnya bersih atau baru dan dikenakan dengan sopan. Pakaian

kebesaran ialah pakaian adat lengkap, baik untuk wanita demikian juga untuk

pria. Pakaian tersebut dikenakan pada waktu ada pesta seperti pesta perkawinan,

pesta kematian, memasuki rumah baru, dan pesta adat lainnya.

a) Pakaian sehari-hari masyarakat Karo

Pakaian tradisional ini pada umumnya dipakai oleh orang-orang tua yang

tinggal di perkampungan Karo. Laki-lakinya membawa kampuh (sarung) baik

dikampuhkan maupun hanya sekedar dipakaikan saja. Wanita pakai tudung limpek

dan langge-langge (selendang). Pakaian sehari-hari juga sama seperti masyarakat

Indonesia seperti kemeja, baju, celana, topi dan lain-lain.

b) Ose Pernikahan 1) Ose Pengantin Pria

a. Beka buluh sebagai bulang-bulang.

b. Sertali untuk hiasan bulang-bulang dan kalung-kalung.

c. Rudang-rudang untuk hiasan bulang-bulang.

d. Uis jungkit gatib 9 sebagai abit/gonje (sarung penutup bagian bawah).

e. Songket/beka buluh, sebagai kadang-kadangen (selempang).

(45)

g. Cincin tapak gajah, cincin kerunggun atau cincin kepala raja sebagai hiasan

jari.

h. Gelang sarong sebagai hiasan tangan kanan.

i. Pisau tumbuk lada sebagai penghias pinggang.

j. Ragi jenggi/uis pementing sebagai ikat pinggang.

2) Ose Pengantin Wanita

a. Uiskelam-kelam dan uis batu jala sebagai tudung (teger limpek).

b. Uisjujung-jujungen, sebagai jujungen.

c. Uis julu atau teba, sebagai abit (sinjang).

d. Uisnipes sebagai uispengalkal (pingikat).

e. Uisjungkit gatib 20 sebagai gonje (sarung penutup bagian bawah).

f. Uisnipes, sebagai langge-langge.

g. Sertali besar sebagai kalung.

h. Sertali kecil sebagai hiasan tudung.

i. Padung raja mehuli, padung kawiten jantung, padung curu-curu sebagai

anting-anting.

j. Gelang sarung sebagai gelang.

k. Cincin manca-manca, cincin ketanaken, cincin tapak gajah dapat dipilih

sebagai penghias jari tangan.

l. Kampil beserta isinya

(46)

a. Uisbeka buluh sebagai bulang-bulang.

b. Uis arinteneng sebagai gonje.

c. Songket/uis nipes, sebagai kadang-kadangen (selempang).

d. Uisnipes sebagai cengkok-cengkok.

e. Ragi jenggi, sebagai ikat pinggang (benting).

4) Ose orang tua pengantin (Nande)

a. Uis kelam-kelam, sebagai tudong (teger limpek).

b. Uisjujung jujungen, sebagai jujungen.

c. Uisarinteneng, sebagai abit.

d. Uisnipes, sebagai langge-langge.

e. Sepasang baju kebaya.

f. Kampil beserta isinya.

Menurut adat dan kebiasaan masyarakat Karo, pakaian kebesaran secara

lengkap hanya dipakai pada suatu pesta besar oleh yang berpesta. Pakaian

kebesaran untuk pengantin dan orang tua sama saja, hanya waktu penggunaannya

yang berbeda. Pada pesta besar (kerja sintua) dan Pesta sedang (kerja sitengah)

pihak yang berpesta sama-sama menggunakan pakaian kebesaran tersebut. Dalam

pesta kecil yang biasanya dilakukan di rumah saja (kerja singuda), pakaian

adatnya hanya menggunakan tanda-tanda saja. Seiring dengan perkembangan

zaman, jenis-jenis kain tenun dari luar mulai dipakai oleh para masyarakat Karo

seperti songket. Jenis songket yang mahal biasanya memeliki nilai plus bagi

(47)

c) OseMukul dan Ngulihi Tudung

Pengesahan perkawinan secara adat diikuti dengan unsur kepercayaan

tradisional masyarakat Karo yaitu mukul (persadaan tendi) yang merupakan

semacam acara doa bersama tentang perkawinan tersebut dan diikuti dengan

makan malam bersama pengantin. Acara adat ini dilakukan pada malam hari

setelah acara pesta pernikahan selesai digelar. Acara mukul merupakan acara

makan bersama kedua pengantin bersama sanak keluarga terdekat. Acara ini

diadakan di rumah kedua pengantin. Jika pengantin baru tersebut belum memiliki

rumah, maka akan diadakan dirumah orang tua pengantin laki-laki. Osei

pengantin sesudah selesai pesta siang, maka malamnya acara mukul dan acara

ngobah tutur. Untuk itu pengantin di Osei lagi, pengantin pria biasanya memakai

uis jungkit gatib 9 sebagai abit/gonje, beka buluh sebagai bulang-bulang dan uis teba sebagai sebagai kadang-kadangen (selempang). Pengantin wanita biasanya

memakai tudung, uisjulu sebagai abit dan uis nipes sebagai selendang. Pada acara

mukul ini kedua pengantin tidak lagi memakai aksesoris.

Setelah acara mukul, maka dilaksanakan acara ngulihi tudung. Acara adat

ini dilaksanakan setelah 2-4 hari setelah hari pesta pernikahan berlalu. Orang tua

pengantin laki-laki kembali datang kerumah orang tua pengantin perempuan

dengan membawa makanan khas Karo yaiut tasak telu dan cipera. Dalam proses

ngulihi tudung, kedua pengantin baru tidak perlu diosei lagi, hanya perempuan

saja yang memakai uis nipes sebagai selendang. Acara ini dilakukan bertujuan

(48)

tertinggal di tempat pihak perempuan disaat pesta adat digelar. Acara adat ini juga

dilakukan untuk minta doa agar sungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan

yang baru karena sejak saat ini kedua mempelai secara resmi sejak itu sudah

dilepas dari tanggung jawab orang tua, sehingga diangggap seperti berpisah dari

orang tua.

d) OseMengket Rumah Mbaru

Mengket rumah mbaru adalah salah suatu pesta sukacita adat masyarakat

Karo. Mengket dalam bahasa Karo berarti masuk, dan mbaru berarti baru. Secara

harafiah, mengket rumah mbaru adalah pesta yang diadakan masyarakat Karo saat

hendak memasuki rumah yang baru. Pesta ini tergolong sebagai pesta sukacita dan

mulia karena pesta ini menggambarkan kesuksesan tuan rumah (penyelenggara

pesta) dan melibatkan keluarga besar dan rakut sitelu.

1. Ose Laki-laki

a. Beka buluh sebagai bulang-bulang (tutup kepala).

b. Uisarinteneng sebagai gonje (sarung).

c. Uisjongkit sebagai selempang.

d. Uisnipes sebagai kadang-kadang (penutup bahu).

e. Ragi jenggi sebagai benting (pengikat pinggang).

2. Ose Perempuan

(49)

b. Uisrambu-rambu emas sebagai junjungen (lapis atas tudung).

c. Uisarinteneng sebagai abit (sarung).

d. Uisnipes sebagai langge-langge (selendang).

e) OseiKerjaCeda Ate

Kerja ceda ate merupakan acara adat duka cita atau kemalangan dalam

istilah masyarakat Karo. Ceda ate memilki arti berbelasungkawa dalam

pengertian bahasa Karo yaitu hati saya sedih atau rusak. Pakaian adat khusus

acara duka cita ini dikhususkan untuk orang yang meninggal sudah lanjut usia

(mate cawir metua) dengan meninggalkan kondisi anak-anaknya sudah berumah

tangga semuanya.

Bila ada seseorang meninggal dalam kondisi cawir metua, maka semua

kerabat dari pihak kalimbubunya (pihak mertua dari istri anak-anaknya yang

laki-laki) harus menyediakan ose yaitu menyediakan perhiasan emas, kain serta

pakaian yang indah-indah (kain adat), untuk dikenakan oleh saudara laki-laki serta

anak laki-laki beserta istri serta janda almarhum (kalau yang meninggal dunia

laki-laki). Perhiasan dan pakaian yang indah ini, sebagai suatu tanda kehormatan

dari pihak kalimbubunya kepada yang meninggal (almarhum).

Pakaian adat pada acara duka cita ini kebanyakan bebas akan tetapi tidak

(50)

f) Osei Penari (Osei Guro-Guro Aron)

Gendang guro-guro aron adalah salah satu kesenian tradisional

masyarakat Karo yang sering diadakan saat pesta-pesta adat dan acara syukuran

seusai panen. Seni tradisional ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur kepada

Yang Maha Kuasa atas kecukupan rezeki atau hasil panen yang berlimpah atau

pun juga perayaan atas kegembiraan yang dirasakan. Pada pesta Gendang

guro-guro aron tersebut masyarakat Karo bernyanyi dan menari bersukaria yang

biasanya dilakukan sepanjang malam, sambil beradu pantun di bawah cahaya

bulan purnama.

Pakaian adat yang digunakan dalam acara guro – guro aron ini, khususnya

pengulu aron dan kemberahen aron haruslah rose tapi tidak memakai emas - emas

(berpakaian adat Karo lengkap tapi tidak memakai emas - emas). Mereka dibantu

oleh pembantu pengulu aron dan pembantu nande aron yang juga rose sebagai

simantek guru-guro aron yang terdiri dari kelima merga. Laki-laki simantek,

memakai sarung palekat dan memakai bulang-bulang dari beka buluh, kemudian

dipakaikan cengkok-cengkok dari kain beka buluh, yang dilipat berbentuk segi tiga

dan diletakkan di atas bahu. Perempuan memakai tudung dari uis kelam -kelam.

Sebagai abit (dasar/sarung pelekat) dengan memakai kain songket. Perempuan

juga memakai bungaerpalas sebagai rudang – rudang atau hisan tudung. Khusus

bagi nande aron maka di atas tudungnya dia harus erjungjungen atau pun

diletakan di atas tudungnya kampil kecil beserta dengan tikar kecil yang berwarna

putih (amak cur). Seiring dengan perkembangan zaman, nande aron tidak lagi

(51)

saja. Merekalah yang mewakilkan dari kelima merga baik bapa aron dan nande

aron.

2.7 Uis Karo dalam sudut pandang estetika Klasik

Kebudayaan masyarakat Karo beraneka ragam jenisnya dimulai dari

rumah adat, tata bahasa, adat istiadat, tarian, lagu, musik, dan kerajinan. Uis Karo

adalah salah satu hasil dari hasil budaya masyarakat Karo yang masih dilestarikan

saat ini. Uis Karo merupakan suatu karya seni rupa dalam bentuk kriya tekstil

yang berjenis tenun ikat yang memiliki persamaan dengan kriya tenun di sumatera

utara seperti ulos pada masyarakat Toba, biou pada pada masyarakat Simalungun,

oles pada pada masyarakat Pak-pak dan abit pada masyarakat

Angkola/Mandailing.

Menurut Juliana (2014) dalam jurnalnya yeng berjudul Kreasi Ragam Hias

uis Barat, uis Karo merupakan bagian dari desain struktur dalam dunia textile,

yang mana desain struktur merupakan rancangan yang dibentuk dari perpaduan

maupun penyilangan benang pakan dan benang lungsi menjadi sehelai kain

panjang. Sehingga corak yang dihasilkan pada uis dikarenakan penyilangan

benang pakan dengan benang lungsi. Contoh lain yang merupakan buah hasil dari

desain struktur yakni: songket, anyaman, tapis dan rajutan. Uis Karo selalu di

proses secara manual dengan tangan-tangan terampil pengrajin, sehingga ragam

hias yang dihasilkan bersifat etnik dan memiliki makna estetika.

Estetika adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan

(52)

(A.A.M. Djelantik, 1999). Istilah estetika berasal dari kata bahasa Yunani

aisthanesthai’ yang berarti mengamati secara lahiriah, jasmani, inderawi. Filsafat

keindahan, nilai seni dan karya seni sudah dibahas sejak zaman Yunani kuno.

(Ensiklopedi,1989)

Dalam filsafat keindahan, pengalaman estetis berbicara mengapa ada objek

yang disebut indah. Objek itu dikaji melalui pendekatan yang berdasarkan pada

nilai-nilai estetis atau unsur-unsur estetis atau estetika dari objek tersebut dimana

di penelitian ini obejek tersebut adalah uis Karo. Estetika yang terdapat dalam

ragam hias uis Karo berkaitan dengan berbagai macam unsur yang dapat

mendukung nilai-nilai estetika atau keindahan tersebut. Unsur-unsur estetika

tersebut meliputi wujud yang menyangkut masalah bentuk, struktur,

keseimbangan (keseimbangan simetri dan non simetri), komposisi, gerak (irama),

harmoni menyangkut masalah kesesuaian atau keserasian. Uis Karo ini

mempunyai nilai seni yang tinggi karena rancangannya sesuai dengan

prinsip-prinsip seni diantaranya nilai kesatuan, keseimbangan, harmoni, dan penonjolan

bentuk ragam hiasnya diterapkan dengan baik.

Ragam hias disebut juga dengan ornamen. Ornamen berasal dari bahasa

Yunani yaitu dari kata ornarel yang artinya hiasan atau perhiasan (Soepratno,

1987). Ragam hias atau ornamen terdiri dari berbagai jenis yang digunakan

sebagai penghias sesuatu yang ingin kita aplikasikan kepada suatu objek. Ragam

hias atau ornamen dimaksudkan untuk menghias suatu bidang atau benda,

(53)

Dalam pengaplikasian ragam hias tersebut ada yang hanya berupa satu

motif saja, dua motif atau lebih, pengulangan motif, kombinasi motif dan ada pula

yang dimodifikasi, distilasi atau digayakan. Sebuah ragam hias dapat pula

diartikan sebagai sebuah desain atau pola sesuai dengan pengertian umum, dan

dalam konteks yang terbatas, mengingat masing-masing istilah itu memiliki

pengertiannya dan kegunaan-kegunaan tersendiri (Gustami Sp., 1980).

Pada dasarnya jenis ragam hias itu terdiri atas:

1. motif geometris berupa garis lurus, garis patah, garis sejajar, lingkaran dan

sebagainya,

2. motif naturalis berupa tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, unsur-unsur

alam, dan lain sebagainya, dengan demikian ragam hias lahir menjadi

simbol-simbol atau perlambangan tertentu (Budhyani, 2010).

Secara umum ragam hias yang berkembang pada prinsipnya ada lima jenis

yakni: ragam hias geometris, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, dan

unsur-unsur alam yang didesain sesuai dengan penempatannya (Seraya, 1980/1981).

Pada buku Ensiklopedia Indonesia dijelaskan bahwa ragam hias merupakan

pangkal bagi tema suatu karya seni kriya. Sejalan dengan pendapat itu, jika dilihat

dari kacamata seni rupa, jika terdapat suatu goresan sebuah garis lengkung, maka

goresan tersebut dapatlah disebut sebagai suatu ragam hias, yaitu ragam hias garis

lengkung.

Apabila garis lengkung tersebut diulang-ulang secara simetris atau non

simetris kemudian menjadi sebuah pola. Apabila pola yang telah diperoleh itu

(54)

kedudukannya adalah sebagai hiasan pada karya seni kriya tersebut (Gustami,

1980).

Pengaplikasian sebuah ragam hias yang memiliki posisi simetris dapat

menggambarkan sebuah unsur keseimbangan yang banyak dilakukan oleh para

seniman atau budayawan di masa lampau. Hasil dari penerapan ragam hias

dengan posisi simetris ini dapat pula dihubungkan cara hidup serba seimbang,

hidup rukun bergotongroyong, bahu membahu yang biasa dilakukan masyarakat

desa dimasa lampau. Kondisi masyarakat tersebut mencerminkan suatu timbal

balik yang sepadan, yang tampaknya sangat mempengaruhi penciptaan-penciptaan

karya seni dan inspirasi hingga saat ini.

Penciptaan ragam hias memiliki maknanya yang dalam, merupakan

ungkapan-ungkapan idealisasi atau gagasan-gagasan pencipta dari perasaan seni

terhadap lingkungannya. Pada pendiptaan sebuah ragam hias, unsur-unsur visual

dalam seni rupa berupa garis, bidang, warna, tekstur dan lain-lain itu akan

memberi warna baru pada karya-karya seni yang lahir, menjadi seimbang

merupakan ungkapan-ungkapan estetik dengan perimbangan yang sempurna.

Selain unsur keseimbangan (balance), masih ada terdapat unsur pokok

estetika yang berkaitan dengan keindahan seperti kesatuan (unitiy), keselarasan

(harmony), kesetangkupan (symetri), dan perlawanan (contras). Kesemua unsur

tersebut dapat menjadi suatu dasar dalam mengkaji mengenai nilai estetika suatu

karya seni.

Selain istilah estetika, dalam wacana seni rupa dikenal juga istilah bahasa

(55)

mempergunakan berbagai tanda yang memiliki kaidah, asas, atau konsep berupa

titik, garis, ukuran, warna, tekstur, ruang dan sebagainya. Dalam pengertian luas,

bahasa rupa mencakup segala sesuatu yang kasat oleh mata.

Menurut Primadi Tabrani bahasa rupa gambar bisa berbentuk ekspresif,

deskriptif, abstrak, geometris, stilasi, estetik, simbolik, semiotik. Uis Karo

merupakan bagian dari bahasa rupa yang mempunyai keindahan tersendiri. Visual

yang tampak pada keindahan corak uis dilihat dari berbagai konsep berupa garis,

bentuk, warna, tekstur dan sebagainya. Dari keseluruhan visual tersebut

merupakan simbolik yang mengandung makna tertentu, bisa berupa asal usul

sejarah daerah tersebut maupun adat kebudayaan masyarakat.

Gambar 2.35 : Beberapa contoh ragam hias tradisional Karo

(Sumber : kendesign.com)

Ragam hias (ornamen) dalam Bahasa Karo disebut juga dengan istilah

ukir-ukiren. Awalnya masyarakat Karo menciptakan ragam hias dengan

mengedepankan fungsi spiritual, yakni menangkal bala dan mengusir roh-roh

jahat. Namun dalam perkembangannya, ragam hias tersebut berubah menjadi

pola artistik yang meiliki nilai estetik keindahan dan dapat diterapkan ke dalam

biadang baik pada uis Karo, perhiasan badan, alat-alat perkakas rumah tangga,

hingga bangunan. Pada awalnya setiap ragam hias yang diciptakan oleh leluhur

(56)

ini yang mempengaruhi kaum bangsawan pada zaman dahulu kala terlihat paling

aktif dalam menggunakan ragam hias dalam kesehariannya. Ragam hias mampu

memberi ciri khas pembeda antara bagi golongan masyarakat.

Gambar 2.36 : Alat dan pembuatan ragam hias Karo

(Sumber : Collectie Tropenmuseum)

Menurut ahli ragam hias A.G Sitepu, kesemua jenis ornamen lemah yang

berbentuk garis, titik, bidang sama sisi yang terdapat pada uis Karo terjadi akibat

tehnik penenunan yang masih sangat tradisional (gedongan) dan tidak memilki

kemampuan alat yang tinggi dalam membentuk ornamen yang rumit, salah satu

contohnya adalah yang pengaplikasi ornamen pengeret-ret pada beka buluh.

Menurut Netty Juliana pada jurnalnya Kreasi Ragam Hias uis Nipes bentuk

visual dalam uis Karo umumnya berbentuk geometrik, simetris, dan stilasi.

Aspek-aspek nilai estetika dalam uis Karo meliputi: titik, garis, bidang,

bentuk ornamen, warna dan tekstur

Titik yaitu motif pada uis ini memiliki aspek titik dari sudut pandang di

ujung garis terputus-putus. Yang disebut juga aliran geometri. Motif ini terdapat

pada jenis uis beka buluh, uis gobar dibata, uis gatip gewang, uis gatip jongkit,

(57)

Gambar 2.37 : Motif titik-titik pada Uis Beka Buluh dan Uis Gatip Gewang (Sumber : dokumentasi pribadi)

Garis pada motif uis Karo ini terdiri dari dominasi garis-garis, vertikal,

horizontal. Garis dalam uis Karo disebut juga dengan lis yang berarti batas. Lis

pada uis Karo berfungsi sebagai batas atau acuan dalam pemakaiannya, seperti lis

warna biru pada uis batu jala yang menjadi panutan dalam membuat tudung.

Motif garis terdapat pada jenis uis julu, uis teba, uis batu jala, uis beka buluh, uis

gobar dibata, uis gatip gewang, uis gatip jongkit, uis gara-gara, uis pementing, uis parembah, uis jujung-jujungen, dan uis nipes.

(58)

Bidang pada setiap uis Karo memiliki aspek bidang berbentuk segi empat

hingga segi empat memanjang.

Gambar 2.39 : Bidang Uis Pementing (Sumber : dokumentasi pribadi – koleksi AG Sitepu)

Ada beberapa jenis bentuk ragam hias pada uis Karo, seperti ragam hias

geometris pakau-pakau pada uis gara, uis gatip jongkit, dan uis nipes padang

rusak, Ragam Hias geometris piala-piala pada uis parembah dan ragam hias

tumbuhan pacung-pacung cekala pada beka buluh. Ragam hias pada kedua sisi

samping beka buluh juga sering disebut dengan legot-legot yang terinspirasi dari

ragam hias pengeret-ret. Fungsi sakral ornamen pada uis adalah sebagai penolak

bala (pelindung tubuh) dan fungsi profannya adalah sebagai penghias.

(59)

Gambar 2.41 : Ragam hias geometris pakau-pakau pada Uis Gara Berjongkit (Sumber : dokumentasi pribadi – AG Sitepu)

Gambar 2.42 : Ragam hias piala-piala pada UisParembah (Sumber : dokumentasi pribadi – AG Sitepu)

Gambar 2.43 : Ragam hias bunga lawang pada Uis Nipes (Sumber : dokumentasi pribadi – motif alam dalam batik dan songket melayu)

Warna pada uis Karo didominasi oleh dua warna yaitu gelap (mbiring)

(60)

diterima, militan, dan warna merah (megara) yang berarti merawa. Setiap jenis

uis Karo memilki tekstur tenun yang kuat, ada yang halus dan ada yang kasar.

Kesatuan dari berbagai jenis bentuk ragam hias saling berkaitan dapat

dilihat dari pola pengulangan pada uis Karo. Unsur keseimbangan ragam hias

pada uis Karo ini terletak pada tata letak ragam hias yang beraneka ragam jenis

bentuknya yang susunan bentuk teratur, terukur, sistematis.

Gambar 2.44 : Unsur kesatuan dan keseimbangan pada ragam hias uis nipes (Sumber : AG Sitepu)

Juliana (2004) berpendapat ragam hias pada uis Karo juga mengalami

banyak perkembangan, banyak modifikasi motif, munculnya bentuk-bentuk motif

yang baru namun tidak menghilangkan ciri khas yang aslinya.

Latar belakang munculnya motif uis nipes berkaitan erat dengan interaksi

perdagangan wilayah kesukuan Karo dengan kerajaan di sekitarnya, seperti Aceh

di sebelah utara, Melayu di sebelah timur, Pakpak di sebelah barat, dan Toba di

selatan. Contohnya seperti motif parang rusak yang berasal dari Aceh selatan

yaitu suku Gayo yang berarti (tanduk rusa) yang memiliki arti sama dengan

(61)

Gambar 2.45 : Persamaan motif kain Aceh Rosak dengan Uis Nipes Padang Rusak

(Sumber : Tekstil Tenunan Melayu, Keindahan Budaya Tradisional Nusantara dan Legacy in Cloth, Batak textile of Indonesia)

Ada 3 warna dominan dalam uis Nipes, yakni merah, jingga (keemasan),

dan biru. Warna biru dalam kain tenun uis Karo adalah lambang perlawanan

terhadap Kesultanan Melayu yang mencaplok wilayah mereka di pesisir timur

Sumatera Utara, dengan dibantu kolonial Belanda. Warna merah dan jingga

(keemasan) merupakan khas Melayu, terlanjur mendarah daging dalam

kebudayaan Karo. Kemudian ada warna hitam, yang secara keharusan dan

kebanyakan dipergunakan dalam suasana acara dukacita. Menurut Sitepu, warna

merah dalam uis Karo berarti berarti kebahagian, yang berarti jiwa seseorang yang

memakai uis tersebut membara.bangga karena dirundung rasa kebahagiaan.

Ada sebuah filosofi warna yang menjadi dasar dalam kehidupan

masyarakat Karo yaitu benang sitelu rupa. Umumnya simbol ini dipergunakan

sesuai dengan posisi karakter dalam upacara dalam adat tradisional suku Karo.

Megara (matawari) yaitu warna merah yang melambangkan simbol panas, hangat,

gairah, darah, kehebatan dan kekuatan. Mbentar (cahaya) yaitu warna terang yang

melambangkan symbol suci, bersih, dan Ketuhanan. Mbiring yaitu warna

Figur

Gambar 2.10 : Uis Julu Berpolos dan Uis Julu Berjongkit(Sumber : Legacy in Cloth, Batak textile of Indonesia: Catalog 1.1)

Gambar 2.10 :

Uis Julu Berpolos dan Uis Julu Berjongkit(Sumber : Legacy in Cloth, Batak textile of Indonesia: Catalog 1.1) p.13
Gambar 2.12 : Seorang perempuan Karo yang menggunakan  Uis Teba sebagai kain penggendong anak th

Gambar 2.12 :

Seorang perempuan Karo yang menggunakan Uis Teba sebagai kain penggendong anak th p.15
Gambar 2.11 : Uis Teba (Sumber : dokumentasi pribadi)

Gambar 2.11 :

Uis Teba (Sumber : dokumentasi pribadi) p.15
Gambar 2.13 : Uis Arinteneng

Gambar 2.13 :

Uis Arinteneng p.17
Gambar 2.14 : Uis Batu Jala dan penggunaanya

Gambar 2.14 :

Uis Batu Jala dan penggunaanya p.18
Gambar 2.15 : Uis Kelam-kelam (Sumber : Dokumentasi pribadi)

Gambar 2.15 :

Uis Kelam-kelam (Sumber : Dokumentasi pribadi) p.19
Gambar 2.16 : Uis Beka Buluh (Sumber : dokumentasi penulis)

Gambar 2.16 :

Uis Beka Buluh (Sumber : dokumentasi penulis) p.21
Gambar 2.17 : Uis Gobar

Gambar 2.17 :

Uis Gobar p.22
Gambar 2.19 : Uis Gatip Jongkit (Sumber : Dokumetasi Pribadi)

Gambar 2.19 :

Uis Gatip Jongkit (Sumber : Dokumetasi Pribadi) p.24
Gambar 2.20 : Uis Gara-gara  (Sumber : dokumentasi pribadi)

Gambar 2.20 :

Uis Gara-gara (Sumber : dokumentasi pribadi) p.25
Gambar 2.21 : Uis Pementing dan penggunaan Uis Pementing sebagai ikat pinggang

Gambar 2.21 :

Uis Pementing dan penggunaan Uis Pementing sebagai ikat pinggang p.26
Gambar 2.22 : Uis Perembah  (Sumber : dokumentasi pribadi – koleksi AG Sitepu)

Gambar 2.22 :

Uis Perembah (Sumber : dokumentasi pribadi – koleksi AG Sitepu) p.27
Gambar 2.23: Uis Jujung-jujungen

Gambar 2.23:

Uis Jujung-jujungen p.28
Gambar 2.24 : Berbagai jenis warna Uis Nipes

Gambar 2.24 :

Berbagai jenis warna Uis Nipes p.29
Gambar 2.25 : Uis Nipes Ragi Mbacang

Gambar 2.25 :

Uis Nipes Ragi Mbacang p.30
Gambar 2.26 : Uis Nipes Padang Rusak (Sumber : dokumentasi pribadi – koleksi AG Sitepu))

Gambar 2.26 :

Uis Nipes Padang Rusak (Sumber : dokumentasi pribadi – koleksi AG Sitepu)) p.31
Gambar 2.27 : Corak Uis(Sumber : Legacy in Cloth, Batak textile of Indonesia : Catalog 5.7d)  Nipes Mangiring

Gambar 2.27 :

Corak Uis(Sumber : Legacy in Cloth, Batak textile of Indonesia : Catalog 5.7d) Nipes Mangiring p.32
Gambar 2.28 : Uis Nipes Benang Iring (Sumber : http://pariwisataKaro.blogspot.co.id)

Gambar 2.28 :

Uis Nipes Benang Iring (Sumber : http://pariwisataKaro.blogspot.co.id) p.32
Gambar 2.30 : Pakaian adat tradisional Karo pada tahun 80an  (Sumber : dokumentasi pribadi)

Gambar 2.30 :

Pakaian adat tradisional Karo pada tahun 80an (Sumber : dokumentasi pribadi) p.40
Gambar 2.31 : Pakaian adat tradisional Karo beserta perhiasannya (Sumber : Tata Rias Pengantin Dan Busana Seluruh Indonesia, 2010, hal

Gambar 2.31 :

Pakaian adat tradisional Karo beserta perhiasannya (Sumber : Tata Rias Pengantin Dan Busana Seluruh Indonesia, 2010, hal p.41
Gambar 2.33: Kepuk

Gambar 2.33:

Kepuk p.43
Gambar 2.34: Penggunaan Tudung dan Beka Buluh pada Masyarakat Karo  (Sumber : Dokumen Pribadi)

Gambar 2.34:

Penggunaan Tudung dan Beka Buluh pada Masyarakat Karo (Sumber : Dokumen Pribadi) p.43
Gambar 2.36 : Alat dan pembuatan ragam hias Karo   (Sumber : Collectie Tropenmuseum)

Gambar 2.36 :

Alat dan pembuatan ragam hias Karo (Sumber : Collectie Tropenmuseum) p.56
Gambar 2.37 : Motif titik-titik pada Uis Beka Buluh dan Uis Gatip Gewang (Sumber : dokumentasi pribadi)

Gambar 2.37 :

Motif titik-titik pada Uis Beka Buluh dan Uis Gatip Gewang (Sumber : dokumentasi pribadi) p.57
Gambar 2.38 : Lis warna biru pada Uis Batu Jala (Sumber : dokumentasi pribadi)

Gambar 2.38 :

Lis warna biru pada Uis Batu Jala (Sumber : dokumentasi pribadi) p.57
Gambar 2.40 : Ragam hias tumbuhan pacung-pacung cekala pada beka buluh(Sumber : dokumentasi pribadi – AG Sitepu)

Gambar 2.40 :

Ragam hias tumbuhan pacung-pacung cekala pada beka buluh(Sumber : dokumentasi pribadi – AG Sitepu) p.58
Gambar 2.42 : Ragam hias piala-piala pada Uis Parembah

Gambar 2.42 :

Ragam hias piala-piala pada Uis Parembah p.59
Gambar 2.41 : Ragam hias geometris pakau-pakau pada Uis Gara Berjongkit (Sumber : dokumentasi pribadi – AG Sitepu)

Gambar 2.41 :

Ragam hias geometris pakau-pakau pada Uis Gara Berjongkit (Sumber : dokumentasi pribadi – AG Sitepu) p.59
Gambar 2.44 : Unsur kesatuan dan keseimbangan pada ragam hias uis nipes(Sumber : AG Sitepu)

Gambar 2.44 :

Unsur kesatuan dan keseimbangan pada ragam hias uis nipes(Sumber : AG Sitepu) p.60
Gambar 2.45 : Persamaan motif kain Aceh Rosak dengan Uis Nipes Padang

Gambar 2.45 :

Persamaan motif kain Aceh Rosak dengan Uis Nipes Padang p.61

Referensi

Memperbarui...