Komodifikasi Kain Tradisional Karo Pada Era Globalisasi Chapter III VI

98  111  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB III

BENTUK KOMODIFIKASI

UIS

KARO

Dalam buku Encyclopedia of Marxism, Karl Marx mengemukakan

pengertian komodifikasi berarti transformasi hubungan, sesuatu yang sebelumnya

bersih dari perdagangan, menjadi hubungan komersial, hubungan pertukaran,

membeli dan menjual. Komodifikasi mendeskripsikan suatu cara kapitalisme

melancarkan tujuannya dengan mengakumulasi kapital, atau, menyadari

transformasi nilai guna (nilai artistik dan nilai kebudayaan) menjadi nilai tukar

(nilai ekonomi). Menurut Piliang (2003) komodifikasi tidak saja menunjuk pada

barang-barang kebutuhan konsumerisme, tetapi telah merambat ke dalam bentuk

seni dan kebudayaan pada umumnya. Komoditas dan komodifikasi adalah dua hal

yang memiliki hubungan obyek dan Proses. Komoditas dipahami sebagai suatu

segala sesuatu yang diproduksi untuk dijual. Modifikasi adalah suatu Proses

perubahan (desain dan fungsi) dalam komodifikasi.

Kemampuan berubah selalu merupakan sifat yang penting dalam

kebudayaan manusia. Tanpa itu kebudayaan (kesenian) tidak mampu

menyesuaikan diri dengan keadaan yang berubah. Soedarsono (1995) dalam

Jumal Seni Budaya mengatakan cepat atau lambat, kebudayaan selalu akan

berubah. Transformasi itu bisa berkaitan dengan bentuknya, tetapi kerap pula

(2)

Bentuk komodifikasi uis Karo dalam bab ini ini dikaji dari segi kajian

budaya melalui analisis-analisis yang menjelaskan komodifikasi produksi, nilai

artistik, nilai budaya dan distribusi.

3.1 Komodifikasi Produksi

Komodifikasi mendeskripsikan suatu cara kapitalisme melancarkan

tujuannya dengan mengakumulasi kapital, atau, menyadari transformasi nilai guna

menjadi nilai tukar. Komoditas dan komodifikasi merupakan dua hal yang

memiliki hubungan objek dan proses, salah satu prosesnya adalah komodifikasi

produksi.

Seiring dengan perkembangan zaman, tekonologi produksi uis Karo telah

banyak berubah. Perubahan ini dimulai dari perubahan alat penenun dari gedokan

hingga menggunakan alat tenun bukan mesin yang membuat masyarakat Karo

yang mulai menenun kembali. Uis yang biasanya diproduksi di Samosir, kini

sudah mulai ditenun di rumah-rumah pengrajin tanah Karo.

Dalam menjalin benang-benang menjadi sehelai kain tenun yang indah,

diperlukan sebuah alat tenun. Ada dua jenis alat tenun modern yang digunakan

oleh masyarakat indonesia, yaitu alat tenun bukan mesin (ATBM) dan alat tenun

mesin (ATM).

Setelah benang diberi warna, kemudian mulai ditenun. Benang yang

memanjang atau vertikal disebut lungsi sedangkan benang pakan adalah benang

(3)

(Kartiwa, 1989). Dengan menggunakan kedua jenis benang ini saja, sudah dapat

menghasilkan sebuah kain tenun yang bercorak polos.

Dahulu kala uis Karo ditenun melalui alat tenun tradisional yang disebut

gedogan. Alat tenun gedongan ini masih bisa kita jumpai di Pangururan, Samosir.

Alat tenun gedogan ini hanya terdiri dari bambu dan kayu untuk mengaitkan

benang lungsi saja. Bilah-bilah kayu dan bambu pada alat ini ujung-ujungnya

dikaitkan pada tiang atau pondasi rumah si penenun. Kemudian, ujung satunya

terikat pada badan penenun. Alat tenun ini digunakan oleh penenun dengan posisi

badan duduk di lantai atau tanah.

Gambar 3.1 : Peralatan tenun tradisional gedongan di Silalahi 1989 (Sumber : The Bataks)

Penggunaan alat tenun gedogan tidak ditemukan lagi di tanah Karo.

Dengan menggunakan alat tenun gedogan, proses untuk memproduksi selembar

uis Karo membutuhkan waktu yang sangat lama bahkan mencapai beberapa

(4)

Karo biasanya dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu dengan waktu

pengerjaan 9 jam sehari. Untuk memudahkan penenun, gedokan diganti dengan

ATBM (alat tenun bukan mesin). ATBM adalah alat tenun uis yang digunakan

oleh pekerja yang terbuat dari kayu. Bahan kayu yang digunakan untuk mebuat

ATBM adalah kayu jati sehingga bisa bertahan hingga puluhan tahun. ATBM

memilki prinsip yang sama dengan alat tenun gedongan. ATBM merupakan

sebuah hasil modifikasi alat tenun yang digerakkan oleh injakan kaki untuk

mengatur naik turunnya benang lungsi pada waktu masuk keluarnya benang

pakan, dipergunakan sambil duduk di kursi. Kursi yang digunakan dalam

menggunakan ATBM adalah kursi yang terbuat dari kayu, berbentuk kotak, tidak

memiliki sandaran punggung.

Menurut pardetuk.com, istilah ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) tidaklah

tepat, karena secara prinsip kerjanya merupakan peralihan ke mesin. Nama yang

lebih tepat adalah ATSM (Alat Tenun Semi-Mesin). Perkembangan jumlah

ATSM pada awalnya di tahun 1980 akhir juga terjadi karena faktor ekspansi

benang dari pulau Jawa. Sejak saat itu pemintalan benang tradisional ditinggalkan

oleh penenun.

ATBM terbuat dari kayu yang dipasangi beberapa perlengkapan, sehingga

menjadi satu unit ATBM. ATBM digerakkan secara manual dengan menggunakan

kaki dan tangan. Dengan menggunakan ATBM, penenun dapat duduk di kursi

dengan kaki mengayun pedal dan tangan menarik pengungkit sehingga pekerjaan

(5)

Gambar 3.2 : Seorang penenun dengan menggunakan ATBM

(Sumber : Dokumentas Pribadi)

Proses penenunan dengan ATBM dapat dikatakan sebagai percampuran

dari unsur tradisional dan unsur modernitas. Tradisional dikatakan karena masih

menggunakan tenaga utama yaitu tenaga manusia, modern karena memiliki fitur

otomatisasi dan pola matematis.

ATBM ini berasal dari pulau Jawa. ATBM ini merupakan bagian dari

program pemerintah Indonesia untuk dipergunakan menenun kain tradisional di

seluruh Indonesia. Pemerintah melalui departemen perindustrian dan perdagangan

menyebarkan alat tenunan ini ke semua kawasan di Indonesia termasuk ke

Kabanjahe.

Salah satu penerimannya bantuan ATBM adalah Sahat Tambun. Ia

ditunjuk oleh Dinas Koperasi dan Perdagangan Kabupaten Karo, serta Provinsi

Sumatera Utara sebagai salah satu UKM percontohan di bidang kain tenun

tradisional. Sahat Tambun merupakan pemilik usaha Tenun uis Karo Trias

Tambun. Pria kelahiran Kabanjahe yang bertahun-tahun menimba ilmu tentang

(6)

Bandung. Dia juga mempelajari detail seluk-beluk metode menenun mulai dari

alat tenun tradisional gedogan hingga alat tenun bukan mesin (ATBM ) di

Pekalongan (Jawa Tengah) dan Gresik (Jawa Timur.)

Dengan berbekal pengetahuan yang telah ia pelajari, dia menemui

pengrajin-pengrajin tenun di kedua kota tersebut dengan mempelajari dan

membandingkan kelebihan-kelebihan dari kain tenun di kedua kota tersebut.

Selain itu juga dia belajar langsung kepada para pengrajin uis Karo yang masih

setia menekuni usahanya.

Pada tahun 1992, Sahat Tambun memberanikan diri membeli satu ATBM

dari Pekalongan dan memutuskan pulang ke kampungnya, yaitu Kabanjahe untuk

mendirikan usaha tenun uis Karo. Tanah kosong di samping rumahnya menjadi

tempat berkarya para penenun tradisional yang kini memakai ATBM. Suara derit

ATBM akrab dengan keluarga Sahat serta tetangganya.

Dengan berjalannya waktu, usaha Sahat Tambun semakin berkembang.

Sebagai perusahaan modern, Sahat menjabat selaku manajer produksi, sedangkan

istrinya, Christina br Barus, sebagai manajer pemasaran. Dia pun kini mempunyai

sebuah gallery sendiri di jalan Sisingamangaraja No.1 Kabanjahe. Produk yang

dihasilkan oleh Trias Tambun antara lain : uis mangiring, uis julu, uis beka buluh,

uis ragi barat, uis ragi lurik, uis gara tudung, sarung ikat pakan dan bakal baju uis karo. Sedangkan produk yang paling umum dan diminati oleh pembeli dari

gallery Trias Tambun adalah uis nipes dan beka buluh.

Sahat Tambun mampu menepis anggapan masyarakat bahwa uis Karo

(7)

ATBM dengan mempekerjakan 15 penenun. Masing-masing alat tenun miliknya

ini mampu memproduksi rata-rata satu lembar kain dengan ukuran 1,75 meter

selama sembilan jam. Produksi uis Karo di Trias Tambun hanya 50 lembar uis per

bulan, dimana masih berkisar 10% dari kebutuhan uis Karo oleh mayrakat Karo

secara rata-rata. Sisanya, dipasok oleh pasar dari pengrajin di Samosir, Tarutung,

Medan, dan Binjai.

Usaha Trias Tambun merupakan salah satu pelopor penggunaan ATBM

dalam penenunan kain tenun tradisional Karo di wilayah Kabupaten Karo.

Kelebihan ATBM terletak pada efisiensi waktu penenunan dan mutu kain yang

lebih baik daripada gedongan. Sebagai pemilik, Trias Tambun memiliki tugas

sebagai pimpinan usaha yang mencakup smua plaksanaa segala kegiatan

penenunan di tempatnya, seperti pelaksanaan kegiatan, dan pengawasan. Dia juga

menentukan detail dan kriteria bahan baku dan ragam hias yang akan ditenun oleh

pegawainnya.

Ada 4 jenis klasifikasi pekerjaan dalam menjalankan Proses penenunan di

dalam usaha penenunanya ini yaitu, bagian pencelupan benang, bagian

penggulungan benang, bagian penenunan dan bagian teknisi ATBM. Produksi

awal penenunan ini dimulai dari pencelupan benang. Pada bagian ini,

karyawannya bertugas untuk mewarnai bahan baku berupa benang sesuai dengan

arahan pemilik. Bahan baku yang mereka digunakan adalah benang impor asal

(8)

Gambar 3.3 : Jenis-jenis benang yang dipergunakan

(Sumber : Dokumentas Pribadi)

Teknik yang digunakan pada bagian pencelupan benang masih tradisional.

Mereka mewarnai benang merteka sendiri agar uis Karo yang dihasilkan memilki

corak yang berbeda dengan podusen uis Karo yang lain. Dalam jangka waktu 2

hingga 4 minggu benang yang telah selesai di ikat dengan menggunakan teknik

ikat, benang-benang tersebut akan dicelup sesuai dengan warna yang telah

diintruksikan oleh Sahat Tambun selaku pemilik. Kulitas warna benang yang

digunakannya tidak mudah luntur jika terkena air serta memudar akibat terpaan

sinar matahari.

Setelah selesai dicelup, benang akan dibiarkan mengering dan kemudian

dibawa ke bagian penggulungan benang. Mereka menguraikan benang-benang

yang telah dicelup warna sebelumnya sehingga membentuk gulungan-gulungan

kecil yang sesuai untuk digunakan dalam penenunan. Bagian penenunan

(9)

Gambar 3.4 : Proses penggulungan benang

(Sumber : Dokumentas Pribadi)

Penenun ini merupakan penentu bagaimana produk uis ini dapat

menghasilkan produk yang berkualitas dan memenuhi keinginan palanggan atau

pemesan. Mereka harus menguasai ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Sahat

Tambun juga memperbolekan para penenunnya mengerjakan di rumah

masing-masing dengan member bahan baku serta meminjamkan ATBM nya. Selain

penenun ada juga bagian teknisi, dimana mereka bertugas untuk memperbaiki

ATBM sebagai alat utama produksi jika terjadi kerusakan saat dilakukan Proses

(10)

Gambar 3.5 : Evolusi alat tenun dari gedongan, ATBM, ATBM Jacquart dan alat

tenun semi mesin

(Sumber : weavolution.com, gutenberg.org danmainlesson.com)

Sahat Tambun juga mampu mengembangkan kemampuannya untuk

memproduksi sendiri alat tenunnya. ATBM hasil produksinya bisa digunakannya

sendiri, atau dijual ke para pengrajin uis dan ulos diluar wilayah Kabanjahe,

seperti ke Parapat dan Samosir. Seiring perkembangan teknologi, ATBM ini

kemudian ditingkatkan lagi kemampuanya dengan adanya sistem Jacquart (zakat).

Alat tenun Jacquard ditemukan oleh seorang perajin topi jerami yang bernama

Joseph Marie Charles (Jacquard) pada tahun 1804 - 1805. Usaha Trias Tambun

ini sekarang memilki 2 buah ATBM jacquard, dia secara langsung memesan dari

(11)

adalah menghasilkan berbagai jenis ragam hias dalam struktur yang kaya dan

beraneka ragam bentuk.

Gambar 3.6 : ATBM jenis Jacquart

(Sumber : Dokumentas Pribadi)

ATBM Jacquard ini dijalankan dengan sistem kartu yang dilubangi kartu

Braille yang memilki algoritma pola penenunan. Kartu-kartu yang terbuat dari

kertas duplex tersebut memberi perintah pada mesin untuk menghasilkan kain

dengan ragam hias yang tidak bias dihasilkan oleh gedokan dan ATBM biasa.

Alat tenun Jacquard memiliki sistem penggerak independen pada setiap helai

benangnya, sehingga dapat menghasilkan berbgai struktur ragam hias yang sangat

(12)

Gambar 3.7 : Sahat Tambun beserta produk Uis modifikasinya (Sumber : Sahat Tambun)

Seiring dengan perkembangan zaman di bidang fashion, Trias Tambun

juga memproduksi barang-barang fashion wanita berbahan dasar uis Karo, seperti

dompet dan tas. Barang-barang fashion hasil modifikasi uis ini dijual sebagai

karya inovasi para penenun di gallerynya yang terletak di jalan Sisingamangaraja

no. 1 Kabanjahe.

Selain Trias Tambun, ada seniman musik Karo yang bernama Averiana

Barus yang ikut memodifikasi uis Karo. Dia mengembangkan usaha kerajinan

kreatif dalam jenis fashion baik untuk wanita dan pria dengan memanfaatkan uis

(13)

Gambar 3.8 : Averiana Barus dengan karya fashionya berupa modifikasi Uis Karo (Sumber : instagram Uwish Details)

Dengan memilki merk label Uwish Details yang merupakan gabungan dari

"you wish" “uis” dan “detail” ia memproduksi modifikasi uis Karo dalam bentuk,

dompet, tas, dasi, kalung, bantal sofa hingga batik bermotif uis Karo. Semua

produk yang dia pasarkan merupakan produk hasil kerajinan tangan. Awalnya dia

hanya memanfaatkan kain tenun uis Karo yang sudah usang untuk digunakan

sebagai bahan untuk merajut produk aksesoris busana. Kemudian dia

memamerkan karyanya tersebut di berbagai media sosial seperti Instagram.

Dengan semakin banyak produk yang dia pamerkan, semakin ramai pula calon

pembeli yang menanyakan ketersediaan produk modifikasi uis Karo tersebut.

Sekarang dia pun semakin serius menggarap produk aksesoris busana dan kini

memasok bahan uis Karo dari pengrajin tenun di sekitar kota Medan.

Produk fashion hasil modifikasi uis Karo yang ia pasarkan tidak terlalu

mengedepankan nilai-nilai filosofis uis Karo, tetapi sebagai seorang seniman

(14)

produknya. Kini produk Uwish Details banyak tersebar ke daerah yang relatif

banyak dihuni oleh masyarakat Karo perantauan, seperti Riau, Jakarta, Bandung,

Papua termasuk luar negeri seperti belanda, Malaysia dan jepang.

Komodifikasi budaya terjadi pada proses produksi uis Karo. Proses

penenunan kini dibuat dengan sistem industri. Motivasi para pelaku di penenunan

yang semakin business oriented. Komodifikasi dapat dilihat disini yaitu

mengubah nilai pada suatu produk yang tadinya hanya memiliki nilai guna

kemudian menjadi nilai tukar (nilai jual) di mana nilai kebutuhan atas produk ini

ditentukan lewat harga yang sudah dirancang oleh produsen (Mosco, 2009).

Pada kasus ini, Tenun Trias Tambun menawarkan harga yang bervariasi

untuk setiap kain tenun yang mereka hasilkan berkisar antara harga Rp 250.000

hingga Rp 1.000.000 untuk setiap helai. Harga ini tidak mengikuti harga uis Karo

yang ada di pasaran. Harga tersebut dipengaruhi faktor lamanya pengerjaan,

tingkat kerumitan hingga jenis bahan yang dipakai. Kini para pengrajin uis Karo

semakin semakin pragmatis dan mengedepankan nilai-nilai ekonomi.

Perkembangan zaman yang membawa mereka mengerti tentang nilai-nilai

ekonomi, sehingga membuka cakrawala baru bagi pengrajin uis Karo.

3.2 Komodifikasi Nilai Artistik

Komodifikasi merupakan suatu Proses memodifikasi suatu produk

tradisional (uis Karo) dengan mengalami perubahan ukuran, bentuk (tradisional

menjadi modern), dan penyederhanaan, sesuai dengan permintaan konsumen dan

(15)

merupakan upaya untuk menjadikan segala sesuatunya (kebudayaan) untuk

meraup keuntungan. Komodifikasi nilai (content) menjelaskan bagaimana nilai

kebudayaan yang diproduksi menjadi komoditas yang ditawarkan.

Proses komodifikasi ini menghasilkan berbagai bentuk produk baru yang

berbeda dari bentuk aslinya. Proses perubahan bentuk tersebut muncul dari

inovasi dan kreatifitas desainer, konsumen, hingga industri itu sendiri, sebagai

suatu karya seni yang memiliki nilai ekonomi. Perubahan bentuk tersebut harus

memilki nilai yang bisa dijual atau diperdagangkan, nilai tersebut adalah nilai

artistik dan nilai kultural. Nilai artistik (artistic value) adalah nilai yang dapat

memanifestasikan suatu seni atau keterampilan dalam melakukan suatu pekerjaan

dan nilai budaya (cultural value) adalah nilai yang dapat memberikan atau

mengandung hubungan yang mendalam dengan suatu masyarakat, peradaban, atau

kebudayaan.

Jika dikaji dari nilai seni rupa, uis Karo merupakan sebuah karya tenun

ikat yang memiliki nilai kebudayaan, dan nilai artistik. Nilai artistik uis Karo uis

Karo merupakan suatu objek seni rupa yang bisa dilihat dan dikomodifikasi dari

segi modifikasi, bentuk fisik, motif, warna hingga penggabungan dengan unsur

yang lain. Nilai kebudayaan uis Karo merupakan nilai-nilai keluhuran yang

(16)

Gambar 3.9 : Nilai artistik Uis Jujung Junjungen (Karya Stilisasi Penulis)

Gambar 3.10 : Nilai artistik Uis Gobar Dibata (Karya Stilisasi Penulis)

(17)

Gambar 3.12 : Nilai artistik Uis Gatip Gewang (Karya Stilisasi Penulis)

Gambar 3.13 : Nilai artistik Uis Beka Buluh (Karya Stilisasi Penulis)

(18)

Gambar 3.15 : Nilai artistik Uis Julu (Karya Stilisasi Penulis)

(19)

Gambar 3.17 : Nilai artistik Uis Nipes Merah (Dokumen Penulis)

Gambar 3.18 : Nilai artistik Uis Nipes Cokelat (Dokumen Penulis)

Uis Karo modifikasi adalah uis yang pengerjaannya dipadu dengan hiasan

atau unsur lainnya sehingga tidak lagi murni tenunan. Proses modifikasi pada uis

yang terjadi saat ini telah dilakukan dari penenun, pengguna hingga desainer.

Modifikasi dapat diartikan sebagai bentuk perubahan dan penyesuaian bentuk dari

bentuk asal pada bentuk lain yang sesuai dengan kebutuhan.

Modifikasi yang dilakukan pada uis Karo tidak saja terbatas pada ukuran,

motif, warna tetapi juga jenis kain tenun yang dihasilkan semakin bervariasi

(20)

selendang atau sarung umumnya memiliki unsur-unsur tambahan seperti hiasan

berupa bordiran, tambahan renda, sulaman, manik-manik, tulisan, dan berbagai

jenis kain.

Bapak Sahat Tambun adalah salah seorang yang memodifikasi uis Karo

dengan menambahkan unsur lain ke dalam uis seperti ragam hias khas Karo. Dia

berpendapat “Orang bosan dengan motif monoton, dan uis kini bisa dibuat

dengan aneka warna dan disain sesuai selera” Dia mengembangkan berbagai

ragam hias ke dalam uis Karo bersama Bapak Adrianus Ganjangen Sitepu (A.G.

Sitepu).

Dengan memilki mesin ATBM jenis Jacquard yang dia beli dari

Pekalongan, dia memberi ragam hias asli Karo seperti, ragam hias alas (indung

bayu-bayu), ragam hias lipan nangkih tongkeh, ragam hias lukis para-para/ gundur mangalata dan ragam hias lainnya ke dalam uis Karo. ATBM jacquard

memiliki sistem penggerak independen pada setiap helai benangnya, sehingga

mampu menghasilkan struktur ragam hias yang beragam. Hasil ragam hias dari

ATBM Jacquard dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Ragam hias ampik-ampik alas (indung bayu-bayu) merupakan gabungan

dari ragam hias bunga gundur, duri ikan, tampune-tampune, paku-pakau,

(21)

Gambar 3.19 : Penerapan Ragam hias ampik-ampik alas pada Uis Nipes (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Ragam Hias lipan nangkih tongkeh ini merupakan motif asli suku Karo

yang bersal dari bentuk hewan lipan atau kaki seribu. Ragam hias ini

melambangkan lipan atau kaki seribu yang sedang merayap pada kayu yang sudah

ditebang. Ragam hias ini biasanya diaplikasikan ke melmelem yaitu dapur rumah

adat dan gantang beru-beru.

(22)

Perubahan pada ragam hias juga terjadi pada perjalanan uis. Dahulu uis

Karo hanya bermotif garis-garis geometris, sekarang para penenun mencoba

mengeksplorasi lebih dalam banyak ragam hias yang ada disekitar. Penenun

memilih ragam hias yang biasanya diterapkan pada bangunan dan alat-alat

perkakas masyarakat Karo dahulu ke bentuk uis Karo tersebut.

Selain ornamen, pemberian material lain seperti tulisan juga diterapkan

pada uis Karo. Kata-kata yang terdapat pada uis Karo ini diharapkan menjadi

kata-kata berkat buat si pemakai uis. Kata-kata yang tertulis di uis tersebut juga

mampu mewakili identitas sang pemakai.

Gambar 3.21 : Uis Nipes dengan penambahan tulisan Mejuah-juah dan Tanah

Karo Simalem

(Sumber : Legacy in Cloth, Batak textile of Indonesia: Catalog 2.8)

Seiring dengan perkembangan zaman, bahan baku uis Karo tidak lagi

berasal dari kapas melainkan dari benang yang yang diimpor dari Cina dan India.

bahan baku benang pakan dan lungsi juga ikut mengalami perkembangan, yang

(23)

Dengan masuknya bahan-bahan impor, warna benang pun semakin bercahaya dan

banyak pilihan. Sehingga uis Karo pun memilki banyak sekali warna. Salah

satunya adalah uisnipes ragi barat yang seharusnya berwarna merah dimodifikasi

menjadi warna hitam.

Gambar 3.22 : UisNipes Ragi Barat dengan warna hitam dan coklat (Sumber : Uwish Details)

Corak warna uis nipes mulai mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Hal ini disebabkan oleh masyarakat Karo yang memesan uis nipes ingin warna

dan motif yang beda dengan motif yang lain. Penenun berpendapat, semakin sulit

motif yang dikerjakan, maka semakin mahal harga uis nipes tersebut. Modifikasi

uis nipes sekarang ini juga menandakan status orang jika seseorang mendatangi

suatu pesta adat. Jenis warna yang ada pada uis nipes juga memiliki fungsi

sendiri-sendiri, seperti warna agak kegelapan biasanya dipakai untuk acara duka,

sedangkan warna ceria seperti warna merah lebih sering dipakai ke pesta

(24)

Modifikasi uis Karo secara ekstrim juga dilakukan oleh

masyarakat-masyarakat kreatif seperti Averiana Barus pada karya-karyanya di Uwish Details.

uis Karo kini yang telah mereka hasilkan menjadi barang pakai seperti bahan jas,

rompi, syal, gaun terusan wanita, kain gorden, bed cover, taplak meja, bakal baju,

hiasan dinding, aneka tas, dompet, topi, serta aneka cindramata fashion lainnya.

(25)

Gambar 3.24 : Modifikasi Uis Karo jenis Uis Julu (Sumber : Berbagai Sumber)

(26)

Dalam hal modifikasi ini, uis Karomerupakan artefak budaya yang dapat

dikembangkan sebagai modal awal pada sebuah produk ekonomi kreatif, dimana

uis merupakan bentuk kekayaan intelektual secara kebudayaan yang dapat

dirubah, reka bentuk dan dikembangkan menjadi materi ekonomis yang berguna

bagi produsen dan konsumen.

Gambar 3.26 : Ilustrasi sederhana komodifikasi bentuk pada Uis Karo (Sumber : karya penulis)

Jenis uis Karo yang banyak dimodifikasi adalah beka buluh dan uisnipes.

Beka buluh banyak dimodifikasi karena posisi beka buluh diletakkan pada kepala

yang melambangkan kepemimpinan. Beka buluh ini juga memiliki khas warna

gembira, tegas dan elegan. Kain adat ini merupakan simbol wibawa dan tanda

kebesaran bagi seorang Putra Karo. Sedangkan uis nipes banyak dimodifikasi

karena uis nipes merupakan uis yang paling banyak memiliki corak dan warna.

Uis nipes juga memilki kesan elegan karena uis ini banyak dimodifikasi dan

(27)

Modifikasi uisnipes dapat kita lihat dari warna yang lebih bervariasi atau

beranekaragam, sehingga uis ini lebih berkreasi dan menarik. Warna yang

berkembang pada masa kini bernuansa cerah dan meriah, yakni: warna merah,

kuning, hijau, orange, coklat, ungu, dan emas.

3.3 Komodifikasi Nilai Kebudayaan

Dalam kehidupan manusia di dunia ini, ada sebuah aturan yang di sepakati

bersama untuk membatasi suatu tindakan, gerak, langkah dan cara pada setiap

kegiatan manusia. Aturan-aturan tersebut sering disebut dengan istilah pakem,

jadi pakem merupakan suatu ketetapan atau aturan yang sudah ada sejak nenek

moyang kita untuk berfikir dan berperilaku dalam bermasyarakat. Aturan ada

terbentuk dari latar belakang sejarah, norma-norma yang melekat, pandangan,

pengalaman dan praktek hidup dari masyarakat penciptannya. Setiap suku

memilki pakem yang berbeda dengan suku lainnya.

Uis Karo merupakan sebuah karya tenun ikat yang memiliki nilai

kebudayaan, Nilai kebudayaan uis Karo merupakan nilai-nilai keluhuran adat

yang menjadi panutan dalam menuntun masyarakat Karo dalam memproduksi dan

pemakaiannya. Setiap jenis uis Karo memiliki masing-masing nilai kebudayaan

yang telah ditetapkan oleh leluhur masyarakat terdahulu berdasarkan konsep

ruang dan waktu sebagai kearifan lokal masyarakat Karo. Nilai kebudayaan

tersebut bias dilihat dari aturan-aturan dalam bentuk, fungsi, cara pemberian dan

(28)

Seiring dengan perkembangan zaman, aturan-aturan ini semakin memudar,

menghilang seiring dengan perubahan struktur masyarakat Karo yang semakin

larut dalam modernisme. Anak-anak muda suku Karo tidak begitu hapal dengan

jenis dan fungsi uis Karo dalam melakukan suatu adat, baik pernikahan, mengket

rumah atau pesta adat lainnya. Kini mereka memakai uis Karo menyesuaikan

dengan perkembangan zaman dengan mengadopsi gaya-gaya terbaru dalam

memakai selendang/kain dengan alasan kekinian.

Gambar 3.27 : Modifikasi aturan/cara memakai uis dengan unsur kekinian

(29)

Gambar 3.28 : Modifikasi aturan/cara memakai uis dengan unsur kekinian

dengan istilah blazer-ed, batik-skirt dan lengthy warmer (Sumber : Thierry Samuel)

Gambar 3.29 : Modifikasi aturan/cara memakai uis dengan unsur kekinian

dengan istilah men's bandana, tippy front dan the tassel (Sumber : Thierry Samuel)

Dalam acara adat tradisional, sekarang masyarakat Karo cenderung

menyerahkan segala keperluannya kepada desainer yang bertugas menjahit baju

(30)

buat para pengantin. Masyarakat Karo hanya mencoba menuruti aturan-aturan

tanpa mengetahui fungsi-fungsi uis tersebut. Masyarakat Karo lebih suka

menyesuaikan dengan nuansa atau tema-tema terupdate yang diinginkan oleh

pemakai busana tradisonal Karo tersebut tanpa memperhatikan motif dan

ketepatan penggunaaan sesuai fungsinya.

Gambar 3.30 : Perubahan nilai-nilai kebudayaan dalam ngosei adat. (Sumber : Saksi Sebayang dan Cornelius Ginting )

Hajjah Nurlaily Qelana, merupakan sesepuh bidan pengantin dan pemilik

Rumah Busana Adat Nusantara Diurna, berpendapat pengantin Karo baik wanita

dan pria memakai uis Karo untuk bawahan dan selendang, bukan songket.

Songket merupkan budaya melayu dan tidak dikenal dalam tradisi busana

tradisional masyarakat Karo. uis Karo yang dipakai pada pengantin wanita

harusnya berjumlah 3 lapis dan dililit putar ke seluruh panggul. Bukan sekadar

digantung di pinggang samping. Kini hampir semua pengantin tradisioanl Karo

memakai songket sebgai selendang pada pernikahan mereka.

Dia juga berpendapat hal ini terjadi akibat bebasnya berkreasi dan

modifikasi busana adat tradisi saat ini oleh kaum muda. Idealisme anak muda

(31)

mudah diikuti masyarakat, sehingga masyarakat tidak paham busana adat

tradisional yang masih asli.

Di zaman globalisasi ini, pengrajin dan desainer saat ini memiliki

keleluasaan untuk berkreasi terhadap uis Karo. Mereka mampu menangkap apa

kemauan pasar dan trend yang sedang hangat. Beberapa bentuk produksi berubah

dalam Proses dan produk yang dihasilkan. Bentuk visual merupakan aspek paling

fundamental dalam sebuah desain. Sekarang ini uis Karo didesain secara radikal

dalam bentuk kemeja, jaket, sandal, gorden, penutup meja, dompet, bed cover,

dan fashion lainnya. Ini merupakan salah satu pola perindustrian dengan

menggunakan budaya menjadi komoditas.

Pada era klasik/pramodernisme, segala proses produksi berpola “form,

follows, meaning “ yang berarti segala bentuk hasil produksi mengikuti makna

dari produk tersebut. Contohnya uis Karo ditenun untuk pakaian atau penghangat

tubuh. Dengan berkembangnya perindustrian di era modernisme, terjadi gejala

baru, yakni “form, follows, function” artinya segala bentuk hasil produksi dibuat

berdasarkan fungsinya. contohnya uis Karo ditenun dengan beberapa fungsi

khusus seperti uis buat pernikahan, uis buat acara duka dan uis Karo lainnya.

Pada masa postmodern ini, industri uis Karo termasuk ke dalam pola

form, follows, fun”, yang berarti segala bentuk hasil produksi harus dapat

menyenangkan si pemakai atau konsumen. Contohnya uis Karo diubah menjadi

barang fashion seperti rok, kemeja, jas, dan fashion lainnya. Bentuk-bentuk hasil

produksi ini hanya menawarkan kesenangan bagi pemakai, terjadilah industri pola

(32)

dengan intensitas fun yang ditawarkannya. Nilai-nilai pakem, makna dan fungsi

tidak lagi menjadi prinsip dalam desain posmodernime. Posmodernisme

mempermainkan keseriusan ekplorasi formal, dan estetika produksi-massa yang

baku, desain posmodernisme juga mengambil dan mengaduk-aduk gaya dari masa

lalu.

Gambar 3.31 : Modifikasi yang tidak memilki nilai kesakralan asli uis Karo (Sumber : Sora Surilo)

Pada masa industri posmodern, desainer berdiri di posisi sentral dalam

proses komodifikasi uis Karo. Desainer dengan kreatifitasnya mampu memberi

ide-ide perubahan ke dalama masyarakat tanpa memperdulikan apakah ide

tersebut melanggar pakem atau tidak. Desainer mampu membuat objek

kebudayaan menjadi objek kesenangan belaka (fun) contohnya, modifikasi uis

(33)

Gambar 3.32 : Pola “form, follows, fun” pada pemakaian uis Julu (Sumber : Uwish Details)

Menurut Dobie (2009), komodifikasi merupakan pengaruh paham

kapitalisme pada psikis konsumen dalam menilai barang bukan lagi dari

kegunaannya (use value), namun dari merek (sign value) dan nilai tukarnya

(exchange value). Membeli kemeja uis Karo bukan karena semata-mata dipakai

untuk menjadi pakaian, tapi karena kemeja tersebut ditenun. Kita membeli jas

tersebut bukan karena hanya berguna saja, namun untuk tujuan utama adalah

mengesankan orang lain.

3.4Komodifikasi Distribusi

Distribusi merupakan suatu proses yang menunjukkan penyaluran hasil

produksi dari produsen sampai ke tangan masyarakat konsumen. Produsen artinya

orang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan produksi. Konsumen

artinya orang yang menggunakan atau memakai barang/jasa dan orang yang

melakukan kegiatan distribusi disebut distributor. Distribusi merupakan suatu

(34)

peran distribusi barang dan jasa dapat sampai ke tangan konsumen. (Griffin,

2006).

Pada zaman modern ini, pedangang yang menjual uis Karo masih

menjalankan sistem penjualan secara tradisional. Penjual biasanya lebih bersifat

menunggu datangnya pembeli ke lapak-lapak dagangan mereka. Salah satu pasar

tradisional di tanah Karo yang terkenal dan menjual uis Karo adalah Pusat pasar

kabanjahe. Biasanya penualan uis Karo ini ramai ketika hari senin, yaitu hari

pasar menurut masyarakat Karo. Selain itu, sentra penjualan uis Karo di sumatera

utara terdapat di Pusat Pasar, Medan Mall dan Pajak Horas di Siantar. Sentra

penjualan uis Karo biasanya bersamaan dengan penjualan Ulos Batak.

Produk uis Karo dapat dipasarkan dengan memakai saluran distribusi

langsung di pasar. Distribusi langsung berarti produk yang dihasilkan langsung

dijual pada konsumen. Bentuk distribusi langsung ini merupakan bentuk

komunikasi lansung dari pedagang dengan pembelinya di pasar tradisional.

Uis yang dijual pada pasar tradisional, disusun bertumpuk-tumpuk di

depan lapak dan didalam lapak. Walaupun mereka memilki lemari kaca, uis

tersebut hanya disusun bertumpuk-tumpuk dengan memanfaat kan sisa ruang.

Pada tiap helai uis, tidak terdapat price tag sehingga Pembeli tidak mengetahui

harga asli. Oleh sebab itu komunikasi menjadi sangat penting dalam pembentukan

(35)

Gambar 3.33 : Suasana penjualan uis Karo di pajak kain Kabanjahe (Sumber : Dokumetasi Pribadi)

Pada distribusi tenun Sahat Tambun memiliki sistem distribusi langsung

penjualan yakni pada usaha penenunan dan sebuah gallery yang bernama Galleri

Tenun Trias Tambun, Kedua lokasi tersebut menjadi produksi sekaligus tempat

penjualan. Lokasi usaha penenunan ini berada pada Jalan Sudirman No. 65

Kabanjahe dan lokasi gallerinya terdapat di.jalan Sisingamangaraja No. 1.

Wilayah distribusi utama pemasaran uis Karo tersebut ini berada di pusat kota

Kabanjahe, sehingga hanya mampu menjangkau perdagangan di wilayah

Kabanjahe saja. Para penenun juga dapat ikut serta dalam mendistribusikan uis

Karo dengan bapak Sahat Tambun beserta istrinya Christina br Barus.

Dalam mengembangkan usahanya, Trias Tambun juga gencar melakukan

promosi. Mereka memilih melakukan promosi jenis mouth to mouth (mulut ke

mulut) dibandingkan dengan teknik promosi yang lain. Kelebihan promosi mouth

to mouth ini irit biaya, bahkan bisa dengan tanpa mengeluarkan biaya. Dengan

jenis promosi ini, pelanggan yang dating menjadi orang yang berperan

(36)

pelanggan yang setia hingga komunitas tersebdiri. Selain itu sekarang mereka

mampu membangun sebuah webite uiskaro-triastambun.com mempromosikan

uasaha uis Karo kepada dunia luar.

Gambar 3.34 : Penjualan modifikasi uis Karo secara online (Sumber :qlapa.com dan uisKaro-TriasTambun.com)

Pameran kerajinan juga mampu mempromosikan hasil produksi mereka.

Contohnya Trias Tambun, produk mereka telah mengikuitu berbagai Exhibitions

pameran tenun kelas nasional seperti :

1. SMESCO festival di gedung Smesco Jakarta - Kementerian Koperasi dan

UKM 26-30 Agustus 2004

(37)

3. Pekan Produk Budaya Indonesia JCC 11-15 Juli 2007,

4. Gelar Tenun Tradisional Indonesia, JCC 12-16 desember 2007,

5. Adikriya Indonesia Gelar Karya

Dalam hal ini media sangat berperan tinggi dalam mempromosikan

dagangannya kepada konsumen. Keunggulan media sosial dalam pemasaran

dibanding media promosi laiinya adalah

1. Membantu mencari target konsumen lebih efektif

2. Menemukan konsumen baru dan memperluas target pasar

3. Memudahkan konsumen untuk memberikan masukan secara langsung

4. Mengembangkan target pasar

5. Melihat usaha yang sama pada competitor

6. Membagikan informasi dagangan lebih cepat

7. Membantu konsumen menjangkau bisnis anda

8. Lebih dekat dengan konsumen

9. Biaya Yang Minim

Para pelaku usaha ini juga rutin melakukan penjualan uis Karo melalui

jasa website e-commerce seperti olx, berniaga, bukalapak, tokopedia, dan forum

(38)

Perbedaan uis Karo Tradisonal dan uis Karo Modifikasi

uis Karo Tradisonal Modern

Alat Tenun Gedongan ATBM

Cara pembuatan Tradisional Modern, Dijahit, Dilem

Bahan Dari alam Benang import, Karet, Kulit, Katun

Jenis Ragam

Hias hanya berbentuk geometris bermacam-macam, perpaduan dengan ragam hias tradisional Karo

Jenis Warna berdasarkan aturan adat berwarna-warni

Bentuk hanya sebatas kain Bentuknya bermacam-macam

Fungsinya hanya sebagai kain adat Pemakaiannya sebagai aksesoris, fashion

Pemasarannya pasar tradisional modern

Tabel 3.1 : Tabel Perbedaan uis Karo Tradisional dan uis Karo Modifikasi

3.5Komodifikasi Uis Karo sebagai karya Estetika Postmodern

Komodifikasi uis Karo merupakan sebuah fenomena perubahan yang

terjadi pada uis dalam bentuk warna, motif dan bentuk. Komodifikasi pada

umumnya dilakukan oleh desainer uis dengan mencampurkan bahan-bahan diluar

bahan asli uis Karo yang disebut dengan “kolase”. Kolase merupakan tehnik

pembuatan sebuah karya seni rupa dua dimensi yang menggunakan berbagai

macam paduan bahan. Ide mencampurkan uis Karo sebaga produk budaya

(39)

Pada era klasik/pramodernisme, segala proses produksi berpola “form,

follows, meaning “ yang berarti segala bentuk hasil produksi mengikuti makna

dari produk tersebut. Contohnya uis Karo ditenun untuk pakaian atau penghangat

tubuh. Dengan berkembangnya perindustrian di era modernisme, terjadi gejala

baru, yakni pola “form, follows, function”, artinya segala bentuk hasil produksi

dibuat berdasarkan fungsinya. contohnya uis Karo ditenun dengan beberapa

fungsi khusus seperti uis buat pernikahan, uis untuk acara duka dan acara adat

lainnya.

Pada masa postmodern ini, industri uis Karo termasuk ke dalam pola

form, follows, fun”, yang berarti segala bentuk hasil produksi harus dapat

menyenangkan si pemakai/konsumen. Contohnya uis Karo diubah menjadi barang

fashion seperti rok, kemeja, jas, dan fashion lainnya. Bentuk-bentuk hasil

produksi ini hanya menawarkan kesenangan bagi pemakai, terjadilah industri pola

baru yang tidak hanya menawarkan barang produksi, namun barang produksi

dengan intensitas fun yang ditawarkannya. Nilai-nilai budaya, makna dan fungsi

tidak lagi menjadi prinsip dalam desain posmodernime. Posmodernisme

mempermainkan keseriusan ekplorasi formal, dan estetika produksi-massa yang

baku (pakem), desain posmodernisme juga mengambil dan mengaduk-aduk gaya

dari masa lalu.

Menurut Charles Jencks, dalam buku What is Post-modernism? New York:

St Matin’s Press, Posmodernisme adalah campuran antara macam-macam tradisi

dan masa lalu. Posmodernisme adalah kelanjutan dari modernisme, sekaligus

(40)

banyaknya pilihan, konflik, dan terpecahnya berbagai tradisi, karena heterogenitas

sangat memadai bagi pluralisme. Piliang (2003) melihat lima idiom wacana

estetika postmodern adalah; pastiche, parodi, kitsch, camp, dan skizofrenia.

Konsep-konsep estetik tersebut secara luas telah digunakan sebagai model

pemuatan makna-makna, dan juga anti makna.

Gaya desain dan landasan filsafat postmodern adalah :

1. Bukan berdasarkan dogma

9. Hilangnya batas antara high dan mass culture

10.Melayani tuntutan komersial

11.Selalu berhubungan dengan sejarah seni dan desain

12.Bentuk klasik dibungkus bentuk tradisional mutakhir

Postmodernisme adalah kondisi ketika kebudayaan memalingkan mukanya

ke masa lalu, lewat kecenderungan pastiche yaitu istilah yang mengacu pada

pengertian keberadaan pinjaman (terutama) unsur-unsur pada seni dan budaya

masa lalu (Piliang, 2003: 209). Suatu pinjaman yang dimaksud dapat berupa

(41)

estetika itu sendiri. Hasil dari pinjaman dari masa lalu tersebut, dapat ditegaskan

bahwa pastiche merupakan suatu bentuk imitasi murni, tiruan, atau duplikasi

sesuatu dari masa lalu.

Postmodern merayakan warisan-warisan budaya masa lalu dalam rangka

mengangkat dan mengapresiasinya (Pilliang, 2010). Pastiche mengambil

bentuk-bentuk teks atau bahasa estetik dari berbagai fragmen sejarah, sekaligus

mencabutnya dari semangat zamannya dan menempatkannya kedalam konteks

semangat zaman masa kini. pastiche merupakan imitasi murni, yang menjadikan

desain kehilangan pamornya, dan yang ada hanyalah budaya desain yang

dijiplaknya. Karena itu pula, pastiche juga dapat disebut satu bentuk parodi

sejarah atau menurut Umberto Eco “perang terhadap sejarah” (Piliang, 2003).

Komersialisasi budaya merupakan suatu proses membuka pintu lebih luas

kepada desainer-desiner. Desainer memiliki kebebasan berekspresi dengan

memodifikasi uis Karo. Desainer modifikasi ini bias disebut dengan seniman

postmodern. Mereka mampu membuktikan, bahwa tradisi dan tren dapat berjalan

berdampingan dengan suatu karya modifikasi menarik. Karya modifikasi uis Karo

adalah termasuk karya pastiche (peminjaman unsur-unsur budaya masa lalu),

miskin orisinalitas, bersifat memakai, dan mengimitasi ide yang lain. Penggunaan

bakal uis Karo sebagai bahan suatu karya adalah sebuah karya pastiche, di mana

keberadaan uis Karo merupakan sebuah karya yang memilki bentuk, warna dan

ragam hias yang sudah pernah ada.

Pengulangan dalam dunia fashion menjadi bagian dari trend, dan teks baru

(42)

Pengulangan dalam aplikasi kontemporer mengakulturasi unsur lama dengan

semangat kebaruan yang berupa gagasan, kemajuan teknologi

visualisasi/pencitraan, dan menimbulkan kesan keluar dari paritas, dikemas

menjadi satu kesatuan. Contohnya seperti pada produk fashion komodifikasi uis

Karo yaitu baju kemeja hasil modifikasi uis Karo yang memakai ragam hias uis

Karo. Kemeja ini memilki kesan, makna dan pesan pencitraan visual yang

memunculkan kebudayaan asli Karo yang sejatinya tidak dipakai pada kemeja.

Gambar 3.35 : Semangat pastiche pada kemeja mamre GBKP (Sumber : Nensi Depari)

Seni posmodern memberi pengertian, memungut masa lalu sebgai

penolakan atas modernsime dunia sekarang ini. Seni postmodern memperlihatkan

gejala simplifikasi, daur ulang gaya, serta pembauran batas batas antara seni dan

budaya massa. seni postmodern pada dasarnya bebas dimasukkan berbagai macam

kondisi, pengalaman, dan pengetahuan jauh melampaui obyek yang ada. Bentuk

jas dan dasi dengan motif uis Karo merupakan percampuran dua kebudayaan

seperti budaya barat dan budaya masyarakat Karo. Unsur-unsur dua kebudayaan

(43)

Hutcheon (1985) mendefinisikan parodi, sebagai suatu bentuk imitasi,

akan tetapi imitasi yang dicirikan oleh kecenderungan ironik. Di dalam lingkup

desain, parodi adalah desain yang diciptakan untuk tujuan mengekspresikan

perasaan tidak senang, tidak puas, tidak nyaman berkenaan dengan intensitas gaya

atau karya masa lalu yang dirujuk. Parodi merupakan bentuk representasi

pelencengan, penyimpangan, dan plesetan makna representasi palsu (false

representation). Piliang (2003) menekankan bahwa parodi sebagai satu bentuk

diskursus selalu memperalat diskursus pihak lain, untuk menghasilkan efek

makna yang berbeda. Sebagai satu bentuk representasi palsu, dalam diskursus

parodi terdapat dua suara yang berperan. Dua suara ini tidak saja

direpresentasikan dalam diskursus parodi, akan tetapi juga menunjuk pada dua

konteks pengungkapan yang berbeda, yaitu pengungkapan yang ada sekarang dan

sebelumnya. Pengungkapan yang terdahulu digunakan oleh seniman dan desainer

untuk tujuan ekspresinya.

(44)

Karya-karya postmodern juga menampilkan produk seni kitsch yang

dianggap selera rendah, sampah artistik. Kitsch' yang didefinisikan sebagai segala

jenis seni palsu (pseudo-art) murahan dan tanpa selera. Kitsch mengadaptasi satu

medium ke medium lain atau satu tipe seni ke tipe lainnya. Kitsch didasarkan

oleh semangat reproduksi, adaptasi dan simulasi. Produksi kitsch lebih didasarkan

oleh semangat memassakan seni tinggi dan membawanya menjadi produksi

massal melalui proses demitoisasi nilai-nilai. Piliang (1999) mengatakan bahwa di

dalam desain produk, banyak didapati penggunaan imitasi bahan yaitu

penggunaan bahan-bahan tiruan untuk memberikan efek dan kesan bahan alamiah.

Produk-produk komodifikasi uis karo juga banyak memakai bahan-bahan bukan

asli tenun dan didesain hingga memberikan kesan tradisional.

Gambar 3.37 : Gaun dengan kesan Uis Julu yang tidak murni 100% tenun (Sumber : Cinta A&r Karo Rumah Mode)

Camp adalah satu idiom estetik yang masih menimbulkan pengertian

kontradiktif yang sering diasosiasikan dengan pembentukan makna, atau

(45)

pembentukan makna, dan di sisi lain justru diasosiasikan dengan kemiskinan

makna. camp merupakan satu model “estetisisme” atau satu cara melihat dunia

sebagai satu fenomena estetik bukan dalam pengertian keindahan atau

keharmonisan, melainkan dalam pengertian “keartifisialan” dan penggayaan.

Camp merupakan jawaban atas kebosanan, dan memberikan jalan keluar

ilusif dari kedangkalan, kekosongan, dan kemiskinan makna dalam kehidupan

modern, melalui cara mengisinya dengan pengalaman melakukan peran dan

sensasi lewat ketidaknormalan dan ketidakorisinilan.

Orisinalitas bukanlah menjadi masalah penting dalam estetika postmodern.

Ini terlihat pada karya-karya champ. Pada karya champ ini terjadi penambahan

atau pengayaan sebagai upaya pengindahan yang dianggap berlebihan. Estetika

champ lebih tertarik pada permainan dari pada makna.

Sebagai satu bentuk seni, camp menekankan dekorasi, tekstur, permukaan

sensual dan gaya, dengan mengorbankan isi. Camp sangat anti dengan sifat

alamiah, yang dalam hal ini bertolakbelakang sengan kitsch. Bentuk-bentuk

komodifikasi uis karo hanya memadukan berbagai ragam hias dengan tenun asli

karo tanpa mengetahui fungsi asli dari ragam hias dan uis tersebut. Hal ini

merupakan suatu bentuk dari teriakan lantang menentang kebosaan formal bahwa

bentuk, fungsi dan desain uis karo dapat bermacam-macam. Salah satu contoh

champ pada komodifikasi uis karo adalah penggunaan uis beka buluh yang

seharusnya hanya boleh dipakai oleh laki-laki, kini wanita juga boleh

(46)

Gambar 3.38 : Makna champ pada gaun wanita (Sumber : Sora Surilo)

Menurut Baudrillard, estetika posmodern juga ditandai dengan kekacauan

makna, dimana terjadi keterputusan pada rantai penandaan. Kesimpangsiuran

makna ini disebut schizophrenia, dimana bentuk-bentuk dipermainkan dalam

kerangka perubahan, perceraian, pergeseran, ketimbang keselesaian, kesatuan dan

integritasnya. Dalam dunia kebudayaan dan seni, istilah skizofrenia digunakan

hanya sebagai metafora untuk menggambarkan persimpangsiuran dalam

penggunaan bahasa. Kekacauan pertandaan tersebut ada pada gambar, teks, atau

objek. Pada sebuah karya seni, estetika skizofrenia dapat dilihat dari keterputusan

dialog antar elemen yang tidak lagi berkaitan sesamanya sehingga makna sulit

ditafsirkan (Piliang, 2003).

Skizofrenia merupakan istilah psikoanalisis yang pada awalnya digunakan

untuk menjelaskan fenomena psikis dalam diri manusia (Piliang, 2003). Namun

demikian dalam perkembangannya wacana ini berkembang dan digunakan untuk

(47)

(Lacan), fenomena social ekonomi, sosial politik (Deleuze dan Guattari), dan

fenomena estetika (Jameson).

Pada karya seni postmodern, bahasa estetika skizofrenia merupakan salah

satu bahasa yang dominan, meskipun bahasa itu sudah ada pada era sebelumnya.

Dalam diskursus postmodern, estetika skizofrenia dihasilkan dari

persimpangsiuran penanda, gaya, dan ungkapan dalam satu karya, yang

menghasilkan makna-makna kontradiktif, ambigu, terpecah, atau samar-samar

(Piliang, 2003). Salah satu contoh estetika skizofrenia pada komodifikasi uis karo

adalah dipakainya uis karo pada acara-acara bukan adat sehingga menghasilkan

kekacauan makna terhadap uis karo tersebut.

Gambar 3.39 : Makna skizofrenia pemakaian uisbeka buluh sebagai pohon natal

pada gereja GIKI

(Sumber : Nuah Tarigan)

Dari sekian banyak bentuk bahasa estetika yang dipakai dalam karya

postmodern produk modifikasi uis karo, semuanya adalah bentukan dari peniruan

(48)

karya postmodern adalah kreatifitas sang desainer supaya desain tidak kehilangan

keotentikan, orisinalitas dan mengahasilkan makna yang terkesan ambigu. Karya

tersebut menggunakan estetika 'peniruan' terhadap gaya desain karya lain yang

dianggap lebih modern, dan menghasilkan bentuk dan makna baru yang bisa

mengundang perdebatan.

Komodifikasi kebudayaan merupakan sebuah seni postmodern yang

Menampilkan representasi budaya kebebasan dan melabrak seluruh konvensi

konvensi seni klasik dan modern. Budaya modern mampu mengungkung

kreatifitas desainer dan berbalik ke titik kulminasinya yang mampu mengusung

peradapan hiperrealitas. Baudrillard menjelasakan estetika postmodern termasuk

bagian estetika yang tidak lagi membedakan mana yang indah mana yang jelek.

Seni postmodern tidak lagi membedakan mana kelihatan, mana yang tersembunyi.

Seni postmodern mengabdikan dirinya pada pusaran ekstasi kegairahan. Seni

postmodern juga selalu menyerap unsur-unsur lain yang saling bertentangan.

Boudrillard berpendapat pelanggaran aturan budaya yang merupakan bagian dari

unsur estetika klasik adalah disengaja untuk memunculkan nilai estetika baru yang

mencirikan gaya postmodern itu sendiri.

Dari penjelasan di atas, maka dapat diartikan bahwa komodifikasi uis Karo

banyak berdampak negatif terhadap kelangsungan aturan-aturan adat yang sudah

diatur oleh leluhur zaman dulu. Aturan dalam memakai uis Karo yang dulu

dianggap keharusan, sekarang tidak lagi menjadi keharusan lagi karena uis Karo

(49)

BAB IV

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KOMODIFIKASI

UIS

KARO

4.1 Faktor Internal

Terjadinya komodifikasi uis Karo adalah suatu bagian dari gejala sosial

masyarakat Karo yang semakin modern. Komodifikasi ini tidak saja disebabkan

oleh faktor secara eksternal, tetapi terjadinya komodifikasi uis Karo tersebut juga

disebabkan oleh faktor internal seperti faktor perubahan mata pencaharian, faktor

kebudayaan, tingkat pendidikan hingga motivasi pelestarian uis Karo.

4.1.1 Perubahan Mata Pencarian Masyarakat

Masyarakat Karo khususnya didataran tinggi dikenal subur dan makmur

berkat alamnya. Keadaan geografis yang baik sehingga menjadikan Tanah Karo

subur dan dapat ditumbuhi oleh berbagai macam hasil bumi seperti buah dan

sayuran menyebabkan masyarakat lebih memilih bekerja di bidang pertanian.

Kesuburnya tanah Karo juga berkat keberadaan gunung yaitu seperti gunung

berapi Sinabung dan gunung Sibayak.

Salah satu faktor keberhasilan pertanian tanah Karo adalah sarana dan

prasarana pada pendistribusian hasil pertanian sangat memadai hingga ke daerah

pelosok. Pendistribusian hasil panen di tanah Karo ada sejak zaman Kolonial

Belanda, pada awal tahun 1900an, dimana mereka sudah membangun jalan yang

menghubungkan kawasan pesisir ke tanah Karo untuk memperkenalkan pertanian

(50)

Salah satu efek buruk dari keberhasilan pertanian tanah Karo adalah

aktivitas menenun uis ditinggalkan. Masyarakat Karo yang lebih disibukkan

dengan usaha menanam jagung, kentang, jeruk, kopi, tomat, cabe, dan palawija

lainnya. Secara perlahan usaha dan kegiatan dalam menenun uis Karo semakin

hari semakin ditinggalkan. Perempuan Karo yang biasanya bekerja di bidang uis

Karo juga mulai kehilangan kemampuan ketrampilan dan kecekatannya dalam

menenun uis.

Masyarakat Karo lebih memilih bekerja di sektor-sektor seperti pertanian,

perkebunan, hingga menjadi pegawai pemerintah. Menenun pada masyarakat

Karo identik dengan kemiskinan, kampungan, dianggap statusnya rendah karena

di dalam usaha penenunan tidak ada masa depan dengan penghasilan yang sedikit.

Seorang peneliti tenun di Sumatera Utara, Fadlin Muhammad Djafar

mengemukakan hasil penelitiannya di desa Lingga, bahwa di Lingga tidak

terdapat lagi penenun tradisional. Hal ini diperkuat terdapat sisa-sisa alat

penenunan yang tidak lagi dipergunakan sejak 1950an. Seorang antropolog

Kanada, Sandra Niessen, yang 35 tahun meneliti ulos, berpendapat dalam

bukunya bukunya Legacy in Cloth: Batak Textiles of Indonesia (2009) dan Batak

Cloth and Clothing: A Dynamic Indonesian Tradition (1993) disebutkan,

setidaknya sudah seratus tahun orang Karo berhenti menenun uis Karo.

Kini uis Karo sebagai penanda identitas orang Karo ini tidak lagi ditenun

oleh orang Karo sendiri. Uis Karo menjadi peluang rezeki bagi wilayah lain, yang

(51)

kuat menjadi rezeki bagi para penenun dari Toba Samosir untuk menenun uis

Karo.

Seiring dengan perkembangan zaman, tanah Karo mengalami pertambahan

penduduk dan membuat lahan pertanian pun semakin sempit. Dengan banyaknya

persaingan di dunia pertanian, maka pekerjaan di luar bidang pertanian mulai

digeluti oleh masyarakat seperti dunia kerajinan, salah satunya adalah Sahat

Tambun yang berkecimpung di dunia penenunan.

4.1.2 Perubahan Sistem Penenunan Tradisional

Masyarakat zaman sekarang memandang pekerjaan menenun identik

dengan kemiskinan, pekerjaan yang ketinggalan zaman. Kini di tanah Karo tidak

ada lagi penenun tradisional, begitu juga di Samosir penenun mulai berkurang,

yang dulu masih ada kini menjadi sepi dan kosong, seorang ahli antropologi dari

Belanda yang sudah melakukan riset di Sumatera Utara selama 35 tahun, Sandra

Niessen mengatakan bahwa pada saat ini tradisi tenun tradisional Karo sudah

berhenti selama seratus tahun. Hal ini juga hampir sama dengan Ulos Batak sudah

hampir punah karena minimnya jumlah penenun baik menenun uis maupun ulos.

Sekarang ini penenun tradisional uis Karo (gedongan) hanya ada di

Samosir. Kismeria boru Sipahutar adalah seorang penenun uis Karo yang masih

aktif di Desa Bonan Dolok Samosir. Dia memiliki kemampuan khsusus menenun

uis Karo jenis jongkit sejak dia masih remaja. Dia mengaku bahwa pekerjaan

bertenun di Samosir sudah menjadi tradisi dilakukan bagi anak perempuan mulai

(52)

menenun uis Karo seperti , Desa Lumban Suhi-Suhi, Pangururan, Desa Silalahi

dan desa Paropo di Kabupaten Dairi. Mereka adalah masyarakat Toba yang tetap

eksis dan mengandalkan hidup mereka dari menenun uis Karo yaitu uis gara.

Mereka beranggapan salah satu penurunan produksi uis Karo yang mereka

produksi adalah tidak adanya bantuan atau dukungan pemerintah untuk membina

mereka, termasuk dalam permodalan, sangat minim.

Sekarang ini jumlah penenun yang masih aktif jumlahnya sangat sedikit

dan sebagian besar dari mereka adalah orang yang sudah lanjut usia,

Kenyataannya mereka adalah yang terakhir, tak ada generasi muda yang

menenun. Banyak faktor yang menyebabkan jumlah penenun mulai minim,

seperti kesulitan ekonomi karena menenun identik dengan kemiskinan. Orang tua

zaman sekarang juga tidak mau jika anaknya menjadi seorang penenun. Penenun

juga dianggap suatu pekerjaan yang ketinggalan zaman.

Selain faktor tersebut, alat tenun tradisional yaitu gedokan sudah mulai

terpinggirkan dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Hasil tenun ATBM

mampu menguasai pasar tenun (uis dan ulos) dengan harga bisa relatif lebih

murah dari hasil gedongan sehingga hasil penenun tradisonal gedongan tersingkir.

Gedongan merupakan alat penenunan yang lambat sehingga dimodernisasi

dengan ATBM yang memiliki kemampuan lebih produktif.

4.1.3 Perubahan Tingkat Pendidikan Masyarakat Karo

Pendidikan memiliki fungsi sosial yang menjadi agen perubahan dalam

(53)

besar, dengan pendidikanlah martabat masyarakat tersebut dihargai. Begitu juga

dengan orang-orang Karo yang berhasil di dunia pendidikan dan mampu

mengangkat martabat masyarakat Karo tersebut.

Pendidikan juga memilki efek terhadap kebudayaan. Pendidikan juga

dianggap menyebarkan budaya barat atau westernisasi gaya hidup ala Barat

sebagai identitas modern menganggap budaya lokal terbelakang. Semakin maju

pendidikan maka semakin besar pula peluang untuk meninggalkan kebudayaan

tradisional, karena kebudayaan tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman

sehingga unsur nilai kebudayaan tersebut berangsur-angsur hilang.

Ketika pemerintah kolonial berkuasa di tanah Karo (1980-1941), Belanda

melakukan pembangunan dengan membangun jalan, irigasi, rumah sakit hingga

sekolah-sekolah. Sekolah-sekolah tersebut dibangun di Lingga, Raya, Sukanalu,

Tigajumpa, Tigabinanga dan Sibolangit. Sekolah pertama di dataran tinggi Karo,

dibuka pada 19 Oktober 1891 untuk belajar membaca dan menulis di desa Buluh

Awar. Beberapa pemuda Karo yang memilki kepintaran melanjut ke perguruan

tinggi seperti Ngudi Sembiring dari desa Cingkes yang menjadi sarjana tehnik di

Belanda, Djaga Bukit seorang sarjana muda hukum dan Bena Sitepu Pande Besi

Putra Urung Naman yang menjadi sarjana kedokteran penuh putra Karo pertama.

Di era global sekarang ini, masyarakat Karo baik yang tinggal di kota mapupun di

perkampungan berlomba-lomba menyekolahkan anak-anak mereka ke perguruan

tinggi khususnya ke pulau Jawa. Para orang tua ini berharap, kelak mereka lulus

(54)

Dengan perkembangan zaman yang semakin pesat, semakin terbuka

pikiran masyarakat dalam mengembangkan budaya Karo dengan cara mereka

masing-masing, salah satunya adalah Tantri Arihta. Dia merupakan seorang

lulusan Kriya Tekstil dan Mode, Institut Teknologi Bandung yang

mengembangkan industri kreatif di bidang busana kontemporer bernuansa uis

Karo. Dia memeksplorasi berbagai ragam hias dengan tren masa kini sebagai

busana yang modern. Dia menciptakan busana kontemporer dengan penonjolan

ragam hias Karo yang memilki citra yang bervariasi, elegan dan kasual. Tantri

berharap uis Karo semakin mengemuka, dan sejajar dengan kain tenun Nusantara

yang sudah lebih dahulu mengemuka seperti songket, ulos Batak, tenun Flores,

tenun Dayak, dan tenun lainnya.

Gambar 4.1 : Tantri Arihta bersama karya fashion busana kontemporer dengan ragam hias tradisional Karo

(Sumber : Tantri Arihta)

Pada tahun 1992 Seorang putra Karo lulusan Institut Teknologi Tekstil

(ITT) Bandung bernama Sahat Tambun, pulang ke kampung halamannya di

Kabanjahe dengan tujuan memodernisasi kerajinan uis Karo agar tetap diminati

oleh masyarakat. Dia membuka usaha Trias Tambun dengan ilmu yang dia

(55)

menenun mulai dari alat tenun tradisional gedogan hingga alat tenun bukan mesin

(ATMB ) di Pekalongan (Jawa Tengah) dan Gresik (Jawa Timur.) Selain itu dia

juga mempelajari uis Karo dari para pengrajin tradisional yang masih setia

menenun.

Sahat Tambun merupakan pionir usaha uis Karo di kabanjahe dengan

menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dalam memproduksi uis Karo.

Berbekal pengalaman dan pendidikan akademis yang dimiliki, dia mampu

membuat inovasi terbaru untuk uis Karo dengan memadukan unsur ragam hias

tradisional Karo menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Jacquard yang

selama ini tidak bisa diaplikasikan melalui alat tenun gedongan. Selain

memproduksi uis Karo, dia juga memproduksi bakal baju uis Karo hingga fashion

seperti tas dan dompet berlapis uis Karo.

4.1.4 Motivasi Pelestarian Uis Karo

Tren cara berbusana modern pada masyarakat tidak bisa menjadi tolak

ukur kemajuan suatu masyarakat, karena cara berbusana hanyalah sebuah penanda

jati diri sebuah masyarakat yang erat kaitannya dengan ciri budaya masyarakat

tersebut. Cara berbusana modern merupakan hasil dari kebudayaan daur ulang dan

bisa disebut budaya recycling (pengulangan).

Cara berbusana yang telah berkembang di masyarakat era modernisme

merupakan kebudayaan daur ulang fashion era klasik/pramodernisme. Budaya

recycling berasal produk masa lalu diasimilasikan dengan kebaruan yang

(56)

rekonstruksi, duplikasi namun juga menciptakan kesan unik untuk menarik

perhatian.

Semangat menghadirkan dan memvisualkan kembali nuansa atau

gaya-gaya lama disebut sebagai recycling. Recycling dalam dunia fashion menjadi

bagian dari trend, dan teks baru untuk menyebutkan sesuatu yang pernah muncul

dan muncul kembali. Recycling dalam aplikasi kontemporer mengakulturasi unsur

lama dengan unsur kebaharuan yang berupa gagasan, kemajuan teknologi

visualisasi, pencitraan, hingga menimbulkan kesan keluar dari paritas, dikemas

menjadi satu kesatuan.

Recycling sebagai gugatan pada modernitas dengan mencari kembali

makna atas eksklusivitas desain, penghargaan setinggi-tingginya atas talenta

seniman/desainer, dan semangat kembali ke alam yang seolah-olah mengkritisi

modernitas dengan pemaknaan kembali sesuai dengan wacana berfikir era form,

follow, meaning.

Dengan mengulang suatu budaya masa lalu, akan menimbulkan kesan

semangat dan historisisme yang mampu menarik perhatian masyarakat. Averiana

Barus yang awalnya memodifikasi uis Karo dengan memanfaatkan uis Karo yang

sudah usang untuk digunakan sebagai bahan dasar produk kerajinannya. Uis Karo

juga diduar ulang oleh Tanta Ginting yang memadukan dengan pakaian modern

seperti kemeja, beskap, dan kimono. Mereka berpendapat bahwa keberadaan uis

Karo yang hanya dipakai dalam acara tradisonal membuat uis Karo jauh dari

(57)

4.2Faktor External

Salah satu faktor yang mengakibatkan terjadinya komodifikasi uis Karo

pada masyarakat Karo adalah faktor dari luar atau eksternal. Artinya, perubahan

itu terjadi dalam masyarakat Karo dipengaruhi oleh berbagai budaya-budaya luar

seperti pengaruh kain songket, pengaruh media sosial dan perkembangan industri

kreatif dalam pariwisata.

4.2.1 Pengaruh Kain Songket

Pada masa lalu, pulau Sumatra mendapat julukan sebagai Swarnabhumi

atau swarnadwipa, yang berarti pulau emas. Julukan ini dilihat dari pakaian tenun

masyarakatnya yang gemerlap warna dan kemilau emas yang dipancarkannya.

Songket merupakan kerajinan tradisional khas masyarakat di hampir seluruh

penjuru Sumatera, mulai dari Palembang, hingga ke Sumatra Utara. Songket

disebut juga dengan kain samping, sulam benang emas perak, kain jong sarat,

teluk berantai atau berpakan emas.

Songket identik dengan gemerlap warna dan kilauan emas ditambah

berbagai motif yang indah yang tersusun dan teranyam rapi dengan pola simetris.

Songket memberikan nilai tersendiri yang dapat menujukan nilai estetika ebesaran

bagi orang-orang yang memakainya. Dahulu Songket hanya digunakan oleh,

bangsawan dan kalangan istana. Seiring dengan perkembangan zaman, songket

juga dipakai oleh rakyat biasa.

Kain songket identik dengan pernikahan masyarakat Karo. Menurut Liwen

(58)

Kampoh. Kampoh atau sarung merupakan salah satu jenis kain yang sangat erat

dengan acara-acara adat masyarakat Karo baik untuk perempuan maupun

laki-laki. Pemakaiannya bisa dilihat baik di rumah, di ladang maupun di acara pesta

adat. Kampoh dipakai dalam pesta adat seperti diikat diatas kepala (ibulangken),

dipakai membungkus bagian bawah pada laki-laki(isampanken), diikatkan di

pinggang (ibentingken) dan dipakai membungkus kaki pada perempuan (iabitken).

Kampoh merupakan tanda kesiapan seseorang yang dewasa jika dia mau

menghadiri pesta adat. Posisi Kampoh pada badan juga memberikan peran

seseorang (tegun) jika menghadiri pesta adat. Jika dipasangkan pada leher maka

dia adalah Kalimbubu pada pesta tersebut, jika dipasangkan pada leher dia adalah

Kalimbubu dan jika dipasangkan pada kepala (ibulangken) maka dia adalah Anak

Beru. Jumlah istri juga bisa lihat dari jumlah kampoh yang diikatkan/dipakai di

pinggang (ibentingken) seseorang. Pada kehidupan sehari-hari, kampoh dibuat

menjadi sarung, selimut, tudung, kain mengayun anak dan kain menggendong

anak. Kampuh dalam masyarakat Karo menjadi lambang kasih (ate keleng) dalam

sopan santun.

Hampir setiap pernikahan masyarakat Karo, songket dikenakan sebagai

seledang oleh pengantin baik pengantin pria maupun pengantin wanita. Songket

yang dipakai masyarakat Karo baisaya didominasi oleh songket Palembang.

Mayoriotas masyarakat Karo juga tidak mengerti songket yang mereka kenakan,

mereka tidak mengetahui perbedaan songket Palembang, songket Melayu, atau

Figur

Gambar 3.5 : Evolusi alat tenun dari gedongan, ATBM, ATBM Jacquart dan alat tenun semi mesin

Gambar 3.5 :

Evolusi alat tenun dari gedongan, ATBM, ATBM Jacquart dan alat tenun semi mesin p.10
Gambar 3.6 : ATBM jenis Jacquart

Gambar 3.6 :

ATBM jenis Jacquart p.11
Gambar 3.7 : Sahat Tambun beserta produk Uis modifikasinya (Sumber : Sahat Tambun)

Gambar 3.7 :

Sahat Tambun beserta produk Uis modifikasinya (Sumber : Sahat Tambun) p.12
Gambar 3.8 : Averiana Barus dengan karya fashionya berupa modifikasi Uis Karo (Sumber : instagram Uwish Details)

Gambar 3.8 :

Averiana Barus dengan karya fashionya berupa modifikasi Uis Karo (Sumber : instagram Uwish Details) p.13
Gambar 3.14 : Nilai artistik Uis Gara-Gara (Karya Stilisasi Penulis)

Gambar 3.14 :

Nilai artistik Uis Gara-Gara (Karya Stilisasi Penulis) p.17
Gambar 3.15 : Nilai artistik Uis Julu

Gambar 3.15 :

Nilai artistik Uis Julu p.18
Gambar 3.16 : Nilai artistik Uis Nipes Hijau (Dokumen Penulis)

Gambar 3.16 :

Nilai artistik Uis Nipes Hijau (Dokumen Penulis) p.18
Gambar 3.21 : Uis Nipes dengan penambahan tulisan Mejuah-juah dan Tanah Karo Simalem

Gambar 3.21 :

Uis Nipes dengan penambahan tulisan Mejuah-juah dan Tanah Karo Simalem p.22
Gambar 3.23 : Modifikasi Uis Karo jenis Beka Buluh  (Sumber : Berbagai Sumber)

Gambar 3.23 :

Modifikasi Uis Karo jenis Beka Buluh (Sumber : Berbagai Sumber) p.24
Gambar 3.25 : Modifikasi Uis Karo Jenis Uis Nipes Ragi Barat  (Sumber : Berbagai Sumber)

Gambar 3.25 :

Modifikasi Uis Karo Jenis Uis Nipes Ragi Barat (Sumber : Berbagai Sumber) p.25
Gambar 3.24 : Modifikasi Uis Karo jenis Uis Julu  (Sumber : Berbagai Sumber)

Gambar 3.24 :

Modifikasi Uis Karo jenis Uis Julu (Sumber : Berbagai Sumber) p.25
Gambar 3.26 : Ilustrasi sederhana komodifikasi bentuk pada Uis Karo  (Sumber : karya penulis)

Gambar 3.26 :

Ilustrasi sederhana komodifikasi bentuk pada Uis Karo (Sumber : karya penulis) p.26
Gambar 3.27 : Modifikasi aturan/cara memakai uis dengan unsur kekinian dengan istilah the bandana, the agro-maid dan pull-through (Sumber : Thierry Samuel)

Gambar 3.27 :

Modifikasi aturan/cara memakai uis dengan unsur kekinian dengan istilah the bandana, the agro-maid dan pull-through (Sumber : Thierry Samuel) p.28
Gambar 3.28 : Modifikasi aturan/cara memakai uis dengan unsur kekinian dengan istilah blazer-ed, batik-skirt dan lengthy warmer (Sumber : Thierry Samuel)

Gambar 3.28 :

Modifikasi aturan/cara memakai uis dengan unsur kekinian dengan istilah blazer-ed, batik-skirt dan lengthy warmer (Sumber : Thierry Samuel) p.29
Gambar 3.29 : Modifikasi aturan/cara memakai uis dengan unsur kekinian dengan istilah men's bandana, tippy front dan the tassel (Sumber : Thierry Samuel)

Gambar 3.29 :

Modifikasi aturan/cara memakai uis dengan unsur kekinian dengan istilah men's bandana, tippy front dan the tassel (Sumber : Thierry Samuel) p.29
Gambar 3.30 : Perubahan nilai-nilai kebudayaan dalam ngosei adat. (Sumber : Saksi Sebayang dan Cornelius Ginting )

Gambar 3.30 :

Perubahan nilai-nilai kebudayaan dalam ngosei adat. (Sumber : Saksi Sebayang dan Cornelius Ginting ) p.30
Gambar 3.31 : Modifikasi yang tidak memilki nilai kesakralan asli uis Karo (Sumber : Sora Surilo)

Gambar 3.31 :

Modifikasi yang tidak memilki nilai kesakralan asli uis Karo (Sumber : Sora Surilo) p.32
Gambar 3.32 : Pola “form, follows, fun” pada pemakaian uis Julu (Sumber : Uwish Details)

Gambar 3.32 :

Pola “form, follows, fun” pada pemakaian uis Julu (Sumber : Uwish Details) p.33
Gambar 3.33 : Suasana penjualan uis Karo di pajak kain Kabanjahe (Sumber : Dokumetasi Pribadi)

Gambar 3.33 :

Suasana penjualan uis Karo di pajak kain Kabanjahe (Sumber : Dokumetasi Pribadi) p.35
Gambar 3.34 : Penjualan modifikasi uis Karo secara online (Sumber :qlapa.com dan uisKaro-TriasTambun.com)

Gambar 3.34 :

Penjualan modifikasi uis Karo secara online (Sumber :qlapa.com dan uisKaro-TriasTambun.com) p.36
Tabel 3.1 : Tabel Perbedaan uis Karo Tradisional dan uis Karo Modifikasi

Tabel 3.1 :

Tabel Perbedaan uis Karo Tradisional dan uis Karo Modifikasi p.38
Gambar 3.35 : Semangat pastiche pada kemeja mamre GBKP (Sumber : Nensi Depari)

Gambar 3.35 :

Semangat pastiche pada kemeja mamre GBKP (Sumber : Nensi Depari) p.42
Gambar 3.36 : Makna parodi tradisional dan modern pada pakaian mamre(Sumber : Rukun Ginting)

Gambar 3.36 :

Makna parodi tradisional dan modern pada pakaian mamre(Sumber : Rukun Ginting) p.43
Gambar 3.37 : Gaun dengan kesan Uis Julu yang tidak murni 100% tenun

Gambar 3.37 :

Gaun dengan kesan Uis Julu yang tidak murni 100% tenun p.44
Gambar 3.38 : Makna champ pada gaun wanita (Sumber : Sora Surilo)

Gambar 3.38 :

Makna champ pada gaun wanita (Sumber : Sora Surilo) p.46
Gambar 3.39 : Makna skizofrenia pemakaian uis beka buluh sebagai pohon natal

Gambar 3.39 :

Makna skizofrenia pemakaian uis beka buluh sebagai pohon natal p.47
Gambar 4.1 : Tantri Arihta bersama karya fashion busana kontemporer dengan ragam hias tradisional Karo  (Sumber : Tantri Arihta)

Gambar 4.1 :

Tantri Arihta bersama karya fashion busana kontemporer dengan ragam hias tradisional Karo (Sumber : Tantri Arihta) p.54
Gambar 4.2 : Toko Souvenir di Berastagi

Gambar 4.2 :

Toko Souvenir di Berastagi p.67
Gambar 5.1 : Makna Beka Buluh sebagai wakil identitas Sumatera Utara (Sumber : Joko Widodo)

Gambar 5.1 :

Makna Beka Buluh sebagai wakil identitas Sumatera Utara (Sumber : Joko Widodo) p.90
Gambar 5.3 : Makna identitas kesukuan pada fashion poster penyanyi  (Sumber : Tiofanta Pinem)

Gambar 5.3 :

Makna identitas kesukuan pada fashion poster penyanyi (Sumber : Tiofanta Pinem) p.92

Referensi

Memperbarui...