i
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MEDIA AJAR CERDAS CERMAT IPA (MACCA) UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR IPA PESERTA DIDIK KELAS V SDN UNGGULAN BONTOMANAI
TESIS
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Magister
Program Studi
Magister Pendidikan Dasar
Disusun dan Diajukan oleh
NUR AZIZAH SYARIF
Nomor Induk Mahasiswa: 105.06.02.060.17
Kepada
PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN DASAR
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2022
ii
iii
iv
v
ABSTRAK
Nur Azizah Syarif. 2022. Pengembangan Media Pembelajaran Media Ajar Cerdas Cermat IPA (MACCA) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Peserta Didik Kelas V SDN Unggulan Bontomanai, dibimbing oleh Patta Bundu dan Evi Ristiana.
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran MACCA yang valid, praktis, dan efektif dalam pembelajaran IPA kelas V SD. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan menggunakan model ASSURE. Subyek penelitian ini adalah peserta didik kelas V SDN Unggulan Bontonanai dengan jumlah laki- laki 14 orang dan perempuan 16 orang total keseluruhan 30 orang Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi, angket, dan tes. Analisis data dilakukan dengan cara kuantitatif deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa media MACCA dan instrumen penelitian berupa buku panduan, RPP, angket respon guru, angket respon peserta didik, lembar observasi aktivitas belajar peserta didik dan instrumen hasil belajar dinyatakan valid. Media MACCA dinyatakan praktis karena tiga indikator tercapai yaitu respon guru berada pada kategori tinggi, respon peserta didik berada pada kategori tinggi, dan hasil observasi aktivitas belajar peserta didik berada pada kategori sangat tinggi. Media MACCA dinyatakan efektif karena ketuntasan belajar klasikal mencapai 83%.
Kata Kunci: Media, Cerdas, Cermat, Hasil belajar
vi
vii
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan anugerah- Nya kepada penulis sehingga dapat melanjutkan studi di Pascarjana Universitas Muhammadiyah Makassar, juga telah memberikan kemudahan dalam menyelesaikan serangkaian kegiatan penelitian dan penulisan laporan penelitian dalam bentuk tesis yang berjudul:
“Pengembangan Media Pembelajaran Media Ajar Cerdas Cermat IPA (MACCA) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Peserta didik Kelas V SDN Unggulan Bontomanai”
Tesis ini disusun untuk memenuhi tugas akhir sebagai syarat yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan jenjang perkuliahan di pascasarjana Prodi Magister Pendidikan Dasar di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Ucapan terima kasih kepada suami tercinta Alauddin Rahman, yang telah memberikan segenap cinta dan dukungan untuk penulis selama studi, serta ketiga buah hati Muhammad Khalil Alzah, Muh. Hilal Ramadhan Alzah, dan Zayna Ufairah Alzah yang senantiasa menjadi motivasi dalam menuntaskan studi. Kedua Orang tua Syarifuddin A dan Nurliah Nanta yang telah memberikan dukungan moril dan materiil selama studi dan senantiasa memberikan kasih sayang yang tidak ternilai.
viii
Selesainya penyusunan tesis berkat bantuan dari beberapa pihak.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., Rektor Unismuh Makassar.
2. Dr. Darwis Muhdina, M.Ag., Direktur Pascasarjana Unismuh Makassar.
3. Sulfasyah, S.Pd., M.Pd., PhD. Ketua Jurusan Program Studi Pendidikan Dasara Program Pascasarjana Unismuh Makassar yang senantiasa memberikan motivasi dan bimbingan kepada kami.
4. Prof. Dr. Patta Bundu, M.Ed. dan Dr. Evi Ristiana, M.Pd. selaku Dosen pembimbing yang telah membimbing selama penyusunan tesis.
5. Dr. Ernawati, M.Pd., Dr. Ulfa Tenri Batari, M.Pd., dan Dr. Ayatollah Hidayat selaku validator yang telah memberikan penilaian dalam pengembangan media.
6. Hj. Dahlia, S.Pd. selaku kepala UPT SDN Unggulan Bontomanai bersama seluruh dewan guru yang telah memberikan izin dan ruang untuk melakukan penelitian.
7. Bapak dan Ibu Dosen Pascasarjana Pendidikan Dasar yang telah memberikan ilmunya kepada penulis.
8. Teman-teman angkatan 2017 program Studi Pendidikan Dasar yang selalu ada dalam kebersamaan selama perkuliahan, baik suka maupun duka.
ix
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna. Saran dan kritik membangun dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi perbaikan di masa yang akan datang. Semoga tesis bermanfaat terutama bagi penulis, bagi sekolah dimana penelitian ini dilakukan dan bagi semua pembaca
Gowa, Januari 2022 Penulis
Nur Azizah Syarif 105.06.02.060.17
x DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI ... iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ... iv
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian dan Pengembangan ... 10
D. Spesifikasi Produk yang Diharapkan ... 11
E. Pentingnya Penelitian dan Pengembangan ... 11
F. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan ... 12
G. Definisi Istilah/ Operasional ... 13
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 15
A. Kajian Teoritis ... 15
B. Kajian Penelitian yang Relevan ... 39
C. Kerangka Pikir ... 43
BAB III METODE PENELITIAN ... 46
A. Model Penelitian dan Pengembangan ... 46
xi
B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan ... 48
C. Uji Coba Produk ... 53
1. Desain Uji Coba... 53
2. Subyek Coba ... 53
3. Jenis data ... 54
4. Instrumen Pengumpulan Data ... 54
5. Teknik Analisis data ... 56
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 59
A. Penyajian Data Uji Coba ... 59
B. Analisis Data ... 63
C. Revisi Produk ... 81
BAB V PENUTUP ... 83
A. Kajian Produk yang Telah Direvisi ... 83
B. Saran, Pemanfaatan, Diseminasi, dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut ... 84
DAFTAR PUSTAKA ... 86
RIWAYAT HIDUP ... 89
LAMPIRAN- LAMPIRAN ... 90
1. IZIN PENELITIAN ... 91
2. PRODUK MEDIA PEMBELAJARAN ... 92
3. DOKUMENTASI KEGIATAN ... 93
4. HASIL ANALISIS DATA ... 100
5. INSTRUMEN PENELITIAN ... 116
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Gambar Halaman
2.1. IPA sebagai body of knowledge ... 35
2.2. Skema kerangka pikir ... 45
3.1. Siklus model ASSURE ... 46
3.2. Desain penelitian dan pengembangan media MACCA dengan model ASSURE ... 47
4.1. Video presentasi sebelum revisi... 81
4.2. Video presentasi sebelum revisi... 81
4.3. Sampul buku panduan sebelum revisi ... 82
4.4. Sampul buku panduan setelah revisi ... 83
4.5 Kabar berita ... 84
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Tabel Halaman
3.1. Indeks Gregory ... 56
3.2. Tingkat validitas ... 57
3.3. Kriteria kepraktisan produk ... 58
4.1. Hasil penilaian validator media MACCA ... 64
4.2. Hasil penilaian validator buku panduan ... 65
4.3. Hasil penilaian validator RPP ... 66
4.4. Hasil penilaian validator angket respon guru ... 67
4.5. Hasil penilaian validator angket respon peserta didik . 68 4.6. Hasil penilaian validator lembar observasi aktivitas belajar peserta didik ... 68
4.7. Hasil penilaian validator instrumen penilaian hasil belajar ... 69
4.8. Hasil respon guru pada uji coba 1 ... 70
4.9. Hasil respon guru pada uji coba 2 ... 73
4.10. Hasil respon peserta didik pada uji coba 1 ... 75
4.11. Hasil respon peserta didik pada uji coba 2 ... 77
4.12. Hasil observasi aktivitas peserta didik dalam pembelajaran pada uji coba 1 ... 78
4.13. Hasil observasi aktivitas peserta didik dalam pembelajaran pada uji coba 2 ... 79
4.14 Keefektifan media MACCA ... 80
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul Lampiran Halaman
1. Izin Penelitian ... 91
2. Produk Media Pembelajaran ... 92
3. Dokumentasi Kegiatan Pembelajaran ... 93
4. Hasil Analisis Data ... 100
5. Instrumen Penelitian ... 116
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Revolusi industri kini telah memasuki revolusi 4.0 dimana seluruh dunia menekankan pada proses produksi dengan mengintegrasikan tiga unsur penting yaitu manusia, mesin atau robot, dan big data. Ketiga unsur ini akan lebih cepat dalam menggerakkan seluruh produksi agar menjadi lebih efektif.
Proses inipun menjadi tantangan pada lembaga pendidikan utamanya pada tingkat dasar.
Revolusi Industri 4.0 menitik beratkan pada pemanfaatan IT di segala bidang agar semakin memudahkan proses pertukaran informasi, dan melakukan kerja. Kondisi ini juga menantang bidang pendidikan agar mampu mencetak Sumber daya manusia unggul yang mampu bersaing dalam era globalisasi saat ini, oleh karena itu perubahan kurikulum dan pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah dengan menerapkan pembelajaran abad 21 menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan tersebut. Secara sederhana Pembelajaran abad 21 diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan kecakapan abad 21 kepada peserta didik, yaitu 4C yang meliputi: (1) Communication (2) Collaboration, (3) Critical Thinking and problem solving, dan (4) Creative and Innovative.
Kurikulum pendidikan di Indonesia telah mengalami beberapa perubahan yang disebabkan karena berbagai alasan, diantaranya adalah
tuntutan perkembangan zaman dan kebijakan pemerintah untuk memperbaharui dan memodifikasi kurikulum pendidikan secara berkala dalam periode tertentu guna mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pelaksanaan kurikulum 2013 membawa dampak bahwa kualitas seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran semakin dituntut. Kurikulum 2013 pada dasarnya mengamanatkan penerapan pendekatan saintifik (5M) yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/
mengasosiasikan, dan mengomunikasikan. Selanjutnya ada integrasi literasi dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam proses belajar mengajar (PBM). Pembelajaran pun perlu dilaksanakan secara kontekstual dengan menggunakan model, strategi, metode, dan teknik sesuai dengan karakteristik Kompetensi Dasar (KD) agar tujuan pembelajaran tercapai.
Selain itu optimalisasi peran guru dalam melaksanakan pembelajaran abad 21 dan HOTS (Higher Order Thinking Skills). Pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak dapat lepas dari peran guru.
Guru merupakan ujung tombak dalam mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan nasional yang terlibat langsung dalam mengembangkan, merencanakan, dan melaksanakan kurikulum. Keberadaan guru dalam proses pendidikan sangat vital karena tugas guru tidak hanya mengajar, melainkan juga mendidik, membimbing, mengarahkan, dan menilai.
Standar Nasional Pendidikan tentang Standar Proses diatur dalam PP RI Nomor 32 Tahun 2013 pasal 19 menyatakan:
Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspriratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartsipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Peraturan Pemerintah tersebut mengamanahkan tentang pentingnya peranan guru dalam menyelenggarakan pembelajaran di kelas guna mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu seorang diharapkan mampu mengembangkan kemampuannya dalam mengelola kelas agar dapat menumbuhkan motivasi dan minat belajar peserta didik sehingga mampu meraih hasil belajarnya.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah merubah gaya hidup manusia, baik dalam berkerja, bersosialisasi, bermain maupun belajar.
Memasuki abad 21 kemajuan teknologi tersebut telah memasuki berbagai sendi kehidupan, tidak terkecuali d ibidang pendidikan. Pendidik dan peserta didik dituntut memiliki kemampuan belajar mengajar di abad 21 ini. Sejumlah tantangan dan peluang harus dihadapi oleh pendidik dan peserta didik agar dapat bertahan dalam abad pengetahuan di era informasi ini. Pendidikan abad 21 bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa yaitu masyarakat bangsa Indonesia yang sejahtera dan bahagia dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan bangsa lain dalam dunia global, melalui pembentukan masyarakat yang terdiri dari sumber daya manusia yang berkualitas yaitu pribadi yang mandiri, berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya. Sementara itu, ada tantangan untuk
menghadapi persaingan global. Kemampuan bersaing tersebut amat ditentukan oleh pendidikan yang bermutu. Mutu yang dimaksud bukan hanya dapat memenuhi standar nasional, melainkan untuk memenuhi standar internasional agar sumber daya manusia Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara lain.
Guru harus memulai satu langkah perubahan yaitu merubah pola pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru menjadi pola pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pola pembelajaran yang tradisional bisa dipahami sebagai pola pembelajaran dimana guru banyak memberikan ceramah sedangkan siswa lebih banyak mendengar, mecatat dan menghafal. Satu hal lain yang penting yaitu guru akan menjadi contoh pembelajar. Guru harus mengikuti perkembangan ilmu terakhir sehingga sebetulnya dalam seluruh proses pembelajaran ini guru dan siswa akan belajar bersama namun guru mempunyai tugas untuk mengarahkan dan mengelola kelas.
Permendikbud No.22 Tahun 2016 tentang Standar proses memaparkan bahwa salah satu komponen RPP adalah adanya media pembelajaran, karenanya seorang guru diharapkan mampu memilih dan menggunakan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta mampu mengembangkan media pembelajaran yang relevan dengan materi pelajaran.
Menurut Sutirman ( 2013: 15)
Media pembelajaran merupakan komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar
Penggunaan media pembelajaran juga terdapat dalam Alqur’an surah An Nahl Ayat 89 yang berbunyi:
Terjemahan :
(dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang- orang yang berserah diri.
Dalam ayat ini secara tidak langsung Allah mengajarkan kepada manusia untuk menggunakan sebuah alat/ benda sebagai suatu media dalam menjelaskan segala sesuatu. Sebagaimana Allah Swt menurunkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw untuk menjelaskan segala sesuatu, maka sudah sepatutnya jika seorang menggunakan suatu media tertentu dalam menjelaskan segala hal. Ayat tersebut juga menjelaskan tentang bagaimana seharusnya syarat suatu media yang akan digunakan. Pada
surat An Nahl ayat 89 tersebut dijelaskan bahwa Al Qur’an selain berperan untuk menjelaskan, juga merupakan sesuatu yang berfungsi sebagai petunjuk, rahmat, dan pemberi kabar gembira bagi orang yang menyerahkan diri. Sebagaimana keterangan diatas, maka suatu media yang digunakan dalam pengajaran harus mampu menjelaskan kepada para siswa tentang materi yang sedang mereka pelajari. Syarat ini sejalan dengan esensitas sebuah media dalam pengajaran pada QS. Al Isra’ : 84.
ا لً ْي ِب َس ى ٰد ْهَا َو ُه ْن َم ِب ُمَل ْعَا ْمُكُّب َر َف ٖۗ
ه ِت َ ل ِكا َ
ش ى ٰ
ل ع ُل َم ْع َّي ٌّل َ ُ ك ْل ُ
ق
ࣖ
Terjemahan :
Katakanlah (Muhammad), "Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing." Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.
Selain hal tersebut, sebuah media juga harus mampu menjadi petunjuk untuk melakukan sesuatu yang baik. Sedangkan mengenai Al Qur’an sebagai rahmat dan pemberi kabar gembira jika dikaitkan dengan masalah media suatu media dalam dunia pendidikan harus mampu menumbuhkan rasa gembira yang selanjutnya meningkatkan ketertarikan siswa dalam mempelajari materi-materi yang disampaikan. Hal tersebut karena tujuan pendidikan tidak hanya pada segi kognitif saja, melainkan juga harus mampu mempengaruhi sisi afektif dan psikomotor para siswa. Dalam hal ini maka media harus mampu meraih tujuan pendidikan tersebut.
Kemampuan guru dalam mengembangkan media pembelajaran juga merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang terlaksananya proses belajar mengajar yang menyenangkan. Media pembelajaran yang ada di
sekolah umumnya media yang telah disiapkan langsung oleh sekolah namun penggunannya belum maksimal.
Perkembangan kurikulum di Indonesia pada tahun 2013 untuk pembelajaran IPA mengarah pada konsep proses pembelajaran “integrative science”. Konsep “integrative science” berlandaskan teori belajar behaviorisme, teori perolehan informasi, dan teori psikologi kognitif (konstruktivisme). Kurikulum 2013 bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik baik kemampuan sikap religious, sikap sosial, intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap peduli, dan partisipasi aktif dalam membangun kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang lebih baik.
Kurikulum ini menuntut guru memiliki kreativitas dan pola berpikir tingak tinggi (Higher Order Thinking) dalam pelaksanaan proses pembelajaran IPA di kelas. Mata pelajaran IPA merupakan salah satu muatan pelajaran yang diajarkan secara terpadu di sekolah dasar. Tujuan pengajaran IPA mencakup tiga aspek hakikat sains yaitu mengembangkan pemahaman para peserta didik tentang alam, mengembangkan keterampilan- keterampilan yang diperlukan untuk memperoleh atau mengeolah pengetahuan baru, dan mengembangkan sikap- sikap positif.
Menjawab tantangan revolusi 4.0 Pemerintah Kabupaten Gowa dengan program Gowa Kabupaten Pendidikan mengusung Kabupaten Gowa sebagai Kabupaten Pendidikan pertama di Sulawesi Selatan. Salah satu indikator Gowa Kabupaten Pendidikan adalah sistem persekolahan berbasis IT.
Hasil wawancara kepada Kepala Bidang Pendidikan Dasar Kabupaten Gowa menyatakan bahwa capaian hasil bejara IPA di kabupaten Gowa masih rendah hal ini dapat diukur dari capaian nilai KSN ( Kompetensi Sains Nasional) mata pelajaran IPA pada tahun 2020 yaitu 31 masih sangat rendah jika menggunakan skala 0-100, rendahnya capaian tersebut salah satu penyebabnya adalah kurangnya penggunaan media yang interaktif baik dalam pembelajaran di kelas maupun pembimbingan. Lebih lanjut menjelaskan bahwa pengembangan media yang dilakukan oleh guru juga masih rendah, guru- guru cenderung menggunakan media yang disiapkan sekolah, padahal seharusnya guru mampu mengembangkan media terutama berbasis IT agar mampu mencapai indkator Gowa Kabupaten Pendidikan yaitu Sekolah berbasis IT.
SD Negeri Unggulan Bontomanai merupakan salah satu sekolah di Kabupaten Gowa yang ikut melaksanakan program Gowa Kabupaten Pendidikan dengan memanfaatkan IT dalam proses pembelajaran. Namun, pemanfaatan IT ini sendiri belum maksimal karena IT digunakan masih sebagai media untuk menayangkan presentasi. Berdasarkan hasil wawancara kepada kepala UPT SDN Unggulan Bontomanai, menjelaskan bahwa dari hasil supervisi yang dilakukan, dalam proses pembelajaran di kelas penggunaan media pembelajaran masih rendah. Guru cenderung menggunakan video hasil unduhannya sebagai media pembelajaran namun sering kali mendapatkan kendala diantaranya besarnya ukuran file video dan bahasa yang digunakan sering kali sulit dipahami peserta didik karena
melekatnya unsur Bahasa daerah seperti logat daerah tertentu yang digunakan dalam video tersebut. Sebaiknya seorang guru harus mampu mengembangkan media pembelajaran agar lebih praktis dan efektif digunakan.
Hasil observasi di SDN Unggulan Bontomanai Pada peserta didik kelas VA SDN Unggulan Bontomanai dibutuhkan media yang mampu meningkatkan hasil belajar terutama hasil belajar IPA. Hal ini dikarenakan nilai rata- rata muatan pelajaran IPA pada Penilaian Akhir semester genap tahun pelajaran 2019- 2020 adalah 78 berada pada kategori cukup.
Perolehan ini diharapkan masih bisa lebih ditingkatkan lagi dengan capaian rata- rata minimal baik. Rendahnya hasil belajar IPA peserta didik kelas V SDN Unggulan Bontomanai disebabkan karena pemanfaatan dan pengembangan media pembelajaran dari guru masih rendah. Sebagai salah satu sekolah yang berada di kabupaten Gowa dalam menjawab tantangan Gowa Kabupaten Pendidikan maka seorang guru harus mampu mengembangkan media pembelajaran berbasis IT. Salah satu solusinya adalah melalui pengembangan media MACCA yang valid, praktis, dan efektif. Kelebihan media MACCA adalah pembuatan video disesuaikan dengan kebutuhan tujuan pembelajaran, merupakan multimedia yang penggunannya melatih indera penglihatan dan pendengaran, berbasis IT, serta dapat digunakan dalam pembelajaran jarak jauh. Melalui pengembangan media MACCA diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar IPA peserta didik kelas V SDN Unggulan Bontomanai.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian dan pengembangan ini adalah :
1. Mengapa media MACCA ( Media Ajar Cerdas Cermat IPA) Penting dikembangkan dalam pembelajaran IPA pada peserta didik kelas V SDN Unggulan Bontomanai ?
2. Apakah media MACCA ( Media Ajar Cerdas Cermat IPA) valid, praktis, dan efektif digunakan dalam pembelajaran IPA pada peserta didik kelas V di SDN Unggulan Bontomanai ?
3. Bagaimana Media MACCA ( Media Ajar Cerdas Cermat IPA) dapat meningkatkan hasil belajar IPA peserta didik kelas V SDN Unggulan Bontomanai?
C. Tujuan Penelitian dan Pengembangan
1. Memperoleh gambaran pentingnya pengembangan media MACCA ( Media Ajar Cerdas Cermat IPA) dalam pembelajaran IPA pada peserta didik kelas V SDN Unggulan Bontomanai
2. Mengembangkan media MACCA yang valid, praktis, dan efektif dalam pembelajaran IPA pada peserta didik kelas V di SDN Unggulan Bontomanai.
3. Memperoleh gambaran peningkatan hasil belajar IPA peserta didik kelas V di SDN Unggulan Bontomanai menggunakan media MACCA.
D. Spesifikasi Produk yang Diharapkan
Spesifikasi produk yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1. Media yang dikembangkan dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif dalam pembelajaran di Sekolah Dasar
2. Media yang dikembangkan dilengkapi dengan buku panduan penggunaan media yang di dalamnya memuat alat dan bahan, cara membuat serta cara menggunakan media
3. Media yang dikembangkan sesuai dengan silabus sehingga mampu menghasilkan RPP dalam menuntaskan Kompetensi Dasar.
E. Pentingnya Penelitian dan Pengembangan
Rendahnya hasil belajar IPA peserta didik kelas VA SDN Unggulan Bontomanai disebabkan penggunaan media pembelajaran yang belum optimal selain itu kemampuan guru dalam mengembangkan media pembelajaran masih rendah, karenanya penelitian dan pengembangan media penting dilakukan.
Penelitian dan pengembangan media MACCA ini juga penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana media MACCA dapat meningkatkan hasil belajar IPA peserta didik.
Selain itu pentingnya penelitian dan pengembangan media MACCA adalah bagaimana mengembangkan sebuah media yang valid, praktis, dan efektif.
F. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan
Asumsi dalam Penelitian dan Pengembangan ini meliputi:
1. Melalui media MACCA peserta didik mampu memanfaatkan IT sehingga diperkenalkan dengan teknologi sejak dini, hal ini menjawab tantangan pembelajaran abad 21
2. Peserta didik dapat meningkatkan kemampuan kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan berfikir kritis sehingga dapat mewujudkan keterampilan abad 21 yang diharapkan
3. Media MACCA melatih beberapa indera sehingga mampu memberikan hasil belajar yang lebih baik. Menurut Dale dalam Arsyad ( 2017: 11) semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan.
Adapun keterbatasan dalam Penelitian dan Pengembangan ini meliputi:
1. Pada pengembangan media melibatkan beberapa komponen sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama dalam menyiapkannya 2. Keterbatasan waktu yang tersedia menyebabkan pengembangan
media tidak dapat dilakukan secara optimal
3. Lingkup materi yang dapat menggunakan media ini masih terbatas 4. Ketersediaan media pembelajaran seperti laptop dan HP android yang
mendukung penggunaan media ini masih terbatas
5. Pembuatan kuis berbasis online membutuhkan pulsa data dan jaringan yang stabil.
G. Definisi Istilah/Operasional
1. Media MACCA
Media MACCA merupakan singkatan dari Media Ajar Cerdas Cermat IPA merupakan salah satu media yang akan diteliti dan dikembangkan. Media ini merupakan multimedia yang terdiri atas 3 komponen. Yaitu : media presentasi berbasis Video Power Point, kuis interaktif berbasis google form dan Kabar Berita ( Kartu kembar Empat berisi Informasi dan Cerita).
MACCA secara filosofi berasal dari bahasa Bugis yang berarti cerdas, sehingga diharapkan media ini dapat mencerdaskan guru dan peserta didik yang menggunakannya. Selain itu MACCA merupakan singkatan Media Ajar Cerdas Cermat IPA. Media Ajar berarti alat bantu atau perantara dalam pembelajaran, cerdas berarti berpikiran
tajam, cermat berarti teliti dan IPA sendiri merupakan singkatan Ilmu Pengetahuan Alam. Secara harfiah media MACCA ini diharapkan mampu membentuk peserta didik yang cerdas dan cermat sehingga dapat meningkatkan hasil belajar IPA.
2. Hasil belajar IPA
Hasil belajar adalah perubahan yang terjadi pada peserta didik ke arah yang lebih baik setelah melalui tahapan proses belajar. Hasil belajar IPA adalah tolok ukur keberhasilan siswa dalam belajar dan sejauh mana sistem pembelajaran yang diberikan guru berhasil dalam pelajaran IPA.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teoretis
1. Penelitian dan pengembangan
Penelitian dan pengembangan menurut Borg dan Gall (Hasyim:42) adalah proses yang digunakan untuk mengembangkan dan menvalidasi produk pendidikan. Langkah- langkahdari proses ini biasanya disebut sebagai siklus R&D ( Research and Development).
Penelitian awal dilakukan untuk menemukan produk yang akan dikembangkan. Penelitian selanjutnya digunakan untuk mengembangkan produk berdasarkan temuan. Pengujian dilakukan secara berulang dalam uji coba terbatas dan uji coba lapangan disertai kegiatan evaluasi dan revisi untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan dalam setiap tahapan uji produk sampai menunjukkan bahwa produk tersebut dapat digunakan.
Pendapat lain dikemukakan oleh Sukmadinata (Hasyim:42) bahwa penelitian pengembangan atau Research and Development adalah sebuah strategi atau metode penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktik.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian dan pengembangan adalah penelitian yang menekankan pada proses mengembangkan suatu proses pembelajaran untuk menghasilkan suatu produk.
Van Akker dan Plop (Hasyim: 47) mendefinisikan penelitian pengembangan dengan dua tujuan yaitu: (1) mendukung pengembangan prototypical produk( termasuk menyediakan bukti empiris untuk efektifitas produkI; (2) pembangkit metodologinya mengarah pada rancangan dan evaluasi produk. Selanjutnya Akker juga menjelaskan tujuan penelitian pengembangan dibedakan berdasarkan objek pengembangan salah satunya adalah bagian teknologi dan media.
Tujuan pengembangan pada aspek teknologi dan media adalah meningkatkan mutu proses rancangan pembelajaran menggunakan media dan teknologi. Pengembangan kedua tersebut, didasarkan pada situasi pemecahan masalah spesifik atau prosedur pemeriksaan yang ketat agar produk yang dihasilkan berupa media dan teknologi benar- benar bermanfaat.
Tujuan penelitian pengembangan adalah menghasilkan produk pendidikan atau pembelajaran untuk memudahkan peserta didik belajar, mutu proses pembelajaran meningkat. Akhirnya hasil belajarpun dapat meningkat. Tujuan penelitian dan pengembangan adalah menghasilkan produk disertai dengan upaya validasinya.
2. Media pembelajaran
a. Pengertian media pembelajaran
Media berasal dari Bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti perantara atau pengantar.
Menurut Miarso (2004), medium merupakan teknologi untuk menyajikan, merekam, membagi, dan mendistribusikan simbol melalui rangsangan indera tertentu, disertai penstrukturan informasi.
Association of Education and Communication Tecnology (AECT) memberikan definisi media sebagai sitem transmisi (nahan dan peralatan) yang tersedia untuk menyampaikan pesan tertentu (Sutirman, 2013:15)
Menurut Gagne ( 1970), media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan peserta didik yang dapat merangsangnya untuk belajar. Briggs (1970), berpendapat bahwa media dalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang peserta didik untuk belajar. sejalan dengan kedua pendapat tersebut, Sutirman (2013:15) menjelaskan “media merupakan komponen sumber belajar atau wahan fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan peserta didik yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar.
Heinich (Pribadi,2017:15) mengungkapkan bahwa media adalah sesuatu yang memuat informasi dan pengetahuan yang
dapat digunakan untuk mendukung aktivitas pembelajaran dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap disebut sebagai media pembelajaran. Sejalan dengan pendapat tersebut, Pribadi (2017: 15), menyatakan “ media adalah perantara pengirim informasi yang berfungsi sebagai sumber atau resource dan penerima informasi atau receiver.”
Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa media adalah perantara yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari pemberi dan penerima informasi.
Miarso (2004) menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja, dengan tujuan proses dilaksanakan serta pelaksanaannya terkendali. Selanjutnya Sanaky (2013) mengungkapkan bahwa “pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar, dan bahan ajar.”
Rusman (2012: 144), menjelaskan bahwa pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan peserta didik, baik interaksi secara langsung seperti tatap muka maupun secara tidak langsung yaitu menggunakan berbagai media.
Proses pembelajaran merupakan suatu perpaduan unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran.
Pembelajaran juga merupakan proses, cara, dan tindakan yang mempengaruhi peserta didik untuk belajar.
Berdasarkan pengertian media dan pembelajaran tersebut, Suryani (2018) menjelaskan bahwa “ media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar ( peserta didik).” Hal ini sejalan dengan paparan Sutirman (2013:15) “media pembelajaran merupakan komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan peserta didik yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar.”
Sejalan dengan pendapat tersebut, Wati (2016: 4), menjelaskan bahwa “media merupakan sesuatu yang bersifat meyakinkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audiens atau peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri peserta didik tersebut.”
Arsyad (2017: 10), menjelaskan bahwa “media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat.”
Sutirman (2013:15) mengungkapkan “media pembelajaran dapat dikatakan sebagai alat- alat grafis, photografis, atau
elektronis yang dapat digunakan untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual dan verbal.”
Dari beberapa pendapat tersebut maka dapat disimpulkan, bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran sehingga mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik.
b. Manfaat media pembelajaran
Menurut Hamalik (2013) Manfaat media pembelajaran adalah dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh- pengaruh psikologis terhadap peserta didik.
Levie dan Lentz (Arsyad, 2017: 20) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu (a) fungsi atensi; (b) fungsi afektif; (c) fungsi kognitif; dan (d) fungsi kompensatoris.
Menurut Sudjana dan Rifai (Sutirman, 2013: 17)
Media pembelajaran dalam proses belajar bermanfaat agar (a) pembelajaran lebih menarik perhatian sehingga menumbuhkan motivasi belajar peserta didik;
(b) materi pembelajaran akan lebih mudah dipahami oleh peserta didik; (c) metode mengajar menjadi lebih variatif sehingga dapat mengurangi kebosanan belajar;
(d) peserta didik lebih aktif melakukan kegiatan belajar.
Sadiman (2006:17) menjelaskan kegunaan media antara lain (a) memperjelas penyajian pesan, (b) mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, (c) mengatasi sikap pasif, sehingga peserta didik menjadi lebih semangat dan lebih mandiri dalam belajar, (d) memberikan rangsangan, pengalaman, dan persepsi yang sama terhadap materi belajar.
Encyclopedia of Educational Research (Suryani,2018: 14) mengemukakan manfaat media pembelajaran sebagai berikut:
a) meletakkan dasar- dasar yang konkret untuk berfikir dan mengurangi verbalisme;
b) menarik perhatian peserta didik;
c) meletakkan dasar- dasar yang penting untuk perkembangan belajar;
d) memberikan pengalaman nyata dan menumbuhkan kegiatan mandiri kepada peserta didik;
e) menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkelanjutan, terutama yang terkait dengan kehidupan sehari- hari;
f) membantu perkembangan kemampuan berbahasa;
g) menambah variasi dalam kegiatan pembelajaran.
Suryani (2018:15) menyimpulkan manfaat media pembelajaran bagi guru dan peserta didik adalah sebagai berikut:
a. manfaat bagi guru
1) membantu menarik perhatian dan memotivasi peserta didik untuk belajar;
2) memiliki pedoman, arah, dan urutan pengajaran yang sistematis;
3) membantu kecermatan dan ketelitian dalam penyajian materi pelajaran;
4) membantu menyajikan materi lebih konkret, terutama materi pelajaran yang abstrak;
5) memiliki variasi metode dan media yang digunakan agar pembelajaran tidak membosankan;
6) menciptakan suasana belajar menyenangkan tanpa tekanan;
7) membantu efisiensi waktu dengan menyajikan inti informasi secara sistematik dan mudah disampaikan;
8) membangkitkan rasa percaya diri seorang pengajar b. manfaat bagi peserta didik
1) merangsang rasa ingin tahu untuk belajar;
2) memotivasi peserta didik untuk belajar;
3) memudahkan peserta didik memahami materi pelajaran yang disajikan secara sistematis melalui media;
4) memberikan suasana yang menyenangkan dan tidak membosankan sehingga lebih fokus pada pembelajaran;
5) memberikan kesadaran memilih media pembelajaran terbaik untuk belajar melalui variasi media yang disajikan.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa manfaat media pembelajaran adalah membantu memperlancar interaksi antar guru dan peserta didik dengan tujuan menciptakan kondisi belajar secara optimal.
c. Jenis- jenis media pembelajaran
Pengelompokan berbagai jenis media dilihat dari segi perkembangan teknologi oleh Seels dan Glaslow (Seels,1990) dibagi menjadi dua kategori yaitu media tradisional dan media teknologi mutakhir.
1) Media Tradisional
a) Visual diam yang diproyeksikan b) Visual yang tak diproyeksikan c) Audio
d) Penyajian multimedia
e) Visual dinamis yang diproyeksikan f) Cetak
g) Permainan h) Realia
2) Media Teknologi Mutakhir
a) Media berbasis telekomunikasi
b) Media berbasis mikroprosesor
Menurut Arsyad (2017) media terdiri atas media berbasis manusia, berbasis cetakan, visual, ausio-visual, dan media komputer.
3. Multimedia pembelajaran
a. Pengertian multimedia pembelajaran
Multimedia adalah media presentasi dengan menggunakan teks, audio, dan visual sekaligus. Smaldino, dkk ( 2011) menjelaskan multimedia adalah media yang menggunakan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari grafik, teks, grafik, gambar, foto, audio, video, dan animasi secara terintegrasi. Dua kategori multimedia yaitu multimedia linear dan multi media interaktif.
Multimedia linear adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia linear ini berjalan sekuensial ( berurutan ), contohnya televisi dan film.
Multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendakinya untuk proses selanjutnya.
Purwanto (2008) menjelaskan bahwa multimedia dalam pembelajaran adalah kombinasi dari berbagai media yang terdiri dari teks, grafis, gambar diam, animasi, suara, dan video.
Multimedia merupakan perpaduan berbagai bentuk elemen informasi yang digunakan sebagai sarana menyampaikan tujuan tertentu. Elemen informasi yang dimaksud tersebut diantaranya teks, grafik, gambar, foto, animasi, audio, dan video.
Dalam proses belajar mengajar , multimedia berfungsi sebagai penyampai pesan berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada siswa. Pembelajaran dengan multimedia dapat memotivasi pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan belajar siswa.
Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa multimedia pembelajaran adalah media transfer pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memadukan berbagai bentuk elemen informasi diantaranya grafik, teks, grafik, gambar, foto, audio, video, dan animasi secara terintegrasi yang dapat digunakan sebagai media interaktif.
b. Prinsip multimedia
Mayer (Suryani, 2018) mengidentifikasi prinsip desain multimedia antara lain sebagai berikut:
1) Koheren
Penggunaan kata, suara, dan gambar harus saling terkait dan mudah dipahami. Hindari penggunaan kata yang tidak diperlukan.
2) Simbolisasi
Materi akan lebih mudah dipahami jika isi multimedia mengandung petunjuk- petunjuk yang mengacu pada pemahaman materi
3) Hindari pemborosan
Peserta didik akan lebih mudah belajar melalui kombinasi antara media grafis dan narasi daripada dengan kombinasi antara grafis, narasi, dan teks pada layar karena dianggap berlebihan 4) Tata letak materi yang baik
Pengaturan tata letak antarmateri yang saling berdekatan akan memudahkan siswa dalam memahami lebih dalam
5) Pengaturan gambar
Letak gambar dan tulisan sebaiknya diletakkna pada suatu lembar yang sama
6) Segmentasi
Peserta didik akan lebih mudah memahami materi untuk video dengan durasi sekitar 10-20 menit
7) Pelatihan awal
Pelatihan awal dalam pemanfaatan multimedia akan bermanfaat krtika peserta didik mengoperasikan multimedia pada proses pembelajaran yang sesungguhnya.
8) Modalitas
Peserta didik akan lebih mudah memahami materi dengan mengamati kombinasi antar grafis dan narasi daripada hanya tampilan animasi dan teks pada layar
9) Multimedia
Penggunaan gabungan lebih dari satu media pembelajaran akan menjadikan peserta didik belaajr dengan lebih baik.
10) Personalisasi
Peserta didik akan lebih memahami materi jika menggunakan kalimat yang baisa digunakan dalam percakapan sehari- hari.
11) Suara
Suara/ komentar yang ada dalam multimedia hendaknya menggunakan suara manusia asli bukan suara mesin.
12) Tanpa gambar presenter
Saat melakukan pembelajaran melalui multimedia akan lebih baik jika siswa bisa melihat langsung pembicara yang membawakan materi.
Sejalan dengan pendapat Mayer, Talbert dalam bates (Suryani:
202), menyampaikan 4 prinsip penggunaan multimedia dalam pembelajaran yaitu :
1) Keep it simple, fokus pada satu ide dalam satu pembahasan.
2) Keep it short, pastikan video tidak lebih dari 5-6 menit untuk memaksimalkan perhatian siswa pada materi pembelajaran
3) Keep it real, model pengambilan keputusan dan problem solving akan lebih menarik
4) Keep it good, rencanakan dengan baik saat akan membuat sebuah video
Berdasarkan kedua pendapat tersebut maka peneliti menyimpulkan prinsip dalam multimedia yaitu :
1) Menggunakan kata yang saling terkait dan mudah dipahami, seperti menggunakan kalimat percakapan yang digunakan sehari- hari
2) Disajikan secara sederhana tidak melibatkan terlalu banyak unsur namun mampu mencapai tujuan pembelajaran
3) Penyajian multimedia menarik mulai dari tata letak, segmen, warna, dan suara
4) Durasi video yang dibuat sebaiknya tidak lebih dari 20 menit
c. Media presentasi video berbasis power point
Tahun 1990 Power Point menjadi salah satu elemen paket Microsoft Office. Power Point diinstal di lebih dari 400 juta komputer di seluruh dunia dan digunakan oleh lebih dari 30 juta presenter tiap harinya. Penggunaan Power Point karena bagian dari Microsoft Office maka mempunyai beberapa keuntungan, yaitu banyak yang menggunakan hampir setiap komputer terdapat programnya, stabil di berbagai prosesor, tercanggih diantara program presentasi lainnya, sangat fleksibel, mudah, dan
banyak templatenya. Namun juga mempunyai kelemahan yaitu background, outline, dan hiasan teksnya terlalu overused.
Kita terlalu sering melihat presentasi dengan background, outline, atau teks yang itu lagi, itu lagi. Ternyata rata rata pengguna Power Point hanya memanfaatkan sekitar 30% dari fitur yang tersedia (Tjokro, 2009).
Power Point memang memungkinkan presentasi dengan memutar video. Namun video itu terkadang tidak dibuat sendiri sehingga sulit untuk mendapatkan video yang sesuai dengan materi pembelajaran. Terkadang, beberapa video sudah sangat familier kita lihat melalui youtube atau facebook. Padahal Power Point menyediakan fitur pembuatan video yang dapat kita kembangkan dari slide yang sudah kita punya. Sehingga video yang kita buat sesuai dengan materi pembelajaran kita dan dapat disebarluaskan menggunakan media sosial. Hal ini tentu saja akan memudahkan pemahan proses pembelajaran di kelas.
Pengunaan video juga sesuai untuk kelas pararel, baik yang diajar oleh satu pengajar atau beberapa pengajar. Selain itu video yang dibuat dengan Power Point sangat mudah mengedit baik visual, audio, maupun videonya.
Video menggunakan Power Point merupakan media belajar audio-visual, sehingga dapat menjamin kesamaan materi ajar tiap kelas dan tiap angkatan. Selain itu karena menggunakan Power
Point sangat mudah membuatnya dan mudah juga melakukan pembetulan serta dapat mengulang materi dengan gampang dan dalam suasana santai, tidak harus di komputer bahkan bisa melalui gawai.
Menurut Nugent (Suharsono: 2011, 394 ) video dapat digunakan di seluruh lingkungan pengajaran dengan kelas, kelompok kecil, dan peserta didik perorangan. Namun, penggunaan video pada generasi yang tumbuh bersama program televisi sebaiknya dalam durasi yang pendek sehingga perlu dirangkai dengan berbagai cara pembelajaran lainnya, Smaldino (2011)
Pembuatan media pembelajaran video menggunakan Power Point ini dimulai dari membuat slide yang berisi teks dan gambar seperti biasanya, yang membedakan adalah pada slide tersebut akan di-insert suara dan kemudian di simpan sebagai video.
Walaupun hasil akhirnya berupa video, namun kita masih mempunyai slide aslinya. Jadi nanti dalam praktiknya kita bisa memilih mau presentasi seperti biasa, presentasi dengan suara yang sudah ada di slide, atau cukup memutarnya dalam bentuk video.
d. Kuis berbasis aplikasi google form
Google form atau google formulir merupakan salah satu komponen layanan Google docs. Aplikasi ini sangat cocok untuk peserta didik, guru, dosen, pegawai kantor dan professional yang senang membuat kuis, formulir dan survei daring.
Fitur dari google form dapat di bagi ke orang-orang secara terbuka atau khusus kepada pemilik akun Google dengan pilihan aksesibilitas, seperti: read only (hanya dapat membaca) atau editable (dapat mengedit dokumen). Google docs juga dapat menjadi alternatif bagi orang-orang yang tidak memiliki dana untuk membeli aplikasi berbayar untuk menggunakan program gratisan dibandingkan membajak program berbayar.
Syarat utama untuk membuat google form adalah pengguna wajib memiliki akun google. Akun tersebut dapat dibuat dengan mendaftar di laman google.com. Akun yang telah dibuat dapat digunakan untuk berbagai produk google yang dirilis secara gratis, seperti gmail sebagai alat untuk berkomunikasi dengan surat elektronik, drive sebagai alat penyimpanan daring, youtube sebagai alat berbagi dan menyimpan video, site sebagai alat untuk membuat website sederhana, blogger sebagai alat untuk membuat blog, Google Play sebagai alat untuk berbagi aplikasi, Google Plus sebagai alat untuk berbagi artikel dan lain sebagainya.
Adapun beberapa fungsi Google Form untuk dunia pendidikan adalah sebagai berikut: 1) Memberikan tugas latihan atau ulangan daring melalui laman situs web, 2) Mengumpulkan pendapat orang lain melalui laman situs web, 3) Mengumpulkan berbagai data peserta didik/ guru melalui halaman situs web, 4) Membuat formulir pendaftaran daringuntuk sekolah, 5) Membagikan kuesioner kepada orang-orang secara daring.
Aplikasi ini berbasis web maka setiap orang dapat memberikan tanggapan atau jawaban terhadap kuis ataupun kuisioner secara cepat dimanapun ia berada dengan menggunakan aplikasi internet komputer/laptop ataupun gawai.
Melalui penggunaan aplikasi ini maka seorang guru tidak memerlukan kertas lagi untuk mencetak kuis atau kuisionernya.
Waktu yang diperlukannya juga akan semakin hemat dalam membagikan, mengumpulkan kembali dan menganalisis hasil kuis dan kuisionernya.
Adapun beberapa keunggulan pembuatan kuis pada proses pembelajaran menggunakan Google Form adalah: 1) Tampilan Formulir yang menarik. Aplikasi ini menyediakan fasilitas kepada penggunanya untuk memasukkan dan menggunakan foto atau logonya sendiri di dalam kuis tersebut. Aplikasi ini juga memiliki banyak templat yang membuat kuis dan kuesioner daringtersebut semakin menarik dan berwarna. 2) Memiliki berbagai jenis tes
yang bebas dipilih. Aplikasi ini menyediakan fasilitas pilihan tes yang bebas digunakan sesuai dengan keperluan pengguna.
Misalnya pilihan jawaban pilihan ganda, ceklis, Tarik turun, skala linier, dan lain sebagainya. Kita juga dapat menambahkan gambar dan video youtube ke dalam kuis anda. 3) Responden dapat memberikan tanggapan dengan segera di manapun berada.
Aplikasi ini dapat digunakan setiap orang secara gratis untuk membuat kuisioner daring dan kuis daring menggunakan laptop atau gawai yang terhubung dengan internet lalu membagikan pranala formulirnya kepada para responden menempelkannya di sebuah halaman situs web. Para respondennya dapat memberikan tanggapannya dimanapun dan kapanpun dengan mengklik alamat web atau pranala yang dibagikan pembuat kuisioner tersebut menggunakan komputer atau gawai yang terhubung ke internet. Semua tanggapan dan jawaban orang lain akan secara otomatis ditampung, disusun, dianalisa dan disimpan oleh aplikasi Google Form dengan cepat dan aman. 4) Formulirnya responsif. Berbagai jenis kuis dan kuesioner dapat dibuat dengan mudah, lancar dan hasilnya tampak profesional dan indah. 5) Hasilnya langsung tersusun dianalisis secara otomatis.
Tanggapan survei anda dikumpulkan dalam formulir dengan rapi dan secara otomatis, disertai info tanggapan waktu nyata dan grafik hasil tanggapan. Pengguna juga dapat melangkah lebih
jauh bersama hasil data dengan melihat semuanya di Spreadsheet, yakni aplikasi semacam Microsoft Office Excel. 6) Dapat dikerjakan bersama orang lain. Kuisioner dan kuis menggunakan aplikasi ini dapat dikerjakan bersama orang lain atau siapa saja yang diinginkan oleh pengguna.
e. Bermain kabar berita menggunakan media kartu bergambar Kabar Berita merupakan alat peraga dalam bentuk kartu kembar empat yang memuat gambar-gambar yang berkaitan dengan materi pembelajaran IPA. Untuk membuat alat peraga Kabar Berita ini digunakan aplikasi Word untuk melayout dan mendesain kartu tersebut, kemudian setelah di layout dibuat sesuai kebutuhan materi ajar selanjutnya di print dengan menggunakan kertas glossy paper.
4. Pembelajaran IPA
IPA merupakan rumpun ilmu, memiliki karakteristik khusus yaitu mempelajari fenomena alam yang factual (factual), baik berupa kenyataan (reality), atau kejadian (events), dan hubungan sebab- akibatnya. Cabang ilmu yang termasuk anggota rumpun IPA saat ini antara lain Biologi, Fisika, IPA, Astronomi/Astrofisika, dan Geologi.
IPA merupakan ilmu yang pada awalnya diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun pada perkembangan selanjutnya IPA juga diperoleh dan dikembangkan
berdasarkan teori (deduktif). Ada dua hal berkaitan yang tidak terpisahkan dengan IPA, yaitu IPA sebagai produk, pengetahuan IPA yang berupa pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif, dan IPA sebagai proses, yaitu kerja ilmiah. Saat ini objek kajian IPA menjadi semakin luas, meliputi konsep IPA, proses, nilai dan sikap ilmiah, aplikasi IPA dalam kehidupan sehari-hari, dan kreativitas (Kemendiknas, 2011). Belajar IPA berarti belajar kelima objek atau bidang kajian tersebut.
Apakah yang dimaksud dengan IPA atau Ilmu Pengetahuan Alam? Ada tiga istilah yang terlibat dalam hal ini, yaitu “ilmu”,
“pengetahuan”, dan “alam”. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia. Dalam hidupnya, banyak sekali pengetahuan yang dimiliki manusia. Pengetahuan tentang agama, pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, sosial, dana lam sekitar adalah contoh pengetahuan yang dimiliki manusia. Pengetahuan alam berarti pengetahuan tentang alam semesta beserta isinya.
Gambar 2.1 IPA sebagai body of knowledge Musik
Pengetahuan
IPA
Sejarah
Filsafat Seni
Literatur
Definisi diatas adalah salah satu definisi IPA dan bersifat sederhana. Dalam hal ini yang dimaksud dengan IPA adalah body of knowledge.
Carin dan Sund dalam Wisudawati (2019:23) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan ekperimen”. Merujuk pada definisi Carin dan Sund tersebut maka IPA memiliki empat unsur utama, yaitu.
a. Sikap : IPA memunculkan rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat.
Persoalan IPA dapat dipecahkan dengan menggunakan prosedur yang bersifat open ended.
b. Proses : Proses pemecahan masalah pada IPA memungkinkan adanya prosedur yang runtut dan sistematis melalui metode ilmiah. Metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan.
c. Produk : IPA menghasilkan produk berupa fakta, konsep, prinsip, teori, dan hukum.
d. Aplikasi : penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran IPA adalah interaksi antara komponen-komponen pembelajaran dalam bentuk proses pembelajaran untuk mencapai
tujuan yang berbentuk kompetensi yang telah ditetapkan. Tugas utama guru IPA adalah melaksanakan proses pembelajaran IPA.
Proses pembelajaran IPA terdiri atas tiga tahap, yaitu perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran.
Pembelajaran berbasis kompetensi menuntut peserta didik untuk menguasai konsep IPA setelah mempelajari materi pokok atau uraian materi pokok tertentu menguasai konsep IPA, penguasaan tersebut diperoleh melalui proses IPA antara lain eksperimen, dan dapat menggunakan pengetahuannya tersebut untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
5. Hasil belajar IPA
Menurut Sudjana (Rohwati, 2012:76) hasil belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang.
Perubahan sebagai hasil dari proses belajar ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan sikap, tingkah laku serta perubahan aspek lain yang ada pada individu yang belajar.
Menurut Purwanto (2013:44) Hasil belajar terdiri dari dua kata yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.
Hasil belajar merupakan hal yang penting yang akan dijadikan tolok ukur keberhasilan peserta didik dalam belajar dan sejauh mana sistem pembelajaran yang diberikan guru berhasil atau tidak. Suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila kompetensi dasar yang diinginkan tercapai.
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan pembelajaran yang banyak menekankan pada kegiatan penemuan atau discovery untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar.
pembelajaran IPA bertujuan untuk mengembangkan potensi diri siswa melalui pemberian pengalaman dengan cara menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.
Pengembangan potensi diri siswa akan berjalan dengan efektif apabila seorang guru mampu memilih dan menggunakan metode dan media mengajar yang tepat. Pengunaan media pembelajaran di sekolah dasar menjadi bagian penting yang harus mendapat perhatian guru, sebab input (pemahaman) siswa pada tingkat sekolah dasar memiliki kemampuan yang terbatas dalam memahami materi yang bersifat abstrak yang dipengaruhi oleh perkembangan kognitif anak.
B. Kajian Penelitian yang Relevan
Penelitian dan pengembangan Media MACCA ini dilakukan dengan mengkaji beberapa penelitian yang relevan diantaranya sebagai berikut:
Penelitian yang dilakukan oleh Sari Permanda, dkk ( 2015) dengan judul penelitian pengembangan media pembelajaran berbasis powerpoint pada mata pelajaran IPA kelas IVc SD Negeri 147 Pekanbaru. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan produk berupa media pembelajaran berbasis Power point yang layak digunakan untuk kegiatan belajar siswa kelas IVC SD Negeri 147 Pekanbaru, untuk mendeskripsikan kelayakan media yang dikembangkan. Model pengembangan yang digunakan adalah Model Sugiyono yang hanya sampai pada tahap uji coba produk. Instrumen pengumpulan data berupa angket uji validasi untuk ahli media dan ahli materi, angket uji coba produk, dan soal pretes dan postes. Media pembelajaran dinyatakan layak berdasarkan uji kelayakan menurut: (1) Ahli media dengan kategori Sangat Valid (3,6), (2) Ahli materi dengan kategori Valid (3,33), (3) uji coba produk dengan kategori Sangat Baik (4,33). Berdasarkan NGain, dapat diketahui peningkatan hasil belajar sebanyak siswa kelas IVC SD Negeri IVc Pekanbaru yaitu 0,60, dikategorikan berada pada tingkat Sedang. Dari hasil uji coba diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis Powerpoint yang dikembangkan layak dan efektif digunakan pada mata pelajaran IPA kelas IVC.
Penelitian yang dilakukan oleh Indah Setyorini dan M. Husni Abdullah (2013) dengan judul penggunaan media permainan kartu kuartet pada mata pelajaran IPS untuk peningkatan hasil belajar siswa di sekolah dasar. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan aktivitas guru dan siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran IPS dengan menggunakan media permainan kartu kuartet, mendeskripsikan efektifitas penggunaan media permainan kartu kuartet untuk meningkatkan hasil belajar siswa.Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Jajartunggal III/452 Surabaya yang berjumlah 36 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain teknik observasi dan tes. Pada kegiatan pembelajaran aktivitas guru mengalami peningkatan pada setiap siklus dengan skor rata-rata siklus I 67,85%, siklus II 78,57% dan pada siklus III 98,85%. Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran mengalami peningkatan pada setiap siklus dengan skor rata-rata siklus I 66,67%, siklus II 77,27% dan pada siklus III 87,87%.
Pada pengamatan hasil belajar aspek kognitif siswa juga mengalami peningkatan dengan skor rata-rata pada siklus I 66,67%, siklus II 72,22%
dan pada siklus III 91,66%. Selain itu, dari hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar aspek afektif siswa, dan psikomotor siswa.
Penelitian serupa telah dilakukan oleh Qurratu Aini Nai’ma, dkk ( 2014) dengan judul penelitian pengaruh penggunaan media kartu kuartet terhadap motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media kartu kuartet terhadap motivasi dan hasil belajar siswa. Desain yang digunakan adalah pretes- posttes kelompok non ekuivalen dengan purposive sampling, kelas X7 dan X8 diambil sebagai subjek. Data kuantitatif berupa hasil belajar siswa dianalisis dengan uji t dan uji U. Data kualitatif berupa motivasi siswa, aktivitas belajar dan tanggapan siswa yang dianalisis secara deskriptif. Rata-rata postes 66,80. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan media kartu kuartet dapat memotivasi siswa dan membuat siswa antusias dalam pembelajaran. Peningkatan hasil belajar oleh siswa juga terjadi pada indikator kognitif dengan rata-rata N-gain pada indikator C1 (10,55) dan C2 (1,45). Aktivitas belajar siswa memiliki kriteria baik (82,50) dan siswa merasa senang terhadap pembelajaran dari data angket tanggapan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penggunaan media kartu kuartet dapat memotivasi belajar siswa tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar.
Asni Widiastuti dan Muhammad Nur wangid (2015) melakukan sebuah penelitian dengan judul Pengembangan Multimedia Lectora Pada Pembelajaran Tematik integratif Berbasis Character Building Bagi Siswa Kelas IV SD. Tujuan penelitian tersebut adalah mengembangkan multimedia lectora pada pembelajaran tematik-integratif berbasis
character building dan mengetahui efektivitas multimedia lectora pada pembelajaran tematik-integratif berbasis character building pada pada tema Cita-citaku Subtema Aku dan Cita-citaku bagi peserta didik kelas IV SD Muhammadiyah Bodon. Penelitian ini mengacu pada langkah yang dikembangkan oleh Borg & Gall yang dikelompokkan atas empat prosedur pengembangan, yaitu eksplorasi, pengembangan draft/prototype, uji coba produk, revisi, dan validasi akhir. Subjek uji coba terbatas adalah 6orang peserta didik kelas IV SD Muhammadiyah Subjek uji coba terbatas adalah 6 siswa kelas IV dan 1 guru SD Muhammadiyah Bodon. Subjek uji coba lapangan 20 orang peserta didik kelas IV dan 1 guru SD Muhammadiyah Bodon. Subjek uji coba produk operasional 29 siswa kelas IVB SD Muhammadiyah Bodon. Hasil penelitian menunjukkan multimedia lectora menurut ahli materi maupun ahli media terkategori “sangat baik” sehingga layak digunakan. Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat efektivitas yang signifikan pada pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan multimedia interaktif Lectora dengan hasil signifikansi 0,0001< 0,05.
Penelitian serupa juga dilakukan oleh Ardian Dwi Prasetyo (2017) dengan judul penelitian Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif Mata Pelajaran IPA Pokok Bahasan Bumi Dan Alam Semesta Kelas Vi Sd Negeri Ngringin Depok Sleman. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk multimedia pembelajaran interaktif mata pelajaran IPA pokok bahasan Bumi dan Alam Semesta yang layak digunakan sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas VI SD Negeri Ngringin,
Depok, Sleman. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang diadaptasi dan dimodifikasi dari sepuluh langkah Borg & Gall. Langkah yang ditempuh peneliti sembilan langkah yaitu: 1) penelitian awal dan pengumpulan informasi, 2) perencanaan pengembangan, 3) pengembangan produk awal, 4) uji coba lapangan awal, 5) revisi hasil uji coba, 6) uji coba lapangan, 7) revisi hasil uji coba lapangan, 8) uji pelaksanaan lapangan, dan 9) revisi produk akhir. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara, angket, dan observasi.
Kelayakan produk didasarkan pada hasil penilaian ahli materi, ahli media, dan tanggapan siswa terhadap multimedia sebagai pengguna. Data hasil angket ahli materi dan ahli media dianalisis dengan konversi skala lima.
Sedangkan data hasil angket siswa dianalisis dengan skala Guttman.
Hasil penilaian dari ahli materi mendapatkan rerata skor 4,35 (kategori layak). Hasil penilaian dari ahli media mendapatkan rerata skor 4,11 (kategori layak), dan rata-rata penilaian pada uji pelaksanaan lapangan 0,90 (kategori layak).
C. Kerangka Pikir
Rendahnya hasil belajar peserta didik kelas V SDN Unggulan Bontomanai disebabkan karena masih rendahnya pemanfaatan media pembelajaran oleh guru dalam pembelajaran selain itu media pembelajaran yang digunakan merupakan hasil karya orang lain yang seringkali kurang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Media pembelajaran adalah alat bantu yang dapat digunakan sebagai penyampai pesan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Media merupakan sesuatu yang bersifat meyakinkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audiens aau peserta didik sehingga dapat mendorong proses terjadinya proses belajar pada diri siswa tersebut. Media berfungsi dan berperan mengatur hubungan efektif guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran.
Perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi menuntut guru untuk memanfaatkan dalam pembelajaran. Seorang guru harus memanfaatkan IT sebagai media pembelajaran . Pemanfaatan IT juga menjadi penunjang bagi guru untuk mengembangkan media pembelajaran itu sendiri. Pengembangan media pembelajaran dengan memanfaatkan IT dapat menghasilkan multimedia interaktif. Melalui tahap menghasilkan dan memvalidasi produk pengembangan media MACCA sebagai multimedia interaktif diharapkan mampu meningkat hasil belajar peserta didik kelas V SDN Unggulan Bontomanai.
Skema kerangka berfikir tersebut dituangkan dalam bagan berikut:
Gambar 2.2 Skema kerangka pikir Rendahnya Hasil Belajar IPA
Kelas V SDN Unggulan Bontomanai
Pemanfaatan Media Pembelajaran oleh guru
masih rendah
Media pembelajaran yang digunakan hasil karya orang lain yang kurang sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai
Pengembangan Media Macca
Media Macca Valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan Hasil belajar IPA Pemanfaatan
IT dalam Pembelajaran
Multimedia Interaktif